Strategi Pembelajaran Inquiry dalam Bahasa Arab
Strategi Pembelajaran Inquiry dalam Bahasa Arab
Disusun Oleh
Kelompok 7:
Dosen Pengampu:
Dr. Zainul Arifin, [Link]
Penulis
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.........................................................................................................i
DAFTAR ISI......................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN...................................................................................................1
A. Latar Belakang Masalah...........................................................................................1
B. Rumusan Masalah....................................................................................................2
C. Tujuan Penulisan......................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN....................................................................................................4
A. Pengertian Strategi Pembelajaran Inquiry................................................................4
B. Sejarah Perkembangan dan Tokoh Strategi Pembelajaran Inquiry..........................7
C. Karakteristik Strategi Pembelajaran Inquiry..........................................................11
D. Tujuan Strategi Pembelajaran Inquiry...................................................................13
E. Jenis-Jenis Strategi Pembelajaran Inquiry.............................................................14
F. Manfaat Strategi Pembelajaran Inquiry.................................................................16
G. Prinsip-Prinsip Strategi Pembelajaran Inquiry.......................................................17
H. Kelebihan dan Kekurangan Strategi Pembelajaran Inquiry...................................20
I. Langkah-Langkah Penerapan Strategi Pembelajaran Inquiry................................22
J. Penerapan Strategi Pembelajaran Inquiry dalam Pembelajaran Bahasa Arab.......27
K. Perbedaan Strategi Pembelajaran Inquiry dan Discovery......................................30
BAB III PENUTUP..........................................................................................................32
A. Kesimpulan...........................................................................................................32
B. Saran.....................................................................................................................32
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................33
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1
Thifa Ramadhani dkk., (2024), Penggunaan Strategi Pembelajaran Inkuiri dalam
Meningkatkan Kemampuan Berfikir Kritis Peserta Didik, Journal of Creative Student Research,
Vol. 2, No. 3, hlm. 168.
2
Elma Citra Maylia dkk., (2024), Strategi Pembelajaran Inkuiri Terhadap Kemampuan
Berpikir Kritis Siswa SD, Jurnal Review Pendidikan Dasar: Jurnal Kajian Pendidikan dan Hasil
Penelitian, Vol. 10, No. 01, hlm. 33.
فاعلي ة اس تخدام اس تراتيجية،)2020( ، خالد عبد الله العتي بي وآخ رون3
االستقصاء في تنمية المهارات اإلدراكية لألطفال من وجهة نظر معلمات الروضات
.12 . ص،3 العدد،26 المجلد، مجلة جامعة جنوب الوادي،الحكومية
1
Pada makalah ini, penulis akan mengulas poin-poin penting terkait
Strategi Pembelajaran Inquiry untuk dikembangkan sebagai alternatif
strategi yang mampu meningkatkan kualitas proses pembelajaran secara
menyeluruh.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian strategi pembelajaran inquiry ?
2. Bagaimana sejarah perkembangan dan tokoh strategi pembelajaran
inquiry ?
3. Apa saja karakteristik strategi pembelajaran inquiry ?
4. Apa saja tujuan strategi pembelajaran inquiry ?
5. Apa saja jenis-jenis strategi pembelajaran inquiry ?
6. Apa saja manfaat strategi pembelajaran inquiry ?
7. Apa saja prinsip-prinsip strategi pembelajaran inquiry ?
8. Apa saja kelebihan dan kekurangan strategi pembelajaran inquiry ?
9. Bagaimana langkah-langkah penerapan strategi pembelajaran inquiry ?
10. Bagaimana penerapan strategi pembelajaran inquiry dalam pembelajaran
bahasa Arab ?
11. Apa perbedaan antara strategi pembelajaran inquiry dengan discovery ?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian strategi pembelajaran inquiry.
2. Untuk mengetahui sejarah perkembangan dan tokoh strategi
pembelajaran inquiry.
3. Untuk mengetahui karakteristik strategi pembelajaran inquiry.
4. Untuk mengetahui tujuan strategi pembelajaran inquiry.
5. Untuk mengetahui jenis-jenis strategi pembelajaran inquiry.
6. Untuk mengetahui manfaat strategi pembelajaran inquiry.
7. Untuk mengetahui prinsip-prinsip strategi pembelajaran inquiry.
8. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan strategi pembelajaran
inquiry.
2
9. Untuk mengetahui langkah-langkah penerapan strategi pembelajaran
inquiry.
10. Untuk mengetahui penerapan strategi pembelajaran inquiry dalam
pembelajaran bahasa Arab.
11. Untuk mengetahui perbedaan strategi pembelajaran inquiry dan
discovery.
3
BAB II
PEMBAHASAN
4
Strategi pembelajaran Inquiry merupakan bentuk dari strategi
pembelajaran yang berorientasi kepada peserta didik (student centered
approach). Dikatakan demikian karena dalam strategi ini peserta didik
memegang peran yang sangat dominan dalam proses pembelajaran.
Penerapan strategi ini merupakan upaya untuk membangkitkan rasa ingin
tahu peserta didik. Dorongan itu berkembang melalui proses merumuskan
pertanyaan, merumuskan masalah, mengamati, dan menerapkan informasi
baru dalam meningkatkan pemahaman mengenai sesuatu masalah. Rasa ingin
tahu itu terus ditumbuhkan untuk meningkatkan semangat bereksplorasi
sehingga peserta didik belajar secara aktif.
Strategi pembelajaran Inquiry menekankan kepada proses mencari dan
menemukan. Materi pelajaran tidak diberikan secara langsung, peran peserta
didik dalam strategi ini adalah mencari dan menemukan sendiri materi
pelajaran, sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan membimbing
peserta didik untuk belajar.5
Strategi pembelajaran inquiry secara istilah ada beberapa defenisi
diantaranya yaitu:
1. Menurut Thalafahah dalam al-Ujlan, Inquiry adalah suatu pola atau tipe
dari pembelajaran dimana peserta didik menggunakan keterampilannya
5
Ida Widaningsih, (2019), Strategi dan Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia di Era
Revolusi Industri 4.0 (Sidoarjo: Uwais Inspirasi Indonesia), hlm. 56-58.
