Rencana Tata Ruang Jawa Tengah 2023-2043
Rencana Tata Ruang Jawa Tengah 2023-2043
TENTANG
-0-
RANCANGAN
PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH
NOMOR…….TAHUN………
TENTANG
-1-
3. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan
Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007
Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4725) sebagaimana telah diubah dengan
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor
2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2022 Nomor 238, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6841);
4. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor
84, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4739), sebagaimana dengan Undang-Undang
Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun
2022 tentang Cipta Kerja (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2022 Nomor 238, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 6841);
5. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5587), sebagaimana
telah diubah beberpa kali, terakhir dengan Undang-
Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor
2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2022 Nomor 238, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6841);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833)
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah
Nomor 13 Tahun 2017 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2017 Nomor 77, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 6042);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2021 tentang
Penyelenggaraan Penataan Ruang (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2021 Nomor 31, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6633);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2021 tentang
Penyelesaian Ketidaksesuaian Tata Ruang, Kawasan
Hutan, Izin, dan/atau Hak Atas Tanah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2021 Nomor 53, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6655);
-2-
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH
dan
GUBERNUR JAWA TENGAH
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG RENCANA TATA RUANG
WILAYAH PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2023-2043
BAB I
KETENTUAN UMUM
Bagian Kesatu
Pengertian/Definisi
Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan:
1. Pemerintah Pusat adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang
kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia yang dibantu oleh
Wakil Presiden dan Menteri sebagaimana dimaksud dalam Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
2. Provinsi adalah Provinsi Jawa Tengah.
3. Gubernur adalah Gubernur Jawa Tengah.
4. Pemerintah Daerah Provinsi adalah Gubernur sebagai unsur
penyelenggara Pemerintahan Provinsi yang memimpin pelaksanaan urusan
pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah Provinsi.
5. Kabupaten / Kota adalah kabupaten/kota di Jawa Tengah.
6. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disebut DPRD adalah
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Tengah.
7. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut dan ruang
udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah,
tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan
memelihara kelangsungan hidupnya.
8. Tata ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang.
9. Rencana tata ruang adalah hasil perencanaan tata ruang.
10. Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Tengah yang selanjutnya
disebut RTRW Provinsi adalah rencana tata ruang yang bersifat umum dari
wilayah provinsi, yang berisi tujuan, kebijakan, strategi penataan ruang
wilayah provinsi, rencana struktur ruang wilayah provinsi, rencana pola
ruang wilayah provinsi, penetapan kawasan strategis provinsi, arahan
pemanfaatan ruang wilayah provinsi, dan arahan pengendalian
pemanfaatan ruang wilayah provinsi.
11. Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah suatu proses
perencanaan, pemanfaatan, pengawasan, dan pengendalian Sumber Daya
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil antar sektor, antara Pemerintah dan
Pemerintah Daerah, antara ekosistem darat dan laut, serta antara ilmu
-3-
pengetahuan dan manajemen untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat.
12. Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem
jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan
sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan
fungsional.
13. Pola ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang
meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang
untuk fungsi budi daya.
14. Penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang,
pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang.
15. Penyelenggaraan penataan ruang adalah kegiatan yang meliputi
pengaturan, pembinaan, pelaksanaan dan pengawasan penataan ruang.
16. Pengaturan penataan ruang adalah upaya pembentukan landasan hukum
bagi pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat dalam penataan
ruang.
17. Pembinaan penataan ruang adalah upaya untuk meningkatkan kinerja
penataan ruang yang diselenggarakan oleh pemerintah pusat, pemerintah
daerah dan masyarakat.
18. Pelaksanaan penataan ruang adalah upaya pencapaian tujuan penataan
ruang melalui pelaksanaan perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang
dan pengendalian pemanfaatan ruang.
19. Pengawasan penataan ruang adalah upaya agar penyelenggaraan penataan
ruang dapat diwujudkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
20. Pemanfaatan ruang adalah upaya untuk mewujudkan struktur ruang dan
pola ruang sesuai dengan rencana tata ruang melalui penyusunan dan
pelaksanaan program beserta pembiayaannya.
21. Pengendalian pemanfaatan ruang adalah upaya untuk mewujudkan tertib
tata ruang.
22. Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang adalah kesesuaian antara
rencana kegiatan Pemanfaatan Ruang dengan rencana tata ruang.
23. Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut adalah kesesuaian antara
rencana Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut dengan rencana tata ruang
dan/atau rencana zonasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
24. Forum Penataan Ruang adalah wadah di tingkat pusat dan daerah yang
bertugas untuk membantu Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah
dengan memberikan pertimbangan dalam Penyelenggaraan Penataan
Ruang.
25. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap
unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek
administratif dan/atau aspek fungsional.
26. Wilayah Pengembangan yang selanjutnya disingkat dengan WP adalah
pengelompokan Kabupaten/Kota yang memiliki keterkaitan
pengembangan dari aspek fisik alam, sosial, ekonomi, dan/atau budaya
dalam rangka koordinasi pembangunan dan keterpaduan pengembangan
wilayah.
-4-
27. WP Barlingmascakeb adalah Wilayah Pengembangan yang meliputi:
Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Banyumas,
Kabupaten Cilacap, dan Kabupaten Kebumen.
28. WP Purwomanggung adalah Wilayah Pengembangan yang meliputi:
Kabupaten Purworejo, Kabupaten Wonosobo, Kota Magelang, Kabupaten
Magelang, dan Kabupaten Temanggung.
29. WP Subosukawonosraten adalah Wilayah Pengembangan yang meliputi:
Kota Surakarta, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten
Karanganyar, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Sragen, dan Kabupaten
Klaten.
30. WP Banglor adalah Wilayah Pengembangan yang meliputi: Kabupaten
Rembang dan Kabupaten Blora.
31. WP Jekuti adalah Wilayah Pengembangan yang meliputi: Kabupaten
Kudus, Kabupaten Pati, dan Kabupaten Jepara.
32. WP Kedungsepur adalah Wilayah Pengembangan yang meliputi Kabupaten
Kendal, Kabupaten Demak, Kabupaten Semarang, Kota Semarang, Kota
Salatiga, dan Kabupaten Grobogan.
33. WP Petanglong adalah Wilayah Pengembangan yang meliputi: Kota
Pekalongan, Kabupaten Batang, dan Kabupaten Pekalongan.
34. WP Bregasmalang adalah Wilayah Pengembangan yang meliputi:
Kabupaten Brebes, Kota Tegal, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten
Pemalang.
35. Kawasan adalah wilayah yang memiliki fungsi utama lindung atau budi
daya.
36. Kawasan lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama
melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya
alam, sumber daya buatan dan nilai sejarah serta budaya bangsa guna
kepentingan pembangunan berkelanjutan.
37. Kawasan konservasi adalah kawasan yang mempunyai ciri khas tertentu
sebagai satu kesatuan ekosistem yang dilindungi, dilestarikan, dan
dimanfaatkan secara berkelanjutan.
38. Kawasan budi daya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama
untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam,
sumber daya manusia, dan sumber daya buatan.
39. Kawasan perdesaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama
pertanian termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi
kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa
pemerintah, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.
40. Kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama
bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat
permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa
permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa
pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.
41. Kawasan Strategis Nasional yang selanjutnya disingkat KSN adalah
wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai
pengaruh sangat penting secara nasional terhadap kedaulatan negara,
pertahanan dan keamanan negara, ekonomi, sosial, budaya, dan/atau
-5-
lingkungan, termasuk wilayah yang telah ditetapkan sebagai warisan
dunia.
42. Kawasan Strategis Nasional Tertentu yang selanjutnya disingkat KSNT
adalah kawasan yang terkait dengan kedaulatan negara, pengendalian
lingkungan hidup, dan/atau situs warisan dunia, yang pengembangannya
diprioritaskan bagi kepentingan nasional.
43. Kawasan Strategis Pariwisata Nasional yang selanjutnya disingkat KSPN
adalah kawasan yang memiliki fungsi utama pariwisata atau memiliki
potensi untuk pengembangan pariwisata nasional yang mempunyai
pengaruh penting dalam satu atau lebih aspek, seperti pertumbuhan
ekonomi, sosial dan budaya, pemberdayaan sumber daya alam, daya
dukung lingkungan hidup, serta pertahanan dan keamanan.
44. Kawasan Strategis Provinsi yang selanjutnya disingkat KSP adalah wilayah
yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh
sangat penting dalam lingkup provinsi terhadap ekonomi, sosial, budaya,
dan/atau lingkungan serta merupakan bagian tidak terpisahkan dari
rencana tata ruang wilayah provinsi.
45. Pusat Kegiatan Nasional yang selanjutnya disebut PKN adalah kawasan
perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala internasional,
nasional, atau beberapa provinsi.
46. Pusat Kegiatan Wilayah yang selanjutnya disebut PKW adalah kawasan
perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala provinsi atau
beberapa kabupaten/kota.
47. Pusat Kegiatan Lokal yang selanjutnya disebut PKL adalah kawasan
perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kabupaten atau
beberapa kecamatan.
48. Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian
jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang
diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada permukaan tanah, di
atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan/atau air, serta di
atas permukaan air, kecuali jalan kereta api, jalan lori, dan jalan kabel.
49. Terminal adalah pangkalan Kendaraan Bermotor Umum yang digunakan
untuk mengatur kedatangan dan keberangkatan, menaikkan dan
menurunkan orang dan/atau barang, serta perpindahan moda angkutan.
50. Kereta api adalah sarana perkeretaapian dengan tenaga gerak, baik
berjalan sendiri maupun dirangkaikan dengan sarana perkeretaapian
lainnya, yang akan ataupun sedang bergerak di jalan rel yang terkait
dengan perjalanan kereta api.
51. Pelabuhan adalah tempat yang terdiri atas daratan dan/atau perairan
dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan
kegiatan pengusahaan yang dipergunakan sebagai tempat kapal
bersandar, naik turun penumpang, dan/atau bongkar muat barang,
berupa terminal dan tempat berlabuh kapal yang dilengkapi dengan
fasilitas keselamatan dan keamanan pelayaran dan kegiatan penunjang
pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra dan antarmoda
transportasi.
52. Terminal Khusus adalah terminal yang terletak di luar Daerah Lingkungan
Kerja dan Daerah Lingkungan Kepentingan pelabuhan yang merupakan
bagian dari pelabuhan terdekat untuk melayani kepentingan sendiri sesuai
dengan usaha pokoknya.
-6-
53. Pelabuhan Perikanan adalah tempat yang terdiri atas daratan dan perairan
di sekitarnya dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan
pemerintahan dan kegiatan sistem bisnis perikanan yang digunakan
sebagai tempat kapal perikanan bersandar, berlabuh, dan/atau bongkar
muat ikan yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan
kegiatan penunjang perikanan.
54. Bandar Udara adalah kawasan di daratan dan/atau perairan dengan
batas-batas tertentu yang digunakan sebagai tempat pesawat udara
mendarat dan lepas landas, naik turun penumpang, bongkar muat barang,
dan tempat perpindahan intra dan antarmoda transportasi, yang
dilengkapi dengan fasilitas keselamatan dan keamanan penerbangan, serta
fasilitas pokok dan fasilitas penunjang lainnya.
55. Minyak Bumi adalah hasil proses alami berupa hidrokarbon yang dalam
kondisi tekanan dan temperatur atmosfer berupa fasa cair atau padat,
termasuk aspal, lilin mineral atau ozokerit, dan bitumen yang diperoleh
dari proses penambangan, tetapi tidak termasuk batubara atau endapan
hidrokarbon lain yang berbentuk padat yang diperoleh dari kegiatan yang
tidak berkaitan dengan kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi;
56. Gas Bumi adalah hasil proses alami berupa hidrokarbon yang dalam
kondisi tekanan dan temperatur atmosfer berupa fasa gas yang diperoleh
dari proses penambangan Minyak dan Gas Bumi;
57. Ketenagalistrikan adalah tenaga listrik yang meliputi bidang
pembangkitan, transmisi, dan distribusi tenaga listrik yang diperlukan
untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik.
58. Telekomunikasi adalah setiap pemancaran, pengiriman, dan atau
penerimaan dari hasil informasi dalam bentuk tanda-tanda, isyarat,
tulisan, gambar, suara, dan bunyi melalui sistem kawat, optik, radio, atau
sistem elektromagnetik lainnya.
59. Sumber Daya Air adalah air, sumber air, dan daya air yang terkandung di
dalamnya
60. Daerah irigasi adalah kesatuan lahan yang mendapat air dari satu jaringan
irigasi.
61. Sistem Penyediaan Air Minum yang selanjutnya disingkat SPAM
merupakan satu kesatuan sarana dan prasarana penyediaan Air Minum.
62. Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik yang selanjutnya disingkat
SPALD adalah serangkaian kegiatan pengelolaan air limbah domestik
dalam satu kesatuan dengan prasarana dan sarana pengelolaan air limbah
domestik.
63. Tempat pemrosesan akhir yang selanjutnya disebut TPA adalah tempat
untuk memproses dan mengembalikan sampah ke media lingkungan
secara aman bagi manusia dan lingkungan.
64. Kawasan yang Memberikan Perlindungan terhadap Kawasan Bawahannya
adalah Kawasan yang diperuntukkan untuk menaungi lingkungan dan
makhluk hidup terdiri atas kawasan hutan lindung dan kawasan gambut.
65. Kawasan Perlindungan Setempat adalah Kawasan yang diperuntukkan
bagi kegiatan pemanfaatan lahan yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur
dalam tata kehidupan masyarakat untuk melindungi dan mengelola
lingkungan hidup secara lestari, serta dapat menjaga kelestarian jumlah,
kualitas penyediaan tata air, kelancaran, ketertiban pengaturan, dan
-7-
pemanfaatan air dari sumber- sumber air. Termasuk didalamnya kawasan
kearifan lokal dan sempadan yang berfungsi sebagai kawasan lindung
antara lain sempadan pantai, sungai, mata air, situ, danau, embung, dan
waduk, serta kawasan lainnya yang memiliki fungsi perlindungan setempat
66. Kawasan Konservasi adalah Bagian wilayah darat dan/atau laut yang
mempunyai ciri khas sebagai satu kesatuan ekosistem yang dilindungi,
dilestarikan dan/atau dimanfaatkan secara berkelanjutan.
67. Kawasan Lindung Geologi adalah Daerah tertentu yang ditetapkan dengan
fungsi utama melindungi kelestarian gejala geologi yang mencakup
kawasan cagar alam geologi (KCAG), dan kawasan yang memberikan
perlindungan terhadap air tanah.
68. Cagar Alam adalah kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya
mempunyai kekhasan/keunikan jenis tumbuhan dan/atau
keanekaragaman tumbuhan beserta gejala alam dan ekosistemnya yang
memerlukan upaya perlindungan dan pelestarian agar keberadaan dan
perkembangannya dapat berlangsung secara alami.
69. Kawasan Pelestarian Alam selanjutnya disingkat KPA adalah kawasan
dengan ciri khas tertentu, baik di daratan maupun di perairan yang
mempunyai fungsi pokok perlindungan sistem penyangga kehidupan,
pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta
pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
70. Kawasan Ekosistem Mangrove adalah Kawasan kesatuan antara
komunitas vegetasi mangrove berasosiasi dengan fauna dan mikro
organisme sehingga dapat tumbuh dan berkembang pada daerah
sepanjang pantai terutama di daerah pasang surut, laguna, muara sungai
yang terlindung dengan substrat lumpur atau lumpur berpasir dalam
membentuk keseimbangan lingkungan hidup yang berkelanjutan.
71. Kawasan Cagar Budaya adalah Satuan ruang geografis yang memiliki dua
situs cagar budaya atau lebih yang letaknya berdekatan dan/atau
memperlihatkan ciri tata ruang yang khas, dan ditetapkan oleh pemerintah
berdasarkan rekomendasi tim ahli cagar budaya.
72. Kawasan Perkebunan Rakyat adalah Kawasan perkebunan rakyat adalah
hutan rakyat yaitu hutan yang dimiliki oleh rakyat dengan luas minimal
0,25 hektar, penutupan tajuk tanaman berkayu atau jenis lainnya lebih
dari 50% atau jumlah tanaman pada tahun pertama minimal 500 tanaman
tiap hektar.
73. Kawasan pertanian adalah Kawasan yang dialokasikan dan memenuhi
kriteria untuk budi daya tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan
peternakan.
74. Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan adalah wilayah budi daya
pertanian terutama pada wilayah perdesaan yang memiliki hamparan
Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan dan/atau hamparan Lahan
Cadangan Pertanian Pangan Berkelanjutan serta unsur penunjangnya
dengan fungsi utama untuk mendukung kemandirian, ketahanan, dan
kedaulatan pangan nasional.
75. Kawasan perikanan adalah Kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama
untuk kegiatan perikanan tangkap dan perikanan budi daya. Termasuk di
dalamnya kawasan pengelolaan ekosistem pesisir.
76. Kawasan Penggaraman adalah Kawasan yang berkaitan dengan
praproduksi, produksi, pascaproduksi, dan pengolahan garam.
-8-
77. Kawasan permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar
kawasan lindung, baik berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan,
yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian
dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan.
78. Kawasan pertambangan dan Energi adalah Kawasan pada permukaan
tanah dan/atau dibawah permukaan tanah yang direncanakan sebagai
kegiatan hilir pertambangan minyak dan gas bumi dan/atau kegiatan
operasi produksi pertambangan mineral dan batubara serta kawasan
panas bumi dan kawasan pembangkitan tenaga listrik.
79. Kawasan Peruntukan Industri adalah bentangan lahan yang
diperuntukkan bagi kegiatan industri berdasarkan Rencana Tata Ruang
Wilayah dan tata guna tanah yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
80. Kawasan Pariwisata adalah Kawasan yang memiliki fungsi utama
pariwisata atau memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata baik
alam, buatan, maupun budaya.
81. Kawasan Pertahanan dan Keamanan adalah Kawasan yang dikembangkan
untuk menjamin kegiatan dan pengembangan bidang pertahanan dan
keamanan seperti instalasi pertahanan dan keamanan, termasuk tempat
latihan, kodam, korem, koramil, dan sebagainya.
82. Kawasan Transportasi adalah Kawasan yang dikembangkan untuk
menampung fungsi transportasi skala regional dalam upaya untuk
mendukung kebijakan pengembangan sistem transportasi yang tertuang di
dalam rencana tata ruang yang meliputi transportasi darat, udara, dan
laut.
83. Indikasi program utama jangka menengah lima tahunan adalah petunjuk
yang memuat usulan program utama, lokasi, besaran, waktu pelaksanaan,
sumber dana, dan instansi pelaksana dalam rangka mewujudkan ruang
provinsi yang sesuai dengan rencana tata ruang.
84. Ketentuan insentif dan disinsentif adalah perangkat atau upaya untuk
memberikan imbalan terhadap pelaksanaan kegiatan yang sejalan dengan
rencana tata ruang dan juga perangkat untuk mencegah, membatasi
pertumbuhan, atau mengurangi kegiatan yang tidak sejalan dengan
rencana tata ruang.
85. Arahan sanksi adalah arahan untuk memberikan sanksi bagi orang
perseorangan dan/atau korporasi dan/atau pejabat pemerintah yang
melakukan pelanggaran pemanfaatan ruang sehingga tidak sesuai dengan
rencana tata ruang yang berlaku.
86. Penyidik Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disingkat PPNS adalah
Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu yang berdasarkan peraturan
perundang-undangan ditunjuk selaku Penyidik dan mempunyai wewenang
untuk melakukan penyidikan tindak pidana dalam lingkup undang-
undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing.
87. Kepentingan Umum adalah kepentingan bangsa, negara, dan masyarakat
yang harus diwujudkan oleh pemerintah dan digunakan sebesar-besarnya
untuk kemakmuran rakyat.
88. Masyarakat adalah orang perorangan, kelompok orang termasuk
masyarakat hukum adat, korporasi, dan/atau pemangku kepentingan non
pemerintah lain dalam penyelenggaraan penataan ruang
-9-
89. Forum Penataan Ruang adalah wadah di tingkat pusat dan daerah yang
bertugas untuk membantu Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah
dengan memberikan pertimbangan dalam Penyelenggaraan Penataan
Ruang.
Bagian Kedua
Ruang Lingkup
Pasal 2
(1) Lingkup wilayah perencanaan meliputi:
a. wilayah darat dengan luas dengan luas kurang 3.439.342 ha (tiga juta
empat ratus empat puluh tiga puluh sembilan ribu tiga ratus empat
puluh dua) hektar;
b. wilayah laut pesisir yang diukur dari garis pantai kearah laut sejauh 12
mil dengan luas dengan luas kurang 1.727.849 ha (satu juta tujuh ratus
dua puluh tujuha ribu delapan ratus empat puluh sembilan) hektar;
c. wilayah udara; dan
d. wilayah dalam bumi.
(2) Batas wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), secara geografis
terletak pada 5°40' dan 8°30' Lintang Selatan dan 108°30' dan 111°30' Bujur
Timur.
(3) Batas wilayah Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. Sebelah utara : Laut Jawa;
b. Sebelah timur : Provinsi Jawa Timur;
c. Sebelah Selatan : Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan
Samudera Hindia; dan
d. Sebelah Barat : Provinsi Jawa Barat.
(4) Wilayah darat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a secara
administratif terdiri atas 35 (tiga puluh lima) Kabupaten/ Kota meliputi:
a. Kabupaten Cilacap;
b. Kabupaten Banyumas;
c. Kabupaten Purbalingga;
d. Kabupaten Banjarnegara;
e. Kabupaten Kebumen;
f. Kabupaten Purworejo;
g. Kabupaten Wonosobo;
h. Kabupaten Magelang;
i. Kabupaten Boyolali;
j. Kabupaten Klaten;
k. Kabupaten Sukoharjo;
l. Kabupaten Wonogiri;
m. Kabupaten Karanganyar;
-10-
n. Kabupaten Sragen;
o. Kabupaten Grobogan;
p. Kabupaten Blora;
q. Kabupaten Rembang;
r. Kabupaten Pati;
s. Kabupaten Kudus;
t. Kabupaten Jepara;
u. Kabupaten Demak;
v. Kabupaten Semarang;
w. Kabupaten Temanggung;
x. Kabupaten Kendal;
y. Kabupaten Batang;
z. Kabupaten Pekalongan;
aa. Kabupaten Pemalang;
bb. Kabupaten Tegal;
cc. Kabupaten Brebes;
dd. Kota Magelang;
ee. Kota Salatiga;
ff. Kota Semarang;
gg. Kota Surakarta;
[Link] Pekalongan; dan
ii. Kota Tegal.
(5) Kabupaten/ Kota sebagaimana dimaksud pada ayat (4) terdiri atas 8
(delapan) WP, dengan arahan pengembangan wilayah meliputi:
a. WP Barlingmascakeb, dengan arahan pengembangan wilayah meliputi:
1. menerpadukan pengembangan industri Cilacap-Banyumas;
2. menerpadukan pengembangan kawasan perkotaan Cilacap -
Purwokerto – Sokaraja – Purbalingga - Klampok;
3. mendorong pengembangan Kecamatan yang berbatasan dengan
Provinsi Jawa Barat;
4. meningkatkan keterwujudan Perkotaan Kebumen sebagai PKW;
5. meningkatkan akses Kebumen – Banjarnegara;
6. meningkatkan pengelolaan hasil pertanian dan perkebunan dengan
tetap mempertimbangkan kelestarian alam; dan
7. pengembangan potensi wisata alam pengunungan dan pesisir.
b. WP Purwomanggung, meliputi: Kabupaten Purworejo, dengan arahan
pengembangan wilayah meliputi:
1. meningkatkan pengelolaan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional
Borobudur dan Dieng yang mempertimbangkan kelestarian budaya,
kelestarian alam, dan kesejahteraan masyarakat ;
-11-
2. pengembangan potensi wisata alam pengunungan dan pesisir;
3. meningkatkan konservasi air tanah;
4. meningkatkan pengelolaan hasil pertanian dan perkebunan dengan
tetap mempertimbangkan kelestarian alam.
5. menerpadukan pengembangan Kota Magelang dan wilayah
Kabupaten Magelang yang berbatasan;
6. menerpadukan pembangunan perbatasan Kabupaten Magelang dan
Kabupaten Purworejo dengan Provinsi DIY; dan
7. mendorong pengembangan kawasan perkotaan Purworejo-Kutoarjo
menjadi Pusat Kegiatan Wilayah.
c. WP Subosukawonosraten, dengan arah pengembangan wilayah meliputi:
1. menerpadukan pengembangan permukiman perkotaan Kota
Surakarta dan kabupaten disekitarnya;
2. Mendorong kerjasama antar daerah dalam hal:
a) pengembangan ekonomi daerah yang saling menguntungkan;
b) koordinasi dan pengelolaan pengembangan kawasan permukiman
di perbatasan Kabupaten/ Kota;
c) penyediaan prasarana dan sarana di bidang; transportasi, air
minum, persampahan, drainase, pengelolan limbah;
d) Penyediaan ruang terbuka hijau Kota Surakarta dengan
Kabupaten lain yang berbatasan;
e) Pengelolaan dan pengembangan pariwisata; dan
f) penanganan bencana.
3. menerpadukan pembangunan wilayah Perbatasan Kabupaten
Sragen, Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Wonogiri dengan
Provinsi Jawa Timur;
4. mengendalikan alihfungsi lahan sawah;
5. pengembangan fasilitas logistik dalam rangka mendorong
kemudahan pergerakan barang hasil industri.
d. WP Jekuti, dengan arah pengembangan wilayah meliputi :
1. menerpadukan pembangunan kawasan perkotaan Juwana- Jepara
– Kudus – Pati;
2. meningkatkan pengelolaan industri kerajinan di Kabupaten Jepara;
3. meningkatkan pengelolaan industri pengolahan tembakau di
Kabupaten Kudus;
4. meningkatkan pengelolaan industri pengolahan tapioka di
Kabupaten Pati;
5. mengendalikan alihfungsi lahan sawah; dan
6. Peningkatan kerjasama penanganan bencana banjir, tanah longsor,
dan kekeringan.
e. WP Banglor, dengan arah pengembangan wilayah meliputi :
1. mendorong pengembangan kawasan perkotaan Rembang menjadi
Pusat Kegiatan Wilayah;
-12-
2. mendorong kawasan perkotaan Cepu dan sekitarnya sebagai pusat
bisnis pertambangan minyak dan gas bumi skala Internasional;
3. mengembangkan pelabuhan umum dan pelabuhan perikanan di
Kabupaten Rembang;
4. meningkatkan aksesibilitas pusat ekonomi Kabupaten Rembang dan
Kabupaten Blora;
5. meningkatkan prasarana dan sarana dalam rangka peningkatan
produktivitas pertanian tanaman; dan
6. menerpadukan pembangunan wilayah perbatasan dengan Provinsi
Jawa Timur.
f. WP Kedungsepur, dengan arah pengembangan wilayah meliputi:
1. Mendorong peningkatan pengembangan Kota Semarang sebagai
ibukota Provinsi yang mempertimbangkan daya dukung dan daya
tamping lingkungan hidup;
2. Mendorong kerjasama antar daerah dalam hal:
a) pengembangan ekonomi daerah yang saling menguntungkan;
b) koordinasi dan pengelolaan pengembangan kawasan permukiman
di perbatasan Kabupaten/ Kota;
c) penyediaan prasarana dan sarana di bidang; transportasi, air
minum, persampahan, drainase, pengelolan limbah;
d) Pengelolaan dan pengembangan pariwisata; dan
e) penanganan bencana dan kawasan terdampak rob.
3. pengendalian pemanfaatan wilayah pesisir yang mengalami
penurunan tanah dan peningkatan rob;
g. WP Petanglong, dengan arah pengembangan wilayah meliputi:
1. Menerpadukan pengembangan wilayah Petanglong yang terdampak
pengaruh Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB);
2. menerpadukan pengembangan permukiman perkotaan Kota
Pekalongan dan kabupaten disekitarnya;
3. Mendorong kerjasama antar daerah dalam hal:
a) pengembangan ekonomi daerah yang saling menguntungkan;
b) koordinasi dan pengelolaan pengembangan kawasan permukiman
di perbatasan Kabupaten/ Kota;
c) penyediaan prasarana dan sarana di bidang; transportasi, air
minum, persampahan, drainase, pengelolan limbah;
d) Penyediaan ruang terbuka hijau Kota Pekalongan dengan
Kabupaten lain yang berbatasan;
e) Pengelolaan dan pengembangan pariwisata; dan
f) penanganan bencana dan kawasan terdampak rob.
4. mengendalikan alihfungsi lahan sawah;
5. pengelolaan limbah industry/ kerajinan batik; dan
6. pengembangan fasilitas logistik dalam rangka mendorong
kemudahan pergerakan barang hasil industri.
-13-
h. WP Bregasmalang, dengan arah pengembangan wilayah meliputi:
1. menerpadukan pengembangan permukiman perkotaan Kota Tegal
dan kabupaten disekitarnya;
2. Mendorong kerjasama antar daerah dalam hal:
a) pengembangan ekonomi daerah yang saling menguntungkan;
b) koordinasi dan pengelolaan pengembangan kawasan permukiman
di perbatasan Kabupaten/ Kota;
c) penyediaan prasarana dan sarana di bidang; transportasi, air
minum, persampahan, drainase, pengelolan limbah;
d) Penyediaan ruang terbuka hijau Kota Tegal dengan Kabupaten
lain yang berbatasan;
e) Pengelolaan dan pengembangan pariwisata; dan
f) penanganan bencana dan kawasan terdampak rob.
3. menerpadukan pembangunan wilayah Perbatasan Kabupaten Brebes
dengan Provinsi Jawa Barat;
4. mengendalikan alihfungsi lahan sawah.
Pasal 3
Ruang lingkup RTRW Provinsi mencakup:
a. tujuan, kebijakan, dan strategi penataan ruang wilayah;
b. rencana struktur ruang wilayah;
c. rencana pola ruang wilayah;
d. KSP;
e. arahan pemanfaatan ruang wilayah; dan
f. arahan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah.
BAB II
TUJUAN, KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENATAAN RUANG WILAYAH
Bagian Kesatu
Tujuan Penataan Ruang
Pasal 4
Tujuan penataan ruang wilayah Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal
3 huruf a adalah mewujudkan ruang wilayah Provinsi yang maju, aman,
nyaman, produktif, dan bekelanjutan berbasis pertanian, industri,
perdagangan, dan pariwisata dalam keterpaduan pengelolaan alam darat dan
pesisir.
-14-
Bagian Kedua
Kebijakan Penataan Ruang
Pasal 5
Kebijakan untuk mencapai tujuan penataan ruang wilayah Provinsi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 terdiri atas:
a. peningkatan sistem pusat permukiman yang mengintegrasikan
pengembangan perkotaan dan perdesaan;
b. peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan infrastruktur
transportasi, telekomunikasi, energi, dan sumber daya air yang terpadu dan
merata sebagai pendorong pengembangan wilayah;
c. peningkatan pelestarian kawasan lindung;
d. pemanfaatan kawasan budi daya yang tidak melampaui daya dukung dan
daya tampung lingkungan hidup;
e. peningkatan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil daerah; dan
f. pengembangan kawasan strategis Provinsi.
Bagian Kedua
Strategi Penataan Ruang
Pasal 6
(1) Strategi peningkatan sistem pusat permukiman yang mengintegrasikan
pengembangan perkotaan dan perdesaan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 5 huruf a dilakukan melalui:
a. meningkatkan keterkaitan antar pusat pelayanan perkotaan PKN, PKW,
PKL dengan pusat pelayanan perdesaan PPK dan PPL
b. mendorong kawasan perkotaan dan pusat pertumbuhan agar lebih
kompetitif dan lebih efektif dalam pengembangan wilayah di sekitarnya;
c. mengarahkan dan mengendalikan perkembangan kawasan perkotaan di
sepanjang pantai utara dan pantai selatan;
d. mendorong pertumbuhan kawasan di Jawa Tengah bagian tengah
dengan tetap mempertahankan fungsi kawasan lindung;
e. meningkatkan aksesibilitas kawasan perdesaan ke pusat pertumbuhan;
f. mengembangkan sektor-sektor primer perdesaan melalui upaya
peningkatan produktivitas tanpa mengabaikan aspek kelestarian
lingkungan;
g. mengembangkan kegiatan industri pertanian melalui pengembangan
produksi, pengolahan dan pemasaran;
h. meningkatkan prasarana dan sarana di kawasan perdesaan; dan
i. meningkatkan keterkaitan sosial dan ekonomi desa – kota (urban rural
lingkages).
(2) Strategi peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan
infrastruktur transportasi, telekomunikasi, energi, dan sumber daya air
yang terpadu dan merata sebagai pendorong pengembangan wilayah
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf b dilakukan melalui:
-15-
a. meningkatkan sistem prasarana transportasi untuk kelancaran proses
koleksi dan distribusi barang/jasa;
b. meningkatkan kualitas jaringan prasarana dan mewujudkan
keterpaduan pelayanan transportasi darat, laut dan udara;
c. mengembangkan sistem prasarana transportasi laut dan udara untuk
meningkatkan aksesibilitas antar wilayah dan antar pulau;
d. mengembangkan sistem prasarana transportasi jalan raya yang terpadu
dengan lintas penyeberangan antar pulau, untuk meningkatkan
aksesibilitas antar kota-kota sebagai pusat pertumbuhan dengan
wilayah belakangnya serta meningkatkan interaksi antar pulau;
e. mengembangkan dan mengoptimalkan keterpaduan sistem transportasi
darat, laut, dan udara, dengan tujuan meningkatkan kemampuan tiap
jenis transportasi secara baik dengan efisien dan efektif;
f. mengembangkan sistem prasarana energi untuk memanfaatkan energi
terbarukan dan tak terbarukan secara optimal serta mewujudkan
keterpaduan sistem penyediaan tenaga listrik;
g. mengembangkan prasarana telekomunikasi untuk meningkatkan
kualitas dan jangkauan kemampuan keterhubungan dan integrasi
wilayah;
h. meningkatkan kualitas jaringan transmisi dan distribusi minyak dan gas
bumi secara optimal;
i. mengembangkan sistem prasarana pengairan untuk menunjang
kegiatan sektor terkait pemanfaatan sumber daya air; dan
j. mengembangkan prasarana lingkungan permukiman untuk
meningkatkan kualitas keterpaduan sistem penyediaan pelayanan
regional untuk air bersih, persampahan, drainase dan limbah.
(3) Strategi peningkatan pelestarian kawasan lindung sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 5 huruf c dilakukan melalui:
a. penetapan kawasan lindung sesuai dengan sifat perlindungannya;
b. membatasi dan mencegah pemanfaatan ruang yang berpotensi
mengurangi dan mengganggu fungsi lindung kawasan;
c. membatasi pengembangan prasarana dan sarana yang dapat memicu
perkembangan kegiatan budi daya di kawasan lindung;
d. menambah tutupan vegetasi menyerupai hutan dalam rangka
penghijauan khususnya di Daerah Aliran Sungai kritis;
e. meningkatkan keseimbangan ekosistem melalui pengembalian dan
peningkatan fungsi kawasan lindung yang telah menurun akibat
pengembangan kegiatan budi daya;
f. pengendalian pemanfaatan ruang kawasan rawan bencana; dan
g. merehabilitasi fungsi lindung kawasan yang menurun akibat dampak
pemanfaatan ruang yang berkembang.
(4) Strategi pemanfaatan kawasan budi daya yang tidak melampaui daya
dukung dan daya tampung lingkungan hidup sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 5 huruf d dilakukan melalui:
a. mengoptimalkan ruang bagi kegiatan budi daya sesuai daya dukung
lingkungan hidup dan daya tampung lingkungan hidup;
-16-
b. mengembangkan secara selektif bangunan fisik di kawasan budi daya
yang terdapat potensi bencana berdasarkan kajian teknis untuk
meminimalkan potensi kejadian bencana;
c. meningkatkan kualitas lahan kritis;
d. membatasi alih fungsi lahan sawah melalui penataan perkembangan
kawasan terbangun di kawasan perkotaan dan perdesaan dengan
mengoptimalkan pemanfaatan ruang secara vertikal dan tidak sporadis
untuk mempertahankan tingkat pelayanan prasarana dan sarananya;
e. mengarahkan perkembangan industri ke kawasan industri dan kawasan
peruntukan industri;
f. mengembangkan perdagangan antar daerah, mendorong ekspor
komoditas lokal, dan mengendalikan impor bahan pokok;
g. mendorong pengembangan wisata yang mengedepankan pemanfaatan
jasa lingkungan dalam rangka mewujudkan kelestarian alam;
h. mendorong pengembangan sistem permukiman perkotaan yang
kompak; dan
i. mengendalikan perkembangan permukiman di kawasan rawan bencana
alam.
(5) Strategi peningkatan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf e dilakukan melalui:
a. mengelola ekosistem habitat vital di wilayah pesisir dan pulau-pulau
kecil sebagai upaya menjaga keberadaan daerah pemijahan, daerah
asuhan dan pembesaran, serta daerah mencari makan biota;
b. meningkatkan upaya pelestarian sumber daya alam dan lingkungan di
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, seperti sosialisasi pentingnya
upaya pelestarian sumber daya alam dan lingkungan wilayah pesisir dan
pulau-pulau kecil maupun berbagai kegiatan rehabilitasi, pengkayaan
kembali maupun konservasi pada ekosistem habitat vital;
c. meningkatkan upaya perlindungan terhadap jalur migrasi spesies-
spesies yang dilindungi;
d. meningkatkan upaya perlindungan dan pengendalian terhadap spesies-
spesies yang dilindungi;
e. mengendalikan, mengurangi, mencegah dan mengantisipasi upaya
terjadinya degradasi habitat vital dan sumber daya alam dan lingkungan
di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil;
f. meningkatkan upaya produktivitas dan pemanfaatan sumber daya
pesisir dan pulau-pulau kecil berbasis daya dukung lingkungan;
g. meningkatkan upaya pengawasan, pengendalian dan pengelolaan
berbagai aktivitas antropogenik di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil;
h. meningkatkan upaya produktivitas perikanan dan kelautan di wilayah
pesisir dan pulau-pulau kecil;
i. mengembalikan fungsi hutan mangrove sebagai pelindung pantai;
j. memanfaatkan perairan pulau-pulau kecil sebagai ruang aktivitas di
bidang perikanan dan kelautan;
-17-
k. mengembangkan dan mengoptimalkan keberadaan kawasan khusus
yaitu Segara Anakan, Nusakambangan dan Karimunjawa secara
berkelanjutan;
l. memperketat penjagaan dan pengawasan terhadap pemanfaatan
wilayah perairan oleh berbagai sektor;
m. meningkatkan upaya ketahanan, peringatan dini dan mitigasi bencana
di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil; dan
n. memberikan pengaturan, supervisi dan tindakan tegas terhadap
penyimpangan pemanfaatan lahan di daerah pantai serta memperkuat
sinergitas dan harmonisasi kegiatan berbagai sektor.
(6) Strategi pengembangan kawasan strategis Provinsi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 5 huruf e dilakukan melalui:
a. mendorong pengembangan indutri prioritas Provinsi dalam rangka
mengembangkan wilayah yang berkeadilan;
b. meningakatkan kemampuan resapan air pada kawasan imbuhan air
tanah dalam rangka koservasi air tanah; dan
c. meningkatkan pengendalian pemanfaatan ruang pada kawasan
terdampak rob dan penurunan muka tanah.
BAB III
RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 7
(1) Rencana struktur ruang wilayah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3
huruf b meliputi:
a. sistem pusat permukiman;
b. sistem jaringan transportasi;
c. sistem jaringan energi;
d. sistem jaringan telekomunikasi;
e. sistem jaringan sumber daya air; dan
f. sistem jaringan prasarana lainnya.
(2) Rencana struktur ruang wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
digambarkan dalam peta dengan ketelitian geometri dan ketelitian detail
informasi skala 1:250.000 (satu banding dua ratus lima puluh ribu)
sebagaimana tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
-18-
Bagian Kedua
Sistem Pusat Permukiman
Pasal 8
(1) Sistem pusat permukiman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1)
huruf a, terdiri atas:
a. PKN;
b. PKW; dan
c. PKL.
(2) PKN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. Kawasan perkotaan Semarang – Kendal – Demak – Ungaran – Salatiga
- Purwodadi (Kedungsepur);
b. Kawasan perkotaan Surakarta; dan
c. Kawasan perkotaan Cilacap.
(3) PKW sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:
a. kawasan perkotaan Purwokerto;
b. kawasan perkotaan Kebumen;
c. kawasan perkotaan Wonosobo;
d. kawasan perkotaan Boyolali;
e. kawasan perkotaan Klaten;
f. kawasan perkotaan Cepu;
g. kawasan perkotaan Kudus;
h. kawasan perkotaan Magelang;
i. kawasan perkotaan Pekalongan; dan
j. kawasan perkotaan Tegal.
(4) PKL sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c berada di:
a. Kabupaten Cilacap meliputi: kawasan perkotaan Kroya, kawasan
perkotaan Majenang, dan kawasan perkotaan Sidareja.
b. Kabupaten Banyumas meliputi: kawasan perkotaan Wangon,
kawasan perkotaan Ajibarang, kawasan perkotaan Sokaraja, kawasan
perkotaan Banyumas, dan kawasan perkotaan Sumpiuh.
c. Kabupaten Purbalingga meliputi: kawasan perkotaan Purbalingga,
kawasan perkotaan Bobotsari, dan kawasan perkotaan Sokaraja.
d. Kabupaten Banjarnegara meliputi: kawasan perkotaan Banjarnegara
dan kawasan perkotaan Klampok.
e. Kabupaten Kebumen meliputi: kawasan perkotaan Gombong-
Karanganyar dan kawasan perkotaan Prembun.
f. Kabupaten Purworejo meliputi: kawasan perkotaan Purworejo dan
kawasan perkotaan Kutoarjo.
g. Kabupaten Wonosobo berupa kawasan perkotaan Kertek.
-19-
h. Kabupaten Magelang meliputi: kawasan perkotaan Mungkid, kawasan
perkotaan Muntilan, kawasan perkotaan Mertoyudan, kawasan
perkotaan Secang, dan kawasan perkotaan Borobudur.
i. Kabupaten Boyolali meliputi: kawasan perkotaan Banyudono,
kawasan perkotaan Ampel, kawasan perkotaan Karanggede, dan
kawasan perkotaan Simo.
j. Kabupaten Klaten meliputi: kawasan perkotaan Delanggu dan
kawasan perkotaan Prambanan.
k. Kabupaten Sukoharjo meliputi: kawasan perkotaan Sukoharjo,
kawasan perkotaan Kartasura, dan Kawasan perkotaan Grogol.
l. Kabupaten Wonogiri meliputi: kawasan perkotaan Wonogiri dan
kawasan perkotaan Pracimantoro.
m. Kabupaten Karanganyar meliputi: kawasan perkotaan Karanganyar
dan kawasan perkotaan Colomadu.
n. Kabupaten Sragen meliputi: kawasan perkotaan Sragen dan kawasan
Perkotaan Gemolong.
o. Kabupaten Grobogan meliputi: kawasan perkotaan Purwodadi,
kawasan perkotaan Gubug, dan kawasan perkotaan Godong.
p. Kabupaten Blora meliputi: kawasan perkotaan Blora dan kawasan
perkotaan Randublatung.
q. Kabupaten Rembang meliputi: kawasan perkotaan Rembang dan
kawasan perkotaan Lasem.
r. Kabupaten Pati meliputi: kawasan perkotaan Pati, kawasan perkotaan
Juwana, dan kawasan perkotaan Tayu.
s. Kabupaten Jepara meliputi: kawasan perkotaan Jepara, kawasan
perkotaan Kalinyamatan, dan kawasan perkotaan Bangsri.
t. Kabupaten Demak meliputi: kawasan perkotaan Demak dan kawasan
perkotaan Mranggen.
u. Kabupaten Semarang meliputi: kawasan perkotaan Ungaran dan
kawasan perkotaan Ambarawa.
v. Kabupaten Temanggung meliputi: kawasan perkotaan Temanggung
dan kawasan perkotaan Parakan.
w. Kabupaten Kendal meliputi: kawasan perkotaan Kendal, kawasan
perkotaan Boja, kawasan perkotaan Kaliwungu, kawasan perkotaan
Weleri, dan kawasan perkotaan Sukorejo.
x. Kabupaten Batang meliputi: kawasan perkotaan Batang, kawasan
Perkotaan Limpung, dan kawasan perkotaan Gringsing – Banyuputih.
y. Kabupaten Pekalongan meliputi: kawasan perkotaan Kajen, kawasan
perkotaan Wiradesa, dan kawasan perkotaan Kedungwuni-Buaran.
z. Kabupaten Pemalang meliputi: kawasan perkotaan Pemalang,
kawasan perkotaan Comal, kawasan perkotaan Randudongkal,
kawasan perkotaan Belik, dan kawasan perkotaan Moga.
aa. Kabupaten Tegal meliputi: kawasan perkotaan Slawi-Adiwerna dan
kawasan perkotaan Lebaksiu-Balapulang.
-20-
bb. Kabupaten Brebes meliputi: kawasan perkotaan Brebes, kawasan
perkotaan Losari, kawasan perkotaan Ketanggungan-Kersana, dan
kawasan perkotaan Bumiayu.
(5) Sistem Pusat Permukiman sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
digambarkan dalam peta dengan ketelitian geometri dan ketelitian detail
informasi skala 1:250.000 (satu banding dua ratus lima puluh ribu)
sebagaimana tercantum dalam Lampiran III yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Bagian Ketiga
Sistem Jaringan Transportasi
Paragraf 1
Umum
Pasal 9
(1) Sistem jaringan transportasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1)
huruf b meliputi:
a. sistem jaringan jalan;
b. sistem jaringan kereta api;
c. sistem jaringan sungai, danau, dan penyeberangan;
d. sistem jaringan transportasi Laut; dan
e. bandar udara umum.
(2) Sistem jaringan transportasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
digambarkan dalam peta dengan ketelitian geometri dan ketelitian detail
informasi skala 1:250.000 (satu banding dua ratus lima puluh ribu)
sebagaimana tercantum dalam Lampiran IV yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Paragraf 2
Sistem Jaringan Jalan
Pasal 10
(1) Sistem jaringan jalan, sebagaimana dimaksud pada Pasal 9 huruf a terdiri
atas:
a. jalan umum;
b. jalan tol;
c. terminal penumpang;
d. terminal barang; dan
e. jembatan timbang.
(2) Jalan umum, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas:
a. jalan arteri primer meliputi:
1. Ajibarang – Wangon;
2. Banyumas - Bts. Kab. Banjarnegara/Banyumas;
-21-
3. Bawen - Sp. 3 Utara Lingkar Salatiga;
4. Bts. Banyumas/ Kebumen - Sp. 3 Barat Jln. Lingkar Selatan
Kebumen;
5. Bts. Banyumas/Cilacap - Sp. 3 Jeruk Legi;
6. Bts. Kab. Banjarnegara – Selokromo;
7. Bts. Kab. Banjarnegara/Banyumas – Klampok;
8. Bts. Kab. Batang - Sp.4 Barat Jln. Lingkar Weleri;
9. Bts. Kab. Brebes/Banyumas – Ajibarang;
10. Bts. Kab. Demak/Kudus - Sp. 3 Barat Jln. Lingkar Kudus;
11. Bts. Kab. Kudus/Pati - Sp. 3 Barat Lingkar Pati;
12. Bts. Kab. Temanggung/Semarang - Sp. 3 Selatan Jln. Lingkar
Ambarawa;
13. Bts. Kab. Wonosobo/ Temanggung – Parakan;
14. Bts. Kota Banjarnegara - Bts. Kab. Wonosobo;
15. Bts. Kota Batang - Bts. Kab. Kendal;
16. Bts. Kota Boyolali – Kartosuro;
17. Bts. Kota Cilacap – Slarang;
18. Bts. Kota Kendal - Sp. 3 Barat Jln. Lingkar Kaliwungu;
19. Bts. Kota Klaten - Prambanan (Bts. Prov. Diy);
20. Bts. Kota Magelang – Keprekan;
21. Bts. Kota Pemalang - Bts. Kota Pekalongan;
22. Bts. Kota Rembang - Bulu (Bts. Prov. Jatim);
23. Bts. Kota Salatiga – Sruwen;
24. Bts. Kota Semarang - Bts. Kota Demak;
25. Bts. Kota Slawi – Prupuk;
26. Bts. Kota Sragen - Mantingan (Bts. Prov. Jatim);
27. Bts. Kota Surakarta – Palur;
28. Bts. Kota Tegal - Bts. Kota Pemalang;
29. Bts. Kota Tegal - Bts. Kota Slawi;
30. Bts. Kota Temanggung – Kranggan;
31. Bts. Kota Ungaran – Bawen;
32. Bts. Kota Wonosobo – Kertek;
33. Bts. Prov. Jawa Barat - Karang Pucung (Bts. Kab. Cilacap/
Banyumas);
34. Buntu – Banyumas;
35. Buntu - Sp. 3 Barat Jln. Lingkar Sumpiuh;
36. Duwet - Giri Woyo;
37. Duwet - Giri Woyo Segmen Ii Relokasi (Pracimantoro);
-22-
38. Duwet - Giri Woyo Segmen Iv Relokasi (Giritontro);
39. Giriwoyo - Glonggong (Bts. Prov. Jatim);
40. Jln. A Yani (Surakarta);
41. Jln. A. Yani (Brebes);
42. Jln. A. Yani (Slawi);
43. Jln. A. Yani (Wonosobo);
44. Jln. Adi Sucipto (Surakarta);
45. Jln. Adi Sumarmo (Surakarta);
46. Jln. Ahmad Yani (Magelang);
47. Jln. Akses Pelabuhan Tanjung Emas (Semarang);
48. Jln. Anton Sujarwo (Semarang);
49. Jln. Ar Hakim (Tegal);
50. Jln. Arteri Utara (Martadinata,Fly Over,Yos Sudarso (Semarang);
51. Jln. Brigjen Katamso (Pemalang);
52. Jln. Brigjen Katamso (Surakarta);
53. Jln. Bundaran Kalibanteng (Semarang);
54. Jln. Diponegoro (Brebes);
55. Jln. Diponegoro (Rembang);
56. Jln. Diponegoro (Temanggung);
57. Jln. Diponegoro (Ungaran);
58. Jln. Dokter Setiabudi (Pekalongan);
59. Jln. Dokter Sutomo (Pekalongan);
60. Jln. Dr. Cipto (Semarang);
61. Jln. Dr. Ciptomangunkusumo/Dr. Wahidin Sudirohusodo
(Tegal);
62. Jln. Dr. Sutomo (Semarang);
63. Jln. Dr. Sutomo Dan Jln. S. Parman (Sragen);
64. Jln. Dr. Wahidin (Semarang);
65. Jln. Gajah Mada (Pekalongan);
66. Jln. Gajah Mada (Brebes);
67. Jln. Gajah Mada (Tegal);
68. Jln. Gajahmada (Temanggung);
69. Jln. Gatot Subroto (Slawi);
70. Jln. Gatot Subroto (Ungaran);
71. Jln. Gombel Lama (Semarang);
72. Jln. Hayam Wuruk (Temanggung);
73. Jln. Jend. Sudirman (Pekalongan);
74. Jln. Jend. Sudirman (Tegal);
-23-
75. Jln. Jogo Negoro (Wonosobo);
76. Jln. Juanda (Cilacap);
77. Jln. Kaligarang (Semarang);
78. Jln. Kaligawe (Semarang);
79. Jln. Ketapang - Kebonharjo (Kendal);
80. Jln. Kh. Mas Mansyur (Pekalongan);
81. Jln. Kol Sugiono (Tegal);
82. Jln. Kompol Maksum (Semarang);
83. Jln. Kyai Muntang (Wonosobo);
84. Jln. Letjen Suprapto (Surakarta);
85. Jln. Letjend. Suprapto (Pemalang);
86. Jln. Lingkar (Cilacap);
87. Jln. Lingkar Ambarawa;
88. Jln. Lingkar Bodri (Kendal);
89. Jln. Lingkar Brebes - Tegal (Segmen I);
90. Jln. Lingkar Brebes - Tegal (Segmen II);
91. Jln. Lingkar Brebes - Tegal (Segmen III/ Jln. Piere Tendean)
(Tegal);
92. Jln. Lingkar Brebes - Tegal (Segmen IV/ Jln. Yos Sudarso Ii)
(Tegal);
93. Jln. Lingkar Bumiayu (Jln. Fatmawati);
94. Jln. Lingkar Demak;
95. Jln. Lingkar Juwana (Pati);
96. Jln. Lingkar Kaliwungu (Kendal);
97. Jln. Lingkar Kudus;
98. Jln. Lingkar Pati;
99. Jln. Lingkar Salatiga;
100. Jln. Lingkar Selatan Kebumen;
101. Jln. Lingkar Selatan Klaten (Jln. Diponegoro - Jln. Kartini);
102. Jln. Lingkar Selatan Purworejo;
103. Jln. Lingkar Selatan Purworejo - Karangnongko (Bts. Prov. Diy);
104. Jln. Lingkar Sumpiuh (Banyumas);
105. Jln. Lingkar Utara Barat (Sragen);
106. Jln. Lingkar Utara Surakarta;
107. Jln. Lingkar Utara Timur (Sragen);
108. Jln. Lingkar Weleri (Kendal);
109. Jln. Mangu - Ngemplak (Boyolali);
110. Jln. Mangunsarkoro (Surakarta);
-24-
111. Jln. Mayjend. Sutoyo (Tegal);
112. Jln. Mayor Bambang Sugeng (Wonosobo);
113. Jln. Merdeka (Pekalongan);
114. Jln. Mertoloyo (Tegal);
115. Jln. Moh Yamin (Pemalang);
116. Jln. Mt Haryono Relokasi (Cilacap);
117. Jln. Mt. Haryono (Cilacap);
118. Jln. Mt. Haryono (Pemalang);
119. Jln. Mt. Haryono (Semarang);
120. Jln. Mt. Haryono (Tegal);
121. Jln. Niaga (Cilacap);
122. Jln. Nusantara (Cilacap);
123. Jln. Pamularsih (Semarang);
124. Jln. Panjaitan (Cilacap);
125. Jln. Pemuda (Banjarnegara);
126. Jln. Pemuda (Brebes);
127. Jln. Pemuda (Kendal);
128. Jln. Pemuda (Muntilan);
129. Jln. Pemuda (Pekalongan);
130. Jln. Penyu (Cilacap);
131. Jln. Perintis Kemerdekaan (Boyolali);
132. Jln. Perintis Kemerdekaan (Klaten);
133. Jln. Piere Tendean (Surakarta);
134. Jln. Plelen (Selatan);
135. Jln. Plelen (Utara);
136. Jln. Prof. Suharso (Boyolali);
137. Jln. Raden Patah (Semarang);
138. Jln. Raden Saleh Sjarif Boestaman (Semarang);
139. Jln. Raya (Kendal);
140. Jln. Raya Barat (Kendal);
141. Jln. Raya Batang (Pekalongan);
142. Jln. Raya Timur (Kendal);
143. Jln. Raya Tirto (Pekalongan);
144. Jln. S. Parman (Banjarnegara);
145. Jln. S. Parman (Semarang);
146. Jln. S. Parman (Temanggung);
147. Jln. S. Parman (Wonosobo);
-25-
148. Jln. Sambi - Tanjungsari (Boyolali);
149. Jln. Setia Budhi (Semarang);
150. Jln. Siliwangi (Semarang);
151. Jln. Slamet (Pekalongan);
152. Jln. Slamet Riyadi (Batang);
153. Jln. Slamet Riyadi (Surakarta);
154. Jln. Soekarno-Hatta (Cilacap);
155. Jln. Soekarno-Hatta (Magelang);
156. Jln. Soekarno-Hatta (Salatiga);
157. Jln. Sriwijaya (Pekalongan);
158. Jln. Sudirman (Batang);
159. Jln. Sudirman (Brebes);
160. Jln. Sudirman (Rembang);
161. Jln. Sudirman (Slawi);
162. Jln. Sudirman (Temanggung);
163. Jln. Sudirman Barat (Cilacap);
164. Jln. Sultan Agung (Semarang);
165. Jln. Sultan Agung (Tegal);
166. Jln. Sumpah Pemuda (Surakarta);
167. Jln. Suprapto (Banjarnegara);
168. Jln. Suraji Tirtonegoro (Klaten);
169. Jln. Sutami (Surakarta);
170. Jln. Suwandi Suwardi (Temanggung);
171. Jln. Tentara Pelajar (Banjarnegara);
172. Jln. Tentara Pelajar (Cilacap);
173. Jln. Tentara Pelajar (Muntilan);
174. Jln. Teuku Umar (Semarang);
175. Jln. Untung Suropati (Rembang);
176. Jln. Urip Sumoharjo (Batang);
177. Jln. Urip Sumoharjo (Cilacap);
178. Jln. Urip Sumoharjo (Magelang);
179. Jln. Walisongo (Semarang);
180. Jln. Widoharjo (Semarang);
181. Jln. Wilis (Pekalongan);
182. Jln. Yos Sudarso (Cilacap);
183. Jln. Yos Sudarso (Tegal);
184. Karang Pucung (Bts. Kab. Cilacap/ Banyumas) – Wangon;
-26-
185. Kartosuro - Bts. Kota Klaten;
186. Kartosuro - Bts. Kota Surakarta;
187. Kedu - Bts. Kota Temanggung;
188. Keprekan - Bts. Kota Muntilan;
189. Kertek - Bts. Kab. Wonosobo/ Temanggung;
190. Kesugihan - Maos – Sampang;
191. Klampok - Bts. Kota Banjarnegara;
192. Kranggan – Secang;
193. Kutoarjo - Bts. Kota Purworejo;
194. Losari (Bts. Prov. Jabar) – Pejagan;
195. Muntilan - Salam (Bts. Diy);
196. Palur - Bts. Kota Sragen;
197. Parakan - Pertigaan Bulu;
198. Patikraja – Rawalo;
199. Pejagan - Bts. Kota Brebes;
200. Pejagan - Sp. Tiga Tol Pejagan Kanci;
201. Pertigaan Bulu – Kedu;
202. Prembun – Kutoarjo;
203. Pringsurat - Bts. Kab. Temanggung;
204. Prupuk - Sp. 3 Utara Jln. Lingkar Bumiayu;
205. Purwokerto – Patikraja;
206. Rawalo – Sampang;
207. Sampang – Buntu;
208. Secang - Bts. Kota Magelang;
209. Secang – Pringsurat;
210. Selokromo - Bts. Kota Wonosobo;
211. Slarang – Kesugihan;
212. Sp. 3 Jeruk Legi - Bts. Kota Cilacap;
213. Sp. 3 Selatan Jln. Lingkar Bumiayu - Bts. Kab.
Brebes/Banyumas;
214. Sp. 3 Timur Jln. Lingkar Kaliwungu - Bts. Kota Semarang;
215. Sp. 3 Timur Jln. Lingkar Kudus - Bts. Kab Kudus/Pati;
216. Sp. 3 Timur Jln. Lingkar Pati - Bts. Kota Rembang;
217. Sp. 3 Timur Jln. Lingkar Selatan Kebumen – Prembun;
218. Sp. 3 Timur Jln. Lingkar Sumpiuh - Bts. Banyumas/ Kebumen;
219. Sp. 3 Timur Jln. Lingkar Weleri - Bts. Kota Kendal;
220. Sp. 3 Timur Lingkar Demak - Sp. 3 Trengguli;
221. Sp. 3 Trengguli - Bts. Kab. Demak/ Kudus;
-27-
222. Sp. 3 Utara Jln. Lingkar Ambarawa – Bawen;
223. Sp.3 Tugu Tkr - Sp3. [Link] Sumarmo - Terminal Lama;
224. Sruwen - Terminal Boyolali; dan
225. Wangon - Bts. Kab. Banyumas/Cilacap.
b. jalan kolektor kolektor primer satu (JKP-1) meliputi:
1. Ajibarang - Bts. Kota Purwokerto;
2. Bts. Kab. Blora/Rembang - Bts. Kota Blora;
3. Bts. Kab. Demak/Jepara – Margoyoso;
4. Bts. Kab. Tegal/Kab. Brebes – Prupuk;
5. Bts. Kota Blora – Cepu;
6. Bts. Kota Purwokerto – Sokaraja;
7. Bts. Kota Rembang - Bts. Kab. Blora/Rembang;
8. Bts. Prov. Jawa Barat - Patimuan – Sidareja;
9. Cepu - Bts. Prov. Jawa Timur;
10. Jladri - Tambakmulyo – Wawar;
11. Jln. A. Yani (Blora);
12. Jln. A. Yani (Jepara);
13. Jln. Gatot Subroto (Cilacap);
14. Jln. Gerilya (Purwokerto);
15. Jln. Jend. Sudirman (Blora);
16. Jln. Kartini (Jepara);
17. Jln. Kartini (Rembang);
18. Jln. Pattimura (Purwokerto);
19. Jln. Pemuda (Jepara);
20. Jln. Pemuda (Rembang);
21. Jln. Perintis Kemerdekaan (Cilacap);
22. Jln. Soekarno Hatta (Jepara);
23. Jln. Veteran (Purwokerto);
24. Jln. Wahid Hasyim (Jepara);
25. Jln. Yos Sudarso (Purwokerto);
26. Kaliori – Banyumas;
27. Keprekan – Borobudur;
28. Manganti – Rawalo;
29. Margoyoso - Bts. Kota Jepara;
30. Sidareja - Sp. 3 Jeruk Legi;
31. Sp. 3 Tol Pejagan Kanci - Ketanggungan - Bts. Kab. Tegal/Kab.
Brebes;
32. Sp. 3 Trengguli - Bts. Kab. Demak/Bts. Kab. Jepara;
-28-
33. Sukaraja – Kaliori;
34. Tambakreja – Bantarsari;
35. Wangon – Manganti; dan
36. Wawar – Congot.
c. ruas jalan kolektor primer dua (JKP-2) meliputi:
1. Adipala – Bodo;
2. Ambarawa – Bandungan;
3. Andong / Bts Kab Boyolali - Karanggede / Bts Kab Smg;
4. Bandungan - Kaloran / Bts. Kab Temanggung;
5. Bandungsari - Penanggapan / Bts. Prov Jabar;
6. Bandungsari – Salem;
7. Banjarnegara – Wanayasa;
8. Bantarbolang – Randudongkal;
9. Banyuputih – Plantungan;
10. Batang – Wonotunggal;
11. Batur – Dieng;
12. Blabak - Jrakah / Bts. Kab Boyolali;
13. Blondo – Mendut;
14. Bobotsari - Belik / Bts. Kab Pemalang;
15. Boyolali - Bts. Kab. Klaten;
16. Boyolali - Selo - Jrakah / Bts. Kab Magelang;
17. Bruno / Bts. Kab Purworejo – Kepil;
18. Bts. Kab Magelang / Bener – Maron;
19. Bts. Kab. Karanganyar – Gemolong;
20. Bts. Kab. Klaten – Klaten;
21. Bts. Kota Salatiga - Kedungjati / Bts. Kab Grobogan;
22. Bts. Kota Surakarta - Bts. Kab. Karanganyar;
23. Bts. Lingkar Pati - Bts. Barat Kota Pati;
24. Bts. Lingkar Salatiga - Ngablak / Bts. Kab Magelang;
25. Bts. Timur Kota Pati - Bts. Lingkar Pati;
26. Bumiayu – Salem;
27. Bundaran Simpang Lima Purwodadi;
28. Buntu - Kroya – Slarang;
29. Cangkiran - Boja – Sukorejo;
30. Cilopadang - Bts. Kab. Brebes;
31. Demak – Godong;
32. Galeh – Ngrampal;
-29-
33. Gemolong - Andong / Bts. Kab Boyolali;
34. Gemolong - Bts. Kab. Grobogan;
35. Giribelah - Bts. Prov. Jatim;
36. Godong – Purwodadi;
37. Gombong - Sempor - Ketileng / Bts. Kab Banjarnegara;
38. Grogol / Bts. Kab Sukoharjo – Manyaran;
39. Gubug - Kapung - Kedungjati - / Bts. Kab Semarang;
40. Jati - Klambu / Bts. Kab Grobogan;
41. Jatibarang / Bts. Kab Tegal – Ketanggungan;
42. Jatinegara / Bts Kab Pemalang – Slawi;
43. Jepara - Keling / Bts. Kab Pati;
44. Jl. A. Yani (Purwodadi);
45. Jl. Brigjen Sudiarto (Semarang);
46. Jl. D.I. Panjaitan;
47. Jl. Diponegoro (Pati);
48. Jl. Dr. Susanto (Pati);
49. Jl. Jendral Gatot Subroto (Purworejo);
50. Jl. Kol Sugiono (Surakarta);
51. Jl. Lingkar Cumbring;
52. Jl. Lingkar Jepara;
53. Jl. Lingkar Kudus Utara;
54. Jl. Lingkar Selatan (Pati);
55. Jl. Lingkar Utara (Purworejo);
56. Jl. Panca Arga (Magelang);
57. Jl. Soekarno Hatta (Purbalingga);
58. Jl. Sukowati (Sragen);
59. Jl. Sunan Gripit (Banjarnegara);
60. Jl. Sungkono (Purbalingga);
61. Jl. Tunggul Wulung (Pati);
62. Jl. Veteran (Klaten);
63. Juwana - Todanan / Bts. Kab Blora;
64. Kajen - Bts. Kab Batang;
65. Kajen - Kalibening / Bts. Kab Banjarnegara;
66. Kajen - Kesesi / Bts. Kab Pemalang;
67. Kalimanah – Purbalingga;
68. Kalisoro - Bts. Prov. Jatim;
69. Kaliwungu / Bts. Kab Kudus – Kalinyamatan;
-30-
70. Karanganyar - Batujamus / Bts. Kab Sragen;
71. Karanganyar - Jatipuro / Bts. Kab Wonogiri;
72. Karanganyar - Tawangmangu – Kalisoro;
73. Karangbolong – Bodo;
74. Karangpucung – Sidareja;
75. Karangwuni - Bts. Prov. Diy;
76. Keling / Bts Kab Jepara – Tayu;
77. Kemiri - Kepil / Bts. Kab Wonosobo;
78. Kersana – Bandungsari;
79. Kertek – Sapuran;
80. Kesesi / Bts. Kab Pekalongan – Bantarbolang;
81. Ketanggungan - Kersana – Bantarsari;
82. Klampok – Purbalingga;
83. Krendetan - Bts. Prov. Diy;
84. Krendetan – Cawas;
85. Kudus - Kaliwungu / Bts Kab Jepara;
86. Kunduran - Ngawen – Blora;
87. Kutoarjo - Bruno / Bts. Kab Wonosobo;
88. Kutoarjo – Ketawang;
89. Kuwu - Galeh / Bts. Kab Sragen;
90. Lasem - Sale / Bts. Prov. Jatim;
91. Lemahbang – Bandungan;
92. Lingkar Barat Purbalingga;
93. Lingkar Selatan Karanganyar;
94. Lingkar Selatan Purwodadi;
95. Lingkar Timur Sukoharjo;
96. Lingkar Utara Purwodadi;
97. Magelang - Kaliangkrik / Bts. Kab Wonosobo;
98. Magelang - Ngablak / Bts. Kab Semarang;
99. Magelang – Salaman;
100. Mandiraja - Ketileng / Bts. Kab Kebumen;
101. Maron – Kemiri;
102. Maron – Purworejo;
103. Mendut - Klangon / Bts. Prov. Diy;
104. Menganti – Kesugihan;
105. Moga - Morongso / Bts. Kab Tegal;
106. Morongso / Bts. Kab Pemalang - Tuwel – Sirampog;
-31-
107. Ngadirojo - Biting / Bts. Prov. Jatim;
108. Ngadirojo – Giriwoyo;
109. Ngadirojo - Jatipuro / Bts. Kab Karanganyar;
110. Nguter / Bts. Kab Sukoharjo – Wonogiri;
111. Palur – Karanganyar;
112. Parakan - Patean / Bts. Kab Kendal;
113. Pati - Kayen - Sukolilo / Bts. Kab Grobogan;
114. Pati – Tayu;
115. Patikraja – Kaliori;
116. Pemalang – Bantarbolang;
117. Prembun - Wadaslintang / Bts. Kab Wonosobo;
118. Pringsurat – Kranggan;
119. Purbalingga – Bobotsari;
120. Purwantoro - Nawangan / Bts. Prov. Jatim;
121. Purwodadi - Geyer / Bts. Kab Sragen;
122. Purwodadi - Klambu / Bts. Kab Kudus;
123. Purwodadi – Wirosari;
124. Purworejo - Sibolong / Bts. Prov. Diy;
125. Randudongkal - Belik / Bts. Kab Purbalingga;
126. Randudongkal - Jatinegara / Bts. Kab Tegal;
127. Randudongkal – Moga;
128. Salaman - Bener / Bts. Kab Purworejo;
129. Salaman – Borobudur;
130. Salem - [Link]. Cilacap;
131. Sapuran - Kaliangkrik / Bts. Kab Magelang;
132. Sapuran – Kepil;
133. Semarang – Godong;
134. Sidareja – Cukangleuleus;
135. Sidoharjo - Gabugan – Gemolong;
136. Singget / Bts. Kab Grobogan - Doplang – Cepu;
137. Sirampog – Bumiayu;
138. Slawi - Jatibarang / Bts. Kab Brebes;
139. Sokaraja – Kalimanah;
140. Sragen - Batujamus / Bts. Kab Karanganyar;
141. Sruwen - Karanggede / Bts. Kab Boyolali;
142. Sukoharjo - Nguter / Bts. Kab Wonogiri;
143. Sukoharjo - Weru – Watukelir;
-32-
144. Sukolilo / Bts. Kab Pati – Grobogan;
145. Sukorejo - Plantungan / Blimbing;
146. Surakarta – Sukoharjo;
147. Tegowanu - Tanggung – Kapung;
148. Temanggung - Kaloran / Bts. Kab Semarang;
149. Temanggung - Pertigaan Bulu;
150. Todanan – Ngawen;
151. Ungaran – Cangkiran;
152. Wadaslintang – Selokromo;
153. Wanayasa – Batur;
154. Wanayasa - Kalibening / Bts. Kab Pekalongan;
155. Watukelir - Grogol / Bts. Kab Wonogiri;
156. Watukelir – Krendetan;
157. Weleri - Patean / Bts. Kab Kendal;
158. Wiradesa – Kajen;
159. Wirosari – Kunduran;
160. Wirosari - Sulungsari - Singget / Bts. Kab Blora;
161. Wonogiri - Manyaran – Blimbing;
162. Wonogiri – Ngadirojo;
163. Wonosobo - Dieng / Bts. Kab. Banjarnegara;
164. Wonotunggal - Bts. Kab Pekalongan;
165. Wonotunggal – Surjo; dan
166. Wuryantoro - Eromoko – Pracimantoro.
d. ruas jalan kolektor primer tiga (JKP-3) meliputi:
1. Jl. Raden Patah (Banyumas);
2. Jl. Sunan Ampel (Banyumas);
3. Jl. Sunan Bonang (Banyumas);
4. Purwokerto – Baturraden;
5. Purwokerto – Pegalongan;
6. Jepara - Kedungmalang – Pecangaan; dan
7. Kudus – Colo.
(3) Jalan tol sebagaimana dimaksud dalam pada ayat (1) huruf b meliputi:
a. Harbour Toll Road Semarang;
b. Tol Akses Wonosobo (Wonosobo - Pekalongan);
c. Tol Bojonegoro – Rembang;
d. Tol Cikalong – Cipucang;
e. Tol Cilacap – Yogyakarta;
-33-
f. Tol Demak – Jepara;
g. Tol Demak – Rembang;
h. Tol Gedebage - Tasikmalaya – Cilacap;
i. Tol Kanci – Pejagan;
j. Tol Lingkar Selatan Semarang;
k. Tol Lingkar Selatan Surakarta;
l. Tol Pejagan – Cilacap;
m. Tol Pejagan – Pemalang;
n. Tol Pemalang – Batang;
o. Tol Rembang – Tuban;
p. Tol Batang - Semarang;
q. Tol Semarang – Demak;
r. Tol Semarang – Solo;
s. Tol Semarang Seksi A,B,C;
t. Tol Solo - Mantingan – Ngawi;
u. Tol Solo - Yogyakarta - Nyia Kulonprogo;
v. Tol Wonosobo – Magelang;
w. Tol Yogyakarta – Bawen; dan
x. Tol Yogyakarta - Pacitan - Trenggalek – Lumajang.
(4) Terminal penumpang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c terdiri
atas:
a. Terminal Tipe A berada di:
a) Kabupaten Cilacap;
b) Kabupaten Banyumas;
c) Kabupaten Purbalingga;
d) Kabupaten Kebumen;
e) Kabupaten Purworejo;
f) Kabupaten Wonosobo;
g) Kabupaten Klaten;
h) Kabupaten Wonogiri;
i) Kabupaten Blora;
j) Kabupaten Semarang;
k) Kabupaten Kudus;
l) Kabupaten Demak;
m) Kabupaten Pemalang;
n) Kota Magelang;
o) Kota Surakarta;
p) Kota Salatiga;
-34-
q) Kota Semarang;
r) Kota Pekalongan; dan
s) Kota Tegal.
b. Terminal Tipe B berada di:
a) Kabupaten Cilacap;
b) Kabupaten Banyumas;
c) Kabupaten Purbalingga;
d) Kabupaten Banjarnegara;
e) Kabupaten Kebumen;
f) Kabupaten Purworejo;
g) Kabupaten Boyolali;
h) Kabupaten Sukoharjo;
i) Kabupaten Wonogiri;
j) Kabupaten Karanganyar;
k) Kabupaten Sragen;
l) Kabupaten Grobogan;
m) Kabupaten Blora;
n) Kabupaten Rembang;
o) Kabupaten Pati;
p) Kabupaten Jepara;
q) Kabupaten Demak;
r) Kabupaten Temanggung;
s) Kabupaten Kendal;
t) Kabupaten Pekalongan;
u) Kabupaten Batang;
v) Kabupaten Pemalang;
w) Kabupaten Tegal;
x) Kabupaten Brebes;
y) Kabupaten Magelang;
z) Kabupaten Semarang; dan
aa) Kota Semarang.
(5) Terminal barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d berada di:
a. Kabupaten Cilacap;
b. Kabupaten Semarang;
c. Kabupaten Sragen;
d. Kabupaten Kudus;
e. Kabupaten Demak;
-35-
f. Kabupaten Grobogan;
g. Kabupaten Batang;
h. Kabupaten Brebes;
i. Kota Semarang; dan
j. Kabupaten Banyumas.
