PENYAKIT MENULAR DAN TIDAK MENULAR PADA KESEHATAN
REPRODUKSI
Mata:Kuliah Epidemiologi
Dosen: Henrietta Imelda Tondong, SKM., ΜΕΡΗ
DISUSUN OLEH:
CHAROLIN NOLVIANA PALAYUKAN PO7124323011
PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN KEBIDANAN
POLTEKKES KEMENKES PALU
2025
TUGAS EPIDEMIOLOGI
PENYAKIT MENULAR DAN TIDAK MENULAR PADA KESEHATAN
REPRODUKSI
A. Penyakit Menular
1. Sifilis
a. Pengertian: Sifilis adalah infeksi bakteri kronis yang disebabkan
oleh Treponema pallidum. Penyakit ini berkembang melalui
beberapa tahap: primer, sekunder, laten, dan tersier, dan dapat
berlangsung selama bertahun-tahun jika tidak diobati.
b. Penyebab
Penyebab penyakit sifilis adalah bakteri yang berukuran sangat kecil
yang dinamakan Treponema Pallidium. Sifilis ditularkan melalui
kontak langsung dengan luka sifilis selama hubungan seksual
vaginal, oral, atau anal. Juga dapat ditularkan dari ibu ke bayi selama
kehamilan (sifilis kongenital).
c. Gejalah
1. Fase Primer
Pada fase ini, sifilis akan membentuk luka atau ulkus yang tidak
nyeri pada tempat yang terinfeksi. Bagian tubuh yang paling
sering terinfeksi adalah penis, vulva, atau vagina. Rasa nyeri
juga bisa dirasakan di anus, rektum, bibir, lidah, tenggorokan,
leher rahim, jari-jari tangan, atau bagian tubuh lainnya.
2. Fase Sekunder
Pada fase ini, penderita sifilis akan mengalami ruam dikulit.
Ruam tersebut biasanya muncul dalam waktu 6-12 minggu
setelah infeksi terjadi. Ruam ini dapat terjadi hanya sebentar atau
beberapa bulan. Meskipun tidak diobati, ruam ini akan
menghilang. Tetapi, beberapa minggu atau bulan kemudian akan
muncul ruam yang baru lagi.
2
3. Fase Laten
Pada fase ini, sifilis umumnya tidak menunjukkan gejala sama
sekali. Fase ini bisa berlangsung bertahun-tahun, berpuluh-puluh
tahun, atau bahkan sepanjang hidup bagi penderita. Pada awal
fase laten, luka yang menular kembali muncul.
4. Fase Tersier
Pada fase ini, penderita tidak lagi menularkan penyakitnya.
Gejala yang muncul bervariasi, dimulai dari yang ringan sampai
sangat parah. Sifilis tersier bisa terjadi kira-kira 3-15 tahun
setelah infeksi awal.
d. Pencegahan
Ada beberapa cara pencegahan sifilis, diantaranya:
1. Berhenti melakukan kontak seksual dalam jangka waktu lama
2. Memiliki satu pasangan tetap untuk melakukan hubungan seksual
3. Menghindari Alkohol dan obat-obat terlarang
4. Membicarakan secara terbuka mengenai riwayat penyakit
kelamin yang dialami bersama pasangan
5. Biasakan menggunakan kondom bila harus berhubungan seksual
dengan orang yang tidak dikenal
2. HIV/AIDS
a. Pengerian:
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang
menyerang sistem kekebalan tubuh dan dapat berkembang menjadi
AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) jika tidak ditangani.
HIV membuat tubuh rentan terhadap infeksi dan kanker.
b. Penyebab:
Penularan melalui darah, cairan kelamin, air susu ibu, dan hubungan
seksual tanpa kondom. Juga bisa melalui jarum suntik yang
terkontaminasi.
c. Gejalah:
Penderita biasanya mengalami nafas pendek, batuk, nyeri dada, dan
demam, hilangnya nafsu makan, mual dan muntah, kehilangan berat
badan tubuh sehingga 10% di bawah normal, Para penderita mudah
3
terserang virus cacar air atau cacar api dan berbagai macam penyakit
kulit lainnya.
d. Pencegahan
1. Hindari berganti-ganti pasangan seksual.
2. Gunakan kondom ketika berhubungan intim, khususnya dengan
penderita AIDS.
