0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan108 halaman

Pendidikan Karakter dalam Islam

Skripsi ini membahas pendidikan karakter dalam perspektif Islam dengan membandingkan dua buku, yaitu 'Pendidikan Karakter Islam' karya Marzuki dan 'Pendidikan Karakter Perspektif Islam' karya Abdul Majid dan Dian Andayani. Penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter penting untuk membentuk karakter mulia di kalangan pelajar, dengan fokus pada nilai-nilai seperti religiusitas, kejujuran, dan disiplin. Perbedaan antara kedua buku terletak pada penekanan nilai kerja keras dan kepedulian lingkungan.

Diunggah oleh

zubdah ismail
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan108 halaman

Pendidikan Karakter dalam Islam

Skripsi ini membahas pendidikan karakter dalam perspektif Islam dengan membandingkan dua buku, yaitu 'Pendidikan Karakter Islam' karya Marzuki dan 'Pendidikan Karakter Perspektif Islam' karya Abdul Majid dan Dian Andayani. Penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter penting untuk membentuk karakter mulia di kalangan pelajar, dengan fokus pada nilai-nilai seperti religiusitas, kejujuran, dan disiplin. Perbedaan antara kedua buku terletak pada penekanan nilai kerja keras dan kepedulian lingkungan.

Diunggah oleh

zubdah ismail
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PERSPEKTIF ISLAM

(Studi Komparasi Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam pada buku


Pendidikan Karakter Islam karya Marzuki dengan buku Pendidikan Karakter
Perspektif Islam karya Abdul Majid dan Dian Andayani)

SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Tarbiyah dan Tadris Institut Agama Islam Negeri
Bengkulu Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar
Sarjana Dalam Bidang IlmuTarbiyah

Oleh:
ISTIQOMAH
NIM. 1611210179

PROGAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


FAKULTAS TARBIYAH DAN TADRIS
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI FATMAWATI SUKARNO BENGKULU
TAHUN 2022

i
ii
iii
MOTTO

―Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, maka apabila engkau

telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerjakeras (untukurusan yang lain).‖

(QS. Al-Insyirah: 6-7)

Ridho Allaah dan Orang Tua adalah kuncidari sebuah kesuksesan

Kesuksesan tidak akan diraih tanpa adanya ketaqwaan, kerjakeras,

keikhlasan, kesabaran dan semangat dalam berjuang meraihnya.

(Istiqomah)

iv
PERSEMBAHAN

Alhamdulillahirobil‘alamin, Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala


rahmat dan karunianya sehingga penulis mampu menempuh pendidikan dan
menyelesaikan skripsi yang berjudul ―Pendidikan Karakter dalam Perspektif
Islam‖. Seiring do‘a dan hati yang tulus kupersembahkan karya sederhana ini
yang telah dilalui dengan suka duka, kesabaran, serta rasa terimakasih yang
setuluhnya untuk orang-orang yang telah mendukung, memotivasi, dalam
mengiringi keberhasilan penulis:

1. Kepada kedua orang tuasaya, Ayahanda (Fakihi) sebagai pahlawan


dalam hidup saya dan Ibunda (Badril Wastia) sang malaikat tak
bersayapku, yang telah memberikan seluruh jiwa dan raganya untuk
dapat memberikan yang terbaik, yang tak pernah berhenti mendo‘akan
di setiap langkah saya, yang selalu memberi semangat, dukungan,
motivasi, nasehat yang tulus tiada hentinya demi tercapainya
keberhasilanku. Semoga Allah SWT selalu memberi rahmat kepada
keduanya.
2. Kakak-kakak saya (SuaidiYati, Zuryani, M. Kamel, Khoirul Akmal,
Ibrahim, Nazipah dan Nuraini) serta adik saya (Mumtaz) serta Ayuk
Ipar (Yanti Sumarni) yang selalu mendukung dan memberi semangat
dalam setiap langkahku dan memberikan dukungan, semangat, dan do‘a
untuk keberhasilan saya, kasih sayang kalian memberikan semangat
yang tinggi dalam menyelesaikan skripsi ini.
3. Pak Drs. Mus Mulyadi, [Link]. selaku Pembimbing I dan Pak Dayun
Riadi, [Link], selaku Pembimbing II yang telah banyak memberi arahan
dan bimbingan dalam proses pembuatan skripsi ini mulai dari
pembuatan proposal skripsi hingga terselesaikannya skripsi ini. Terima
kasih saya ucapkan atas arahan dan bimbingannya. Semoga bapak
selalu diberi keberkahan oleh Allah Swt.
4. Teman Ngopi; Kurnia Nur Hasanah, Putri Tanjung, Sela Marlianti, Siti
Munawwaroh dan Winda Ariska yang selalu memotivasi, menasihati,

v
menguatkan, mendo‘akan dan menemani selama ini dengantulus.
Terima kasih banyak atas semua kebaikan kalian, semoga Allah
membalas kebaikan kalian semua dan senantiasa di dalam lindungan-
Nya dan semoga ukhuwah tetap terjaga dengan baik.
5. Guru kehidupan; Halaqoh Cinta dan Lingkaran Cinta yang saya sayangi
karena Allah, terima kasih kepada mbak-mbakku dan teman-teman
mengajiku yang senantiasa saling mendo‘akan, semoga kita dapat
berkumpul kembali di Syurga-Nya.
6. Seluruh kader KAMMI baik ikhwan maupun akhwat yang saya cintai
karena Allah yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, semangat
kalian dalam berjuang sungguh luar biasa. Terima kasih telah menjadi
bagian dalam sejarah perjuangan saya yang telah memberi saya banyak
pelajaran dan saudara. Semoga ukhuwah kita tetap terjaga hingga
jannah-Nya.
7. Kepada Evi Susanti dan Arum Trini Wahyuni serta teman
seperjuangan Angkatan 2016 lokal F Pendidikan Agama Islam.
8. Almamaterku tercinta Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bengkulu,
tempatku menuntut ilmu, gudang segala ilmu.

vi
vii
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT. Atas
rahmat, taufik dan hidayah-Nya yang di berikan kepada kita, khususnya kepada
penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi yang berjudul
“Pendidikan Karakter dalam Persepektif Islam (Studi Komparasi
Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam pada buku Pendidikan
Karakter Islam karya Marzuki dengan buku Pendidikan Karakter
Perspektif Islam karya Abdul Majid dan Dian Andayani”.”. Shalawat dan
salam semoga tetap senantiasa dilimpahkan kepada junjungan dan uswatun
hasanah kita, Rasulullah Muhammad SAW.
Penyusunan skripsi ini untuk memenuhi salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana Pendidikan ([Link]) pada program studi pendidikan
agama islam(PAI) fakultas tarbiyah dan tadris Universitas Islam Negeri
Fatmawati Sukarno Bengkulu
Penulis juga menyadari bahwa penulisan skripsi ini tidak lepas dari
adanya bimbingan, motivasi dan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu,
penulis menghanturkan terimakasih kepada yang terhormat:
1. Prof. Dr. KH. Zulkarnain Dali, [Link]. Selaku Rektor Universitas Fatmawati
Sukarno (UINFAS) Bengkulu.
2. Drs. Mus Mulyadi, [Link]. Selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Tadris
beserta stafnya.
3. Adi Saputra, [Link]. Selaku ketua jurusan Tarbiyah Universitas Fatmawati
Sukarno (UINFAS) Bengkulu.
4. Hengki Satrisno, [Link].I Selaku Kepala Prodi Pendidikan Agama Islam
beserta stafnya.
5. Bapak Drs. Mus Mulyadi,[Link]. Selaku pembimbing I yang telah
meluangkan waktu, tenaga, dan pemkirannya dalam memberikan arahan,
bimbingan, dan petunjuk penulisan skripsi ini.

viii
6. Bapak Dayun Riadi, M. Ag. Selaku pembimbing II yang telah memberikan
arahan, bimbingan, dan motivasi kepada penulis dalam menyelesaikan
skripsi ini.
7. Pihak Perpustakaan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bengkulu yang
telah membantu penulis dalam mencari referensi.
8. Bapak dan Ibu dosen Fakultas Tarbiyah dan Tadris yang telah memberikan
ilmu pengetahuan dan pengalaman, serta membimbing penulis selama
menjalankan aktivitas perkuliahan di Institut Agama Islam Negeri (IAIN)
Bengkulu.
9. Seluruh rekan mahasiswa Tarbiyah khususnya angkatan 2016, yang telah
membantu dari awal perkuliahan hingga selesai.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan
skripsi ini, oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun dari
semua pihak sangat penulis harapkan. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi
penulis khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.

Bengkulu, 2022

Penulis,

Istiqomah
NIM:1611210179

ix
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i
PENGESAHAN .............................................................................................. ii
NOTA PEMBIMBING .................................................................................. iii
MOTTO ......................................................................................................... iv
PERSEMBAHAN .......................................................................................... v
PERNYATAAN KEASLIAN ........................................................................ vii
KATA PENGANTAR .................................................................................... viii
DAFTAR ISI ................................................................................................... x
ABSTRAK ...................................................................................................... xii
DAFTAR TABEL .......................................................................................... xiii
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xiv

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah .................................................................. 1


B. Rumusan Masalah ........................................................................... 11
C. Tujuan Penulisan ............................................................................. 11
D. Manfaat Penelitian ........................................................................... 12

BAB II LANDASAN TEORI


A. Konsep Pendidikan Karakter ........................................................... 8
1) Pengertian Pendidikan Karakter ............................................... 8
2) Dasar-Dasar Pendidikan Karakter ............................................. 10
3) Tujuan Pendidikan Karakter ..................................................... 13
4) Ruang Lingkup Pendidikan Karakter ....................................... 15
5) Nilai dan Deskripsi Pendidikan Karakter ................................. 21
6) Biografi Penulis ........................................................................ 24
B. Penelitian Terdahulu ......................................................................... 29
C. Kerangka Teoritik ............................................................................. 31

BAB III METODE PENELITIAN


A. Jenis Penelitian .................................................................................. 32

x
B. Data dan Sumber Data ....................................................................... 32
C. Teknik Pengumpulan Data ................................................................. 33
D. Teknik Keabsahan Data ..................................................................... 34
E. Teknik Analisis Data.......................................................................... 34
BAB IV HASIL PENELITIAN
A. Hasil Penelitian ................................................................................ 36
B. Pembahasan ..................................................................................... 56
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ........................................................................................ 77
B. Saran................................................................................................... 77

DAFTAR PUSTAKA

xi
ABSTRAK

Nama : Istiqomah
NIM : 1611210179
Prodi : Pendidikan Agama Islam
Akhlak atau Karakter pada saat masih menjadi permasalahan yang sangat
memprihatinkan terutama dikalangan pelajar atau siswa. Rendahnya karakter
memerlukan pendidikan karakter agar terbentuk karakter yang mulia.
Pemahaman tentang pentingnya nilai-nilai karakter peserta didik dan
pentingnya pembinaan pendidikan karakter menjadi hal yang sangat penting
agar terbentuknya karakter-karakter anak yang mulia baik terhadap Tuhan,
Masyakat, maupun [Link] dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui bagaimana Pendidikan karakter dalam perspektif Islam dan
perbedaan Pendidika karakter dalam perspektif Islam pada buku Pendidikan
Karakter Islam Karya Marzuki dan Buku Pendidikan Karakter Perspektif
Islam Karya Abdul Majid dan Dian Andayani. Jenis penelitian ini adalah
penelitian kepustakaan (library reaserch). Teknik pengumpulan data dalam
penelitian ini melalui Dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan
adalah teknik analisis (content analysis) dengan pendekatan buku buku
Pendidikan Karakter Karya Marzuki dan Buku Pendidikan Karakter Perspektif
Islam Karya Abdul Majid dan Dian Andayani. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa Pendidikan karakter dalam perspektif Islam yang
terdapat dalam buku Pendidikan Karakter Islam meliputi Nilai Pendidikan
Karakter (karakter Religius, Jujur, Disiplin, Toleransi, Peduli Lingkungan,
Peduli Sosial. Pendidikan karakter dalam perspektif Islam yang terdapat dalam
buku Pendidikan Karakter Perspektif Islam karya Abdul Majid dan Dian
Andayani meliputi nilai-nilai pendidikan karakter antara lain: Nilai Religius,
Jujur, Disiplin, Toleransi, Kerja Keras, Peduli Sosial. Adapun perbedaan pada
nilai pendiddikan karakter pesrspektif Islam terdapat pada buku Pendidikan
Karakter Islam karya Marzuki dan buku Pendidikan Karakter Perspektif Islam
karya Abdul Majid dan Dian Andayani ialah terdapaat pada nilai karakter
kerja keras dan peduli lingkungan

Kata Kunci: Pendidikan Karakter, Perspektif Islam

xii
DAFTAR TABEL

Tabel2.1 Nilai dan Deskripsi Pendidikan Karakter .............................................. 21

Tabel 4.1 Nilai dan Desktripsi Karakter .............................................................. 37

Tabel 4. 2 Tinjauan Analisis Data ........................................................................ 57

Tabel 4.3 Persamaan dan Perbedaan .................................................................... 76

xiii
DAFTAR LAMPIRAN

1. Foto cover buku Pendidikan Karakter Islam Karya Marzuki


2. Foto Cover Buku Pendidikan Karakter Perspektif Islam Karya
Abdul Majid dan Dian Andayani
3. Foto Dokumentasi
4. Surat Kendali Judul
5. SK pembimbing
6. SK Komprehensif
7. Nota pembimbing
8. Pengesahan Pembimbing
9. Nilai Komprehensif
10. Lembar pengesahan penyeminar
11. Lembar Nota Penyeminar
12. Kartu bimbingan

xiv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan di dunia Islam saat ini mengalami krisis yang
menyebabkan kemunduran. Para pemerhati pendidikan telah menganalisis
beberapa sebab terjadinya kemunduran itu, diantaranya adalah karena
ketidaklengkapan aspek materi, terjadi krisis sosial masyarakat dan krisis
budaya, serta hilangnya qudwah hasanah (teladan yang baik), akidah
shahihah, dan nilai-nilai Islami. Ada juga yang melihat penyebabnya adalah
karena salah membaca eksistensi manusia, sehingga salah pula melihat
eksistensi anak didik.
Krisis pendidikan yang terjadi di dunia terjadi pula di Indonesia.
Masalah yang dihadapi pun cukup beragam. Mulai dari aspek sosial, politik,
budaya, dan ekonomi, serta aspek lainnya. Meskipun akhir-akhir ini prestasi
intelektual anak-anak Indonesia mengalami peningkatan cukup baik dengan
banyaknya prestasi di berbagai olimpiade sains internasional, namun
kemunduran justru terjadi pada aspek lain yang amat penting, yaitu moralitas.
Kemunduran pada aspek ini menyebabkan krisis pendidikan akhlak dalam
dunia pendidikan kita sehingga dunia pendidikan di Indonesia tidak dapat
menahan laju kemerosotan akhlak yang terus terjadi.1
Sejak kemerdekaan Republik Indonesia diproklamasikan hingga
sekarang ini keadaan pendidikan di Indonesia semakin memperlihatkan
adanya gejala peningkatan, baik dari segi kualitas maupun dari segi kuantitas,
sejalan dan seirama dengan meningkatnya pembangunan di segala bidang.
Akan tetapi, dengan meningkatnya kualitas pendidikan, meningkatkan
masyarakat Indonesia yang berpendidikan, hingga banyaknya alumni
pendidikan menjadi birokrat, Indonesia tak kunjung menjadi lebih baik.
Padahal, pendidikan merupakan proses untuk meningkatkan, merubah sikap
serta tata laku seseorang atau kelompok dalam usaha untuk mencerdaskan

1
Ulil Amri Syafri, Pendidikan Karakter berbasis AL-Quran, (Jakarta: Rajawali Pers,
2012) Hal 1

1
2

kehidupan manusia melalui kegiatan bimbingan pengajaran dan pelatihan.2


Dengan pernyataan yang diajukan oleh Paulo Freire menyiratkan bahwa
pendidikan yang tercerahkan merupakan hal yang utama dan penting bagi
tiap insan manusia.
Realita dunia pendidikan saat ini yang dipengaruhi arus globalisasi
ternyata sedang mengalami problematika baru yang sangat mengkhawatirkan.
Munculnya kenakalan remaja, maraknya konsumsi minuman keras, narkoba,
pergaulan bebas, hamil diluar nikah, aborsi, tawuran pelajar, kekerasan serta
berbagai bentuk penyimpangan penyakit kejiwaan seperti stress, depresi, dan
kecemasan adalah bukti yang tidak ternafikan akibat dampak negatif dari
pesatnya arus globalisasi. Oleh karena itu, negeri ini sedang mengalami krisis
multidimensional, baik dibidang pendidikan, ekonomi, sosial, budaya,
hukum, bahkan pemerintahan.3
Pada saat ini, nilai dalam pandangan masyarakat sekuler kapitalis
hanyalah nilai materi. Mereka tidak memandang sedikitpun nilai spiritual,
kemanusiaan dan moral, kecuali ada keuntungan dari segi materi. Dari sekian
banyak penyebab problematika dalam dunia pendidikan, konsep pendidikan
yang ada kiranya perlu ditinjau ulang dalam mengembangkan potensi SDM.
Pendidikan tidak identik sekedar proses mentransfer ilmu pengetahuan,
karena target didik tidak sekedarkepandaian akali, tetapi juga menargetkan
dimensi yang lebih luas pada diri manusia seperti sikap, watak, perilaku dan
keterampilan.4
Pendidikan merupakan upaya terencana dalam proses pembimbingan
dan pembelajaran bagi individu agar tumbuh berkembang menjadi manusia

2
M. Athiyah al-Abrasyi, Al-tarbiyah al-Islamiyah diterjemahkan oleh A. Bustani A.
Gani, et. al dengan judul Dasar-dasar Pendidikan (Cet. XV; Jakarta: Bulan Bintang,
2003), Hal 11.
3
Fahrudin. (2011). Peranan Pendidikan Agama Dalam Keluarga Terhadap Pembentukan
Kepribadian Anak. Jurnal Pendidikan Agama Islam-Ta‟lim, 9(1), 1–16.
4
Rizal, A. S. (2016). Ilmu Sebagai Substansi Esensial Dalam Epistemologi Pendidikan
Islam. Jurnal Pedidikan Agama Islam - Ta‟lim, 14(1), 1–17.
3

yang mandiri, bertanggung jawab, kreatif, berilmu, sehat, dan berakhlak


(berkarakter) mulia.5
Disebutkan dalam Undang Undang Sistem Pendidikan nasional pasal
3 UU No.20/2003 bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk melahirkan
manusia yang beriman dan bertaqwa. Dan, dalam pasal 36 tentang kurikulum
dikatakan, kurikulum disusun dengan memperhatikan peningkatan iman dan
taqwa. Meskipun dalam pasal-pasal tersebut kata-kata ―iman dan taqwa‖
tidak terlalu dijelaskan, namun kenyataannya dapat dikatakan bahwa
mayoritas akhlakpara peserta didik yang dihasilkan dari proses pendidikan di
Indonesia tidak sesuai dengan yang dirumuskan.6
Adapun tujuan pendidikan Islam menurut Al-Attas lebih
mengembalikan manusia kepada fitrah kemanusiannya, bukan pengembangan
intelektual atas dasar manusia sebagai warga negara, yang kemudian identitas
kemanusiaannya diukur sesuai dengan perannya dalam kehidupan
[Link], konsep pendidikan Islam pada dasarnya berusaha
mewujudkan manusia yang baik, manusia yang sempurna dan manusia
universal yang sesuai dengan fungsi utama [Link] itu
diciptakan Allah Swt., untuk membawa dua misi sekaligus, yaitu sebagai
hamba Allah (‗abdullah) dan sebagai khalifah di bumi (Khalifah fil ardh).7Hal
ini telah Allah sebutkan dalam firman-Nya dalam Q.S. Adz-Dzariyat : 56 dan
Q.S. Al-Baqarah: 30 yang berbunyi:

      

―dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
mengabdi kepada-Ku”.

5
Marzuki, Pendidikan Karakter Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2015), Hal 3
6
Ulil Amri Syafri, Pendidikan Karakter berbasis AL-Quran, (Jakarta: Rajawali Pers,
2012) Hal. 2-3
7
Ulil Amri Syafri, Op. Cit., Hal. 2-3
4

             

            

   

“ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat:


"Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."

