Penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia
Penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia
PENDAHULUAN
A. DASAR PEMIKIRAN
Pertambahan jumlah kasus pengidap HIV/AIDS di Indonesia sejak
ditemukannya kasus ini pada tahun 1987 hingga saat ini terus meningkat,
meskipun telah dilakukan berbagai upaya untuk menanggulangi epidemik
tersebut. Perkembangan kasus ini disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain
rendahnya pemahaman dan kesadaran serta kepedulian masyarakat akan
bahaya HIV/AIDS. Selain itu persepsi yang salah terhadap masalah
HIV/AIDS masih berkembang di masyarakat, sehingga partisipasi masyarakat
dalam penangannya kurang optimal.
Menurut estimasi Departemen Kesehatan RI sampai pada Desember
2003, jumlah orang yang terinfeksi HIV di Indonesia kurang lebih 90.000-
130.000 orang, sementara kasus dengan orang dengan HIV/AIDS (ODHA)
yang dilaporkan hingga Desember 2004 sebanyak 6.050 kasus. Hal ini
mengindikasikan cukup banyak kasus pengidap HIV/AIDS yang belum
terlaporkan dan jumlahnya diperkirakan akan terus bertambah. Pertambahan
jumlah kasus ini selain disebabkan belum ditemukannya vaksin pencegah dan
obat untuk menyembuhkan juga diperburuk oleh semakin banyaknya jumlah
anggota masyarakat penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) yang
rentan terinfeksi HIV/AIDS.
Tingginya jumlah kelompok PMKS di Indonesia adalah suatu
konsekuensi logis dari krisis ekonomi yang berkepanjangan yang hingga kini
belum teratasi dengan baik. Jumlah PMKS rawan dan beresiko tinggi tertular
HIV ini diperkirakan mencapai jutaan orang. Sebagian besar PMKS yang
oleh karena keadaan dan perilakunya serta adat kebiasaan telah menempatkan
mereka sebagai kelompok-kelompok yang rawan dan beresiko tinggi terpapar
HIV, diantaranya adalah para Tuna Susila, Penyalahguna NAPZA,
Gelandangan dan Pengemis, Eks Narapidana, Anak Jalanan, Anak Nakal,
Pekerja Migran bermasalah dan beberapa kelompok Komunitas Adat
1
Terpencil. PMKS inilah yang merupakan sasaran intervensi Departemen
Sosial dan para mitranya, baik sesama instansi pemerintah di tingkat pusat
dan daerah serta Organisasi Sosial/LSM peduli HIV/AIDS.
Hasil dari sidang PBB yang khusus membahas masalah HIV/AIDS yang
ditindaklanjuti dengan United Nations General Assembly Special Session on
HIV/AIDS (UNGASS) yakni Sidang Kabinet Sesi Khusus HIV/AIDS
menjelaskan bahwa:
1. Meningkatkan komitmen pimpinan tingkat nasional dan daerah serta
LSM dalam penaggulangan HIV/AIDS.
2. Menekankan perlunya memperluas pelayanan, baik perawatan maupun
dukungan terhadap ODHA serta melindungi Hak Azasi mereka.
3. Menetapkan tentang pentingnya program pencegahan, pengobatan dan
dukungan agar selalu berjalan bersamaan.
Bertitik tolak dari hasil sidang PBB dan Sidang Kabinet Sesi Khusus
HIV/AIDS tersebut di atas dan meningkatnya jumlah PMKS yang rawan
terpapar HIV/AIDS maka di negeri ini diperlukan pelaksanaan program
Intervensi Terpadu bagi ODHA.
Program intervensi ini akan meliputi suatu program yang
berkesinambungan dari penjangkauan PMKS di lapangan, rumah sakit dan
tempat tinggal mereka, mitra kerja terkait serta tanggung jawab masing-
masing pihak terkait dalam mengembangkan dan mempertahankan
kesinambungan serta kelangsungannya akan dirumuskan secara terinci pada
bab berikutnya. Program ini diupayakan dapat merupakan suatu program
yang memenuhi bermacam-macam kebutuhan ODHA, yang akan
diidentifikasi melalui interdisipliner ilmu; mulai dari perawatan medis sampai
pada dukungan sosial.
