0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan66 halaman

Peran Guru Kembangkan Kecerdasan Anak

Dokumen ini adalah skripsi yang membahas peran guru dalam mengembangkan kecerdasan interpersonal anak usia 5-6 tahun melalui metode bermain di Taman Kanak-Kanak Bunga Tanjung, Desa Sembubuk. Penelitian ini menekankan pentingnya pendidikan yang holistik dan peran guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran anak. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan bagaimana metode bermain dapat meningkatkan perkembangan sosial, emosional, dan kecerdasan anak di usia dini.

Diunggah oleh

gustimhrani200
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan66 halaman

Peran Guru Kembangkan Kecerdasan Anak

Dokumen ini adalah skripsi yang membahas peran guru dalam mengembangkan kecerdasan interpersonal anak usia 5-6 tahun melalui metode bermain di Taman Kanak-Kanak Bunga Tanjung, Desa Sembubuk. Penelitian ini menekankan pentingnya pendidikan yang holistik dan peran guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran anak. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan bagaimana metode bermain dapat meningkatkan perkembangan sosial, emosional, dan kecerdasan anak di usia dini.

Diunggah oleh

gustimhrani200
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERAN GURU DALAM MENGEMBANGKAN KECERDASAN

INTERPERSONAL ANAK MELALUI METODE BERMAIN


PERAN USIA 5-6 TAHUN TAMAN KANAK-KANAK
BUNGA TANJUNG DESA SEMBUBUK
KABUPATEN MUARO JAMBI

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan dalamMenyelesaikan


Program Pendidikan Gelar Sarjana (S1)

GUSTI MAHARANI
2086207017

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU ANAK USIA DINI


SEKOLAH TINGGI KEGURUAN ILMUPENDIDIKAN

(STKIP) DINIYYAHAL AZHAR

JAMBI 2024
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING

Proposal skripsi yang berjudul peran guru dalam mengembangkan


kecerdasan anak usia 5-6 tahun melalui metode bermain peran di Taman Kanak-
Kanak Bunga tanjung di Desa Sembubuk: Proposal skripsi Program Studi
Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, yang disusun oleh Gusti Maharani,
Nomor Induk Mahasiswa 20867017 telah diperiksakan dan telah disetujui untuk
diuji.

Jambi, Mei 2024


Pembimbing I

Lola Monika, [Link].I


NIDN. 1007079002

Jambi, Mei 2024


Pembimbing II

Husnu Hakim, S.E.,[Link]., [Link].


NIDN. 1027057701

2
KATA PENGANTAR

Selesainya penelitian yang dilakukan sampai terwujud menjadi skripsi


ini tidak akan pernah dapat diraih tanpa rahmat dari Allah Subhanahuwataala.
Untuk itu, sudah sepantasnya puji syukur penulis sampai kehadirat Allah
Subhanahuwataala, atas segala [Link] pula kepada berbagai
pihak yang telah membantu, dalam kesempatan ini penulis sampaikan terima
kasih, terutama kepada Ibuk Lola Monika, [Link] selaku dosen pembimbing I
yang dengan kesabaran, keikhlasan, dan sifat keibuannya telah membimbing
dan memotivasi penulis untuk menyelesaikan pendidikan dan penulisan
skripsi ini. Semua itu akan penulis kenang sebagai bekal di masa mendatang.

Begitu juga bapak Husnul Hakim, S.E.,[Link]., [Link] yang dengan


ketelitian, kesabaran, dan hatinya yang lembut dalam menasehati penulis
tetapi kritis dan cemerlang dalam berpikir telah menggugah penulis untuk
tidak menyerah memperbaiki kesalahan atau kekeliruan yang masih muncul
dalam penyusunan skripsi ini. Semoga Tuhan tetap memberikan yang terbaik
untuk beliau.

Ibuk Dra. Almainova, [Link]., dan Bapak H. A. Muhaimin El-Yusufi,


[Link].E. ME., terima kasih atas saran dan kritikan yang telah diberikan dalam
seminar proposal dan ujian skripsi ini. Semoga ilmu dan kekritisan Bapak-
bapak dan Ibu membuat skripsi ini lebihsempurna.

Untuk Dosen Program Studi Pendidikan Guru Anak Usia Dini di


STKIP Al-Azhar Diniyyah Jambi yang telah membagi ilmunya, penulis
sampaikan rasa terima kasih yang [Link] semuanya menjadi amal
ibadah yang [Link] lupa pula rasa haru dan terima kasih penulis
sampaikan kepada Dosen Penasehat Akedmik yang dengan gurauannya yang
hangat tetapi penuh makna telah mengantar penulis untuk menyelesaikan
pendidikan. Ini semua tentu berkat kerjasama beliau dengan Ketua dan
Sekretaris Program Studi Pendidikan Guru Anak Usia Dini, Ketua dan
Sekretaris Jurusan Pendidikan Guru Anak Usia Dini, Wakil Dekan Bidang

3
Akademik, serta Dekan STKIP Al-Azhar Diniyyah Jambi yang selalu
memberikan kemudahan dan pengarahan kepada mahasiswanya, terutama
dalam proses perizinan penelitian dan pengesahan skripsiini.

Secara khusus kepada kedua orang tua tercinta yang tiada hentinya
mendoakan dan memberi perhatian untuk kesuksesan, penulis sampaikan
terima kasih yang sangat mendalam. Semoga jerih payah beliau mendapat
imbalan dari Yang Khalik dan telah memperkuat keyakinan penulis bahwa
tanpa beliau penulis tidak akan pernah ada dan tidak akan pernah berhasil.

Jambi, Agustus 2024

Gusti maharani
NIM. 20867017

4
DAFTAR ISI

BAB 1
PENDAHULUAN.............................................................................................................1
1.1 Latar Belakang.........................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah....................................................................................................8
1.3 Tujuan Penelitian......................................................................................................9
1.4 Manfaat penelitian....................................................................................................9
BAB II
KAJIAN TEORI..........................................................................................................11
2.1 Peran Guru.............................................................................................................11
2.1.1 Pengertian Guru..................................................................................................11
2.2 Kecerdasan Interpersonal.......................................................................................16
2.2.1 Pengertian kecerdasan Interpersonal...................................................................16
2.2.2 Manfaat pengembangan Kecerdasan Interpersonal Pada Anak Usia Dini...........19
2.2.3 Unsur Kecrdasan Interpersonal...........................................................................21
2.2.4 Karakter Individu Yang Memiliki Kecerdasan Interpersonal...............................23
2.3 Metode Bermain Peran...........................................................................................25
2.3.1 Tujuan Bermain Peran.........................................................................................27
2.3.2 Kelebihan dan Kekurangan Bermain Peran.........................................................28
2.3.3 Langkah-langkah bermain peran.........................................................................29
2.3.4 Study Relevan.....................................................................................................32
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN.......................................................................................35
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian................................................................................35
3.2 Pendekatan dan jenis penelitian..............................................................................35
3.3 Data dan Sumber Data............................................................................................35
3.4 Teknik Sampling...................................................................................................36
3.6 Uji Validitas Data...................................................................................................39
3.6 Teknik Analisis Data..............................................................................................39
3.7 Prosedur penelitian.................................................................................................39

5
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN................................................................41
4.1 Deskripsi Lokasi.....................................................................................................41
4.2 Temuan Penelitan dan pembahasan........................................................................44

6
BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Anak adalah amanah yang dititipkan Allah kepada orangtua untuk dijaga,

dibesarkan dengan sepenuh hati dan diberikan kasih sayang yang cukup. Anak

dilahirkan kedunia ini dalam keadaan fitrah seperti kertas putih yang tanpa noda.

Kita sebagai orangtua adalah pena untuk mengisi kertas putih tersebut yang

artinya orangtua lah yang menentukan seperti apa dimasa depan anak itu nanti.

Sebagai mana dalam Al-qur’an surat Al- Nahl ayat 78 :

‫َو الَّله َاْح َر َم ٌكْم ٍم ْن ُبُطْوٍن ٌاَّمَه ٍتُكْم َال َتْع َلُم ْو َن‬

‫َش ْيًئا َو َجَعَلُكْم اَّس ْم َع َو اَاْلْبَص اَر َو اَاْلْف ِئَدَة َلَعَّلُكْم‬

‫َتْش ُكُر ْو َن‬

Artinya : Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak

mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan

hati nurani, agar kamu bersyukur.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, Nabi

bersabda yang artinya “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), maka

orang tuanyalah yang akan menjadikan dia yahudi, nasrani atau majusi”.

Anak merupakan cikal bakal masa depan bangsa oleh karena itu orangtua

wajib memberikan pendidikan yang baik untuk anaknya, supaya anak dapat

tubuh dan berkembang dengan baik, agar anak menjadi solih dan sohliha serta

1
berguna bagi nusa dan bangsa. NAEYC (National Assosiation Education for

Young Childern) Mengatakan bahwa anak usia dini adalah sekelompok individu

yang berada pada rentang usia antara 0-8 tahun, yang sedang mengalami proses

pertumbuhan dan perkembangan. Masa ini juga disebut oleh para ahli masa

Golden Age (masa keemasan) yang artinya seseorang hanya mengalami satu kali

masa perkembangan yang sangat pesat dalam segala aspek perkembangan.

Anak usia dini memiliki berbagai macam aspek perkembangan yang

sangat perlu diperhatikan perkembangannya. Seorang ahli perkembangan anak

dari Universitas Georgia Amerika Serikat, Dr. Kieth Osbon (Khasanah, 2023)

sebagaimana dikutip oleh Imam Musbikin mengatakan “Hampir 50% potensi

kecerdasan anak mulai terbentuk pada usia 4 tahun kemudian mencapai 80%

pada saat anak berusia 8 tahun”. Maka dari dalam masa pertumbuhan dan

perkembangan anak usia dini orang tua harus teliti dalam memberikan

pendidikan untuk merangsang kecerdasan anak, agar anak dapat berkembang

dengan optimal dan memudahkan anak untuk memulai pendidikan ke jenjang

selanjutnya.

Oleh karena itu dalam membesarkan anak tidaklah cukup dengan

memberikan kebutuhan fisik saja tapi juga mempersiapkan pendidikan yang baik

untuk anak usia dini, agar anak dapat mencapai segala potensi yang mereka

miliki. Pendidikan adalah proses formal atau informal yang melibatkan transfer

pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap dari satu generasi ke generasi

berikutnya. Ini melibatkan interaksi antara pendidik dan peserta didik. Maka dari

itu Taman Kanak-Kanak sebagai lembaga pendidikan formal yang ditujukan

2
untuk anak usia dini, biasanya antara 3 - 6 tahun. Taman Kanak-Kanak

merupakan jenjang pendidikan yang berada di bawah tingkat pendidikan dasar

dan merupakan tahap awal dalam proses pendidikan formal sebelum masuk ke

jenjang Sekolah Dasar.

Tujuan utama pendidikan adalah untuk memfasilitasi perkembangan dan

pertumbuhan anak dalam berbagai aspek kehidupan Salah satu tujuan pendidikan

adalah mengembangkan kecerdasan anak. Maka dari itu tujuan utama Taman

Kanak-Kanak adalah memberikan pendidikan dan pengembangan holistik kepada

anak-anak dalam berbagai aspek perkembangan mereka, termasuk fisik motorik,

kognitif, emosional, sosial, moral, dan bahasa. Melalui pendidikan yang

disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan anak usia dini, Taman Kanak-

Kanak bertujuan untuk membantu anak mengembangkan potensi dan

keterampilan mereka secara menyeluruh. Di Taman Kanak-Kanak, anak-anak

diajak untuk belajar melalui bermain, kegiatan kreatif, interaksi sosial, dan

eksplorasi lingkungan sekitar. Guru di Taman Kanak-Kanak berperan sebagai

fasilitator dan pendamping dalam proses pembelajaran anak. Mereka

menggunakan pendekatan yang menyenangkan dan menarik untuk meningkatkan

minat belajar anak, mengembangkan keterampilan motorik halus dan kasar,

memperluas kosakata dan kemampuan berbahasa, serta membantu anak

memahami konsep matematika dasar. Selain itu, Taman Kanak-Kanak juga

memberikan perhatian pada pengembangan sosial dan emosional anak. Anak

diajak untuk berinteraksi dengan teman sebaya dan belajar mengenai kerjasama,

berbagi, menghormati perbedaan, dan mengelola emosi dengan baik. Selama

3
masa ini, anak juga dikenalkan dengan nilai-nilai moral dan etika dasar, oleh

sebab itu disebuah lembaga sekolah diperlukan seorang Guru yang memiliki

kompetensi, agar dalam proses pendidikan untuk mengembangkan kecerdasan

anak atau potensi yang dimiliki anak dapat berkembang dengan semestinya.