Istilah karakter secara harfiah berasal dari bahasa Latin ―Charakter‖,


yang berarti: watak, tabiat, sifat-sifat kejiwaan, budi pekerti, kepribadian atau
akhlak. Sedangkan secara istilah, karakter diartikan sebagai sifat manusia
pada umumnya di mana manusia mempunyai banyak sifat yang tergantung
dari faktor kehidupannya sendiri.8
Dengan makna seperti itu berarti karakter identik dengan
kepribadian atau akhlak. Kepribadian merupakan ciri, karakteristik, atau sifat
khas diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima
dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil dan bawaan sejak lahir.
Seiring dengan pengertian ini, ada sekelompok orang yang berpendapat
bahwa baik buruknya karakter manusia sudah menjadi bawaan dari lahir. Jika
bawaannya baik, manusia itu akan berkarakter baik, dan sebaliknya jika
bawaannya jelek, manusia itu akan berkarakter jelek. Jika pendapat ini benar,
pendidikan karakter tidak ada gunanya, karena tidak akan mungkin merubah
karakter orang yang sudah taken for granted. Sementara itu, sekelompok
orang yang lain berpendapat berbeda, yakni bahwa karakter bisa dibentuk dan
diupayakan sehingga pendidikan karakter menjadi bermakna untuk membawa
manusia dapat berkarakter yang baik.9

8
Zubaedi, Design Pendidikan Karakter, (Jakarta: Prenada Media Group, 2011), Hal19
9
Marzuki, Op. Cit., Hal 20
5

Islam sangat memperhatikan persoalan karakter atau akhlak. Hal ini


terlihat bagaimana Allah mengutus Rasulullah untuk menyempurnakan
akhlak umat-Nya. Hal tersebut sebagaimana bunyi sebuah hadist:
ِ ْ‫اِمَّنَا بعِث‬
‫َخ ََل ْق‬ َ ‫ت ِلََُتِّ َم َم َك‬
ْ ‫ارم ْاْل‬ ُ ُ

―Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak‖. (HR.


Bukhari)

Dalam Islam, pembangunan karakter merupakan masalah dasar


untuk membentuk umat yang berkarakter. Pembangunan karakter dibentuk
melalui pembinaan akhlakul karimah (akhlak mulia) yaitu upaya transformasi
nilai-nilai Qur‘ani kepada anak yang lebih menekankan aspek afektif atau
wujud nyata dalam perbuatan [Link] itu, Islam melihat bahwa
identitas dari manusia pada hakikatnya adalah akhlak yang merupakan potret
kondisi batin seseorang yang [Link] dalam hal ini Allah Swt.,
begitu tegas mengatakan bahwa manusia mulia itu ialah manusia yang
bertakwa (tunduk atas segala perintah-Nya).Kemuliaan manusia di sisi-Nya
bukan di ukur dengan nasab, harta maupun fisik, melainkan kemuliaan yang
secara batin memiliki kualitas keimanan dan mampu memperlihatkannya
dalam bentuk sikap, perkataan dan perbuatan.
Untuk lebih memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter telah
teridentifikasi 18 nilai yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan
tujuan pendidikan nasional, yaitu : (1) Religius, (2) Jujur, (3) Toleransi,(4)
Disiplin, (5) Kerja Keras, (6) Kreatif, (7) Mandiri, (8) Demokratis, (9) Rasa
Ingin tahu, (10) Semangat Kebangsaan, (11) Cinta Tanah Air, (12)
Menghargai Prestasi, (13) Bersahabat/Komunikatif, (14) Cinta Damai, (15)
Gemar Membaca, (16) Peduli Lingkungan, (17) Peduli Sosial, dan (18)
Tanggung Jawab. Meskipun telah terdapat 18 nilai pembentuk karakter
bangsa, namun satuan pendidikan dapat menentukan prioritas
6

pengembangannya dengan cara melanjutkan nilai prakondisi yang diperkuat


dengan beberapa nilai yang diprioritaskan dari 18 nilai di atas.10
Dewasa ini, banyak sekali buku refernsi yang membahas tentang
pendidikan karakter dalam perspektif Islam. diaantara buku yang membahas
tentang pendidikan karakter ialah buku Pendidikan Karakter Islam karya
Marzuki dan buku Pendidikan Karakter Perspektif Islam kara Abdul Majid
dan Dian Andyani.
Buku Pendidikan Karakter Islam karya Marzuki ini berbekal pada
beberapa buku sumber atau referensi tentang pendidikan Karakter seerta
berpedoman kepada ayat-ayat Al-Qur‘ab\n dan hadits-hadits Nabi
Muhammad SAW. Buku ini diawali dengan uraian singkat tentang landasan
dan latar belakang pentingnya pendidikan karakter dan keterkaitan karaker
dalam Islam dengan akidah dan syaro‘ah Islam. Uraian slanjutnya tentang
konsep dasar pendidikan karakter dalam Islam dan bagaimana pola
pengembangannya. Setelah itu baru diuraikan bagaimana implementasi
pendidikan karakter dalam keluarga, sekolah dan masyarakat. di akhir buku
ditambahkan kesimpulan dan refleksi yang mungin dapat memberikan
penyadaran kepada para pembaca akan pentingnya pendidikan karakter.11
Adapun Buku Pendidikan Karakter Perspektif Islam adalah satu dari
sekian buku yang membahas tentang pendidikan karakter. Buku ini berisi 224
halaman terbagi menjadi tujuh bab, yang tiap-tiap babnya berbeda
pembahasan akan tetapi masih saling berkaitan. Garis besar dari isi buku
tersebut adalah membahas tentang pendidikan karakter. Pada bab empat
secara khusus membahas tinjauan Islam tentang pendidikan karakter. Pada
bagian pertama dalam buku ini membahas tentang pendidikan karakter dalam
kajian secara umum, dari sejarah pendidikan karakter secara luas hingga
perkembangan pendidikan karakter di Indonesia. Kemudian pada bab dua dari
buku ini membahas tentang konsep dasar pendidikan karakter itu sendiri,
yang terbagi lagi menjadi tiga sub bab meliputi pengertian pendidikan
10
Daryanto Suryati Darmiatun, Implementasi Pendidikan Karakter diSekolah, (Yogyakarta :
Penerbit Gava Media, 2013 ), Hal. 47
11
Marzuki, Op. Cit., Hal. v-vi
7

karakter, dimensi-dimensi pendidikan karakter dan proses pembentukan


karakter. Bagian ketiga dalam buku ini membahas tentang esensi pendidikan
karakter yang meliputi tujuan pendidikan karakter, pilar-pilar pendidikan
karakter, ciri dasar pendidikan karakter, pengembangan karakter dalam
kontek makro dan mikro, dan identifikasi karakter. Tinjauan Islam tentang
pendidikan karakter terdapat dalam bagian keempat yang berisikan tentang
pendidikan karakter dalam Islam, hakikat manusia dalam Islam, manusia
sebagai makhluk berdimensi, nilai dasar dalam pendidikan Islam dan
kepribadian manusia dalam perspektif Islam. Adapun bagian kelima dalam
buku ini membahas tentang strategi dan model pendekatan pendidikan
karakter meliputi prinsip pendidikan karakter, strategi pendidikan karakter,
model internalisasi pendidikan karakter, keterpaduan dalam penerapan
pendidikan karakter dan pola hubungan sekolah dengan orangtua dan
masyarakat. Bagian keenam membahas mengenai implementasi model dalam
pembentukan karakter yang terbagi ke dalam standar kompetensi lulusan dan
nilai atau karakter yang dikembangkan, nilai-nilai akhlak yang
dikembangkan di sekolah atau madrasah, metode pendukung implementasi
model dan kartu mutabaah (monitoring) amaliah siswa. Sedangkan pada
bagian terakhir dari pembahasan dalam buku Pendidikan Karakter Perspektif
Islam adalah tentang Lukmanul Hakim dan mutiara-mutiara hikmahnya
dalam membentuk karakter yang meliputi pesan-pesan kisah dari Lukmanul
Hakim, kisah Umar Bakri, kisah guru Rahmat dan suara hati Kusmayanti.12
Melihat kondisi diatas, maka dari itu pendidikan karakter dalam
persepektif Islam ini sangat penting, perlu dianalisis lagi agar dapat dijadikan
panduan dalam mendidik dan membentuk karakter pribadi peserta didik yang
jauh lebiih baik. Berdasarkan pernyataan di atas penulis tertarik untuk
membahas dan mendalami tentang konsep pendidikan karakter tersebut
sebagai penulisan skripsi. Khususnya pada “Pendidikan Karakter dalam

12
Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam,
(Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2011),
8

Persepektif Islam (Studi Komparasi Pendidikan Karakter dalam


Perspektif Islam pada buku Pendidikan Karakter Islam karya Marzuki
dengan buku Pendidikan Karakter Perspektif Islam karya Abdul Majid
dan Dian Andayani”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah di atas penulis mengambilrumusan
masalahnya yaitu:
1. Bagaimana Nilai karakter religius, jujur, disiplin, toleransi, peduli
sosial dan peduli lingkungan dalam Perspektif Islam menurut buku
Pendidikan Karakter Islam karya Marzuki?
2. Bagaimana Nilai karakter religius, jujur, disiplin, toleransi, kerja keras
dan peduli sosial dalam perspektif Islam menurut buku Pendidikan
Karakter Perspektif Islam karya Abdul Majid dan Dian Andayani?
3. Bagaimana Persamaan dan Perbedaan pada nilai-nilai pendidikan
karakter pada buku Pendidikan Karakter Islam karya Marzuki dan
buku Pendidikan Karakter Perspektif Islam karya Abdul Majid dan
Dian Andayani?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahuipendidikan
karakter dalam Perspektif Islam khususnya nilai pendidikan [Link]
itu penulis berharap, bahwa penelitian yang dilakukan ini dapat bermanfaat
baik secara teoritis maupun praktis.
D. Manfaat penelitian
Adapun manfaat dari penelitiantentang Pendidikan Karakter dalam
Perspektif Islam ini antara lain sebagai berikut.
1. Manfaat secara Teoretis
Menambah khasanah dunia pustaka tentang Pendidikan karakter dalam
Perspektif Islam khususnya dalam buku Pendidikan Karakter Islam karya
Dr. Marzuki, M. Ag. dan Buku Pendidikan Karakter Perspektif Islam
karya Abdul Majid dan Dian Andayani.
9

2. Manfaat secara Praktis


a. Bagi Lembaga
Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan rujukan materi pelajaran di
sekolah-sekolah dalam menyukseskan program pendidikan terkhusus
pendidikan karakter atau pendidikan akhlak.
b. Bagi peneliti
Hasil penelitian ini dapat memberikan pemikiran baru dan
pengetahuan baru dalam mengimplementasikan konsep pendidikan
karakter.
c. Bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan kajian bagi masyarakat
sebagai cara dalam pembentukan karakter.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Konsep Pendidikan Karakter
1. Pengertian Pendidikan karakter
Pendidikan karakter merupakan hal yang sangat penting bagi
[Link] merupakan upaya untuk mengubah manusia dari yang
tidak memiliki karakter menjadi manusia yang [Link]
karakter merupakan penanaman nila-nilai kepada peserta didik agar
memiliki karakter yang baik.
Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional dalam Pasal 1 ayat (1) disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha
sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar anak didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan
dirinnya, masyarakat, bangsa dan negara.13
Menurut Sudirman N., pendidikan ialah usaha yang dijalankan oleh
seseorang atau sekelompok orang untuk memengaruhi seseorang atau
sekelompok orang lain agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup
dan penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mantap. Sedangkan Doni
Koesoema mendefinisikan bahwa pendidika sebagai internalisasi budaya ke
dalam diri individu dan masyarakat menjadi beradab.14
Sedangkan istilah karakter sendiri secara harfiah berasal dari
bahasa Latin ―Charakter‖, yang antara lain berarti: watak, tabiat, sifat-sifat
kejiwaan, budi pekerti, kepribadian atau akhlak. Sedangkan secara istilah,
karakter diartikan sebagai sifat manusia pada umumnya di mana manusia
mempunyai banyak sifat yang tergantung dari faktor kehidupannya sendiri.15

13
Novia Juwita, “Internalisasi Nila-Nilai Karakter Islami Siswa Melalui Program Imtaq
Di Smpn 16 Kota Bengkulu”, Skripsi, Fakultas Tarbiyah Dan Tadris IAIN Bengkulu, Bengkulu,
2019), Hal 1
14
Aisyah M. Ali, Pendidikan Karakter: Konsep dan Implementasinya, (Jakarta: Kencana,
2018), Hal. 9-10
15
Zubaedi, Design Pendidikan Karakter, (Jakarta: Prenada Media Group, 2011), Hal.19

10
12

Kata karakter menurut kamus besar bahasa Indonesia berarti, sifat-


sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari
yang lain. Sedangkan karakter menurut pusat bahasa Depdiknas memiliki
makna, bawaan hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas,
sifat, tabiat, temperamen, watak. Adapun makna berkarakter adalah
berkepribadian, berprilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak. Jadi dapat
dikatakan individu yang berkarakter baik adalah seseorang yang berusaha
melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Allah Swt.16
Dari uraian mengenai pengertian karakter dari beberapa pendapat di
atas, maka dapat disimpulkan bahwa karakter merupakan watak atau akhlak
seseorang yang membedakan manusia yang satu dengan manusia yang
lainnya.
Sebagaimana dikutip oleh Abdul Madjid dan Dian Andayani dalam
kamus Poerwadaminta, karakter dapat diartikan sebagai tabiat, watak, sifat-
sifat kejiwaan, akhlak dan budi pekerti yang membedakan seseorang dengan
orang lain. Sedangkan Imam Al-Ghazali berpendapat bahwa karakter lebih
dekat dengan akhlak, yaitu spontanitas manusia dalam bersikap atau
perbuatan yang menyatu dalam diri manusia sehingga ketika muncul tidak
perlu dipikirkan lagi.17
Khan dalam buku Yahya Khan mendefinisikan pendidikan karakter
sebagai proses kegiatan yang dilakukan dengan segala daya dan upaya
secara sadar dan terencana untuk mengarahkan anak didik. Sedangkan
Lickona menyatakan bahwa pendidikan karakter sebagai upaya yang
sungguh-sungguh untuk membantu seseorang memahami, peduli dan
bertindak dengan landasan nilai-nilai [Link], pendidikan karakter
mengandung tiga unsur pokok, yaitu mengetahui kebaikan (knowing the
good), mencintai kebaikan (desiring the good), dan melakukan kebaikan
(doing the good).18

16
Ulil Amri Syafri, Op. Cit., Hal. 7
17
Aisyah M. Ali, OP. Cit Halal 10
18
Ibid. Hal. 12
13

Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan


karakter ialah sebuah proses yang berupaya untuk menanamkan nilai-nilai
yang kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan,
kesadaran atau kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai
tersebut.
2. Dasar-Dasar Pendidikan Karakter
Dalam arah kebijakan dan prioritas pada pembangunan,
pendidikan karakter tidak bisa dipisahkan dari upaya mencapai Visi dari
Pembangunan Nasional yang tertuang pada Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005 -2025, yaitu sebagaimana
disebutkan sebagai berikut : "Membina dan mengembangkan karakter
warga negara sehingga mampu mewujudkan masyarakat yang ber-
Ketuhanan Yang Maha Esa, ber-Kemanusiaan yang adil dan beradab,
Berjiwa Persatuan Indonesia, Berjiwa Kerakyatan yang dipimpin oleh
hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan dan Keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia".19
Selain itu, dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional disebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi
untuk mengembangkan kemampuan dan serta membentuk karakter
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa. Adapun pendidikan nasional bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman
dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis
serta bertanggungjawab.20
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 17 tahun 2010 yaitu tentang
Pengelolaan Penyelenggaraan Pendidikan pada pasal 17 ayat 3

19
Mustofa, “Dasar Hukum Pelaksanaan Pendidikan Karakter di Indonesia”,
[Link] (16 April 2017).
20
Mujizarotus Syariah, “Implementasi Pendidikan Karakter Cinta Tanah Air Dan
Semangat Kebangsaan Melalui Pembiasaan Menyanyikan Lagu Nasional Peserta Didik Kelas II
SD Nurul Islam Purwoyoso Ngaliyan Semarang Tahun Pelajaran 2017/2018, (Skripsi, Fakultas
Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Walisongo, 2018), Hal24
14

menyebutkan bahwa pendidikan dasar bertujuan membangun landasan bagi


berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang; 1)
Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, 2) Berakhlak mulia,
dan berkepribadian luhur, 3) Berilmu, cakap, kritis, kreatif dan inovatif, 4)
Sehat, mandiri dan percaya diri, 5) Toleran, peka sosial, demokratis dan
bertanggungjawab.
Dasar hukum dalam pembinaan pendidikan karakter diantaranya :
(1) UUD 1945 Amandemen
(2) UU No. 20/2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional
(3) PP No. 19/2005, tentang Standar Nasional Pendidikan
(4) PP No. 17/2010, tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan
Pendidikan
(5) Permendiknas No. 39/2008, tentang dalam Pembinaan Kesiswaan
(6) Permendiknas No. 22/2006, tentang Standar Isi.
(7) Permendiknas No. 23/2006, tentang Standar Kompetensi Lulusan
(8) Rencana Pemerintah Jangka Menengah Nasional: 2010-2014
(9) Renstra Kemendiknas tahun 2010-2014
(10) Renstra Direktorat Pembinaan SMP tahun 2010-2014.21
Dalam Islam sendiri, pendidikan karakter pada prinsipnya
didasarkan pada dua sumber pokok, yaitu Al-Qur‘an dan Sunnah. Dengan
demikian, baik dan buruk dalam karakter Islam memiliki ukuran yang
standar, yaitu baik dan buruk menurut Al-Qur‘an dan Sunnah Nabi, bukan
baik atau buruk menurut ukran atau pemikiran manusia pada
[Link] yang sudah dijelaskan bahwa karakter identik dengan
akhlak. Dalam perspektif Islam, karakter atau akhlak mulia merupakan
sesuatu yang dihasilkan dari proses penerapan syariah (ibadah dan
muamalah) yang dilandasi oleh pondasi akidah yang kokoh. Ibarat
bangunan, karakter atau akhlak merupakan kesempurnaan dari bangunan
tersebut setelah fondasi dan bangunannya kuat. Jadi, karakter/akhlak mulia

21
Mustofa, “Dasar Hukum Pelaksanaan Pendidikan Karakter di Indonesia”,
[Link] (16 April 2021).
15

tidak akan terbentuk pada diri seseorang jika tidak memiliki akidah dan
syariah yang benar. Seorang Muslim yang memiliki akidah atau iman yang
benar, pasti akan mewujudkannya pada sikap dan perilaku sehari-hari.22
Dalam Al-Qur‘an banyak sekali ditemukan pokok keutamaan
karakter atau akhlak yang dapat digunakan untuk membedakan perilaku
seorang Muslim, seperti perintah berbuat kebaikan (ihsan) dan kebajikan
(al-birr), menepati janji (al-wafi), sabar, jujur, takut kepada Allah, berinfaq
di jalan-Nya, berbuat adil dan pemaaf.23 Salah satu contoh ayat al-Qur‘an
yang menunjukkan keutamaan karakter tersebut tedapat dalam Q.S. Al-
Baqarah [2]: 177

             

          

         

          

         

Artinya:
“bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu
kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada
Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan
memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim,
orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-
orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya,
mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang
menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam
kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-

22
Marzuki, Pendidikan Karakter Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2015), Hal. 23-24
23
Ibid. Hal. 27
16

orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang


bertakwa.
Selain AlQur‘an, yang menjadi dasar atau sumber dari
karakter/akhlak ialah Sunnah Nabi Muhammad SAW. Pandangan ini
didasarkan atas pendapat ‗Aisyah Radhiyallahu ‗Anha ketika menafsirkan
akhlak Rasulullah SAW., yang tergambar dalam kata ―al khuluq al-
‗azhim‖ (Q.S. Al-Qalam: 4), yaitu Al-Qur‘an.
Dalam kisahnya tersebut, Aisyah R.a. ditanya oleh sahabat Sa‘ad
bin Hasyim bin Amir Radhiyallahu ‗anhu, ―Wahai ummul mukminin,
beritahukanlah tentang akhlak Rasulullah‖. Aisyah Radhiyallahu ‗anha
menjawab, ―Tidakkah kamu membaca Al-Qur‘an?‖ Sahabat itu menjawab,
―Tentu aku membacanya‖. Maka ‗Aisyah melanjutkan jawabannya,
―Sesungguhnya akhlak Rasulullah itu adalah Al-Qur‘an‖ Riwayat Muslim
tersebut dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam kitab Shalat, bahwa makna
kalimat ―Akhlak Rasulullah itu adalah Al-Qur‘an‖, adalah Rasulullah
mengamalkan Al-Qur‘an, patuh pada ketentuan-ketentuan-Nya, beradab
dengan Al-Qur‘an, mengambil I‘tibar dari perumpamaan dan kisah-kisah
di dalamnya, mentadabburi serta membacanya dengan baik. Lebih jauh
lagi, akhlak bagi seorang Muslim adalah melaksanakan perintah-perintah
Allah Swt., dan menjauhi larangan-Nya sesuai dengan yang diajarkan oleh
Rasulullah Saw,.24
3. Tujuan Pendidikan Karakter
Pada dasarnya, pendidikan karakter memiliki tujuan untuk
meningkatkan kualitas dan hasil pendidikan yang mengarah pada
pencapaian pembentukan karakter atau akhlak mulia peserta didik secara
utuh, terpadu dan seimbang sesuai standar kompetensi lulusan. Dengan
pendidikan karakter ini, diharapkan peserta didik mampu meningkatkan
dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi swerta

24
Ulil Amri Syafri, Op Cit. Hal 66
17

mempersonalisasi nilai-nilai karakter atau akhlak mulia secara


25
mandirisehingga tercermin dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, Pemerintah menyebutkan bahwa tujuan pendidikan ialah untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman
dan bertagwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap. kreatif, mandiri. dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggungjawab.26
Secara spesifik khususnya dalam setting sekolah, Dharma Kesuma
dkk. menjelaskan bahwa tujuan pendidikan karakter antara lain sebagai
berikut:27
1) Menguatkan dan mengembangkan nilai-nilai kehidupan yang dianggap
penting dan perlu, sehingga menjadi kepribadian yang kepemulikan
peserta didik yang khas sebagaimana nilai-ilai yang dikembangkan.
2) Mengoreksi perilaku peserta didik yang tidak berkesesuaian dengan
nilai-nilai yang dikembangkan oleh sekolah.
3) Membangun koneksi yang harmonis dengan keluarga dan masyarakat
dalam memerankan tanggungjawab pendidikan karakter secara
bersama.
Selain ketiga tujuan tersebut, terdapat pendapat lain yang
mengungkapkan beberapa tujuan pendidikan karakter. Berikut ini tujuan-
tujuan yang dimaksud, yakni:
1) Mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai
manusia dan warga negara yang memiliki nilai-nilai karakter bangsa.
2) Mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan
sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang
religius.

