0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan13 halaman

Pengembangan Potensi Siswa dalam Matematika

Dokumen ini membahas pentingnya pengembangan potensi peserta didik dalam pendidikan di Indonesia, khususnya dalam mata pelajaran matematika yang sering dianggap sulit. Penelitian ini berfokus pada penerapan teknik scaffolding untuk membantu siswa kelas VII-A di MTs Al-Ma'arif Tulungagung dalam memecahkan masalah matematika, terutama soal cerita bentuk aljabar. Diharapkan dengan scaffolding, siswa dapat meningkatkan pemahaman dan keterampilan mereka dalam matematika.

Diunggah oleh

masteryraran
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan13 halaman

Pengembangan Potensi Siswa dalam Matematika

Dokumen ini membahas pentingnya pengembangan potensi peserta didik dalam pendidikan di Indonesia, khususnya dalam mata pelajaran matematika yang sering dianggap sulit. Penelitian ini berfokus pada penerapan teknik scaffolding untuk membantu siswa kelas VII-A di MTs Al-Ma'arif Tulungagung dalam memecahkan masalah matematika, terutama soal cerita bentuk aljabar. Diharapkan dengan scaffolding, siswa dapat meningkatkan pemahaman dan keterampilan mereka dalam matematika.

Diunggah oleh

masteryraran
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Konteks Penelitian

Salah satu masalah yang menghambat kemajuan di Indonesia adalah

Pendidikan. Pendidikan di Indonesia masih sangat kurang dibandingkan

negara maju lainnya. Kurangnya pengembangan potensi peserta didik

menjadi salah satu faktornya. Undang-undang SISDIKNAS No. 20 tahun

2003, menyebutkan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana

untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta

didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya sehingga memiliki

kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,

akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat,

bangsa dan negara.1

Berdasarkan hal tersebut, maka pengembangan potensi peserta didik

harus dilakukan secara maksimal. Pengembangan potensi peserta didik dapat

dilakukan dengan meningkatkan pengembangan proses dan ketrampilan

berfikir. Mata pelajaran yang menjadi momok bagi para siswa adalah

matematika yang membutuhkan perlakuan khusus karena nyatanya dalam

pembelajaran pasti siswa akan membutuhkan pengembangan potensi.

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran pokok yang harus

ditempuh peserta didik. Matematika juga tidak bisa dilepaskan dari mata

pelajaran lainnya maupun kehidupan sehari-hari. Hal ini dikarenakan

matematika merupakan dasar ilmu yang harus dikuasai siswa. Dalam

1
Undang-Undang Republik Indonesia tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta:
PT. Armas jaya, 2003), hal.25

1
2

prakteknya, matematika sangat berkaitan dengan kehidupan sehari-hari,

karena hampir semua kegiatan ekonomi, tekhnologi dan lainnya

menggunakan aplikasi ilmu matematika. Pemecahan masalah matematika

sangat dipengaruhi oleh kemampuan berfikir. Ini menjadikan matematika

salah satu pelajaran yang sangat penting untuk dikuasai peserta didik.

Keterampilan berfikir mencakup tiga hal, yaitu 1) berfikir adalah

pemahaman, tetapi disimpulkan dari perilaku. Hal ini terjadi secara internal,

dalam pikiran atau sistem kognitif dan harus disimpulkan secara tidak

langsung; 2) berfikir adalah sebuah proses yang melibatkan beberapa

manipulasi atau mengatur operasi pengetahuan dalam sistem kognitif; 3)

berfikir diarahkan dan hasil dalam perilaku yang “memecahkan” masalah atau

diarahkan solusi.2

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan

berfikir mempunyai dampak yang signifikan dalam pengembangan potensi

pesera didik. Hal ini dikarenakan kemampuan berfikir mengarahkan

pemecahan masalah yang dapat mengembangkan potensi. Dalam Al-Qur’an

pun juga telah dijelaskan tentang pentingnya berfikir, sebagaimana firman

Allah dalam surah Al-A’raf ayat 176:

َ َّ ً ‫ض‬
‫َاتبَع‬ ِْ‫َِلى األز‬ ‫د إ‬ََ
‫ْل‬‫َخ‬
‫و أ‬ َُّ
‫ِن‬ ًَ ‫يب‬
‫َلك‬ َِ
‫ه ب‬ ُ‫َب‬ ‫َع‬
‫ْن‬ ‫َف‬‫َب َلس‬ ‫ْن‬‫ِئ‬‫ْ ش‬ ًَ
ٌ‫َل‬
ُْ
‫و‬ ‫ْس‬
‫ُك‬ َ ْ
‫تت‬ َ
ً‫ْ أ‬ ‫َث‬
‫لي‬ْ‫ي‬َ ِ‫ْو‬‫َي‬
‫َل‬‫ْ ع‬‫ِل‬
‫ْو‬‫تح‬ َ ْ ‫ِى‬‫لبِ إ‬َْ‫الك‬
ْ ِ ‫َثَل‬
‫َو‬‫و ك‬ُ‫ل‬ َُ‫َث‬‫َو‬‫ه ف‬ُ‫َا‬ ٌ‫ى‬َ
‫َص‬
َ‫َص‬ ْ ‫ص‬
‫الق‬ ِ ‫ص‬
ُ ْ
‫بق‬ َ
‫ف‬ ‫ب‬ َ
‫ن‬ ِ
‫ت‬ ‫َب‬
‫ي‬ ‫ِآ‬
‫ب‬ ‫ٌُا‬‫ب‬ َّ
‫ر‬ َ
‫ك‬ َ
‫ي‬ ‫ِي‬
‫ر‬ َّ
‫ال‬ ‫م‬
ِ ٌ
ْ َ
‫ق‬ ْ
‫ال‬ ُ
‫ل‬َ‫َث‬
‫ه‬ َ‫ك‬ ِ
‫ل‬َ‫ذ‬ ْ
‫َث‬‫ي‬ ْ
‫ل‬ َ
‫ي‬
َ
‫ًُى‬ ‫َكَّس‬
‫َف‬‫يت‬َ ْ ‫ين‬ َّ‫َلع‬
ُ‫َل‬
Artinya: ”Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami
tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada
dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya
seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu
membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah
perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka

2
Andes S. Asmara, “Analisis Kemampuan Literasi Matematika Siswa Kelas X
Bersadarkan Kemampuan”, eJournal Scholaria, Volume 7, Nomer 2, Mei 2017. hal.135
3

ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir”.3 Oleh


sebab itu, kemampuan berfikir sangat penting untuk dikembangkan.

Dalam pengerjaan soal matematika pasti siswa dituntut agar dapat

menyelesaikan soal tersebut, salah satu cara dalam pengerjaan dengan

pemecahan masalah. Pemecahan masalah (problem solving) merupakan suatu

ketrampilan yang meliputi kemampuan untuk mencari informasi,

menganalisis situasi, dan mengidentifikasi masalah dengan tujuan untuk

menghasilkan alternatif sehingga dapat mengambil suatu tindakan keputusan

untuk mencapai sasaran.4 Berdasarkan pengertian tersebut pemecahan

masalah membutuhkan ketrampilan yang dapat memaksimalkan pemecahan

masalah yaitu ketrampilan berfikir yang telah dijelaskan diatas.

Selain itu, tingkat pemahaman siswa juga berbeda-beda sehingga

setiap siswa mempunyai tingkat kesulitan yang berbeda pula dalam

menghadapi soal yang diberikan. Sehingga guru seharusnya bisa mengajarkan

seluruh siswa dengan baik walaupun mempunyai tingkat pemahaman yang

berbeda. Permasalahan ini juga membuat siswa semakin berfikiran bahwa

matematika itu adalah pelajaran yang sulit.

Kesulitan dalam belajar matematika membuat anak sulit dan bahkan

tidak mampu untuk mengerjakan ataupun memecahkan masalah matematika.

Kesulitan itu dapat berupa tidak dapat memahami masalah yang diberikan,

siswa tidak faham dengan konsep matematika dari suatu permasalahan,

pemahaman konsep yang salah dan lain sebagainya. Kesulitan dalam belajar

siswa memiliki beberapa faktor, yaitu faktor internal dan eksternal. 5 Faktor

3
Al-Qur’an (CV. Ramsa Putra: Surabaya), hal. 275
4
Shoimin Aris, 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013, (Yogyakarta:
Ar-Ruzz Media, 2014), hal. 136
5
Nini subini, Mengatasi Kesulitan Belajar pada Anak, (Jogjakarta: Javalitera, 2011),
hal. 26.
4

eksternal adalah yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan disekitar siswa.

Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri.

Dari hal tersebut maka perlu bantuan atau perlakuan khusus dari guru untuk

mengatasi kesulitan siswa tersebut.

Kebanyakan siswa beranggapan matematika adalah pelajaran yang

sulit untuk dikerjakan, kurang menarik, membosankan, rumus yang rumit dan

lain sebagainya. Hal ini juga yang membuat siswa kurang suka dengan

pelajaran matematika. Padahal matematika merupakan ilmu yang sangat

penting, baik untuk kehidupan sehari-hari, maupun untuk ilmu pengetahuan

lainnya. Hal ini sebenarnya bukan salah siswa itu sendiri melainkan karena

kesalahan peran guru yang memang tidak utuh dalam memberikan informasi

tentang matematika.6

Berdasarkan banyaknya permasalahan yang telah ditemukan oleh

peneliti, maka sangat diperlukan peran guru untuk mengurangi bahkan

menghilangkan semua permasalahan tersebut. Salah satu bantuan yang dapat

dilakukan adalah Scaffolding. Diharapkan dengan bantuan ini, siswa dapat

memecahkan masalah matematika dengan baik dan sesuai dengan prosedur

yang ada.

Scaffolding merupakan salah satu tehnik pembelajaran yang penting

untuk pelajari. Menurut Slavin dalam Trianto menyatakan bahwa scaffolding

adalah pemberian bantuan sejumlah bantuan kepada peserta didik selama

tahap-tahap awal pembelajaran, kemudian mengurangi bantuan dan

memberikan kesempatan untuk mengambil alih tanggung jawab yang

6
Hamzah B Uno, Masri Kuadrat, Mengelola kecerdasan dalam pembelajaran (Jakarta:
Bumi Aksara, 2010), hal.108.
5

semakin besar setelah ia dapat melakukannya.7 Maka dari itu, scaffolding

dapat membantu pemecahan masalah siswa dalam pembelajaran matematika.

Mamin menjelaskan bahwa metode pembelajaran scaffolding

merupakan salah satu metode yang dapat digunakan oleh guru, dengan

memberikan bimbingan, dorongan (motivasi), perhatian kepada siswa untuk

mencapai tujuan pembelajaran.8 Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan

bahwa scaffolding memberi pancingan kepada siswa agar ia dapat

memecahan suatu permasalah.

Peneliti melakukan observasi di MTs Al-Ma’Arif Tulungagung

mengambil kelas VII-A untuk dilakukan penelitian. Sebelumnya peneliti

telah melakukan observasi pada tanggal 28 Juli 2018 sampai dengan 15

Sebtember 2018 sekitar 1,5 bulan yaitu untuk melaksanakan tugas kuliah

Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) sekaligus untuk melaksanakan

penelitian. Kelas VII-A merupakan kelas unggulan yang dihuni oleh 32 murid

terdiri oleh 11 siswa laki-laki dan 21 siswa perempuan.

Kelas VII-A merupakan kelas yang dikhususkan untuk siswa yang

menjalankan program hafidz dan hafidzoh (penghafal Al-Qur’an). Kelas ini

mempunyai kegiatan khusus yang tidak dimiliki oleh kelas lainnya yaitu

setiap hari senin hingga kamis jam 07.00 WIB – 09.00 WIB mereka

menghafalkan Al-Qur’an yang didampingi oleh Bapak Ali selaku pembina.

Peneliti sangat tertarik untuk melakukan penelitian dikelas ini dikarenakan

peneliti ingin mengetahui apakah dengan kegiatan tersebut mempengaruhi

pelajaran lainnya khususnya mata pelajaran matematika. MTs Al-Ma’Arif

7
Lidra E. S., et all,. “Pengaruh Penerapan Model Problem Based Learning(Pbl) Dengan
Teknik Scaffolding Terhadap Pemahaman Konsep Matematis Siswa Kelas Viii Smpn 7 Padang”,
eJurnal, November 2013, hal.3
8
Ibid, hal. 3.
6

Tulungagung berada dibawah naungan Yayasan pondok pesantren panggung,

sehingga dikelas ini banyak siswa yang menjadi santri diponpes tersebut.

