PERAN GURU DALAM MENGEMBANGKAN KECERDASAN
INTERPERSONAL ANAK MELALUI METODE BERMAIN
PERAN USIA 5-6 TAHUN TAMAN KANAK-KANAK
BUNGA TANJUNG DESA SEMBUBUK
KABUPATEN MUARO JAMBI
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan dalamMenyelesaikan
Program Pendidikan Gelar Sarjana (S1)
GUSTI MAHARANI
2086207017
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU ANAK USIA DINI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN ILMUPENDIDIKAN
(STKIP) DINIYYAHAL AZHAR
JAMBI 2024
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING
Proposal skripsi yang berjudul peran guru dalam mengembangkan
kecerdasan anak usia 5-6 tahun melalui metode bermain peran di Taman Kanak-
Kanak Bunga tanjung di Desa Sembubuk: Proposal skripsi Program Studi
Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, yang disusun oleh Gusti Maharani,
Nomor Induk Mahasiswa 20867017 telah diperiksakan dan telah disetujui untuk
diuji.
Jambi, Mei 2024
Pembimbing I
Lola Monika, [Link].I
NIDN. 1007079002
Jambi, Mei 2024
Pembimbing II
Husnu Hakim, S.E.,[Link]., [Link].
NIDN. 1027057701
2
KATA PENGANTAR
Selesainya penelitian yang dilakukan sampai terwujud menjadi skripsi
ini tidak akan pernah dapat diraih tanpa rahmat dari Allah Subhanahuwataala.
Untuk itu, sudah sepantasnya puji syukur penulis sampai kehadirat Allah
Subhanahuwataala, atas segala [Link] pula kepada berbagai
pihak yang telah membantu, dalam kesempatan ini penulis sampaikan terima
kasih, terutama kepada Ibuk Lola Monika, [Link] selaku dosen pembimbing I
yang dengan kesabaran, keikhlasan, dan sifat keibuannya telah membimbing
dan memotivasi penulis untuk menyelesaikan pendidikan dan penulisan
skripsi ini. Semua itu akan penulis kenang sebagai bekal di masa mendatang.
Begitu juga bapak Husnul Hakim, S.E.,[Link]., [Link] yang dengan
ketelitian, kesabaran, dan hatinya yang lembut dalam menasehati penulis
tetapi kritis dan cemerlang dalam berpikir telah menggugah penulis untuk
tidak menyerah memperbaiki kesalahan atau kekeliruan yang masih muncul
dalam penyusunan skripsi ini. Semoga Tuhan tetap memberikan yang terbaik
untuk beliau.
Ibuk Dra. Almainova, [Link]., dan Bapak H. A. Muhaimin El-Yusufi,
[Link].E. ME., terima kasih atas saran dan kritikan yang telah diberikan dalam
seminar proposal dan ujian skripsi ini. Semoga ilmu dan kekritisan Bapak-
bapak dan Ibu membuat skripsi ini lebihsempurna.
Untuk Dosen Program Studi Pendidikan Guru Anak Usia Dini di
STKIP Al-Azhar Diniyyah Jambi yang telah membagi ilmunya, penulis
sampaikan rasa terima kasih yang [Link] semuanya menjadi amal
ibadah yang [Link] lupa pula rasa haru dan terima kasih penulis
sampaikan kepada Dosen Penasehat Akedmik yang dengan gurauannya yang
hangat tetapi penuh makna telah mengantar penulis untuk menyelesaikan
pendidikan. Ini semua tentu berkat kerjasama beliau dengan Ketua dan
Sekretaris Program Studi Pendidikan Guru Anak Usia Dini, Ketua dan
Sekretaris Jurusan Pendidikan Guru Anak Usia Dini, Wakil Dekan Bidang
3
Akademik, serta Dekan STKIP Al-Azhar Diniyyah Jambi yang selalu
memberikan kemudahan dan pengarahan kepada mahasiswanya, terutama
dalam proses perizinan penelitian dan pengesahan skripsiini.
Secara khusus kepada kedua orang tua tercinta yang tiada hentinya
mendoakan dan memberi perhatian untuk kesuksesan, penulis sampaikan
terima kasih yang sangat mendalam. Semoga jerih payah beliau mendapat
imbalan dari Yang Khalik dan telah memperkuat keyakinan penulis bahwa
tanpa beliau penulis tidak akan pernah ada dan tidak akan pernah berhasil.
Jambi, Agustus 2024
Gusti maharani
NIM. 20867017
4
DAFTAR ISI
BAB 1
PENDAHULUAN.............................................................................................................1
1.1 Latar Belakang.........................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah....................................................................................................8
1.3 Tujuan Penelitian......................................................................................................9
1.4 Manfaat penelitian....................................................................................................9
BAB II
KAJIAN TEORI..........................................................................................................11
2.1 Peran Guru.............................................................................................................11
2.1.1 Pengertian Guru..................................................................................................11
2.2 Kecerdasan Interpersonal.......................................................................................16
2.2.1 Pengertian kecerdasan Interpersonal...................................................................16
2.2.2 Manfaat pengembangan Kecerdasan Interpersonal Pada Anak Usia Dini...........19
2.2.3 Unsur Kecrdasan Interpersonal...........................................................................21
2.2.4 Karakter Individu Yang Memiliki Kecerdasan Interpersonal...............................23
2.3 Metode Bermain Peran...........................................................................................25
2.3.1 Tujuan Bermain Peran.........................................................................................27
2.3.2 Kelebihan dan Kekurangan Bermain Peran.........................................................28
2.3.3 Langkah-langkah bermain peran.........................................................................29
2.3.4 Study Relevan.....................................................................................................32
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN.......................................................................................35
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian................................................................................35
3.2 Pendekatan dan jenis penelitian..............................................................................35
3.3 Data dan Sumber Data............................................................................................35
3.4 Teknik Sampling...................................................................................................36
3.6 Uji Validitas Data...................................................................................................39
3.6 Teknik Analisis Data..............................................................................................39
3.7 Prosedur penelitian.................................................................................................39
5
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN................................................................41
4.1 Deskripsi Lokasi.....................................................................................................41
4.2 Temuan Penelitan dan pembahasan........................................................................44
6
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Anak adalah amanah yang dititipkan Allah kepada orangtua untuk dijaga,
dibesarkan dengan sepenuh hati dan diberikan kasih sayang yang cukup. Anak
dilahirkan kedunia ini dalam keadaan fitrah seperti kertas putih yang tanpa noda.
Kita sebagai orangtua adalah pena untuk mengisi kertas putih tersebut yang
artinya orangtua lah yang menentukan seperti apa dimasa depan anak itu nanti.
Sebagai mana dalam Al-qur’an surat Al- Nahl ayat 78 :
َو الَّله َاْح َر َم ٌكْم ٍم ْن ُبُطْوٍن ٌاَّمَه ٍتُكْم َال َتْع َلُم ْو َن
َش ْيًئا َو َجَعَلُكْم اَّس ْم َع َو اَاْلْبَص اَر َو اَاْلْف ِئَدَة َلَعَّلُكْم
َتْش ُكُر ْو َن
Artinya : Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak
mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan
hati nurani, agar kamu bersyukur.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, Nabi
bersabda yang artinya “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), maka
orang tuanyalah yang akan menjadikan dia yahudi, nasrani atau majusi”.
Anak merupakan cikal bakal masa depan bangsa oleh karena itu orangtua
wajib memberikan pendidikan yang baik untuk anaknya, supaya anak dapat
tubuh dan berkembang dengan baik, agar anak menjadi solih dan sohliha serta
1
berguna bagi nusa dan bangsa. NAEYC (National Assosiation Education for
Young Childern) Mengatakan bahwa anak usia dini adalah sekelompok individu
yang berada pada rentang usia antara 0-8 tahun, yang sedang mengalami proses
pertumbuhan dan perkembangan. Masa ini juga disebut oleh para ahli masa
Golden Age (masa keemasan) yang artinya seseorang hanya mengalami satu kali
masa perkembangan yang sangat pesat dalam segala aspek perkembangan.
Anak usia dini memiliki berbagai macam aspek perkembangan yang
sangat perlu diperhatikan perkembangannya. Seorang ahli perkembangan anak
dari Universitas Georgia Amerika Serikat, Dr. Kieth Osbon (Khasanah, 2023)
sebagaimana dikutip oleh Imam Musbikin mengatakan “Hampir 50% potensi
kecerdasan anak mulai terbentuk pada usia 4 tahun kemudian mencapai 80%
pada saat anak berusia 8 tahun”. Maka dari dalam masa pertumbuhan dan
perkembangan anak usia dini orang tua harus teliti dalam memberikan
pendidikan untuk merangsang kecerdasan anak, agar anak dapat berkembang
dengan optimal dan memudahkan anak untuk memulai pendidikan ke jenjang
selanjutnya.
Oleh karena itu dalam membesarkan anak tidaklah cukup dengan
memberikan kebutuhan fisik saja tapi juga mempersiapkan pendidikan yang baik
untuk anak usia dini, agar anak dapat mencapai segala potensi yang mereka
miliki. Pendidikan adalah proses formal atau informal yang melibatkan transfer
pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap dari satu generasi ke generasi
berikutnya. Ini melibatkan interaksi antara pendidik dan peserta didik. Maka dari
itu Taman Kanak-Kanak sebagai lembaga pendidikan formal yang ditujukan
2
untuk anak usia dini, biasanya antara 3 - 6 tahun. Taman Kanak-Kanak
merupakan jenjang pendidikan yang berada di bawah tingkat pendidikan dasar
dan merupakan tahap awal dalam proses pendidikan formal sebelum masuk ke
jenjang Sekolah Dasar.
Tujuan utama pendidikan adalah untuk memfasilitasi perkembangan dan
pertumbuhan anak dalam berbagai aspek kehidupan Salah satu tujuan pendidikan
adalah mengembangkan kecerdasan anak. Maka dari itu tujuan utama Taman
Kanak-Kanak adalah memberikan pendidikan dan pengembangan holistik kepada
anak-anak dalam berbagai aspek perkembangan mereka, termasuk fisik motorik,
kognitif, emosional, sosial, moral, dan bahasa. Melalui pendidikan yang
disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan anak usia dini, Taman Kanak-
Kanak bertujuan untuk membantu anak mengembangkan potensi dan
keterampilan mereka secara menyeluruh. Di Taman Kanak-Kanak, anak-anak
diajak untuk belajar melalui bermain, kegiatan kreatif, interaksi sosial, dan
eksplorasi lingkungan sekitar. Guru di Taman Kanak-Kanak berperan sebagai
fasilitator dan pendamping dalam proses pembelajaran anak. Mereka
menggunakan pendekatan yang menyenangkan dan menarik untuk meningkatkan
minat belajar anak, mengembangkan keterampilan motorik halus dan kasar,
memperluas kosakata dan kemampuan berbahasa, serta membantu anak
memahami konsep matematika dasar. Selain itu, Taman Kanak-Kanak juga
memberikan perhatian pada pengembangan sosial dan emosional anak. Anak
diajak untuk berinteraksi dengan teman sebaya dan belajar mengenai kerjasama,
berbagi, menghormati perbedaan, dan mengelola emosi dengan baik. Selama
3
masa ini, anak juga dikenalkan dengan nilai-nilai moral dan etika dasar, oleh
sebab itu disebuah lembaga sekolah diperlukan seorang Guru yang memiliki
kompetensi, agar dalam proses pendidikan untuk mengembangkan kecerdasan
anak atau potensi yang dimiliki anak dapat berkembang dengan semestinya.
Dalam hal ini Guru sebagai pendidik memiliki peran penting dalam proses
mendidik anak usia dini. Melalui peran Guru disekolah, anak-anak memperoleh
pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang diperlukan untuk menjadi
anggota masyarakat yang berfungsi dengan baik, Semua orang yakin bahwa guru
memiliki andil yang sangat besar terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah.
Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didik untuk
mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Secara umum, Guru adalah
pendidik dan tenaga kependidikan. Guru juga merupakan komponen yang paling
penting menentukan proses dan hasil pendidikan yang berkualitas. Kualitas Guru
meliputi kedisiplinan, kreativitas, tanggung jawab, kemampuan mengembangkan
diri, mampu mengikuti perkembangan zaman dan lain sebagainya. Oleh karena
itu, peran Guru sangat diperlukan dalam membantu menyukseskan kecerdasan
dan perkembangan anak khususnya selama di sekolah, karena sebagian waktu
anak akan dihabiskan ketika disekolah yang dimana Guru juga berperan sebagai
orangtua kedua bagi anak disekolah. Selain itu Guru harus dituntut untu
berkompeten dan professional agar dapat memberikan pendidikan yang
berkualitas. Menurut Gary Flewing dan William Hingginson salah satu peran dari
empat peran guru yang mereka ungkapkan adalah dengan memberikan stimulasi
kepada siswa dengan menyediakan tugas-tugas pembelajaran yang kaya dan
4
terencana dengan baik sehingga mampu meningkatkan perkembangan
intelektual, emosional, spiritual, dan sosialnya. Selain itu, anak-anak memiliki
hak-hak yang diakui secara internasional, seperti hak untuk mendapatkan
pendidikan, kesehatan, perlindungan, dan partisipasi dalam keputusan yang
mempengaruhi mereka (Fahriati, 2022). Pemerintah dan masyarakat memiliki
tanggung jawab untuk melindungi dan memenuhi hak-hak anak serta
menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi perkembangan mereka.
Setiap anak anak meiliki keunikan nya masing-masing, anak dengan
segala keunikannya menjadi bagian penting dalam kehidupan keluarga. Keunikan
anak sebagai individu mandiri berkaitan pula dengan kecerdasan yang
dimilikinya. Setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda. Dalam kaitan ini,
Guru perlu memperhatikan peserta didik secara individual, karena antara satu
peserta didik dengan yang lain memiliki perbedaan yang sangat mendasar. Serta
Guru pula yang memberikan dorongan agar peserta didik berani berbuat benar,
dan membiasakan mereka untuk bertanggung jawab terhadap setiap
perbuatannya. Dalam mengembangkan kecerdasan anak bukan lah hal yang
mudah, diperlukan waktu, usaha dan perhatian khusus untuk anak agar mereka
dapat mengembangkan kemampuan akademik, sosial, dan emosional yang akan
membantu mereka sukses dalam hidup. Guru harus bisa melihat potensi yang
dimiliki oleh anak jangan sampai Guru sebagai orang tua kedua bagi anak
melewatkan potensi pada diri anak tersebut. Selain kecerdasan intelektual, fakta
dilapangan saat ini masih banyak orangtua dan Guru yang mengesampingkan
5
kecerdasan lainya, dimana kebanyakan orangtua lebih memperhatikan untuk
menemukan cara agar anaknya dapat menjadi anak yang cerdas secara
intelektual, dan Guru yang terlalu fokus mencapai kompetensi dasar pengetahuan
guna menjadikan anak cerdas secara intelektual saja, Guru akan sulit memaksa
anak untuk unggul di satu bidang padahal anak tersebut memiliki potensi di
bidang lain, selama ini, kepintaran selalu diukur dengan tes IQ atau dibidang
akademik .
Menurut teori kecerdasan majemuk yang dikemukakan oleh (Nita,
dikutip dalam Gardner, 1983), terdapat beberapa kecerdasan yang dapat dimiliki
oleh anak-anak. Gardner mengidentifikasi tujuh kecerdasan utama, dan kemudian
menambahkan dua kecerdasan tambahan. Berikut adalah kesembilan kecerdasan
yang diakui dalam teori kecerdasan majemuk yaitu Kecerdasan Linguistik,
Kecerdasan Matematika, Kecerdasan Visual-Spasial, Kecerdasan Kinestetik,
Kecerdasan Musikal, Kecerdasan Interpersonal, Kecerdasan Intrapersonal,
Kecerdasan Naturalis, dan kecerdasan Spritual. Dalam hal ini kecerdasan
Interpersonal merupakan kemampuan untuk bersosialisasi dengan orang-orang
disekitar artinya kecerdasan ini adalah kemampuan untuk memahami dan
memperkirakan maksud dan keinginan seseorang. Dari pendapat diatas dapat
disimpulkan oleh penulis bahwa kecerdasan interpersonal adalah suatu
kemampuan individu untuk berkerjasama, berhubungan baik dengan orang lain,
mampu berempati atau mampu untuk memahami perasaan orang lain selama
berinteraksi dengan orang lain. Berkaitan dengan obsevasi terdahulu terdapat
masalah dalam mengembangkan kecerdasan interpersonal anak, diantaranya
6
terdapat anak yang memiliki keterlambatan dalam perkembangan sehingga
menghambat anak untuk proses aktivitas belajar dan bersosialisasi dengan
temannya. Metode yang dipilih untuk meningkatkan kecerdasan Interpersonal
anak adalah metode yang dapat meningkatkan kemampuan berkerja sama,
berempati pada orang lain dan kemampuan berteman dalam menjalin kontak.
Dengan demikian penulis tertarik untuk menggunakan metode bermain peran.
Metode bermain peran salah satu metode yang digunakan Taman Kanak-Kanak
Bunga Tanjung Desa Sembubuk Kabupaten Muaro Jambi.
Dari pembahasan diatas peniliti tertarik untuk membahas tentang “ Peran
guru dalam mengembangkan kecerdasan Interpersoanal anak usia 5-6 tahun
melalui metode bermain peran di Taman Kanak-kanak Bunga Tanjung Desa
sembubuk kabupaten Muaro Jambi “. Hasil dari observasi di Taman Kanak-
Kanak Bunga Tanjung Desa Sembubuk kabupaten Muaro Jambi kelompok B
dengan jumlah peserta didik 15 orang, terdapat beberapa indikator kecerdasan
interpersonal yang dalam perkembangannya belum mencakup tahapan
perkembangan yang seharusnya. Melalui wawancara dengan wali kelas ibu
Ermawati mengangatakan bahwa anak memang cenderung enggan untuk bekerja
sama membereskan alat permainan setelah bermain, berbagi cerita dengan
temannya, memuji hasil karya temannya. Penerapan metode bermain peran sudah
sepenuhnya dilakukan secara maksimal sesuai dengan langkah-langkah bermain
peran sesuai teori yang sudah ada. Langkah-langkah Bermain Peran yang
diterapkan di Taman Kanak-Kanak Bunga Tanjung Desa Sembubuk kabupaten
Muaro Jambi mereka menggunakan panduan teori sebagaimana yang digunakan
7
dari teori Sijiono dkk (2019) dimulai dengan Guru memilih tema untuk kegiatan
yang ingin dicapai, Guru membuat naskah jalan cerita yang akan dimainkan,
Guru mengumpulkan anak untuk diberi pengarahan dan aturan dalam bermain
peran, Guru sudah mempersiapkan alat yang akan digunakan saat bermain peran,
Guru menjelaskan alat-alat yang akan digunakan oleh peserta didik untuk
bermain, Guru membagikan tugas kepada peserta didik sesuai dengan peran yang
akan dimainkan, agar tidak berebut saat bermain peran, Guru hanya
mendampingi peserta didik dalam bermain peran, Guru mengadakan diskusi
untuk mengulas kembali nilai-nilai dan pesan yang terkandung dalam bermain
peran untuk diteladani peserta didik. Namun Ternyata dalam mengembangkan
kecerdasan interpersonal anak melalui metode bermain peran belum berkembang
secara maksimal menurut teori tersebut. Dengan ini juga penulis tertarik
melakukan penelitian di Taman Kanak-Kanak Bunga Tanjung Desa Sembubuk
kabupaten Muaro Jambi untuk melihat bagaimana peran Guru Dalam
Mengembangkan Kecerdasan Interpersonal Anak Usia Dini Melalui Metode
Bermain Peran di Taman Kanak-Kanak Bunga Tanjung Desa Sembubuk
kabupaten Muaro Jambi
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, peneliti merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana peran Guru dalam mengembangkan kecerdasan Interpersonal
anak usia 5 – 6 tahun melalui metode bermain peran di Taman Kanak-
Kanak Bunga Tanjung Desa Sembubuk Kabupaten Muaro Jambi?
8
2. Apa saja tantangan Guru dalam menerapkan metode bermain peran di
Taman Kanak-Kanak Bunga Tanjung Desa Sembubuk Desa Sembubuk
Kabupaten Muaro Jambi ?
3. Apa pengaruh dari penerapan metode bermain peran terhadap kecerdasan
Interpersonal Anak usia 5 – 6 tahun di Taman Kanak- Kanak Desa
Sembubuk Kabupaten Muaro Jambi ?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah yang dikemukakan di atas, maka
tujuan yang ingin di peroleh dari penelitian ini adalah :
1. mengidentifikasi Peran Guru dalam Mengembangkan Kecerdasan
Interpersonal anak melalui metode bermain peran di Taman Kanak-
Kanak Desa Sembubuk Kabupaten Muaro Jambi.
2. Untuk mengetahui kendala Guru dalam mengembangkan kecerdasan
anak melalui metode bermain peran di Taman Kanak-Kanak Desa
Sembubuk Kabupaten Muaro Jambi.
3. Untuk mengetahu dampak dari penerapan metode bermain peran
kepada Anak usia dini di Taman Kanak-Kanak Desa Sembubuk
Kabupaten Muaro Jambi.
1.4 Manfaat penelitian
Manfaat dari penelitian ini diharapakan berguna informasi bagi
penelitian selanjutnya dan merupakan salah satu rujukan dalam
pengembangan ilmu pendidikan, sekaligus merubah dan memperkaya
khazanah dalam bidang pekembangan anak usia dini.
1. Bagi Guru
9
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi
kepada guru mengenai perannya sebagai guru dalam mengembangkan
kecerdasan melalui metode bermain peran.
2. Bagi Orang Tua Siswa
Hasil penelitian ini akan memberikan informasi kepada orang tua
tentang bagaiman mengembangkan kecerdasan anaknya dan menerapkan
pola asuh yang dapat meningkatkan kecerdasan anaknya.
3. Bagi Lembaga
Bisa dijadikan motivasi untuk memperbaiki mutu maupun teknisi
baik dari segi sarana dan prasarana sekolah sehingga dapat mencapi tujuan
pendidikan.
4. Bagi peneliti
Sebagai salah satu syarat pemenuhan memperoleh gelar sarjana
pendidikan.
10
BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 Peran Guru
2.1.1 Pengertian Guru
Guru diartikan sebagai orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya)
mengajar. Kata guru dalam bahasa Arab disebut disebut mu’allim dan dalam
bahasa inggris teacher itu memang memiliki arti sederhana, yakni seorang yang
pekerjaannya mengajar orang lain. Berdasarkan pendapat Abuddin Nata (2014)
mendefenisikan Guru adalah seseorang yang memberi bimbingan, arahan dan
ajaran. Dalam undang-undang No.14 tahun 2005 di jelaskan bahwa: Guru adalah
pendidik propfesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan
anak usia dini jalur pendidikan formal pendidikan dasar, dan pendidikan
menengah.
Guru merupakan komponen penting yang menentukan kualitas
pendidikan. Maka dari itu untuk menjadi seorang guru harus memiliki keahlian
khusus, pengetahuan, kemampuan dan di tuntut untuk dapat melaksanakan peran-
perannya secara profesional yang dalam tugasnya Guru tidak hanya mengajar,
melatih, tetapi juga mendidik. Tanpa adanya Guru, pendidikan-pun tidak bisa
dilaksanakan. Peran Guru tidaklah dapat diganti oleh perangkat lainya, karena
11
Guru bukan hanya sekedar memberikan materi ajar kepada siswa tapi sebagai
contoh untuk ditiru oleh siswa. Guru harus memberikan contoh dan suri tauladan
kepada siswa, khususnya dalam hal memperaktekkan ilmunya dalam kehidupan
sehari-hari. Lebih dari hal itu, Guru mempunyai tugas dalam memberikan
lingkungan belajar yang kreatif dan inovatif kepada peserta didik baik didalam
maupun di luar kelas. Sebelum melaksanakan proses pengajaran, seorang Guru
sebaiknya melakukan penyeleksian dan penetapan metode yang akan digunakan
untuk mencapai tujuan pembelajaran. Gaya mengajar sebagai gaya Guru dalam
hal bagaimana guru memanfaatkan ruang kelas, pilihan kegiatan pembelajaran
dan materi, dan cara pengelompokkan siswa mereka. Salah satu kegiatan yang
harus Guru lakukan adalah harus memiliki strategi pembelajaran yang efektif serta
efisien, sekaligus juga melakukan pemilihan dan penentuan metode yang sesuai
sehingga menimbulkan rangsangan kepada peserta didik, karena rangsangan
tersebut membawa kepada senangnya peserta didik terhadap kegiatan belajar
mengajar di dalam kelas dan dapat mencapai tujuan pembelajaran yang
diinginkan.