5
dan orientasinya untuk menghasilkan, mengatur, dan mengevaluasi
informasi.6
2. Menurut ʻAli dalam al-Ujlan juga mendefinisikannya Inquiry sebagai
kombinasi proses mentalitas (pikiran) dan proses kegiatan, yang
bergantung pada penerapan akal dan pikiran untuk menganalisis situasi
melalui dialog, mengajukan pertanyaan, mengkritik informasi dan data,
dari sinilah dihasilkan ide baru.7
3. Pendapat Zaytun yang dikutip dari Suchman bahwa Inquiry adalah cara
alamiah yang dipelajari manusia ketika ditinggal sendirian, mereka
belajar, atau apa yang dilakukan anak-anak ketika mereka ditinggal
sendirian untuk belajar; agar mengerti mereka mengajukan pertanyaan,
mengamati, mengumpulkan informasi, mengklasifikasikan, mengukur,
bereksperimen, dan mengkomunikasikan pengamatan dan pikiran mereka
satu sama lain.8
6
Upaya yang dilakukan oleh siswa dalam rangka mendapatkan solusi
dari suatu masalah, situasi yang membingungkan, atau untuk menjawab suatu
pertanyaan. Siswa akan membuat dugaan-dugaan awal untuk menafsirkan
situasi tersebut, kemudian mengumpulkan informasi guna menguji dugaan-
dugaan itu dan memastikan kebenarannya atau kesalahannya, hingga ia
menemukan solusi yang tepat.
Berdasarkan berbagai pendapat dan uraian di atas, dapat disimpulkan
bahwa strategi pembelajaran inquiry adalah suatu strategi pembelajaran yang
menekankan pada aktivitas peserta didik secara aktif dalam proses berpikir
kritis dan analitis guna menemukan sendiri jawaban dari permasalahan yang
diajukan. Strategi ini bersifat student-centered, di mana peserta didik
berperan sebagai penemu informasi, sementara guru berperan sebagai
fasilitator yang membimbing dan mendukung proses pencarian. Melalui
strategi ini, peserta didik didorong untuk mengembangkan rasa ingin tahu,
keterampilan berpikir logis, serta kemampuan pemecahan masalah secara
mandiri dan sistematis.
7
B. Sejarah Perkembangan dan Tokoh Strategi Pembelajaran Inquiry
Strategi pembelajaran inquiry telah ada sejak lama dan telah
berkembang selama bertahun-tahun. Sejarahnya dapat dilihat kembali ke
filsuf-filsuf yang tertarik pada pendekatan pembelajaran yang berpusat pada
peserta didik dan pemecahan masalah pada abad ke-20. Secara umum,
strategi pembelajaran inquiry berasal dari perkembangan pendidikan dan
filsafat, dengan kontribusi dari tokoh-tokoh seperti John Dewey, Carl Rogers,
dan Jerome Bruner. Strategi ini terus berkembang seiring dengan
perkembangan penelitian dan praktik pendidikan, yang bertujuan untuk
meningkatkan keterlibatan peserta didik dan pembelajaran yang lebih
signifikan.
Strategi pembelajaran inkuiri memiliki akar sejarah yang kuat dalam
tradisi filsafat dan metode ilmiah. Tradisi filsafat dan metode ilmiah memiliki
dasar yang kukuh untuk strategi pembelajaran inquiry. Konsep dasar strategi
pembelajaran inquiry adalah peserta didik belajar melalui proses penyelidikan
dan eksplorasi aktif. Konsep dasarnya adalah bahwa peserta didik belajar
melalui proses penyelidikan dan eksplorasi aktif. Dalam proses ini, mereka
merumuskan hipotesis, mengajukan pertanyaan, mengumpulkan data, dan
kemudian membuat kesimpulan berdasarkan temuan mereka sendiri.
John Dewey, seorang filsuf dan pendidik Amerika Serikat yang
mendorong pendekatan pemecahan masalah dan pendekatan berbasis
pengalaman dalam pendidikan, adalah salah satu tokoh awal yang
berkontribusi pada pengembangan strategi pembelajaran inquiry. Teorinya
tentang pembelajaran berpusat pada peserta didik dan strategi inquiry
berdasarkan pengalaman praktis.
8
John Dewey percaya bahwa peserta didik harus terlibat secara aktif
dalam proses penelitian dan eksplorasi saat belajar. Dengan bantuan beberapa
ahli pendidikan, strategi pembelajaran inquiry semakin berkembang pada
tahun 1950-an. Psikolog humanistik Carl Rogers mendukung pendekatan
berpusat pada peserta didik. Strategi ini memungkinkan peserta didik
memiliki kendali atas proses pembelajaran mereka sendiri. Rogers
menyatakan bahwa pendidik harus bertindak sebagai fasilitator yang
membantu peserta didik dalam mengeksplorasi minat dan keinginan mereka.
Seorang psikolog kognitif bernama Jerome Bruner memperkenalkan
gagasan pembelajaran berbasis inquiry pada tahun 1960-an. Menurut Bruner,
strategi pembelajaran inquiry terdiri dari tiga tahap: pertanyaan, penyelidikan,
dan penyimpulan. Dia percaya bahwa peserta didik harus belajar secara aktif
dan konstruktif. Selama proses belajar, Bruner menekankan bahwa bertanya
dan berpikir kritis sangat penting. Dalam konteks pendidikan sains, strategi
pembelajaran inquiry semakin mendapat perhatian pada tahun 1990-an.
Strategi inquiry Ilmiah, yang diciptakan oleh Robert Karplus,
menggabungkan penemuan ilmiah, proses berpikir ilmiah, dan eksperimen
ilmiah sebagai dasar pembelajaran. Pendekatan ini sekarang sangat popular,
pendidikan inkuiri telah berkembang menjadi konsep yang lebih luas dan
melibatkan berbagai disiplin ilmu selama beberapa dekade terakhir. Selain
itu, banyak pendidik dan peneliti pendidikan di seluruh dunia terus
mengembangkan dan mengadopsi strategi pembelajaran inquiry.10
Sejarah strategi pembelajaran inquiry ini bermula pada teori
konstruktivisme yang telah menggantikan posisi teori pasifisme dalam
pembelajaran ilmu, karena pembelajaran peserta didik didasarkan pada teori
belajar. Gambaran tersebut mencerminkan sifat investigatif pada ilmu,
menyerukan perencanaan, pengembangan, dan pembangunan kurikulum
berdasarkan pemikiran sehingga hal itu berpengaruh pada strategi
pembelajaran, metode dan model pembelajaran yang bersumber dari
10
Arlinta Ulfa Auvisena dkk., (2023), Model-Model Pembelajaran di Era Merdeka
Belajar (Semarang: Cahya Ghani Recovery), hlm. 148-151.
9
pemikiran konstruktif untuk mengambil manfaat dari pemikiran konstruktif
tersebut dan menerapkannya di dalam kelas.11
Al-Najdi, Rasyid, Mina Abdul Hadi menyatakan bahwa mengingat
teori konstruktivisme berlaku pada proses pembelajaran yang sifatnya
konstruktif (membangun), maka terdapat banyak pendekatan, diantaranya
pendekatan pembelajaran yang bergerak menuju isvestigasi (penyelidikan)
terbuka yang mendorong pemikiran inovatif tentang berbagai hal dan
peristiwa.12
Oleh karena itu, para konstruktivis berpendapat bahwa pengetahuan
dibangun karena aktivitas pelajar, dan aktivitas pelajar membangun makna
atas apa yang dia pelajari sendiri dan mencapai apa yang ia pelajari. Kondisi
terbaik untuk belajar adalah ketika pembelajar dihadapkan pada masalah yang
nyata dan realistis.