(6) Jembatan timbang sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) huruf e meliputi:
a. Kabupaten Cilacap;
b. Kabupaten Banyumas;
c. Kabupaten Temanggung;
d. Kabupaten Magelang;
e. Kabupaten Semarang;
f. Kabupaten Wonogiri;
g. Kabupaten Sragen;
h. Kabupaten Rembang;
i. Kabupaten Grobogan;
j. Kabupaten Jepara;
k. Kabupaten Blora;
l. Kabupaten Batang;
m. Kabupaten Brebes; dan
n. Kabupaten Boyolali.
(7) Penyelenggaraan dan peningkatan sistem jaringan jalan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
Paragraf 3
Sistem Jaringan Kereta Api
Pasal 11
(1) Sistem jaringan kereta api sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf b
terdiri atas:
a. jaringan jalur kereta api antar kota; dan
b. stasiun kereta api.
(2) Jaringan kereta api antar kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf
a terdiri atas:
a. jalur kereta api cepat Jakarta – Surabaya;
b. jalur Utara menghubungkan Jakarta – Semarang – Surabaya;
c. jalur Selatan menghubungkan Jakarta/Bandung – Yogyakarta – Solo
– Surabaya berupa jalur ganda/double track;
a. jalur Utara - Selatan meliputi:
1. jalur Semarang – Solo; dan
-36-
2. jalur Tegal – Purwokerto.
b. jalur Kereta api regional meliputi:
1. jalur Jogja – Solo – Semarang (Joglosemar);
2. jalur Solo-Boyolali;
3. jalur Bandara Adi Soemarmo;
4. jalur Semarang – Kudus – Pati – Juwana – Rembang – Lasem –
Jatirogo - Bojonegoro;
5. jalur Semarang – Tegal – Brebes;
6. jalur Kalibodri - Kendal - Kaliwungu;
7. jalur Kudus - Bakalan;
8. jalur Rembang - Blora - Cepu;
9. jalur Gambringan - Purwodadi;
10. jalur Kedungjati – Tuntang Ambarawa;
11. jalur Ambarawa - Secang - Magelang - Yogyakarta;
12. jalur Semarang – Solo;
13. jalur Mayong - Welahan;
14. jalur Wirosari - Kradenan;
15. jalur Gambringan - Cepu;
16. jalur shortcut Randegan – Sikampuh;
17. jalur Purwokerto - Wonosobo;
18. jalur Rencana Juwana - Tayu;
19. jalur Rencana Demak - Blora;
20. jalur Secang - Temanggung – Parakan;
21. Jalur Pelabuhan Tanjung Emas – Kendal Seaport/ Terminal
Kendal; dan
22. Jalur Kereta Api Semarang Tawang – Pelabuhan Tanjung Emas.
(3) Stasiun kereta api (KA) sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) huruf b
berada di:
a. Kabupaten Cilacap;
b. Kabupaten Banyumas;
c. Kabupaten Kebumen;
d. Kabupaten Purworejo;
e. Kabupaten Boyolali;
f. Kabupaten Klaten;
g. Kabupaten Sukoharjo;
h. Kabupaten Wonogiri;
i. Kabupaten Karanganyar;
j. Kabupaten Sragen;
-37-
k. Kabupaten Grobogan;
l. Kabupaten Blora;
m. Kabupaten Demak;
n. Kabupaten Semarang;
o. Kabupaten Kendal;
p. Kabupaten Batang;
q. Kabupaten Pemalang;
r. Kabupaten Tegal;
s. Kabupaten Brebes;
t. Kota Surakarta;
u. Kota Semarang;
v. Kota Tegal; dan
w. Kota Pekalongan.
(4) Penyelenggaraan dan peningkatan sistem jaringan kereta api
sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) berdasarkan peraturan perundang-
undangan.
Paragraf 4
Sistem Jaringan Sungai, Danau, Dan Penyeberangan
Pasal 12
(1) Sistem jaringan sungai, danau, dan penyeberangan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 9 huruf c terdiri atas:
a. alur-pelayaran sungai dan alur-pelayaran danau;
b. lintas penyeberangan antarprovinsi;
c. lintas penyeberangan antarkabupaten/kota dalam provinsi;
d. pelabuhan sungai dan danau; dan
e. pelabuhan penyeberangan.
(2) Alur-pelayaran sungai dan alur-pelayaran danau sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. Alur Pelayaran Sungai Bengawan Solo (Dermaga Mojolaban Sukoharjo-
Dukuh Beton Surakarta);
b. Alur Pelayaran Sungai Serayu (Pelabuhan Kedung Uter-halte
Papringan-Halte Tambak Negara);
c. Alur Pelayaran Sungai Anakan Segara Cilacap – Kampung Laut
(Motehan – Klaces – Karanganyar)
d. Alur-pelayaran Sungai Donan (Dermaga Lomanis – Perkuyan –
Kutawaru – Alasmalang - Kalipanas – Prenca - Sleko);
e. Alur-pelayaran Sungai Kutho (Dermaga Dukuh Lutungmati – Dermaga
Dukuh Tegalsari, Dermaga Dukuh Mundu - Dermaga Dukuh Kebun
Waru);
f. Alur-pelayaran Sungai Ijo (Dermaga Loh Gending – Jetis);
-38-
g. Alur-pelayaran Sungai Comal (Dermaga Desa Kebagusan); dan
h. Alur-pelayaran Sungai Pemali (Dermaga Kertabesuki – Desa Tengki
Utara, Dermaga Dukuh Dawua Desa Kertabesuki - Desa Tengki Kidul,
Desa Dumeling – Desa Tengki Tengah).
i. Alur-pelayaran Waduk Kedung Ombo;
j. Alur-pelayaran Waduk Malahayu;
k. Alur-pelayaran Waduk Cacaban;
l. Alur-pelayaran Waduk Jatibarang;
m. Alur-pelayaran Waduk Logung;
n. Alur-pelayaran Waduk Bentolo;
o. Alur-pelayaran Waduk Randugunting;
p. Alur-pelayaran Waduk Greneng;
q. Alur-pelayaran Waduk Penjalin;
r. Alur-pelayaran Waduk Logending;
s. Alur-pelayaran Waduk Sempor;
t. Alur-pelayaran Waduk Wadas Lintang;
u. Alur-pelayaran Rawa Pening; dan
v. Alur-pelayaran Waduk Gajah Mungkur.
(3) Lintas penyeberangan antarprovinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf b meliputi:
a. lintas penyeberangan Provinsi Jawa Tengah - Jawa Timur (Desa
Mendalem – Desa Luwih Haji, Desa jimbung – Desa Kiringan, Desa
Panolan – Desa Sumber Arum, Desa Kenongogong – Desa Sumber
Arum, Desa Jipang – Kecamatan Ngraho); dan
b. lintas Penyeberangan Provinsi Jawa Tengah - Jawa Barat meliputi:
1. Lintas Penyeberangan Sungai Citandui (Dermaga Patimuan –
Dermaga Pandanaan, dermaga Patimuan Cilacap - Dermaga
Padaherang Pangandaran)
2. Lintas Penyeberangan Sungai Cisanggarung (Dermaga Limbangan
– Dermaga Kalirahayu, Dermaga Randusari – Dermaga Pasuruan).
(4) Lintas penyeberangan antar kabupaten/kota dalam provinsi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi:
a. lintas penyeberangan Kampung Sewu Kota Surakarta – Desa Gadingan
Kabupaten Sukoharjo;
b. lintas penyeberangan Desa Yosorejo Kabupaten Batang – Desa
Rowosari Kabupaten Kendal;
c. lintas penyeberangan Desa Yosorejo Kabupaten Batang – Desa
Jatipurwo Kabupaten Kendal; dan
d. lintas penyeberangan Desa Randusanga Wetan Kabupaten Brebes –
Desa Muarareja Kabupaten Tegal.
(5) Pelabuhan sungai dan danau sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
d berada di:
-39-
a. Kabupaten Cilacap;
b. Kabupaten Kabumen;
c. Kabupaten Wonosobo;
d. Kabupaten Wonogiri;
e. Kabupaten Sragen;
f. Kabupaten Sukoharjo;
g. Kabupaten Blora:
h. Kabupaten Kudus;
i. Kabupaten Kendal;
j. Kabupaten Batang;
k. Kabupaten Pemalang;
l. Kabupaten Tegal;
m. Kabupaten Brebes;
n. Kota Tegal; dan
o. Kota Surakarta.
(6) Pelabuhan penyeberangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e
meliputi:
a. Kabupaten Cilacap;
b. Kabupaten Jepara; dan
c. Kabupaten Kendal.
(7) Penyelenggaraan dan peningkatan sistem jaringan sungai, danau, dan
penyeberangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan
peraturan perundang-undangan.
Paragraf 5
Sistem Jaringan Transportasi Laut
Pasal 13
(1) Sistem jaringan transportasi laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9
huruf d terdiri atas:
a. pelabuhan laut;
b. pelabuhan perikanan; dan
c. alur pelayaran di laut.
(2) Pelabuhan laut sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) huruf a meliputi:
a. Pelabuhan utama Tanjung Emas di Kota Semarang.
b. Pelabuhan pengumpul berada di:
1. Kabupaten Cilacap berupa Pelabuhan Tanjung Intan; dan
2. Kota Tegal berupa Pelabuhan Tegal.
c. Pelabuhan pengumpan regional berada di:
1. Kabupaten Rembang berupa Pelabuhan Tasik Agung;
-40-
2. Kabupaten Rembang berupa Pelabuhan Sluke;
3. Kabupaten Pati berupa Pelabuhan Juwana;
4. Kabupaten Jepara meliputi:
a) Pelabuhan Jepara;
b) Pelabuhan Karimunjawa; dan
c) Pelabuhan Legon Bajak;
5. Kabupaten Kendal berupa Pelabuhan Kendal;
6. Kabupaten Batang berupa Pelabuhan Batang;
7. Kabupaten Pemalang berupa Pelabuhan Pemalang; dan
8. Kabupaten Brebes berupa Pelabuhan Brebes.
d. Pelabuhan pengumpan lokal berada di:
1. Kabupaten Cilacap meliputi:
a) Pelabuhan Tegalkamulyan; dan
b) Pelabuhan Bunton.
2. Kabupaten Wonogiri berupa Pelabuhan Wonogiri;
3. Kabupaten Demak berupa Pelabuhan Morodemak;
4. Kabupaten Jepara meliputi:
a) Pelabuhan Bangsri;
b) Pelabuhan Desa Kemujan;
c) Pelabuhan Kelet; dan
d) Pelabuhan Kartini;
5. Kota Pekalongan berupa Pelabuhan Pekalongan;
6. Kabupaten Pekalongan berupa Pelabuhan Wiradesa;
7. Kabupaten Batang meliputi:
a) Pelabuhan Celong;
b) Pelabuhan Roban;
c) Pelabuhan Seklayu; dan
d) Pelabuhan Kawasan Industri Batang;
8. Kabupaten Tegal berupa Pelabuhan Larangan;
9. Kota Tegal berupa Pelabuhan Tegalsari; dan
10. Kabupaten Brebes berupa Pelabuhan Losari.
e. Terminal Khusus dan terminal untuk kepentingan sendiri berada di:
1. Kabupaten Rembang;
2. Kabupaten Jepara;
3. Kota Semarang;
4. Kabupaten Kendal;
5. Kabupaten Batang; dan
-41-
6. Kabupaten Cilacap.
(3) Pelabuhan Perikanan sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) huruf a
meliputi:
a. Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) berupa Pelabuhan Perikanan
Cilacap berada di Kabupaten Cilacap.
b. Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) berupa Pelabuhan Perikanan
Pekalongan berada di Kota Pekalongan.
c. Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) berada di:
1. Kabupaten Kebumen berupa Pelabuhan Perikanan Logending;
2. Kabupaten Batang berupa Pelabuhan Perikanan Klidang Lor;
3. Kota Tegal berupa Pelabuhan Perikanan Tegalsari;
4. Kabupaten Tegal berupa Pelabuhan Perikanan Larangan;
5. Kabupaten Rembang berupa Pelabuhan Perikanan Tasik Agung
dan Pelabuhan Perikanan Sarang;
6. Kabupaten Pekalongan berupa Pelabuhan Perikanan Wonokerto;
7. Kabupaten Pemalang berupa Pelabuhan Perikanan Asemdoyong;
8. Kabupaten Kendal berupa Pelabuhan Perikanan Tawang;
9. Kabupaten Pati berupa Pelabuhan Perikanan Bajomulyo;
10. Kabupaten Demak berupa Pelabuhan Perikanan Morodemak; dan
11. Kabupaten Jepara berupa Pelabuhan Perikanan Karimunjawa.
d. Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) berada di:
1. Kabupaten Cilacap meliputi:
a) Pelabuhan Perikanan Jetis;
b) Pelabuhan Perikanan Kemiren;
c) Pelabuhan Perikanan Lengkong;
d) Pelabuhan Perikanan Sentolo Kawat;
e) Pelabuhan Perikanan Tegalkatilayu; dan
f) Pelabuhan Perikanan Mangantikisik.
2. Kabupaten Kebumen meliputi:
a) Pelabuhan Perikanan Karang Duwur;
b) Pelabuhan Perikanan Pasir;
c) Pelabuhan Perikanan Tanggulangin;
3. Kabupaten Purworejo meliputi:
a) Pelabuhan Perikanan Jati Kontal;
b) Pelabuhan Perikanan Jatimalang;
c) Pelabuhan Perikanan Kaburuhan; dan
d) Pelabuhan Perikanan Kertojayan.
4. Kota Semarang meliputi:
a) Pelabuhan Perikanan Tambak Lorok; dan
-42-
b) Pelabuhan Mangunharjo.
5. Kabupaten Brebes meliputi:
a) Pelabuhan Perikanan Kaliwlingi;
b) Pelabuhan Perikanan Kluwut;
c) Pelabuhan Perikanan Krakahan;
d) Pelabuhan Perikanan Pengaradan;
e) Pelabuhan Perikanan Prapag Kidul;
f) Pelabuhan Perikanan Pulolampes;
g) Pelabuhan Perikanan Sawojajar; dan
h) Pelabuhan Perikanan Karangdempel.
6. Kabupaten Batang meliputi:
a) Pelabuhan Perikanan Celong;
b) Pelabuhan Perikanan Roban; dan
c) Pelabuhan Perikanan Seklayu;
7. Kabupaten Jepara meliputi:
a) Pelabuhan Perikanan Bandungharjo;
b) Pelabuhan Perikanan Bondo;
c) Pelabuhan Perikanan Bulu;
d) Pelabuhan Perikanan Demaan;
e) Pelabuhan Perikanan Kedungmalang;
f) Pelabuhan Perikanan Mlonggo;
g) Pelabuhan Perikanan Panggung;
h) Pelabuhan Perikanan Tubanan;
i) Pelabuhan Perikanan Ujung Watu; dan
j) Pelabuhan Perikanan Ujung Batu.
8. Kabupaten Demak meliputi Pelabuhan Perikanan Wedung;
9. Kabupaten Pati berupa Pelabuhan Perikanan Banyutowo;
10. Kabupaten Kendal meliputi:
a) Pelabuhan Perikanan Bandengan; dan
b) Pelabuhan Perikanan Sendang Sikucing;
11. Kabupaten Pekalongan berupa Pelabuhan Perikanan Jambean;
12. Kabupaten Pemalang meliputi:
a) Pelabuhan Perikanan Mojo;
b) Pelabuhan Perikanan Tanjungsari; dan
c) Pelabuhan Perikanan Nyamplungsari.
13. Kabupaten Tegal meliputi:
a) Pelabuhan Perikanan Surodadi; dan
-43-
b) Pelabuhan Larangan.
14. Kabupaten Rembang meliputi:
a) Pelabuhan Perikanan Binangun;
b) Pelabuhan Perikanan Karanganyar;
c) Pelabuhan Perikanan Karanglincak;
d) Pelabuhan Perikanan Pandangan;
e) Pelabuhan Perikanan Pangkalan;
f) Pelabuhan Perikanan Pasar Banggi;
g) Pelabuhan Perikanan Tanjung Sari; dan
h) Pelabuhan Perikanan Tunggulsari.
(4) Alur Pelayaran di laut sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) huruf c
berupa Alur Pelayaran keluar-masuk pelabuhan laut, pelabuhan
perikanan, dan terminal khusus.
(5) Dalam rangka mendukung kelancaran dan keamanan operasi pelabuhan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), penyelengara pelabuhan
menetapkan Daerah Lingkungan Kerja (DLKr) dan Penataan Daerah
Lingkungan Kepentingan (DLKp) sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan.
(6) Penyelenggaraan dan peningkatan sistem jaringan transportasi laut
sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) berdasarkan peraturan perundang-
undangan.
Paragraf 6
Bandar Udara Umum
Pasal 14
(1) Bandar udara umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf
e terdiri atas:
a. Bandar udara pengumpul; dan
b. Bandar udara pengumpan.
(2) Bandar udara pengumpul sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
berada di:
a. Kota Semarang berupa Bandar Udara Ahmad Yani; dan
b. Kabupaten Boyolali berupa Bandar Udara Adi Sumarmo.
(3) Bandar udara pengumpan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b
berada di:
a. Kabupaten Cilacap berupa Bandar Udara Tunggul Wulung;
b. Kabupaten Purbalingga berupa Bandar Udara Jenderal Besar
Soedirman;
c. Kabupaten Jepara berupa Bandar Udara Dewadaru; dan
d. Kabupaten Blora berupa Bandar Udara Ngloram.
-44-
(4) Dalam rangka menjaga keselamatan operasi penerbangan ditetapkan
Kawasan Keselamatan Operasional Penerbangan (KKOP) setiap bandar
udara sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
(5) Penyelenggaraan dan peningkatan bandar udara sebagaimana dimaksud
pada Ayat (1) berdasarkan peraturan perundang-undangan.
Bagian Keempat
Sistem Jaringan Energi
Paragraf 1
Umum
Pasal 15
(1) Sistem jaringan energi sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (1)
huruf c terdiri atas:
a. Jaringan Infrastruktur Minyak dan Gas Bumi; dan
b. Jaringan Infrastruktur Ketenagalistrikan.
(2) Sistem jaringan energi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digambarkan
dalam peta dengan ketelitian geometri dan ketelitian detail informasi skala
1:250.000 (satu banding dua ratus lima puluh ribu) sebagaimana
tercantum dalam Lampiran V yang merupakan bagian tidak terpisahkan
dari Peraturan Daerah ini.
Paragraf 2
Jaringan Infrastruktur Minyak dan Gas Bumi
Pasal 16
(1) Jaringan infrastruktur minyak dan gas bumi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 15 huruf a terdiri atas:
a. infrastruktur minyak dan gas bumi; dan
b. jaringan minyak dan gas bumi.
(2) Infrastruktur minyak dan gas bumi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf a meliputi:
a. Kabupaten Cilacap;
b. Kabupaten Batang;
c. Kabupaten Pemalang;
d. Kabupaten Boyolali;
e. Kabupaten Semarang;
f. Kabupaten Blora;
g. Kabupaten Tegal;
h. Kota Semarang; dan
i. Kota Tegal.
(3) Jaringan minyak dan gas bumi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf b meliputi:
-45-
a. Jaringan minyak dan gas bumi berada di:
1. Kabupaten Cilacap;
2. Kabupaten Kebumen;
3. Kabupaten Purworejo;
4. Kabupaten Batang;
5. Kabupaten Kendal;
6. Kabupaten Grobogan;
7. Kabupaten Blora;
8. Kabupaten Boyolali;
9. Kabupaten Karanganyar;
10. Kabupaten Klaten;
11. Kabupaten Brebes;
12. Kabupaten Pekalongan;
13. Kabupaten Pemalang;
14. Kabupaten Tegal;
15. Kabupaten Semarang;
16. Kabupaten Sukoharjo;
17. Kota Semarang;
18. Kota Salatiga;
19. Kota Surakarta;
20. Kota Pekalongan; dan
21. Kota Tegal.
b. Jaringan pipa bawah laut minyak dan gas bumi berada di:
1. Kota Semarang;
2. Kabupaten Batang; dan
3. Kabupaten Cilacap.
(4) Penyelenggara jaringan infrastruktur minyak dan gas bumi menetapkan
area perlindungan jaringan infrastruktur minyak dan gas melalui
pengaturan jarak dengan permukiman, bangunan, dan/atau kegiatan lain
yang ada disekitarnya.
(5) Penyelenggaraan dan peningkatan jaringan infrastruktur minyak dan gas
bumi sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) berdasarkan peraturan
perundang-undangan.
Paragraf 3
Jaringan Infrastruktur Ketenagalistrikan
Pasal 17
(1) Jaringan infrastruktur ketenagalistrikan sebagaimana dimaksud dalam
pasal 15 huruf b terdiri atas:
-46-
a. infrastruktur pembangkitan tenaga listrik dan sarana pendukung; dan
b. jaringan infrastruktur penyaluran tenaga listrik dan sarana
pendukung.
(2) Infrastruktur pembangkitan tenaga listrik dan sarana pendukung,
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a berada di:
a. Kabupaten Cilacap;
b. Kabupaten Banjarnegara;
c. Kabupaten Banyumas;
d. Kabupaten Purworejo;
e. Kabupaten Batang;
f. Kabupaten Boyolali;
g. Kabupaten Brebes;
h. Kabupaten Grobogan;
i. Kabupaten Jepara;
j. Kabupaten Karanganyar;
k. Kabupaten Kebumen;
l. Kabupaten Pemalang;
m. Kabupaten Kudus;
n. Kabupaten Pati;
o. Kabupaten Blora;
p. Kabupaten Rembang;
q. Kabupaten Semarang;
r. Kabupaten Sragen;
s. Kabupaten Tegal;
t. Kabupaten Wonogiri;
u. Kabupaten Wonosobo;
v. Kota Semarang;
w. Kota Surakarta;
x. Kota Magelang;
y. Kota Salatiga; dan
z. Kota Tegal.
(3) Jaringan Infrastruktur Penyaluran Tenaga Listrik dan Sarana Pendukung
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf (b) terdiri atas:
a. jaringan transmisi tenaga listrik antarsistem meliputi:
1. jaringan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) meliputi:
a) Kabupaten Cilacap;
b) Kabupaten Banyumas;
c) Kabupaten Kebumen;
-47-
d) Kabupaten Purworejo;
e) Kabupaten Batang;
f) Kabupaten Blora;
g) Kabupaten Boyolali;
h) Kabupaten Brebes;
i) Kabupaten Demak;
j) Kabupaten Grobogan;
k) Kabupaten Jepara;
l) Kabupaten Karanganyar;
m) Kabupaten Kendal;
n) Kabupaten Klaten;
o) Kabupaten Kudus;
p) Kabupaten Pati;
q) Kabupaten Pekalongan;
r) Kabupaten Pemalang;
s) Kabupaten Semarang;
t) Kabupaten Sragen;
u) Kabupaten Sukoharjo;
v) Kabupaten Tegal;
w) Kota Salatiga; dan
x) Kota Semarang.
2. Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) meliputi:
a) Kabupaten Cilacap;
b) Kabupaten Banyumas;
c) Kabupaten Kebumen;
d) Kabupaten Purbalingga;
e) Kabupaten Banjarnegara;
f) Kabupaten Batang;
g) Kabupaten Blora;
h) Kabupaten Boyolali;
i) Kabupaten Brebes;
j) Kabupaten Demak;
k) Kabupaten Grobogan;
l) Kabupaten Jepara;
m) Kabupaten Karanganyar;
n) Kabupaten Kendal;
o) Kabupaten Klaten;
-48-
p) Kabupaten Kudus;
q) Kabupaten Magelang;
r) Kabupaten Pati;
s) Kabupaten Pekalongan;
t) Kabupaten Pemalang;
u) Kabupaten Purworejo;
v) Kabupaten Rembang;
w) Kabupaten Semarang;
x) Kabupaten Sragen;
y) Kabupaten Sukoharjo;
z) Kabupaten Tegal;
aa) Kabupaten Temanggung;
bb) Kabupaten Wonogiri;
cc) Kabupaten Wonosobo;
dd) Kota Magelang;
ee) Kota Pekalongan;
ff) Kota Salatiga;
gg) Kota Semarang; dan
hh)Kota Surakarta.
b. jaringan pipa/kabel bawah laut penyaluran tenaga listrik, meliputi:
1. Koridor Cilacap – Nusakambangan; dan
2. Pipa Intake PLTU Batang.
c. gardu listrik, meliputi:
1. Kabupaten Cilacap;
2. Kabupaten Banyumas;
3. Kabupaten Banjarnegara;
4. Kabupaten Kebumen;
5. Kabupaten Batang;
6. Kabupaten Blora;
7. Kabupaten Boyolali;
8. Kabupaten Brebes;
9. Kabupaten Demak;
10. Kabupaten Grobogan;
11. Kabupaten Jepara;
12. Kabupaten Karanganyar;
13. Kabupaten Kendal;
14. Kabupaten Klaten;
-49-
15. Kabupaten Kudus;
16. Kabupaten Magelang;
17. Kabupaten Pati;
18. Kabupaten Pemalang;
19. Kabupaten Purbalingga;
20. Kabupaten Purworejo;
21. Kabupaten Rembang;
22. Kabupaten Semarang;
23. Kabupaten Sragen;
24. Kabupaten Sukoharjo;
25. Kabupaten Tegal;
26. Kabupaten Temanggung;
27. Kabupaten Wonogiri;
28. Kabupaten Wonosobo;
29. Kota Magelang;
30. Kota Pekalongan;
31. Kota Salatiga;
32. Kota Semarang; dan
33. Kota Surakarta.
(4) Penyelenggara jaringan infrastruktur ketenagalistrikan menetapkan area
perlindungan jaringan infrastruktur ketenagalistrikan melalui pengaturan
jarak dengan bangunan, tanaman dan/atau kegiatan lain yang dapat
menggaggu operasinya.
(5) Penyelenggaraan dan peningkatan jaringan infrastruktur
ketenagalistrikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan
peraturan perundang-undangan.
Bagian Kelima
Sistem Jaringan Telekomunikasi
Pasal 18
(1) Sistem Jaringan Telekomunikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8
Ayat (3) huruf d terdiri atas:
a. jaringan tetap; dan
b. jaringan bergerak.
(2) Jaringan tetap sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) huruf a meliputi:
a. sistem prasarana jaringan kabel serat optik dan pembangunan saluran
serat optik bersama di seluruh Kabupaten/ Kota;
b. kabel bawah Laut untuk telekomunikasi yang terdapat di perairan:
1. Kabupaten Pemalang;
2. Kabupaten Kendal;
-50-
3. Kabupaten Jepara; dan
4. Kabupaten Pati.
(3) Jaringan bergerak sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) huruf b tersebar
di seluruh kabupaten/kota.
(4) Jaringan telekomunikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diarahkan
menggunakan pendekatan keamanan, estetika dan pemanfaatan bersama
antar operator.
(5) Penyelenggaraan dan peningkatan jaringan telekomunikasi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) berdasarkan peraturan perundang-undangan.
(6) Sistem jaringan telekomunikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
digambarkan dalam peta dengan ketelitian geometri dan ketelitian detail
informasi skala 1:250.000 (satu banding dua ratus lima puluh ribu)
sebagaimana tercantum dalam Lampiran VI yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Bagian Keenam
Sistem Jaringan Sumber Daya Air
Paragraf 1
Umum
Pasal 19
(1) Sistem jaringan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8
ayat (1) huruf e berupa prasarana sumber daya air terdiri atas:
a. air permukaan; dan
b. air tanah; dan
(2) Air permukaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a berupa
prasarana sumber daya air terdiri atas:
a. sistem jaringan irigasi;
b. sistem jaringan air bersih;
c. sistem pengendalian banjir; dan
d. bangunan pengambil air.
(3) Air tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b berupa air tanah
dalam CAT.
(4) Sistem jaringan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
digambarkan dalam peta dengan ketelitian geometri dan ketelitian detail
informasi skala 1:250.000 (satu banding dua ratus lima puluh ribu)
sebagaimana tercantum dalam Lampiran VII yang merupakan bagian
tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
-51-
Paragraf 2
Air Permukaan
Pasal 20
(1) Sistem jaringan irigasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2)
huruf a meliputi:
a. Sistem jaringan irigasi yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat;
dan
b. Sistem jaringan irigasi yang menjadi kewenangan Provinsi.
(2) Sistem jaringan irigasi yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. Daerah Irigasi Progo Manggis – Kalibening dengan daerah aliran berada
di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Magelang, dan Kota Magelang;
b. Daerah Irigasi Colo dengan daerah aliran berada di Kabupaten
Wonogiri, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Klaten, Kabupaten
Karanganyar, dan Kabupaten Sragen; dan
c. Daerah Irigasi Gondang dengan daerah aliran berada di Kabupaten
Karanganyar dan Kabupaten Sragen.
d. Daerah Irigasi Serayu dengan daerah aliran berada di Kabupaten
Banyumas, Cilacap, Kebumen;
e. Daerah Irigasi Banjarcahyana dengan daerah aliran berada di
Kabupaten Banjarnegara dan Purbalingga.
f. Daerah Irigasi Klambu dengan daerah aliran berada di Kabupaten
Grobogan, Demak, Kudus, Jepara, Pati;
g. Daerah Irigasi Glapan dengan daerah aliran berada di Kabupaten
Grobogan dan Demak;
h. Daerah Irigasi Sedadi dengan daerah aliran berada di Kabupaten
Grobogan dan Demak;
i. Daerah Irigasi Kumisik dengan daerah aliran berada di Kabupaten
Tegal dan Brebes;
j. Daerah Irigasi Kedungasem dengan daerah aliran berada di Kabupaten
Batang dan Kendal;
k. Daerah Irigasi Kupang Krompeng dengan daerah aliran berada di
Kabupaten Batang, Kabupaten Pekalongan dan Kota Pekalongan;
l. Daerah Irigasi Waduk Wadas Lintang dengan daerah aliran berada di
Kabupaten Purworejo dan Kabupaten Kebumen;
m. Daerah Irigasi Kaliwadas dengan daerah aliran berada di Kabupaten
Pemalang dan Kabupaten Pekalongan;
n. Daerah Irigasi Pasantren Klatak dengan daerah aliran berada di
Kabupaten Pekalongan dan Kota Pekalongan;
o. Daerah Irigasi Pemali Bawah (Bd. Notog) dengan daerah aliran berada
di Kabupaten Tegal dan Kabupaten Brebes;
p. Daerah Irigasi Singapan/ Grogek dengan daerah aliran berada di
Kabupaten Tegal dan Kabupaten Pemalang;
-52-
(3) Sistem jaringan irigasi kewenangan Pemerintah Provinsi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:
a. Kabupaten Banjarnegara meliputi:
1. Daerah Irigasi Kalisapi; dan
2. Daerah Irigasi Piasa.
b. Kabupaten Banyumas meliputi:
1. Daerah Irigasi Andongbang;
2. Daerah Irigasi Kedunglimus Arca;
3. Daerah Irigasi Banjaran;
4. Daerah Irigasi Bodag;
5. Daerah Irigasi Dwicupaksari;
6. Daerah Irigasi Buniayu;
7. Daerah Irigasi Buniayu;
8. Daerah Irigasi Pribadi;
9. Daerah Irigasi Piasa; dan
10. Daerah Irigasi Kebasen.
c. Kabupaten Batang berupa Daerah Irigasi Kedungdowo Kramat;
d. Kabupaten Blora berupa Daerah Irigasi Kedungwaru;
e. Kabupaten Boyolali meliputi:
1. Daerah Irigasi Padasklorot;
2. Daerah Irigasi Tlatar;
3. Daerah Irigasi Pundung;
4. Daerah Irigasi Majegan;
5. Daerah Irigasi Kedungboyo;
6. Daerah Irigasi Gunungmaling;
7. Daerah Irigasi Glodok;
8. Daerah Irigasi Gisik;
9. Daerah Irigasi Baran;
10. Daerah Irigasi Wonotoro;
11. Daerah Irigasi Parean;
12. Daerah Irigasi Parean;
13. Daerah Irigasi Pakelan;
14. Daerah Irigasi Garat;
15. Daerah Irigasi Brajan;
16. Daerah Irigasi Klego; dan
17. Daerah Irigasi Cengklik.
f. Kabupaten Brebes meliputi:
1. Daerah Irigasi Kemaron;
-53-
2. Daerah Irigasi Gangsa Lumingser; dan
3. Daerah Irigasi Beji.
g. Kabupaten Cilacap meliputi:
1. Daerah Irigasi Cijalu; dan
2. Daerah Irigasi Cileumeuh.
h. Kabupaten Demak meliputi:
1. Daerah Irigasi Penggaron;
2. Daerah Irigasi Pelayaran Batu Sayung;
3. Daerah Irigasi Guntur;
4. Daerah Irigasi Sojomerto; dan
5. Daerah Irigasi Dolok.
i. Kabupaten Grobogan berupa Daerah Irigasi Kedungwaru
j. Kabupaten Jepara meliputi:
1. Daerah Irigasi Siwayut;
2. Daerah Irigasi Medani; dan
3. Daerah Irigasi Kramat.
k. Kabupaten Karanganyar meliputi:
1. Daerah Irigasi Bakalan;
2. Daerah Irigasi Sidomakmur;
3. Daerah Irigasi Selomoro;
4. Daerah Irigasi Sedayu;
5. Daerah Irigasi Jetu;
6. Daerah Irigasi Bakdalem;
7. Daerah Irigasi Glodok;
8. Daerah Irigasi Gisik;
9. Daerah Irigasi Walikan;
10. Daerah Irigasi Tritis;
11. Daerah Irigasi Trani;
12. Daerah Irigasi Temantenan;
13. Daerah Irigasi Sudangan;
14. Daerah Irigasi Srambang;
15. Daerah Irigasi Ngasem;
16. Daerah Irigasi Mantren;
17. Daerah Irigasi Latung;
18. Daerah Irigasi Nglasem;
19. Daerah Irigasi Cangkring;
20. Daerah Irigasi Mindi;
-54-
21. Daerah Irigasi Jetis;
22. Daerah Irigasi Brajan;
23. Daerah Irigasi Brajan;
24. Daerah Irigasi Braholo
25. Daerah Irigasi Braholo;
26. Daerah Irigasi Cengklik;
27. Daerah Irigasi Pulo;
28. Daerah Irigasi Blingi;
29. Daerah Irigasi Lemahbang;
30. Daerah Irigasi Munggur;
31. Daerah Irigasi Menggok;
32. Daerah Irigasi Kwangsan;
33. Daerah Irigasi Kepoh; dan
34. Daerah Irigasi Kasihan Ii.
l. Kabupaten Kebumen berupa Daerah Irigasi Buniayu
m. Kabupaten Kendal meliputi:
1. Daerah Irigasi Plumbon; dan
2. Daerah Irigasi Aji Kedung Pengilon.
n. Kabupaten Klaten meliputi:
1. Daerah Irigasi Pundung;
2. Daerah Irigasi Nyaen;
3. Daerah Irigasi Jumeneng;
4. Daerah Irigasi Jaban; dan
5. Daerah Irigasi Plosowareng.
o. Kabupaten Kudus meliputi:
1. Daerah Irigasi Siwayut;
2. Daerah Irigasi SI Logung;
3. Daerah Irigasi Kramat; dan
4. Daerah Irigasi Kramat.
p. Kabupaten Magelang meliputi:
1. Daerah Irigasi Tangsi;
2. Daerah Irigasi Soropadan; dan
3. Daerah Irigasi Kalibutek.
q. Kabupaten Pati meliputi:
1. Daerah Irigasi Widodaren;
2. Daerah Irigasi SI Sentul;
3. Daerah Irigasi Medani;
-55-
4. Daerah Irigasi Logung; dan
5. Daerah Irigasi Logung.
r. Kabupaten Pekalongan berupa Daerah Irigasi Asem Siketek;
s. Daerah Irigasi Tapak Menjangan;
1. Daerah Irigasi Sidokampir; dan
2. Daerah Irigasi Padurekso.
t. Kabupaten Pemalang berupa Daerah Irigasi Mejagong;
u. Kabupaten Purbalingga meliputi:
1. Daerah Irigasi Bodag;
2. Daerah Irigasi Dwicupaksari;
3. Daerah Irigasi Pribadi; dan
4. Daerah Irigasi Krenceng.
v. Kabupaten Purworejo meliputi:
1. Daerah Irigasi Loning Kragilan;
2. Daerah Irigasi Kalibutek; dan
3. Daerah Irigasi I Watujagir.
w. Kabupaten Rembang berupa Daerah Irigasi Kedungsapen
x. Kabupaten Semarang meliputi:
1. Daerah Irigasi Padasklorot;
2. Daerah Irigasi Isep-Isep;
3. Daerah Irigasi Aji Getas;
4. Daerah Irigasi Rejoso;
5. Daerah Irigasi Senjoyo;
6. Daerah Irigasi Sidopangus;
7. Daerah Irigasi Sinongko;
8. Daerah Irigasi Sucen;
9. Daerah Irigasi Tlatar;
10. Daerah Irigasi Wonotoro;
11. Daerah Irigasi Parean; dan
12. Daerah Irigasi Garat.
y. Kabupaten Sragen meliputi:
1. Daerah Irigasi Selomoro;
2. Daerah Irigasi Sedayu;
3. Daerah Irigasi Kedungboyo;
4. Daerah Irigasi Temantenan;
5. Daerah Irigasi Jetis;
6. Daerah Irigasi Bapang;
-56-
7. Daerah Irigasi Blingi;
8. Daerah Irigasi Bonggo;
9. Daerah Irigasi Munggur;
10. Daerah Irigasi Kepoh; dan
11. Daerah Irigasi Kasihan Ii.
z. Kabupaten Sukoharjo meliputi:
1. Daerah Irigasi Sidomakmur;
2. Daerah Irigasi Bakdalem;
3. Daerah Irigasi Pundung;
4. Daerah Irigasi Gunungmaling;
5. Daerah Irigasi Trani;
6. Daerah Irigasi Ngasem;
7. Daerah Irigasi Pakelan;
8. Daerah Irigasi Cangkring;
9. Daerah Irigasi Mindi;
10. Daerah Irigasi Nyaen;
11. Daerah Irigasi Jumeneng;
12. Daerah Irigasi Lemahbang; dan
13. Daerah Irigasi Kwangsan.
aa. Kabupaten Tegal meliputi:
1. Daerah Irigasi Sidapurna;
2. Daerah Irigasi Pesayangan;
3. Daerah Irigasi Parakan Kidang;
4. Daerah Irigasi Lenggor;
5. Daerah Irigasi Karanganyar;
6. Daerah Irigasi Gondang;
7. Daerah Irigasi Gangsa Lumingser; dan
8. Daerah Irigasi Beji.
bb. Kabupaten Temanggung meliputi:
1. Daerah Irigasi Soropadan;
2. Daerah Irigasi Galeh; dan
3. Daerah Irigasi Catgawen I-IV.
cc. Kabupaten Wonogiri meliputi:
1. Daerah Irigasi Walikan;
2. Daerah Irigasi Latung;
3. Daerah Irigasi Semanding;
4. Daerah Irigasi Nglasem;
-57-
5. Daerah Irigasi Braholo;
6. Daerah Irigasi Braholo;
7. Daerah Irigasi Pulo; dan
8. Daerah Irigasi Menggok.
dd. Kabupaten Wonosobo berupa Daerah Irigasi Watujagir;
ee. Kota Pekalongan berupa Daerah Irigasi Asem Siketek;
ff. Kota Salatiga meliputi:
1. Daerah Irigasi Isep-isep;
2. Daerah Irigasi Aji Getas;
3. Daerah Irigasi Sinongko; dan
4. Daerah Irigasi Sucen.
gg. Kota Semarang meliputi:
1. Daerah Irigasi Plumbon;
2. Daerah Irigasi Penggaron;
3. Daerah Irigasi Sojomerto; dan
4. Daerah Irigasi Dolok.
hh. Kota Tegal meliputi:
1. Daerah Irigasi Sidapurna; dan
2. Daerah Irigasi Pesayangan.
(4) Penyelenggaraan dan peningkatan sistem jaringan Irigasi sebagaimana
dimaksud pada Ayat (1) berdasarkan peraturan perundang - undangan.
Pasal 21
Sistem jaringan air bersih sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf b
berupa kolam tampungan air untuk penyediaan air bersih berada di seluruh
Kabupaten/ Kota.
Pasal 22
(1) Sistem Pengendalian Banjir, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat
(1) huruf c meliputi:
a. jaringan pengendali banjir; dan
b. bangunan pengendali banjir.
(2) Jaringan pengendali banjir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
terdiri atas:
a. Sistem pengaman pantai, pengembangan tanggul laut dan tanggul
pantai pada pesisir pantai Kabupaten Cilacap, Kabupaten Kebumen,
Kabupaten Demak, Kabupaten Jepara, Kabupaten Pati, Kabupaten
Rembang, Kota Semarang, Kabupaten Kendal, Kabupaten Batang,
Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Pemalang,
Kabupaten Tegal, Kota Tegal, dan Kabupaten Brebes.
-58-
b. Sistem pengendalian banjir dan air baku berupa danau, embung, dan
waduk meliputi:
1. Kabupaten Banyumas meliputi:
a) Embung Desa Danasri Lor;
b) Embung Purwojati;
2. Kabupaten Blora meliputi:
a) Bendungan/ Waduk Greneng;
b) Bendungan/ Waduk Randugunting;
c) Bendungan/ Waduk Tempuran;
d) Bendungan/ Waduk Karangnongko;
e) Longstorage Dologan;
f) Longstorage Genjahan; dan
g) Longstorage Ngilen.
3. Kabupaten Boyolali meliputi:
a) Bendungan/ Waduk Bade.
b) Bendungan/ Waduk Cengklik; dan
c) Bendungan/ Waduk Ngasem.
4. Kabupaten Brebes meliputi:
a) Bendungan/ Waduk Bantarkawung;
b) Bendungan/ Waduk Bantarsari;
c) Bendungan/ Waduk Malahayu;
d) Bendungan/ Waduk Penjalin;
e) Embung Bulakelor;
f) Embung Cikeusal Kidul;
g) Embung Desa Siwuluh;
h) Embung Geger kunci;
i) Embung Jatirokeh;
j) Embung Karangsari;
k) Embung Karangsembung;
l) Embung Kedawon;
m) Embung Klampis;
n) Embung Rancawuluh;
o) Embung Rengaspendawa; dan
p) Embung Sitanggal.
5. Kabupaten Cilacap meliputi:
a) Bendungan/ Waduk Matenggeng;
b) Embung Bunter;
c) Longstorage Ciglagah;
-59-
d) Longstorage Cimanggu; dan
e) Longstorage Cisalado.
6. Kabupaten Banjarnegara berupa Bendungan/ Waduk Sudirman;
7. Kabupaten Demak berupa Embung Jeruk Gulung.
8. Kabupaten Grobogan meliputi:
a) Bendungan/ Waduk Butak;
b) Bendungan/ Waduk Nglangon;
c) Bendungan/ Waduk Sanggeh;
d) Embung Mini Tegalrejo;
e) Longstorage Dorolegi;
f) Longstorage Ketangi;
g) Longstorage Sambong; dan
h) Longstorage Teleng.
9. Kabupaten Karanganyar meliputi:
a) Bendungan/ Waduk Delingan;
b) Bendungan/ Waduk Gondang;
c) Bendungan/ Waduk Jlantah;
d) Bendungan/ Waduk Lalung; dan
e) Embung Alas tuwo.
10. Kabupaten Kebumen;
a) Bendungan/ Waduk Penjengkolan;
b) Bendungan/ Waduk Sempor; dan
c) Embung DAS Kalong.
11. Kabupaten Kendal meliputi:
a) Embung Ds. Bumiayu;
b) Embung Kedung Gading;
c) Embung Kedungsari;
d) Embung Ngerjo;
e) Embung Ringinarum;
f) Embung Rowobranten;
g) Embung Sidokumpul;
h) Embung Sojomerto; dan
i) Embung Tejorejo.
12. Kabupaten Klaten meliputi:
a) Bendungan/ Waduk Jombor;
b) Embung Krikilan; dan
c) Embung Mranggen.
-60-
13. Kabupaten Kudus berupa Bendungan/ Waduk Logung.
14. Kabupaten Pati meliputi:
a) Bendungan/ Waduk Gembong;
b) Bendungan/ Waduk Gunungrowo;
c) Embung Dengkek;
d) Embung Dukuhmulyo;
e) Embung Gemeces;
f) Embung Ronggomulyo (1);
g) Embung Ronggomulyo (2);
h) Embung Sembatur Agung;
i) Embung Sidokerto;
j) Embung Sugiharjo; dan
k) Embung Tamansari.
15. Kabupaten Pekalongan meliputi:
a) Longstorage Buntu;
b) Longstorage Kali Jambe;
c) Longstorage Kedungjaran;
d) Longstorage Pace;
16. Kabupaten Pemalang;
a) Bendungan/ Waduk Bantarbolang; dan
b) Embung Sibiuk.
17. Kabupaten Purbalingga meliputi:
a) Embung Kedungjati; dan
b) Longstorage Kaliayer;
18. Kabupaten Purworejo;
a) Bendungan/ Waduk Bener;
b) Embung Desa Bagelen (1); dan
c) Embung Desa Bagelen (2).
19. Kabupaten Rembang meliputi:
a) Bendungan/ Waduk Banyukuwung;
b) Bendungan/ Waduk Grawan;
c) Bendungan/ Waduk Lodan Wetan;
d) Bendungan/ Waduk Panohan;
e) Embung Ds. Sridadi; dan
f) Embung Warugunung.
20. Kabupaten Semarang meliputi:
a) Bendungan/ Waduk Dolok;
-61-
b) Bendungan/ Waduk Jragung;
c) Bendungan/ Waduk Rawapening;
d) Embung Mini Bancak;
e) Longstorage Ls. Mukiran.
21. Kabupaten Sragen meliputi:
a) Bendungan/ Waduk Blimbing;
b) Bendungan/ Waduk Botok;
c) Bendungan/ Waduk Brambang;
d) Bendungan/ Waduk Gebyar;
e) Bendungan/ Waduk Kembangan;
f) Bendungan/ Waduk Ketro;
g) Embung Bumiaji;
h) Embung Guwarejo;
i) Embung Tewel; dan
j) Longstorage Kedungwaduk.
22. Kabupaten Sukoharjo berupa Bendungan/ Waduk Mulur.
23. Kabupaten Tegal meliputi:
a) Bendungan/ Waduk Cacaban;
b) Bendungan/ Waduk Parakan Kidang;
c) Embung Bulakpacing;
d) Embung Curug;
e) Embung Desa Kertasari;
f) Embung Dukuhdamu;
g) Embung Kabukan;
h) Embung Kebasen;
i) Embung Lawatan;
j) Embung Margapadang;
k) Embung Pasangan; dan
l) Embung Slaranglor.
24. Kabupaten Wonogiri meliputi:
a) Bendungan/ Waduk Gajah Mungkur;
b) Bendungan/ Waduk Kedung Uling;
c) Bendungan/ Waduk Krisak;
d) Bendungan/ Waduk Nawangan;
e) Bendungan/ Waduk Ngancar;
f) Bendungan/ Waduk Parangjoho;
g) Bendungan/ Waduk Pidekso;
-62-
h) Bendungan/ Waduk Plumbon;
i) Bendungan/ Waduk Songputri;
j) Embung Bawong;
k) Embung Doya;
l) Embung Gudangharjo;
m) Embung Mesu;
n) Embung Mini Gebangharjo;
o) Embung Nglasep;
p) Embung Ngunduk;
q) Embung Pego;
r) Embung Pringkuku; dan
s) Embung Sambirejo.
25. Kabupaten Wonosobo meliputi:
a) Bendungan/ Waduk Garung; dan
b) Bendungan/ Waduk Wadaslintang.
26. Kota Semarang berupa Bendungan/ Waduk Jatibarang.
(3) Bangunan pengendali banjir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
b berada di:
a. Kabupaten Banjarnegara berupa Bendung Kalisapi;
b. Kabupaten Banyumas meliputi:
1. Bendung Andongbang;
2. Bendung Banjaran;
3. Bendung Bodag;
4. Bendung Buniayu;
5. Bendung Junjungan;
6. Bendung Karangmancung;
7. Bendung Kebasen;
8. Bendung Kedunglimus Arca;
9. Bendung Logawa;
10. Bendung Piasa; dan
11. Bendung Tajum.
c. Kabupaten Batang;
1. Bendung Karangasem;
2. Bendung Kedung Asem; dan
3. Bendung Kedungdowo Kramat.
d. Kabupaten Blora berupa Bendung Kedungwaru;
e. Kabupaten Boyolali meliputi:
1. Bendung Baran;
-63-
2. Bendung Brajan;
3. Bendung Cengklik;
4. Bendung Garat;
5. Bendung Gisik;
6. Bendung Glodok;
7. Bendung Gunuhgmaling;
8. Bendung Kedungboyo;
9. Bendung Klego;
10. Bendung Majegan;
11. Bendung Pakelan; dan
12. Bendung Pundung.
f. Kabupaten Brebes meliputi:
1. Bendung Beji;
2. Bendung Gangsa; dan
3. Bendung Kemaron.
g. Kabupaten Cilacap meliputi:
4. Bendung Cijalu;
5. Bendung Cileumeuh; dan
6. Bendung Menganti.
h. Kabupaten Demak meliputi:
1. Bendung dolok;
2. Bendung Guntur;
3. Bendung Pelayaran Batu Satu; dan
4. Bendung Penggaron.
i. Kabupaten Jepara meliputi:
1. Bendung Bakalan; dan
2. Bendung Kramat.
j. Kabupaten Karanganyar meliputi:
1. Bendung Bakalan;
2. Bendung Bakdalem II;
3. Bendung Blingi;
4. Bendung Cangkring;
5. Bendung Jetis;
6. Bendung Jetu;
7. Bendung Kasihan;
8. Bendung Kepoh;
9. Bendung Kwangsan;
-64-
10. Bendung Latung;
11. Bendung Latung Kanan;
12. Bendung Lemahbang;
13. Bendung Mantren;
14. Bendung Menggok;
15. Bendung Mindi;
16. Bendung Munggur;
17. Bendung Nglasem;
18. Bendung Pulo;
19. Bendung Sedayu;
20. Bendung Selomoro;
21. Bendung Sidomakmur;
22. Bendung Srambang;
23. Bendung Sudangan;
24. Bendung Temantenan; dan
25. Bendung Tritis.
k. Kabupaten Kendal meliputi:
1. Bendung Kedungpengilon;
2. Bendung Sojomerto; dan
3. Bendung Timbang.
l. Kabupaten Klaten meliputi:
1. Bendung Jaban;
2. Bendung Jumeneng; dan
3. Bendung Plosowareng.
m. Kabupaten Kudus meliputi:
1. Bendung Celeng;
2. Bendung Gamelan;
3. Bendung Jembangan;
4. Bendung Lampis;
5. Bendung Langak;
6. Bendung Logung;
7. Bendung Ngelo (BBc.2);
8. Bendung Pakang;
9. Bendung Setro; dan
10. Bendung Siwayut.
n. Kabupaten Magelang berupa Bendung Tangsi
o. Kabupaten Pati meliputi:
-65-
1. Bendung Druju;
2. Bendung Gedong;
3. Bendung Jabang Bayi;
4. Bendung Medani;
5. Bendung Sentul; dan
6. Bendung Widodaren.
p. Kabupaten Pekalongan meliputi:
1. Bendung Asem Siketek;
2. Bendung Padurekso;
3. Bendung Sudikampir; dan
4. Bendung Tapak Menjangan.
q. Kabupaten Pemalang berupa Bendung Mejagong;
r. Kabupaten Purbalingga meliputi:
1. Bendung Dwicupaksari;
2. Bendung Krenceng; dan
3. Bendung Pribadi.
s. Kabupaten Purworejo meliputi:
1. Bendung Kalibutek;
2. Bendung Kedungglagah;
3. Bendung Kragilan; dan
4. Bendung Turus.
t. Kabupaten Rembang meliputi:
1. Bendung Kedungsapen;
2. Bendung Maguan;
3. Bendung Mojorebun; dan
4. Bendung Wiroto.
u. Kabupaten Semarang meliputi:
1. Bendung Isep-Isep;
2. Bendung Kejipangus;
3. Bendung Padasklorot;
4. Bendung Parean;
5. Bendung rejoso;
6. Bendung Senjoyo;
7. Bendung Sinongko; dan
8. Bendung Wonotoro.
v. Kabupaten Sragen meliputi:
1. Bendung Bapang; dan
-66-
2. Bendung Bonggo.
w. Kabupaten Sukoharjo meliputi:
1. Bendung Nyaen; dan
2. Bendung Trani.
x. Kabupaten Tegal meliputi:
1. Bendung Gondang;
2. Bendung Karanganyar;
3. Bendung Lenggor;
4. Bendung Lumingser;
5. Bendung Pesayangan; dan
6. Bendung Sidapurna.
y. Kabupaten Temanggung meliputi:
1. Bendung Catgawen 1;
2. Bendung Catgawen 2;
3. Bendung Catgawen III;
4. Bendung Catgawen IV;
5. Bendung Galeh;
6. Bendung Joyo;
7. Bendung Nogojoyo;
8. Bendung Soropadan; dan
9. Bendung Tjarikan.
z. Kabupaten Wonogiri meliputi:
1. Bendung Braholo;
2. Bendung Semanding; dan
3. Bendung Walikan.
aa. Kabupaten Wonosobo meliputi:
1. Bendung Watujagir;
bb. Kota Pekalongan berupa Bendung Kesetu
cc. Kota Salatiga meliputi:
1. Bendung Sucen; dan
2. Bendung Aji Getas.
dd. Kota Semarang meliputi berupa Bendung Plumbon; dan
(4) Penyelenggaraan dan peningkatan sistem pengendali banjir sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) berdasarkan ketentuan peraturan perundang -
undangan.
Pasal 23
-67-
Bangunan pengambil air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) huruf
d meliputi:
a. Instalasi Pengambil Air (IPA) regional;
b. Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH);
c. Air Minum Dalam Kemasan (AMDK); dan
d. Bangunan pengambil air di laut.
Paragraf 3
Air Tanah
Pasal 24
Air tanah dalam CAT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (3) meliputi:
a. CAT Majenang;
b. CAT Sidareja;
c. CAT Nusa Kambangan;
d. CAT Cilacap;
e. CAT Kroya;
f. CAT Banyumudal;
g. CAT Purwokerto – Purbalingga;
h. CAT Kebumen - Purworejo;
i. CAT Wonosobo;
j. CAT Magelang – Temanggung;
k. CAT Karanganyar - Boyolali;
l. CAT Ngawi-Ponorogo;
m. CAT Wonosari;
n. CAT Eromoko;
o. CAT Semarang – Demak;
p. CAT Randublatung;
q. CAT Watuputih;
r. CAT Lasem;
s. CAT Pati – Rembang;
t. CAT Kudus;
u. CAT Jepara;
v. CAT Ungaran;
w. CAT Sumowono;
x. CAT Rawapening;
y. CAT Salatiga;
z. CAT Kendal;
aa. CAT Subah;
-68-
bb. CAT Karang Kobar;
cc. CAT Pekalongan – Pemalang;
dd. CAT Tegal – Brebes; dan
ee. CAT Bumiayu.
Bagian Ketujuh
Sistem Jaringan Prasarana Lainnya
Paragraf 1
Umum
Pasal 25
(1) Sistem jaringan prasarana lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9
ayat (1) huruf f terdiri atas:
a. Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM);
b. Sistem Pengelolaan Air Limbah (SPAL);
c. Sistem Jaringan Persampahan.
(2) Sistem jaringan prasarana lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
digambarkan dalam peta dengan ketelitian geometri dan ketelitian detail
informasi skala 1:250.000 (satu banding dua ratus lima puluh ribu)
sebagaimana tercantum dalam Lampiran VIII yang merupakan bagian
tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Paragraf 2
Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM)
Pasal 26
(1) Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 25 ayat (1) huruf a berupa SPAM Regional meliputi:
a. SPAM regional yang berada di WP Barlingmascakeb;
b. SPAM regional yang berada di WP Purwomanggung;
c. SPAM regional yang berada di WP Subosukawonosraten;
d. SPAM regional yang berada di WP Jekuti;
e. SPAM regional yang berada di WP Banglor;
f. SPAM regional yang berada di WP Kedungsepur;
g. SPAM regional yang berada di WP Petanglong; dan
h. SPAM regional yang berada di WP Bregasmalang.
(2) Penyelenggaraan dan peningkatan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM)
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Paragraf 3
Sistem Pengelolaan Air Limbah (SPAL)
-69-
Pasal 27
(1) Sistem Pengelolaan Air Limbah (SPAL) sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 25 ayat (1) huruf b berupa SPAL Domestik regional meliputi:
a. SPAL Domestik regional yang berada di WP Barlingmascakeb;
b. SPAL Domestik regional yang berada di WP Purwomanggung;
c. SPAL Domestik regional yang berada di WP Subosukawonosraten;
d. SPAL Domestik regional yang berada di WP Jekuti;
e. SPAL Domestik regional yang berada di WP Banglor;
f. SPAL Domestik regional yang berada di WP Kedungsepur;
g. SPAL Domestik regional yang berada di WP Petanglong; dan
h. SPAL Domestik regional yang berada di WP Bregasmalang.
(2) Sistem pengelolaan air limbah dilakukan melalui pengelolaan dan
pengembangan sistem air limbah domestik dan non domestik, seluruh
kabupaten/kota yang berbatasan yang merupakan kewenangan provinsi;
dan
(3) Penyelenggaraan dan peningkatan Sistem Pengelolaan Air Limbah (SPAL)
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Paragraf 4
Sistem Jaringan Persampahan
Pasal 28
(1) Sistem jaringan persampahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25
ayat (1) huruf c berupa Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST)
regional.
a. TPST regional yang berada di WP Barlingmascakeb;
b. TPST regional yang berada di WP Purwomanggung;
c. TPST regional yang berada di WP Subosukawonosraten;
d. TPST regional yang berada di WP Jekuti;
e. TPST regional yang berada di WP Banglor;
f. TPST regional yang berada di WP Kedungsepur;
g. TPST regional yang berada di WP Petanglong; dan
h. TPST regional yang berada di WP Bregasmalang.
(2) Penyelenggaraan dan peningkatan jaringan persampahan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
-70-
BAB IV
RENCANA POLA RUANG WILAYAH
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 29
(1) Rencana pola ruang wilayah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf
c terdiri atas:
a. kawasan lindung; dan
b. kawasan budi daya.
(2) Rencana pola ruang wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
digambarkan dalam peta dengan ketelitian geometri dan ketelitian detail
informasi skala 1:250.000 (satu banding dua ratus lima puluh ribu)
sebagaimana tercantum dalam Lampiran IX yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Bagian Kedua
Kawasan Lindung
Paragraf 1
Umum
Pasal 30
Kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) huruf a terdiri
atas:
a. Badan Air (BA);
b. kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya
(PTB);
c. kawasan perlindungan setempat (PS);
d. kawasan konservasi (KS);
e. kawasan pencadangan konservasi di laut (KPL);
f. kawasan lindung geologi (LGE);
g. kawasan cagar budaya (CB); dan
h. kawasan ekosistem mangrove (EM).
Paragraf 2
Badan Air
Pasal 31
(1) Badan air (BA) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 huruf a dengan luas
kurang lebih 26.174 (dua puluh enam ribu seratus tujuh puluh empat)
hektar berupa badan air Sungai, Danau, Embung, dan Waduk berada di
seluruh Kabupaten/ Kota.
-71-
(2) BA sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berada di seluruh Kabupaten/
Kota dan wilayah pesisir dan laut yang menjadi kewenangan pengelolaan
Provinsi.
Paragraf 3
Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Terhadap Kawasan Bawahannya
Pasal 32
Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya
(PTB) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 huruf b dengan luas kurang lebih
83.747 (delapan puluh tiga ribu tujuh ratus empat puluh tujuh) hektar
meliputi:
a. Kabupaten Banjarnegara;
b. Kabupaten Banyumas;
c. Kabupaten Batang;
d. Kabupaten Brebes;
e. Kabupaten Jepara;
f. Kabupaten Karanganyar;
g. Kabupaten Kebumen;
h. Kabupaten Kendal;
i. Kabupaten Klaten;
j. Kabupaten Kudus;
k. Kabupaten Magelang;
l. Kabupaten Pati;
m. Kabupaten Pekalongan;
n. Kabupaten Pemalang;
o. Kabupaten Purbalingga;
p. Kabupaten Purworejo;
q. Kabupaten Rembang;
r. Kabupaten Semarang;
s. Kabupaten Sragen;
t. Kabupaten Sukoharjo;
u. Kabupaten Tegal;
v. Kabupaten Temanggung;
w. Kabupaten Wonogiri; dan
x. Kabupaten Wonosobo.
-72-
Paragraf 4
Kawasan Perlindungan Setempat
Pasal 33
(1) Kawasan perlindungan setempat (PS) sebagaimana dimaksud dalam Pasal
30 huruf c berupa sempadan pantai, sungai, mata air, situ, danau, embung,
dan waduk, serta kawasan lainnya yang memiliki fungsi perlindungan
setempat.
(2) Kawasan perlindungan setempat daitur diatur lebih lanjut dalam RTRW
Kabupaten/Kota dan RDTR Kabupaten/Kota.
Paragraf 5
Kawasan Konservasi
Pasal 34
(1) Kawasan konservasi (KS) sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 30
huruf d dengan luas kurang lebih 138.065 (seratus tiga puluh delapan
ribu enam puluh lima) hektar terdiri atas:
a. kawasan suaka alam;
b. kawasan pelestarian alam; dan
c. kawasan konservasi perairan.
(2) Kawasan suaka alam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a berupa
Kawasan cagar alam dan suaka marga satwa meliputi:
a. Kabupaten Cilacap meliputi:
1. Cagar Alam Nusakambangan Barat;
2. Cagar Alam Nusakambangan Timur;
3. Cagar Alam Wijaya Kusuma; dan
4. Cagar Alam Karangbolong.
b. Kabupaten Banjarnegara meliputi:
1. Cagar Alam Telogo Dringo;
2. Cagar Alam Telogo Sumurup; dan
3. Cagar Alam Pringombo I dan II.
c. Kabupaten Wonosobo berupa Cagar Alam Pantodomas;
d. Kabupaten Wonogiri berupa Cagar Alam Donoloyo;
e. Kabupaten Sragen berupa Suaka Margasatwa Gunung Tunggangan;
f. Kabupaten Blora meliputi:
1. Cagar Alam Bekutuk; dan
2. Cagar Alam Cabak I/II.
g. Kabupaten Rembang berupa Cagar Alam Gunung Butak;
h. Kabupaten Jepara meliputi:
1. Cagar Alam Keling I;
2. Cagar Alam Keling II/III;
-73-
3. Cagar Alam Kembang; dan
4. Cagar Alam Gunung Celering.
i. Kabupaten Semarang meliputi:
1. Cagar Alam Gebugan; dan
2. Cagar Alam Sepakung.
j. Kabupaten Kendal berupa Cagar Alam Pager Wunung Darupono;
k. Kabupaten Batang meliputi:
1. Cagar Alam Peson Subah I;
2. Cagar Alam Peson Subah II; dan
3. Cagar Alam Ulolanang Kecubung.
l. Kabupaten Pemalang meliputi:
1. Cagar Alam Bantarbolang;
2. Cagar Alam Curug Bengkawah; dan
3. Cagar Alam Moga.
m. Kabupaten Tegal berupa Cagar Alam Jatinegara dan Cagar Alam Guci;
n. Kabupaten Brebes berupa Cagar Alam Telogo Ranjeng.
(3) Taman pelestarian alam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b
terdiri atas:
a. taman nasional meliputi:
1. Taman Nasional Gunung Merapi meliputi:
a) Kabupaten Magelang;
b) Kabupaten Boyolali; dan
c) Kabupaten Klaten.
2. Taman Nasional Gunung Merbabu meliputi:
a) Kabupaten Magelang;
b) Kabupaten Semarang; dan
c) Kebupaten Boyolali.
3. Kabupaten Jepara berupa Taman Nasional Karimunjawa.
b. Taman hutan raya meliputi:
1. Kabupaten Karanganyar berupa Taman Hutan Raya KGPAA
Mangkunegara I/ Ngargoyoso; dan
2. Kabupaten Banyumas berupa Kebun Raya Baturraden;
c. Taman wisata alam meliputi:
1. Kabupaten Cilacap berupa Taman Wisata Alam Gunung Selok;
2. Kabupaten Wonosobo berupa Taman Wisata Alam Telogo
Warno/Pengilon;
3. Kabupaten Karanganyar berupa Taman Wisata Alam Grojogan
Sewu; dan
4. Kabupaten Rembang Taman Wisata Alam Sumber Semen.
-74-
(4) Kawasan konservasi perairan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
c meliputi:
a. Kabupaten Batang berupa kawasan konservasi Pesisir dan Pulau-
pulau Kecil Ujungnegoro - Roban;
b. Kabupaten Tegal berupa Taman Wisata Perairan Karang Jeruk;
c. Kabupaten Jepara berupa Taman Wisata Perairan Pulau Panjang; dan
d. Kabupaten Rembang berupa Taman Wisata Perairan Karang Jahe.
Paragraf 6
Kawasan Pencadangan Konservasi di Laut
Pasal 35
Kawasan pencadangan konservasi di laut (KPL) sebagaimana dimaksud pasal
30 huruf e dengan luas 14.268 (empat belas ribu dua ratus enam puluh
delapan) hektar meliputi:
a. perairan pesisir sekitar Kabupaten Brebes;
b. perairan pesisir sekitar Kabupaten Pemalang;
c. perairan pesisir sekitar Kabupaten Kendal;
d. perairan pesisir sekitar Kabupaten Demak;
e. perairan pesisir sekitar Kabupaten Jepara;
f. perairan pesisir sekitar Kabupaten Rembang;
g. perairan pesisir sekitar Kabupaten Kebumen; dan
h. perairan pesisir sekitar Kabupaten Cilacap.
Paragraf 7
Kawasan Lindung Geologi
Pasal 36
(1) Kawasan lindung geologi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 huruf f
terdiri dari:
a. kawasan lindung karst;
b. kawasan cagar alam geologi;
c. kawasan imbuhan air; dan
d. kawasan sempadan mata air.
(2) Kawasan lindung karst sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a,
meliputi:
a. Kawasan bentang alam karst Sukolilo berada di:
1. Kabupaten Pati;
2. Kabupaten Grobogan; dan
3. Kabupaten Blora.
b. Kawasan bentang alam karst Gunung Sewu berada di Kabupaten
Wonogiri;
-75-
c. Kawasan bentang alam karst Gombong berada di Kabupaten
Kebumen; dan
d. Kawasan karst lainnya yang ditetapkan dengan peraturan perundang-
undangan.
(3) Kawasan cagar alam geologi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b
terdiri atas:
a. Kawasan keunikan batuan dan fosil, meliputi:
1. Kawasan sangiran berada di: Kabupaten Sragen dan Kabupaten
Karanganyar;
2. Kawasan Pati ayam berada di Kabupaten Kudus dan Kabupaten
Pati;
3. Kawasan Semedo di Kabupaten Tegal; dan
4. Kawasan keunikan batuan dan fosil lainnya yang ditetapkan
peraturan perundang-undangan.
b. Kawasan keunikan proses geologi, meliputi:
1. Kawasan Karangsambung berada di Kabupaten kebumen,
Kabupaten Banjarnegara, dan Kabupaten Wonosobo;
2. kawasan Bayat berada di Kabupaten Klaten;
3. kawasan Dieng di Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten
Banjarnegara;
4. kawasan keunikan bentang alam kawasan lembah Bengawan Solo
purba di Kabupaten Wonogiri; dan
5. kawasan keunikan proses geologi lainnya yang ditetapkan
peraturan perundand-undangan.
(4) Kawasan Imbuhan Air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c,
berada di:
a. CAT Majenang;
b. CAT Sidareja;
c. CAT Nusa Kambangan;
d. CAT Cilacap;
e. CAT Kroya;
f. CAT Banyumudal;
g. CAT Purwokerto – Purbalingga;
h. CAT Kebumen - Purworejo;
i. CAT Wonosobo;
j. CAT Magelang – Temanggung;
k. CAT Karanganyar - Boyolali;
l. CAT Ngawi-Ponorogo;
m. CAT Wonosari;
n. CAT Eromoko;
o. CAT Semarang – Demak;
-76-
p. CAT Randublatung;
q. CAT Watuputih;
r. CAT Lasem;
s. CAT Pati – Rembang;
t. CAT Kudus;
u. CAT Jepara;
v. CAT Ungaran;
w. CAT Sumowono;
x. CAT Rawapening;
y. CAT Salatiga;
z. CAT Kendal;
aa. CAT Subah;
bb. CAT Karang Kobar;
cc. CAT Pekalongan – Pemalang;
dd. CAT Tegal – Brebes; dan
ee. CAT Bumiayu.
(5) Penentuan kawasan imbuhan air tanah sebagaimana dimaksud pada
aayat (4) ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan.
(6) Kawasan sempadan mata air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
d tersebar di Kabupaten/Kota yang memiliki mata air.
Paragraf 8
Kawasan Cagar Budaya
Pasal 37
Kawasan cagar budaya (CB) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 huruf g
berada di:
a. Kabupaten Kebumen;
b. Kabupaten Temanggung;
c. Kabupaten Karanganyar;
d. Kabupaten Klaten;
e. Kabupaten Magelang;
f. Kabupaten Sragen;
g. Kabupaten Semarang;
h. Kabupaten Demak;
i. Kabupaten Kudus;
j. Kabupaten Jepara;
k. Kabupaten Rembang;
l. Kabupaten Pati;
-77-
m. Kabupaten Tegal;
n. Kota Surakarta;
o. Kota Semarang; dan
p. Kawasan cagar budaya di Kabupaten/ Kota lainnya yang ditetapkan
berdasarkan peraturan perundang-undangan.
Paragraf 7
Kawasan Ekosistem Mangrove
Pasal 38
Kawasan ekosistem mangrove (EM) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30
huruf h, dengan luas kurang lebih 12.692 (dua belas ribu enam ratus sembilan
puluh dua) hektar meliputi:
a. Kabupaten Cilacap;
b. Kabupaten Kebumen;
c. Kabupaten Purworejo;
d. Kabupaten Wonogiri;
e. Kabupaten Rembang; dan
f. Kabupaten Pati;
g. Kabupaten Jepara;
h. Kabupaten Demak;
i. Kota Semarang;
j. Kabupaten Kendal;
k. Kabupaten Batang;
l. Kota Pekalongan;
m. Kabupaten Pekalongan;
n. Kabupaten Pemalang;
o. Kabupaten Tegal; dan
p. Kabupaten Brebes.
Bagian Ketiga
Kawasan Budi Daya
Paragraf 1
Umum
Pasal 39
Kawasan budi daya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) huruf b
terdiri atas:
a. kawasan hutan produksi (KHP);
b. kawasan perkebunan rakyat (KR);
c. kawasan pertanian (P);
-78-
d. kawasan perikanan (IK);
e. kawasan pergaraman (KEG);
f. kawasan pertambangan dan energi; (TE)
g. kawasan peruntukan industri (KPI);
h. kawasan pariwisata (W);
i. kawasan permukiman (PM);
j. kawasan pembuangan hasil pengerukan di laut (DA);
k. kawasan transportasi (TR); dan
l. kawasan pertahanan dan keamanan (HK).
Paragraf 2
Kawasan Hutan Produksi
Pasal 40
(1) Kawasan hutan produksi (KHP) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39
Huruf a dengan luas kurang lebih 550.961 (lima ratus lima puluh ribu
sembilan ratus enam puluh satu) hektar meliputi:
a. Kabupaten Banjarnegara;
b. Kabupaten Banyumas;
c. Kabupaten Batang;
d. Kabupaten Blora;
e. Kabupaten Boyolali;
f. Kabupaten Brebes;
g. Kabupaten Cilacap;
h. Kabupaten Demak;
i. Kabupaten Grobogan;
j. Kabupaten Jepara;
k. Kabupaten Karanganyar;
l. Kabupaten Kebumen;
m. Kabupaten Kendal;
n. Kabupaten Klaten;
o. Kabupaten Kudus;
p. Kabupaten Magelang;
q. Kabupaten Pati;
r. Kabupaten Pekalongan;
s. Kabupaten Pemalang;
t. Kabupaten Purbalingga;
u. Kabupaten Purworejo;
v. Kabupaten Rembang;
-79-
w. Kabupaten Semarang;
x. Kabupaten Sragen;
y. Kabupaten Sukoharjo;
z. Kabupaten Tegal;
aa. Kabupaten Temanggung;
bb. Kabupaten Wonogiri;
cc. Kabupaten Wonosobo; dan
dd. Kota Semarang.
(2) Kawasan yang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan di
bidang kehutanan masih ditetapkan sebagai Kawasan hutan produksi
(KHP), namun berdasarkan rencana pengembangan kawasan pariwisata
ditetapkan sebagai zona tunda (holding zone) yang selanjutnya disebut:
a. Kawasan Hutan Produksi (KHP)/Kawasan Pariwisata (W) dengan luas
kurang lebih 51 (lima puluh satu) hektar berada di Kabupaten
Purworejo; dan
b. Kawasan Hutan Produksi (KHP)/ Kawasan Pariwisata (W) dengan luas
kurang lebih 30 (tiga puluh) hektar berada di Kabupaten Semarang.
(3) Pemanfaatan ruang pada kawasan hutan yang tercakup dalam zona tunda
(holding zone) sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tetap berlaku sampai
ditetapkannya peraturan perundang-undangan mengenai perubahan
peruntukan dan/atau fungsi Kawasan hutan produksi (KHP).
Paragraf 3
Kawasan Perkebunan Rakyat
Pasal 41
Kawasan perkebunan rakyat (KR) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39
Huruf b dengan luas kurang lebih 580.202 (lima ratus delapan puluh ribu dua
ratus dua) hektar berada di:
a. Kabupaten Banjarnegara;
b. Kabupaten Banyumas;
c. Kabupaten Batang;
d. Kabupaten Blora;
e. Kabupaten Boyolali;
f. Kabupaten Brebes;
g. Kabupaten Cilacap;
h. Kabupaten Demak;
i. Kabupaten Grobogan;
j. Kabupaten Jepara;
k. Kabupaten Karanganyar;
l. Kabupaten Kebumen;
m. Kabupaten Kendal;
-80-
n. Kabupaten Klaten;
o. Kabupaten Kudus;
p. Kabupaten Magelang;
q. Kabupaten Pati;
r. Kabupaten Pekalongan;
s. Kabupaten Pemalang;
t. Kabupaten Purbalingga;
u. Kabupaten Purworejo;
v. Kabupaten Rembang;
w. Kabupaten Semarang;
x. Kabupaten Sragen;
y. Kabupaten Sukoharjo;
z. Kabupaten Tegal;
aa. Kabupaten Temanggung;
bb. Kabupaten Wonogiri; dan
cc. Kabupaten Wonosobo.
