STUDI KELAYAKAN BISNIS RUMAH MAKAN
“WARUNG LESEHAN LESTARI”
KARYA ILMIAH
NAMA : LULU PERMATA
NIM : 22106186
PROGRAM STUDI : MANAJEMEN (PAGI C)
PROGRAM : SARJANA
SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI (STIE)
SULTAN AGUNG
PEMATANGSIANTAR
2025
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha
Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga
penulis dapat menyelesaikan tugas makalah mengenai studi
kelayakan bisnis UMKM ini tepat pada waktunya.
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk
memenuhi tugas Bapak Kevin Indajang, S.E., M.M. pada mata kuliah
Studi Kelayakan Bisnis. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk
menambah wawasan tentang kelayakan bisnis pada usaha UMKM.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang telah membagi sebagian pengetahuannya sehingga saya dapat
menyelesaikan makalah ini.
Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
kata sempurna dan masih banyak terdapat kesalahan serta
kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan
saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini nantinya
dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi. Apabila terdapat banyak
kesalahan pada makalah ini penulis mohon maaf yang sebesar-
besarnya.
Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.
Pematangsiantar, 09 Mei 2025
Penulis,
Lulu Permata
NIM : 22106186
i
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI………………………………………………………………….i
DAFTAR GAMBAR…………...............................................................i
BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………….i
A. Latar Belakang………………………………………………………1
B. Tujuan………………………………………………………………..2
C. Ruang Lingkup Laporan……………………………………………2
BAB II PEMBAHASAN…………………………………………………….2
A. Deskripsi Proyek atau Usaha……………………………………....3
B. Aspek Hukum dan Perizinan……………………………………….3
C. Aspek Pasar dan Pemasaran………………………………………4
D. Aspek Keuangan……………………………………………………6
E. Aspek Teknik dan Operasional……………………………………8
F. Aspek SDM………………………………………………………….9
G. Aspek Manajemen…………………………………………………10
H. Aspek Ekonomi, Sosial, dan Politik………………………………11
I. Aspek Lingkungan/AMDAL……………………………………….12
J. Antisipasi Risiko……………………………………………………12
K. Studi Kelayakan Digita…………………………………………… 13
L. Business Model Canvas………………………………………….14
BAB III PENUTUP
A. Evaluasi Kelayakan………………………………………………..17
B. Rekomendasi………………………………………………………18
i
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Busines Model Canvas………………………………........14
i
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Indonesia memiliki kekayaan kuliner yang sangat beragam
dan digemari oleh berbagai kalangan masyarakat. Di antara berbagai
jenis makanan khas yang populer, nasi goreng, bakso, mie ayam,
dan nasi ayam pecak merupakan beberapa hidangan yang paling
banyak dicari karena rasanya yang lezat, mudah diterima oleh
semua usia, serta memiliki nilai jual cukup tinggi. Permintaan
terhadap makanan-makanan tersebut terus meningkat, terutama di
wilayah perkotaan dan daerah dengan mobilitas tinggi. Banyak orang
memeilih makanan yang praktis namun tetap mengenyangkan dan
memiliki cita rasa khas Indonesia.
Selain itu, makanan bakso dan mie ayam sudah menjadi
bagian dari budaya kuliner masyarakat sehari-hari, sementara ayam
pecak dan nasi goreng menawarkan variasi rasa yang menggugah
selera. Melihat peluang tersebut, kami mendirikan Warung Lesehan
Lestari yang secara khusus menyajikan menu-menu favorit
masyarakat Indonesia seperti nasi goreng, bakso, mie ayam, dan
nasi ayam pecak. Rumah makan ini hadir dengan konsep
sederhana, nyama, dan terjangkau, namun tetap menjaga kualitas
rasa, kebersihan, dan pelayanan.
Kami juga melihat peluang besar dalam menjangkau
pelanggan melalui layanan digital seperti delivery, untuk mengikuti
tren konsumsi masyarakat modern yang serba praktis dan cepat.