Dalam hal ini Guru sebagai pendidik memiliki peran penting dalam proses

mendidik anak usia dini. Melalui peran Guru disekolah, anak-anak memperoleh

pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang diperlukan untuk menjadi

anggota masyarakat yang berfungsi dengan baik, Semua orang yakin bahwa guru

memiliki andil yang sangat besar terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah.

Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didik untuk

mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Secara umum, Guru adalah

pendidik dan tenaga kependidikan. Guru juga merupakan komponen yang paling

penting menentukan proses dan hasil pendidikan yang berkualitas. Kualitas Guru

meliputi kedisiplinan, kreativitas, tanggung jawab, kemampuan mengembangkan

diri, mampu mengikuti perkembangan zaman dan lain sebagainya. Oleh karena

itu, peran Guru sangat diperlukan dalam membantu menyukseskan kecerdasan

dan perkembangan anak khususnya selama di sekolah, karena sebagian waktu

anak akan dihabiskan ketika disekolah yang dimana Guru juga berperan sebagai

orangtua kedua bagi anak disekolah. Selain itu Guru harus dituntut untu

berkompeten dan professional agar dapat memberikan pendidikan yang

berkualitas. Menurut Gary Flewing dan William Hingginson salah satu peran dari

empat peran guru yang mereka ungkapkan adalah dengan memberikan stimulasi

kepada siswa dengan menyediakan tugas-tugas pembelajaran yang kaya dan

4
terencana dengan baik sehingga mampu meningkatkan perkembangan

intelektual, emosional, spiritual, dan sosialnya. Selain itu, anak-anak memiliki

hak-hak yang diakui secara internasional, seperti hak untuk mendapatkan

pendidikan, kesehatan, perlindungan, dan partisipasi dalam keputusan yang

mempengaruhi mereka (Fahriati, 2022). Pemerintah dan masyarakat memiliki

tanggung jawab untuk melindungi dan memenuhi hak-hak anak serta

menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi perkembangan mereka.

Setiap anak anak meiliki keunikan nya masing-masing, anak dengan

segala keunikannya menjadi bagian penting dalam kehidupan keluarga. Keunikan

anak sebagai individu mandiri berkaitan pula dengan kecerdasan yang

dimilikinya. Setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda. Dalam kaitan ini,

Guru perlu memperhatikan peserta didik secara individual, karena antara satu

peserta didik dengan yang lain memiliki perbedaan yang sangat mendasar. Serta

Guru pula yang memberikan dorongan agar peserta didik berani berbuat benar,

dan membiasakan mereka untuk bertanggung jawab terhadap setiap

perbuatannya. Dalam mengembangkan kecerdasan anak bukan lah hal yang

mudah, diperlukan waktu, usaha dan perhatian khusus untuk anak agar mereka

dapat mengembangkan kemampuan akademik, sosial, dan emosional yang akan

membantu mereka sukses dalam hidup. Guru harus bisa melihat potensi yang

dimiliki oleh anak jangan sampai Guru sebagai orang tua kedua bagi anak

melewatkan potensi pada diri anak tersebut. Selain kecerdasan intelektual, fakta

dilapangan saat ini masih banyak orangtua dan Guru yang mengesampingkan

5
kecerdasan lainya, dimana kebanyakan orangtua lebih memperhatikan untuk

menemukan cara agar anaknya dapat menjadi anak yang cerdas secara

intelektual, dan Guru yang terlalu fokus mencapai kompetensi dasar pengetahuan

guna menjadikan anak cerdas secara intelektual saja, Guru akan sulit memaksa

anak untuk unggul di satu bidang padahal anak tersebut memiliki potensi di

bidang lain, selama ini, kepintaran selalu diukur dengan tes IQ atau dibidang

akademik .

Menurut teori kecerdasan majemuk yang dikemukakan oleh (Nita,

dikutip dalam Gardner, 1983), terdapat beberapa kecerdasan yang dapat dimiliki

oleh anak-anak. Gardner mengidentifikasi tujuh kecerdasan utama, dan kemudian

menambahkan dua kecerdasan tambahan. Berikut adalah kesembilan kecerdasan

yang diakui dalam teori kecerdasan majemuk yaitu Kecerdasan Linguistik,

Kecerdasan Matematika, Kecerdasan Visual-Spasial, Kecerdasan Kinestetik,

Kecerdasan Musikal, Kecerdasan Interpersonal, Kecerdasan Intrapersonal,

Kecerdasan Naturalis, dan kecerdasan Spritual. Dalam hal ini kecerdasan

Interpersonal merupakan kemampuan untuk bersosialisasi dengan orang-orang

disekitar artinya kecerdasan ini adalah kemampuan untuk memahami dan

memperkirakan maksud dan keinginan seseorang. Dari pendapat diatas dapat

disimpulkan oleh penulis bahwa kecerdasan interpersonal adalah suatu

kemampuan individu untuk berkerjasama, berhubungan baik dengan orang lain,

mampu berempati atau mampu untuk memahami perasaan orang lain selama

berinteraksi dengan orang lain. Berkaitan dengan obsevasi terdahulu terdapat

masalah dalam mengembangkan kecerdasan interpersonal anak, diantaranya

6
terdapat anak yang memiliki keterlambatan dalam perkembangan sehingga

menghambat anak untuk proses aktivitas belajar dan bersosialisasi dengan

temannya. Metode yang dipilih untuk meningkatkan kecerdasan Interpersonal

anak adalah metode yang dapat meningkatkan kemampuan berkerja sama,

berempati pada orang lain dan kemampuan berteman dalam menjalin kontak.

Dengan demikian penulis tertarik untuk menggunakan metode bermain peran.

Metode bermain peran salah satu metode yang digunakan Taman Kanak-Kanak

Bunga Tanjung Desa Sembubuk Kabupaten Muaro Jambi.

Dari pembahasan diatas peniliti tertarik untuk membahas tentang “ Peran

guru dalam mengembangkan kecerdasan Interpersoanal anak usia 5-6 tahun

melalui metode bermain peran di Taman Kanak-kanak Bunga Tanjung Desa

sembubuk kabupaten Muaro Jambi “. Hasil dari observasi di Taman Kanak-

Kanak Bunga Tanjung Desa Sembubuk kabupaten Muaro Jambi kelompok B

dengan jumlah peserta didik 15 orang, terdapat beberapa indikator kecerdasan

interpersonal yang dalam perkembangannya belum mencakup tahapan

perkembangan yang seharusnya. Melalui wawancara dengan wali kelas ibu

Ermawati mengangatakan bahwa anak memang cenderung enggan untuk bekerja

sama membereskan alat permainan setelah bermain, berbagi cerita dengan

temannya, memuji hasil karya temannya. Penerapan metode bermain peran sudah

sepenuhnya dilakukan secara maksimal sesuai dengan langkah-langkah bermain

peran sesuai teori yang sudah ada. Langkah-langkah Bermain Peran yang

diterapkan di Taman Kanak-Kanak Bunga Tanjung Desa Sembubuk kabupaten

Muaro Jambi mereka menggunakan panduan teori sebagaimana yang digunakan

7
dari teori Sijiono dkk (2019) dimulai dengan Guru memilih tema untuk kegiatan

yang ingin dicapai, Guru membuat naskah jalan cerita yang akan dimainkan,

Guru mengumpulkan anak untuk diberi pengarahan dan aturan dalam bermain

peran, Guru sudah mempersiapkan alat yang akan digunakan saat bermain peran,

Guru menjelaskan alat-alat yang akan digunakan oleh peserta didik untuk

bermain, Guru membagikan tugas kepada peserta didik sesuai dengan peran yang

akan dimainkan, agar tidak berebut saat bermain peran, Guru hanya

mendampingi peserta didik dalam bermain peran, Guru mengadakan diskusi

untuk mengulas kembali nilai-nilai dan pesan yang terkandung dalam bermain

peran untuk diteladani peserta didik. Namun Ternyata dalam mengembangkan

kecerdasan interpersonal anak melalui metode bermain peran belum berkembang

secara maksimal menurut teori tersebut. Dengan ini juga penulis tertarik

melakukan penelitian di Taman Kanak-Kanak Bunga Tanjung Desa Sembubuk

kabupaten Muaro Jambi untuk melihat bagaimana peran Guru Dalam

Mengembangkan Kecerdasan Interpersonal Anak Usia Dini Melalui Metode

Bermain Peran di Taman Kanak-Kanak Bunga Tanjung Desa Sembubuk

kabupaten Muaro Jambi

1.2 Rumusan Masalah


Dari latar belakang di atas, peneliti merumuskan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana peran Guru dalam mengembangkan kecerdasan Interpersonal

anak usia 5 – 6 tahun melalui metode bermain peran di Taman Kanak-

Kanak Bunga Tanjung Desa Sembubuk Kabupaten Muaro Jambi?

8
2. Apa saja tantangan Guru dalam menerapkan metode bermain peran di

Taman Kanak-Kanak Bunga Tanjung Desa Sembubuk Desa Sembubuk

Kabupaten Muaro Jambi ?

3. Apa pengaruh dari penerapan metode bermain peran terhadap kecerdasan

Interpersonal Anak usia 5 – 6 tahun di Taman Kanak- Kanak Desa

Sembubuk Kabupaten Muaro Jambi ?

1.3 Tujuan Penelitian


Berdasarkan perumusan masalah yang dikemukakan di atas, maka
tujuan yang ingin di peroleh dari penelitian ini adalah :
1. mengidentifikasi Peran Guru dalam Mengembangkan Kecerdasan

Interpersonal anak melalui metode bermain peran di Taman Kanak-

Kanak Desa Sembubuk Kabupaten Muaro Jambi.

2. Untuk mengetahui kendala Guru dalam mengembangkan kecerdasan

anak melalui metode bermain peran di Taman Kanak-Kanak Desa

Sembubuk Kabupaten Muaro Jambi.

3. Untuk mengetahu dampak dari penerapan metode bermain peran


kepada Anak usia dini di Taman Kanak-Kanak Desa Sembubuk
Kabupaten Muaro Jambi.

1.4 Manfaat penelitian


Manfaat dari penelitian ini diharapakan berguna informasi bagi
penelitian selanjutnya dan merupakan salah satu rujukan dalam
pengembangan ilmu pendidikan, sekaligus merubah dan memperkaya
khazanah dalam bidang pekembangan anak usia dini.
1. Bagi Guru

9
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi

kepada guru mengenai perannya sebagai guru dalam mengembangkan

kecerdasan melalui metode bermain peran.

2. Bagi Orang Tua Siswa

Hasil penelitian ini akan memberikan informasi kepada orang tua

tentang bagaiman mengembangkan kecerdasan anaknya dan menerapkan

pola asuh yang dapat meningkatkan kecerdasan anaknya.

3. Bagi Lembaga

Bisa dijadikan motivasi untuk memperbaiki mutu maupun teknisi

baik dari segi sarana dan prasarana sekolah sehingga dapat mencapi tujuan

pendidikan.

4. Bagi peneliti

Sebagai salah satu syarat pemenuhan memperoleh gelar sarjana

pendidikan.

10
BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 Peran Guru
2.1.1 Pengertian Guru

Guru diartikan sebagai orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya)

mengajar. Kata guru dalam bahasa Arab disebut disebut mu’allim dan dalam

bahasa inggris teacher itu memang memiliki arti sederhana, yakni seorang yang

pekerjaannya mengajar orang lain. Berdasarkan pendapat Abuddin Nata (2014)

mendefenisikan Guru adalah seseorang yang memberi bimbingan, arahan dan

ajaran. Dalam undang-undang No.14 tahun 2005 di jelaskan bahwa: Guru adalah

pendidik propfesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,

mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan

anak usia dini jalur pendidikan formal pendidikan dasar, dan pendidikan

menengah.