Paragraf 4
Kawasan Pertanian
Pasal 42
(1) Kawasan pertanian (P) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 huruf c
dengan luas kurang lebih 1.343.051 (satu juta tiga ratus empat puluh tiga
ribu lima puluh satu) hektar terdiri atas:
a. kawasan tanaman pangan; dan
b. kawasan hortikultura.
(2) Kawasan pertanian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. Kabupaten Cilacap;
b. Kabupaten Purbalingga;
c. Kabupaten Purworejo;
d. Kabupaten Banyumas;
e. Kabupaten Kebumen;
f. Kabupaten Banjarnegara;
g. Kabupaten Batang;
h. Kabupaten Blora;
i. Kabupaten Boyolali;
j. Kabupaten Brebes;
k. Kabupaten Demak;
l. Kabupaten Grobogan;
-81-
m. Kabupaten Jepara;
n. Kabupaten Karanganyar;
o. Kabupaten Kendal;
p. Kabupaten Klaten;
q. Kabupaten Kudus;
r. Kabupaten Magelang;
s. Kabupaten Pati;
t. Kabupaten Pekalongan;
u. Kabupaten Pemalang;
v. Kabupaten Rembang;
w. Kabupaten Semarang;
x. Kabupaten Sragen;
y. Kabupaten Sukoharjo;
z. Kabupaten Tegal;
aa. Kabupaten Temanggung;
bb. Kabupaten Wonogiri;
cc. Kabupaten Wonosobo;
dd. Kota Magelang;
ee. Kota Pekalongan;
ff. Kota Salatiga;
gg. Kota Semarang; dan
hh. Kota Tegal.
(3) Dalam rangka perwujudan kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan
pangan Provinsi dilakukan pengendalian luas kawasan pertanian pangan
berkelanjutan paling sedikit 1.025.255 (satu juta dua puluh lima ribu dua
ratus lima puluh lima) hektar meliputi:
a. Kabupaten Cilacap;
b. Kabupaten Banyumas;
c. Kabupaten Purbalingga;
d. Kabupaten Banjarnegara;
e. Kabupaten Kebumen;
f. Kabupaten Purworejo;
g. Kabupaten Wonosobo;
h. Kabupaten Magelang;
i. Kabupaten Boyolali;
j. Kabupaten Klaten;
k. Kabupaten Sukoharjo;
l. Kabupaten Wonogiri;
-82-
m. Kabupaten Karanganyar;
n. Kabupaten Sragen;
o. Kabupaten Grobogan;
p. Kabupaten Blora;
q. Kabupaten Rembang;
r. Kabupaten Pati;
s. Kabupaten Kudus;
t. Kabupaten Jepara;
u. Kabupaten Demak;
v. Kabupaten Semarang;
w. Kabupaten Temanggung;
x. Kabupaten Kendal;
y. Kabupaten Batang;
z. Kabupaten Pekalongan;
aa. Kabupaten Pemalang;
bb. Kabupaten Tegal;
cc. Kabupaten Brebes;
dd. Kota Magelang;
ee. Kota Salatiga;
ff. Kota Semarang;
gg. Kota Pekalongan; dan
hh. Kota Tegal.
(4) Kawasan yang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan di
bidang pertanian masih ditetapkan sebagai Kawasan pertanian (P),
namun berdasarkan kondisi saat ini berupa badan air, ditetapkan sebagai
zona tunda (holding zone) yang selanjutnya disebut Kawasan Hutan
Produksi (KHP)/Badan Air(BA) dengan luas kurang lebih 859 (delapan
ratus lima puluh sembilan) hektar berada di Kabupaten Semarang.
(5) Pemanfaatan ruang pada kawasan hutan yang tercakup dalam zona tunda
(holding zone) sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tetap berlaku sampai
ditetapkannya peraturan perundang-undangan mengenai perubahan
peruntukan dan/atau fungsi Kawasan hutan produksi (KHP).
Paragraf 5
Kawasan Perikanan
Pasal 43
Kawasan perikanan (IK) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 huruf d dengan
luas kurang lebih 1.433.839 (satu juta empat ratus tiga puluh tiga ribu delapan
ratus tiga puluh sembilan) hektar berupa perikanan budi daya dan perikanan
tangkap meliputi:
a. Kabupaten Batang;
-83-
b. Kabupaten Brebes;
c. Kabupaten Demak;
d. Kabupaten Jepara;
e. Kabupaten Kendal;
f. Kabupaten Pati;
g. Kabupaten Pekalongan;
h. Kabupaten Pemalang;
i. Kabupaten Tegal;
j. Kota Pekalongan; dan
k. Kota Tegal.
Paragraf 6
Kawasan Pergaraman
Pasal 44
Kawasan Pergaraman (KEG) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 Huruf e
dengan luas kurang lebih 9.459 (sembilan ribu empat ratus lima puluh
sembilan) meliputi:
a. Kabupaten Brebes;
b. Kabupaten Demak;
c. Kabupaten Jepara;
d. Kabupaten Pati; dan
e. Kabupaten Rembang.
Paragraf 7
Kawasan Pertambangan dan Energi
Pasal 45
(1) Kawasan Pertambangan dan Energi (TE) sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 39 huruf f terdiri atas:
a. wilayah Pertambangan; dan
b. kawasan panas bumi.
(2) Wilayah Pertambangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
terdiri atas:
a. Wilayah pertambangan di darat, meliputi:
1. Kabupaten Cilacap;
2. Kabupaten Banyumas;
3. Kabupaten Purbalingga;
4. Kabupaten Banjarnegara;
5. Kabupaten Kebumen;
6. Kabupaten Purworejo;
-84-
7. Kabupaten Wonosobo;
8. Kabupaten Magelang;
9. Kabupaten Boyolali;
10. Kabupaten Klaten;
11. Kabupaten Sukoharjo;
12. Kabupaten Wonogiri;
13. Kabupaten Karanganyar;
14. Kabupaten Sragen;
15. Kabupaten Grobogan;
16. Kabupaten Blora;
17. Kabupaten Rembang;
18. Kabupaten Pati;
19. Kabupaten Kudus;
20. Kabupaten Jepara;
21. Kabupaten Demak;
22. Kabupaten Semarang;
23. Kabupaten Temanggung;
24. Kabupaten Kendal;
25. Kabupaten Batang;
26. Kabupaten Pekalongan;
27. Kabupaten Pemalang;
28. Kabupaten Tegal;
29. Kabupaten Brebes;
30. Kota Salatiga; dan
31. Kota Semarang.
b. kawasan peruntukan pertambangan di perairan pesisir dengan luas
kurang lebih 15.133 (lima belas ribu seratus tiga puluh tiga) hektar
meliputi:
1. perairan pesisir sekitar Kabupaten Brebes;
2. perairan pesisir sekitar Kabupaten Pemalang;
3. perairan pesisir sekitar Kabupaten Pekalongan;
4. perairan pesisir sekitar Kabupaten Kendal;
5. perairan pesisir sekitar Kabupaten Demak;
6. perairan pesisir sekitar Kabupaten Jepara; dan
7. perairan pesisir sekitar Kabupaten Rembang.
c. Pengaturan Wilayah Pertambangan Provinsi dilakukan berdasarkan
wilayah pengelolaan pertambangan, meliputi:
1. Wilayah pengelolaan pertambangan Kendeng Selatan meliputi :
-85-
a) Kabupaten Rembang;
b) Kabupaten Blora; dan
c) Kabupaten Grobogan.
2. Wilayah pengelolaan pertambangan Kendeng Muria meliputi :
a) Kabupaten Pati;
b) Kabupaten Kudus; dan
c) Kabupaten Jepara.
3. Wilayah pengelolaan pertambangan Semarang-Demak meliputi :
a) Kabupaten Demak;
b) Kota Semarang; dan
c) Kabupaten Kendal;
4. Wilayah pengelolaan pertambangan Solo meliputi:
a) Kota Surakarta;
b) Kabupaten Sragen; dan
c) Kabupaten Karanganyar.
5. Wilayah pengelolaan pertambangan Merapi meliputi :
a) Kabupaten Boyolali;
b) Kabupaten Klaten;
c) Kabupaten Magelang; dan
d) Kota Magelang;
6. Wilayah pengelolaan pertambangan Serayu Selatan meliputi:
a) Kabupaten Purworejo;
b) Kabupaten Wonosobo; dan
c) Kabupaten Kebumen.
7. Wilayah pengelolaan pertambangan Serayu Tengah meliputi :
a) Kabupaten Purbalingga; dan
b) Kabupaten Banjarnegara.
8. Wilayah pengelolaan pertambangan Slamet Selatan meliputi :
a) Kabupaten Banyumas; dan
b) Kabupaten Cilacap.
9. Wilayah pengelolaan pertambangan Slamet Utara meliputi :
a) Kabupaten Tegal;
b) Kabupaten Pemalang;
c) Kabupaten Brebes; dan
d) Kota Tegal.
10. Wilayah pengelolaan pertambangan Serayu Utara meliputi:
a) Kabupaten Batang;
-86-
b) Kabupaten Pekalongan;
c) Kota Pekalongan Tegal.
11. Wilayah pengelolaan pertambangan Sewu Lawu meliputi:
a) Kabupaten Wonogiri; dan
b) Kabupaten Sukoharjo;
-87-
(4) Perubahan penetapan dan penyelenggaraan Kawasan Pertambangan dan
Energi (TE) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Paragraf 8
Kawasan Peruntukan Industri
Pasal 46
(1) Kawasan peruntukan industri (KPI) sebagaimana dimaksud dalam Pasal
39 Huruf g dengan luas kurang lebih 55.011 (lima puluh lima ribu sebelas)
hektar berada di seluruh Kabupaten/ Kota.
(2) Dalam hal di Daerah Kabupaten/Kota terdapat Kawasan peruntukan
industri dengan luasan kurang dari 156 Ha (seratus lima puluh enam
hektar), diatur lebih lanjut dalam RTRW Kabupaten/Kota dan RDTR
Kabupaten/Kota.
(3) Dalam rangka mendorong perkembangan wilayah Provinsi diarahkan
pengembangan kawasan industri berada di:
a. Kabupaten Cilacap;
b. Kabupaten Kebumen;
c. Kabupaten Rembang;
d. Kota Semarang;
e. Kabupaten Kendal;
f. Kabupaten Demak;
g. Kabupaten Batang; dan
h. Kabupaten Brebes.
(4) Kabupaten/Kota lainnya dapat mengembangkan kawasan industri sesuai
dengan kebutuhan pengembangan dan pengelolaan industri.
Paragraf 9
Kawasan Pariwisata
Pasal 47
(1) Kawasan Pariwisata (W) di Jawa Tengah sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 39 huruf h meliputi:
a. KSPN; dan
b. Kawasan Pariwisata Provinsi.
(2) KSPN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. KSPN Borobudur dan sekitarnya;
b. KSPN Dieng dan sekitarnya;
c. KSPN Merapi–Merbabu dan sekitarnya;
d. KSPN Karimunjawa dan sekitarnya;
e. KSPN Sangiran dan sekitarnya; dan
f. KSPN Karst Pacitan dan sekitarnya.
-88-
(3) Kawasan Pariwisata Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
b berupa pengembangan destinasi wisata provinsi meliputi:
a. Destinasi Pariwisata Baturaden dan sekitarnya;
b. Destinasi Pariwisata Semarang–Karimunjawa dan sekitarnya;
c. Destinasi Pariwisata Solo–Sangiran dan sekitarnya;
d. Destinasi Pariwisata Borobudur–Dieng dan sekitarnya:
e. Destinasi Pariwisata Tegal–Pekalongan dan sekitarnya; dan
f. Destinasi Pariwisata Rembang–Blora dan sekitarnya.
(4) Destinasi Pariwisata Baturraden dan sekitarnya sebagaimana dimaksud
pada ayat (3) huruf a meliputi:
a. kawasan strategis pariwisata Baturaden dan sekitarnya;
b. kawasan strategis pariwisata Cilacap dan sekitarnya;
c. kawasan pengembangan pariwisata Karst Kebumen dan sekitarnya;
d. kawasan pengembangan pariwisata Serayu dan sekitarnya; dan
e. kawasan pengembangan pariwisata Purbalingga dan sekitarnya.
(5) Destinasi Pariwisata Semarang – Karimunjawa dan sekitarnya
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b meliputi:
a. kawasan strategis pariwisata Karimunjawa dan sekitarnya;
b. kawasan strategis pariwisata Semarang Kota dan sekitarnya;
c. kawasan strategis pariwisata Gedong Songo–Rawa Pening dan
sekitarnya;
d. kawasan strategis pariwisata Demak–Kudus dan sekitarnya;
e. kawasan pengembangan pariwisata Kabupaten Semarang – Kendal –
Temanggung dan sekitarnya;
f. kawasan pengembangan pariwisata Jepara dan sekitarnya;
g. kawasan pengembangan pariwisata Pati dan sekitarnya; dan
h. kawasan pengembangan pariwisata Purwodadi dan sekitarnya.
(6) Destinasi Pariwisata Solo–Sangiran dan sekitarnya sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) huruf c meliputi:
a. kawasan strategis pariwisata Sangiran dan sekitarnya;
b. kawasan strategis pariwisata Solo Kota dan sekitarnya;
c. kawasan pengembangan pariwisata Selo - Boyolali dan sekitarnya;
d. kawasan pengembangan pariwisata Cetho–Sukuh dan sekitarnya;
e. kawasan pengembangan pariwisata Wonogiri dan sekitarnya; dan
f. kawasan pengembangan pariwisata Tawangmangu dan sekitarnya.
(7) Destinasi Pariwisata Borobudur–Dieng dan sekitarnya sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) huruf d meliputi:
a. kawasan strategis pariwisata Borobudur–Mendut–Pawon–Magelang
Kota dan sekitarnya;
b. kawasan strategis pariwisata Prambanan–Klaten Kota dan sekitarnya;
-89-
c. kawasan strategis pariwisata Merapi–Merbabu dan sekitarnya;
d. kawasan strategis pariwisata Dieng dan sekitarnya;
e. kawasan pengembangan pariwisata Purworejo dan sekitarnya; dan
f. kawasan pengembangan pariwisata Kledung Pass dan sekitarnya.
(8) Destinasi Pariwisata Tegal–Pekalongan dan sekitarnya sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) huruf e meliputi:
a. kawasan strategis pariwisata Tegal dan sekitarnya;
b. kawasan strategis pariwisata Pekalongan Kota dan sekitarnya;
c. kawasan pengembangan pariwisata Linggoasri–Petungkriyono dan
sekitarnya;
d. kawasan pengembangan pariwisata Batang dan sekitarnya;
e. kawasan pengembangan pariwisata Pemalang dan sekitarnya; dan
f. kawasan pengembangan pariwisata Kaligua–Malahayu dan sekitarnya.
(9) Destinasi Pariwisata Rembang – Blora dan sekitarnya sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) huruf f meliputi:
a. kawasan strategis pariwisata Rembang-Lasem dan sekitarnya;
b. kawasan pengembangan pariwisata Blora dan sekitarnya; dan
c. kawasan pengembangan pariwisata Cepu dan sekitarnya.
(10) Perubahan penetapan dan penyelenggaraan Kawasan Pariwisata
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Paragraf 10
Kawasan Permukiman
Pasal 48
Kawasan Permukiman (PM) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 huruf i
dengan luas kurang lebih 746.909 (tujuh ratus empat puluh enam ribu
Sembilan ratus sembilan) hektar berada di seluruh kabupaten/kota.
Paragraf 11
Kawasan Pembuangan Hasil Pengerukan di Laut
Pasal 49
Kawasan pembuangan hasil pengerukan di laut (DA) sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 39 huruf j dengan luas kurang lebih 5.574 (lima ribu lima ratus
tujuh puluh empat) hektar meliputi:
a. perairan pesisir sekitar Kabupaten Cilacap;
b. perairan pesisir sekitar Kabupaten Tegal;
c. perairan pesisir sekitar Kabupaten Batang;
d. perairan pesisir sekitar Kabupaten Batang;
e. perairan pesisir sekitar Kabupaten. Jepara;
-90-
f. perairan pesisir sekitar Kabupaten Jepara;
g. perairan pesisir sekitar Kabupaten Rembang; dan
h. perairan pesisir sekitar Kota Semarang.
Paragraf 12
Kawasan Transportasi
Pasal 50
Kawasan Transportasi (TR) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 Huruf k
dengan luas kurang lebih 67.169 (enam puluh tujuh ribu seratus enam puluh
sembilan) hektar meliputi:
a. perairan pesisir sekitar Kabupaten Cilacap;
b. perairan pesisir sekitar Kabupaten Rembang;
c. perairan pesisir sekitar Kabupaten Pati;
d. perairan pesisir sekitar Kabupaten Jepara;
e. perairan pesisir sekitar Kabupaten Demak;
f. perairan pesisir sekitar Kota Semarang;
g. perairan pesisir sekitar Kabupaten Kendal;
h. perairan pesisir sekitar Kabupaten Batang;
i. perairan pesisir sekitar Kota Pekalongan;
j. perairan pesisir sekitar Kota Tegal; dan
k. perairan pesisir sekitar Kabupaten Brebes,
Paragraf 13
Kawasan Pertahanan dan Keamanan
Pasal 51
(1) Kawasan pertahanan dan keamanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
39 huruf l meliputi:
a. Komando Daerah Militer (Kodam) IV/Diponegoro di Kota Semarang;
b. Lapangan Udara Utama TNI AD (Lanumad) [Link] di Kota Semarang;
c. Skadron-11/Serbu TNI-AD di Kota Semarang;
d. Skadron-31/Serbu TNI-AD di Kota Semarang;
e. Lapangan Udara (Lanud) Adi Soemarmo di Kabupaten Karang Anyar
dan Kabupaten Boyolali;
f. Komando Resort Militer (Korem) 071 di Kabupaten Banyumas;
g. Komando Resort Militer (Korem) 073 di Kota Salatiga;
h. Komando Resort Militer (Korem) 074 di Kota Surakarta;
i. Komando Distrik Militer (Kodim) 0733 di Kota Semarang;
j. Komando Distrik Militer (Kodim) 0701 di Kabupaten Banyumas;
k. Komando Distrik Militer (Kodim) 0702 di Kabupaten Purbalingga;
-91-
l. Komando Distrik Militer (Kodim) 0703 di Kabupaten Cilacap;
m. Komando Distrik Militer (Kodim) 0704 di Kabupaten Banjarnegara;
n. Komando Distrik Militer (Kodim) 0710 di Kabupaten Pekalongan;
o. Komando Distrik Militer (Kodim) 0711 di Kabupaten Pemalang;
p. Komando Distrik Militer (Kodim) 0712 di Kota Tegal;
q. Komando Distrik Militer (Kodim) 0713 di Kabupaten Brebes;
r. Komando Distrik Militer (Kodim) 0736 di Kabupaten Batang;
s. Komando Distrik Militer (Kodim) 0705 di Kabupaten Magelang;
t. Komando Distrik Militer (Kodim) 0706 di Kabupaten Temanggung;
u. Komando Distrik Militer (Kodim) 0707 di Kabupaten Wonosobo;
v. Komando Distrik Militer (Kodim) 0708 di Kabupaten Purworejo;
w. Komando Distrik Militer (Kodim) 0709 di Kabupaten Kebumen;
x. Komando Distrik Militer (Kodim) 0714 di Kota Salatiga;
y. Komando Distrik Militer (Kodim) 0715 di Kabupaten Kendal;
z. Komando Distrik Militer (Kodim) 0716 di Kabupaten Demak;
aa. Komando Distrik Militer (Kodim) 0717 di Kabupaten Purwodadi;
bb. Komando Distrik Militer (Kodim) 0718 di Kabupaten Pati;
cc. Komando Distrik Militer (Kodim) 0719 di Kabupaten Jepara;
dd. Komando Distrik Militer (Kodim) 0720 di Kabupaten Rembang;
ee. Komando Distrik Militer (Kodim) 0721 di Kabupaten Blora;
ff. Komando Distrik Militer (Kodim) 0722 di KabupatenKudus;
gg. Komando Distrik Militer (Kodim) 0723 di Kabupaten Klaten;
hh. Komando Distrik Militer (Kodim) 0724 di Kabupaten Boyolali;
ii. Komando Distrik Militer (Kodim) 0725 di Kabupaten Sragen;
jj. Komando Distrik Militer (Kodim) 0726 di Kabupaten Sukoharjo;
kk. Komando Distrik Militer (Kodim) 0727 di Kabupaten Karanganyar;
ll. Komando Distrik Militer (Kodim) 0728 di Kabupaten Wonogiri;
mm. Komando Distrik Militer (Kodim) 0735 di Kabupaten Surakarta;
nn. Brigade Infanteri (Brigif)-6 di Kota Surakarta;
oo. Brigade Infanteri (Brigif)-4 di Kabupaten Tegal;
pp. Grup 2 Komado Pasukan Khusus (Kopassus) di Kabupaten
Sukoharjo;
qq. Batalyon Infanteri (Yonif) 411 di Kota Salatiga;
rr. Batalyon Infanteri (Yonif) 412 di Kabupaten Purworejo;
ss. Batalyon Infanteri (Yonif) 413 di Kabupaten Sukoharjo;
tt. Batalyon Infanteri (Yonif) 400 di Kota Semarang;
uu. Batalyon Infanteri (Yonif) 405 di Kabupaten Banyumas;
vv. Batalyon Infanteri (Yonif) 406 di Kabupaten Purbalingga;
-92-
ww. Batalyon Infanteri (Yonif) 407 di Kabupaten Tegal;
xx. Batalyon Infanteri (Yonif) 408 di Kabupaten Sragen;
yy. Batalyon Infanteri (Yonif) 410 di Kabupaten Blora;
zz. Batalyon Kavaleri (Yonkav) 2 di Kabupaten Semarang;
aaa. Batalyon Artileri Medan (Yonarmed) 3 di Kabupaten Magelang;
bbb. Batalyon Artileri Pertahanan Udara Sedang (Yonarhanudse) 15 di
Kota Semarang;
ccc. (Batalion Zeni Tempur (Yonzipur) 4 Kabupaten Semarang;
ddd. Pangkalan TNI AL (Lanal) Cilacap di Kabupaten Cilacap;
eee. Pangkalan TNI AL (Lanal) Semarang di Kota Semarang;
fff. Pangkalan TNI AL (Lanal) Tegal di Kota Tegal;
ggg. Daerah Latihan (Rahlat) Komando Resort Militer 073 di Kabupaten
Semarang;
hhh. Daerah Latihan (Rahlat) TNI AD di Kabupaten Kebumen;
iii. Daerah Latihan (Rahlat) Komando Daerah Militer 0708 di Kabupaten
Purworejo;
jjj. Daerah Latihan (Rahlat) Komando Daerah Militer 0706 di Kabupaten
Temanggung;
kkk. Daerah Latihan (Rahlat) Komando Daerah Militer 0701 di Kabupaten
Banyumas;
lll. Daerah Latihan (Rahlat) Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut
(Lantamal) V di Kabupaten Tegal;
mmm. Daerah Latihan (Rahlat) Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut
(Lantamal) V di Kabupaten Cilacap;
nnn. Daerah Latihan (Rahlat) Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut
(Lantamal) V di Kabupaten Jepara;
ooo. Daerah Latihan (Rahlat) Komando Pendidikan TNI Angkatan Udara
(Kodikau), Sobokerto Kabupaten Boyolali;
ppp. Gudang (GUD) Minyak di Kota Semarang;
qqq. Gudang Alat Ksatrian dan Alat Kantor (GUD Alsatri) di Kota
Semarang;
rrr. Gudang (GUD) Makanan di Kota Semarang; dan
sss. Gudang (GUD) PPL di Kota Semarang.
(2) Kawasan pertahanan dan keamanan lainnya yang ditetapkan melalui
peraturan perundang-undangan.
BAB VI
KAWASAN STRATEGIS
Pasal 52
(1) Kawasan strategis di wilayah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal
3 huruf e terdiri atas:
-93-
a. KSN;
b. KSNT; dan
c. KSP.
(2) KSN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. KSN dari sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi berupa KSN
Perkotaan Kedungsepur (Kendal-Ungaran-Semarang-Purwodadi);
b. KSN dari sudut kepentingan sosial dan budaya meliputi:
1. KSN Borobudur;
2. KSN Candi Prambanan; dan
3. KSN Sangiran.
c. KSN dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan
hidup meliputi:
1. KSN Pacangsanak (Pangandaran – Kalipucang – Segara Anakan –
Nusakambangan);
2. KSN Taman Nasional Gunung Merapi; dan
3. Kawasan strategis Nasional dari sudut kepentingan pertahanan
dan keamanan berupa KSN Kawasan Perbatasan Negara di Laut
Lepas.
(3) KSNT sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b berupa KSNT yang
terkait dengan Pengendalian Lingkungan Hidup berupa Daerah Cadangan
Karbon Biru KSNT meliputi:
a. KSNT Kepulauan Karimunjawa; dan
b. KSNT Pati.
(4) KSP sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf c meliputi:
a. KSP dari sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi;
b. KSP dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan
hidup.
(5) KSP dari sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi sebagaimana
dimaksud pada ayat (4) huruf a meliputi:
a. KSP Industri Prioritas Provinsi; dan
b. KSP Agropolitan.
(6) KSP Industri Prioritas Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf
a dengan arahan meliputi:
a. KSP Industri Prioritas Provinsi bertujuan mendorong pengembangan
kawasan industri di wilayah Kabupaten/ Kota dalam rangka
mendorong pengembangan wilayah Provinsi dan mengurangi
kesenjangan antar daerah Kabupaten/ Kota.
b. arahan pengembangan KSP Industri Prioritas Provinsi meliputi:
1. pengembangan kawasan industri wilayah selatan Provinsi berada
di Kabupeten Cilacap dan Kabupaten Kebumen.
2. pengembangan kawasan industri wilayah utara Provinsi berada di
Kabupaten Rembang, Kabupaten Demak, Kota Semarang,
Kabupaten Batang, dan Kabupaten Brebes.
-94-
(7) KSP agropolitan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b dengan
arahan meliputi:
a. KSP agropolitan terdiri atas:
1. Kawasan agropolitan MANGGA EMAS, berada di wilayah
Kabupaten Pemalang, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Tegal,
Kabupaten Brebes, dan Kabupaten Banyumas;
2. Kawasan agropolitan GIRISUKA, berada di wilayah Kabupaten
Wonogiri, Kabupaten Sukoharjo, dan Kabupaten Karanganyar);
3. Kawasan agropolitan SEMARBOYONG, berada di wilayah
Kabupaten Semarang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten
Magelang); dan
4. Kawasan agropolitan SOBOBANJAR, berada di wilayah Kabupaten
Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara).
b. KSP agropolitan bertujuan mendorong peningkatan pengelolaan
pertanian hulu-hilir dan pertambahan nilai ekonomi komoditas
pertanian.
c. arahan pengembangan KSP agropolitan meliputi:
1. penentuan komoditas unggulan masing-masing lokasi;
2. peningkatan pengolahan hasil pertanian;
3. peningkataan manajemen pengelolaan pertanian; dan
4. pengembangan prasarana dan sarana antar kawasan produksi,
pengolahan, dan pemasaran.
(8) KSP dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup
sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf b terdiri atas:
a. KSP Dataran Tinggi Dieng berada di Kabupaten Wonosobo, Kabupaten
Batang, dan Kabupaten Banjarnegara;
b. KSP Rawa Pening berada di Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga;
c. KSP Taman Nasional Gunung Merbabu berada di Kabupaten
Magelang, Kabupaten Semarang, dan Kabupaten Boyolali;
d. KSP Gunung Sindoro – Sumbing berada di Kabupaten Magelang,
Kabupaten Purworejo, Kabupaten Temanggung, dan Kabupaten
Wonososobo;
e. KSP Gunung Lawu berada di Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten
Wonogiri; dan
f. KSP Gunung Slamet berada di Kabupaten Banyumas, Kabupaten
Brebes, Kabupaten Tegal, Kabupaten Pemalang, dan Kabupaten
Purbalingga.
g. KSP Rawan Rob dan Penurunan Muka Tanah berada di Kabupaten
Pekalongan, Kota Pekalongan, dan Kabupaten Demak
(9) Tujuan dan arahan pengembangan KSP Dataran Tinggi Dieng
sebagaimana dimaksud pada ayat (6) huruf a meliputi:
a. KSP Dataran Tinggi Dieng bertujuan untuk mengendalikan
pemanfaatan kegiatan budidaya yang berpotensi menurunkan
kualitas lingkungan dan meningkatkan risiko bencana.
-95-
b. Arahan pengembangan KSP Kawasan Dataran Tinggi Dieng meliputi:
1. penentuan delineasi kawasan lindung;
2. pengaturan kegiatan di kawasan lindung; dan
3. pengendalian kegiatan budi daya di kawasan rawan bencana.
(10) Tujuan dan arahan pengembangan KSP Rawa Pening sebagaimana
dimaksud pada ayat (6) huruf b meliputi:
a. KSP Kawasan Rawa Pening bertujuan untuk meningkatkan pelestarian
dengan penekanan pada perlindungan Danau Rawa Pening;
b. Arahan pengembangan KSP Kawasan Rawa Pening meliputi:
1. penentuan deliniasi badan air dan sempadan danau Rawa Pening;
2. perlindungan badan air Danau Rawa Pening dan kawasan
sempadannya;
3. pengaturan kegiatan di badan air Danau Rawa Pening dan kawasan
sempadannya; dan
4. pengendalian kegiatan budi daya di daerah tangkapan air Danau
Rawa Pening.
(11) Tujuan dan arahan pengembangan KSP Taman Nasional Gunung
Merbabu sebagaimana dimaksud pada ayat (6) huruf c, Kawasan Gunung
Sindoro – Sumbing sebagaimana dimaksud pada ayat (6) huruf d,
Kawasan Gunung Lawu sebagaimana dimaksud pada ayat (6) huruf e, dan
Kawasan Gunung Slamet sebagaimana dimaksud pada ayat (6) huruf f,
meliputi:
a. penetapan KSP bertujuan untuk menjaga tutupan vegetasi dalam
rangka perlindungan ekosistem dan peningkatan konservasi air tanah.
b. arahan pengembangan dilakukan dalam rangka peningkatan produk
jasa lingkungan berupa:
1. penyerap dan penyimpangan karbon;
2. perlindungan keanekaragaman hayati;
3. konservasi air tanah; dan
4. keindahan bentang alam.
(12) Tujuan dan arahan pengembangan KSP Rawan Rob dan Penurunan Muka
Tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (6) huruf b meliputi:
a. KSP Rawan Rob dan Penurunan Muka Tanah bertujuan untuk
mengendalikan risiko rob dan penurunan muka tanah;
b. arahan pengembangan KSP Rawan Rob dan Penurunan Muka Tanah
meliputi:
1. penentuan deliniasi risiko rob dan penurunan muka tanah;
2. mendorong perwujudan kota tangguh bencana;
3. pembangunan tanggul laut dan fasilitas tampungan air;
4. peningkatan kualitas permukiman; dan
5. pengendalian pemanfaatan ruang melalui pengaturan kegiatan
yang diperbolehkan dan dilarang secara rinci.
-96-
(13) KSP sebagaimana dimaksud pada ayat (3) digambarkan dalam peta
dengan ketelitian geometri dan ketelitian detail informasi skala 1:250.000
(satu banding dua ratus lima puluh ribu) sebagaimana tercantum dalam
Lampiran X yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan
Daerah ini.
BAB VII
ARAHAN PEMANFAATAN RUANG WILAYAH
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 53
Arahan pemanfaatan ruang wilayah provinsi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 3 huruf f meliputi:
a. KKPR;
b. Indikasi Program Utama jangka menengah 5 (lima) tahunan; dan
c. SPPR.
Bagian Kedua
KKPR
Pasal 54
(1) Setiap orang yang melakukan kegiatan pemanfaatan ruang, wajib
memperoleh KKPR sebagaimana dimaksud dalam pasal 53 huruf a sesuai
ketentuan perundang-undangan.
(2) KKPR sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. KKPR Darat; dan
b. KKPR Laut.
Paragraf 1
KKPR Darat
Pasal 55
(1) KKPR darat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 ayat (2) huruf a,
dilaksanakan untuk:
c. kegiatan berusaha;
d. kegiatan non berusaha; dan
e. kegiatan yang bersifat strategis nasional.
(2) Pelaksanaan KKPR darat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
melalui:
a. konfirmasi KKPR;
b. persetujuan KKPR; dan
c. rekomendasi KKPR.
-97-
(3) Pelaksanaan KKPR darat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat
(2) dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(4) KKPR darat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) menjadi pertimbangan
dalam pelaksanaan revisi RTRW.
Paragraf 2
KKPR Laut
Pasal 56
(1) KKPR Laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 ayat (2) huruf b,
menjadi persyaratan dasar Perizinan Berusaha dan/atau penerbitan
perizinan non berusaha.
(2) KKPR Laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui:
a. Persetujuan untuk kegiatan berusaha; atau
b. Persetujuan atau Konfirmasi untuk kegiatan non berusaha.
(3) Dalam rangka pemberian KKPR Laut sebagaimana dimaksud ayat (2)
Kawasan Lindung dan Kawasan Budi Daya dijabarkan ke dalam kegiatan.
(4) Rincian lokasi, luasan dan aturan pemanfaatan ruang pada masing-
masing kegiatan sebagamana dimaksud pada ayat (2) sebagaimana
tercantum pada lampiran XI yang merupakan bagian tidak terpisahkan
dari Peraturan Daerah ini.
(5) Pelaksanaan KKPR Laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Bagian Ketiga
Indikasi Program Utama Jangka Menengah 5 (Lima) Tahunan
Pasal 57
(1) Penyusunan indikasi program utama pembangunan jangka menengah 5
(lima) tahunan sebagaimana dimaksud pada Pasal 53 huruf b terdiri atas:
a. penguatan penataan ruang
b. perwujudan rencana struktur ruang wilayah meliputi:
1. sistem pusat permukiman;
2. sistem jaringan transportasi;
3. sistem jaringan energi;
4. sistem jaringan telekomunikasi;
5. sistem jaringan sumber daya air; dan
6. sistem jaringan prasarana lainnya.
c. perwujudan rencana pola ruang wilayah Provinsi meliputi:
1. kawasan peruntukan lindung; dan
2. kawasan peruntukan budi daya.
d. Perwujudan kawasan strategis provinsi.
(2) Arahan pelaksanaan pemanfaatan ruang terdiri atas:
-98-
a. indikasi program utama;
b. indikasi lokasi;
c. indikasi sumber pendanaan;
d. indikasi pelaksana; dan
e. indikasi waktu pelaksanaan.
(3) Indikasi sumber pendanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c
meliputi:
a. dana Pemerintah Pusat;
b. dana Pemerintah Provinsi;
c. dana Pemerintah Kabupaten/Kota;
d. dana badan usaha milik negara;
e. dana swasta;
f. dana Masyarakat; dan
g. kerja sama pendanaan investasi dilaksanakan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(4) Indikasi waktu pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf
e merupakan dasar bagi instansi pelaksana, baik pusat maupun daerah,
dalam menetapkan prioritas pembangunan dibagi ke dalam 5 (lima)
tahapan meliputi:
a. tahap kesatu, tahun 2023-2024;
b. tahap kedua, tahun 2025-2029;
c. tahap ketiga, tahun 2030 - 2034;
d. tahap keempat, tahun 2035 – 2039; dan
e. tahap kelima, tahun 2040 -2043.
(5) Arahan Pemanfaatan Ruang dan arahan indikasi program utama lima
tahunan Wilayah Provinsi tercantum dalam Lampiran XII yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Pasal 58
(1) Indikasi program utama jangka menengah 5 (lima) tahun kedua sampai 5
(lima) tahun kelima sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 ayat (5) huruf
b sampai dengan huruf e, terdiri atas:
a. penguatan penataan ruang;
b. perwujudan Struktur Ruang;
c. perwujudan Pola Ruang; dan
d. perwujudan KSP.
(2) Penguatan penataan ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
terdiri dari:
a. penetapan rencana tata ruang wilayah provinsi;
b. koordinasi dan sinkronisasi pemanfaatan ruang daerah provinsi;
c. monitoring dan evaluasi pelaksanaan pemanfaatan ruang;
-99-
d. monitoring dan evaluasi pelaksanaan pengendalian pemanfaatan
ruang;
e. penyelesaian sengketa penataan ruang lintas kabupaten ;dan
f. program kebencanaan meliputi:
1. program penanggulangan bencana meliputi:
a) pelayanan informasi rawan bencana provinsi;
b) pelayanan pencegahan dan kesiapsiagaan terhadap bencana;
c) pelayanan penyelamatan dan evakuasi korban bencana;
d) penataan sistem dasar penanggulangan bencana; dan
e) perlindungan sosial korban bencana alam dan sosial provinsi.
2. program penanggulangan kebakaran meliputi:
a) penyelenggaraan pemetaan rawan bencana kebakaran; dan
b) penyusunan rencana induk sistem proteksi kebakaran.
(3) Perwujudan rencana Struktur Ruang sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) huruf b terdiri dari:
a. pusat permukiman terdiri atas:
1. Pengembangan Pusat Kegiatan Nasional (PKN) terdiri atas:
a) program koordinasi dan sinkronisasi Pemerintah Pusat,
Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/ Kota dalam
pengembangan wilayah Kawasan Perkotaan PKN;
b) program pengembangan prasarana dan sarana pada wilayah
kawasan perkotaan PKN; dan
c) program rehabilitasi dan pengendalian kota-kota berbasis
mitigasi bencana.
2. pengembangan pusat kegiatan wilayah (PKW) meliputi:
a) program koordinasi dan sinkronisasi Pemerintah Pusat,
Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/ Kota dalam
pengembangan wilayah Kawasan Perkotaan PKW;
b) program pengembangan prasarana dan sarana pada wilayah
kawasan perkotaan PKW; dan
c) program rehabilitasi dan pengendalian kota-kota berbasis
mitigasi bencana.
3. Pengembangan Pusat Kegiatan Lokal (PKL) meliputi:
a) program koordinasi dan sinkronisasi Pemerintah Provinsi dan
Pemerintah Kabupaten/ Kota dalam pengembangan wilayah
Kawasan Perkotaan PKL;
b) program pengembangan prasarana dan sarana pada wilayah
kawasan perkotaan PKL; dan
c) program rehabilitasi dan pengendalian kota-kota berbasis
mitigasi bencana.
4. keterpaduan pembangunan wilayah antar Kabupaten/Kota dalam
WP (Wilayah Pembangunan) meliputi:
-100-
a) penyusunan kajian pengembangan wilayah; dan
b) program pelaksanaan koordinasi pelaksanaan program
monitoring dan evaluasi.
b. sistem jaringan transportasi terdiri atas:
1. sistem jaringan jalan meliputi:
a) program penyelenggaraan dan peningkatan jalan arteri primer;
b) program penyelenggaraan dan peningkatan jalan kolektor
primer 1 (JKP-1);
c) program penyelenggaraan dan peningkatan jalan tol;
d) program penyelenggaraan dan peningkatan jalan kolektor
primer 2 (JKP-2);
e) program penyelenggaraan dan peningkatan jalan kolektor
primer tiga (JKP-3);
f) program penyelenggaraan dan peningkatan terminal
penumpang tipe A;
g) program penyelenggaraan dan peningkatan terminal
penumpang tipe B; dan
h) program penyelenggaraan dan peningkatan Terminal Barang.
2. sistem jaringan kereta api terdiri atas:
a) program penyelenggaraan dan peningkatan jaringan jalur
kereta api;
b) program penyelenggaraan dan peningkatan stasiun kereta api
(KA).
3. sistem jaringan sungai, danau dan penyeberangan terdiri atas:
a) program penyelenggaraan dan peningkatan alur- pelayaran
sungai dan alur-pelayaran danau;
b) program penyelenggaraan dan peningkatan lintas
penyeberangan antarprovinsi;
c) program penyelenggaraan dan peningkatan lintas
penyeberangan antar kabupaten/kota;
d) program penyelenggaraan dan peningkatan pelabuhan sungai
dan danau; dan
e) program penyelenggaraan dan peningkatan pelabuhan
penyeberangan.
4. sistem jaringan transportasi laut meliputi :
a) program penyelenggaraan dan peningkatan pelabuhan utama;
b) program penyelenggaraan dan peningkatan pelabuhan
pengumpul;
c) program penyelenggaraan dan peningkatan pelabuhan
pengumpan regional;
d) program penyelenggaraan dan peningkatan pelabuhan
pengumpan lokal;
e) program penyelenggaraan dan peningkatan terminal khusus;
-101-
f) program penyelenggaraan dan peningkatan pelabuhan
perikanan samudera (PPS);
g) program penyelenggaraan dan peningkatan pelabuhan
perikanan nusantara (PPN);
h) program penyelenggaraan dan peningkatan pelabuhan
perikanan pantai (PPP); dan
i) program penyelenggaraan dan peningkatan pangkalan
pendaratan ikan (PPI).
5. Bandar udara umum meliputi :
a) program penyelenggaraan dan peningkatan bandar udara
pengumpul; dan
b) program penyelenggaraan dan peningkatan bandar udara
pengumpan.
c. sistem jaringan energi terdiri atas :
1. jaringan infrastruktur minyak dan gas bumi meliputi:
a) program penyelenggaraan dan peningkatan infrastruktur
minyak dan gas bumi; dan
b) program penyelenggaraan dan peningkatan jaringan minyak
dan gas bumi terdiri atas:
1) jaringan minyak dan gas bumi; dan
2) jaringan pipa bawah laut minyak dan gas bumi.
2. jaringan infrastruktur ketenagalistrikan meliputi:
a) program penyelenggaraan dan peningkatan infrastruktur
pembangkitan tenaga listrik dan sarana pendukung;
b) program penyelenggaraan dan peningkatan jaringan
infrastruktur penyaluran tenaga listrik dan sarana pendukung
terdiri atas:
1) program penyelenggaraan dan peningkatan jaringan saluran
udara tegangan ekstra tinggi (SUTET);
2) program penyelenggaraan dan peningkatan saluran udara
tegangan tinggi (SUTT);
3) program penyelenggaraan dan peningkatan jaringan
pipa/kabel bawah laut penyaluran tenaga listrik; dan
4) program penyelenggaraan dan peningkatan gardu listrik.
d. sistem jaringan telekomunikasi terdiri atas :
1. penyelenggaraan dan peningkatan jaringan tetap meliputi:
a) program penyelenggaraan dan peningkatan sistem prasarana
jaringan kabel serat optik dan pembangunan saluran serat
optik; dan
b) program penyelenggaraan dan peningkatan kabel bawah Laut
untuk telekomunikasi.
2. penyelenggaraan dan peningkatan Jaringan Bergerak.
e. jaringan sumber daya air terdiri atas :
-102-
1. program penyelenggaraan dan peningkatan sistem jaringan irigasi
meliputi:
a) program penyelenggaraan dan peningkatan sistem jaringan
irigasi kewenangan Pemerintah Pusat; dan
b) program penyelenggaraan dan peningkatan sistem jaringan
irigasi kewenangan Pemerintah Provinsi.
2. sistem jaringan air bersih berupa pembangunan kolam tampungan
air untuk penyediaan air bersih
3. sistem pengendalian banjir meliputi:
a) program penyelenggaraan dan peningkatan jaringan pengendali
banjir meliputi:
1) sistem pengaman pantai, pengembangan tanggul laut dan
tanggul pantai pada pesisir pantai; dan
2) sistem pengendalian banjir dan air baku berupa danau,
embung, dan waduk.
b) program penyelenggaraan dan peningkatan Pengembangan dan
peningkatan bangunan pengendali banjir;
4. Pengembangan dan peningkatan bangunan pengambil air terdiri
atas:
a) Pengembangan dan peningkatan bangunan pengambil air di
darat meliputi:
1) Instalasi Pengambil Air (IPA) regional;
2) Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH); dan
3) Air Minum Dalam Kemasan (AMDK).
b) Pengembangan dan peningkatan bangunan pengambil air di
laut berupa Unit Pengolahan Desalinasi (KIT Batang).
f. Pengembangan sistem jaringan prasarana lainnya terdiri atas:
1. program penyelenggaraan dan peningkatan Sistem Penyediaan Air
Minum (SPAM) lintas kabupaten/ kota;
2. program penyelenggaraan dan peningkatan Sistem Pengelolaan Air
Limbah Domestik (SPALD) regional
3. program penyelenggaraan dan peningkatan sistem jaringan
persampahan berupa Pengembangan dan pengelolaan Tempat
Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) regional.
(4) Indikasi program utama perwujudan rencana Pola Ruang sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf c terdiri dari:
a. program perwujudan kawasan lindung terdiri atas:
1. kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan
bawahannya meliputi:
a) program pemanfaatan, perlindungan, dan pengelolaan kawasan
hutan lindung;
b) program peningkatan kawasan resapan air;
c) program pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) dan daerah
tangkapan air (DTA); dan
-103-
d) program pendidikan dan pelatihan, penyuluhan dan
pemberdayaan masyarakat di bidang kehutanan.
2. kawasan perlindungan setempat meliputi:
a) program pemanfaatan, perlindungan, dan pengelolaan kawasan
sempadan pantai;
b) program pemanfaatan, perlindungan, dan pengelolaan kawasan
sempadan sungai; dan
c) program pemanfaatan, perlindungan, dan pengelolaan kawasan
sekitar danau, embung, dan waduk.
3. kawasan konservasi meliputi :
a) program pemanfaatan, perlindungan, dan pengelolaan kawasan
cagar alam dan suaka marga satwa;
b) program pemanfaatan, perlindungan, dan pengelolaan kawasan
taman nasional; dan
c) program pemanfaatan, perlindungan, dan pengelolaan kawasan
taman wisata alam.
d) Program peningkatan Kawasan Maritim
4. kawasan pencadangan konservasi di laut berupa program
pemanfaatan, perlindungan, dan pengelolaan Kawasan
Pencadangan Konservasi di Laut.
5. pelestarian dan pengembangan pengelolaan kawasan cagar budaya
berupa Program pemanfaatan, perlindungan, dan pengelolaan
Kawasan Cagar Budaya
6. pelestarian dan pengembangan pengelolaan kawasan ekosistem
mangrove meliputi:
a) program pemanfaatan, perlindungan, dan pengelolaan Kawasan
Ekosistem Mangrove di daratan; dan
b) program pemanfaatan, perlindungan, dan pengelolaan Kawasan
Ekosistem Mangrove di perairan.
b. program perwujudan kawasan budi daya terdiri atas:
1. kawasan hutan produksi meliputi:
a) program pemanfaatan, perlindungan, dan pengelolaan kawasan
hutan produksi;
b) program pengelolaan rencana tata hutan kesatuan pengelolaan
hutan (KPH) kewenangan Provinsi;
c) program pemanfaatan hutan di kawasan hutan produksi; dan
d) program pelaksanaan rehabilitasi di dalam dan di luar Kawasan
Hutan Negara.
2. Kawasan perkebunan rakyat meliputi:
a) program pemanfaatan, perlindungan, dan pengelolaan kawasan
perkebunan;
b) program pengawasan mutu, penyediaan dan peredaran benih
tanaman;
-104-
c) program pengendalian dan penanggulangan bencana
perkebunan provinsi;
d) program penerbitan izin usaha perkebunan yang kegiatan
usahanya dalam daerah kabupaten/kota; dan
e) program pengembangan ketenagaan penyuluhan perkebunan.
3. kawasan pertanian meliputi:
a) program pemanfaatan, perlindungan, dan pengelolaan kawasan
pertanian;
b) program pengawasan mutu, penyediaan dan peredaran benih
tanaman;
c) program pengendalian dan penanggulangan bencana pertanian;
d) program penerbitan izin usaha pertanian yang kegiatan
usahanya dalam daerah kabupaten/kota;
e) program pengembangan ketenagaan penyuluhan pertanian;
f) program pengelolaan dan keseimbangan cadangan pangan; dan
g) program penyusunan peta kerentanan dan ketahanan pangan;
4. kawasan perikanan meliputi:
a) program pengelolaan kelautan, pesisir, dan pulau - pulau kecil
berupa pengembangan kawasan pusat pertumbuhan kelautan
berbasis masyarakat;
b) program pengelolaan perikanan tangkap dan perikanan
budidaya;
c) program pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan;
dan
d) program pengolahan dan pemasaran hasil perikanan.
5. kawasan pergaraman terdiri atas:
a) Peningkatan Sentra Pergaraman;
b) Peningkatan Produksi Garam;
c) Pengembangan teknologi pergaraman rakyat dan non rakyat;
d) Pengembangan tata niaga dan jalur distribusi garam;
e) Penataan/pembuatan jaringan irigasi dan kolam pergaraman;
dan
f) Pembinaan, monitoring dan evaluasi kegiatan pergaraman.
6. Kawasan pertambangan dan energi terdiri atas :
a) Program Pengelolaan Mineral Dan Batubara;
b) Program Pengelolaan Energi Terbarukan; dan
c) Program Pengelolaan Ketenagalistrikan.
7. kawasan peruntukan industri terdiri atas :
a) Program Perencanaan dan Pembangunan Industri;
b) Program Pengendalian Izin Usaha Industri; dan
c) Program pengembangan kawasan industri prioritas provinsi.
-105-
8. kawasan pariwisata meliputi :
a) Program peningkatan daya tarik destinasi pariwisata;
b) Program pemasaran pariwisata; dan
c) Program pengembangan ekonomi kreatif.
9. kawasan permukiman meliputi:
a) Program Pengembangan Permukiman;
b) Program Peningkatan Prasarana, Sarana Dan Utilitas Umum
(PSU);
c) Program Peningkatan Pelayanan Sertifikasi, Kualifikasi,
Klasifikasi, Dan Registrasi Bidang Perumahan Dan Kawasan
Permukiman; dan
10. Pengembangan kawasan transportasi meliputi:
a) Penetapan rencana induk Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
(LLAJ);
b) Program Koordinasi dan Sinkronisasi Pengawasan Pelaksanaan
Izin Usaha Angkutan Darat dan Laut Kewenangan Provinsi.
c) Penetapan Rencana Induk dan Daerah Lingkungan Kerja
(DLKR)/Daerah Lingkungan Kepentingan (DLKP) dan Kawasan
Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP); dan
d) Program Peningkatan Prasarana, Sarana, dan Utilitas
Umum(PSU) yaitu Pengembangan sarana transportasi
pendukung kegiatan industri, pariwisata, ekonomi, dan
kawasan permukiman perkotaan.
11. Pengendalian dan pemanfaatan kawasan pertahanan dan
keamanan berupa program koordinasi dan sinkronisasi penataan
ruang dengan wilayah pertahanan dan keamanan.
(5) Indikasi program utama perwujudan KSP sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf d terdiri atas:
a. Pengembangan kawasan strategis sudut kepentingan ekonomi berupa
program pengembangan kawasan industri prioritas Provinsi dan
Kawasan Agropolitan;
b. Pengembangan kawasan strategis sudut kepentingan fungsi dan daya
dukung lingkungan hidup terdiri atas:
1. program pengendalian Kawasan Dataran Tinggi Dieng;
2. program pengendalian Kawasan Rawa Pening; dan
3. program pengendalian Kawasan Taman Nasional Gunung
Merbabu;
4. program pengendalian Kawasan Duning Indoro – Sumbing
5. program pengendalian Kawasan Gunung Lawu;
6. program pengendalian Kawasan Slamet; dan
7. program pengendalian Kawasan Rawan Rob dan Penurunan Muka
Tanah.
-106-
Bagian Keempat
SPPR
Pasal 59
(1) SPPR sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 huruf c, dilakukan melalui
penyelarasan indikasi program utama jangka menengah 5 (lima) tahunan,
dengan program sektoral dan kewilayahan serta dokumen rencana
pembangunan secara terpadu.
(2) Pelaksanaan SPPR sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menghasilkan
dokumen:
a. SPPR jangka menengah 5 (lima) tahunan; dan
b. SPPR jangka pendek 1 (satu) tahunan.
(3) Dokumen SPPR sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menjadi masukan
untuk penyusunan rencana pembangunan dan pelaksanaan peninjauan
kembali dalam rangka revisi RTRW Provinsi.
BAB VIII
ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG WILAYAH
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 60
(1) Arahan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah provinsi dimaksud
dalam Pasal 3 huruf f dilaksanakan untuk mendorong setiap orang agar:
a. mentaati RTR yang telah ditetapkan;
b. memanfaatkan Ruang sesuai dengan RTR; dan
c. mematuhi ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan KKPR.
(2) Arahan Pengendalian Pemanfaatan Ruang sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilakukan melalui:
a. indikasi arahan zonasi;
b. penilaian pelaksanaan pemanfaatan ruang;
c. arahan insentif dan disinsentif;
d. arahan sanksi; dan
e. penyelesaian sengketa
Bagian Kedua
Indikasi Arahan Zonasi
Paragraf 1
Umum
Pasal 61
(1) Indikasi arahan zonasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (2)
huruf a merupakan arahan ketentuan pemanfaatan ruang yang lebih
detail dan sebagai acuan bagi pemanfaatan ruang dalam wilayah provinsi.
-107-
(2) Indikasi arahan zonasi berfungsi:
a. sebagai dasar pertimbangan dalam pengawasan penataan ruang; dan
b. menyeragamkan arahan zonasi di seluruh wilayah provinsi untuk
peruntukan ruang yang sama; dan
c. sebagai dasar pemberian kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang
laut.
(3) Muatan Indikasi arahan zonasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi:
a. jenis kegiatan yang diperbolehkan, kegiatan yang diperbolehkan
dengan syarat, dan kegiatan yang tidak diperbolehkan;
b. prasarana dan sarana minimum; dan/atau
c. ketentuan lain yang dibutuhkan berupa ketentuan khusus.
(4) Kegiatan yang diperbolehkan dengan syarat sebagaimana dimaksud pada
ayat (3) mempertimbangkan:
a. pemanfaatan dengan pembatasan jumlah kegiatan (pembatasan
jumlah berdasarkan standar pelayanan); dan
b. pemanfaatan dengan pembatasan jarak maksimum dengan kegiatan
lain yang menimbulkan konflik pemanfaatan.
c. pemanfaatan dengan syarat mempertimbangkan kemampuan layanan
prasarana dan sarana, seperti: sediaan energi, telekomunikasi, akses
jalan, persampahan, air minum, drainase, dan ruang parkir;
d. pemanfaatan dengan syarat menyediakan sarana khusus untuk
meminimalisir pengaruh iklim mikro, seperti ruang terbuka hijau,
resapan air, filter udara, penahan angin, dan lainnya sesuai
kebutuhan;
e. pemanfaatan dengan syarat menyediakan fasilitas pengolah dan/atau
penyimpan bahan sisa kegiatan (untuk kegiatan yang operasionalnya
menghasilkan sisa bahan yang dapat mempengaruhi kondisi ruang di
sekitarnya); dan
f. pemanfaatan dengan syarat mempertimbangkan risiko konflik dengan
kegiatan sekitarnya dan/atau konflik sosial.
(5) Penetapan syarat dalam proses persetujuan KKPR dilakukan oleh
Perangkat Daerah yang membidangi Penataan Ruang atau Forum
Penataan Ruang.
(6) Indikasi arahan zonasi meliputi:
a. indikasi arahan zonasi untuk Struktur Ruang; dan
b. indikasi arahan zonasi untuk Pola Ruang.
(7) Indikasi arahan zonasi Struktur Ruang sebagaimana dimaksud pada ayat
(3) huruf a meliputi:
a. indikasi arahan zonasi sistem pusat permukiman;
b. indikasi arahan zonasi jaringan transportasi;
c. indikasi arahan zonasi jaringan energi;
d. indikasi arahan zonasi jaringan telekomunikasi;
e. indikasi arahan zonasi jaringan sumber daya air; dan
-108-
f. indikasi arahan zonasi prasarana lainnya.
(8) Indikasi arahan zonasi Pola Ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
huruf b meliputi:
a. indikasi arahan zonasi kawasan lindung;
b. indikasi arahan zonasi kawasan budi daya;
Paragraf 2
Indikasi Arahan Zonasi Struktur Ruang
Pasal 62
(1) Indikasi arahan zonasi sistem pusat permukiman sebagaimana dimaksud
Pasal 61 ayat (7) huruf a terdiri atas:
a. indikasi arahan zonasi untuk Pusat Kegiatan Nasional (PKN);
b. indikasi arahan zonasi untuk Pusat Kegiatan Wilayah (PKW); dan
c. indikasi arahan zonasi untuk Pusat Kegiatan Lokal (PKL).
(2) Indikasi arahan zonasi untuk Pusat Kegiatan Nasional (PKN) sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. kegiatan yang diperbolehkan meliputi:
1. pengaturan Pemanfaatan Ruang untuk kegiatan ekonomi berskala
nasional dan regional/antar provinsi;
2. pengembangan fungsi Kawasan Perkotaan sebagai pusat
permukiman dengan intensitas Pemanfaatan Ruang tingkat
menengah hingga tinggi yang berkelanjutan, melalui
pengembangan hunian vertikal guna efisiensi lahan dengan tetap
memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan di
masing-masing Daerah Kabupaten/Kota; dan
3. penyediaan prasarana dan sarana perkotaan sesuai standar
pelayanan minimal.
b. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi:
1. pada PKN yang didorong perkembangannya, pemanfaatan ruang
ditekankan pada pembangunan infrastruktur yang dibutuhkan
untuk menjalankan fungsinya sebagai PKN, meningkatkan kualitas
dan skala pelayanan infrastruktur yang ada serta menata
perkembangan Kawasan Permukiman yang ada;
2. pada PKN yang dikendalikan perkembangannya, pemanfaatan
ruang ditekankan pada pengendalian perkembangan Kawasan
Perkotaan, optimalisasi infrastruktur yang telah ada dan
peningkatan kualitas pelayanan infrastruktur yang ada; dan
3. kegiatan lainnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
c. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi seluruh kegiatan yang
tidak mempertimbangkan atau melampui daya dukung dan daya
tamping lingkungan hidup.
-109-
d. sarana dan prasarana minimum sebagai dasar fisik lingkungan guna
mendukung pengembangan kawasan agar dapat berfungsi secara
optimal meliputi seluruh penerapan standar pelayanan minimal.
(3) indikasi arahan zonasi untuk Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:
a. kegiatan yang diperbolehkan meliputi:
1. pengaturan Pemanfaatan Ruang untuk kegiatan ekonomi berskala
Provinsi dan regional/antar Kabupaten/ Kota;
2. pengembangan fungsi Kawasan Perkotaan sebagai pusat
permukiman dengan intensitas Pemanfaatan Ruang tingkat
menengah hingga tinggi yang berkelanjutan, melalui
pengembangan hunian vertikal guna efisiensi lahan dengan tetap
memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan di
masing-masing Daerah Kabupaten/Kota; dan
3. penyediaan prasarana dan sarana perkotaan sesuai standar
pelayanan minimal.
b. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi:
1. pada PKW yang didorong perkembangannya, pemanfaatan ruang
ditekankan pada pembangunan infrastruktur yang dibutuhkan
untuk menjalankan fungsinya sebagai PKW, meningkatkan
kualitas dan skala pelayanan infrastruktur yang ada serta menata
perkembangan Kawasan Permukiman yang ada; dan
2. pada PKW yang dikendalikan perkembangannya, pemanfaatan
ruang ditekankan pada pengendalian perkembangan Kawasan
Perkotaan, optimalisasi infrastruktur yang telah ada dan
peningkatan kualitas pelayanan infrastruktur yang ada.
3. kegiatan lainnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
c. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi seluruh kegiatan yang
tidak mempertimbangkan atau melampui daya dukung dan daya
tamping lingkungan hidup.
d. sarana dan prasarana minimum sebagai dasar fisik lingkungan guna
mendukung pengembangan kawasan agar dapat berfungsi secara
optimal meliputi seluruh penerapan standar pelayanan minimal.
(4) indikasi arahan zonasi untuk Pusat Kegiatan Lokal (PKL) sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi:
e. kegiatan yang diperbolehkan meliputi:
4. pengaturan Pemanfaatan Ruang untuk kegiatan ekonomi berskala
antar Kabupaten/ Kota;
5. pengembangan fungsi Kawasan Perkotaan sebagai pusat
permukiman dengan intensitas Pemanfaatan Ruang tingkat
menengah hingga tinggi yang berkelanjutan, melalui
pengembangan hunian vertikal guna efisiensi lahan dengan tetap
memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan di
masing-masing Daerah Kabupaten/Kota; dan
6. penyediaan prasarana dan sarana perkotaan sesuai standar
pelayanan minimal.
-110-
f. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi:
4. pada PKL yang didorong perkembangannya, pemanfaatan ruang
ditekankan pada pembangunan infrastruktur yang dibutuhkan
untuk menjalankan fungsinya sebagai PKL, meningkatkan kualitas
dan skala pelayanan infrastruktur yang ada serta menata
perkembangan Kawasan Permukiman yang ada; dan
5. pada PKL yang dikendalikan perkembangannya, pemanfaatan
ruang ditekankan pada pengendalian perkembangan Kawasan
Perkotaan, optimalisasi infrastruktur yang telah ada dan
peningkatan kualitas pelayanan infrastruktur yang ada.
6. kegiatan lainnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
g. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi seluruh kegiatan yang
tidak mempertimbangkan atau melampui daya dukung dan daya
tamping lingkungan hidup.
h. sarana dan prasarana minimum sebagai dasar fisik lingkungan guna
mendukung pengembangan kawasan agar dapat berfungsi secara
optimal meliputi seluruh penerapan standar pelayanan minimal.
Pasal 63
(1) Indikasi arahan zonasi jaringan transportasi sebagaimana dimaksud
Pasal 61 ayat (7) huruf b terdiri atas:
a. indikasi arahan zonasi Sistem Jaringan Jalan;
b. indikasi arahan zonasi Sistem Jaringan Kereta Api;
c. indikasi arahan zonasi Sistem Jaringan Sungai, Danau dan
Penyeberangan;
d. indikasi arahan zonasi Sistem Jaringan Transportasi Laut; dan
e. indikasi arahan zonasi Bandar Udara Umum.
(2) Indikasi arahan zonasi Sistem Jaringan Jalan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. indikasi arahan zonasi jalan arteri primer, meliputi:
1. kegiatan yang diperbolehkan meliputi:
a) pengaturan manajemen transportasi berdasarkan kebutuhan
lalu lintas; dan
b) penyediaan prasarana pelengkap jalan yang sesuai dengan
kondisi dan kelas jalan arteri primer.
2. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi:
a) ruang terbuka hijau jalur dan pulau jalan;
b) jaringan prasarana dan utilitas; dan
c) kegiatan lainnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
3. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi:
a) pemanfaatan jalan yang mengakibatkan terganggunya fungsi
jalan tanpa izin penyelenggara jalan; dan
-111-
b) bangunan atau kegiatan yang menganggu lalu lintas sampai
batas ruang pengawasan jalan.
4. sarana dan prasarana minimum meliputi:
a) parkir;
b) pedestrian;
c) kelengkapan jalan;
d) jalur mitigasi bencana; dan
e) Sarana dan prasarana lainnya sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.
b. indikasi arahan zonasi jalan kolektor primer, meliputi:
1. kegiatan yang diperbolehkan meliputi:
a) pengaturan manajemen transportasi berdasarkan kebutuhan
lalu lintas; dan
b) penyediaan prasarana pelengkap jalan yang sesuai dengan
kondisi dan kelas jalan kolektor primer.
2. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi:
a) ruang terbuka hijau jalur dan pulau jalan;
b) jaringan prasarana dan utilitas; dan
c) kegiatan lainnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
3. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi:
a) pemanfaatan jalan yang mengakibatkan terganggunya fungsi
jalan tanpa izin penyelenggara jalan; dan
b) bangunan atau kegiatan yang menganggu lalu lintas sampai
batas ruang pengawasan jalan.
4. sarana dan prasarana minimum meliputi:
a) parkir;
b) pedestrian;
c) kelengkapan jalan;
d) jalur mitigasi bencana; dan
e) Sarana dan prasarana lainnya sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.
c. indikasi arahan zonasi jalan lokal primer meliputi:
1. kegiatan yang diperbolehkan meliputi:
a) pengaturan manajemen transportasi berdasarkan kebutuhan
lalu lintas; dan
b) penyediaan prasarana pelengkap jalan yang sesuai dengan
kondisi dan kelas jalan lokal primer.
2. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi:
a) ruang terbuka hijau jalur dan pulau jalan;
b) jaringan prasarana dan utilitas; dan
-112-
c) kegiatan lainnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
3. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi:
a) pemanfaatan ruang milik jalan yang mengakibatkan
terganggunya fungsi jalan tanpa izin penyelenggara jalan; dan
b) bangunan yang menganggu lalu lintas sampai batas ruang
pengawasan jalan.
4. sarana dan prasarana minimum meliputi:
a) parkir;
b) pedestrian;
c) kelengkapan jalan;
d) jalur mitigasi bencana; dan
e) Sarana dan prasarana lainnya sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.
d. indikasi arahan zonasi jalan tol meliputi:
1. kegiatan yang diperbolehkan meliputi
a) pengaturan manajemen transportasi berdasarkan kebutuhan
lalu lintas jalan tol; dan
b) penyediaan prasarana pelengkap jalan yang sesuai dengan
kondisi dan kelas jalan tol.
2. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi:
a) ruang terbuka hijau jalur dan pulau jalan;
b) pemanfaatan untuk jaringan prasarana dan utilitas; dan
c) kegiatan lainnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
3. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi:
a) pemanfaatan jalan tol yang mengakibatkan terganggunya fungsi
jalan tanpa izin penyelenggara jalan tol; dan
b) bangunan atau kegiatan yang menganggu lalu lintas jalan tol.
c) pembuatan jalan masuk atau keluar, serta interchange jalan tol,
kecuali dengan izin Pemerintah
4. sarana dan prasarana minimum meliputi:
a) penyediaan akses penghubung kawasan yang terpisahkan oleh
pembangunan jalan tol;
b) ketentuan akses keluar jalan tol memperhatikan fungsi jalan;
c) pengendalian koridor jalan penghubung dari pintu keluar tol ke
jalan non tol agar tidak menimbulkan kemacetan;
d) jalan tol harus mempunyai kualitas pelayanan (Level of
Service/LOS) yang lebih baik dari jalan umum; dan
e) ketentuan standar pelayanan minimal jalan tol diatur lebih
lanjut dalam ketentuan peraturan perundang-undangan.
-113-
e. indikasi arahan zonasi terminal penumpang berupa terminal
penumpang tipe A dan terminal penumpang tipe B meliputi:
1. kegiatan yang diperbolehkan meliputi:
a) pengaturan kegiatan dalam terminal oleh Lembaga pengelola
terminal penumpang; dan
b) pengembangan prasarana dan sarana pendukung terminal
penumpang untuk mendukung pergerakan orang, barang dan
kendaraan; dan
2. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi:
a) kegiatan pendukung aktivitas terminal penumpang sesuai
dengan skala pelayanan terminal penumpang (kantor,
perdagangan jasa, fasilitas terminal); dan
b) pemanfaatan secara terpadu terminal penumpang dengan
kawasan disekitarnya dalam rangka membentuk kawasan yang
berorientasi trasit (TOD).
c) kegiatan lainnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
3. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi kegiatan atau
pemanfaatan ruang di dalam lingkungan kerja terminal yang
mengganggu operasional, keselamatan, keamanan fungsi fasilitas
utama dan fasilitas penunjang terminal penumpang.
4. sarana dan prasarana minimum meliputi:
a) terminal menyediakan tempat untuk kegiatan usaha mikro dan
kecil;
b) penyediaan tempat usaha untuk kegiatan usaha mikro dan kecil
dilaksanakan berdasarkan kebutuhan dengan memperhatikan
persyaratan keselamatan dan keamanan;
c) menyediakan ruang evakuasi dan prasarana mitigasi bencana;
dan
d) sarana dan prasarana lainnya sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.
f. indikasi arahan zonasi terminal barang meliputi:
1. kegiatan yang diperbolehkan meliputi:
a) pengaturan kegiatan dalam terminal oleh Lembaga pengelola
terminal barang; dan
b) pengembangan prasarana dan sarana pendukung terminal
barang untuk mendukung pergerakan barang dan kendaraan;
dan
2. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi:
a) kegiatan pendukung aktivitas terminal barang sesuai dengan
skala pelayanan terminal barang (gudang, kantor, perdagangan
jasa, fasilitas terminal); dan
b) kegiatan lainnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
-114-
3. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi kegiatan atau
pemanfaatan ruang di dalam lingkungan kerja terminal yang
mengganggu operasional keselamatan, keamanan fungsi fasilitas
utama dan fasilitas penunjang terminal barang.
4. sarana dan prasarana minimum meliputi:
a) terminal menyediakan tempat untuk kegiatan usaha mikro dan
kecil;
b) penyediaan tempat usaha untuk kegiatan usaha mikro dan kecil
dilaksanakan berdasarkan kebutuhan dengan memperhatikan
persyaratan keselamatan dan keamanan;
c) menyediakan ruang evakuasi dan prasarana mitigasi bencana;
dan
d) sarana dan prasarana lainnya sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.
g. indikasi arahan zonasi jembatan timbang meliputi:
1. kegiatan yang diperbolehkan meliputi:
a) pengaturan kegiatan dalam kawasan jembatan timbang oleh
Lembaga pengelola jembatan timbang; dan
b) pemanfaatan untuk fasilitas pendukung kegiatan di jembatan
timbang.
2. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi:
a) pemanfaatan terpadu dengan kegiatan industri, perdagangan,
jasa, dan pergudangan;
b) pemanfaatan untuk parkir kendaraan barang;
c) kegiatan lainnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
3. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi pemanfaatan ruang di
dalam lingkungan kerja jembatan timbang yang tidak sesuai
dengan fungsi jembatan timbang.
4. sarana dan prasarana minimum meliputi:
a) jalan akses keluar masuk kendaraan;
b) jalan sirkulasi di dalam wilayah operasional jembatan timbang;
c) bangunan kantor petugas;
d) landasan penimbangan;
e) fasilitas sistem informasi penimbangan kendaraan;
f) tempat parkir kendaraan;
g) fasilitas penunjang; dan
h) sarana dan prasarana lainnya sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.
(3) Indikasi arahan zonasi Sistem Jaringan Kereta Api sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:
a. kegiatan yang diperbolehkan meliputi pemanfaatan untuk prasarana
dan sarana pendukung transportasi kereta api;
-115-
b. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi:
1. ruang terbuka hijau di kawasan sempadan kereta api;
2. jaringan prasarana dan utilitas;
3. kegiatan untuk keperluan lain atas izin Lembaga pengelola
perkeretaapian; dan
4. kegiatan lainnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
c. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi:
1. pembuatan perlintasan tanpa izin; dan
2. kegiatan dapat mengganggu kepentingan operasi dan keselamatan
transportasi perkeretaapian.
d. sarana dan prasarana minimum meliputi:
1. Prasarana perkeretaapian meliputi:
a) jalur kereta api;
b) stasiun kereta api; dan
c) fasilitas pengoperasian kereta api.
2. Jalur kereta api meliputi:
a) ruang manfaat jalur kereta api;
b) ruang milik jalur kereta api; dan
c) ruang pengawasan jalur kereta api.
3. sarana dan prasarana lainnya sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.
(4) Indikasi arahan zonasi Sistem Jaringan Sungai, Danau, dan
Penyeberangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi:
a. kegiatan yang diperbolehkan meliputi berupa kegiatan penyediaan
sarana dan prasarana penunjang operasional alur pelayaran di sungai,
danau, penyebrangan dan dermaga.
b. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi:
1. pelabuhan sesuai skala pelayanan;
2. pemanfaatan badan air untuk mendukung alur pelayaran sungai,
danau dan penyeberangan; dan
3. kegiatan lainnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
c. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi:
1. kegiatan yang dapat mengganggu keselamatan dan keamanan
pelayaran;
2. kegiatan yang mengganggu alur-pelayaran sungai, danau dan
penyeberangan; dan
3. kegiatan yang dapat merusak ekosistem dan fungsi lindung sungai,
dan jaringan irigasi.
d. sarana dan prasarana minimum meliputi Penyediaan sarana dan
prasarana minimal dan Standar pelayanan minimal yang memenuhi
-116-
aspek keselamatan, keamanan, kenyamanan, dan kesetaraan sesuai
dengan ketentuan dan peraturan perundang-undangan.