Dengan memanfaatkan promosi di social media yang efektif, kami
berharap rumah makan ini bias tumbuh menjadi salah satu pilihan
utama masyarakat di kawasan Sidamanik. Melalui usaha ini, kami
berharap dapat menjawab kebutuhan masyarakat akan makanan
yang enak, terjangkau, dan mudah diakses, sekaligus turut
1
berkontribusi dalam mengembangkan potensi kuliner lokal sebagai
bagian dari industri kreatif dan ekonomi mikro di Indonesia.
1.2. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi
kelayakan bisnis dari aspek hukum dan perizinan, aspek pasar, dan
pemasaran, aspek keuangan, aspek teknik dan operasional, aspek
SDM, aspek manajemen, aspek ekonomi, aspek lingkungan/AMDAL,
pada Warung Lesehan Lestari.
1.3. Ruang Lingkup Laporan
Ruang lingkup studi kelayakan bisnis ini mencakup:
1. Aspek Pasar dan Pemasaran: Analisis segmentasi pasar,
target pasar, strategi promosi, dan proyeksi penjualan.
2. Aspek Finansial: Proyeksi biaya investasi awal, biaya
operasional, dan pendapatan yang diharapkan.
3. Kelayakan Teknis: Evaluasi peralatan yang diperlukan,
teknologi produksi, dan standar kualitas produk.
4. Analisis Resiko: Identifikasi resiko yang mungkin dihadapi dan
strategi mitigasi yang diterapkan.
5. Aspek Keuangan: Estimasi kebutuhan modal, proyeksi
pendapatan dan biaya, analisis break even point, serta
perhitungan kelayakan investasi (NPV, IRR, dan Payback
Period.
6. Dampak Sosial dan Lingkungan: Penilaian terhadap kontribusi
usaha terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar.
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Deskripsi Proyek atau Usaha
Warung Lesehan Lestari merupakan sebuah usaha kuliner
yang bergerak di bidang penyediaan makanan khas Indonesia
dengan fokus pada menu-menu yang populer dan dan digemari oleh
berbagai kalangan masyarakat. Adapun menu utama yang disajikan
meliputi nasi goreng, bakso, mie ayam, dan nasi ayam pecak.
Makanan-makanan tersebut dipilih karena memiliki permintaan pasar
yang tinggi, bersifat fleksibel untuk semua waktu makan, serta
memiliki potensi keuntungan yang stabil.
Nama Usaha : Warung Lesehan Lestari
Jenis Usaha : Food, dengan fokus pada produk makanan dengan
bahan yang segar dan berkualitas.
Produk/layanan:
Nasi goreng
Bakso
Mie ayam
Nasi ayam pecak
Target Pasar:
Demografis : Usia anak-anak 5-12 tahun, Remaja-dewasa
13-30 tahun, Orang tua 40-60 tahun.
Geografis : Daerah perumahan yang padat penduduk dan
dekat dengan sekoah/kantor.
Psikografis : Pelanggan yang mencari makanan masakan
nusantara.
B. Aspek Hukum dan Perizinan Usaha
3
Warung Lesehan Lestari ini merupakan usaha mikro skala
rumah tangga yang berlokasi di Sidamanik. Warung ini belum
memiliki izin edar dari BPOM. Namun demikian, seluruh bahan baku
yang digunakan telah dipastikan berasal dari produk-produk yang
telah memiliki izizn BPOM dan label halal, sehingga keamanan dan
kehalalan produk tetap terjaga.
Proses produksi dilakukan dengan menjaga standar
kebersihan dan stanitasi yang baik, mulai dari pengolahan bahan
baku dan proses pengolahan. Hal ini menjadi komitmen utama dalam
menjaga kualitas produk.
Sebagai pengembangan usaha ke depan, direncanakan akan
mengurus surat izin usaha agar usaha semakin memenuhi standar
keamanan pangan yang berlaku.
