0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan31 halaman

Rencana Kawasan Lindung Merauke 2010-2030

Dokumen ini menjelaskan Rencana Pola Ruang Kabupaten Merauke yang mencakup peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan budidaya, serta pengelompokan kawasan menjadi kawasan budidaya dan non-budidaya. Kawasan lindung memiliki peran penting dalam melestarikan sumber daya alam dan mencegah bencana, dengan pengelompokkan lebih lanjut berdasarkan fungsi dan kondisi lingkungan. Rencana ini juga mencakup langkah-langkah untuk menjaga keberlanjutan kawasan hutan dan perlindungan terhadap ekosistem serta sumber daya air.

Diunggah oleh

MASTERPLAN MKM
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan31 halaman

Rencana Kawasan Lindung Merauke 2010-2030

Dokumen ini menjelaskan Rencana Pola Ruang Kabupaten Merauke yang mencakup peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan budidaya, serta pengelompokan kawasan menjadi kawasan budidaya dan non-budidaya. Kawasan lindung memiliki peran penting dalam melestarikan sumber daya alam dan mencegah bencana, dengan pengelompokkan lebih lanjut berdasarkan fungsi dan kondisi lingkungan. Rencana ini juga mencakup langkah-langkah untuk menjaga keberlanjutan kawasan hutan dan perlindungan terhadap ekosistem serta sumber daya air.

Diunggah oleh

MASTERPLAN MKM
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PEMERINTAH KABUPATEN MERAUKE

Rencana Pola Ruang adalah rencana distribusi peruntukan ruang dalam


suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan
peruntukan ruang untuk fungsi budidaya. Rencana pola ruang menggambarkan
letak dan luasan dari kegiatan-kegiatan budidaya dan lindung. Aspek-aspek yang
dipertimbangkan adalah fungsi lingkungan, estetika lingkungan, kuantitas dan
kualitas ruang, pola dan struktur tata ruang, lokasi pemanfaatan sumber alam,
dan sumber daya manusia untuk kegiatan pembangunan, integritas dan
keamanan wilayah. Pola ruang didapatkan dengan melakukan delineasi (batas-
batas) kawasan kegiatan sosial, ekonomi, budaya dan kawasan-kawasan lainnya,
sehingga didapatkan kategori kawasan budidaya dan kawasan lindung. Secara
umum, pembagian kategori kawasan ini dilakukan agar terwujud keseimbangan
antara fungsi ekonomi dan lingkungan.
Pola ruang sendiri dibagi menjadi 2 (dua) macam pengelompokkan, yaitu
Kawasan Non Budidaya dan Kawasan Budidaya. Kawasan Non Budidaya atau
yang lebih dikenal sebagai kawasan lindung merupakan wilayah kendala dan
wilayah limitasi dalam pemanfaatan ruang. Kawasan Lindung ini kemudian
digolongkan lagi menjadi beberapa kelompok. Sebenarnya menurut Keputusan
Menteri Kimpraswil No. 327/KPTS/M/2002 pengelompokkan kawasan lindung
sendiri terbagi menjadi 6 macam pengelompokkan, akan tetapi pengelompokkan
yang dibuat disini dibuat menjadi 5 macam, yaitu Kawasan yang memberikan
perlindungan dibawahnya, kawasan pelestarian alam, kawasan perlindungan
setempat, kawasan rawan bencana alam dan kawasan perlindungan lainnya.
Sementara itu untuk kawasan budidaya dikelompokkan menjadi 2 (dua)
macam, yaitu kelompok kawasan budidaya kehutanan dan kelompok kawasan
budidaya non kehutanan. Pembagian kemudian dilakukan lagi untuk kawasan
budidaya non kehutanan, yakni kawasan budidaya pertanian yang terdiri dari
kawasan agropolitan, kawasan pertanian lahan basah, kawasan pertanian lahan

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Merauke 2010-2030 IV– 1


PEMERINTAH KABUPATEN MERAUKE

kering, kawasan peternakan dan kawasan perkebunan. Kawasan budidaya non


kehutanan yang kedua adalah kawasan budidaya non pertanian, yang terdiri dari
Kawasan pertambangan/penggalian, kawasan pariwisata, kawasan industri,
kawasan permukiman, kawasan pariwisata dan kawasan pemerintahan &
perkantoran swasta.

IV.1 Kawasan Lindung


Kawasan lindung merupakan kawasan yang memiliki fungsi utama untuk
melindungi kelestarian sumber daya alam dari kegiatan budidaya sehingga
membentuk fungsi lindung dari ekosistem suatu wilayah. Penetapan kawasan
lindung bertujuan untuk memberikan perlindungan kepada kawasan-kawasan
sekitar dalam memasok air, mencegah longsor, meminimalisasi dampak gempa
bumi, dan menjaga fungsi hidrologi ekosistem danau dan sekitarnya. Masing-
masing kelompok kawasan tersebut dikembangkan berdasarkan permasalahan
kondisi eksisting dan potensi-potensi yang ada baik potensi eksisting kawasan
maupun kawasan baru yang berpotensi dikembangkan menjadi kawasan non
budidaya. Pertimbangan penambangan kawasan baru sebagai kawasan non
budidaya didasarkan atas kondisi topografi, kelerengan, kawasan rawan bencana
yang ada di Kabupaten Merauke.
Kawasan-kawasan yang berfungsi lindung pada Kabupaten Merauke yaitu :
(1) Hutan lindung dan kawasan konservasi serta resapan air yang memberikan
perlindungan di bawahnya.
(2) Kawasan perlindungan setempat yang terdiri atas sempadan sungai,
sempadan pantai, dan pulau-pulau kecil.
(3) Kawasan suaka alam dan pelestarian alam. Di Kabupaten Merauke terdapat 4
macam kawasan suaka alam dan pelestarian alam, yaitu Cagar Alam Rawa
Biru, Taman Nasional Wasur, Suaka Margasatwa, dan Pelestarian Budaya.
(4) Kawasan rawan bencana alam. Bencana alam yang potensial terjadi di
Kabupaten Merauke adalah bencana erosi/abrasi pantai serta gelombang
pasang dan banjir.
(5) Kawasan lindung lainnya seperti kawasan perlindungan plasma nutfah dan
kawasan pantai berhutan bakau.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Merauke 2010-2030 IV– 2


PEMERINTAH KABUPATEN MERAUKE

Rencana kawasan lindung di Kabupaten, yang terdiri dari :


(a) Kawasan Hutan Lindung;
(b) Kawasan yang Memberi Perlindungan Dibawahnya;
(c) Kawasan Perlindungan Setempat;
(d) Kawasan Pelestarian Alam;
(e) Kawasan Rawan Bencana;
(f) Kawasan Perlindungan Lainnya.

A. Kawasan Hutan Lindung


Termasuk kepada rencana pengembangan kawasan hutan lindung
Kabupaten Merauke Tahun 2030 adalah kawasan hutan lindung yang telah ada.
Selain itu perlunya menetapkan kawasan hutan dengan luas minimal 30% dari
keseluruhan luas hutan pada daerah DAS sebagai catchment area. Kriteria
penetapan kawasan hutan lindung adalah :
• Kawasan hutan dengan faktor-faktor lereng lapangan, jenis tanah, curah
hujan yang melebihi nilai skor 175 menurut surat Keputusan Menteri
Pertanian No.837/KPTS/UM/11/1980.
• Kawasan hutan mempunyai lereng lapangan 40% atau lebih (Inmendagri
8/1985).
• Kawasan hutan yang mempunyai ketinggian di atas permukaan laut 2.000
meter atau lebih.