Guru mempunyai peranan yang sangat luas baik di sekolah, keluarga,
maupun masyarakat. Menurut Permata, Hawi dkk (2021), guru ialah semua orang
yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan murid, baik secara
individual ataupun klasikal, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Dari
pengertian ini dapat disimpulkan bahwha guru dalam melaksanakan pendidikan
baik di lingkungan formal maupun non formal dituntut untuk mendidik dan
mengajar. Sebab keduanya mempunyai peranan yang penting dalam proses belajar
12
dan mengajar untuk mencapai tujuan ideal pendidikan. Dalam bahasa Indonesia,
guru biasanya merujuk pada guru professional yang tugas utamanya adalah
mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan
mengevaluasi siswa atau siswi. Guru juga bisa diartikan sebagai digugu, meniru
ucapan apapun. Bertindak atau bertingkah laku sebagai pedoman petunjuk arah
bagi setiap siswa baik di lingkunngan sekolah atau keluarga maupun di
masyarakat. Menurut Rahmatia (2023) menyatakan bahwa guru memiliki peran
strategis dalam pembelajaran dan membantu perkembangan peserta didik untuk
mewujudkan tujuan hidupnya, minat, bakat, kemampuan dan potensi-potensi yang
dimiliki oleh peserta didik akan berkembang secara optimal dengan bantuan guru.
Guru harus berpacu dalam pembelajaran, dengan memberikan kemudahan belajar
bagi seluruh peserta didik agar dapat mengembangkan potensinya secara optimal.
Seorang pendidik semestinya bukan hanya mengajar dengan perkataannya
saja, tetapi juga harus dengan perbuatannya. Perbuatan akhlak yang mulia dari
seorang pendidik bisa menjadi contoh bagi peserta didiknya, sekaligus menjadi
teladan bagi semua peserta didik. Menurut Ahmad Tafsir (2018) pendidik adalah
siapa saja yang bertanggung jawab atas perkembangan anak. Tugas pendidik
dalam pandangan Islam secara umum adalah mendidik untuk mengupayakan
perkembangan seluruh potensi anak didik, baik fisik motorik, kognitif, maupun
potensi afektif. Guru yang menjadi pendidik, bukanlah sekedar menyampaikan
pengetahuan saja, akan tetapi tugas guru yang paling utama adalah menbimbing,
menfasilitasi dalam mengajar membina dan mengarahkan siswa agar menjadid
orang yang berilmu pengetahuan. Dari pengertian para ahli di atas dapat
13
disimpulkan bahwa Guru peran adalah sebagai orang yang mendidik,
pembimbing, fasilitator, demonstator, dan evaluator. Guru bukanlah sekedar orang
yang berdiri di depan kelas menyampaikan pelajaran, akan tetapi guru juga
merupakan anggota masyarakat yang harus ikut berperan aktif dalam membina
serta mengarahkan perkembangan anak didiknya menjadi dewasa dan menjadi
anggota masyarakat yang bertanggung jawab.
2.1.2 Peran Guru
Peran guru sebagai pendidik merupankan peran yang berkaitan dengan
tugas memberi dorongan kepada anak, mengawasi dan pembinaan serta tugas
medisiplinkan anak agar patuh terhadap aturan – aturan dan norma agama. Dalam
buku milik Kamaruddin Haji Husin dan yang berjudul dinamika sekolah Amin
Mahmuda memaparkann peran guru dalam berbagai aspek, yaitu sebagi beriku:
a) Guru sebagai pendidik
Dalam hal ini guru bertugas mengembangkan kepribadian dan membina
budi pekerti agar anak memiliki kepribadian yang baik seperti tekun, jujur,
memiliki semangat belajar yang tinggi, amanah, dan sopan santun terhadap
sesama maupun kepada orang yang lebih tua. Sikap dan prilaku guru harus
dapat menjadi panutan yang dapat diteladani oleh anak baik didalam
maupun diluar kelas yang dapat membentuk kepribadian anak kelak di
masa dewasa.
b) Guru sebagai fasilitator
Peran guru dalam pembelajaran salah satunya adalah sebagai fasilitator,
yang membantu kesulitan belajar anak, memotivasi siswa agar selalu
14
semangat dalam belajar, menyediakan bahan pengajaran yang dibutuhkan
anak sehingga dapat memudahkan kegiatan pembelajaran. Guru sebagai
fasilitator juga harus dapat merancang lingkungan belajar yang
menyenangkan karena jika ruang belajar pengap, fasilitas belajar kurang
tersedia, dan berantakan menyebabkan anak jadi didik malas belajar. Guru
sebagai fasilitator hendak mampunya mengusahakan sumber belajar yang
kiranya berguna serta dapat menunjang pencapaiaan pembelajaran.
Tugas pokok guru sebagai eorang fasilitator yaitu:
1. Memotivasi siswa
2. Membantu siswa
3. Membimbing siswa dalam proses pembelajaran di dalam dan di luar kelas
4. Menggunakan strategi dan metode pembelajaran yang sesuai
5. Menggunakan pernyataan yang merangsang siswa untuk belajar
6. Menyediakan bahan pengajaran
7. Mendorong siswa untuk mencari bahan ajar
8. Menggunakan ganjaran dan hukuman sebagai alat pendidikan
9. Mewujudkan disiplin.
c) Guru sebagai pembimbing
Guru memiliki peran sebagai pembimbing yang memberikan petunjuk atau
bimbingan pada anak, memberikan latihan, membantu anak dalam
menemukan bakat dan minatnya. Tanpa bimbingan dari guru anak akan
mengalami kesulitan dalam menghadapi perkembngan yang ada pada
dirinya. Anak yang kurang dalam bimbingan akan banyak bergantung pada
15
orang lain dan tidak memiliki kepribadian yang dewasa. Jadi, bimbingan
sangat diperlukan anak saat berada di dalam maupun di luar sekolah.
d) Guru sebagai inovator
Guru memiliki kemampuan dan keterampilan dalam penggunaan strategi
dan metode mengajar, mampu menemukan strategi pembelajaran yang
efektif, dan mampu menerapkannya dalam pembelajaran. Guru berfungsi
sebagai pengembang nilai mutu yang sangat perlu dikembangkan perseta
didik karena pembelajaran tanpa nilai akan mengurangi esensi dari
pendidikan itu sendiri.
e) Guru sebagai penilai
Dalam hal ini gur berperan dalam penyusunan tes dalam penilaian, gur
melaksanakan penilaian terhadap anak secara objektif, mengadakan
remedial jika anak memiliki nilai di bawah rata – rata dan mengdakan
pengayaan bpembelajaran secara struktur.
2.2 Kecerdasan Interpersonal
2.2.1 Pengertian kecerdasan Interpersonal
Kecerdasan Interpersonal dikenal juga dengan kecerdasan sosial. Gardner
juga mengatakan kecerdasan Interpersonal atau kecerdasan sosial adalah
kemampuan dalam bersosialisasi, dan bagian dari Multiple Intelligence.
Armstrong mendefinisikan kecerdasan interpersonal sebagai kemampuan
16
mempersepsi dan membedakan suasana hati, maksud, motivasi, serta perasan
orang lain, serta kemampuan memberikan respon secara tepat terhadap suasana
hati, tempramen, motivasi, dan keinginan orang lain. Komponen inti yang lain
adalah kemampuan bekerja sama. Sedangkan komponen lainnya adalah kepekaan
dan kemampuan menangkap perbedaan yang sangat halus terhadap maksud,
motivasi, suasana hati, perasaan, dan gagasan orang lain (Nisya, 2020).
Mereka yang memiliki kecerdasan interpersonal sangat memperhatikan
orang lain, memiliki kepekaan yang tinggi terhadap ekspresi wajah, suara, dan
gerak isyarat. Mereka juga mampu membedakan berbagai macam perasaan,
seperti rasa kesedihan, isyarat di dengarkan, keinginan untuk di hargai. Individu
yang cerdas dalam interpersonal juga memiliki kemampuan menanggapi secara
efektif. Dengan kata lain kecerdasan interpersonal melibatkan banyak kecakapan,
yakni kemampuan berempati kepada orang lain, kemampuan mengenali dan
merasakan perasaan orang lain, kemampuan dalam berteman.
Anak usia dini, merupakan individu dengan kategori usia anak 5 - 6 tahun.
Masa - masa ini diketahui sebagai masa paling berpotensi bagi seorang anak, masa
dimana anak begitu cepat menyerap informasi, menyerap pembelajaran dan
pengalaman dari sensori dan berbagai panca indra yang dimilikinya. Anak sedari
lahir perlu mendapat rangsangan sejak dalam rahim, karena anak sudah mampu
menerima stimulus yang diberikan Ibunya. Kecerdasan Interpersonal harus
dirangsang pada anak dengan usia 5 - 6 tahun, karena di saat ini, dimana terjadi
pada anak-anak, yang lebih nyaman sendiri, tidak mau bersosialisasi. Indikator
berkurangnya kualitas kecerdasan interpersonal pada anak umur tersebut, terlihat
17
dari sifat dan karakternya saat ini, yang terlihat lebih pasif, susah berhubungan
dengan teman seusianya, bahkan mempunyai ketakutan tersendiri saat
ditinggalkan dalam lingkungan baru. Hal ini, pada umumnya disebabkan oleh
kesibukan orang tua yang seharusnya mendampingi, memberi pengalaman untuk
menumbuhkan sikap simpati, empati dan komunikatif pada [Link] itu orang
tua lebih merasa senang jika anaknya tenang. Sehingga tanpa disadari, potensi
awal yang harusnya terasah menjadi lebih tersembunyi. Hal itu juga membuat
anak kehilangan karakteristiknya. Dari penjelasan diatas dapat terlihat
permasalahan kurangnya pengembangan kemampuan bersosialiasai pada anak
dibawah usia 7 tahun saat ini. Karena itu rangsangan dari usia dini dapat
dilakukan sejak anak berusia 5 - 6 tahun. Pendidikan anak usia dini merupakan
upaya untuk melakukan rangsangan, latihan untuk melakukan peningkatan standar
aspek perkembangan dasar, yaitu, aspek pengembangan sosial emosional, aspek
pengembangan bahasa, aspek pengembangan kognitif dan fisik motorik. Agar
lebih terencana dan terarah, maka dibentuklah suatu wadah pendidikan, yaitu
pendidikan Anak Usia Dini.
Berikut ini adalah tingkat pencampaian perkembangan kecerdasan
Interpersonal anak usia 5 - 6 tahun, menurut Amstrong:
Tabel 2.1
Indikator tingkat pencapaiaan perkembangan kecerdasan interpersonal
anak usia 5-6 tahun.
Pencapaian Perkembangan Indikator
Kecerdasan Interpersonal a. Kemampuan bekerja sama
b. Kemampuan berempati pada
18
orang lain
c. Kemampuan mengorganisasi
sekelompok orang menuju suatu
tujuan bersama
d. Kemampuan mengenali dan
membaca pikiran orang lain
e. Kemampuan berteman atau
menjalin kontak
Dari beberapa pendapat para pakar di atas maka dapat penulis simpulkan
bahwa kecerdasan dalam interpersonal adalah kemampuan untuk berhubungan
dengan orang-orang sekitar, yaitu mampu berempati dan toleransi serta kerja sama
secara baik dengan orang lain, mengembangkan hubungan yang harmonis dengan
orang lain. Dalam hal ini penulis lebih menekankan kepada indikator yang
dikemukakan oleh Amstrong dikarenakan terdapat beberapa indikator yang sesuai
dengan permasalahan yang akan penulis lakukan. Pada penelitian ini, peneliti
mengambil teori kecerdasan interpersonal menurut Armstrong karena lebih mudah
bagi peneliti untuk memahami bahasanya dan sesuai dengan permasalahan yang
ada di Taman Kanak-Kanak Bunga Tanjung Desa Sembubuk kabupaten Muaro
Jambi.
2.2.2 Manfaat pengembangan Kecerdasan Interpersonal Pada Anak Usia
Dini.
