Kecepatan Sembuh Luka: Gel Lamtoro vs Povidone
Kecepatan Sembuh Luka: Gel Lamtoro vs Povidone
Lamtoro (leucaena leucocephala) dan Povidone Iodine pada Tikus Putih (rattus norvegicus)
Wahid Nur Arifin1,Ardi Pramono2
1
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta,
Wahidnoor@[Link]
2
Bidang Anestesi & Biokimia, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Abstrak
Luka adalah hilang atau pun rusaknya sebagian dari jaringan tubuh. Keadaan luka ini banyak faktor penyebabnya. Diantara penyebab
dari luka adalah trauma benda tajam atau tumpul, ledakan, zatkimia, perubahan suhu, sengatan listrik, atau pun gigitan hewan. Respon organisme
terhadap kerusakan jaringan/organ serta usaha pengembalian kondisi homeostasis sehingga dicapai kestabilan fisiologis jaringan atau organ yang
pada kulit terjadi penyusunan kembali jaringan kulit ditandai dengan terbentuknya epitel fungsional yang menutupi luka. Beberapa tumbuhan
obat yang dapat digunakan dalam proses penyembuhan luka seperti daun lamtoro, rimpang kunyit dan temulawak. Tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui perbedaan kecepatan kesembuhan pada luka insisi yang diolesi gel ekstrak daun lamtoro, povidone iodine sebagai kelompok
kontrol pada tikus putih dan kelompok tanpa perlakuan.
Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimental pada hewan coba yaitu tikus putih sebanyak 15 ekor, usia 3-4 bulan dan berat
150-250 gram. Tikus putih dibagi dalam 3 kelompok, yaitu kelompok gel lidah buaya, kelompok ekstrak etanolik rimpang kunyit, dan kelompok
kontrol. Luka insisi sepanjang 2 cm dan kedalaman 2 mm dibuat secara bersih mengunakan pisau bedah. Pengamatan fase penyembuhan luka
secara makroskopis dengan skoring untuk mengetahui proses penyembuhan luka, di ukur menggunakan pengaris untuk mengetahui luas luka.
Hasil pengamatan dianalisis dengan uji statistic nonparametic krusskal wallis dengan taraf kepercayaan 95% dan dilanjutkan dengan uji mann-
whitney Test,
Hasil penelitian menunjukan bahwa rerata waktu sembuh luka sayat dengan olesan gel ekstrak daun lamtoro memiliki waktu sembuh
paling cepat yaitu selama (11,80 0,837) hari, povidone iodinesebagaikelompokkontrol(12,80 0,837) hari dan kelompok tanpa perlakuan
(13,80 0,447 ) hari. Hasil uji beda lama waktu kesembuhan luka antara ketiga variable adalah 0,013 dan hasil man whitney tidak ada perbedaan
yang signifikan antara kelompok gel ekstrak daun lamtoro dan kelompok kontrol dengan nilai p=0,100. Berdasarkan hasil yang dicapai dapat
disimpulkan bahwa gel ekstrakdaunlamtoro pada kesembuhan luka sayat lebih cepat dibandingkan dengan kelompok ekstrak etanolik rimpang
kunyit dan kelompok kontrol.
Abstract
Wound is losing or breaking part of body tissue. There are so many causes factor of wound condition. The example are trauma of dull
or sharp thing, explosion, chemical substance, temperature, electric shock or animal bites. Respon of organisme was reached with stabilized
tissue fisiologic or organ in the skin do rearranging of skin tissue sign by forming of functional epitel which cover the wound. Some herbal
medicine can used on wound healing such as lamtoro leaf, curcuma and ginger. The aim of this study is to know the celerity difference in wound
healing process in incision wound which smeared by lamtoro ekstract gel, povidone iodine as a control group and without treatment in white
mice.
This study is a true experimental in 15 white mice, the age between 3-4 month and weight 150-250 gram, were randomly assigned into
3 groups, lamtoro ekstract gel group, control group, and without treatment group. Incision wound is made by scalpel, the length was 2 cm and
the depth was 2 mm. The macroscopical observation of wound healing is using scoring system to know wound healing process and measured by
ruler to know the wound wide. The result will analized by nonparametric statistic test krusskal wallis with 95% confidence interval and continued
by man whitney test.