2
B. LANDASAN HUKUM
1. Pancasila dan UUD 1945 dan diatur lebih lanjut dalam UU No. 4 tahun
1979 tentang Hak anak dan UU No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan
anak termasuk menyelenggarakan upaya kesehatan yang komprehensif
bagi anak termasuk pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS.
2. Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1994
3. Keputusan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat/ Ketua
Komisi Penanggulangan AIDS Nomor : 05/Kep/Menko/Kesra/II/1995
tentang Program Nasional Penanggulangan HIV/AIDS Pelita VI
C. SASARAN
Sasaran Program adalah Orang Dengan HIV/AIDS beserta keluarganya dan
PMKS yang rawan atau beresiko tinggi tertular HIV, diantaranya:
1) para Tuna Susila
2) Penyalahguna NAPZA
3) Gelandangan dan Pengemis
4) Eks Narapidana
5) Anak Jalanan
6) Anak Nakal
7) Pekerja Migran bermasalah dan
8) beberapa kelompok Komunitas Adat Terpencil
D. TUJUAN
Tujuan program ini adalah:
1. Mencegah epidema HIV/AIDS dikalangan PMSK rawan dan beresiko
tinggi tertular HIV.
2. Mengurangi penderitaan ODHA dan keluarganya.
3. Mengurangi beban sosial, psikologis, dan ekonomi ODHA dan keluarga
3
BAB II
KEADAAN DAN MASALAH
A. KEADAAN
Di Indonesia, AIDS untuk pertama kali dilaporkan pada tahun 1987.
Jumlah tersebut akan meningkat terus apalagi bila tidak diambil langkah-
langkah yang konkrit untuk mengatasinya. Sampai pertengahan dekade 1990-
an, jumlah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) rawan yang
beresiko tinggi diperkirakan meningkat tertular dan menularkan virus HIV,
penularan HIV terutama terjadi melalui hubungan seksual yang berisiko,
tetapi bukti akhir-akhir ini menunjukkan penularan melalui penyalagunaan
NAPZA suntik semakin meningkat pula terutama pada usia remaja. Hampir
semua propinsi di Indonesia melaporkan adanya HIV/AIDS dan paling
sedikit terdapat tiga kantong epidemi dimana prevalensi HIV/AIDS sangat
tinggi, yakni di Propinsi Papua (Kabupaten Merauke), DKI Jakarta dan
Propinsi Riau (pulau Batam dan Karimun).
B. MASALAH
Jumlah PMKS yang terjangkit HIV/AIDS yang sebenarnya di
Indonesia sangat sulit diukur dan masih belum diketahui keadaan
sesungguhnya secara tepat. Perkiraan jumlah infeksi HIV dan
kecenderungannya dapat diamati melalui sistem surveilans HIV/AIDS yang
diselenggara kan secara nasional. Jumlah infeksi HIV dan kasus AIDS yang
dilaporkan oleh propinsi sampai dengan Desember 2001 masing-masing 1904
dan 671. Jumlah tersebut jauh lebih kecil dari keadaan sesungguhnya.
Estimasi yang dibuat pada tahun 2002 diperkirakan 90.000 – 130.000
pengidap infeksi HIV. Dengan demikian, pada tahun 2010 nanti diperkirakan
akan terdapat sekitar 90.000 – 130.000 penderita AIDS yang akan menjadi
beban terhadap pelayanan kesehatan di Indonesia. Cara penularan HIV adalah
melalui hubungan seks berisiko, penggunaan jarum suntik dan alat medis
yang tercemar virus, transfusi darah dan transmisi dari ibu HIV positif kepada
4
bayinya serta penularan melalui transplantasi jaringan tubuh yang terinfeksi
HIV.