Rencana pengembangan kawasan lindung Tahun 2010-2030 tersebar


Distrik Ilwayab, Kimaam, Tabonji, Kurik, Tubang, Okaba dan Kaptel. Langkah-
langkah yang perlu ditempuh untuk melindungi kawasan lindung adalah sebagai
berikut :
1) Pemantapan kawasan hutan lindung berdasarkan kriteria di atas, melalui
pengukuhan dan penataan batas di lapangan untuk memudahkan
pengendalian.
2) Pengendalian kegiatan budidaya yang telah ada (penggunaan lahan yang
telah berlangsung lama), agar tidak mengganggu kawasan hutan lindung.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Merauke 2010-2030 IV– 3


PEMERINTAH KABUPATEN MERAUKE

3) Pengembalian kawasan hutan yang telah mengalami kerusakan melalui


program rehabilitasi, reboisasi dan konservasi.
4) Pencegahan berkembangnya kegiatan budidaya di areal hutan lindung.
kecuali kegiatan yang tidak mengganggu fungsi lindung, seperti pos penjaga
hutan, kegiatan penelitian.
5) Pemantauan terhadap kegiatan yang diperbolehkan berlokasi di hutan
lindung, diantaranya balai penelitian, eksplorasi mineral dan air tanah dan
pencegahan bencana alam, sehingga tidak mengganggu fungsi hutan lindung
6) Pelibatan masyarakat secara aktif untuk menjaga dan melestarikan kawasan
berfungsi lindung.
Didasari atas hasil analisa Hutan Lindung di Kabupaten Merauke, maka
rencana pengembangan kawasan lindung secara umum adalah sebagai berikut :
(1) Hutan Lindung dan Hutan Kota perlu dipertahankan keberadaannya dan
keutuhannya untuk daya dukung serta menjaga keseimbangan ekosistem
selain berfungsi sebagai catchment area (daerah tangkapan air) yang
diharapkan sebagai sumber air baku untuk kebutuhan masyarakat dan
PDAM.
(2) Kerusakan Hutan Lindung sebagian besar disebabkan oleh faktor manusia
karena adanya pertambahan penduduk yang diiringi dengan meningkatnya
kebutuhan akan lahan usaha dan permukiman serta adanya penebangan
liar, untuk itu segala penebangan liar atau perambah hutan segera
dihentikan dan ditindak agar tidak terulang lagi pelanggaran lingkungan
oleh masyarakat maupun instansi / perusahaan.
(3) Dengan perencanaan dan pengelolaan yang ketat terhadap keseimbangan
lingkungan fungsi kawasan hutan (lindung, kota dan mangrove)
ditingkatkan, selain berfungsi sebagai kawasan hijau penyangga lingkungan
juga dapat dimanfaatkan sebagai kawasan wisata dan daya tarik
Kabupaten Merauke, dengan konsep “Natural Conservation And
Tourism. “
(4) Pembuatan Buffer Zone kawasan lindung.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Merauke 2010-2030 IV– 4


PEMERINTAH KABUPATEN MERAUKE

(5) Pemanfaatan kawasan hutan untuk dapat diakses oleh umum/ masyarakat
sehingga dapat menjadi bagian dari sistem kota, dengan pengelolaan dan
pengawasan yang ketat sehingga tidak terjadi perambahan.
(6) Reboisasi dan rehabilitasi lahan kritis dengan metode kerjasama antara
pemkot dengan masyarakat (pemberdayaan) dengan memanfaatkan lahan
tidur.
(7) Peningkatan pengawasan dengan melibatkan masyarakat sebagai alat
kontrol.
(8) Pengawasan dan pengendalian kuantitas sumberdaya air.
(9) Pengelolaan sumberdaya hutan secara ADATIF.
(10) Penempatan pos jaga pada tempat yang strategis.
(11) Penambahan lokasi persemaian bibit.

Untuk lebih jelasnya rencana kawasan lindung kabupaten Merauke dapat di


dilihat pada Gambar 4.1 Peta rencana Kawasan Hutan Lindung.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Merauke 2010-2030 IV– 5


PEMERINTAH KABUPATEN MERAUKE

B. Kawasan Yang memberi Perlindungan di Bawahnya


1. Kawasan Konservasi dan Resapan Air
Kawasan resapan air adalah kawasan yang mempunyai kemampuan tinggi
untuk meresap air hujan (akuifer) yang berguna sebagai sumber air. Tujuan
perlindungan kawasan resapan air pada kawasan hutan/rawa sungai dan city
ponds adalah untuk memberikan ruang yang cukup bagi peresapan air hujan
pada daerah resapan air tanah untuk keperluan penyediaan kebutuhan air tanah
dan penanggulangan banjir, baik untuk kawasan bawahannya, maupun kawasan
yang bersangkutan.
Kriteria penetapan kawasan konservasi dan resapan air adalah curah hujan
yang tinggi, struktur tanah yang mudah meresapkan air dan bentuk geomorfologi
yang mampu meresapkan air hujan secara besar-besaran. Kawasan konservasi
dan resapan air di Kabupaten Merauke tersebar di Distrik Animha, Elikobel,
Jagebob, Kaptel, Kurik, Muting, Ngguti, Okaba, Sota, Tanah Miring, Tubang dan
Ulilin.
Pengaturan terkait kawasan konservasi dan resapan air adalah sebagai
berikut:
• Hutan lindung yang telah ada berdasarkan peraturan / perundangan yang
berlaku tetap dipertahankan.
• Penggunaan lahan yang telah ada (permukiman, sawah, tegalan, tanaman
tahunan/perkebunan, dan lain-lain) di dalam kawasan ini secara bertahap
dialihkan ke arah usaha konservatif dan/atau dibatasi secara ketat, sehingga
fungsi lindung yang diemban dapat dilaksanakan.
• Penggunaan lahan yang akan mengurangi fungsi konservasi secara bertahap
dialihkan fungsinya sebagai lindung sesuai kemampuan dana yang ada.
• Penggunaan lahan baru tidak diperkenankan bila tidak menjamin fungsi
lindung terhadap hidro-orologis, kecuali jenis penggunaan yang sifatnya
tidak bisa dialihkan (menara TVRI, jaringan listrik, telepon, air minum dan
lain-lain), hal tersebut tetap memperhatikan azas konservasi.
Untuk lebih jelasnya rencana Kawasan yang memberikan perlindungan
kawasan bawahannya kabupaten Merauke dapat dilihat pada Gambar 4.2 Peta
Rencana Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Kawasan Bawahannya.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Merauke 2010-2030 IV– 7


