0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan4 halaman

Binatang Limbar dalam Cerita Rakyat

Cerita ini menggambarkan dua kisah, satu tentang seorang anak perempuan yang rela berkorban untuk menanam kebun agar keluarganya tidak mengambil makanan dari alam, dan satu lagi tentang seorang gadis yang mencari sisir perak dan berakhir dengan malapetaka setelah membuka kotak yang diberikan oleh Raja Buaya. Dalam kedua kisah tersebut, terdapat tema pengorbanan dan hubungan antara manusia dengan alam. Hasil dari pengorbanan tersebut adalah tanaman jagung yang tumbuh subur.

Diunggah oleh

lili.oktavia47
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan4 halaman

Binatang Limbar dalam Cerita Rakyat

Cerita ini menggambarkan dua kisah, satu tentang seorang anak perempuan yang rela berkorban untuk menanam kebun agar keluarganya tidak mengambil makanan dari alam, dan satu lagi tentang seorang gadis yang mencari sisir perak dan berakhir dengan malapetaka setelah membuka kotak yang diberikan oleh Raja Buaya. Dalam kedua kisah tersebut, terdapat tema pengorbanan dan hubungan antara manusia dengan alam. Hasil dari pengorbanan tersebut adalah tanaman jagung yang tumbuh subur.

Diunggah oleh

lili.oktavia47
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PADI DAN JAGUNG (MAKA MA PENA)

(Amarasi)

Dahulu kala ada sepasang suami isteri yang mempunyai seorang anak
perempuan. Mereka hidup dekat dengan sebuah hutan. Pekerjaan mereka
sehari-hari adalah mencari makanan berupa ubi-ubian dan buah-buahan.
Ubi-ubian tersebut, dikumpul untuk dimakan beberapa hari.
Suatu hari mereka bermaksud mengumpulkan lagi makanan untuk
beberapa hari, maka pergilah mereka bersama-sama ke kebun. Di sana makanan
itu dikumpul; Pada saat mereka sedang memetik datanglah seekor burung
menghampiri anak perempuan itu dan berkata :
“Buah itu tidak boleh dipetik, karena buah itu adalah makananku”.
“Ya, benar, tetapi kami juga ingin makan”, jawab burung itu.
“Apa, ingin makan?”, kata si perempuan.
“Ya, kami ingin makan”, jawab burung itu.
“Nah, kalau demikian dengar dan lakukan apa yang hendak ku katakan padamu”,
pulanglah bersama kedua orang tuamu dan jangan lupa beritahukan pada
ayahmu bahwa mulai besok pagi pohon-pohon, baik yang besar maupun yang
kecil di sekeliling tempat tinggal kalian ditebas dan dibakar untuk dijadikan
kebun untuk kalian”, kata burung itu. Setelah mendengar perkataan burung itu,
bertanyalah anak perempuan itu katanya :
“Untuk apa kebun itu?”.
“Untuk menanam tanaman yang kalian butuhkan”, jawab burung itu.
“Maksudnya?”, tanya si anak perempuan.
“Jika ayahmu telah menebas dan membakar pohon-pohon tadi yang telah
kukatakan kepadamu, maka kalian boleh menanam ubi-ubian dan buah-buahan
untuk kebutuhan kalian sendiri supaya jangan mengambil dari tempat orang
lain”, jawab burung itu.
“Ya baik, lalu bagaimana memperoleh bibit untuk menanam di kebun itu?”. Tanya
si anak perempuan itu.
“Saya bersedia untuk menolongmu atau saya akan siapkan”, jawab burung itu.
Setelah keduanya bercakap-cakap, burung tersebut meninggalkan si anak
perempuan itu; kemudian si anak perempuan itu pergi mendekati kedua orang
tuanya untuk mengajak kembali ke pondok mereka, dengan membawa hasil yang
dipetik oleh orang tuanya.
Setibanya mereka di pondok disampaikan kembali apa yang diberitahukan
oleh burung itu. Semua hal itu disetujui oleh ayahnya. Ayahnya melaksanakan
apa yang diinginkan oleh burung. Setelah selesai tiba-tiba datanglah burung di
pondok mereka dan berkata :
“Bibit yang disipakan untuk ditanam di kebun ayahmu, adalah dagingmu
yang dipotong/diiris dan hamburkan oleh ayahmu sendiri. Empat hari kemudian
dagingmu akan tumbuh menjadi beberapa jenis tanaman dan setiap jenis akan
diberi nama sesuai kehendak ayahmu”.
Setelah burung itu pergi meninggalkan si anak perempuan itu, ia pun pergi untuk
tidur karena hari sudah larut malam.
Di tempat tidur ia memikirkan tentang nasib yang akan menimpanya,
sampai fajar menyingsing di ufuk timur. Suara kokok ayam hutan bersahut-
sahutan : Ko...ko...ko...oooo...re...o.. sambil menunggu siang tiba. Tiba-tiba
terdengarlah suara ayam dengan berkata : “Ayolah nak, bangun kami akan ke
kebun dan saya juga masih bingung dari mana bibit kami peroleh?”.
“Sesuai perintah burung, diri saya sebagai pengganti bibit, boleh diri saya
dipotong oleh ayah dan daging saya dihamburkan memenuhi kebun dan empat
hari kemudian ayah dan ibu akan memperoleh beberapa jenis tanaman yang
dapat diambil untuk kebutuhan sehari-hari, supaya tidak mengambil makanan
burung”, jawab si anak perempuan itu. “Ayah, sebelum membunuhku, ada satu
pesan yakni: “nanti pada akhir musim kemarau ayah dan ibu dapat menatap ke
langit. Disana ada tanda awan putih berbentuk garis panjang membelah langit
utara dan selatan yang tidak jauh dari bintang waluku”.
Ada tanda dua awan putih kecil yang namanya Neo Ma Ka Ma Nao Pena
yang letaknya berdekatan. Kalau keduanya tidak bercahaya pertanda hasilnya
sedikit dan akan terjadi kelaparan”.
Setelah mendengar pesan itu mulailah sang ayah menyiapkan alat untuk
membunuh anak perempuan itu. Setelah anak itu dibunuh, dagingnya
dihamburkan di kebun. Akhirnya kenyataan terjadi. Empat hari kemudian daging
yang dihamburkan tadi telah berubah menjadi tanaman. Tanaman itu
tinggi (30 cm) berambut merah. Tanaman itu dinamakan jagung/pena. Sedangkan
yang pendek kecil dan berbulir terkulai, banyak bijinya, berwarna kuning
keemasan disimbolkan sebagai butir-butir air mata dari si anak perempuan.
RAJA UDANG
(Kabupaten TTU)