Angka kesakitan HIV di Indonesia secara nasional masih tergolong
“low prevalence country” tetapi keadaan sebenarnya pada beberapa propinsi
sudah mengarah kepada “concentrated level epidemic” artinya pada
kelompok tertentu prevalensi HIV sudah mencapai 5 persen bahkan melebihi
5 persen paling tidak dalam 2 kali survei berurutan. Pemahaman tentang
epidemi HIV/AIDS di Indonesia dapat diikuti dengan menyimak hasil
pengamatan atau surveilans terhadap HIV/AIDS di antara kelompok
penduduk dengan risiko tertulari yang berbeda-beda seperti: penjaja seks,
narapidana, penyalahguna napza suntik, darah donor, ibu hamil dan lain
sebagainya. Cara penularan yang dilaporkan terutama adalah melalui
hubungan seksual (77,1 persen) di mana 61,4 persen di antaranya melalui
hubungan seks heteroseksual dan 15,7 persen melalui hubungan seks
homoseksual. Sejak tahun 1999 penularan melalui penyalahgunaan napza
suntik meningkat secara drastis dan menempati urutan kedua (20,7 persen)
sesudah transmisi secara heteroseks.
Hasil surveilans Prevalensi infeksi HIV pada wanita penjaja seks
(WPS) bervariasi antar propinsi dan antar kabupaten dengan kisaran
prevalensi antara 0 – 26,5 persen. Di beberapa tempat seperti di Propinsi Riau
dan Propinsi Papua prevalensi berkisar antara 6 – 26,5 persen. Tingkat infeksi
di antara penyalahguna NAPZA suntik lebih tinggi misalnya di DKI Jakarta,
Propinsi Jawa Barat, dan Propinsi Bali yang berkisar antara 24,5 – 53 persen.
Studi prevalensi pada ibu hamil di salah satu tempat di Propinsi Riau pada
tahun 1998/1999 menunjukkan bahwa 0,35 persen ibu hamil telah terinfeksi
HIV, sedangkan di Propinsi Papua sebesar 0,25 persen. Di Kota Jakarta Utara
melalui program voluntary counselling and testing (VCT) pada tahun 2000
diketahui bahwa prevalensi HIV pada ibu hamil adalah 1,5 persen, tahun
2001: 2,7 persen. Hal ini menunjukkan telah terjadinya penularan pada
masyarakat umum melalui populasi perantara (bridging population).
5
BAB III
KEBIJAKAN DAN STRATEGI
6
kondusif guna mencegah timbulnya stigmatisasi, penyangkalan (denial),
dan praktek diskriminasi karena HIV/AIDS .
6. Kerjasama internasional melalui badan- badan PBB, organisasi regional,
lembaga donor dan LSM internasional perlu ditingkatkan guna
memperoleh:
1) Manfaat dari mobilisasi sumberdaya internasional,
2) Menerapkan pengalaman dalam menurunkan prevalensi HIV/AIDS
dari negara lain dan
3) Meningkatkan kerjasama penanggulangan penyakit di daerah
perbatasan.
7
BAB IV
PROGRAM INTERVENSI PERAWATAN YANG TERPADU SERTA
PELAYANAN YANG BERKESINAMBUNGAN BAGI ODHA
8
lemah dan merasa tidak berdaya, keputusan untuk tes HIV didasarkan atas
keterpaksaan. Oleh karena itu para petugas kesejahteraan sosial mempunyai
kewajiban selain memberikan informasi yang benar tentang HIV dan
keterampilan-keterampilan untuk menjaga diri agar aman dari penularan HIV,
serta memberdayakan PMKS agar mampu membuat keputusannya sendiri
berkaitan dengan tes HIV.