Menurut Anggraini Yesi (2018) Adapun manfaat dari kecerdasan
interpersonal untuk anak usia dini adalah sebagai berikut:
1. Mengasah kepekaan empati dan simpati
19
Simpati adalah keikutsertaan merasakan perasaan orang lain dalam
menaruh belas kasih pada sesama. Empati adalah keadaan mental yang
mana membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam
keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang lain atau
kelompok orang. Empati dan simpati perlu di rangsang sejak dini agar
anak dapat belajar mengenali setiap perasaan, maksud, dan motivasi
orang lain, yang pada akhirnya kelak ia dapat menangkap perasaan,
maksud, atau merespon karena anak memiliki informasi yang tepat
tentang stimulusnya.
2. Bekerja sama
Bekerja sama diwujudkan dalam bentuk kegiatan yang dilakukan oleh
dua anak atau lebih. Kegiatan tersebut mengacu pada aktivitas
menyelesaikan suatu pekerjaan secara bersama-sama. Hal yang
termasuk dalam kegiatan bekerja sama adalah selang bambu, pasar-
pasaran kondektur-kondekturan dan lain sebagainya.
3. Berbagi rasa
Berbagi rasa merupakan salah satu indikator kecerdasan Interpersonal
yang melibatkan kemampuan bersosialisasi dan berinteraksi dengan
orang lain. Berbagi rasa dapat dirangsang dengan kegiatan yang
mengharuskan anak berinteraksi dengan sebayanya. Kegiatan yang
dimaksud antara lain menceritakan pengalaman dan lain sebagainya.
4. Menjalin kontak
20
Kemampuan menjalin kontak menunjukkan kecerdasan Interpersonal
yang tinggi. Anak-anak pun perlu didorong untuk memiliki keberanian
dan kemampuan untuk menjalin kontak dan membina hubungan baaik
dengan orang-orang baru. Menjalin kontak dapat dilakukan dengan
berbagai cara. Anda perlu membiasakan anak-anak mendengar dan
melihat perilaku menjalin kontak melalui kegiatan langsung dan
kegiatan artifisial (dibuat) seperti memuji dan memberi salam.
5. Memotivasi orang lain
Anak-anak dengan kecerdasan Interpersonal yang kuat pandai
memotivasi orang lain. Mereka dapat membaca suasana hati dan
kesulitan orang lain, lalu memberikan tanggapan yang tepat berupa
kata-kata yang membangkitkan hati. Terhadap sesuatu kegiatan,
mereka juga tampil membangkitkan hati. Terhadap suatu kegiatan,
mereka juga tampil sebagai pendorong semangat. Anak-anak
dirangsang agar memiliki kemampuan memotivasi orang lain. Oleh
karena itu, perlu dibuat permainan atau kegiatan yang membangkitkan
kemampuan anak salah satunya dengan metode bermain peran.
Dari berbagai manfaat diatas, itulah mengapa pentingnya kecerdasan interpersonal
perlu di kembangkan.
2.2.3 Unsur Kecrdasan Interpersonal
Andarson dalam Nisya (2020) mengemukakan bahwa kecerdasan
interpersonal mempunyai tiga unsur utama. Yang mana ketiga unsur tersebut
21
merupakan suatu kesatuan yang utuh serta ketiganya saling mengisi satu sama
lainnya.
a. Social sensitivity
Kemampuan untuk merasakan dan mengamati reaksi-reaksi atau
perubahan orang lain yang di tunjukkannya baik secara verbal
maupun non verbal. Anak yang memiliki sensivitas yang tinggi akan
mudah memahami dan menyadari adanya reaksi-reaksi tertentu dari
orang lain, entah reaksi tersebut positif maupun negative.
Sikap empati Empati adalah pemahaman kita tentang orang lain
berdasarkan sudut pandang, persepektif, kebutuhan-kebutuhan,
pengalaman-pengalaman orang tersebut. Oleh sebab itu sikap empati
sangat di butuhkan di dalam proses bersosialisasi agar tercipta suatu
hubungan yang saling menguntukan dan bermakna.
Sikap prososial Prososial adalah tindakan moral yang harus di
lakukan secara kultural seperti berbagi, membantu seseorang yang
membutuhkan, bekerja sama dengan orang lain dan mengungkapkan
simpati.
b. Social insight
Kemampuan seseorang untuk memahami dan mencari pemecahan masalah
yang efektif dalam satu interaksi sosial sehingga masalah tersebut tidak
menghambat apalagi menghancurkan relasi sosial yang telah di bangun. Di
dalamnyajuga terdapat kemampuan dalam memahami situsasi sosial dan etika
22
sosial sehingga anak mampu menyesuaikan dirinya dengan situasi tersebut.
Pondasi dasar dari social insight ini adalah berkembangnya kesadaran diri anak
secara baik. . Kesadaran diri yang berkembangan ini akan membuat anak mampu
memahami keadaan dirinya, baik keadaan internal maupun eksternal seperti
menyadari emosi-emosinya yang sedang muncul, atau menyadari penampilan cara
berpakaiannya sendiri, cara bicaranya dan intonasi suaranya.
c. Social communication
Pengusaha keterampilan komunikasi sosial merupakan kemampuan individu
untuk menggunakan proses komunikasi dalam menjalin dan membangun
hubungan interpersonal yang sehat. Dalam proses menciptakan, membangun dan
mempertahankan relasi sosial, maka seseorang membutuhkan sarannya. Tentu saja
saran yang di gunakan adalah melalui proses komunikasi, yang mencakup baik
komunikasi verbal, non verbal maupun komunikasi melalui penampilan fisik.
Keterampilan komunikasi yang harus di kuasi adalah keterampilan mendengar
efektif, keterampilan berbicara efektif, keterampilan publik speaking dan
keterampilan menulis secara efektif. Komunikasi efektif Komunikasi merupakan
saranah yang paling penting dalam kehidupan manusia. Komunikasi harus
dimiliki seseorang yang menginginkan kesuksesan dalam hidupnya. Ada empat
keterampilan komusikasi dasar yang perlu di latih, yaitu memberikan umpan
balik, mengungkapkan perasaan, mendukung dan menanggapi orang lain serta
menerima diri dan orang lain. Mendengarkan efektif Salah satu keterampilan
komunikasi adalah keterampilan mendengarkan. Mendengarkan membutuhkan
perhatian dan sikap empati, sehingga orang merasa di mengerti dan di hargai.
23
2.2.4 Karakter Individu Yang Memiliki Kecerdasan Interpersonal
Individu yang memiliki kecerdasan interpersonal yang tinggi, tentunya
memiliki karakteristik-karakteristik yang berbeda dengan individu yang tidak
memiliki kecerdasan interpersonal dalam buku interpersonal intellengence,
Safaria dalam Nisya (2020) menyebutkan karakteristik anak yang memilik
kecerdasam interpersonal yang tinggi :
1) Mampu mengembangkan dan menciptakan relasi sosial baru secara efektif
2) Mampu berempati dengan orang lain atau memahami orang lain secara
total.
3) Mampu mempertahankan relasi sosialnya secara efektif sehingga tidak
musnah dimakan waktu dan senantiasa berkembang semakin
intim/mendalam/penuh makna.
4) Mampu menyadari komunikasi verbal maupun non verbal yang di
munculkan orang lain, atau dengan kata lain sensitif terhadap perubahan
social.
5) Mampu memcahkan masalah yang terjadi dalam relasi sosialnya dengan
pendekatan win-win solution serta yang paling penting adalah mencegah
munculnya masalah dalam relasi sosialnya
6) Memiliki keterampilan komunikasi yang mencakup keterampilan
mendengarkan efektif, berbicara efektif dan menulis secara efektif.
Termasuk di dalamnya mampu menampilkan fisik yang sesuai dengan
tuntunan lingkungan sosialnya.
24
Dengan demikian dari penjelasan tentang pengertian, unsur, dan
karakteristik mengenai kecerdasan interpersonal anak metode yang akan
dipilih oleh penulis adalah metode yang dapat menggerakan anak untuk
meningkatkan kemampuan bekerjasama,berempati dengan orang lain dan
kemampuan berteman atau menjalin kontak. Dengan demikian penulis tertarik
untuk memilih Metode Bermain Peran dalam penelitian. Metode bermain
peran adalah salah satu metode yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran
di Taman Kanak-Kanak Bunga Tanjung Desa Sembubuk kabupaten Muaro
Jambi.
2.3 Metode Bermain Peran
Metode bermain adalah pendekatan atau strategi yang menggunakan
permainan sebagai sarana utama dalam proses pembelajaran. Metode ini
mengintegrasikan unsur-unsur permainan ke dalam konteks pembelajaran untuk
meningkatkan keterlibatan, motivasi, dan partisipasi peserta didik. menurut Scott
G. Eberle bahwa bermain memiliki unsur humor, keterampilan, kepura-puraan,
fantasi, kontes, dan perayaan yang semuanya merupakan simulasi selektif dari
variabilitas paradox. Bermain terdiri atas tanggapan yang diulang sekedar untuk
kesenangan fungsional. Anak tidak hanya memperoleh kesenangan melainkan
juga memperoleh keterampilan sosial. Oleh karena itu, kegiatan bermain tidak
dapat lepas dari kegiatan anak. Bermain akan memunculkan rasa senang, dan
gembira pada anak. Bermain merupakan hakikat yang tidak dapat terlepas dengan
anak. Terdapat beberapa tahapan bermain yaitu bermain sensorimotor, bermain
25
peran, dan bermain dengan aturan. Dari ketiga tahapan tersebut permainan yang
tepat untuk diberikan pada anak usia 5-6 tahun yaitu bermain peran.
Bermain peran merupakan bermain yang menggunakan imajinasi atau daya
khayal dengan memakai bahasa atau berpura-pura seolah bertingkah laku seperti
benda, situasi, dan bidang tertentu yang di dunia nyata tidak pernah dilakukan.
Oleh karena itu, bermain peran melibatkan dunia khayal anak. Metode ini sangat
cocok diterapkan pada pendidikan anak usia dini karena daya khayal atau
imajinasi anak masih baik untuk dikembangkan. Sama dengan pendapat
sebelumnya, Ramiati dkk (2020) menjelaskan bahwa metode bermain peran
merupakan metode pembelajaran melalui pengembangan imajinasi dan
penghayatan peserta didik dengan cara memerankan tokoh. Dalam konteks
pengembangan kecerdasan anak melalui metode bermain peran, metode bermain
peran digunakan sebagai pendekatan utama. Metode ini melibatkan anak-anak
dalam permainan atau situasi peran tertentu, di mana mereka dapat berinteraksi
dengan lingkungan dan orang lain dengan cara yang menggambarkan kehidupan
nyata.
Metode bermain peran melibatkan anak-anak dalam peran atau karakter
tertentu, di mana mereka dapat berpikir, merasakan, dan bertindak seperti karakter
tersebut. Dalam proses ini, anak-anak dapat mengembangkan pemahaman yang
lebih mendalam tentang diri mereka sendiri, orang lain, dan dunia di sekitar
mereka. Metode bermain peran juga dapat membantu anak-anak mengembangkan
empati, kemampuan berkomunikasi, kreativitas, dan pemecahan masalah.
26
Metode bermain peran biasanya melibatkan aktivitas seperti permainan peran,
drama, teater, atau simulasi. Anak-anak dapat memerankan berbagai peran, seperti
tokoh dalam cerita, anggota keluarga, pekerja, atau anggota masyarakat. Melalui
permainan peran ini, mereka dapat mengalami situasi dan konflik yang berbeda,
serta belajar untuk menghadapinya dengan cara yang konstruktif. Metode bermain
peran juga dapat melibatkan penggunaan bahan dan atribut yang mendukung
peran yang dimainkan anak-anak, seperti kostum, mainan, atau alat peraga.
Dengan menggunakan bahan dan atribut tersebut, anak-anak dapat lebih terlibat
secara fisik dan emosional dalam permainan peran mereka.
Penting untuk mencatat bahwa metode bermain peran harus didukung oleh
fasilitator atau pengajar yang memahami tujuan pengembangan kecerdasan anak.
Fasilitator perlu memberikan panduan, refleksi, dan bimbingan untuk membantu
anak-anak memahami dan mengintegrasikan pengalaman permainan peran ke
dalam kehidupan sehari-hari mereka.
2.3.1 Tujuan Bermain Peran
Dalam pengembangan kecerdasan anak, Metode bermain peran merupakan
salah satu pendekatan yang efektif dalam meningkatkan kecerdasan anak.