25
Ibid.,
26
Sita Acetylena, Pendidikan Karakter KI Hadjar Dewantara, (Malang: Madani, 2018),
[Link]
27
Dharma Kesuma dkk, Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di Sekolah,
(Bandung, PT Remaja Rosdakarya, 2011), Hal.9
18

3) Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggungjawab peserta didik


sebagai generasi penerus bangsa
4) Mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang
mandiri, kreatif, dan berwawasan kebangsaan.
5) Mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan
belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, dan
dengan rasa kebangsaan yang tinggi serta penuh kekuatan.28
4. Ruang Lingkup Pendidikan Karakter

Secara umum kualitas karakter dalam perspektif Islam dibagi


menjadi dua, yaitu karakter mulia (al-akhlaq al-mahmûdah) dan karakter
tercela (al- akhlâq al-madzmûmah). Dilihat dari ruang lingkupnya,
karakter Islam dibagi menjadi dua bagian, yaitu karakter terhadap khalik
(Allah SWT) dan karakter terhadap makhluk (selain Allah SWT ),
Karakter terhadap Allah SWT adalah sikap dan perilaku manusia dalam
melakukan berbagai aktivitas dalam rangka berhubungan dengan Allah
(hablun minallah), Sementara itu, karakter terhadap makhluk bisa dirinci
lagi menjadi beberapa macam, seperti karakter terhadap sesama manusia,
karakter terhadap makhluk hidup selain manusia (seperti tumbuhan dan
hewan), serta karakter terhadap benda mati (lingkungan dan alam
semesta).

a. Karakter pada Allah dan Rasullullah


Islam menjadikan akidah sebagai fondasi syariah dan akhlak,
Oleh karena itu, karakter yang mula-mula dibangun setiap muslim
adalah QS. ibrâhîm (14): 7), bertobat jika berbuat kesalahan (QS, An-
Nûr (24): 31 dan QS. At-Tahrîm (66): 8), ridha atas semua ketetapan
Allah (QS. Al- Bayyinah ‗(98): 8), dan berbaik sangka pada setiap
ketentuan Allah (QS. Ali-Imrân (3): 154). Selanjutnya, setiap muslim
juga dituntut untuk menjauhkan diri dan karakter tercela terhadap
Allah ;, seperti syirik (QS. Al-Mâidah (5): 72—73 dan QS. Al-

28
Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter (Jakarta: Kencana, 2013), Hal 18
19

Bayyinah. (98): 6), kufur (QS. An- Nisâ‟ (4): 136), dan melakukan
hal-hal yang bertentangan dengan karakter- karakter mulia terhadap
Allah SWT.29
Alquran banyak mengaitkan akhlak kepada Allah dengan
akhlak kepada Rasulullah. Jadi, seorang muslim yang berkarakter
mulia kepada sesama manusia harus memulainya dengan berkarakter
mulia kepada Rasulullah. Sebelum seorang muslim mencintai
sesamanya, bahkan mencintai diri sendiri, ia harus terlebih dahulu
mencintai Allah dan Rasulullah. Kualitas cinta kepada sesama tidak
boleh melebihi kualitas cinta kepada Allah dan Rasulullah (QS, At-
Taubah (9): 24). Karakter kepada Rasulullah yang lainnya adalah
menaati dan mengikuti sunnah beliau (QS. An-Nisâ‟ (4): 59) serta
mengucapkan shalawat dan salam kepada beliau (QS, Al-Ahzâb
(33): 56). Islam melarang mendustakan Rasulullah dan mengabaikan
sunnah-sunnah beliau.30

b. Karakter pada Diri Sendiri dan Keluarga


Islam juga mengajarkan kepada setiap muslim untuk
berkarakter mulia terhadap dirinya sendiri. Manusia yang telah
diciptakan dalam sibghah Allah (celupan yang berarti iman kepada
Allah) dan dalam potensi fitrahnya berkewajiban menjaganya dengan
cara memelihara kesucian lahir dan batin (QS. At-Taubah (9): 108),
memelihara kerapian (QS. Al-A‟râf (7): 31), menambah pengetahuan
sebagai modal amal (QS, Az-Zumar (39): 9), serta tidak berrnegah-
megahan (QS. At-Takâtsur (102): 1-3). Sebaliknya, Islam melarang
seseorang berbuat aniaya terhadap diri sendiri (QS. Al- Baqarah (2):
195), bunuh diri (QS. An-Nisâ‟ (4): 29—30), serta
mengonsumsi khamar dan suka berjudi (QS. Al-Mâ‟idah (5): 90-91).
Pertolongan kalau meminta, dikunjungi apabila sakit, dibantu jika
ada keperluan, jika jatuh miskin hendaknya dibantu, mendapat

29
Marzuki., Op. Cit., Hal. 33
30
Ibid.
20

ucapan selamat jika mendapat kemenangan, dihibur jika susah,


diantar jenazahnya jika meninggal dan tidak dibenarkan membangun
rumah lebih tinggi tanpa seizinnya, jangan susahkan dengan bau
masakannya, jika membeli buah hendaknya memberi atau jangan
diperlihatkan jika tidak memberi. (HR. Abu Syaikh)‖.31
c. Karakter pada Tetangga dan Masyarakat
Setelah selesai membina hubungan baik dengan tetangga, setiap
muslim juga harus membina hubungan baik di tengah masyarakat,
Dalam pergaulan di tengah masyarakat, setiap muslim harus dapat
berkarakter sesuai dengan status dan posisinya masing-masing.
Sebagai pemimpin, seorang muslim hendaknya memiliki karakter
mulia, seperti beriman, bertakwa, berilmu, berani, jujur, lapang dada,
penyantun (QS. Al „Imrân (3): 159), tekûn, sabar, dan melindungi
rakyat. Dan bekal sikap inilah pemimpin akan dapat melaksanakan
tugasnya dengan penuh tanggung jawab, memelihara amanah, adil
(QS. An-Nisâ‟ (4): 58), melayani dan melindungi rakyat (hadis
riwayat Muslim), dan memberikan pembelajaran kepada rakyat.
Sementara- itu sebagai rakyat, seorang muslim harus mematuhi
pemimpin (QS. An-Nisâ‟ (4): 59) serta memberi saran dan
nasihat kepada pemimpin (hadis riwayat Abu Dawud).
d. Karakter pada Lingkungan
Seorang muslim juga harus membangun karakter mulia di
lingkungannya. Lingkungan yang dimaksud adalah segala sesuatu
yang berada di sekitar manusia, yaitu hewan, tumbuhan, dan alam
sekitar (benda mati), Karakter yang dikembangkan adalah cerminan
dari tugas kekhalifahan manusia di bumi, yaitu menjaga agar setiap
proses pertumbuhan alam terus berjalan sesuai dengan fungsi ciptaan-
Nya. Dalam Surah Al-An‟âm (6): 38 dijelaskan bahwa hewan melata
dan burung-burung seperti manusia yang menurut Al-Qurthubi tidak
boleh dianiaya. Pada masa perang, apalagi ketika damai, islam

31
Ibid. Hal. 35
21

melarang tindak pengrusakan di muka bumi (QS. Al-Qashash (28):


77), baik terhadap hewan maupun tumbuhan, kecuali sesuai dengan
tujuan dan fungsi penciptaan (QS. Al- Hasyr (59): 5).32 Allah SWT
berfirman dalam Q.S. Al-Qashas : 77

             

               



Artinya: ―dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah


kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu
melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah
(kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu,
dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan‖.

5. Nilai dan Deskripsi Pendidikan Karakter


Dalam pendidikan karakter, ada beberapa nilai karakter yang harus
kita ketahui yaitu sebagai berikut.
Tabel 2.1
No Nilai Deskripsi
1 Religius Sikap dan perilaku yang patuh dalam
melaksanakan ajaran agama yang
dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan
ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan
pemeluk agama lain.
2 Jujur Perilaku nyang didasarkan pada upaya
menjadikan dirinya sebagai orang yang
selalu dapat dipercaya dalam perkataan,
tindakan dan pekerjaan.

32
Ibid.
22

3 Toleransi Sikap dan tindakan yang menghargai


perbedaan agama, suku etnis, pendapat,
sikap dan tindakan orang lain yang berbeda
dari dirinya.
4 Disiplin Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib
dan patuh pada berbagai ketentuan dan
peraturan.
5 Kerja Keras Perilaku yang menunjukkan uipaya
sungguh-sungguh dalam mengatasi
berbagai hambatan belajar dan tugas serta
menyelesaikan tugas dengan sebaik-
baiknya.
6 Kreatif Berpikir dan melakukan sesuatu untuk
menghasilkan cara atau hasil baru dari
sesuatu yang telah dimiliki.
7 Mandiri Sikap dan perilaku yang tidak mudah untuk
tergantung pada orang lain dalam
menyelesaikan tugas-tugas.
8 Demokratis Cara berpikir, bersikap dan bertindak yang
menilai sama hak dan kewajiban dirinya
dan orang lain.
9 Rasa Ingin Tahu Sikap dan tindakan yang selalu berupaya
untuk mengetahui lebih mendalam dan
meluas dari sesuatu yang dipelajarinya,
dilihat dan didengar.
10 Semangat Kebangsaan Cara berpikir, bertindak dan berawawasan
yang menempatkan kepentingan bangsa dan
negara di atas kepentingan diri dan
kelompoknya.
11 Cinta Tanah Air Cara berpikir, bersikap datn berbuat yang
23

menunjukkan kesetiaan, kepedulian dan


penghargaan yang tinggi terhadap bahasa,
lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi
dan politik bangsa.
12 Menghargai Prestasi Sikap dan tindakan yang mendorong
dirinya untuk menghasilkan sesuatu ynag
berguna bagi masyarakat dan mengakui
serta menghormati keberhasilan orang lain.
13 Bersahabat/Komunikatif Tindakan yang memperlihatkan rasa senang
berbicara, bergaul dan bekerja sama dengan
orang lain
14 Cinta Damai Sikap, perkataan dan tindakan yang
menyebabkan orang lain merasa senang dan
aman atas kehadiran dirinya.
15 Gemar Membaca Kebiasaan menyediakan waktu untuk
membaca berbagai bacaan yang
memberikan kebajikan bagi dirinya.
16 Peduli Lingkungan Sikap dan tindakan yang selalu berupaya
mencegah kerusakan pada lingkungan alam
di sekitarnya dan mengembangkan upaya-
upaya untuk memperbaiki keruskan alam
yang sudah terjadi.
17 Peduli Sosial Sikap dan tindakan yang selalu ingin
memberi bantuan pada orang lain dan
masyarakat yang membutuhkan.
18 Tanggung Jawab Sikap dan perilaku seseorang untuk
melaksanakan tugas dan kewajibannya,
yang seharusn ya dilakukan terhadap diri
sendiri, masyarakat dan lingkungan (alam,
sosial dan budaya), Negara dan Tuhan
24

Yang Maha Esa.33

6. Biografi penulis
a. Dr. Marzuki, M. Ag.
Nama lengkap penulis adalah Dr. Marzuki, [Link]. Ia lahir di
Banyuwangi, 23 April tahun 1966. Riwayat pendidikannya dimulai dari
Madrasah Ibtidaiyah Sraten, Cluring di Banyuwangi, Jawa Timur (tamat
1970). Madrasah Tsanawiyah Negeri Srono di Banyuwangi, Dana ng .
Jawa Timur (tamat 1982), Madrasah Aliyah Negeri ie: PLAN Jember,
Jawa Timur (tamat 1985): lalu melanjutkan studi di Fakultas Tarbiyali
IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Jurusan Bahasa Arab (tamat 1990).
Setaruat dari IAIN, ia menjadi dosen di IKIP Yogyakarta (sekarang
UNY) tahun 1992. Pada tahun 1993, ia melanjutkan studi Pascasarjana
(S2) di LAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta (sekarang UIN Syarif
Hidayatullah) lulus tahun 1997 dan studi S3 diselesaikan tahun 2007 dari
almamater yang sama.
Sejak tahun 1992 hingga sekarang penulis menjadi dosen tetap
Universitas Negeri Yogyakarta dan berkantor di Jurusan PKn dan
Hukum Fakulctas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta. Mata
kuliah pokok yang penulis ampu adalah Pendidikan Agama Islam. Mata
kuliah lain yang penulis ampu adalah Hukum Islam dan Moral Agama
(Jurusan PKn dan Hukum), Nilai dan Moralitas (Prodi PIPS
Pascasarjana UNY), serta beberapa maata kuliah kependidikan di
Universitas Terbuka (UT).
Selain mengajar, penulis juga aktif di kegiatan-kegiatan sosial
keagamaan, baik di kampus maupun di luar kampus. Hingga sekarang
(2014) penulis dipercaya menjadi Kepala Pusat Pendidikan Karakter dan
Pengembangan Kultur di Universitas Negeri Yogyakarta (sejak tahun
2011). Di luar UNY penulis dipercaya sebagai anggota Tim

33
Zubaedi, Op. Cit., Hal. 74
25

Pengembang Kurikulum Pusat di Direktorat PSMP Jakarta (sejak tahun


2004) dan anggota Dewan Hakim MTO Mahasiswa Nasional (sejak
tahun 1997).
Sekarang penulis bertempat tinggal di Perumahan Sambiroto
Asri Blok A-10 Purwomartani Kalasan, Sleman, Yogyakarta (Telp. 2274
4395746). Penulis beristrikan Sun Choirol Ummah, [Link]., [Link]. dan
berputra empat, yaitu Ali Abdul Wahid Wafi (lahir 1996), Almas
Nusrotul Milla (lahir 1997), Isma'il Raji Al-Farugi (lahir 2002), dan
Neyfa Khalisa Amaluna (lahir 2005). 34
Penulis menghasilkan beberapa artikel ilmiah yang dimuat di
berbagai jurnal ilmiah terutama dalam kajian-kajian keislaman. Di
samping itu, penulis juga menulis beberapa buku. Di antara buku yang
yang sudah diterbitkari antara lain:
1) Dienul Islam: Pendidikan Agama Islam: Perguruan Tinggi (sebagai
salah satu anggota Tim Penulis dan Tim Editor, diterbitkan oieh
UNY Press Yogyakarta, 2002, 2008, 2009)
2) Pendidikan Karakter Grand Design dan Nilai-Nilai Target (sebagai
salah satu anggota Tim Penulis diterbitkan oleh UNY Press
Yogyakarta, 2009).
3) Prinsip Dasar Akhlak Mulia: Pengantar Studi Konsep-Konsep Dasar
Etika dalam Islam (diterhitkan oleh Debut Wahana Press
bekerjasama dengan FISE UNY Yogyakart2, 2009).
4) Pendidikan Karakter dengan Pendekatan Komprehensif yang
Terintegrasi dalam Perkuliahan dan Pengembangan Kultur
Universitas (sebagai salah satu Tim Penulis, diterbitkan oleh UNY
Press Yogyakarta, 2010).
5) Pendidikan Karakter dalam Perspektif Teori dan Praktik (sebagai
salah satu anggota Tim Penuris diterbitkan oleh UNY Press
Yogyakarta, 2011).

34
Marzuki., Op. Cit. Hal. 183
26

6) Pembinaan Karakter Mahasiswa melalui Pendidikan Agama Islam di


Perguruan Tinggi Umum (diterbitkan oleh Penerbit Ombak
Yogyakarta, 2012).
7) Pengantar Studi Hukum Islam Prinsip Dasar Memahami Berbagai
Konsep dan Permasalahan Hukum Islam di Indonesia (diterbitkan
oleh Penerbit Ombak, Yogyakarta, 2013).
Di samping aktif menulis, penulis juga aktif melakukan penelitian.35
b. Abdul Majid dan Dian Andayani
1) Abdul Majid
Abdul Majid selain menjadi seorang suami dari Dian Andayani
beliau adalah seorang praktisi pendidikan di Indonesia. Beliau ikut
serta berkontribusi dalam memperhatikan pendidikan di Indonesia
lebih khusus terhadap pendidikan Agama Islam. Terbukti dari
beberapa karyanya yang telah dipublikasikan tentang pendidikan
Agama Islam yang beliau tulis, diantaranya adalah buku Pendidikan
Agama Islam Berbasis Kompetensi (KBK PAI) (2004), Pembelajaran
Kontekstual Pendidikan Agama Islam (2005), Perencanan
Pembelajaran (2005), Pemberdayaan Madrasah Berdasarkan Standar
Nasional Pendidikan, Manajemen Alam: Sumber Pendidikan Nilai
serta buku Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam. Selain itu
beliau juga aktif dalam dunia tulis menulis, tercatat beberapa karya
tulisnya seperti artikel dimuat media massa. Beliau juga aktif dalam
berbagai penelitian diantaranya satuan pendidikan dan profil lembaga
sosial keagamaan (Litbang Depag).36 Buku pendidikan karakter ini
beliau tulis bersama istri tercinta yakni Dian Andayani pada saat
menjelang detik-detik terakhir sang istri ada di dunia karena melawan
ganansnya kanker ovarium yang dideritanya.37

35
Ibid. Hal.184
36
Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran, (Bandung: PT. Rosda Karya, 2009), Hal.
291.
37
Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam, (Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya, 2011), Hal. iii
27

Terlahir di kabupaten Ciamis dari pasangan H. Dija dan Hj.