Tes HIV sebenarnya merupakan suatu sarana untuk mengetahui status
HIV sehingga orang yang melakukan tes dapat membuat rencana untuk
dirinya agar tetap sehat dan terhindar dari penularan HIV, dan bagi mereka
yang mempunyia status HIV positif maka dapat merencanakan bagaimana
bisa tetap mempertahankan kualitas hidup yang sehat melalui perawatan,
pengobatan, dan dukungan. Layanan konseling dalam hal ini mencakup
konseling untuk pencegahan dengan penekanan utama pada perubahan
perilaku dari yang mempunyai resiko penularan HIV, termasuk di sini
konseling untuk mereka yang mempunyai masalah dengan kecemasan dan
ketakutan terhadap HIV/AIDS, konseling bagi mereka yang akan melakukan
tes HIV seperti misalnya konseling pra dan pasca tes HIV, konseling yang
berkelanjutan bagi mereka yang telah terinfeksi HIV, termasuk di sini
konseling dukungan, konseling bagi pasangan atau keluarga ODHA,
konseling untuk menghadapi hidup dengan status HIV positif, konseling
kepatuhan berobat dan konseling menjelang akhir AIDS, misalnya konseling
untuk penguatan spiritual, serta konseling dalam masa kedukaan pada pasca
AIDS bagi pasangan dan keluarga ODHA.
9
hidup dan penanganan profilaksis infeksi-infeksi tertentu, sebaiknya ODHA
berkonsultasi kepada dokter dan bila sanggup melakukan pemeriksaan sel
CD4 atau viral load sebagai basis untuk program peningkatan kualitas hidup.
Khusus bagi ODHA yang mempunyai tingkat kekebalan tubuh yang secara
medik dikategorikan sebagai rawan terkena infeksi (biasanya hasil tes CD4
menunjukkan angka 200) maka ia sudah membutuhkan penggunaan obat-obat
ARV dan profilaksis untuk infeksi-infeksi tertentu.
Selanjutnya bila ODHA sudah menunjukkan beberapa gejala infeksi
opportunistik seperti radang paru (PCP), sariawan akut, herpes, sebaiknya ia
memperoleh perawatan dan pengobatan spesialistik dan kemungkinan besar
harus menjalankan rawat inap untuk proses penyembuhannya.
4. Perawatan ODHA
ODHA pada tahapan perkembangan HIV yang masih dini belum
membutuhkan perawatan yang rumit. ODHA diharapkan bisa
mengembangkan pola hidupnya yang sehat dengan memperhatikan
perimbangan antara makanan yang bergizi, istirahat yang cukup, berolahraga
untuk membentuk otot dan daging, relaksasi yang cukup, dan hal-hal lain
yang tidak sehat bagi tubuh seperti merokok, mengkonsumsi narkoba,
dan/atau meminum alkohol yang berlebihan. Bila dalam perkembangan HIV
dalam tubuh menyebabkan ODHA mudah terserang bakteri dalam perut
sehingga buang-buang air besar, demam, dan muntah-muntah maka
perawatan ODHA tidak perlu dirawat di rumah sakit akan tetapi bisa
ditangani di rumah oleh para pendamping dan perawat ODHA yang telah
mendapatkan pelatihan khusus.
10
finansial yang tersedia misalnya program Gakin dari pemerintah dalam hal ini
melalui DEPSOS, program bantuan obat-obatan ARV dari pemerintah yang
tersedia di 25 rumah sakit di Indonesia, program bantuan dari lembaga
internasional seperti dari MSF Prancis yang menyediakan bantuan obat ARV
dan obat-obat untuk infeksi oportunistik serta biaya lainnya seperti
pemeriksaan lab, dokter, dan rumah sakit, program bantuan dari lembaga-
lembaga keagamaan seperti Salvation Army memberikan bantuan makanan
bergizi, pemeriksaan kesehatan primer gratis serta pengobatan, program
bantuan dari asosiasi bisnis seperti misalnya Rotary Club di Bali memberi
bantuan vitamin dan bantuan-bantuan lain dari individu yang peduli AIDS
baik secara berkesinambungan maupun kadang-kadang bila sangat mendesak.
11
7. Layanan Orang Tua Asuh dan Panti Yatim Piatu
ODHA yang mempunyai anak suatu saat akan meninggal sehingga
anak-anak mereka tidak ada yang mengurusnya. Sekiranya perlu dipikirkan
suatu program orang tua asuh bagi anak-anak ODHA atau program panti
yatim piatu seperti yang saat ini sudah berjalan, akan tetapi pada program
panti yatim piatu terdapat penekanan khusus pada penyuluhan informasi
HIV/AIDS serta dukungan bagi ODHA termasuk anak-anak ODHA agar
tidak terjadi stigma dan diskriminasi. Program orang tua asuh kepada anak-
anak ODHA tidak mudah apalagi program orang tua asuh bagi ODHA yang
masih anak-anak. Hal ini dapat ditanggulangi dengan program upaya
menghilangkan stigma dan diskriminasi.