Guru merupakan komponen penting yang menentukan kualitas

pendidikan. Maka dari itu untuk menjadi seorang guru harus memiliki keahlian

khusus, pengetahuan, kemampuan dan di tuntut untuk dapat melaksanakan peran-

perannya secara profesional yang dalam tugasnya Guru tidak hanya mengajar,

melatih, tetapi juga mendidik. Tanpa adanya Guru, pendidikan-pun tidak bisa

dilaksanakan. Peran Guru tidaklah dapat diganti oleh perangkat lainya, karena

11
Guru bukan hanya sekedar memberikan materi ajar kepada siswa tapi sebagai

contoh untuk ditiru oleh siswa. Guru harus memberikan contoh dan suri tauladan

kepada siswa, khususnya dalam hal memperaktekkan ilmunya dalam kehidupan

sehari-hari. Lebih dari hal itu, Guru mempunyai tugas dalam memberikan

lingkungan belajar yang kreatif dan inovatif kepada peserta didik baik didalam

maupun di luar kelas. Sebelum melaksanakan proses pengajaran, seorang Guru

sebaiknya melakukan penyeleksian dan penetapan metode yang akan digunakan

untuk mencapai tujuan pembelajaran. Gaya mengajar sebagai gaya Guru dalam

hal bagaimana guru memanfaatkan ruang kelas, pilihan kegiatan pembelajaran

dan materi, dan cara pengelompokkan siswa mereka. Salah satu kegiatan yang

harus Guru lakukan adalah harus memiliki strategi pembelajaran yang efektif serta

efisien, sekaligus juga melakukan pemilihan dan penentuan metode yang sesuai

sehingga menimbulkan rangsangan kepada peserta didik, karena rangsangan

tersebut membawa kepada senangnya peserta didik terhadap kegiatan belajar

mengajar di dalam kelas dan dapat mencapai tujuan pembelajaran yang

diinginkan.

Guru mempunyai peranan yang sangat luas baik di sekolah, keluarga,

maupun masyarakat. Menurut Permata, Hawi dkk (2021), guru ialah semua orang

yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan murid, baik secara

individual ataupun klasikal, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Dari

pengertian ini dapat disimpulkan bahwha guru dalam melaksanakan pendidikan

baik di lingkungan formal maupun non formal dituntut untuk mendidik dan

mengajar. Sebab keduanya mempunyai peranan yang penting dalam proses belajar

12
dan mengajar untuk mencapai tujuan ideal pendidikan. Dalam bahasa Indonesia,

guru biasanya merujuk pada guru professional yang tugas utamanya adalah

mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan

mengevaluasi siswa atau siswi. Guru juga bisa diartikan sebagai digugu, meniru

ucapan apapun. Bertindak atau bertingkah laku sebagai pedoman petunjuk arah

bagi setiap siswa baik di lingkunngan sekolah atau keluarga maupun di

masyarakat. Menurut Rahmatia (2023) menyatakan bahwa guru memiliki peran

strategis dalam pembelajaran dan membantu perkembangan peserta didik untuk

mewujudkan tujuan hidupnya, minat, bakat, kemampuan dan potensi-potensi yang

dimiliki oleh peserta didik akan berkembang secara optimal dengan bantuan guru.

Guru harus berpacu dalam pembelajaran, dengan memberikan kemudahan belajar

bagi seluruh peserta didik agar dapat mengembangkan potensinya secara optimal.

Seorang pendidik semestinya bukan hanya mengajar dengan perkataannya

saja, tetapi juga harus dengan perbuatannya. Perbuatan akhlak yang mulia dari

seorang pendidik bisa menjadi contoh bagi peserta didiknya, sekaligus menjadi

teladan bagi semua peserta didik. Menurut Ahmad Tafsir (2018) pendidik adalah

siapa saja yang bertanggung jawab atas perkembangan anak. Tugas pendidik

dalam pandangan Islam secara umum adalah mendidik untuk mengupayakan

perkembangan seluruh potensi anak didik, baik fisik motorik, kognitif, maupun

potensi afektif. Guru yang menjadi pendidik, bukanlah sekedar menyampaikan

pengetahuan saja, akan tetapi tugas guru yang paling utama adalah menbimbing,

menfasilitasi dalam mengajar membina dan mengarahkan siswa agar menjadid

orang yang berilmu pengetahuan. Dari pengertian para ahli di atas dapat

13
disimpulkan bahwa Guru peran adalah sebagai orang yang mendidik,

pembimbing, fasilitator, demonstator, dan evaluator. Guru bukanlah sekedar orang

yang berdiri di depan kelas menyampaikan pelajaran, akan tetapi guru juga

merupakan anggota masyarakat yang harus ikut berperan aktif dalam membina

serta mengarahkan perkembangan anak didiknya menjadi dewasa dan menjadi

anggota masyarakat yang bertanggung jawab.

2.1.2 Peran Guru

Peran guru sebagai pendidik merupankan peran yang berkaitan dengan

tugas memberi dorongan kepada anak, mengawasi dan pembinaan serta tugas

medisiplinkan anak agar patuh terhadap aturan – aturan dan norma agama. Dalam

buku milik Kamaruddin Haji Husin dan yang berjudul dinamika sekolah Amin

Mahmuda memaparkann peran guru dalam berbagai aspek, yaitu sebagi beriku:

a) Guru sebagai pendidik

Dalam hal ini guru bertugas mengembangkan kepribadian dan membina

budi pekerti agar anak memiliki kepribadian yang baik seperti tekun, jujur,

memiliki semangat belajar yang tinggi, amanah, dan sopan santun terhadap

sesama maupun kepada orang yang lebih tua. Sikap dan prilaku guru harus

dapat menjadi panutan yang dapat diteladani oleh anak baik didalam

maupun diluar kelas yang dapat membentuk kepribadian anak kelak di

masa dewasa.

b) Guru sebagai fasilitator

Peran guru dalam pembelajaran salah satunya adalah sebagai fasilitator,

yang membantu kesulitan belajar anak, memotivasi siswa agar selalu

14
semangat dalam belajar, menyediakan bahan pengajaran yang dibutuhkan

anak sehingga dapat memudahkan kegiatan pembelajaran. Guru sebagai

fasilitator juga harus dapat merancang lingkungan belajar yang

menyenangkan karena jika ruang belajar pengap, fasilitas belajar kurang

tersedia, dan berantakan menyebabkan anak jadi didik malas belajar. Guru

sebagai fasilitator hendak mampunya mengusahakan sumber belajar yang

kiranya berguna serta dapat menunjang pencapaiaan pembelajaran.

Tugas pokok guru sebagai eorang fasilitator yaitu:

1. Memotivasi siswa

2. Membantu siswa

3. Membimbing siswa dalam proses pembelajaran di dalam dan di luar kelas

4. Menggunakan strategi dan metode pembelajaran yang sesuai

5. Menggunakan pernyataan yang merangsang siswa untuk belajar

6. Menyediakan bahan pengajaran

7. Mendorong siswa untuk mencari bahan ajar

8. Menggunakan ganjaran dan hukuman sebagai alat pendidikan

9. Mewujudkan disiplin.

c) Guru sebagai pembimbing

Guru memiliki peran sebagai pembimbing yang memberikan petunjuk atau

bimbingan pada anak, memberikan latihan, membantu anak dalam

menemukan bakat dan minatnya. Tanpa bimbingan dari guru anak akan

mengalami kesulitan dalam menghadapi perkembngan yang ada pada

dirinya. Anak yang kurang dalam bimbingan akan banyak bergantung pada

15
orang lain dan tidak memiliki kepribadian yang dewasa. Jadi, bimbingan

sangat diperlukan anak saat berada di dalam maupun di luar sekolah.

d) Guru sebagai inovator

Guru memiliki kemampuan dan keterampilan dalam penggunaan strategi

dan metode mengajar, mampu menemukan strategi pembelajaran yang

efektif, dan mampu menerapkannya dalam pembelajaran. Guru berfungsi

sebagai pengembang nilai mutu yang sangat perlu dikembangkan perseta

didik karena pembelajaran tanpa nilai akan mengurangi esensi dari

pendidikan itu sendiri.

e) Guru sebagai penilai

Dalam hal ini gur berperan dalam penyusunan tes dalam penilaian, gur

melaksanakan penilaian terhadap anak secara objektif, mengadakan

remedial jika anak memiliki nilai di bawah rata – rata dan mengdakan

pengayaan bpembelajaran secara struktur.

2.2 Kecerdasan Interpersonal


2.2.1 Pengertian kecerdasan Interpersonal

Kecerdasan Interpersonal dikenal juga dengan kecerdasan sosial. Gardner

juga mengatakan kecerdasan Interpersonal atau kecerdasan sosial adalah

kemampuan dalam bersosialisasi, dan bagian dari Multiple Intelligence.

Armstrong mendefinisikan kecerdasan interpersonal sebagai kemampuan

16
mempersepsi dan membedakan suasana hati, maksud, motivasi, serta perasan

orang lain, serta kemampuan memberikan respon secara tepat terhadap suasana

hati, tempramen, motivasi, dan keinginan orang lain. Komponen inti yang lain

adalah kemampuan bekerja sama. Sedangkan komponen lainnya adalah kepekaan

dan kemampuan menangkap perbedaan yang sangat halus terhadap maksud,

motivasi, suasana hati, perasaan, dan gagasan orang lain (Nisya, 2020).

Mereka yang memiliki kecerdasan interpersonal sangat memperhatikan

orang lain, memiliki kepekaan yang tinggi terhadap ekspresi wajah, suara, dan

gerak isyarat. Mereka juga mampu membedakan berbagai macam perasaan,

seperti rasa kesedihan, isyarat di dengarkan, keinginan untuk di hargai. Individu

yang cerdas dalam interpersonal juga memiliki kemampuan menanggapi secara

efektif. Dengan kata lain kecerdasan interpersonal melibatkan banyak kecakapan,

yakni kemampuan berempati kepada orang lain, kemampuan mengenali dan

merasakan perasaan orang lain, kemampuan dalam berteman.

Anak usia dini, merupakan individu dengan kategori usia anak 5 - 6 tahun.

Masa - masa ini diketahui sebagai masa paling berpotensi bagi seorang anak, masa

dimana anak begitu cepat menyerap informasi, menyerap pembelajaran dan

pengalaman dari sensori dan berbagai panca indra yang dimilikinya. Anak sedari

lahir perlu mendapat rangsangan sejak dalam rahim, karena anak sudah mampu

menerima stimulus yang diberikan Ibunya. Kecerdasan Interpersonal harus

dirangsang pada anak dengan usia 5 - 6 tahun, karena di saat ini, dimana terjadi

pada anak-anak, yang lebih nyaman sendiri, tidak mau bersosialisasi. Indikator

berkurangnya kualitas kecerdasan interpersonal pada anak umur tersebut, terlihat

17
dari sifat dan karakternya saat ini, yang terlihat lebih pasif, susah berhubungan

dengan teman seusianya, bahkan mempunyai ketakutan tersendiri saat

ditinggalkan dalam lingkungan baru. Hal ini, pada umumnya disebabkan oleh

kesibukan orang tua yang seharusnya mendampingi, memberi pengalaman untuk

menumbuhkan sikap simpati, empati dan komunikatif pada [Link] itu orang

tua lebih merasa senang jika anaknya tenang. Sehingga tanpa disadari, potensi

awal yang harusnya terasah menjadi lebih tersembunyi. Hal itu juga membuat

anak kehilangan karakteristiknya. Dari penjelasan diatas dapat terlihat

permasalahan kurangnya pengembangan kemampuan bersosialiasai pada anak

dibawah usia 7 tahun saat ini. Karena itu rangsangan dari usia dini dapat

dilakukan sejak anak berusia 5 - 6 tahun. Pendidikan anak usia dini merupakan

upaya untuk melakukan rangsangan, latihan untuk melakukan peningkatan standar

aspek perkembangan dasar, yaitu, aspek pengembangan sosial emosional, aspek

pengembangan bahasa, aspek pengembangan kognitif dan fisik motorik. Agar

lebih terencana dan terarah, maka dibentuklah suatu wadah pendidikan, yaitu

pendidikan Anak Usia Dini.

Berikut ini adalah tingkat pencampaian perkembangan kecerdasan

Interpersonal anak usia 5 - 6 tahun, menurut Amstrong:

Tabel 2.1
Indikator tingkat pencapaiaan perkembangan kecerdasan interpersonal
anak usia 5-6 tahun.
Pencapaian Perkembangan Indikator

Kecerdasan Interpersonal a. Kemampuan bekerja sama


b. Kemampuan berempati pada

18
orang lain
c. Kemampuan mengorganisasi
sekelompok orang menuju suatu
tujuan bersama
d. Kemampuan mengenali dan
membaca pikiran orang lain
e. Kemampuan berteman atau
menjalin kontak

Dari beberapa pendapat para pakar di atas maka dapat penulis simpulkan

bahwa kecerdasan dalam interpersonal adalah kemampuan untuk berhubungan

dengan orang-orang sekitar, yaitu mampu berempati dan toleransi serta kerja sama

secara baik dengan orang lain, mengembangkan hubungan yang harmonis dengan

orang lain. Dalam hal ini penulis lebih menekankan kepada indikator yang

dikemukakan oleh Amstrong dikarenakan terdapat beberapa indikator yang sesuai

dengan permasalahan yang akan penulis lakukan. Pada penelitian ini, peneliti

mengambil teori kecerdasan interpersonal menurut Armstrong karena lebih mudah

bagi peneliti untuk memahami bahasanya dan sesuai dengan permasalahan yang

ada di Taman Kanak-Kanak Bunga Tanjung Desa Sembubuk kabupaten Muaro

Jambi.

