0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan8 halaman

Depresi pada Lansia: Penyebab dan Gejala

Dokumen ini membahas tentang depresi pada lansia, termasuk faktor penyebab, gejala, diagnosis, dan penatalaksanaan. Depresi merupakan masalah kesehatan serius yang sering terjadi pada lansia akibat berbagai stresor, seperti kehilangan dan perubahan fisik. Penanganan yang efektif melibatkan terapi psikologis dan farmakologis, serta dukungan sosial yang kuat.

Diunggah oleh

Rina jumiati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan8 halaman

Depresi pada Lansia: Penyebab dan Gejala

Dokumen ini membahas tentang depresi pada lansia, termasuk faktor penyebab, gejala, diagnosis, dan penatalaksanaan. Depresi merupakan masalah kesehatan serius yang sering terjadi pada lansia akibat berbagai stresor, seperti kehilangan dan perubahan fisik. Penanganan yang efektif melibatkan terapi psikologis dan farmakologis, serta dukungan sosial yang kuat.

Diunggah oleh

Rina jumiati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

DEPRESI PADA LANSIA

Diposkan oleh I Nengah Sumirta di 20.38


SELASA, 29 MARET 2011

DEPRESI PADA LANSIA

1. PENDAHULUAN

Menjadi tua adalah suatu proses natural/alami yang terjadi pada manusia . Secara umum proses

penuaan ini menyangkut 2 komponen utama yaitu komponen biologis dan komponen psikologis.

Perubahan pada kedua komponen ditambah dengan sikap masyarakat terhadapnya akan

mempengaruhi kualitas hidup lansia. Jika mereka dihargai, dicintai dan dihormati keluarganya baik

dalam keadaan sehat maupun sakit, kontribusi mereka di komunitas tempat mereka hidup diakui dan

dihargai maka lansia menjadi sangat aktif dan hidup mandiri (Watson Roger, 2003).

Menurut perkiraan dari United States Bureau of Census 1993, populasi usia lanjut di Indonesia

diproyeksikan pada tahun 1990 – 2023 akan naik 414 %, suatu angka tertinggi di seluruh dunia dan

pada tahun 2020, Indonesia akan menempati urutan keempat jumlah usia lanjut paling banyak

sesudah Cina, India, dan Amerika (Depkes RI, 2001). Fenomena ini akan berdampak pada semakin

tingginya masalah yang akan dihadapi baik secara biologis, psikologis dan sosiokultural. Organisasi

Kesehatan Dunia (WHO) telah mengidentifikasi lansia sebagai kelompok masyarakat yang mudah

terserang kemunduran fisik dan mental. Dilihat dari perspektif keperawatan dikatakan ada empat

besar penderitaan geriatrik yaitu immobilisasi, ketidakstabilan, inkontinensia, dan gangguan

intelektual. Sifat umum dari empat besar tersebut adalah 1) mempunyai masalah yang kompleks, 2)

tidak ada pengobatan yang sederhana, 3) hancurnya kemandirian, dan 4) membutuhkan bantuan

orang lain yang berkaitan erat dengan keperawatan (Isaac, 1981).

Depresi merupakan problem kesehatan masyarakat yang cukup serius. World Health Organization

(WHO) menyatakan bahwa depresi berada pada urutan ke empat penyakit di dunia. Sekitar 20 %

wanita dan 12 % pria dalam suatu waktu kehidupannya pernah mengalami depresi (Amir N, 2005).

Depresi adalah kondisi umum yang terjadi pada lansia. Kondisi ini sering berhubungan dengan kondisi

sosial, kejadian hidup seperti kehilangan, masuk rumah sakit, menderita sakit atau merasa ditolak oleh

teman dan keluarganya serta masalah fisik yang dialaminya. Cash, H (1998) dalam Hawari (2001)

mengemukakan bahwa 1 dari 5 orang pernah mengalami depresi dalam kehidupannya, selanjutnya 5-

15 % para pasien-pasien depresi melakukan bunuh diri setiap tahun.