C. Aspek Pasar dan Pemasaran
1. Segmentasi Pasar
Segmentasi pasar adalah proses membagi pasar menjadi
kelompok-kelompok yang lebih kecil berdasarkan karakteristik
tertentu . Untuk usaha rumah makan, segmentasi dapat dilakukan
berdasarkan:
Demografis
- Usia anak-anak 5-12 tahun, Remaja-dewasa 13-30 tahun,
Orang tua 40-60 tahun.
- Jenis kelamin : Laki-laki dan Perempuan
- Pendapatan: Kelas menengah kebawah, menengah dan
atas.
Geografis
- Lokasi : Daerah peumahan yang padat penduduk dan
dekat dengan sekolah/kantor.
- Wilayah : Perumahan yang memiliki banyak keluarga,
anak-anak, dan remaja.
4
Psikografis
- Gaya hidup : Pelanggan yang mencari makanan khas
Nusantara.
- Nilai dan minat : Pelanggan yang peduli dengan kualitas
bahan baku, atau mencari inovasi dalam rasa.
2. Targeting
Setelah segmentasi, langkah selanjutnya adalah memilih
segmen pasar yang akan dijadikan target, misalnya:
Target Utama
- Anak-anak dan remaja yang bersekolah di sekitar lokasi
usaha, yang mencari tempat makan sekaligus nongkrong.
- Keluarga yang tinggal di perumahan sekitar yang mencari
lauk matang untuk dirumah.
Target sekunder
- Orang tua yang mencari makanan untuk bekal anak ke
sekolah.
- Pekerja di sekitar perumahan yang mencari makanan
untuk makan siang.
3. Positioning
Pemposisian untuk usaha rumah makan di daerah perumahan
dan sekolah dapat dilakukan dengan cara:
Posisi sebagai merek dan rumah keluarga : menyediakan
makanan dengan varian menu yang disukai di berbagai
kalangan dan harga terjangkau.
Posisi sebgai merek praktis : menyediakan makanan yang
mudah diakses dan di beli oleh orang sebagai kebutuhan.
4. Bauran Pemasaran
1. Produk
Makanan nusantara dengan berbagai varian menu dan rasa
kekinian.
2. Price
5
Harga makanan mulai dari Rp.10.000 per makanan.
3. Place
Penjualan di warung dan melalui sosmed.
4. Promotion
Promosi melalui media social dengan mengupload video/foto
makanan yang menarik.
5. Event Launching
Mengadakan jumat berkah setiap pembelian dia atas Rp.50.000
free minuman lemon tea.
6. Loyalty Program
Memberikan voucher diskon ulang tahun khusus pelanggan tetap.
7. People
Melayani pelanggan dengan ramah dan responsif langsung
maupun melalui chat, memastikan kepuasan pelanggan dengan
respon cepat.
8. Process
Proses pemesanan mudah melalui whatsapp dengan konfirmasi
cepat dan jelas. Produksi dilakukan sesuai pesanan agar
makanan selalu fresh.
9. Physical Evidence
Kemasan berlogo dan menarik dan jaminan kebersihan.
D. Aspek Keuangan
1. Biaya/Modal Awal Usaha
Modal awal usaha rumah makan dengan menggunakan lokasi
di kios sendiri:
Biaya Peralatan
- Kompor gas Rp.1.000.000
- Kuali untuk menggoreng Rp.500.000
- Steling kaca Rp.1.500.000
- Kulkas Rp.4.500.000
6
- Blender Rp.350.000
- Peralatan Lainnya (meja, kursi, piring, gelas, sendok)
Rp.7.000.000
Biaya Bahan Baku
-Bahan baku awal (tepung, ayam, bakso, mie, telur, bahan
tambahan) Rp.1.500.000
Biaya Operasional
- Gaji karyawan Rp.50.000/hari (misal untuk 30 hari
Rp.1.500.000
- Biaya utilitas (listrik, air, gas) Rp. 500.000/bulan (misal
untuk 6 bulan Rp.3.000.000).
Biaya Pemasaran
- Promosi mulut ke mulut (tidak ada biaya langsung).