(5) Indikasi arahan zonasi Sistem Jaringan Transportasi Laut sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf d meliputi:
a. kegiatan yang diperbolehkan meliputi:
1. alur pelayaran dari dan ke pelabuhan;
2. keperluan keadaan darurat;
3. kegiatan pemanduan kapal;
4. Pelabuhan, pengerukan alur Pelabuhan;
5. Pengembangan pelabuhan jangka Panjang;
6. Fasilitas perbaikan, pembangunan, dan pemeliharaan kapal;
7. Pembangunan Terminal Untuk Kepentingan Sendiri (TUKS) dan
Terminal Khusus serta kegiatan lalu lintas kapal yang masuk dan
keluar Terminal Untuk Kepentingan Sendiri (TUKS) dan Terminal
Khusus;
8. Tempat uji coba kapal (percobaan berlayar);
9. Pendaratan hasil tangkapan perikanan;
10. Pelaksanaan operasional kapal perikanan;
11. Tambat labuh kapal perikanan dan kapal pengawas perikanan;
12. Perbekalan dan perbaikan kapal perikanan;
13. Bongkar muat;
14. Penelitian;
15. Uji Coba Kapal;
16. Penempatan kapal mati;
17. Pemasaran dan distribusi ikan;
18. Ruang Terbuka Hijau (RTH);
19. Pembangunan industri pengolahan/industri maritim/pasar ikan di
sekitar wilayah Pelabuhan;
20. Pembangunan sarana prasarana pendukung Pelabuhan Perikanan
melalui kontribusi investasi swasta, sesuai dengan aturan dan
peraturan yang berlaku;
21. Pembangunan infrastruktur meliputi pengembangan kapasitas dan
fasilitas pembangunan prasarana yang terhubung dengan
pelabuhan, serta infrastruktur listrik;
22. Penerapan cold chain dan peningkatan sanitasi Kawasan;
23. Penerapan pencatatan hasil produksi dan wilayah tangkap serta
secara akurat dan berkelanjutan;
24. Peningkatan efisiensi pengelolaan pelabuhan; dan
25. Penguatan konektivitas jaringan logistik pelabuhan perikanan
dengan wilayah penyangga dan pengembangan zona pelabuhan
perikanan dapat dikembangkan dengan cara reklamasi.
b. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi:
-117-
1. Wisata sejarah;
2. Wisata budaya;
3. Permukiman eksisting;
4. Wilayah kerja dan wilayah pengoperasian pelabuhan perikanan;
5. Salvage dan/atau pekerjaan bawah air;
6. Pengerukan;
7. Perikanan tangkap dengan alat penangkapan ikan
dinamis/bergerak yang tidak mengganggu kegiatan kepelabuhan;
8. Industri pengolahan hasil perikanan (pengalengan, penggaraman,
pengeringan, pengasapan, pembekuan, pemindangan, dan
pengolahan dan pengawetan lainnya);
9. Industri maritim, fasilitas umum, dumping area, perdagangan dan
jasa, perkantoran;
10. Pipetack pom Pelabuhan;
11. Loading Dock;
12. Wisata alam bentang laut;
13. Wisata alam pantai/pesisir;
14. Bangunan pelindung pantai dan bangunan infrastruktur dan
kegiatan reklamasi untuk mendukung kegiatan kepelabuhanan
berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
15. Kegiatan lainnya sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan.
c. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi:
1. Pertambangan panas bumi, perikanan tangkap dengan alat
penangkapan ikan statis dan/atau bergerak yang mengganggu
kegiatan kepelabuhanan;
2. Pemasangan rumah ikan dan alat bantu penangkapan ikan seperti
rumpon serta terumbu karang buatan;
3. Perikanan budi daya laut;
4. Pertambangan minyak bumi;
5. Pertambangan gas bumi;
6. Wisata olahraga air;
7. Wisata bawah laut;
8. Pertambangan pasir laut; dan
9. Kegiatan di ruang udara bebas di atas badan air yang berdampak
pada keberadaan jalur transportasi laut.
d. sarana dan prasarana minimum meliputi:
1. alur pelayaran;
2. perairan tempat labuh;
3. kolam pelabuhan;
4. terminal terapung;
-118-
5. dermaga;
6. terminal;
7. fasilitas penampungan dan pengelolaan limbah;
8. fasilitas bunker;
9. fasilitas gudang;
10. fasilitas pemeliharaan dan perbaikan peralatan pelabuhan dan
sarana bantu navigasi pelayaran;
11. fasilitas pemadam kebakaran;
12. fasilitas penunjang pelabuhan; dan
13. sarana dan prasarana sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan.
(6) indikasi arahan zonasi Bandar Udara Umum sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf e meliputi:
a. kegiatan yang diperbolehkan meliputi pemanfaatan ruang untuk
kebutuhan operasional bandar udara pada area Daerah Lingkungan
Kerja (DLKr).
b. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi pemanfaatan ruang di
sekitar bandar udara sesuai dengan kebutuhan pengembangan
bandara berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.
c. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi pendirian bangunan atau
objek lainnya di dalam Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan
(KKOP) yang ketinggiannya melebihan batas maksimun dan kegiatan
yang mengganggu operasional bandara, keselamatan, keamanan
fungsi fasilitas utama dan fasilitas penunjang bandara.
d. sarana dan prasarana minimum meliputi:
1. penyediaan sarana dan prasarana kawasan;
2. fasilitas keselamatan penerbangan;
3. fasilitas keamanan;
4. fasilitas sisi udara;
5. fasilitas sisi darat;
6. fasilitas penunjang; dan
7. sarana dan prasarana lainnya sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Pasal 64
(1) Indikasi arahan zonasi sistem jaringan energi sebagaimana dimaksud
Pasal 61 ayat (7) huruf c meliputi:
a. Indikasi arahan zonasi jaringan infrastruktur minyak dan gas bumi;
dan
b. Indikasi arahan zonasi jaringan infrastruktur ketenagalistrikan.
(2) Indikasi arahan zonasi jaringan infrastruktur minyak dan gas bumi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
-119-
a. kegiatan yang diperbolehkan meliputi kegiatan pengembangan
kegiatan infrastruktur minyak dan gas bumi dengan memperhatikan
daya dukung fisik lingkungan, aspek keselamatan, dan kelestarian
lingkungan.
b. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi:
1. kegiatan pemanfaatan ruang di sekitar jaringan pipa minyak dan
gas bumi yang memperhitungkan aspek keamanan dan
keselamatan kawasan di sekitarnya dan pemanfaatan ruang bebas
di sepanjang jalur infrastruktur minyak dan gas bumi dengan
ketentuan jarak bebas mengacu pada ketentuan peraturan
perundang-undangan;
2. ruang terbuka hijau; dan
3. kegiatan lainnya sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan.
c. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi:
1. pemanfaatan ruang yang menyebabkan gangguan terhadap
berfungsinya jaringan infrastruktur minyak dan gas bumi; dan
2. mendirikan bangunan di sekitar jaringan infrastruktur
infrastruktur minyak dan gas bumi dalam radius bahaya
keamanan dan keselamatan.
d. sarana dan prasarana minimum meliputi:
1. penyediaan ruang penyangga bagi instalasi minyak dan gas bumi
yang beresiko tinggi;
2. penyediaan pengolahan limbah dan pengelolaan emisi;
3. menyediakan ruang evakuasi dan penerapan mitigasi bencana;
4. pembangunan artificial catchment berupa kolam retensi, sumur
resapan, dan biopori; dan
5. sarana dan prasarana lainnya sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.
(3) Indikasi arahan zonasi jaringan infrastruktur ketenagalistrikan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:
a. kegiatan yang diperbolehkan meliputi kegiatan pembangunan
infrastruktur ketenagalistrikan sesuai dengan kriteria teknis dan
peraturan yang berlaku.
b. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi:
1. pemanfaatan ruang di sekitar pembangkit listrik yang
memperhitungkan jarak aman dengan kegiatan lain dan dapat
dimanfaatkan untuk keperluan lain termasuk rumah tinggal
selama tidak masuk dalam ruang bebas, jalur hijau, Ruang
Terbuka Hijau; dan
2. kegiatan lainnya sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan.
c. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi:
1. pemanfaatan ruang bebas di sepanjang jalur transmisi, pendirian
di sekitar Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) dan Saluran
-120-
udara tegangan ekstra tinggi (SUTET) untuk bangunan dengan
risiko kebakaran tinggi seperti stasiun pompa bahan bakar dan
tempat penimbunan bahan bakar mengacu pada ketentuan
peraturan perundang-undangan;
2. pemanfaatan ruang yang menyebabkan gangguan terhadap
berfungsinya jaringan infrastruktur ketenagalistrikan;
3. pemanfaatan ruang di sekitar pembangkit listrik yang tidak
memperhitungkan jarak aman.
d. sarana dan prasarana minimum meliputi:
1. penyediaan ruang penyangga bagi instalasi ketenagalistrikan yang
beresiko tinggi;
2. penyediaan pengolahan limbah dan pengelolaan emisi;
3. jalan khusus untuk akses pemeliharaan dan pengawasan jaringan
energi;
4. papan informasi keterangan teknis jaringan energi yang dilindungi
pagar pengaman;
5. pembangunan prasarana pertambangan dan energi sesuai standar
teknis perencanaan;
6. penerapan mitigasi bencana; dan
7. sarana dan prasarana lainnya sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Pasal 65
(1) Indikasi arahan zonasi jaringan telekomunikasi sebagaimana dimaksud
Pasal 61 ayat (7) huruf d meliputi:
a. indikasi arahan zonasi jaringan tetap; dan
b. indikasi arahan zonasi jaringan bergerak.
(2) Indikasi arahan zonasi jaringan tetap sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) huruf a meliputi:
a. kegiatan yang diperbolehkan meliput pemanfaatan Ruang yang
mendukung jaringan tetap telekomunikasi;
b. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi:
1. pengembangan jaringan telekomunikasi tetap yang dapat
dimanfaatkan bersama dan tidak saling mengganggu; dan
2. kegiatan lainnya sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan.
c. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi kegiatan budi daya yang
mengganggu layanan jaringan tetap telekomunikasi.
d. sarana dan prasarana minimum sebagai dasar fisik lingkungan guna
mendukung pengembangan Kawasan agar dapat berfungsi secara
optimal pengembangan jaringan baru dan/atau penggantian jaringan
lama pada pusat Kawasan Perkotaan dan ruas-ruas Jalan utama
diarahkan dengan sistem jaringan bawah tanah dan penerapan
mitigasi bencana.
-121-
(3) Indikasi arahan zonasi jaringan bergerak sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf b meliputi:
a. kegiatan yang diperbolehkan meliputi:
1. penyediaan fasilitas pennjang operasional menara telekomunikasi;
dan
2. penyediaan ruang pengaman untuk mengantisipasi potensi gagal
konstruksi.
b. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi:
1. penempatan stasiun bumi dan menara pemancar telekomunikasi
secara terpadu yang memperhitungkan aspek keamanan dan
keselamatan aktivitas kawasan di sekitarnya;
2. kegiatan pembangunan yang tidak mengganggu jaringan
telekomunikasi baik di dalam tanah maupun di bawah tanah,
bangunan lainnya dengan mengikuti persyaratan pengaturan
jaringan telekomunikasi;
3. pengembangan jaringan telekomunikasi bergerak yang dapat
dimanfaatkan bersama dan tidak saling mengganggu
4. kegiatan lainnya sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan;dan
c. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi:
1. kegiatan budi daya yang mengganggu layanan jaringan bergerak
telekomunikasi; dan
2. pendirian bangunan di sekitar menara telekomunikasi dalam
radius bahaya keamanan dan keselamatan;
d. sarana dan prasarana minimum meliputi:
1. pemasangan kabel yang dibangun mengikuti jaringan jalan arteri,
kolektor dan lokal dengan koordinasi antar level pemerintahan;
2. penempatan menara telekomunikasi/tower harus memperhatikan
keamanan, keselamatan umum dan estetika lingkungan serta
diarahkan memanfaatkan tower secara terpadu pada lokasi-lokasi
yang telah ditentukan.
3. setiap perencanaan dan pembangunan jaringan telekomunikasi
wajib memperhatikan kawasan lindung dan kawasan konservasi;
4. penerapan rekayasa teknis dalam pembangunan jaringan
prasarana telekomunikasi di sekitar kawasan rawan bencana; dan
5. sarana dan prasarana lainnya sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Pasal 66
(1) Indikasi arahan zonasi jaringan sumber daya air sebagaimana dimaksud
Pasal 61 ayat (7) huruf e meliputi:
a. indikasi arahan zonasi sistem jaringan irigasi;
b. indikasi arahan zonasi sistem jaringan air bersih;
c. indikasi arahan zonasi sistem pengendalian banjir; dan
-122-
d. indikasi arahan zonasi bangunan pengambil air;
(2) Indikasi arahan zonasi sistem jaringan irigasi sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. kegiatan yang diperbolehkan meliputi:
1. pembangunan bangunan pemeliharaan jaringan irigasi;
2. pembangunan bangunan pendukung jaringan sumber daya air;
dan
3. kegiatan pengamanan jaringan irigasi.
b. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat yaitu kegiatan
perikanan/pertanian sepanjang tidak merusak tatanan lingkungan
dan fungsi irigasi;
c. kegiatan yang tidak diperbolehkan yaitu pemanfaatan ruang dan
pendirian bangunan yang dapat merusak sempadan dan jaringan
irigasi;
d. sarana dan prasarana minimum meliputi penyiapan ruang evakuasi
dan prasarana mitigasi bencana di sekitar jaringan irigasi.
(3) Indikasi arahan zonasi sistem jaringan air bersih sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf b meliputi:
a. kegiatan yang diperbolehkan meliputi:
1. normalisasi sungai dan penanganan sedimentasi danau;
2. normalisasi jaringan air baku;
3. pendirian bangunan jaringan air baku;
4. Pemanfaatan Ruang untuk kegiatan pendukung sistem jaringan
sumber daya air;
5. pembangunan bangunan pemelihara jaringan air bersih;
6. pembangunan bangunan pendukung jaringan sumber daya air;
dan
7. kegiatan pengamanan jaringan air bersih.
b. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi:
1. pendirian bangunan selain pada angka 1 yang tidak mengganggu
fungsi jaringan air bersih;
2. kegiatan wisata alam dengan tidak mengganggu bentang alam dan
fungsi Kawasan; dan
3. pembuatan jembatan, pemasangan rentangan kabel listrik,
pembangkit Listrik Tenaga Surya, kabel telepon, pipa air minum,
pipa gas, mikrohidro;
c. kegiatan yang tidak diperbolehkan yaitu kegiatan yang dapat
mengganggu sistem jaringan air bersih;
d. sarana dan prasarana minimum meliputi penyiapan ruang evakuasi
dan prasarana mitigasi bencana di sekitar jaringan air bersih.
(4) Indikasi arahan zonasi sistem pengendalian banjir sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi:
a. kegiatan yang diperbolehkan meliputi:
-123-
1. normalisasi jaringan pengendalian banjir dan bendungan, waduk
dan embung;
2. pendirian bangunan penahan banjir;
3. Pemanfaatan Ruang untuk kegiatan pendukung sistem jaringan
sumber daya air; dan
4. Kegiatan pengamanan sistem pengendalian banjir.
b. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat yaitu kegiatan wisata terbatas
yang tidak mengganggu keberlangsungan pengendalian banjir serta
mengakibatkan kerusakan prasarana dan sarana pengendalian banjir;
c. kegiatan yang tidak diperbolehkan yaitu pemanfaatan ruang dan
pendirian bangunan yang dapat merusak sistem pengendalian banjir;
d. sarana dan prasarana minimum meliputi penyiapan ruang evakuasi
dan prasarana mitigasi bencana di sekitar pengendalian banjir.
(5) Indikasi arahan zonasi bangunan pengambil air sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf d meliputi:
a. kegiatan yang diperbolehkan meliputi:
1. pembangunan bangunan pengambil air;
2. pembangunan bangunan pendukung jaringan sumber daya air;
dan
3. kegiatan pengamanan bangunan pengambil air.
b. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat yaitu kegiatan wisata terbatas
yang tidak mengganggu keberlangsungan pengendalian banjir serta
mengakibatkan kerusakan prasarana dan sarana bangunan
pengambil air;
c. kegiatan yang tidak diperbolehkan yaitu pemanfaatan ruang dan
pendirian bangunan yang dapat merusak bangunan pengambil air;
d. sarana dan prasarana minimum meliputi penyiapan ruang evakuasi
dan prasarana mitigasi bencana di sekitar bangunan pengambil air.
Pasal 67
(1) Indikasi arahan zonasi jaringan prasarana lainnya sebagaimana
dimaksud Pasal 61 ayat (7) huruf f terdiri atas:
a. indikasi arahan zonasi Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM);
b. indikasi arahan zonasi Sistem Pengelolaan Air Limbah (SPAL);
c. indikasi arahan zonasi Sistem Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya
dan Beracun (B3); dan
d. indikasi arahan zonasi Sistem Jaringan Persampahan.
(2) Indikasi arahan zonasi Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM)
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. kegiatan yang diperbolehkan meliputi:
1. kegiatan pembangunan prasarana Sistem Penyediaan Air Minum
(SPAM); dan
2. kegiatan pembangunan prasarana penunjang Sistem Penyediaan
Air Minum (SPAM).
-124-
b. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi pemanfaatan ruang
pada kawasan di sekitar sistem jaringan penyediaan air minum sesuai
ketentuan teknis dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan;
c. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi kegiatan yang mengganggu
keberlangsungan fungsi penyediaan air minum, mengakibatkan
kerusakan prasarana dan sarana penyedia air minum;
d. sarana dan prasarana minimum meliputi:
1. persyaratan teknis pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum
(SPAM) mengikuti peraturan perundang-undangan yang berlaku;
2. persyaratan pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM)
dilengkapi dengan pengolahan limbah;
3. pembuatan sumur resapan air (artificial water catchment) di sekitar
bangunan SPAM;
4. pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM)
diperbolehkan pada setiap peruntukan budi daya;
5. pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM)
diperbolehkan secara terbatas dan bersyarat pada semua kawasan
peruntukan lindung;
6. setiap perencanaan dan pembangunan Sistem Penyediaan Air
Minum (SPAM) wajib memperhatikan kawasan lindung dan
kawasan konservasi;
7. penerapan rekayasa teknis pada pembangunan Sistem Penyediaan
Air Minum (SPAM) di kawasan rawan bencana dan zona resapan
air; dan
8. sarana dan prasarana lainnya sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.
(3) Indikasi arahan zonasi Sistem Pengelolaan Air Limbah (SPAL)
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. kegiatan yang diperbolehkan meliputi:
1. pembangunan prasarana dan sarana pengelolaan air limbah; dan
2. bangunan penunjang instalasi pengolahan air limbah.
b. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi:
1. kegiatan pendidikan dan penelitian yang terkait dengan
pengolahan air limbah serta tidak mengganggu fungsi sistem
jaringan air limbah
2. kegiatan lainnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
c. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi:
1. kegiatan yang tidak terkait dengan pemrosesan air limbah dan
mengganggu fungsi sistem jaringan air limbah;
2. kegiatan fungsi budi daya di sekitar kawasan yang berpotensi
mengganggu instalasi air limbah; dan
3. pembuangan efluen air limbah ke media lingkungan hidup yang
melampaui standar baku mutu air limbah sesuai ketentuan teknis.
-125-
d. sarana dan prasarana minimum meliputi:
1. pembuangan efluen air limbah ke media lingkungan hidup tidak
melampaui standar baku mutu air limbah;
2. sistem jaringan pengelolaan limbah disesuaikan dengan ketinggian
muka air tanah di lokasi jaringan pengelolaan limbah;
3. pembuatan sumur resapan air (artificial water catchment) di sekitar
bangunan sistem penyediaan air limbah (SPAL); dan
4. penerapan rekayasa teknis pada pembangunan SPAL di kawasan
rawan bencana dan zona resapan air; dan
5. sarana dan prasarana lainnya sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.
(4) Indikasi arahan zonasi Sistem Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan
Beracun (B3) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. kegiatan yang diperbolehkan meliputi:
1. pembangunan prasarana dan sarana pendukung Pengelolaan
Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3); dan
2. ruang terbuka hijau.
b. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi:
1. Pengembangan sistem penyediaan Pengelolaan Limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun (B3) yang berdekatan dan mengganggu
dengan kegiatan manusia; dan
2. kegiatan lainnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
c. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi kegiatan lain yang dapat
mengganggu fungsi sistem Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan
Beracun (B3).
d. sarana dan prasarana minimum meliputi:
1. Pengelolaan tempat penyimpanan B3 wajib dilengkapi dengan
sistem tanggap darurat dan prosedur penanganan B3;
2. sistem pendeteksi dan peralatan pemadam kebakaran;
3. alat penanggulangan keadaan darurat lain yang sesuai;
4. fasilitas pertolongan pertama;
5. peralatan penanganan tumpahan;
6. bongkar muat; dan
7. sarana dan prasarana lainnya sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.
(5) Indikasi arahan zonasi Sistem Jaringan Persampahan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. kegiatan yang diperbolehkan meliputi:
1. kegiatan pengelolaan sampah; dan
2. kegiatan yang mendorong terwujudnya pengurugan berlapis bersih
(sanitary landfill).
b. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi:
-126-
1. kegiatan penunjang operasional Tempat Pembuangan sampah
regional dan pengelolaan (3R); dan
2. kegiatan lainnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
c. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi kegiatan yang dapat
mengganggu fungsi sistem jaringan persampahan;
d. sarana dan prasarana minimum meliputi:
1. persyaratan pembangunan Tempat Pengolahan dan Pemrosesan
Akhir Sampah yang dilengkapi dengan pengolahan limbah;
2. pengelolaan sampah dalam Tempat Pembuangan sampah Regional
dilakukan dengan sistem yang sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang- undangan;
3. perencanaan dan pembangunan Tempat Pengolahan dan
Pemrosesan Akhir Sampah wajib memperhatikan kawasan lindung
dan kawasan konservasi;
4. penerapan rekayasa teknis pada pembangunan Tempat
Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah di kawasan rawan
bencana dan zona resapan air; dan
5. sarana dan prasarana lainnya sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Paragraf 3
Indikasi Arahan Zonasi Kawasan Lindung
Pasal 68
Indikasi arahan zonasi kawasan lindung sebagaimana dimaksud Pasal 61 ayat
(8) huruf a terdiri atas:
a. indikasi arahan zonasi Badan Air (BA);
b. indikasi arahan zonasi Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap
kawasan di bawahnya (PTB);
c. indikasi arahan zonasi Kawasan Perlindungan Setempat (KS);
d. indikasi arahan zonasi Kawasan Konservasi (KS);
e. indikasi arahan zonasi Kawasan Pencadangan Konservasi di Laut (KPL); dan
f. indikasi arahan zonasi Kawasan Lindung Geologi (LGE);
g. indikasi arahan zonasi Kawasan Cagar Budaya (CB).
Pasal 69
Indikasi arahan zonasi Badan air (BA) sebagaimana dimaksud Pasal 68 huruf
a terdiri atas:
a. kegiatan yang diperbolehkan meliputi:
1. pembangunan prasarana lalu lintas air;
2. alur pelayaran air;
3. pembangunan bangunan pengambilan dan pembuangan air;
-127-
4. kegiatan pengamanan badan air;
5. penjagaan kualitas air;
6. jaringan prasarana sesuai ketentuan peraturan perundang- undangan;
dan
7. pembangunan bangunan penunjang kegiatan di badan air sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
b. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi:
1. kegiatan pendidikan/penelitian;
2. kegiatan perikanan;
3. kegiatan wisata air
4. kegiatan olahraga air;
5. pembangunan jembatan, pemasangan kabel listrik, kabel telepon, pipa
air minum, pipa gas, dan mikrohidro sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan;
6. pembuangan limbah cair setelah pengolahan sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
7. kegiatan lainnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
c. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi:.
1. pembuangan limbah cair secara langsung tanpa pengolahan;
2. pembuangan limbah padat;
3. kegiatan yang merusak kelestarian kawasan badan air; dan
4. kegiatan yang merusak kualitas air.
d. Sarana dan prasarana minimum sebagai dasar fisik lingkungan guna
mendukung pengembangan Kawasan agar dapat berfungsi secara optimal
berupa sarana dan prasarana yang mendukung fungsi Kawasan badan air..
Pasal 70
Indikasi arahan zonasi kawasan yang memberikan perlindungan terhadap
kawasan di bawahnya sebagaimana dimaksud Pasal 68 huruf b terdiri atas:
a. kegiatan yang diperbolehkan meliputi :
1. hutan lindung dan preservasi sumber daya alam; dan
2. kegiatan pengelolaan, peningkatan fungsi, dan mengendalikan
perubahan peruntukan dan/atau fungsi kawasan hutan lindung.
b. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi:
1. wisata alam, kegiatan pendidikan dan penelitian tanpa mengubah
bentang alam dan tidak merusak fungsi lindung;
2. kegiatan yang memiliki kemampuan tinggi dalam menahan limpasan air
hujan dan sesuai dengan daya dukung lingkungan;
3. kegiatan lain di luar kegiatan kehutanan yang mempunyai tujuan
strategis sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan;
-128-
c. kegiatan yang tidak diperbolehkan berupa kegiatan yang berpotensi
mengurangi luas kawasan hutan lindung dan kerusakan bentang alam.
d. Sarana dan prasarana minimum sebagai dasar fisik lingkungan guna
mendukung pengembangan Kawasan agar dapat berfungsi secara optimal
berupa sarana dan prasarana yang mendukung fungsi Kawasan yang
memberikan perlindungan terhadap kawasan di bawahnya.
Pasal 71
Indikasi arahan zonasi Kawasan Perlindungan Setempat (PS) sebagaimana
dimaksud Pasal 68 huruf c terdiri atas:
a. kegiatan yang diperbolehkan meliputi:
1. pembangunan prasarana lalu lintas air;
2. pembangunan bangunan pengambilan dan pembuangan air;
3. pembangunan bangunan penunjang kegiatan utama;
4. kegiatan pengamanan sempadan
5. pemanfaatan struktur alami dan struktur buatan untuk mencegah
abarsi dan akresi, intrusi air laut;
6. pembangunan bangunan penunjang sistem prasarana kota,
7. ruang terbuka hijau dan kegiatan transportasi untuk jalan inspeksi
8. penetapan lebar sempadan sesuai ketentuan peraturan
perundangundangan.
9. pengendalian ketat untuk kegiatan kegiatan untuk hunian, bangunan,
infrastruktur penting, vital, dan strategis;
10. pemanfaatan ruang wajib melakukan kajian pengurangan tingkat abrasi
dan analisa risiko bencana;
11. kegiatan penyediaan ruang terbuka hijau (RTH); dan
12. kegiatan penyediaan ruang terbuka non hijau (RTNH).
b. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi:
1. kegiatan pertanian, kehutanan dan perikanan;
2. kegiatan pengangkutan dan pergudangan;
3. kegiatan aktivitas profesional, ilmiah dan teknis;
4. kegiatan pendidikan;
5. kegiatan aktivitas kesehatan manusia dan aktivitas sosial;
6. kegiatan kesenian, hiburan dan rekreasi;
7. bangunan prasarana sumber daya air;
8. pembangunan fasilitas umum; dan
9. fasilitas jembatan dan dermaga, pipa gas dan air minum, rentangan
kabel listrik dan telekomunikasi bangunan ketenagalistrikan, prasarana
dan sarana sanitasi, kegiatan pertanian, prasarana pariwisata, olahraga,
dan keagamaan sesuai dengan ketentuan dan perundang-undangan
yang berlaku.
c. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi:
-129-
1. kegiatan pertambangan dan penggalian;
2. kegiatan industri pengolahan;
3. kegiatan pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara dingin;
4. kegiatan treatment air, treatment air limbah, treatment dan pemulihan
material sampah, dan aktivitas remediasi;
5. kegiatan konstruksi;
6. Kegiatan Perdagangan Besar Dan Eceran; Reparasi Dan Perawatan Mobil
dan sepeda motor;
7. kegiatan penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum;
8. kegiatan informasi dan komunikasi;
9. kegiatan aktivitas keuangan dan asuransi;
10. kegiatan real estat;
11. kegiatan aktivitas penyewaan dan sewa guna usaha tanpa hak opsi,
ketenagakerjaan, agen perjalanan dan penunjang usaha lainnya;
12. kegiatan administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial
wajib;
13. kegiatan aktivitas jasa lainnya;
14. kegiatan aktivitas rumah tangga sebagai pemberi kerja; aktivitas yang
menghasilkan barang dan jasa oleh rumah tangga yang digunakan
untuk memenuhi kebutuhan sendiri;
15. kegiatan aktivitas badan internasional dan badan ekstra internasional
lainnya; dan
16. kegiatan yang dapat menurunkan fungsi ekologis dan estetika kawasan
yang mengubah dan/atau merusak bentang alam, kelestarian fungsi
kawasan.
d. sarana dan prasarana minimum sebagai dasar fisik lingkungan guna
mendukung pengendalian dan pemanfaatan sempadan agar dapat berfungsi
secara optimal.
Pasal 72
Indikasi arahan zonasi Kawasan Konservasi (KS) sebagaimana dimaksud Pasal
68 huruf d terdiri atas:
a. kegiatan yang diperbolehkan meliputi:
1. kegiatan konservasi, hutan lindung, Cagar Alam, Suaka Margasatwa,
Taman Hutan Raya, Taman Nasional, Taman Wisata Alam;
2. penelitian dan pengembangan, ilmu pengetahuan, pendidikan,
preservasi sumber daya alam; dan
3. wisata alam tanpa mengubah bentang alam;
4. penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, preservasi
sumber daya alam dan wisata tanpa mengubah bentang alam.
b. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi:
-130-
1. pendirian bangunan yang dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan
penelitian, dan pengembangan, ilmu pengetahuan, dan pendidikan;
2. pengembangan sistem jaringan transportasi, energi, telekomunikasi,
sumber daya air, dan prasarana lainnya sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan
3. kegiatan lainnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
c. kegiatan yang tidak diperbolehkan berupa mengganggu bentang alam,
mengganggu kesuburan dan keawetan tanah, fungsi hidrologi, kelestarian
flora dan fauna, kelestarian fungsi lingkungan hidup serta merusak koleksi
tumbuhan dan satwa; dan
d. Sarana dan prasarana minimum sebagai dasar fisik lingkungan guna
mendukung pengembangan Kawasan agar dapat berfungsi secara optimal
berupa sarana dan prasarana yang mendukung fungsi Kawasan konservasi.
Pasal 73
Indikasi arahan zonasi Kawasan Pencadangan Konservasi di Laut (KPL)
sebagaimana dimaksud Pasal 68 huruf e terdiri atas:
a. Kegiatan yang diperbolehkan meliputi:
1. perlindungan habitat dan populasi ikan serta alur migrasi biota laut;
2. perlindungan ekosistem pesisir dan laut yang unik dan/atau rentan
terhadap perubahan;
3. perlindungan situs budaya/adat tradisional; dan
4. pembangunan infrastruktur/sarana prasarana.
b. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi:
1. penelitian, pengembangan dan/atau pendidikan;
2. wisata alam bentang laut;
3. wisata alam pantai/pesisir dan pulau-pulau kecil;
4. wisata alam bawah laut;
5. wisata budaya;
6. penangkapan ikan;
7. kegiatan untuk fasilitas umum sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan;
8. pembudidayaan ikan;
9. energi, dan fasilitas umum; dan
10. kegiatan lainnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
c. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi:
1. kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan keutuhan potensi
kawasan dan perubahan fungsi kawasan;
2. kegiatan yang dapat mengganggu pengelolaan jenis sumber daya ikan
beserta habitatnya untuk menghasilkan keseimbangan antara populasi
dan habitatnya;
-131-
3. kegiatan yang dapat mengganggu alur migrasi biota laut dan pemulihan
ekosistemnya;
4. kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan fungsi kawasan;
5. penangkapan ikan yang menggunakan alat tangkap yang bersifat
merusak ekosistem di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil;
6. semua jenis kegiatan penambangan,
7. kegiatan menambang terumbu karang yang dapat menyebabkan abrasi,
8. mengambil terumbu karang di kawasan konservasi,
9. menggunakan bahan peledak dan bahan beracun dan/atau cara lain
yang mengakibatkan rusaknya ekosistem terumbu karang,
10. kegiatan membuang jangkar/berlabuh, dan pembuangan sampah dan
limbah; dan
11. kegiatan yang dapat mengganggu aktivitas kawasan konservasi.
d. sarana dan prasarana minimum sebagai dasar fisik lingkungan guna
mendukung pengembangan kawasan agar dapat berfungsi secara optimal
yan dipersyaratkan meliputi pembangunan fasilitas aksesibilitas, sarana
dan prasarana pengelolaan, sarana dan prasarana pelayanan, sarana dan
prasaran perlindungan dan pengamanan, serta sarana dan prasarana
komunikasi dan informasi.
Pasal 74
Indikasi arahan zonasi Kawasan Lindung Geologi (LGE) sebagaimana dimaksud
Pasal 68 huruf f terdiri atas:
a. kegiatan yang diperbolehkan meliputi:
1. kegiatan pendidikan;
2. kegiatan aktivitas profesional, ilmiah dan teknis;
3. kegiatan kesenian, hiburan dan rekreasi;
4. kegiatan pertanian, kehutanan dan perikanan;
5. kegiatan penyediaan ruang terbuka hijau (RTH); dan
6. kegiatan penyediaan ruang terbuka non hijau (RTNH).
b. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi:
1. bangunan prasarana umum dan fasilitas sosial sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
c. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi:
1. kegiatan pertambangan dan penggalian;
2. kegiatan industri pengolahan;
3. kegiatan pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara dingin;
4. kegiatan treatment air, treatment air limbah, treatment dan pemulihan
material sampah, dan aktivitas remediasi;
5. kegiatan konstruksi;
6. kegiatan pengangkutan dan pergudangan;
-132-
7. kegiatan perdagangan besar dan eceran; reparasi dan perawatan mobil
dan sepeda motor;
8. kegiatan penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum;
9. kegiatan informasi dan komunikasi;
10. kegiatan aktivitas keuangan dan asuransi;
11. kegiatan real estat;
12. kegiatan aktivitas penyewaan dan sewa guna usaha tanpa hak opsi,
ketenagakerjaan, agen perjalanan dan penunjang usaha lainnya;
13. kegiatan administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial
wajib;
14. kegiatan aktivitas kesehatan manusia dan aktivitas sosial;
15. kegiatan aktivitas jasa lainnya;
16. kegiatan aktivitas rumah tangga sebagai pemberi kerja; aktivitas yang
menghasilkan barang dan jasa oleh rumah tangga yang digunakan
untuk memenuhi kebutuhan sendiri;
17. kegiatan aktivitas badan internasional dan badan ekstra internasional
lainnya; dan
18. kegiatan lainnya yang mengganggu fungsi kawasan.
d. sarana dan prasarana minimum sebagai dasar fisik lingkungan guna
mendukung pengembangan fungsi kawasan.
Pasal 75
Indikasi arahan zonasi Kawasan Cagar Budaya (CB) sebagaimana dimaksud
Pasal 68 huruf g terdiri atas:
a. kegiatan yang diperbolehkan meliputi:
1. penyelamatan cagar budaya;
2. pengamanan cagar budaya;
3. penetapan zonasi cagar budaya;
4. pemeliharaan cagar budaya;
5. pemugaran cagar budaya; dan
6. revitalisasi cagar budaya
b. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi:
1. pendidikan;
2. penelitian;
3. museum;
4. pariwisata;
5. ruang terbuka hijau;
6. permukiman;
7. kegiatan keagamaan dan/atau sosial-kebudayaan yang dibatasi
berdasarkan intesitasnya dan tidak mengakibatkan kemerosotan nilai
-133-
penting cagar budaya atau kerusakan pada bagian yang memepunyai
nilai penting;
8. kegiatan tanaman pangan yang difungsikan sebagai kawasan penyangga
benda cagar budaya, situs cagar budaya dan kawasan cagar budaya;
9. kegiatan komersial dengan memperhatikan jangka waktu
pengoperasian, pembatasan jumlah orang dan tidak mengancam
kelestarian cagar budaya;
10. kegiatan usaha eksisting dibatasi aktivitasnya dengan tidak melakukan
perluasan maupun penambahan jumalah pemanfaatan yang berpotensi
merusak dan/atau mengancam cagar budaya; dan
11. kegiatan lainnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
c. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi:
1. kegiatan dan pendirian bangunan yang tidak sesuai dengan fungsi
Kawasan;
2. kegiatan yang dapat merusak cagar budaya;
3. kegiatan yang dapat mengubah bentukan geologi tertentu sesuai dengan
peraturan perundang-undangan; dan
4. kegiatan yang mengganggu kelestarian lingkungan di sekitar cagar
budaya dan ilmu pengetahuan, meliputi peninggalan sejarah, bangunan
arkeologi, monumen nasional, serta wilayah dengan bentukan geologi
tertentu.
d. sarana dan prasarana minimum sebagai dasar fisik lingkungan guna
mendukung pengembangan fungsi kawasan.
Paragraf 4
Indikasi Arahan Zonasi Kawasan Budi Daya
Pasal 76
Indikasi arahan zonasi kawasan budi daya sebagaimana dimaksud Pasal 61
ayat (8) huruf b terdiri atas:
a. indikasi arahan zonasi Kawasan Hutan Produksi (KHP);
b. indikasi arahan zonasi Kawasan Perkebunan Rakyat (KR);
c. indikasi arahan zonasi Kawasan Pertanian (P);
d. indikasi arahan zonasi Kawasan Perikanan (IK);
e. indikasi arahan zonasi Kawasan Pergaraman (KEG);
f. indikasi arahan zonasi Kawasan Pertambangan dan Energi (KEG);
g. indikasi arahan zonasi Kawasan Peruntukan Industri (KPI);
h. indikasi arahan zonasi Kawasan Pariwisata (W);
i. indikasi arahan zonasi Kawasan Permukiman (PM);
j. indikasi arahan zonasi Kawasan Pembuangan Hasil Pengerukan di Laut
(DA);
k. indikasi arahan zonasi Kawasan Transportasi (TR); dan
-134-
l. indikasi arahan zonasi Kawasan Pertahanan dan Keamanan (HK).
Pasal 77
Indikasi arahan zonasi kawasan hutan produksi (HP) sebagaimana dimaksud
Pasal 76 huruf a terdiri atas:
a. kegiatan yang diperbolehkan meliputi:
1. pemanfaatan kawasan hutan, jasa lingkungan, hasil hutan kayu dan
bukan kayu dan pemungutan hasil hutan kayu dan bukan kayu; dan
2. penanaman kembali sebagai salah satu langkah reproduksi dan
konservasi.
b. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi:
1. pengembangan sarana transportasi khusus pengangkutan hasil
produksi, industri primer hasil hutan;
2. penetapan dan pemanfaatan perhutanan sosial dan hutan adat sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan ;
3. pengembangan sistem jaringan transportasi, energi, telekomunikasi,
sumber daya air, dan prasarana lainnya sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan;
4. kegiatan permukiman perdesaan;
5. kegiatan penelitian dan pendidikan;
6. kegiatan pertambangan sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan;
7. pembangunan prasarana jalan sesuai peraturan perundangan;
8. perencanaan pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan
dan penegakan hukum kawasan ekosistem esensial berdasarkan
ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
9. kegiatan lainnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
c. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi:
1. kegiatan yang merusak dan menurunkan bentang alam serta kualitas
fungsi kawasan;
2. melakukan kegiatan pembersihan lahan dengan metode pembakaran
lahan sebagaimana diatur dalam ketentuan peraturan perundangan;
dan
3. melakukan penebangan pohon yang tidak sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.
d. sarana dan prasarana minimum sebagai dasar fisik lingkungan guna
mendukung pengembangan kawasan agar dapat berfungsi secara optimal
sarana dan prasarana berdasarkan ketentuan bidang kehutanan.
Pasal 78
Indikasi arahan zonasi Kawasan Perkebunan Rakyat (KR) sebagaimana
dimaksud Pasal 76 huruf b terdiri atas:
-135-
a. Kegiatan yang diperbolehkan meliputi:
1. kegiatan pertanian, perkebunan, kehutanan dan perikanan;
2. kegiatan usaha pemanfaatan hasil hutan kayu dan bukan kayu dalam
hutan alam dan hutan tanaman; dan
b. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi:
1. kegiatan pendukung perkebunan;
2. kegiatan usaha pengolahan hasil perkebunan;
3. kegiatan ekowisata dengan tetap mempertahankan fungsi utama
Kawasan sebagai Kawasan perkebunan dan kegiatan penunjang
pariwisata;
4. pengembangan sistem jaringan transportasi, energi, telekomunikasi,
sumber daya air, dan prasarana lainnya sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan;
5. kegiatan permukiman perdesaan;
6. kegiatan penelitian dan pendidikan;
7. kegiatan pertambangan sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan;
8. kawasan perkebunan yang memiliki kelerengan lahan diatas 40% (empat
puluh persen) wajib dilakukan tindakan konservasi air dan tanah; dan
9. kegiatan lainnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
c. kegiatan yang tidak diperbolehkan berupa kegiatan yang mengubah
bentang alam yang merusak kesuburan tanah.
d. sarana dan prasarana minimum sebagai dasar fisik lingkungan guna
mendukung pengembangan kawasan agar dapat berfungsi secara optimal
sarana dan prasarana berdasarkan ketentuan bidang perkebunan rakyat.
Pasal 79
Indikasi arahan zonasi Kawasan Pertanian (P) sebagaimana dimaksud Pasal 76
huruf c terdiri atas:
a. kegiatan yang diperbolehkan meliputi:
1. kegiatan pertanian, perkebunan, kehutanan, dan perikanan; dan
2. pembangunan dan pengembangan sarana dan prasarana yang
mendukung kegiatan pertanian.
b. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi:
1. kegiatan pendukung pertanian;
2. kegiatan usaha pengolahan hasil pertanian;
3. kegiatan ekowisata dengan tetap mempertahankan fungsi utama
Kawasan sebagai Kawasan pertanian dan kegiatan penunjang
pariwisata;
4. pengembangan sistem jaringan transportasi, energi, telekomunikasi,
sumber daya air, dan prasarana lainnya sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan;
-136-
5. kegiatan permukiman perdesaan;
6. kegiatan penelitian dan pendidikan;
7. kegiatan pertambangan sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan;
8. kawasan pertanian yang memiliki kelerengan lahan diatas 40% (empat
puluh persen) wajib dilakukan tindakan konservasi air dan tanah; dan
9. kegiatan lainnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
c. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi:
1. Kegiatan yang mengganggu fungsi Kawasan Pertanian dan mengancam
keberlanjutan lahan Pertanian irigasi teknis;
2. Alih fungsi lahan pertanian pangan berkelanjutan, kecuali
untukmkepentingan umum berdasarkan peraturan perundang-
undangan;
d. sarana dan prasarana minimum sebagai dasar fisik lingkungan guna
mendukung pengembangan kawasan agar dapat berfungsi secara optimal
sarana dan prasarana berdasarkan ketentuan bidang pertanian.
Pasal 80
Indikasi arahan zonasi Kawasan Perikanan (IK) sebagaimana dimaksud Pasal
76 huruf d terdiri atas:
a. Kegiatan yang diperbolehkan meliputi:
1. penangkapan ikan dengan tetap mempertimbangkan perlindungan
habitat dan populasi ikan;
2. pemasangan alat bantu penangkapan ikan;
3. mitigasi bencana;
b. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi:
1. kegiatan penangkapan ikan yang menggunakan peralatan yang ramah
lingkungan sesuai dengan peraturan yang ditetapkan oleh peraturan
perundang-undangan yang berlaku;
2. pembangunan dan/atau pengembangan pelabuhan perikanan, terminal
khusus, serta pariwisata dan rekreasi;
3. pengembangan sistem jaringan transportasi, energi, telekomunikasi,
sumber daya air, dan prasarana lainnya sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan;
4. kegiatan permukiman perdesaan/ nelayan;
5. kegiatan penelitian dan pendidikan;
6. kegiatan pertambangan sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan;
7. pembangunan bangunan pelindung pantai;
8. semua jenis kegiatan perikanan budidaya laut;
9. pariwisata dan rekreasi;
-137-
10. kegiatan lainnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
c. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi:
1. penangkapan ikan yang menggunakan alat dan/atau bahan yang
dilarang sesuai dengan peraturan yang ditetapkan oleh peraturan
perundang-undangan;
2. penggunaan Alat Tangkap Ikan yang mengganggu dan merusak
keberlanjutan sumber daya ikan;
3. penggunaan Alat Bantu Penangkapan Ikan yang tidak sesuai dengan
peraturan perundang-undangan; dan
4. kegiatan lainnya yang mengurangi nilai dan/ataufungsi pada sub zona
perikanan tangkap pelagis dandemersal.
d. sarana dan prasarana minimum sebagai dasar fisik lingkungan guna
mendukung pengembangan kawasan agar dapat berfungsi secara optimal
sarana dan prasarana berdasarkan ketentuan bidang perikanan.
Pasal 81
Indikasi arahan zonasi Kawasan Pergaraman (KEG) sebagaimana dimaksud
Pasal 76 huruf e terdiri atas:
a. kegiatan yang diperbolehkan meliputi:
1. kegiatan pergaraman;
2. sarana prasarana yang mendukung kegiatan pergaraman; dan
3. kegiatan pemanfaatan sumber daya perikanan dengan memperhatikan
kelestariannya;
b. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi:
1. kegiatan penelitian pergaraman dan perikanan;
2. kegiatan usaha mikro, kecil, dan menengah pendukung pengaraman;
3. pengembangan sistem jaringan transportasi, energi, telekomunikasi,
sumber daya air, dan prasarana lainnya sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan;
4. kegiatan permukiman perdesaan/ nelayan;
5. kegiatan penelitian dan pendidikan;
6. kegiatan pertambangan sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan;
7. pengembangan sistem jaringan transportasi, energi, telekomunikasi,
sumber daya air, dan prasarana lainnya sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.
8. kegiatan lainnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
c. kegiatan yang tidak diperbolehkan berupa kegiatan yang menganggu fungsi
Kawasan sebagai Kawasan pergaraman:
d. sarana dan prasarana minimum sebagai dasar fisik lingkungan guna
mendukung pengembangan kawasan agar dapat berfungsi secara optimal
sarana dan prasarana berdasarkan ketentuan kawasan penggaraman.
-138-
Pasal 82
Indikasi arahan zonasi Kawasan Pertambangan dan Energi (KEG) sebagaimana
dimaksud Pasal 76 huruf f terdiri atas:
a. kegiatan yang diperbolehkan meliputi:
1. kegiatan pertambangan energi sesuai dengan kriteria teknis dan
peraturan yang berlaku;
2. sarana prasarana pendukung kegiatan pertambangan energi;
3. bongkar muat barang yang berupa bahan baku, hasil produksi, dan
penunjang; dan
4. prasarana jaringan tenaga listrik dan kegiatan pembangunan prasarana
penunjang jaringan tenaga listrik,
b. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi:
1. kegiatan pendukung kegiatan pertambangan energi;
2. pengembangan sistem jaringan transportasi, energi, telekomunikasi,
sumber daya air, dan prasarana lainnya sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan;
3. kegiatan permukiman;
4. kegiatan penelitian dan pendidikan;
5. wisata minat khusus;
6. pengembangan sistem jaringan transportasi, energi, telekomunikasi,
sumber daya air, dan prasarana lainnya sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.
7. arahan zonasi untuk Kawasan pertambangan dan energi di perairan
pesisir dilaksanakan sebagai berikut:
a) memperhatikan kepentingan nelayan tradisional yang memanfaatkan
Kawasan tersebut sebagai sumber mata pencahariannya;
b) menyusun rencana pemeliharaan dan pemulihan lingkungan
Ekosistem pesisir dan laut;
c) memelihara kelestarian fungsi Ekosistem laut serta mencegah dan
menanggulangi pencemaran dan perusakan ekosistem laut yang
ditimbulkannya; dan
a) pengendalian terhadap pembuangan air limbah dari usaha dan/atau
kegiatan pembangkit listrik tenaga termal; dan
b) bertanggungjawab sepenuhnya atas operasional dan dampak yang
ditimbulkan dari kegiatan yang dilakukan.
8. kegiatan pertambangan minyak dan gas bumi yang berada pada zona
pengelolaan energi dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah
disetujui oleh pihak-pihak yang terkait dengan kegiatan tersebut;
9. pelaksanaan pertambangan minyak dan gas bumi pada zona
pengelolaan energi mempertimbangkan urgensi dan resiko terhadap
keberlangsungan kegiatan utama (pengelolaan energi) dan juga
lingkungan sekitar;
-139-
10. kegiatan lainnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
c. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi pembangunan kegiatan/
bangunan yang tidak berkaitan dengan pertambangan dan energi di sekitar
instalasi dan peralatan kegiatan pertambangan dan energi yang berpotensi
menimbulkan bahaya dengan memperhatikan kepentingan daerah
d. sarana dan prasarana minimum sebagai dasar fisik lingkungan guna
mendukung pengembangan kawasan agar dapat berfungsi secara optimal
sarana dan prasarana berdasarkan ketentuan kawasan pertambangan.
Pasal 83
Indikasi arahan zonasi Kawasan Peruntukan Industri (KPI) sebagaimana
dimaksud Pasal 76 huruf g terdiri atas:
a. kegiatan yang diperbolehkan meliputi:
1. Pengembangan kegiatan industri berserta infrastruktur dasar;
2. Pengembangan kawasaan industri; dan
3. pengembangan sentra industri.
b. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi:
1. prasarana dan sarana penunjang kegiatan industri lainnya;
2. pengembangan sistem jaringan transportasi, energi, telekomunikasi,
sumber daya air, dan prasarana lainnya sesuai ketentuan peraturan
perundang- undangan;
3. perumahan dan fasilitas penunjangnya; dan
4. kegiatan lainnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
c. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi kegiatan yang menimbulkan
dampak negatif bagi lingkungan dan keselamatan lingkungan sekitar.
d. sarana dan prasarana minimum meliputi:
1. aksesibilitas yang dapat mempermudah pengangkutan bahan baku dan
logistik, pergerakan tenaga kerja, dan distribusi hasil produksi;
2. terdapat sistem pembuangan dan pengolahan khusus limbah untuk
mencegah pembuangan limbah secara langsung ke laut, air permukaan,
dan tanah;
3. Ketersediaan jaringan energi dan kelistrikan; dan
4. Ketersediaan jaringan telekomunikasi.
Pasal 84
Indikasi arahan zonasi Kawasan Pariwisata (W) sebagaimana dimaksud Pasal
76 huruf h terdiri atas:
a. kegiatan yang diperbolehkan meliputi:
1. kegiatan Pemanfaatan Ruang untuk kegiatan pembangunan pariwisata;
2. kegiatan pemanfaatan potensi alam dan budaya masyarakat sesuai
dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan;
-140-
3. pendidikan dan penelitian;
4. kegiatan perlindungan terhadap cagar budaya;
5. ruang terbuka hijau; dan
6. penyediaan sarana prasarana sesuai dengan kriteria teknis yang berlaku
sesuai dengan skala pelayanannya.
b. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi:
1. kegiatan penunjang wisata;
2. jasa akomodasi;
3. pengembangan sistem jaringan transportasi, energi, telekomunikasi,
sumber daya air, dan prasarana lainnya sesuai ketentuan peraturan
perundang- undangan;
4. perumahan dan fasilitas penunjangnya; dan
5. kegiatan lainnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
c. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi semua kegiatan yang berpotensi
merusak potensi dan atau/ kegiatan wisata.
1. sarana dan prasarana minimum meliputi:
1. penyediaan jaringan jalan pendukung pariwisata;
2. penyiapan ruang evakuasi dan prasarana mitigasi bencana; dan
3. sarana dan prasarana lainnya sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan.
d. sarana dan prasarana minimum sebagai dasar fisik lingkungan guna
mendukung pengembangan kawasan agar dapat berfungsi secara optimal
sarana dan prasarana berdasarkan ketentuan kawasan pariwisata.
Pasal 85
Indikasi arahan zonasi Kawasan Permukiman (PM) sebagaimana dimaksud
Pasal 71 huruf i terdiri atas:
a. kegiatan yang diperbolehkan meliputi:
1. perumahan dan kawasan permukiman; dan
2. fasilitas sosial dan fasilitas umum pendukung kegiatan perumahan dan
kawasan permukiman;
3. prasarana, sarana, dan utilitas umum sesuai dengan skalanya; dan
4. ruang terbuka hijau
b. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi:
1. kegiatan usaha, jasa, dan industri yang tidak menganggu kawasan
permukiman;
2. pengembangan sistem jaringan transportasi, energi, telekomunikasi,
sumber daya air, dan prasarana lainnya sesuai ketentuan peraturan
perundang- undangan;
3. kegiatan pertambangan sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan;
-141-
4. kegiatan lainnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
c. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi seluruh kegiatan yang
mengakibatkan terganggunya keamanan dan kenyamanan kegiatan
permukiman.
d. sarana dan prasarana minimum meliputi:
1. penyediaan prasarana sarana permukiman sesuai ketentuan dan
kriteria yang berlaku;
2. penyediaan sarana permukiman sesuai ketentuan dan kriteria yang
berlaku;
3. penyediaan utilitas umum sesuai ketentuan dan kriteria yang berlaku;
dan
4. penyediaan jalur dan ruang evakuasi bencana.
Pasal 86
Indikasi arahan zonasi Kawasan Pembuangan Hasil Pengerukan di Laut (DA)
sebagaimana dimaksud Pasal 76 huruf j terdiri atas:
a. kegiatan yang diperbolehkan pembuangan material setelah memperoleh izin
berdasarkan ketentuan perundang- undangan;
b. kegiatan yang diperbolehkan dengan syarat, yaitu pengembangan sistem
jaringan transportasi, energi, telekomunikasi, sumber daya air, dan
prasarana lainnya sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan;
c. kegiatan yang tidak diperbolehkan, yaitu:
1. kegiatan yang menimbulkan dampak terhadap daerah sensitif (Kawasan
konservasi laut, daerah rekreasi atau wisata bahari, Kawasan
mangrove/hutan bakau, Ekosistem lamun dan terumbu karang, taman
nasional, taman wisata alam laut, kawasan cagar budaya dan ilmu
pengetahuan, kawasan rawan bencana alam, daerah pemijahan dan
pembesaran ikan serta budi daya perikanan, alur migrasi biota laut yang
dilindungi, wilayah pengelolaan perikanan, alur pelayaran, dan daerah
khusus militer) berdasarkan kajian pemodelan sebaran dampak; dan
2. kegiatan yang mengganggu dan merusak ekosistem laut berdasarkan
peraturan perundang-undangan.
d. sarana dan prasarana minimum sebagai dasar fisik lingkungan guna
mendukung pengembangan agar dapat berfungsi secara optimal meliputi
berupa sarana dan prasarana sesuai dengan ketentuan kegiatan
pembuangan hasil pengerukan di laut.
Pasal 87
Indikasi arahan zonasi Kawasan Transportasi (TR) sebagaimana dimaksud
Pasal 76 huruf k terdiri atas:
a. kegiatan yang diperbolehkan meliputi:
1. prasarana dan sarana transportasi;
2. fasilitas penunjang kawasan transportasi;
-142-
3. ruang terbuka hijau;
4. pembangunan fasilitas pokok dan fasilitas penunjang sesuai dengan
rencana induk kawasan;
5. alur-pelayaran;
6. tempat labuh;
7. tempat alih muat antar kapal;
8. kolam pelabuhan untuk kebutuhan sandar dan olah gerak kapal;
9. kegiatan pemanduan;
10. tempat perbaikan kapal;
11. keperluan keadaan darurat;
12. penempatan kapal mati;
13. percobaan berlayar;
14. pemanduan kapal;
15. fasilitas pembangunan;
16. pemeliharaan kapal, dan pengembangan pelabuhan jangka panjang;
17. kegiatan pembangunan fasilitas pertahanan Negara; dan
18. kegiatan mitigasi bencana.
b. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi:
1. bangunan prasarana kota dengan mengikuti ketentuan teknis yang
berlaku;
2. fasilitas perdagangan dan jasa;
3. kegiatan campuran;
4. perumahan dan fasilitas penunjangnya;
5. perkantoran sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
6. pergudangan sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
7. kegiatan usaha sektor informal;
8. industri penunjang kegiatan transportasi, industri pengolahan hasil
perikanan;
9. pendidikan dan penelitian;
10. wisata alam;
11. wisata budaya;
12. wisata sejarah;
13. wilayah kerja dan wilayah pengoperasian pelabuhan perikanan;
14. pekerjaan bawah air;
15. bangunan pelindung pantai; dan
16. kegiatan energi;
17. pengerukan alur pelabuhan;
18. penggelaran/pemasangan kabel/pipa bawah laut;
-143-
19. pembangunan bangunan pelindung pantai;
20. penelitian dan pendidikan; dan
21. reklamasi untuk kepentingan pelabuhan.
22. kegiatan lainnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
c. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi:
1. semua kegiatan yang menimbulkan gangguan terhadap fungsi kawasan
transportasi;
2. perikanan tangkap statis dan/atau bergerak yang mengganggu kegiatan
pelabuhan;
3. wisata bawah laut;
4. perikanan budi daya laut;
5. pertambangan mineral;
6. semua jenis kegiatan penangkapan ikan dan pengambilan hasil laut;
7. semua jenis kegiatan perikanan budidaya;
8. pemasangan alat bantu penangkapan ikan;
9. kegiatan lainnya yang mengurangi nilai dan/atau fungsi kawasan
transportasi.
d. sarana dan prasarana minimum sebagai dasar fisik lingkungan guna
mendukung pengembangan kawasan agar dapat berfungsi secara optimal
sarana dan prasarana berdasarkan ketentuan kawasan pertambangan.
Pasal 88
Indikasi arahan zonasi Kawasan Pertahanan dan Keamanan (HK) sebagaimana
dimaksud Pasal 76 huruf l terdiri atas:
a. kegiatan yang diperbolehkan meliputi:
1. pembangunan prasarana dan sarana pertahanan dan keamanan negara
sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan;
2. rumah dinas, rumah susun umum, negara atau khusus, fasilitas
pendidikan, kesehatan, peribadatan, olahraga, sosial sesuai dengan
skala pelayanannya; dan
3. pengembangkan Kawasan Lindung dan/atau Kawasan Budi Daya tidak
terbangun disekitar pertahanan dan keamanan sebagai zona penyangga
yang memisahkan kawasan pertahanan keamanan dengan Kawasan
yang digunakan kegiatan usaha masyarakat;
b. kegiatan yang diperbolehkan dengan syarat meliputi:
1. pengembangan sistem jaringan transportasi, energi, telekomunikasi,
sumber daya air, dan prasarana lainnya sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan
2. kegiatan lainnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
-144-
c. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi semua kegiatan yang
menimbulkan gangguan terhadap aktivitas Kawasan pertahanan dan
keamanan.
d. sarana dan prasarana minimum sebagai dasar fisik lingkungan guna
mendukung pengembangan kawasan agar dapat berfungsi secara optimal,
yaitu memiliki kelengkapan prasarana, sarana, dan utilitas pendukung dan
sesuai kriteria teknis kawasan pertahanan dan keamanan yang ditetapkan
berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Paragraf 5
Ketentuan Khusus
Pasal 89
Ketentuan khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 ayat (3) huruf c,
terdiri atas:
a. Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP);
b. Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B);
c. kawasan rawan bencana;k
d. kawasan cagar budaya;
e. kawasan resapan air;
f. kawasan sempadan;
g. kawasan karst;
h. kawasan migrasi satwa;
i. Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan (DLKp); dan
j. Kawasan pertambangan.
Pasal 90
(1) Pengaturan Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan atau KKOP
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89 huruf a dengan ketentuan
pembatasan tinggi bangunan dan jenis kegiatan sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan;
(2) Peta ketentuan khusus KKOP sebagaimana dimaksud ayat (1)
digambarkan dalam peta dengan ketelitian geometri dan ketelitian detail
informasi skala 1 : 250. 000 (satu berbanding dua ratus lima puluh ribu),
tercantum pada lampiran XIII yang merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari peraturan daerah.
Pasal 91
(1) Ketentuan khusus Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B)
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89 huruf b terdiri atas:
a. pemanfaatan ruang diarahkan untuk kegiatan tanaman pangan;
b. Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B) yang telah
ditetapkan sebagai lahan Pertanian pangan berkelanjutan (LP2B)
dapat beralih fungsi untuk kepentingan umum dan penyediaan lahan
-145-
untuk korban bencana sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan;
c. penggantian lahan Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B)
yang telah ditetapkan sebagai lahan Pertanian pangan berkelanjutan
dilakukan dengan ketentuan:
1. pembukaan lahan baru di luar lahan Kawasan Pertanian Pangan
Berkelanjutan;
2. pengalih fungsian lahan dari lahan non pertanian ke pertanian,
terutama dari tanah terlantar dan/atau tanah bekas kawasan
hutan; dan
3. penyediaan pengganti lahan yang sudah ditetapkan sebagai LP2B
dilakukan sebelum alih fungsi dilakukan.
(2) Lahan Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B) sebagai lahan
pertanian pangan berkelanjutan yang dilindungi ditetapkan untuk di acu
dalam Rencana Tata Ruang Daerah kabupaten/kota;
(3) KP2B yang bertampalan dengan kawasan lindung dan kawasan budidaya
dengan luasan ≤ 6,25 Ha (enam koma dua puluh lima hektar), ditetapkan
sesuai dengan Kawasan yang mendominasi dan tidak digambarkan dalam
pola ruang RTRW provinsi, untuk pengaturan pemanfaatan ruangnya
dilakukan berdasarkan Rencana Tata Ruang Kabupaten/Kota.
(4) Dalam hal terdapat penyesuaian KP2B di kabupaten/kota, maka
penyelenggaraan penataan ruang provinsi menyesuaikan dengan
perubahan tersebut sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
(5) Peta ketentuan khusus Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B)
sebagaimana dimaksud ayat (1) digambarkan dalam peta dengan
ketelitian geometri dan ketelitian detail informasi skala 1 : 250. 000 (satu
berbanding dua ratus lima puluh ribu), tercantum pada lampiran XIV
yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari peraturan daerah.
Pasal 92
(1) Ketentuan khusus kawasan rawan bencana sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 89 huruf c terdiri atas:
a. ketentuan khusus pembangunan untuk kawasan rawan banjir tingkat
sedang;
b. ketentuan khusus pembangunan untuk kawasan rawan banjir tingkat
tinggi;
c. ketentuan khusus pembangunan untuk kawasan rawan letusan
gunung berapi;
d. ketentuan khusus pembangunan untuk kawasan rawan tsunami
tingkat sedang;
e. ketentuan khusus pembangunan untuk kawasan rawan tsunami
tingkat tinggi;
f. ketentuan khusus pembangunan untuk kawasan rawan gerakan
tanah tingkat sedang; dan
g. ketentuan khusus pembangunan untuk kawasan rawan gerakan
tanah tingkat tinggi.
-146-
(2) Ketentuan khusus pembangunan untuk kawasan rawan banjir tingkat
sedang dan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf
b ditetapkan dengan memperhatikan:
a. penetapan batas dataran banjir dan risikonya;
b. pengendalian pemanfaatan ruang untuk kegiatan permukiman,
industri, dan fasilitas umum;
c. penggunaan rekayasa teknis dalam rangka mengurangi dampak dan
risiko bencana banjir;
d. peningkatan kualitas tutupan lahan dan daerah aliran sungai;
e. pemasangan sistem peringatan dini, papan info dan rambu peringatan,
jalur evakuasi, dan tempat evakuasi sementara; dan
f. ketentuan huruf a sampai huruf e diatur lebih lanjut dalam Rencana
Tata Ruang Kabupaten/Kota.
(3) Ketentuan khusus pembangunan untuk kawasan rawan letusan gunung
berapi tingkat sedang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c
ditetapkan dengan memperhatikan:
a. Pengaturan pemanfaatan ruang pada Kawasan Rawan Bencana (KRB)
I, KRB II, dan KRB III selain untuk permukiman;
b. pemanfaatan KRB I, KRB II, dan KRB III selain untuk permukiman
mempertimbangkan analisa risiko bencana gunung api;
c. penyediaan sistem peringatan dini;
d. pemasangan papan info bahaya, rambu dan jalur evakuasi;
e. penyediaan evakuasi sementara;
f. penetapan tempat evakuasi yang aman dan mudah diakses;
g. pembangunan fasilitas pengendali limpasan material gunung; dan
h. ketentuan huruf a sampai huruf g diatur lebih lanjut dalam Rencana
Tata Ruang Kabupaten/Kota.
(4) Ketentuan khusus pembangunan untuk kawasan rawan tsunami tingkat
sedang dan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dan huruf
e ditetapkan dengan memperhatikan:
a. pemanfaatan ruang pada rawan bencana tsunami wajib melakukan
analisis risiko bencana tsunami;
b. pembuatan infrastruktur proteksi bencana yang memadai, seperti
pemecah ombak atau tanggul penahan pantai;
c. penyediaan sistem peringatan dini, rambu dan papan info peringatan
bencana tsunami, jalur evakuasi, selter atau bangunan perlindungan
terhadap tsunami, dan tempat evakuasi sementara baik vertikal dan
horizontal;
d. perlindungan vegetasi pantai, bakau, gumuk, dan bukit pasir dan
penetapan sempadan pantai;
e. pembatasan kegiatan hunian, wisata dan pendukung wisata pantai;
f. penguatan struktur bangunan sesuai ketentuan persyaratan mitigasi
bencana tsunami; dan
-147-
g. ketentuan huruf a sampai huruf f diatur lebih lanjut dalam Rencana
Tata Ruang Kabupaten/Kota.
(5) Ketentuan khusus pembangunan untuk kawasan rawan gerakan tanah
tingkat sedang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f dan huruf g
ditetapkan dengan memperhatikan:
a. pembangunan di kawasan rawan gempa harus mengikuti ketentuan
aturan bangunan tahan gempa sesuai dengan analisis risiko bencana;
b. pembangunan pada daerah yang pernah terdampak gempa wajib
melakukan penguatan bangunan menjadi bangunan tahan gempa;
c. pemasangan papan info bahaya, rambu dan jalur evakuasi;
d. penetapan tempat evakuasi yang aman dan mudah diakses; dan
e. ketentuan huruf a sampai huruf d diatur lebih lanjut dalam Rencana
Tata Ruang Kabupaten/Kota.
(6) Peta ketentuan khusus rawan bencana sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) digambarkan dalam peta dengan ketelitian geometri dan ketelitian
detail informasi skala 1 : 250. 000 (satu berbanding dua ratus lima puluh
ribu), tercantum pada lampiran XV yang merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari peraturan daerah.
Pasal 93
(1) Ketentuan khusus kawasan cagar budaya sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 89 huruf d merupakan pengaturan terhadap bangunan cagar
budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya dan kawasan cagar
budaya sesuai dengan penetapannya berdasarkan kriteria yang berlaku.
(2) Ketentuan khusus untuk Cagar Budaya sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) mengatur pemanfaatan ruang pada:
a. Kawasan cagar Budaya Candi Borobudur;
b. Kawasan cagar Budaya Candi Prambanan;
c. Kawasan cagar Budaya Candi Dieng;
d. Kawasan cagar Budaya Candi Gedong Songo;
e. Kawasan cagar Budaya Candi Masjid Agung Demak;
f. Kawasan cagar Budaya Sangiran;
g. Kawasan cagar Budaya Patiayam;
h. Kawasan cagar Budaya Keraton Kasunanan Surakarta;
i. Kawasan cagar Budaya Pura Mangkunegara Surakarta; dan
j. Kawasan cagar Budaya lainnya yang ukuran skalanya tergambar
dalam rencana tata ruang Kabupaten/ Kota.
(3) Ketentuan khusus kawasan cagar budaya sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) diarahkan dengan ketentuan meliputi:
a. pengaturan zona pelestarian cagar budaya;
b. pengendalian kegiatan dan bangunan yang tidak sesuai dengan fungsi
kawasan;
c. ketentuan pelarangan kegiatan yang dapat merusak cagar budaya;
-148-
d. pengendalian kegiatan yang dapat mengubah bentukan geologi
tertentu yang mempunyai menfaat untuk pengembangan ilmu
pengetahuan;
e. pengendalian pemanfaatan ruang yang menggangu kelestarian
lingkungan di sekitar cagar budaya;
f. kegiatan pelestarian cagar budaya dilaksanakan dan/atau
dikordinasikan oleh lembaga di bidang pelestarian dengan
memperhatikan ketentuan pelestarian.
g. Ketentuan perlindungan, pemanfaatan dan pengembangan dalam
rangka pelestarian cagar budaya mengikuti peraturan dan perundang-
undangan yang berlaku.
(4) Peta ketentuan khusus kawasan cagar budaya sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) digambarkan dalam peta dengan ketelitian geometri dan
ketelitian detail informasi skala 1 : 250. 000 (satu berbanding dua ratus
lima puluh ribu), tercantum pada lampiran XVI yang merupakan bagian
yang tidak terpisahkan dari peraturan daerah.
Pasal 94
(1) Ketentuan khusus kawasan resapan air sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 89 huruf e berupa ketentuan khusus kawasan imbuhan air tanah.
(2) Ketentuan khusus kawasan imbuhan air tanah sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) ditetapkan dengan memperhatikan:
a. pemanfaatan ruang secara terbatas dan bersyarat untuk kegiatan budi
daya agar tidak mengurangi kemampuan tanah dalam meresapkan air;
b. penerapan prinsip zero delta Q policy terhadap setiap kegiatan budi
daya yang diajukan izinnya;
c. pengupayaan peresapan air dan/atau penyediaan fasilitas resapan air
pada kegiatan budidaya yang sudah ada dan belum memiliki fasilitas
resapan air dengan prinsip zero delta Q policy; dan
d. fasilitas resapan air di kawasan rawan bencana mempertimbangkan
potensi dan risiko bencana.
(3) Peta ketentuan khusus kawasan resapan air sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) digambarkan dalam peta dengan ketelitian geometri dan ketelitian
detail informasi skala 1 : 250. 000 (satu berbanding dua ratus lima puluh
ribu), tercantum pada lampiran XVII yang merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari peraturan daerah.
(4) Perubahan lokasi dan/atau deliniasi kawasan imbuhan air tanah
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan ketentuan peraturan
perundang – undangan.
Pasal 95
(5) Ketentuan khusus kawasan sempadan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 89 huruf f ditetapkan dengan memperhatikan:
a. Ketentuan khusus sempadan pantai, meliputi:
1. Ketentuan khusus sempadan pantai terdiri atas:
-149-
a) batas sempadan pantai yang dihasilkan berdasarkan ketentuan
peraturan perundang-undangan mencakup dan/atau melewati
kawasan pemukiman, industri, pusat ekonomi dan
infrastruktur publik lainnya maka penetapan batas sempadan
pantai wajib menerapkan pedoman bangunan (building code)
bencana;
b) dalam hal sempadan pantai berhadapan dengan kawasan
ekosistem pesisir dan pemanfatan umum lainnya maka dalam
pengaturan ruangnya mengikuti ketentuan pola ruang darat;
c) kegiatan pada sempadan pantai yang memiliki karakteristik
rawan bencana dan telah memiliki izin diharuskan membuat
bangunan pengaman pantai sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku;dan
d) dalam hal kawasan sempadan terdapat bangunan maka
bangunan tersebut dinyatakan dalam status quo namun tetap
memperhatikan karakteristik kawasan seperti kawasan rawan
bencana.
2. Ketentuan khusus kawasan pengelolaan ekosistem pesisir (EP)
terdiri atas:
a) Pemanfaatan ruang untuk pengembangan, rehabilitasi,
penelitian, dan ilmu pengetahuan;
b) Pelaksanaan pengelolaan ekosistem pesisir dilakukan sesuai
dengan dokumen rencana Rehabilitasi Sumber Daya Ikan dan
Lingkungannya;
c) Pelaksanaan pengelolaan ekosistem pesisir dilakukan antara
lain melalui pengayaan sumber daya hayati, perbaikan habitat,
pelindungan ekosistem pesisir dan laut agar tumbuh dan
berkembang secara alami, dan/atau kegiatan lain yang ramah
lingkungan;
d) Perbaikan habitat eksositem pesisir dilakukanantara lain
melalui pencegahan dan/atau penghentian kegiatan yang dapat
merusak habitat eksositem pesisir, penggunaan/ penerapan
konstruksi bangunan yang sesuai prinsip ekologi, dan/atau
penggunaan/penerapan teknis perbaikan habitat;
e) Pelaksanaan pengelolaan ekosistem pesisir dapat dilakukan
melalui kerjasama antara pemerintah, pemerintah daerah dan
setiap orang;
f) Pelaksanaan pengelolaan eksositem pesisir dilakukan dengan
prinsip keberlanjutan dengan memanfaatkan Sumber Daya
Ikan sesuai daya dukung lingkungan dan menjaga kondisi
populasi Sumber Daya Ikan dan lingkungannya;
g) Penggunaan/penerapan konstruksi bangunan yang sesuai
prinsip ekologi dilakukan dengan memperhatikan standar
bangunan pantai;
h) Dalam hal terjadi pencemaran dan kerusakan ekosistem pesisir
yang dilakukan oleh Setiap Orang wajib melakukan
penanggulangan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundanga-undangan; dan
-150-
i) Penanggulangan pencemaran dan kerusakan ekosistem pesisir
dilakukan dengan menggunakan personil, peralatan, dan bahan
penanggulangan pencemaran sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
b. Ketentuan khusus sempadan sungai meliputi:
1. pengaturan pemanfaatan terbatas untuk bangunan prasarana
sumber daya air, fasilitas jembatan dan dermaga, jalur pipa gas dan
air minum, rentangan kabel listrik dan telekomunikasi, kegiatan
lain sepanjang tidak mengganggu fungsi sungai, antara lain
kegiatan menanam tanaman sayur-mayur; dan bangunan
ketenagalistrikan;
2. dalam hal di dalam sempadan sungai terdapat tanggul untuk
kepentingan pengendali banjir, perlindungan badan tanggul
dilakukan dengan larangan menanam tanaman selain rumput,
mendirikan bangunan dan mengurangi dimensi tanggul;
3. pemanfaatan sempadan sungai dilakukan berdasarkan izin dari
Menteri, gubernur, atau bupati/walikota dengan
mempertimbangkan rekomendasi teknis dari pengelola sumber
daya air pada wilayah sungai yang bersangkutan; dan
4. dalam hal pada kawasan sempadan terdapat bangunan dalam
sempadan sungai maka bangunan tersebut dinyatakan dalam
status quo dan secara bertahap harus ditertibkan untuk
mengembalikan fungsi sempadan, namun ketentuan tidak berlaku
bagi bangunan yang terdapat dalam sempadan sungai untuk
fasilitas kepentingan tertentu yang meliputi bangunan prasarana
sumber daya air, fasilitas jembatan dan dermaga, jalur pipa gas dan
air minum, rentangan kabel listrik dan telekomunikasi dan
bangunan ketenagalistrikan dengan memperhatikan aturan
bangunan tersebut sesuai peraturan perundangan yang berlaku.
c. ketentuan khusus Sempadan Danau meliputi:
1. pengaturan pemanfaatan terbatas untuk kegiatan tertentu dan
bangunan tertentu seperti penelitian dan pengembangan ilmu
pengetahuan, pariwisata, olah raga dan/atau aktivitas budaya dan
keagamaan, bangunan prasarana sumber daya air, jalan akses,
jembatan, dan dermaga, jalur pipa gas dan air minum, rentangan
kabel listrik dan telekomunikasi, prasarana pariwisata, olahraga,
dan keagamaan, prasarana dan sarana sanitas dan bangunan
ketenagalistrikan;
2. pengembalian fungsi perlindungan kawasan sempadan danau yang
mengalami kerusakan; dan
3. pemanfaatan sempadan danau berdasarkan izin dari Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
dalam pengelolaan sumber daya air serta dilakukan dengan
mempertimbangkan rekomendasi teknis dari pengelola sumber
daya air pada wilayah sekitar danau yang bersangkutan.
