0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan16 halaman

Terapi Bermain untuk Anak Usia 5-9 Tahun

Dokumen ini membahas terapi bermain untuk anak usia 5-9 tahun, yang bertujuan untuk mengurangi stres dan meningkatkan perkembangan anak selama perawatan di rumah sakit. Terapi ini melibatkan berbagai aktivitas bermain yang dirancang untuk menstimulasi keterampilan kognitif dan afektif anak, serta memperkuat hubungan antara anak dan orang tua. Melalui permainan, anak dapat mengekspresikan perasaan, meningkatkan kreativitas, dan belajar berinteraksi sosial.

Diunggah oleh

25. Maria sidabutar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan16 halaman

Terapi Bermain untuk Anak Usia 5-9 Tahun

Dokumen ini membahas terapi bermain untuk anak usia 5-9 tahun, yang bertujuan untuk mengurangi stres dan meningkatkan perkembangan anak selama perawatan di rumah sakit. Terapi ini melibatkan berbagai aktivitas bermain yang dirancang untuk menstimulasi keterampilan kognitif dan afektif anak, serta memperkuat hubungan antara anak dan orang tua. Melalui permainan, anak dapat mengekspresikan perasaan, meningkatkan kreativitas, dan belajar berinteraksi sosial.

Diunggah oleh

25. Maria sidabutar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SAP ( SATUAN ACARA PENYULUHAN)

TERAPI BERMAIN PADA ANAK USIA 5 - 9 TAHUN

A. LATAR BELAKANG
Bermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memperoleh
kesenangan, tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Ada orang tua yang berpendapat
bahwa anak yang terlalu banyak bermaian akan membuat menjadi malas bekerja dan
bodoh. Anggapan ini kurang bijaksana, karena beberapa ahli psikolog mengatakan bahwa
permainan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa anak ( noname, 2006).
Ketika masa anak sudah memasuki masa todler anak selalu membutuhkan kesenangan
pada dirinya dan anak membutuhkan suatu permainan. Aktivitas bermain merupakan
salah satu stimulus bagi perkembangan anak. Sekarang banyak dijual macam-macam alat
permainan, jika orang tua tidak selektif dan kurang memahami fungsinya maka alat
permainan yang dibelinya tidak akan berfungsi efektif. Alat permaianan hendaknya
disesuaikan dengan jenis kelamin dan usia anak, sehingga dapat merangsang
perkembangan anak dengan optimal. Dalam kondisi sakitpun aktivitas bermaian tetap
perlu dilaksanakan namun harus disesuaikan dengan kondisi anak.
Saat di rumah sakit, anak mengalami stress akibat perubahan lingkungan dan
mengalami keterbatasan untuk mengatasi stress itu sendiri. Stress tersebut perlu mendapat
perhatian yang khusus serta penanganannya agar anak lebih kooperatif dalam
mengahadapi permasalahan yang dihadapi. Salah satunya dengan cara melakukan terapi
bermain, hal ini akan mengalihkan perhatian anak terhadap rasa sakit, stress oleh suasana
rumah sakit, perpisahan dengan anggota keluarga, menghindari dampak psikologis yang
akan terjadi dan lain-lain.
Bagi anak, bermain merupakan metode bagaimana mereka mengenal lingkungan
sekitarnya. Tidak hanya sekedar mengisi waktu luang, tetapi bermain juga merupakan
kebutuhan anak yang akan membantunya menstimulasi otot-otot dan saraf melainkan
sarana mereka untuk melimpahkan perasaan dan pikirannya. Ruangan yang digunakan
adalah di ruangan terapi bermaian yang terdapat di Rumah Sakit atau bisa juga digunakan
ruang perawatan anak. Dimana di ruang tersebut terdapat alat- alat bermain yang
disesuaikan dengan usia anak. Terapi bermaian ini bertujuan untuk mempraktekkan
keterampilan, memberikan ekspresi terhadap pemikiran, menjadi kreatif dan merupakan
suatu aktifitas yang memberikan stimulasi dalam kemampuan keterampilan kognitif dan
afektif.