The study shows that the fastest wound healing process is by lamtoro ekstrak gel, 11,80 0,837 days, povidone iodine as a control
group is 12,80 0,837 days, and without treatment is 13,80 0,447 days. The result of difference celerity in wound healing process between all
variable is 0,013 and man whitney shows there is an insignificant difference between lamtoro ekstract gel group and control group (p=0,100).
From the result above shows that lamtoro ekstract gel group is faster than povidone iodine as control group and without treatment in wound
healing process
dan gangguan aktifitas bagi penderitanya. Pada zaman modern, sudah banyak
goresan kecil pada jari atau bahkan luka penyembuhan luka dan beberapa faktor yang
bakar derajat tiga yang meliputi hampir menghalanginya. Obat herbal yang sering
seluruh bagian tubuh. Luka disini bisa digunakan oleh masyarakat untuk
disebabkan oleh mekanis seperti luka sayat menyembuhkan luka adalah kunyit
atau penyebab fisik seperti luka bakar1. (curcuma longa). Obat tradisional adalah
terjadi pada jaringan yang rusak dapat dibagi bahan–bahan alamiah dari tumbuhan sebagai
poliferasi dan fase penyudahan yang Petai cina atau tanaman lamtoro
jaringan2. Semua jenis luka perlu melewati flavonoid, tannin, mimosin, leukanin,
ketiga fase tersebut untuk dapat protein, asam lemak dan serat. Tanaman
mengembalikan integritas jaringan. lamtoro terutama pada biji dan daun muda
terdapat senyawa kimia yang disebut digunakan pada penelitian ini adalah tikus
gel ekstrak daun lamtoro, povidone iodine Variabel bebas penelitian ini adalah
sebagai kelompok kontrol dan tanpa perawatan luka insisi dengan diberi olesan
perlakuan pada tikus putih. Populasi yang gel ekstrak daun lamtoro (Leucaena
pada tikus putih. Sedangkan Variabel terikat Laboratorium Hewan Uji Fakultas
penelitian adalah waktu kesembuhan luka Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas
insisi pada tikus putih yang diolesi gel Muhammadiyah Yogyakarta pada bulan Mei
penelitian ini adalah gel ekstrrak daun penelitian FKIK UMY, dengan langkah
lamtoro, povidone iodine, etanol, Nacl 0,9 kerja sebagai berikut daun lamtoro
%, eter, CMC, Nipagin/Nipasol, dan dibersihkan dengan cara dicuci dengan air.
pelarut etanol (alkohol 96%) dengan dengan menentukan lokasi pada daerah
pengadukan secara berkala. Setelah itu cm – 5cm disekitar area kulit yanga akan di
dilakukan penampungan filtrat. Ampas yang insisi. Kemudian disterilkan bagian tersebut
didapatkan dari penyaringan kemudian dengan alkohol 70%. Memasang perlak dan
direndam kembali dengan menggunakan alasnya di bawah tubuh mencit yang akan di
etanol 96%. Prosedur ini dilakukan insisi dan kemudian cuci tangan. Memakai
sebanyak 3 kali. Setelah filtrat didapatkan sarung tangan bersih dan melakukan anestesi
ekstrak semi padat etanol daun lamtoro. steril dengan panjang luka 2 cm dan
etanol daun lamtoro. Selanjutnya ekstrak yang keluar dengan cara dialiri dengan Nacl
kental etanol daun lamtoro yang didapatkan 0,9 % fisiologis menggunakan spuit 5 ml
povidone iodine sebagai kelompok kontrol ekstrak daun lamtoro untuk perlakuan luka
dan tanpa perlakuan dibersihkan sayat yang dirawat dengan daun lamtoro,
menggunakan Nacl 0,9 % fisiologis. Luka dan mengoleskan povidone iodine sebagai
pada waktu pagi hari jam 10.00 WIB. Cara Pengamatan dilakukan pada ketiga
kerjanya adalah mencuci tangan dan kelompok mencit setiap sore harinya, pada
memakai sarung tangan bersih. Mengatur saat dilakukan perawatan setelah perlakuan.