12
c. Isu stigma dan diskriminasi menjadi bagian program pencegahan dan
perawatan
d. Mendokumentasikan tindakan stigma dan diskriminasi
e. Menilai dan mereformasi hokum, perundangan, dan peraturan
f. Mempromosikan hukum yang non-diskriminatif
g. Praktek penyediaan perawatan kesehatan
h. Kebijakan di tempat kerja
i. Pedoman bertindak dari badan professional
j. Menciptakan dan memperbaiki mekanisme yang menampung keluhan
diskriminasi ODHA.
Selanjutnya perlu diselenggarakan advokasi kepada pemerintah,
terutama para pembuat kebijakan maupun swasta, melibatkan tokoh agama
dan tokoh masyarakat dalam kampanye anti stigma dan diskriminasi terhadap
ODHA, serta peningkatan peran ODHA atau yang dikenal dengan GIPA
(Greater Involvement of People with AIDS)
13
ODHA atau keluarga yang mempunyai masalah berkaitan dengan isu
HIVAIDS atau ke-ODHA-an.
Sedangkan pondok penampungan ODHA atau Shelter merupakan suatu
tempat tinggal bagi ODHA yang diterlantarkan oleh keluarga atau
komunitasnya sehingga tidak mempunyai tempat tinggal. ODHA yang sudah
berada pada tahap lanjut perkembangan HIV, sering sakit-sakitan sehingga
membutuhkan perawatan dan pengobatan khusus. Sehubungan dengan itu
suatu shelter bukan saja sebagai tempat penampungan ODHA yang terlantar,
tetapi juga sebagai tempat untuk perawatan dan pengobatan ODHA. Biasanya
dalam suatu shelter tersedia dokter atau perawat, klinik untuk pengobatan dan
persediaan obat-obatan.
14
terpadu dan lengkap kemudian dengan didukung oleh suatu sistem rujukan
yang efektif hingga terciptalah suatu rangkaian pelayanan, yang tentunya
berdasarkan kebutuhan dan kondisi ODHA.
Komponen-komponen tersebut di atas akan saling berkaitan dan bekerja
secara berkesinambungan, namun agar komponen-komponen ini dapat
bekerja secara berkesinambungan sebaiknya diperhatikan beberapa prinsip
dasar perawatan komprehensif antara lain sebagai berikut:
a. Memberi layanan secara lengkap dan menyeluruh.
b. Memberi layanan yang tidak diskriminatif atau menghakimi
c. Menjaga konfidensialitas dan menghormati hak asasi
d. Mengasuh keperawatan dan medis untuk meringankan gajala penyakit
terkait HIV serta pencegahan munculnya infeksi oportunistik
e. Memakai pendekatan konseling dalam memberi pelayanan terutama
melalui mendengarkan secara aktif keluhan ODHA dan keluarganya, serta
memberdayakan mereka agar mampu membuat rencana ke depan
f. Mendukung perawatan di rumah
g. Menggerakkan sumberdaya dalam masyarakat untuk perawatan lengkap
dan menyeluruh dan efisien
h. Mendukung pemberi layanan dan staf melalui pendidikan dan pelatihan
serta supervise
Dengan pelayanan yang berkesinambungan diasumsikan bahwa system
pendukung seperti di bawah ini tersedia secara terpadu dan dapat berjalan
secara efektif dan efisien:
Tersedianya materi KIE yang sesuai dengan promosi pencarian perawatan
dan destigmasi penyakit
Mobilisasi masyarakat untuk membangun program pelayanan masyarakat
Terjalinnya kemitraan antara pemerintah dan LSM yang bergerak dalam
bidang kesehatan sosial
Tersedianya prosedur rujukan antara pasien beserta keluarganya dengan
dukungan lembaga sosial atau LSM
15
Tersedianya prosedur supervise dari sarana kesehatan di tingkat pusat
sampai ke daerah termasuk para relawan, pelatihan bagi petugas dan
relawan.
