Berisik. Kata pertama yang lewat dalam otak gadis itu sejak 47 menit yang lalu.
Tidak, bukan
banyaknya suara yang singgah di telinganya, tapi—
“Sudah ku bilang warna gelap tidak cocok untuknya” omel seorang wanita pada wanita lain yang
sedang sibuk mengikat tali korset gadis itu. Hanya satu suara yang ditangkap telinganya sejak tadi dan
tidak ada satupun dalam ruangan ini yang berani memotong kecuali,
“Ibuuu,” Lenguhan panjang dari suara gadis itu sekaligus kata pertamanya hari ini membuat
Anne, ibunya menatap nyalang. Tatapan itu cukup untuk membuatnya kembali menutup mulut.
Kesalahannya mengganti gaun pilihan ibunya diam-diam adalah topik panas pagi ini.
Ini hari kunjungan ke istana atau Rorym dan ibunya sudah sibuk sejak semalam, memikirkan
baju apa yang harus ia pakai sampai pada hiasan kecil di kepalanya sudah dipikir ibunya dari seminggu
lalu.
Rorym adalah pertemuan semua pejabat kerajaan saat awal musim gugur bahkan kepala
pelayan Istana pun diwajibkan hadir. Dibuka dengan jamuan, inti acara dan jamuan penutup yang diisi
berbagai hiburan.
Ini asing baginya. Bukan, bukan Rorym tapi sikap ibunya yang entah apa yang terjadi sampai-
sampai sangat ekstra hari ini. Sejak kecil kunjungan ke istana tiap bulan adalah hal wajib baginya, selain
karena tugas sang ayah tapi sahabatnya juga tinggal di sana.
Omelan ibunya berhenti saat mata mereka bertemu. Sentuhan terakhir Olivia pada rambutnya
ia yakin sudah sempurna, mata Anne cerminnya. Mata ibunya berkaca-kaca entah kenapa tapi yang
pasti, ia yakin penampilannya sudah sempurna.
***
Perjalanan ke istana terasa singkat, entah karena jalannya familiar atau karena pikirannya
sedang melanglang buana memikirkan prianya. Dua minggu tak berkabar. Terakhir kali mereka bertemu
pun singkat. Tangannya otomatis mengelus logam yang dia simpan di sakunya sambil berharap
hadiahnya ini bukan simbol perpisahan, yang dia yakini tidak mungkin dilakukan prianya.
“Demi Tuhan, Reverie. Rapikan gaunmu” oke omel ibunya masih berlanjut walaupun tak
sekonsisten pagi tadi. Dengan malas Reverie menunduk merapikan kaki gaunnya. Duduk hampir 4 jam
dalam kereta kuda dengan gaun berlapis-lapis sudah cukup membuatnya meningkatkan variasi gaya
duduknya, ibunya tak komplain dengan itu sampai saat ini, “Rapikan juga raut wajahmu”
Memasuki alun-alun kota, mereka berdua kaget mendengar seruan hujatan dan makian, samar
tapi dekat. Penasaran ingin melihat, Reverie berniat menggeser jendela Kereta tapi ditahan ibunya.
“Kata ayahmu, mereka berhasil menangkap pembunuh Yang Mulia Ratu kemarin malam.
Sepertinya ia baru digantung dan diadili massa pagi ini” jelas Anne. Sejak kabar Ratu dibunuh, Reverie
sungguh berharap dirinya masih 12 tahun dan masih cukup mungil untuk mengendap-endap ke dalam
ruang rapat ayahnya.
“Pembunuh Yang Mulia Ratu?” ia menoleh keluar. Terhalang jendela kayu tapi entah kenapa
matanya tak beralih.
“Ibu?” Anne menoleh.
“Ratu selalu baik padaku, tapi pernakah terlintas bagaimana kalau si pembunuh punya alasan
yang jelas atas tindakannya? Menaruh nyawanya untuk hal yang sia-sia itu tindakan bodoh bukan?”
matanya masih menatap jendela kereta itu. Tangannya sudah terangkat hendak menggeser jendela itu
tapi Ibunya menggenggam tangannya.
“Mungkin dia memang bodoh, sayang” Anne mungkin ada benarnya meskipun ia bercanda, tapi
senyum tak membingkai wajah Reverie, ia tak ingin. Entah mungkin dia masih memikirkan kabar dari
kekasihnya. Hatinya terlalu gundah untuk itu. Ia menyandarkan kepalanya pada jendela kereta, menutup
mata dan membiarkan dirinya dibawa lebih jauh dari keramaian.