(6) Peta ketentuan khusus kawasan sempadan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) digambarkan dalam peta dengan ketelitian geometri dan ketelitian
detail informasi skala 1 : 250. 000 (satu berbanding dua ratus lima puluh
ribu), tercantum pada lampiran XVIII yang merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari peraturan daerah.
-151-
Pasal 96
(1) Ketentuan khusus kawasan karst sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89
huruf g terdiri atas:
a. penentuan klasifikasi kars dan pengaturan kegiatan yang dapat
dilakukan maupun kegiatan yang tidak boleh dilakukan untuk
melindungi kawasan kars kelas I;
b. pengaturan ketentuan teknis pengambilan material batuan kars untuk
setiap klasifikasi kars;
c. pengaturan permukiman, bangunan sarana dan jaringan prasarana
yang berada atau melalui kawasan kars;
d. ketentuan teknis pengambilan material batuan kars untuk setiap
klasifikasi kars;
e. peningkatan vegetasi tutupan lahan; dan
f. Kawasan hutan produksi yang bertampalan dengan Kawasan Karst
harus tetap mempertahankan fungsi lindung kawasan dan dalam
pengembangannya mengacu kepada aturan pengelolaan kawasan
lindung sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(2) Peta ketentuan khusus kawasan karst sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) digambarkan dalam peta dengan ketelitian geometri dan ketelitian
detail informasi skala 1 : 250. 000 (satu berbanding dua ratus lima puluh
ribu), tercantum pada lampiran XIX yang merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari peraturan daerah.
Pasal 97
(1) Ketentuan khusus kawasan migrasi satwa sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 89 huruf h berupa alur migrasi biota laut meliputi:
a. alur migrasi sidat; dan
b. alur migrasi penyu.
(2) Arahan pengendalian pada alur migrasi biota laut sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilaksanakan meliputi:
a. pengaturan perlindungan lingkungan maritim; dan
b. penetapan sistem rute (skema pemisah lalu lintas di laut, rute dua
arah, garis haluan yang dianjurkan, rute air dalam, daerah yang harus
dihindari, daerah lalu lintas pedalaman, dan daerah kewaspadaan).
(3) Ketentuan khusus untuk alur migrasi biota laut sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) meliputi:
a. alur migrasi biota diperuntukan bagi keberlangsungan biota yang
dilindungi dan terancam punah, dan/atau biota yang memiliki nilai
ekonomis tinggi;
b. kegiatan yang bersinggungan atau berdekatan dengan alur migrasi
biota laut mengutamakan kehidupan dan kelestarian biota tersebut;
dan
-152-
c. pada alur migrasi biota laut tidak diperbolehkan adanya kegiatan yang
menghambat, mengganggu, mengalihfungsikan, dan/ atau
memindahkan alur migrasi biota laut.
(4) Peta ketentuan khusus kawasan migrasi satwa sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) digambarkan dalam peta dengan ketelitian geometri dan
ketelitian detail informasi skala 1 : 250. 000 (satu berbanding dua ratus
lima puluh ribu), tercantum pada lampiran XX yang merupakan bagian
yang tidak terpisahkan dari peraturan daerah.
Pasal 98
(1) Ketentuan khusus Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan (DLKp)
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89 huruf i:
a. batas-batas DLKp ditetapkan dengan titik koordinat geografis untuk
menjadi kegiatan kepelabuhan;
b. Penetapan luas DLKp Pelabuhan ditetapkan dengan menggunakan
pedoman teknis kebutuhan lahan daratan dan perairan untuk
Rencana Induk Pelabuhan yang diatur dalam Keputusan Direktur
Jenderal.
c. dalam hal Pelabuhan belum mempunyai Rencana Induk Pelabuhan
maka penetapan luas lahan daratan dan perairan sebagai DLKp
Pelabuhan didasarkan pada kebutuhan operasional Pelabuhan dan
keselamatan pelayaran yang perhitungan luasnya ditetapkan
berdasarkan pedoman teknis yang dikeluarkan oleh kementerian yang
membidangi.
(2) Peta ketentuan khusus Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan
(DLKp) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digambarkan dalam peta
dengan ketelitian geometri dan ketelitian detail informasi skala 1 : 250.
000 (satu berbanding dua ratus lima puluh ribu), tercantum pada
lampiran XXI yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
peraturan daerah.
Pasal 99
(1) Ketentuan khusus kawasan pertambangan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 89 huruf j terdiri atas:
a. mengacu pada penetapan wilayah pertambangan yang ditetapkan
Pemerintah Pusat;
b. penentuan klasifikasi potensi mineral tambang dan pengaturan
kegiatan yang dapat dilakukan maupun kegiatan yang tidak boleh
dilakukan kegiatan penambangan; dan
c. izin usaha berkaitan dengan pelaksanaan pertambangan diberikan
berdasarkan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat
(2) huruf d.
(2) Peta ketentuan khusus kawasan pertambangan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) digambarkan dalam peta dengan ketelitian geometri dan
ketelitian detail informasi skala 1 : 250. 000 (satu berbanding dua ratus
lima puluh ribu), tercantum pada lampiran XXII yang merupakan bagian
yang tidak terpisahkan dari peraturan daerah.
-153-
Bagian Ketiga
Penilaian Pelaksanaan Pemanfaatan Ruang
Pasal 100
(1) Penilaian pelaksanaan pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 60 ayat (2) huruf b terdiri atas:
a. penilaian pelaksanaan KKPR; dan
b. penilaian Perwujudan Rencana Tata Ruang.
(2) Penilaian pelaksanaan KKPR sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
a dilaksanakan untuk memastikan:
a. kepatuhan pelaksanaan ketentuan KKPR
b. pemenuhan prosedur perolehan KKPR.
(3) Penilaian pelaksanaan ketentuan KKPR sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) huruf a dilakukan pada periode:
a. selama pembangunan, dilakukan untuk memastikan kepatuhan
pelaksanaan dalam memenuhi ketentuan KKPR; dan
b. pasca pembangunan, dilakukan untuk memastikan kepatuhan hasil
pembangunan dengan ketentuan dokumen KKPR.
(4) Pemenuhan prosedur perolehan KKPR sebagaimana dimaksud pada Ayat
(2) huruf b dilakukan untuk memastikan kepatuhan pelaku
pembangunan/ pemohon terhadap tahapan dan persyaratan perolehan
KKPR, dengan ketentuan:
a. apabila KKPR diterbitkan tidak melalui prosedur yang benar, maka
KKPR dapat dibatalkan; dan
b. apabila KKPR tidak sesuai akibat perubahan RTR, maka KKPR
dibatalkan dan dapat dimintakan ganti kerugian yang layak sesuai
dengan ketentuan peraturan per undang-undangan.
(5) Penilaian Perwujudan Rencana Tata Ruang sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf b berupa Penilaian perwujudan rencana struktur dan
rencana pola ruang, yang dilakukan terhadap:
a. kesesuaian program;
b. kesesuaian lokasi; dan
c. kesesuaian waktu pelaksanaan kegiatan pemanfaatan ruang.
(6) Penilaian perwujudan rencana tata ruang sebagaimana dimaksud pada
ayat (5) dilaksanakan secara periodik minimal 1 (satu) kali dalam 5 (lima)
tahun dan/atau pada saat akan melakukan peninjauan kembali, dengan
melibatkan forum penataan ruang.
-154-
Bagian Keempat
Arahan Insentif dan Disinsentif
Paragraf 1
Umum
Pasal 101
(1) Pemberian insentif dan disinsentif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60
ayat (2) huruf c diselenggarakan untuk:
a. meningkatkan upaya Pengendalian Pemanfaatan Ruang dalam rangka
mewujudkan Tata Ruang sesuai dengan RTR;
b. memfasilitasi kegiatan Pemanfaatan Ruang agar sejalan dengan RTR;
dan
c. meningkatkan kemitraan semua pemangku kepentingan dalam rangka
Pemanfaatan Ruang yang sejalan dengan RTR.
(2) Insentif dan disinsentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa
insentif dan disinsentif non fiskal.
Pasal 102
(1) Insentif dan disinsentif dapat diberikan kepada pelaku kegiatan
Pemanfaatan Ruang untuk mendukung perwujudan Rencana Tata Ruang.
(2) Pemberian insentif dan disinsentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan untuk:
a. menindaklanjuti pengendalian implikasi kewilayahan pada zona
kendali atau zona yang didorong; dan/atau
b. menindaklanjuti implikasi kebijakan atau rencana strategis nasional.
(3) Ketentuan Insentif dan disinsentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
disusun berdasarkan:
a. rencana struktur ruang, rencana pola ruang wilayah Daerah Provinsi,
dan kawasan strategis Daerah Provinsi; dan
b. indikasi arahan zonasi.
c. peraturan perundang-undangan sektor terkait lainnya.
Paragraf 2
Bentuk dan Tata Cara Pemberian Insentif
Pasal 103
(1) Insentif merupakan perangkat untuk memotivasi, mendorong,
memberikan daya tarik, dan/atau memberikan percepatan terhadap
kegiatan Pemanfaatan Ruang yang memiliki nilai tambah pada zona yang
perlu didorong pengembangannya.
(2) Insentif dapat berupa:
a. pemberian kompensasi;
b. subsidi;
c. imbalan;
-155-
d. sewa ruang;
e. urun saham;
f. fasilitasi Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang;
g. penyediaan prasarana dan sarana;
h. penghargaan; dan/atau
i. publikasi atau promosi.
(3) Insentif dapat diberikan oleh:
a. Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Provinsi;
b. Pemerintah Provinsi kepada pemerintah provinsi lainnya;
c. Pemerintah Provinsi kepada Pemerintah Kabupaten/ Kota; dan
d. Pemerintah Provinsi kepada Masyarakat.
(4) Insentif' dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Provinsi sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) huruf a dapat berupa:
a. subsidi;
b. penyediaan prasarana dan sarana di daerah;
c. pemberian kompensasi;
d. penghargaan; dan/ atau
e. publikasi atau promosi daerah.
(5) Insentif dari Pemerintah Provinsi kepada pemerintah provinsi lainnya
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b dapat berupa:
a. pemberian kompensasi;
b. pemberian penyediaan prasarana dan sarana;
c. penghargaan; dan/atau
d. publikasi atau promosi daerah.
(6) Insentif dari Pemerintah Provinsi kepada pemerintah Kabupaten/ Kota
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c dapat berupa:
e. pemberian kompensasi;
f. pemberian penyediaan prasarana dan sarana;
g. penghargaan; dan/atau
h. publikasi atau promosi daerah.
(7) Insentif dari Pemerintah Provinsi kepada Masyarakat sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) huruf d dapat berupa:
a. subsidi;
b. pemberian kompensasi;
c. imbalan;
d. sewa ruang;
e. urun saham;
f. fasilitasi Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang;
g. penyediaan prasarana dan sarana;
-156-
h. penghargaan; dan/atau
i. publikasi atau promosi.
Paragraf 3
Bentuk dan Tata Cara Pemberian Disinsentif
Pasal 104
(1) Disinsentif merupakan perangkat untuk mencegah dan/atau
memberikan batasan terhadap kegiatan Pemanfaatan Ruang yang sejalan
dengan Rencana Tata Ruang dalam hal berpotensi melampaui daya
dukung dan daya tampung lingkungan.
(2) Disinsentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa:
a. kewajiban memberi kompensasi atau imbalan;
b. pembatasan penyediaan prasarana dan sarana; dan/atau
c. pemberian status tertentu.
(3) Disinsentif dapat diberikan oleh:
a. Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Provinsi;
b. Pemerintah Provinsi kepada pemerintah provinsi lainnya
c. Pemerintah Provinsi kepada Pemerintah Kabupaten/ Kota; dan
d. Pemerintah Provinsi kepada Masyarakat.
(1) Disinsentif dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Provinsi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dapat diberikan dalam
bentuk:
a. pembatasan penyediaan prasarana dan sarana di daerah; dan/atau
b. pemberian status tertentu.
(2) Disinsentif dari Pemerintah Provinsi kepada pemerintah provinsi lainnya
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dapat berupa:
a. kewajiban memberi kompensasi atau imbalan; dan/atau
b. pembatasan penyediaan prasarana dan sarana.
(3) Disinsentif dari Pemerintah Provinsi kepada Kabupaten/ Kota
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dapat berupa:
a. kewajiban memberi kompensasi atau imbalan;
b. pembatasan penyediaan prasarana dan sarana; dan/atau
c. pemberian status tertentu.
(4) Disinsentif dari Pemerintah Provinsi kepada Masyarakat sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf d dapat berupa:
a. kewajiban memberi kompensasi atau imbalan; dan/atau
b. pemberian status tertentu.
-157-
Bagian Kelima
Arahan Sanksi
Pasal 105
(1) Arahan sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (2) huruf d
berupa sanksi administratif yaitu arahan untuk memberikan sanksi bagi
siapa saja yang melakukan pelanggaran ketentuan kewajiban
pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang yang berlaku.
(2) Arahan sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan
perangkat atau upaya pengenaan sanksi yang diberikan kepada pelanggar
pemanfaatan ruang.
(3) Arahan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
berfungsi:
a. untuk mewujudkan tertib tata ruang dan tegaknya peraturan
perundang-undangan bidang penataan ruang; dan
b. sebagai acuan dalam pengenaan sanksi administratif terhadap:
1. pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan RTRW;
2. pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan Kesesuaian Kegiatan
pemanfaatan ruang yang diberikan oleh pejabat yang berwenang;
3. pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan persyaratan
kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang yang diberikan oleh
pejabat yang berwenang; dan/atau
4. pemanfaatan ruang yang menghalangi akses terhadap kawasan
yang dinyatakan oleh peraturan perundang-undangan sebagai
milik umum.
(4) Arahan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
ditetapkan berdasarkan:
a. besar atau kecilnya dampak yang ditimbulkan akibat pelanggaran
pemanfaatan ruang;
b. nilai manfaat pengenaan sanksi yang diberikan terhadap pelanggaran
pemanfaatan ruang; dan/atau
c. kerugian publik yang ditimbulkan akibat pelanggaran pemanfaatan
ruang.
(5) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:
a. peringatan tertulis;
b. penghentian sementara kegiatan;
c. penghentian sementara pelayanan umum;
d. penutupan lokasi;
e. pencabutan persetujuan kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang
f. pembatalan persetujuan kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang;
g. pembongkaran;
h. pemulihan fungsi ruang; dan/atau
i. denda administratif.
-158-
(6) Tata cara pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
Bagian keenam
Penyelesaian Sengketa
Pasal 106
(1) Sengketa Penataan Ruang merupakan perselisihan antar pemangku
kepentingan dalam Pelaksanaan Penataan Ruang akibat:
a. perubahan rencana tata ruang;
b. perubahan kebijakan sektoral; dan/atau
c. perubahan kebijakan pembangunan
(2) Penyelesaian sengketa Penataan Ruang sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) pada tahap pertama diupayakan berdasarkan prinsip musyawarah
untuk mufakat.
(3) Dalam hal penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
tidak diperoleh kesepakatan, para pihak dapat menempuh upaya
penyelesaian sengketa melalui pengadilan atau di luar pengadilan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(4) Upaya penyelesaian di luar pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat
(3) dilakukan melalui negosiasi, mediasi, dan/atau konsiliasi.
BAB IX
PERAN MASYARAKAT DAN KELEMBAGAAN
Bagian Kesatu
Hak dan Kewajiban Masyarakat
Pasal 107
Dalam proses Penataan Ruang setiap Orang berhak untuk:
a. mengetahui RTRW Provinsi;
b. menikmati pertambahan nilai Ruang sebagai akibat Penataan Ruang;
c. mengajukan usulan Pemanfaatan Ruang;
d. memperoleh penggantian yang layak atas akibat pelaksanaan kegiatan
pembangunan yang sesuai dengan RTR;
e. mengajukan keberatan kepada pejabat berwenang terhadap pembangunan
yang tidak sesuai dengan RTR di wilayahnya;
f. mengajukan tuntutan pembatalan persetujuan kegiatan Penataan Ruang
dan/atau penghentian pembangunan yang tidak sesuai dengan RTR kepada
pejabat yang berwenang; dan
g. mengajukan gugatan ganti kerugian kepada pemerintah dan/atau kepada
pelaksana kegiatan apabila kegiatan pembangunan yang tidak sesuai
dengan RTR.
-159-
Pasal 108
Dalam Pemanfaatan Ruang setiap orang wajib:
a. menaati RTRW Provinsi yang telah ditetapkan;
b. memanfaatkan Ruang sesuai dengan KKPR dari pejabat yang berwenang;
c. mematuhi ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan KKPR; dan
d. memberikan akses terhadap kawasan yang oleh ketentuan peraturan
perundang-undangan dinyatakan sebagai milik umum.
Bagian Kedua
Peran Masyarakat
Pasal 109
(1) Penyelenggaraan Penataan Ruang dilakukan oleh Pemerintah Daerah
dengan melibatkan peran Masyarakat dan dunia usaha.
(2) Peran Masyarakat dalam Penataan Ruang sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilakukan melalui partisipasi dalam:
a. penyusunan RTR;
b. Pemanfaatan Ruang; dan
c. Pengendalian Pemanfaatan Ruang.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan bentuk peran Masyarakat
dalam Penataan Ruang mengacu pada ketentuan peraturan perundang-
undangan.
Bagian Ketiga
Kelembagaan
Pasal 110
(1) Dalam rangka penyelenggaraan penataan ruang secara partisipatif,
Gubernur dapat membentuk Forum Penataan Ruang sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Forum Penataan Ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertugas
untuk memberikan masukan dan pertimbangan dalam pelaksanaan
penataan ruang.
(3) Ketua Forum Penataan Ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dijabat oleh sekretaris daerah Provinsi.
(4) Keanggotaan Forum Penataan Ruang di daerah terdiri atas:
a. instansi vertikal bidang pertanahan dan perangkat daerah bersifat ex-
officio;
b. anggota yang berasal dari asosiasi profesi ditunjuk oleh Ketua Asosiasi
Profesi atas permintaan Gubernur;
c. anggota yang berasal dari asosiasi akademisi ditunjuk oleh Ketua
Asosiasi Akademisi atas permintaan Gubernur; dan
d. anggota yang berasal dari tokoh Masyarakat ditunjuk oleh Gubernur.
-160-
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tugas, susunan keanggotaan, tugas,
fungsi dan tata kerja Forum Penataan Ruang diatur sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
BAB X
PENYIDIKAN
Pasal 111
(1) Selain Pejabat Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia, Pegawai
Negeri Sipil tertentu di lingkungan instansi pemerintah yang lingkup
tugas dan tanggung jawabnya di bidang Penataan Ruang diberi wewenang
khusus sebagai penyidik untuk membantu Pejabat Penyidik Kepolisian
Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang -
Undang Hukum Acara Pidana.
(2) Penyidik Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
berwenang:
a. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan
yang berkenaan dengan tindak pidana dalam bidang Penataan Ruang;
b. melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan
tindak pidana dalam bidang Penataan Ruang;
c. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang sehubungan dengan
peristiwa tindak pidana dalam bidang Penataan Ruang;
d. melakukan pemeriksaan atas dokumen-dokumen yang berkenaan
dengan tindak pidana dalam bidang Penataan Ruang;
e. melakukan pemeriksaan di tempat tertentu yang diduga terdapat
bahan bukti dan dokumen lain serta melakukan penyitaan dan
penyegelan terhadap bahan dan barang hasil pelanggaran yang dapat
dijadikan bukti dalam perkara tindak pidana dalam bidang Penataan
Ruang; dan
f. meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas
penyidikan tindak pidana dalam bidang Penataan Ruang.
(3) Penyidik Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
memberitahukan dimulainya penyidikan kepada Pejabat Penyidik
Kepolisian Negara Republik Indonesia.
(4) Jika pelaksanaan kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
memerlukan tindakan penangkapan dan penahanan, Penyidik Pegawai
Negeri Sipil melakukan koordinasi dengan Pejabat Penyidik Kepolisian
Negara Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
(5) Penyidik Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
menyampaikan hasil penyidikan kepada penuntut umum melalui Pejabat
Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia.
(6) Pengangkatan Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil dan tata cara serta
proses penyidikan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
-161-
BAB XI
KETENTUAN PIDANA
Pasal 112
Setiap Orang yang melakukan pelanggaran terhadap Pasal 108 dipidana sesuai
dengan ketentuan peraturan per undang–undangan di bidang Penataan Ruang.
BAB XII
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 113
(1) Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku, peraturan pelaksanaan
Peraturan Daerah yang berkaitan dengan Penataan Ruang Daerah yang
telah ada dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan
Peraturan Daerah ini.
(2) Pada saat Peraturan Daerah ini berlaku:
a. izin Pemanfaatan Ruang/KKPR/KKPRL yang telah dikeluarkan dan
telah sesuai dengan ketentuan Peraturan Daerah ini tetap berlaku
sesuai dengan masa berlakunya;
b. izin Pemanfaatan Ruang/KKPR/KKPRL yang telah dikeluarkan tetapi
tidak sesuai dengan ketentuan Peraturan Daerah ini berlaku
ketentuan:
1. untuk yang belum dilaksanakan pembangunannya, izin
Pemanfaatan Ruang/KKPR/KKPRL tersebut disesuaikan dengan
fungsi Kawasan berdasarkan Peraturan Daerah ini;
2. untuk yang sudah dilaksanakan pembangunannya, Pemanfaatan
Ruang dilakukan sampai izin Pemanfaatan Ruang/KKPR terkait
habis masa berlakunya dan dilakukan penyesuaian dengan fungsi
Kawasan berdasarkan Peraturan Daerah ini;
3. untuk yang sudah dilaksanakan pembangunannya dan tidak
memungkinkan untuk dilakukan penyesuaian dengan fungsi
Kawasan berdasarkan Peraturan Daerah ini, izin Pemanfaatan
Ruang/KKPR/KKPRL yang telah diterbitkan dapat dibatalkan dan
terhadap kerugian yang timbul sebagai akibat pembatalan izin
Pemanfaatan Ruang/KKPR/KKPRL tersebut dapat diberikan
penggantian yang layak;
4. penggantian yang layak sebagaimana dimaksud pada angka 3 di
atas dengan memperhatikan indikator sebagai berikut:
a) memperhatikan harga pasaran setempat;
b) sesuai dengan nilai jual objek pajak; atau
c) sesuai dengan kemampuan Daerah.
5. penggantian terhadap kerugian yang timbul sebagai akibat
pembatalan izin Pemanfaatan Ruang/KKPR/KKPRL tersebut
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
c. Pemanfaatan Ruang di Daerah yang diselenggarakan tanpa izin
pemanfaatan ruang/KKPR/KKPRL ditentukan sebagai berikut:
-162-
1. yang bertentangan dengan ketentuan Peraturan Daerah ini,
Pemanfaatan Ruang yang bersangkutan ditertibkan dan
disesuaikan dengan Peraturan Daerah ini; dan
2. yang sesuai dengan ketentuan Peraturan Daerah ini, dipercepat
untuk mendapatkan KKPR/KKPRL yang diperlukan.
BAB XIII
KETENTUAN LAIN-LAIN
Pasal 114
(1) Jangka waktu RTRW Provinsi adalah 20 (dua puluh) tahun.
(2) RTRW Provinsi dapat ditinjau kembali 1 (satu) kali dalam setiap periode 5
(lima) tahunan.
(3) Peninjauan kembali RTRW Provinsi dapat dilakukan lebih dari 1 (satu)
kali dalam periode 5 (lima) tahunan apabila terjadi perubahan lingkungan
strategis berupa:
a. bencana alam skala besar yang ditetapkan dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan;
b. perubahan batas teritorial negara yang ditetapkan dengan undang-
undang;
c. perubahan batas daerah yang ditetapkan dengan Undang-Undang;
dan
d. perubahan kebijakan nasional yang bersifat strategis.
Pasal 115
(1) Tanah timbul merupakan tanah yang dikuasai langsung oleh Negara.
(2) Tanah timbul sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi tanah yang
timbul pada pesisir laut, tepian sungai, tepian danau dan pulau.
(3) Tanah timbul sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan hak
atas tanah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 116
(1) Tanah yang berasal dari hasil reklamasi di Wilayah perairan pantai,
pasang surut, rawa, danau, dan bekas sungai dikuasai langsung oleh
Negara.
(2) Tanah reklamasi dapat diberikan hak atas tanah dengan ketentuan sesuai
peraturan perundang-undangan.
(3) Pelaksanaan reklamasi wajib menjaga dan memperhatikan:
a. keberlanjutan kehidupan dan penghidupan masyarakat;
b. keseimbangan antara kepentingan pemanfaatan dan kepentingan
pelestarian fungsi lingkungan pesisir dan pulau-pulau kecil; dan
c. persyaratan teknis pengambilan, pengerukan, dan penimbunan/
pengurugan material.
-163-
(4) Gubernur berwenang menerbitkan izin pelaksanaan reklamasi pada
perairan laut paling jauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis pantai
ke arah laut bebas dan/atau ke arah perairan kepulauan dengan
ketentuan sesuai peraturan perundang- undangan.
Pasal 117
Pengaturan Ruang Dalam Bumi diarahkan untuk:
a. kegiatan yang diperbolehkan pada ruang bawah tanah dangkal yaitu
akses stasiun kereta api perkotaan, sistem jaringan prasarana jalan,
sistem jaringan utilitas, kawasan perkantoran, fasilitas parkir,
perdagangan dan jasa, pendukung kegiatan gedung di atasnya dan
fondasi bangunan gedung di atasnya.
b. kegiatan yang diperbolehkan pada ruang bawah tanah dalam yaitu sistem
angkutan masal berbasis rel (kereta api perkotaan), sistem jaringan
prasarana jalan, sistem jaringan utilitas dan fondasi bangunan gedung di
atasnya.
c. pelaksanaan pemanfaatan ruang dalam bumi sebagaimana dimaksud
pada huruf a dan huruf b mengacu kepada peraturan perundang-
undangan.
d. pemanfaatan ruang dalam bumi diatur lebih lanjut dalam Rencana Tata
Ruang Wilayah Kabupaten/Kota dan/atau Rencana Detail Tata Ruang
Kabupaten/Kota.
Pasal 118
(1) Pengaturan pengelolaan pemanfaatan ruang di pesisir yang mengalami
perubahan bentang alam mempertimbangkan:
a. dinamika pasang surut;
b. geologi;
c. jenis dan kepekaan tanah;
d. dampak lingkungan hidup; dan
e. risiko bencana.
(2) Pengaturan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara
terintegrasi antar sektor terkait dengan berpedoman pada ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(3) Pelaksanaan program sistem jaringan prasarana dilakukan dengan
mempertimbangkan kebutuhan fasilitas pendukungnya.
(4) Pelaksanaan program pemanfaatan ruang yang lokasinya masih bersifat
indikatif, kepastian lokasinya ditentukan melalui kajian dan koordinasi
dengan Pemerintah Kabupaten/Kota dan/atau stakeholder terkait.
(5) Ketentuan pengaturan penataan ruang Daerah yang belum diatur dalam
Peraturan Daerah ini atau peraturan perundang-undnagan Daerah
lainnya ditentukan melalui Forum Penataan Ruang.
-164-
BAB XIV
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 119
Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku:
a. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 6 Tahun 2010 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2009-2029
(Lembaran Daerah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2009 Nomor 6, Tambahan
Lembaran Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 28);
b. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 16 Tahun 2019 Tentang
Perubahan Atas Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 6 Tahun
2010 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Tengah Tahun
2009-2029; dan
c. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 13 Tahun 2018 tentang
Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Provinsi Jawa
Tengah Tahun 2018 -2038 (Lembaran Daerah Provinsi Jawa Tengah Tahun
13 Nomor 2018, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor
105),
dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 120
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan
Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Provinsi Jawa
Tengah.
Ditetapkan di Semarang
pada tanggal
GANJAR PRANOWO
Diundangkan di Semarang
pada tanggal
SUMARNO
-165-
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH
NOMOR…..TAHUN …….
TENTANG
RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI JAWA TENGAH
TAHUN 2023-2043
I. UMUM.
Pemerintah Republik Indonesia telah mencanangkan bahwa pembangunan
nasional dilaksanakan secara terencana, komprehensif, terpadu, terarah,
tertahap, dan berkelanjutan dengan mengembangkan penataan ruang dalam
suatu tata lingkungan yang dinamis dan tetap memelihara kelestarian
lingkungan hidup. Menurut PERPU No. 21 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja,
penataan ruang adalah suatu sistem perencanaan tata ruang, pemanfaatan
ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. Kegiatan penataan ruang
merupakan proses dinamis dalam rangka mewujudkan tujuan rencana tata
ruang. Proses dinamis ini mengandung pengertian bahwa dalam proses
mewujudkan tujuan rencana tata ruang terdapat faktor-faktor yang
mempengaruhi kinerja rencana tata ruang yang dapat tercapai melalui
kebijakan dan strategi. Rencana tata ruang merupakan hasil dari perencanaan
tata ruang.
Salah satu bentuk rencana tata ruang adalah Rencana Tata Ruang Wilayah
Provinsi (RTRWP). Menurut PP No. 21 Tahun 2021 fungsi RTRW Provinsi
sebagai acuan untuk penyusunan rencana tata ruang wilayah kabupaten,
penyusunan rencana tata ruang wilayah kota, penyusunan rencana
pembangunan jangka panjang daerah provinsi, penyusunan rencana
pembangunan jangka menengah daerah provinsi, pemanfaatan ruang dan
pengendalian pemanfaatan ruang dalam wilayah provinsi, perwujudan
keterpaduan, keterkaitan, dan keseimbangan perkembangan antarwilayah
kabupaten/kota, serta keserasian antarsektor, dan penetapan lokasi dan
fungsi ruang untuk investasi.
Pada Tahun 2019, Provinsi Jawa Tengah telah menyusun RTRW Provinsi
sebagai salah satu upaya dalam mewujudkan ketertiban ruang. Penyusunan
perubahan RTRW Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2019 mengacu pada
Permen ATR No. 1 Tahun 2018 tentang Pedoman Penyusunan RTRW. Akan
tetapi, saat ini terdapat perubahan kebijakan yaitu dengan diterbitkannya
Undang-Undang No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja beserta peraturan
turunannya yaitu PP No. 21 Tahun 2021 dan Permen ATR/BPN No. 11 Tahun
2021 maka RTRW Provinsi Jawa Tengah perlu disesuaikan dengan kebijakan
baru tersebut.
Kebijakan baru tersebut juga mengamanatkan terkait pengintegrasian RZWP3K
(Rencana Zonasi ke dalam RTRW Provinsi sesuai dengan PP No. 21 Tahun 2021
tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang. Pada Pasal 13 ayat (2) Peraturan
-166-
Pemerintah tersebut berbunyi Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi mencakup
muatan pengaturan Perairan Pesisir.
Oleh karena itu, pada tahun 2022, Pemerintah Jawa Tengah berupaya
mengintegrasikan RZWP3K ke dalam RTRW Provinsi Jawa Tengah yang
disesuaikan dengan muatan yang ada pada PP No 21 Tahun 2021 dan Permen
ATR/BPN No. 11 Tahun 2021. Dengan adanya integrasi RZWP3K ke dalam
RTRW Provinsi Jawa Tengah maka penataan ruang darat dan laut menjadi satu
kesatuan dan menjadi satu produk rencana tata ruang.
Pasal 2
Ayat (1)
Huruf a
Angka 1
Angka 2
Luas wilayah laut didapatkan dari hasil
pengukuran peta dengan metode cylindrical
equal area (CEA).
Huruf b
Yang dimaksud dengan “Wilayah Udara” adalah
wilayah kedaulatan udara di atas wilayah daratan
dan perairan Provinsi Jawa Tengah.
Dalam RTRW Provinsi Jawa Tengah muatan dan
substansi wilayah udara adalah berupa Kawasan
Keselamatan Operasional Penerbangan (KKOP) yang
termuat dalam Ketentuan Khusus.
Huruf c
Wilayah Dalam Bumi merupakan bagian Ruang
dalam bumi dan/atau Ruang bawah tanah adalah
ruang di bawah permukaan tanah yang menjadi
tempat manusia beraktivitas.
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas
-167-
Ayat (5)
Wilayah Pengembangan merupakan Daerah Kabupaten/
Kota yang memiliki keterkaitan pengembangan satu dengan
lainnya.
Ayat (6)
Cukup jelas
Ayat (7)
Cukup jelas
Pasal 3
Cukup jelas
Pasal 4
Penyusunan tujuan penataan ruang wilayah Provinsi
memperhatikan beberapa hal, di antaranya penetapan pusat
kegiatan dan wilayah pelayanan untuk menunjang kegiatan
masyarakat, penyediaan infrastruktur yang mendukung
perekonomian dan pemerataan pelayanan dasar, pengalokasian
ruang budi daya untuk bermukim, kegiatan ekonomi masyarakat
dan investasi, serta penetapan kawasan lindung, Kawaasan
Pertanian Pangan Berkelanjutan, dan penerapan ketentuan
khusus untuk kawasan rawan bencana.
Pasal 5
Cukup jelas
Pasal 6
Cukup jelas
Pasal 7
Rencana struktur wilayah provinsi berupa rencana sistem
susunan pusat-pusat permukiman (sistem perkotaan wilayah
provinsi yang berkaitan dengan kawasan perdesaan dalam wilayah
pelayanannya) dan sistem jaringan prasarana wilayah provinsi
yang dikembangkan untuk melayani kegiatan skala provinsi dan
mengintegrasikan wilayah provinsi. Sistem perkotaan wilayah
tersebut di atas dapat berupa pusat perekonomian, rencana kota
baru, simpul ekonomi baru dan/atau koridor ekonomi baru yang
dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan ruang, keberlanjutan
pembangunan dan ketahanan masyarakat. Kawasan perdesaan
dalam wilayah pelayanannya merupakan wilayah yang
mempunyai kegiatan utama pertanian, termasuk pengelolaan
sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai
tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintah,
pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.
Pasal 8
Cukup jelas
Pasal 9
Cukup jelas
-168-
Pasal 10
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Huruf a
Yang dimaksud Terminal Tipe A adalah Terminal
Penumpang yang berfungsi melayani kendaraan
penumpang umum untuk angkutan antarkota
antarprovinsi (AKAP), angkutan lintas batas
antarnegara, angkutan antarkota dalam provinsi
(AKDP), angkutan kota (AK), serta angkutan
perdesaan (ADES).
Huruf b
Yang dimaksud Terminal Tipe B adalah Terminal
Penumpang yang berfungsi melayani kendaraan
penumpang umum untuk angkutan antarkota dalam
provinsi (AKDP), angkutan kota (AK), serta angkutan
perdesaan (ADES).
Ayat (5)
Yang dimaksud dengan terminal barang adalah Tempat
untuk melakukan kegiatan bongkar muat barang,
perpindahan intramoda dan antarmoda angkutan barang,
konsolidasi barang/pusat kegiatan logistik, dan/atau tempat
parkir mobil barang.
Ayat (6)
Yang dimaksud dengan jembatan timbang adalah Alat dan
tempat yang digunakan untuk pengawasan dan pengamanan
jalan dengan menimbang muatan kendaraan angkutan.
Ayat (7)
Cukup jelas
Pasal 11
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan jaringan jalur kereta api adalah
seluruh jalur kereta api yang terkait satu sama lain yang
menghubungkan berbagai tempat sehingga merupakan satu
sistem. Jaringan jalur Kereta Api termasuk kereta rel listrik,
kereta bawah tanah, monorel, dan lain-lain.
-169-
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas
Pasal 12
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan Alur-Pelayaran Sungai dan Alur-
Pelayaran Danau adalah Perairan sungai dan danau, muara
sungai, alur yang menghubungkan 2 (dua) atau lebih antar
muara sungai yang merupakan satu kesatuan alur pelayaran
sungai yang dari segi kedalaman, lebar, dan bebas hambatan
pelayaran lainnya dianggap aman dan selamat untuk
dilayari.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan Lintas Penyeberangan Antar provinsi
adalah Suatu alur perairan di sungai dan/atau danau yang
ditetapkan sebagai lintas penyeberangan antarprovinsi yang
menghubungkan antarjaringan jalan nasional dan
antarjaringan jalur kereta api antarprovinsi.
Ayat (4)
Yang dimaksud dengan Lintas Penyeberangan Antar
kabupaten/ Kota dalam Provinsi adalah Suatu alur perairan
di sungai dan/atau danau yang ditetapkan sebagai lintas
penyeberangan antarkabupaten/kota yang menghubungkan
antarjaringan jalan provinsi dan jaringan jalur kereta api
dalam provinsi.
Ayat (5)
Yang dimaksud dengan Pelabuhan Sungai dan Danau adalah
Pelabuhan yang digunakan untuk melayani angkutan sungai
yang terletak di sungai dan danau.
Ayat (6)
Yang dimaksud dengan Pelabuhan Penyeberangan adalah
Pelabuhan yang digunakan untuk kegiatan angkutan
penyeberangan.
Ayat (7)
Cukup jelas
Pasal 13
Ayat (1)
Cukup jelas
-170-
Ayat (2)
Huruf a
Yang dimaksud dengan pelabuhan utama adalah
Pelabuhan yang fungsi pokoknya melayani kegiatan
angkutan laut dalam negeri dan internasional, alih
muat angkutan laut dalam negeri dan internasional
dalam jumlah besar, dan sebagai tempat asal tujuan
penumpang dan/atau barang, serta angkutan
penyeberangan dengan jangkauan pelayanan
antarprovinsi.
Huruf b
Yang dimaksud dengan pelabuhan pengumpan
adalah Pelabuhan yang fungsi pokoknya melayani
kegiatan angkutan laut dalam negeri, alih muat
angkutan laut dalam negeri dalam jumlah terbatas,
merupakan pengumpan bagi pelabuhan utama dan
pelabuhan pengumpul, dan sebagai tempat asal
tujuan penumpang dan/atau barang, serta angkutan
penyeberangan dengan jangkauan pelayanan dalam
provinsi.
Huruf c
Yang dimaksud dengan pelabuhan pengumpan
regional adalah Pelabuhan yang fungsi pokoknya
melayani kegiatan angkutan laut dalam negeri, alih
muat angkutan laut dalam negeri dalam jumlah
terbatas, merupakan pengumpan bagi Pelabuhan
Utama dan Pelabuhan Pengumpul, dan sebagai
tempat asal tujuan penumpang dan/atau barang,
serta angkutan penyeberangan dengan jangkauan
pelayanan antarkabupaten/ kota dalam provinsi.
Huruf d
Yang dimaksud dengan pelabuhan pengumpan lokal
adalah Pelabuhan yang fungsi pokoknya melayani
kegiatan angkutan laut dalam negeri, alih muat
angkutan laut dalam negeri dalam jumlah terbatas,
merupakan pengumpan bagi Pelabuhan Utama dan
Pelabuhan Pengumpul, dan sebagai tempat asal
tujuan penumpang dan/atau barang, serta angkutan
penyeberangan dengan jangkauan pelayanan dalam
kabupaten/kota.
Huruf e
Cukup jelas
Ayat (3)
Huruf a
Yang dimaksud dengan Pelabuhan Perikanan
Samudera (PPS) adalah Tempat yang terdiri atas
daratan dan perairan di sekitarnya dengan batas-
batas tertentu sebagai tempat kegiatan
pemerintahan dan kegiatan sistem bisnis perikanan
-171-
yang digunakan sebagai tempat kapal perikanan
bersandar, berlabuh, dan/atau bongkar muat ikan
yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan
pelayaran dan kegiatan penunjang perikanan kelas
A.
Huruf b
Yang dimaksud dengan Pelabuhan Perikanan
Nusantara (PPN) adalah Tempat yang terdiri atas
daratan dan perairan di sekitarnya dengan batas-
batas tertentu sebagai tempat kegiatan
pemerintahan dan kegiatan sistem bisnis perikanan
yang digunakan sebagai tempat kapal perikanan
bersandar, berlabuh, dan/atau bongkar muat ikan
yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan
pelayaran dan kegiatan penunjang perikanan kelas
B.
Huruf c
Yang dimaksud dengan Pelabuhan Perikanan Pantai
(PPP) adalah Tempat yang terdiri atas daratan dan
perairan di sekitarnya dengan batas-batas tertentu
sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan
sistem bisnis perikanan yang digunakan sebagai
tempat kapal perikanan bersandar, berlabuh,
dan/atau bongkar muat ikan yang dilengkapi dengan
fasilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan
penunjang perikanan kelas C.
Huruf d
Yang dimaksud dengan Pangkalan Pendaratan Ikan
(PPI) adalah Tempat yang terdiri atas daratan dan
perairan di sekitarnya dengan batas-batas tertentu
sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan
sistem bisnis perikanan yang digunakan sebagai
tempat kapal perikanan bersandar, berlabuh,
dan/atau bongkar muat ikan yang dilengkapi dengan
fasilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan
penunjang perikanan kelas D.
Ayat (4)
Yang dimaksud dengan Alur Pelayaran Masuk Pelabuhan
adalah Jalur yang menghubungkan masuk ke wilayah
perairan dan masuk ke pelabuhan. Alur-Pelayaran Masuk
Pelabuhan dapat berupa Alur Laut Kepulauan Indonesia.
Ayat (5)
Daerah Lingkungan Kerja (DLKr) merupakan daerah yang
dikuasai oleh penyelenggara pelabuhan yang digunakan
untuk pelaksanaan pembangunan, pengembangan dan
pengoperasian fasilitas pelabuhan.
Daerah Lingkungan Kepentingan (DLKp) merupakan daerah
di luar lingkungan kerja pelabuhan yang digunakan untuk
-172-
menjamin keselamatan dan keamanan pelayaran, serta
kelancaran aksesibilitas penumpang dan barang.
Ayat (6)
Cukup jelas
Pasal 14
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan bandar udara pengumpul adalah
Bandar udara yang mempunyai cakupan pelayanan yang
luas dari berbagai bandar udara yang melayani penumpang
dan/atau kargo dalam jumlah besar dan mempengaruhi
perkembangan ekonomi secara nasional atau berbagai
provinsi.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan bandar udara pengumpan adalah
Bandar udara yang mempunyai cakupan pelayanan dan
mempengaruhi perkembangan ekonomi terbatas.
Ayat (4)
Cukup jelas
Pasal 15
Cukup jelas
Pasal 16
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan Infrastruktur Minyak dan Gas Bumi
adalah Prasarana utama yang mendukung seluruh
kebutuhan minyak dan gas bumi, di permukaan tanah atau
di bawah permukaan tanah.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan Jaringan Minyak dan Gas Bumi
adalah Jaringan yang mendukung seluruh kebutuhan
minyak dan gas bumi di permukaan tanah atau di bawah
permukaan tanah, termasuk jaringan pipa/kabel bawah
laut.
Ayat (4)
Cukup jelas
-173-
Pasal 17
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan Infrastruktur Pembangkitan Tenaga
Listrik dan Sarana Pendukung adalah Prasarana yang
berkaitan dengan kegiatan memproduksi tenaga listrik dan
sarana pendukungnya.
Ayat (3)
Huruf a
Yang dimaksud dengan Jaringan Transmisi Tenaga
Listrik Antarsistem Jaringan yang menyalurkan
tenaga listrik dari pembangkit ke sistem distribusi.
Huruf b
Yang dimaksud dengan Jaringan Distribusi Tenaga
Listrik adalah Jaringan yang menyalurkan tenaga
listrik dari sistem transmisi atau dari pembangkitan
ke konsumen.
Huruf c
Cukup jelas
Huruf d
Yang dimaksud dengan Jaringan Pipa/Kabel Bawah
Laut Penyaluran Tenaga Listrik adalah Jaringan
tabung berongga dengan diameter dan panjang
bervariasi serta kabel untuk penyaluran tenaga
listrik yang terletak/tertanam di bagian bawah laut.
Huruf e
Yang dimaksud dengan Gardu Listrik adalah
Bangunan sebagai tempat distribusi arus listrik.
Ayat (4)
Cukup jelas
Pasal 18
Ayat (1)
Cukup Jelas
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan jaringan tetap adalah Satu kesatuan
penyelenggaraan jaringan telekomunikasi untuk layanan
telekomunikasi tetap, termasuk pipa/kabel bawah laut
untuk telekomunikasi dan mitigasi bencana.
Ayat (3)
Jaringan bergerak dapat dibangun di atas tanah dan/atau
bangunan dengan mempertimbangkan standar keamanan
yang dipersyaratkan.
-174-
Menara telekomunikasi yang didirikan di atas bangunan
harus mengikuti aturan bangunan gedung.
Ayat (4)
Pendekatan keamanan dilakukan dengan
mempertimbangkan kekuatan dan risiko jika terjadi bencana
alam dan kontruksi.
Pendekatan estetika dilakukan melalui mengintegrasikan
bentuk menara telekomunikasi dengan keserasian dan
keindahan lingkungan sekitar.
Pemanfaatan menara telekomunikasi bersama adalah
penggunaan 1 (satu) menara oleh beberapa operator telepon
nirkabel, dilakukan sesuai ketentuan Pemerintah.
Ayat (5)
Cukup Jelas
Ayat (6)
Cukup Jelas
Pasal 19
Cukup jelas
Pasal 20
Yang dimaksud dengan sistem jaringan irigasi adalah Bangunan
air beserta bangunan lain yang menunjang kegiatan pengelolaan
sumber daya air, baik langsung maupun tidak langsung.
Pasal 21
Yang dimaksud dengan sistem jaringan air bersih adalah Jaringan
penyaluran air bersih yang tidak digunakan untuk keperluan air
minum, termasuk pipa/kabel bawah laut air bersih yang
digunakan untuk kebutuhan water treatment yang ada di laut.
Pasal 22
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan jaringan pengendali banjir adalah
Jaringan yang dapat memperlambat waktu tiba banjir dan
menurunkan besarnya debit banjir.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan bangunan pengendali banjir adalah
Bangunan yang dapat memperlambat waktu tiba banjir dan
menurunkan besarnya debit banjir.
Ayat (4)
Cukup jelas
-175-
Pasal 23
Yang dimaksud dengan bangunan sumber daya air adalah
Bangunan yang menunjang kegiatan pengelolaan air, sumber air,
dan daya air yang terkandung di dalamnya. Termasuk di dalamnya
bangunan water treatment.
Pasal 24
Cukup jelas
Pasal 25
Cukup jelas
Pasal 26
Yang dimaksud dengan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM)
adalah Satu kesatuan sarana dan prasarana penyediaan air
minum.
Pasal 27
Yang dimaksud dengan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domentik
(SPALD) adalah Satu kesatuan sarana dan prasarana pengelolaan
air limbah.
Pasal 28
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan Sistem Jaringan Persampahan
adalah Satu kesatuan sarana dan prasarana yang
mendukung kegiatan pengelolaan sampah meliputi
pengurangan dan penanganan sampah.
Ayat (2)
Cukup jelas
Pasal 29
Rencana pola ruang wilayah Provinsi adalah rencana distribusi
peruntukan ruang wilayah Provinsi yang meliputi peruntukan
ruang untuk fungsi lindung dan fungsi budi daya yang
digambarkan dengan kerincian peta skala RTRW Provinsi.
Pasal 30
Kawasan peruntukan lindung Provinsi adalah kawasan
peruntukan lindung yang secara ekologis merupakan satu
ekosistem yang terletak lebih dari satu wilayah kabupaten/kota
atau kawasan peruntukan lindung dalam wilayah suatu
kabupaten/kota yang memberikan perlindungan terhadap
kawasan bawahannya yang terletak di wilayah kabupaten/kota
lain, atau kawasan-kawasan lindung lain yang menurut ketentuan
peraturan perundang-undangan pengelolaannya merupakan
kewenangan pemerintah Provinsi
Pasal 31
Cukup jelas
-176-
Pasal 32
Cukup jelas
Pasal 33
Cukup jelas
Pasal 34
Cukup jelas
Pasal 35
Cukup jelas
Pasal 36
Cukup jelas
Pasal 37
Cukup jelas
Pasal 38
Cukup jelas
Pasal 39
Cukup jelas
Pasal 40
Cukup jelas
Pasal 41
Cukup jelas
Pasal 42
Cukup jelas
Pasal 43
Cukup jelas
Pasal 44
Cukup jelas
Pasal 45
Cukup jelas
Pasal 46
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan kawasan peruntukan industri adalah
Bentangan lahan yang diperuntukkan bagi kegiatan Industri
berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah yang ditetapkan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
-177-
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan kawasan industri adalah kawasan
tempat pemusatan kegiatan Industri yang dilengkapi dengan
sarana dan prasarana penunjang yang dikembangkan dan
dikelola oleh Perusahaan Kawasan Industri
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 47
Cukup jelas
Pasal 48
Cukup jelas
Pasal 49
Cukup jelas
Pasal 50
Cukup jelas
Pasal 51
Cukup jelas
Pasal 52
Yang dimaksud dengan kawasan strategis provinsi adalah bagian
wilayah provinsi yang diprioritaskan karena mempunyai pengaruh
sangat penting dalam lingkup wilayah provinsi di bidang ekonomi,
sosial budaya, sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi
dan/atau lingkungan hidup.
Pasal 53
Cukup jelas
Pasal 54
Cukup jelas
Pasal 55
Cukup jelas
Pasal 56
Cukup jelas
Pasal 57
Cukup jelas
Pasal 58
Cukup jelas
-178-
Pasal 59
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Huruf a
SPPR Jangka Menengah 5 (lima) Tahunan adalah
rencana terpadu yang disusun dengan
menyelaraskan indikasi program utama RTR dengan
program sektoral dan kewilayahan dalam dokumen
rencana pembangunan.
Huruf b
SPPR Jangka Pendek 1 (satu) Tahunan adalah
rencana terpadu yang merupakan turunan dari SPPR
Jangka Menengah 5 (lima) Tahunan yang disusun
untuk menghasilkan prioritas program Pemanfaatan
Ruang.
Ayat (3)
Cukup jelas
Pasal 60
Cukup jelas
Pasal 61
Indikasi arahan zonasi ditetapkan sebagai acuan pemanfaatan
ruang dalam wilayah provinsi.
Pasal 62
Cukup jelas
Pasal 63
Cukup jelas
Pasal 64
Cukup jelas
Pasal 65
Cukup jelas
Pasal 66
Cukup jelas
Pasal 67
Cukup jelas
Pasal 68
Cukup jelas
-179-
Pasal 69
Cukup jelas
Pasal 70
Cukup jelas
Pasal 71
Cukup jelas
Pasal 72
Cukup jelas
Pasal 73
Cukup jelas
Pasal 74
Cukup jelas
Pasal 75
Cukup jelas
Pasal 76
Cukup jelas
Pasal 77
Cukup jelas
Pasal 78
Cukup jelas
Pasal 79
Cukup jelas
Pasal 80
Cukup jelas
Pasal 81
Cukup jelas
Pasal 82
Cukup jelas
Pasal 83
Cukup jelas
Pasal 84
Cukup jelas
Pasal 85
Cukup jelas
-180-
Pasal 86
Cukup jelas
Pasal 87
Cukup jelas
Pasal 88
Cukup jelas
Pasal 89
Cukup jelas
Pasal 90
Cukup jelas
Pasal 91
Cukup jelas
Pasal 92
Cukup jelas
Pasal 93
Cukup jelas
Pasal 94
Cukup jelas
Pasal 95
Cukup jelas
Pasal 96
Cukup jelas
Pasal 97
Cukup jelas
Pasal 98
Cukup jelas
Pasal 99
Cukup jelas
Pasal 100
Cukup jelas
Pasal 101
Cukup jelas
Pasal 102
Cukup jelas
-181-
Pasal 103
Cukup jelas
Pasal 104
Cukup jelas
Pasal 105
Cukup jelas
Pasal 106
Cukup jelas
Pasal 107
Cukup jelas
Pasal 108
Cukup jelas
Pasal 109
Cukup jelas
Pasal 110
Cukup jelas
Pasal 111
Cukup jelas
Pasal 112
Cukup jelas
Pasal 113
Cukup jelas
Pasal 114
Cukup jelas
Pasal 115
Ayat (1)
Cukup Jelas
Ayat (2)
Pelaksanaan peninjauan kembali RTRW Provinsi
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
Ayat (3)
Cukup Jelas.
Pasal 116
Cukup jelas
-182-
Pasal 117
Cukup jelas
Pasal 118
Ayat (1)
Cukup Jelas
Ayat (2)
Cukup Jelas
Ayat (3)
Fasilitas pendukung program sistem jaringan prasarana
dapat menyatu atau terpisah dengan lokasi jaringan
prasarana.
Ayat (4)
Lokasi masih bersifat Indikatif adalah lokasi yang belum
presisi, karena masih membutuhkan kajian lebih rinci
dan/atau teknis.
Ayat (5)
Cukup Jelas
Pasal 119
Cukup jelas
Pasal 120
Cukup jelas
-183-
LAMPIRAN I: PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH
NOMOR ... TAHUN ... TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH
PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2023-2043
-176-
LAMPIRAN II: PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH
NOMOR ... TAHUN ... TENTANG RENCANA TATA
RUANG WILAYAH PROVINSI JAWA TENGAH
TAHUN 2023-2043
-177-
LAMPIRAN III: PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH
NOMOR ... TAHUN ... TENTANG RENCANA TATA
RUANG WILAYAH PROVINSI JAWA TENGAH
TAHUN 2023-2043
-178-
LAMPIRAN IV: PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH
NOMOR ... TAHUN ... TENTANG RENCANA TATA
RUANG WILAYAH PROVINSI JAWA TENGAH
TAHUN 2023-2043
-179-
LAMPIRAN V: PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH
NOMOR ... TAHUN ... TENTANG RENCANA TATA
RUANG WILAYAH PROVINSI JAWA TENGAH
TAHUN 2023-2043
-180-
LAMPIRAN VI: PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH
NOMOR ... TAHUN ... TENTANG RENCANA TATA
RUANG WILAYAH PROVINSI JAWA TENGAH
TAHUN 2023-2043
-181-
LAMPIRAN VII: PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH
NOMOR ... TAHUN ... TENTANG RENCANA TATA
RUANG WILAYAH PROVINSI JAWA TENGAH
TAHUN 2023-2043
-182-
LAMPIRAN VIII: PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH
NOMOR ... TAHUN ... TENTANG RENCANA TATA
RUANG WILAYAH PROVINSI JAWA TENGAH
TAHUN 2023-2043
-183-
LAMPIRAN XI: PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH
NOMOR ... TAHUN ... TENTANG RENCANA TATA
RUANG WILAYAH PROVINSI JAWA TENGAH
TAHUN 2023-2043
-184-
LAMPIRAN X: PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH
NOMOR ... TAHUN ... TENTANG RENCANA TATA
RUANG WILAYAH PROVINSI JAWA TENGAH
TAHUN 2023-2043
-185-
-186-
LAMPIRAN XI: PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH
NOMOR ... TAHUN ... TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH
PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2023-2043
Matriks Pengaturan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (KKPRL) Provinsi Jawa Tengah
A. Zona Pariwisata
187
Rencana Lokasi Koordinat Pemanfaatan Ruang
Kode Luas Ketentuan
Pola Kegiatan Kabupaten/ Longitude Latitude Diperbolehkan dengan
Perairan Toponimi (Ha) Diperbolehkan Tidak Diperbolehkan Khusus
Ruang Kota (X) (Y) Syarat
Zona Wisata ▪ Usaha jasa ▪ Latihan militer; logam, batuan, batu bara,
KPU- Kab. 109° 48' 6° 53' perjalanan mineral radioaktif;
pariwisata Budaya 10,64 ▪ Kegiatan pengambilan
W-11 Batang 0,900" E 24,603" S wisata;
Makam dan pemanfaatan air laut ▪ Pengerukan perairan
▪ Usaha wisata selain energi; dengan capital dredging;
Zona KPU- Kab. Pantai 109° 56' 6° 54'
46,22 berenang; ▪ Pembangunan Pelabuhan ▪ Pengerukan perairan laut
pariwisata W-12 Batang Celong 28,584" E 51,744" S
▪ Jasa wisata Perikanan; dengan capital dredging
Zona KPU- Kab. Pantai 109° 56' 6° 55' 0,265" tirta (bahari); yang memotong material
4,48 ▪ Pembangunan TPI;
pariwisata W-13 Batang Celong 38,946" E S karang dan/atau batu;
▪ Pengambilan ▪ Pembangunan Pelabuhan
Zona Pantai foto/video Laut; ▪ Eksploitasi (Operasi
KPU- Kab. 110° 3' 6° 54' 0,813"
pariwisata Sendang 3,69 bawah laut; Produksi) mineral logam;
W-14 Kendal 32,041" E S ▪ Kegiatan pengembangan
Sikucing ▪ Pembangunan ▪ Pengolahan dan pemurnian
Pembangkit Listrik Tenaga
Zona Pantai Fasilitas Arus Laut (PLTAL)/ mineral logam;
KPU- Kab. 110° 3' 6° 54' 0,149" umum;
pariwisata Sendang 44,01 Pembangkit Listrik Tenaga ▪ Pemasangan fasilitas turbin
W-15 Kendal 47,392" E S
Sikucing Gelombang Laut (PLTGL); generator energi;
Zona KPU- Kab. Pantai Muara 110° 9' 6° 51' ▪ Pembangunan PLTU / ▪ Pembangunan, pemindahan
18,07 PLTGU; dan/atau pembongkaran
pariwisata W-16 Kendal Kencana 41,242" E 33,051" S
▪ Pembangunan bangunan dan instalasi;
Zona KPU- Kota Pantai 110° 18' 6° 55'
7,22 pembangkitan, transmisi, ▪ Penetapan tempat alih muat
pariwisata W-17 Semarang Ngebom 7,159" E 34,841" S
distribusi dan penjualan antar kapal;
Zona KPU- Kota 110° 23' 6° 56' tenaga listrik; ▪ Pembangunan kolam
Pantai Marina 13,15
pariwisata W-18 Semarang 18,951" E 56,748" S ▪ Usaha pembudidayaan pelabuhan untuk kebutuhan
Zona KPU- Kab. Wisata 110° 28' 6° 55' 8,628" semua jenis ikan; sandar dan oleh gerak
22,31 kapal;
pariwisata W-19 Demak Mangrove 32,723" E S ▪ Usaha budidaya
Zona KPU- Kab. Wisata 110° 28' 6° 54' perikanan terapung ▪ Pembangunan terminal peti
35,31 (karamba jaring apung); kemas;
pariwisata W-20 Demak Mangrove 46,583" E 49,572" S
▪ Pengangkutan ikan hasil ▪ Pembangunan terminal
Zona KPU- Pantai Wisata 110° 38' 6° 36' budidaya dengan kapal curah kering;
Kab. Jepara 8,39
pariwisata W-21 Teluk Awur 47,577" E 58,943" S nelayan kecil; ▪ Pembangunan terminal
Zona KPU- Wisata Pulau 110° 37' 6° 34' ▪ Penangkapan ikan curah cair;
Kab. Jepara 4,50
pariwisata W-22 Panjang 54,240" E 35,950" S dengan kapal ukuran ≤ 5 ▪ Pembangunan terminal
Zona KPU- 110° 39' 6° 34' GT; Roro;
Kab. Jepara Pantai Mbud 4,16 ▪ Penangkapan ikan
pariwisata W-23 39,070" E 28,715" S ▪ Pembangunan tempat
menggunakan jaring tarik: perbaikan kapal;
Zona KPU- Pantai 110° 39' 6° 33' 7,365"
Kab. Jepara 29,57 jaring pantai, payang, ▪ Penempatan kapal mati;
pariwisata W-24 Bandengan 5,689" E S
jaring tarik berkantong;
Zona KPU- Pantai 110° 39' 6° 32' ▪ Penetapan alur pelayaran
Kab. Jepara 29,87 ▪ Penangkapan ikan dari dan ke pelabuhan
pariwisata W-25 Pungkruk 34,510" E 36,158" S menggunakan perangkap: perikanan;
Zona KPU- 110° 40' 6° 30' 2,050" setnet, bubu, bubu
Kab. Jepara Pantai Blebak 44,22 ▪ Uji coba kapal;
pariwisata W-26 10,356" E S
188
Rencana Lokasi Koordinat Pemanfaatan Ruang
Kode Luas Ketentuan
Pola Kegiatan Kabupaten/ Longitude Latitude Diperbolehkan dengan
Perairan Toponimi (Ha) Diperbolehkan Tidak Diperbolehkan Khusus
Ruang Kota (X) (Y) Syarat
Zona KPU- 110° 41' 6° 29' bersayap, pukat labuh, ▪ Usaha pelayanan perbaikan
Kab. Jepara Pantai Pailus 57,79 sero; dan pemeliharaan kapal
pariwisata W-27 15,349" E 45,138" S
▪ Penangkapan ikan perikanan;
Zona KPU- Pantai Empu 110° 41' 6° 29' 0,247"
Kab. Jepara 36,42 menggunakan pancing: ▪ Usaha pelayanan logistik
pariwisata W-28 Rancak 35,750" E S
pancing ulur, pancing perbekalan kapal perikanan;
Zona KPU- Pantai 110° 52' 6° 24' berjoran, pancing cumi, ▪ Pembangunan dermaga
Kab. Jepara 34,35
pariwisata W-29 Bandungharjo 3,971" E 21,458" S pancing cumi mekanis; perikanan;
Zona Wisata Pantai ▪ Usaha wisata ekstrim ▪ Usaha bongkar muat
KPU- 110° 54' 6° 24' (beresiko tinggi);
pariwisata Kab. Jepara dan Wisata 36,27 barang: pengemasan,
W-30 40,580" E 14,028" S
Sejarah ▪ Usaha villa (cottage) di penumpukan, dan
Zona KPU- Wisata Pulau 110° 55' 6° 23' 0,919" atas laut; penyimpanan di pelabuhan;
Kab. Jepara 6,84 ▪ Survei dan/atau penelitian ▪ Pengoperasian pelabuhan
pariwisata W-31 Mandalika 6,909" E S
ilmiah; pengumpan regional dan
Zona KPU- Kab. Pantai 111° 14' 6° 41' lokal;
30,85 ▪ Penelitian dan
pariwisata W-32 Rembang Tunggulsari 35,363" E 21,239" S
pengembangan ▪ Pengerukan di wilayah
Zona Taman perikanan; perairan Pelabuhan
KPU- Kab. 111° 20' 6° 42' 0,950"
pariwisata Rekreasi 16,00 ▪ Pembangunan sarana Pengumpan Regional dan
W-33 Rembang 49,928" E S
Pantai Kartini bantu navigasi pelayaran Lokal;
Zona Taman (SBNP); ▪ Usaha angkutan laut badan
KPU- Kab. 111° 21' 6° 42' 7,439" usaha pada lintas
pariwisata Rekreasi 46,34 ▪ Penetapan tambat labuh;
W-34 Rembang 0,139" E S pelabuhan antar Kab/Kota
Pantai Kartini ▪ Pembangunan tanggul
dan/atau bangunan dalam Provinsi;
Zona KPU- Kab. Pantai 111° 24' 6° 41' 6,861"
43,33 pelindung pantai; ▪ Usaha angkutan laut
pariwisata W-35 Rembang Karangjahe 39,555" E S
▪ Pembangunan breakwater pelayaran rakyat atau badan
Zona KPU- Kab. Pantai Wisata 111° 25' 6° 40' usaha pada lintas
98,73 (pemecah gelombang);
pariwisata W-36 Rembang Caruban 56,051" E 27,714" S pelabuhan antar Kab/Kota
▪ Pembangunan turap dalam, antar provinsi dan
Zona Pantai Indah (revertment),
KPU- Kab. 111° 36' 6° 40' pelabuhan internasional;
pariwisata Balongan, 133,86 pembangunan groin;
W-37 Rembang 29,359" E 46,386" S
Area Ranjau ▪ Usaha jasa angkutan
▪ Pembangunan dan perairan pelabuhan;
Zona Pantai pengoperasian jetty;
KPU- Kab. 111° 41' 6° 45' 2,794" ▪ Usaha jasa penyewaan
pariwisata Perbatasan, 14,11 ▪ Kegiatan riset atau survei
W-38 Rembang 18,707" E S peralatan angkutan laut;
Area Ranjau hidrografi oleh kapal
asing; ▪ Penetapan rute pelayaran
Zona KPU- Kab. Pantai 110° 54' 8° 12'
2,00 internasional;
pariwisata W-39 Wonogiri Nampu 11,225" E 39,953" S ▪ Kegiatan berlabuh jangkar
kecuali dalam keadaan ▪ Kegiatan bongkar muat oleh
Zona KPU- Kab. 110° 53' 8° 12' kapal asing;
Pantai Waru 2,66 force majeure oleh kapal
pariwisata W-40 Wonogiri 49,554" E 42,316" S
asing; ▪ Usaha pelayanan jasa
Zona KPU- Kab. Pantai 110° 50' 8° 12' pemanduan kapal;
8,80
pariwisata W-41 Rembang Sembukan 47,852" E 17,267" S
189
Rencana Lokasi Koordinat Pemanfaatan Ruang
Kode Luas Ketentuan
Pola Kegiatan Kabupaten/ Longitude Latitude Diperbolehkan dengan
Perairan Toponimi (Ha) Diperbolehkan Tidak Diperbolehkan Khusus
Ruang Kota (X) (Y) Syarat
Zona Pantai ▪ Pembangunan Fasilitas ▪ Pembangunan dan
pariwisata KPU- Kab. Jatimalang, 109° 58' 7° 52' Infrastruktur (Saluran pengoperasian terminal
24,30 Primer, Sekunder dan khusus;
W-42 Purworejo Migrasi Biota 53,662" E 54,013" S
Penyu pantai air) ▪ Konstruksi pertambangan
▪ Kegiatan membantu garam;
Zona KPU- Kab. Pantai 109° 53' 7° 51' 6,766"
30,32 pekerjaan teknis terhadap ▪ Industri pergaraman;
pariwisata W-43 Purworejo Ketawang 4,033" E S
kapal-kapal yang masih ▪ Kegiatan pengumpulan,
Zona KPU- Kab. Pantai 109° 53' 7° 50' mengapung tetapi sedang
66,17 pemanfaatan, pengolahan,
pariwisata W-44 Purworejo Ketawang 7,480" E 55,502" S mendapat malapetaka; pembuangan dan
Zona KPU- Kab. Pantai 109° 34' 7° 46' ▪ Penarikan (towing); penimbunan limbah B3;
52,35
pariwisata W-45 Kebumen Petanahan 49,952" E 39,113" S ▪ Pengapungan (refloating); ▪ Kegiatan pengumpulan,
Zona KPU- Kab. 109° 28' 7° 45' ▪ Kegiatan pengerukan pemanfaatan, pengolahan,
Pantai Suwuk 2,16 sedimentasi di laut dalam pembuangan dan
pariwisata W-46 Kebumen 24,436" E 37,624" S
rangka normalisasi muara penimbunan limbah non B3;
Zona KPU- Kab. 109° 28' 7° 45' sungai;
Pantai Suwuk 11,13 ▪ Kegiatan industri galangan
pariwisata W-47 Kebumen 15,871" E 36,451" S
▪ Pemungutan hasil hutan kapal dengan system
Zona Pantai bukan kayu pada hutan Graving Dock Kapal;
KPU- Kab. 109° 28' 7° 45'
pariwisata Karang 3,91 mangrove (madu, getah, ▪ Pembangunan industri yang
W-48 Kebumen 2,466" E 34,223" S
Bolong daun, buah, biji, tannin, terintegrasi dengan
Zona KPU- Kab. Pantai 109° 24' 7° 46' ikan, hasil hutan bukan pelabuhan;
12,87 kayu lainnya);
pariwisata W-49 Kebumen Menganti 38,280" E 22,514" S ▪ Kegiatan pembuatan
▪ Mitigasi bencana dan kapal/alat terapung saja;
Zona KPU- Kab. Pantai 109° 23' 7° 43'
0,45 kondisi bahaya di laut ▪ Kegiatan perbaikan atau
pariwisata W-50 Kebumen Logending 31,078" E 41,399" S
termasuk penanaman pemeliharaan kapal atau
Zona Pantai vegetasi pantai. alat-alat terapung saja;
KPU- Kab. 109° 2' 7° 42'
pariwisata Kamulyan, 2,11 ▪ Kegiatan lain yang tidak
W-51 Cilacap 35,427" E 27,480" S ▪ Kegiatan pembuatan
Area Ranjau mengubah fungsi mesing-mesin
Zona KPU- Kab. Pantai 109° 2' 7° 42' kawasan atau zona. utama/pembantu;
36,92
pariwisata W-52 Cilacap Kamulyan 15,573" E 42,590" S ▪ Kegiatan pembuatan alat-
Zona Kab. Zona 110° 26' 6° 56' alat perlengkapan lain yang
U1 89,03
pariwisata Kebumen Pariwisata 51,395" E 18,070" S khusus dipergunakan dalam
kapal;
Zona Kab. Zona 110° 20' 6° 57'
U1 415,17 ▪ Kegiatan pembuatan alat-
pariwisata Kebumen Pariwisata 6,048" E 30,656" S
alat maritim lainnya;
Zona G2 Kab. Zona 3,08 110° 3' 6° 54'
▪ Kegiatan pekerjaan
pariwisata Kendal Pariwisata 42,763" E 10,131" S
penyelaman (diving works);
▪ Kegiatan pemindahan
muatan dan atau bahan
190
Rencana Lokasi Koordinat Pemanfaatan Ruang
Kode Luas Ketentuan
Pola Kegiatan Kabupaten/ Longitude Latitude Diperbolehkan dengan
Perairan Toponimi (Ha) Diperbolehkan Tidak Diperbolehkan Khusus
Ruang Kota (X) (Y) Syarat
bakar (cargo and fuel
transferring);
▪ Pengintroduksian
organisme hasil rekayasa
genetik ke lingkungan;
▪ Pembangunan stasiun
pengisian bahan bakar
nelayan;
▪ Pemungutan/penebangan
hasil hutan kayu pada
hutan mangrove;
▪ Pengambilan terumbu
karang;
▪ Pelatihan perang dengan
menggunakan amunisi oleh
kapal asing;
▪ Kegiatan reklamasi;
▪ Kegiatan lainnya yang
mengurangi nilai dan/atau
fungsi kawasan atau zona.
191
B. Zona Pelabuhan Laut
192
Rencana Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas Ketentuan
pola Kegiatan Perairan Kabupaten/ Longitude Latitude
Zona Toponimi (Ha) Diperbolehkan Diperbolehkan dengan Syarat Tidak Diperbolehkan khusus
ruang Kota (X) (Y)
Pelabuhan 6° 50' ▪ Pembangunan distribusi dan penjualan ▪ Eksploitasi (Operasi
KPU- Industri Baja 110° 11' terminal curah tenaga listrik; Produksi) mineral logam;
Laut Kab. Kendal 354,19 35,431"
PL-11 Seafer 26,785" E kering; ▪ Pembangunan fasilitas ▪ Pengolahan dan pemurnian
S
▪ Pembangunan umum; mineral logam;
Pelabuhan Pelabuhan 6° 51' terminal curah ▪ Latihan militer; ▪ Kegiatan pengumpulan,
KPU- Kota 110° 20'
Laut Umum 22.803,24 22,017" cair; ▪ Kegiatan pengambilan pemanfaatan, pengolahan,
PL-12 Semarang 0,131" E
Tanjung Emas S ▪ Pembangunan dan pemanfaatan air laut pembuangan dan
Pelabuhan Pelabuhan 6° 55' terminal Roro; selain energi; penimbunan limbah non B3;
KPU- Kota 110° 18' ▪ Pembangunan ▪ Usaha dermaga wisata; ▪ Kegiatan pengumpulan,
Laut Umum 537,34 23,698"
PL-13 Semarang 34,114" E tempat perbaikan ▪ Wisata edukasi; pemanfaatan, pengolahan,
Tanjung Emas S
kapal; ▪ Usaha kegiatan hiburan pembuangan dan
Pelabuhan Pelabuhan 6° 51'
KPU- Kota 110° 25' ▪ Penempatan dan rekreasi; penimbunan limbah B3;
Laut Umum 2.560,90 48,429"
PL-14 Semarang 37,224" E kapal mati; ▪ Usaha angkutan laut ▪ Penelitian dan
Tanjung Emas S
▪ Usaha bongkar wisata dalam negeri; pengembangan perikanan;
Pelabuhan Pelabuhan muat barang: ▪ Usaha angkutan laut ▪ Kegiatan pengujian kapal
KPU- Kota 110° 25' 6° 53'
Laut Umum 16,38 pengemasan, wisata internasional; perikanan/perahu ikan
PL-15 Semarang 40,576" E 1,869" S
Tanjung Emas penumpukan dan ▪ Survei dan/atau penelitian bermotor;
Pelabuhan Pelabuhan 6° 55' penyimpanan di ilmiah; ▪ Pengelolaan dan pemurnian
KPU- Kota 110° 26' pelabuhan; ▪ Pengerukan perairan mineral logam;
Laut UmumTanjung 697,31 39,218"
PL-16 Semarang 0,448" E ▪ Usaha tally dengan capital dredging; ▪ Pemasangan fasilitasi turbin
Emas S
mandiri: kegiatan ▪ Pengerukan dalam rangka generator energi;
Pelabuhan Pelabuhan 6° 56' cargo doring, normalisasi alur pelayaran ▪ Pembangunan TPI;
KPU- Kota 110° 25'
Laut Umum 136,93 26,973" receiving/delivery, dan kolam pelabuhan di ▪ Usaha pelayanan perbaikan
PL-17 Semarang 14,494" E
Tanjung Emas S stuffing dan wilayah perairan dan pemeliharaan kapal
Pelabuhan Pelabuhan 6° 55' stripping peti pelabuhan utama, perikanan;
KPU- Kota 110° 25' kemas bagi pengumpul, pengumpan ▪ Usaha pelayanan logistik
Laut Umum 11,86 42,864"
PL-18 Semarang 42,419" E kepentingannya regional dan lokal; dan perbekalan kapal
Tanjung Emas S
sendiri; ▪ Pengerukan perairan laut perikanan;
Pelabuhan Pelabuhan 6° 56' ▪ Usaha angkutan dengan capital dredging ▪ Pembangunan dermaga
KPU- Kota 110° 26'
Laut Umum 5,67 18,307" laut badan usaha yang memotong material perikanan;
PL-19 Semarang 23,872" E
Tanjung Emas S pada lintas karang dan/atau batu; ▪ Pembangunan dan
Pelabuhan Pelabuhan 6° 49' pelabuhan antar ▪ Kegiatan pengerukan pengoperasian cement
KPU- Kota 110° 26' Kab/Kota dalam sedimentasi di laut dalam grinding plant dan cement
Laut Umum 3.815,74 47,320"
PL-20 Semarang 33,500" E Provinsi; rangka normalisasi muara packing plant;
Tanjung Emas S
▪ Usaha angkutan sungai; ▪ Konstruksi pertambangan
Pelabuhan Pelabuhan 6° 55'
KPU- Kota 110° 26' laut pelayaran ▪ Pembangunan, garam;
Laut Umum 87,65 20,869"
PL-21 Semarang 55,715" E rakyat atau badan pemindahan dan/atau ▪ Industri pergaraman;
Tanjung Emas S
usaha pada lintas pembongkaran bangunan ▪ Kegiatan budidaya biota
Pelabuhan 6° 50' pelabuhan antar atau instalasi; laut untuk kepentingan
Pelabuhan
Laut KPU- Kota 110° 27' 24,248" Kab/Kota dalam, ▪ Pembangunan dan industri
Umum 1.701,09
PL-22 Semarang 29,786" E S antar provinsi dan pengoperasian jetty; Biofarmakologi/Bioteknologi;
Tanjung Emas
193
Rencana Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas Ketentuan
pola Kegiatan Perairan Kabupaten/ Longitude Latitude
Zona Toponimi (Ha) Diperbolehkan Diperbolehkan dengan Syarat Tidak Diperbolehkan khusus
ruang Kota (X) (Y)
Pelabuhan Pelabuhan 6° 50' pelabuhan ▪ Pembangunan tanggul ▪ Pengintroduksian
KPU- Kota 110° 28' internasional dan/atau bangunan organisme hasil rekayasa
Laut Umum 2.788,36 22,027"
PL-23 Semarang 12,783" E ▪ Usaha jasa pelindung pantai; genetika ke lingkungan;
Tanjung Emas S
angkutan ▪ Pembangunan breakwater ▪ Pembangunan stasiun
Pelabuhan Pelabuhan 6° 35' perairan (pemecah gelombang); pengisian bahan bakar
KPU- 110° 38'
Laut Kab. Jepara Penyebrangan 185,72 40,329" pelabuhan; ▪ Pembangunan turap nelayan;
PL-24 24,519" E
Jepara S ▪ Usaha jasa (revertment), ▪ Pemungutan/penebangan
Pelabuhan 6° 34' penyewaan pembangunan groin; hasil hutan kayu pada hutan
KPU- Pelabuhan 110° 38' peralatan ▪ Penetapan alur pelayaran mangrove;
Laut Kab. Jepara 545,92 14,265"
PL-25 Jepara 37,941" E angkutan laut; dari dan ke pelabuhan ▪ Pengambilan terumbu
S
▪ Kegiatan perikanan; karang;
Pelabuhan Terminal 6° 25'
KPU- 110° 43' pembangunan ▪ Penangkapan ikan ▪ Pelatihan perang dengan
Laut Kab. Jepara Khusus PLTU 1.719,17 42,770"
PL-26 39,397" E dan dengan kapal ukuran ≤ 10 menggunakan amunisi oleh
Tanjung Jati S
pengoperasian/ GT dengan alat tangkap kapal asing;
Pelabuhan 6° 39' pengelolaan aktif di luar alur dan kolam ▪ Kegiatan lainnya yang
KPU- Pelabuhan 111° 11'
Laut Kab. Pati 432,41 14,814" Terminal Untuk pelabuhan; mengurangi nilai dan/atau
PL-27 Juwana 5,407" E
S Kepentingan ▪ Kegiatan pekerjaan fungsi kawasan atau zona.