Total modal awal Rp.1.000.000 + Rp.500.000 + Rp.1.500.000 +
Rp.4.500.000 + Rp. 350.000 + Rp.7.000.000 = Rp.13.850.000
2. Analisis Titik Impas (BEP)
Titik impas adalah jumlah penjualan yang diperlukan untuk
menutupi semua biaya tetap dan variabel.
Biaya tetap : Gaji, utilitas, dan biaya tetap lainnya.
Biaya variabel : Biaya bahan baku per makanan.
Misalkan:
- Harga jual per pcs Rp.15.000
- Biaya variabel per makanan Rp.5.000
- Biaya tetap variabel per bulan Rp.4.000.000
Rumus BEP : BEP (unit) = biaya tetap /(harga jual per unit –
biaya variabel per unit)
Rp.4.000.000 (Rp.15.000 – Rp.5.000)
=Rp.4.000.000 – Rp.10.000
7
=Rp.3.990.000
3. Payback Period
Payback period adalah waktu yang dibutuhkan untuk
mengembalikan modal awal dari laba bersih yang dihasilkan oleh
usaha atau investasi. Misalnya, jika modal awal Rp13.850.000-, dan
usaha menghasilkan Rp5.000.000-, per bulan, maka payback period
nya sekitar 2,77 bulan. Semakin cepat paybacknya semakin cepat
modal kembali dan risiko nya lebih kecil.
Rumus Payback Period : Total investasi awal / arus kas
masuk bersih tahunan
- Investasi awal : Rp13.850.000-,
- Laba bersih per bulan : Rp5.000.000-, per bulan
- Perhitungan :
Payback = Rp13.850.000-, + Rp5.000.000-,
= ~2,77 bulan
4. NPV (Net Present Value)
NPV adalah selisih nilai sekarang dari arah arus kas masuk
yang diharapkan dengan nilai investasi awal. NPV memperhitungkan
nilai uang dari waktu ke waktu (time value of money). Jika NPV
positif, artinya investasi tersebut menguntungkan, semakin besar
NPV, semakin baik prospeknya.
Rumus NPV : NPV = ∑ – Investasi awal
𝐶𝑎𝑠ℎ𝑓𝑙𝑜𝑤
(1+𝑟)
Hasil : NPV = ~Rp40.310.779 (Positif, layak)
5. IRR (Internal Rate Of Return)
IRR adalah tingkat pengembalian (Return) dari investasi yang
membuat NPV sama dengan nol. IRR membantu menguntungkan
suatu investasi. Jika IRR lebih tinggi dari tingkat diskonto
(misalnya suku bunga bank) , maka investasi dianggap layak.
Rumus IRR : 0 = ∑
𝑛 𝐶𝑡
𝑡 (1+𝐼𝑅𝑅)
8
Cashflow :
- Bulan 0 = -Rp13.850.000-,
- Bulan 1- 12 : Rp5.000.000-,
Hasil :
IRR tahunan : ~Rp60,07% (jauh lebih tinggi dari 10%
Sangat layak).
E. Aspek Teknik Dan Operasional
1. Lokasi
Prioritas :
- Fokus pada area dekat sekolah dan perumahan.
- Memilih lokasi dengan aksebilitas yang baik untuk pejalan
kaki dan kendaraan
2. Desain Operasional
Layout
- Zona pembelian yang efisien
- Area duduk outdoor
Kapasitas
- 7-8 kursi, menyesuaikan dengan tampat yang tersedia di
lokasi
3. Rantai Pasok
- Sumber lokal (tepung, gula, susu, telur, dll)
- Menggunakan sistem FIFO (First In First Out) untuk
menjaga kualitas bahan baku
F. Aspek SDM
1. Struktur SDM
- 1 pemilik usaha (bertanggung jawab atas produksi dan
pengelolaan usaha).1 staff melayani pelanggan dan kasir
2. Kompensasi
9
- Staff pelayanan/kasir, gaji harian Rp50.000-, atau setara
dengan Rp1.500.000-, per bulan (asumsi 30 hari kerja).
3. Pelatihan
- Pelatihan dasar mengenai produk (makanan), cara
melayani pelanggan, serta standar kebersihan dan
higiene.