1. PENGERTIAN DEPRESI
Dadang Hawari (2001) menyebutkan Depresi adalah gangguan alam perasaan (mood) yang ditandai

dengan kemurungan dan kesedihan yang mendalam dan berkelanjutan sehingga menyebabkan

hilangnya kegairahan hidup, tidak mengalami gangguan dalam menilai realitas (Reality Testing

Ability/RTA masih baik), kepribadian yang utuh (tidak mengalami keretakan kepribadian/spliting of

personality, perilaku dapat mengganggu tetapi masih dalam batas-batas normal.

Jusni (2003) menyatakan Depresi adalah perasaan sedih dan tertekan yang menetap, perasaan berat

sedemikian beratnya sehingga tidak bisa melaksanakan fungsi sehari-hari sebagai orang tua, pegawai,

pasangan hidup, dan pelajar.

1. STRESOR PENCETUS

Stuart dan Sundeen (1998), menyatakan ada empat sumber utama yang dapat mencetuskan

gangguan alam depresi yaitu :

1. Kehilangan keterikatan

Kehilangan nyata atau yang dibayangkan, termasuk kehilangan cinta seseorang, fungsi fisik,

kedudukan atau harga diri.

1. Peristiwa besar dalam kehidupan

Kegagalan dalam memyelesaikan masalah, kegagalan dalam upaya yang keras sehingga

menimbulkan ketidak berdayaan, menyalahkan diri sendiri, keputusasaan, dan rasa tidak berharga.

1. Peran dan ketegangan peran

Sering ditemukan adanya ketegangan peran dimana peran tidak sesuai ataupun ketidak mampuan

melaksanakan peran dapat menjadi stressor pencetus depresi.

1. Perubahan fisiologik

Diakibatkan oleh obat-obatan atau berbagai penyakit fisik kronik yang melemahkan tubuh seperti

infeksi, neoplasma, gangguan keseimbangan metabolik, dan HIV/AIDS.

1. FAKTOR RESIKO DEPRESI

Menurut Amir N (2005), faktor resiko depresi adalah jenis kelamin (wanita lebih cepat depresi

dibandingkan laki-laki), usia rata-rata awitan antara 20-40 tahun), status perkawinan terutama individu

yang bercerai atau berpisah, geografis (penduduk dikota lebih sering depresi daripada penduduk di

desa), riwayat keluarga yang menderita gangguan depresi (kemungkinan lebih sering terjadi depresi),

kepribadian : mudah cemas, hipersensitif, dan lebih tergantung orang lain, dukungan sosial yaitu

seseorang yang tidak terintegrasi ke dalam masyarakat, stresor sosial : peristiwa-peristiwa baik akut

maupun kronik, tidak bekerja terutama individu yang tidak mempunyai pekerjaan atau menganggur.
Depkes RI (2001) menyatakan ada beberapa keadaan yang beresiko menimbulkan depresi yaitu

kehilangan/meninggal orang (objek) yang dicintai, sikap psimistik, kecendrungan berasumsi negatif

terhadap suatu pengalaman yang mengecewakan, kehilangan integritas pribadi, berpenyakit

degeneratif kronik, tanpa dukungan sosial yang kuat.

1. GAMBARAN KLINIS DEPRESI PADA USIA LANJUT.

Mengenali depresi pada usia lanjut memerlukan suatu keterampilan dan pengalaman, karena

manifestasi gejala-gejala depresi klasik (perasaan sedih, kurang semangat, hilangnya minat/hobi atau

menurunya aktivitas) sering tidak muncul. Sangat tidak mudah untuk membedakan sekuele gejala

psikologik akibat penyakit fisik dari gangguan depresi atau gejala somatik depresi dari efek sistemik

penyakit fisik. Keduanya bisa saja terjadi pada seorang individu usia lanjut pada saat yang sama. Usia

lanjut yang mengalami depresi bisa saja mengeluhkan mood yang menurun, namun kebanyakan

menyangkal adanya mood depresi, yang sering terlihat adalah gejala hilangnya tenaga/energi,

hilangnya rasa senang, tidak bisa tidur, atau kehilangan rasa sakit/nyeri (Depkes RI, 2001).