10
Sebagai aplikasi pembelajaran dalam kurikulum dan pengajaran ilmu
pengetahuan, ini berarti desain kurikulum dan pengembangannya dalam
kaitannya dengan kurikulum berdasarkan pemikiran dan penyelidikan ilmiah,
pemikiran konstruktivis, pengembangan dan kualifikasi guru konstruktivis,
strategi pembelajaran yang berasal dari pemikiran konstruktivis, menciptakan
lingkungan kelas konstruktivis, mengembangkan metode penilaian dan
evaluasi inovatif yang sesuai dengan konstruktivisme, dan menyajikan materi
ilmiah dalam buku dan referensi ilmu pengetahuan. Kegiatan ilmiah dengan
bimbingan (konstruktivis) memotivasi siswa untuk berpikir dan membangun
pengetahuan. Hal ini berarti menggeser kurikulum dan pengajaran ilmu
pengetahuan dari metode yang biasa dan tradisional ke strategi konstruktivis,
sehingga menyelaraskan dengan sifat investigatif ilmu pengetahuan dan
gambaran investigatif ilmu pengetahuan, dari yang berpusat kepada guru
kepada yang berpusat kepada siswa. Kemudian dari kegiatan belajar individu
kepada kegiatan belajar kooperatif.14
ʻAli dalam Al-ʻUjlan mengatakan strategi inquiry mengalihkan pusat
perhatian dalam proses pembelajaran dari guru ke peserta didik, dengan
menciptakan peluang untuk menjadikan peserta didik sebagai produsen
(penghasil) pengetahuan dan bukan konsumen (pemakai) pengetahuan
sehingga tercapai prinsip kepositifan peserta didik dalam proses pembelajaran
tersebut.15
Menurut Thalafahah dalam Al-ʻUjlan, peserta didik menjadi tumpuan
proses pembelajaran, karena semua kegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler
berputar di sekelilingnya, untuk membawa perubahan positif dalam perilaku
dan cara berpikirnya, serta mengandalkan dirinya sendiri, sehingga
kepribadiannya tumbuh dengan kemandirian dan kebebasan yang ada,
kebebasan dalam mencari dan dalam mengekspresikan emosi serta
pikirannya.
11
Fokus dalam pembelajaran dan pengajaran ilmu telah bergeser dari
faktor eksternal yang mempengaruhi pembelajaran menjadi fokus pada faktor
internal, yaitu apa yang ada di dalam pikiran peserta didik, dimana peserta
didik ditempatkan pada suatu permasalahan nyata dalam batas- batas
pengalaman. Pelajar berinteraksi dengan para guru sehingga pembelajaran
mereka menjadi bermakna. Pembelajaran dengan menggunakan strategi
pembelajaran inquiry memerlukan keterlibatan pelajar secara sosial.
12
mereka. Hal ini mengembangkan pemikiran kreatif mereka dan mungkin
tercermin dalam kondisi kehidupan mereka. 16
Berdasarkan uraian karakteristik tersebut, bahwa strategi
pembelajaran inquiry ini mampu mengembangkan kemampuan peserta didik
dengan menarik perhatian mereka, mendorong interaksi aktif, serta
memberikan pengalaman belajar yang bermakna sehingga informasi dapat
lebih mudah dipahami dan diingat. Partisipasi aktif dalam pembelajaran juga
membangkitkan motivasi internal peserta didik dan mendorong
pengembangan konsep diri melalui kesempatan untuk menguji kemampuan
diri. Selain itu, inquiry membantu menghindari kebosanan karena peserta
didik belajar melalui proses investigasi, bukan sekadar menghafal. Strategi ini
juga melatih peserta didik dalam mempertimbangkan berbagai sudut pandang
dan ide untuk mencapai kesimpulan yang tepat. Lebih jauh lagi, strategi ini
menstimulasi pemikiran kritis dan kreatif peserta didik, memperkuat imajinasi
mereka, serta memungkinkan hasilnya tercermin dalam kehidupan nyata.
D. Tujuan Strategi Pembelajaran Inquiry
Menurut Al-ʻUjlan, tujuan dari strategi pembelajaran inquiry yaitu:
1. Membantu pelajar membangun kerangka kognitif dan mental (pikiran)
dimana fakta-fakta tersusun;
2. Mengembangkan keterampilan berpikir peserta didik, kerja mandiri, dan
akses terhadap pengetahuan sendiri;
3. Mengembangkan nilai-nilai dan sikap positif dalam diri peserta didik,
seperti:
a. Pembelajaran aktif mandiri;
b. Ekspresi verbal (pengungkapan secara lisan);
c. Semangat kreativitas;
d. Sifat empiris pengetahuan;
e. Menolerir ketidakpastian dan ketekunan.17
Zaytun menambahkan tujuan strategi pembelajaran inquiry yakni:
13
1. Memberikan kesempatan untuk belajar aktif dan membangun
pengetahuan;
2. Hal ini sesuai dengan Standar Nasional untuk Pendidikan Ilmiah
(NESS) dan gerakan untuk mereformasi kurikulum dan pembelajaran
ilmiah.18
Ilham Abdul Hamid dalam Al-ʻUjlan juga menambahkan tujuan
strategi pembelajaran inquiry untuk membekali peserta didik dengan cara
berpikir ilmiah, proses ilmiah, dan konsep ilmiah.19
Dapat dikatakan bahwa tujuan dari strategi pembelajaran inquiry
adalah untuk membantu peserta didik membangun kerangka kognitif dan
mental yang terstruktur, mengembangkan keterampilan berpikir kritis,
kemampuan belajar mandiri, serta kemampuan dalam mengakses
pengetahuan secara aktif. Strategi ini juga bertujuan menanamkan nilai dan
sikap positif seperti semangat kreativitas, ekspresi verbal, ketekunan, serta
toleransi terhadap ketidakpastian. Selain itu, strategi ini memberikan ruang
bagi peserta didik untuk belajar secara aktif dan membangun pengetahuan
secara mandiri, sejalan dengan standar pendidikan ilmiah modern. Inquiry
juga membekali peserta didik dengan pola pikir ilmiah yang mencakup
proses dan konsep ilmiah yang penting dalam memahami dunia secara
rasional dan sistematis.