4. K3
- Pengadaan alat pemadam ringan (APAR), kotak P3K, dan
pelaksanaan inspeksi kebersihan rutin untuk menjaga
keselamatan dan kenyamanan kerja.
G. Aspek Manajemen
1. Planning
Target penjualan pada 3 bulan pertama adalah mencapai 60%
dari kapasitas produksi harian, dengan fokus membangun basis
pelanggan tetap.
- What : Menjual makanan berbagai varian menu ke target
pasar utama (anak-anak, remaja, dan orang tua)
- Who : Dilaksanakan oleh pemilik usaha dan satu staff
kasir/pelayanan
- When : 3 bulan pertama sejak usaha dimulai
- Where : Sekitar sekolah dan perumahan padat penduduk
di Sidamanik
- Why : Untuk membangun basis pelanggan tetap dan
mengukur daya serap pasar awal.
- How : Melalui pesanan via Whatsapp dan penjualan
langsung
2. Organizing
Pembagian kerja berdasarkan dua fungsi utama :
10
- Pemilik : Produksi, keuangan, dan strategi
- Staff : Melayani pelanggan, mencatat transaksi, dan
pengepakan
3. Actuating
Pemilik memberikan motivasi dan arahan langsung setiap hari,
serta memastikan suasana kerja yang produktif.
4. Controlling
Pengawasan dilakukan dengan pencatatan keuangan harian dan
laporan bulanan
Kontrol kualitas melalui pengecekan bahan baku, hasil produk,
dan kebersihan alat serta area kerja.
H. Aspek Ekonomi Sosial Dan Politik
1. Ekonomi
- Usaha warung lesehan lestari ini berkontribusi menyerap
tenaga kerja lokal meskipun dalam skala kecil, seperti
merekrut satu orang untuk membantu pelayanan dan kasir.
- Meningkatkan perputaran ekonomi di sekitar lokasi usaha
(seperti warung/toko sekitar yang ikut menjual produk),
serta memberi peluang kemitraan dengan pemasok lokal
bahan baku, (ayam, telur, dll)
2. Sosial
- Usaha ini dapat mempererat hubungan sosial dengan
masyarakat sekitar, karena dijalankan di lingkungan
tempat tinggal dan menggunakan pendekatan promosi dari
mulut ke mulut serta komunikasi.
- Membuka peluang kolaborasi dengan komunitas lokal,
termasuk kegiatan sosial seperti berbagi produk ke
sekolah atau acara warga
3. Politik
11
- Usaha ini dijalankan dengan tetap memperhatikan
ketentuan hukum yang berlaku seperti menjaga sanitasi
produksi, dan berencana mengurus sertifikat produksi
pangan industri rumah tangga (SPP-IRT).
- Pemilik usaha juga memiliki kesadaran untuk patuh
terhadap kewajiban perpajakan UMKM sebagai bentuk
kontribusi terhadap negara.
I. Aspek Lingkungan/AMDAL
1. Dampak Lingkungan
- Limbah organik seperti sisa makanan atau bahan
makanan lain diolah menjadi kompos untuk mengurangi
sampah rumah tangga.
- Menggunakan ventilasi penyaring udara untuk mengurangi
asap yang keluar tanpa mengganggu lingkungan sekitar.
- Kegiatan operasional dilakukan hanya sampai maksimal
pukul 18.00 WIB untuk meminimalkan polusi suara dan
menjaga kenyamanan lingkungan sekitar.
2. AMDAL
- AMDAL tidak diwajibkan karena usaha berskala kecil dan
berbasis rumah tangga, namun tetap menerapkan prinsip
kebersihan dan pengelolaan limbah yang baik.
J. Antisipasi Risiko
1. Hazard (Bahaya)
Risiko kebakaran, kerusakan alat produksi, dan kecelakaan
kerja.
12
- Mitigasi : Melakukan perawatan rutin alat-alat dapur,
menyediakan APAR dan kotak P3K, serta memberikan
pelatihan dasar keselamatan kerja.