PEMERINTAH KABUPATEN MERAUKE

C. Kawasan Perlindungan Setempat


1. Sempadan Sungai
Sempadan sungai adalah kawasan sepanjang kiri kanan sungai, yang
mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai.
Tujuan perlindungan sempadan sungai adalah untuk melindungi sungai dari
kegiatan manusia yang dapat mengganggu dan merusak kualitas air sungai,
mengamankan aliran sungai dan mencegah terjadinya erosi sedimen pinggiran
sungai. Sempadan sungai yang dilindungi ini ditanami berbagai tanaman keras
sehingga fungsi perlindungan kawasan dapat tercapai, sekaligus sebagai jalur
hijau. Adapun tanaman keras yang dapat dikembangkan di sempadan sungai
antara lain tanaman buah-buahan seperti rambutan, mangga, nangka, durian, dan
tanaman perkebunan seperti kopi.
Kriteria penetapan sempadan sungai dilakukan berdasarkan Keppres No.32
Tahun 1990 tentang Kawasan Lindung, Peraturan Menteri PU No. 63/PRT/1993
tentang sempadan sungai, dan kesepakatan bersama forum DAS BIKUMA tentang
wilayah sempadan sungai. Sesuai dengan kondisi dan karakteristik sungai-sungai
yang ada di Kabupaten Merauke yang memiliki batas pasang surut yang sangat
besar dan juga wilayah DAS yang cukup datar, maka didalam RTRW ini ditetapkan
garis sempadan untuk sungai-sungai besar sebesar + > 500 meter dan untuk
sungai-sungai kecil sebesar 100 meter. Hal tersebut merupakan suatu bentuk
kesepakatan yang telah dicapai dalam Forum DAS BIKUMA untuk karakteristik
wilayah yang khas di Kabupaten Merauke. Dengan dasar pertimbangan Peraturan
Menteri PU No. 63/PRT/1993 dan kesepakatan bersama forum DAS BIKUMA
maka disusunlah suatu konsep sempadan sungai yang terdiri dari 2 (dua) zona,
Zona Inti Sempadan dan Zona Pendukung Sempadan. Zona inti sempadan adalah
100 m dari tepi sungai dan zona pendukungnya adalah 400 m dari garis Zona Inti
Sempadan. Dikarenakan tujuan sempadan sungai ini adalah untuk mencegah
kerusakan sungai maka kegiatan manusia harus dijauhkan dari sempadan sungai
tersebut. Pencegahan terhadap munculnya aktifitas manusia di sempadan sungai
dapat dilakukan dengan beberapa metode, salah satunya antara lain dengan
memisahkan permukiman dari bantaran sungai dengan pagar, ruang terbuka
hijau, dan jalan sebagai pemisah.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Merauke 2010-2030 IV– 9


PEMERINTAH KABUPATEN MERAUKE

Kawasan sempadan sungai terdapat pada sebagian besar wilayah Kabupaten


Merauke yang tersebar di Distrik Animha, Elikobel, Ilwayab, Jagebob, Kaptel,
Kimaam, Kurik, Malind, Merauke, Naukenjerai, Muting, Ngguti, Okaba, Semangga,
Sota, Tabonji, Tanah Miring, Tubang, Ulilin dan Waan.

2. Sempadan Pantai
Sempadan pantai adalah kawasan sepanjang garis pantai yang mempunyai
manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi laut. Tujuan
perlindungan sempadan pantai adalah untuk melindungi laut dari kegiatan
manusia yang dapat mengganggu dan merusak kualitas air laut dan kekayaan
hayati di dalamnya, serta mencegah terjadinya abrasi pantai. Untuk melindungi
sempadan pantai dari aktifitas manusia maka sempadan pantai harus ditanami
dengan pohon bakau/mangrove sehingga fungsi perlindungan dapat tercapai.
Sebagaimana kriteria penetapan sempadan sungai, maka kriteria penetapan
sempadan pantai juga didasarkan kepada Keppres No.32 Tahun 1990 tentang
Kawasan Lindung. Berdasarkan Keputusan Presiden tersebut maka harus
disediakan buffer selebar 100 meter di sepanjang garis pantai, terutama pada
garis pantai yang menerima arus gelombang laut lebih besar. Selain ditanami
dengan mangrove, pemisahan sempadan pantai dengan aktifitas manusia juga
dapat dilakukan dengan membangun jalan sebagai pemisah antara pantai dan
permukiman. Luas kawasan lindung sempadan pantai yang harus disediakan di
Kabupaten Merauke adalah 17.166,97 Hektar dan terdapat di Distrik Ilwayab,
Kimaam, Malind, Merauke, Naukenjerai, Okaba, Semangga, Tabonji, Tubang, Ulilin
dan Waan.
Untuk lebih jelasnya rencana kawasan perlindungan setempat kabupaten
Merauke dapat dilihat pada Gambar 4.3 Peta Rencana Kawasan Perlindungan
Setempat.

D. Kawasan Suaka Alam dan Pelestarian Alam


Kawasan Suaka Alam, didefinisikan sebagai perlindungan kawasan suaka alam
guna melindungi keanekaragaman biota, tipe ekosistem, gejala dan keunikan alam
bagi kepentingan plasma nutfah, ilmu pengetahuan dan pembangunan pada
umumnya. Kawasan suaka alam yang ada di Kabupaten Merauke berupa kawasan

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Merauke 2010-2030 IV– 10


PEMERINTAH KABUPATEN MERAUKE

cagar alam, taman nasional, suaka margasatwa, dan cagar budaya, dengan kriteria
penetapannya, diantaranya adalah :
(1) Kawasan yang ditunjuk memiliki keadaan yang menarik dan indah baik
secara alamiah maupun buatan manusia.
(2) Memenuhi kebutuhan manusia akan rekreasi dan olahraga serta terletak
dekat pusat-pusat permukiman penduduk.
(3) Mengandung satwa buru yang dapat dikembangbiakkan, sehingga
memungkinkan perburuan secara teratur dengan mengutamakan segi
rekreasi, olahraga, dan kelestarian satwa.
Kawasan pelestarian alam yaitu kawasan yang memiliki kerentanan fisik
ekosistem, seperti kawasan pantai berhutan bakau di Distik Waan, Tubang,
Tabonji, Semangga, Okaba, Ngguti, Naukenjerai, Merauke, Malind, Kurik, Kimaam,
dan Ilwayab.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Merauke 2010-2030 IV– 11


PEMERINTAH KABUPATEN MERAUKE

A. Cagar Alam
Cagar Alam yang terdapat di Kabupaten Merauke adalah Cagar Alam Kumbe
dan Cagar alam Rawa Biru. Cagar Alam Kumbe/Bupul terdapat di Distrik Elikobel,
Distrik Muting, Distrik Jagebob dan Distrik Tanah Miring. Cagar Alam Pulau
Pombo di Distrik Kimaam. Khusus untuk Cagar Alam Kumbe/Bupul, diperkirakan
Cagar Alam ini melindungi lebih dari 230 jenis burung (termasuk burung migran
dari Asia dan Australia), 4 Jenis Burung Dewata, 20 Jenis Burung Kakatua/Kasturi
dan 60 jenis Mamalia. Sedangkan luas wilayah Cagar Alam Rawa Biru adalah
11.786,62 Ha dengan cakupan [Link] Distrik Sota, Distrik Jagebob dan Distrik
Tanah Miring. Cagar Alam Rawa Biru menjadi satu kesatuan dengan wilayah
Taman Nasional Wasur.

B. Taman Nasional Wasur


Taman Nasional Wasur terletak 15 km dari Kota Merauke dengan luas
wilayah 458.534,975 Ha serta cakupan wilayah Distrik Elikobel, Distrik Sota,
Distrik Merauke, Distrik Naukenjerai dan Distrik Jagebob. Kondisi tanahnya datar
dan didominasi padang rumput, hutan Bakau, Rawa dan hutan bambu. Di taman
ini terdapat beberapa jenis hewan dan tumbuhan. Ada 74 jenis hewan mamalia
dan 410 jenis burung termasuk burung-burung Migran dari Asia dan Australia.

C. Suaka Margasatwa
Suaka Margasatwa yang terdapat di Kabupaten Merauke seluas
657.849,86Ha terdiri dari 3 (tiga) buah yaitu Suaka Margawatwa Kumbe, Suaka
Margasatwa Pulau Kimaam dan Suaka Margasatwa Pulau Komolom. Suaka
Margasatwa Kumbe mencakup wilayah distrik Muting dan distrik Ulilin, Kawasan
Suaka Margasatwa Danau Bian di Distrik Mutin, Pulau Dolok di Distrik Tabonji,
Distrik Kimaam dan Distrik Waan. Khusus Suaka Margasatwa Pulau Kimaam,
selain merupakan tempat perlindungan bagi berbagai jenis burung, juga
merupakan tempat perlindungan bagi Penyu Laut. Selain hewan, habitat yang juga
dilindungi di Pulau Kimaam adalah Hutan Mangrove, dimana menurut data NASA
pada tahun 2002, Hutan Mangrove di Pulau ini adalah salah satu Hutan Mangrove
terbesar yang ada di Dunia, yakni seluas 268.006,52 Ha.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Merauke 2010-2030 IV– 13


PEMERINTAH KABUPATEN MERAUKE

D. Kawasan Pelestarian Budaya


Dengan bantuan data yang didapatkan dari WWF Region Sahul Merauke,
dapat diidentifikasi tempat-tempat yang memiliki nilai-nilai adat dan budaya
masyarakat Marind, yang terdiri dari :
a. Jalur perjalanan leluhur yang meliputi jalur arwah dan tempat persinggahan
lelulur;
b. Area Konservasi Adat;
c. Tempat Sakral;
d. Sumber Mata Air; dan
e. Dusun Sagu.