B. TUJUAN
1. Tujuan Instruksional Umum
Diharapkan dapat menurunkan stress atau trauma pada anak dan menstimulasi tumbuh
kembang anak setelah mendapatkan terapi bermain. Anak lebih merasakan ketenangan
dan kenyamanan selama menjalani perawatan di rumah sakit setelah meluapkan
pikiran dan perasaannya dalam permainan.
2. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mendapatkan terapi bermain satu kali, diharapkan mampu:
a. Meringankan rasa cemas/stress anak terhadap suasana rumah sakit serta proses
perawatan.
b. Meningkatkan rasa percaya diri dan kemampuan anak.
c. Menilai kedekatan dan interaksi antara anak dengan orang tua.
d. Menciptakan dan meningkatkan hubungan yang lebih erat serta hangat antara anak
dan orang tua juga perawat.

C. PELAKSAAN KEGIATAN
1. Judul Dan Topik
Terapi bermain pada anak usia sekolah yaitu usia 5-9 tahun : Menggambar dan
menceritakan gambar.
2. Sasaran Dan Target
Sasaran : Seluruh anak yang dirawat di ruangan Dahlia 2 Anak dengan batasan usia 5-
9 tahun.
Target : Anak yang di rawat di RSUD DR. PIRNGADI KOTA MEDAN dengan
batasan usia 5-9 tahun beserta orang tua.
3. Metode
- Ceramah
- Pengarahan
- Terapi bermain
4. Alat

- Pewarna

- Bola plastik

- Kertas warna-warni

- solasi

- kertas polos
5. Waktu Dan Tempat
Waktu : 09.00 sampai selesai
Tempat : Ruangan dahlia 2 RSUD Dr PIRNGADI MEDAN
6. Rancangan Bermain
Permainan yang kita lakukan adalah menggambil bola pake kaki dan mengupas solasi
dari bola serta menempel kertas. Setiap anak diberikan mainan yang akan dimainkan.
Kemudian leader memimpin jalannya permaianan. Co leader, fasilitator, observer
melakukan tugas masing-masing.
7. Pelaksana Kegiatan
a. Leader :
Tugas :
a. Membuka pertemuan
b. Memperkenalkan tim terapi bermain
c. Menjelaskan tujuan terapi bermain
d. Menjelaskan manfaat terapi bermain
e. Mampu memotivasi anggota untuk aktif dalam kelompok
f. Mampu memimpin terapi dengan baik
b. Co Leader :
Tugas :

a. Mengingatkan leader jika kegiatan menyimpang

b. Mengingatkan leader tentang waktu

c. Menjelaskan tata cara permainan

c. Observer :

Tugas :
a. Mengobservasi jalannya proses kegiatan

b. Mencatat perilaku verbal dan nonverbal selama kegiatan berlangsung

c. Menginformasikan hasil terapi bermain kepada tim setelah kegiatan selesai

d. Fasilitator :

Tugas :

a. Menyiapkan alat dan media bermain serta memfasilitasi alat bermain

b. Mempertahankan kehadiran peserta

Rencana Pelaksanaan

Tahap Kegiatan Waktu Media Dan Alat


Kegiatan
Persiapan a. Menyiapkan ruangan 5 menit
b. Menyiapkan alat dan media
c. Menyiapkan anak dan orang
tua
Proses a. Membuka proses terapi 20 menit - Pewarna
bermain dengan mengucapkan - Bola plastik
salam dan memperkenalkan - Kertas warna-warni
diri - solasi
b. Menjelaskan tujuan dan - kertas polos
manfaat terapi bermain dan
cara permainan kepada anak
dan orang tua
c. Memulai permainan
Penutup a. Mengevaluasi perasaan 5 menit - Hadiah/bingkisan
anak-anak
b. Membacakan pemenang
c. Memberikan reinfosment
dan hadiah / snack
d. Meyimpulkan kegiatan
e. Menutup pertemuan dan
mengucapkan salam

Setting Tempat

Keterangan :

Leader :

Co Leader :

Fasilitator :

Observer :

Anak :