Berdasarkan pengamatan peneliti di Mts Al-Ma’Arif Tulungagung

kelas VII-A, peneliti mengambil 4 subjek siswa. Subjek ini dipilih

berdasarkan hasil tes yang diujikan peneliti, peneliti memilih 4 siswa dengan

kemampuan matematika yang berbeda, yaitu 3 siswa kemampuan matematika

rendah dan 1 siswa kemampuan matematika sedang. Subjek ini masih

kesulitan dalam mengubah soal cerita aljabar menjadi bentuk matematika,

siswa masih kurang dalam pemahaman konsep banyak siswa yang bingung

bahkan terbalik pemahamannya tentang penjumlahan bentuk aljabar dan

perkalian bentuk aljabar, prosedur pengerjaan masih salah banyak siswa yang

rancu dalam pengerjaannya, siswa kurang percaya diri dengan hasil

pekerjaannya, kesadaran siswa akan pentingnya belajar masih kurang, dan

masih banyak lainnya. Diharapkan dengan pemberian Scaffolding siswa dapat

mengatasi masalah tersebut.

Peneliti mengambil materi bentuk aljabar, tetapi untuk menghindari

kerancuan penelitian yang dilakukan, peneliti membatasi materi aljabar

dengan memfokuskan pada pokok bahasan soal cerita bentuk aljabar. Peneliti

memilih materi ini dikarenakan materi tersebut sangat penting untuk

dipelajari. Materi ini juga merupakan dasar dari materi penting lainnya seperti

Sistem Persamaan Liner Satu Variabel, Program Linear, Kalkulus dan masih

banyak lainnya. Kelas VII-A juga masih mempelajari materi dan sudah tuntas

sehingga keakuratan penelitian terjamin.

Berdasarkan hasil dari test dan wawancara yang diberikan oleh

peneliti, sebagian besar dari mereka bingung dalam mengubah soal cerita
7

bentuk aljabar kedalam bentuk matematisnya, pemahaman konsep masih

kurang banyak siswa yang keliru bahkan terbalik tentang sifat penjumlahan

bentuk aljabar dan perkalian bentuk aljabar. Prosedur pengerjaan siswa masih

rancu sehingga mempengaruhi hasil pekerjaannya. Ketelitian siswa juga harus

diperbaiki, banyak siswa yang salah dalam mengoperasikan variabel yang

sama maupun berbeda, dan masih banyak lainnya. Hal ini berdasarkan dari

hasil tes dan wawancara siswa tidak mampu menjawab dengan benar. Ketika

siswa disodorkan soal dengan bentuk yang berbeda, mereka masih kesulitan

dalam menjawab.

Salah satu siswa bahkan kurang sadar akan pentingnya belajar,

khususnya pada mata pelajaran matematika. Hal ini berdasarkan hasil

wawancara siswa yang menyatakan bahwa siswa tersebut jarang belajar,

siswa mengeluh capek dengan kegiatan sekolah dan pondok diwaktu malam

hari, seumpama ia tidak paham dengan materi tersebut, siswa tidak berusaha

untuk bisa. Dalam menjelaskan alasan pengerjaan, siswa juga kurang mampu

dalam menjabarkan alasan, sebagian ragu-ragu dengan jawaban, bertanya

kepada teman, mengarang bebas dan lainnya. Dalam pengerjaannya siswa

kurang benar dan kurang tuntas.

Berdasarkan pemaparan diatas, maka diperlukan suatu bantuan agar

siswa mampu mengatasi permasalahan dalam pemecahan masalah. Salah satu

bantuan yang dapat digunakan adalah scaffolding. Agar siswa mampu

memecahkan masalah dalam soal matematika pada materi aljabar maka

pendidik harus bisa memberi bantuan tehnik scaffolding, sehingga dapat

melaksanakan pembelajaran sesuai tujuan pendidikan yang sebenarnya.


8

Misalnya siswa diberi soal dan sebagian besar siswa tidak bisa

mengerjakan, maka pendidik memberi beberapa bantuan seperti pancingan,

dorongan, dan lain sebagainya agar siswa mampu mengerjakan dengan benar.

Bantuan ini sedikit demi sedikit dikurangi hingga siswa mampu memecahkan

masalah. Inilah yang dinamakan dengan tehnik scaffolding.