Bermain peran melibatkan imajinasi anak, interaksi sosial, dan eksplorasi peran
dalam situasi yang relevan. Menurut Nana Sudjana (Kamilah, 2022), terdapat
beberapa tujuan dari bermain peran dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:
27
1. Melatih keterampilan tertentu, baik bersifat profesional maupun bagi
kehidupan sehari-hari.
2. Memperoleh pemahaman tentang suatu konsep atau prinsip, Melatih
memecahkan masalah.
3. Meningkatkan kegiatan belajar dengan melibatkan peserta didik dalam
mempelajari situasi yang hampir serupa dengan kejadian yang
sebenarnya. Memberikan motivasi belajar kepada peserta didik.
4. Melatih peserta didik untuk mengadakan kerja sama dalam situasi
kelompok. Menumbuhkan daya kreatif peserta didik.
5. Melatih peserta didik untuk mengembangkan sikap toleransi.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa bermain peran
adalah salah satu kegiatan yang memberikan kesempatan pada anak untuk bisa
berekspresi, bisa bekerjasama, menumbuhkan kreatifitas dan menumbuhkan sikap
toleransi.
2.3.2 Kelebihan dan Kekurangan Bermain Peran
Shoimin (dalam Utami, 2023) mengemukakan kelebihan dari bermain
peran yaitu:
1. Melalui kegiatan ini, anak dapat diajarkan untuk mengambil keputusan
dan berekspresi secara utuh.
2. Bermain peran merupakan permainan yang mudah dan dapat di gunakan
dalam situasi dan waktu yang berbeda,
3. Guru dapat mengevaluasi pengalaman melakukan permainan
28
4. Berkesan dengan kuat dan tahan lama dalam ingatan anak,
5. Sangat menarik bagi anak sehingga memungkinkan kelas menjadi dinamis
dan penuh antusias
6. Membangkitkan gairah dan semangat optimisme dalam diri anak serta
menumbuhkan rasa kebersamaan dan kesetiakawanan sosial yang tinggi,
7. Dapat menghayati peristiwa yang berlangsung dengan mudah dan dapat
memetik butir-butir hikmah yang terkandung didalamnya dengan
penghayatan anak sendiri.
8. Dimungkinkan dapat meningkatkan kemampuan profesionalisme anak,
dan dapat menumbuhkan atau membuka kesempatan bagi lapangan kerja.
Berdasarkan uraian pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa bermain
peran memiliki kelebihan yaitu anak mampu mengeluarkan ekspresi, dengan
seringnya berlatih bermain peran anak tanpa rasa takut akan terbiasa bisa
mengeluarkan ekspresinya dan materi yang disampaikan akan berkesan dengan
kuat karena anak melaksankannya dengan praktek.
2.3.3 Langkah-langkah bermain peran
Supaya kegiatan bermain peran berjalan lancar dan menjadi penampilan
yang mengesankan maka ada beberapa tahap langkah langkah yang harus di
laksanakan. Menurut Yuliani Nuraini dan Bambang Sujiono (Sari, 2022) langkah-
langkah bermain peran diantaranya sebagai berikut: Petunjuk pelaksanaan
bermain peran antara lain :
29
1. Guru mengumpulkan anak untuk diberi pengarahan dan aturan
dalam permainan.
2. Guru membicarakan alat-alat yang akan digunakan oleh anak-anak
untuk bermain.
3. Guru memberi pengarahan sebelum bermain dan mengabsen serta
menghitung jumlah anak bersama-sama.
4. Guru membagikan tugas kepada anak sebelum bermain menurut
kelompok, agar tidak berebut saat bermain.
5. Guru sudah menyiapkan alat sebelum anak [Link] dengan
diskusi kelas untuk mendiskusikan yang telah dimainkan secara
bersama-sama.
6. Guru hanya mengawasi anak dalam bermain, apabila dibutuhkan
anak/guru dapat membantu, guru tidak banyak bicara dan tidak banyak
membantu anak. menilai hasil bermain peran sebagai bahan pertimbangan
lebih lanjut.
Adanya kelemahan dalam metode bermain peran ini adalah:
1. Sebagai anak yang tidak ikut dalam bermain peran cendrung
menjadi kurang aktif.
2. Banyak memakan waktu, baik dari persiapan maupun pertunjukan
berlangsung.
3. Perlu dibangun imajinasi yang sama antara guru dan anak, dan hal
ini yang tidak mudah.
30
4. Sulit menghadirkan elemen situasi yang penting seperti yang
sebenarnya, misalnya suara hiruk-piruk, pasar, air terjun, ributnya
suara kemacetan lalulintas, tanpa bantuan pendukung, misalnya
rekaman suara.
5. Jalan cerita biasanya berlangsung singkat, karena kemungkinan
tidak adanya jalan cerita yang berkesinambungan adegan demi
adegan dapat berpotong potong sehingga tidak menapakkan suatu
jalan cerita yang utuh. Hal ini karena metode bermain peran lebih
menekan pada imajinasi, kreatifitas, inisiatif, dan spontanitas dari
anak sendiri.
Adapun beberapa cara untuk mengatasi kelemahan dalam bermain peran ini
adalah:
1. Guru harus menerangkan kepada anak, bahwasanya dengan
metode bermain peran ini diharapkan anak lebih trampil dalam
berbahasa karena guru menunjukan anak berkomunikasi dengan
anak yang lain.
2. Guru harus memilih masalah yang menarik minat anak.
3. Anak – anak dapat memahami peristiwa yang dilakukan, guru
harus bisa menceritakan sembari mengatur adegan pertama.
4. Materi pelajaran yang akan disampaikan harus sesuai dengan
waktu yang tersedia.
31
Dari beberapa kelebihan dan kekurangan metode bermain peran diatas dapat
disimpulkan bahwasanya segala sesuatu tidak ada yang sempurna, terpenting
bagaimana cara kita sebagai guru menyiasati suatu kekurangan menjadi kelebihan.
Dari penjelasan petunjuk pelaksanaan bermain peran dapat dilihat bahwa
anak yang belajar dengan menggunakan metode ini lebih banyak diberikan
kesempatan untuk berbicara, baik untuk menyampaikan peran yang diperankan
maupun pendapatnya saat berdiskusi. Metode bermain peran memiliki beberapa
manfaat, termasuk:
Peningkatan pemahaman dan empati: Bermain peran memungkinkan peserta
didik atau peserta belajar merasakan pengalaman langsung dan memahami
perspektif orang lain, sehingga meningkatkan empati dan pemahaman sosial.
1) Pengembangan keterampilan interpersonal: Dalam bermain peran, peserta
didik atau peserta belajar berlatih dalam berkomunikasi, bekerja sama,
bernegosiasi, atau mengatasi konflik, yang dapat meningkatkan
keterampilan interpersonal mereka.
2) Pengembangan pemecahan masalah: Bermain peran memungkinkan
peserta didik atau peserta belajar untuk menghadapi masalah atau
tantangan yang mungkin terjadi dalam situasi nyata. Ini membantu mereka
mengembangkan keterampilan pemecahan masalah dan pengambilan
keputusan.
Metode bermain peran melibatkan peserta didik atau peserta belajar secara
aktif dalam pembelajaran, yang dapat meningkatkan keterlibatan, minat, dan
32
keaktifan mereka dalam proses pembelajaran. Metode bermain peran digunakan
dalam berbagai konteks, termasuk pendidikan formal, pelatihan profesional,
pengembangan pribadi, dan terapi.
2.3.4 Study Relevan
Untuk menunjukkan penelitian yang dilakukan merupakan kajian atau
pengembangan dari penelitian sebelumnya, maka dapat di lihat adanya persamaan
dan perbedaan satu dengan yang lain. Adapun kajian penelitian yang relevan,
yaitu di antaranya :
Penelitian yang dilakukan oleh Ayu Anida Utami (2023) berjudul"
Pengaruh Metode Bermain Peran Terhadap Kecerdasan Interpersonal pada Anak
Kelompok B di Taman Kanak-kanak Aisyiyah Kota Enrekang" mengkaji
penggunaan metode bermain peran terhadap kecerdasan interpersonal anak.
Penelitian ini bertujuan untuk meneliti apakah bermain peran berdampak
signifikan pada kecerdasan interpersonal anak. Penelitian ini menggunakan
pendekatan kuantitatif dan jenis penelitian Pra Eksperimen. Hasil penelitian
menyimpulkan bahwa Metode Bermain Peran memiliki pengaruh yang signifikan
dalam meningkatkan kecerdasan interpersonal anak. Persamaan pada penelitian
ini dengan penelitian yang akan dilakukan adalah sama-sama membahas
meningkatkan kecerdasan interpersonal anak melalui metode bermain peran.
Namun, terdapat perbedaan dalam jenis penelitian yang digunakan. Penelitian ini
menggunakan kuantitatif, sementara peneliti menggunakan kualitatif.
33
Penelitian yang dilakukan oleh Nurdial, Ana Mujriyanti, Hamli Darni dan
Sariakin (2022) berjudul "Meningkatkan Kecerdasan Interpersonal Anak Melalui
Metode Bermain Peran Untuk Anak Usia 5-6 Tahun di TK" Kesimpulan dari
penelitian ini menggambarkan bahwa kecerdasan interpersonal anak melalui
metode bermain peran meningkat serta proses pembelajaran membuat suasana
belajar yang kondusif dan dapat memotivasi anak. Penelitian ini memiliki
persamaan dengan penelitian sebelumnya dalam mengkaji meningkatkan
kemampuan interpersonal anak pada usia 5-6 tahun melalui metode bermain
peran. Namun, terdapat perbedaan dalam judul penelitian yang digunakan.
Penelitian ini berfokus pada meningkatkan kecerdasan interpersonal, sedangkan
peneliti berfokus pada peran guru dalam mengembangkan kecerdasan
interpersonal anak.
Penelitian yang dilakukan oleh Nelly Levika Sari (2022)
berjudul"Penerapan Metode Bermain Peran Untuk Mengembangkan Kecerdasan
Interpersonal Anak Usia Dini di Taman Kanak-kanak Negeri Pembina Way Tuba
Kabupaten Way Kanan" membahas penerapan metode bermain peran untuk
mengembangkan kecerdasan Interpersonal anak pada usia 5-6 tahun. Penelitian ini
dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui perkembangan kecerdasan
interpersonal anak melalui bermain peran Penelitian ini menggunakan pendekatan
kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian studi khusus (case study research
disign). Meskipun penelitian ini memiliki persamaan dalam mengkaji penerapan
metode bermain peran untuk mengembangkan kecerdasan Interpersonal anak,
terdapat perbedaan dalam metode penelitian yang digunakan. Penelitian ini
34
menggunakan pendekatan kualitatif terapan, Sedangkan untuk penelitian kali ini
berfokus terhadap peran Guru dalam mengembangkan kecerdasan anak melalui
metode bermain peran menggunakan pendekatan kualitatif dekriftif. keunikan dari
penelitian ini adalah diharapkan dengan metode bermain peran ini Guru dapat
mengembangkan kecerdasan Interpersonal anak. Dari penelitian sebelumnya yang
dipaparkan diatas menunjukkan bahwa bermain peran memiliki pengaruh
terhadap perkembangan kecerdasan anak usia dini Sehingga bermain peran cocok
untuk diaplikasikan dalam kegiatan belajar di kelas.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat pelaksanaan penelitian ini dilakukan di Taman Kanak-Kanak
Bunga Tanjung yang berlokasi di Jl. Kemerdekaan, Desa Sembubuk, Kec. Jambi
Luar Kota, Kab. Muaro Jambi. Waktu yang digunakan peneliti untuk penelitian ini
3 kali pertemuan .
3.2 Pendekatan dan jenis penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan jenis pendekan
kualitatif. Menurut Sugiono (2019), penelitian kualitatif merupakan penelitian
yang digunakan untuk menyelidiki, menemukan, menggambarkan, dan
menjelaskan kualitas atau keistimewaan dari pengaruh sosial yang tidak dapat
dijelaskan, diukur atau digambarkan melalui pendekatan kuantitatif.
35
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, sebagai upaya untuk
memberikan jawaban atas permasalahan yang telah dibentangkan, karena sifatnya
menggunakan pendekatan analisis deskriptif. Dengan kata lain penelitian ini
berupaya menggambarkan, menguraikan suatu keadaan yang sedang berlangsung
berdasarkan fakta dan informasi yang diperoleh di Taman Kanak - Kanak Bunga
Tanjung Desa Sembubuk Kecamatan Jambi Luar Kota.