Orang Tua :
KONSEP BERMAIN

1.1 Definisi Bermain


Bermain adalah cara alamiah bagi anak mengungkapkan konflik dalam dirinya yang
tidak disadari (Wholey and wong, 1991). Bermaian adalah suatu kegiatan yang dilakukan
sesuai dengan keinginan untuk memperoleh kesenangan (Foster, 1989).
Jadi kesimpulannya bermain adalah cara untuk memperoleh kesenangan tanpa
mempertimbangkan hasil akhir. yang dilakukan secara sukarela untuk memperoleh
kesenangan. Bermain merupakan cerminan kemampuan fisik, intelektual, emosional, dan
sosial.
1.2 Tujuan Bermain
a. Dapat melanjutkan pertumbuhan dan perkembangan yang normal,
b. Dapat mengekspresikan keinginan, perasaan, dan fantasi,
c. Dapat mengembangkan kreativitas melalui pengalaman bermain yang tepat,
d. Agar anak dapat beradaptasi lebih efektif terhadap stress karena sakit.
1.3 Fungsi Bermain
a. Perkembangan Sensoris-Motorik
Aktivitas sensorimotor adalah komponen utama bermain pada semua usia dan
merupakan bentuk dominan permainan pada masa bayi. Permainan aktif penting
untuk perkembangan otot dan bermanfaat untuk melepasa kelebihan energy. Melalui
permainan sensorimotor, anak menggali sifat dunia fisik. Bayi memperoleh kesan
tentang diri mereka sendiri dan dunia mereka melalui stimulasi taktil, audiotorius,
visual dan kinestetik. Toddler dan prasekolah sangat menyukai gerakan tubuh dan
mengeksplorasi segala sesuatu di ruangan. Dengan meningkatnya maturitas,
permainan sensorimotor, menjadi semakin berbeda. Sementara anak yang masih
sangat kecil lebih menyukai berlari untuk menggerakkan tubuh, anak yang lebih
besar menggabungkan atau memodifikasi gerakan menjadi aktivitas yang lebih rumit
dan terkoordinasi, seperti berlomba, melakukan permaiinan, main sepeda dan roler
skating.
b. Perkembangan Intelaktual
Melalui eksplorasi dan manipulasi, anak-anak belajar mengenali warna,
bentuk, ukuran, tekstur dan fungsi objek-objek. Mereka mempelajari fungsi angka-
angka dan cara menggunakannya; mereka belajar menghubungkan kata dengan
benda, dan mereka mengembangkan pemahaman tentang konsep yang abstrak dan
hubungan spasial seperti naik, turun, bawah dan atas. Kegiatan seperti puzzle dan
permainan membantu mereka mengembangkan kemampuan menyelesaikan masalah.
Buku, cerita, film dan koleksi benda dapat memperluas pengetahuan sekligus
kesenangan. Permainan memberikan sarana untuk mempraktikkan dan
mengembangkan keterampilan berbahasa melalui bermain, anak-anak secara
berkelanjutan mempraktikkan pengalaman yang lalu untuk mengasimilasikannya
kedalam berbagai persepsi dan hubungan yang baru. Bermain membantu anak-anak
memahami dunia tempat mereka tinggal dan membedakan antara fantasi dan
kenyataan.
Ketersediaan materi permainan dan kualitas keterlibatan orang tua dalah dua
variable terpenting yang terkait dengan perkembangan kognitif selama masa bayi dan
prasekolah (Chase, 1994).
c. Sosialisasi
Sejak masa bayi awal, anak-anak menunjukkan minat dan kesenangan apabila
ditemani dengan anak lain. Hubungan sosial pertamanya adalah dengan pribadi ibu,
tetapi melalui bermain dengan anak lain, mereka belajar membentuk hubungan sosial
dan menyelesaikan masalah yang terkait dengan hubungan ini. Mereka belajar untuk
saling member dan menerima, mereka banyak belajar dari kritikan teman sebayanya
dibandingkan dari orang dewasa. Mereka mempelajari peran seks sesuai dengan yang
diharapkan masyarakat serta mempelajari pola perilaku dan sikap yang diterima
masyarakat. Anak-anak mempelajari yang benar dari yang salah, standar masyarakat
dan bertanggung jawab atas tindakan mereka.
d. Kreativitas
Tidak ada situasi lain yang lebih memberi kesempatan untuk menjadi kreatif
selain bermain. Anak-anak bereksperimen dan mencoba ide mereka dalam bermain
melalui setiap media yang mereka miliki, termasuk bahan- bahan mentah, fantasi dan
eksplorasi. Kreativitas terkekang oleh tekanan untuk menyamakan; oleh sebab itu
usaha keras untuk dapat diterima oleh teman sebaya mungkin merintangi upaya
kreatif anak sekolah atau anak remaja. Kreativitas terutama merup[akan hasil dari
aktivitas tunggal, meskipun berfikir kreatif sering kali ditingkatkan dalam kelompok
ketika mendengar ide orang lain yang merangsang eksplorasi lanjutan dari idenya
sendiri. Ketika anak marasakan kepuasan dari mencipta sasuatu yang baru dan
berbeda, mereka mentransfer minat kreatif ini situasi dilua dunia bermain.