Mamah (almrh) pada tanggal 10 Januari 1975, beliau merupakan anak
kelima dari enam bersaudara. Pendidikan dasar dan menengahnya
beliau tempuh di tanah kelahiran yakni di Cigugur kabupaten Ciamis.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya beliau
kemudian berhijrah ke kota kembang untuk melanjutkan pendidikan
tingginya. IAIN Sunan Gunung Djati Bandung menjadi pilihan hatinya
untuk mendapatkan gelar S1 (1999), di institusi tersebut beliau
melanjutkan pendidikannya dengan mengambil jurusan Pendidikan
Agama Islam dan berhasil meraih sarjana dari jurusan tersebut. Beliau
termasuk orang yang suka bergelut dengan ilmu, tidak heran jika
beliau mempunyai banyak karya-karya tentang pendidikan Islam.

Setelah mendapatkan gelar S1 beliau belum puas dengan apa


yang telah diraihnya, sehingga memutuskan untuk melanjutkan
pendidikan S2. Beliau tidak melanjutkan ke instansi yang sama
melainkan beliau hijrah ke Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)
Bandung untuk melanjutkan pendidikan serta untuk meraih gelar S2
nya. Beda instansi beda pula jurusan yang diambil, di Universitas
Pendidikan Indonesia jurusan (UPI Bandung) Pengembangan
Kurikulumlah yang menjadi pilihan beliau untuk menambah wawasan
serta pengetahuannya tentang dunia pendidikan. Gelar S2 berhasil
beliau raih dari jurusan tersebut (2005).

Pada tahun 2011 beliau kembali menempuh pendidikan


formalnya untuk mendapatkan gelar S3. Berbeda dengan biasanya kini
beliau menekuni jurusan dan instansi yang sama untuk melanjutkan
jenjang pendidikannya. Abdul Majid termasuk orang yang tak kenal
lelah untuk mencari ilmu, karena disela-sela kesibukan beliau
menempuh pendidikan formalnya beliau masih menyempatkan diri
untuk mengikuti berbagai kursus dan pelatihan dalam berbagai bidang.
28

Bahkan pada awal tahun 2011 beliau mendapatkan kesempatan untuk


melakukan studi visit ke Universitas Ankara - Turky.38

Pengalaman kerjanya di mulai dengan mengajar di Pusat Kegiatan


Belajar Masyarakat (PKBM), kemudian berlanjut ke Sekolah
Menengah Pertama Negeri (SMPN) 50 Bandung dan kemudian
mengabdikan diri pada almamaternya, yakni Fakultas Sain dan
Teknologi di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung.
2) Dian Andayani

Dian Andayani seorang perempuan muslim berparas cantik dan


berkacamata yang terlahir di kota Cirebon pada tanggal 11 Oktober
1976. Terlahir dari pasangan H. Apendi Subki dan Hj. Nurlaela.
Merupakan istri dari seorang pemerhati pendidikan di Indonesia yakni
Abdul Majid, penulis buku Pendidikan Karakter Perspektif Islam.

Beliau menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya di


tanah kelahirannya yakni Cirebon. Setelah menyelesaikan pendidikan
dasar dan menengahnya beliau kemudian melanjutkan pendidikan S1.
Jika sang suami Abdul Majid mengambil jurusan PAI untuk
mendapatkan gelar S1 berbeda dengan Dian Andayani. Beliau memilih
jurusan Kurikulum dan Teknologi di FIP Universitas Pendidikan
Indonesia (UPI) Bandung untuk mendapatkan gelar S1 nya pada tahun
2001. Masih pada instansi yang sama beliau melanjutkan pendidikan
S2 dengan mengambil jurusan Pengembangan Kurikulum. Jurusan
yang sama dengan suaminya yakni Abdul Majid.

Sekolah Dasar Negeri Embong merupakan tempat pertama


beliau menggeluti dunia kerjanya, dan menjabat sebagai guru Bahasa
Inggris. Kemudian sejak tahun 2006 beliau diangkat sebagai dosen
tetap di almamaternya yakni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)
Bandung, pada jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan. Sama

38
Ibid. Hal. 223-224
29

halnya dengan sang suami beliau termasuk penggiat pendidikan yang


terbilang penuh semangat. Meskipun sibuk dengan aktivitasnya
sebagai dosen, beliau tetap menyempatkan diri mengikuti beberapa
pelatihan dan penelitian. Tercatat sebagai peserta maupun sebagai
penyaji.39

Bersama suami beliau berhasil membuat beberapa karya


diantaranya Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi (KBK PAI)
dan buku Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam. Buku yang
terakhir beliau tulis bersama suami disela-sela beliau terbaring di
rumah sakit untuk melawan kangker ovarium yang dideritanya, hingga
beliau menghembuskan nafas terakhirnya

B. Kajian Penelitian terdahulu


Penelitian naskah tidak hanya dilakukan oleh penyusun seperti hal
yang akan dikaji. Penelitian naskah yang cenderung menggunakan metode
deskriptif sering menggunakan sumber buku, laporan, makalah, artikel
sebagai sumber primer atau sekunder. Pengkajian atau analisa sebuah novel
maupun buku sudah pernah dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa
sebelumnya. Ada yang mengkaji tentang nilai-nilai dalam sebuah novel,
mengkaji tentang biografi seorang tokoh terkenal, nilai pendidikan, kajian
tafsir dan lain sebagainya.
Beberapa karya yang telah membahas mengenai pendidikan
karakter antara lain sebagai berikut :
1. Indah Kurnia dalam skripsinya yang berjudul Konsep Pendidikan
Karakter Menurut K.H. Ahmad Dahlan dimana dalam pembahasannya
menjelaskan Dari Konsep K.H. Ahmad Dahlan bahwa nilai toleransi
kerjasama dalam berorganisasi, berdakwah dan mengajarkan Islam tidak
anti terhadap non-Muslim. Selain itu juga nilai peduli sosial dimana K.H.

39
Ibid. Hal. 224
30

Ahmad Dahlan sangat peduli terhadap orang yang tidak mampu dengan
berpedoman pada Q.S. Al-Maa‘uun.40
2. M. Sofyan al-Nashr dalam skripsinya Pendidikan karakter berbasis
kearifanlokal telaah pemikiran KH. Abdurrahman Wahid menunjukkan
bahwa penanaman nilai-nilai moral khas Indonesia dapat dilakukan
melalui pendidikan, maka kearifan lokal (tradisi dan ajaran agama Islam)
harus dijadikan ruh dalam proses pendidikan tersebut. Dan representasi
dari pendidikan karakter berbasis kearifan lokal terdapat dalam pesantren
(yang oleh Gus Dur dikatakan sebagai subkultur kehidupan masyarakat),
sebuah model pendidikan yang dianggap kolot,jadul dan ketinggalan
zaman. Akan tetapi, nilai-nilai pesantren.
Berbeda dengan penelitian yang telah ada sebelumya yang cenderung
membahas pendidikan karakter menurut tokoh, maka penelitian ini
membahas tentang bagaimana pendidikan karakter dalam perspektif
Islam, dimana penelitian ini dikhususkan pada nilai pendidikan karakter
dalam Buku Pendidikan Karakter Islam Karya Marzuki dan Buku
Pendidikan Karakter Perspektif Islam Karya Abdul Majid dan Dian
Andyani

C. Kerangka Teoritik

Pendidikan Karakter

40 Pendidikan Karakter
Indah Kurnia, ―Konsep Pendidikan Karakter Menurut [Link] Ahmad Dahlan”,
(Skripsi, Fakultas Tarbiyah dan Tadris, IAIN Bengkulu, 2019)
31

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library reseach),yaitu
suatu usaha untuk memperoleh data dengan menggunakan
sumberkepustakaan (buku-buku sebagai produk ulama).41 Dalam arti
lain,meneliti buku-buku yang berkaitan dengan pembahasan skripsi
[Link] demikian data yang diperoleh dari hasil literer dideskripsikan
apaadanya kemudian dianalisis.
Literatur yang diteliti dalam penelitian kepustakaan tidak hanya
terbatas pada buku-buku, melainkan bisa juga berupa bahan-bahan
dokumentasi, majalah, jurnal dan surat kabar. Dalam penelitian
kepustakaan penekananan penelitiannya ialah ingin menemukan berbagai
teori, hukum, dalil, prinsip, pendapat, gagasan dan lain-lain yang dapat
digunakan untuk menganalisis dan memecahkan masalah yang diteliti.42
Dalam penelitian ini, peneliti akan meneliti buku-buku yang
berkaitan dengan buku-buku pembahasan pendidikan karakter dalam
perspektif Islam.
B. Data dan Sumber Data
Data adalah keterangan atau bahan nyata yang dapat dijadikan dasar
kajian analisis atau kesimpulan. Sumber data merupakan subjek dari mana
data didapatkan. Penelitian ini menggunakan dua sumber data untuk
mengumpulkan data-data yakni sumber data primer dan sumber data
sekunder. Adapun sumber data tersebut adalah:
1. Sumber Data Primer
Sumber data primer adalah sumber data autentik atau data langsung
dari tulisan-tulisan orang tentang permasalahan yang akan di ungkapkan

41
Mestika Zed, Metode Penelitian Kepustakaan, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia,
2004), Hal 1-2.
42
Fakultas Tarbiyah dan Tadris Institut Agama Islam Negeri Bengkulu (FTT IAIN
Bengkulu), Pedoman Penulisan Skripsi (Bengkulu: Fakultas Tarbiyah dan Tadris IAIN Bengkulu,
2015), Hal.14.

32
33

secara sederhana bahwa data ini merupakan data asli.43Dalam hal ini
sumberutamanya antara lain:
a) Buku Pendidikan Karakter Islam Karya Marzuki
b) Buku Pendidikan Karakter Perspektif Islam Karya Abdul Majid dan
Dian Andayani.
2. Sumber Data Sekunder
Sumber data sekunder yaitu data yang diperoleh dari sumberyang
bukan sumber utama.44Disini penulis mengambilrujukan dari buku, jurnal
atau karya ilmiah yang isinya dapat melengkapi sumber data primer. Di
antaranya:
1) Buku Pendidikan Karakter: Landasan, Pilar dan Implementasi Karya
Muhammad Yaumi.
2) Buku Desain Pendidikan Karakter karya Zubaedi.
3) Buku Al-Hadis: Aqidah, Akhlaq, Sosial dan Hukum karya Rachmat Syafe‘i.
4) Buku Sebuah Biografi Akhlak dari manusia terbaik karya Asep Maulana
5) Buku [Link] Shihab karya Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian
Al-Qur‘an.
6) Buku Nilai Karakter: Refleksi untuk Pendidikan Karya Mohammad Mustar.
7) Metode Pendidikan Islam‖, Jurnal Intelegensia – Vol. 02 No. karya Subaidi
C. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh penulis gunakan
dalampenelitian ini menggunakan metodedokumentasi. Metode
dokumentasi yaitu untuk mencaridan mengumpulkan data melalui
penelusuran dan penelaahan terhadapsumber-sumber data yang telah
disebutkan di atas, baik data primermaupun data sekunder (buku-buku,
majalah, jurnal dan lainsebagainya).

43
Neni Afriyanti, Kesetaraan Gender Dalam Tulisan R.A. Kartini Perspektif Pendidikan
Islam, Skripsi, (Bengkulu : IAIN Bengkulu, 2019), Hal 40.
44
Tatang M. Arifin, Menyusun Rencana Penelitian, (Jakarta: Raja Grafindo Persada,
1995), Hal 133.
34

D. Teknik Keabsahan Data


Teknik keabsahan data yakni membuat model validasi dan
reliabilitas data penelitian yang digunakan. Adapun pengujian validatas dan
reliabilitas dalam penelitian kualitatif meliputi:
1. Uji kredibilitas (validitas internal)
Pengujian kredibilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan cara
menggunakan bahan referensi. Yang dimaksud dengan bahan referensi
disini adalah pendukung untuk membuktikan data yang telah ditentukan
oleh peneliti. Yakni data primer yang telah ditentukan oleh peneliti
didukung oleh data-data sekunder untuk memperkuat tingkat kredibilitas
(kepercayaan).
2. Pengujian transferability (validitas external)
Pengujian transferability dalam penelitian ini dilakukan dengan
cara menyesuaikan antara data-data dan dalil yang kuat, yaitu ayat-ayat
Al-Qur‘an dan riwayat-riwayat hadits yang shahih, serta referensi-
referensi yang terpecaya.
3. Pengujian dependability (reliabilitas)
Pengujian depenability dalam penelitian ini dilakukan dengan cara
melakukan audit terhadap keseluruhan proses penelitian. Caranya
dilakukan oleh auditor yang independen, atau pembimbing untuk
mengaudit keseluruhan aktifitas peneliti dalam melakukan penelitian.
E. Teknik Analisis Data
Setelah data-data terkumpul kemudian penulis analisis.
Dalammenganalisis data, penulis menggunakan metode deskriptif dan
metodeanalisis isi yaitu:
1. Metode Deskriptif
Metode Deskriptif merupakan pemaparan gambaran mengenai
hal yang diteliti dalam bentuk uraian naratif. Metode inidigunakan untuk
mendeskripsikan Pendidikan dalam perspektif Islam terkhususnya Nilai-
Nilai Pendidikan Karakter dan Pembinaan Pendidikan Karakter dalam
35

buku Pendidikan Karakter Islam karya Marzuki dan buku Pendidikan


Karakter Perspektif Islam karya Abdul Majid dan Dian Andayani‖.
2. Metode Content Analysis
Untuk menganalisis data, penelitian ini menggunakan analisisisi
(content analysis). Content analysis merupakan teknik penelitian yang
ditujukan untuk membuat kesimpulan dengan cara mengidentifikasi isi
pesan pada suatu buku.45 Adapun langkah- langkah strategis dalam
penelitian analisis isi, sebagai berikut:
Pertama, Penetapan desain atau model penelitian. Disini
ditetapkan beberapa media, analisis perbandingan atau korelasi,
objeknya banyak atau sedikit dan sebagainnya.
Kedua, pencarian data pokok atau data primer, yaitu teks sendiri.
Sebagai analisis isi, teks merupakan objek yang pokok, bahkan
terpokok. Pencarian dapat dilakukan dengan menggunakan lembar
formulir pengamatan tertentu yang sengaja dibuat untuk keperluan
pencarian data tersebut.
Ketiga, pencarian pengetahuan kontekstual agar penelitian yang
dilakukan tidak berada diruang hampa, tetapi terlihat kait-mengait
dengan faktor- faktor lain.46

45
Stefan Titscher dkk., Metode Analisis Teks & Wacana, Terj. Gazali, dkk., (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2009), Hal 97.
46
Afifudin, [Link], Metodeologi Penelitian Kualitatif, (Pustaka Setia: Bandung,2012),
Hal.168
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Hasil Penelitian
Pendidikan karakter merupakan hal yang sangat penting bagi manusia.
Pendidikan merupakan upaya untuk mengubah manusia dari yang tidak
memiliki karakter menjadi manusia yang [Link] karakter
merupakan penanaman nila-nilai kepada peserta didik agar
memiliki karakter yang [Link] karakter dalam ajaran/perspektif
Islam sudah dikenal sejak 15 abad yang lalu. Bahkan pendidikan karakter
merupakan misi utama yang menjadi amanah Rasulullah saw. Hal tersebut
sebagaimana bunyi sebuah hadist:
ْ ‫اِنَّ َما بُ ِع ْثتُ ِِلُتَ ِّم َم َم َكار َم ْاْلَ ْخ ََل‬
‫ق‬
―Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak‖. (HR.
Bukhari)
Menurut prof. Suyanto, ph.D, (Dirjen Dikdasmen Kemendikbud)
pendidikan karakter adalah pendidikan berbudi pekerti plus, yaitu yang
melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan
(action). Landasan dilaksanakannya pendidikan karakter oleh pemerintah
adalah pasal 1 UU Sisdiknas tahun 2003 yang menyatakan bahwa diantara
tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik
untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia. Amanah UU
Sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk
insan Indonesia yang cerdas namun juga berkepribadian atau berkarakter,
sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh dan berkembang
deng karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama.
Terdapat sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur
universal yaitu: 1) Karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya 2)
Kemandirian dan tanggung jawab 3) Kejujuran/amanah, diplomatis 4)
Hormat dan santun 5) Dermawan suka menolong dan kerjasama 6) Percaya

36
37

diri dan pekerja keras 7) Kepemimpinan dan keadilan 8) Baik dan rendah hati
9) Karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan.
Dalam pendidikan karakter, ada beberapa nilai karakter yang
harus kita ketahui yaitu sebagai berikut.
Tabel 4.1
No Nilai Deskripsi
1 Religius Sikap dan perilaku yang patuh dalam
melaksanakan ajaran agama yang
dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan
ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan
pemeluk agama lain.
2 Jujur Perilaku nyang didasarkan pada upaya
menjadikan dirinya sebagai orang yang
selalu dapat dipercaya dalam perkataan,
tindakan dan pekerjaan.
3 Toleransi Sikap dan tindakan yang menghargai
perbedaan agama, suku etnis, pendapat,
sikap dan tindakan orang lain yang berbeda
dari dirinya.
4 Disiplin Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib
dan patuh pada berbagai ketentuan dan
peraturan.
5 Kerja Keras Perilaku yang menunjukkan uipaya
sungguh-sungguh dalam mengatasi
berbagai hambatan belajar dan tugas serta
menyelesaikan tugas dengan sebaik-
baiknya.
6 Kreatif Berpikir dan melakukan sesuatu untuk
menghasilkan cara atau hasil baru dari
sesuatu yang telah dimiliki.
7 Mandiri Sikap dan perilaku yang tidak mudah untuk
tergantung pada orang lain dalam
menyelesaikan tugas-tugas.
8 Demokratis Cara berpikir, bersikap dan bertindak yang
menilai sama hak dan kewajiban dirinya
dan orang lain.
9 Rasa Ingin Tahu Sikap dan tindakan yang selalu berupaya
untuk mengetahui lebih mendalam dan
38

meluas dari sesuatu yang dipelajarinya,


dilihat dan didengar.
10 Semangat Kebangsaan Cara berpikir, bertindak dan berawawasan
yang menempatkan kepentingan bangsa dan
negara di atas kepentingan diri dan
kelompoknya.
11 Cinta Tanah Air Cara berpikir, bersikap datn berbuat yang
menunjukkan kesetiaan, kepedulian dan
penghargaan yang tinggi terhadap bahasa,
lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi
dan politik bangsa.
12 Menghargai Prestasi Sikap dan tindakan yang mendorong
dirinya untuk menghasilkan sesuatu ynag
berguna bagi masyarakat dan mengakui
serta menghormati keberhasilan orang lain.
13 Bersahabat/Komunikatif Tindakan yang memperlihatkan rasa senang
berbicara, bergaul dan bekerja sama dengan
orang lain
14 Cinta Damai Sikap, perkataan dan tindakan yang
menyebabkan orang lain merasa senang dan
aman atas kehadiran dirinya.
15 Gemar Membaca Kebiasaan menyediakan waktu untuk
membaca berbagai bacaan yang
memberikan kebajikan bagi dirinya.
16 Peduli Lingkungan Sikap dan tindakan yang selalu berupaya
mencegah kerusakan pada lingkungan alam
di sekitarnya dan mengembangkan upaya-
upaya untuk memperbaiki keruskan alam
yang sudah terjadi.
17 Peduli Sosial Sikap dan tindakan yang selalu ingin
memberi bantuan pada orang lain dan
masyarakat yang membutuhkan.
18 Tanggung Jawab Sikap dan perilaku seseorang untuk
melaksanakan tugas dan kewajibannya,
yang seharusnya dilakukan terhadap diri
sendiri, masyarakat dan lingkungan (alam,
sosial dan budaya), Negara dan Tuhan
Yang Maha Esa.47

47
Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter (Jakarta: Kencana, 2013), Hal 74
39