Selain yang disebutkan diatas, di Kabupaten Merauke juga terdapat situs-


situs budaya yang tersebar di Distrik Anim Ha, Elikobel, Ilwayab, Jagebob, Kaptel,
Kimaam, Kurik, Malind, Muting, Ngguti, Okaba, Semangga, Sota, Tabonji, Tanah
Miring, Tubang, Ulilin, dan Waan.
Untuk menjaga eksistensi dan keberlangsungan tempat-tempat yang
mengandung nilai budaya tersebut, maka perlu diakomodir dalam rencana pola
ruang sebagai kawasan pelestarian budaya.
Kawasan pelestarian budaya adalah kawasan yang berfungsi untuk
melindungi aset-aset alamiah maupun buatan yang memiliki nilai sejarah dan
budaya yang tinggi.
Khusus untuk dusun sagu, wilayah ini dapat juga digunakan sebagai lahan
agroforestry bagi penduduk setempat. Hal ini bisa dijelaskan karena sebagian
besar mata pencaharian penduduk asli Kabupaten Merauke adalah meramu,
sehingga tempat-tempat penting seperti Dusun Sagu harus dipertahankan agar
penduduk asli tidak kehilangan mata pencaharian mereka.
Untuk lebih jelasnya rencana kawasan suaka alam dan pelestarian alam
kabupaten Merauke dapat dilihat pada Gambar 4.4 Peta Rencana Kawasan
Suaka Alam dan Pelestarian Alam.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Merauke 2010-2030 IV– 14


PEMERINTAH KABUPATEN MERAUKE

E. Kawasan Rawan Bencana Alam


1. Kawasan Rawan Erosi
Jenis tanah di pesisir sungai di Kabupaten Merauke memiliki tingkat kelulusan
air tinggi sehingga peka terhadap erosi. Sedangkan di pesisir pantai erosi/abrasi
terjadi karena kuatnya arus ombak laut dan tidak ada penghalang/penahan tanah
atau zona buffer pantai yang biasanya berupa hutan bakau/mangrove. Kawasan
erosi atau runtuhan terdapat Distrik Okaba, Tubang dan Naukenjerai. Wilayah di
Kabupaten Merauke yang mengalami abrasi pantai paling mengkhawatirkan saat
ini adalah di Distrik Naukenjerai, dan di Distrik Semangga.
Menyikapi hal tersebut maka pada pesisir pantai dibangun penahan
gelombang untuk mengantisipasi dalam jangka pendek. Sebagai tindakan
antisipasi jangka panjang maka pesisir pantai dapat dibangun tanggul-tanggul
penahan ombak atau bangunan-bangunan sejenis untuk meredam arus ombak
laut. Selain itu untuk memecahkan arus ombak laut pada kawasan daratan pantai
jarak yang menjorok ke laut, perlu tindakan penanaman pohon bakua (mangrove)
pada jarak tertentu dari bibir pantai.

2. Kawasan Rawan Gelombang Pasang dan Banjir


Kabupaten Merauke mempunyai tingkat kerawanan banjir yang cukup tinggi
karena kondisi fisiografis Kabupaten Merauke yang beberapa bagiannya terdiri
dari Rawa Besar dan juga Savanna. Mengingat bentang alam yang sangat landai
dari Kabupaten ini, apabila dilanda hujan terus menerus wilayah Kabupaten
Merauke akan tergenang oleh air dari rawa-rawa besar tersebut.
Mengantisipasi datangnya banjir, maka tindakan pencegahan banjir perlu
dilakukan dengan membangun infrastruktur-infrastruktur yang diperlukan. Selain
menyediakan infrastruktur pencegah banjir, untuk daerah genangan yang
diperkirakan akan menjadi daerah genangan banjir perlu diminimalkan
aktifitasnya untuk mencegah kerugian yang terlampau besar. Demikian halnya
dengan kawasan rawan gelombang pasang, aktifitas atau permukiman pada
kawasan tersebut seyogyanya dipindahkan menjauhi batas pasang laut untuk
menghindari kerugian.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Merauke 2010-2030 IV– 16


PEMERINTAH KABUPATEN MERAUKE

Kawasan rawan banjir di Kabupaten Merauke terdapat di Distrik Okaba,


Kurik, Malind, Merauke, Semangga, Tanah Miring dan Tubang;
Untuk lebih jelasnya rencana kawasan rawan bencana kabupaten Merauke
dapat dilihat pada Gambar 4.5 Peta Kawasan Rawan Bencana.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Merauke 2010-2030 IV– 17


PEMERINTAH KABUPATEN MERAUKE

F. Kawasan Lindung Lainnya


1. Kawasan Perlindungan Plasma Nutfah
Sumber daya perikanan merupakan salah satu sektor yang kuat dalam
menunjang perekonomian Kabupaten Merauke, oleh karena itu perlu dilakukan
tindakan perlindungan terhadap produksi perikanan Kabupaten Merauke dimulai
dari perlindungan terhadap sumber makanan ikan-ikan tersebut. Sebagai tindakan
perlindungan terhadap plasma nutfah maka kawasan hutan mangrove di
Kabupaten Merauke, khususnya di bagian utara Ilwayab, harus dilestarikan
sebagai perlindungan sumber daya perikanan di Muara Digoel.
Dikarenakan kawasan pantai di bagian utara Distrik Ilwayab tidak termasuk
wilayah administrasi Kabupaten Merauke, maka tindakan pelestarian hutan
kawasan bakau sebagai kawasan perlindungan plasma nutfah harus dilakukan
dengan bekerja sama dengan pemerintah Kabupaten Boven Digoel dan
Pemerintah Kabupaten Mappi.

2. Kawasan Pantai Berhutan Bakau


Pada tahun 2007, hutan mangrove di Kabupaten Merauke terdiri dari hutan
mangrove primer seluas 258.187,1 Ha dan hutan mangrove sekunder seluas
16.366,7 Ha. Luas penggunaan lahan oleh hutan mangrove primer ini telah
berkurang sejak tahun 2002 dari 305.456 Ha, sedangkan luas hutan mangrove
sekunder bertambah dari 7379,5 Ha pada tahun 2002. Oleh karena itu, maka perlu
direncanakan penanaman kembali tanaman bakau pada kawasan-kawasan hutan
mangrove sekunder, dan kawasan sempadan pantai yang memiliki fungsi untuk
perlindungan pantai. Sedangkan kawasan hutan mangrove primer harus
dipelihara dan tetap ditingkatkan kualitasnya untuk melindungi sempadan pantai
dari aktifitas manusia yang merusak.
Dalam pengelolaan ekosistem mangrove di Kabupaten Merauke dapat
dilaksanakan dengan memperhatikan prinsip dasar sumber daya mangrove
seperti :
(1) Melindungi proses ekologi dan penyangga kehidupan. Peranan hutan
mangrove dalam kelangsungan proses ekologi dan sistem penyangga