Menurut Brodaty, 1991 dalam Depkes RI (2001), gejala yang sering muncul adalah anxietas atau

kecemasan, preokupasi gejala fisik, perlambatan motorik, kelelahan, mencela diri sendiri, pikiran

bunuh diri, dan insomnia. Sedangkan gejala depersonalisasi, rasa bersalah, minat seksual menurun

agak jarang. Sebagai petunjuk kearah depresi perlu diperhatikan tanda-tanda berikut (Depkes RI,

2001) : rasa lelah yang terus menerus bahkan juga sewaktu beristirahat, kehilangan kesenangan yang

biasanya dapat ia nikmati (tidak merasa senang lagi jika dikunjungi oleh cucu-cucunya), dan mulai

menarik diri dari kegiatan dan interaksi sosial.

Gambaran klinis depresi pada usia lanjut dibandingkan dengan pasien yang lebih muda berbeda, usia

lanjut cenderung meminimalkan atau menyangkal mooddepresinya dan lebih banyak menonjolkan

gejala somatiknya, disamping mengeluh tentang gangguan memori, juga pada umumnya kurang mau

mencari bantuan psikiater karena kurang dapat menerima penjelasan yang bersifat psikologis untuk

gangguan depresi yang mereka alami.

1. DIAGNOSA DEPRESI

Gangguan depresi pada usia lanjut ditegakkan berpedoman pada PPDGJ III (Pedoman Penggolongan

Diagnosis gangguan Jiwa di Indonesia III) yang merujuk pada ICD 10 ( International Classification of

Deseases 10). Gangguan depresi dibedakan dalam depresi ringan, sedang, dan berat sesuai dengan

banyak dan beratnya gejala serta dampaknya terhadap kehidupan seseorang.


Pedoman diagnostik lainnya adalah DSM IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders IV).

Depresi berat menurut DSM IV jika ditemukan 5 atau lebih gejala-gejala berikut dibawah ini, yang

terjadi hampir setiap hari selama 2 minggu dan salah satu dari gejala tersebut adalah mood terdepresi

atau hilangnya rasa senang/minat.

Gejala-gejala tersebut :

1. Mood depresi hampir sepanjang hari

2. Hilang miknat/rasa senang secara nyata dalam aktivitas normal

3. Berat badan menurun atau bertambah

4. Insomnia atau hipersomnia

5. Agitasi atau retardasi psikomotor

6. Kelelahan dan tidak punya tenaga

7. Rasa tidak berharga atau perasaan bersalah berlebihan

8. Sulit berkonsentrasi

9. Pikiran berulang tentang kematian, percobaan/ide bunuh diri.

Menurut ICD 10, pada gangguan depresi, ada tiga gejala utama yaitu :

1. Mood terdepresi

2. Hiulang minat/semangat

3. Hilang tenaga/mudah lelah.

Disertai gejala lain :

1. Konsentrasi menurun

2. Harga diri menurun

3. Perasaan bersalah

4. Psimis memandang masa depan

5. Ide bunuh diri atau menyakiti diri sendiri

6. Pola tidur berubah

7. Nafsu makan menurun

Pengelompokan berat ringannya depresi, disajikan dalam tabel 1

Tabel 1.

Pedoman Pengelompokan Berat Ringannya Depresi

Gejala utama Gejala lain


Depresi Fungsi Keterangan
minimal minimal
Ringan 2 3 Baik Distres ±
Sedang 2 3 atau 4 Terganggu Berlangsung minimal 2
minggu
Sangat
Berat 3 4 Intensitas gejala berat
terganggu
Sumber : Depkes dan Kesejahteraan Sosial RI, 2001

Menurunnya perawatan diri, perubahan kebiasaan makan, turunnya berat badan, dapat merupakan

tanda awal depresi tapi dapat juga merupakan tanda-tanda demensia. Oleh karena itu perlu dilakukan

juga pemeriksaan fungsi kognitif denganMini Mental State Examination (MMSE) atau Abbreviated

Mental Test (AMT)

1. PEMERIKSAAN PASIEN DEPRESI

Salah satu langkah penting dalam penatalaksanaan depresi adalah mendeteksi atau mengidentifikasi.