Saat angin berhembus dan aroma manis lembut mirip jeruk atau vanili yang dihirup mereka
menjadi tanda mereka memasuki area istana. Bunga Iris, bunga kesukaan Sang Ratu. Perasaan duka
meraupinya. Hatinya seperti dihantam bongkahan batu. Bagaimana bisa ia memikirkan dirinya sendiri
saat ia bahkan belum sempat menghibur sahabatnya yang sedang berduka.
Ayahnya yang menunggangi kuda di baris paling depan sudah memberikan isyarat agar berhenti.
“Earl Euric Mergaux , Count of Lolworth” ucap pria berbaju besi di luar yang disambut ayahnya
dengan anggukan.
***
Dingin. Alih-alih megah, ini kesan istana baginya sejak dulu. Pilar tinggi dan atap marmer
berlukis sejarah kerajaan ini, tiap langkahnya tetap terasa mengintimidasi entah sudah berapa sering
lantai itu dipijakinya. Sejarah panjang yang dihadiahi atas darah. Reverie tidak polos soal permainan
politik, dia sendiri sering mengendap masuk ke dalam ruang rapat ayahnya saat kecil, kegiatan itu
dianggap misi kecil-kecilan baginya, semakin dewasa entah kapan dia berhenti melakukan itu tapi tiap
infromasi yang terungkap di daun telinga mungilnya mengkonfirmasi hal ini. Semua rumor gila yang
beredar di kalangan masyarakat selalu dapat ia konfirmasi di dalam ruangan kecil itu. Entah mendapat
jawaban yang lebih gila atau rumor itu benar adanya. Semua fakta mengerikan sudah dianggap
informasi biasa bagi gadis 14 tahun itu.
Diawali dengan pekikan kengerian yg ia tahan dalam diam hingga sengiran seakan hal ngeri itu
sudah dianggapnya biasa. Fakta-Fakta yang terus diterima gadis sekecil itu yang membantunya melihat
dengan jelas bagaimana dunia bekerja. Bagaimana kekuasaan diperoleh. Tak elak untuk diakui
kenyamanannya saat ini ia nikmati di atas penderitaan orang lain.
Hitam dan putih, baik dan jahat. Itu hanya membantu melihat dunia pada saat kecil. Saat
dewasa, separuh memilih tenggelam dalam hitam dan membutakan mata untuk melihat putih, separuh
lagi menyilaukan matanya hanya untuk menghindari kehadiran hitam. Dan di antara itu, ada segelintir
yang menerima keduanya. Berusaha melihat tiap keputusan berarti memainkan dua warna.
Reverie tumbuh dengan kepercayaan ini. Kadang memilih memainkan dua warna bersamaan,
kadang berusaha melihatnya sebagai, abu-abu.
19 tahun umurnya sekarang. Dia mulai belajar menjaga postur saat berjalan, bagaimana harus
bertutur-kata, bagaimana caranya menatap lawan bicara, semua yang seharusnya dilakukan semua putri
bangsawan. Dia menikmati itu. Bagaimana dia mengintimidasi tiap mata yang menatapnya dan
bagaimana tawanya mengharuskan seisi ruangan juga lakukan yang sama. Dia lakukan semua yang
diajar keluarganya—yang diajar ayahnya, cinta pertamanya.
Kehadiran Reverie di istana selalu jadi asupan santap pelayan di sana. Seperti biasa, Reverie
menikmatinya. Posturnya tegak dan matanya ia arahkan lurus kedepan, memberi kesan tiap bisikan
yang singgah entah pujian ataupun ungkapan dengki tak ada pengaruh baginya. Ia tak menutup
telinganya. Ada beberapa bisikan yang dia hafal saking sering didengarnya. Ia berusaha acuh tak acuh
sampai ada satu yang mengganggunya. Saat itu ia berada di area lambung istana, banyak yang sibuk
lakukan tugasnya di sana tapi ia yakin yang ini tak sedang berbicara tentangnya. Lebih tepatnya ia
menangkap sebuah percakapan, kakinya melangkah pelan,
“Aku membakar jubahnya. Sungguh itu penuh darah. Bahkan ada yang masih basah”
“Kau yakin itu milik Yang Mulia?” tanya yang lain.
“Ia sendiri yang memberikannya padaku. Bukan cuma jubahnya yang penuh darah, seluruh
tubuhnya terlihat mengerikan dan—“ belum sempat dilanjutkan mata pelayan itu menangkap milik
Reverie, entah kaget atau takut tapi pelayan itu tak mampu melanjutkan kalimatnya. Kepala mereka
berdua menunduk,
“M’lady” ucap mereka bersamaan. Senyum singkat dibalas Reverie, melanjutkan langkahnya.