2.2.2 Manfaat pengembangan Kecerdasan Interpersonal Pada Anak Usia


Dini.

Menurut Anggraini Yesi (2018) Adapun manfaat dari kecerdasan

interpersonal untuk anak usia dini adalah sebagai berikut:

1. Mengasah kepekaan empati dan simpati

19
Simpati adalah keikutsertaan merasakan perasaan orang lain dalam

menaruh belas kasih pada sesama. Empati adalah keadaan mental yang

mana membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam

keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang lain atau

kelompok orang. Empati dan simpati perlu di rangsang sejak dini agar

anak dapat belajar mengenali setiap perasaan, maksud, dan motivasi

orang lain, yang pada akhirnya kelak ia dapat menangkap perasaan,

maksud, atau merespon karena anak memiliki informasi yang tepat

tentang stimulusnya.

2. Bekerja sama

Bekerja sama diwujudkan dalam bentuk kegiatan yang dilakukan oleh

dua anak atau lebih. Kegiatan tersebut mengacu pada aktivitas

menyelesaikan suatu pekerjaan secara bersama-sama. Hal yang

termasuk dalam kegiatan bekerja sama adalah selang bambu, pasar-

pasaran kondektur-kondekturan dan lain sebagainya.

3. Berbagi rasa

Berbagi rasa merupakan salah satu indikator kecerdasan Interpersonal

yang melibatkan kemampuan bersosialisasi dan berinteraksi dengan

orang lain. Berbagi rasa dapat dirangsang dengan kegiatan yang

mengharuskan anak berinteraksi dengan sebayanya. Kegiatan yang

dimaksud antara lain menceritakan pengalaman dan lain sebagainya.

4. Menjalin kontak

20
Kemampuan menjalin kontak menunjukkan kecerdasan Interpersonal

yang tinggi. Anak-anak pun perlu didorong untuk memiliki keberanian

dan kemampuan untuk menjalin kontak dan membina hubungan baaik

dengan orang-orang baru. Menjalin kontak dapat dilakukan dengan

berbagai cara. Anda perlu membiasakan anak-anak mendengar dan

melihat perilaku menjalin kontak melalui kegiatan langsung dan

kegiatan artifisial (dibuat) seperti memuji dan memberi salam.

5. Memotivasi orang lain

Anak-anak dengan kecerdasan Interpersonal yang kuat pandai

memotivasi orang lain. Mereka dapat membaca suasana hati dan

kesulitan orang lain, lalu memberikan tanggapan yang tepat berupa

kata-kata yang membangkitkan hati. Terhadap sesuatu kegiatan,

mereka juga tampil membangkitkan hati. Terhadap suatu kegiatan,

mereka juga tampil sebagai pendorong semangat. Anak-anak

dirangsang agar memiliki kemampuan memotivasi orang lain. Oleh

karena itu, perlu dibuat permainan atau kegiatan yang membangkitkan

kemampuan anak salah satunya dengan metode bermain peran.

Dari berbagai manfaat diatas, itulah mengapa pentingnya kecerdasan interpersonal

perlu di kembangkan.

2.2.3 Unsur Kecrdasan Interpersonal

Andarson dalam Nisya (2020) mengemukakan bahwa kecerdasan

interpersonal mempunyai tiga unsur utama. Yang mana ketiga unsur tersebut

21
merupakan suatu kesatuan yang utuh serta ketiganya saling mengisi satu sama

lainnya.

a. Social sensitivity

 Kemampuan untuk merasakan dan mengamati reaksi-reaksi atau

perubahan orang lain yang di tunjukkannya baik secara verbal

maupun non verbal. Anak yang memiliki sensivitas yang tinggi akan

mudah memahami dan menyadari adanya reaksi-reaksi tertentu dari

orang lain, entah reaksi tersebut positif maupun negative.

 Sikap empati Empati adalah pemahaman kita tentang orang lain

berdasarkan sudut pandang, persepektif, kebutuhan-kebutuhan,

pengalaman-pengalaman orang tersebut. Oleh sebab itu sikap empati

sangat di butuhkan di dalam proses bersosialisasi agar tercipta suatu

hubungan yang saling menguntukan dan bermakna.

 Sikap prososial Prososial adalah tindakan moral yang harus di

lakukan secara kultural seperti berbagi, membantu seseorang yang

membutuhkan, bekerja sama dengan orang lain dan mengungkapkan

simpati.

b. Social insight

Kemampuan seseorang untuk memahami dan mencari pemecahan masalah

yang efektif dalam satu interaksi sosial sehingga masalah tersebut tidak

menghambat apalagi menghancurkan relasi sosial yang telah di bangun. Di

dalamnyajuga terdapat kemampuan dalam memahami situsasi sosial dan etika

22
sosial sehingga anak mampu menyesuaikan dirinya dengan situasi tersebut.

Pondasi dasar dari social insight ini adalah berkembangnya kesadaran diri anak

secara baik. . Kesadaran diri yang berkembangan ini akan membuat anak mampu

memahami keadaan dirinya, baik keadaan internal maupun eksternal seperti

menyadari emosi-emosinya yang sedang muncul, atau menyadari penampilan cara

berpakaiannya sendiri, cara bicaranya dan intonasi suaranya.

c. Social communication

Pengusaha keterampilan komunikasi sosial merupakan kemampuan individu

untuk menggunakan proses komunikasi dalam menjalin dan membangun

hubungan interpersonal yang sehat. Dalam proses menciptakan, membangun dan

mempertahankan relasi sosial, maka seseorang membutuhkan sarannya. Tentu saja

saran yang di gunakan adalah melalui proses komunikasi, yang mencakup baik

komunikasi verbal, non verbal maupun komunikasi melalui penampilan fisik.

Keterampilan komunikasi yang harus di kuasi adalah keterampilan mendengar

efektif, keterampilan berbicara efektif, keterampilan publik speaking dan

keterampilan menulis secara efektif. Komunikasi efektif Komunikasi merupakan

saranah yang paling penting dalam kehidupan manusia. Komunikasi harus

dimiliki seseorang yang menginginkan kesuksesan dalam hidupnya. Ada empat

keterampilan komusikasi dasar yang perlu di latih, yaitu memberikan umpan

balik, mengungkapkan perasaan, mendukung dan menanggapi orang lain serta

menerima diri dan orang lain. Mendengarkan efektif Salah satu keterampilan

komunikasi adalah keterampilan mendengarkan. Mendengarkan membutuhkan

perhatian dan sikap empati, sehingga orang merasa di mengerti dan di hargai.

23
2.2.4 Karakter Individu Yang Memiliki Kecerdasan Interpersonal

Individu yang memiliki kecerdasan interpersonal yang tinggi, tentunya

memiliki karakteristik-karakteristik yang berbeda dengan individu yang tidak

memiliki kecerdasan interpersonal dalam buku interpersonal intellengence,

Safaria dalam Nisya (2020) menyebutkan karakteristik anak yang memilik

kecerdasam interpersonal yang tinggi :

1) Mampu mengembangkan dan menciptakan relasi sosial baru secara efektif

2) Mampu berempati dengan orang lain atau memahami orang lain secara

total.

3) Mampu mempertahankan relasi sosialnya secara efektif sehingga tidak

musnah dimakan waktu dan senantiasa berkembang semakin

intim/mendalam/penuh makna.

4) Mampu menyadari komunikasi verbal maupun non verbal yang di

munculkan orang lain, atau dengan kata lain sensitif terhadap perubahan

social.

5) Mampu memcahkan masalah yang terjadi dalam relasi sosialnya dengan

pendekatan win-win solution serta yang paling penting adalah mencegah

munculnya masalah dalam relasi sosialnya

6) Memiliki keterampilan komunikasi yang mencakup keterampilan

mendengarkan efektif, berbicara efektif dan menulis secara efektif.

Termasuk di dalamnya mampu menampilkan fisik yang sesuai dengan

tuntunan lingkungan sosialnya.

24
Dengan demikian dari penjelasan tentang pengertian, unsur, dan

karakteristik mengenai kecerdasan interpersonal anak metode yang akan

dipilih oleh penulis adalah metode yang dapat menggerakan anak untuk

meningkatkan kemampuan bekerjasama,berempati dengan orang lain dan

kemampuan berteman atau menjalin kontak. Dengan demikian penulis tertarik

untuk memilih Metode Bermain Peran dalam penelitian. Metode bermain

peran adalah salah satu metode yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran

di Taman Kanak-Kanak Bunga Tanjung Desa Sembubuk kabupaten Muaro

Jambi.

2.3 Metode Bermain Peran

Metode bermain adalah pendekatan atau strategi yang menggunakan

permainan sebagai sarana utama dalam proses pembelajaran. Metode ini

mengintegrasikan unsur-unsur permainan ke dalam konteks pembelajaran untuk

meningkatkan keterlibatan, motivasi, dan partisipasi peserta didik. menurut Scott

G. Eberle bahwa bermain memiliki unsur humor, keterampilan, kepura-puraan,

fantasi, kontes, dan perayaan yang semuanya merupakan simulasi selektif dari

variabilitas paradox. Bermain terdiri atas tanggapan yang diulang sekedar untuk

kesenangan fungsional. Anak tidak hanya memperoleh kesenangan melainkan

juga memperoleh keterampilan sosial. Oleh karena itu, kegiatan bermain tidak

dapat lepas dari kegiatan anak. Bermain akan memunculkan rasa senang, dan

gembira pada anak. Bermain merupakan hakikat yang tidak dapat terlepas dengan

anak. Terdapat beberapa tahapan bermain yaitu bermain sensorimotor, bermain

25
peran, dan bermain dengan aturan. Dari ketiga tahapan tersebut permainan yang

tepat untuk diberikan pada anak usia 5-6 tahun yaitu bermain peran.

Bermain peran merupakan bermain yang menggunakan imajinasi atau daya

khayal dengan memakai bahasa atau berpura-pura seolah bertingkah laku seperti

benda, situasi, dan bidang tertentu yang di dunia nyata tidak pernah dilakukan.

Oleh karena itu, bermain peran melibatkan dunia khayal anak. Metode ini sangat

cocok diterapkan pada pendidikan anak usia dini karena daya khayal atau

imajinasi anak masih baik untuk dikembangkan. Sama dengan pendapat

sebelumnya, Ramiati dkk (2020) menjelaskan bahwa metode bermain peran

merupakan metode pembelajaran melalui pengembangan imajinasi dan

penghayatan peserta didik dengan cara memerankan tokoh. Dalam konteks

pengembangan kecerdasan anak melalui metode bermain peran, metode bermain

peran digunakan sebagai pendekatan utama. Metode ini melibatkan anak-anak

dalam permainan atau situasi peran tertentu, di mana mereka dapat berinteraksi

dengan lingkungan dan orang lain dengan cara yang menggambarkan kehidupan

nyata.

Metode bermain peran melibatkan anak-anak dalam peran atau karakter

tertentu, di mana mereka dapat berpikir, merasakan, dan bertindak seperti karakter

tersebut. Dalam proses ini, anak-anak dapat mengembangkan pemahaman yang

lebih mendalam tentang diri mereka sendiri, orang lain, dan dunia di sekitar

mereka. Metode bermain peran juga dapat membantu anak-anak mengembangkan

empati, kemampuan berkomunikasi, kreativitas, dan pemecahan masalah.

26
Metode bermain peran biasanya melibatkan aktivitas seperti permainan peran,

drama, teater, atau simulasi. Anak-anak dapat memerankan berbagai peran, seperti

tokoh dalam cerita, anggota keluarga, pekerja, atau anggota masyarakat. Melalui

permainan peran ini, mereka dapat mengalami situasi dan konflik yang berbeda,

serta belajar untuk menghadapinya dengan cara yang konstruktif. Metode bermain

peran juga dapat melibatkan penggunaan bahan dan atribut yang mendukung

peran yang dimainkan anak-anak, seperti kostum, mainan, atau alat peraga.

Dengan menggunakan bahan dan atribut tersebut, anak-anak dapat lebih terlibat

secara fisik dan emosional dalam permainan peran mereka.

