0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan8 halaman

Arti dan Pengujian Nilai Slump Beton

Dokumen ini membahas tentang pengujian nilai slump pada beton segar untuk menentukan workability dan kekentalan campuran beton. Nilai slump diukur dengan metode sederhana dan berhubungan dengan kekuatan tekan beton, serta mempengaruhi mutu dan kemudahan pengerjaan beton. Terdapat juga penjelasan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kekentalan adukan beton dan nilai slump yang ideal untuk berbagai jenis pekerjaan.

Diunggah oleh

Faramita Tunny
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan8 halaman

Arti dan Pengujian Nilai Slump Beton

Dokumen ini membahas tentang pengujian nilai slump pada beton segar untuk menentukan workability dan kekentalan campuran beton. Nilai slump diukur dengan metode sederhana dan berhubungan dengan kekuatan tekan beton, serta mempengaruhi mutu dan kemudahan pengerjaan beton. Terdapat juga penjelasan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kekentalan adukan beton dan nilai slump yang ideal untuk berbagai jenis pekerjaan.

Diunggah oleh

Faramita Tunny
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

RANGKUMAN SLUMP

A. MenentukanNilai Slump

Slump merupakan salah satu pengetesan sederhana untuk megetahui workability

beton segar sebelum diterima dan diaplikasikan dalam pekerjaan pengecoran. Nilai

Slump Adalah nilai yang diperoleh dari hasil uji slump dengan cara beton segar diisikan

kedalam suatu corong baja berupa kerucut terpancung, kemudian benjana di tarik

keatas sehingga beton segar meleleh kebawah. Besar penurunan permukaan beton

segar diukur, dan disebut nilai Slump.

Pengujian ini dikembangkan oleh chapmant dari Amerika Serikat pada tahun 1913

dan merupakan alat uji untuk mengukur kekentalan campuran yang paling mudah dan

paling murah bila dibandingkan dengan alat uji kekentalan lainnya Nilai Slump

merupakan pengukuran terhadap tingkat kekentalan suatu campuran beton, namun

pengukuran tingkat kekentalan campuran beton dapat dilakukan dengan berbagai

metode antar lain remouldingtest,vebe test dan beberapa metode lainnya.

Alat uji slump terutama dipakai untuk mengukur campuran beton dalam keadaan

plastis, walaupun dengan alat ini sukar melihat adanya hubungan yang penting antara

nilai slump dan sifat kemudahan kerja. Akan tetapi pengujian ini mampu mendeteksi

perubahan terhadap sifat kemudahan pengerjaan. Untuk lebih jelas mengenai

pengertian campuran beton dalam keadaan plastis, selanjutnya akan diuraikan pada Bab

VII tentang sifat-sifat Beton Segar.


Alat uji ini sesuai untuk digunakan pada campuran beton yang sangat kering atau

sangat basah, serta untuk ukuran agregat maksimum 37,5 mm. karena pada pengujian

ini tidak menggunakan efek getaran, maka dapat terjadi perubahan kekentalan akibat

terjadinya proses hidrasi, sehingga sebagainya pengujiaan ini dilakukan sesegera

mungkin setelah beton dicampurkan.

Alat uji ini berbentuk kerucut terpancung dengan diameter bagian atas 10 cm (4”),

diameter bagian alas 20 cm (8’’) dantinggi 30 cm (12’’).

Nilai slump adalah hasil yang diperoleh melalui pengukuran tinggi alat uji (30 cm)

dengan campuran beton setelah dimasukkan di dalam alat kemudian diangkat.

Campuran beton setelah diangkat dari kerucut uji akan turun dari tinggi semula yang

tergatung pada tingkat kekentalannya. Semakin besar penurunannya maka berarti nilai

slumpnya semakin besar dan Nilai slump yang besar merupakan indikasi kekentalan

campuran yang tinggi, atau dapat dikatakan campuran beton besar tersebut encer.