2. Peril (Ketidakpastian Musiman)
Permintaan makanan menurun pada musim hujan atau libur
sekolah
- Mitigasi : Menyesuaikan strategi penjualan seperti
membuat varian baru, promosi musiman, atau menjual
paket hemat yang menarik selama musim sepi.
3. Loss (Kerugian Reputasi dan Penjualan)
Penurunan kepercayaan konsumen karena isu kebersihan
atau pelayanan
- Mitigasi : Menjaga standar kebersihan dan kualitas secara
konsisten serta melakukan audit internal dan evaluasi
pelayanan secara berkala.
K. Studi Kelayakan Digital
E-Commerce
- Usaha rumah makan memanfaatkan platform digital untuk
pemesanan, seperti pemesanan via Whatsapp dengan
sistem pre-order harian.
- Direncanakan untuk bekerja sama dengan layanan antar
makanan seperti GoFood atau GrabFood agar
menjangkau pasar yang lebih luas.
Digital Marketing
- Promosi dilakukan melalui media sosial seperti Instagram
dan Whatsapp status, dengan konten berupa foto produk,
testimoni pelanggan, dan promosi paket hemat.
- Rencana pembuatan video singkat di TikTok untuk
meningkatkan daya tarik visual dan menjangkau
pelanggan.
13
Analitik
- Melacak preferensi pelanggan melalui riwayat pemesanan
dan feedback langsung dari pelanggan (dilakukan secara
manual)
- Ke depan dapat dikembangkan dengan menggunakan
tools sederhana seperti Google Forms untuk survei
kepuasan pelanggan.
L. Business Model Canvas
Key Partners Key Activities Value Propotitions
- Pemasokan bahan - Produksi makanan - Makanan rumahan
baku lokal (ayam, berbagai varian menu dengan cita rasa
telur) - Promosi di media sosial dan tampilan yang
- Warung sekitar dan Whatsapp menarik
(Titip jual) - Pengemasan dan - Harga terjangkau,
- Komunitas lokal distribusi kualitas premium
(untuk promosi dan - Pengelolaan keuangan - Proses
kolaborasi) dan kontrol kualitas pemesanan
mudah dan cepat
- Produk fresh
sesuai pesanan
Customer Relationships Channels Customer Segments
- Pelayanan ramah - Whatsapp dan media - Anak-anak dan
dan responsif sosial seperti instagram remaja sekolah
- Progran loyalitas dan facebook - Orang tua di
- Komunikasi (Foto/video) perumahan
personal via chat - Penjualan langsung di - Pekerja sekitar
kios dan sekolah lokasi usaha
- Titip jual di warung
Key Resources Cost Structure Revenue Streams
- Pemilik dan staff - Modal awal - Penjualan
- Peralatan produksi Rp13.580.000-, makanan satuan
(Kompor, blender) - Gaji staff dan biaya (Rp15.000-,)
- Bahan baku operasional bulanan - Penjualan paket
14
berkualitas - Bahan baku dan dan bundling
- Media sosial dan kemasan - Promo khusus
kemasan - Promosi (Musiman,
launching, dsb)
Gambar 1.1. Business Model Canva
15
Kesimpulan
Hasil studi kelayakan menunjukkan bahwa warung lesehan
lestari layak untuk dijalankan, baik dari segi finansial, teknis, maupun
pasar. Dari aspek keuangan, modal awal yang dibutuhkan sebesar
Rp13.580.000-, dapat kembali dalam waktu 2,77 bulan, berdasarkan
perhitungan Payback Period. Selain itu, analisis Net Present Value
(NPV) menghasilkan nilai sebesar Rp40.310.779-, yang
menunjukkan potensi keuntungan jangka panjang. Tingkat
pengembalian internal (IRR) sebesar 60,07% per tahun, jauh
melampaui tingkat bunga bank, yang menandakan investasi ini
sangat menguntungkan.
Dari sisi pasar, produk memiliki segmen yang jelas dengan
permintaan yang tinggi lingkungan sekolah dan perumahan.