Penting untuk mencatat bahwa metode bermain peran harus didukung oleh

fasilitator atau pengajar yang memahami tujuan pengembangan kecerdasan anak.

Fasilitator perlu memberikan panduan, refleksi, dan bimbingan untuk membantu

anak-anak memahami dan mengintegrasikan pengalaman permainan peran ke

dalam kehidupan sehari-hari mereka.

2.3.1 Tujuan Bermain Peran

Dalam pengembangan kecerdasan anak, Metode bermain peran merupakan

salah satu pendekatan yang efektif dalam meningkatkan kecerdasan anak.

Bermain peran melibatkan imajinasi anak, interaksi sosial, dan eksplorasi peran

dalam situasi yang relevan. Menurut Nana Sudjana (Kamilah, 2022), terdapat

beberapa tujuan dari bermain peran dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:

27
1. Melatih keterampilan tertentu, baik bersifat profesional maupun bagi

kehidupan sehari-hari.

2. Memperoleh pemahaman tentang suatu konsep atau prinsip, Melatih

memecahkan masalah.

3. Meningkatkan kegiatan belajar dengan melibatkan peserta didik dalam

mempelajari situasi yang hampir serupa dengan kejadian yang

sebenarnya. Memberikan motivasi belajar kepada peserta didik.

4. Melatih peserta didik untuk mengadakan kerja sama dalam situasi

kelompok. Menumbuhkan daya kreatif peserta didik.

5. Melatih peserta didik untuk mengembangkan sikap toleransi.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa bermain peran

adalah salah satu kegiatan yang memberikan kesempatan pada anak untuk bisa

berekspresi, bisa bekerjasama, menumbuhkan kreatifitas dan menumbuhkan sikap

toleransi.

2.3.2 Kelebihan dan Kekurangan Bermain Peran

Shoimin (dalam Utami, 2023) mengemukakan kelebihan dari bermain

peran yaitu:

1. Melalui kegiatan ini, anak dapat diajarkan untuk mengambil keputusan

dan berekspresi secara utuh.

2. Bermain peran merupakan permainan yang mudah dan dapat di gunakan

dalam situasi dan waktu yang berbeda,

3. Guru dapat mengevaluasi pengalaman melakukan permainan

28
4. Berkesan dengan kuat dan tahan lama dalam ingatan anak,

5. Sangat menarik bagi anak sehingga memungkinkan kelas menjadi dinamis

dan penuh antusias

6. Membangkitkan gairah dan semangat optimisme dalam diri anak serta

menumbuhkan rasa kebersamaan dan kesetiakawanan sosial yang tinggi,

7. Dapat menghayati peristiwa yang berlangsung dengan mudah dan dapat

memetik butir-butir hikmah yang terkandung didalamnya dengan

penghayatan anak sendiri.

8. Dimungkinkan dapat meningkatkan kemampuan profesionalisme anak,

dan dapat menumbuhkan atau membuka kesempatan bagi lapangan kerja.

Berdasarkan uraian pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa bermain

peran memiliki kelebihan yaitu anak mampu mengeluarkan ekspresi, dengan

seringnya berlatih bermain peran anak tanpa rasa takut akan terbiasa bisa

mengeluarkan ekspresinya dan materi yang disampaikan akan berkesan dengan

kuat karena anak melaksankannya dengan praktek.

2.3.3 Langkah-langkah bermain peran

Supaya kegiatan bermain peran berjalan lancar dan menjadi penampilan

yang mengesankan maka ada beberapa tahap langkah langkah yang harus di

laksanakan. Menurut Yuliani Nuraini dan Bambang Sujiono (Sari, 2022) langkah-

langkah bermain peran diantaranya sebagai berikut: Petunjuk pelaksanaan

bermain peran antara lain :

29
1. Guru mengumpulkan anak untuk diberi pengarahan dan aturan

dalam permainan.

2. Guru membicarakan alat-alat yang akan digunakan oleh anak-anak

untuk bermain.

3. Guru memberi pengarahan sebelum bermain dan mengabsen serta

menghitung jumlah anak bersama-sama.

4. Guru membagikan tugas kepada anak sebelum bermain menurut

kelompok, agar tidak berebut saat bermain.

5. Guru sudah menyiapkan alat sebelum anak [Link] dengan

diskusi kelas untuk mendiskusikan yang telah dimainkan secara

bersama-sama.

6. Guru hanya mengawasi anak dalam bermain, apabila dibutuhkan

anak/guru dapat membantu, guru tidak banyak bicara dan tidak banyak

membantu anak. menilai hasil bermain peran sebagai bahan pertimbangan

lebih lanjut.

Adanya kelemahan dalam metode bermain peran ini adalah:

1. Sebagai anak yang tidak ikut dalam bermain peran cendrung

menjadi kurang aktif.

2. Banyak memakan waktu, baik dari persiapan maupun pertunjukan

berlangsung.

3. Perlu dibangun imajinasi yang sama antara guru dan anak, dan hal

ini yang tidak mudah.

30
4. Sulit menghadirkan elemen situasi yang penting seperti yang

sebenarnya, misalnya suara hiruk-piruk, pasar, air terjun, ributnya

suara kemacetan lalulintas, tanpa bantuan pendukung, misalnya

rekaman suara.

5. Jalan cerita biasanya berlangsung singkat, karena kemungkinan

tidak adanya jalan cerita yang berkesinambungan adegan demi

adegan dapat berpotong potong sehingga tidak menapakkan suatu

jalan cerita yang utuh. Hal ini karena metode bermain peran lebih

menekan pada imajinasi, kreatifitas, inisiatif, dan spontanitas dari

anak sendiri.

Adapun beberapa cara untuk mengatasi kelemahan dalam bermain peran ini

adalah:

1. Guru harus menerangkan kepada anak, bahwasanya dengan

metode bermain peran ini diharapkan anak lebih trampil dalam

berbahasa karena guru menunjukan anak berkomunikasi dengan

anak yang lain.

2. Guru harus memilih masalah yang menarik minat anak.

3. Anak – anak dapat memahami peristiwa yang dilakukan, guru

harus bisa menceritakan sembari mengatur adegan pertama.

4. Materi pelajaran yang akan disampaikan harus sesuai dengan

waktu yang tersedia.

31
Dari beberapa kelebihan dan kekurangan metode bermain peran diatas dapat

disimpulkan bahwasanya segala sesuatu tidak ada yang sempurna, terpenting

bagaimana cara kita sebagai guru menyiasati suatu kekurangan menjadi kelebihan.

Dari penjelasan petunjuk pelaksanaan bermain peran dapat dilihat bahwa

anak yang belajar dengan menggunakan metode ini lebih banyak diberikan

kesempatan untuk berbicara, baik untuk menyampaikan peran yang diperankan

maupun pendapatnya saat berdiskusi. Metode bermain peran memiliki beberapa

manfaat, termasuk:

Peningkatan pemahaman dan empati: Bermain peran memungkinkan peserta

didik atau peserta belajar merasakan pengalaman langsung dan memahami

perspektif orang lain, sehingga meningkatkan empati dan pemahaman sosial.

1) Pengembangan keterampilan interpersonal: Dalam bermain peran, peserta

didik atau peserta belajar berlatih dalam berkomunikasi, bekerja sama,

bernegosiasi, atau mengatasi konflik, yang dapat meningkatkan

keterampilan interpersonal mereka.

2) Pengembangan pemecahan masalah: Bermain peran memungkinkan

peserta didik atau peserta belajar untuk menghadapi masalah atau

tantangan yang mungkin terjadi dalam situasi nyata. Ini membantu mereka

mengembangkan keterampilan pemecahan masalah dan pengambilan

keputusan.

Metode bermain peran melibatkan peserta didik atau peserta belajar secara

aktif dalam pembelajaran, yang dapat meningkatkan keterlibatan, minat, dan

32
keaktifan mereka dalam proses pembelajaran. Metode bermain peran digunakan

dalam berbagai konteks, termasuk pendidikan formal, pelatihan profesional,

pengembangan pribadi, dan terapi.

2.3.4 Study Relevan

Untuk menunjukkan penelitian yang dilakukan merupakan kajian atau

pengembangan dari penelitian sebelumnya, maka dapat di lihat adanya persamaan

dan perbedaan satu dengan yang lain. Adapun kajian penelitian yang relevan,

yaitu di antaranya :

Penelitian yang dilakukan oleh Ayu Anida Utami (2023) berjudul"

Pengaruh Metode Bermain Peran Terhadap Kecerdasan Interpersonal pada Anak

Kelompok B di Taman Kanak-kanak Aisyiyah Kota Enrekang" mengkaji

penggunaan metode bermain peran terhadap kecerdasan interpersonal anak.

Penelitian ini bertujuan untuk meneliti apakah bermain peran berdampak

signifikan pada kecerdasan interpersonal anak. Penelitian ini menggunakan

pendekatan kuantitatif dan jenis penelitian Pra Eksperimen. Hasil penelitian

menyimpulkan bahwa Metode Bermain Peran memiliki pengaruh yang signifikan

dalam meningkatkan kecerdasan interpersonal anak. Persamaan pada penelitian

ini dengan penelitian yang akan dilakukan adalah sama-sama membahas

meningkatkan kecerdasan interpersonal anak melalui metode bermain peran.

Namun, terdapat perbedaan dalam jenis penelitian yang digunakan. Penelitian ini

menggunakan kuantitatif, sementara peneliti menggunakan kualitatif.

33
Penelitian yang dilakukan oleh Nurdial, Ana Mujriyanti, Hamli Darni dan

Sariakin (2022) berjudul "Meningkatkan Kecerdasan Interpersonal Anak Melalui

Metode Bermain Peran Untuk Anak Usia 5-6 Tahun di TK" Kesimpulan dari

penelitian ini menggambarkan bahwa kecerdasan interpersonal anak melalui

metode bermain peran meningkat serta proses pembelajaran membuat suasana

belajar yang kondusif dan dapat memotivasi anak. Penelitian ini memiliki

persamaan dengan penelitian sebelumnya dalam mengkaji meningkatkan

kemampuan interpersonal anak pada usia 5-6 tahun melalui metode bermain

peran. Namun, terdapat perbedaan dalam judul penelitian yang digunakan.

Penelitian ini berfokus pada meningkatkan kecerdasan interpersonal, sedangkan

peneliti berfokus pada peran guru dalam mengembangkan kecerdasan

interpersonal anak.

Penelitian yang dilakukan oleh Nelly Levika Sari (2022)

berjudul"Penerapan Metode Bermain Peran Untuk Mengembangkan Kecerdasan

Interpersonal Anak Usia Dini di Taman Kanak-kanak Negeri Pembina Way Tuba

Kabupaten Way Kanan" membahas penerapan metode bermain peran untuk

mengembangkan kecerdasan Interpersonal anak pada usia 5-6 tahun. Penelitian ini

dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui perkembangan kecerdasan

interpersonal anak melalui bermain peran Penelitian ini menggunakan pendekatan

kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian studi khusus (case study research

disign). Meskipun penelitian ini memiliki persamaan dalam mengkaji penerapan

metode bermain peran untuk mengembangkan kecerdasan Interpersonal anak,

terdapat perbedaan dalam metode penelitian yang digunakan. Penelitian ini

34
menggunakan pendekatan kualitatif terapan, Sedangkan untuk penelitian kali ini

berfokus terhadap peran Guru dalam mengembangkan kecerdasan anak melalui

metode bermain peran menggunakan pendekatan kualitatif dekriftif. keunikan dari

penelitian ini adalah diharapkan dengan metode bermain peran ini Guru dapat

mengembangkan kecerdasan Interpersonal anak. Dari penelitian sebelumnya yang

dipaparkan diatas menunjukkan bahwa bermain peran memiliki pengaruh

terhadap perkembangan kecerdasan anak usia dini Sehingga bermain peran cocok

untuk diaplikasikan dalam kegiatan belajar di kelas.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat pelaksanaan penelitian ini dilakukan di Taman Kanak-Kanak


Bunga Tanjung yang berlokasi di Jl. Kemerdekaan, Desa Sembubuk, Kec. Jambi
Luar Kota, Kab. Muaro Jambi. Waktu yang digunakan peneliti untuk penelitian ini
3 kali pertemuan .

3.2 Pendekatan dan jenis penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan jenis pendekan

kualitatif. Menurut Sugiono (2019), penelitian kualitatif merupakan penelitian

yang digunakan untuk menyelidiki, menemukan, menggambarkan, dan

menjelaskan kualitas atau keistimewaan dari pengaruh sosial yang tidak dapat

dijelaskan, diukur atau digambarkan melalui pendekatan kuantitatif.