Berdasarkan uraian diatas, peneliti mencoba mengadakan penelitian

yang memberikan bantuan Scaffolding pada pemecahan masalah yang

dipaparkan diatas sehingga diharapkan siswa mampu menyelesaiakan

permasalahan tersebut khususnya pada soal cerita bentuk aljabar. Berdasarkan

hal tersebut, peneliti melakukan penelitian dengan judul “Scaffolding pada

Pemecahan Masalah pada Soal Cerita Bentuk Aljabar Kelas VII-A di

MTs Al-Ma’arif Tulungagung Tahun Ajaran 2018/2019”

B. Fokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang yang telah peneliti jabarkan, maka telah

didapatkan permasalahan yaitu Scaffolding pada pemecahan masalah materi

aljabar. Adapun fokus penelitiannya, yaitu:

1. Bagaimana bentuk kesalahan siswa pada pemecahan masalah pada soal

cerita bentuk aljabar kelas VII-A di MTs Al-Ma’Arif Tulungagung tahun

ajaran 2018/2019?

2. Bagaimana scaffolding pada pemecahan masalah pada soal cerita bentuk

aljabar kelas VII-A di MTs Al-Ma’Arif Tulungagung tahun ajaran

2018/2019?
9

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan fokus penelitian yang telah peneliti jabarkan, maka adapun

tujuan penelitian sebagai berikut:

1. Untuk mendeskripsikan bentuk kesalahan siswa pada pemecahan

masalah pada soal cerita bentuk aljabar kelas VII-A di MTs Al-Ma’Arif

Tulungagung tahun ajaran 2018/2019.

2. Untuk mendeskripsikan scaffolding pada pemecahan masalah pada soal

cerita bentuk aljabar kelas VII-A di MTs Al-Ma’Arif Tulungagung

tahun ajaran 2018/2019.

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan peneliti ada dua macam, yaitu

manfaat secara teoritis dan manfaat secara praktis. Manfaat penelitian sebagai

berikut:

1. Manfaat Teoritis

Dalam penelitian ini diharapkan mampu menambah maupun melengkapi

teori penelitian yang sebelumnya telah ada. Selain itu peneliti juga

berharap dapat menambah gambaran tentang scaffolding pada pemecahan

masalah dalam materi aljabar. Sehingga hasil dari penelitian ini dapat

mengembangkan kegiatan belajar mengajar agar lebih efektif dan efisien.

2. Manfaat Praktis

a) Bagi siswa

Dapat membantu kesulitan siswa dalam menyelesaiakan soal dalam

pemecahan masalah. Sehingga siswa dapat lebih mudah dalam

mengerjakan dan hasil belajar menjadi lebih memuaskan.


10

b) Bagi guru

Dapat menjadi referensi guru dalam mengajar agar lebih mudah

dipahami dan mendalam. Sehingga dalam menerima penjelasan dari

guru, siswa dapat lebih cepat menangkap materi. Selain itu dapat

menjadi masukan guru untuk lebih memperhatikan scaffolding dalam

pemecahan masalah.

c) Bagi peneliti lain

Diharapkan penelitian ini mampu membantu peneliti lain supaya

menjadi acuan dan dasar dalam penelitian yang serupa. Sehingga

peneliti lain dapat lebih mengembangkan dan menyempurnakan hasil

tulisannya.

E. Penegasan Istilah

Menghindari penafsiran yang berbeda dan mewujudkan kesatuan

pandangan dan kesamaan pemikiran, kiranya ditegaskan istilah-istilah yang

berhubungan dengan proposal skripsi ini sebagai berikut :

1. Definisi Konseptual

a. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), matematika didefinisikan

sebagai ilmu tentang bilangan, hubungan antara bilangan dan

prosuder operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah

mengenai bilangan.9

b. Menurut Slavin dalam Trianto menyatakan bahwa Scaffolding adalah

pemberian bantuan sejumlah bantuan kepada peserta didik selama

tahap-tahap awal pembelajaran, kemudian mengurangi bantuan dan

9
Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), hal. 723.
11

memberikan kesempatan untuk mengambil alih tanggung jawab

yang semakin besar setelah ia dapat melakukannya.10

c. Pemecahan masalah (problem solving) merupakan suatu ketrampilan

yang meliputi kemampuan untuk mencari informasi, menganalisis

situasi, dan mengidentifikasi masalah dengan tujuan untuk

menghasilkan alternatif sehingga dapat mengambil suatu tindakan

keputusan untuk mencapai sasaran.11

d. Aljabar adalah salah satu cabang matematika yang mempelajari

tentang pemecahan masalah menggunakan simbol-simbol sebagai

pengganti konstanta dan variabel.12

2. Definisi Operasional

a) Matematika adalah ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan

bilangan, objeknya abstrak, dapat diaplikasikan dalam kehidupan

sehari-hari dan dapat dipelajari untuk keperluan ilmu lainnya.