Pada zaman dahulu kala, di Desa Noemuti, Kecamatan Meomafo Timur.


Kabupaten TTU, hiduplah satu keluarga yang rukun. Keluarga itu terdiri dari
Bapak Ibu dan anak-anak. Mereka hidup bahagia, rumah tempat kediaman
mereka sederhana, bersih, rapi dan teratur baik, halamannya ditanami dengan
bunga-bunga yang beraneka ragam dan sedap dipandang mata. Selain bunga-
bunga, ditanami juga bermacam-macam pohon. Tak jauh dari situ terletak sebuah
sungai yang bernama Sungai Noemuti, airnya sangat jernih.
Pada suatu hari, seorang anak gadis dari keluarga itu hendak pergi mandi. Ia
menyiapkan segala kebutuhan untuk dibawanya. Tidak lama kemudian
berangkatlah gadis itu ke sungai dengan membawa sebuah sisir perak
peninggalan nenek moyangnya. Di sana gadis itu mulai mencuci barang
cuciannya, lalu mandi, dan mencuci rambutnya yang panjang serta menyisirnya
dengan sisir perak yang dibawanya. Setelah itu, ia menjunjung barang cucian
serta menaruh sisir pada rambutnya bagian belakang. Ia menyeberangi sungai
dan berjalan kembali menuju rumah mereka. Setiba di rumah dipegangnya
rambutnya, ternyata sisir peraknya tidak ada lagi. Ia sangat sedih karena sisir
perak kesayangan dan satu-satunya peninggalan nenek moyang yang diwariskan
kepadanya, sudah tidak ada. Antara sedih dan menyesal gadis itu memutuskan
kembali ke sungai mencari sisir peraknya.
Ia mencari ke sana ke mari sepanjang jalan, keseberang sungai dengan rasa
bingung, sisir peraknya itu tidak dilihatnya. Ia berdiri dalam keadaan bingung,
tiba-tiba ia mendapat satu jalan dan ia mengikut arus air dan mencari sisir itu
mungkin terhanyut dibawa arus. Segera ia berjalan mengikut arus itu sambil
mencari sisirnya yang hilang itu.
Tiba-tiba ia melihat Raja Udang. Segera gadis itu bertanya pada Raja Udang:
“Hai Raja Udang apakah kamu melihat sisir perakku?”. Jawab Raja Udang :
“Saya tidak melihatnya, coba tanyakan pada Raja Limbar”. Sang gadis itu
melanjutkan perjalanannya, tak lama kemudian ia bertemu dengan Raja
Limbar. Kepada Raja Limbar gadis itu berkata : “Raja Limbar apakah engkau
melihat sisir perakku?”. Raja Limbar menjawab : “Saya tidak melihat coba
tanyakan kepada Raja Belut”. Gadis itu berjalan terus, tak lama berselang ia
bertemu dengan Raja Belut. Kepada Raja Belut sang Gadis bertanya lagi :
“Hai Raja Belut apakah engkau melihat sisir perakku?”. “Saya tidak
melihatnya”, Jawab Raja Belut. Coba tanyakan kepada Raja Buaya”. Kata
Raja Belut.
Gadis itu berjalan terus menyusuri sungai sambil mencari sisir perak itu. Ia
hampir putus harapan bahwa sisirnya sudah hilang. Sambil berjalan dan
berpikir demikian tiba-tiba ia bertemu dengan Raja Buaya :“ Hai Raja Buaya
apakah engkau melihat sisir perakku?”. “Tunggu sebentar saya pergi
mengambilnya”. Kata Raja Buaya. Raja Buaya segera berangkat. Tak berapa
lama kemudian kembalilah Raja Buaya dengan membawa sebuah kotak yang
dianyam dari daun lontar.
Raja Buaya mendekati si Gadis itu lalu menyerahkan kotak yang dibawa
sambil berkata : “Terima dan bawalah pulang, tiba di rumah baru engkau
membukanya”. “Terima kasih banyak” Jawab sang Gadis itu. Ia pun segera
kembali ke rumah dengan hati yang sangat legah dan gembira.
Karena sang Gadis itu ingin sekali melihat sisirnya itu, maka duduklah ia
ditengah jalan lalu ia membuka kotak itu. Apa yang dilihatnya?. Dalam kotak itu
ada bermacam-macam ulat. Si Gadis itu hilang akal tak sadarkan diri. Keluarlah
ulat-ulat itu lalu memakan sang Gadis sampai habis. Pada akhir ceritera ini
penceritera berkata : “Foouh .......... (bim sala bim). Hancur seluruhnya dan
masuklah kedalam akar jagungku supaya bertambah subur, ternyata esok pagi
saya melihat daun jagungku segar bugar.

Anda mungkin juga menyukai