e. Kesadaran diri
Bermula dari eksplorisasi aktif tubuh anak dan kesadaran diri bahwa mereka
terpisah dari ibunya, proses identifikasi diri difasilitasi melalui kegiatan bermain.
Anak-anak belajr mengenali siapa diri mereka dan dimana posisi mereka. Mereka
semakin mampu mengatur tingkah laku mereka sendiri, mempelajari kemampuan diri
mereka, dan memandingkannya dengan anak-anak yang lain. Melalui bermain anak-
anak mampu menguji kemampuan mereka, melaksanakan dan mencoba berbagai
peran dan mempelajari dampak dari perilaku mereka pada orang lain.
f. Manfaat Terapeutik
Bermain bersifat terapeotik pada berbagai usia. Bermain memberikan serana
untuk melepaskan diri dari ketegangan dan stress yang dihadapi di lingkungan.
Dalam bermain, anak dapat mengekspresikan emosi dan melepaskan impuls yang
tidak dapat diterima dalam cara yang dapat diterima masyarakat. Anak-anak mampu
untuk mencoba dan menguji
situasi yang menakutkan dan dapat menjalankan dan menguasai peran dan
posisi yang tidak dapat mereka lakukan di dunia nyata. Ana-anak banyak
menunjukkan diri mereka sendiri dalam bermain. Melalui bermain anak- anak
mampu mengomunikasikan kebutuhan, rasa takut, dan keinginan mereka kepada
pengamat yang tidak dapat mereka ekspresikan karena keterbatasan keterampilan
bahasa mereka. Selama bermain, anak perlu menerima dari orang dewasa dan perlu
didampingi oleh orang dewasa untuk membantu mereka mengontrol agresi dan
menyalurkan kecendrungan destruktif mereka.
g. Nilai Moral
Walaupun anak belajar di rumah dan di sekolah tentang perilaku yang
dianggap benar dan salah menurut budaya, interaksi dengan sebaya selama bermain
berperan secara bermakna pada pembentukan moral mereka. Tidak ada tempat yang
memberikan penguatan standar moral sekaku dalam situasi bermain. Bila mereka
ingin diterima sebagai anggota kelompok, anak harus menaati aturan perilaku yang
diterima budaya (misalnya adil, jujur, control diri dan mempertimbangkan orang
lain). Anak segera mempelajari bahwa sebaya mereka kurang toleran terhadap
kekerasan dibandingkan orang dewasa dan bahwa untuk mempertahankan tempat
dalam kelompok bermain mereka harus menyesuaikan diri dengan standar kelompok
tersebut.

1.4 Karakter Permainan


a. Permainan Pengamat
Selama permainan pengamat, anak memerhatikan apa dilakukan anak lain
tetapi tidak berusaha untuk terlibat dalam aktivitas bermain tersebut. Terdapat minat
aktif dalam memerhatikan intekrasi anak lain tetapi tidak bergerak untuk
berpartispasi. Memerhatikan kakak menendang bola adalah contoh umum dari peran
pengamat.
b. Permainan Tunggal
Selama permainan tunggal, anak bermain sendiri dengan mainan berbeda
dengan mainan digunakan oleh anak lain di tempat yang sama. Mereka menikmati
adanya anak lain tetapi tidak berusaha untuk mendekati atau berbicara dengan
mereka. Minat mereka dipusatkan pada aktivitas mereka sendiri, yang mereka
lakukan tanpa terkait dengan aktivitas anak lain.
c. Permainan Parallel
Selama aktivitas parallel, anak bermain secara mandiri tetapi antara anak-anak
lain. Mereka bermain dengan mainan yang sama seperti mainan yang digunakan anak
lain di sekitar mereka, tetapi ketika anak tampak kompak, mereka tidak saling
memengaruhi. Masing-masing anak bermain berdampingamn, tetapi tidak bermain
bersama. Tidak ada asosiasi kelompok. Bermain parallel adalah cirri bermai toddler,
tetapi juga dapat terjadi pada kelompok usia lain. Individu yang terdapat dalam
aktivitas kreatifdengan masing-masing orang secara terpisah mengerjakan proyek
individual termasuk ke dalam permainan parallel.
d. Permainan Asosiatif
Anak bermain bersama dan mengerjakan aktivitas serupa atau sama, tetapi
tidak ada organisasi, pembagian kerja, penetapan kepemimpinan, atau tujuan
bersama. Anak meminjam dan meminjami material permainan, saling mengikuti
dengan mendarai wagon dan sepeda roda tiga,dan terkadang berupaya untuk
mengontrol siapa saja yang boleh dan tidak boleh bermain dalam kelompok tersebut.
Setiap anak bertindak sesuai dengan harapannya sendiri, tidak ada tujuan kelompok.
Misalnya, dua anak bermain boneka, saling meminjam pakaian boneka dan
melakukan percakapan serupa, tetapi tidak ada yang mengarahkan tindakan teman
lainatau menetapkan aturan mengenai batasan sesi permainan. Terdapat pengaruh
perilaku yang sangat besar: ketika anak satu memulai aktivitas, seluruh kelompok
mengikuti contohnya.