Menempatkan bengkok dan plastik terbuka penggaris untuk mengukur panjang luka.
di dekat luka yang akan dirawat. Mengkaji Kemudian menggunakan loup dan difoto
adanya cairan/ pus pada luka, adanya edema penyembuhan luka sayat.
Pada hari ke 1 tidak di nilai skor nya sampai hari ke 14. Pada kelompok Povidone
karena proses insisi tikus dan pemberian iodine mengalami penurunan sampai hari ke
sampai hari ke 14. Pada kelompok Povidone kesembuhan dan pada kelompok gel lidah
iodine mengalami penurunan sampai hari ke buaya mengalami penurunan sampai hari ke
3 Kontrol Povidone
0
2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
3 Kontrol Povidone
0
2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
Grafik 2 Tingkat kesembuhan luka berdasarkan wound base
15
10 kontrol Povidone
ekstrak daun lamtoro
5 tanpa perlakuan
0
2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
.
Tabel 2. Rerata proses kesembuhan luka wound base luka. Skor yang sudah didapat
insisi
bisa memperlihatkan peningkatan atau
N Kelompok Waktu Krusskall
penurunan luka. Pada grafik 2 terlihat semua
O penelitian kesembuha -wallis
n kelompok mengalami penurunan skor.
(hari)
1 Povidone 12,80 p=0,013 Selain bisa terlihat dari wound base
Iodine 0,837 bermakna
perkembagan luka sayat juga tampak pada
2 Ekstrak 11,80 (signifika
DaunLamtoro 0,837 n) ukuran luka. Dari grafik 3 terlihat pada hari
3 TanpaPerlakua 13,80 p<0,05
n 0,447
ke 2 semua kelompok memiliki skor 4 kesembuhan paling lambat dengan derajat
sebagi skor tertinggi yaitu luas luka dengan kemaknaan semua kelompok p=0,007
daun lamtoro memiliki waktu sembuh memperlihatkan jumlah skor yang diperoleh
penutupan luka yang lebih singkat yaitu masing-masing kelompok penelitian. Pada
Sedangkan pada kelompok povidone iodine penurunan skor sampai hari ke 14 terjadinya
sebagai kelompok kontrol mengalami penurunan skor ini karena sudah mengalami
penyembuhan pada hari ke 14 ( tetapi belum proses penyebuhan luka yang dimulai dari
menutup sempurna) demikian juga pada fase infamasi, fase proliferasi dan fase
insisi dalam hari pada kelompok penelitian perkembangan kesembuhan luka, pada hari
menunjukan bahwa kelompok mencit yang pertama sampai hari ke 7 terjadi fase
diberi olesan ekstrak daun lamtoro (11,80 inflamasi. Setelah cedera respon inflamasi
0,837) memiliki rerata waktu kesembuhan terjadi. Kelompok gel aloe vera , kelompok
luka paling cepat dibanding kelompok yang kunyit dan kelompok kontrol pada fase
lain. Berikutnya kelompok kontrol povidone inflamasi terlihat seperti tanda dan gejala
iodine (12,80 0,837) dan tanpa perlakuan klinis fase inflamasi berupa warna
perfusi, Nyeri (dolor) karena akumulasi kesembuhan luka misalnya terlihat granulasi
produk struktur protein yang akan digunakan menggunakan uji stastistik Krusskall-wallis
sampai bertahun tahun setelah terjadinya pengganggu yang ditemukan meliputi faktor
luka tergantung dari kondisi luka. Luka yang instrinsic dan faktor ekstrinsik. Faktor
tidak terlalu parah seperti pada luka insisi intrinsik yang menyebabkan perlambatan
yang dilakukan dalam penelitian, fase kesembuhan luka adalah aktifitas tikus yang
maturasi dapat terjadi lebih cepat dan tidak dapat dikontrol sehingga membuat
puncaknya bahkan sebelum minggu kedua 9. efektif. Selain iti aktifitas tikus yang
kelompok kontrol tidak terdapat perbedaan 1. Rerata waktu kesembuha luka insisi
yang bermakna (p=0,100) ini menunjukan dengan olesan gel ekstrak daun
bahwa H1 ditolak, tidak adanya perbedaan lamtoro memiliki waktu paling cepat