Sampai saat ini belum ada suatu konsensus atau prosedur khusus untuk penapisan/skrening depresi

pada populasi usia lanjut. Salah satu instrumen yang dapat membantu adalah Geriatric Depression

Scale (GDS) yang terdiri dari 30 pertanyaan yang harus dijawab oleh pasien sendiri. GDS ini dapat

dimampatkan menjadi 15 pertanyaan saja dan ini mungkin lebih sesuai untuk dipergunakan dalam

praktek umum sebagai alat penapis depresi pada lanjut usia (Depkes RI, 2001). Ada beberapa

pertanyaan pokok yang harus diajukan dalam proses pemeriksaan yaitu :

1. Apakah pada dasarnya anda merasa puas dengan kehidupan anda ?

2. Apakah hidup anda terasa kosong ?

3. Apakah anda takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada diri anda ?

4. Apakah anda merasa bahagia pada sebagian besar waktu anda ?

Pertanyaan tersebut dapat dilengkapi dengan mengeksplorasi hal-hal berikut :

1. Apakah pasien mempunyai riwayat depresi ?

2. Apakah pasien terisolasi secara sosial ?

3. Apakah pasien menderita penyakit kronik ?

4. Apakah pasien baru saja berkabung ?

Bila ditemukan tanda-tanda yang mengarah pada depresi harus dilakukan lagi pemeriksaan lebih rinci

tentang 1) Riwayat klinis/anamnesis, 2) pemeriksaan fisik, 3) Pemeriksaan kognitif, 4) Pemeriksaan

status mental, 5) pemeriksaan lain (memerlukan rujukan ke pelayanan yang lebih spesialistik).

1. PROGNOSIS

Roth dkk (1950) dan Murphy (1980) dalam Depkes RI (2001), menyatakan bahwa hanya sepertiga dari

pasien-pasien dengan depresi yang sembuh setelah selama satu tahun dirujuk kepelayanan psikiatri
usia lanjut. Setengah dari pasien-pasien tersebut mengalami relaps. Penelitian-penelitian lainnya

melaporkan prognosis yang lebih cerah yaitu lebih dari 60 % sembuh dalam waktu satu tahun. Tingkat

mortalitas pada pasien depresi cukup tinggi yaitu sepertiga dari pasien Murphy meninggal dalam

waktu empat tahun follow up. Penyebab kematian tidaklah berhubungan langsung dengan depresi

tetapiterutama karena penyakit vaskular atau infeksi paru dan bukan bunuh diri.

Prognosis depresi pada lanju usia tidak banyak berbeda dengan prognosis pada usia muda. Umumnya

penderita akan sembuh dan tetap befungsi dengan baik jika depresi diobati dan ditatalaksana dengan

baik. Hasil terapi yang kurang baik tampaknya berhubungan dengan episode awal yang parah dan

adanya kemorbiditas dengan penyakit lain.

1. PENATALAKSANAAN DEPRESI PADA USIA LANJUT

Penatalaksanaan yang adekuat menggunakan kombinasi terapi psikologis dan farmakologis disertai

pendekatan multidisiplin yang menyeluruh. Terapi diberikan dengan memperhatikan aspek individual

harapan-harapan pasien, martabat (dignity) dan otonomi/kemandirian pasien. Problem fisik yang ada

bersama-sama dengan penyakit mental harus diobati.

1. Terapi fisik

1. Obat (Farmakologis)

Secara umum semua jenis obat antidepresan sama efektivitasnya. Pengobatan dimulai dengan dosis

separuh dosis dewasa, lalu dinaikkan perlahan-lahan sampai ada perbaikan gejala. Beberapa

kelompok anti depresan adalah Trisiklik, SSRI's (Selective Serotonin Re-uptake Inhibitors),MAOI's

(Monoamine Oxidase Inhibitors) dan Lithium.

2. Terapi Elektrokonvulsif (ECT)

2. Terapi Psikologik

1. Psikoterapi : Psikoterapi Individu dan kelompok paling efektif dilakukan bersama-sama dengan

pemberian anti depresan. Perlu diperhatikan teknik psikoterapi dan kecocokan antara pasien dengan

terapis sehingga pasien merasa lebih nyaman, lebih percaya diri dan lebih mampu mengatasi

persoalannya sendiri.