Ya, Tak ada pengaruhnya berita tadi terhadap Reverie. Apa pengaruhnya jika Yang Mulia Raja
membunuh satu atau dua musuhnya, lagian rahasia kekayaan kerajaan ini tak lain tak bukan dari mereka
yang menghiasi darah pada pedang sang Raja. Ia melanjutkan langkahnya. Alih-alih menunggu waktu
jamuan penutup di Ballroom istana, ia lebih memilih menghabiskan waktu bersama sahabatnya. Banyak
yang ingin dia ceritakan dan yang terpenting, yang ia ingin dengarkan.
Sampai di persimpangan koridor, Reverie bimbang, di depannya ada tangga melingkar dan
koridor panjang di sebelah kiri. Tak biasanya begini tapi kali ini dia ragu—menimbang apakah harus
sekarang atau nanti saja. Mereka memang tidak sering bertemu dan kali ini pun sama tapi kali ini
Reverie terus memikirkan apa yang harus ia katakan, bagaimana dia harus berekspresi dan detail-detail
lain yang asing di antara mereka. Tak lama sampai akhirnya kakinya menuntunnya menaiki tangga.
Matanya menatap pintu kayu berukiran abstrak yang tingginya dua kali lipat dari tingginya itu. Entah
sudah berapa minggu mereka tidak berbicara atau lebih tepatnya si empunya menghindarinya. Helahan
nafas panjang dilepas Reverie, mengangkat tangannya memutuskan mengetuk pintu.
Ketukan pertama. Ketukannya terdengar ragu. Tak ada jawaban.
Ketukan kedua. Sedikit lebih keras dari yang pertama.
Ketukan ketiga. Keempat, kelima. Terlalu sunyi. Tapi Reverie yakin dia ada di dalam. Saat
mengangkat tangan untuk ketukan keenam, pintunya terbuka
“Kau tau hari ini sangat melelahkan aku bahk-“ wajah ekspresinya berubah bingung saat yang
keluar menyambutnya adalah seorang pelayan, lebih tepatnya kepala pelayan yang ia tahu harusnya
saat ini ada di Ballroom Istana. “Ser Arnold?Apa yang kau lakukan di sini?”
“Lady Reverie, Yang Mulia Pangeran ada di Ballroom Istana.” ini membingungkan Reverie.
Karena hadir saat rapat bulanan bukan kewajiban Zelio, Sang Pewaris. Dia hanya hadir kalau ada hal-hal
tertentu.
“Oh.” Ekspresinya berubah. Setelah peninggalan Sang Ratu, dan Negara yang sedang berduka,
Pangeran pasti diharapkan hadir saat ini.
“Aku akan menunggunya di sini.” Ucap Reverie sambil melangkah masuk tapi rautnya berubah
bingung saat Ser Arnold menarik tutup pintunya.
“Saya akan mengantar anda.” Ucap Ser Arnold sambil berjalan mendahului Reverie.
“Aku bilang, aku akan menunggu di sini.” Jawab Reverie tegas.
“My Lady, anda juga diharapkan hadir di sana.” Ser Arnold menatap Reverie yang masih
bergeming.
“Aku? Ayahku tak pernah masalah kalau aku tak hadir. Aku juga yakin Yang Mulia Pangeran tak
masalah aku menunggu di kamarnya.” Sungguh saat ini yang Reverie inginkan adalah suasana sunyi.
“Bukan ayah anda, my lady. Tapi Yang Mulia Raja.” Membingungkan tapi cukup untuk membuat
Reverie tak bisa membantah.
***
Reverie telah sampai di depan pintu yang pastinya lebih besar dan megah dari pintu yang tadi ia
ketuk. Terbuat dari logam apa Reverie tak tahu, tapi pastinya sangat cukup untuk membuat seseorang
merasa kecil dan terpukau secara bersamaan.
Ser Arnold melapor pada penjaga dengan armor berdominan warna emas,Kingsguard yang
sedang berjaga. Tak lama pintunya dibuka.
“Lady Reverie Mergaux, Daughter of Earl Euric Mergaux, Count of Lolworth” namanya
diumumkan.
Lantai marmer perak membuat kesan bercahaya pada gaun peraknya. Saat semua mata tertuju
padanya, matanya sendiri sedang mencari di mana ayah-ibunya. Saat itu juga ia merasa ia terlalu
diperhatikan. Iya, perhatian pasti ia dapatkan di mana saja, tapi entah kenapa kali ini sedikit berbeda.
Biasanya mereka hanya menoleh saat nama diumukan tapi sampai langkahnya sudah mencapai separuh
Ballroom, tatapan mereka masih padanya.