3.3 Data dan Sumber Data
A. Data Primer
Data Primer ialah jenis dan sumber data penelitian yang di peroleh secara
langsung oleh peneliti. Dalam penelitian ini sumber data utamanya ialah:
1) Siswa
Sumber data dari penelitian ini adalah siswa Taman Kanak-Kanak Bunga
Tanjung sebanyak 15 anak yang terdiri dari 9 perempuan dan 6 laki – laki.
Sumber data siswa di peroleh dari hasil observasi aktifitas siswa dan
keterampilan besosialisasi siswa.
2) Guru
Sumber data guru diperoleh dari hasil wawancara orang guru mengenai
aktivitas belajar siswa dan observasi dari keterampilan guru selama proses
pembelajaran.
3) Orang tua murid
Sumber data didapat dari hasil wawancara orang tua murid menggunakan
pedoman wawancara.
36
B. Data Sekunder
Data Sekunder merupakan sumber data suatu penelitian yang di peroleh
peneliti secara tidak langsung melalui media perantara (diperoleh atau dicatat oleh
pihak lain). Data sekunder itu berupa bukti,catatan atau laporan historis yang telah
tersusun dalam arsip atau data dokumenter.
3.4 Teknik Sampling
Jenis sample yang dipakai dalam penggunaan metode penelitian kualitatif
merupakan sampel yang kecil, tidak representative, purposive, serta berkembang
selama proses penelitian berlangsung. Pada penelitian ini penulis menggunakan
teknik sampling purposive sampling. Teknik purposive sampling merupakan
teknik pengambilan sampel dari populasi penelitian yang didasarkan atas ciri –
ciri dan suatu karakteristik tertentu untuk mencapai tujuan penelitian yang
dikehendaki oleh peneliti.
Objek kajian penelitian kualitatif sering bersifat kasuitik. Peneliti tidak
mementikan generalisasi. Oleh karena itu, sampel ditentukan secara purposive
(sengaja/dengan pertimbangan) sehingga sampel penelitian tidak perlu mewakili
populasi. Adapun pertimbangan penelitian sampel bukan berdasarkan pada aspek
keterwakilkan populasi didalam sampel. Pertimbangannya lebih pada kemampuan
sampel (informan) untuk memasok informasi selengkap mungkin.
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah metode atau pendekatan yang digunakan
untuk mengumpulkan informasi atau data yang diperlukan dalam suatu penelitian
atau studi. Pemilihan teknik pengumpulan data yang tepat sangat penting untuk
37
mendapatkan data yang relevan, akurat, dan dapat diandalkan. Berikut ini
beberapa teknik pengumpulan data umum yang sering digunakan:
1. Observasi: Teknik ini melibatkan pengamatan langsung terhadap
perilaku, kejadian, atau fenomena yang sedang diteliti. Observasi dapat
dilakukan dengan cara mengamati partisipan di lingkungan alami
(observasi terbuka) atau dengan memberikan situasi atau skenario
tertentu (observasi terstruktur). Jadi observasi merupakan metode
pengumpulan data yang dilakukan melalui pengamatan langsung oleh
peneliti. Penulis melakukan pengamatan langsung ke Taman Kanak-
Kanak Bunga Tanjung di Desa Sembubuk Muaro Jambi.
2. Wawancara: Wawancara melibatkan interaksi langsung antara peneliti
dan responden, dengan tujuan untuk mendapatkan informasi secara
verbal. Wawancara dapat dilakukan secara tatap muka (wawancara
langsung) atau melalui telepon atau media komunikasi lainnya
(wawancara jarak jauh). Wawancara dapat bersifat terstruktur
(pertanyaan yang telah ditentukan sebelumnya) atau tidak terstruktur
(pertanyaan yang lebih fleksibel dan terbuka). Wawancara yang
digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara secara langsung,
dalam proses pengambilan pengambilan data dilakukan secara bertatap
muka antar pewawancara dan informan. Wawancara yang akan
dilakukan secara langsung oleh kepala sekolah dan guru-guru di
Taman Kanak-Kanak Bunga Tanjung Desa Sembubuk Muaro Jambi.
38
3. Dokumentasi: Teknik ini melibatkan analisis dan pengumpulan data
dari dokumen-dokumen yang relevan, seperti laporan, foto, catatan,
arsip, atau dokumen resmi, dan sebagainya. Metode dokumentasi ini
digunakan untuk melengkapi data-data yang diperlukan terkait peran
Guru dalam mengembangkan kecerdasan anak melalui metode
bermain peran di Taman Kanak-Kanak Bunga Tanjung Desa
Sembubuk Muaro Jambi.
4. Tringgulasi
Tringgulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat
menggambungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber
data yang telah ada. Pada tahap ini dilakukan kegiatan
membandingkan hasil observasi dengan hasil wawancara yang
berkaitan dengan metode bermain peran dalam meningkatkan
kecerdasan interpersonal anak.
3.6 Uji Validitas Data
Validitas data pada penelitian ini bertujuan agar hasil penelitian dapat
dipertanggung jawabkan keabsahannya melalui beberapa proses pemeriksaan
tertentu. Penelitian ini, menggunakan tringgulasi sumber untuk memeriksa
keabsahan data. Tringgulasi yaitu membandingkan dan mengecek balik informasi
yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif.
Penelitian ini didapat dengan cara membandingkan data hasil pengamatan dengan
hasil wawancara
39
3.6 Teknik Analisis Data
Menurut Sugiyono (2019), analisis data merupakan proses mengumpulkan
data secara sistematis data yang diperoleh dari observasi, wawancara, dan
dokumentasi yaitu dengan menyeleksi data-data penting sehingga dapat menarik
kesimpulan upaya menjadi mudah bagi diri sendiri dan orang lain. Analisis data
dalam penelitian ini disusun dari hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi
sehingga hasil penelitian yang akan diinformasikan kepada orang lain memiliki
nilai kebenaran yang harus diverifikasi selama penelitian berlangsung sehingga
tercapai kesimpulan akhir.
3.7 Prosedur penelitian
Penelitian ini dilakukan selama dua bulan, penelitian dilakukan dengan
pembuatan proposal, kemudian dilanjutkan dengan seminar proposal dan
perbaikan hasil seminar proposal skripsi. Setelah pengesahan judul dan izin riset,
maka penulis mengadakan pengumpulan data, verifikasi dan analisis data dalam
waktu yang berurutan. Hasilnya penulis melakukan konsultasi dengan
pembimbing sebelum diajukan kepada sidang munaqasah. Hasil sidang
munaqasah dilanjutkat dengan perbaikan dan penggadaan laporan penelitian
skripsi. Adapun jadwal penelitian dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Table 3.1
Jadwal Pelaksanaan Penelitian
Bulan/ Minggu
Tahun 2024
No Kegiatan Penelitian
Mei Juli Juni
40
. 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Penyusunan Proposal
2 Penunjukan dosen
pembimbin
3 Konsultasi dan perbaikan
proposal
4 Seminar
5 Pengesahan judul dan izin
riset
6 Pengumpulan dan
penyusunan data
7 Analisis dan penyusunan
draf
8 Penyempurnaa dan
pengadaan
9 Ujian skripsi
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Lokasi
Lokasi penelitian ini bertempat di Tempat pelaksanaan penelitian ini
dilakukan di Taman Kanak-Kanak Bunga Tanjung yang berlokasi di Jl.
Kemerdekaan, Desa Sembubuk, Kec. Jambi Luar Kota, Kab. Muaro Jambi, yang
mana tempatnya sangat strategis untuk dilakukan penelitian dapat dilaksanakan
maka untuk mengenal secara garis besar tentang keadaan Taman Kanak-Kanak
Bunga Tanjung dikemukakan beberapa data sebagai berikut:
1. Identitas Lembaga
41
Taman Kanak-Kanak Bunga Tanjung merupakan TK swasta yang berdiri
pada tahun 2011 dengan SK pendiriannya berupa akta nomor 01 tanggal 5 Juli
2011, SK Izin Operasional nomor 503 tahun 2020 tanggal 11 November dan
NPSN 69859612.
2. Visi dan Misi
a. Visi
Visi Taman Kanak – Kanak Bunga Tanjung yaitu “Membentuk Anak yang
Cerdas, Ceria, Mandiri dan Berakhlakqul Karimah”.
b. Misi
1) Meningkatkan kecerdasan anak melalui kegiatan bermain sambil belajar
2) Menyimpan generasi yang mandiri, kreatif, dan inovatif
3) Menyiapkan anak didik agar memiliki akhlak sesuai dengan aqidah islam
3. Tujuan
Tujuan Taman Kanak – Kanak Bunga Tanjung yaitu “Mewujudkan generasi
cerdas yang memiliki akhlak mulia, disiplin, mandiri, inovatif, kreatif agar dapat
masuk dan bersaing dijenjang pendidikan selanjutnya”
4. Tenaga Pendidik dan Kependidikan
Table 4.1
Daftar Tenaga Pendidik dan Kependidikan
No Nama L/P Jabatan Pendidikan
1 Ermawati, [Link] P Kepala S.1 PAUD
42
2 Hindriyani, [Link] P Guru kelas S.1 PAUD
3 Meri Yundari, [Link] P Guru /Sekretaris SI
4 Restu Pratama Mati P Guru /Bendahara SMA
5. Perserta Didik
Table 4.2
Jumlah Perserta Didik Tahun Ajaran 2023/2024
Kelompok Jumlah
A 10
B1 15
B2 15
Total 40
6. Data Sarana dan Prasarana
Table 4.3
Daftar Sarana dan Prasarana
No Sarana Jumlah Kondisi
1 Ruang Kelas 3 B
2 WC 2 B
3 Loker 3 B
4 Meja 10 B
5 Rak Sepatu 3 B
6 Ayunan 2 B
43
7 Jungkitan 1 B
8 Peluncuran 1 B
9 Terowongan 1 B
7. Jumlah Kelompok Belajar
Jumlah rombel keseluruhan yaitu sebanyak 3 rombel, terdiri dari:
1) Kelompok A usia 4-5 tahun : 1 rombel
2) Kelompok B usia 5-6 tahun : 2 rombel
8. Jadwal Belajar
Jadwal belajar di Taman Kanak-Kanak Bunga Tanjung dalam satu minggu yaitu
sebanyak 6 hari, mulai hari Senin sampai hari Sabtu.
4.2 Temuan Penelitan dan pembahasan
Sebagaimana telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa untuk
menganalisis data yang terkumpul, baik itu wawancara maupun observasi yang
penulis lakukan, maka penulis akan menganalisis dengan sistem deskriptif
kualitatif. Deskriptif kualitatif yaitu dengan menjelaskan secara rinci data – data
tersebut, alasan digunakan sistem kualitatif karena peneliti tidak melakukan
pengetesan atau pengujian, melainkan berusaha menelusri, memahami,
menjelaskan gejala, kaitan hubungan antara segala sesuatu yang diteliti.
Untuk menganalisis permasalahan ini, maka penulis akan
menghubungkan dengan hasil observasi dan wawancara yang didapat pada saat
44
melakukan penelitian di lapangan, yaitu “Peran guru dalam mengembangkan
kecerdasan interpersonal anak usia 5-6 tahun melalui metode bermain peran di
Taman Kanak – Kanak Bunga Tanjung”
1. Bagaimana peran guru dalam mengembangkan kecerdasan
interpersonal anak usia 5–6 tahun melalui metode bermain peran di Taman
Kanak-Kanak Bunga Tanjung
Berdasarkan teori yang dikemukakan pada bab II, maka peneliti akan
memaparkan bagaimana peran guru sebagai pendidik, pembimbing, fasilitator,
inovator, dan penilai. Dalam buku Kamruddin Haji Husin, artinya guru memiliki
peranan penting dalam mengembangkan kecerdasan interpersonal anak.
Kecerdasan interpersonal sama hal nya dengan kemampuan anak bersosialisasi
dengan dengan baik terhadap orang di sekitarnya anak dapat kerja sama dan
memahami perasaan temannya dan memberikan respon yang baik. Kecerdasan
interpersoanl anak akan dapat berkembang dengan sangat baik apa bila sebagai
seorang guru dapat melakukan peranannya dengan optimal kepada anak didiknya.