35
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, sebagai upaya untuk

memberikan jawaban atas permasalahan yang telah dibentangkan, karena sifatnya

menggunakan pendekatan analisis deskriptif. Dengan kata lain penelitian ini

berupaya menggambarkan, menguraikan suatu keadaan yang sedang berlangsung

berdasarkan fakta dan informasi yang diperoleh di Taman Kanak - Kanak Bunga

Tanjung Desa Sembubuk Kecamatan Jambi Luar Kota.

3.3 Data dan Sumber Data

A. Data Primer

Data Primer ialah jenis dan sumber data penelitian yang di peroleh secara

langsung oleh peneliti. Dalam penelitian ini sumber data utamanya ialah:

1) Siswa

Sumber data dari penelitian ini adalah siswa Taman Kanak-Kanak Bunga

Tanjung sebanyak 15 anak yang terdiri dari 9 perempuan dan 6 laki – laki.

Sumber data siswa di peroleh dari hasil observasi aktifitas siswa dan

keterampilan besosialisasi siswa.

2) Guru

Sumber data guru diperoleh dari hasil wawancara orang guru mengenai

aktivitas belajar siswa dan observasi dari keterampilan guru selama proses

pembelajaran.

3) Orang tua murid

Sumber data didapat dari hasil wawancara orang tua murid menggunakan

pedoman wawancara.

36
B. Data Sekunder

Data Sekunder merupakan sumber data suatu penelitian yang di peroleh

peneliti secara tidak langsung melalui media perantara (diperoleh atau dicatat oleh

pihak lain). Data sekunder itu berupa bukti,catatan atau laporan historis yang telah

tersusun dalam arsip atau data dokumenter.

3.4 Teknik Sampling

Jenis sample yang dipakai dalam penggunaan metode penelitian kualitatif

merupakan sampel yang kecil, tidak representative, purposive, serta berkembang

selama proses penelitian berlangsung. Pada penelitian ini penulis menggunakan

teknik sampling purposive sampling. Teknik purposive sampling merupakan

teknik pengambilan sampel dari populasi penelitian yang didasarkan atas ciri –

ciri dan suatu karakteristik tertentu untuk mencapai tujuan penelitian yang

dikehendaki oleh peneliti.

Objek kajian penelitian kualitatif sering bersifat kasuitik. Peneliti tidak

mementikan generalisasi. Oleh karena itu, sampel ditentukan secara purposive

(sengaja/dengan pertimbangan) sehingga sampel penelitian tidak perlu mewakili

populasi. Adapun pertimbangan penelitian sampel bukan berdasarkan pada aspek

keterwakilkan populasi didalam sampel. Pertimbangannya lebih pada kemampuan

sampel (informan) untuk memasok informasi selengkap mungkin.

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah metode atau pendekatan yang digunakan

untuk mengumpulkan informasi atau data yang diperlukan dalam suatu penelitian

atau studi. Pemilihan teknik pengumpulan data yang tepat sangat penting untuk

37
mendapatkan data yang relevan, akurat, dan dapat diandalkan. Berikut ini

beberapa teknik pengumpulan data umum yang sering digunakan:

1. Observasi: Teknik ini melibatkan pengamatan langsung terhadap

perilaku, kejadian, atau fenomena yang sedang diteliti. Observasi dapat

dilakukan dengan cara mengamati partisipan di lingkungan alami

(observasi terbuka) atau dengan memberikan situasi atau skenario

tertentu (observasi terstruktur). Jadi observasi merupakan metode

pengumpulan data yang dilakukan melalui pengamatan langsung oleh

peneliti. Penulis melakukan pengamatan langsung ke Taman Kanak-

Kanak Bunga Tanjung di Desa Sembubuk Muaro Jambi.

2. Wawancara: Wawancara melibatkan interaksi langsung antara peneliti

dan responden, dengan tujuan untuk mendapatkan informasi secara

verbal. Wawancara dapat dilakukan secara tatap muka (wawancara

langsung) atau melalui telepon atau media komunikasi lainnya

(wawancara jarak jauh). Wawancara dapat bersifat terstruktur

(pertanyaan yang telah ditentukan sebelumnya) atau tidak terstruktur

(pertanyaan yang lebih fleksibel dan terbuka). Wawancara yang

digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara secara langsung,

dalam proses pengambilan pengambilan data dilakukan secara bertatap

muka antar pewawancara dan informan. Wawancara yang akan

dilakukan secara langsung oleh kepala sekolah dan guru-guru di

Taman Kanak-Kanak Bunga Tanjung Desa Sembubuk Muaro Jambi.

38
3. Dokumentasi: Teknik ini melibatkan analisis dan pengumpulan data

dari dokumen-dokumen yang relevan, seperti laporan, foto, catatan,

arsip, atau dokumen resmi, dan sebagainya. Metode dokumentasi ini

digunakan untuk melengkapi data-data yang diperlukan terkait peran

Guru dalam mengembangkan kecerdasan anak melalui metode

bermain peran di Taman Kanak-Kanak Bunga Tanjung Desa

Sembubuk Muaro Jambi.

4. Tringgulasi

Tringgulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat

menggambungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber

data yang telah ada. Pada tahap ini dilakukan kegiatan

membandingkan hasil observasi dengan hasil wawancara yang

berkaitan dengan metode bermain peran dalam meningkatkan

kecerdasan interpersonal anak.

3.6 Uji Validitas Data

Validitas data pada penelitian ini bertujuan agar hasil penelitian dapat

dipertanggung jawabkan keabsahannya melalui beberapa proses pemeriksaan

tertentu. Penelitian ini, menggunakan tringgulasi sumber untuk memeriksa

keabsahan data. Tringgulasi yaitu membandingkan dan mengecek balik informasi

yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif.

Penelitian ini didapat dengan cara membandingkan data hasil pengamatan dengan

hasil wawancara

39
3.6 Teknik Analisis Data

Menurut Sugiyono (2019), analisis data merupakan proses mengumpulkan

data secara sistematis data yang diperoleh dari observasi, wawancara, dan

dokumentasi yaitu dengan menyeleksi data-data penting sehingga dapat menarik

kesimpulan upaya menjadi mudah bagi diri sendiri dan orang lain. Analisis data

dalam penelitian ini disusun dari hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi

sehingga hasil penelitian yang akan diinformasikan kepada orang lain memiliki

nilai kebenaran yang harus diverifikasi selama penelitian berlangsung sehingga

tercapai kesimpulan akhir.

3.7 Prosedur penelitian

Penelitian ini dilakukan selama dua bulan, penelitian dilakukan dengan

pembuatan proposal, kemudian dilanjutkan dengan seminar proposal dan

perbaikan hasil seminar proposal skripsi. Setelah pengesahan judul dan izin riset,

maka penulis mengadakan pengumpulan data, verifikasi dan analisis data dalam

waktu yang berurutan. Hasilnya penulis melakukan konsultasi dengan

pembimbing sebelum diajukan kepada sidang munaqasah. Hasil sidang

munaqasah dilanjutkat dengan perbaikan dan penggadaan laporan penelitian

skripsi. Adapun jadwal penelitian dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Table 3.1
Jadwal Pelaksanaan Penelitian

Bulan/ Minggu
Tahun 2024
No Kegiatan Penelitian
Mei Juli Juni

40
. 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

1 Penyusunan Proposal 

2 Penunjukan dosen 
pembimbin

3 Konsultasi dan perbaikan  


proposal
4 Seminar 

5 Pengesahan judul dan izin 


riset
6 Pengumpulan dan   
penyusunan data
7 Analisis dan penyusunan  
draf
8 Penyempurnaa dan
pengadaan
9 Ujian skripsi

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


4.1 Deskripsi Lokasi
Lokasi penelitian ini bertempat di Tempat pelaksanaan penelitian ini

dilakukan di Taman Kanak-Kanak Bunga Tanjung yang berlokasi di Jl.

Kemerdekaan, Desa Sembubuk, Kec. Jambi Luar Kota, Kab. Muaro Jambi, yang

mana tempatnya sangat strategis untuk dilakukan penelitian dapat dilaksanakan

maka untuk mengenal secara garis besar tentang keadaan Taman Kanak-Kanak

Bunga Tanjung dikemukakan beberapa data sebagai berikut:

1. Identitas Lembaga

41
Taman Kanak-Kanak Bunga Tanjung merupakan TK swasta yang berdiri

pada tahun 2011 dengan SK pendiriannya berupa akta nomor 01 tanggal 5 Juli

2011, SK Izin Operasional nomor 503 tahun 2020 tanggal 11 November dan

NPSN 69859612.

2. Visi dan Misi

a. Visi

Visi Taman Kanak – Kanak Bunga Tanjung yaitu “Membentuk Anak yang

Cerdas, Ceria, Mandiri dan Berakhlakqul Karimah”.

b. Misi

1) Meningkatkan kecerdasan anak melalui kegiatan bermain sambil belajar

2) Menyimpan generasi yang mandiri, kreatif, dan inovatif

3) Menyiapkan anak didik agar memiliki akhlak sesuai dengan aqidah islam

3. Tujuan

Tujuan Taman Kanak – Kanak Bunga Tanjung yaitu “Mewujudkan generasi

cerdas yang memiliki akhlak mulia, disiplin, mandiri, inovatif, kreatif agar dapat

masuk dan bersaing dijenjang pendidikan selanjutnya”

4. Tenaga Pendidik dan Kependidikan

Table 4.1

Daftar Tenaga Pendidik dan Kependidikan

No Nama L/P Jabatan Pendidikan


1 Ermawati, [Link] P Kepala S.1 PAUD

42
2 Hindriyani, [Link] P Guru kelas S.1 PAUD
3 Meri Yundari, [Link] P Guru /Sekretaris SI
4 Restu Pratama Mati P Guru /Bendahara SMA

5. Perserta Didik
Table 4.2

Jumlah Perserta Didik Tahun Ajaran 2023/2024

Kelompok Jumlah
A 10
B1 15
B2 15
Total 40

6. Data Sarana dan Prasarana

Table 4.3

Daftar Sarana dan Prasarana

No Sarana Jumlah Kondisi


1 Ruang Kelas 3 B
2 WC 2 B
3 Loker 3 B
4 Meja 10 B
5 Rak Sepatu 3 B
6 Ayunan 2 B

43
7 Jungkitan 1 B
8 Peluncuran 1 B
9 Terowongan 1 B

7. Jumlah Kelompok Belajar

Jumlah rombel keseluruhan yaitu sebanyak 3 rombel, terdiri dari:

1) Kelompok A usia 4-5 tahun : 1 rombel

2) Kelompok B usia 5-6 tahun : 2 rombel

8. Jadwal Belajar

Jadwal belajar di Taman Kanak-Kanak Bunga Tanjung dalam satu minggu yaitu

sebanyak 6 hari, mulai hari Senin sampai hari Sabtu.

4.2 Temuan Penelitan dan pembahasan


Sebagaimana telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa untuk

menganalisis data yang terkumpul, baik itu wawancara maupun observasi yang

penulis lakukan, maka penulis akan menganalisis dengan sistem deskriptif

kualitatif. Deskriptif kualitatif yaitu dengan menjelaskan secara rinci data – data

tersebut, alasan digunakan sistem kualitatif karena peneliti tidak melakukan

pengetesan atau pengujian, melainkan berusaha menelusri, memahami,

menjelaskan gejala, kaitan hubungan antara segala sesuatu yang diteliti.

Untuk menganalisis permasalahan ini, maka penulis akan

menghubungkan dengan hasil observasi dan wawancara yang didapat pada saat

44
melakukan penelitian di lapangan, yaitu “Peran guru dalam mengembangkan

kecerdasan interpersonal anak usia 5-6 tahun melalui metode bermain peran di

Taman Kanak – Kanak Bunga Tanjung”

1. Bagaimana peran guru dalam mengembangkan kecerdasan

interpersonal anak usia 5–6 tahun melalui metode bermain peran di Taman

Kanak-Kanak Bunga Tanjung

Berdasarkan teori yang dikemukakan pada bab II, maka peneliti akan

memaparkan bagaimana peran guru sebagai pendidik, pembimbing, fasilitator,

inovator, dan penilai. Dalam buku Kamruddin Haji Husin, artinya guru memiliki

peranan penting dalam mengembangkan kecerdasan interpersonal anak.

Kecerdasan interpersonal sama hal nya dengan kemampuan anak bersosialisasi

dengan dengan baik terhadap orang di sekitarnya anak dapat kerja sama dan

memahami perasaan temannya dan memberikan respon yang baik. Kecerdasan

interpersoanl anak akan dapat berkembang dengan sangat baik apa bila sebagai

seorang guru dapat melakukan peranannya dengan optimal kepada anak didiknya.