Terjadinya Pelatihan
perubahan perilaku keterampilan kerja Shelter konseling
alternatif workshop
Pelayanan medik
Pelayanan dan
Manajemen Kelompok dukungan
rehabilitasi
kasus
sosial
Ekonomi &
HIV negatif Konseling pasca Hiv positif finansial/Lembaga
tes
Donor
Upaya menghilangkan
Tes HIV stigma dan diskriminasi
Diklat untuk
Konseling pra
pendamping
tes
Perawatan ODHA
16
BAB V
LANGKAH-LANGKAH PELAKSANAAN PROGRAM
b. Langkah Kedua
Setelah diketahui jumlah dan kondisi ODHA maka langkah
selanjutnya yang dilakukan adalah assessment kebutuhan-kebutuhan
ODHA. Assessment ini bertujuan untuk mengetahui harapan-harapan dari
ODHA dan keluarganya, seperti misalnya kebutuhan pelayanan Volentary
Counceling and Testing (VCT) yang cuma-cuma dan bagaimana ODHA
mampu menghadapi permasalahan ini.
17
c. Langkah Ketiga
Setelah kebutuhan-kebutuhan ODHA dapat diketahui, maka langkah
selanjutnya adalah mengidentifikasi ketersediaan pelayanan-pelayanan dan
sumber daya lainnya. Upaya mengindentifikasi pelayanan dan segala
sumber daya yang tersedia bertujuan untuk mengetahui pelayanan
professional di bidang HIV/AIDS dan untuk dapat menentukan pelayanan-
pelayanan yang harus diperbuat untuk menjamin ketersediaan pelayanan
tersebut secara berkesinambungan.
Kegiatan yang akan dilakukan adalah mengidentifikasi pelayanan
kesehatan dan sosial, yang ada di suatu area atau mengidentifikasi orang-
orang di area tersebut yang memiliki kemampuan untuk memberi elemen-
elemen pelayanan terpadu. Kegiatan ini akan membantu dalam
merencanakan kemungkinan-kemungkinan rujukan dan membentuk dasar
untuk kerjasama kemitraan di masa yang akan datang. Juga antara lain
dilakukan identifikasi ketersediaan obat-obat yang dibutuhkan dari sistem
pendistribusiannya, orang-orang yang mau berperan serta atau terlibat
dalam kegiatan intervensi ini.
d. Langkah Keempat
Langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah memobilisasi
semberdaya-sumberdaya yang ada. Upaya ini bertujuan untuk berbagi
beban dan tanggung jawab dalam menyelenggarakan intervensi terpadu
bagi ODHA dengan membentuk suatu jaringan kerjasama.
Kegiatan yang dilakukan untuk memobilisasi sumberdaya-
sumberdaya yang dibutuhkan, disesuaiakan dengan jumlah kegiatan-
kegiatan pelayanan yang akan diberikan. Sumberdaya-sumberdaya yang
harus dimobilisasi antara lain termasuk sumber dana, sumber daya
manusia (SDM), perlengkapan dan materi-materi. Sumber yang dapat
dimobilisasikan adalah pemerintah, baik pusat maupun daerah, lembaga-
lembaga donor dalam maupun luar negeri serta dunia usaha. Mitra-mitra
kerja juga dapat diajak untuk berbagi beban dalam intervensi terpadu dan
18
bersama-sama mengembangkan suatu sistem rujukan yang dapat
dilaksanakan.
e. Langkah kelima
Menentukan tujuan-tujuan yang akan dicapai berdasarkan skala
prioritas dan mempersiapkan suatu rencana kerja. Upaya ini bertujuan
menetapkan target intervensi yang realistik berdasarkan skala prioritas,
dapat membantu memperbaiki besaran dan kualitas pelayanan yang dapat
diberikan kepada ODHA.