Pemasaran melalui whatsapp, media sosial, dan sistem titip jual juga
memperkuat jangkauan usaha. Dengan proses produksi sederhana,
lokasi strategis, serta manajemen usaha yang efisien, bisnis ini
berpotensi memberikan kontribusi ekonomi lokal dan menciptakan
lapangan kerja. Oleh karena itu, berdasarkan seluruh indikator yang
telah dianalisis, usaha rumah makan ini dinilai layak untuk
direalisasikan dan memiliki prospek yang menjanjikan.
16
BAB lll
PENUTUP
A. Evaluasi Kelayakan
Usaha rumah makan direncanakan menunjukkan kelayakan yang
kuat dari berbagai aspek utama studi kelayakan biisnis. Dari sisi
pasar, usaha ini menargetkan segmen yang jelas dan potensial, yaitu
anak-anak sekolah, remaja, dan keluarga di area padat penduduk.
Strategi pemasaran yang sederhana namun efektif melalui media
sosial dan penjualan langsung menunjukkan kemampuan usaha ini
untuk menjangkau konsumen secara optimal.
Secara finansial, usaha ini tergolong sangat layak. Modal awal
yang diperlukan relatif kecil dan dapat kembali dalam waktu kurang
dari tiga bulan. Nilai NPV yang positif menunjukkan potensi
keuntungan yang berkelnajutan, dan IRR yang tinggi
mengindikasikan bahwa tingkat pengembalian investasi jauh
melebihi suku bunga bank, yang menandakan prospek bisnis sangat
menguntungkan. Perhitungan Break Even Point juga menunjukkan
bahwa titik impas dapat dicapai dalam jumlah penjualan yang wajar.
Dari aspek teknis dan operasional, proses produksi yang
sederhana, lokasi yang strategis, dan struktur SDM yang efisien
mendukung operasional usaha berjalan dengan baik. Aspek Hukum
dan lingkungan juga telah dipertimbangkan dengan rencana
pengurusan izin prosukdi rumahan sederhana yang ramah
lingkungan.
Secara keseluruhan, usaha rumah makan ini dinilai layak untuk
direalisasikan berdasarkan seluruh aspek studi kelayakan pasar,
keuangan, operasional, hukum, dan sosial lingkungan.
B. Rekomendasi
Agar usaha rumah makan ini dapat berjalan dengan lebih optimal
dan berkelanjutan, beberapa langkah strategis perlu
17
dipertimbangkan. Pertama, pengelola usaha disarankan untuk
segera mengurus Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga
(SPP-IRT) agar produk memiliki legalitas yang diakui dan dapat
memperluasa jangkauan pasar, termasuk ke toko-toko modern dan
paltform daring.
Selanjutnya, meskipun pemasaran telah dirancang menggunakan
media sosial dan Whatsapp, perlu dilakukan penguatan promosi
digital, misalnya dengan membuat konten visual menarik di tiktok
dan instagram, serta menjalin kerja sama dengan layanan pesan-
antar seperti Gofood dan Grabfood agar menjangkau konsumen
lebih [Link] sisi manajemen usaha, penting untuk mulai
menerapkan pencatatan keuangan sederhana secara digital agar
aliran kas, pengeluaran, dan keuntungan lebih terpantau secara real
time. Selain itu, pemilik usaha juga disarankan mengikuti pelatihan
singkat tentang manajemen UMKM agar pengelolaan usaha menjadi
lebih profesional.
Inovasi produk juga sebaiknya terus dilakukan, baik dari segi
rasa, bentuk, maupun kemasan, agar produk tetap menarik di tengah
persaingan. Terakhir, menjaga kualitas bahan baku dan pelayanan
pelanggan harus menjadi prioritas agar reputasi usaha tetap baik
dan pelanggan menjadi loyal. Dengan menerapkan rekomendasi ini,
usaha rumah makan memiliki potensi untuk berkembang dari skala
rumahan menjadi usaha mikro yang tumbuh secara signifikan dan
memberi kontribusi nyata bagi ekonomi lokal.
18