Berusaha tetap tenang dan memberikan senyuman formal pada siapa saja yang ia rasa familiar,
ia mengikuti langkah Ser Arnold yang berjarak 2 langkah di depannya. Tepat saat langkahnya berhenti di
bagian inti ruangan, tempat duduk anggota keluarga kerajaan,
“My Lady.” Ucap Ser Arnold sambil mempersilahkannya duduk.
“Ser Arnold, kau tahu jelas ini bukan tempatku.” Protes Reverie
“1 menit lagi, Lady Mergaux. Tempat ini adalah tempatmu.” Reverie mengerutkan keningnya
ingin protes tapi tepat di depannya ia melihat dua pria paruh baya yang berjalan beriringan.
Pemandangan yang luar biasa. Kekayaan dan kemakmuran terpampang jelas dari pakaian hingga yang
tak kelihatan—aura. Terlihat dari bagaimana orang-orang di sana membuka jalan dan menunduk saat
mereka lewat bahkan ketika mereka sama sekali tak acuh dengan keadaan sekitar.
Ayahnya dan Yang Mulia Raja tersenyum hangat ke arahnya.
Ia menunduk hormat menyapa sang Raja dan mencium pipi Ayahnya.
“Saya turut berduka, Yang Mulia.” Ucap Reverie pada sang Raja. Tatapannya tulus. Yang tak
disangka Reverie, tatapan tulusnya dibalas Sang Raja. Menatapnya seperti yang sedang berduka adalah
dia bukan Sang Penguasa.
“Simpan dukamu, sayang. Istriku pasti akan bahagia dengar kabar ini.” Setelah menatap Reverie,
Raja menatap semua hadirin di dalam ruangan ini. Dipastikan semua matapun sudah tertuju pada Sang
Penguasa. Sedangkan Reverie masih mencari di mana Zelio, Penerus yang sejak tadi ia duga sudah
duluan berada di sini.
“15 hari negeri ini berduka.” Suara berat sang Raja menggelegar ke seisi ruangan, pandangan
matanya juga mengedar ke sekeliling. “Cahaya seakan hilang seiring dengan kepergiannya. Kita semua
merangkak dalam kegelapan mencari keadilan untuk itu. Tapi tak pernah saya sangka, keadilan duluan
yang merangkul kita. Semesta mengambil, semesta memberi. Dia yang bersalah sudah dihukum pagi ini.
Istriku, Sang Ratu, Saya sudah mengikhlaskannya. Semoga kalian juga.” Yang mulia Raja mengangkat
gelas wine miliknya,
“Untuk Leanor, Ibu dari segala Ibu dan Putri dari segala Putri. Ratu dari ketiga daratan dan
lautan, Cahaya Semesta dan Istriku.”
Semua hadirin menunduk, meletakan tangan di dada mereka, memanjatkan doa mereka pada
sang mendiang Ratu. Tak terkecuali, Reverie.
Setelah semua sudah selesai memanjatkan doa, sang Raja mengambil gelas lain, pertanda
pengumuman baru akan diucapkan,
“Mengakhiri masa berduka kita, saya ingin mengumumkan berita bahagia yang saya yakini akan
dikenankan istri saya di atas sana.” Sang Raja menoleh ke samping, ke arah Reverie dan keluarganya.
“Telah disetujui oleh kedua keluarga, putra saya Zelio Emrish, Prince of Ressexton, Duke of
Hecss dan Lady Reverie Mergaux, Daughter of Earl Euric Mergaux, Count of Lolworth akan melaksanakan
pernikahan kerajaan bulan depan.” Sang Raja mengangkat gelas,
“Untuk masa depan Ressexton!” serunya dan di sambut seluruh hadirin,
“Untuk masa depan Ressexton!”
Riuh riak seruan bahagia memenuhi Ballroom. Tak lama semua tangan datang menyambut
miliknya, mengucap selamat, mecium pipinya dan lakukan hal yang sama pada ayah-ibunya.
Iya, Reverie mendengarnya. Ia juga paham artinya. Dan saat ini , untuk pertama kalinya ia ingin
menutup telinganya. Tiap ucapan tulus dan tidaknya, tak hanya singgah di daun telinganya, efeknya
lebih dari itu. Ia menatap ayah dan ibunya. Mereka jelas-jelas tahu soal hal ini. Terjawab sudah
keanehan sikap ibunya belakangan ini. Matanya berair. Seperti kadar oksigen menurun drastis, dadanya
sesak, pandangannya kabur.
Ayahnya melihat itu, Putri satu-satunya menatapnya penuh kecewa.
Reverie berusaha meraih tangan ayahnya dan...
gelap.