Pelabuhan 6° 41' Sendiri (TUKS) penyelaman
KPU- Pelabuhan 111° 20' dan Terminal (divingworks);
Laut Kab. Rembang 48,98 32,712"
PL-28 Rembang 4,049" E Khusus; ▪ Uji coba kapal;
S
▪ Operasi kapal ▪ Kegiatan berlabuh jangkar
Pelabuhan KPU- Pelabuhan 111° 19' 6° 42' angkutan kecuali dalam keadaan
Kab. Rembang 0,81
Laut PL-29 Rembang 56,928" E 3,975" S penyeberangan force majeure oleh kapal
Pelabuhan Pelabuhan 6° 35' dalam provinsi; asing;
KPU- 111° 29' ▪ Penetapan rute ▪ Kegiatan industri
Laut Kab. Rembang Sluke, PLTU 7.484,17 11,701"
PL-30 1,213" E pelayaran galangan kapal dengan
Sluke S
internasional; system Graving Dock
Pelabuhan Pelabuhan ▪ Kegiatan bongkar Kapal;
KPU- 111° 31' 6° 36'
Laut Kab. Rembang Sluke, PLTU 5.506,95 muat oleh kapal ▪ Pembangunan industri
PL-31 18,732" E 5,746" S
Sluke asing; yang terintegrasi dengan
Pelabuhan Terminal 7° 41' ▪ Usaha pelayanan pelabuhan;
KPU- 109° 8' jasa pemanduan ▪ Kegiatan pembuatan
Laut Kab. Cilacap Khusus PLTU 23,08 34,401"
PL-32 28,199" E kapal; kapal/alat terapung saja;
Adipala S
▪ Pembangunan ▪ Kegiatan pembuatan
Pelabuhan Terminal 7° 41'
KPU- 109° 7' fasilitas mesin-mesin
Laut Kab. Cilacap Khusus PLTU 239,28 32,742"
PL-33 42,575" E infrastruktur utama/pembantu;
Adipala S
(saluran primer, ▪ Kegiatan pembuatan alat-
Pelabuhan Terminal 7° 41' sekunder dan alat perlengkapan lain
KPU- 109° 7'
Laut Kab. Cilacap Khusus PLTU 287,10 56,187" pantai air); yang khusus
PL-34 45,150" E
Adipala S
194
Rencana Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas Ketentuan
pola Kegiatan Perairan Kabupaten/ Longitude Latitude
Zona Toponimi (Ha) Diperbolehkan Diperbolehkan dengan Syarat Tidak Diperbolehkan khusus
ruang Kota (X) (Y)
Pelabuhan Terminal ▪ Kegiatan dipergunakan dalam
KPU- 109° 7' 7° 44' perbaikan atau kapal;
Laut Kab. Cilacap Khusus PLTU 912,47
PL-35 55,411" E 7,029" S pemeliharaan ▪ Kegiatan pembuatan alat-
Adipala
kapal/alat-alat alat maritim lainnya;
Pelabuhan Terminal terapung saja; ▪ Usaha pelayanan
KPU- 109° 7' 7° 44'
Laut Kab. Cilacap Khusus PLTU 1.516,74 ▪ Kegiatan perbaikan dan
PL-36 26,781" E 9,019" S
Adipala membantu pemeliharaan kapal
Pelabuhan Terminal pekerjaan teknis perikanan;
KPU- 109° 8' 7° 46' terhadap kapal- ▪ Usaha pelayanan logistik
Laut Kab. Cilacap Khusus PLTU 8,76
PL-37 30,425" E 2,730" S kapal yang masih dan perbekalan kapal
Adipala
mengapunag perikanan;
Pelabuhan Pelabuhan 7° 41'
KPU- 109° 5' tetapi sedang ▪ Pembangunan dermaga
Laut Kab. Cilacap Umum 340,46 41,097"
PL-38 25,431" E mendapat perikanan;
Tanjung Intan S
melapetaka; ▪ Pengambilan foto/video
Pelabuhan Pelabuhan ▪ Kegiatan bawah laut;
KPU- 109° 5' 7° 42'
Laut Kab. Cilacap Umum 71,03 pemindahan ▪ Pemungutan hasil hutan
PL-39 21,169" E 6,927" S
Tanjung Intan muatan dan atau non kayu pada hutan
Pelabuhan Pelabuhan 7° 42' bahan bakar mangrove (madu, getah,
KPU- 109° 5' (cargo and fuel daun, buah dan biji,
Laut Kab. Cilacap Umum 281,79 31,896"
PL-40 24,501" E transfer ring); tannin, ikan, hasil hutan
Tanjung Intan S
▪ Penarikan bukan kayu lainnya);
Pelabuhan Pelabuhan 7° 43' (towing); ▪ Mitigasi bencana dan
KPU- 109° 5'
Laut Kab. Cilacap Umum 283,58 10,880" ▪ Pengapungan kondisi bahaya di laut
PL-41 28,771" E
Tanjung Intan S (refloating); termasuk penanaman
Pelabuhan Pelabuhan ▪ Pembangunan vegetasi pantai.
KPU- 109° 5' 7° 44' fasilitas pokok, ▪ Kegiatan lain yang tidak
Laut Kab. Cilacap Umum 483,50
PL-42 43,088" E 1,275" S fasilitas mengubah fungsi
Tanjung Intan
fungsional dan kawasan atau zona.
Pelabuhan Pelabuhan 7° 44' fasilitas
KPU- 109° 5'
Laut Kab. Cilacap Umum 611,38 25,979" penunjang sesuai
PL-43 6,023" E
Tanjung Intan S dengan Rencana
Pelabuhan Pelabuhan 7° 43' Induk Pelabuhan;
KPU- 109° 2' ▪ Kegiatan alur
Laut Kab. Cilacap Umum 4,34 33,262"
PL-44 6,276" E pelayaran, tempat
Tanjung Intan S
labuh, tempat alih
Pelabuhan Pelabuhan 7° 45'
KPU- 109° 4' muat antar kapal,
Laut Kab. Cilacap Umum 1.482,03 37,284"
PL-45 28,632" E kolam pelabuhan
Tanjung Intan S
untuk kebutuhan
Pelabuhan Pelabuhan 7° 43' sandar dan olah
KPU- 109° 2'
Laut Kab. Cilacap Umum 60,07 58,596" gerak kapal,
PL-46 3,016" E
Tanjung Intan S kegiatan
195
Rencana Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas Ketentuan
pola Kegiatan Perairan Kabupaten/ Longitude Latitude
Zona Toponimi (Ha) Diperbolehkan Diperbolehkan dengan Syarat Tidak Diperbolehkan khusus
ruang Kota (X) (Y)
Pelabuhan Pelabuhan 7° 45' pemanduan,
KPU- 109° 5' tempat perbaikan
Laut Kab. Cilacap Umum 70,07 59,235"
PL-47 51,014" E kapal, dan
Tanjung Intan S
kegiatan lain
Pelabuhan Pelabuhan 7° 47' sesuai dengan
KPU- 109° 4'
Laut Kab. Cilacap Umum 414,79 14,780" ketentuan
PL-48 58,032" E
Tanjung Intan S perundang-
Pelabuhan Pelabuhan 7° 48' undangan;
KPU- 109° 3' ▪ Keperluan
Laut Kab. Cilacap Umum 1.828,02 16,671"
PL-49 54,753" E keadaan darurat,
Tanjung Intan S
penempatan
Pelabuhan Pelabuhan 7° 45'
KPU- 109° 3' kapal mati,
Laut Kab. Cilacap Umum 1.536,56 59,595"
PL-50 55,525" E percobaan
Tanjung Intan S
berlayar,
Pelabuhan Pelabuhan 7° 44' pemanduan
KPU- 109° 1'
Laut Kab. Cilacap Umum 2,56 21,961" kapal, fasilitas
PL-51 52,378" E
Tanjung Intan S pembangunan
Pelabuhan Pelabuhan 7° 48' dan pemeliharaan
KPU- 109° 5' kapal, dan
Laut Kab. Cilacap Umum 703,87 28,490"
PL-52 18,235" E pengembangan
Tanjung Intan S
pelabuhan jangka
Pelabuhan Pelabuhan 7° 47' panjang dan
KPU- 109° 3'
Laut Kab. Cilacap Umum 571,90 25,552" kegiatan lain
PL-53 3,497" E
Tanjung Intan S sesuai ketentuan
Pelabuhan Pelabuhan 7° 44' perundang-
KPU- 109° 2' undangan.
Laut Kab. Cilacap Umum 154,16 45,402"
PL-54 13,385" E
Tanjung Intan S
Pelabuhan Pelabuhan 7° 45'
KPU- 109° 2'
Laut Kab. Cilacap Umum 128,33 14,884"
PL-55 13,033" E
Tanjung Intan S
Pelabuhan Pelabuhan 7° 45'
KPU- 109° 1'
Laut Kab. Cilacap Umum 10,57 30,210"
PL-56 59,853" E
Tanjung Intan S
Pelabuhan Pelabuhan 7° 45'
KPU- 109° 1'
Laut Kab. Cilacap Umum 87,60 43,718"
PL-57 51,719" E
Tanjung Intan S
Pelabuhan Pelabuhan 7° 44'
KPU- 109° 1'
Laut Kab. Cilacap Umum 1,32 35,947"
PL-58 15,449" E
Tanjung Intan S
196
Rencana Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas Ketentuan
pola Kegiatan Perairan Kabupaten/ Longitude Latitude
Zona Toponimi (Ha) Diperbolehkan Diperbolehkan dengan Syarat Tidak Diperbolehkan khusus
ruang Kota (X) (Y)
Pelabuhan Pelabuhan 7° 44'
KPU- 109° 1'
Laut Kab. Cilacap Umum 65,33 47,009"
PL-59 28,561" E
Tanjung Intan S
Pelabuhan Pelabuhan 7° 45'
KPU- 109° 1'
Laut Kab. Cilacap Umum 102,06 11,407"
PL-60 30,483" E
Tanjung Intan S
Pelabuhan Pelabuhan 7° 45'
KPU- 109° 1'
Laut Kab. Cilacap Umum 9,53 27,259"
PL-61 30,312" E
Tanjung Intan S
Pelabuhan Pelabuhan 7° 45'
KPU- 109° 1'
Laut Kab. Cilacap Umum 14,66 33,227"
PL-62 28,225" E
Tanjung Intan S
Pelabuhan Pelabuhan 7° 45'
KPU- 109° 1'
Laut Kab. Cilacap Umum 7,95 35,467"
PL-63 16,502" E
Tanjung Intan S
Pelabuhan Pelabuhan 7° 45'
KPU- 109° 1'
Laut Kab. Cilacap Umum 26,30 42,403"
PL-64 20,368" E
Tanjung Intan S
Pelabuhan Pelabuhan 7° 45'
KPU- 109° 1'
Laut Kab. Cilacap Umum 47,46 17,430"
PL-65 0,850" E
Tanjung Intan S
Pelabuhan Pelabuhan 7° 45'
KPU- 109° 1'
Laut Kab. Cilacap Umum 0,73 37,695"
PL-66 5,487" E
Tanjung Intan S
Pelabuhan Pelabuhan
KPU- 109° 1' 7° 45'
Laut Kab. Cilacap Umum 0,05
PL-67 10,558" E 7,829" S
Tanjung Intan
Pelabuhan Pelabuhan
KPU- 109° 0' 7° 45'
Laut Kab. Cilacap Umum 0,26
PL-68 59,913" E 5,217" S
Tanjung Intan
Pelabuhan Pelabuhan 7° 44'
KPU- 109° 0'
Laut Kab. Cilacap Umum 136,24 53,329"
PL-69 23,120" E
Tanjung Intan S
Pelabuhan Pelabuhan 7° 44'
KPU- 109° 0'
Laut Kab. Cilacap Umum 20,87 42,134"
PL-70 36,210" E
Tanjung Intan S
197
Rencana Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas Ketentuan
pola Kegiatan Perairan Kabupaten/ Longitude Latitude
Zona Toponimi (Ha) Diperbolehkan Diperbolehkan dengan Syarat Tidak Diperbolehkan khusus
ruang Kota (X) (Y)
Pelabuhan Pelabuhan 7° 44'
KPU- 108° 59'
Laut Kab. Cilacap Umum 56,37 38,360"
PL-71 44,329" E
Tanjung Intan S
Pelabuhan Pelabuhan
KPU- 108° 59' 7° 44'
Laut Kab. Cilacap Umum 125,57
PL-72 13,844" E 3,015" S
Tanjung Intan
Pelabuhan Pelabuhan 7° 44'
KPU- 108° 59'
Laut Kab. Cilacap Umum 7,00 30,152"
PL-73 12,271" E
Tanjung Intan S
Pelabuhan Pelabuhan 7° 43'
KPU- 108° 59'
Laut Kab. Cilacap Umum 5,90 51,042"
PL-74 24,312" E
Tanjung Intan S
Pelabuhan Pelabuhan 7° 42'
KPU- 108° 52'
Laut Kab. Cilacap Umum 0,13 19,630"
PL-75 14,220" E
Motehan S
Pelabuhan Pelabuhan
KPU- 108° 49' 7° 41'
Laut Kab. Cilacap Umum Klaces 2,88
PL-76 43,318" E 1,017" S
2
Pelabuhan Pelabuhan 7° 40'
KPU- 108° 48'
Laut Kab. Cilacap Umum Klaces 1,83 14,495"
PL-77 42,868" E
1 S
Pelabuhan Area Labuh
Laut Pelabuhan 5° 50'
KPU- 110° 31'
Kab. Jepara Pengumpan 577,87 12,000"
PL-78 40,502" E
Lokal Legon S
Bajak
Pelabuhan Pelabuhan 5° 50'
KPU- Kab. Jepara 110° 35'
Laut Umum Pulau 19,70 40,696"
PL-79 (Karimunjawa) 56,495" E
genting S
198
C. Zona Pelabuhan Perikanan
199
Rencana Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas Ketentuan
pola Kegiatan Longitude Latitude
Zona Perairan Kabupaten/Kota Toponimi (Ha) Diperbolehkan Diperbolehkan dengan Syarat Tidak Diperbolehkan Khusus
ruang (X) (Y)
Pelabuhan 6° 50' oleh gerak distribusi dan penjualan pembuangan dan
KPU-PP- PPP 109° 24' kapal; tenaga listrik; penimbunan limbah non
Perikanan Kab. Pemalang 42,96 48,047"
13 Asemdoyong 52,315" E B3;
S ▪ Pembangunan ▪ Latihan militer;
tempat ▪ Kegiatan pengambilan ▪ Kegiatan pengumpulan,
Pelabuhan 6° 50'
KPU-PP- PPI 109° 26' perbaikan dan pemanfaatan air laut pemanfaatan,
Perikanan Kab. Pemalang 16,21 19,131"
14 Nyamplungsari 27,478" E kapal; selain energi; pengolahan,
S
▪ Penempatan ▪ Pembangunan fasilitas pembuangan dan
Pelabuhan 6° 50' kapal mati; penimbunan limbah B3;
KPU-PP- PPI 109° 26' umum;
Perikanan Kab. Pemalang 1,71 12,197" ▪ Pemasangan fasilitas
15 Nyamplungsari 36,318" E ▪ Pembangunan ▪ Usaha dermaga wisata;
S turbin generator energi;
TPI; ▪ Usaha kegiatan hiburan
Pelabuhan 6° 47' ▪ Penetapan alur ▪ Pembangunan terminal
KPU-PP- 109° 30' dan rekreasi;
Perikanan Kab. Pemalang PPI Mojo 21,87 29,458" pelayaran dari peti kemas;
16 9,554" E ▪ Penelitian kegiatan
S dan ke ▪ Pembangunan terminal
konservasi;
Pelabuhan KPU-PP- 109° 30' 6° 47' pelabuhan curah kering;
Kab. Pemalang PPI Mojo 167,58 perikanan; ▪ Survei dan/atau penelitian
Perikanan 17 9,235" E 5,138" S ilmiah; ▪ Pembangunan terminal
Pelabuhan KPU-PP- 109° 31' 6° 46' ▪ Uji coba kapal; curah cair;
Kab. Pemalang PPI Mojo 233,08 ▪ Pengerukan perairan laut
Perikanan 18 24,118" E 5,244" S ▪ Usaha dengan capital dredging ▪ Pembangunan terminal
pelayanan yang memotong material Roro;
Pelabuhan 6° 50' perbaikan
KPU-PP- 109° 35' karang dan/atau batu; ▪ Pembangunan dan
Perikanan Kab. Pemalang PPI Tasikrejo 16,18 21,972" kapal dan
19 32,015" E ▪ Pengerukan dalam rangka pengoperasian coment
S pemeliharaan
normalisasi alur pelayaran grinding plant dan
Pelabuhan 6° 50' kapal cement;
KPU-PP- PPP 109° 37' perikanan; dan kolam pelabuhan di
Perikanan Kab. Pekalongan 35,44 17,958" ▪ Packing plant;
20 Wonokerto 24,544" E wilayah perairan
S ▪ Usaha pelabuhan perikanan; ▪ Pengoperasian
Pelabuhan 6° 50' pelayanan pelabuhan regional dan
KPU-PP- 109° 39' logistik dan ▪ Pembangunan,
Perikanan Kab. Pekalongan PPI Jambean 1,84 54,799" pemindahan, dan/atau Lokal;
21 13,213" E perbekalan
S pembongkaran bangunan ▪ Pengerukan di wilayah
kapal
Pelabuhan 6° 50' perikanan; atau instalasi; perairan pengumpan
KPU-PP- 109° 39' regional dan lokal;
Perikanan Kab. Pekalongan PPI Jambean 39,97 49,383" ▪ Pembangunan ▪ Pembangunan dan
22 24,978" E
S dermaga pengoperasian jetty; ▪ Usaha angkutan laut
Pelabuhan 6° 51' perikanan; ▪ Pembangunan tanggul badan usaha pada lintas
KPU-PP- PPN 109° 41' dan/atau bangunan pelabuhan antar
Perikanan Kota Pekalongan 1,80 27,432" ▪ Usaha bongkar
23 Pekalongan 29,386" E pelindung pantai; Kab/Kota dalam Provinsi;
S muat barang :
pengemasan, ▪ Pembangunan breakwater ▪ Usaha angkutan laut
Pelabuhan 6° 50' pelayaran rakyat atau
KPU-PP- PPN 109° 42' penumpukan (pemecah gelombang);
Perikanan Kota Pekalongan 671,06 41,239" badan usaha pada lintas
24 Pekalongan 5,186" E dan
S
200
Rencana Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas Ketentuan
pola Kegiatan Longitude Latitude
Zona Perairan Kabupaten/Kota Toponimi (Ha) Diperbolehkan Diperbolehkan dengan Syarat Tidak Diperbolehkan Khusus
ruang (X) (Y)
Pelabuhan 6° 51' penyimpanan ▪ Pembangunan turap pelabuhan antar
KPU-PP- PPN 109° 41' di pelabuhan; (revertment), Kab/Kota dalam, antar
Perikanan Kota Pekalongan 51,84 33,099"
25 Pekalongan 59,170" E pembangunan groin; provinsi dan pelabuhan
S ▪ Pembangunan
Fasilitasi ▪ Pembangunan Sarana internasional;
Pelabuhan 6° 51'
KPU-PP- PPP Klidang 109° 45' Infrastruktur Bantu Navigasi Pelayaran ▪ Usaha jasa angkutan
Perikanan Kab. Batang 14,60 41,714"
26 Lor 0,556" E (Saluran (SBNP); perairan pelabuhan;
S
Primer, ▪ Kegiatan berlabuh jangkar ▪ Usaha jasa penyewaan
Pelabuhan 6° 52' Sekunder dan kecuali dalam keadaan peralatan angkutan laut;
KPU-PP- PPP Klidang 109° 45'
Perikanan Kab. Batang 5,80 31,067" Pantai air); force majeure oleh kapal
27 Lor 0,338" E ▪ Pengelolaan TUKS di
S ▪ Kegiatan asing; dalam DLKr/DLKp
Pelabuhan 6° 54' pembuatan ▪ Pembangunan dan pelabuhan pengumpan
KPU-PP- 109° 50' kapal/ alat
Perikanan Kab. Batang PPI Roban 10,47 20,451" pengoperasian terminal regional;
28 28,221" E terapung saja;
S khusus; ▪ Operasi kapal angkutan
Pelabuhan 6° 54' ▪ Kegiatan ▪ Pembangunan industri penyeberangan dalam
KPU-PP- 109° 55' perbaikan atau yang terintegasi dengan provinsi;
Perikanan Kab. Batang PPI Celong 24,45 47,737"
29 58,289" E pemeliharaan pelabuhan;
S ▪ Penetapan rute pelayaran
kapal/alat-alat ▪ Kegiatan industri internasional;
Pelabuhan KPU-PP- 110° 0' 6° 55' terapung saja;
Kab. Batang PPI Seklayu 9,04 galangan kapal dengan ▪ Kegiatan bongkar muat
Perikanan 30 34,753" E 4,220" S ▪ Kegiatan sistem Graving Dock oleh kapal asing;
Pelabuhan 6° 54' pemindahan Kapal;
KPU-PP- 110° 2' ▪ Usaha pelayanan jasa
Perikanan Kab. Kendal PPP Tawang 24,20 13,480" muatan dan ▪ Kegiatan membantu
31 18,004" E pemanduan kapal;
S atau bahan pekerjaan teknis terhadap
bakar (cargo ▪ Konstruksi pertambangan
Pelabuhan KPU-PP- PPI Sendang 110° 3' 6° 54' kapal-kapal yang masih garam;
Kab. Kendal 23,88 and fuel mengapung tetapi sedang
Perikanan 32 Sikucing 22,300" E 5,437" S
transferring); mendapat malapetaka; ▪ Industri pergaraman;
Pelabuhan KPU-PP- PPI 110° 13' 6° 53' ▪ Pembangunan ▪ Kegiatan pembuatan
Kab. Kendal 35,54 ▪ Tally mandiri : kegiatan
Perikanan 33 Bandengan 57,292" E 2,408" S stasiun mesin-mesin
cargo doring,
Pelabuhan 6° 55' pengisian receiving/delivery, stuffing utama/pembantu;
KPU-PP- PPI 110° 19' bahan bakar
Perikanan Kota Semarang 37,64 57,297" dan stripping peti kemas ▪ Kegaitan pembuatan alat-
34 Mangunharjo 9,766" E nelayan;
S bagi kepentingannya alat perlengkapan lain
Pelabuhan 6° 56' sendiri; yang khusus
KPU-PP- PPI Tambak 110° 26' dipergunakan dalam
Perikanan Kota Semarang 2,14 31,747" ▪ Penarikan (towing);
35 Lorok 13,678" E kapal;
S ▪ Pengapunan (refloating);
▪ Kegiatan pembuatan alat-
Pelabuhan 6° 48' ▪ Penggunaan dan alat maritim lainnya;
KPU-PP- PPP 110° 32'
Perikanan Kab. Demak 256,75 48,663" pemanfaatan air laut;
36 Morodemak 28,651" E ▪ Pengintroduksian
S ▪ Penelitian dan pendidikan; organisme hasil rekayasa
Pelabuhan 6° 46' ▪ Pariwisata dan rekreasi; genetika ke lingkungan;
KPU-PP- 110° 34'
Perikanan Kab. Demak PPI Wedung 22,12 16,625" ▪ Pengambilan video/foto
37 23,195" E
S via udara menggunakan
201
Rencana Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas Ketentuan
pola Kegiatan Longitude Latitude
Zona Perairan Kabupaten/Kota Toponimi (Ha) Diperbolehkan Diperbolehkan dengan Syarat Tidak Diperbolehkan Khusus
ruang (X) (Y)
Pelabuhan KPU-PP- PPI 110° 36' 6° 42' alat Drone dan lain ▪ Pemungutan/penebangan
Kab. Jepara 60,82 sebagainya; hasil hutan kayu pada
Perikanan 38 Kedungmalang 48,478" E 6,893" S
▪ Kegiatan penangkapan hutan mangrove;
Pelabuhan 6° 40'
KPU-PP- 110° 37' ikan di zona perikanan ▪ Pelatihan perang dengan
Perikanan Kab. Jepara PPI Panggung 82,78 34,750"
39 50,785" E tangkap yang telah menggunakan amunisi
S
ditentukan dengan syarat oleh kapal asing;
Pelabuhan 6° 35' di luar zona alur ▪ Semua jenis kegiatan
KPU-PP- 110° 39'
Perikanan Kab. Jepara PPI Demaan 25,41 43,679" pelayaran dan kolam penangkapan ikan
40 10,803" E
S pelabuhan; dengan menggunakan
Pelabuhan 6° 31' ▪ Kegiatan penangkapan alat tangkap yang
KPU-PP- 110° 40' ikan dengan berpotensi merusak
Perikanan Kab. Jepara PPI Mlonggo 67,98 31,201"
41 43,495" E menggunakan kapal kecil, ekosistem laut;
S
bersifat dinamis dengan ▪ Kegiatan penangkapan
Pelabuhan 6° 28'
KPU-PP- 110° 42' tetap memprioritaskan ikan di zona alur
Perikanan Kab. Jepara PPI Bondo 106,91 11,193"
42 29,102" E keamanan dan pelayaran dan kolam
S
keselamatan pelayaran, pelabuhan;
Pelabuhan 6° 26' serta alat tangkap yang ▪ Pengambilan terumbu
KPU-PP- 110° 45'
Perikanan Kab. Jepara PPI Tubanan 19,96 21,847" digunakan tidak karang;
43 30,963" E
S berpotensi merusak
ekosistem laut; ▪ Pemasangan alat bantu
Pelabuhan 6° 24' penangkapan ikan seperti
KPU-PP- PPI 110° 52' ▪ Kegiatan pengerukan
Perikanan Kab. Jepara 32,73 21,555" rumpon;
44 Bandungharjo 23,681" E sedimentasi di laut dalam
S ▪ Pendirian bangunan yang
rangka normalisasi muara
Pelabuhan 6° 24' sungai; perencanaannya tidak
KPU-PP- PPI Ujung 110° 55' tercantum pada Rencana
Perikanan Kab. Jepara 20,66 22,768"
45 Watu 1 28,757" E ▪ Pemungutan hasil hutan Induk Pelabuhan
S
non kayu pada hutan Perikanan;
Pelabuhan 6° 24' mangrove (madu, getah,
KPU-PP- PPI Ujung 110° 56' ▪ Kegiatan lainnya yang
Perikanan Kab. Jepara 15,09 29,874" daun, buah dan biji,
46 Watu 23,873" E mengurangi nilai dan/atau
S tannin, ikan, hasil hutan
bukan kayu lainnya); fungsi kawasan atau
Pelabuhan 6° 24' zona.
KPU-PP- 110° 58' ▪ Mitigasi bencana dan
Perikanan Kab. Pati PPI Puncel 44,67 30,627"
47 30,541" E kondisi bahaya di laut
S
termasuk penanaman
Pelabuhan 6° 27' vegetasi pantai;
KPU-PP- PPI 111° 3'
Perikanan Kab. Pati 76,39 44,370"
48 Banyutowo 7,539" E ▪ Kegiatan reklamasi hanya
S
diperbolehkan di Zona
Pelabuhan KPU-PP- 111° 4' 6° 32' Pelabuhan Perikanan
Kab. Pati PPI Sambiroto 56,92
Perikanan 49 28,232" E 1,832" S yaitu pada PPN
202
Rencana Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas Ketentuan
pola Kegiatan Longitude Latitude
Zona Perairan Kabupaten/Kota Toponimi (Ha) Diperbolehkan Diperbolehkan dengan Syarat Tidak Diperbolehkan Khusus
ruang (X) (Y)
Pelabuhan 6° 39' Pekalongan (KPU-PP-23,
KPU-PP- PPP 111° 11' KPU-PP-24, KPU-PP-25),
Perikanan Kab. Pati 109,87 45,584"
50 Bajomulyo 24,127" E PPP Tasikagung (KPU-
S
PP-54, KPU-PP-55), PPS
Pelabuhan KPU-PP- PPI 111° 13' 6° 41' Cilacap (KPU-PP-84,
Kab. Rembang 37,95
Perikanan 51 Tunggulsari 59,518" E 2,717" S KPU-PP-85, KPU-PP-86)
Pelabuhan KPU-PP- PPI 111° 14' 6° 41' dan PPP Tegalsari (KPU-
Kab. Rembang 24,30
Perikanan 52 Tunggulsari 12,452" E 9,937" S PP-08);
Pelabuhan 6° 41' ▪ Kegiatan lain yang tidak
KPU-PP- PPI Tanjung 111° 19' mengubah fungsi
Perikanan Kab. Rembang 26,98 53,299"
53 Sari 42,382" E kawasan atau zona.
S
Pelabuhan 6° 41'
KPU-PP- PPP Tasik 111° 20'
Perikanan Kab. Rembang 180,61 28,441"
54 Agung 24,691" E
S
Pelabuhan KPU-PP- PPP Tasik 111° 20' 6° 42'
Kab. Rembang 6,27
Perikanan 55 Agung 22,600" E 5,182" S
Pelabuhan 6° 41'
KPU-PP- PPI Pasar 111° 23'
Perikanan Kab. Rembang 37,28 29,939"
56 Banggi 38,105" E
S
Pelabuhan 6° 39'
KPU-PP- 111° 27'
Perikanan Kab. Rembang PPI Binangun 11,59 22,802"
57 55,801" E
S
Pelabuhan 6° 39'
KPU-PP- PPI 111° 35'
Perikanan Kab. Rembang 62,20 52,496"
58 Pandangan 37,926" E
S
Pelabuhan PPI
6° 41'
Perikanan KPU-PP- Karanglincak, 111° 37'
Kab. Rembang 66,96 58,309"
59 PPI 57,776" E
S
Karanganyar
Pelabuhan KPU-PP- 111° 40' 6° 44'
Kab. Rembang PPI Sarang 68,76
Perikanan 60 26,055" E 7,372" S
Pelabuhan 7° 53'
KPU-PP- 110° 0'
Perikanan Kab. Purworejo PPI Jati Kontal 11,45 23,419"
61 7,522" E
S
Pelabuhan 7° 53'
KPU-PP- 109° 59'
Perikanan Kab. Purworejo PPI Jati Kontal 34,10 19,101"
62 53,558" E
S
203
Rencana Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas Ketentuan
pola Kegiatan Longitude Latitude
Zona Perairan Kabupaten/Kota Toponimi (Ha) Diperbolehkan Diperbolehkan dengan Syarat Tidak Diperbolehkan Khusus
ruang (X) (Y)
Pelabuhan 7° 53'
KPU-PP- 109° 59'
Perikanan Kab. Purworejo PPI Jati Kontal 4,61 13,480"
63 41,454" E
S
Pelabuhan KPU-PP- 109° 59' 7° 53'
Kab. Purworejo PPI Jatimalang 8,07
Perikanan 64 17,946" E 0,608" S
Pelabuhan 7° 52'
KPU-PP- 109° 59'
Perikanan Kab. Purworejo PPI Jatimalang 3,27 58,422"
65 12,309" E
S
Pelabuhan 7° 52'
KPU-PP- 109° 59'
Perikanan Kab. Purworejo PPI Jatimalang 8,70 56,055"
66 6,558" E
S
Pelabuhan 7° 51'
KPU-PP- PPI 109° 54'
Perikanan Kab. Purworejo 56,79 36,441"
67 Keburuhan 56,202" E
S
Pelabuhan 7° 51'
KPU-PP- PPI 109° 54'
Perikanan Kab. Purworejo 27,02 29,811"
68 Keburuhan 42,053" E
S
Pelabuhan 7° 50'
KPU-PP- 109° 49'
Perikanan Kab. Purworejo PPI Kertojayan 12,55 11,153"
69 37,417" E
S
Pelabuhan KPU-PP- 109° 49' 7° 50'
Kab. Purworejo PPI Kertojayan 47,07
Perikanan 70 44,412" E 5,383" S
Pelabuhan 7° 49'
KPU-PP- 109° 49'
Perikanan Kab. Purworejo PPI Kertojayan 15,49 56,703"
71 31,626" E
S
Pelabuhan 7° 47'
KPU-PP- PPI 109° 38'
Perikanan Kab. Kebumen 199,29 44,855"
72 Tanggulangin 15,327" E
S
Pelabuhan 7° 47'
KPU-PP- PPI 109° 37'
Perikanan Kab. Kebumen 181,46 40,067"
73 Tanggulangin 41,445" E
S
Pelabuhan 7° 47'
KPU-PP- PPI 109° 37'
Perikanan Kab. Kebumen 227,70 34,315"
74 Tanggulangin 4,915" E
S
Pelabuhan KPU-PP- 109° 26' 7° 46'
Kab. Kebumen PPI Pasir 23,60
Perikanan 75 19,982" E 9,176" S
204
Rencana Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas Ketentuan
pola Kegiatan Longitude Latitude
Zona Perairan Kabupaten/Kota Toponimi (Ha) Diperbolehkan Diperbolehkan dengan Syarat Tidak Diperbolehkan Khusus
ruang (X) (Y)
Pelabuhan 7° 46'
KPU-PP- PPI Karang 109° 24'
Perikanan Kab. Kebumen 9,51 12,252"
76 Duwur 39,854" E
S
Pelabuhan 7° 43'
KPU-PP- PPP 109° 23'
Perikanan Kab. Kebumen 4,08 39,338"
77 Logending 27,136" E
S
Pelabuhan 7° 43'
KPU-PP- 109° 22'
Perikanan Kab. Cilacap PPI Jetis 3,42 12,203"
78 9,729" E
S
Pelabuhan KPU-PP- 109° 22' 7° 43'
Kab. Cilacap PPI Jetis 28,28
Perikanan 79 6,134" E 4,133" S
Pelabuhan 7° 41'
KPU-PP- PPI 109° 4'
Perikanan Kab. Cilacap 14,48 33,107"
80 Mengantikisik 46,498" E
S
Pelabuhan 7° 41'
KPU-PP- 109° 4'
Perikanan Kab. Cilacap PPI Lengkong 67,70 39,484"
81 21,262" E
S
Pelabuhan 7° 41'
KPU-PP- PPI Lengkong, 109° 3'
Perikanan Kab. Cilacap 11,37 45,308"
82 Area Ranjau 56,078" E
S
Pelabuhan 7° 41'
KPU-PP- PPI Kemiren, 109° 3'
Perikanan Kab. Cilacap 18,98 56,698"
83 Area Ranjau 30,333" E
S
Pelabuhan 7° 43'
KPU-PP- 109° 1'
Perikanan Kab. Cilacap PPS Cilacap 81,76 16,047"
84 54,353" E
S
Pelabuhan 7° 43'
KPU-PP- 109° 1'
Perikanan Kab. Cilacap PPS Cilacap 20,23 32,991"
85 46,256" E
S
Pelabuhan 7° 43'
KPU-PP- 109° 1'
Perikanan Kab. Cilacap PPS Cilacap 141,54 58,611"
86 38,379" E
S
Pelabuhan 7° 44'
KPU-PP- 109° 1'
Perikanan Kab. Cilacap PPS Cilacap 48,06 27,060"
87 29,183" E
S
205
Rencana Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas Ketentuan
pola Kegiatan Longitude Latitude
Zona Perairan Kabupaten/Kota Toponimi (Ha) Diperbolehkan Diperbolehkan dengan Syarat Tidak Diperbolehkan Khusus
ruang (X) (Y)
Pelabuhan 7° 44'
KPU-PP- 109° 1'
Perikanan Kab. Cilacap PPS Cilacap 5,10 35,281"
88 37,919" E
S
Pelabuhan KPU-PP- Kab. Cilacap PPI Sentolo 11,19 109° 0' 7° 44'
Perikanan 89 Kawat, PPI 34,606" E 38,474"
Pandanarang, S
PPI
Tegalkatilayu
206
D. Pertambangan Mineral dan Batu bara
Rencana Lokasi Luas Koordinat Pengaturan
Kode Ketentuan
pola Kegiatan
Zona Perairan Kabupaten/Kota Toponimi (Ha) Longitude Latitude Diperbolehkan Diperbolehkan dengan Syarat Tidak Diperbolehkan khusus
ruang
Pertambangan Tambang ▪ Eksplorasi ▪ Pembangunan FPSO ▪ Usaha pembudidayaan
KPU- 109° 3' 6° 41'
Mineral dan Kab. Brebes Minerba 338,17 mineral dan batu (Floating Production semua jenis ikan;
MB-01 25,562" E 7,096" S
Batu Bara Brebes bara; Storage and Offloading); ▪ Usaha budidaya
Pertambangan Tambang 6° 47' ▪ Kegiatan ▪ Pembangunan FSO perikanan terapung
KPU- 109° 22' tahapan operasi (Floating Storage (karamba jaring apung);
Mineral dan Kab. Pemalang Minerba 394,39 50,306"
MB-02 10,657" E produksi mineral Offloading);
Batu Bara Pemalang S ▪ Pembudidayaan ikan
dan batu bara ▪ Pemasangan/penggelaran untuk kepentingan
Pertambangan Tambang 6° 44' sesuai
KPU- 109° 32' pipa migas; industri;
Mineral dan Kab. Pemalang Minerba 151,50 13,784" Kesesuaian
MB-03 16,500" E ▪ Pembangunan ▪ Pembudidayaan sumber
Batu Bara Pemalang S Kegiatan anjungan/platform migas; daya laut non ikan untuk
Pertambangan Tambang Pemanfaatan kepentingan ekonomi;
6° 46' Kawasan; ▪ Pembangunan fasilitas
Mineral dan KPU- Minerba 109° 37'
Kab. Pekalongan 1.192,58 43,060" terapung (Floating ▪ Kegiatan pengujian kapal
Batu Bara MB-04 Kab. 42,022" E ▪ Rehabilitasi
S Facility) Migas: Mooring; perikanan / perahu ikan
Pekalongan pasca
▪ Eksplorasi Migas; bermotor;
Pertambangan Tambang 6° 50' pertambangan;
KPU- 110° 1' ▪ Eksploitasi (eksplorasi ▪ Pengangkutan ikan hasil
Mineral dan Kab. Kendal Minerba 235,62 47,991" ▪ Perlindungan budidaya dengan Kapal
MB-05 50,492" E keanekaragaman produksi) Migas;
Batu Bara Kendal S Pengangkut Ikan Hidup
hayati; ▪ Pembangunan kabel
Pertambangan Tambang 6° 40' telekomunikasi Local Port Berbendera Indonesia;
KPU- 110° 29' ▪ Penyelamatan
Mineral dan Kab. Demak Minerba 2.100,23 35,532" Service (LPS); ▪ Kegiatan bongkar muat
MB-06 36,437" E dan perlindungan
Batu Bara Demak S ▪ Penanaman dan/atau oleh kapal asing;
lingkungan;
Pertambangan Tambang pemasangan kabel atau ▪ Pengerukan perairan laut
KPU- 110° 34' 6° 28' ▪ Pendidikan dengan capital dredging
Mineral dan Kab. Jepara Minerba 611,45 kegiatan tiang serta sarana di laut;
MB-07 11,670" E 3,333" S yang memotong material
Batu Bara Jepara konservasi; ▪ Penggelaran /
pemasangan kabel/pipa karang dan/atau batu;
Pertambangan Tambang 6° 29' ▪ Pelepasan
KPU- 110° 34' bawah laut dan pekerjaan ▪ Kegiatan pengumpulan,
Mineral dan Kab. Jepara Minerba 85,26 25,570" jangkar;
MB-08 56,050" E bawah air lainnya; pemanfaatan,
Batu Bara Jepara S ▪ Pengambilan
▪ Pembangunan pengolahan,
Pertambangan Tambang 6° 21' sumber daya laut pembuangan dan
KPU- 110° 38' non ikan untuk PLTU/PLTGU;
Mineral dan Kab. Jepara Minerba 243,49 36,067" penimbunan limbah B3;
MB-09 57,659" E kepentingan ▪ Kegiatan pengembangan
Batu Bara Jepara S ▪ Kegiatan pengumpulan,
ekonomi; Pembangkit Listrik
Pertambangan Tambang Tenaga Arus Laut pemanfaatan,
KPU- 110° 41' 6° 21' ▪ Penetapan pengolahan,
Mineral dan Kab. Jepara Minerba 353,24 (PLTAL)/ Pembangkit
MB-10 42,824" E 4,995" S tambat labuh; pembuangan dan
Batu Bara Jepara Listrik Tenaga Gelombang
▪ Penetapan Laut (PLTGL); penimbunan limbah non
Pertambangan Tambang 6° 19' tempat alih muat B3;
KPU- 110° 43'
Mineral dan Kab. Jepara Minerba 684,30 47,997" antar kapal; ▪ Pembangunan
MB-11 6,163" E
Batu Bara Jepara S pembangkitan, transmisi,
207
Rencana Lokasi Luas Koordinat Pengaturan
Kode Ketentuan
pola Kegiatan
Zona Perairan Kabupaten/Kota Toponimi (Ha) Longitude Latitude Diperbolehkan Diperbolehkan dengan Syarat Tidak Diperbolehkan khusus
ruang
Pertambangan Tambang 6° 22' ▪ Kegiatan distribusi dan penjualan ▪ Pemasangan fasilitas
KPU- 110° 44' pemindahan tenaga listrik; turbin generator energi;
Mineral dan Kab. Jepara Minerba 1.985,79 56,500"
MB-12 40,382" E muatan dan atau
Batu Bara Jepara S ▪ Latihan militer; ▪ Pemasangan fasilitas
bahan bakar ▪ Pembangunan fasilitas mesin kalor;
Pertambangan Tambang 6° 21' (cargo and fuel
KPU- 110° 45' umum; ▪ Pembangunan,
Mineral dan Kab. Jepara Minerba 368,64 19,521" transferring);
MB-13 45,133" E pemindahan dan/atau
Batu Bara Jepara S ▪ Penangkapan ikan
▪ Penarikan dengan kapal ukuran ≤ 5 pembongkaran bangunan
Pertambangan Tambang (towing); atau instalasi;
KPU- 111° 21' 6° 31' GT;
Mineral dan Kab. Rembang Minerba 3.562,89 ▪ Pengapungan
MB-14 20,495" E 4,796" S ▪ Penangkapan ikan ▪ Pembangunan terminal
Batu Bara Rembang (refloating) dengan kapal ukuran ≥ 5 peti kemas;
Pertambangan Tambang 6° 31' – 10 GT; ▪ Pembangunan terminal
KPU- 111° 23'
Mineral dan Kab. Rembang Minerba 385,67 40,242" curah kering;
MB-15 12,657" E ▪ Penangkapan ikan
Batu Bara Rembang S
dengan kapal ukuran ≥ 10 ▪ Pembangunan terminal
Pertambangan Tambang – 30 GT; curah cair;
KPU- 111° 27' 6° 31'
Mineral dan Kab. Rembang Minerba 2.430,48 ▪ Penangkapan ikan ▪ Pembangunan terminal
MB-16 16,316" E 1,077" S
Batu Bara Rembang menggunakan jaring Roro;
Pertambangan lingkar : pukat cincin ▪ Pembangunan tempat
Mineral dan pelagis kecil dengan satu perbaikan kapal;
Batu Bara kapal, pukat cinci pelagis ▪ Penempatan kapal mati;
besar dengan satu kapal,
pukat cincin teri dengan ▪ Pembangunan TPI;
satu kapal, pukat cinci ▪ Usaha pelayanan logistik
pelagis kecil dengan dua dan perbekalan kapal
kapal, jaring lingkar tanpa perikanan;
kerut; ▪ Pembangunan dermaga
▪ Penangkapan ikan perikanan;
menggunakan jaring tarik ▪ Usaha bongkar muat
: jaring tarik pantai, barang: pengemasan,
paying, jaring tarik penumpukan dan
berkantong; penyimpanan di
▪ Penangkapan ikan pelabuhan;
menggunakan alat yang ▪ Pembangunan dan
dijatuhkan atau ditebarkan pengoperasian cement
: jala jatuh berkapal, jala grinding plant dan cement
tebar; packing plant;
▪ Penangkapan ikan ▪ Pengoperasian
menggunakan jaring pelabuhan pengumpan
insang : jaring insang regional dan lokal;
tetap, jaring insang ▪ Usaha angkutan laut
hanyut, jaring insang badan usaha pada lintas
208
Rencana Lokasi Luas Koordinat Pengaturan
Kode Ketentuan
pola Kegiatan
Zona Perairan Kabupaten/Kota Toponimi (Ha) Longitude Latitude Diperbolehkan Diperbolehkan dengan Syarat Tidak Diperbolehkan khusus
ruang
berlapis, jaring insang pelabuhan antar
kombinasi; Kab/Kota dalam Provinsi;
▪ Penangkapan ikan ▪ Usaha angkutan laut
menggunakan pancing : pelayaran rakyat atau
pancing ulur, pancing badan usaha pada lintas
berjoran, pancing cumi, pelabuhan antar
pancing cumi mekanis, Kab/Kota dalam, antar
pancing layang-layang; Provinsi dan pelabuhan
▪ Penangkapan ikan internasional;
menggunakan alat ▪ Usaha jasa angkutan
penangkapan lainnya : perairan pelabuhan;
tombak, ladung, panah, ▪ Usaha jasa penyewaan
pukat di dorong, seser; peralatan angkutan laut;
▪ Kegiatan riset atau survei ▪ Pengelolaan (TUKS) di
hidrografi oleh kapal dalam DLKr/DLKp
asing; pelabuhan;
▪ Kegiatan berlabuh jangkar ▪ Operasi kapal angkutan
kecuali dalam keadaan penyeberangan dalam
force majeure oleh kapal provinsi;
asing; ▪ Konstruksi pertambangan
▪ Usaha pelayanan jasa garam;
pemanduan kapal; ▪ Industri pergaraman;
▪ Kegiatan membantu ▪ Kegiatan industri
pekerjaan teknis terhadap galangan kapal dengan
kapal-kapal yang masih sistem Graving Dock
mengapung tetapi sedang Kapal;
mengalami malapetaka;
▪ Pembangunan industri
▪ Kegiatan pembuatan yang terintegarasi
kapal/alat terapung saja; dengan pelabuhan;
▪ Kegiatan perbaikan atau ▪ Kegiatan pembuatan alat-
pemeliharaan kapal / alat- alat perlengkapan lain
alat terapung saja; yang khusus
▪ Penetapan rute pelayaran dipergunakan dalam
internasional; kapal;
▪ Pengerukan di wilayah ▪ Kegiatan pembuatan alat-
perairan pelabuhan alat maritim lainnya;
pengumpan regional dan ▪ Pembangunan stasiun
lokal; pengisian bahan bakar
▪ Eksplorasi energy OTEC; nelayan;
209
Rencana Lokasi Luas Koordinat Pengaturan
Kode Ketentuan
pola Kegiatan
Zona Perairan Kabupaten/Kota Toponimi (Ha) Longitude Latitude Diperbolehkan Diperbolehkan dengan Syarat Tidak Diperbolehkan khusus
ruang
▪ Kegiatan instalasi ▪ Pemungutan/penebangan
pembangkit listrik; hasil hutan kayu pada
▪ Penetapan alur pelayaran hutan mangrove;
dari dan ke pelabuhan ▪ Kegiatan reklamasi;
perikanan; ▪ Kegiatan lainnya yang
▪ Uji coba kapal; mengurangi nilai dan/atau
▪ Usaha pelayanan fungsi kawasan atau
perbaikan dan zona.
pemeliharaan kapal
perikanan;
▪ Usaha tally mandiri :
kegiatan cargodoring,
receiving/delivery, stuffing
dan stripping peti kemas
bagi kepentingannya
sendiri;
▪ Kegiatan pekerjaan
penyelaman (diving
works);
▪ Pemungutan hasil hutan
bukan kayu pada hutan
mangrove (madu; getah;
daun; buah dan biji; tanin;
ikan; hasil hutan bukan
kayu lainnya);
▪ Kegiatan lain yang tidak
mengubah fungsi
kawasan atau zona.
210
E. Perikanan Tangkap
211
Rencana Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas Ketentuan
pola Kegiatan Longitude Latitude
Zona Perairan Kabupaten/Kota Toponimi (Ha) Diperbolehkan Diperbolehkan dengan Syarat Tidak Diperbolehkan khusus
ruang (X) (Y)
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 41' ▪ Penangkapan Pembangkit Listrik Tenaga cargodoring,
109° 8' ikan Gelombang Laut (PLTGL); receiving/delivery,
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 12,09 30,535"
57,977" E menggunakan stuffing dan
Tangkap 12 Tengah Tangkap S ▪ Pembangunan
jaring tarik: jaring pembangkitan, transmisi, stripping peti
Zona KPU- Perairan Laut Zona tarik pantai, kemas bagi
109° 48' 6° 53' distribusi dan penjualan
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 11,95 payang; kepentingannya
0,907" E 4,996" S tenaga listrik;
Tangkap 13 Tengah Tangkap sendiri;
▪ Penangkapan ▪ Latihan militer;
Zona KPU- Perairan Laut Zona 6° 52' ikan ▪ Pembangunan
109° 48' ▪ Pembangunan fasilitas
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 0,28 55,432" menggunakan dan
26,462" E umum;
Tangkap 14 Tengah Tangkap S alat yang pengoperasian
dijatuhkan atau ▪ Kegiatan pengambilan dan cement grinding
Zona KPU- Perairan Laut Zona 6° 54' pemanfaatan air laut selain
109° 54' ditebarkan : jala plant dan cement
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 5,17 59,631" energi;
5,984" E jatuh berkapal, packing plant;
Tangkap 15 Tengah Tangkap S
jala tebar; ▪ Pembangunan Pelabuhan ▪ Pengoperasian
Zona KPU- Perairan Laut Zona 6° 54' Perikanan;
109° 57' ▪ Penangkapan Pelabuhan
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 82,60 53,402" ▪ Pembangunan TPI
28,374" E ikan Pengumpan
Tangkap 16 Tengah Tangkap S ▪ Pembangunan Pelabuhan
menggunakan Regional dan
Zona KPU- Perairan Laut Zona jaring insang : Laut; Lokal;
109° 57' 6° 55'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 96,95 jaring insang ▪ Pembangunan stasiun ▪ Usaha jasa
35,496" E 6,658" S
Tangkap 17 Tengah Tangkap tetap, jaring pengisian bahan bakar penyewaan
Zona KPU- Perairan Laut Zona 6° 55' insang hanyut, nelayan; peralatan
109° 59' jaring insang angkutan laut;
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 281,00 10,247" ▪ Pemasangan rumpon
9,387" E lingkar, jaring
Tangkap 18 Tengah Tangkap S perairan dalam; ▪ Kegiatan bongkar
insang muat oleh kapal
Zona KPU- Perairan Laut Zona 6° 35' ▪ Pemasangan rumpon
109° 33' berpancang, asing;
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 1.761,20 26,451" perairan dangkal;
21,515" E jaring insang
Tangkap 19 Tengah Tangkap S berlapis, jaring ▪ Pengambilan sumber daya ▪ Konstruksi
insang kombinasi; laut non ikan untuk Pertambangan
Zona KPU- Perairan Laut Zona 6° 34' Garam;
109° 33' kepentingan ekonomi;
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 1.353,12 52,648" ▪ Penangkapan
27,707" E ikan ▪ Usaha pembudidayaan ▪ Industri
Tangkap 20 Tengah Tangkap S
menggunakan semua jenis ikan; penggaraman;
Zona KPU- Perairan Laut Zona 6° 48' ▪ Pembudidayaan ikan untuk ▪ Kegiatan
110° 1' perangkap : set
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 11.497,25 35,208" kepentingan industri; pengumpulan,
4,854" E net, bubu, bubu
Tangkap 21 Tengah Tangkap S pemanfaatan,
bersayap, pukat ▪ Usaha budidaya perikanan
Zona KPU- Perairan Laut Zona 6° 54' labuh, togo, terapung (keramba jaring pengolahan,
110° 1' pembuangan, dan
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 50,93 23,796" ambai, jermal, apung);
50,399" E penimbunan
Tangkap 22 Tengah Tangkap S pengerih, sero; ▪ Pembudidayaan sumber
▪ Penangkapan limbah B3;
Zona KPU- Perairan Laut Zona daya laut non ikan untuk
110° 2' 6° 54' ikan kepentingan ekonomi; ▪ Kegiatan
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 69,37
47,757" E 8,376" S menggunakan pengumpulan,
Tangkap 23 Tengah Tangkap
212
Rencana Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas Ketentuan
pola Kegiatan Longitude Latitude
Zona Perairan Kabupaten/Kota Toponimi (Ha) Diperbolehkan Diperbolehkan dengan Syarat Tidak Diperbolehkan khusus
ruang (X) (Y)
Zona KPU- Perairan Laut Zona 6° 53' pancing : pancing ▪ Budidaya ikan hasil pemanfaatan,
110° 3' ulur, pancing ulur rekayasa genetik; pengolahan,
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 6,09 55,248"
24,145" E tuna, pancing pembuangan, dan
Tangkap 24 Tengah Tangkap S ▪ Pemasangan Keramba
berjoran, pancing Jaring Apung; penimbunan
Zona KPU- Perairan Laut Zona 6° 43' cumi, pancing limbah non B3;
110° 4' ▪ Wisata alam bentang laut;
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 13.171,22 19,672" cumi mekanis,
17,113" E ▪ Kegiatan Industri
Tangkap 25 Tengah Tangkap S pancing layang- ▪ Wisata alam bawah laut;
Galangan Kapal
Zona KPU- Perairan Laut Zona 6° 46' layang, huhate, ▪ Wisata sejarah; dengan sistem
110° 4' huhate mekanis, ▪ Wisata budaya;
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 5.210,72 27,580" Graving Dock
28,816" E rawai dasar, rawai
Tangkap 26 Tengah Tangkap S ▪ Wisata olahraga air; Kapal;
tuna, tonda; ▪ Usaha dermaga wisata; ▪ Kegiatan
Zona KPU- Perairan Laut Zona 6° 53'
110° 4' ▪ Penangkapan pembuatan
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 10,27 55,695" ▪ Usaha angkutan laut wisata
4,676" E ikan kapal/alat
Tangkap 27 Tengah Tangkap S dalam negeri;
menggunakan terapung saja;
Zona KPU- Perairan Laut Zona 6° 44' ▪ Usaha angkutan laut
110° 14' alat penangkapan ▪ Kegiatan
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 68.928,10 55,367" internasional wisata;
43,477" E ikan lainnya : perbaikan atau
Tangkap 28 Tengah Tangkap S tombak, ladung, ▪ Usaha jasa perjalanan
wisata; pemeliharaan
Zona KPU- Perairan Laut Zona 6° 53' panah, pukat kapal/alat- alat
110° 4' dorong, seser, ▪ Usaha wisata berenang;
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 155,29 42,205" terapung saja;
56,564" E pocongan;
Tangkap 29 Tengah Tangkap S ▪ Jasa Wisata Tirta (bahari);
▪ Kegiatan
Zona KPU- Perairan Laut Zona 6° 55' ▪ Kegiatan ▪ Pengambilan foto/video pembuatan
110° 19' pengujian kapal bawah laut;
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 241,22 36,690" mesin- mesin
44,737" E perikanan/perahu ▪ Survei dan / atau penelitian
Tangkap 30 Tengah Tangkap S utama/pembantu;
ikan bermotor ; ilmiah;
Zona KPU- Perairan Laut Zona 6° 55' ▪ Kegiatan
110° 21' ▪ Pengangkutan ▪ Usaha angkutan laut badan pembuatan alat-
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 1.216,61 54,583" ikan hasil
23,860" E usaha pada lintas alat perlengkapan
Tangkap 31 Tengah Tangkap S budidaya dengan pelabuhan antar kab/kota lain yang khusus
Zona KPU- Perairan Laut Zona 6° 40' Kapal dalam Provinsi; dipergunakan
110° 25' Pengangkut Ikan
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 2.303,45 54,566" ▪ Usaha angkutan laut dalam kapal;
9,459" E Hidup Berbendera
Tangkap 32 Tengah Tangkap S pelayaran rakyat atau
Indonesia; ▪ Kegiatan
Zona KPU- Perairan Laut Zona 6° 39' badan usaha pada lintas pembuatan alat-
110° 26' ▪ Pengangkutan
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 8.255,03 36,597" pelabuhan antar kab/kota alat maritim
26,556" E ikan hasil
Tangkap 33 Tengah Tangkap S dalam, antar provinsi dan lainnya;
budidaya dengan pelabuhan internasional;
Zona KPU- Perairan Laut Zona 6° 40' Kapal nelayan ▪ Kegiatan
110° 27' ▪ Usaha jasa angkutan budidaya biota
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 1.919,32 36,937" kecil;
43,392" E perairan pelabuhan; laut untuk
Tangkap 34 Tengah Tangkap S ▪ Penetapan alur
▪ Penelitian dan kepentingan
Zona KPU- Perairan Laut Zona pelayaran dari industri
110° 26' 6° 56' pengembangan perikanan;
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 0,07 dan ke pelabuhan Biofarmakologi
53,792" E 2,185" S
Tangkap 35 Tengah Tangkap perikanan;
213
Rencana Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas Ketentuan
pola Kegiatan Longitude Latitude
Zona Perairan Kabupaten/Kota Toponimi (Ha) Diperbolehkan Diperbolehkan dengan Syarat Tidak Diperbolehkan khusus
ruang (X) (Y)
Zona KPU- Perairan Laut Zona 6° 55' ▪ Pembuatan ▪ Pembangunan tanggul /Bioteknologi
110° 27' terumbu karang dan/atau bangunan Laut;
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 60,22 38,052"
7,186" E buatan dan/atau pelindung pantai;
Tangkap 36 Tengah Tangkap S ▪ Pembangunan
rumah ikan (fish ▪ Pembangunan breakwater pembangkitan,
Zona KPU- Perairan Laut Zona 6° 55' shelter) yang
110° 27' (pemecah gelombang); transmisi,
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 147,47 25,418" menggunakan
29,650" E ▪ Pembangunan turap distribusi dan
Tangkap 37 Tengah Tangkap S media beton, (revertment), penjualan tenaga
Zona KPU- Perairan Laut Zona 6° 55' biorock dan pembangunan groin; listrik;
110° 28' media ramah
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 93,93 16,052" ▪ Pengambilan
1,951" E lingkungan; ▪ Pembangunan,
Tangkap 38 Tengah Tangkap S terumbu karang;
pemindahan, dan/atau
Zona KPU- Perairan Laut Zona ▪ Penarikan pembongkaran bangunan ▪ Kegiatan
110° 30' 6° 44' (Towing);
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 23.833,77 atau instalasi; reklamasi;
47,171" E 2,371" S ▪ Pengapungan
Tangkap 39 Tengah Tangkap ▪ Pembangunan industri ▪ Kegiatan lainnya
(refloating); yang terintegrasi dengan yang mengurangi
Zona KPU- Perairan Laut Zona 6° 35'
110° 34' ▪ Mitigasi bencana pelabuhan; nilai dan/atau
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 23.333,63 32,555"
46,794" E dan kondisi fungsi kawasan
Tangkap 40 Tengah Tangkap S ▪ Kegiatan pekerjaan
bahaya di laut penyelaman (diving works); atau zona.
Zona KPU- Perairan Laut Zona 6° 22' termasuk
110° 43' ▪ Kegiatan membantu
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 17.827,67 20,336" penanaman
40,628" E pekerjaan teknis terhadap
Tangkap 41 Tengah Tangkap S vegetasi pantai.
kapal-kapal yang masih
Zona KPU- Perairan Laut Zona 6° 30' mengapung tetapi sedang
110° 29'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 14.956,95 34,711" mendapat malapetaka;
53,391" E
Tangkap 42 Tengah Tangkap S
▪ Pengangkutan mineral
Zona KPU- Perairan Laut Zona 6° 17' logam, mineral bukan
110° 43'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 57.279,28 51,865" logam, batuan, batu bara,
31,911" E
Tangkap 43 Tengah Tangkap S mineral radioaktif;
Zona KPU- Perairan Laut Zona 6° 25' ▪ Kegiatan pemindahan
110° 36' muatan dan atau bahan
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 374,25 19,914"
29,314" E bakar (cargo and fuel
Tangkap 44 Tengah Tangkap S
transferring);
Zona KPU- Perairan Laut Zona
111° 5' 6° 27' ▪ Pengintroduksian
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 173.670,59
28,578" E 8,893" S organisme hasil rekayasa
Tangkap 45 Tengah Tangkap
genetika ke lingkungan;
Zona KPU- Perairan Laut Zona 6° 18' ▪ Pemungutan hasil hutan
110° 50'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 6.242,35 16,126" bukan kayu pada hutan
41,788" E
Tangkap 46 Tengah Tangkap S mangrove (madu; getah;
Zona KPU- Perairan Laut Zona 6° 16' daun; buah dan biji; tanin;
110° 37'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 588,40 45,342" ikan; hasil hutan bukan
17,590" E
Tangkap 47 Tengah Tangkap S kayu lainnya);
214
Rencana Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas Ketentuan
pola Kegiatan Longitude Latitude
Zona Perairan Kabupaten/Kota Toponimi (Ha) Diperbolehkan Diperbolehkan dengan Syarat Tidak Diperbolehkan khusus
ruang (X) (Y)
Zona KPU- Perairan Laut Zona ▪ Penangkapan ikan
111° 11' 6° 18' menggunakan jaring angkat
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 1.893,99
4,504" E 2,834" S : anco, bagan berperahu
Tangkap 48 Tengah Tangkap
atau bagan apung, bouke
Zona KPU- Perairan Laut Zona 6° 41' ami, bagan tancap;
111° 16'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 330,58 10,967"
18,717" E ▪ Penangkapan ikan
Tangkap 49 Tengah Tangkap S
menggunakan penggaruk :
Zona KPU- Perairan Laut Zona 6° 31' penggaruk berkapal,
111° 33'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 63.765,93 45,335" penggaruk tanpa kapal;
32,623" E
Tangkap 50 Tengah Tangkap S ▪ Pelatihan perang dengan
Zona KPU- Perairan Laut Zona 6° 25' menggunakan amunisi oleh
111° 29' kapal asing;
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 1.329,78 35,475"
26,601" E
Tangkap 51 Tengah Tangkap S ▪ Kegiatan riset atau survei
Zona KPU- Perairan Laut Zona 6° 39' hidrografi oleh kapal asing;
111° 39' ▪ Kegiatan pengerukan
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 23.395,13 21,315"
53,419" E sedimentasi di laut dalam
Tangkap 52 Tengah Tangkap S
rangka normalisasi muara
Zona KPU- Perairan Laut Zona 8° 13' sungai;
110° 52'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 3.262,66 39,911"
0,983" E ▪ Kegiatan lain yang tidak
Tangkap 53 Tengah Tangkap S
mengubah fungsi kawasan
Zona KPU- Perairan Laut Zona 8° 16' atau zona.