14
Hal ini dilakukan oleh peserta didik di bawah pengawasan dan
arahan guru atau dalam rencana penelitian yang telah dipersiapkan
sebelumnya. Jenis inquiry ini bergantung pada peserta didik, namun
dalam kerangka yang jelas dan spesifik yang bertujuan untuk mencapai
tujuan tertentu dan sesuai dengan pembelajaran di sekolah-sekolah kita,
terutama karena kita berusaha untuk beralih dari metode tradisional ke
metode modern.
Dari mengandalkan sepenuhnya pada guru menjadi
mengandalkan peserta didik, merupakan tahap peralihan antara tradisi
dan modernitas dalam strategi pembelajaran.
Strategi ini cocok untuk peserta didik tahap dasar dan merupakan
strategi pembelajaran yang memungkinkan mereka mengembangkan
pengetahuannya melalui pengalaman ilmiah langsung. Guru juga
berperan penting dalam proses ini dengan mengarahkan peserta didik
pada masalah penelitian untuk berpikir, meneliti, dan menyelidiki solusi
terhadap masalah tersebut.
2. Inkuiri Semi Terarah Semi Guided Inquiry
Guru menyampaikan permasalahan kepada peserta didik disertai
dengan beberapa arahan umum agar tidak membatasi atau menghalangi
mereka dalam melakukan kegiatan praktik berpikir, peserta didik terlibat
dalam pemecahan masalah secara kooperatif, mengandalkan penggunaan
beberapa sumber pengetahuan dan pengalaman hidup. Hal ini untuk
membekalinya dengan metode berpikir ilmiah, keterampilan komunikasi
lisan, dan muatan pendidikan menuju pengalaman. Jenis inkuiri ini paling
berhasil ketika siswa dihadapkan pada fenomena tertentu.
3. Inkuiri Tidak Terarah atau Bebas Unguided Inquiry
15
Tugasnya adalah peserta didik memilih pendekatan, jenis
pertanyaan, bahan, dan alat yang diperlukan untuk mencapai solusi
terhadap permasalahan yang dihadapinya dalam memahami fenomena
alam dan peristiwa yang terjadi disekelilingnya. Mungkin bentuk inkuiri
ini adalah jenis yang paling baik dalam penyelidikan (investigasi) karena
dalam beberapa kasus ia mungkin dapat menggunakan proses mental
(berpikir) tingkat lanjut yang memungkinkannya mengembangkan
strategi yang tepat untuk mengakses pengetahuan ilmiah. Oleh karena itu,
ia sangat mirip dengan perilaku di dunia nyata dan mampu mengatur
serta mengklasifikasikan informasi.
Guru fokus pada inkuiri tidak terarah dalam pembelajaran dan
pengelolaan kelas karena semua sistem pendidikan berkaitan dengan
aktivitas dan efektivitas peserta didik di dalam kelas, karena peserta didik
adalah fokus dari proses pembelajaran atau dengan kata lain
pembelajaran berpusat pada peserta didik dan memberinya kesempatan
untuk menunjukkan kemampuannya, membangun pengetahuannya, dan
memperhatikan kemampuannya. 20
Jenis-jenis strategi pembelajaran inquiry menunjukkan tahapan
kemandirian berpikir peserta didik, mulai dari yang diarahkan guru hingga
yang sepenuhnya mandiri. Pmbagian ini penting untuk menyesuaikan strategi
dengan kemampuan peserta didik. Inkuiri terarah cocok untuk tahap awal,
semi terarah untuk pengembangan, dan tidak terarah untuk peserta didik yang
sudah siap berpikir kritis secara mandiri. Strategi ini mendukung
pembelajaran aktif dan berpusat pada peserta didik.
16
Inquiry dalam belajar dan mengajar merupakan suatu kegiatan praktis
sekaligus intelektual, hakikatnya adalah rasa ingin tahu sebagai suatu
kebiasaan mental manusia dalam belajar dan mengajar yang meliputi
pengajuan pertanyaan-pertanyaan atau situasi-situasi praktis yang menarik
perhatian dan menarik rasa ingin tahu peserta didik sebagai subjek, metode,
dan pemikiran. Ilmu sebagai proses investigasi, atau apa yang dilakukan
ilmuwan, atau keterampilan berpikir ilmiah, semuanya menunjukkan
penekanan pada investigasi dalam proses belajar mengajar dan sebagai
strategi dalam kurikulum dan pengajaran ilmu.21
Standar nasional dalam pendidikan ilmiah menunjukkan pentingnya
strategi pembelajaran inquiry dalam proses belajar dan mengajar diantaranya:
1. Inquiry merupakan hal yang esensial dan sentral (suatu keharusan) dalam
pengajaran ilmu, namun inquiry bukanlah satu-satunya cara. Ada
beberapa aspek berbeda dari Inquiry yang sama yang dapat digunakan
dalam pengajaran ilmu;
2. Inquiry melibatkan proses ilmu pengetahuan interdisipliner yang
fundamental dan terpadu;
3. Inquiry meliputi pemeriksaan atau pengujian penjelasan pengetahuan
ilmiah melalui eksperimen;
4. Inquiry menekankan pada komunikasi, diseminasi hasil, serta partisipasi
pihak lain;
5. Inquiry meliputi proses mengajukan pertanyaan dan membangun
penjelasan;
6. Inquiry berwujud pikiran, kritik, dan pandangan pada berbagai
kemungkinan yang beragam dan selalu berubah.22
Zaytun dalam Al-ʻInziy mengatakan bahwa Inquiry berwujud perilaku
yang memastikan berbagai permasalahan dan menyelesaikan permasalahan
17
tersebut, bersamaan dengan mengakui dan menyadari adanya kekurangan dan
keterbatasan disana sini.23
18
Kemampuan guru untuk mengatur interaksi memang bukan
pekerjaan yang mudah. Sering guru terjebak oleh kondisi yang tidak tepat
mengenai proses interaksi itu sendiri. Misalnya, interaksi hanya
berlangsung antar siswa yang mempunyai kemampuan berbicara saja
walaupun pada kenyataannya pemahaman siswa tentang substansi
permasalahan yang dibicarakan sangat kurang; atau guru justru
menanggalkan peran sebagai pengatur interaksi itu sendiri.
3. Prinsip Bertanya
Peran guru yang harus dilakukan dalam menggunakan SPI (survei
penilaian integritas) adalah guru sebagai penanya. Sebab, kemampuan
siswa untuk menjwab setiap pertanyaan pada dasarnya sudah merupakan
sebagian dari proses berpikir.
Oleh sebab itu, kemampuan guru untuk bertanya dalam setiap
langkah inquiry sangat diperlukan. Berbagai jenis dan teknik bertanya
perlu dikuasai oleh setiap guru, apakah itu bertanya hanya sekedar untuk
meminta perhatian siswa, bertanya untuk melacak, bertanya untuk
mengembangkan kemampuan, atau bertanya untuk menguji.