3. Pemeriksaan tes ELISA pada setiap darah donor.
4. Hindari penggunaan jarum suntik secara bergantian
dengan penderita AIDS.
3. Gonore (Kencing Nanah)
a. Pengertian:
Gonore adalah infeksi menular seksual (IMS) yang disebabkan oleh
bakteri Neisseria gonorrhoeae. Bakteri ini menyerang membran
mukosa pada alat kelamin, rektum, dan tenggorokan.
b. Penyebab:
Gonore ditularkan melalui hubungan seksual vaginal, oral, atau anal
dengan orang yang terinfeksi. Bakteri juga dapat menular dari ibu
ke bayi saat proses persalinan.
c. Gejala:
Pada pria, gejalanya berupa keluarnya cairan seperti nanah dari
penis, rasa nyeri atau terbakar saat buang air kecil, dan nyeri di 2
testis. Pada wanita, gejala bisa berupa keputihan abnormal, nyeri
perut bagian bawah, nyeri saat berhubungan seksual, dan perdarahan
di luar siklus menstruasi. Namun, pada banyak kasus, terutama
wanita, gonore bisa tidak bergejala.
d. Pencegahan:
Menggunakan kondom secara konsisten dan benar, menghindari
berganti-ganti pasangan seksual, dan melakukan tes kesehatan
seksual secara rutin adalah langkah penting dalam mencegah
gonore.
4. Herpes Genital
a. Pengertian:
4
Herpes genital adalah infeksi virus yang disebabkan oleh virus
herpes simpleks (HSV), terutama tipe 2. HSV menyerang 3 area
genital dan sekitarnya dan bersifat menahun karena virus tetap
berdiam di dalam tubuh meski gejala hilang.
b. Penyebab:
Penularan terjadi melalui kontak langsung kulit ke kulit saat
berhubungan seksual, termasuk kontak dengan luka herpes.
c. Gejala:
Munculnya lepuhan berisi cairan yang menyakitkan di sekitar alat
kelamin, anus, atau mulut. Lepuhan ini pecah menjadi luka terbuka
yang bisa terasa perih. Sering disertai demam, pembengkakan
kelenjar getah bening, dan nyeri otot.
d. Pencegahan:
Gunakan kondom, hindari hubungan seksual saat ada gejala aktif,
dan komunikasikan status herpes dengan pasangan.
5. Trikomoniasis
a. Pengertian:
Trikomoniasis adalah infeksi parasit yang disebabkan oleh
Trichomonas vaginalis. Umumnya menyerang vagina, tetapi juga
dapat menyerang uretra pada pria.
b. Penyebab:
Ditularkan melalui hubungan seksual vaginal. Benda yang
terkontaminasi seperti handuk lembab juga dapat menjadi media
penularan.
c. Gejala:
Wanita mengalami keputihan berbusa, berwarna hijau kekuningan,
bau tidak sedap, gatal, dan nyeri saat buang air kecil. Pria biasanya
tanpa gejala, tapi bisa mengalami iritasi uretra.
d. Pencegahan: Hindari hubungan seksual berisiko, gunakan kondom,
dan lakukan pengobatan pada kedua pasangan.
6. Klamidia (Chlamydia)
a. Pengertian:
Klamidia adalah IMS yang disebabkan oleh bakteri Chlamydia
trachomatis. Ini adalah salah satu infeksi paling umum dan sering
5
kali tidak menunjukkan gejala, sehingga banyak yang tidak
menyadari bahwa mereka terinfeksi.
b. Penyebab:
Penularan terjadi melalui hubungan seksual tanpa kondom dengan
orang yang terinfeksi, baik secara vaginal, anal, maupun oral.
c. Gejala:
Pada pria, bisa menyebabkan keluarnya cairan dari penis, nyeri saat
buang air kecil, dan nyeri pada testis. Pada wanita, dapat
menimbulkan keputihan abnormal, nyeri perut bawah, nyeri saat
berhubungan seksual, dan perdarahan di antara menstruasi
d. Pencegahan: Menggunakan kondom, skrining rutin terutama pada
wanita aktif secara seksual di bawah 25 tahun, dan pengobatan
pasangan seksual adalah kunci pencegahan.