2. Terapi Kognitif : bertujuan mengubah pola pikir pasien yang selalu negatif (persepsi diri, masa depan,

dunia, diri tak berguna, tak mapu, dsb) ke arah pola pikir yang netral atau yang positif.

3. Terapi Keluarga : problem keluarga dapat berperan dalam perkembangan penyakit depresi, sehingga

dukungan/support terhadap pasien sangat penting. Proses penuaan mengubah dinamika keluarga, ada

perubahan posisi dari dominasi menjadi dependen pada orang usia lanjut. Tujuan dari terapi terhadap
keluarga pasien yang depresi adalah untuk meredakan perasaan frustrasi dan putus asa, mengubah

dan memperbaiki sikap/struktur dalam keluarga yang menghambat proses penyembuhan pasien.

4. Penanganan ansietas : teknik yang umum dipakai adalah program relaksasi progresif baik secara

langsung dengan infra struktur (psikolog atau terapis okupasional) atau melalui tape recorder. Teknik

ini dapat dilakukan dalam praktek umum sehari-hari.

3. KOMORBIDITAS

Komorbiditas didefinisikan sebagai adanya dua atau lebih gangguan psikiatrik atau gangguan

psikiatrik dengan penyakit fisik lain pada seorang pasien pada waktu yang sama. Komorbiditas

mempunyai implikasi terhadap diagnosis, terapi, dan prognosis. Contoh sakit kepala, putus asa,

retardasi psikomotor agak sulit untuk dikaitkan apakah ini suatu problem organik atau mungkin suatu

keadaan depresi ? Kapan dan bagaimana memulai terapi antidepresan pada pasien dengan penyakit

fisik berat ? Jelas bahwa kondisi komorbiditas akan memperburuk kualitas hidup dan menghambat

penyembuhan pasien. Menurut Katona dalam Depkes RI (2001), menyatakan kejadian depresi berat

meningkat pada pasien dengan penyakit medik/fisik. Sementara depresi akan memperkuat gejala fisik.

Kemorbiditas juga meningkatkan hendaya fungsional/disabilitas. Menurut Depkes RI (2001), Kondisi-

kondisi Kemorbiditas yang sering dijumpai adalah :

1. Gangguan depresi dan stroke

2. Gangguan depresi dan diabetes mellitus

3. Gangguan depresi dan infark miokard/penyakit jantung koroner

4. Gangguan depresi dan penyakit parkinson

5. Gangguan depresi dan penyakit lain (Alzheimer, Huntington, dll)

1. KESIMPULAN

Populasi usia lanjut semakin tahun semakin bertambah dan pertambahan populasi ini diikuti juga oleh

semakin kompleksnya permasalahan yang dihadapi baik fisik maupun psikologis. Kondisi ini

memerlukan perhatian dan penatalaksanaan yang semakin komprehensif. Deteksi dini depresi pada

pasien usia lanjut dengan gangguan/penyakit fisik yang disertai dengan intervensi optimal, akan

memperbaiki prognosis dan mencegah terjadinya disabilitas yang akan membuat pasien menderita

berkelanjutan.

Pendekatan multidisiplin dengan fokus pada kepentingan pasien harus menjadi perhatian bagi seluruh

anggota tim. Kesejahteraan jiwa pasien, harapan-harapan pasien dan kehidupan sosialnya sebaikinya

juga diupayakan terpenuhi disamping upaya penyembuhan penyakitnya.


DAFTAR PUSTAKA

Amir N. 2005. Depresi, Aspek Neurobiologi Diagnosis dan Tatalaksana, Jakarta : Balai

Penerbit FKUI.

Dadang Hawari D. 2002. Manajemen Stress, Cemas dan Depresi, Jakarta : Gaya Baru

Depkes dan Kesejahteraan Sosial RI. 2001. Pedoman Pembinaan Kesehatan Jiwa Usia Lanjut

Bagi Petugas Kesehatan, Jakarta.

Isaac. 2003. Buku Pedoman Kesehatan Jiwa, Jakarta : tp.

Watson R. 2003. Perawatan Pada Lansia, Jakarta : EGC

Anda mungkin juga menyukai