Dalam wawancara penulis dengan ibu Hidriyani selaku guru kelas B yang
berisikan 15 anak dengan usia 5-6 tahun, tentang mengembangkan kecerdasan
interpesonal anak di Taman Kanak-Kanak Bunga Tanjung mengungkapkan
bahwa:
“dalam kecerdasan interpersonal, ada sekitar 5 anak yang masih malu dan
sulit untuk berinteraksi dengan baik terhadap temannya, kadang diaat anak – anak
yang lain bermain bersama temannya mereka lebih memilih menyendiri dan tidak
45
tertarik bergabung saat bermai dan 10 anak lainnya sudah bagus dalam
bersosialisasi dan menunjukan perasaan mereka secara terbuka.”
Hal yang sama dikatakan oleh orang tua ketika penulis melakukan
wawancara terkait kecerdasan interpersonal anak atau perkembangan sosial
mereka sebagai berikut:
“saat ini perkembangan sosial anak lumayan dikatakan kurang terutama
dalam mengekspresikan diri mereka dan acuh terhadap sekitar, kecuali ketika
mereka ditanyakan terlebih dahulu apa yang terjadi disekolah atau apa saja yang
mereka lalui dan itu pun hanya menjawab sekedarnya saja.”
Dapat dilihat dalam wawancara diatas dapat dipahami bahwa masih ada
beberapa anak yang kurang dalam kecerdasan interpersonal mereka, hal ini nanti
akan menjadi kesulitan tersendiri bagi anak untuk memahami keadaan sekitar dan
dan menjalin pertemanan.
Mengembangkan kecerdasan interpersonal anak dapat dilakukan melalui
stimulus yang diberikan oleh guru, orang tua, dan lingkungan sekitar anak. Dalam
tujuan untuk mengembangkan kecerdasan interpersonal anak, maka yang perlu
dilakukan oleh guru adalah melakukan metode pembelajaran yang melibatkan
anak untuk berinteraksi dengan temannya, melakukan kegiatan yang
menyenangkan dan menimbulkan rasa penasaran dalam diri anak.
Penulis mewawancarai guru terkait metode pembelajaran dan media
pembelajaran apa yang diterapkan guru dalam mengembangkan kecerdasan
interpersonal anak, dimana guru tersebut mengatakan:
46
“Metode yang digunakan selama ini yaitu metode bercerita dan tanya
jawa sehingga anak dapat mengerti dan merasakan cerita yang dibacakan oleh
guru, lalu setelah meceritakan kepada anak guru akan menanya apa mereka
memiliki pengalam yang sama terhadap cerita yang mereka dengar. Guru juga
memperhatikan bagai mana anak menceritakan pengalaman mereka terhadap
temannya, kadang guru juga menyuruh anak untuk menggambar dan
menceritakan apa yang mereka gambar.”
Dari wawancara diatas dapat dipahami bahwa metode pembelajaran yang
digunakan guru kurang dalam mengembangkan kecerdasan interpersonal anak.
Penulis juga sudah melakukan observasi proses pembelajaran di kelas dan hal
tersebut senada dengan hasil wawancara dimana metode pembelajaran yang
digunakan yaitu metode bercerita.
Penulis juga menanyakan kepada guru mengenai pernah atau tidak
dilakukannya penerapan metode bermain peran serta bagaimana penerapannya
dan guru tersebut mengungkapkan bahawa:
“Untuk menggunakan metode bermain peran belum pernah diterapkan.
Disekolah hanya menerapkan metode bercerita lalu akan melakukan tanya jawab
atau menyuruh anak untuk menceritakan pengalaman menyenangkan yang pernah
mereka alami, tapi kebanyakan dari mereka masih malu untuk mengekspresikan
diri mereka.”
Dari hasil wawancara tersebut terungkap bahwa belum pernahnya
dilakukan penerapan metode bermain peran di Taman Kanak – Kanak Bunga
47
Tanjung. Salah satu strategi yang dapat dilakukan guru untuk mengoptimalkan
kecerdasan interpersonal anak usia 5 – 6 tahun agar anak mampu berkerja sama
dengan temannya, menaati peraturan, saling tolong menolong, mau berbagi
kepada temannya, dan mampu menghargai atau menghormati orang sekitarnya
adalah dengan memberikan stimulasi melalui metode bermain peran, karena
melalui kegiatan bermain peran anak dapat menyimak aturan bermain peran.
Setelah mendengarkan arahan dari guru, anak akan memperaktekan apa yang
sudah dijelaskan guru selanjutnya anak akan secara langsung berinteraksi kepada
temannya dan berkerja sama untuk mengikuti aturan permainan yang sudah
dirancang oleh guru. Selanjutnya anak akan mendapatkan proses dalam
perkembangan sosial mereka melalui kegiatan bermain peran dengan berinteraksi
langsung pada temannya agar dapat sesuai dengan arahan yang dijelaskan oleh
guru sebelum permainan dimulai.
Metode bermain peran agar anak lebih mengerti nilai – nilai terkandung
dalam materi kegiatan bermain peran, guru mendiskusikan ataupun mengulas
kembali tentang kegiatan bermain peran dengan melakukan tanya jawab, seperti
misalnya ada teman atau saudara yang sakit sebaiknya apa yang harus kita
lakukan, jika lampu merah saat dijalan kita harus berhenti, mampu mengantri saat
saat belum gilirannya. Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian yang dilakukan
oleh Ayu Anida Utami (2023) bahwa tedapat pengaruh yang signifikan pada
metode bermain peran dalam meningkatkan kecerdasan interpersonal anak.
Kegiatan bermain peran bagai suasana yang baru untuk anak, kegiatan bermain
peran yang diterapkan pada anak usia dini menjadi lebih menarik dan menjadi
48
kesan tersendiri pada anak dengan bermain peran melalui tema yang sudah
ditentukan oleh guru.
Hal ini disebabkan karena anak usia dini pada umumnya akan merasa
cepat jenuh dan sulit berkonsentrasi jika tidak diberikan hak – hal yang menarik.
Anak akan dapat lebih mudah mengerti karena tidak hanya sekedar melihat dan
mendengar tapi mera yang secara langsung melakukan kegiatan tersebut.
Bermain peran dengan tema yang sudah dirancang oleh guru sebagai
acuan pembelajaran untuk anak usia dini bisa menjadi pilihan untuk para guru.
Guru menyediakan atau memberikan fasilitas alat keperluan dalam bermain peran
sesuai dengan tema dan menyediakan beberapa macam alat alat pendukung
lainnya, selanjutnya guru akan menjelaskan dan mencontohkan pada anak lalu
memberikan aturan yang jelas pada meraka sebelum melakukan kegiatan bermain
peran dan guru hanya mengawasi selama proses kegitan bermain sedang
berlangsung.
Dengan demikian fungsi metode bermain peran untuk anak usia 5 – 6
tahun sebagai upaya guru untuk mengembangkan kecerdasan interpersonal anak,
dapat dirasakan dari metode ini adalah melatih konsentrasi dan daya tangkap,
kemampuan dalam berkerja sama, kemampuan berempati pada orang lain,
kemampuan mendiskusi kan kepada teman untuk mengitu permainan sesuai
aturan dan dapat sabar menunggu giliran bermain. Sehingga metode bermain
peran dapat menjadi kegiatan yang menginovasiakn anak untuk membantu
49
temannya yang kesulitan dalam mengikuti permainan serta sabar menggu
gilirannya.
2. Apa saja tantangan Guru dalam menerapkan metode bermain
peran di Taman Kanak-Kanak Bunga Tanjung Desa Sembubuk Desa
Sembubuk Kabupaten Muaro Jambi
Menerapkan metode bermain peran di Taman Kanak – Kanak Bunga
Tanjung adalah salah satu pendekatan yang sangat efektif mendukukung
perkembangan kognitif, sosial, dan emosional anak – anak. Namun, metode ini
tidak lepas dari berbagai tantangan yang dihadapi guru dalam menerapkan metode
ini dalam keseharian mereka dikelas.
Dalam sesi wawancara, ibu Hidriyani selaku guru kelas mengungkapkan
tentang tantangan dalam menerapkan metode bermain peran yaitu:
“tantangan dalam menerapkan metode bermain peran dikelas yaitu tidak
semua anak memiliki kepercayaan diri yang sama untuk berinteraksi, serta
keterbatasan dalam alat peraga atau ruang fisik dapat membatasi efektivitas
bermain peran, ini membutuh perencaan yang matang dan sering kali improvisasi”
Dari hasil wawancara tersebut guru juga menghadapi tantangan tersendiri
dalam menerapkan metode bermain peran, selain mewawancarai guru peneliti
juga melakukan observasi bagaimana guru menerapkan metode bermain peran
untuk mengembangkan kecerdasan interpersonal anak.
Pada hari selasa tanggal 9 juni 2024 peneliti tiba di Taman Kanak – Kanak
Bunga Tanjung Desa Sembubuk Kabupaten Muaro Jambi. Hari itu ibu Hidriyani
50
selaku guru kelas telah merencanakan kegiatan bermain peran “membuat sate
buah” untuk mengembangkan kecerdasan interpersonal anak, kegiatan ini
dirancang untuk melibatkan interaksi dan kerjasama anak, diharapkan mereka
dapat membantu mereka belajar berkomunikasi, berbagi peran, dan berkerja
dalam tim.
Sebelum memulai kegiatan, Ibu guru mengumpulkan anak-anak di area
berkumpul yang dilengkapi dengan meja-meja kecil. Dia menjelaskan kegiatan
yang akan dilakukan hari itu dengan menggunakan contoh sederhana. Ibu guru
menunjukkan cara menyusun potongan buah-buahan, seperti pisang, apel, dan
anggur, di tusuk sate. Sambil menjelaskan, ia juga mengingatkan anak-anak
bahwa mereka akan bekerja berpasangan dan perlu berkomunikasi dengan teman
sepasangannya untuk menyelesaikan tugas ini.
Tantangan pertama muncul saat pembagian pasangan. Tidak semua anak
dengan mudah menemukan pasangan. Beberapa anak, seperti Aldino dan Ammar,
dengan cepat berpasangan dan langsung terlibat dalam tugas mereka. Namun,
saya mengamati ada beberapa anak, seperti Berlian dan Alya, yang tampak
canggung dan kebingungan. Mereka ragu-ragu untuk memilih pasangan dan
terlihat gugup. Ibu guru dengan sabar mendekati mereka, membantu mereka
menemukan pasangan, dan memberikan dorongan lembut untuk memulai.
Tantangan ini menunjukkan bahwa tidak semua anak memiliki kepercayaan diri
atau kemampuan sosial yang sama untuk memulai interaksi, yang merupakan
aspek penting dari kecerdasan interpersonal.
51
Ketika kegiatan dimulai, anak-anak diberi piring yang sudah berisi
potongan buah dan tusuk sate. Saya mengamati bagaimana beberapa anak, seperti
Aldino dan Ammar, langsung membagi tugas di antara mereka. Aldino memegang
tusuk sate, sementara Ammar menempatkan potongan buah di atasnya. Mereka
tampak senang dan saling tersenyum, bahkan sesekali bercanda tentang bentuk
buah yang mereka buat. Interaksi ini menunjukkan perkembangan kecerdasan
interpersonal yang baik, di mana mereka mampu bekerja sama dengan harmonis.
Namun, tantangan lain muncul ketika pasangan lain, seperti Alya dan
Berlian, kesulitan membagi tugas. Alya tampak lebih dominan dan ingin
melakukan semuanya sendiri, sementara Berlian menjadi pasif dan hanya
memperhatikan. Ibu Hidriyani melihat dinamika ini dan segera mendekat,
membantu mereka memahami pentingnya berbagi peran. Dengan lembut, Ibu
guru berkata, "Alya, bagaimana kalau Berlian yang memilih buah dan kamu yang
menusukkannya? Dengan begitu, kalian bisa bekerja bersama." Setelah intervensi
tersebut, saya melihat perubahan, meskipun Alya masih tampak enggan, namun ia
mulai memberikan Berlian kesempatan untuk berkontribusi. Tantangan ini
menggarisbawahi bahwa dalam pengembangan kecerdasan interpersonal,
beberapa anak mungkin membutuhkan bimbingan tambahan untuk belajar bekerja
sama secara efektif.