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Merauke 2010-2030 IV– 19


PEMERINTAH KABUPATEN MERAUKE

kehidupan biota laut, sebagai penyaring dan pengurai bahan organik yang
datang dari daratan, sebagai tempat penahan angin dan gelombang.
(2) Pengawetan keanekaragaman sumber plasma nutfah. Hutan mangrove yang
posisinya sebagai penghubung daratan dan lautan adalah merupakan tempat
hidup hewan dan tumbuhan yang merupakan sumber plasma nutfah.
(3) Pemanfaatan secara lestari jenis maupun ekosistemnya, yaitu dengan
mengendalikan cara pemanfaatan sehingga mencapai manfaat yang optimal
dan berkesinambungan.
Didasari hal tersebut dan hasil analisa Hutan Mangrove yang terdapat di
Kabupaten Mareuke, maka rencana pengembangan kawasan Mangrove adalah
sebagai berikut :
(1) Melarang penebangan hutan bakau termasuk melarang pemanfaatan kayu
bakau untuk dijadikan bahan baku kegiatan apapun dengan kriteria kawasan
perlindungan hutan bakau ditetapkan dengan jarak minimal 130 kali nilai
rata-rata perbedaan air pasang tertinggi dan terendah tahunan diukur dari
garis air surut terendah ke arah darat.
(2) Rehabilitasi kawasan hutan mangrove yang rusak dan telah ditunjuk sebagai
kawasan hutan konservasi, terutama pada kawasan pantai yang rawan
bencana erosi, seperti di Distrik Okaba dan Naukenjerai.
(3) Menetapkan kawasan hutan mangrove sebagai areal yang dilindungi dalam
Peraturan Daerah tersendiri.
(4) Melarang pengembangan kegiatan budidaya di kawasan hutan bakau kecuali
untuk kegiatan ekowisata.
(5) Mengidentifikasi potensi wisata hutan mangrove.
Untuk lebih jelasnya rencana kawasan lindung Kabupaten Merauke dapat
dilihat pada Gambar 4.6 Peta Kawasan Rencana Kawasan Lindung.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Merauke 2010-2030 IV– 20


PEMERINTAH KABUPATEN MERAUKE

IV.2. Kawasan Budidaya

Kawasan budidaya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama


untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber
daya manusia, dan sumber daya buatan.
Kawasan budidaya di Kabupaten Merauke terdiri atas kawasan peruntukan
hutan produksi, kawasan peruntukan pertanian, kawasan peruntukan perikanan,
kawasan peruntukan pertambangan, kawasan peruntukan industri, kawasan
peruntukan pariwisata, kawasan peruntukan permukiman, dan/atau kawasan
peruntukan lainnya.
Dalam menentukan rencana kawasan budidaya, perlu mempertimbangkan
arahan kawasan andalan yang tercantum dalam RTRWN, yakni bagian dari
kawasan budidaya, baik di ruang darat maupun ruang laut yang
pengembangannya diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi bagi
kawasan tersebut dan kawasan di sekitarnya. Merauke ditentukan sebagai
kawasan andalan. Hal ini merupakan indikasi pentingnya peran Merauke sebagai
pendorong pertumbuhan ekonomi bagi wilayah sekitarnya. Sektor unggulan
wilayah ini adalah pariwisata, perikanan, industri, pertambangan, perkebunan,
dan kehutanan.

Dengan pertimbangan berbagai azas tersebut dan dengan berdasarkan pada


hasil kegiatan analisis, pengembangan kawasan budidaya di Kabupaten Merauke
20 tahun ke depan adalah sebagai berikut:

A. Kawasan Hutan Produksi

Hutan produksi adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok


memproduksi hasil hutan, baik hasil hutan kayu maupun non kayu. Kawasan
peruntukan hutan produksi terdiri atas kawasan peruntukan hutan produksi
terbatas (HPT), kawasan peruntukan hutan produksi tetap (HP), dan kawasan
peruntukan hutan produksi yang dapat dikonversi (HPK).

Penentuan HPT, HP dan HPK di Kabupaten Merauke mengacu pada perubahan


peruntukan dan perubahan fungsi berdasarkan RTRW Provinsi Papua tahun
2011-2031 dengan rincian sebagai berikut :

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Merauke 2010-2030 IV– 22


PEMERINTAH KABUPATEN MERAUKE

1. Hutan produksi tetap adalah kawasan hutan yang karena pertimbangan


kebutuhan sosial ekonomi dipertahankan sebagai kawasan hutan produksi
yang berfungsi untuk menghasilkan hasil-hasil hutan bagi kepentingan
Negara, masyarakat, industri dan ekspor. Tujuan pengelolaan kawasan ini
adalah memanfaatkan ruang beserta sumber daya hutan, baik dengan cara
tebang pilih maupun tebang habis dan tanam untuk menghasilkan bagian
dari hutan bagi kepentingan Negara, masyarakat dan industri dengan tetap
menjaga kelestarian hutan.

Hutan produksi tersebar di Distrik Animha, Ilwayab, Jagebob, Kaptel,


Kimaam, Kurik, Muting, Ngguti, Okaba, Tabonji, Tanah Miring, Tubang dan
Ulilin

2. Hutan produksi yang dapat dikonversi adalah areal hutan produksi tetap
yang dapat dirubah peruntukannya guna memenuhi kebutuhan
pengembangan transmigrasi, pertanian, perkebunan, industri, permukiman
dan lain-lain.

Hutan produksi yang dapat dikonversi di Kabupaten Merauke tersebar di


Distrik Animha, Ilwayab, Kurik, Malind, Ngguti, Okaba, Semangga, Tanah
Miring dan Ulilin

Pengelolaan dari kawasan hutan produksi adalah sebagai berikut :

• Penggunaan kawasan ini untuk fungsi lainnya diperkenankan bila


pemakaian kawasan hutan tersebut telah mendapatkan persetujuan dari
menteri kehutanan dengan pergantian areal di tempat lain paling sedikit
dengan perbandingan 1:1. Apabila kawasan hutan produksi berupa
tanah yang dikuasai masyarakat, maka penggunaan kawasan ini untuk
keperluan lain, harus mempertimbangkan ketentuan yang berkaitan
dengan alih hak.

• Hutan produksi yang ada sebelum penetapan ini, yang kondisi fisiknya
masih berupa hutan agar tetap dipertahankan untuk hutan produksi.
Sedangkan kawasan hutan produksi lama yang karena kriteria kawasan
berubah fungsinya menjadi kawasan hutan lindung, disesuikan

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Merauke 2010-2030 IV– 23


PEMERINTAH KABUPATEN MERAUKE

pemanfaatannya dengan mengutamakan upaya konservasi, setidaknya


dalam bentuk hutan produksi terbatas.

• Kawasan hutan produksi yang ada sebelum penetapan ini yang fisiknya
berupa hutan rakyat, tegalan atau penggunaan non hutan lainnya dan
sudah menjadi garapan rakyat, kecuali yang masuk dalam kawasan yang
berfungsi lindung, supaya diadakan penertiban penguasaaan dan
pemilikan.
Untuk lebih jelasnya rencana peruntukan hutan produksi Kabupaten
Merauke dapat dilihat pada Gambar 4.7 Peta Peruntukan Kawasan Hutan
Produksi.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Merauke 2010-2030 IV– 24


PEMERINTAH KABUPATEN MERAUKE

B. Kawasan Peruntukan Pertanian

1. Kawasan Pertanian Tanaman Pangan Lahan Basah

Yaitu kawasan yang diperuntukkan bagi tanaman pangan lahan basah dimana
perairannya dapat diperoleh secara alamiah ataupun teknis. Jenis tanaman lahan
basah yang dapat dikembangkan di Kabupaten Merauke adalah pertanian
tanaman pangan.