b) Scaffolding adalah pemberian beberapa bantuan, dilakukan secara

bertahap dan terstruktur secara apik hingga siswa mampu

mengerjakan suatu permasalahan secara mandiri.

c) Pemecahan masalah adalah ketrampilan mengolah masalah sehingga

dapat mengambil suatu keputusan.

d) Aljabar adalah salah satu materi dalam matematika yang memuat

suku, konstanta dan variabel.

10
Lidra E. S., et all,. Pengaruh Penerapan..., hal.3
11
Shoimin Aris, 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013, (Yogyakarta:
Ar-Ruzz Media, 2014), hal. 136
12
Karso, “Bentuk-bentuk Aljabar”(Pembelajaran Matematika SMP), FPMIPA UPI,
2015, hal. 1.
12

F. Sistematika Pembahasan

Pada bagian ini peneliti menjelaskan urutan-urutan yang akan dibahas

dalam penyusunan skripsi. Uraian akan dijelaskan dalam bentuk deskriptif

untuk masing-masing bagian. Sistematika pembahasan bisa juga berupa

pengungkapan alur bahasan sehingga dapat diketahui logika penyusunan dan

koherensi antara satu bagian dan bagian yang lain.13

Penulisan skripsi dengan judul “Scaffolding pada pemecahan masalah

pada soal cerita bentuk aljabar kelas VII-A di MTs Al-Ma’Arif Tulungagung

tahun ajaran 2018/2019” secara garis besar terdiri dari tiga bagian yaitu:

bagian awal, bagian utama (inti), dan bagian akhir.

1. Bagian awal

Bagian awal dalam penulisan skripsi memuat halaman sampul

depan, halaman judul, halaman persetujuan pembimbing, halaman

pengesahan penguji, halaman pernyataan keaslian, motto, halaman

persembahan, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar lampiran, dan

abstrak.

2. Bagian utama

Bagian utama memuat uraian tentang ; (1) Bab I : Pendahuluan,

(2) Bab II: Kajian Pustaka, (3) Bab III: Metode Penelitian, (4) Bab IV:

Paparan Data/Temuan Penelitian, (5) Bab V: Pembahasan, (6) BabVI:

Penutup. Adapun uraian masing-masing bab dijelaskan sebagai berikut:

Bab I : Pendahuluan

Pada bab pendahuluan ini berisi uraian mengenai latar belakang masalah,

fokus penelitian, tujuan penelitian, kegunaan penelitian.

13
Tim penyusun, Pedoman Penyususnan Skipsi Program Strata Satu (S1)FAKULTAS
TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN, (TULUNGAGUNG: IAIN Tulungagung, 2017), hal. 4
13

Bab II : Kajian Pustaka

Pada bab ini memuat uraian tentang tinjauan pustaka atau buku-buku teks

yang berisi teori-teori besar dan hasil penelitian terdahulu.

Bab III : Metode Penelitian

Pada bab ini berisi tentang Pendekatan dan Rancangan Penelitian,

Kehadiran Peneliti, Lokasi Peneliti, Sumber Data, Tehnik Pengumpulan

Data, Analisis Data, Pengecekan Keabsahan Data, Tahap-tahap

Penelitian.

Bab IV : Hasil Penelitian

Pada bab hasil penelitian berisi tentang paparan data/temuan penelitian

yang disajikan dalam topik sesuai dengan pertanyaan-pertanyaaan atau

pernyataan-pernyataan peneliti dan hasil analisis data.

Bab V : Pembahasan

Pada bab pembahasan memuat keterkaitan antara pola-pola, kategori-

kategori, dan dimensi-dimensi, posisi temuan atau teori yang ditemukan

terhadap teori-teori temuan sebelumnya, serta interpretasi dan penjelasan

dari temuan teori yang diungkapkan dari lapangan.

Bab VI : Penutup

Bab ini memuat tentang kesimpulan dan saran-saran.

3. Bagian Akhir

Pada bagian ini memuat tentang daftar rujukan, lampiran-

lampiran, dan daftar riwayat hidup.

Anda mungkin juga menyukai