Sementara kegiatan berlangsung, Ibu guru terus mengamati dan
memberikan dukungan. Dia sesekali memuji pasangan yang bekerja dengan baik
bersama dan memberikan dorongan kepada pasangan yang membutuhkan
bantuan. Tantangan lain yang diamati adalah menjaga agar semua anak tetap fokus
52
pada tugas mereka. Beberapa anak, seperti Adiba dan Athar, mulai kehilangan
minat setelah beberapa waktu dan mulai bermain dengan potongan buah daripada
menyelesaikan sate buah mereka. Ibu guru harus bekerja ekstra untuk menarik
kembali perhatian mereka dan mengingatkan mereka akan tujuan kegiatan
tersebut.
Ketika semua pasangan selesai membuat sate buah, Ibu Hidriyani
mengumpulkan anak-anak kembali dan meminta mereka untuk berbagi
pengalaman mereka. Beberapa anak dengan antusias menceritakan bagaimana
mereka bekerja sama, sementara yang lain lebih diam dan tampak kurang nyaman
berbicara di depan teman-teman mereka. Ibu guru dengan bijaksana membantu
anak-anak yang lebih pendiam untuk ikut berbicara dengan mengajukan
pertanyaan sederhana, seperti "Buah apa yang paling kamu suka untuk sate ini?"
Ini mengungkap beberapa tantangan yang dihadapi Ibu guru dalam
menerapkan metode bermain peran ini. Tantangan-tantangan tersebut termasuk
mengelola perbedaan kemampuan sosial di antara anak-anak, memastikan
partisipasi aktif dan adil di antara pasangan, serta menjaga fokus anak-anak
selama kegiatan berlangsung. Meskipun tantangan-tantangan ini membutuhkan
intervensi dan perhatian khusus, hasil akhir menunjukkan bahwa dengan
bimbingan yang tepat, anak-anak dapat mengembangkan keterampilan
interpersonal mereka, seperti kerjasama, komunikasi, dan kemampuan untuk
berbagi tugas, yang merupakan tujuan dari kegiatan bermain peran ini.
53
Meskipun metode bermain peran menghadirkan sejumlah tantangan,
terutama dalam hal interaksi sosial dan manajemen kelas, pendekatan yang
dilakukan Ibu guru terbukti efektif dalam mengembangkan kecerdasan
interpersonal anak-anak. Dengan dukungan dan intervensi yang tepat, kegiatan ini
tidak hanya menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan tetapi juga sarana
penting untuk mengasah keterampilan sosial yang esensial bagi perkembangan
anak-anak di masa depan.
3. Apa pengaruh dari penerapan metode bermain peran terhadap
kecerdasan Interpersonal Anak usia 5–6 tahun di Taman Kanak- Kanak
Bunga Tanjung Desa Sembubuk Kabupaten Muaro Jambi
Penerapan metode bermain peran memiliki dampak yang signifikan
terhadap perkembangan kecerdasan interpersonal anak usia 5 – 6 tahun,
khususnya di Taman Kanak – Kanak Bunga Tanjung. Bermain peran
memungkinkan anak untuk berinteraksi dengan teman-temannya dalam situasi
yang disimulasikan, yang membantu mereka belajar memahami perasaan,
kebutuhan, dan pandangan orang lain.
Ketika penulis menanyakan pedapat salah satu guru mengenai pengaruh
dari penerapan metode bermain peran terhadap kecerdasan interpersonal anak usia
dini di Taman Kanak – Kanak Bungan Tanjung, guru tersebut mengungkapkan
bahwa:
“Menurut saya, bermain peran itu sangat efektif untuk meningkatkan
kecerdasan interpersonal anak-anak. Melalui bermain peran, anak-anak belajar
54
bagaimana berinteraksi dengan teman-teman mereka. Mereka harus bisa bekerja
sama, berbicara satu sama lain, dan bahkan menyelesaikan konflik kecil yang
mungkin muncul saat mereka bermain. Selain itu, bermain peran juga membangun
rasa percaya diri mereka. Mereka jadi lebih berani mengemukakan pendapat dan
berinteraksi dengan orang lain. Saya perhatikan, anak-anak yang awalnya pemalu
dan cenderung menarik diri, setelah sering bermain peran, mereka mulai lebih
terbuka dan aktif dalam berinteraksi. Apa lagi metode ini belum pernah diterapkan
sebelumnya sehingga ini menjadi hal yang menarik bagi anak”
Dapat dilihat dari jawaban guru tersebut bahwasanya metode bermain
peran dapat menjadi pengaruh yang baik bagi guru untuk dapat mengembangkan
kecerdasan interpersonal anak melalui metode bermain peran, Secara keseluruhan,
bermain peran menjadi salah satu metode yang efektif untuk meningkatkan
kecerdasan interpersonal anak, karena memberikan kesempatan bagi mereka
untuk belajar tentang interaksi sosial dalam lingkungan yang menyenangkan dan
aman.
Penulis juga menanyakan apakah ada contoh konkret yang guru bisa
bagikan tentang anak yang mengalami peningkatan kecerdasan interpersonal
melalui metode ini?
" Kami punya beberapa murid yang awalnya sangat pendiam dan
cenderung tidak mau terlibat dalam kegiatan kelompok. Setelah beberapa kali
mengikuti permainan peran, saya mulai melihat perubahan. Dia jadi lebih aktif
mengajak temannya untuk berinteraksi dan bahkan mulai berani memimpin
55
permainan. Sekarang, dia jadi lebih percaya diri dalam berkomunikasi dan
menunjukkan empati lebih besar terhadap teman-temannya."
Dapat dilihat dari jawaban guru tersebut bahwasanya kecerdasan
interpersonal anak mengalami peningkatan yang cukup baik setelah guru mecoba
menerapkan metode bermain peran di dalam kelas. Kecerdasan interpersonal,
menurut oleh Amstrong, merujuk pada kemampuan seseorang anak untuk berkerja
sama, mengorganisasi kelompok untuk mencapai tujuan bersaman, memahami
dan berinteraksi secara efektif dengan orang lain. Bagi anak usia dini, kemampuan
ini sangat penting untuk dikembangkan karena menjadi dasar bagi keterampilan
sosial yang lebih kompleks di masa depan, seperti kemampuan berkomunikasi,
bekerja sama, dan menyelesaikan konflik.
Bermain peran memungkinkan anak-anak untuk belajar dari pengalaman
sosial yang disimulasikan. Anak-anak berperan sebagai berbagai tokoh, seperti
dokter, guru, polisi, atau bahkan anggota keluarga. Peran-peran ini menuntut anak
untuk menempatkan diri mereka dalam perspektif orang lain, sehingga mereka
belajar tentang perasaan, kebutuhan, dan harapan dari sudut pandang yang
berbeda. Metode ini tidak hanya melibatkan keterampilan verbal, seperti berbicara
dan mendengarkan, tetapi juga keterampilan non-verbal, seperti membaca
ekspresi wajah dan memahami bahasa tubuh. Ini membantu anak-anak untuk
mengenali sinyal sosial yang lebih halus dalam interaksi mereka, yang merupakan
komponen penting dari kecerdasan interpersonal.
56
Dalam konteks di Taman Kanak - Kanak Bunga Tanjung, guru mencoba
menerapkan metode bermain peran dalam kegiatan pembelajaran. Berdasarkan
wawancara dengan salah satu guru, terungkap bahwa anak-anak menunjukkan
peningkatan yang signifikan dalam kemampuan mereka untuk berinteraksi secara
sosial setelah terlibat dalam permainan peran. Guru tersebut mencatat bahwa
anak-anak menjadi lebih percaya diri dalam menyampaikan ide mereka dan lebih
peka terhadap perasaan teman-teman mereka. Misalnya, seorang anak yang
awalnya pemalu dan jarang berpartisipasi dalam kegiatan kelompok, setelah
beberapa kali terlibat dalam permainan peran, mulai menunjukkan perubahan
dalam sikap sosialnya. Ketika anak tersebut berperan mebuat sate buah, ia belajar
untuk memimpin, mendengarkan teman-temannya, dan memberikan arahan
dengan cara yang baik. Perubahan ini menunjukkan bahwa metode bermain peran
dapat membantu anak-anak mengatasi hambatan sosial yang mungkin mereka
miliki, sehingga mereka dapat mengembangkan keterampilan interpersonal yang
lebih baik.
Dari perspektif peneliti, metode bermain peran tampak memberikan
dampak yang kuat dan signifikan dalam mengembangkan kecerdasan
interpersonal anak. Mereka tidak hanya lebih mahir dalam berkomunikasi, tetapi
juga lebih mampu mengelola hubungan sosial dengan cara yang lebih positif.
Peningkatan dalam kemampuan berempati, berkomunikasi secara efektif, serta
menyelesaikan konflik menunjukkan bahwa bermain peran merupakan metode
yang efektif untuk mendukung perkembangan sosial dan emosional anak.
57
Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa metode bermain
peran bukan hanya sekadar permainan, tetapi merupakan pendekatan pedagogis
yang kuat untuk mengembangkan kecerdasan interpersonal anak. Di Taman
Kanak- Kanak Bunga Tanjung, penerapan metode ini telah berhasil menciptakan
lingkungan yang mendukung perkembangan sosial dan emosional anak-anak,
menjadikan mereka lebih siap untuk menghadapi tantangan sosial di masa depan
dengan cara yang empatik, komunikatif, dan kooperatif.
58
DAFTAR PUSTAKA
Anggraini, Y. (2019). Pengembangan Kecerdasan Interpersonal Anak Usia Dini Di
Ra Melati Tanjung Kurung Lama Kasui Way Kanan (Doctoral
Dissertation, Uin Raden Intan Lampung).
Fahriati, H. Peran Guru Dalam Membangun Kecerdasan Emosional Anak
Kelompok B Di Tk Islam Al Azhar 4 Kebayoran Lama (Bachelor's Thesis,
Jakarta: Fitk Uin Syarif Hidayatullah Jakarta).
Kamilah, S. M., Ulfah, H., Sari, M. N., Fadila, R. N., & Hasanah, L. (2022).
Manajemen Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini Di Paud Harapan
Bunda. Jurnal Ilmiah Pesona Paud, 9(2), 112-122.
Khasanah, L. (2023). Generasi Emas Anak Usia Dini: Belajar Pembelajaran
Karakter Dari Belgia. Pustaka Peradaban.
Nata, H. A. (2014). Sejarah Pendidikan Islam. Kencana.
Nisya, F. (2020). Mengembangkan Kecerdasan Interpersonal Anak Melalui
Bermain Peran Di Tk Tunas Permata Jagabaya Ii Way Halim Bandar
Lampung (Doctoral Dissertation, Uin Raden Intan Lampung).
Nita, D. (2020). Kecerdasan Majemuk Dan Implikasinya Dalam Pendidikan.
Jurnal Psikologi Universitas Hkbp Nommensen, 7(1), 40-49.
Nurdial, Mujriyanti, A., Darni, H., & Sariakin. (2022). Meningkatkan Kecerdasan
Interpersonal Melalui Metode Bermain Peran Untuk Anak Usia 5-6 Tahun
Di Tk. 19–20.
Rahmatia, S. R. D. (2023). Peran Guru Pai Dalam Mengembangkan Kecerdasan
Emosional Dan Kecerdasan Spiritual Siswa. Jurnal Pendidikan Ar-Rasyid,
8(2), 1-8.
Ramiati, E. (2020). Penggunaan Metode Bermain Peran Guna Meningkatkan
Karakter Tanggung Jawab Anak. Jurnal Ilmiah Potensia, 5(1), 8-15.
59
Sari, M. (2022). Pengaruh Metode Bermain Peran Makro Terhadap Peningkatan
Kemampuan Bahasa Ekspresif Anak 5-6 Tahun Di Tk Jernih Ni Telege
Aceh Tengah (Doctoral Dissertation, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry).
Sari, N. (2022). Penerapan Metode Bermain Peran Untuk Mengambangkan
Kecerdasan Interpersonal Anak Usia Dini Di Tk Negeri Pembina Way
Tuba Kabupaten Way Kanan. Universitas Islam Negeri Raden Intan
Lampung.
Sujiono, B., & Sujiono, Y. N. (2019). Bermain Kreatif Berbasis Kecerdasan
Jamak.
Tafsir, A., & Sumadi, S. (2018). Pengembangan Karakter Anak Di Indonesia
Heritage Foundation (Ihf) Depok. Jurnal Penelitian Pendidikan Islam,[Sl],
6(2), 163-186.
Utami, A. A. (2023). Pengaruh Metode Bermain Peran Terhadap Kecerdasan
Interpersonal Pada Anak Usia Dini Kelompok B Di Taman Kanak-Kanak
Asyiyah Kota Enrekang.
60