e. Permainan Kooperatif
Permainan kooperatif(kerja sama) bersifat teratur, dan anak bermain dalam
kelompok dengan anak lain. Mereka mendiskusikan dan merencanakan aktivitas
untuk tujuan pencapaian akhir untuk membuat sesuatu, untuk mencapai tujuan
kompetitif, untuk memerankan situasi kehidupan orangdewasa atau kelompok, atau
untuk memainkan permainan formal. Kelom[ok ini terbentuk secara renggang, tetapi
terdapat rasa memiliki atau tidak memiliki yang nyata. Tujuan dan pencapaiannya
memerlukan pengorganisasian aktivitas, pembagian kerja, dan peran bermain.
Hubungan pemimpin-anak buah ditetapkan secara jelas, dan aktivitas dikontrol oleh
satu atau dua anggota yang memerankan peran dan mengarahkan aktivitas orang lain.
Aktivitas diatur untuk memungkinkan satu anak menambah fungsi anak lai mencapai
tujuan.
1.5 Klasifikasi Permainan
a. Permainan sosial-afektif
Permainan yang membuat bayi merasakan kesenangan dalm berhubungan
dengan orang lai. Bila orang dewasa berbicara, menyentuh, mencium, dan dalam
berbagai cara membuat bayi berespon, bayi segera belajar untuk menstimulasi emosi
dan respons orang tua dengan perilaku seperti tersenyum, mengeluarkan suara,
memulai permainan dan aktivitas. Tipe dan instesitas perilaku orang dewasa terhadap
anak beragam pada setiap budaya.
b. Permainan yang menyenangkan
Pengalaman stimulasi nonsosial yang muncul begitu saja. Objek dalam
lingkungan-sinar dan warna, rasa dan bau, tekstur dan konsistensi menarik perhatian
anak, merangsang indra mereka, dan memberikan kesenangan. Pengalaman rasa
senang berasal dari memegang bahan mentah (air, pasir, makanan), gerakan tubuh
(diayun, diangkat, ditimang), dan dari pengalaman yang lain menggunakan indra dan
kemampuan tubuh (mencium dan bersenandung).
c. Permainan keterampilan
Bila bayi telah mengembangkan kemampuan untuk menggenggam atau
memanipulasi, mereka secara terus-menerus menunjukkan dan melatih kemampuan
yang baru mereka kuasai melalui permainan keterampilan, yang mengulang tindakan
tersebut. Elemen dari permainan rasa senang Anak tidak bermain tetapi memfokuskan
perhatian mereka secara singkat pada apapun yang menarik perhatian mereka. Anak
melamun, memainkan pakaian atau objek lain, atau berjalan tanpa tujuan. Peran ini
berbeda dengan pengamat (onlooker), yang secara aktif memerhatikan aktivitas orang
lain.
d. Permainan dramatic atau pura-pura
Salah satu elemen vital pada proses identifikasi anak adalah permainan
dramatic, yang juga disebut sebagai permainan simbolik atau pura-pura. Permainan
ini dimulai pada masa bayi akhir (11 sampai 13 bulan) dan merupakan bentuk
permainan yang dominan pada anak prasekolah. Bila anak mulai memberikan makna
afektif pada dunia, mereka dapat menghayalkan dan membayangkan hamper segala
hal, dengan memerankan kejadian hidup sehari hari, anak belajar dan mempraktikkan
peran dan identitas yang dimainkan oleh anggota keluarga mereka dan masyarakat.
Mainan anak, replica benda-benda di masyarakay, memberikan media untuk belajar
tentang peran dan aktifitas orang dewasa yang dapat membingungkan dan
menimbulkan frustasi pada mereka. Permainan sederhana, imitatf, dramatic pada
toddler, seperti menggunakan telepon, mengendarai mobil-mobilan, atau menimang
boneka, berkembang menjadi drama yang semakin kompleks dan bersambung yang
dibuat anak prasekolah, yang meluas dari hal-hal umum dirumah tangga sampai aspek
yang lebih luas tentang dunia dan masyarakat, seperti memainkan peran polisi,
pramuniaga, guru, atau perawat. Anak yang lebih besar menjalankan tema tertentu,
memerankan sebuah cerita, dan menyusun drama itu sendiri.F. Pertandingan