7. Human Papillomavirus (HPV)
a. Pengertian:
HPV adalah kelompok virus yang mencakup lebih dari 100 tipe,
beberapa di antaranya menyebabkan kutil kelamin dan kanker
(terutama kanker serviks).
b. Penyebab:
Kontak kulit ke kulit saat berhubungan seksual, termasuk oral dan
anal. Penularan bisa terjadi meski tidak ada gejala.
c. Gejala:
Kutil kelamin berupa benjolan kecil di area genital, bisa tunggal
atau berkelompok. Tipe onkogenik biasanya tidak bergejala sampai
muncul kelainan pada sel serviks.
d. Pencegahan: Vaksinasi HPV (Gardasil/Cervarix), pemeriksaan pap
smear rutin, dan penggunaan kondom dapat mengurangi risiko.
8. Mycoplasma genitalium
a. Pengertian:
Infeksi ini disebabkan oleh bakteri Mycoplasma genitalium, yang
menyerang saluran genital dan menjadi penyebab uretritis dan
serviksitis.
b. Penyebab:
Hubungan seksual tanpa kondom dengan orang yang terinfeksi.
6
c. Gejala:
Pada pria berupa nyeri saat buang air kecil, keluarnya cairan dari
penis. Pada wanita, dapat menyebabkan keputihan, nyeri perut
bawah, dan perdarahan antar menstruasi.
d. Pencegahan:
Gunakan kondom, batasi jumlah pasangan seksual, dan lakukan tes
IMS jika berisiko tinggi.
9. Kandidiasis Genital
a. Pengertian:
Kandidiasis genital adalah infeksi jamur Candida albicans pada area
genital. Meskipun bukan IMS klasik, tetapi sering terjadi bersamaan
dengan IMS lainnya.
b. Penyebab:
Kelembapan berlebih, pemakaian antibiotik jangka panjang, sistem
kekebalan lemah, dan hubungan seksual.
c. Gejala:
Gatal hebat, keputihan seperti susu kental, rasa terbakar saat buang
air kecil, dan nyeri saat berhubungan seksual.
d. Pencegahan:
Menjaga kebersihan area genital, menggunakan pakaian dalam
berbahan katun, dan menghindari antibiotik tanpa resep.
10. Hepatitis B
a. Pengertian:
Hepatitis B adalah infeksi hati yang disebabkan oleh virus hepatitis
B (HBV). Virus ini dapat menyebabkan infeksi akut atau kronis dan
ditularkan secara seksual maupun non-seksual.
b. Penyebab:
Kontak dengan darah, cairan tubuh, atau hubungan seksual tanpa
perlindungan dengan penderita hepatitis B.
c. Gejala:
Lemah, mual, muntah, nyeri perut kanan atas, urine berwarna gelap,
dan kulit atau mata menguning (jaundice)
d. Pencegahan: Vaksinasi hepatitis B, hubungan seksual aman, dan
tidak berbagi benda tajam.
7
B. Penyakit Tidak Menular
1. Prostatitis
a. Pengertian:
Prostatitis adalah peradangan pada kelenjar prostat yang dapat
bersifat akut atau kronis
b. Penyebab: Infeksi saluran kemih, cedera prostat, stres, atau
gangguan imun.
c. Gejala:
Nyeri di panggul, kesulitan buang air kecil, nyeri saat ejakulasi,
demam (jika akut), dan gangguan fungsi seksual.
d. Pencegahan:
Menjaga kebersihan, hindari duduk terlalu lama, cukup minum air,
dan hindari penundaan buang air kecil.