4. Prinsip Belajar untuk Berpikir
Belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta, akan tetapi
belajar adalah proses berpikir (learning how to think), yakni proses
mengembangkan potensi seluruh otak, baik otak kiri maupun otak kanan;
baik otak reptil, otak limbik, maupun otak neokortek. Pembelajaran
berpikir adalah pemanfaatan dan penggunaan otak secara maksimal.
Belajar yang hanya cenderung memanfaatkan otak kiri, misalnya dengan
memaksa anak untuk berpikir logis dan rasional, akan membuat anak
dalam posisi kering dan hampa. Oleh karena itu, belajar berpikir logis
dan rasional perlu didukung oleh pergerakan otak kanan, misalnya
dengan memasukkan unsur-unsur yang dapat memengaruhi emosi, yaitu
unsur estetika melalui proses belajar yang menyenangkan dan
menggairahkan.
5. Prinsip Keterbukaan
19
Belajar adalah suatu proses mencoba berbagai kemungkinan.
Segala sesuatu mungkin saja terjadi. Oleh sebab itu, anak perlu diberikan
kebebasan untuk mencoba sesuai dengan perkembangan kemampuan
logika dan nalarnya. Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran
yang menyediakan berbagai kemungkinan sebagai hipotesis yang harus
dibuktikan kebenarannya. Tugas guru adalah menyediakan ruang untuk
memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan hipotesis dan
secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukannya.24
Berdasarkan uraian di atas, dapat ditegaskan bahwa prinsip-prinsip
strategi pembelajaran inquiry merupakan landasan penting dalam
menciptakan proses belajar yang aktif, kreatif, dan berpikir kritis. Kelima
prinsip tersebut, mulai dari orientasi pada pengembangan intelektual hingga
keterbukaan terhadap berbagai kemungkinan, bukan hanya memperkaya
pengalaman belajar siswa, tetapi juga mendorong mereka untuk menjadi
pembelajar mandiri yang reflektif dan analitis. Dengan penerapan prinsip-
prinsip ini secara konsisten, guru tidak hanya berperan sebagai penyampai
informasi, tetapi juga sebagai fasilitator yang membimbing siswa dalam
menemukan pengetahuan secara mandiri dan bermakna.
24
Mohamad Yudiyanto dkk., (2024), Strategi Membangun Percaya Diri Peserta Didik
(Pangandaran: Intake Pustaka Publisher), hlm. 136-138.
20
c. Strategi pembelajaran inquiry merupakan strategi yang dianggap
sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang
menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat
adanya pengalaman;
d. Kelebihan lain adalah strategi pembelajaran ini dapat melayani
kebutuhan peserta didik yang memiliki kemampuan di atas rata-rata,
artinya peserta didik yang memiliki kemampuan belajar baik tidak
akan terhambat oleh peserta didik yang lemah dalam belajar. 25
Menurut Dimyati dalam Agista dkk, kelebihan dari strategi
pembelajaran inkuiri adalah sebagai berikut:
a. Kemungkinan yang besar untuk membantu memperbaiki atau
memperluas persediaan dan penguasaan keterampilan dan proses
kognitif siswa;
b. Memungkinkan pengetahuan yang melekat erat pada diri siswa;
c. Menimbulkan gairah belajar pada siswa;
d. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk maju berkelanjutan;
e. Menyebabkan siswa termotivasi untuk belajar;
f. Membantu memperkuat konsep diri siswa;
g. Berpusat pada siswa, berperan sebagai fasilitator dan pendinamisator
dari penemuan;
h. Membantu perkembangan siswa.
i. Tidak menjadikan guru satu-satunya sumber belajar.26
25
Ida Widaningsih, Op Cit, hlm. 57.
26
Hairunnisa Agista dkk., (2023), Aplikasi Metode Inquiry: Kelebihan dan Kelemahannya
dalam Pembelajaran Fiqih, Jurnal Pendidikan Indonesia (PJPI), Vol. 1, No. 1, hlm. 77.
21
Dapat disimpulkan bahwa kelebihan strategi Inquiry, jika ditinjau
dari segi ilmu pengetahuan, khususnya mengenai prinsip-prinsip
penelitian ilmiah, strategi inquiry sangat membantu bagi siswa: Pertama,
Menimbulkan semangat kreativitas pada siswa. Kedua, Memberikan
kebebasan atau belajar otonom pada siswa. Ketiga, menyusun,
mengemukakan pendapat secara verbal. Keempat, Memungkinkan kerja
sama secara dua arah (guru-siswa dan siswa-siswa). Kelima, Melatih
siswa dalam menemukan dan mempergunakan prinsipprinsip penelitian
ilmiah. Kelebihan lain dari strategi inquiry adalah para siswa dapat
berpikir dan mencari sendiri dalam situasi bebas yang terarah, sehingga
hal ini akan menimbulkan semangat belajar pada siswa.
2. Kekurangan
a. Jika strategi pembelajaran inquiry sebagai strategi pembelajaran,
maka akan sulit terkontrol kegiatan dan keberhasilan peserta didik;
b. Strategi ini sulit dalam merencanakan pembelajaran karena terbentuk
dengan kebiasaan peserta didik dalam belajar;
c. Kadang-kadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan
waktu yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya
dengan waktu yang telah ditentukan.27
Dimyati dalam Agista dkk, juga mengemukakan kekurangan
strategi pembelajaran inkuiri adalah sebagai berikut:
a. Mempersyaratkan suatu proses persiapan kemampuan berfikir yang
dapat dipercaya;
b. Kurang efektif untuk mengajar siswa dengan jumlah yang banyak;
c. Memerlukan fasilitas yang memadai;
d. Kebebasan yang diberikan kepada peserta didik tidak selamanya
dapat dimanfaatkan secara optimal.28
27
Ida Widaningsih, Op Cit, hlm. 58.
28
Hairunnisa Agista dkk, Op Cit, hlm. 82-83
22
Lalu, dapat disimpulkan juga kekurangan dari strategi Inquiry
yaitu Aplikasi strategi inquiry memerlukan waktu yang lama serta usaha
yang tinggi dari para siswa. Jika para siswa tidak memiliki kesadaran dan
usaha yang tinggi, pelaksanaan strategi inquiry tidak akan mencapai hasil
sebagai strategi pembelajaran yang baik. Dengan waktu yang lama para
siswa tidak akan segera mendapatkan pengetahuannya. Padahal para
siswa dituntut untuk memperoleh pengetahuan yang luas ruang
lingkupnya.