Anak disemua budaya terlibat dalam permainan baik sendiri atau dengan
orang lain. Aktivitas soliter mencakup permainan yang dimulai ketika anak yang
masih sangat kecil berpartisipasi dalam aktivitas repititif dan berlanjut ke permainan
yang lebih rumit yang menantang keterampilan mandiri mereka seperti menata
puzzle, bermain kartu, dan permainan computer atau video. Anak yang sangat muda
berpartisipasi dalam permainan imitative sederhana seperti "petak umpet". Anak
prasekolah belajar dan menikmati permainan formal yang dimulai dengan permainan
pertahanan diri yang ritual dimainkan seperti permainan ring a rosy and London
bridge (permainan yang didalamnya terdapat aktivitas perebutan kursi yang
jumlahnya makin dikurangi dan anak yang bermain berjalan mengitari kumpulan
kursi tersebut sampai diiringi music yang ada periode tertentu dihentikan lalu
dimainkan kembali-red). Dengan pengecualian permainan papan sederhana, anak
prasekolah tidak terlibat dalam permainan kompetitif. Anak sekolah tidak suka kalah
dan akan mencoba untuk curang, ingin mengubah aturan, atau menuntut pengecualian
dan kesempatan untuk mengubah cara mereka. Anak usia sekolah dan remaja
menikmati permainan kompetitif, termasuk permainan kartu, catur, dan permainan
aktif secara fisik seperti baseball.
1.6 Faktor yang Mempengaruhi Aktivitas Bermain
a. Tahapan tumbuh kembang anak
Aktivitas bermain harus sesuai dengan tahapan pertumbuhan dan
perkembangan anak, karena pada dasarnya permainan adalah alat stimulasi
pertumbuhan dan perkembangan anak.
b. Status kesehatan anak/jenis penyakit
Aktivitas bermain harus disesuaikan dengan status kesehatan anak. Aktivitas
bermain hanya dilakukan kepada anak yang mulai kembali berenergi dari masa
sakitnya
c. Gender (jenis kelamin) anak
Semua alat permainan dapat digunakan oleh anak laki-laki atau anak
perempuan untuk mengembangkan gaya pikir, imajinasi, kreatifitas, dan kemampuan
sosial anak. Akan tetapi permainan adalah salah satu alat untuk membantu anak
mengenal identitas diri.
d. Lingkungan
Lingkung yang mendukung dapat menstimulasi imejinasi anak dan kreativitas
anak dalam bermain.
e. Pandangan orang tua
Ada orang tua yang berpendapat bahwa anak yang terlalu banyak bermaian
akan membuat menjadi malas bekerja dan bodoh. Anggapan ini kurang bijaksana,
karena beberapa ahli psikolog mengatakan bahwa permainan sangat besar
pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa anak.
1.7 Prinsip dalam Aktivitas Bermain di Rumah Sakit
a. Tidak banyak mengeluarkan energi, singkat, dan sederhana.
b. Mempertimbangkan keamanan
c. Dilakukan untuk kelompok umur yang sama
d. Tidak bertentangan dengan proses pengobatan
e. Melibatkan orang tua
1.8 Fungsi Bermain di Rumah Sakit
a. Memfasilitasi situasi yang tidak familiar,
b. Membantu untuk mengurangi stress terhadap perpisahan, pengobatan dan
2 lingkungan rumah sakit.
c. Anggota transisi dan relaksasi.
d. Memberikan jalan untuk mengekspresikan perasaan sebagai sarana mengurangi
tekanan.
f. Menunjukkan untuk berinteraksi dan mengembangkan sikap-sikap yang positif
terhadap orang lain.
1.9 Hambatan-hambatan yang mungkin terjadi saat bermain
a. Anak kurang kooperatif
b. Orang tua tidak mendukung
c. Jam-jam tertentu seperti: kunjungan dokter, terapi dan waktu istirahat
d. Tidak semua rumah sakit memiliki fasilitas bermain
e. Anak merasa bosan
f. Anak merasa takut atau asing dengan lingkungan