Untuk membentuk karakter yang mulia maka diperlukan pemahaman


bagaimana seharusnya pelaksanaan pendidikan karakter. Oleh karena itu,
pada penelitian inki akan dibahas Nilai pendidikan karakter dalam perspektif
Islam menurut Buku Pendidikan Karakter Islam karya Dr. Marzuki, M. A.
dan buku Pendidikan Karakter Perspektif Islam Karya Abdul Majid dan Dian
Andayani.
Berikut akan diuraikan hasil penelitian tentang pendidikan karakter
yang terdapat dalam kedua buku tersebut.
1. Nilai Pendidikan Karakter Religius, Jujur, Disiplin, Toleransi, Peduli
Sosial, Peduli Lingkungan dalam perspektif Islam menurut buku
Pendidikan Karakter Islam karya Dr. Marzuki, M.A.
Pendidikan karakter tidak sekedar mengajarkan mana yang benar
dan mana yang salah kepada anak, tetapi lebih dari itu pendidikan karakter
menanamkank ebiasaan (habituation) tentang yang baik sehingga peserta
didik paham, mampu merasakan, dan mau melakukan yang baik. Dengan
demikian, pendidikan karaktermembawa misi yang sama dengan
pendidikan akhlak atau pendidikan moral.
Dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter merupakan usaha yang
dilakukan dalam menanamkan nilai-nilai karakter mulia dengan
memberikan pemahaman dan contoh yang sesuai dengan nilai-nilai karakter
Islam.
Adapun nilai pendidikan karakter yang penulis temui pada buku ini,
antara lain:
a. Religius
Religius ialah sikap dan perilaku yang menunjukkan patuh
dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap
pelaksanaan agama yang lain, serta hidup rukun dengan pemeluk agama
lain48. Karakter religius merupakan karkter terhadap Alah SWT.,
dimana sikap dan perilaku manusia dalam mealkukan aktifitas dalam
rangka berhubungan dengan Allah Swt,. Dalam buku ini, disebutkan

48
Ibid
40

bahwa kkarakter religius ditunjukkan dengan perilaku taat kepada Allah


Swt., yaitu selalu patuh terhadap perintah-Nya dan senantiasa menjauhi
segala yang dilarang.49 Adapun sikap sebagai manusia yang taat kepada
Allah SWT., ialah melaksanakan setiap perintah Allah SWT dengan
penuh keikhlasan seperti mendiidrikan sholat, puasa, membayar zakat
dan mneinggalkan semua yang dilarang seperti berbuat syirk, mencuri
serta minum khamar dan lain-lain.
Seseorang yang beriman kepada Allah secara benar, ia juga
akan selalu mengingat Allah dan mengikuti seluruh perintah-Nya serta
menjauhi laarangan-Nya yang dimana hal itu disebut dengan takwa.50
Islam menjadikan takwa sebagai karakter tertinggi yang harus dimiliki
oleh setiap muslim. Yang dimaksud takwa dalam hal ini ialah takwa
yang seutuhnya dan tidak setengah-setengah. Dalam satu ayat Al-
Qur‘an Allah menuntut orang-orang yang beriman agar bertakwa
kepada-Nya dengan takwa sebenarnya. Hal tersebut Allah jelaskan
dalam firman-Nya Q.S. Ali-Imran: 10251

            
Artinya: ―Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah
sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati
melainkan dalam Keadaan beragama Islam‖.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa Marzuki


menekankan sikap religius ialah perilakuyang senantiasa beriman dan
bertaqwa dimana manusia harus selalu menjalankan setiap perintah
yang bersumber dari Al-Qur‘an dan Sunnah Rasul dan juga menjauhi
larangan Allah dan bertakwa dengna sepenuh hati dan secara benar
tanpa adanya keraguan. Marzuki menekankan karakter religius kepada

49
Marzuki., Op. Cit. Hal. 98
50
Ibid, 24
51
Ibid. Hal.132
41

hubungan terhadap Tuhan yang berlanjut untuk senantiasa mentaati


Sunnah Rasulullah SAW.
b. Jujur
Peserta didik diperintahkan untuk selalu bersikap jujur dalam
kehidupan sehari-hari baik di rumah, sekolah maupun di lingkugan
sosial lainnya. Jujur itu sendiri ialah perilaku yang didasarkan pada
upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya
dalam perkataan, tindakan dan pekerjaan. Marzuki menyebutkan jujur
merupakan karakter sikap yang senantiasa menyampaikan segala
sesuatu dengan apa adanya secara terbuka dan sesuai dengan hati
nurani.52 Jujur merupakan karakter yang bersumber dari olah hati. Olah
hati sendiri terkait dengan perasaan, sikap sert6a keyakinan atau
keimanan yang menjadi penyangga atau fondasi dalam membangun
karakter.53 Di dalam buku Pendidikan Karakter Islam karya Marzuki
disebtukan bahwa sikap yang menunjukkan karakter jujur ialah selallu
mengatakan serta berbuat seusatu apa adanya tanpa ada yang dibuat-
buat, selalu mengatakan yang benar adalah benar dan tidak
membenarkan yang salah dan selalu mengatakan yang salah adalah
salah dan tidak menyalahkan yang benar. Dalam Islam, sikap jujur itu
sendiri terdapat dalam diri Rasulullaah SAW., Lawan dari jujur ialah
berkata dusta. Berkata dusta merupakn sikap yang sangat dilarang
dalam Islam termasuk dalam dosa besar bahkan lebih besar dari syirik
kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.. Hal ini ditegaskan
dalam hadits Rasulullah Saw., yang berbunyi:
‫ول‬
ُ َ‫ال ق‬ َ ‫س َو ُع ُق ْو ُق الْ َوالِ َديْ ِن فَ َق‬
َ َ‫ال أَِلَ أُنَبِّئُ ُك ْم بِاَ ْك ََِب الْ َكبَا ئِِر ق‬ ِ ‫ال الش ِّْرُك بِاهللِ َوقَ ْتل النم ْف‬
ُ َ ‫ُسئِ َل َع ِن الْ َكبَا ئَِر فَ َق‬
‫الزْور‬ َ َ‫الزوِر اَْو ق‬
ُّ ُ‫ال َش َه َادة‬ ُّ
Artinya:
―Nabi ditanya tentang dosa-dosa besar. Nabi SAW., lalu menjawab,
:syirik kepada Allah, membunuh, dan berani kepada kedua orag tua.‖

52
Ibid. Hal. 99
53
Ibid. Hal. 103
42

Nabi lalu bertanya, ―Maukah kalian aku beri tahu dosa ynag lebih
besar?‖ Sahabat (Anas bin Malik) lalu menjawab, ―Berkata dusta atau
saksi palsu‖. (H.R. Bukhori dan Muslim)54
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa jujur bukan hnaya
selalu benar dalam berkata melainkan juga benar dalam perkataan
melainkan juga benar dalam keyakinan hati dan benar dalam melakukan
sesuatu. Berkata dan berbuat dengan apa adanya tanpa ada yang dibuat-
buat. Marzuki mengaskan pentingnya bersikap jujur dengan
menekankan lawan dari jujur yaitu dusta dimana berkata dusta
merupakan salah satu dosa besar sebagimana dalam hadits yang
diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim. Berkata dusta menunjukan
tidak adanya keseuaian antara perkatan dan perbuatan.
c. Disiplin
Disiplin ialah sikap dan perilaku yang menunjukkan sikap
yang taat terhadap pearturan atau tata tertib.55Dalam buku Pendidikan
Karakter Islam karya Marzuki disebutkan bahwa sikap disiplin
ditunjukkan dengan selalu datang tepat waktu yang berarti kita telah
menghrgai waktu dengan baik dan tidak menyia-nyiakan waktu dan taat
pada aturan sekolah. Dengan taat pada aturan yang berlaku maka akan
menjadi suasana sekolah menjadi damai. Sedangkan dalam Islam
sendiri sikap disiplin ditunjukkan dengan melaksanakan sholat tepat
pada waktunya.56 Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa Allah sangat
menyukai orang yang sholat tepat pada waktunya:

‫ سألت النبي صلى اهلل عليه وسلم أي العمل أحب إلى اهلل؟‬:‫عن عبد اهلل بن مسعود رضي اهلل عنه قال‬
‫ “الجهاد في سبيل‬:‫ ثم أي؟ قال‬:‫ قلت‬,”‫ “بر الوالدين‬:‫ ثم أي؟ قال‬:‫ قلت‬,”‫ “الصالة على وقتها‬:‫قال‬
”,‫اهلل‬

54
Ibid. hal 82
55
Ibid. Hal. 99
56
Ibid. Hal.104
43

Dari Abdullah Ibnu Mas'ud Rhadiyallallu anhu berkata, 'Aku bertanya


kepada Nabi Muhammad ‫ﷺ‬tentang amalan apakah yang paling
disukai oleh Allah Ta'ala? Beliau menjawab, "Sholat pada waktunya."
Kemudian apa? Beliau menjawab, "Berbuat baik kepada kedua
orangtua". Kemudian apa? Beliau menjawab, "Jihad fi sabilillah." (HR
Bukhari dan Muslim).
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
disiplin yang ditekankan marzuki ialah taat kepada aturan Allah yaitu
dalam pelaksanaan sholat dimana merupakan bukti taat terhadap Allah
dan Rasul.
d. Toleransi
Toleransi secara bahasa berasal dari bahasa Latin, yaitu tolerare
yang berarti bertahan atau memikul. Adapun kata sifat dari toleransi
adalah toleran. Toleran berarti bersifat atau bersikap menenggang
(menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat,
pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan dan sebagainya) yang
berbeda dan betentangan dengan pendirian sendiri. Dengan kata lain,
toleransi adala sikap lapang dada terhadap prinsip orang lain. Toleransi
menrujuk pada adanya suatu kerelaan untuk menerima kenyataan
adanya perbedaan dengan orang lain. Toleransi bukan berarti seseorang
harus merngorbankan kepercayaan atau prinsip yang dianutnya.
Dalam buku Pendidikan Karakter Islam karya Marzuki,
disebutkan bahwa toleransi sering dihubungkan dengan kehidupan
beragama sehingga sering didemgar istilah toleransi beragama atau
toleransi antar umat beragama. Sikap toleransi dalam kehidupan
beragama dapat diartikan bahwa pemeluk suatu agama harus
membiarkan agama lainnya untuk menjalankan yang dituntut
agamanya. Misalnya, ketika umat Islam sedang menunaikan kewajiban
44

ibdaha sholat di masjid, maka umat agama lain tidak mengganggunya


dan begitu pun sebaliknya.57
Manusia yang memiliki sifat tolerenasi tentu tidak memaksa
orang lain untuk memeluk agama yang mereka anut karena memeluk
suatu agama merupakan hak yang paling asasi bagi setiap manusia
sehingga tidak bisa dipaksakan.
Dalam kehidupan sehari-hari, Nabi SAW., benar-benar
menerapkan sikap toleransi baik kepada sesama muslim maupun
terhadap penganut agama lain. Dari praktik toleransi yang dilakukan
beliau dipahami bahwa untuk terwujudnya kesejahteraan dan
kedamaian umat Islam dan umat agama lainnya harus saling
menghargai, menghormati serta saling bekerja sama dalam urusan
dunia. Sedangkan dalam urusan akidah atau keyakinan, umat Islam
dilarang untuk melkaukan tukar menukar akidah atau ibadah.58
Sikap toleransi dan tetap berbuat yang baik terhadap perbedaan
agama dalam Q.S. Al-Mumtahanah: 8 yang berbunyi:

             

        


―Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap
orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula)
mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-
orang yang Berlaku adil‖(Q.S. Al-Mumtahanah: 8)
Dari ayat diatas dengan jelas Allah memerintahkan untuk bersikap
toleransi terhadap yang berbeda agama dengan tidak memerangya.
Selain toleransi terhadap perbedaan agama, sikap saling menghargai
dan menghormati juga dilakukan kepada sesama muslim lainnya seperti
tetangga, guru, teman dan orang di lingkungannya. Islam memberikan

57
Ibid. Hal.151
58
Ibid. Hal. 80
45

ajaran bagaimana seharusnya seorang muslim lainnya, sebagaimana Hadits


Rasulullah Saw.,
Jadi, berdasarkan uraian diatas Marzuki berpendapat bahwa karakter
tolerasni melipti sikap saling menghomati dan menghargai perbedan
agama baik dalam hall ibadah, selain itu tetap bekerja sama meski berbed
agama tetapi dalam urusan dan tidak dalam urusan keyakinan, selain itu
juga menghormati tetanggaa.
e. Peduli Lingkungan
Peduli lingkungan merupakan suatu sikap dimana seseorang selalu
menjaga lingkungan sekitar serta tidak merusak lingkungan. Seseorang
dikatakan peduli akan lingkungan apabila seseorang itu menjaga
lingkungannya agar tetap bersih dan rapi, tidak melakukan perbuatan yang
bisa merusak kelestarian alam.59 Peduli lingkungan ialah dengan senantiasa
menjaga lingkungan sekitar dan tidak menyakiti makl]hluk yang lainya
baik tumbuhan ataupun hewan kecuali dengan tujuan penciptaan. Manusia
harus membangun karakter yang mulia di lingkungannya. Lingkungan
yang dimaksud ialah segala sesuatu yang berada di sekitar manusia, yaitu
tumbuhan, hewan dan alam sekitar (bend mati). Allah berfirman:

                

       

Artiya: Dan Tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-


burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga)
seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab
kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan
Karakter yang dikembangkan adalah cerminan dari tugas
kekhalifahan manusia di bumi, yaitu menjga agar setiap proses

59
Ibid. Hal.35
46

pertumbuhan alam terus berjalan sesuai dengna tujuan dan fungsi


penciptaan-Nya. Allah berfirman:60

            


Artinya: Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang
kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya. Maka
(semua itu) adalah dengan izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan
kehinaan kepada orang-orang fasik.
Adapun maksudnya pohon kurma milik musuh, menurut
kepentingan dan siasat perang dapat ditebang atau dibiarkan tumbuh.
Artinya dapat disimpulkan manusi dioerintahkan unuk membiarkan pohon
untuk tumbuh sesuai kegunaannya.

            

―dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya


Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan‖
Dalam ayat ini dengan jelas Allah melarang umat Islam untuk
berbuat kerusakan di muka bumi karena Allah tidak menyukai orang-orang
yang berbuat kerusakan.
Berdasrkan uraian di atas, maka dapat dismpulkan bahwa peduli
lingkungan merupakan suatu sikap yang dicerminkan oleh tugas seorang
khalifah dimana sikap yang ditunjukan dengan senantias menjaga
pertumbuhan makhluk hidup baik tumbuhan ataupun hewan dan tidak
melakukan perusakan di muka bumi sebagaimana yang disebutkan dalam
Q.S. Al-Qashash ayat 77 di atas dan membiarkan tumbuhan untuk sesuai
denan kegunaanya sesuai dengan Q.S. AL-hasyr: 59.
f. Peduli sosial
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang
lain dan masyarakat yang membutuhkan. Peduli sosial dalam buku ini

60
Ibid. Hal. 35
47

antara lain dengan suka menolong dan membantu orang lain dengan
bersedekah kepada yang membutuhkan.
Setiap muslim harus memiliki karakter pseuli sosial dengan
menunjukkan sikap yang baik dan bersedia menolong orang lain, baik
ketika dibutuhkan atau tidak, baik yang seiman maupun tidak seiman.
salah satu wujud sikap baik kepada orang lain ialah bersikap pemurah dan
dermawan. Sikap pemurah dan dermawan merupakan sikap yang sangat
mulia karena bersedia menolong orang lain yang mempunyai masalah
dalam memenuhi kebutuhan..
Islam sangat menganjurkan untuk saling peduli dan saling
menolong kepada sesama. Seseorang yang rela memerikan hartanya
kepada orang yang tidak mampu maka Allah akan menggantinya dengan
yang bermacam-macam dan berlipat ganda.61 Dalam Al-Qur‘an Allah
menegaskan akan melipatgandakan pahala orang yang bersedekah dalam
Q.S. Al-Baqarah: 261:

             

            
Artinya: Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang
menafkahkan hartanya di jalan Allah[166] adalah serupa dengan sebutir
benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji.
Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan
Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.
Dalam buku ini disebutkan bahwa Nabi SAW., mengingatkan para
malaikat selalu berdo‘a agar Allah memberikan gantinya kepada oang
yang selalu besikap dermawan dan pemurah. begitupun sebaliknya,
Malaikat juga berdo‘a kepada Allah agar memberikan kebinasaan kepada
orang-orang yang kikir.62 Rasulullah SAW., Bersabda:

61
Ibid. Hal.139
62
Ibid.
48

:‫ َويَ ُق ْو ُل اْآل َخ ُر‬.‫ اَللَّ ُه َّم أَ ْع ِط ُم ْن ِف ًقا َخلَ ًفا‬:‫َح ُد ُه َما‬ ِ ِ ِ ِ ُ ‫ما ِمن ي وٍم يصبِح ال ِْعب‬
َ ‫اد ف ْيه إِالَّ َملَ َكان يَنْ ِزالَن فَ يَ ُق ْو ُل أ‬َ ُ ْ ُ َْ ْ َ

.‫اَللَّ ُه َّم أَ ْع ِط ُم ْم ِس ًكا تَلَ ًفا‬

‗Tidak satu hari pun di mana pada pagi harinya seorang hamba ada
padanya melainkan dua Malaikat turun kepadanya, salah satu di antara
keduanya berkata: ‗Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang
dermawan itu. Sementara itu, yang satunya lagi berdo‘a: ‗Ya Allah,
hancurkanlah (harta) orang yang kikir.‖ (H.R. Bukhori dan Muslim)
Di antara hal yang bisa kita fahami dari hadits di atas bahwa ash-
Shaadiqul Mashduuq, yaitu Nabi kita Shallallahu ‗alaihi wa sallam
mengabarkan bahwa sesungguhnya para Malaikat berdo‘a agar Allah
Subhanahu wa Ta‘ala menggantikan harta orang yang berinfak.
Berdasrkan pemaparan mengenai karakter peduli sosial, maka
dapat diambil kesimpulan bahwa karakter peduli sosial merupakan
karakter seseorang terhadap orang lain yang ada disekitarnya, dimana
sikap yang harus diterapkan ialah dengan bersikap dermawan dan
pemurah serta senantiasa meolong orang yang mengalami kesulitan baik
seiman atau tidak sebgaai bentuk kepedulian kepada sesama manusia
tanpa memandang perbedaan agama. Adapun pentingnya sikap dari
dermawan ialah akan ggmendapat do‘a dari para malaikat seperti yang
disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim.
2. Nilai Pendidikan Karakter Religius, Jujur, Disiplin, Toleransi,
Kerja Keras dan Peduli Sosial dalam perspektif Islam menurut
Buku Pendidikan Karakter Perspektif Islam karya Abdul Majid
dan Dian Andayani

Dapat ditegaskan bahwa pendidikan karakter merupakan upaya -


upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk
membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang
berhubungan dengan Tuhan YME, diri sendiri, sesama manusia,
lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap,
perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama,
hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat, yang didukung metode
49

pembentukan karakter yang tepat dalam pembinaan genera muda secara


islami.

Karakter dapat diartikan sebagai bawaan, hati, jiwa, kepribadian,


budi pekerti, prilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen dan watak
seseorang. Karakter dalam pengertian ini menandai dan memfokuskan
pengaplikasian nilai -nilai kebaikan dalam bentuk tindakan dan tingkah
laku. Orang -orang yang tidak mengaplikasikan nilai-nilai kebaikan
tentu saja berkarakter jelek, sedang yang mengaplikasikan berkarakter
mulia. Peserta didik yang memiliki karakter mulia memiliki
pengetahuan tentang potensi dirinya, yang ditandai dengan nilai -nilai
yang positif dan mulia dan selalu berusaha untuk melakukan hal-hal
yang terbaik terhadap Tuhan, dirinya, sesama lingkungan bangsa dan
negara bahkan terhadap negara Internasional pada umumnya dengan
mengoptimalkan potensi dirinya dan disertai dengan kesadaran, emosi
dan motivasinya.
Dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter merupakan usaha
yang dilakukan dalam menanamkan nilai-nilai karakter mulia dengan
memberikan pemahaman dan contoh yang sesuai dengan nilai-nilai
karakter Islam.
a. Religius
Religius dalam buku ini ialah sikap dan tindakan yang selalu
mengerjakan amal shaleh dimana individu dituntut untuk taat dalm
menjalankan ibadah serta berperilaku baik dalam kehidupan sehari-
hari. Selain itu, religius ialah sikap yang senantiasa beriman dan
bertaqwa.63 Beriman ialah sikap batin seseorang yang penuh
kepercayaan kepada Allah SWT., tetapi tidak cukup hanya percaya
melainkan dibuktikan dengan tindakan. Sedangkan taqwa sendiri
ialah sikap sadar penuh bahwa apa yang dilakukan senantiasa

63
Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam,
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011), Hal. 45
50

diawasi oleh Allah Swt., senantiasa menjalanakn semua perintahnya


serta menjauh apa yang dilarangnya.64 Orang yang bertaqwa menjadi
ukuran rendah ataupun tingginya derajat di hadapan Allah Swt dan
orang yang paling mulia ialah orang yang bertaqwa., hal ini terdapat
dalam potongan Q.S. A-Hujurat : 13 yang berbunyi:65

            ..

―Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah


ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah
Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.‖ (Q.S. Al:Hujurat : 13)
Dari ayat di atas, dijelaskan bahwa orang yang paling mulia
dihadapan Allah dilihat dari ketaqwaannya kepada Allah Swt.
Dari uraian diatas, dapat disimpulka bahwa nilai karkter
religius Abdul Majid dan Dian Andayani menekankan pada karakter
yang berhubungan dengan Tuhan dimana yang menjadi intinya
adalah iman dan taqwa serta didiringi dengan amal shaleh.
Ketaqwaan seseorang menjadi tingkat kemuliaan seseorang
dihadapan Tuhan. Berarti karakter religius merupakan penerapan
pada nilai Ketuhanan.
b. Jujur
Jujur menurut Abdul Majid dan Dian Andayani ialah sikap dan
perilaku yang selalu mengatakan sesuatu yang sebenarnya, tidak
berbohong dan mengakui apabila telah melakukan kesalahan serta
mengakui kelebihan orang lain.66 Nilai kejujuran harus ditanamkan
sejak dini karena nilai kejujuran merupakan nilai kunci dalam
kehidupan.67
Jujur merupakan sikap yang harus dimiliki oleh peserta didik
karena dengan jujur peserta didik akan menuntun kepada kebaikan.

64
Ibid. Hal. 93
65
Ibid. Hal. 96
66
Ibid. Hal. 48
67
Ibid. Hal. 24
51

Orang yang jujur Allah tetapkan sebagai orang-orang yang Shidiqin


(Jujur) dan balasannya adalah surga. Sedangkan orang yang
berbohong Allah tetapka sebagai kadzdzaban yaitu pembohong.
Kebohongan akan menjerumuskan manusia kepada kejahatan, dan
kejahatan itu sesungguhnya akan menjerumuskan kepada api
neraka.68 Seseorang yang sering berbohong dikategorikan sebagai
orang munafik. Rasulullah SAW bersabda:
‫ َوإِ َذا‬، ‫ف‬ ْ ‫ َوإِذَا َو َع َد أ‬، ‫ب‬
َ َ‫َخل‬ َ ‫مث َك َذ‬ ٌ َ‫ال آيَةُ الْ ُمنَافِ ِق ثََل‬
َ ‫ث إِذَا َحد‬ ِّ ِ‫َع ْن أ َِِب ُهَريْ َرةَ َع ِن الن‬
َ َ‫مِب صلى اهلل عليه وسلم – ق‬
‫ْاؤَُتِ َن َخا َن‬
Artinya:
―Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda, Tanda orang
munafik itu ada tiga, jika berkata dia berdusta, jika berjanji dia
mengingkari, dan jika diberi amanah dia khianati.‖ (H.R. Bukhari
dan Muslim)
Jadi, dapat disimpulkan bahwa nilai karakter jujur merupakan suati
sikap dimana harus ada kesesuain antara ucapan ataupun perbuatan
meskipun perbuatan yang telah dilakukan itu salah. Adapun sikap
jujur atau tidaknya pasti akan berdampak bagi seseorang baik
berdampak negatif ataupun positif. Dan Islam sangat menekankan
pentingnya karakter jujur karena orang yang brdusta dianggap
sebagai munafik sebagaimana yang telah disebutkan dalam Hadits
Rasulullah yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim di atas..
c. Disiplin
Peserta didik diajarkan untuk disiplin terutama dalam
lingkungan sekolah mengingat di sekolah terdapat berbagai
peraturan yang harus ditaati. Disiplin itu sendiri ialah sikpa dan
tindakan yang menunjukkan selalu mengerjakan sesuatu dengan
tertib dan tepat waktu, menggunakan waktu untuk kegiatan yang
bermanfaat serta belajar dengan teratur dan penuh rasa tanggung

68
Ibid. Hal. 191
52

jawab. Indikator dari sikap disiplin itu sendiri iaah menghargai


waktu dengan menggunakan waktu untuk menegrjakan sesuatu yang
menjadi keawajibannya srta tidak menyia-nyiakan waktunya.69
Dalam Islam Orang yang tidak pandai menggunakan waktu
dikategorikan sebagai orang yanng merugi.70 Hal ini dijelaskan
dalam Q.S. Al-‗Ashr ayat 1-3:

           

    


1. Demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan
nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat
menasehati supaya menetapi kesabaran.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa karakter disiplin ialah taat
terhadap peraturan serta teratur dalam menggunakan waktu sehingga
waktu tidak terbuang sia-sia. Adapun dalam penggunaan waktu yang
baik ialah senantiasa menggunakan waktu untuk mengerjakan hal
yang beramnfaat dan orang yang menyia-nyiakan waktu termasuk
orang yang merugi seperti yang terdapat dalam Q.S. Al-‗Ashr: 1-3.
Artinya, Islam sangat menjunjung tinggi pentingnya waktu agar
kehidpan di dunia senantiasa dipenuhi dengan peruatan yang
bermanfaat untk dunia maupun akhirat
d. Toleransi
Toleransi merupakan sikap dan perilaku menghargai setiap
perbedaan. Mengingat manusia terdiri dari berbagai suku, agama,
bahasa, budaya serta bangsa yang berbeda maka peserta didik harus
memilikin sikap toleransi. Karakter toleransi ditunjukkan dengan
adanya sikap tenggang rasa yaitu sikap saling memberikan
69
Ibid. Hal. 49
70
Ibid. Hal. 72
53

kesempatan teman atau orang lain untuk berbuat sesuatu, menghindari


sikap yang membuat orang lain terganggu atau tersinggung. Selain itu,
toleransi bisa ditunjukkan dengan sikap saling menghargai pendapat
orang lain dengan lapang dada.71 Dalam bermusyawarah untuk
mencapai mufakat maka diperlukannya sikap saling mengahrgai
pendapat dan menerima pendapat orang lain dengan lapang dada. Hal
ini dijelaskan dalam Q.S. Ali-‗Imran: 159:

               

              

   


―Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah
lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati
kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu
ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan
bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian
apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah
kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
bertawakkal kepada-Nya‖.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa nilai karakter toleransi menurut
Abdul Majid dan Dian Andaani menekankna pada adnya saling
menghargai pendapat orang lain dan bermusyawah dalam
menyelesaikan urusan. Seperti yang disebutkan dalam Q.S. Ali-
―Imran:159.

e. Kerja Keras
Karakter yang harus dimiliki sebagai seorang peserta didik
ialah kerja keras. Kerja keras merupakan sikap Dan tindakan yang
melakukan pekerjaan ruma ataupun sekolah dengan rajin, berkemauan
71
Ibid. Hal.46
54

keras dalam bekerja dan belajar, gigih dalam belajar, mempunyai


motivasi yang kuat untuk mencapai cita-cita serta sungguh-sungguh
dalam belajar dan tidak berputus asa terhadap sebuah kegagalan.
Sikap kerja keras bagi peserta didik ialah belajar dengan tekun dna
rajin, bersemangat dalam belajar meskipun banyak hmabatan yang
harus dilalui serta menghindari [Link] dan mudah meneyerah.

Allah berfirman:

           


Artinya: Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum
sehingga mereka merobah keadaanyang ada pada diri mereka sendiri...
(Q.S. Ar-Ra‘d: 11)72.
Ayat diatas menjelaskan bahwa Allah tidak akan merubah suatu
kaum apabila ia tidak merubahnya sendiri. Oleh karen itu, manusia
seharusnya senantiasa bekerja keras dalam setiap Hal.
Jadi, dapat disimpulkan karakter kerja keras yang disebutkan
oleh Abdul Majid dan Dian Andayani ialah pentingnya manusia untuk
berusaha sendiri karena sejatinya tak ada yang bisa merubah
keaadaannya kecuali dirinay sendiri bahkan Allah pun tidak akan
mengubahnya.

f. Peduli Sosial
Peduli sosial ialah sikap dan perilaku yang peduli terhadap
lingkungan sekitar dengan cara saling menolong kesusahan orang lain
serta tidak bersikap seweenng-wenang terhadap orang lain. Sikap
peduli harus diajarkan kepada anak sejak umur 9-10 tahun. Sikap
peduli sosial bisa ditunjukkan dengan sikap empati artinya sering
merasakan setiap kesusahan yang dirasakan oleh orang di sekitar.
Selain itu, sikap peduli sosial bisa ditunjukkan dengan sikap saling

72
Ibid. Hal. 84
55

menolong terhadap sesama dan membantu sesuai kemampuan. Selain


itu, karakter peduli sosial ialah adanya rasa kasih sayang yaitu selalu
bersikap suka menolong orang lain serta menghindari sikap saling
membenci. Allah berfirman

          

   


Artinya: ―Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari
kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat
menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas
kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa nilai karakter peduli sosial
menekankan pada sikap saling tolong menolong terhadap kesusaahan
orang lain, rasa kasih sayang dan tidak saling membenci. Dan Islam
sangat menyayangu orang-orang mukmin.

B. Pembahasan
Dari bebrapa uraian di atas maka daat disimpulkan bahwa nilai-nilai
karakter pada skripsi ini terbatas pada nilai-nilai pendidikan karakter yang
terdapat dalam buku Pendidikan Karakter Islam Karya Marzuki., dan Buku
Pendidikan Karakter Perspektif Islam karya Dabdul Majid dan Dian Andayani
sebagai berikut.

Buku Pendidikan Karakter Islam Buku Pendidikan Karakter


Karya Marzuki., Perspektif Islam karya Dabdul
Majid dan Dian Andayani.
56

Nilai Pendidikan Karakter Nilai Pendidikan Karakter


1) Religius 1) Religius
Marzuki menekankan sikap Karakter religius meliputi sikap
religius ialah perilakuyang yang selalu beriman kepada
senantiasa beriman dan Allah, bertaqwa dengan
bertaqwa dimana manusia harus menjalankan perintah-Nya serta
selalu menjalankan setiap menjauhi larangan-Nya, beramal
perintah yang bersumber dari shalih serta menghormati dan
Al-Qur‘an dan Sunnah Rasul berbakti kepada kedua orang tua.
dan juga menjauhi larangan Dan taqwa merupakan karakter
Allah dan bertakwa dengna yang paling Mulia yang telah
sepenuh hati dan secara benar Allah tegaskan dalam Q.S. Al-
tanpa adanya keraguan. Hujurat ayat 13
Marzuki menekankan karakter
religius kepada hubungan
terhadap Tuhan. (Q.S. Ali-
Imran: 132)

2) Jujur 2) Jujur
Marzuki berpendapat jujur Jujur menurut Abdul Majid dan
bukan hnaya selalu benar dalam Dian Andayani ialah sikap dan
berkata melainkan juga benar perilaku yang selalu mengatakan
dalam perkataan melainkan juga sesuatu yang sebenarnya, tidak
benar dalam keyakinan hati dan berbohong dan mengakui apabila
benar dalam melakukan sesuatu. telah melakukan kesalahan serta
Berkata dan berbuat dengan apa mengakui kelebihan orang lain.(
adanya tanpa ada yang dibuat- H.R. Bukhari dan Muslim)
buat. Marzuki mengaskan
pentingnya bersikap jujur
dengan menekankan lawan dari
jujur yaitu dusta dimana berkata
dusta merupakan salah satu dosa
besar sebagimana dalam hadits
yang diriwayatkan oleh Bukhori
dan Muslim. Berkata dusta
menunjukan tidak adanya
keseuaian antara perkatan dan
perbuatan..
57

3) Disiplin 3) Disiplin
Adapun karakter disiplin yang Disiplin itu sendiri ialah sikpa
ditekankan marzuki ialah dan tindakan yang menunjukkan
disiplin dalam pelaksanaan selalu mengerjakan sesuatu
sholat dimana shotal dikerjakan dengan tertib dan tepat waktu,
tepat pada waktunya sesuai menggunakan waktu untuk
hadits Rasulullah Saw., kegiatan yang bermanfaat serta
merupakan bukti taat terhadap belaja dengan teratur dan penuh
Allah dan Rasul. rasa tanggung jawab. (Q.S. Al-
‗Ashr ayat 1-3)
4) Toleransi 4) Toleransi
Marzuki berpendapat bahwa Toleransi merupakan sikap dan
karakter tolerasni melipti sikap perilaku menghargai setiap
saling menghomati dan perbedaan dalam berpendapat
menghargai perbedan agama ketika bermusyawarah.( Q.S. Ali-
baik dalam hall ibadah, selain ‗Imran: 159)
itu tetap bekerja sama meski
berbeda agama tetapi dalam
urusan dan tidak dalam urusan
keyakinan, selaing itu juga
menghormati tetangga. Q.S.
AL-Mumtahanah:8

5) Peduli Lingkungan 5) Kerja Keras


Karakter peduli lingkungan Kerja keras merupakan sikap
menurut Marzuki merupakan Dan tindakan yang melakukan
suatu sikap yang dicerminkan pekerjaan ruma ataupun sekolah
oleh tugas seorang khalifah dengan rajin, berkemauan keras
dimana sikap yang ditunjukan dalam bekerja dan belajar, gigih
dengan senantias menjaga dalam belajar, mempunyai
pertumbuhan makhluk hidup motivasi yang kuat untuk
baik tumbuhan ataupun hewan mencapai cita-cita serta sungguh-
dan tidak melakukan perusakan sungguh dalam belajar dan tidak
di muka bumi sebagaimana berputus asa terhadap sebuah
yang disebutkan dalam Q.S. Al- kegagalan. (Q.S. Ar-Ra‘d: 11)
Qashash ayat 77 di atas.

6) Peduli Sosial 6) Peduli Sosial


Adapun Karakter peduli sosial Peduli sosial ialah sikap dan
menurut Marzuki merupakan perilaku yang peduli terhadap
karakter seseorang terhadap lingkungan sekitar dengan cara
orang lain yang ada saling menolong kesusahan orang
disekitarnya, dimana sikap yang lain serta tidak bersikap
harus diterapkan ialah dengan seweenng-wenang terhadap
bersikap dermawan dan orang lain.
pemurah serta senantiasa
58

meolong orang yang mengalami


kesulitan baik seiman atau tidak
sebgaai bentuk kepedulian
kepada sesama manusia tanpa
memandang perbedaan agama.
Adapun pentingnya sikap dari
dermawan ialah akan mendapat
do‘a dari para malaikat seperti
yang disebutkan dalam hadits
yang diriwayatkan oleh Bukhori
dan Muslim.

1. Buku Pendidikan Karakter Islam karya Marzuki


a. Religius
Menurut analisis peneliti, krakter religius Marzuki merupakan
sikap dan tindakan seseorang yang senantiasa menjalankan ibadah
sesuai ajaran agamanya. seseorang dikatakan religius apabila telah
melaksanakan perintah agamanya seperti seorang muslim, ia dikatakan
memilki karakter religius apabila seseorang itu bertaqwa, yaitu dengan
menjalankan ibadah kepada Allah Swt., seperti sholat, Zakat dan
ibadah. Hal tersebut Allah jelaskan dalam firman-Nya Q.S. Ali-Imran:
10273

            

Artinya: ―Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah


sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati
melainkan dalam Keadaan beragama Islam‖.

Dari ayat tersebut sangat jelas, bahwa Allah memerintahkan


umat-Nya senantiasa taat kepada Allah Swt., karena dengan taat
keapda Allah Swt,., seseorang senantiasa diberi Rahmat oleh Allah
SWt. orientasi religius ialah nilai Ketuhanan.
Selain itu, sikap religius juga ditunjukkan dengan suatu sikap
yang senantiasa hidup rukun dalam kehidupan sehari-hari meskipun
73
Ibid. Hal.132
59

dilingkungna yang berbeda agama. karena dengan itu, berarti kita


menghormati setiap orang untuk menjanakan ibadah sesuai dengan
agama yang dianut oleh masing-masing individu.
Sejalan dengan itu, Mahbubi mengatakan bahwa religius
adalah pikiran, perkataan dan tindakan seseorang yang diupayakan
selalu berdasarkan pada nilai Ketuhanan.74 Religius berkenaan dengan
kualitas mental (kesadaran), perasaan, moralitas dan nilai-nilai luhur
lainnya yang bersumber dari ajaran agama. Religius bersifat Ilahiah
lantaran berasal dari Tuhan.75Dengan kata lain, kebenaran adalah
suatu yang diturunkan dari Ilahi yang bersumber dari Tuhan dan
disampaikan melalui wahyu karena bagi banyak orang, pedoman
pertama dan utama mereka dalam membuat keputusan moral adalah
agama mereka.
Secara hakiki, sebenarnya nilai religius merupakan nilai yang
memiliki dasar kebenaran yang paling kuat dibandingkan dengan
nilai-nilai yang lain. Nilai ini bersumber dari kebenaran tertinggi yang
datangnya dari Tuhan, cakupan nilainya pun lebih luas. Nilai religius
sendiri, termasuk dalam 18 karakter bangsa yang dicanangkan oleh
Kementerian Pendidikan Nasional. Kemendiknas mengartikan
karakter religius sebagai sebuah sikap dan perilaku yang patuh dalam
melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleransi terhadap
pelaksana ibadah agama lain, serta hidup rukun dengan agama lain.76
Jadi , dapat disimpulkan bahwa karakter religius merupakan
sikap ynag bersumber dari agama yaitu mencakup sikap taat terhadap
perintahnya yaitu dengan bertaqwa seutuhnya.
b. Jujur

74
Mahbubi, Pendidikan Karakter: Implementasi Aswaja sebagai Nilai Pendidikan
Karakter (Yogyakarta: Pustaka Ilmu, 2012), Hal.44.
75
Imas KurniasiHal, Mendidik SQ Anak Menurut Nabi MuHalammad SAW (Yogyakarta:
Galangpress, 2010), Hal.11.
76
Kemendiknas, Pedoman Sekolah Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter
Bangsa (Jakarta: Kemendiknas, 2011), Hal. 9.
60

Menurut analissis peneliti, jujur dapat didefinisikan sebagai


suatu sikap yang senantiasa timbul dari hati dengan apa adanya baik
berupa perkataan ataupun perbuatannya. Sikap yang menunjukkan
karakter jujur ialah degan selalu mengatakan sesuatu dengan apa
adanya tanpa ada yang dibuat-buat. sikap jujur akan membenarkan
apabila benar dan tidak membenarkan apa yang salah. Aspek dari
karakter jujur, bukan hanya jujur dalam perkataan melainkan juga
dalam perbuatan. Karakter Jujur, dalam pandangan lain jga diyakini
sebagai suatu kesesuaian antara yang lahir dan bathin serta perilaku
seseorang yang selalu dapat dipercaya baik dalam perkataan, perbuatan
ataupun pekerjaan. Rachman dan Shofan pun berpendapat bahwa jujur
sebagai keseuaian antara ucapan dengan kenyataan atau fakta, yang
dikemukakan dengan kesadaran hati.77 Adapun pendapat lain
mengatakan bahwa jujur ialah sikap lurus hati, tidak berbohong serta
berkata apa adanya.78
Lawan sikap jujur ialah dusta. sikap jujur akan membawa
manusia kepada kebaikan sedangkan dusta akan membawa kepada
keburukan. seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwaa dalam
hadits dikatakn orang yang berdusta hukmnya termasuk dosa besar dan
sudah sangat jelas dilarang oleh Allah SWt.,
Sejalan dengan itu, Perintah untuk berperilaku jujur juga
dituliskan dalam hadits Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad
mengatakan bahwa berperilaku jujur akan mengantarkan kita pada
kebaikan. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Bukhari yang berbunyi :
―Dari Abdullah bin Mas‘ud dari Nabi SAW bersabda; sesungguhnya
kejujuran itu membawa pada kebaikan dan kebaikan itu membawa
(pelakunya) ke surga dan orang yang membiasakan dirinya berkata
benar(jujur) sehingga ia tercatat disisi Allah sebagai orang yang benar,

77
Muhammad Yaumi, Pendidikan Karakter: Landasan, Pilar dan Implementasi, (
Kencana: Jakarta, 2014), Hal. 87
78
Ari Wiyati Purwandari dkk, Penguatan Pendidikan Karakter: Referensi Pembelajaran
untuk Guru dan Siswa SD/MI, (Jakarta: Erlangga, 2018), Hal. 192
61

sesungguhnya dusta itu membawa pada keburukan (kemaksiatan) dan


keburukan itu membawa ke neraka dan orang yang membiasakan
dirinya berdusta sehingga ia terc catat disisi Allah sebagai pendusta.‖79
Setelah dipaparka terkait karakter jujur di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa Islam sangat mengajarakn untuk senantiasa
bersikap jujur karena dengan kejujran akan membawa manusia kepada
kebaikan dan melaramg bersikpa dusta karena berdusta atau berbohng
akan menjerumuskan manusia kepada kejahatan seperti yang telah
disebtukan dalam hadits di atas..
c. Disiplin
Hasil analisis peneliti disiplin ialah sikap yang taat atau tunduk
terhadap suatu aturan. Dengan kata lain displin menuntut seseorang
untuk tidak melanggar aturan yang telah dibuat. displin dalam buku
Marzuki menekankan sikap displin terhadap waktu dan aturan yang
ada. disiplin waktu ialah menghargai waktu dengan senantiasa
menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya serta menghindari
perbuatan yang menyebabkan waktu terbuang secara sia-sia. Seorang
peserta didik menunjukkan sikap disiplinnya dengan mengerjakan tugas
dengan tepat waktu, datang sekolah tepat waktu. Selain itu, Marzuki
menekankan disiplin dalam hal pelaksanaan Sholat dimana dalam
sebuah hadits Bukhori dan Muslim disebutkan bahwa sholat tepat pada
waktunya merupakan salah satu amalan yang paling disukai oleh Allah
Swt,. Sholat tepat pada waktunya ialah penerapam karakter disiplin di
lingkungan keluarga dan merupakan karakter terhadap Allah SWT.,
Hal tersebutt sejalan dengan pendapat Ari Wiyati Purwandari
bahwa setiap agama memerintahkan untuk bersikap disilplin salah
satunya dalam rutinitas beribadah. sebagai contoh seorang muslim

79
Rachmat Syafe‘i, Al-Hadis: AqidaHal, Akhlaq, Sosial dan Hukum, (Bandung, Pustaka
Setia, 2000), Hal. 82
62

memiliki kewajiban untuk sholat lima waktu dalm sehari semalam.