Kawasan yang sesuai untuk tanaman pangan lahan basah adalah yang
mempunyai sistem atau potensi pengembangan perairan yang memiliki :

• Ketinggian < 1.000 m.

• Kelerengan < 40%.

• Kedalaman efektif lapisan tanah atas > 30 cm.

Pengaturan dari kawasan pertanian tanaman pangan lahan basah ini adalah
sebagai berikut :

• Perlu pemeliharaan sumber-sumber air untuk menjaga kelangsungan


perairan.

• Mengendalikan permukiman dan budidaya lainnya.

Rencana alokasi Kawasan Tanaman Pangan Lahan Basah di Kabupaten


Merauke tersebar di Distrik Animha, Ilwayab, Jagebob, Kaptel, Kimaam, Kurik,
Malind, Muting, Ngguti, Okaba, Sota, Tabonji, Tanah Miring, Tubang dan Ulilin.

2. Kawasan Pertanian Tanaman Pangan Lahan Kering

Adalah kawasan yang diperuntukkan bagi tanaman pangan lahan kering


untuk palawija, hortikultura atau tanaman pangan lainnya. Dimana kriteria dari
kawasan ini adalah :

• Kawasan yang tidak mempunyai sistem/potensi pengembangan pengairan


dan memiliki ketinggian < 1.000 m.

• Kelerengen < 40%.

• Kedalaman efektif lapisan tanah > 30 cm.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Merauke 2010-2030 IV– 26


PEMERINTAH KABUPATEN MERAUKE

Pengaturan dari kawasan ini adalah sebagai berikut :

• Pengembangan dan peningkatan hortikultura dan buah-buahan.

• Mempertahankan tanaman keras yang ada.

• Budidaya palawija dan sayur-sayuran > 8% perlu mengacu pada SK Mentan


No. 175/Kpts/RC-200/4/1997.

Adapun arahan pemanfatan ruang untuk Tanaman Pangan Lahan Kering di


Distrik Merauke tersebar di Distrik Animha, Elikobel, Ilwayab, Kimaam, Kurik,
Malind, Ngguti, Okaba, Semangga, Tabonji, Tanah Miring, Tubang dan Waan.

Untuk lebih jelasnya rencana peruntukan pertanian Kabupaten Merauke


dapat dilihat pada Gambar 4.8 Peta Peruntukan Kawasan Pertanian.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Merauke 2010-2030 IV– 27


PEMERINTAH KABUPATEN MERAUKE

C. Rencana Kawasan Perkebunan

Adalah kawasan yang diperuntukan bagi tanaman tahunan/perkebunan baik


bahan pangan dan bahan baku industri. Pertimbangan bagi kawasan ini adalah
sebagai berikut:

• Ketinggian < 2.000 m.

• Kelerengan < 40%.

• Kedalaman efektif lapisan tanah atas > 30 cm.

Kawasan tanaman tahunan/perkebunan berdasarkan kondisi dan kriteria


diarahkan pada Distrik Animha, Elikobel, Jagebob, Kaptel, Kurik, Muting, Ngguti,
Ulilin.

Untuk lebih jelasnya rencana peruntukan perkebunan kabupaten Merauke


dapat di dilihat pada Gambar 4.9 Peta Peruntukan Kawasan Perkebunan.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Merauke 2010-2030 IV– 29


PEMERINTAH KABUPATEN MERAUKE

D. Rencana Kawasan Peternakan

Kawasan peternakan adalah kawasan untuk usaha pengembangan


peternakan. Secara umum ternak dapat digolongkan menjadi 2 kelompok yaitu :
ternak besar (kerbau, sapi, kambing, domba dan kuda) dan ternak kecil (ayam, itik
dan jenis unggas lainnya). Untuk peternakan hewan besar harus memiliki padang
gembala atau jenis tanaman rumput-rumputan maupun pohon-pohon sebagai
pakan ternak.

Kriteria dari kawasan peternakan adalah :

• Bagi ternak besar, unit lahan sebaiknya dekat dengan lahan yang memiliki
nilai sesuai untuk tanaman rumput ternak (jenis tanah litosol, renzima dan
mediteran), atau dekat dengan lahan yang mempunyai intensif untuk
tanaman pangan (pertanian), sehingga limbah tanaman pangan dapat
dimanfaatkan untuk makanan ternak.

• Untuk ternak besar tidak dipengaruhi oleh ketinggian tempat.

• Untuk peternakan sapi, kerbau dan kambing seyogyanya di lahan yang


mempunyai kelerengan < 8% (relatif datar) agar masukan teknologi yang
diperlukan relatif rendah.

• Untuk peternakan babi secara fisik kriteria lokasi/lahan peternakan hampir


sama dengan ternak besar lainnya, namun yang penting adalah tidak terlalu
dekat dengan permukiman tidak menimbulkan polusi atau pencemaran
lingkungan, harus dikandangkan dengan lantai kering/perkerasan dan pada
daerah yang mempunyai kelerengan < 8%.

• Untuk peternakan unggas terbaik pada daerah up land (ketinggian > 500 m
dpl) dan makanan yang diberikan umumnya produksi pabrik dan secara
umum ternak unggas merupakan peliharaan penduduk yang terdapat pada
semua distrik.

• Lokasi hewan ternak besar dan kecil tidak diperkenankan berada pada
kawasan lindung.

Pengelolaan bagi kawasan peternakan adalah sebagai berikut :

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Merauke 2010-2030 IV– 31


PEMERINTAH KABUPATEN MERAUKE

• Untuk memasok kebutuhan makanan bagi peternakan


sapi/kerbau/kambing/domba perlu pengembangan jenis-jenis tanaman
makanan ternak (diversifikasi tanaman pakan ternak, pengolahan limbah
tanaman pangan dan sebagainya) agar kelangsungan usaha pengembangan
peternakan tersebut tetap terjaga.

• Lokasi untuk pengembangan ternak besar tersebut tidak menggunakan


daerah lahan pertanian areal lahan produktif pertanian serta tidak jauh dari
lokasi padang rumput/tempat makanan ternak tidak terlalu dekat dengan
permukiman.

• Lokasi padang rumput diusahakan menempati daerah lahan pertanian yang


kurang produktif.

• Untuk peternakan unggas diupayakan berjarak 1 km dari permukiman,


untuk mengurangi dampak penyakit terhadap masyarakat.

• Khusus peternakan itik, tidak mempunyai persyaratan khusus.

Adapun penetapan kawasan peternakan di Kabupaten Merauke tersebar


Distrik Kimaam, Malind, Tabonji dan Tubang.

Untuk lebih jelasnya rencana peruntukan perkebunan Kabupaten Merauke


dapat dilihat pada Gambar 4.10 Peta Peruntukan Kawasan Peternakan.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Merauke 2010-2030 IV– 32


PEMERINTAH KABUPATEN MERAUKE

E. Rencana Kawasan Perikanan

Kawasan perikanan adalah kawasan yang diperuntukkan bagi usaha


pengembangan perikanan, baik yang berupa tambak, kolam dan usaha perairan
lainnya. Untuk usaha pengembangan perikanan di Kabupaten Merauke tidak
mengalami kesulitan untuk dikembangkan. Berdasarkan analisis terdapat
pembagian kawasan pengembangan perikanan di kabupaten Merauke terdiri dari
:
1. Perikanan Tangkap
• Penggunaan alat tangkap yang ramah lingkungan dengan tingkat selektifitas
yang sesuai, baik terhadap jenis maupun ukuran ikan tangkapan, baik di
perairan darat maupun perairan laut.
• Penyediaan kapal-kapal penangkap ikan di perairan laut yang memadai
khususnya untuk skala penangkan besar.
• Pembuatan Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) dan fasilitas pendukungnnya
pada kawasan pelabuhan di Wanam, yang diproyeksikan menjadi Pusat
koleksi dan Distribusi hasil perikanan, baik perikanan darat maupun
perikanan laut.