1. Orientasi
Langkah orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau
iklim pembelajaran yang responsif. Pada langkah ini guru mengondisikan
agar siswa siap melaksanakan proses pembelajaran. Berbeda dengan
tahapan preparation dalam strategi pembelajaran ekspositori (SPE)
sebagai langkah untuk mengondisikan agar siswa siap menerima
pelajaran, pada langkah orientasi dalam SPI, guru merangsang dan
mengajak siswa untuk berpikir memecahkan masalah.
Langkah orientasi merupakan langkah yang sangat penting.
Keberhasilan SPI sangat tergantung pada kemauan siswa untuk
beraktivitas menggunakan kemampuannya dalam memecahkan masalah;
tanpa kemauan dan kemampuan itu tak mungkin proses pembelajaran
akan berjalan dengan lancar. Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam
tahapan orientasi ini adalah:
23
a. Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat
dicapai oleh siswa;
b. Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa
untuk mencapai tujuan. Pada tahap ini dijelaskan langkah-langkah
inquiry serta tujuan setiap langkah, mulai dari langkah merumuskan
masalah sampai dengan merumuskan kesimpulan;
c. Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar. Hal ini
dilakukan dalam rangka memberikan motivasi belajar siswa.
2. Merumuskan Masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada
suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan
adalah persoalan yang menantang siswa untuk berpikir memecahkan
teka-teki itu. Dikatakan teka-teki dalam rumusalan masalah yang ingin
dikaji disebabkan masalah itu tentu ada jawabannya, dan siswa didorong
untuk mencari jawaban yang tepat.
Proses mencari jawaban itulah yang sangat penting dalam strategi
pembelajaran inquiry, oleh sebab itu melalui proses tersebut siswa akan
memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya
mengembangkan mental melalui proses berpikir. Dengan demikian, teka-
teki yang menjadi masalah dalam berinquiry adalah teka-teki yang
mengandung konsep yang jelas yang harus dicari dan ditemukan. Ini
penting dalam pembelajaran inquiry. Beberapa hal yang harus
diperhatikan dalam merumuskan masalah, di antaranya:
a. Masalah hendaknya dirumuskan sendiri oleh siswa. Siswa akan
memiliki motivasi belajar yang tinggi manakala dilibatkan dalam
merumuskan masalah yang hendak dikaji. Dengan demikian, guru
sebaiknya tidak merumuskan sendiri masalah pembelajaran, guru
hanya memberikan topik yang akan dipelajari, sedangkan bagaimana
rumusan masalah yang sesuai dengan topik yang telah ditentukan
sebaiknya diserahkan kepada siswa;
24
b. Masalah yang dikaji adalah masalah yang mengandung teka-teki
yang jawabannya pasti. Artinya, guru perlu mendorong agar siswa
dapat merumuskan masalah yang menurut guru jawaban sebenarnya
sudah ada, tinggal siswa mencari dan mendapatkan jawabannya
secara pasti;
c. Konsep-konsep dalam masalah adalah konsep-konsep yang sudah
diketahui terlebih dahulu oleh siswa. Artinya, sebelum masalah itu
dikaji lebih jauh melalui proses inquiry, guru perlu yakin terlebih
dahulu bahwa siswa sudah memiliki pemahaman tentang konsep-
konsep yang ada dalam rumusan masalah. Jangan harapkan siswa
dapat melakukan tahapan inquiry selanjutnya, manakala ia belum
paham konsep-konsep yang terkandung dalam rumusan masalah.
3. Mengajukan Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan
yang sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji
kebenarannya. Kemampuan atau potensi individu untuk berpikir pada
dasarnya sudah dimiliki sejak individu itu lahir. Potensi berpikir itu
dimulai dari kemampuan setiap individu untuk menebak atau mengira-
ngira (berhipotesis) dari suatu permasalahan. Manakala individu dapat
membuktikan tebakannya, maka ia akan sampai pada posisi yang bisa
mendorong untuk berpikir lebih lanjut.
25
Oleh sebab itu, potensi untuk mengembangkan kemampuan
menebak pada setiap individu harus dibina. Salah satu cara yang dapat
dilakukan guru untuk mengembangkan kemampuan menebak
(berhipotesis) pada setiap anak adalah dengan mengajukan berbagai
pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan
jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan
kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji. Perkiraan
sebagai hipotesis bukan sembarang perkiraan, tetapi harus memiliki
landasan berpikir yang tokoh, sehingga hipotesis yang dimunculkan itu
bersifat rasional dan logis. Kemampuan berpikir logis itu sendiri akan
sangat dipengaruhi oleh kedalaman wawasan yang dimiliki serta
keluasan pengalaman. Dengan demikian, setiap individu yang kurang
mempunya wawasan akan sulit mengembangkan hipotesis yang rasional
dan logis.
4. Mengumpulkan Data
Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang
dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam strategi
pembelajaran inquiry, mengumpulkan data merupakan proses mental
yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. Proses
pengumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam
belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan kemampuan
menggunakan potensi berpikirnya.
Oleh sebab itu, tugas dan peran guru dalam tahapan ini adalah
mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk
berpikir mencari informasi yang dibutuhkan. Sering terjadi kemacetan
berinquiry adalah manakala siswa tidak apresiatif terhadap pokok
permasalahan. Tidak apresiatif itu biasanya ditunjukkan oleh gejala-
gejala ketidakbergairahan dalam belajar.
26
Manakala guru menemukan gejala-gejala semacam ini, maka
guru hendaknya secara terus-menerus memberikan dorongan kepada
siswa untuk belajar melalui penyuguhan berbagai jenis pertanyaan secara
merata kepada seluruh siswa sehingga mereka terangsang untuk berpikir.
5. Menguji Hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses menetukan jawaban yang
dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi uang diperoleh
berdasarakan pengumpulan data. Yang terpenting dalam menguji
hipotesis adalah mencari tingkat keyakinan siswa atas jawaban yang
diberikan. Di samping itu, menguji hipotesis juga berarti
mengembangkan kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran
jawaban yang diberikan bukan hanya bersasarkan argumentasi, akan
tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan dan dapat
dipertanggungjawabkan.
6. Merumuskan Kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses menyampaikan hasil yang
diperoleh berdasarkan pengujian terhadap dugaan awal (hipotesis).
Merumuskan kesimpulan bisa diibaratkan sebagai bagian penutup atau
“gong” dari sebuah proses pembelajaran. Namun, sering kali banyaknya
data yang dikumpulkan justru membuat kesimpulan menjadi tidak fokus
pada masalah utama yang ingin diselesaikan.