2. Ca. Serviks
a. Pengertian:
Kanker serviks adalah kanker yang tumbuh di leher rahim,
umumnya berkembang lambat dari kondisi prakanker. Meskipun
disebabkan oleh infeksi virus (HPV)
b. Penyebab:
Infeksi persisten HPV risiko tinggi, merokok, sistem kekebalan yang
lemah, dan riwayat keluarga.
c. Gejala:
Perdarahan di luar siklus menstruasi, keputihan berbau, nyeri
panggul, dan nyeri saat berhubungan seksual
d. Pencegahan:
Vaksinasi HPV, pemeriksaan pap smear secara rutin, dan hubungan
seksual yang aman.
3. Endometriosis
a. Pengertian:
Endometriosis adalah kondisi ketika jaringan yang mirip dengan
lapisan dalam rahim (endometrium) tumbuh di luar rahim, seperti di
ovarium, tuba falopi, atau organ panggul lainnya. Jaringan ini ikut
menebal dan luruh saat menstruasi, namun karena tidak berada di
8
dalam rahim, darah menstruasi tidak dapat keluar, sehingga
menyebabkan peradangan dan nyeri.
b. Penyebab:
Belum diketahui secara pasti, namun beberapa teori mencakup
menstruasi retrograde (aliran darah menstruasi yang berbalik arah),
gangguan sistem imun, atau faktor genetik.
c. Gejala:
Nyeri haid hebat (dismenore), nyeri saat berhubungan seksual
(dispareunia), nyeri saat buang air kecil atau besar saat haid,
infertilitas, dan kelelahan kronis.
d. Pencegahan:
Tidak ada cara yang pasti mencegah endometriosis, tetapi deteksi
dini dan pengelolaan hormon dapat membantu meringankan gejala.
4. Kista Ovarium
a. Pengertian:
Kista ovarium adalah kantong berisi cairan yang terbentuk di
ovarium. Sebagian besar tidak berbahaya dan hilang dengan
sendirinya, tetapi beberapa dapat menimbulkan masalah.
b. Penyebab: Gangguan ovulasi, ketidakseimbangan hormon, dan
faktor genetik dapat menyebabkan kista.
c. Gejala:
Nyeri panggul, perut kembung, gangguan menstruasi, nyeri saat
berhubungan seksual, atau kadang tidak bergejala sama sekali.
d. Pencegahan: Pemeriksaan panggul rutin dapat mendeteksi kista
sejak dini.
5. Amenore (Tidak Haid)
a. Pengertian:
Amenore adalah kondisi ketika seorang wanita tidak mengalami
menstruasi. Dibagi menjadi amenore primer (belum pernah haid)
dan sekunder (pernah haid, tetapi berhenti).
b. Penyebab: Stres, olahraga berlebihan, gangguan hormonal
(misalnya PCOS), gangguan tiroid, atau kelainan bawaan.
c. Gejala:
9
Tidak datang haid selama 3 bulan berturut-turut, kadang disertai
jerawat, rambut rontok, perubahan suara, dan infertilitas.
d. Pencegahan: Menjaga keseimbangan nutrisi, berat badan sehat, dan
menghindari stres dapat membantu mencegah amenore sekunder
6. Disfungsi Ereksi
a. Pengertian:
Disfungsi ereksi adalah ketidakmampuan pria untuk mencapai atau
mempertahankan ereksi yang cukup untuk melakukan hubungan
seksual.
b. Penyebab:
Faktor psikologis (stres, depresi), gangguan pembuluh darah,
diabetes, tekanan darah tinggi, atau penggunaan obat-obatan
tertentu.
c. Gejala:
Kesulitan mendapatkan atau mempertahankan ereksi, penurunan
hasrat seksual, atau gangguan kepercayaan diri.
d. Pencegahan:
Gaya hidup sehat, berhenti merokok, olahraga teratur, dan
mengelola stres membantu mencegah disfungsi ereksi.