Sholat lima waktu diutamakan untuk dikerjakan di awal waktu80
Dalam bukunya yang lain, Ari Wiyati Purwandari dkk, juga
menagatakan bahwa disiplin di lingkungan keluarga antara lain ilaah
patuh kepada orangtua, menjaga nama baik keluarga, menghormati,
mentaati aturan yang tealah disepakati bersama, serta melaksanakan
ibadah tepat waktu.81
Berdasarkan pemaparan di atas, maka begitu pentingnya
kedisiplinan baik dalam beribadah, belajar maupun dalam hal laiinya.
Islam sennatias mengingatkan manusia untuk senantiasa disiplin dalam
menggunakan waktu dalam setiap lingkup kehidupan.
d. Toleransi
Hasil analisis peneliti tentang toleransi menurut Marzuki ialah
sikap dan perilaku yag saling menghargai terhadap perbedaan yang ada.
dalam hal ini, tolrenas yang ditekankan ialah toleranti antarberagama.
Artinya ialah menghargai dan menghormati setiap orang yang berbeda
agama dengan cara tidak mengganggu orang lain beribadah sesuai
agamanya, tidak memaksa orang lain untuk ikut dengan agama kita.
seperti yang telah diuraikan sebelumnya toleransi beragama dilakukan
dengan tidak memerangi umat yang berbeda agama selama tidak
merugikan umat Islam dan senantiasa saling menghargai karena setiap
manusia memilki hak masing-masing dalam beragama. Hal ini Marzuki
menghubungkan dengan Q.S Al-Mumtahanah ayat 8 yang dalam ayat
itu Allah memerintahkan seorang muslim untuk saling menghormati
dan menghargai manusia yang berbeda agama. Jadi, dapat disipulkan
bahwa karakter toleransi meliputi toleransi terhadap perbedaan agama.
Sejalan dengan itu, Abu A‘la Maududi menyebutkan bahwa
toleransi yaitu suatu sikap menghargai kepercayaan dan perbuatan
orang lain meskipun hal tersebut merupakan sesuatu keliru menurut

80
Ari Wiyati, Ibid
81
Ari Wiyati dkk, Op. Cit, Hal.
63

pandangan kita. Kita tidak menggunakan cara-cara kekerasan dan


pemaksaan untuk mengubah82
Selain itu juga menghormati dan menghargai tetangga baik
terhadap yang berbeda agama ataupun terhadap sesama muslim lainnya
dimana antar sesama muslim lainnya Nabi SAW., mengibaratkan seprti
bangunan yang masing-masing bagian saling menudukung demi
kokohnya sebuah bangunan. Dan Rasullulah sendrii telah Bersabda:
―Sesungguhnya seorang mukmin dengan mukmin laiinya ibarat sebuah
bangunan yang memperkuat bagiannay. Beliau lalu menautkan smua
jarinya dalam satu kesatuan. (H.R. A--Bukhori)

e. Peduli Lingkungan
Peduli lingkungan merupakan suatu sikap dimana seseorang
selalu menjaga lingkungan sekitar serta tidak merusak lingkungan.
Seseorang dikatakan peduli akan lingkungan apabila seseorang itu
menjaga lingkungannya agar tetap bersih dan rapi, tidak melakukan
perbuatan yang bisa merusak kelestarian alam. Menurut analisis
peneliti sikap peduli lingkungan ialah dengan tidak melakukan
perusakan terhadap alam semesta dan senantiasa menjaga alam agar
tetap bersih. Hal tersebut sesuai dengan larangan Allah untuk tidak
berbuat kerusakan karena hal itu merupakan perbuatan yang tidak
disukai oleh Allah Swt, seperti yang terdapat dalam Q.S. Al-Qashash:
77 yang sudah dibahas pada pembahasan sebelumnya.
Hal senada juga disampaikan, Larangan melakukan perusakan
setelah sebelumnya telah diperintahkan berbuat baik, merupakan
peringatan agar tidak mencampuradukkan antara kebaikan dan
keburukan. Sebab keburukan dan perusak merupakan lawan kebaikan.
Penegasan ini diperlukan –walau sebenarnya perintah berbuat baik telah
berarti pula larangan berbuat keburukan – Perusakan dimaksud

82
Jurnal Madaniyah, Volume 9 Nomor 2 Edisi Agustus 2019 ISSN (printed) : 2086-3462
MoHal. Fuad Al Amin M. Rosyidi, Konsep Toleransi dalam ISSN (online) : 2548-6993 Islam
dalam Implementasinya di Masyarakat Indonesia
64

menyangkut banyak hal. Di dalam al Qur‘an sudah ada contohnya.


Puncaknya adalah merusak fitrah kesucian manusia, yakni tidak
memelihara tauhid yang telah Allah anugerahkan kepada setiap insan.
Dibawah peringakat itu ditemukan keengganan menerima kebenaran
dan pengorbanan nilai-nilai agama, seperti pembunuhan, perampokan,
pengurangan takaran dan timbangan, berfoya-foya, pemborosan,
gangguan terhadap kelestarian lingkungan, dan lain-lain.83
Pendapat lain juga mengatakan bahwa peduli lingkungan ialah
sikap dan perilaku yang selalu berupaya untuk mencegah kerusakan
pada lingkungan alam sekitanya dan mengembangkan upaya-upaya
untuk memperbaiki kerusakan alam yang terjadi.84
Bagi kita umat islam, usaha pelestarian lingkungan bukan hanya
semata-mata karena tuntutan ekonomis atau politis atau karena desakan
program pembangunan nasional. Usaha pelestarian lingkungan harus
dipahami sebagai perintah agama yang wajib dilaksanakan oleh
manusia bersama-sama. Setiap usaha pengelolaan dan pelestarian
lingkungan hidup secara baik dan benar adalah ibadah kepada Allah
SWT yang dapat memperoleh karunia pahala. Sebaliknya, setiap
tindakan yang mengakibatkan kerusakan lingkungan hidup,
pemborosan sumber daya alam, dan menelantarkan alam ciptaan Allah
adalah perbuatan yang dimurkai-Nya.
[Link] Sosial
Menurut analisis peneliti, peduli sosial menurut Marzuki ialah
memberikan bantuan dan pertolongan kepada orang lain. Sikap peduli
sosial meliputi sikap dermawan dan pemurah. orang yang sennatias
dermawan dan pemurah senantias akan mendapatkan pahala dan akan
mendapat ganti yang lebih. Marzuki menghubungkan sikap peduli
sosial dengan ayat Al-Qur‘an yang terdapat pada Q.S. Al-Baqoroh: 261

83
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2006), Hal. 406-410
84
Muhammad Yaumi., Op. Cit., Hal. 111
65

yang dalam ayat tersebut disebutkan bahwa Allah melipatkangandakan


bagi yang ia kehendaki.
Senada dengan pendapat di atas, Dalam Tafsir Shahih Ibnu
Katsir disebutkan bahwa perumpamaan yang dibuat oleh Allah Ta'ala
tentang pelipatgandaan pahala bagi siapa yang menafkahkan hartanya di
jalan-Nya dengan tujuan mencari keridhaan-Nya. Dan kebaikan itu
dilipatgandakan mulai dari 10 sampai 700 kali lipat. Allah berfirman,
―Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang
menafkahkan hartanya di jalan Allah,‖ Sa'id bin Jubair mengatakan,
―Yakni dalam ketaatan kepada Allah.‖ Dan Mak-hul mengatakan,
―Yakni menginfakkan harta dalam jihad, berupa tali kuda, persiapan
senjata, dan selainnya.‖ 85
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Islam sangat
memerintahkan utuk saling peduli terhadap lingkungan sosial agar
terciptanya kehidupan yang aman, damai serta adnya rasa saling
menyayangi antarsesama manusia dengan berbagi kebaikan yang akan
didaptkan dengan menerapkan rasa peduli tersebut.
2. Buku Pendidikan Karakter Perspektif Islam karya Abdul Majid dan
Dian Andayani
Dapat ditegaskan bahwa pendidikan karakter merupakan upaya -
upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk
membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang
berhubungan dengan Tuhan YME, diri sendiri, sesama manusia,
lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap,
perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama,
hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat, yang didukung metode
pembentukan karakter yang tepat dalam pembinaan genera muda secara
islami.
Karakter dapat diartikan sebagai bawaan, hati, jiwa, kepribadian,
budi pekerti, prilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen dan watak

85
Ibnu Katsir, Shahih Ibnu Katsir, (Jakarta: Maktaba Darussalam, 2007), Hal. 33
66

seseorang. Karakter dalam pengertian ini menandai dan memfokuskan


pengaplikasian nilai -nilai kebaikan dalam bentuk tindakan dan tingkah
laku. Orang -orang yang tidak mengaplikasikan nilai-nilai kebaikan
tentu saja berkarakter jelek, sedang yang mengaplikasikan berkarakter
mulia. Peserta didik yang memiliki karakter mulia memiliki
pengetahuan tentang potensi dirinya, yang ditandai dengan nilai -nilai
yang positif dan mulia dan selalu berusaha untuk melakukan hal-hal
yang terbaik terhadap Tuhan, dirinya, sesama lingkungan bangsa dan
negara bahkan terhadap negara Internasional pada umumnya dengan
mengoptimalkan potensi dirinya dan disertai dengan kesadaran, emosi
dan motivasinya.
Dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter merupakan usaha
yang dilakukan dalam menanamkan nilai-nilai karakter mulia dengan
memberikan pemahaman dan contoh yang sesuai dengan nilai-nilai
karakter Islam.
Seperti yang telah dipaparkan di atas, pendidikan karakter ialah
usaha yang sengaja dilakukan untuk membantu seseeorang memahami ,
menjaga dan berprilaku yang sesuai dengan nilai-nilai karakter mulia.
Adapun nilai pendidikan karakter pada buku ini, antara lain:
a. Religius
Berdasarkan analisis peneliti, karakter religius meliputi sikap
yang selalu beriman kepada Allah, bertaqwa denan menjalankan
perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya, beramal shalih serta
menghormati dan berbakti kepada kedua orang tua. Dan taqwa
merupakan karakter yang paling Mulia yang telah Allah tegaskan
dalam Q.S. Al-Hujurat ayat 13 bahwa orang yang paling mulia ialah
orang yang paling bertaqwa.
Sejalan dengan itu, Mahbubi mengatakan bahwa religius adalah
pikiran, perkataan dan tindakan seseorang yang diupayakan selalu
67

berdasarkan pada nilai Ketuhanan.86 Religius berkenaan dengan


kualitas mental (kesadaran), perasaan, moralitas dan nilai-nilai luhur
lainnya yang bersumber dari ajaran agama. Religius bersifat Ilahiah
lantaran berasal dari Tuhan.87Dengan kata lain, kebenaran adalah suatu
yang diturunkan dari Ilahi yang bersumber dari Tuhan dan
disampaikan melalui wahyu karena bagi banyak orang, pedoman
pertama dan utama mereka dalam membuat keputusan moral adalah
agama mereka.
Menurut Zuhairini, sumber religius (perspektif Islam) adalah
sumber-sumber dari ajaran agama Islam yang tertera dalam Al-Qur‘an
maupun Al-Hadis. Jadi, nilai religius dalam perspektif Islam adalah
nilai sesuai apa yang diajarkan dalam Al-Qur‘an dan Al-Hadis. Di
dalam keduanya (Al-Qur‘an dan Al-Hadis) telah diatur bagaimana
manusia harus bersikap dan berperilaku, karena Al-Qur‘an dan Al-
Hadis merupakan landasan atau pedoman bagi umat Islam. Yakni
dengan selalu beribadah kepada Allah (shalat, zakat, puasa dan lain-
lain), berbuat baik kepada sesama manusia, binatang dan lingkungan,
jujur, berbakti kepada orang tua dan lain-lain.88
Sejalan dengan itu, Mahbubi mengatakan bahwa religius
adalah pikiran, perkataan dan tindakan seseorang yang diupayakan
selalu berdasarkan pada nilai Ketuhanan.89 Religius berkenaan dengan
kualitas mental (kesadaran), perasaan, moralitas dan nilai-nilai luhur
lainnya yang bersumber dari ajaran agama. Religius bersifat Ilahiah
lantaran berasal dari Tuhan.90Dengan kata lain, kebenaran adalah

86
Mahbubi, Pendidikan Karakter: Implementasi Aswaja sebagai Nilai Pendidikan
Karakter (Yogyakarta: Pustaka Ilmu, 2012), Hal.44.
87
Imas KurniasiHal, Mendidik SQ Anak Menurut Nabi MuHalammad SAW (Yogyakarta:
Galangpress, 2010), Hal.11.
88
Fibriyan Irodati, Jurnal PAI Jurnal Kajian Pendidikan Agama Islam Volume. 1. No.1.
Hal. 2022, Fakultas Tarbiyahl IAIN Kebumen Online. ISSN: CAPAIAN INTERNALISASI
NILAI-NILAI RELIGIUS PADA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM, Hal. 52
89
Mahbubi, Pendidikan Karakter: Implementasi Aswaja sebagai Nilai Pendidikan
Karakter (Yogyakarta: Pustaka Ilmu, 2012), Hal.44.
90
Imas KurniasiHal, Mendidik SQ Anak Menurut Nabi MuHalammad SAW (Yogyakarta:
Galangpress, 2010), Hal.11.
68

suatu yang diturunkan dari Ilahi yang bersumber dari Tuhan dan
disampaikan melalui wahyu karena bagi banyak orang, pedoman
pertama dan utama mereka dalam membuat keputusan moral adalah
agama mereka.

b. Jujur
Jujur merupakan perilaku yang didasarkan pada upaya
menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam
perkataan, tindakan, dan pekerjaan baik terhadap diri maupun pihak
lain. Jujur adalah sebuah ungkapan yang acap kali didengar dan
menjadi pembicaraan. Akan tetapi, bisa jadi pembicaraan tersebut
hanya mencakup sisi luarnya saja dan belum menyentuh pembahasan
inti dari makna jujur itu sendiri. Apalagi perkara kejujuran merupakan
perkara yang berkaitan dengan banyak masalah keislaman, baik itu
akidah, akhlak ataupun muamalah.
Sehubungan dengan jujur, dalam ajaran Islam mengandung
ajaran yang menyeluruh dan terpadu, ia mengatur seluruh aspek
kehidupan manusia, baik dalam unsur-unsur keduniaan, maupun yang
menyangkut hal-hal keakhiratan. Sedangkan pendidikan adalah hal
yang tidak terpisahkan dari ajaran Islam, ia merupakan bagian terpadu
dari aspek- aspek ajaran Islam. Pendidikan Islam bersumber pada
wahyu Allah SWT. Yang diturunkan kepada umat manusia melalui
Nabi Muhammad Saw. Untuk mengatur tata hidup dan kehidupan
umat manusia. Keadaan ini berjalan dari awal perkembangan Islam
dengan melalui berbagai masa yang silih berganti.
Dengan demikian, perilaku jujur merupakan bagian dari
pendidikan Islam dan juga pendidikan karakter. Sikap Jujur merupakan
sifat yang terpuji. Allah menyanjung orang- orang yang mempunyai
sifat jujur dan menjanjikan balasan yang berlimpah untuk mereka.
Jujur bermakna keselarasan antara berita dengan kenyataan yang
ada. kalau tidak, maka dikatakan dusta. Kejujuran itu ada pada ucapan,
69

juga ada pada perbuatan, sebagaimana seorang yang melakukan suatu


perbuatan, tentu sesuai dengan yang ada pada batinnya. 91
Adapun Muhammad Yaumi mengatakan bahwa indikator dari
kejujuran itu ialah pikiran, perkataan dan perbuatan yang benar.
Arttinya, jujur juga diukur dari pikiran, perasaan bahkan jiwa yang
selalu dakam keadaan lurus dan benar bukan hanya dilihat dari
perkataan dan perbuatan saja.92
Jadi, dapat disimpulkan bahwa jujur merupakan suatu sikap
yang senantiasa benar dalam pikiran, perkataan dan eprbuatan yang
merupakan bersumber dari hati.
Demikian juga seorang munafik tidaklah dikatakan sebagai
seorang yang jujur karena dia menampakkan dirinya sebagai seorang
yang bertauhid, padahal sebaliknya. Yang jelas, kejujuran merupakan
sifat seorang yang beriman, sedangkan lawannya, dusta, merupakan
sifat orang yang munafik.

َ َ‫ َوإِذَا َو َع َد أَ ْخل‬، ‫ب‬


‫ف‬ ٌ َ‫ال آيَةُ ال ُْمنَافِ ِق ثَال‬
َ ‫ث إِذَا َحد‬
َ ‫َّث َك َذ‬ َ َ‫َع ْن أَبِى ُه َريْ َرةَ َع ِن النَّبِ ِّى صلى اهلل عليه وسلم – ق‬

‫ َوإِذَا ْاؤتُ ِم َن َخا َن‬،

Artinya:
―Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda, Tanda orang
munafik itu ada tiga, jika berkata dia berdusta, jika berjanji dia
mengingkari, dan jika diberi amanah dia khianati.‖ (H.R. Bukhari dan
Muslim)
Denagn demikian, Islam memerintahkan pentingnya untuk
bersikap jujur dalam segala hal dan meneybutkan jika manusia itu
tiidak jujur maka disebut dengan orang munafik.