Oleh karena itu, agar kesimpulan yang dibuat tepat dan jelas, guru
sebaiknya membantu siswa untuk memilih data yang benar-benar
berkaitan dengan masalah tersebut.29
Langkah-langkah penerapan strategi pembelajaran Inquiry menurut
Mukhaiyaroh adalah:
1. Siswa dihadapkan pada fenomena konfrontatif atau pengetahuan yang
memunculkan pertanyaan;
2. Siswa merumuskan masalah;
3. Siswa mengeksplorasi data;
29
Mohamad Yudiyanto, Op Cit, hlm. 139-143
27
4. Siswa melakukan analisis data;
5. Siswa menyimpulkan hasil analisis data;
6. Siswa mengkomunikasikan hasil analisis data.30
Penerapan strategi pembelajaran inquiry dapat efektif jika didukung
oleh lingkungan pembelajaran yang kondusif. Pembelajaran inquiry adalah
strategi yang efektif untuk meningkatkan keterlibatan dan motivasi siswa,
serta membantu mereka mengembangkan keterampilan penting seperti
kolaborasi dan berpikir kritis.
1. Tahap Orientasi
Guru mengondisikan kelas agar pembelajaran responsif dan
kondusif sehingga siswa siap menerima pembelajaran. Kemudian
menjelaskan topik materi yang akan dibahas dengan memberikan arahan
pada siswa untuk membuka dan membaca teks bacaan. Guru juga
memberikan stimulus atau rangsangan supaya siswa berpikir untuk
bacaan. Guru juga memberikan rangsangan atau stimulus supaya siswa
berpikir untuk menyelesaikan masalah dengan menanyakan gambaran isi
teks bacaan.
2. Tahap Merumuskan Masalah
30
Mukhoiyaroh, (2021), Kegigihan Belajar pada Pembelajaran Berbasis Inquiry
(Yogyakarta: Penerbit NEM), hlm. 10.
28
Guru memberikan siswa tugas untuk menerjemahkan dan
menyusun kalimat. Tugas yang diberikan merupakan tugas yang sudah
ada jawabannya karena terdapat dalam teks jawaban, namun siswa perlu
didorong menemukan jawabannya sendiri. Guru membimbing siswa
bagaimana cara menyelesaikan tugasnya terutama dalam tugas menyusun
kalimat, siswa harus menyusun kalimat dengan sistematis sesuai teks
bacaan dan logis sesuai terjemahannya. Terdapat siswa yang mencatat
masalah (Aisyah), menyimak panduan guru (Anung) dan membaca
kembali materi yang telah dipelajari (Keyren). Selama proses mencari
jawaban ini, siswa akan memperoleh pengalaman sebagai upaya
mengembangkan mental melalui proses berpikir.
3. Tahap Merumuskan Hipotesis
29
Dari pengumpulan informasi tersebut, guru membandingkan hasil
jawaban setiap individu atau kelompok sehingga siswa mencari
kebenaran atau keyakinan dari jawabannya dengan menanyakan
kebenaran jawaban yang ditemukannya pada guru. Proses ini mendorong
siswa berpikir rasional.
6. Tahap Menarik Kesimpulan
Dimulai setelah siswa mendeskripsikan atau menjelaskan
jawabannya maka terdorong untuk bertanya, kemudian guru mengoreksi
hasil kerja tiap individu atau kelompok dan menunjukkan hasil kerja
yang relevan. Sehingga siswa dapat mengetahui kebenaran jawabannya
dan menarik kesimpulan. Guru juga memberikan apresiasi pada siswa
(Keyren, Yumna, Naufal) yang telah berusaha berpikir dan aktif bertanya
agar mereka tetap tetap termotivasi belajar dan berpikir kritis.31
Penerapan strategi pembelajaran inquiry dalam pembelajaran
Maharah al-Qira’ah bahasa Arab di tingkat SD menunjukkan efektivitas
strategi ini dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan mandiri
siswa. Bahwa melalui tahapan inquiry, dari orientasi hingga penarikan
kesimpulan, siswa tidak hanya memahami isi bacaan, tetapi juga terlatih
dalam proses berpikir ilmiah seperti merumuskan masalah, membuat
hipotesis, menguji data, dan menyimpulkan. Hal ini menunjukkan bahwa
strategi inquiry dapat disesuaikan untuk mata pelajaran bahasa Arab dan
mampu menumbuhkan rasa ingin tahu, kemampuan komunikasi, serta
pemahaman yang lebih mendalam terhadap materi.
K. Perbedaan Strategi Pembelajaran Inquiry dan Discovery
Menurut W. Gulo perbedaan strategi pembelajaran inquiry dan
discovery sebagai berikut:
1. Sumber Masalah
Discovery menggunakan masalah yang direkayasa oleh guru,
artinya masalah tersebut sudah dirancang dan disusun untuk diarahkan
pada konsep tertentu yang ingin ditemukan oleh siswa.
31
Tyas Ayu Primastuti, (2024), Penerapan Strategi Inkuiri dalam Pembelajaran
Mahārah al-Qirāʼah Kelas V SD Muhammadiyah 1 Purbalingga (Skripsi, Fakultas Tarbiyah dan
Ilmu Keguruan, UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri), hlm. 52.
30
Inquiry menghadirkan masalah yang tidak direkayasa, sehingga
siswa perlu mengerahkan kemampuan berpikir kritis dan keterampilan
ilmiah untuk menyelidiki dan menemukan solusi secara mandiri dan
otentik.
2. Penekanan Proses
Discovery menekankan pada penemuan konsep atau prinsip yang
sebelumnya tidak diketahui.
Inquiry menekankan pada proses penelitian dan eksplorasi
menyeluruh untuk memperoleh pemahaman yang mendalam terhadap
masalah nyata.
3. Peran Guru
Dalam Discovery, guru lebih aktif merancang alur pembelajaran
dan memberikan stimulus terstruktur.
Dalam Inquiry, guru berperan sebagai fasilitator yang memberi
kebebasan lebih besar kepada siswa untuk menggali dan menyusun
pengetahuan.