Kegiatan yang dapat dilakukan adalah penetapan tujuan-tujuan dan
target yang realistik untuk kegiatan yang intervensi terpadu akan sangat
bergantung pada hasil dari keempat langkah terdahulu. Serangkaian
kegiatan pada tahap perencanaan ini adalah untuk merumuskan prosedur-
prosedur operasional yang berkaitan dengan rujukan dan mekanisme
jaringan kerja. Bermacam-macam tenaga professional (seperti antara lain
dokter, juru rawat, psikolog, konselor, pekerja sosial, dan sebagainya) serta
bermacam-macam organisasi baik pemerintah maupun non-pemerintah,
kelompok-kelompok agama dan sebagainya yang akan terlibat dalam
intervensi terpadu ini, sehingga prosedur-prosedur yang berkenaan dengan
kajian dan dimana harus merujuk perlu diperjelas serta informasi-
informasi tersebut perlu dapat diakses oleh semua pihak yang terlibat.
Beberapa program mungkin perlu dirumuskan secara jelas tentang “siapa
mengerjakan apa dalam intervensi terpadu ini” serta berapa biayanya
untuk suatu wilayah tertentu.
Untuk menseleksi kegiatan-kegiatan prioritas, maka ada kriteria
yang harus diperhatikan sebagai berikut:
1) Jumlah ODHA dan keluarganya yang akan dilayani.
2) Kemungkinan untuk melaksanakan kegiatan tersebut.
3) Kemudahan relatif dari suatu kegiatan untuk diintegrasikan ke dalam
program yang sudah ada atau kegiatan-kegiatan pengendalian
penyakit lainnya.
19
4) Ketersediaan dana, sumber daya manusia (SDM), dan perlengkapan-
perlengkapan lain yang dibutuhkan.
5) Komitmen dari orang-orang yang terlibat dalam kegiatan ini.
Harus senantiasa diingat, bahwa memprioritaskan kegiatan-kegiatan
yang telah disepakati dan menjaga kesinambungannya akan sangat
membantu menjaga besaran kualitas pelayanan yang diberikan kepada
ODHA
20
bahaya HIV/AIDS (Life Skill Education). termasuk HIV/AIDS di setiap
kabupaten/kota
21
serta konseling pelayanan
pencegahan HIV termasuk
pencegahan penularan dari ibu
kepada bayinya (PMTCT).
C. TAHAP PENGAKHIRAN
1) Monitoring dan Evaluasi
Keberhasilan suatu kegiatan sangat ditentukan oleh kemampuan pelaksana
kegiatan untuk melakukan monitoring dan evaluasi. Dalam melaksanakan
monitoring dengan baik maka dibuat indikator-indikator keberhasilan
suatu kegiatan sesuai dengan tabel kegiatan pokok dan indikator-
indikatornya selain itu kegiatan yang dilakukan dengan mengevaluasi
program atau kegiatan ini apakah sesuai dengan tujuan rencana atau tidak.
2) Terminasi
Setelah dilakukan analisa terhadap hasil monitoring dan evaluasi, maka
dilakukan tahap pengakhiran terhadap pelaksanaan program atau kegiatan.
BAB VI
22
ANALISIS KELAYAKAN PROGRAM
A. Strengths (kekuatan)
Kekuatan yang dimiliki dari pelaksanaan program ini adalah:
B. Weekness (kelemahan)
Kelemahan dari program ini berasal dari faktor yang kurang mendukung
pelaksanaan kegiatan dan program yaitu:
23
2 Belum adanya komitmen politis dan kepemimpinan yang kuat dalam
upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS
3 Masih terbatasnya anggaran untuk memaksimalkan program
4 Latar belakang pendidikan PMKS dan posisi tawar menawar yang
lemah membuat PMKS terpojok dan sulit untuk melindungi dirinya
dari penularan HIV
C. Opportunities (kesempatan)
D. Threats (ancaman)
Ancaman bagi pelaksanaan program ini adalah:
24
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Lain:
[Link]
[Link]
Media Cetak KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) News: edisi 05 MARET 2007
25