110° 51'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 3.858,40 52,941"
24,411" E
Tangkap 54 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 8° 19'
110° 50'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 413,26 16,488"
53,815" E
Tangkap 55 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 8° 21'
110° 50'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 2.714,57 42,300"
26,949" E
Tangkap 56 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 53'
110° 0'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 2,39 36,717"
5,330" E
Tangkap 57 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 55'
109° 59'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 777,48 34,571"
0,716" E
Tangkap 58 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 53'
109° 39'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 29.970,99 18,780"
49,806" E
Tangkap 59 Tengah Tangkap S
215
Rencana Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas Ketentuan
pola Kegiatan Longitude Latitude
Zona Perairan Kabupaten/Kota Toponimi (Ha) Diperbolehkan Diperbolehkan dengan Syarat Tidak Diperbolehkan khusus
ruang (X) (Y)
Zona KPU- Perairan Laut Zona
109° 57' 7° 56'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 319,32
53,909" E 3,435" S
Tangkap 60 Tengah Tangkap
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 54'
109° 56'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 2.595,94 49,091"
57,342" E
Tangkap 61 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona
109° 54' 7° 54'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 3.474,65
51,548" E 6,097" S
Tangkap 62 Tengah Tangkap
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 50'
109° 52'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 80,51 43,274"
17,319" E
Tangkap 63 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 50'
109° 52'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 271,76 40,665"
10,704" E
Tangkap 64 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 53'
109° 51'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 4.997,87 15,107"
55,311" E
Tangkap 65 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 52'
109° 49'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 1.913,26 24,140"
20,785" E
Tangkap 66 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 8° 2'
109° 55'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 1.379,69 21,280"
54,769" E
Tangkap 67 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 8° 0'
109° 54'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 6.322,21 22,588"
14,054" E
Tangkap 68 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 59'
109° 49'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 9.213,85 18,603"
59,569" E
Tangkap 69 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 53'
109° 47'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 366,02 23,486"
41,279" E
Tangkap 70 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 49'
109° 48'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 0,003 59,520"
41,749" E
Tangkap 71 Tengah Tangkap S
216
Rencana Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas Ketentuan
pola Kegiatan Longitude Latitude
Zona Perairan Kabupaten/Kota Toponimi (Ha) Diperbolehkan Diperbolehkan dengan Syarat Tidak Diperbolehkan khusus
ruang (X) (Y)
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 49'
109° 48'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 0,11 59,300"
39,990" E
Tangkap 72 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 49'
109° 48'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 15,34 56,584"
18,170" E
Tangkap 73 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 49'
109° 48'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 5,30 54,361"
3,596" E
Tangkap 74 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 51'
109° 46'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 2.222,03 35,842"
41,403" E
Tangkap 75 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 50'
109° 41'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 8.170,22 24,436"
40,698" E
Tangkap 76 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona
109° 36' 7° 49'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 1.071,38
29,745" E 9,512" S
Tangkap 77 Tengah Tangkap
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 49'
109° 35'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 572,58 16,389"
8,431" E
Tangkap 78 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 48'
109° 34'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 1.003,70 30,039"
6,557" E
Tangkap 79 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 48'
109° 30'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 5.011,36 14,375"
34,003" E
Tangkap 80 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 47'
109° 25'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 4.455,37 21,618"
0,404" E
Tangkap 81 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 56'
109° 41'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 28.113,53 17,446"
58,891" E
Tangkap 82 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 54'
109° 32'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 20.192,37 35,210"
14,478" E
Tangkap 83 Tengah Tangkap S
217
Rencana Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas Ketentuan
pola Kegiatan Longitude Latitude
Zona Perairan Kabupaten/Kota Toponimi (Ha) Diperbolehkan Diperbolehkan dengan Syarat Tidak Diperbolehkan khusus
ruang (X) (Y)
Zona KPU- Perairan Laut Zona
109° 25' 7° 54'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 14.847,54
27,207" E 2,071" S
Tangkap 84 Tengah Tangkap
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 55'
109° 21'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 4.802,98 20,809"
42,356" E
Tangkap 85 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 51'
109° 20'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 4.378,10 20,484"
13,404" E
Tangkap 86 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 46'
109° 20'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 891,39 21,087"
22,537" E
Tangkap 87 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 45'
109° 21'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 674,94 18,129"
57,703" E
Tangkap 88 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 43'
109° 23'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 37,25 49,686"
5,899" E
Tangkap 89 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 43'
109° 21'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 302,81 17,580"
52,068" E
Tangkap 90 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona
109° 21' 7° 43'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 41,04
27,934" E 4,334" S
Tangkap 91 Tengah Tangkap
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 43'
109° 21'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 184,78 59,642"
52,667" E
Tangkap 92 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 42'
109° 15'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 1.692,14 12,294"
21,943" E
Tangkap 93 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 42'
109° 14'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 918,65 32,348"
31,713" E
Tangkap 94 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 46'
109° 13'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 7.304,55 53,593"
5,786" E
Tangkap 95 Tengah Tangkap S
218
Rencana Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas Ketentuan
pola Kegiatan Longitude Latitude
Zona Perairan Kabupaten/Kota Toponimi (Ha) Diperbolehkan Diperbolehkan dengan Syarat Tidak Diperbolehkan khusus
ruang (X) (Y)
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 44'
109° 15'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 8.989,74 40,750"
59,004" E
Tangkap 96 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona
109° 19' 7° 57'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 85,50
15,069" E 6,980" S
Tangkap 97 Tengah Tangkap
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 51'
109° 14'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 25.074,15 19,775"
58,795" E
Tangkap 98 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 52'
109° 8'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 9.546,23 18,181"
16,704" E
Tangkap 99 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 46'
109° 8'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 41,92 17,862"
16,367" E
Tangkap 100 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 45'
109° 8'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 35,95 10,171"
39,522" E
Tangkap 101 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona
109° 9' 7° 44'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 561,84
35,610" E 3,228" S
Tangkap 102 Tengah Tangkap
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 43'
109° 8'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 404,63 47,039"
53,458" E
Tangkap 103 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 42'
109° 9'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 187,86 42,200"
4,477" E
Tangkap 104 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 42'
109° 9'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 54,84 15,202"
55,185" E
Tangkap 105 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 42'
109° 9'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 116,49 16,711"
16,416" E
Tangkap 106 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 6° 53'
110° 3'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 0,50 53,320"
35,031" E
Tangkap 107 Tengah Tangkap S
219
Rencana Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas Ketentuan
pola Kegiatan Longitude Latitude
Zona Perairan Kabupaten/Kota Toponimi (Ha) Diperbolehkan Diperbolehkan dengan Syarat Tidak Diperbolehkan khusus
ruang (X) (Y)
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 41'
109° 10'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 7,56 57,500"
0,120" E
Tangkap 108 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 41'
109° 10'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 128,33 45,347"
18,065" E
Tangkap 109 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona
109° 9' 7° 42'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 70,01
4,608" E 4,216" S
Tangkap 110 Tengah Tangkap
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 41'
109° 9'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 187,27 45,877"
18,788" E
Tangkap 111 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 41'
109° 8'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 82,97 30,535"
57,977" E
Tangkap 112 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 41'
109° 6'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 100,67 17,213"
31,150" E
Tangkap 113 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 41'
109° 6'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 42,32 20,590"
9,375" E
Tangkap 114 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 41'
109° 6'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 33,82 52,339"
9,265" E
Tangkap 115 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 46'
109° 6'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 2.059,42 26,685"
31,781" E
Tangkap 116 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 43'
109° 6'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 73,81 21,535"
8,928" E
Tangkap 117 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 43'
109° 6'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 8,70 54,905"
7,380" E
Tangkap 118 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 48'
109° 6'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 1.356,52 52,302"
32,831" E
Tangkap 119 Tengah Tangkap S
220
Rencana Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas Ketentuan
pola Kegiatan Longitude Latitude
Zona Perairan Kabupaten/Kota Toponimi (Ha) Diperbolehkan Diperbolehkan dengan Syarat Tidak Diperbolehkan khusus
ruang (X) (Y)
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 46'
109° 7'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 218,02 47,392"
52,784" E
Tangkap 120 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 55'
109° 4'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 4.697,74 17,628"
58,790" E
Tangkap 121 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona
109° 4' 7° 54'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 1.372,12
28,167" E 6,563" S
Tangkap 122 Tengah Tangkap
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 52'
109° 3'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 3.884,99 46,136"
39,932" E
Tangkap 123 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona
109° 3' 7° 50'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 135,57
55,395" E 5,837" S
Tangkap 124 Tengah Tangkap
Zona KPU- Perairan Laut Zona
109° 2' 7° 50'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 17,30
55,705" E 7,042" S
Tangkap 125 Tengah Tangkap
Zona KPU- Perairan Laut Zona
109° 6' 7° 53'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 2.227,52
44,070" E 6,300" S
Tangkap 126 Tengah Tangkap
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 42'
109° 4'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 236,03 55,569"
21,485" E
Tangkap 127 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 42'
109° 4'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 98,82 28,703"
21,176" E
Tangkap 128 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 41'
109° 4'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 67,54 56,719"
20,730" E
Tangkap 129 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 42'
109° 3'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 6,12 57,728"
58,744" E
Tangkap 130 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 42'
109° 3'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 718,44 44,499"
19,425" E
Tangkap 131 Tengah Tangkap S
221
Rencana Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas Ketentuan
pola Kegiatan Longitude Latitude
Zona Perairan Kabupaten/Kota Toponimi (Ha) Diperbolehkan Diperbolehkan dengan Syarat Tidak Diperbolehkan khusus
ruang (X) (Y)
Zona KPU- Perairan Laut Zona
109° 2' 7° 43'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 79,18
20,557" E 0,061" S
Tangkap 132 Tengah Tangkap
Zona KPU- Perairan Laut Zona 7° 43'
109° 2'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 32,04 20,704"
25,590" E
Tangkap 133 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 6° 5'
110° 26'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 252,57 37,115"
59,218" E
Tangkap 134 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 6° 3'
110° 26'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 2.068,30 51,777"
58,608" E
Tangkap 135 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona
110° 27' 6° 2'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 1.391,21
18,211" E 1,271" S
Tangkap 136 Tengah Tangkap
Zona KPU- Perairan Laut Zona 5° 47'
110° 33'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 145.310,35 18,109"
24,699" E
Tangkap 137 Tengah Tangkap S
Zona KPU- Perairan Laut Zona 5° 47'
110° 36'
Perikanan PT- Provinsi Jawa Perikanan 55.916,77 42,279"
38,039" E
Tangkap 138 Tengah Tangkap S
Zona G1 Perairan Laut Zona 31,75 6° 56'
110° 22'
Perikanan Provinsi Jawa Perikanan 52,708"
49,080" E
Tangkap Tengah Tangkap S
Zona U18 Perairan Laut Zona 1,46 6° 53'
110° 4'
Perikanan Provinsi Jawa Perikanan 52,998"
51,493" E
Tangkap Tengah Tangkap S
222
F. Perikanan Budidaya
223
Rencana Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas Ketentuan
pola Kegiatan Longitude Latitude Diperbolehkan
Zona Perairan Kabupaten/Kota Toponimi (Ha) Diperbolehkan Tidak Diperbolehkan Khusus
ruang (X) (Y) dengan Syarat
▪ Pembudidayaan ▪ Penggelaran / perikanan/perahu
ikan untuk pemasangan ikan bermotor;
kepentingan kabel/pipa bawah ▪ Pengangkutan
industri; laut dan mineral logam,
▪ Survei dan/atau pekerjaan bawah mineral bukan logam,
penelitian air lainnya; batuan, batu bara,
ilmiah; ▪ Latihan militer; mineral radioaktif;
▪ Penelitian dan ▪ Pembangunan ▪ Pengerukan perairan
pengembangan fasilitas umum; dengan capital
perikanan. ▪ Kegiatan dredging;
pengambilan dan ▪ Pengerukan perairan
pemanfaatan air laut dengan capital
laut selain energi; dredging yang
▪ Pengambilan memotong material
foto/video bawah karang dan/atau
laut; batuan;
▪ Bongkar muat ▪ Eksploitasi (operasi
ikan; produksi) mineral
▪ Pembangunan logam;
SBNP (Sarana ▪ Pengolahan dan
Bantu navigasi); pemurnian mineral
▪ Pembangunan, logam;
pemindahan ▪ Pemasangan fasilitas
dan/atau turbin generator
pembongkaran energi;
bangunan atau ▪ Kegiatan Instalasi
instalasi; Pembangkit Listrik
▪ Pembangunan Tenaga Arus Laut
tanggul dan/atau (PLTAL);
bangunan ▪ Pembangunan
pelindung pantai; PLTU/PLTGU;
▪ Pembangunan ▪ Pembangunan
breakwater pembangkitan,
(pemecah transmisi, distribusi
gelombang); dan penjualan tenaga
▪ Pembangunan listrik;
turap ▪ Pembangunan
(revertment), Pelabuhan Perikanan;
pembangunan ▪ Pembangunan TPI;
groin;
224
Rencana Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas Ketentuan
pola Kegiatan Longitude Latitude Diperbolehkan
Zona Perairan Kabupaten/Kota Toponimi (Ha) Diperbolehkan Tidak Diperbolehkan Khusus
ruang (X) (Y) dengan Syarat
▪ Pembangunan, ▪ Pembangunan
pemindahan, Pelabuhan Laut;
dan/atau ▪ Pembangunan
pembongkaran stasiun pengisian
bangunan atau bahan bakar nelayan;
instalasi; ▪ Penetapan tambat
▪ Kegiatan labuh;
pengerukan ▪ Penetapan tempat
sedimentasi di alih muat antar kapal;
laut dalam rangka
normalisasi ▪ Pembangunan kolam
muara sungai; pelabuhan untuk
kebutuhan sandar
▪ Pelepasan dan oleh gerak kapal;
jangkar;
▪ Pembangunan
▪ Penangkapan terminal peti kemas;
ikan dengan
kapal ukuran ≤ 5 ▪ Pembangunan
GT; terminal curah kering;
▪ Pengambilan ▪ Pembangunan
sumber daya laut terminal curah cair;
non ikan untuk ▪ Pembangunan
kepentingan terminal Roro;
ekonomi; ▪ Pembangunan tempat
▪ Pengangkutan perbaikan kapal;
ikan hasil ▪ Penempatan kapal
penangkapan mati;
dengan kapal ▪ Penetapan alur
pengangkut ikan pelayaran dari dan ke
hidup berbendera pelabuhan perikanan;
Indonesia; ▪ Uji coba kapal;
▪ Kegiatan ▪ Usaha pelayanan
berlabuh jangkar perbaikan dan
kecuali dalam pemeliharaan kapal
keadaan force perikanan; Usaha
majeure oleh pelayanan logistik
kapal asing; dan perbekalan kapal
▪ Usaha pelayanan perikanan;
jasa pemanduan ▪ Pembangunan
kapal; dermaga perikanan;
225
Rencana Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas Ketentuan
pola Kegiatan Longitude Latitude Diperbolehkan
Zona Perairan Kabupaten/Kota Toponimi (Ha) Diperbolehkan Tidak Diperbolehkan Khusus
ruang (X) (Y) dengan Syarat
▪ Kegiatan ▪ Usaha bongkar muat
membantu barang: pengemasan,
pekerjaan teknis penumpukan, dan
terhadap kapal- penyimpanan di
kapal yang masih pelabuhan;
mengapung tetapi ▪ Usaha tally mandiri:
sedang mendapat kegiatan cargodoring,
malapetaka; receiving/delivery,
▪ Pemungutan hasil stuffing dan stripping
hutan kayu pada peti kemas bagi
hutan mangrove kepentingannya
(madu, getah, sendiri;
daun, buah dan ▪ Pembangunan dan
biji, tannin, ikan, pengoperasian jetty;
hasil hutan bukan ▪ Pembangunan dan
kayu lainnya); pengoperasian
▪ Kegiatan cement grinding plant
pekerjaan dan cement packing
penyelaman plant;
(diving works); ▪ Pengoperasian
▪ Mitigasi bencana pelabuhan
dan kondisi pengumpan regional
bahaya di laut; dan lokal;
▪ Kegiatan lain ▪ Konstruksi
yang tidak pertambangan garam;
mengubah fungsi ▪ Pembangunan
kawasan atau fasilitas infrastruktur
zona. (saluran primer,
sekunder, dan pantai
air);
▪ Industri pergaraman;
▪ Kegiatan
pengumpulan,
pemanfaatan,
pengolahan,
pembuangan dan
penimbunan limbah
B3;
▪ Kegiatan
pengumpulan,
226
Rencana Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas Ketentuan
pola Kegiatan Longitude Latitude Diperbolehkan
Zona Perairan Kabupaten/Kota Toponimi (Ha) Diperbolehkan Tidak Diperbolehkan Khusus
ruang (X) (Y) dengan Syarat
pemanfaatan,
pengolahan,
pembuangan dan
penimbunan limbah
non B3;
▪ Kegiatan perbaikan
atau pemeliharaan
kapal/alat-alat
terapung saja;
▪ Kegiatan industri
galangan kapal
dengan sistem
Graving Dock Kapal;
▪ Pembangunan
industri yang
terintegrasi dengan
pelabuhan;
▪ Kegiatan pembuatan
kapal/alat terapung
saja;
▪ Kegiatan pembuatan
alat-alat maritim
lainnya;
▪ Kegiatan pemindahan
muatan dan atau
bahan bakar (cargo
and fuel transfering);
▪ Penarikan (towing);
▪ Pengapungan
(refloating);
▪ Pembangunan
pembangkitan,
transmisi, distribusi
dan penjualan tenaga
listrik;
▪ Pembangunan
stasiun pengisian
bahan bakar nelayan;
▪ Pengambilan terumbu
karang;
227
Rencana Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas Ketentuan
pola Kegiatan Longitude Latitude Diperbolehkan
Zona Perairan Kabupaten/Kota Toponimi (Ha) Diperbolehkan Tidak Diperbolehkan Khusus
ruang (X) (Y) dengan Syarat
▪ Kegiatan riset atau
survei hidrografi oleh
kapal asing;
▪ Pengintroduksian
organisme hasil
rekayasa genetika ke
lingkungan;
▪ Pelatihan perang
dengan
menggunakan
amunisi oleh kapal
asing;
▪ Kegiatan reklamasi;
▪ Kegiatan lainnya yang
mengurangi nilai
dan/atau fungsi
kawasan atau zona.
228
G. Industri
Lokasi Koordinat Pengaturan
Rencana Luas
Kode Ketentuan
pola Kegiatan Longitude Latitude
Zona Perairan Kabupaten/Kota Toponimi (Ha) Diperbolehkan Diperbolehkan dengan Syarat Tidak Diperbolehkan khusus
ruang (X) (Y)
Industri 6° 51' ▪ Pelepasan ▪ Pembangunan FPSO ▪ Wisata alam bawah laut;
Zona 109° 13' (Floating Production
KPU-ID-01 Kab. Tegal 95,07 34,272" jangkar; ▪ Wisata sejarah;
Industri 1,924" E
S ▪ Kegiatan Storage and Offloading); ▪ Wisata budaya;
Industri 6° 51' pengujian kapal ▪ Pembangunan FSO
Zona 109° 12' ▪ Wisata olah raga air;
KPU-ID-02 Kab. Tegal 34,08 47,434" perikanan / (Floating Storage
Industri 59,822" E perahu ikan Offloading); ▪ Usaha wisata berenang;
S
bermotor; ▪ Pemasangan/penggelaran ▪ Pembangunan TPI;
Industri Zona 109° 43' 6° 52' ▪ Penangkapan ikan
KPU-ID-03 Kab. Batang 59,47 ▪ Penempatan pipa migas;
Industri 50,336" E 8,923" S dengan kapal ukuran ≥
tambat labuh; ▪ Pembangunan
Industri 6° 52' ▪ Pembangunan 10 GT dan semua jenis
Zona 109° 44' anjungan/platform migas;
KPU-ID-04 Kab. Batang 116,41 26,751" kolam pelabuhan alat tangkap;
Industri 14,877" E ▪ Pembangunan fasilitas
S untuk kebutuhan ▪ Usaha pembudidayaan
terapung (Floating
Industri 6° 49' sandar dan oleh semua jenis ikan;
Zona 110° 12' Facility) Migas: Mooring;
KPU-ID-05 Kab. Kendal 1.447,47 57,623" gerak kapal; ▪ Usaha perikanan
Industri 13,470" E ▪ Eksplorasi Migas;
S ▪ Pembangunan budidaya terapung
▪ Eksploitasi (eksplorasi (karamba jaring apung);
Industri Zona 110° 12' 6° 51' tempat perbaikan
produksi) Migas;
KPU-ID-06 Kab. Kendal 124,43 kapal; ▪ Kegiatan budidaya biota
Industri 21,261" E 7,802" S ▪ Tahapan operasi produksi
▪ Uji coba kapal; laut untuk kepentingan
Industri G3 Kab. Kendal Zona 0,17 110° 3' 6° 54' Migas dengan klasifikasi industri Biofarmakologi /
▪ Usaha di atas 2 mil laut;
Industri 30,074" E 8,581" S Bioteknologi Laut;
pelayanan,
▪ Pembangunan kabel ▪ Pemasangan rumpon laut
Industri 6° 55' perbaikan dan
Zona 110° 29' telekomunikasi Local Port dalam;
U11 Kab. Demak 1.834,54 25,574" pemeliharaan
Industri 49,428" E Service (LPS);
S kapal perikanan; ▪ Pemasangan rumpon laut
▪ Penanaman dan/atau dangkal;
Industri 6° 56' ▪ Usaha pelayanan
Zona 110° 18' pemasangan kabel atau
U11 Kab. Kendal 374,52 54,608" logistik dan ▪ Pengintroduksian
Industri 22,742" E tiang serta sarana di laut;
S perbekalan kapal organisme hasil rekayasa
perikanan; ▪ Penggelaran / genetik ke lingkungan;
Industri Zona 110° 18' 6° 56' pemasangan kabel/pipa
U11 Kab. Kendal 32,37 ▪ Usaha bongkar ▪ Pelatihan perang dengan
Industri 29,518" E 2,571" S bawah laut dan pekerjaan
muat barang : menggunakan amunisi
Industri 6° 54' bawah air lainnya;
Zona 110° 16' pengemasan, oleh kapal asing.
U11 Kab. Kendal 92,90 59,732" penumpukan dan ▪ Kegiatan Instalasi
Industri 36,617" E ▪ Pengolahan dan
S penyimpanan di Pembangkit Listrik
pemurnian mineral
pelabuhan; Tenaga Arus Laut
Industri 6° 57' logam;
Zona 110° 20' (PLTAL);
U11 Kota Semarang 27,69 35,816" ▪ Usaha tally ▪ Kegiatan pengumpulan,
Industri 5,193" E
S mandiri : kegiatan pemanfaatan,
229
Lokasi Koordinat Pengaturan
Rencana Luas
Kode Ketentuan
pola Kegiatan Longitude Latitude
Zona Perairan Kabupaten/Kota Toponimi (Ha) Diperbolehkan Diperbolehkan dengan Syarat Tidak Diperbolehkan khusus
ruang (X) (Y)
Industri 6° 52' cargodoring, ▪ Pembangunan pengolahan,
Zona 110° 13' receiving/delivery, PLTU/PLTGU; pembuangan dan
U11 Kab. Kendal 0,66 53,671"
Industri 39,643" E stuffing, dan penimbunan limbah B3;
S ▪ Pembangunan
stripping peti pembangkitan, transmisi, ▪ Kegiatan pengumpulan,
Industri 6° 50' kemas bagi
Zona 110° 10' distribusi dan penjualan pemanfaatan,
U11 Kab. Kendal 22,09 43,197" kepentingannya
Industri 43,296" E tenaga listrik; pengolahan,
S sendiri; ▪ Latihan militer; pembuangan dan
Industri 6° 55' ▪ Pembangunan penimbunan limbah non
Zona 110° 28' ▪ Pembangunan fasilitas
U11 Kab. Demak 0,12 26,492" dan B3;
Industri 41,569" E umum;
S pengoperasian ▪ Pemungutan/penebangan
jetty; ▪ Survei dan atau penelitian
Industri 6° 51' ilmiah; hasil hutan kayu pada
Zona 110° 12' ▪ Usaha pelayanan hutan mangrove;
U11 Kab. Kendal 39,72 31,532"
Industri 40,579" E jasa pemanduan ▪ Eksploitasi (Operasi
S ▪ Kegiatan reklamasi;
kapal; Produksi) mineral logam;
Industri 6° 50' ▪ Pembangunan, ▪ Kegiatan lainnya yang
Zona 110° 11' ▪ Kegiatan industri mengurangi nilai dan/atau
U11 Kab. Kendal 1,39 59,394" pemindahan dan/atau
Industri 5,524" E galangan kapal fungsi kawasan atau
S pembongkaran bangunan
dengan sistem zona.
Industri 6° 50' Graving Dock atau instalasi;
Zona 110° 10'
U11 Kab. Kendal 5,56 54,384" Kapal; ▪ Pembangunan SBNP
Industri 58,081" E
S ▪ Pembangunan (Sarana Bantu Navigasi
industri yang Pelayaran);
Industri Zona 110° 11' 6° 51'
U11 Kab. Kendal 18,61 ▪ Pembangunan breakwater
Industri 35,271" E 6,334" S terintegrasi
dengan (pemecah gelombang);
Industri 6° 50'
Zona 110° 10' pelabuhan; ▪ Pembangunan turap
U11 Kab. Kendal 36,90 24,957"
Industri 42,430" E ▪ Kegiatan (revertment),
S
pembuatan pembangunan groin;
Industri 6° 53' kapal/alat ▪ Wisata bentang alam;
Zona 110° 14'
U11 Kab. Kendal 2,23 12,254" terapung saja;
Industri 3,258" E ▪ Usaha dermaga wisata;
S
▪ Kegiatan ▪ Usaha kegiatan hiburan
Industri 6° 53' perbaikan atau dan rekreasi;
Zona 110° 14'
U11 Kab. Kendal 90,00 50,126" pemeliharaan ▪ Usaha wisata ekstrim
Industri 46,633" E
S kapal/alat-alat (beresiko tinggi);
Industri Zona 110° 10' 6° 50' terapung saja;
U11 Kab. Kendal 0,69 ▪ Usaha angkutan laut
Industri 30,957" E 8,932" S ▪ Kegiatan wisata dalam negeri;
pembuatan
Industri Zona 110° 10' 6° 50' ▪ Usaha angkutan laut
U11 Kab. Kendal 4,34 mesin-mesih
Industri 37,244" E 9,105" S wisata internasional;
utama/pembantu;
Industri ▪ Usaha jasa perjalanan
▪ Kegiatan
wisata;
pembuatan alat-
alat perlengkapan
230
Lokasi Koordinat Pengaturan
Rencana Luas
Kode Ketentuan
pola Kegiatan Longitude Latitude
Zona Perairan Kabupaten/Kota Toponimi (Ha) Diperbolehkan Diperbolehkan dengan Syarat Tidak Diperbolehkan khusus
ruang (X) (Y)
lain yang khusus ▪ Usaha villa (cottage) di
dipergunakan atas laut;
dalam kapal; ▪ Jasa wisata tirta (bahari);
▪ Kegiatan ▪ Pengambilan foto/video
pembuatan alat- bawah laut;
alat maritime ▪ Penempatan kapal mati;
lainnya;
▪ Penetapan tempat alih
▪ Kegiatan muat antar kapal;
pekerjaan
penyelaman ▪ Pengangkutan ikan hasil
(diving works); penangkapan dengan
kapal pengangkut ikan
▪ Kegiatan hidup berbendera
pemindahan Indonesia;
muatan dan atau
bahan bakar ▪ Bongkar muat ikan;
(cargo and fuel ▪ Penangkapan ikan
transferring); dengan menggunakan
▪ Penarikan alat yang dijatuhkan atau
(towing); ditebarkan: jala jatuh
berkapal, jala tebar;
▪ Pengapungan
(refloating); ▪ Penangkapan ikan
dengan semua
ukuran/kapasitas kapal;
▪ Pengambilan sumber
daya laut non ikan untuk
kepentingan ekonomi;
▪ Penangkapan ikan
menggunakan jaring
lingkar : pukat cincin
pelagis kecil dengan satu
kapal, pukat cinci pelagis
besar dengan satu kapal,
pukat cincin teri dengan
satu kapal, pukat cinci
pelagis kecil dengan dua
kapal, jaring lingkar tanpa
kerut;
▪ Penangkapan ikan
menggunakan jaring tarik
: jaring tarik pantai,
231
Lokasi Koordinat Pengaturan
Rencana Luas
Kode Ketentuan
pola Kegiatan Longitude Latitude
Zona Perairan Kabupaten/Kota Toponimi (Ha) Diperbolehkan Diperbolehkan dengan Syarat Tidak Diperbolehkan khusus
ruang (X) (Y)
paying, jaring tarik
berkantong;
▪ Penangkapan ikan
menggunakan perangkap
: set net, bubu, bubu
bersayap, pukat labuh;
▪ Penangkapan ikan
menggunakan pancing :
pancing ulur, pancing
berjoran, pancing cumi,
pancing cumi mekanis,
pancing layang-layang;
▪ Penangkapan ikan
menggunakan alat
penangkapan lainnya :
tombak, ladung, panah,
pukat di dorong, seser;
▪ Pengangkutan ikan hasil
budidaya dengan Kapal
Pengangkut Ikan Hidup
Berbendera Indonesia;
▪ Pengangkutan ikan hasil
budidaya dengan kapal
nelayan kecil;
▪ Pengangkutan mineral
logam, mineral bukan
logam, batuan, batu bara,
mineral radioaktif;
▪ Pengerukan perairan
dengan capital dredging;
▪ Pengerukan perairan laut
dengan capital dredging
yang memotong material
karang dan/atau batu;
▪ Penetapan rute pelayaran
internasional;
▪ Kegiatan riset atau survei
hidrografi oleh kapal
asing;
232
Lokasi Koordinat Pengaturan
Rencana Luas
Kode Ketentuan
pola Kegiatan Longitude Latitude
Zona Perairan Kabupaten/Kota Toponimi (Ha) Diperbolehkan Diperbolehkan dengan Syarat Tidak Diperbolehkan khusus
ruang (X) (Y)
▪ Pembangunan dan
pengoperasian terminal
khusus;
▪ Konstruksi pertambangan
garam;
▪ Industri pergaraman;
▪ Pembangunan stasiun
pengisian bahan bakar
nelayan;
▪ Pengolahan dan
pemurnian mineral logam;
▪ Pemasangan fasilitas
turbin generator energi;
▪ Kegiatan instalasi
pembangkit listrik;
▪ Kegiatan pembangunan
atau pengembangan
pelabuhan;
▪ Pembangunan
pembangkitan, transmisi,
distribusi, dan penjualan
tenaga listrik;
▪ Pembangunan terminal
Roro;
▪ Pembangunan dan
pengoperasian cement
grinding plant dan cement
packing plant;
▪ Pengoperasian pelabuhan
pengumpan regional dan
lokal;
▪ Pengerukan di wilayah
perairan pelabuhan
pengumpan regional dan
lokal;
▪ Usaha angkutan laut
badan usaha pada lintas
pelabuhan antar Kab/Kota
dalam Provinsi;
233
Lokasi Koordinat Pengaturan
Rencana Luas
Kode Ketentuan
pola Kegiatan Longitude Latitude
Zona Perairan Kabupaten/Kota Toponimi (Ha) Diperbolehkan Diperbolehkan dengan Syarat Tidak Diperbolehkan khusus
ruang (X) (Y)
▪ Usaha angkutan laut
pelayaran rakyat atau
badan usaha pada lintas
pelabuhan antar Kab/Kota
dalam, antar provinsi dan
pelabuhan internasional;
▪ Usaha jasa angkutan
perairan pelabuhan;
▪ Usaha jasa penyewaan
peralatan angkutan laut;
▪ Operasi kapal angkutan
penyeberangan dalam
provinsi;
▪ Pembangunan terminal
peti kemas;
▪ Pembangunan terminal
curah kering;
▪ Pembangunan terminal
curah cair;
▪ Penelitian dan
pengembangan
perikanan;
▪ Penetapan alur pelayaran
dari dan ke pelabuhan
perikanan;
▪ Pembangunan dermaga
perikanan;
▪ Kegiatan bongkar muat
oleh kapal asing;
▪ Kegiatan berlabuh jangkar
kecuali dalam keadaan
force majeure oleh kapal
asing;
▪ Pembangunan Fasilitas
Infrastruktur (saluran
primer, sekunder dan
pantai air);
▪ Kegiatan membantu
pekerjaan teknis terhadap
234
Lokasi Koordinat Pengaturan
Rencana Luas
Kode Ketentuan
pola Kegiatan Longitude Latitude
Zona Perairan Kabupaten/Kota Toponimi (Ha) Diperbolehkan Diperbolehkan dengan Syarat Tidak Diperbolehkan khusus
ruang (X) (Y)
kapal-kapal yang masih
mengapung tetapi sedang
mendapat malapetaka;
▪ Pemungutan hasil hutan
bukan kayu pada hutan
mangrove (madu; getah;
daun; buah dan biji; tanin;
ikan; hasil hutan bukan
kayu lainnya);
▪ Kegiatan pengerukan
sedimentasi di laut dalam
rangka normalisasi muara
sungai;
▪ Mitigasi bencana dan
kondisi bahaya di laut
termasuk penanaman
vegetasi pantai.
▪ Kegiatan lain yang tidak
mengubah fungsi
kawasan atau zona.
235
H. Pembuangan (Dumping)
Rencana Lokasi Koordinat Pengaturan
pola Kegiatan Kode Luas Ketentuan
Longitude Latitude
Zona Perairan Kabupaten/Kota Toponimi (Ha) Diperbolehkan Diperbolehkan dengan Syarat Tidak Diperbolehkan Khusus
ruang (X) (Y)
Pembuangan Zona ▪ Pembuangan ▪ Pembangunan FPSO ▪ Usaha
KPU- 109° 11' 6° 44'
(dumping Kab. Tegal Dumping 434,50 material hasil (Floating Production pembudidayaan
DA-01 23,347" E 52,654" S
area) Area pengerukan Storage and Offloading); semua jenis ikan;
Pembuangan Zona alur ▪ Pembangunan FSO ▪ Usaha perikanan
KPU- 109° 46' 6° 44'
(dumping Kab. Batang Dumping 257,35 pelayaran (Floating Storage budidaya
DA-02 43,649" E 45,848" S
area) Area dan kolam Offloading); terapung
Pembuangan Zona pelabuhan; ▪ Pemasangan/penggelaran (karamba jaring
KPU- 109° 51' 6° 43'
(dumping Kab. Batang Dumping 148,68
DA-03 53,128" E 24,562" S ▪ Pembuangan pipa migas; apung);
area) Area
material hasil ▪ Pembangunan ▪ Kegiatan
Pembuangan Zona
KPU- 110° 21' 6° 46' normalisasi anjungan/platform migas; budidaya biota
(dumping Kota Semarang Dumping 2.036,16
DA-04 13,185" E 50,557" S muara ▪ Pembangunan fasilitas laut untuk
area) Area
Pembuangan Zona sungai. terapung (Floating kepentingan
KPU- 110° 34' 6° 31' Facility) Migas: Mooring; industri
(dumping Kab. Jepara Dumping 102,70
DA-05 11,500" E 27,500" S ▪ Eksploitasi (eksplorasi Biofarmakologi /
area) Area
Pembuangan Zona produksi) Migas; Bioteknologi
KPU- 110° 47' 6° 21'
(dumping Kab. Japera Dumping 149,42 ▪ Tahapan operasi produksi Laut;
DA-06 43,286" E 47,412" S
area) Area Migas dengan klasifikasi ▪ Pemasangan
Pembuangan Zona di atas 2 mil laut; rumpon laut
KPU- 111° 30' 6° 33'
(dumping Kab. Rembang Dumping 99,98 ▪ Pembangunan kabel dalam;
DA-07 7,245" E 44,976" S
area) Area telekomunikasi Local Port ▪ Pemasangan
Pembuangan Zona Service (LPS); rumpon laut
KPU- 109° 12' 7° 49'
(dumping Kab. Cilacap Dumping 2.344,73 ▪ Penanaman dan/atau dangkal;
DA-08 17,046" E 28,031" S
area) Area pemasangan kabel atau ▪ Bongkar muat
Pembuangan tiang serta sarana di laut; ikan;
(dumping
▪ Penggelaran / ▪ Pengangkutan
area)
pemasangan kabel/pipa ikan hasil
bawah laut dan pekerjaan penangkapan
bawah air lainnya; dengan kapal
▪ Kegiatan Instalasi pengangkut ikan
Pembangkit Listrik hidup
Tenaga Arus Laut berbendera
(PLTAL); Indonesia;
▪ Pembangunan ▪ Pengintroduksian
PLTU/PLTGU; organisme hasil
▪ Pembangunan rekayasa genetik
pembangkitan, transmisi, ke lingkungan;
distribusi dan penjualan ▪ Pengangkutan
tenaga listrik; mineral logam,
236
Rencana Lokasi Koordinat Pengaturan
pola Kegiatan Kode Luas Ketentuan
Longitude Latitude
Zona Perairan Kabupaten/Kota Toponimi (Ha) Diperbolehkan Diperbolehkan dengan Syarat Tidak Diperbolehkan Khusus
ruang (X) (Y)
▪ Latihan militer; mineral bukan
▪ Pembangunan fasilitas logam, batuan,
umum; batu bara,
▪ Eksplorasi Migas; mineral
▪ Eksploitasi (Operasi radioaktif;
Produksi) mineral logam; ▪ Pengolahan dan
▪ Pembangunan SBNP pemurnian
(Sarana Bantu Navigasi mineral logam;
Pelayaran); ▪ Pengerukan
▪ Kegiatan pekerjaan perairan laut
penyelaman (diving dengan capital
working); dredging yang
▪ Survei dan/atau penelitian memotong
ilmiah; material karang
▪ Pengambilan foto/video dan/atau batu;
bawah laut; ▪ Penempatan
▪ Pengambilan sumber kapal mati;
daya laut non ikan untuk ▪ Uji coba kapal;
kepentingan ekonomi; ▪ Penetapan rute
▪ Penangkapan ikan pelayaran
dengan kapal ukuran <30 internasional;
GT dengan alat tangkap ▪ Kegiatan
sesuai peraturan bongkar muat
perundangan; oleh kapal asing;
▪ Kegiatan lain yang tidak ▪ Usaha
mengubah fungsi pelayanan jasa
kawasan atau zona. pemanduan
kapal;
▪ Kegiatan
pemindahan
muatan dan atau
bahan bakar
(cargo and fuel
transferring);
▪ Pengambilan
terumbu karang;
▪ Pelatihan perang
dengan
menggunakan
237
Rencana Lokasi Koordinat Pengaturan
pola Kegiatan Kode Luas Ketentuan
Longitude Latitude
Zona Perairan Kabupaten/Kota Toponimi (Ha) Diperbolehkan Diperbolehkan dengan Syarat Tidak Diperbolehkan Khusus
ruang (X) (Y)
amunisi oleh
kapal asing;
▪ Kegiatan
pengumpulan,
pemanfaatan,
pengolahan,
pembuangan
dan penimbunan
limbah B3;
▪ Kegiatan
reklamasi;
▪ Kegiatan lainnya
yang mengurangi
nilai dan/atau
fungsi kawasan
atau zona.
238
I. Fasilitas Umum
239
Rencana Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas Ketentuan
pola Kegiatan Kabupaten/ Longitude Latitude
Zona Perairan Toponimi (Ha) Diperbolehkan Diperbolehkan dengan Syarat Tidak Diperbolehkan khusus
ruang Kota (X) (Y)
▪ Pembangunan Sarana Bantu ▪ Pemasangan rumpon
Navigasi Pelayaran (SBNP); perairan dalam;
▪ Penetapan tempat alih muat antar ▪ Pemasangan rumpon
kapal; perairan dangkal;
▪ Pembangunan Kolam pelabuhan ▪ Bongkar muat ikan;
untuk kebutuhan sandar dan olah ▪ Penelitian dan
gerak kapal; pengembangan perikanan;
▪ Pembangunan Tempat perbaikan ▪ Usaha pembudidayaan
kapal; semua jenis ikan;
▪ Penempatan kapal mati; ▪ Usaha perikanan budidaya
▪ Penetapan tambat labuh; terapung (karamba jaring
▪ Kegiatan perbaikan atau apung);
pemeliharaan kapal/alat- alat ▪ Kegiatan pengujian kapal
terapung saja; perikanan/perahu ikan
▪ Kegiatan membantu pekerjaan bermotor;
teknis terhadap kapal-kapal yang ▪ Pengangkutan ikan hasil
masih mengapung tetapi sedang budidaya dengan Kapal
mendapat malapetaka; Pengangkut Ikan Hidup
▪ Pembangunan dan pengoperasian Berbendera Indonesia;
Jetty; ▪ Eksploitasi (Operasi Produksi)
▪ Pengerukan di wilayah perairan Mineral logam;
Pelabuhan Pengumpan Regional ▪ Pengolahan dan Pemurnian
dan Lokal; Mineral logam;
▪ Usaha pelayanan jasa pemanduan ▪ Pemasangan fasilitas turbin
kapal; generator energi;
▪ Kegiatan pemindahan muatan dan ▪ Pembangunan TPI;
atau bahan bakar (cargo and fuel ▪ Usaha pelayanan perbaikan
transferring); dan pemeliharaan kapal
▪ Pembangunan, pemindahan perikanan;
dan/atau pembongkaran ▪ Usaha pelayanan logistik dan
bangunan atau instalasi; perbekalan kapal perikanan;
▪ Pembangunan SBNP (Sarana ▪ Pembangunan dermaga
Bantu Navigasi Pelayaran); perikanan;
▪ Usaha pembudidayaan semua ▪ Pembangunan dan
jenis ikan; pengoperasian cement
▪ Usaha dermaga wisata; grinding plant dan cement
▪ Usaha kegiatan hiburan dan packing plant;
rekreasi; ▪ Konstruksi Pertambangan
Garam;
240
Rencana Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas Ketentuan
pola Kegiatan Kabupaten/ Longitude Latitude
Zona Perairan Toponimi (Ha) Diperbolehkan Diperbolehkan dengan Syarat Tidak Diperbolehkan khusus
ruang Kota (X) (Y)
▪ Usaha angkutan laut wisata dalam ▪ Industri penggaraman;
negeri; ▪ Kegiatan pekerjaan
▪ Usaha angkutan laut internasional penyelaman (diving works);
wisata; ▪ Pengintroduksian organisme
▪ Survei dan/atau penelitian ilmiah; hasil rekayasa genetika ke
▪ Pengerukan perairan dengan lingkungan;
capital dredging; ▪ Pembangunan pembangkitan,
▪ Pengerukan perairan laut dengan transmisi, distribusi dan
capital dredging yang memotong penjualan tenaga listrik;
material karang dan/atau batu; ▪ Pembangunan stasiun
▪ Kegiatan pengerukan sedimentasi pengisian bahan bakar
di laut dalam rangka normalisasi nelayan;
muara sungai; ▪ Pemungutan/penebangan
▪ Penetapan alur pelayaran dari dan hasil hutan kayu pada hutan
ke pelabuhan perikanan; mangrove;
▪ Uji coba kapal; ▪ Pelatihan perang dengan
▪ Kegiatan riset atau survei menggunakan amunisi oleh
hidrografi oleh kapal asing; kapal asing;
▪ Kegiatan berlabuh jangkar kecuali ▪ Kegiatan reklamasi;
dalam keadaan force majeure oleh ▪ Kegiatan lainnya yang
kapal asing; mengurangi nilai dan/atau
▪ Kegiatan Industri Galangan Kapal fungsi kawasan atau zona.
dengan sistem Graving Dock
Kapal;
▪ Pembangunan industri yang
terintegrasi dengan pelabuhan;
▪ Kegiatan pembuatan kapal/alat
terapung saja;
▪ Kegiatan pembuatan mesin- mesin
utama/pembantu;
▪ Kegiatan pembuatan alat- alat
perlengkapan lain yang khusus
dipergunakan dalam kapal;
▪ Kegiatan pembuatan alat- alat
maritim lainnya;
▪ Pemungutan hasil hutan bukan
kayu pada hutan mangrove
(madu; getah; daun; buah dan biji;
241
Rencana Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas Ketentuan
pola Kegiatan Kabupaten/ Longitude Latitude
Zona Perairan Toponimi (Ha) Diperbolehkan Diperbolehkan dengan Syarat Tidak Diperbolehkan khusus
ruang Kota (X) (Y)
tanin; ikan; hasil hutan bukan kayu
lainnya);
▪ Mitigasi bencana dan kondisi
bahaya di laut termasuk
penanaman vegetasi pantai.
▪ Kegiatan lain yang tidak
mengubah fungsi kawasan atau
zona.
242
J. Pengelolaan Ekosistem Pesisir
Ketentuan
Rencan Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas khusus
pola Kegiatan
Zona Kabupaten/ (Ha) Longitude Latitude Diperbolehkan dengan
ruang Perairan Toponimi Diperbolehkan Tidak Diperbolehkan
Kota (X) (Y) Syarat
Pengelolaan ▪ Perbaikan ▪ Usaha villa (cottage) di
Zona ▪ Pembangunan FPSO
Ekosistem 6° 46' habitat; atas laut;
KPU- Pengelolaan 108° 50' (Floating Production
Pesisir Kab. Brebes 626,24 27,046" ▪ Pengayaan ▪ Usaha kegiatan hiburan
EK-01 Ekosistem 13,657" E Storage and
(cadangan S sumber daya dan rekreasi;
Pesisir
karbon biru) hayati; Offloading);
▪ Usaha wisata ekstrim
Pengelolaan ▪ Transplantasi ▪ Pembangunan FSO (beresiko tinggi);
Zona (Floating Storage
Ekosistem 6° 47' karang; ▪ Jasa wisata tirta (bahari);
KPU- Pengelolaan 108° 50' Offloading);
Pesisir Kab. Brebes 351,70 25,259" ▪ Penanaman; ▪ Pelepasan jangkar;
EK-02 Ekosistem 46,165" E ▪ Pemasangan/
(cadangan S ▪ Pembuatan
Pesisir penggelaran pipa ▪ Pengambilan sumber
karbon biru) habitat buatan
migas; daya laut non ikan untuk
Pengelolaan sesuai kepentingan ekonomi;
Zona perkembangan ▪ Pembangunan
Ekosistem 6° 48' ▪ Lalu lintas kapal
KPU- Pengelolaan 108° 51' ilmu anjungan/platform
Pesisir Kab. Brebes 260,35 26,355" penangkap ikan ukuran ≥
EK-03 Ekosistem 24,644" E pengetahuan migas;
(cadangan S 10 GT;
Pesisir dan teknologi; ▪ Pembangunan
karbon biru)
fasilitas terapung ▪ Penangkapan ikan
Pengelolaan ▪ Penggunaan / menggunakan jaring
Zona penerapan (Floating Facility)
Ekosistem 6° 48' Migas: Mooring; lingkar : pukat cincin
KPU- Pengelolaan 108° 52' kosntruksi
Pesisir Kab. Brebes 96,33 30,992" pelagis kecil dengan satu
EK-04 Ekosistem 43,691" E bangunan yang ▪ Eksplorasi Migas;
(cadangan S kapal, pukat cincin
Pesisir sesuai dengan ▪ Eksploitasi
karbon biru) pelagis besar dengan
prinsip ekologi; (eksplorasi produksi) satu kapal, pukat cincin
Pengelolaan ▪ Penggunaan / Migas;
Zona teri dengan satu kapal,
Ekosistem 6° 48' penerapan teknis
KPU- Pengelolaan 108° 53' ▪ Tahapan operasi pukat cincin pelagis kecil
Pesisir Kab. Brebes 31,17 43,798" perbaikan
EK-05 Ekosistem 36,839" E produksi Migas dengan dua kapal, jaring
(cadangan S habitat;
Pesisir dengan klasifikasi di lingkar tanpa kerut;
karbon biru)
▪ Pembuatan atas 2 mil laut; ▪ Penangkapan ikan
Pengelolaan terumbu karang ▪ Pembangunan kabel menggunakan penggaruk
Zona
Ekosistem buatan dan/atau telekomunikasi Local : penggaruk berkapal,
KPU- Pengelolaan 108° 57' 6° 49'
Pesisir Kab. Brebes 4,73 rumah ikan (fish Port Service (LPS); penggaruk tanpa kapal;
EK-06 Ekosistem 28,934" E 8,692" S
(cadangan shelter) yang
Pesisir ▪ Penanaman dan/atau ▪ Penangkapan ikan
karbon biru) menggunakan pemasangan kabel menggunakan jaring tarik
Pengelolaan 6° 48' media beton, atau tiang serta : jaring tarik pantai,
KPU- Zona 108° 57' biorock dan
Ekosistem Kab. Brebes 87,49 41,330" sarana di laut;
EK-07 Pengelolaan 51,187" E
Pesisir S
243
Ketentuan
Rencan Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas khusus
pola Kegiatan
Zona Kabupaten/ (Ha) Longitude Latitude Diperbolehkan dengan
ruang Perairan Toponimi Diperbolehkan Tidak Diperbolehkan
Kota (X) (Y) Syarat
(cadangan Ekosistem media ramah ▪ Penggelaran / payang, jaring tarik
karbon biru) Pesisir lingkungan; pemasangan berkantong;
Pengelolaan ▪ Penggunaan kabel/pipa bawah ▪ Penangkapan ikan
Zona spesies yang laut dan pekerjaan menggunakan jaring hela
Ekosistem 6° 47'
KPU- Pengelolaan 109° 1' memiliki bawah air lainnya; : jaring hela udang
Pesisir Kab. Brebes 1.699,95 10,091"
EK-08 Ekosistem 12,387" E kekerabatan ▪ Pembangunan berkantong, jaring hela
(cadangan S
Pesisir genetik; PLTU/PLTGU; ikan berkantong;
karbon biru)
▪ Pembuatan ▪ Kegiatan ▪ Penangkapan ikan
Pengelolaan
Zona habitat buatan; pengembangan menggunakan jaring
Ekosistem 6° 47'
KPU- Pengelolaan 109° 0' ▪ Pengutamaan Pembangkit Listrik insang : jaring insang
Pesisir Kab. Brebes 178,32 52,653"
EK-09 Ekosistem 10,779" E bahan baku lokal Tenaga Arus Laut tetap, jaring insang
(cadangan S
Pesisir yang tidak (PLTAL)/ Pembangkit hanyut, jaring insang
karbon biru)
mencemari Listrik Tenaga lingkar, jaring insang
Pengelolaan lingkungan; Gelombang Laut berpancang, jaring insang
Zona
Ekosistem 6° 46' (PLTGL) selain di berlapis, jaring insang
KPU- Pengelolaan 109° 4' ▪ Penggunaan
Pesisir Kab. Brebes 389,12 17,596" zona inti; kombinasi;
EK-10 Ekosistem 29,003" E teknologi yang
(cadangan S ▪ Pembangunan ▪ Penangkapan ikan
Pesisir selektif sesuai
karbon biru) pembangkitan, menggunakan perangkap
kebutuhan;
Pengelolaan ▪ Pembuatan transmisi, distribusi : set net, bubu, bubu
Zona dan penjualan tenaga bersayap, pukat labuh,
Ekosistem 6° 47' habitat buatan
KPU- Pengelolaan 109° 4' listrik; togo, ambai, jermal,
Pesisir Kab. Brebes 53,76 17,735" dengan
EK-11 Ekosistem 45,363" E pengerih, sero;
(cadangan S menyediakan ▪ Latihan militer;
Pesisir
karbon biru) substrat tanah di ▪ Pembangunan ▪ Usaha pembudidayaan
Pengelolaan pantai sehingga fasilitas umum; semua jenis ikan;
Zona mengandung ▪ Usaha perikanan
Ekosistem 6° 48' ▪ Kegiatan
KPU- Pengelolaan 109° 4' lumpur dan/atau budidaya terapung
Pesisir Kab. Brebes 308,81 24,641" pengambilan dan
EK-12 Ekosistem 27,615" E lumpur berpasir; (karamba jaring apung);
(cadangan S pemanfaatan air laut
Pesisir
karbon biru) ▪ Kegiatan lain selain energi; ▪ Pembudidayaan ikan
yang ramah ▪ Pembangunan, untuk kepentingan
Pengelolaan
Zona lingkungan; pemindahan industri;
Ekosistem
KPU- Kab. Brebes, Pengelolaan 109° 5' 6° 50' ▪ Penelitian, ilmu dan/atau ▪ Pembudidayaan sumber
Pesisir 38,87
EK-13 Kota Tegal Ekosistem 49,858" E 6,187" S pengetahuan, pembongkaran daya laut non ikan untuk
(cadangan
Pesisir pendidikan, dan bangunan atau kepentingan ekonomi;
karbon biru)
kebudayaan instalasi; ▪ Pengangkutan ikan hasil
Pengelolaan penanaman
Zona ▪ Pembangunan SBNP budidaya dengan Kapal
Ekosistem 6° 50' tanaman nipah
KPU- Kab. Brebes, Pengelolaan 109° 6' (Sarana Bantu Pengangkut Ikan Hidup
Pesisir 64,39 33,698" dan bakau;
EK-14 Kota Tegal Ekosistem 46,176" E Navigasi Pelayaran); Berbendera Indonesia;
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
244
Ketentuan
Rencan Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas khusus
pola Kegiatan
Zona Kabupaten/ (Ha) Longitude Latitude Diperbolehkan dengan
ruang Perairan Toponimi Diperbolehkan Tidak Diperbolehkan
Kota (X) (Y) Syarat
Pengelolaan ▪ Pengelolaan ▪ Pembangunan ▪ Pengangkutan ikan hasil
Zona ekosistem breakwater budidaya dengan kapal
Ekosistem 6° 50'
KPU- Pengelolaan 109° 9' pesisir, (pemecah nelayan kecil;
Pesisir Kota Tegal 7,44 44,172"
EK-15 Ekosistem 22,251" E perlindungan gelombang);
(cadangan S ▪ Budidaya ikan hasil
Pesisir keanekaragaman
karbon biru) ▪ Pembangunan turap rekayasa genetik;
hayati; (revertment), ▪ Kegiatan pengujian kapal
Pengelolaan
Zona ▪ Penyelamatan pembangunan groin; perikanan/perahu ikan
Ekosistem 6° 50'
KPU- Pengelolaan 109° 10' dan perlindungan ▪ Wisata alam bentang bermotor;
Pesisir Kab. Tegal 46,16 57,082"
EK-16 Ekosistem 17,076" E lingkungan; laut;
(cadangan S ▪ Pengerukan perairan laut
Pesisir ▪ Penelitian
karbon biru) ▪ Wisata alam bawah dengan capital dredging
kegiatan laut; yang memotong material
Pengelolaan konservasi;
Zona ▪ Wisata sejarah; karang dan/atau batu;
Ekosistem 6° 51'
KPU- Pengelolaan 109° 12' ▪ Pendidikan ▪ Wisata budaya; ▪ Pembangunan terminal
Pesisir Kab. Tegal 11,92 42,046"
EK-17 Ekosistem 14,504" E kegiatan Roro;
(cadangan S ▪ Wisata olah raga air;
Pesisir konservasi; ▪ Usaha pelayanan logistik
karbon biru) ▪ Usaha dermaga
▪ Survei dan/atau dan perbekalan kapal
Pengelolaan penelitian ilmiah; wisata;
Zona perikanan;
Ekosistem 6° 51' ▪ Pembangunan
KPU- Pengelolaan 109° 12' ▪ Rehabilitasi. ▪ Pengoperasian
Pesisir Kab. Tegal 10,15 45,860" tracking mangrove;
EK-18 Ekosistem 23,837" E Pelabuhan Pengumpan
(cadangan S ▪ Pengambilan
Pesisir Regional dan Lokal;
karbon biru) foto/video bawah
laut; ▪ Usaha angkutan laut
Pengelolaan badan usaha pada lintas
Zona
Ekosistem 6° 51' ▪ Pelayaran kapal pelabuhan antar
KPU- Pengelolaan 109° 13'
Pesisir Kab. Tegal 3,97 42,847" penumpang regular Kab/Kota dalam Provinsi;
EK-19 Ekosistem 38,675" E
(cadangan S domestik;
Pesisir ▪ Eksploitasi (Operasi
karbon biru) ▪ Pelayaran rakyat dan Produksi) mineral logam;
Pengelolaan nelayan kecil;
Zona ▪ Pengelolaan dan
Ekosistem 6° 51' ▪ Penangkapan ikan pemurnian mineral
KPU- Pengelolaan 109° 14'
Pesisir Kab. Tegal 75,37 56,383" dengan kapal ukuran logam;
EK-20 Ekosistem 13,207" E
(cadangan S ≤ 5 GT;
Pesisir ▪ Usaha angkutan laut
karbon biru) ▪ Penangkapan ikan pelayaran rakyat atau
Pengelolaan menggunakan jaring badan usaha pada lintas
Zona angkat: anco, bagan
Ekosistem 6° 52' pelabuhan antar
KPU- Pengelolaan 109° 16' berperahu atau
Pesisir Kab. Tegal 35,60 20,860" Kab/Kota dalam, antar
EK-21 Ekosistem 50,862" E bagan apung, bouke
(cadangan S provinsi dan pelabuhan
Pesisir ami, bagan tancap;
karbon biru) internasional;
▪ Penangkapan ikan ▪ Penetapan rute pelayaran
Pengelolaan KPU- Zona 109° 18' 6° 52'
Kab. Tegal 130,37 internasional;
Ekosistem EK-22 Pengelolaan 54,058" E 6,705" S
245
Ketentuan
Rencan Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas khusus
pola Kegiatan
Zona Kabupaten/ (Ha) Longitude Latitude Diperbolehkan dengan
ruang Perairan Toponimi Diperbolehkan Tidak Diperbolehkan
Kota (X) (Y) Syarat
Pesisir Ekosistem ▪ menggunakan alat ▪ Kegiatan pembuatan
(cadangan Pesisir yang dijatuhkan atau kapal/alat terapung saja;
karbon biru) ditebarkan : jala jatuh ▪ Kegiatan pembuatan
berkapal, jala tebar; mesin-mesin utama /
Pengelolaan
Zona ▪ Penangkapan ikan pembantu;
Ekosistem 6° 51'
KPU- Pengelolaan 109° 20' menggunakan
Pesisir Kab. Tegal 24,88 40,573" ▪ Kegiatan pembuatan alat-
EK-23 Ekosistem 35,120" E pancing: pancing
(cadangan S alat perlengkapan lain
Pesisir ulur, pancing ulur
karbon biru) yang khusus
tuna, pancing dipergunakan dalam
Pengelolaan berjoran, pancing
Zona kapal;
Ekosistem 6° 51' cumi, pancing cumi
KPU- Kab. Pengelolaan 109° 21' ▪ Kegiatan pembuatan alat-
Pesisir 6,95 41,875" mekanis, pancing
EK-24 Pemalang Ekosistem 18,056" E alat maritim lainnya;
(cadangan S layang-layang,
Pesisir ▪ Kegiatan budidaya biota
karbon biru) huhate, huhate
mekanis, rawai laut untuk kepentingan
Pengelolaan
Zona dasar, rawai tuna, industri Biofarmakologi /
Ekosistem 6° 51'
KPU- Kab. Pengelolaan 109° 21' tonda; Bioteknologi Laut;
Pesisir 1,93 44,499"
EK-25 Pemalang Ekosistem 28,585" E ▪ Pengintroduksian
(cadangan S ▪ Penangkapan ikan
Pesisir organisme hasil rekayasa
karbon biru) menggunakan alat
penangkapan ikan genetik ke lingkungan;
Pengelolaan ▪ Pembangunan stasiun
Zona lainnya : tombak,
Ekosistem 6° 49' pengisian bahan bakar
KPU- Kab. Pengelolaan 109° 27' ladung, panah, pukat
Pesisir 41,96 57,988" nelayan;
EK-26 Pemalang Ekosistem 5,760" E dorong, seser,
(cadangan S
Pesisir pocongan; ▪ Penetapan alur pelayaran
karbon biru)
▪ Usaha budidaya dari dan ke pelabuhan
Pengelolaan perikanan terapung perikanan;
Zona
Ekosistem 6° 49' (keramba jaring ▪ Pembangunan TPI;
KPU- Kab. Pengelolaan 109° 27'
Pesisir 21,79 36,098" apung) skala kecil;
EK-27 Pemalang Ekosistem 43,392" E ▪ Pembangunan dermaga
(cadangan S
Pesisir ▪ Bongkar muat ikan; perikanan;
karbon biru)
▪ Penelitian dan ▪ Usaha pelayanan
Pengelolaan pengembangan perbaikan dan
Zona
Ekosistem 6° 48' perikanan; pemeliharaan kapal
KPU- Kab. Pengelolaan 109° 28'
Pesisir 45,04 38,590" perikanan;
EK-28 Pemalang Ekosistem 54,002" E ▪ Pengerukan di
(cadangan S
Pesisir wilayah perairan ▪ Pengelolaan (TUKS) di
karbon biru)
pelabuhan dalam DLKr/DLKp
Pengelolaan Zona pengumpan regional pelabuhan;
Ekosistem KPU- Kab. Pengelolaan 109° 29' 6° 48' dan lokal;
158,43
Pesisir EK-29 Pemalang Ekosistem 34,360" E 0,862" S
Pesisir
246
Ketentuan
Rencan Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas khusus
pola Kegiatan
Zona Kabupaten/ (Ha) Longitude Latitude Diperbolehkan dengan
ruang Perairan Toponimi Diperbolehkan Tidak Diperbolehkan
Kota (X) (Y) Syarat
(cadangan ▪ Pembangunan dan ▪ Operasi Kapal Angkutan
karbon biru) pengoprasian jetty; Penyeberangan Dalam
Pengelolaan ▪ Kegiatan riset atau Provinsi;
Zona survei hidrografi oleh ▪ Pembangunan terminal
Ekosistem 6° 46'
KPU- Kab. Pengelolaan 109° 30' kapal asing; peti kemas;
Pesisir 192,08 57,988"
EK-30 Pemalang Ekosistem 52,241" E
(cadangan S ▪ Kegiatan berlabuh ▪ Pembangunan terminal
Pesisir
karbon biru) jangkar kecuali curah kering;
dalam keadaan force ▪ Pembangunan terminal
Pengelolaan
Zona majeure oleh kapal curah cair;
Ekosistem 6° 47'
KPU- Kab. Pengelolaan 109° 32' asing; ▪ Konstruksi pertambangan
Pesisir 292,75 31,930"
EK-31 Pemalang Ekosistem 7,565" E ▪ Usaha pelayanan garam;
(cadangan S
Pesisir jasa pemanduan
karbon biru) ▪ Industri pergaraman;
kapal;
Pengelolaan ▪ Pembangunan dan
Kab. Zona ▪ Pembangunan pengoperasian cement
Ekosistem 6° 50'
KPU- Pemalang Pengelolaan 109° 35' fasilitas infrastruktur grindig plant dan cement
Pesisir 7,87 23,065"
EK-32 dan Kab. Ekosistem 43,990" E (saluran primer, packing plant;
(cadangan S
Pekalongan Pesisir sekunder dan pantai
karbon biru) ▪ Kegiatan industri
air);
Pengelolaan galangan kapal dengan
Kab. Zona ▪ Kegiatan pekerjaan sistem Graving Dock
Ekosistem 6° 50' penyelaman (diving
KPU- Pemalang Pengelolaan 109° 36' Kapal;
Pesisir 73,25 25,575" works);
EK-33 dan Kab. Ekosistem 31,628" E ▪ Pembangunan tempat
(cadangan S ▪ Pemungutan hasil
Pekalongan Pesisir perbaikan kapal;
karbon biru) hutan bukan kayu
pada hutan ▪ Penempatan kapal mati;
Pengelolaan
Zona ▪ Pembangunan industri
Ekosistem mangrove (madu;
KPU- Kota Pengelolaan 109° 40' 6° 51' yang terintegrasi dengan
Pesisir 62,54 getah; daun; buah
EK-34 Pekalongan Ekosistem 11,329" E 9,821" S pelabuhan;
(cadangan dan biji; tanin; ikan;
Pesisir
karbon biru) hasil hutan bukan ▪ Kegiatan perbaikan
kayu lainnya); dan/atau pemeliharaan
Pengelolaan
Zona ▪ Kegiatan pengerukan kapal/alat-alat terapung
Ekosistem 6° 51'
KPU- Kota Pengelolaan 109° 40' sedimentasi di laut saja;
Pesisir 5,19 26,772"
EK-35 Pekalongan Ekosistem 48,851" E dalam rangka ▪ Usaha jasa angkutan
(cadangan S
Pesisir normalisasi muara perairan pelabuhan;
karbon biru)
sungai; ▪ Usaha jasa penyewaan
Pengelolaan
Zona ▪ Kegiatan peralatan angkutan laut;
Ekosistem 6° 54'
KPU- Pengelolaan 109° 51' pembuangan hasil ▪ Uji coba kapal;
Pesisir Kab. Batang 97,54 41,840"
EK-36 Ekosistem 47,512" E normalisasi muara ▪ Kegiatan bongkar muat
(cadangan S
Pesisir sungai yang bukan oleh kapal asing;
karbon biru)
247
Ketentuan
Rencan Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas khusus
pola Kegiatan
Zona Kabupaten/ (Ha) Longitude Latitude Diperbolehkan dengan
ruang Perairan Toponimi Diperbolehkan Tidak Diperbolehkan
Kota (X) (Y) Syarat
Pengelolaan daerah terumbu ▪ Kegiatan pertambangan
Zona karang, bukan terbuka dan ballast kapal;
Ekosistem
KPU- Pengelolaan 109° 53' 6° 55' daerah lamun dan
Pesisir Kab. Batang 44,75 ▪ Pengambilan terumbu
EK-37 Ekosistem 50,074" E 1,828" S dalam rangka
(cadangan karang, lamun dan
Pesisir memperluas
karbon biru) mangrove;
ekosistem mangrove; ▪ Pelatihan perang dengan
Pengelolaan
Zona ▪ Mitigasi bencana dan menggunakan amunisi
Ekosistem 6° 54'
KPU- Pengelolaan 109° 55' kondisi bahaya di laut oleh kapal asing;
Pesisir Kab. Batang 20,85 51,788"
EK-38 Ekosistem 7,899" E termasuk
(cadangan S ▪ Kegiatan pengumpulan,
Pesisir penanaman vegetasi
karbon biru) pemanfaatan,
pantai sebagai satu pengelolahan,
Pengelolaan kesatuan ekosistem
Zona pembuangan dan
Ekosistem 6° 55' ▪ Kegiatan lain yang
KPU- Pengelolaan 109° 59' penimbunan limbah B3.
Pesisir Kab. Batang 19,22 15,712" tidak mengubah
EK-39 Ekosistem 58,901" E ▪ Kegiatan pengumpulan,
(cadangan S fungsi kawasan atau
Pesisir pemanfaatan,
karbon biru) zona. pengolahan,
Pengelolaan pembuangan dan
Zona
Ekosistem penimbunan limbah non
KPU- Pengelolaan 110° 0' 6° 55'
Pesisir Kab. Batang 2,75 B3;
EK-40 Ekosistem 47,968" E 1,371" S
(cadangan
Pesisir ▪ Pemungutan/penebangan
karbon biru)
hasil hutan kayu pada
Pengelolaan hutan mangrove;
Zona
Ekosistem 6° 54' ▪ Kegiatan reklamasi;
KPU- Pengelolaan 110° 1'
Pesisir Kab. Batang 15,14 49,611" ▪ Kegiatan lainnya yang
EK-41 Ekosistem 14,552" E
(cadangan S mengurangi nilai dan/atau
Pesisir
karbon biru) fungsi kawasan atau
Pengelolaan zona.
Zona
Ekosistem 6° 54'
KPU- Pengelolaan 110° 1'
Pesisir Kab. Kendal 14,60 31,816"
EK-42 Ekosistem 52,694" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem
KPU- Pengelolaan 110° 9' 6° 52'
Pesisir Kab. Kendal 28,28
EK-43 Ekosistem 5,750" E 4,322" S
(cadangan
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan KPU- Zona 110° 10' 6° 51'
Kab. Kendal 28,01
Ekosistem EK-44 Pengelolaan 8,751" E 1,848" S
248
Ketentuan
Rencan Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas khusus
pola Kegiatan
Zona Kabupaten/ (Ha) Longitude Latitude Diperbolehkan dengan
ruang Perairan Toponimi Diperbolehkan Tidak Diperbolehkan
Kota (X) (Y) Syarat
Pesisir Ekosistem
(cadangan Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 52'
KPU- Pengelolaan 110° 13'
Pesisir Kab. Kendal 159,55 12,539"
EK-45 Ekosistem 32,083" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 53'
KPU- Pengelolaan 110° 14'
Pesisir Kab. Kendal 27,64 16,201"
EK-46 Ekosistem 20,849" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 53'
KPU- Pengelolaan 110° 14'
Pesisir Kab. Kendal 10,54 58,275"
EK-47 Ekosistem 54,268" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 54'
KPU- Pengelolaan 110° 15'
Pesisir Kab. Kendal 43,43 27,941"
EK-48 Ekosistem 25,901" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem
KPU- Kota Pengelolaan 110° 26' 6° 56'
Pesisir 1,19
EK-49 Semarang Ekosistem 53,510" E 6,086" S
(cadangan
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem
KPU- Kota Pengelolaan 110° 27' 6° 56'
Pesisir 13,54
EK-50 Semarang Ekosistem 6,422" E 1,750" S
(cadangan
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan Zona
6° 55'
Ekosistem KPU- Kota Pengelolaan 110° 27'
5,02 54,610"
Pesisir EK-51 Semarang Ekosistem 22,800" E
S
Pesisir
249
Ketentuan
Rencan Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas khusus
pola Kegiatan
Zona Kabupaten/ (Ha) Longitude Latitude Diperbolehkan dengan
ruang Perairan Toponimi Diperbolehkan Tidak Diperbolehkan
Kota (X) (Y) Syarat
(cadangan
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 55'
KPU- Kota Pengelolaan 110° 27'
Pesisir 1,53 44,360"
EK-52 Semarang Ekosistem 45,192" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 55'
KPU- Pengelolaan 110° 28'
Pesisir Kab. Demak 23,01 28,048"
EK-53 Ekosistem 9,205" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 51'
KPU- Pengelolaan 110° 30'
Pesisir Kab. Demak 576,21 37,792"
EK-54 Ekosistem 49,270" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 48'
KPU- Pengelolaan 110° 33'
Pesisir Kab. Demak 88,30 23,191"
EK-55 Ekosistem 11,443" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 45'
KPU- Pengelolaan 110° 32'
Pesisir Kab. Demak 396,01 17,767"
EK-56 Ekosistem 41,600" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 43'
KPU- Pengelolaan 110° 34'
Pesisir Kab. Demak 324,25 13,908"
EK-57 Ekosistem 9,863" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem
KPU- Kab. Demak, Pengelolaan 110° 35' 6° 43'
Pesisir 372,35
EK-58 Kab. Jepara Ekosistem 6,811" E 8,628" S
(cadangan
Pesisir
karbon biru)
250
Ketentuan
Rencan Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas khusus
pola Kegiatan
Zona Kabupaten/ (Ha) Longitude Latitude Diperbolehkan dengan
ruang Perairan Toponimi Diperbolehkan Tidak Diperbolehkan
Kota (X) (Y) Syarat
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 41'
KPU- Pengelolaan 110° 37'
Pesisir Kab. Demak 151,06 29,231"
EK-59 Ekosistem 22,743" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 39'
KPU- Pengelolaan 110° 38'
Pesisir Kab. Jepara 51,02 38,401"
EK-60 Ekosistem 31,692" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 30'
KPU- Pengelolaan 110° 40'
Pesisir Kab. Jepara 96,14 50,781"
EK-61 Ekosistem 26,087" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 24'
KPU- Pengelolaan 110° 50'
Pesisir Kab. Jepara 27,75 24,736"
EK-62 Ekosistem 10,286" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 26'
KPU- Pengelolaan 111° 2'
Pesisir Kab. Pati 144,22 34,420"
EK-63 Ekosistem 50,116" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 29'
KPU- Pengelolaan 111° 3'
Pesisir Kab. Pati 121,64 46,981"
EK-64 Ekosistem 26,809" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 35'
KPU- Pengelolaan 111° 6'
Pesisir Kab. Pati 410,27 34,071"
EK-65 Ekosistem 5,819" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
251
Ketentuan
Rencan Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas khusus
pola Kegiatan
Zona Kabupaten/ (Ha) Longitude Latitude Diperbolehkan dengan
ruang Perairan Toponimi Diperbolehkan Tidak Diperbolehkan
Kota (X) (Y) Syarat
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 39'
KPU- Pengelolaan 111° 10'
Pesisir Kab. Pati 26,00 33,909"
EK-66 Ekosistem 2,674" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 40'
KPU- Pengelolaan 111° 12'
Pesisir Kab. Pati 60,25 11,785"
EK-67 Ekosistem 8,302" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 41'
KPU- Kab. Pengelolaan 111° 16'
Pesisir 50,38 15,433"
EK-68 Rembang Ekosistem 2,466" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 41'
KPU- Kab. Pengelolaan 111° 19'
Pesisir 27,16 48,525"
EK-69 Rembang Ekosistem 11,609" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem
KPU- Kab. Pengelolaan 111° 22' 6° 42'
Pesisir 93,33
EK-70 Rembang Ekosistem 34,787" E 0,569" S
(cadangan
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 39'
KPU- Kab. Pengelolaan 111° 27'
Pesisir 95,54 54,974"
EK-71 Rembang Ekosistem 14,319" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 38'
KPU- Kab. Pengelolaan 111° 27'
Pesisir 65,72 52,045"
EK-72 Rembang Ekosistem 51,000" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
252
Ketentuan
Rencan Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas khusus
pola Kegiatan
Zona Kabupaten/ (Ha) Longitude Latitude Diperbolehkan dengan
ruang Perairan Toponimi Diperbolehkan Tidak Diperbolehkan
Kota (X) (Y) Syarat
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 50'
Pengelolaan 110° 31'
Pesisir G2 Kab. Demak 2,98 57,100"
Ekosistem 28,645" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem
Pengelolaan 110° 29' 6° 55'
Pesisir G2 Kab. Demak 64,59
Ekosistem 37,384" E 6,432" S
(cadangan
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 54'
Pengelolaan 110° 1'
Pesisir G2 Kab. Kendal 1,62 33,814"
Ekosistem 53,149" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 47'
Pengelolaan 110° 33'
Pesisir G2 Kab. Demak 4,38 33,549"
Ekosistem 47,916" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem
Pengelolaan 110° 10' 6° 51'
Pesisir G2 Kab. Kendal 17,16
Ekosistem 18,809" E 6,987" S
(cadangan
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 53'
Pengelolaan 110° 6'
Pesisir G2 Kab. Kendal 0,15 12,088"
Ekosistem 53,176" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem
Pengelolaan 110° 29' 6° 54'
Pesisir G2 Kab. Kendal 79,39
Ekosistem 14,908" E 9,277" S
(cadangan
Pesisir
karbon biru)
253
Ketentuan
Rencan Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas khusus
pola Kegiatan
Zona Kabupaten/ (Ha) Longitude Latitude Diperbolehkan dengan
ruang Perairan Toponimi Diperbolehkan Tidak Diperbolehkan
Kota (X) (Y) Syarat
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 49'
Pengelolaan 110° 32'
Pesisir G2 Kab. Kendal 1,10 14,640"
Ekosistem 39,045" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 48'
Pengelolaan 110° 33'
Pesisir G2 Kab. Kendal 1,38 14,931"
Ekosistem 36,117" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 54'
Pengelolaan 110° 2'
Pesisir G2 Kab. Kendal 1,41 16,958"
Ekosistem 34,283" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 51'
Pengelolaan 110° 10'
Pesisir G2 Kab. Kendal 0,82 16,605"
Ekosistem 22,501" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 51'
Pengelolaan 110° 10'
Pesisir G2 Kab. Kendal 6,00 15,229"
Ekosistem 18,303" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem
Pengelolaan 110° 31' 6° 50'
Pesisir G2 Kab. Demak 7,36
Ekosistem 34,335" E 2,250" S
(cadangan
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 48'
Pengelolaan 110° 33'
Pesisir G2 Kab. Demak 3,00 34,469"
Ekosistem 3,346" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
254
Ketentuan
Rencan Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas khusus
pola Kegiatan
Zona Kabupaten/ (Ha) Longitude Latitude Diperbolehkan dengan
ruang Perairan Toponimi Diperbolehkan Tidak Diperbolehkan
Kota (X) (Y) Syarat
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 51'
Pengelolaan 110° 30'
Pesisir G2 Kab. Demak 0,18 37,127"
Ekosistem 56,855" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 51'
Pengelolaan 110° 10'
Pesisir G2 Kab. Kendal 2,91 13,901"
Ekosistem 12,014" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 52'
Pengelolaan 110° 8'
Pesisir G2 Kab. Kendal 2,46 18,379"
Ekosistem 49,944" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 43'
Pengelolaan 110° 34'
Pesisir G2 Kab. Demak 59,67 47,458"
Ekosistem 59,138" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 45'
Pengelolaan 110° 34'
Pesisir G2 Kab. Kendal 0,19 48,321"
Ekosistem 0,142" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 45'
Pengelolaan 110° 33'
Pesisir G2 Kab. Kendal 0,11 47,269"
Ekosistem 56,531" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 45'
Pengelolaan 110° 32'
Pesisir G2 Kab. Kendal 3,06 27,454"
Ekosistem 34,288" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan Zona 110° 32' 6° 45'
G2 Kab. Kendal 20,33
Ekosistem Pengelolaan 14,277" E 4,606" S
255
Ketentuan
Rencan Lokasi Koordinat Pengaturan
Kode Luas khusus
pola Kegiatan
Zona Kabupaten/ (Ha) Longitude Latitude Diperbolehkan dengan
ruang Perairan Toponimi Diperbolehkan Tidak Diperbolehkan
Kota (X) (Y) Syarat
Pesisir Ekosistem
(cadangan Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 47'
Pengelolaan 110° 33'
Pesisir G2 Kab. Demak 8,32 49,760"
Ekosistem 39,714" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan
Zona
Ekosistem 6° 44'
Pengelolaan 110° 32'
Pesisir G2 Kab. Demak 11,99 48,338"
Ekosistem 15,327" E
(cadangan S
Pesisir
karbon biru)
Pengelolaan G2 Kab. Kendal Zona 3,37 110° 4' 6° 54'
Ekosistem Pengelolaan 21,029" E 1,785" S
Pesisir Ekosistem
(cadangan Pesisir
karbon biru)
256
Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Kawasan Konservasi di Laut
Peraturan Kesesusaian Kegiatan Pemanfaatan Kawasan Konservasi di Laut mengacu pada Rencana Pengelolaan dan Zonasi Kawasan
Konservasi serta peraturan perundangan yang terkait. Matriks Kesesusaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (KKPRL) dalam
Kawasan Konservasi di Laut, disajikan dalam Tabel dibawah ini:
Matriks Pengaturan Kesesusaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (KKPRL) dalam Kawasan Konservasi di Laut
Pengaturan
Zona
Diperbolehkan Diperbolehkan dengan syarat Tidak Diperbolehkan
Sesuai ketentuan
Kawasan Konservasi – Sesuai ketentuan peraturan Sesuai ketentuan peraturan perundang-
peraturan perundang-
Taman perundang-undangan undangan
undangan
Sesuai ketentuan
Pencadangan/Indikasi Sesuai ketentuan peraturan Sesuai ketentuan peraturan perundang-
peraturan perundang-
Kawasan Konservasi perundang-undangan undangan
undangan
Sesuai ketentuan
Kawasan Konservasi Sesuai ketentuan peraturan Sesuai ketentuan peraturan perundang-
peraturan perundang-
Lainnya perundang-undangan undangan
undangan
257
7. Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Nasional PPKT Nusakambangan
Matriks Pengaturan Kesesusaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (KKPRL) dalam Kawasan Strategis
Pengaturan
Zona
Diperbolehkan Diperbolehkan dengan syarat Tidak Diperbolehkan
Kawasan Strategis
Sesuai ketentuan peraturan perundang- Sesuai ketentuan peraturan Sesuai ketentuan peraturan
Nasional Perkotaan
undangan perundang-undangan perundang-undangan
Kedungsepur
Kawasan Strategis
Sesuai ketentuan peraturan perundang- Sesuai ketentuan peraturan Sesuai ketentuan peraturan
Nasional Tertentu PPKT
undangan perundang-undangan perundang-undangan
Nusakambangan
Kawasan Strategis Sesuai ketentuan peraturan perundang- Sesuai ketentuan peraturan Sesuai ketentuan peraturan
Nasional Pacangsanak undangan perundang-undangan perundang-undangan
258
Lampiran XII : PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH
NOMOR ….. TAHUN ……
TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI JAWA
TENGAH TAHUN 2023-2043
INDIKASI PROGRAM UTAMA LIMA TAHUNAN RTRW PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2023-2043
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
PENGUATAN PENATAAN RUANG
I
PROVINSI
Penetapan Rencana Tata Ruang
1 Provinsi Jawa Tengah APBD Prov Pemerintah Prov
Wilayah provinsi
Koordinasi dan Sinkronisasi
2
Pemanfataan Ruang
a. Koordinasi dan Sinkronisasi
Provinsi Jawa Tengah APBD Prov Pemerintah Prov
Pemanfataan Ruang Provinsi
Kabupaten Banjarnegara,
b. Koordinasi dan Sinkronisasi Kabupaten Purbalingga,
Pemanfataan Ruang Kabupaten Banyumas, APBD Prov Pemerintah Prov
Barlingmascakeb Kabupaten Cilacap, dan
Kabupaten Kebumen;
Kabupaten Purworejo,
c. Koordinasi dan Sinkronisasi
Kabupaten Wonosobo, Kota
Pemanfataan Ruang APBD Prov Pemerintah Prov
Magelang, Kabupaten Magelang,
Purwomanggung
dan Kabupaten Temanggung;
Kota Surakarta, Kabupaten
d. Koordinasi dan Sinkronisasi Boyolali, Kabupaten Sukoharjo,
Pemanfataan Ruang Kabupaten Karanganyar, APBD Prov Pemerintah Prov
Subosukawonostraten Kabupaten Wonogiri, Kabupaten
Sragen, dan Kabupaten Klaten;
e. Koordinasi dan Sinkronisasi Kabupaten Jepara, Kabupaten
APBD Prov Pemerintah Prov
Pemanfataan Ruang Jekuti Kudus, Kabupaten Pati,
f. Koordinasi dan Sinkronisasi Kabupaten rembang dan
APBD Prov Pemerintah Prov
Pemanfataan Ruang Banglor Kabupaten Blora;
g. Koordinasi dan Sinkronisasi Kabupaten Kendal, Kabupaten
APBD Prov Pemerintah Prov
Pemanfataan Ruang Kedungsepur Demak, Kabupaten Semarang,
259
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
Kota Semarang, Kota Salatiga,
dan Kabupaten Grobogan;
Kota Pekalongan, Kabupaten
h. Koordinasi dan Sinkronisasi
Batang, dan Kabupaten APBD Prov Pemerintah Prov
Pemanfataan Ruang Petanglong
Pekalongan; dan
i. Koordinasi dan Sinkronisasi Kabupaten Brebes, Kota Tegal,
Pemanfataan Ruang Kabupaten Tegal, dan APBD Prov Pemerintah Prov
Bregasmalang Kabupaten Pemalang.