Dalam wawancara penulis dengan ibu Hidriyani selaku guru kelas B yang

berisikan 15 anak dengan usia 5-6 tahun, tentang mengembangkan kecerdasan

interpesonal anak di Taman Kanak-Kanak Bunga Tanjung mengungkapkan

bahwa:

“dalam kecerdasan interpersonal, ada sekitar 5 anak yang masih malu dan

sulit untuk berinteraksi dengan baik terhadap temannya, kadang diaat anak – anak

yang lain bermain bersama temannya mereka lebih memilih menyendiri dan tidak

45
tertarik bergabung saat bermai dan 10 anak lainnya sudah bagus dalam

bersosialisasi dan menunjukan perasaan mereka secara terbuka.”

Hal yang sama dikatakan oleh orang tua ketika penulis melakukan

wawancara terkait kecerdasan interpersonal anak atau perkembangan sosial

mereka sebagai berikut:

“saat ini perkembangan sosial anak lumayan dikatakan kurang terutama

dalam mengekspresikan diri mereka dan acuh terhadap sekitar, kecuali ketika

mereka ditanyakan terlebih dahulu apa yang terjadi disekolah atau apa saja yang

mereka lalui dan itu pun hanya menjawab sekedarnya saja.”

Dapat dilihat dalam wawancara diatas dapat dipahami bahwa masih ada

beberapa anak yang kurang dalam kecerdasan interpersonal mereka, hal ini nanti

akan menjadi kesulitan tersendiri bagi anak untuk memahami keadaan sekitar dan

dan menjalin pertemanan.

Mengembangkan kecerdasan interpersonal anak dapat dilakukan melalui

stimulus yang diberikan oleh guru, orang tua, dan lingkungan sekitar anak. Dalam

tujuan untuk mengembangkan kecerdasan interpersonal anak, maka yang perlu

dilakukan oleh guru adalah melakukan metode pembelajaran yang melibatkan

anak untuk berinteraksi dengan temannya, melakukan kegiatan yang

menyenangkan dan menimbulkan rasa penasaran dalam diri anak.

Penulis mewawancarai guru terkait metode pembelajaran dan media

pembelajaran apa yang diterapkan guru dalam mengembangkan kecerdasan

interpersonal anak, dimana guru tersebut mengatakan:

46
“Metode yang digunakan selama ini yaitu metode bercerita dan tanya

jawa sehingga anak dapat mengerti dan merasakan cerita yang dibacakan oleh

guru, lalu setelah meceritakan kepada anak guru akan menanya apa mereka

memiliki pengalam yang sama terhadap cerita yang mereka dengar. Guru juga

memperhatikan bagai mana anak menceritakan pengalaman mereka terhadap

temannya, kadang guru juga menyuruh anak untuk menggambar dan

menceritakan apa yang mereka gambar.”

Dari wawancara diatas dapat dipahami bahwa metode pembelajaran yang

digunakan guru kurang dalam mengembangkan kecerdasan interpersonal anak.

Penulis juga sudah melakukan observasi proses pembelajaran di kelas dan hal

tersebut senada dengan hasil wawancara dimana metode pembelajaran yang

digunakan yaitu metode bercerita.

Penulis juga menanyakan kepada guru mengenai pernah atau tidak

dilakukannya penerapan metode bermain peran serta bagaimana penerapannya

dan guru tersebut mengungkapkan bahawa:

“Untuk menggunakan metode bermain peran belum pernah diterapkan.

Disekolah hanya menerapkan metode bercerita lalu akan melakukan tanya jawab

atau menyuruh anak untuk menceritakan pengalaman menyenangkan yang pernah

mereka alami, tapi kebanyakan dari mereka masih malu untuk mengekspresikan

diri mereka.”

Dari hasil wawancara tersebut terungkap bahwa belum pernahnya

dilakukan penerapan metode bermain peran di Taman Kanak – Kanak Bunga

47
Tanjung. Salah satu strategi yang dapat dilakukan guru untuk mengoptimalkan

kecerdasan interpersonal anak usia 5 – 6 tahun agar anak mampu berkerja sama

dengan temannya, menaati peraturan, saling tolong menolong, mau berbagi

kepada temannya, dan mampu menghargai atau menghormati orang sekitarnya

adalah dengan memberikan stimulasi melalui metode bermain peran, karena

melalui kegiatan bermain peran anak dapat menyimak aturan bermain peran.

Setelah mendengarkan arahan dari guru, anak akan memperaktekan apa yang

sudah dijelaskan guru selanjutnya anak akan secara langsung berinteraksi kepada

temannya dan berkerja sama untuk mengikuti aturan permainan yang sudah

dirancang oleh guru. Selanjutnya anak akan mendapatkan proses dalam

perkembangan sosial mereka melalui kegiatan bermain peran dengan berinteraksi

langsung pada temannya agar dapat sesuai dengan arahan yang dijelaskan oleh

guru sebelum permainan dimulai.

Metode bermain peran agar anak lebih mengerti nilai – nilai terkandung

dalam materi kegiatan bermain peran, guru mendiskusikan ataupun mengulas

kembali tentang kegiatan bermain peran dengan melakukan tanya jawab, seperti

misalnya ada teman atau saudara yang sakit sebaiknya apa yang harus kita

lakukan, jika lampu merah saat dijalan kita harus berhenti, mampu mengantri saat

saat belum gilirannya. Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian yang dilakukan

oleh Ayu Anida Utami (2023) bahwa tedapat pengaruh yang signifikan pada

metode bermain peran dalam meningkatkan kecerdasan interpersonal anak.

Kegiatan bermain peran bagai suasana yang baru untuk anak, kegiatan bermain

peran yang diterapkan pada anak usia dini menjadi lebih menarik dan menjadi

48
kesan tersendiri pada anak dengan bermain peran melalui tema yang sudah

ditentukan oleh guru.

Hal ini disebabkan karena anak usia dini pada umumnya akan merasa

cepat jenuh dan sulit berkonsentrasi jika tidak diberikan hak – hal yang menarik.

Anak akan dapat lebih mudah mengerti karena tidak hanya sekedar melihat dan

mendengar tapi mera yang secara langsung melakukan kegiatan tersebut.

Bermain peran dengan tema yang sudah dirancang oleh guru sebagai

acuan pembelajaran untuk anak usia dini bisa menjadi pilihan untuk para guru.

Guru menyediakan atau memberikan fasilitas alat keperluan dalam bermain peran

sesuai dengan tema dan menyediakan beberapa macam alat alat pendukung

lainnya, selanjutnya guru akan menjelaskan dan mencontohkan pada anak lalu

memberikan aturan yang jelas pada meraka sebelum melakukan kegiatan bermain

peran dan guru hanya mengawasi selama proses kegitan bermain sedang

berlangsung.

Dengan demikian fungsi metode bermain peran untuk anak usia 5 – 6

tahun sebagai upaya guru untuk mengembangkan kecerdasan interpersonal anak,

dapat dirasakan dari metode ini adalah melatih konsentrasi dan daya tangkap,

kemampuan dalam berkerja sama, kemampuan berempati pada orang lain,

kemampuan mendiskusi kan kepada teman untuk mengitu permainan sesuai

aturan dan dapat sabar menunggu giliran bermain. Sehingga metode bermain

peran dapat menjadi kegiatan yang menginovasiakn anak untuk membantu

49
temannya yang kesulitan dalam mengikuti permainan serta sabar menggu

gilirannya.

2. Apa saja tantangan Guru dalam menerapkan metode bermain

peran di Taman Kanak-Kanak Bunga Tanjung Desa Sembubuk Desa

Sembubuk Kabupaten Muaro Jambi

Menerapkan metode bermain peran di Taman Kanak – Kanak Bunga

Tanjung adalah salah satu pendekatan yang sangat efektif mendukukung

perkembangan kognitif, sosial, dan emosional anak – anak. Namun, metode ini

tidak lepas dari berbagai tantangan yang dihadapi guru dalam menerapkan metode

ini dalam keseharian mereka dikelas.

Dalam sesi wawancara, ibu Hidriyani selaku guru kelas mengungkapkan

tentang tantangan dalam menerapkan metode bermain peran yaitu:

“tantangan dalam menerapkan metode bermain peran dikelas yaitu tidak

semua anak memiliki kepercayaan diri yang sama untuk berinteraksi, serta

keterbatasan dalam alat peraga atau ruang fisik dapat membatasi efektivitas

bermain peran, ini membutuh perencaan yang matang dan sering kali improvisasi”

Dari hasil wawancara tersebut guru juga menghadapi tantangan tersendiri

dalam menerapkan metode bermain peran, selain mewawancarai guru peneliti

juga melakukan observasi bagaimana guru menerapkan metode bermain peran

untuk mengembangkan kecerdasan interpersonal anak.

Pada hari selasa tanggal 9 juni 2024 peneliti tiba di Taman Kanak – Kanak

Bunga Tanjung Desa Sembubuk Kabupaten Muaro Jambi. Hari itu ibu Hidriyani

50
selaku guru kelas telah merencanakan kegiatan bermain peran “membuat sate

buah” untuk mengembangkan kecerdasan interpersonal anak, kegiatan ini

dirancang untuk melibatkan interaksi dan kerjasama anak, diharapkan mereka

dapat membantu mereka belajar berkomunikasi, berbagi peran, dan berkerja

dalam tim.

Sebelum memulai kegiatan, Ibu guru mengumpulkan anak-anak di area

berkumpul yang dilengkapi dengan meja-meja kecil. Dia menjelaskan kegiatan

yang akan dilakukan hari itu dengan menggunakan contoh sederhana. Ibu guru

menunjukkan cara menyusun potongan buah-buahan, seperti pisang, apel, dan

anggur, di tusuk sate. Sambil menjelaskan, ia juga mengingatkan anak-anak

bahwa mereka akan bekerja berpasangan dan perlu berkomunikasi dengan teman

sepasangannya untuk menyelesaikan tugas ini.

Tantangan pertama muncul saat pembagian pasangan. Tidak semua anak

dengan mudah menemukan pasangan. Beberapa anak, seperti Aldino dan Ammar,

dengan cepat berpasangan dan langsung terlibat dalam tugas mereka. Namun,

saya mengamati ada beberapa anak, seperti Berlian dan Alya, yang tampak

canggung dan kebingungan. Mereka ragu-ragu untuk memilih pasangan dan

terlihat gugup. Ibu guru dengan sabar mendekati mereka, membantu mereka

menemukan pasangan, dan memberikan dorongan lembut untuk memulai.

Tantangan ini menunjukkan bahwa tidak semua anak memiliki kepercayaan diri

atau kemampuan sosial yang sama untuk memulai interaksi, yang merupakan

aspek penting dari kecerdasan interpersonal.

51
Ketika kegiatan dimulai, anak-anak diberi piring yang sudah berisi

potongan buah dan tusuk sate. Saya mengamati bagaimana beberapa anak, seperti

Aldino dan Ammar, langsung membagi tugas di antara mereka. Aldino memegang

tusuk sate, sementara Ammar menempatkan potongan buah di atasnya. Mereka

tampak senang dan saling tersenyum, bahkan sesekali bercanda tentang bentuk

buah yang mereka buat. Interaksi ini menunjukkan perkembangan kecerdasan

interpersonal yang baik, di mana mereka mampu bekerja sama dengan harmonis.

Namun, tantangan lain muncul ketika pasangan lain, seperti Alya dan

Berlian, kesulitan membagi tugas. Alya tampak lebih dominan dan ingin

melakukan semuanya sendiri, sementara Berlian menjadi pasif dan hanya

memperhatikan. Ibu Hidriyani melihat dinamika ini dan segera mendekat,

membantu mereka memahami pentingnya berbagi peran. Dengan lembut, Ibu

guru berkata, "Alya, bagaimana kalau Berlian yang memilih buah dan kamu yang

menusukkannya? Dengan begitu, kalian bisa bekerja bersama." Setelah intervensi

tersebut, saya melihat perubahan, meskipun Alya masih tampak enggan, namun ia

mulai memberikan Berlian kesempatan untuk berkontribusi. Tantangan ini

menggarisbawahi bahwa dalam pengembangan kecerdasan interpersonal,

beberapa anak mungkin membutuhkan bimbingan tambahan untuk belajar bekerja

sama secara efektif.