4. Kemandirian Siswa
Discovery masih memberikan batasan dan arah dari guru,
sedangkan Inquiry mendorong siswa untuk lebih mandiri dalam
31
Inquiry mencakup discovery dan lebih banyak lagi karena
mengandung proses mental tingkat tinggi, seperti merumuskan masalah
sendiri, merancang dan melakukan eksperimen, serta menganalisis data untuk
menarik kesimpulan secara objektif. Dengan demikian, strategi inquiry
memberikan ruang yang lebih luas bagi peserta didik untuk mengembangkan
pola pikir ilmiah dan sikap mental yang kritis, yang tidak hanya memahami
teori tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata.33
Berdasarkan pemaparan mengenai perbedaan strategi pembelajaran
inquiry dan discovery, dapat dipahami bahwa inquiry memiliki cakupan yang
lebih luas dan mendalam dibanding discovery karena melibatkan proses
berpikir tingkat tinggi yang lebih kompleks. Inquiry tidak hanya
mengarahkan peserta didik untuk menemukan konsep seperti pada discovery,
tetapi juga menuntut mereka untuk secara aktif merumuskan masalah,
merancang langkah investigasi, melakukan eksperimen, dan menganalisis
data secara mandiri. Dengan demikian, inquiry menjadi strategi yang lebih
efektif dalam membentuk pola pikir kritis dan ilmiah peserta didik serta
mempersiapkan mereka untuk mampu mengaplikasikan pengetahuan dalam
konteks kehidupan nyata, bukan sekadar memahami teori di ruang kelas.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
32
W. Gulo, (2008), Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: Grasindo), hlm. 84.
33
Asep Andri Astriyandi, (2021), Pendekatan Inquiry Tipe Project Based Learning &
Group Investigation dalam Konsep Pelestarian Lingkungan Hidup (Jakarta: Penerbit Adab, CV.
Adanu Abimata), hlm. 9–11.
32
Secara bahasa inquiry berarti penyelidikan atau eksplorasi secara
maksimal. Secara istilah strategi pembelajaran inquiry adalah suatu strategi
pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir kritis dan analitis untuk
mencari serta menemukan sendiri jawaban atas suatu permasalahan. Dalam
makalah ini, penulis telah menguraikan berbagai aspek penting terkait strategi
pembelajaran inquiry, di antaranya pengertian, sejarah perkembangan serta
tokoh-tokohnya, karakteristik, tujuan, jenis-jenis, prinsip-prinsip dasar,
manfaat, kelebihan dan kekurangan, serta langkah-langkah implementasinya.
Selain itu, juga membahas penerapan strategi inquiry dalam pembelajaran
bahasa Arab, keterampilan yang dapat dikembangkan melalui penerapannya,
hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaannya, serta perbedaannya
dengan strategi pembelajaran discovery. Diharapkan melalui strategi ini,
peserta didik mampu menjadi pembelajar aktif yang berpikir kritis dan
mandiri dalam menggali dan membangun pengetahuan.
B. Saran
Demikianlah makalah yang dapat penulis sajikan sebagai bahan
pembelajaran kita bersama. Semoga dapat memberikan manfaat bagi kita
semua. Selanjutnya kritik dan saran selalu penulis nantikan dari para pembaca
yang budiman demi terciptanya makalah yang lebih baik kedepannya.
DAFTAR PUSTAKA
33
ر د المنعم .)2012( .أث اوي ،رال إدريس عب الحرب
اس تراتيجية االستقص اء الموج ه بالحاس وب في
تحص يل طلب ة الص ف العاش ر األساس ي في
التكنولوجيا واتجاهاتهم نحوها .جامعة القدس.
العتي بي ،خال د عب د الل ه و آخ رون .)2020( .فاعلي ة
اس تخدام اس تراتيجية االستقص اء في تنمي ة
المه ارات اإلدراكي ة لألطف ال من وجه ة نظ ر
معلمات الروضات الحكومية .مجلة جامع ة جن وب
الوادي.)3(26 ،
اس تراتيجية العجالن ،مه اء بنت ص الح.)2016( .
التدريس االستقصاء .المملك ة العربي ة الس عودية:
مكتبة تعليم النهضة.
العنزي ،لطيفة قاس م محم د .)2017( .اث ر اس تخدام
إس تراتيجية االستقص اء الموج ه في اكتس اب
المف اهيم البيولوجي ة واالتجاه ات العلمي ة ل دى
طالب ات الص ف األول الث انوي العلمي .جامع ة آل
البيت.
الغيداني ،نوير حمدان .)2023( .اس تخدام اس تراتيجية
االستقص اء في ت دريس الدراس ات االجتماعي ة
لتنمي ة مه ارات م ا وراء المعرف ة ل دى طالب ات
34
الص ف الث اني المتوس ط بالمملك ة العربي ة
.)1(2، مجلة المنهاج والتدريس.السعودية
اتجاه ات حديث ة.)2005( . أحم د و آخ رون،النج دي
لتعليم العل وم في ض وء المع ايير العلمي ة وتنمي ة
دار الفك ر: الق اهرة.التفك ير والنظري ة البنائي ة
.العربي
االتجاه ات العالمي ة.)2010( . ع ايش محم ود،زيتون
دار: عم ان.المعاصرة في مناهج العلوم وتدريسها
.الشروق
.)2013( . ذوق ان وس هيلة أب و الس ميد،عبي دات
اس تراتيجيات الت دريس في الق رن الح ادي
. دلي ل المعلم والمش رف ال تربوي:والعش رين
. مركز ديبونو لتعليم التفكير:عّم ان
Agista, Hairunnisa, dkk. (2023). Aplikasi Metode Inquiry: Kelebihan dan
Kelemahannya dalam Pembelajaran Fiqih. Jurnal Pendidikan Indonesia
(PJPI), 1(1), hlm. 77–86.
Astriyandi, Asep Andri. (2021). Pendekatan Inquiry Tipe Project Based Learning
& Group Investigation dalam Konsep Pelestarian Lingkungan Hidup.
Jakarta: Penerbit Adab, CV. Adanu Abimata.
Auvisena, Arlinta Ulfa dkk. (2023). Model-Model Pembelajaran di Era Merdeka
Belajar. Semarang: Cahya Ghani Recovery.
Gulo, W. (2008). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Grasindo.
35
Maylia, Elma Citra dkk. (2024). Strategi Pembelajaran Inkuiri Terhadap
Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SD. Jurnal Review Pendidikan Dasar:
Jurnal Kajian Pendidikan dan Hasil Penelitian, 10(1), hlm. 32-41.
Mukhoiyaroh. (2021). Kegigihan Belajar pada Pembelajaran Berbasis Inquiry.
Yogyakarta: Penerbit NEM.
Primastuti, Tyas Ayu. (2024). Penerapan Strategi Inkuiri dalam Pembelajaran
Mahārah al-Qirāʼah Kelas V SD Muhammadiyah 1 Purbalingga. Skripsi.
Purwokerto: Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, UIN Prof. K.H.
Saifuddin Zuhri.
Ramadhani, Thifa dkk. (2024). Penggunaan Strategi Pembelajaran Inkuiri dalam
Meningkatkan Kemampuan Berfikir Kritis Peserta Didik. Journal of
Creative Student Research, 2(3), hlm. 168-180.
Widaningsih, Ida. (2019). Strategi dan Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia di
Era Revolusi Industri 4.0. Sidoarjo: Uwais Inspirasi Indonesia.
Yudiyanto, Mohamad, dkk. (2024). Strategi Membangun Percaya Diri Peserta
Didik. Pangandaran: Intake Pustaka Publisher.
36