• Pengembangan kawasan pelabuhan terpadu dapat dilengkapi dengan


pengembangan Pasar Ikan umum, baik untuk perikanan darat maupun laut.
• Pembangunan Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) dan fasilitas
pendukungnya pada kawasan pelabuhan yang berlokasi di Kelurahan Karang
Indah Distrik Merauke.

2. Perikanan Budidaya
• Penggunaan sistem budidaya yang sesuai, seperti sistem keramba apung di
sungai atau rawa-rawa besar yang dinilai cocok untuk perikanan air tawar.
• Pembinaan dan penyuluhan kepada masyarakat mengenai kegiatan
budidaya keramba dan kolam ikan air tawar.
• Pemeliharaan kualitas dan kelestarian ekosistem sungai melalui penanganan
terpadu pada daerah sempadan sungai dan daerah tangkapan air.
• Pembuatan belt kawasan perikanan yang gabung dengan peternakan pada
kawasan perikanan darat.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Merauke 2010-2030 IV– 34


PEMERINTAH KABUPATEN MERAUKE

• Pengembangan tambak di kawasan pesisir tanpa merusak tanaman


mangrove yang sudah ada disertai dengan pembangunan tempat persemaian
benih ikan.
• Pelestarian mangrove sebagai plasma nutfah untuk kegiatan perikanan
budidaya, khususnya tambak.

Untuk lebih jelasnya rencana peruntukan perikanan kabupaten Merauke


dapat dilihat pada Gambar 4.11 Peta Peruntukan Kawasan Perikanan.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Merauke 2010-2030 IV– 35


PEMERINTAH KABUPATEN MERAUKE

F. Rencana Kawasan Industri


Sektor basis Kabupaten Merauke selama ini adalah sektor pertanian, sub
sektor yang sangat kuat menunjang perekonomian Kabupaten Merauke adalah
pertanian lahan basah dan pertanian lahan basah, perikanan, dan peternakan
dikarenakan sumber daya alam yang banyak tersedia di Kabupaten Merauke
adalah sumber daya pertanian, perikanan, dan peternakan.
Dengan demikian, maka pengembangan kawasan industri yang tepat untuk
di Kabupaten Merauke adalah industri yang inputnya dari pertanian, yaitu industri
pengolahan hasil pertanian, perikanan, dan peternakan tersebut. Selain itu,
industri yang baik untuk dikembangkan di Kabupaten Merauke adalah industri
penunjang sektor pertanian, perikanan, dan peternakan yang dapat membantu
meningkatkan efektifitas dan efisiensi pertanian, perikanan, dan peternakan
tersebut.
Rencana pengembangan kawasan industri-industri tersebut adalah sebagai
berikut :
a) Kawasan Industri pengolahan hasil pertanian di Distrik Kurik, Muting dan
Tanah Miring.
b) Kawasan industri pengolahan hasil perikanan di Distrik Ilwayab.
c) Kawasan industri pengolahan hasil peternakan di Distrik Ngguti dan Kurik.
d) Kawasan Industri penunjang pertanian, perikanan, dan peternakan di Distrik
Merauke.
e) Kawasan Industri penunjang kehutanan.

Pengembangan perindustrian memiliki persyaratan dan tujuan sebagai berikut :


a) Pengembangan Kawasan Industri Baru yang lebih terpadu–terintegrasi
dengan sistem pelayanan wilayah dan menjadi salah satu magnet
pertumbuhan suatu kawasan baru.
b) Pengembangan pelabuhan dan dermaga industri terpadu yang dapat menjadi
sentra pelabuhan untuk kawasan industri sekitarnya.
c) Pengembangan kawasan Industri baru akan dibarengi dengan pembangunan
jaringan jalan/infrastruktur wilayah yang dapat menghubungi ke kawasan
industri baru tersebut.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Merauke 2010-2030 IV– 37


PEMERINTAH KABUPATEN MERAUKE

d) Kawasan industri baru diwajibkan untuk dilengkapi dengan fasilitas


pengolahan limbah.
e) Pengelolaan kawasan budidaya peruntukan industri dilakukan untuk
meningkatkan nilai tambah ruang guna memenuhi kebutuhan ruang untuk
pengembangan kegiatan industri, dengan tetap mempertahankan
kelestarian lingkungan dalam mewujudkan pembangunan yang
berkelanjutan.
f) Kriteria Penetapan
• Kawasan yang secara teknis dapat digunakan untuk kegiatan industri,
serta tidak mengganggu kelestarian lingkungan.
• Kawasan yang memiliki kelayakan fisik lokasi sebagai berikut :
- lahan relatif datar (lereng <5 %);
- luas minimal 5 Ha;
- dukungan prasarana jalan regional/lokal dengan ROW 8 m;
- dukungan prasarana air bersih;
- dukungan prasarana energi listrik;
- dukungan prasarana telekomunikasi;
- dukungan prasarana pembuangan/pengolahan limbah industri;
- tidak menimbulkan gangguan terhadap permukiman penduduk
kawasan disekitarnya yang apabila dikembangkan kegiatan
industri dapat memberikan manfaat secara, antara lain :
• meningkatkan produksi hasil industri dan meningkatkan dan
daya guna investasi yang ada di daerah sekitarnya;
• meningkatkan kegiatan sektor dan ekonomi di daerah
sekitarnya;
• tidak mengganggu kelestarian sumber daya alami;
meningkatkan pendapatan masyarakat;
• meningkatkan kontribusi pada pendapatan daerah dan
nasional;
• meningkatkan kesempatan kerja dan peluang berusaha;
• meningkatkan ekspor;
• meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Merauke 2010-2030 IV– 38


PEMERINTAH KABUPATEN MERAUKE

g) Kawasan industri dikembangkan di setiap pusat-pusat permukiman


khususnya untuk menunjang produksi perkebunan di tiap-tiap satuan
perkebunan, dengan prioritas lokasi pada Distrik Merauke, Ngguti, Ilwayab
dan Muting.
h) Bentuk kegiatan industri berupa industri pengolahan pertanian
(agroindustri) seperti pabrik kelapa sawit yang mengolah kelapa sawit
menjadi CPO (CrudePalmOil), pengolahan karet (crumb rubber), Kakao,
Kopi, pengemasan buah-buahan dan sayuran, pengolahan dan pengalengan
daging dan ikan, pengolahan hasil hutan,dll.
i) Dalam kapasitasnya, setiap pabrik kelapa sawit mampu mengolah 5.000 ha
lahan kelapa sawit menjadi CPO sebesar 30 ton tbs/jam dan 10.000 ha
lahan kelapa sawit sebesar 60 ton tbs/jam. Masing-masing pabrik kelapa
sawit tersebut membutuhkan lahan seluas 10 ha.

Adapun rencana pengembangan kawasan industri di Kabupaten Merauke


tahun 2010-2030 mencakup :
a) Kawasan Industri pengolahan hasil pertanian di Distrik Kurik, Muting dan
Tanah Miring;
b) Kawasan industri pengolahan hasil perikanan di Distrik Ilwayab;
c) Kawasan industri pengolahan hasil peternakan di Distrik Ngguti dan Kurik;
d) Kawasan industri pengolahan hasil perkebunan di Distrik Merauke, Ngguti,
Ilwayab dan Muting;

e) Kawasan Industri penunjang di Distrik Merauke.

G. Rencana Kawasan Pariwisata

Kawasan pariwisata adalah kawasan yang diperuntukkan bagi kegiatan


pariwisata, dimana kriterianya adalah sebagai berikut :

• Memiliki keindahan alam, keindahan panorama dan keunikan spesies.