Sementara kegiatan berlangsung, Ibu guru terus mengamati dan

memberikan dukungan. Dia sesekali memuji pasangan yang bekerja dengan baik

bersama dan memberikan dorongan kepada pasangan yang membutuhkan

bantuan. Tantangan lain yang diamati adalah menjaga agar semua anak tetap fokus

52
pada tugas mereka. Beberapa anak, seperti Adiba dan Athar, mulai kehilangan

minat setelah beberapa waktu dan mulai bermain dengan potongan buah daripada

menyelesaikan sate buah mereka. Ibu guru harus bekerja ekstra untuk menarik

kembali perhatian mereka dan mengingatkan mereka akan tujuan kegiatan

tersebut.

Ketika semua pasangan selesai membuat sate buah, Ibu Hidriyani

mengumpulkan anak-anak kembali dan meminta mereka untuk berbagi

pengalaman mereka. Beberapa anak dengan antusias menceritakan bagaimana

mereka bekerja sama, sementara yang lain lebih diam dan tampak kurang nyaman

berbicara di depan teman-teman mereka. Ibu guru dengan bijaksana membantu

anak-anak yang lebih pendiam untuk ikut berbicara dengan mengajukan

pertanyaan sederhana, seperti "Buah apa yang paling kamu suka untuk sate ini?"

Ini mengungkap beberapa tantangan yang dihadapi Ibu guru dalam

menerapkan metode bermain peran ini. Tantangan-tantangan tersebut termasuk

mengelola perbedaan kemampuan sosial di antara anak-anak, memastikan

partisipasi aktif dan adil di antara pasangan, serta menjaga fokus anak-anak

selama kegiatan berlangsung. Meskipun tantangan-tantangan ini membutuhkan

intervensi dan perhatian khusus, hasil akhir menunjukkan bahwa dengan

bimbingan yang tepat, anak-anak dapat mengembangkan keterampilan

interpersonal mereka, seperti kerjasama, komunikasi, dan kemampuan untuk

berbagi tugas, yang merupakan tujuan dari kegiatan bermain peran ini.

53
Meskipun metode bermain peran menghadirkan sejumlah tantangan,

terutama dalam hal interaksi sosial dan manajemen kelas, pendekatan yang

dilakukan Ibu guru terbukti efektif dalam mengembangkan kecerdasan

interpersonal anak-anak. Dengan dukungan dan intervensi yang tepat, kegiatan ini

tidak hanya menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan tetapi juga sarana

penting untuk mengasah keterampilan sosial yang esensial bagi perkembangan

anak-anak di masa depan.

3. Apa pengaruh dari penerapan metode bermain peran terhadap

kecerdasan Interpersonal Anak usia 5–6 tahun di Taman Kanak- Kanak

Bunga Tanjung Desa Sembubuk Kabupaten Muaro Jambi

Penerapan metode bermain peran memiliki dampak yang signifikan

terhadap perkembangan kecerdasan interpersonal anak usia 5 – 6 tahun,

khususnya di Taman Kanak – Kanak Bunga Tanjung. Bermain peran

memungkinkan anak untuk berinteraksi dengan teman-temannya dalam situasi

yang disimulasikan, yang membantu mereka belajar memahami perasaan,

kebutuhan, dan pandangan orang lain.

Ketika penulis menanyakan pedapat salah satu guru mengenai pengaruh

dari penerapan metode bermain peran terhadap kecerdasan interpersonal anak usia

dini di Taman Kanak – Kanak Bungan Tanjung, guru tersebut mengungkapkan

bahwa:

“Menurut saya, bermain peran itu sangat efektif untuk meningkatkan

kecerdasan interpersonal anak-anak. Melalui bermain peran, anak-anak belajar

54
bagaimana berinteraksi dengan teman-teman mereka. Mereka harus bisa bekerja

sama, berbicara satu sama lain, dan bahkan menyelesaikan konflik kecil yang

mungkin muncul saat mereka bermain. Selain itu, bermain peran juga membangun

rasa percaya diri mereka. Mereka jadi lebih berani mengemukakan pendapat dan

berinteraksi dengan orang lain. Saya perhatikan, anak-anak yang awalnya pemalu

dan cenderung menarik diri, setelah sering bermain peran, mereka mulai lebih

terbuka dan aktif dalam berinteraksi. Apa lagi metode ini belum pernah diterapkan

sebelumnya sehingga ini menjadi hal yang menarik bagi anak”

Dapat dilihat dari jawaban guru tersebut bahwasanya metode bermain

peran dapat menjadi pengaruh yang baik bagi guru untuk dapat mengembangkan

kecerdasan interpersonal anak melalui metode bermain peran, Secara keseluruhan,

bermain peran menjadi salah satu metode yang efektif untuk meningkatkan

kecerdasan interpersonal anak, karena memberikan kesempatan bagi mereka

untuk belajar tentang interaksi sosial dalam lingkungan yang menyenangkan dan

aman.

Penulis juga menanyakan apakah ada contoh konkret yang guru bisa

bagikan tentang anak yang mengalami peningkatan kecerdasan interpersonal

melalui metode ini?

" Kami punya beberapa murid yang awalnya sangat pendiam dan

cenderung tidak mau terlibat dalam kegiatan kelompok. Setelah beberapa kali

mengikuti permainan peran, saya mulai melihat perubahan. Dia jadi lebih aktif

mengajak temannya untuk berinteraksi dan bahkan mulai berani memimpin

55
permainan. Sekarang, dia jadi lebih percaya diri dalam berkomunikasi dan

menunjukkan empati lebih besar terhadap teman-temannya."

Dapat dilihat dari jawaban guru tersebut bahwasanya kecerdasan

interpersonal anak mengalami peningkatan yang cukup baik setelah guru mecoba

menerapkan metode bermain peran di dalam kelas. Kecerdasan interpersonal,

menurut oleh Amstrong, merujuk pada kemampuan seseorang anak untuk berkerja

sama, mengorganisasi kelompok untuk mencapai tujuan bersaman, memahami

dan berinteraksi secara efektif dengan orang lain. Bagi anak usia dini, kemampuan

ini sangat penting untuk dikembangkan karena menjadi dasar bagi keterampilan

sosial yang lebih kompleks di masa depan, seperti kemampuan berkomunikasi,

bekerja sama, dan menyelesaikan konflik.

Bermain peran memungkinkan anak-anak untuk belajar dari pengalaman

sosial yang disimulasikan. Anak-anak berperan sebagai berbagai tokoh, seperti

dokter, guru, polisi, atau bahkan anggota keluarga. Peran-peran ini menuntut anak

untuk menempatkan diri mereka dalam perspektif orang lain, sehingga mereka

belajar tentang perasaan, kebutuhan, dan harapan dari sudut pandang yang

berbeda. Metode ini tidak hanya melibatkan keterampilan verbal, seperti berbicara

dan mendengarkan, tetapi juga keterampilan non-verbal, seperti membaca

ekspresi wajah dan memahami bahasa tubuh. Ini membantu anak-anak untuk

mengenali sinyal sosial yang lebih halus dalam interaksi mereka, yang merupakan

komponen penting dari kecerdasan interpersonal.

56
Dalam konteks di Taman Kanak - Kanak Bunga Tanjung, guru mencoba

menerapkan metode bermain peran dalam kegiatan pembelajaran. Berdasarkan

wawancara dengan salah satu guru, terungkap bahwa anak-anak menunjukkan

peningkatan yang signifikan dalam kemampuan mereka untuk berinteraksi secara

sosial setelah terlibat dalam permainan peran. Guru tersebut mencatat bahwa

anak-anak menjadi lebih percaya diri dalam menyampaikan ide mereka dan lebih

peka terhadap perasaan teman-teman mereka. Misalnya, seorang anak yang

awalnya pemalu dan jarang berpartisipasi dalam kegiatan kelompok, setelah

beberapa kali terlibat dalam permainan peran, mulai menunjukkan perubahan

dalam sikap sosialnya. Ketika anak tersebut berperan mebuat sate buah, ia belajar

untuk memimpin, mendengarkan teman-temannya, dan memberikan arahan

dengan cara yang baik. Perubahan ini menunjukkan bahwa metode bermain peran

dapat membantu anak-anak mengatasi hambatan sosial yang mungkin mereka

miliki, sehingga mereka dapat mengembangkan keterampilan interpersonal yang

lebih baik.

Dari perspektif peneliti, metode bermain peran tampak memberikan

dampak yang kuat dan signifikan dalam mengembangkan kecerdasan

interpersonal anak. Mereka tidak hanya lebih mahir dalam berkomunikasi, tetapi

juga lebih mampu mengelola hubungan sosial dengan cara yang lebih positif.

Peningkatan dalam kemampuan berempati, berkomunikasi secara efektif, serta

menyelesaikan konflik menunjukkan bahwa bermain peran merupakan metode

yang efektif untuk mendukung perkembangan sosial dan emosional anak.

57
Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa metode bermain

peran bukan hanya sekadar permainan, tetapi merupakan pendekatan pedagogis

yang kuat untuk mengembangkan kecerdasan interpersonal anak. Di Taman

Kanak- Kanak Bunga Tanjung, penerapan metode ini telah berhasil menciptakan

lingkungan yang mendukung perkembangan sosial dan emosional anak-anak,

menjadikan mereka lebih siap untuk menghadapi tantangan sosial di masa depan

dengan cara yang empatik, komunikatif, dan kooperatif.

58
DAFTAR PUSTAKA

Anggraini, Y. (2019). Pengembangan Kecerdasan Interpersonal Anak Usia Dini Di


Ra Melati Tanjung Kurung Lama Kasui Way Kanan (Doctoral
Dissertation, Uin Raden Intan Lampung).

Fahriati, H. Peran Guru Dalam Membangun Kecerdasan Emosional Anak


Kelompok B Di Tk Islam Al Azhar 4 Kebayoran Lama (Bachelor's Thesis,
Jakarta: Fitk Uin Syarif Hidayatullah Jakarta).

Kamilah, S. M., Ulfah, H., Sari, M. N., Fadila, R. N., & Hasanah, L. (2022).
Manajemen Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini Di Paud Harapan
Bunda. Jurnal Ilmiah Pesona Paud, 9(2), 112-122.

Khasanah, L. (2023). Generasi Emas Anak Usia Dini: Belajar Pembelajaran


Karakter Dari Belgia. Pustaka Peradaban.

Nata, H. A. (2014). Sejarah Pendidikan Islam. Kencana.

Nisya, F. (2020). Mengembangkan Kecerdasan Interpersonal Anak Melalui


Bermain Peran Di Tk Tunas Permata Jagabaya Ii Way Halim Bandar
Lampung (Doctoral Dissertation, Uin Raden Intan Lampung).

Nita, D. (2020). Kecerdasan Majemuk Dan Implikasinya Dalam Pendidikan.


Jurnal Psikologi Universitas Hkbp Nommensen, 7(1), 40-49.

Nurdial, Mujriyanti, A., Darni, H., & Sariakin. (2022). Meningkatkan Kecerdasan
Interpersonal Melalui Metode Bermain Peran Untuk Anak Usia 5-6 Tahun
Di Tk. 19–20.

Rahmatia, S. R. D. (2023). Peran Guru Pai Dalam Mengembangkan Kecerdasan


Emosional Dan Kecerdasan Spiritual Siswa. Jurnal Pendidikan Ar-Rasyid,
8(2), 1-8.

Ramiati, E. (2020). Penggunaan Metode Bermain Peran Guna Meningkatkan


Karakter Tanggung Jawab Anak. Jurnal Ilmiah Potensia, 5(1), 8-15.

59
Sari, M. (2022). Pengaruh Metode Bermain Peran Makro Terhadap Peningkatan
Kemampuan Bahasa Ekspresif Anak 5-6 Tahun Di Tk Jernih Ni Telege
Aceh Tengah (Doctoral Dissertation, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry).

Sari, N. (2022). Penerapan Metode Bermain Peran Untuk Mengambangkan


Kecerdasan Interpersonal Anak Usia Dini Di Tk Negeri Pembina Way
Tuba Kabupaten Way Kanan. Universitas Islam Negeri Raden Intan
Lampung.

Sujiono, B., & Sujiono, Y. N. (2019). Bermain Kreatif Berbasis Kecerdasan


Jamak.

Tafsir, A., & Sumadi, S. (2018). Pengembangan Karakter Anak Di Indonesia


Heritage Foundation (Ihf) Depok. Jurnal Penelitian Pendidikan Islam,[Sl],
6(2), 163-186.

Utami, A. A. (2023). Pengaruh Metode Bermain Peran Terhadap Kecerdasan


Interpersonal Pada Anak Usia Dini Kelompok B Di Taman Kanak-Kanak
Asyiyah Kota Enrekang.

60

Anda mungkin juga menyukai