7. Disfungsi Ovarium Prematur (Premature Ovarian Failure/POF)
a. Pengertian:
Disfungsi ovarium prematur atau kegagalan ovarium dini adalah
kondisi ketika ovarium berhenti berfungsi secara normal sebelum
usia 40 tahun. Ovarium berhenti memproduksi hormon reproduksi
(terutama estrogen) dan tidak melepaskan sel telur secara teratur,
sehingga menyebabkan gangguan kesuburan.
b. Penyebab:
Kelainan genetik (misalnya sindrom Turner atau Fragile X),
gangguan autoimun yang menyerang ovarium, efek samping
kemoterapi atau radiasi, serta idiopatik (tanpa penyebab jelas).
Riwayat keluarga juga meningkatkan risiko.
c. Gejala:
Gejalanya mirip menopause, antara lain menstruasi tidak teratur atau
berhenti sama sekali (amenore), hot flashes (sensasi panas di tubuh),
10
kering pada vagina, penurunan libido, perubahan suasana hati, dan
kesulitan untuk hamil. c. Penyebab: Kelainan genetik (misalnya
sindrom Turner atau Fragile X), gangguan autoimun yang
menyerang ovarium, efek samping kemoterapi atau radiasi, serta
idiopatik (tanpa penyebab jelas). Riwayat keluarga juga
meningkatkan risiko.
d. Pencegahan:
Menghindari paparan bahan toksik (seperti rokok dan bahan kimia
berbahaya), menjaga berat badan ideal, dan pola hidup sehat dapat
membantu menjaga kesehatan reproduksi.
8. Polycystic Ovary Syndrome (PCOS)
a. Pengertian:
PCOS adalah gangguan hormonal pada wanita usia reproduksi yang
ditandai dengan kista kecil pada ovarium, gangguan ovulasi, dan
peningkatan hormon androgen.
b. Penyebab:
Faktor genetik dan resistensi insulin memainkan peran penting
dalam perkembangan PCOS.
c. Gejala:
Menstruasi tidak teratur, jerawat, pertumbuhan rambut berlebih
(hirsutisme), berat badan sulit turun, dan infertilitas.
d. Pencegahan:
Tidak dapat dicegah sepenuhnya, tetapi gaya hidup sehat, menjaga
berat badan, dan aktivitas fisik teratur dapat mengurangi risiko dan
gejala.
9. Kanker Payudara
a. Pengertian:
Kanker payudara adalah pertumbuhan sel abnormal pada jaringan
payudara yang bisa menyebar ke organ lain. Meski tidak langsung
menyangkut organ reproduksi, namun berkaitan erat dengan
kesehatan reproduksi wanita.
b. Penyebab:
Faktor hormonal, riwayat keluarga, usia, konsumsi alkohol, dan
paparan estrogen berlebih.
11
c. Gejala:
Benjolan di payudara, perubahan bentuk payudara, keluarnya cairan
dari puting, atau kulit payudara mengerut seperti kulit jeruk.
d. Pencegahan:
Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI), mammografi rutin, gaya
hidup sehat, dan menyusui dapat menurunkan risiko.
10. Mioma Uteri (Fibroid Rahim)
a. Pengertian:
Mioma uteri adalah tumor jinak yang tumbuh di otot rahim.
Biasanya tidak bersifat kanker dan bisa berukuran kecil hingga
sangat besar. Mioma sering muncul selama masa reproduktif wanita.
b. Penyebab:
Penyebab pasti belum diketahui, tetapi faktor hormonal (estrogen),
genetik, dan gaya hidup seperti obesitas diduga berpengaruh
c. Gejala:
Perdarahan menstruasi yang banyak dan lama, nyeri atau tekanan di
perut bawah, sering buang air kecil, nyeri saat berhubungan seksual,
dan dalam beberapa kasus menyebabkan infertilitas.
d. Pencegahan:
Menjaga berat badan ideal, gaya hidup sehat, dan kontrol hormonal
dapat mengurangi risiko.
12