• Lokasi strategis pendukung wisata yang dapat difungsikan untuk


pengendalian kegiatan wisata serta simpul akomodasi wisata dengan
pertimbangan daya dukung lingkungan pada obyek wisata yang tidak dapat
dieksploitasi secara besar-besaran, seperti wisata minat khusus berupa

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Merauke 2010-2030 IV– 39


PEMERINTAH KABUPATEN MERAUKE

penelitian/riset. Diharapkan terjadi keseimbangan konservasi dan target


pertumbuhan ekonomi melalui diversifikasi fungsi kawasan wisata.

Dari berbagai obyek wisata yang dimiliki Kabupaten Merauke, arahan


pemanfaatan ruang untuk kawasan pariwisata yang dianggap paling potensial
mencakup yaitu wisata religius dan sejarah tersebar di seluruh distrik di
Kabupaten Merauke dan wisata alam berupa pemandangan alam di Distrik Sota,
Merauke dan Kimaam.

H. Rencana Kawasan Permukiman


1. Permukiman Perkotaan
Dalam rencana permukiman perkotaan ini, ada beberapa aspek yang perlu
diperhatikan antara lain :
(a) Perumahan harus dilayani oleh satu sistem permukiman yang didasarkan
pada karakteristik fisik, sosial, budaya dan ekonomi yang layak, sehingga
dapat menunjang dan menyatukan kehidupan penduduk didalamnya.
(b) Permukiman perkotaan harus bersifat mandiri, dalam artian penyediaan
fasilitas sosial dan fasilitas umum harus disediakan di kawasan permukiman
tersebut.
(c) Untuk perkembangan sebuah permukiman menjadi suatu pusat kegiatan
maupun menjadi suatu kota, permukiman tersebut harus melalui suatu
tahapan. Contohnya permukiman menjadi desa, desa menjadi kota kecil, kota
kecil menjadi kota menengah, kota menengah menjadi kota besar dan
seterusnya.
Pengembangan kawasan permukiman perkotaan diarahkan untuk
menopang kegiatan-kegiatan produksi yang berlangsung. Dimana kedekatan jarak
antara permukiman dan kegiatan produksi merupakan kebutuhan yang perlu
difasilitasi. Untuk itu dapat dikembangkan sistem permukiman yang tersebar pada
pusat-pusat pertumbuhan di sekitar satuan-satuan perkebunan. Penyediaan lahan
permukiman yang disediakan berdasarkan struktur pusat pertumbuhan yang
luasannya diarahkan sesuai dengan satuan wilayah perkebunan yang dilayani.
Ketersediaan areal pemukiman dan mendayagunakan prasarana dan sarana
investasi yang ada di daerah sekitarnya sehingga dapat mendorong kegiatan lain

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Merauke 2010-2030 IV– 40


PEMERINTAH KABUPATEN MERAUKE

yang ada di sekitarnya. Persyaratan lain dari pengembangan permukiman


perkotaan ini adalah pengembangan permukiman tidak mengganggu fungsi
lindung dan tidak mengganggu upaya kelestarian sumber daya alam. Perhitungan
luas areal kawasan permukiman yang disediakan adalah dengan asumsi setiap
kepala keluarga membutuhkan luas lahan permukiman sebesar 500 m2.
Pengembangan dilakukan dengan penyediaan sarana dan prasarana : pendidikan,
kesehatan, kerohanian, air bersih, listrik dan komunikasi pada wilayah perkotaan
dan Kampung sesuai dengan kebutuhan rencana.
Sesuai dengan arahan rencana struktur ruang, maka kawasan perkotaan
yang direncanakan di Kabupaten Merauke terdiri dari :
1. Kawasan perkotaan yang berfungsi wilayah Kota yang otonom, meliputi
Distrik Merauke, Semanga, dan Tanah Miring.
2. Kawasan perkotaan yang berfungsi sebagai ibukota kabupaten dengan
alternatif lokasi di daerah Wanam.
3. Kawasan perkotaan yang berfungsi sebagai ibukota Provinsi Papua Selatan
dengan alternatif lokasi di Wapeko atau di daerah Kebun Coklat.
4. Kawasan perkotaan yang berfungsi sebagai ibukota distrik untuk setiap
distrik di Kabupaten Merauke.
5. Kawasan perkotaan yang berfungsi sebagai pusat pertumbuhan baru, yaitu
Kota Terpadu Mandiri (KTM) Salor.

2. Permukiman Perdesaan
Permukiman Perdesaan di Kabupaten Merauke terdiri dari permukiman
transmigrasi dan permukiman (Kampung) penduduk lokal. Umumnya
permukiman ini dihuni oleh para pemukiman yang bermata pencaharian sebagai
petani dan sudah lama menetap di kampung tersebut, walaupun bukan berasal
dari suku bangsa asli Merauke. Permukiman ini walaupun umumnya sederhana
namun sudah cukup layak untuk dihuni.
Pengembangan permukiman kampung direncanakan dengan menggunakan
PRA (Participacy Rural Appraisal) yang merupakan suatu program pembangunan
yang berangkat dari pendekatan dari bawah (bottom up approach). Adapun
langkah-langkah yang perlu diambil dalam pendekatan PRA ini, yaitu pemilihan

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Merauke 2010-2030 IV– 41


PEMERINTAH KABUPATEN MERAUKE

obyek pembinaan, proses pelaksanaan kegiatan, penyaluran bantuan dan


pemantauan atau evaluasi.
Pengembangan permukiman perkampungan melalui PRA ini harus
disesuaikan dengan karakteristik kegiatan sosial ekonomi masyarakat kampung
yang sangat terkait dengan obyek pembinaan. Oleh karena itu, pengembangan
permukiman perdesaan ini diharapkan mampu tumbuh dengan tetap
mempertahankan produktifitas lahan usaha pertanian atau peternakan atau
perikanan di pekarangannya sehingga dapat menopang kebutuhan hidupnya.

3. Permukiman Adat
Permukiman Adat merupakan tempat hunian masyarakat asli Merauke yang
tersebar hampir di seluruh distrik, sehingga perlu dilestarikan keberadaannya.
Walaupun kebanyakan penduduk asli Merauke saat ini sudah ada yang
mengembangkan permukimannya dan meninggalkan pola-pola permukiman adat
tradisional, akan tetapi untuk permukiman yang ada tetap diberi perhatian
misalnya memberikan batasan-batasan khsusus, seperti enclavement.
Khusus untuk bagian dari permukiman masyarakat seperti dusun sagu,
bagian dari permukiman adat ini dapat dibudidayakan sebagai Agroforestry. Akan
tetapi pemanfaatannya terbatas pada penduduk lokal saja yang memiliki dusun
sagu tersebut. Hal ini sebagai upaya mempertahankan ketahanan pangan dari
penduduk setempat, selain sebagai kawasan pelestarian budaya.
Permukiman ini memiliki tatanan kehidupan sendiri yang tidak harus
digantikan dengan model permukiman modern seperti saat ini. Namun kemajuan
teknologi yang pesat mau tidak mau harus diperkenalkan sebagai alat bantu bagi
mereka untuk memahami perlunya perubahan hidup ke arah yang lebih sejahtera,
terutama dari hal mata pencaharian untuk hidup yang lebih baik.
Oleh karena itu, pengembangan permukiman adat perlu dilakukan melalui
kebijakan yang komprehensif, tidak hanya sebatas bantuan pembangunan
perumahan, tetapi juga pada upaya peningkatan nilai ekonomi dari kegiatan usaha
masyarakat tersebut melalui kegiatan pendidikan, pelatihan, serta penyuluhan
secara intensif.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Merauke 2010-2030 IV– 42

Anda mungkin juga menyukai