Tipe hasil pengujian slump dapat dibedakan menjadi tiga type yaitu : (a) tipe ideal

(true slump),(b) tipe geser (shear slump), dan (c) type keruntuhan (collapse slump),

seperti yang tunjukan pada gambar 6.3. beberapa tipe hasil pengujian slump
Campuran beton dengan nilai slump rendah sesuai untuk digunakan pada

pekerjaan dalam bidang yang luas seperti pada pelat lantai, sedangkan nilai slump yang

sedang atau tinggidapat digunakan untuk pekerjaan dengan penampang yang sempit

dan tulangan yang rapat seperti pada balok dan kolom.

Nilai slump berdasarkan SNI-03-2834-2000 pasal 3.3 diberikan berdasarkan kondisi

pelaksanaan pekerjaan agar dapat dengan mudah dituangkan,dipadatkan dan diratakan.

Sebagai gambaran, PBI-1971 memberikan nilai slump yang akan digunakan

tergantung kepada jenis pekerjaan seperti yang ditunjukan oleh tabel 6.5. nilai yang

diberikan pada Tabel 6.5 dipakai untuk campuran beton tanpa bahan tambahan.

Tabel 1.1

Nilai Slump Untuk Berbagai Pekerjaan Beton

(PBI-1971)

Nilai Slump (cm)


Uraian
Maksimum Minimum

DindingPelatPondasidanPondasitelapakbertulang 12.5 5.0

pondasitelapaktidakbertulangkaisondankontruksi 9.0 2.5

pelat, balok, kolom, dandinding 15.0 7.5

Perkerasanjalan 7.5 5.0

Pembetonanmassal _ _
Beberapa peraturan di negara lain memberikan batasan yang agak berbeda dengan

[Link]

Namun perkembangan teknologi, nilai slump dapat dibuat dengan nilai yang besar

tanpa mempengaruhi kekuatannya. Penggunaan bahan tambahan (Admixture) seperti

yang diberikan pada Bab V tentang bahan tambahan dan permasalahannya sangat

membantu untuk memecahkan permasalahan nilai slump yang tinggi untuk pekerjaan

pada penampang yang sempit.

B. Nilai Slump Terhadap Kuat Tekan

Tujuan dari pengujian kuat tekan adalah untuk mengetahui kekuatan beton

terhadap gaya tekan. Kuat tekan beton mengidentifikasi mutu dari sebuah struktur,

semakin tinggi kuat tekan maka semakin tinggi kekuatan struktur dan mutu beton yang

dihasilkan (SNI 03-1974-1990). Kuat tekan beton sendiri didefinisikan sebagai besarnya

beban per satuan luas yang menyebabkan benda uji beton hancur ketika dibebani

dengan gaya tekan tertentu yang dihasilkan oleh mesin tekan.

Nilai kuat tekan beton didapat melalui pengujian standar menggunakan mesin uji

dengan cara memberikan beban tekan bertingkat dengan kecepatan peningkatan beban

tertentu terhadap benda uji beton berbentuk silinder maupun kubus sampai hancur.

Nilai kuat tekan beton dapat dicari menggunakan persamaan :

Dengan :

fˈc= Pmaks fˈc : Kuat tekan beton salah satu benda uji (MPa)
A
Pmaks : beban tekan maksimum (N)

A : luas permukaan benda uji (mm2)

C. Alat Uji Untuk Megukur :

1. Kekentalan adukan beton

Pada pengadukan yang lebih singkat adukan beton menjadi lebih encer, dan

terjadi pemisahan air adukan yang lebih awal dan cepat, dibandingkan pada

pengadukan yang lebih lama, dimana adukan betonnya menjadi lebih kental atau

kaku. Ada beberapa factor yang menyebabkan terjadinya perubahan sifat

kekentalan pada adukan beton akibat lama pengadukan campuran beton. Pada

pengadukan yang lebih singkat, sebagian besar air adukan belum bercampur baik

bersama-sama dengan semen dan agregat lainnya, khususnya kebutuhan air untuk

proses berhidrasi dengan semen.