91
Mohtar Mas‘oed, Kritik Sosial dalam Wacana Pembangunan (Yogyakarta: UII Press,
1997), Hal. 37.
92
Muhammad Yaumi, Pendidikan Karakter: Landasan, Pilar dan Implementas, (Jakarta:
Kencana, 2014), Hal. 88
70

c. Disiplin
Menurut analisis peneliti, Disiplin diri berarti melatih diri
melakukan segala sesuatu dengan tertib dan teratur secara
berkesinambungan untuk meraih impian dan tujuan yang ingin
dicapai dalam hidup. Sebuah proses pendidikan tidak akan berhasil jika tidak
ada penerapandisiplin kepada para peserta didik. Disiplin adalah kemampuan
memanfaatkan waktu untuk melakukan hal -hal yang positif guna mencapai
sebuah prestasi. Disiplin juga berarti kemampuan berbuat hanya yang
memberikan manfaat bagi diri, orang lain, dan lingkungan.
Adapun terkait dengan disiplin, Abdul Majid menghubungkan
dengan Q.S. Al-‗Ashr: 1-3 dimana displin disini merupakan disiplin
dalam penggunaan waktu. Dimana ayat ini mengajarkan kepada orang-
orang yang berimana untuk senantiasa menggunanakan waktu dengan
mengerjakan kebaikan dan amal sholeh sehingga kia tidak termasuk
orang yang merugi.
Sejalan dengan itu, dalam Tafsir Al-Maraghi mneybutkan
berdasarkan surat Al-‘Ashr (Al- Maraghi 1985: 392) ayat 1 dapat
diketahui bahwa orang yang memiliki keimanannya dan niat yang kuat
akan timbul dorongan untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik
mungkin.93 Selanjutnya, tafsir surah Al-‘Ashr ayat 2, mengenai nilai-
nilai pendidikan kedisiplinan yang terkandung didalamnya, dapat
diketahui bahwa manusia berada kerugian dan disiplin lah yang
menjadi cikal bakal dimilikinya planing untuk masa depan yang akan
ditempuh, supaya memiliki arah tujuan yang jelas dan terarah.94
Selanjutnya, nilai-nilai pendidikan dalam tafsir Al-Maraghi surat Al-
‘Ashr ayat 3, dapat diketahui bahwa prinsip disiplin dalam diri
seseorangmaka akan terjaga ketika iman sudah mendarah daging
padanya.95

93
Ahmad Mustofa Al Maraghi, Terjemahan Tafsir Al-Maraghi, (Semarang:CV
ToHaaPutra, 1985), Hal. 391
94
Ibid. Hal.392
95
Ibid Hal.394
71

Berdasarkan pemaparan diatas, amka dapat diambil


kesimpulan bahwa Islam menjelaskna pentunggnya penggunaan waktu
dengan menggunakan waktu untuk melakukan amal sholeh agar tidak
menjadi manusi yang merugi.

d. Toleransi
Menurut analiasis peneliti, toleransi merupakan sikap dan
perilaku menghargai setiap perbedaan. baik dari segi suku, agama,
bahasa, budaya serta bangsa yang berbeda maka peserta didik harus
memilikin sikap toleransi.. Toleransi adalah istilah dalam konteks
sosial, budaya dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang
melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang
berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu
masyarakat. Contohnya adalah toleransi beragama, dimana penganut
mayoritas dalam suatu masyarakat menghormati keberadaan agama
atau kepercayaan lainnya yang berbeda. Makna toleransi bisa
dipahami dari kedua unsur yang dikandungnya. Selain itu, toleransi
bisa ditunjukkan dengan sikap saling menghargai pendapat orang lain
dengan lapang dada.
Sejalan dengan itu, Abu A‘la Maududi menyebutkan bahwa
toleransi yaitu suatu sikap menghargai kepercayaan dan perbuatan
orang lain meskipun hal tersebut merupakan sesuatu keliru menurut
pandangan kita. Kita tidak menggunakan cara-cara kekerasan dan
pemaksaan untuk mengubah96
Berdasarkan uraian di atas, Islam sangat mengargai sebuah
perbedaan termasuk dalam hal perbedaan pandangan baik dalam agama
ataupu hal yang lainnya.

.
96
Jurnal Madaniyah, Volume 9 Nomor 2 Edisi Agustus 2019 ISSN (printed) : 2086-3462
MoHal. Fuad Al Amin M. Rosyidi, Konsep Toleransi dalam ISSN (online) : 2548-6993 Islam
dalam Implementasinya di Masyarakat Indonesia
72

e. Kerja Keras
Kerja keras dapat diartikan melakukan sesuatu dengan
sungguh -sungguh untuk mencapai sesuatu yang diinginkan atau
dicita -citakan. Kerja keras dapat dilakukan dalam segala hal,
mungkin dalam bekerja mencari rezeki, menuntut ilmu, berkreasi,
membantu orang lain, atau kegiatan yang lain. Bekerja keras
merupakan salah satu ajaran Islam yang harus dibiasakan oleh
umatnya. Islam menganjurkan umatnya agar selalu bekerja keras
untuk mencapai keinginan dan cita -cita. Secara tegas mengingat kan
bahwa kita dilarang hanya mementingkan kehidupan akhirat, dan
melupakan kehidupan dunia.
Islam mengajarkan agar manusia menjaga keseimbangan
antara urusan dunia dan urusan akhirat.97 Bekerja untuk dunia harus
seimbang dengan beribadah untuk akhirat. Khusus untuk meraih
kesuksesan dalam kehidupan dunia, syaratnya harus dilakukan
dengan usaha dan kerja keras. Bekerja keras telah dicontohkan oleh
Rasulullah saw. dan para sahabat. Rasulullah saw. bekerja keras
dengan cara berdagang untuk membantu perekonomian Abu Talib.
Usman bin Affan bekerja keras hingga menjadi pengusaha yang
sukses. Contoh lain dapat ditemukan dalam sebuah hadis yang
mengisahkan bahwa ada seorang sahabat yang ingin meninggalkan
urusan dunia agar lebih khusyuk beribadah. Sahabat tersebut berniat
terus-menerus berpuasa dan beribadah sepanjang hari.
Mendengar berita tersebut, Rasulullah bersabda bahwa orang-
orang yang meninggalkan dunia dan lebih mengutamakan urusan
akhirat, bukan termasuk golongannya. Hadis lain yang menunjukkan
pentingnya bekerja keras, seperti diriwayatkan oleh Imam Baihaqi
bahwa Rasulullah pernah bersabda yang artinya ‖Berbuatlah untuk

97
Ismail SM dan M. Agung Hidayatullah, Learning to live together: Penanaman Karakter
Pada Usia Dini, Jurnal Al-Ulum, Volume 14 Nomor 1 Juni 2014 (Gorontalo: IAIN Sultan Amai),
h. 229-246
73

duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya dan berbuatlah


untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati esok hari.‖
Dalam riwayat Imam Bukhari dijelaskan bahwa Rasulullah
juga pernah mengingatkan para sahabat agar tidak mencari jalan
termudah dalam bekerja, misalnya dengan cara meminta-minta.
Orang yang ketika di dunia memilih bekerja mencari rezeki dengan
cara meminta-minta, pada hari akhir akan dibalas dengan meminta-
minta panasnya api neraka.
f. Peduli Sosial
Peduli sosial ialah sikap dan perilaku yang peduli terhadap
lingkungan sekitar dengan cara saling menolong kesusahan orang lain
serta tidak bersikap seweenng-wenang terhadap orang lain. Sikap
peduli harus diajarkan kepada anak sejak umur 9-10 tahun. Sikap
peduli sosial bisa ditunjukkan dengan sikap empati artinya sering
merasakan setiap kesusahan yang dirasakan oleh orang di sekitar.
Selain itu, sikap peduli sosial bisa ditunjukkan dengan sikap saling
menolong terhadap sesama dan membantu sesuai kemampuan.
Islam bukanlah agama yang hanya menekankan aspek ritual dan
melupakan aspek sosial tetapi Islam sangat memperhatikan kepekaan
dan kepedulian sosial. Seorang muslim bertanggung jawab terhadap
lingkungan sosialnya. Seorang muslim mempunyai kewajiban
terhadap muslim lainnya, wajib memperhatikan lingkungan sekitarnya
terutama yang membutuhkan pertolongan. Jika ia mampu maka
hendaklah menafkahkan hartanya/memberikan makan
kepada fakir miskin, demikianlah beberapa ajaran Islam. Dalam Islam
kepedulian sosial merupakan manifestasi akhlak dan bagian dari
ketaqwaan seseorang. Ajaran Islam dalam berinteraksi sosial sesuai
syari‘at juga ditunjukkan adanya perintah saling tolong menolong,
saling memberikan nasihat, persamaan derajat, kebersamaan dan
bentuk hubungan persaudaraan lainnya.
74

Jadi, dapat disimpulkan bahwaa karakter peduli sosila meliputi


sikpa pemurah, saling menolong trehadap sesama manusia serta
adanya ras kaish sayang terhadapp sesama serta menghindari sikap
saling membenci agar terciptanya kehidupan yang aman dan damai
serta penuh cinta.

3. Analisis Perbandingan Nilai-Nilai Karaker pada buku Pendidikan


Karakter Islam Karya Marzuki dan buku Pendidikan Karakter
Pesrpektif Islam karya Abdul Majid dan Dian Andayani
a. Persamaan
Beberapa Nilai Pendidikan Karakter pada buku Pendidikan
Karakter Islam karya Marzuki dan buku Pendidikan Karakter
Perspektif Islam karya Abdul Majid dan Dian Andayani memiliki
beberapa persamaan antara lain ialah sebagai berikut.
1) Religius
Kesamaan konsep nilai pendidikan karakter religius pada kedua
buku memiliki persmaan dimana pada nilai karakter religius ini
adanya nilai keimanan dan ketaqwaan yang menjadikan
kedudukan manusia itu sendiri di hadapan Sang Pencipta. Dan
pada dalil tentang keimanan itu sndiri didasrkan pada sumbernya
yaitu bersumber pada Al-Qur‘an.
2) Jujur
Adapun terkait nilai pendidikan karakter jujur pada kedua buku ini
memiliki persamaan yaitu dari segi definisi dimana jujur disini
diartikan sebaga suatu sikap yang menuntnjukkan adanya
kesesuaian antara ucapan, perasaan dan perbuatan yang
merupakan sumber dari hati. Dan terkait tentang bagaimana
pandangan bagimana pandangan mengenai pentingnya jujr ialah
sama-sama menekankan dampak dari tidak jujur dan sama-
menggnakan dasar dari hadist Rasulullah Saw,.
3) Disiplin
75

Kesamaan konsep tentang ialah adanya kesamaan tentang


cakupannya yaitu adany kedisiplinan pada penggunaan waktu.
4) Toleransi
Adapun kesamaan pada nilai pendidikan karekter toleransi tidak
ada kesamaan yang signifka. Kesamaanya hanya terdapat pada
dasarnya yatu berdasrkan Al-Qur‘an.
5) Kerja Keras
Adapun kesamaan pada nilai pendidikan karekter kerja keras tidak
ada kesamaan karena karakter kerja keras hanya ada pada buku
Pendidikan Karakter Perspektif Islam Karya Marzuki Abdul Majid
dan Dian Andayani.
6) Peduli Lingkungan
Adapun kesamaan pada nilai pendidikan karekter peduli lingungan
tidak ada kesamaan karena peduli lingkungan hanya ada pada
buku Pendidikan Karakter Islam Karya Marzuki.
7) Peduli Sosial
Adapun kesamaaan pada nilai pendidikan karekter peduli
sosial tidak terdapat pada simenolong terhakap yang menunjukkan
sikap peduli ialah dengan saling tolong terhadap orang lain yang
,mengalami kesusahan dan pada dasarnya yaitu berdasrkan Al-
Qur‘an.
b. Perbedaan
Adapun perbedaan nilai-nilai pendidika karakter pada buku Pendidikan
Karakter Islam karya Marzuki dan buku Pendidikan Karakter
Perspektif Islam karya Abdul Majid dan Dian Andayani adalah sebagai
berikut.
1) Religius
Adapun Perbeadaan nilai pendidikan karakter Religius tidak ada
perbedaan yang signifikan.
2) Jujur
76

Adapun Perbeadaan nilai pendidikan karakter jujur tidak ada


perbedaan yang signifikan
3) Disiplin
Adapun Perbeadaan nilai pendidikan karakter disiplin tidak ada
perbedaan yang signifikan
4) Toleransi
Adapun Perbeadaan nilai pendidikan karakter jujur tidak ada
perbedaan dari sikap buku Marzuki tidak hanya menekankan pada
toleransi dalam berpendapat melainkan juga terhadap berperilaku
dan penghormatan terhadap perbedaan agama antarsesama
manusia dan menjadi dasrnya bukan hnaya AL-Qur‘an malinkan
juga berdasarkan Hadits Rasulullah Saw.
5) Kerja Keras
Adapun perbedaam pada nilai pendidikan karekter kerja keras
tidak ada perbedaan karena karakter kerja keras hanya ada pada
buku Pendidikan Karakter Perspektif Islam Karya Marzuki Abdul
Majid dan Dian Andayani.
6) Peduli lingkungan
Adapun perbedaan pada nilai pendidikan karekter peduli
lingkungan tidak ada perbedaan karena karakter peduli lingkungan
hanya ada pada buku Pendidikan Karakter Perspektif Islam Karya
Marzuki Abdul Majid dan Dian Andayani.
7) Peduli Sosial
Adapun perbedaan nilai pendidikan karakter peduli sosial pada
kedua buku tidak memiliki perbedaaan.
Nilai pendidikan karakter dalam buku Pendidikan Karakter Islam
karya Marzuki dan Buku Pendidikan Karakter Perspektif Islam karya Abdul
Majid dan Dian Andayani memiliki persamaan dan perbedaan. Adapun
persamaan dan perbedaanya gerdapat dalam tabel berikut.
77

Tabel 4.3

Persamaan Perbedaan

a) Nilai-Nilai Pendidikan Karakter a) Nilai-Nilai Pendidikan Karakter

Adapun persamaannya ialah pada Adapun perbedaannya ialah pada


nilai-nilai pendidikan karakter: nilai-nilai pendidikan karakter:

1. Religius : Aspek dan Dasar 1. Religius : Aspek dan Dasar


hukum hukum
2. Jujur: Aspek dan Dasar hukum 2. Jujur: -
3. Disiplin: Aspek 3. Disiplin: Dasar hukum
4. Toleransi: Aspek 4. Toleransi: Aspek dan Dasar
5. Kerja Keras: - Hukum
6. Peduli Lingkungan: - 5. Kerja Keras: -
7. Peduli Sosial: Dasarr Hukum 6. Peduli Lingkungan: -
7. Peduli Sosial: -
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Pendidikan karakter dalam perspektif Islam yang terdapat dalam buku


Pendidikan Karakter Islam meliputi Nilai Pendidikan Karakter (karakter
Religius, Jujur, Disiplin, Toleransi, Kerja Keras, Mandiri, Peduli
Lingkungan, Peduli Sosial.
2. Pendidikan karakter dalam perspektif Islam yang terdapat dalam buku
Pendidikan Karakter Perspektif Islam karya Abdul Majid dan Dian
Andayani menyatakan bahwa karakter dalam pandangan Islam adalah
akhlak dan akhlak dalam Islam disebut juga kepribadian. Untuk
mewujudkan kepribadian yang utuh, baik dan benar. Adapun nilai-nilai
pendidikan karakter antara lain: Nilai Religius, Jujur, Disiplin, Toleransi,
Kerja Keras, Peduli Sosial.
3. Adapun perbedaan pada nilai pendiddikan karakter pesrspektif Islam
terdapat pada buku Pendidikan Karakter Islam karya Marzuki dan buku
Pendidikan Karakter Perspektif Islam karya Abdul Majid dan Dian
Andayani ialah terdapaat pada nilai karakter kerja keras dan peduli
lingkungan
B. Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, ada beberapa saran yang dapat penulis


kemukakan sebagai berikut

1. Hendaknya peserta senantisa memiliki kaarakter yang mulia baaik terhadap


Allah, masyarakat, lingkungan bahkan diri seendiri seperti kerakter
religius, jujur, displin, toleransi, kerja keras, peduli sosial dan peduli
lingkungan.
2. Hendaknya sebagai orang tua dan pendidik maka seharusnya mengajarkan
kepada anak atau peserta didik untuk memiliki karakter mulia.
DAFTAR PUSTAKA
Acetylena, Sita. 2018. Pendidikan Karakter Ki Hadjar Dewantara: Perguruan
Taman Siswa sebagai Gagasan Taman Pengetahuan dan Etika.
Malang: Madani.
Adisusilo, Sutarjo. 2014. Pembelajaran Nilai Karakter:Konstruktivisme dan
VCT sebagai Inovasi Pendekatan Pembelajaran Afektif. Jakarta:
Rajawali Pers.
Afriyanti, Neni.2019. Kesetaraan Gender Dalam Tulisan R.A.
KartiniPerspektif Pendidikan Islam. Skripsi, Bengkulu : IAIN
Bengkulu.
Al-Mabarakfuri, Syaikh Shafiyurrahman. 2008. Sirah Nabawiyah. Jakarta:
Pustaka Al-Kautsar.
Aqib, Zainal. 2012. Pendidikan Karakter di Sekolah: Membangun Karakter
dan Kepribadian Anak. Bandung: Yrama Widya.
Fakultas Tarbiyah dan Tadris Institut Agama Islam Negeri Bengkulu (FTT
IAIN Bengkulu). 2015 Pedoman Penulisan Skripsi. Bengkulu: Fakultas
Tarbiyah dan Tadris IAIN Bengkulu.
Fatchul Mu‘in. 2016. Pendidika Karakter: Konstruksi Teoretik & Praktik.
Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Hamka. 2014. Pribadi Hebat. Jakarta: Gema Insani.
Ilyas, Yunahar. 2013. Kuliah Aqidah Islam. Yogyakarta: LPPI.
Jurnal Madaniyah, Volume 9 Nomor 2 Edisi Agustus 2019 ISSN (printed) :
2086-3462 Moh. Fuad Al Amin M. Rosyidi, Konsep Toleransi dalam
ISSN (online) : 2548-6993 Islam dalam Implementasinya di
Masyarakat Indonesia
Kartikowati, Endang dan Zubaedi. 2020. Pola Pembelajaran 9 Pilar Karakter
Pada Anak Usia Dini dan Dimensi-Dimensinya. Jakarta: Prenadamedia
Group.
Katsir, Ibnu. 2007. Shahih Ibnu [Link]: Maktaba Darussalam.

Kurnia, Indah. 2019. ―Konsep Pendidikan Karakter Menurut K.H. Ahmad


Dahlan”. IAIN Bengkulu: Skripsi, Fakultas Tarbiyah dan Tadris.
Listyarti, Retno. 2012. Pendidikan Karakter dalam Metode Aktif, Inovatif dan
Kreatif. Erlangga.
Majid, Abdul. dan Dian Andayani. 2012. Pendidikan Karakter Perspektif
Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Marzuki, Pendidikan Karakter Islam. 2015. Jakarta: Bumi Aksara.

Maulana, Asep. 2017. Muhammad: Sebuah Biografi Akhlak dari manusia


terbaik Yogyakarta: Mueeza.
Mustari, Mohamad. 2014. Nilai Karakter: Refleksi untuk Pendidikan. Jakarta:
Rajawali Pers.
Nata, Abuddin. 2017. Akhlak Taswuf dan Karakter Mulia. Jakarta: Rajawali
Press.
Purwandari, Ari Wiyati, dkk. 2018. Penguatan Pendidikan Karakter:
ReferensiPembelajaran Untuk Guru dan Siswa SD/MI. Erlangga.
Purwandari, Ari Wiyati. 2019. Penguatan Pendidikan Karakter: Tema
Nasionalis. Jakarta: Erlangga.
Salahudin, Anas dan Irwanto Alkrienciehie. 2013. Pendidikan Karakter:
Berbasis Agama dan Budaya Bangsa. Bandung: Pustaka Setia.
Shihab, M. Quraish . 2002. Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian
Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), Volume 10.
Shihab, M. Quraish. 2006. Tafsir Al-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati.
Shihab, [Link]. 2002. Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-
Qur’an, Jakarta: Lentera Hati. volume 6
Sudjana, Eggi. 2008. Islam Fungsional. Jakarta: Rajawali.
Syafe‘i, Rachmat . 2000. Al-Hadis: Aqidah, Akhlaq, Sosial dan Hukum.
Bandung, Pustaka Setia, Zubaedi. 2013. Desain Pendidikan Karakter.
Jakarta: Kencana, 2013
Syafri, Ulil Amri. Pendidikan Karakter berbasis AL-Quran. Jakarta: Rajawali
Pers. 2012.
Usman, dkk. 2011. Ayo Mengkaji Akidah Akhlak: Untuk Madrasah Aliyah
Kelas XI. Surabaya: Erlangga.
Yaumi, Muhammad. 2014. Pendidikan Karakter: Landasan, Pilar &
Implementasi. Jakarta: Kencana.
Zed, Mestika. 2008. Metode Penelitian Kepustakaan. Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia.
Zubaedi. 2011. Design Pendidikan Karakter. Jakarta: Prenada Media Group
L
A
M
P
I
R
A
N

Anda mungkin juga menyukai