1.10 Antisipasi hambatan bermain


a. Pendekatan terhadap anak ditingkatkan
b. Memberikan penjelasan yang mudah dimengerti orang tua, sehingga timbul rasa
percaya
c. Membatasi waktu bermain
d. Permainan bervariasi/tidak monoton
e. Bermain dilakukan dirawat inap tanpa menggangu proses terapi pengobatan
f. Melibatkan perawat, petugas ruangan dan orang tua
g. Konsultasi dengan pembimbing

1.11 Bentuk Permainan


[Link] 0-12 bulan

Tujuannya adalah:

Melatih reflek-reflek menghisap, menggenggam

Melatih kerjasama mata dan tangan

Melatih kerjasama mata dan telinga

Berlatihlah mencari benda yang ada namun tidak terlihat

➤ Melatih kepekaan perabaan

➤ Melatih daya imajinasi

➤ Kemampuan membedakan permukaan dan warna benda

Alat permainan yang direkomendasikan:

✓ Alat-alat untuk menggambar

✓ Lilin yang dapat dibentuk

✓ Puzzle sederhana

✓ Manik-manik ukuran besar

✓ Berbagai benda yang mempunyai permukaan dan warna yang berbeda

✓ Dia dulu

d. Usia 32-72 bulan

Tujuannya adalah:

➤ Mengembangkan kemampuan menyamakan dan membedakan

➤ Mengembangkan kemampuan berbahasa

➤ Mengembangkan pengertian tentang berhitung, menambah dan mengurangi

➤ Merangsang daya imajinasi dengan berbagai cara bermain pura-pura (sandiwara)

Membedakan benda dengan permukaan

Menumbuhkan spontanitas
Mengembangkan kepercayaan diri

Mengembangkan kreativitas

Mengembangkan koordinasi motorik (melompat, memanjat, berlari, dll)

➤ Mengembangkan kemampuan mengontrol emosi, motorik halus dan kasar

➤ Mengembangkan sosialisasi atau bergaul dengan anak atau orang diluar rumahnya

➤ Memperkenalkan pengertian yang bersifat ilmu pengetahuan, misal: pengertian mengenai


tarapung dan tenggelam

➤ Memperkenalkan pengertian yang bersifat ilmu pengetahuan, misal: pengertian mengenai


tarapung dan tenggelam

➤ Memperkenalkan suasana kompetisi dan gotong royong (kerjasama)

Alat permainan yang direkomendasikan:

✓ Berbagai benda dari sekitar rumah, buku bergambar, majalah ana- anak, alat gambar dan
tulis, kertas untuk belajar melipat, guting, air, dll.

✓ Teman-teman bermain: anak sebaya, orang tua, orang lain diluar rumah

e. Usia Prasekolah

Alat permainan yang direkomendasikan:

✓ Alat olah raga

✓ Peralatan masak

✓ Alat menghitung

✓ Sepeda roda tiga

✓ Benda berbagai macam ukuran

✓ Boneka tangan

✓ Mobil-mobilan

✔ Mainan

f. Usia Sekolah
Cooperative play, yaitu: aturan permainan dalam kelompok tampak lebih jelas pada
permainan jenis ini dan punya tujuan serta pemimpin (mis: main sepak bola) Mengumpulkan
perangko, berolah raga

Jenis permainan yang direkomendasikan:

✔ Pada anak laki-laki: permainan bersifat mekanik

✔ Pada anak perempuan: berhubungan dengan peran ibu

Anda mungkin juga menyukai