Monitoring dan evaluasi pelaksanaan Seluruh wilayah Provinsi Jawa
3
pemanfaatan ruang Tengah
Kabupaten Banjarnegara,
a. Monitoring dan evaluasi Kabupaten Purbalingga,
pelaksanaan pemanfaatan ruang Kabupaten Banyumas, APBD Prov Pemerintah Prov
Barlingmascakeb Kabupaten Cilacap, dan
Kabupaten Kebumen;
Kabupaten Purworejo,
b. Monitoring dan evaluasi
Kabupaten Wonosobo, Kota
pelaksanaan pemanfaatan ruang APBD Prov Pemerintah Prov
Magelang, Kabupaten Magelang,
Purwomanggung
dan Kabupaten Temanggung;
Kota Surakarta, Kabupaten
c. Monitoring dan evaluasi Boyolali, Kabupaten Sukoharjo,
pelaksanaan pemanfaatan ruang Kabupaten Karanganyar, APBD Prov Pemerintah Prov
Subosukawonostraten Kabupaten Wonogiri, Kabupaten
Sragen, dan Kabupaten Klaten;
d. Monitoring dan evaluasi Kabupaten Jepara, Kabupaten
pelaksanaan pemanfaatan ruang Kudus, Kabupaten Pati; APBD Prov Pemerintah Prov
Jekuti
e. Monitoring dan evaluasi Kabupaten rembang, dan
pelaksanaan pemanfaatan ruang Kabupaten Blora; APBD Prov Pemerintah Prov
Banglor
Kabupaten Kendal, Kabupaten
f. Monitoring dan evaluasi
Demak, Kabupaten Semarang,
pelaksanaan pemanfaatan ruang APBD Prov Pemerintah Prov
Kota Semarang, Kota Salatiga,
Kedungsepur
dan Kabupaten Grobogan;
g. Monitoring dan evaluasi Kota Pekalongan, Kabupaten
pelaksanaan pemanfaatan ruang Batang, dan Kabupaten APBD Prov Pemerintah Prov
Petanglong Pekalongan; dan
260
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
h. Monitoring dan evaluasi Kabupaten Brebes, Kota Tegal,
pelaksanaan pemanfaatan ruang Kabupaten Tegal, dan APBD Prov Pemerintah Prov
Bregasmalang Kabupaten Pemalang.
Monitoring dan evaluasi pelaksanaan Seluruh wilayah Provinsi Jawa
4
pengendalian pemanfaatan ruang Tengah
Kabupaten Banjarnegara,
a. Monitoring dan evaluasi
Kabupaten Purbalingga,
pelaksanaan pengendalian
Kabupaten Banyumas, APBD Prov Pemerintah Prov
pemanfaatan ruang
Kabupaten Cilacap, dan
Barlingmascakeb
Kabupaten Kebumen;
b. Monitoring dan evaluasi Kabupaten Purworejo,
pelaksanaan pengendalian Kabupaten Wonosobo, Kota
APBD Prov Pemerintah Prov
pemanfaatan ruang Magelang, Kabupaten Magelang,
Purwomanggung dan Kabupaten Temanggung;
Kota Surakarta, Kabupaten
c. Monitoring dan evaluasi
Boyolali, Kabupaten Sukoharjo,
pelaksanaan pengendalian
Kabupaten Karanganyar, APBD Prov Pemerintah Prov
pemanfaatan ruang
Kabupaten Wonogiri, Kabupaten
Subosukawonostraten
Sragen, dan Kabupaten Klaten;
d. Monitoring dan evaluasi Kabupaten Jepara, Kabupaten
pelaksanaan pengendalian Kudus, Kabupaten Pati; APBD Prov Pemerintah Prov
pemanfaatan ruang Jekuti
e. Monitoring dan evaluasi Kabupaten Rembang dan
pelaksanaan pengendalian Kabupaten Blora; APBD Prov Pemerintah Prov
pemanfaatan ruang Banglor
Kabupaten Kendal, Kabupaten
f. Monitoring dan evaluasi
Demak, Kabupaten Semarang,
pelaksanaan pengendalian APBD Prov Pemerintah Prov
Kota Semarang, Kota Salatiga,
pemanfaatan ruang Kedungsepur
dan Kabupaten Grobogan;
g. Monitoring dan evaluasi Kota Pekalongan, Kabupaten
pelaksanaan pengendalian Batang, dan Kabupaten APBD Prov Pemerintah Prov
pemanfaatan ruang Petanglong Pekalongan; dan
h. Monitoring dan evaluasi Kabupaten Brebes, Kota Tegal,
pelaksanaan pengendalian Kabupaten Tegal, dan APBD Prov Pemerintah Prov
pemanfaatan ruang Bregasmalang Kabupaten Pemalang.
Peyelesaian Sengketa Penataan Ruang Seluruh wilayah Provinsi Jawa
5 APBD Prov Pemerintah Prov
Lintas kabupaten Tengah
261
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
Pencegahan Pencemaran dan/atau
6
Kerusakan Lingkugan Hidup
a. Koordinasi, Sinkronisasi dan
Pelaksanaan Pencegahan
Pencemaran Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah APBD Prov Pemerintah Prov
Dilaksanakan terhadap Media
Tanah, Air, Udara dan Laut
b. Koordinasi, Sinkronisasi dan
Pelaksanaan Pengendalian Emisi
Provinsi Jawa Tengah APBD Prov Pemerintah Prov
Gas Rumah Kaca, Mitigasi dan
Adaptasi Perubahan Iklim
7 Program kebencanaan
a. Program penanggulangan
bencana
1) Pelayanan Informasi Rawan
Bencana Provinsi
2) Pelayanan Pencegahan dan
Kesiapsiagaan Terhadap
Bencana
Provinsi Jawa tengah APBD Prov Pemerintah Prov
3) Pelayanan Penyelamatan dan
Evakuasi Korban Bencana
4) Penataan Sistem Dasar
Penanggulangan Bencana
5) Perlindungan Sosial Korban
Bencana Alam dan Sosial
Provinsi
b. Program Penanggulangan
Kebakaran
1) Penyelenggaraan Pemetaan
Provinsi Jawa tengah APBD Prov Pemerintah Prov
Rawan Bencana Kebakaran
2) Penyusunan Rencana Induk
Sistem Proteksi Kebakaran
II RENCANA STRUKTUR RUANG
A Sistem Pusat Permukiman
1 Kawasan Perkotaan PKN
a. Program koordinasi dan
▪ Kawasan perkotaan Semarang ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
sinkronisasi Pemerintah Pusat,
– Kendal – Demak – Ungaran – ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
Pemerintah Provinsi, dan
262
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
Pemerintah Kabupaten/ Kota Salatiga - Purwodadi ▪ APBD Kab/ ▪ Pemerintah Kab/
dalam pengembangan wilayah (Kedungsepur) Kota Kota
Kawasan Perkotaan PKN ▪ Kawasan perkotaan Surakarta ▪ Swasta ▪ Swasta
b. Program pengembangan ▪ Kawasan perkotaan Cilacap
Prasarana dan sarana pada
wilayah Kawasan Perkotaan PKN
c. Program rehabilitasi dan
Pengendalian Kota-kota Berbasis
Mitigasi Bencana
2 Kawasan Perkotaan PKW
a. Program koordinasi dan
sinkronisasi Pemerintah Pusat, Kawasan Perkotaan Purwokerto,
Pemerintah Provinsi, dan Kawasan Perkotaan Kebumen,
Pemerintah Kabupaten/ Kota Kawasan Perkotaan Wonosobo, ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
dalam pengembangan wilayah Kawasan Perkotaan Boyolali, ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
Kawasan Perkotaan PKW Kawasan Perkotaan Klaten,
Kawasan Perkotaan Cepu, ▪ APBD Kab/ ▪ Pemerintah Kab/
b. Pengembangan Prasarana dan Kota Kota
Kawasan Perkotaan Kudus,
sarana pada wilayah Kawasan ▪ Swasta ▪ Swasta
Kawasan Perkotaan Magelang,
Perkotaan PKW
Kawasan Perkotaan Pekalongan,
c. Pengendalian Kota-kota Berbasis Kawasan Perkotaan Tegal.
Mitigasi Bencana
3 Kawasan Perkotaan PKL
a. Program koordinasi dan Kawasan Perkotaan Kroya,
sinkronisasi pengembangan Kawasan Perkotaan Majenang,
wilayah antara Pemerintah Kawasan Perkotaan Wangon,
Provinsi dan Pemerintah Kawasan Perkotaan Ajibarang,
Kabupaten/ Kota dalam Kawasan Perkotaan Banyumas,
pengembangan wilayah PKL dan Kawasan Perkotaan Sumpiuh,
wilayah pengaruhnya Kawasan Perkotaan Bobotsari, ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
Kawasan Perkotaan Sokaraja, ▪ APBD Kab/ ▪ Pemerintah Kab/
b. Evaluasi dan Monitoring
Kawasan Perkotaan Kota Kota
pelaksanaan program
Banjarnegara, Kawasan
pengembangan wilayah PKL dan ▪ Swasta ▪ Swasta
Perkotaan Klampok, Kawasan
wilayah pengaruhnya
Perkotaan Kertek, Kawasan
Perkotaan Gombong-
c. Pengendalian Kota-kota Berbasis Karanganyar, Kawasan
Mitigasi Bencana Perkotaan Prembun, Kawasan
Perkotaan Mungkid, Kawasan
Perkotaan Muntilan, Kawasan
263
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
Perkotaan Mertoyudan, Kawasan
Perkotaan Borobudur, Kawasan
Perkotaan Secang, Kawasan
Perkotaan Purbalingga, Kawasan
Perkotaan Purworejo, Kawasan
Perkotaan Kutoarjo, Kawasan
Perkotaan Ampel, Kawasan
Perkotaan Sukoharjo, Kawasan
Perkotaan Kartasura, Kawasan
Perkotaan Wonogiri, Kawasan
Perkotaan Karanganyar,
Kawasan Perkotaan Colomadu,
Kawasan Perkotaan Sragen,
Kawasan Perkotaan Gemolong,
Kawasan Perkotaan Delanggu,
Kawasan Perkotaan Prambanan.
Keterpaduan pembangunan wilayah
4 antar Kabupaten/Kota dalam WP
(Wilayah Pembangunan)
a. Perumusan kebijakan dan Kawasan Barlingmascakeb,
program pengembangan wilayah Kawasan Purwomanggung,
Kawasan Subosukawonosraten, ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
b. Program koordinasi dan Kawasan Jekuti,Kawasan ▪ APBD Kab/ ▪ Pemerintah Kab/
sinkronisasi pembangunan antar Banglor, Kawasan Kedungsepur, Kota Kota
Kabupaten/ Kota Kawasan Petanglong, Kawasan
Bregasmalang
Perwujudan Sistem Jaringan
B
Transportasi
1 Sistem Jaringan Jalan
a. Program penyelenggaraan jalan Seluruh jalan arteri primer yang
Pemerintah Pusat
arteri primer berada di Provinsi Jawa tengah APBN
Seluruh jalan kolektor primer 1
b. Program penyelenggaraan jalan
yang berada di Provinsi Jawa APBN Pemerintah Pusat
kolektor primer 1 (JKP-1)
tengah
c. Program penyelenggaraan jalan
▪ Ayah - Jladri APBN Pemerintah Pusat
Nasional bukan tol
▪ Slarang - Adipala APBN Pemerintah Pusat
▪ Lingkar Kertek (Wonosobo) APBN Pemerintah Pusat
264
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
▪ Lingkar Kretek Bumiayu
APBN Pemerintah Pusat
([Link])
▪ Lingkar Parakan
APBN Pemerintah Pusat
(Temanggung)
▪ Semarang Outer Ring Road
APBN Pemerintah Pusat
(SORR)
▪ Lingkar Rembang - Lasem APBN Pemerintah Pusat
▪ Lingkar Petanglong APBN Pemerintah Pusat
▪ Brebes -Tegal (Akses Ki
APBN Pemerintah Pusat
Brebes)
▪ Bts. Jabar - Patimuan -
APBN Pemerintah Pusat
Tambakreja
▪ Adipala - Ayah APBN Pemerintah Pusat
▪ Surakarta - Gemolong -
Geyer / Bts. Kab. Grobogan APBN Pemerintah Pusat
(Akses Ksn/Kspn Sangiran)
▪ Akses Jalan Pelabuhan
APBN Pemerintah Pusat
Penyeberangan Jepara
▪ Akses Jalan Pelabuhan
APBN Pemerintah Pusat
Penyeberangan Kendal
▪ Akses Terminal Tipe A Cepu
APBN Pemerintah Pusat
(Blora)
▪ Akses Terminal Tipe A Giri
APBN Pemerintah Pusat
Adipura (Wonogiri)
▪ Akses Terminal Tipe A
APBN Pemerintah Pusat
Purwokerto (Purwokerto)
▪ Akses Terminal Tipe A
APBN Pemerintah Pusat
Bobotsari (Purbalingga)
▪ Akses KSPN Dieng APBN Pemerintah Pusat
▪ Akses Jalan Pelabuhan
APBN Pemerintah Pusat
Batang
▪ Bedah - Menoreh (Nglambur -
APBN Pemerintah Pusat
Jl. Badrawati)
265
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
▪ Kudus - Klambu APBN Pemerintah Pusat
▪ Klambu - Godong -
APBN Pemerintah Pusat
Purwodadi
▪ Purwodadi - Geyer APBN Pemerintah Pusat
▪ Wonosobo - Borobudur APBN Pemerintah Pusat
Seluruh jalan kolektor primer 2 ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
d. Program penyelenggaraan jalan
yang berada di Provinsi Jawa ▪ APBD Kab/ ▪ Pemerintah Kab/
kolektor primer 2 (JKP-2)
tengah Kota Kota
Seluruh jalan kolektor primer 3 ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
e. Program penyelenggaraan jalan
yang berada di Provinsi Jawa ▪ APBD Kab/ ▪ Pemerintah Kab/
kolektor primer tiga (JKP-3)
tengah Kota Kota
Program jalan dalam rangka
mendorong pengembangan
wilayah: ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
▪ Semarang – Demak – Jepara
▪ Kebumen - Banjarnegara;
▪ Jalan lainnya
▪ kawasan industri;
▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
▪ kawasan pertambangan,
▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
f. Program penyelenggaraan jalan kawasan wisata;
khusus ▪ APBD Kab/ ▪ Pemerintah Kab/
▪ kawasan pendidikan,
Kota Kota
kawasan perkantoran; dan
▪ Swasta ▪ Swasta
▪ kawasan lainnya.
▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
▪ Jalan tol Semarang Seksi A,
g. Program penyelenggaraan jalan tol ▪ APBD Kab/ ▪ Pemerintah Kab/
Seksi B dan Seksi C,
Kota Kota
▪ Swasta ▪ Swasta
▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
▪ Jalan tol Kanci – Pejagan, ▪ APBD Kab/ ▪ Pemerintah Kab/
Kota Kota
▪ Swasta ▪ Swasta
▪ Jalan tol Pejagan – Pemalang, ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
266
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
▪ APBD Kab/ ▪ Pemerintah Kab/
Kota Kota
▪ Swasta ▪ Swasta
▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
▪ Jalan tol Pemalang – Batang, ▪ APBD Kab/ ▪ Pemerintah Kab/
Kota Kota
▪ Swasta ▪ Swasta
▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
▪ Jalan tol Semarang – Batang, ▪ APBD Kab/ ▪ Pemerintah Kab/
Kota Kota
▪ Swasta ▪ Swasta
▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
▪ Jalan tol Semarang – Solo, ▪ APBD Kab/ ▪ Pemerintah Kab/
Kota Kota
▪ Swasta ▪ Swasta
▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
▪ Jalan tol Solo – Mantingan -
▪ APBD Kab/ ▪ Pemerintah Kab/
Ngawi,
Kota Kota
▪ Swasta ▪ Swasta
▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
▪ Jalan tol Semarang – Demak; ▪ APBD Kab/ ▪ Pemerintah Kab/
Kota Kota
▪ Swasta ▪ Swasta
▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
▪ Jalan tol Solo – Yogyakarta -
YIA Kulonprogo, ▪ APBD Kab/ ▪ Pemerintah Kab/
Kota Kota
▪ Swasta ▪ Swasta
267
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
▪ Jalan tol Bawen –
▪ APBD Kab/ ▪ Pemerintah Kab/
Yogyakarta;
Kota Kota
▪ Swasta ▪ Swasta
▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
▪ Jalan tol Pejagan – Cilacap, ▪ APBD Kab/ ▪ Pemerintah Kab/
Kota Kota
▪ Swasta ▪ Swasta
▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
▪ Jalan tol Cilacap –
▪ APBD Kab/ ▪ Pemerintah Kab/
Yogyakarta;
Kota Kota
▪ Swasta ▪ Swasta
▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
▪ Jalan tol Harbour Toll Road
▪ APBD Kab/ ▪ Pemerintah Kab/
Semarang,
Kota Kota
▪ Swasta ▪ Swasta
▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
▪ Jalan tol Cikalong -
Cipucang, ▪ APBD Kab/ ▪ Pemerintah Kab/
Kota Kota
▪ Swasta ▪ Swasta
▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
▪ Jalan tol Bojonegoro -
▪ APBD Kab/ ▪ Pemerintah Kab/
Rembang,
Kota Kota
▪ Swasta ▪ Swasta
▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
▪ Jalan tol Yogyakarta - ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
Pacitan - Trenggalek - ▪ APBD Kab/ ▪ Pemerintah Kab/
Lumajang, Kota Kota
▪ Swasta ▪ Swasta
268
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
▪ Jalan tol Rembang - Tuban, ▪ APBD Kab/ ▪ Pemerintah Kab/
Kota Kota
▪ Swasta ▪ Swasta
▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
▪ Jalan tol Wonosobo -
▪ APBD Kab/ ▪ Pemerintah Kab/
Magelang,
Kota Kota
▪ Swasta ▪ Swasta
▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
▪ Jalan tol Demak - Rembang, ▪ APBD Kab/ ▪ Pemerintah Kab/
Kota Kota
▪ Swasta ▪ Swasta
▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
▪ Jalan tol Gedebage -
▪ APBD Kab/ ▪ Pemerintah Kab/
Tasikmalaya - Cilacap,
Kota Kota
▪ Swasta ▪ Swasta
▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
▪ Jalan tol Demak - Jepara, ▪ APBD Kab/ ▪ Pemerintah Kab/
Kota Kota
▪ Swasta ▪ Swasta
▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
▪ Jalan tol Lingkar Selatan
▪ APBD Kab/ ▪ Pemerintah Kab/
Semarang,
Kota Kota
▪ Swasta ▪ Swasta
▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
▪ Jalan tol Lingkar Selatan
▪ APBD Kab/ ▪ Pemerintah Kab/
Surakarta
Kota Kota
▪ Swasta ▪ Swasta
269
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
▪ Jalan tol Akses Wonosobo
▪ APBD Kab/ ▪ Pemerintah Kab/
(Wonosobo - Pekalongan).
Kota Kota
▪ Swasta ▪ Swasta
Kabupaten Cilacap, Kabupaten
Banyumas, Kabupaten
Purbalingga, Kabupaten
Kebumen, Kabupaten Purworejo,
Kabupaten Wonosobo,
Kabupaten Klaten, Kabupaten
Wonogiri, Kabupaten Blora,
Kabupaten Semarang,
Kabupaten Kudus, Kabupaten
h. Pengelolaan terminal penumpang Demak, Kabupaten Pemalang, APBN Pemerintah Pusat
tipe A Kota Magelang, Kota Surakarta,
Kota Salatiga, Kota Semarang,
Kota Pekalongan, Kota Tegal.
270
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
Pemalang, Kabupaten Tegal,
Kabupaten Brebes, Kabupaten
Magelang, Kabupaten Semarang,
Kota Semarang, Kota Tegal.
Kabupaten Cilacap, Kabupaten
Semarang, Kabupaten Sragen,
j. Pengelolaan Terminal Barang Kabupaten Kudus, Kabupaten APBN Pemerintah Pusat
Demak, Kabupaten Grobogan,
Kabupaten Batang, Kabupaten
Brebes, Kota Semarang,
Kabupaten Banyumas.
Kawasan Barlingmascakeb,
Kawasan Purwomanggung,
▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
k. Program Penyelenggaraan Dryport Kawasan Subosukawonosraten,
Kawasan Jekuti,Kawasan ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
(penentuan lokasi melalui kajian) Banglor, Kawasan Kedungsepur,
▪ Swasta ▪ Swasta
Kawasan Petanglong, Kawasan
Bregasmalang
Kabupaten Cilacap, Kabupaten
Banyumas, Kabupaten
Temanggung, Kabupaten
Magelang, Kabupaten Semarang,
Kabupaten Wonogiri, Kabupaten APBN Pemerintah Pusat
l. Pengelolaan Jembatan Timbang
Sragen, Kabupaten Rembang,
Kabupaten Grobogan,
Kabupaten Jepara, Kabupaten
Blora, Kabupaten Batang,
Kabupaten Brebes.
Kawasan Regional
Bregasmalang, Petanglong,
m. Program pengembangan angkutan Kedungsepur, Jekuti, Banglor, APBN Pemerintah Pusat
umum massal Subosukawonostraten,
Purwomanggung,
Barlingmascakeb
2 Sistem Jaringan Kereta Api
▪ Jaringan kereta api antar ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
a. Penetapan Jaringan Jalur Kereta kota:
▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
Api ✓ jalur kereta api cepat
▪ Swasta ▪ Swasta
Jakarta – Surabaya,
271
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
jalur Utara
menghubungkan
Jakarta – Semarang –
Surabaya, jalur Selatan
menghubungkan
Jakarta/Bandung –
Yogyakarta – Solo –
Surabaya berupa jalur
ganda/ double track;
✓ jalur Utara - Selatan
meliputi:
‐ jalur Semarang –
Solo;
‐ jalur Tegal –
Purwokerto.
▪ jalur Kereta api regional
meliputi:
✓ jalur Jogja – Solo –
Semarang (Joglosemar),
jalur Solo-Boyolali, jalur
Semarang – Kudus – Pati
– Juwana – Rembang –
Lasem – Jatirogo -
Bojonegoro, jalur
Semarang – Tegal –
Brebes, jalur Kalibodri -
Kendal - Kaliwungu,
jalur Kudus - Bakalan,
jalur Rembang - Blora -
Cepu, jalur Gambringan
- Purwodadi, jalur
Kedungjati – Tuntang
Ambarawa, jalur
Ambarawa - Secang -
Magelang - Yogyakarta,
jalur Semarang – Solo,
jalur Mayong - Welahan,
jalur Wirosari -
Kradenan, jalur
Gambiran - Cepu, jalur
shortcut Randegan –
272
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
Sikampuh, jalur
Purwokerto - Wonosobo;
✓ jalur Rencana Juwana -
Tayu, jalur Rencana
Demak - Blora; dan
✓ jalur Secang -
Temanggung - Parakan.
▪ Jaringan kereta api
perkotaan:
✓ jalur Kedungsepur;
✓ jalur
Subosukowonosraten;
✓ jalur Petanglong;
✓ jalur Bregasmalang; dan
✓ jalur Barlingmascakeb.
▪ jaringan jalur kereta api (KA)
yang mengubungka ke
simpul ekonomi meliputi:
✓ Pelabuhan Tanjung Mas;
✓ Pelabuhan Kendal;
✓ Pelabuhan Tanjung
Intan;
✓ Pelabuhan Tegal;
✓ Bandar Udara Adi
Sumarmo;
✓ Bandar Udara Ahmad
Yani; dan
✓ Bandar Udara Jend.
Besar Soedirman.
Kabupaten Cilacap, Kabupaten
Banyumas, Kabupaten
Kebumen, Kabupaten Purworejo,
b. Penetapan Kelas Stasiun untuk Kabupaten Boyolali, Kabupaten ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
Stasiun pada Jaringan Jalur Klaten, Kabupaten Sukoharjo, ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
Kereta Api Provinsi. Kabupaten Wonogiri, Kabupaten
▪ Swasta ▪ Swasta
Karangayar, Kabupaten Sragen,
Kabupaten Grobogan,
Kabupaten Blora , Kabupaten
Demak, Kabupaten Semarang,
273
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
Kabupaten Kendal, Kabupaten
Batang, Kabupaten Pemalang,
Kabupaten Tegal, Kabupaten
Brebes, Kota Surakarta, Kota
Semarang, Kota Tegal, Kota
Pekalongan.
Sistem Jaringan Sungai, Danau, Dan
3
Penyeberangan
▪ Alur Pelayaran Sungai
Bengawan Solo (Dermaga
Mojolaban Sukoharjo)-Dukuh
Beton Surakarta), Alur
Pelayaran Sungai Serayu
(Pelabuhan Kedung Uter-
halte Papringan-Halte
Tambak Negara), Alur
Pelayaran Sungai Anakan
Segara Cilacap – Kampung
Laut (Motehan – Klaces –
Karanganyar)
▪ Alur-pelayaran Sungai Donan
(Dermaga Lomanis –
Perkuyan – Kutawaru – ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
a. Program pengelolaan Alur-
Alasmalang - Kalipanas – ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
Pelayaran Sungai dan Alur-
Pelayaran Danau Prenca - Sleko), Alur- ▪ APBD ▪ Pemerintah
pelayaran Sungai Kutho Kab/Kota Kab/Kota
(Dermaga Dukuh Lutungmati
– Dermaga Dukuh Tegalsari,
Dermaga Dukuh Mundu -
Dermaga Dukuh Kebun
Waru), Alur-pelayaran Sungai
Ijo (Dermaga Loh Gending –
Jetis), Alur-pelayaran Sungai
Comal (Dermaga Desa
Kebagusan); dan
▪ Alur-pelayaran Sungai Pemali
(Dermaga Kertabesuki – Desa
Tengki Utara, Dermaga
Dukuh Dawua Desa
Kertabesuki - Desa Tengki
274
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
Kidul, Desa Dumeling – Desa
Tengki Tengah).
▪ Alur-pelayaran Waduk
Kedung Ombo, Alur-
pelayaran Waduk Malahayu,
Alur-pelayaran Waduk
Cacaban, Alur-pelayaran
Waduk Jatibarang, Alur-
pelayaran Waduk Logung,
Alur-pelayaran Waduk
Bentolo, Alur-pelayaran
Waduk Randugunting, Alur-
pelayaran Waduk Greneng,
Alur-pelayaran Waduk
Penjalin, Alur-pelayaran
Waduk Logending, Alur-
pelayaran Waduk Sempor,
Alur-pelayaran Waduk Wadas
Lintang, Alur-pelayaran Rawa
Pening, Alur-pelayaran
Waduk Gajah Mungkur.
▪ lintas penyeberangan
Provinsi Jawa Tengah - Jawa
Timur (Desa Mendalem –
Desa Luwih Haji, Desa
jimbung – Desa Kiringan,
Desa Panolan – Desa Sumber
Arum, Desa Kenongogong –
Desa Sumber Arum, Desa
b. Penetapan Lintas Penyeberangan Jipang – Kecamatan Ngraho);
▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
dan Persetujuan Pengoperasian dan
Kapal antarprovinsi ▪ ▪ Swasta ▪ Swasta
lintas Penyeberangan
Provinsi Jawa Tengah - Jawa
Barat :
▪ Lintas Penyeberangan Sungai
Citandui ( Dermaga Patimuan
– Dermaga Pandanaan,
dermaga Patimuan Cilacap -
Dermaga Padaherang
Pangandaran)
275
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
▪ Lintas Penyeberangan Sungai
Cisanggarung ( Dermaga
Limbangan – Dermaga
Kalirahayu, Dermaga
Randusari – Dermaga
Pasuruan).
▪ lintas penyeberangan
Kampung Sewu Kota
Surakarta – Desa Gadingan
Kabupaten Sukoharjo;
▪ lintas penyeberangan Desa
c. Penetapan Lintas Penyeberangan Yosorejo Kabupaten Batang – ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
dan Persetujuan Pengoperasian Desa Rowosari Kabupaten ▪ APBD ▪ Pemerintah
Kapal antardaerah Kendal, lintas penyeberangan Kab/Kota Kab/Kota
Kabupaten/Kota dalam Daerah Desa Yosorejo Kabupaten
Provinsi ▪ Swasta ▪ Swasta
Batang – Desa Jatipurwo
Kabupaten Kendal, lintas
penyeberangan Desa
Randusanga Wetan
Kabupaten Brebes – Desa
Muarareja Kabupaten Tegal.
Kabupaten Cilacap, Kabupaten
Kabumen, Kabupaten
Wonosobo, Kabupaten Wonogiri,
Kabupaten Sragen, Kabupaten ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
d. Pembangunan, Penerbitan Izin Sukoharjo, Kabupaten Blora, ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
Pembangunan dan Pengoperasian Kabupaten Kudus, Kabupaten ▪ APBD ▪ Pemerintah
Pelabuhan sungai dan danau Kendal, Kabupaten Batang, Kab/Kota Kab/Kota
Kabupaten Pemalang, ▪ Swasta ▪ Swasta
Kabupaten Tegal, Kabupaten
Brebes, Kota Tegal, Kota
Surakarta.
Lintas Seleko – Motehan PP;
Seleko – Motehan – Klaces –
▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
Karanganyar PP; Motehan –
e. Pembangunan, Penerbitan Izin Klaces – Majungklak – ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
Pembangunan dan Pengoperasian Kalipucang PP; Lomanis – ▪ APBD ▪ Pemerintah
Pelabuhan penyeberangan Cigintung PP; Lomanis – Kab/Kota Kab/Kota
Perkuyan PP; Kalipanas – Jojok, ▪ Swasta ▪ Swasta
Kutawaru PP; Prenca – Alas
Malang PP, Lintas
276
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
Penyeberangan Jepara –
Karimun Jawa, Lintas
Penyeberangan Kendal – Kumai.
4 Sistem Jaringan Transportasi Laut
a. Pembangunan, Penerbitan Izin ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
Pembangunan dan Pengoperasian Kota Semarang
Pelabuhan Utama ▪ Swasta ▪ Swasta
277
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
Kabupaten Cilacap, Kabupaten
Kebumen, Kabupaten Purworejo,
Kota Semarang, Kabupaten
Brebes, Kabupaten Batang,
Kabupaten Jepara, Kabupaten
i. Pembangunan, Penerbitan Izin Demak, Kabupaten Pati, ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
Pembangunan dan Pengoperasian Kabupaten Kendal, Kabupaten ▪ APBD ▪ Pemerintah
Pelabuhan Pangkalan Pendaratan Pekalongan, Kabupaten Kab/Kota Kab/Kota
Ikan (PPI) Pemalang, Kabupaten Tegal,
▪ Swasta ▪ Swasta
Kabupaten Rembang.
278
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
Kabupaten Demak, Kota Tegal,
Kota Salatiga.
2) Upgrading kilang minyak
eksisting / refinery ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
Kabupaten Cilacap
development masterpan ▪ Swasta ▪ Swasta
(RDMP)
3) Jaringan pipa bawah laut Kota Semarang, Kabupaten ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
minyak dan gas bumi Cilacap. ▪ Swasta ▪ Swasta
Kabupaten Brebes, Kota Tegal,
Kabupaten Tegal, Kabupaten
4) Pembangunan Transmisi Pipa ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
Pemalang, Kabupaten
Gas (Ruas Provinsi Jawa
Pekalongan, Kota Pekalongan, ▪ Swasta ▪ Swasta
Barat - Cirebon - Semarang
Kabupaten Batang, Kabupaten
Kendal, Kota Semarang.
5) Pembangunan Bahan Bakar
Hijau (Green Diesel Provinsi
Jawa Tengah, Bio Refinery ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
Kabupaten Cilacap
Revamping dan Hidrogenasi ▪ Swasta ▪ Swasta
CPO Provinsi Sumatera RU IV
Cilacap
Jaringan Infrastruktur
2
Ketenagalistrikan
Kabupaten Blora, Kabupaten
Banjarnegara, Kabupaten
Banyumas, Kabupaten Batang,
Kabupaten Boyolali, Kabupaten
Brebes, Kabupaten Cilacap,
Kabupaten Grobogan,
a. Program penyelenggaraan Kabupaten Jepara, Kabupaten
infrastruktur pembangkitan Karanganyar, Kabupaten ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
tenaga listrik dan sarana Kebumen, Kabupaten Kendal, ▪ Swasta ▪ Swasta
pendukung Kabupaten Kudus, Kabupaten
Magelang, Kabupaten Pati,
Kabupaten Purbalingga,
Kabupaten Purworejo,
Kabupaten Rembang, Kabupaten
Semarang, Kabupaten Sragen,
Kabupaten Tegal, Kabupaten
279
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
Wonogiri, Kabupaten Wonosobo,
Kota Semarang, Kota Surakarta.
b. Program penyelenggaraan
jaringan infrastruktur penyaluran Seluruh wilayah Provinsi Jawa ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
tenaga listrik dan sarana Tengah ▪ Swasta ▪ Swasta
pendukung
Kabupaten Brebes, Kota Tegal,
Kabupaten Tegal, Kabupaten
Pemalang, Kabupaten
Pekalongan, Kota Pekalongan,
Kabupaten Batang, Kabupaten
Kendal, Kota Semarang,
Kabupaten Semarang,
Kabupaten Rembang, Kabupaten
Pati, Kabupaten Jepara,
c. Program penyelenggaraan ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
Kabupaten Kudus, Kabupaten
Jaringan Saluran Udara Tegangan
Grobogan, Kabupaten Demak, ▪ Swasta ▪ Swasta
Ekstra Tinggi (SUTET)
Kabupaten Semarang,
Kabupaten Kendal, Kota
Salatiga, Kabupaten Boyolali,
Kota Surakarta, Kabupaten
Sukoharjo, Kabupaten Klaten,
Kabupaten Cilacap, Kabupaten
Kebumen,Kabupaten Purworejo,
Kabupaten Klaten, Kabupaten
Wonogiri.
d. Program penyelenggaraan Saluran Seluruh wilayah Provinsi Jawa ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
Udara Tegangan Tinggi (SUTT) Tengah ▪ Swasta ▪ Swasta
▪ Koridor Cirebon – Kendal,
Koridor Kendal – Laut Jawa,
Koridor Cilacap –
e. Program penyelenggaraan Nusakambangan, Koridor ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
jaringan pipa/kabel bawah laut Karimunjawa – Jepara; dan
penyaluran tenaga listrik ▪ Swasta ▪ Swasta
▪ Koridor Pulau Karimunjawa –
Pulau Tengah; dan
▪ Pipa Intake PLTU Batang.
Kabupaten Cilacap, Kabupaten
f. Program penyelenggaraan gardu Kebumen, Kabupaten ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
listrik Banjarnegara, Kabupaten ▪ Swasta ▪ Swasta
Semarang, Kabupaten Klaten,
280
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
Kabupaten Sukoharjo,
Kabupaten Karanganyar,
Kabupaten Boyolali, Kabupaten
Kendal meliputi, Kabupaten
Batang, Kabupaten Kudus,
Kabupaten Kudus, Kabupaten
Demak, Kabupaten Pemalang,
Kabupaten Brebes, Kota
Semarang, Kabuten Grobogan,
Kota Pekalongan, Kota
Megelang, Kota Surakarta, Kota
Salatiga, GI lainnya.
281
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
▪ Daerah Irigasi Serayu dengan
daerah aliran berada di
Kabupaten Banyumas,
Cilacap, Kebumen, Daerah
Irigasi Banjarcahyana dengan
daerah aliran berada di
Kabupaten Banjarnegara dan
Purbalingga.
▪ Daerah Irigasi Klambu
dengan daerah aliran berada
di Kabupaten Grobogan,
Demak, Kudus, Jepara, Pati,
Daerah Irigasi Glapan dengan
daerah aliran berada di
Kabupaten Grobogan dan
Demak, Daerah Irigasi Sedadi
dengan daerah aliran berada
di Kabupaten Grobogan dan
Demak, Daerah Irigasi
a. Program penyelenggaraan Kumisik dengan daerah
jaringan irigasi kewenangan aliran berada di Kabupaten APBN Pemerintah Pusat
Pemerintah Pusat Tegal dan Brebes, Daerah
Irigasi Kedungasem dengan
daerah aliran berada di
Kabupaten Batang dan
Kendal, Daerah Irigasi
Kupang Krompeng dengan
daerah aliran berada di
Kabupaten Batang,
Kabupaten Pekalongan dan
Kota Pekalongan, Daerah
Irigasi Waduk Wadas Lintang
dengan daerah aliran berada
di Kabupaten Purworejo dan
Kabupaten Kebumen, Daerah
Irigasi Progo Manggis –
Kalibening dengan daerah
aliran berada di Kabupaten
Temanggung, Kabupaten
Magelang, dan Kota
Magelang, Daerah Irigasi
Kaliwadas dengan daerah
282
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
aliran berada di Kabupaten
Pemalang dan Kabupaten
Pekalongan, Daerah Irigasi
Pasantren Klatak dengan
daerah aliran berada di
Kabupaten Pekalongan dan
Kota Pekalongan, Daerah
Irigasi Pemali Bawah (Bd.
Notog) dengan daerah aliran
berada di Kabupaten Tegal
dan Kabupaten Brebes,
Daerah Irigasi Singapan/
Grogek dengan daerah aliran
berada di Kabupaten Tegal
dan Kabupaten Pemalang;
Kabupaten Grobogan,
b. Rehabilitasi Daerah Irigasi Glapan APBN Pemerintah Pusat
Kabupaten Demak
Kabupaten Banjarnegara,
Kabupaten Banyumas,
Kabupaten Batang, Kabupaten
Blora, Kabupaten Boyolali,
Kabupaten Brebes, Kabupaten
Cilacap, Kabupaten Demak,
Kabupaten Grobogan,
Kabupaten Jepara, Kabupaten
c. Pengembangan dan Pengelolaan Karanganyar, Kabupaten
Sistem Irigasi Primer dan Kebumen, Kabupaten Kendal,
Sekunder pada Daerah Irigasi Kabupaten Klaten, Kabupaten Pemerintah Prov
Kudus, Kabupaten Magelang, APBD Prov
yang Luasnya 1000 Ha - 3000 Ha
dan Daerah Irigasi Lintas Daerah Kabupaten Pati, Kabupaten
Kabupaten/Kota Pekalongan, Kabupaten
Pemalang, Kabupaten
Purbalingga, Kabupaten
Purworejo, Kabupaten Rembang,
Kabupaten Semarang,
Kabupaten Sragen. Kabupaten
Sukoharjo, Kabupaten Tegal,
Kabupaten Temanggung,
Kabupaten Wonogiri, Kabupaten
Wonosobo, Kota Pekalongan,
283
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
Kota Salatiga, Kota Semarang,
Kota Tegal.
2 Sistem jaringan air bersih
▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
Pembangunan kolam tampungan air
Seluruh Kabupaten/ Kota ▪ APBD ▪ Pemerintah
untuk peyediaan air bersih
Kab/Kota Kab/Kota
▪ Swasta ▪ Swasta
3 Sistem pengendalian banjir
a. Program penyelenggaraan
jaringan pengendali banjir
Pengelolaan Sumber Daya ▪ APBN
▪ Pemerintah Pusat
Air (SDA) dan Bangunan ▪ APBD Prov
Pengaman Pantai pada ▪ Pemerintah Prov
1. Seluruh Kabupaten/ Kota ▪ APBD
Wilayah Sungai Lintas Kab/Kota ▪ Pemerintah
Daerah Kabupaten/Kota Kab/Kota
Kabupaten Banyumas,
Kabupaten Blora, Kabupaten
Boyolali, Kabupaten Brebes,
Kabupaten Cilacap, Kabupaten
Demak, Kabupaten Grobogan,
Kabupaten Karanganyar,
Kabupaten Kebumen,
Kabupaten Kendal, Kabupaten ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
1) Sistem pengendalian banjir Klaten, Kabupaten Kudus,
▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
2. dan air baku berupa danau, Kabupaten Pati, Kabupaten
embung, dan waduk Pekalongan, Kabupaten ▪ APBD ▪ Pemerintah
Pemalang, Kabupaten Kab/Kota Kab/Kota
Purbalingga, Kabupaten
Purworejo, Kabupaten Rembang,
Kabupaten Semarang,
Kabupaten Sragen, Kabupaten
Sukoharjo, Kabupaten Tegal,
Kabupaten Wonogiri, Kabupaten
Wonosobo, Kota Semarang
284
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
Blora, Kabupaten Boyolali, ▪ APBD ▪ Pemerintah
Kabupaten Brebes, Kabupaten Kab/Kota Kab/Kota
Cilacap, Kabupaten Demak,
Kabupaten Jepara, Kabupaten
Karanganyar, Kabupaten
Kendal, Kabupaten Klaten,
Kabupaten Kudus, Kabupaten
Magelang, Kabupaten Pati,
Kabupaten Pekalongan,
Kabupaten Pemalang,
Kabupaten Purbalingga,
Kabupaten Purworejo,
Kabupaten Rembang, Kabupaten
Semarang, Kabupaten Sragen,
Kabupaten Sukoharjo,
Kabupaten Tegal, Kabupaten
Temanggung, Kabupaten
Wonogiri, Kabupaten Wonosobo,
Kota Pekalongan, Kota Salatiga.
c. Pengelolaan dan Pengembangan
Sistem Drainase yang Terhubung APBD Prov Pemerintah Prov
Seluruh wilayah Provinsi Jawa
Langsung dengan Sungai Lintas
Tengah
Daerah Kabupaten/Kota dan
Kawasan Strategis Provinsi
Pengembangan bangunan pengambil
4
air
a. Program penyelenggaraan
bangunan pengambil air di darat
▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
1) Instalasi Pengambil Air (IPA) Seluruh wilayah Provinsi Jawa
1. ▪ APBD ▪ Pemerintah
regional Tengah
Kab/Kota Kab/Kota
▪ Swasta ▪ Swasta
▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
2) Pembangkit Listrik Tenaga Seluruh wilayah Provinsi Jawa
2. ▪ APBD ▪ Pemerintah
Mikro Hidro (PLTMH) Tengah
Kab/Kota Kab/Kota
▪ Swasta ▪ Swasta
285
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
3) Air Minum Dalam Kemasan Seluruh wilayah Provinsi Jawa
3. ▪ APBD ▪ Pemerintah
(AMDK) Tengah
Kab/Kota Kab/Kota
▪ Swasta ▪ Swasta
b. Program penyelenggaraan
bangunan pengambil air di laut
1) Unit Pengolahan Desalinasi
1. Kabupaten Batang APBN Pemerintah Pusat
(KIT Batang)
Perwujudan Sistem Jaringan
F
Prasarana Lainnya
Sistem Penyediaan Air Minum
1
(SPAM)
▪ SPAM Regional di setiap
Wilayah Pengembangan.
▪ Peningkatan SPAM regional:
‐ SPAM Regional Bregas;
‐ SPAM Regional Keburejo;
‐ SPAM Regional Petanglong;
‐ SPAM Regional
a. Pengelolaan dan Pengembangan Wosusokas, SPAM ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
Sistem Penyediaan Air Minum Regional Dadimuria, SPAM ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
(SPAM) Lintas Kabupaten/Kota Regional Jragung;
▪ Swasta ▪ Swasta
‐ SPAM Regional
Randugunting;
‐ SPAM Regional Maslancip;
‐ SPAM Regional Logung;
‐ SPAM Regional Bendungan
Bener;
‐ SPAM Semarang Barat;
‐ SPAM lainnya
Sistem Pengelolaan Air Limbah
2
(SPAL)
Pengelolaan dan Pengembangan ▪ SPAL Domestik Regional di ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
Sistem Air Limbah (SPAL) Domestik setiap Wilayah ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
Regional Pengembangan. ▪ Swasta ▪ Swasta
286
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
▪ Peningkatan SPAL Domestik
regional:
‐ SPAL Domestik regional di
Kota Surakarta,
Kabupaten Karanganyar
dan Kabupaten Sukoharjo;
‐ SPAL Domestik regional di
Kota Pekalongan,
Kabupaten Batang, dan
Kabupaten Pekalongan;
‐ SPAL Domestik regional di
Kabupaten Banyumas,
Kabupaten Purbalingga
dan Kabupaten
Banjarnegara;
287
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
Kabupaten Banyumas,
Kabupaten Purbalingga,
Kabupaten Banjarnegara,
Kabupaten Kebumen,
Kabupaten Wonosobo,
Kabupaten Magelang,
Kabupaten Klaten, Kabupaten
Sukoharjo, Kabupaten
Wonogiri, Kabupaten
a. Program pemanfaatan,
Karanganyar, Kabupaten
perlindungan, dan pengelolaan APBN Pemerintah Pusat
Sragen, Kabupaten Rembang,
Kawasan Hutan lindung
Kabupaten Pati, Kabupaten
Kudus, Kabupaten Jepara,
Kabupaten Semarang,
Kabupaten Temanggung,
Kabupaten Kendal, Kabupaten
Batang, Kabupaten
Pekalongan, Kabupaten
Pemalang, Kabupaten Tegal,
Kabupaten Brebes.
b. Program Pengembangan
Kawasan Resapan Air ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
Seluruh wilayah Provinsi Jawa
▪ Program pelaksanaan Tengah ▪ APBD ▪ Pemerintah
Rehabilitasi di Luar Kab/Kota Kab/Kota
Kawasan Hutan Negara
c. Pelaksanaan Pengelolaan DAS ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
Lintas Daerah Kabupaten/Kota Seluruh wilayah Provinsi Jawa ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
dan dalam Daerah Kab/Kota Tengah ▪ APBD ▪ Pemerintah
dalam 1 (Satu) Daerah Provinsi Kab/Kota Kab/Kota
d. Program Pendidikan dan ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
Pelatihan, Penyuluhan dan Seluruh wilayah Provinsi Jawa ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
Pemberdayaan Masyarakat di Tengah ▪ APBD ▪ Pemerintah
Bidang Kehutanan Kab/Kota Kab/Kota
3 Kawasan Perlindungan Setempat
a. Program pemanfaatan, Kabupaten Cilacap, ▪ ▪
APBN Pemerintah Pusat
perlindungan, dan pengelolaan Kabupaten Kebumen,
▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
Kawasan Sempadan Pantai Kabupaten Purworejo,
288
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
Kabupaten Wonogiri, ▪ APBD ▪ Pemerintah
Kabupaten Rembang, Kab/Kota Kab/Kota
Kabupaten Pati, Kabupaten
Jepara, Kabupaten Demak,
Kabupaten Kendal, Kabupaten
Batang, Kabupaten
Pekalongan, Kabupaten
Pemalang, Kabupaten Tegal,
Kabupaten Brebes, Kota
Semarang, Kota Pekalongan,
Kota Tegal.
▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
b. Program pemanfaatan,
Seluruh wilayah Provinsi Jawa ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
perlindungan, dan pengelolaan
Tengah ▪ APBD ▪ Pemerintah
Kawasan Sempadan Sungai
Kab/Kota Kab/Kota
Kabupaten Banyumas,
Kabupaten Blora, Kabupaten
Boyolali, Kabupaten Brebes,
Kabupaten Cilacap,
Kabupaten Demak, Kabupaten
Grobogan, Kabupaten
Karanganyar, Kabupaten
Kebumen, Kabupaten Kendal,
Kabupaten Klaten, Kabupaten ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
c. Program pemanfaatan,
Kudus, Kabupaten Pati,
perlindungan, dan pengelolaan ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
Kabupaten Pekalongan,
Kawasan sekitar Danau, ▪ APBD ▪ Pemerintah
Kabupaten Pemalang,
Embung, dan Waduk Kab/Kota Kab/Kota
Kabupaten Purbalingga,
Kabupaten Purworejo,
Kabupaten Rembang,
Kabupaten Semarang,
Kabupaten Sragen, Kabupaten
Sukoharjo, Kabupaten Tegal,
Kabupaten Wonogiri,
Kabupaten Wonosobo, Kota
Semarang.
4 Kawasan Konservasi
289
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
Kabupaten Cilacap,
Kabupaten Banjarnegara,
Kabupaten Wonogiri,
a. Program pemanfaatan, Kabupaten Sragen, Kabupaten
perlindungan, dan pengelolaan Blora, Rembang, Kabupaten APBN Pemerintah Pusat
Kawasan cagar alam dan suaka Jepera, Kabupaten Semarang,
marga satwa Kabupaten Kendal, Kabupaten
Batang, Kabupaten Pemalang,
Kabupaten Tegal, Kabupaten
Brebes.
Kabupaten Magelang,
b. Program pemanfaatan, APBN Pemerintah Pusat
Kabupaten Boyolali,
perlindungan, dan pengelolaan
Kabupaten Klaten, Kabupaten
Kawasan Taman Nasional
Jepara;
c. Program pemanfaatan, APBN Pemerintah Pusat
Kabupaten Karanganyar,
perlindungan, dan pengelolaan
Kabupaten Banyumas;
Kawasan Taman Hutan Raya
Kabupaten Cilacap,
d. Program pemanfaatan, APBN Pemerintah Pusat
Kabupaten Wonosobo,
perlindungan, dan pengelolaan
Kabupaten Karanganyar,
Kawasan Taman Wisata Alam
Kabupaten Rembang.
Kabupaten Batang, Kabupaten ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
e. Program pengembangan
Tegal, Kabupaten Jepara, ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
Kawasan Maritim
Kabupaten Rembang.
Kawasan Pencadangan Konservasi
5
di Laut
Kabupaten Brebes, Kabupaten
Program pemanfaatan, Pemalang, Kabupaten Kendal, ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
perlindungan, dan pengelolaan Kabupaten Demak, Kabupaten
1 ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
Kawasan Pencadangan Konservasi Jepara, Kabupaten Rembang,
di Laut Kabupaten Kebumen,
Kabupaten Cilacap.
6 Kawasan Lindung Geologi
a. Program pemanfaatan, Kabupaten Sragen, Kabupaten ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
perlindungan, dan pengelolaan Karanganyar, Kabupaten ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
290
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
Kawasan keunikan batuan dan Kudus, Kabupaten Pati, ▪ APBD ▪ Pemerintah
fosil Kabupaten Tegal; Kab/Kota Kab/Kota
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
Kawasan Ekosistem Mangrove Kabupaten Jepara, Kabupaten ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
di daratan Kebumen, Kabupaten Kendal, ▪ APBD ▪ Pemerintah
Kabupaten Pekalongan, Kab/Kota Kab/Kota
Kabupaten Pemalang,
Kabupaten Purworejo,
Kabupaten Rembang,
Kabupaten Tegal.
perairan di Kabupaten Demak,
perairan di Kabupaten Kendal,
perairan di Kota Semarang,
Perairan di Kabupaten Brebes,
Perairan di Kota Tegal,
Perairan di Kabupaten Tegal,
Perairan di Kabupaten
b. Program pemanfaatan, Pemalang, Perairan di ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
perlindungan, dan pengelolaan Kabupaten Pekalongan,
2 ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
Kawasan Ekosistem Mangrove Perairan di Kota Pekalongan,
di perairan Perairan di Kabupaten Batang,
Perairan di Kabupaten Kendal,
Perairan di Kota Semarang,
Perairan di Kabupaten Demak,
Perairan di Kabupaten Jepara,
Perairan di Kabupaten Pati,
Perairan di Kabupaten
Rembang.
B Perwujudan Kawasan Budidaya
1 Kawasan Hutan Produksi
a. Program Pemanfaatan, ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
Kabupaten Banjarnegara,
perlindungan, dan pengelolaanKabupaten Banyumas, ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
Kawasan Hutan Produksi Kabupaten Batang, Kabupaten ▪ Swasta ▪ Swasta
Blora, Kabupaten Boyolali, ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
b. Program Pengelolaan Rencana
Kabupaten Brebes, Kabupaten ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
Tata Hutan Kesatuan
Cilacap, Kabupaten Demak,
Pengelolaan Hutan (KPH) ▪ Swasta ▪ Swasta
Kabupaten Grobogan,
kewenangan Provinsi
Kabupaten Jepara, Kabupaten
c. Program Pemanfaatan Hutan Di Karanganyar, Kabupaten ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
Kawasan Hutan Produksi Kebumen, Kabupaten Kendal, ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
292
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
Kabupaten Klaten, Kabupaten ▪ Swasta ▪ Swasta
Kudus, Kabupaten Magelang,
Kabupaten Pati, Kabupaten
Pekalongan, Kabupaten
Pemalang, Kabupaten
Purbalingga, Kabupaten
▪ APBN
d. Program Pelaksanaan Purworejo, Kabupaten ▪ Pemerintah Pusat
▪ APBD Prov
Rehabilitasi di dalam dan di Rembang, Kabupaten ▪ Pemerintah Prov
Semarang, Kabupaten Sragen, ▪ Swasta
Luar Kawasan Hutan Negara ▪ Swasta
Kabupaten Sukoharjo,
Kabupaten Tegal, Kabupaten
Temanggung, Kabupaten
Wonogiri, Kabupaten
Wonosobo, Kota Semarang.
2 Kawasan Perkebunan Rakyat
▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
a. Program Pemanfaatan,
▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
perlindungan, dan pengelolaan
Kawasan Perkebunan; ▪ APBD ▪ Pemerintah
Kab/Kota Kab/Kota
▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
b. Program Pengawasan Mutu,
▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
Penyediaan dan Peredaran
Benih Tanaman ▪ APBD ▪ Pemerintah
Kab/Kota Kab/Kota
Kabupaten Batang, Kabupaten ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
c. Program Pengendalian dan
Cilacap, Kabupaten Jepara, ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
Penanggulangan Bencana
Kabupaten Pemalang, ▪ APBD ▪ Pemerintah
Perkebunan Provinsi
Kabupaten lainnya Kab/Kota Kab/Kota
d. Program Penerbitan Izin Usaha ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
Perkebunan yang kegiatan ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
Usahanya dalam Daerah ▪ APBD ▪ Pemerintah
Kabupaten/Kota Kab/Kota Kab/Kota
▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
e. Program Pengembangan
▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
Ketenagaan Penyuluhan
Perkebunan ▪ APBD ▪ Pemerintah
Kab/Kota Kab/Kota
293
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
f. Penelitian dan pengembangan ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
perkebunan ▪ APBD ▪ Pemerintah
Kab/Kota Kab/Kota
3 Kawasan Pertanian
▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
a. Program Pemanfaatan,
▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
perlindungan, dan pengelolaan
Kawasan Pertanian Kabupaten Cilacap, ▪ APBD ▪ Pemerintah
Kabupaten Purbalingga, Kab/Kota Kab/Kota
Kabupaten Purworejo, ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
b. Program Pengawasan Mutu, Kabupaten Banyumas, ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
Penyediaan dan Peredaran Kabupaten Kebumen,
Benih Tanaman ▪ APBD ▪ Pemerintah
Kabupaten Banjarnegara, Kab/Kota Kab/Kota
Kabupaten Batang, Kabupaten
Blora, Kabupaten Boyolali, ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
c. Program Pengendalian dan
Kabupaten Brebes, Kabupaten ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
Penanggulangan Bencana
Pertanian Demak, Kabupaten Grobogan, ▪ APBD ▪ Pemerintah
Kabupaten Jepara, Kabupaten Kab/Kota Kab/Kota
Karanganyar, Kabupaten ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
d. Program Penerbitan Izin Usaha
Kendal, Kabupaten Klaten,
Pertanian yang kegiatan ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
Kabupaten Kudus, Kabupaten
Usahanya dalam Daerah ▪ APBD ▪ Pemerintah
Magelang, Kabupaten Pati,
Kabupaten/Kota Kab/Kota Kab/Kota
Kabupaten Pekalongan,
Kabupaten Pemalang, ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
e. Program Pengembangan Kabupaten Rembang, ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
Ketenagaan Penyuluhan Kabupaten Semarang,
Pertanian ▪ APBD ▪ Pemerintah
Kabupaten Sragen, Kabupaten Kab/Kota Kab/Kota
Sukoharjo, Kabupaten Tegal,
Kabupaten Temanggung, ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
f. Program Pengelolaan dan
Kabupaten Wonogiri, ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
Keseimbangan Cadangan
Pangan Kabupaten Wonosobo, Kota ▪ APBD ▪ Pemerintah
Magelang, Kota Pekalongan, Kab/Kota Kab/Kota
Kota Salatiga, Kota Semarang, ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
g. Program Penyusunan Peta Kota Tegal ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
Kerentanan dan Ketahanan
Pangan ▪ APBD ▪ Pemerintah
Kab/Kota Kab/Kota
294
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
h. program penyediaan dan ▪ ▪
APBD Prov Pemerintah Prov
pengembangan sarana
▪ APBD ▪ Pemerintah
pertanian
Kab/Kota Kab/Kota
▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
i. program penyediaan dan ▪ ▪
APBD Prov Pemerintah Prov
pengembangan prasarana
▪ APBD ▪ Pemerintah
pertanian
Kab/Kota Kab/Kota
4 Kawasan Perikanan
a. Program Pengelolaan Kelautan, ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
b. Program Pengelolaan Perikanan Kabupaten Cilacap, ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
Tangkap Kabupaten Kebumen, ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
Kabupaten Purworejo, ▪ ▪
c. Program Pengelolaan Perikanan APBN Pemerintah Pusat
Kabupaten Wonogiri,
Budidaya ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
Kabupaten Rembang,
d. Program Pengawasan Kabupaten Pati, Kabupaten ▪ ▪
APBN Pemerintah Pusat
Sumberdaya Kelautan Dan Jepara, Kabupaten Demak,
Perikanan Kabupaten Kendal, Kabupaten ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
Batang, Kabupaten ▪ ▪
e. Program Pengolahan Dan APBN Pemerintah Pusat
Pekalongan, Kabupaten
Pemasaran Hasil Perikanan ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
Pemalang, Kabupaten Tegal,
f. Revitalisasi Tambak Pantai Kabupaten Brebes, Kota ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
Utara dan Pantai Selatan Pekalongan, Kota Tegal. ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
g. Penelitian dan Pengembangan ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
Kelautan dan Perikanan ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
5 Kawasan Pergaraman
a. Program pengembangan
teknologi penggaraman, Kabupaten Cilacap,
Program pengembangan Kabupaten Jepara, Kabupaten
prasarana dan sarana Pati, Kabupaten Rembang, ▪ APBN ▪ Pemerintah Pusat
penggaraman, Kabupaten Brebes, Kabupaten ▪ APBD Prov ▪ Pemerintah Prov
b. Program Pengolahan dan Demak, Kabupaten Kebumen,
Pemasaran budidaya/ industri Kabupaten Purworejo.
garam;
295
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
Kawasan Pertambangan Dan
6
Energi
a. Program Pengelolaan Mineral
Dan Batubara: Kabupaten Cilacap,
1) Penetapan Wilayah Izin Kabupaten Banyumas,
Usaha Pertambangan Kabupaten Purbalingga,
Mineral Bukan Logam dan Kabupaten Banjarnegara,
Batuan dalam 1 (Satu) Kabupaten Kebumen,
Daerah Provinsi dan Kabupaten Purworejo,
Wilayah Laut sampai Kabupaten Wonosobo,
dengan 12 Mil, Kabupaten Magelang,
2) Penatausahaan Izin Usaha Kabupaten Boyolali,
pertambangan Mineral Kabupaten Klaten, Kabupaten
Logam Atau Batubara Sukoharjo, Kabupaten
dalam Rangka Penanaman Wonogiri, Kabupaten
Modal dalam Negeri pada Karanganyar, Kabupaten
Wilayah Izin Usaha Sragen, Kabupaten Grobogan,
Pertambangan Daerah yang Kabupaten Blora, Kabupaten
Berada dalam 1 (Satu) Rembang, Kabupaten Pati,
Daerah Provinsi Termasuk Kabupaten Kudus, Kabupaten
APBD Prov Pemerintah Prov
Wilayah Laut Sampai Jepara, Kabupaten Demak,
Dengan 12 Mil Laut Kabupaten Semarang,
3) Penatausahaan Izin Usaha Kabupaten Temanggung,
pertambangan Mineral Kabupaten Kendal, Kabupaten
Bukan Logam dan Batuan Batang, Kabupaten
dalam Rangka Penanaman Pekalongan, Kabupaten
Modal dalam Negeri pada Pemalang, Kabupaten Tegal,
Wilayah Izin Usaha Kabupaten Brebes, Kota
Pertambangan Daerah yang Salatiga, Kota Semarang,
Berada dalam 1 (Satu) perairan Kabupaten
Daerah Provinsi Termasuk Pekalongan, perairan
Wilayah Laut Sampai Kabupaten Pemalang, perairan
Dengan 12 Mil Laut Kabupaten Brebes, perairan
Kabupaten Kendal, perairan
4) Penatausahaan Izin
Kabupaten Demak, perairan
Pertambangan Rakyat
Kabupaten Jepara, perairan
untuk Komoditas Mineral
Kabupaten Rembang.
Logam, Batubara, Mineral
Bukan Logam, dan Batuan
296
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
dalam Wilayah
Pertambangan Rakyat
5) Penatausahaan Izin Usaha
pertambangan Operasi
Produksi Khusus untuk
Pengolahan dan Pemurnian
dalam Rangka Penanaman
Modal dalam Negeri yang
Komoditas Tambangnya
Berasal Dari 1 (Satu)
Daerah Provinsi yang Sama,
6) Penatausahaan Izin Usaha
Jasa pertambangan dalam
Rangka Penanaman Modal
dalam Negeri yang Kegiatan
Usahanya dalam 1 (Satu)
daerah Provinsi;
b. Program Pengelolaan Energi
Terbarukan
1) Penatausahaan Izin
Pemanfaatan Langsung
Panas Bumi Lintas Daerah
Kabupaten/Kota dalam 1
(Satu) Daerah Provinsi dan
Wilayah Laut Paling Jauh
12 (Dua Belas) Mil Diukur
Dari Garis Pantai Ke Arah
Laut Lepas Dan/Atau Ke APBD Prov Pemerintah Prov
Arah Perairan Kepulauan,
2) Penatausahaan Izin,
Pembinaan, dan
Pengawasan Usaha Niaga
Bahan Bakar Nabati
(Biofuel) Sebagai Bahan
Bakar Lain
3) Pelaksanaan Konservasi
Energi di Wilayah Provinsi;
297
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
c. Program Pengelolaan
Ketenagalistrikan
1) Penatausahaan Izin Usaha
Penyediaan Tenaga Listrik
Non Badan Usaha Milik
Negara dan Penjualan
Tenaga Listrik serta
Penyewaan Jaringan
kepada Penyedia Tenaga
Listrik dalam Daerah
Provinsi
APBD Prov Pemerintah Prov
2) Penatausahaan Izin Operasi
yang Fasilitas Instalasinya
dalam Daerah Provinsi,
Penganggaran untuk
Kelompok Masyarakat
Tidak Mampu,
Pembangunan Sarana
Penyediaan Tenaga Listrik
Belum Berkembang,
Daerah Terpencil dan
Perdesaan,
7 Kawasan Peruntukan Industri
a. Program Perencanaan dan ▪ Kabupaten Cilacap,
Pembangunan Industri Kabupaten Banyumas,
▪ Penyusunan dan Evaluasi Kabupaten Kebumen, APBD Prov Pemerintah Prov
Rencana pembangunan Kabupaten Purworejo,
Industri Provinsi Kabupaten Boyolali,
Kabupaten Klaten,
Kabupaten Sukoharjo,
b. Program Pengendalian Izin Kabupaten Wonogiri,
Usaha Industri Kabupaten Karanganyar,
▪ Penerbitan Izin Usaha Kabupaten Sragen,
Industri (IUI), Izin Kabupaten Grobogan, APBD Prov Pemerintah Prov
Perluasan Usaha Industri Kabupaten Blora,
(IPUI), Izin Usaha Kawasan Kabupaten Rembang,
Industri (IUKI) dan Izin Kabupaten Pati, Kabupaten
Perluasan Kawasan Kudus, Kabupaten Jepara,
Kabupaten Demak,
298
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
Industri (IPKI) Kewenangan Kabupaten Semarang,
Provinsi, Kabupaten Temanggung,
Kabupaten Kendal,
Kabupaten Batang,
Kabupaten Pekalongan,
Kabupaten Pemalang,
Kabupaten Tegal,
Kabupaten Brebes, Kota
Semarang, perairan
Kabupaten Demak, perairan
Kabupaten Kendal, perairan
Kota Semarang, kabupaten
lainnya
Kabupaten Rembang,
Kabupaten Demak, Kota APBN Pemerintah Pusat
Semarang, Kabupaten Kendal,
c. Program pengembangan APBD Prov Pemerintah Prov
Kabupaten Batang, Kabupaten
kawasan industri APBD Kab/Kota Pemerintah Kab/Kota
Brebes, Kabupaten Cilacap,
Kabupaten Kebumen, dan Swasta Swasta
kabupaten/ kota lainnya
d. Pembangunan Kawasan APBN Pemerintah Pusat
Kabupaten Batang
Industri Terpadu Batang Swasta Swasta
8 Kawasan Pariwisata
a. Program pengembangan daya ▪ Destinasi Pariwisata
tarik destinasi pariwisata Baturaden dan sekitarnya,
1) Pengelolaan Daya Tarik ▪ Destinasi Pariwisata
Wisata Provinsi Semarang–Karimunjawa
2) Pengelolaan Kawasan dan sekitarnya, APBD Prov Pemerintah Prov
Strategis Pariwisata ▪ Destinasi Pariwisata Solo–
Provinsi Sangiran dan sekitarnya,
3) Pengelolaan Destinasi ▪ Destinasi Pariwisata
Pariwisata Provinsi Borobudur–Dieng dan
b. Program pemasaran pariwisata sekitarnya:
▪ Pemasaran Pariwisata ▪ Destinasi Pariwisata Tegal–
dalam dan Luar Negeri Pekalongan dan sekitarnya; APBD Prov Pemerintah Prov
299
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
Kawasan Strategis ▪ Destinasi Pariwisata
Pariwisata Provinsi Rembang–Blora dan
c. Program pengembangan sekitarnya.
ekonomi kreatif
▪ Penyediaan Sarana dan
Prasarana Kota Kreatif
9 Kawasan Permukiman
a. Program Pengembangan
Permukiman
▪ Penyelenggaraan APBD Prov Pemerintah Prov
Infrastruktur pada
Permukiman di Kawasan
Strategis Daerah Provinsi
b. Program Pengembangan
Perumahan
▪ Pendataan Penyediaan dan
Rehabilitasi Rumah Korban
Bencana atau Relokasi
Program Provinsi,
Sosialisasi dan Persiapan APBD Prov Pemerintah Prov
Penyediaan dan Rehabilitasi
Rumah Korban Bencana ▪ Seluruh wilayah Provinsi
atau Relokasi Program Jawa Tengah
Provinsi, Pembangunan dan
Rehabilitasi Rumah Korban
Bencana atau Relokasi
Program Provinsi,
c. Program Pengembangan
Prasarana, Sarana Dan Utilitas
Umum (PSU) APBD Prov Pemerintah Prov
▪ Urusan Penyelenggaraan
PSU permukiman
d. Program Pengembangan
Pelayanan Sertifikasi,
Kualifikasi, Klasifikasi, Dan APBD Prov Pemerintah Prov
Registrasi Bidang Perumahan
Dan Kawasan Permukiman
300
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
▪ Sertifikasi dan Registrasi
bagi Orang atau Badan
Hukum yang Melaksanakan
Perancangan dan
Perencanaan Rumah serta
Perencanaan Prasarana,
Sarana dan Utilitas Umum
PSU Tingkat Kemampuan
Menengah;
10 Kawasan Transportasi
a. Rencana Induk dan Daerah
Lingkungan Kerja
(DLKR)/Daerah Lingkungan
Kepentingan (DLKP) dan dan
Kawasan Keselamatan Operasi Kabupaten Demak, Kabupaten
Penerbangan (KKOP); Kendal, Kabupaten Blora,
Kabupaten Boyolali,
b. Program Koordinasi dan APBD Prov Pemerintah Prov
Kabupaten Cilacap,
Sinkronisasi Pengawasan
Kabupaten Jepara, Kabupaten
Pelaksanaan Izin Usaha
Purbalingga, Kota Semarang.
Angkutan Darat dan Laut
Kewenangan Provinsi;
c. Rencana Induk Jaringan LLAJ
Provinsi.
Kawasan Pertahanan Dan
11
Keamanan
Program koordinasi dan sinkronisasi
penataan ruang dengan wilayah Seluruh wilayah Provinsi Jawa
pertahanan dan keamanan APBD Prov Pemerintah Prov
Tengah
IV KAWASAN STRATEGIS
KSP dari sudut kepentingan
2
pertumbuhan ekonomi
a. Kawasan Industri Prioritas Kabupaten Cilacap,
Provinsi Kabupaten Kebumen,
1) koordinasi pembangunan Kabupaten Rembang,
Kabupaten Demak, Kota APBD Prov Pemerintah Prov
Kawasan kawasan industri
301
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
2) Koordinasi dan sinkronisasi Semarang, Kabupaten Kendal,
pelaksanaan program Kabupaten Batang, dan
Kabupaten Brebes. APBD Prov Pemerintah Prov
pembangunan kawasan
industri
3) Koordinasi pengembangan
kawasan disekitar kawasan APBD Prov Pemerintah Prov
industri
b. Kawasan Agropolitan
1) Kawasan agropolitan MANGGA
EMAS
‐ penentuan komoditas
unggulan masing-masing
lokasi;
‐ Peningkatan pengolahan Kabupaten Pemalang,
hasil pertanian; Kabupaten Purbalingga,
APBD Prov Pemerintah Prov
Kabupaten Tegal, Kabupaten
‐ Peningkataan manajemen Brebes, Kabupaten Banyumas
pengelolaan pertanian; dan
‐ Pengembangan prasarana
dan sarana antar kawasan
produksi, pengolahan, dan
pemasaran.
302
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
3) Kawasan agropolitan
SEMARBOYONG
‐ penentuan komoditas
unggulan masing-masing
lokasi;
‐ Peningkatan pengolahan
Kabupaten Semarang,
hasil pertanian;
Kabupaten Boyolali, APBD Prov Pemerintah Prov
‐ Peningkataan manajemen Kabupaten Magelang
pengelolaan pertanian; dan
‐ Pengembangan prasarana
dan sarana antar kawasan
produksi, pengolahan, dan
pemasaran.
4) Kawasan agropolitan
SOBOBANJAR
‐ penentuan komoditas
unggulan masing-masing
lokasi;
‐ Peningkatan pengolahan
hasil pertanian; Kabupaten Wonosobo,
APBD Prov Pemerintah Prov
Kabupaten Banjarnegara
‐ Peningkataan manajemen
pengelolaan pertanian; dan
‐ Pengembangan prasarana
dan sarana antar kawasan
produksi, pengolahan, dan
pemasaran.
303
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
2) pengaturan kegiatan di APBD Prov Pemerintah Prov
kawasan lindung;
3) pengendalian kegiatan
budidaya di kawasan rawan APBD Prov Pemerintah Prov
bencana.
4) Koordinasi dan sinkronisasi
APBD Prov Pemerintah Prov
pelaksanaan program
a. Kawasan Rawa Pening
1) perlindungan badan air
Danau Rawa Pening dan APBD Prov Pemerintah Prov
kawasan sempadannya;
2) pengaturan kegiatan di
badan air Danau Rawa
Kabupaten Semarang, Kota APBD Prov Pemerintah Prov
Pening dan kawasan
Salatiga, dan Kabupaten Lain
sempadannya;
yang terkait
3) pengendalian kegiatan
budidaya di daerah
APBD Prov Pemerintah Prov
tangkapan air Danau Rawa
Pening.
4) Koordinasi dan sinkronisasi
APBD Prov Pemerintah Prov
pelaksanaan program
b. Program pengendalian Kawasan
Taman Nasional Gunung
Merbabu; program
pengendalian Kawasan Duning
Indoro – Sumbing; program
pengendalian Kawasan Gunung
Lawu; program pengendalian
Kawasan Slamet; dan
1) peningkatan produk jasa
lingkungan berupa:
▪ penyerap dan
penyimpangan karbon;
▪ perlindungan
keanekaragaman
hayati;
304
WAKTU PELAKSANAAN
I II III IV V
2023-
SUMBER INSTANSI 2026-2030
NO PROGRAM UTAMA LOKASI 2025
PENDANAAN PELAKSANA
2031- 2037- 2041-
2036 2041 2043
2023
2024
2025
2026
2027
2028
2029
2030
▪ konservasi air tanah;
dan
▪ keindahan bentang
alam.
c. KSP Kawasan Rawan Rob dan
Penurunan Muka Tanah
1) penentuan deliniasi risiko
rob dan penurunan muka APBD Prov Pemerintah Prov
tanah;
2) mendorong perwujudan
APBD Prov Pemerintah Prov
kota tangguh bencana;
3) pembangunan tanggul laut
dan fasilitas tampungan Kabupaten Pekalongan, Kota APBD Prov Pemerintah Prov
air; Pekalongan, dan Kabupaten
Demak
4) pengembangan
APBD Prov Pemerintah Prov
permukiman;
5) pengendalian pemanfaatan
ruang melalui pengaturan
kegiatan yang APBD Prov Pemerintah Prov
diperbolehkan dan dilarang
secara rinci.
Monitoring dan evaluasi
4 APBD Prov Pemerintah Prov
Perwujudan KSP
GANJAR PRANOWO
305
Lampiran XIII : PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH
NOMOR ….. TAHUN ……
TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI JAWA
TENGAH TAHUN 2023-2043
306
Lampiran XIV : PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH
NOMOR ….. TAHUN ……
TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI JAWA
TENGAH TAHUN 2023-2043
307
Lampiran XV : PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH
NOMOR ….. TAHUN ……
308
TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI JAWA
TENGAH TAHUN 2023-2043
310
TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI JAWA
TENGAH TAHUN 2023-2043
312
NOMOR ….. TAHUN ……
TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI JAWA
TENGAH TAHUN 2023-2043
314
NOMOR ….. TAHUN ……
TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI JAWA
TENGAH TAHUN 2023-2043
315
NOMOR ….. TAHUN ……
TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI JAWA
TENGAH TAHUN 2023-2043
316