Pengadukan yang lebih lama juga berpengaruh terhadap kenaikan suhu adukan

beton, karena gesekan antara material khususnya sesame agregat maupun antara

agregat dengan drum pengaduk. Semakin lamanya beton diaduk akan terjadi

kenaikan suhu, dan ini menyebabkan panas hidrasi menjadi lebih tinggi sehingga

proses pengikatan dan pengerasan semen menjadi lebih cepat. Hal ini

mengakibatkan kekentalan atau konsistensi adukan beton menjadi lebih cepat

kental, yang pada akhirnya nilai slump akan menjadi lebih rendah. Selanjutnya

pengadukan yang lebih lama juga dapat memberpeluang terjadinya kehilangan air

adukan karena faktor penguapan. Kehilangan air dapat terjadi pada saat beton itu

sedang dikerjakan, maupun pada saat berlangsungnya pengadukan beton.


2. Kandungan udara dalam adukan beton

Pertambahan kandungan udara erat hubungannya dengan nilai slump karena

lamanya proses pengadukan yang lebih singkat menghasilkan adukan yang lebih

encer dan diperoleh kandungan udara yang lebih rendah daripada adukan yang

kental. Hal ini disebabkan oleh adanya air adukan dan mortar yang belum bereaksi

baik dengan semen karena pengadukan yang singkat, sehingga air dan pasta semen

ataupun mortanya akan mudah mengalir dan mengisi ruang-ruang dalam adukan

menjadi lebih tinggi.

Sebaliknya karena pengadukan yang lebih lama, maka sebagian besar air

adukan mempunyai waktu yang panjang untuk berhidrasi dengan semen secara

lebih baik dan homogenitas adukan juga lebih merata. Adukan menjadi lebih kental

dan sulit untuk dapat megalir dan lambat mengisi ruang-ruang dalam adukan,

mobilitas adukan menjadi lebih rendah sehingga member peluang terperangkapnya

udara dalam adukan beton.

D. Slump yang baik

Nilai slump yang baik adalah yang sesuai dengan rencana kerja dengan nilai toleransi 2

cm baik batas atas atau batas bawah, contoh : apabila direncanakan slump 12+/-2cm

maka bila saat beton itu di tes kekentalannya sebaiknya berkisar antara 10 cm (batas

bawah) sampai dengan 14 cm (batas atas).


E. Nilai slump mempengaruhi mutu beton dan workability

Kekentalan benton dan mutu beton akan saling mempengaruhi antara satu dengan yang

lainnya. Mutu beton yang ditunjukan dengan huruf dan angka di belakangnya

menunjukan kepada kita bahwa angka tersebut adalah kekuataan bentob tersebut saat

nanti di uji tekan diumur 28 hari. Nilai yang berada dibelakang mutu beton menunjukan

nilai kekentalannya dan berhubugan dengan kebutuhan beton tersebut untuk

dikerjakan dilokasi cor (workability). Semakin encer nilai slumpnya amaka benton

tersebut semakin mudah dikerjakan, semakin kental beton tersebut maka semakin berat

dan sulit beton tersebut dikerjakan. Jika beton tersebut semakin encer tetapi tidak

dibarengi dengan penambahan jumlah semen maka bisa dipastikan mutu beton

tersebut malah menurun.

F. Nilai slump normal

Biasanya slump beton dapat dengan mudah dikerjakan dengan baik untuk struktur

normal dengan nilai slump antara 8-15 cm, pada kondisi itu beton dapat diaplikasi

dengan baik pada struktur kolom, plat lantai, dinding dsb dengan ketinggian dibawah 30

m dari permukaan tanah.


DAFTAR PUSTAKA

Sudjana, MetodaStatistika (edisikeenam), Bandung, 1996.

Amri, Sjafei, ST., Dipl. E.2005. TeknologiBahan A-Z,Jakarta; Universitas Indonesia

Tjokodimulyo, Kardiyono. 1996. TeknologiBeton, Yogyakarta: PenerbitNaviri

Anda mungkin juga menyukai