0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan15 halaman

Kecepatan Sembuh Luka: Gel Lamtoro vs Povidone

Penelitian ini membandingkan kecepatan kesembuhan luka insisi pada tikus putih yang diolesi gel ekstrak daun lamtoro dan povidone iodine. Hasil menunjukkan bahwa gel ekstrak daun lamtoro mempercepat proses penyembuhan dengan rata-rata waktu sembuh 11,80 hari, dibandingkan dengan povidone iodine 12,80 hari dan kelompok tanpa perlakuan 13,80 hari. Uji statistik menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan antara kelompok gel ekstrak daun lamtoro dan kontrol (p=0,100).

Diunggah oleh

Phoebe Abigail
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan15 halaman

Kecepatan Sembuh Luka: Gel Lamtoro vs Povidone

Penelitian ini membandingkan kecepatan kesembuhan luka insisi pada tikus putih yang diolesi gel ekstrak daun lamtoro dan povidone iodine. Hasil menunjukkan bahwa gel ekstrak daun lamtoro mempercepat proses penyembuhan dengan rata-rata waktu sembuh 11,80 hari, dibandingkan dengan povidone iodine 12,80 hari dan kelompok tanpa perlakuan 13,80 hari. Uji statistik menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan antara kelompok gel ekstrak daun lamtoro dan kontrol (p=0,100).

Diunggah oleh

Phoebe Abigail
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Perbedaan Kecepatan Kesembuhan Luka Insisi Antara Olesan Gel Ekstrak Daun

Lamtoro (leucaena leucocephala) dan Povidone Iodine pada Tikus Putih (rattus norvegicus)
Wahid Nur Arifin1,Ardi Pramono2
1
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta,
Wahidnoor@[Link]
2
Bidang Anestesi & Biokimia, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Abstrak
Luka adalah hilang atau pun rusaknya sebagian dari jaringan tubuh. Keadaan luka ini banyak faktor penyebabnya. Diantara penyebab
dari luka adalah trauma benda tajam atau tumpul, ledakan, zatkimia, perubahan suhu, sengatan listrik, atau pun gigitan hewan. Respon organisme
terhadap kerusakan jaringan/organ serta usaha pengembalian kondisi homeostasis sehingga dicapai kestabilan fisiologis jaringan atau organ yang
pada kulit terjadi penyusunan kembali jaringan kulit ditandai dengan terbentuknya epitel fungsional yang menutupi luka. Beberapa tumbuhan
obat yang dapat digunakan dalam proses penyembuhan luka seperti daun lamtoro, rimpang kunyit dan temulawak. Tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui perbedaan kecepatan kesembuhan pada luka insisi yang diolesi gel ekstrak daun lamtoro, povidone iodine sebagai kelompok
kontrol pada tikus putih dan kelompok tanpa perlakuan.

Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimental pada hewan coba yaitu tikus putih sebanyak 15 ekor, usia 3-4 bulan dan berat
150-250 gram. Tikus putih dibagi dalam 3 kelompok, yaitu kelompok gel lidah buaya, kelompok ekstrak etanolik rimpang kunyit, dan kelompok
kontrol. Luka insisi sepanjang 2 cm dan kedalaman 2 mm dibuat secara bersih mengunakan pisau bedah. Pengamatan fase penyembuhan luka
secara makroskopis dengan skoring untuk mengetahui proses penyembuhan luka, di ukur menggunakan pengaris untuk mengetahui luas luka.
Hasil pengamatan dianalisis dengan uji statistic nonparametic krusskal wallis dengan taraf kepercayaan 95% dan dilanjutkan dengan uji mann-
whitney Test,

Hasil penelitian menunjukan bahwa rerata waktu sembuh luka sayat dengan olesan gel ekstrak daun lamtoro memiliki waktu sembuh
paling cepat yaitu selama (11,80  0,837) hari, povidone iodinesebagaikelompokkontrol(12,80 0,837) hari dan kelompok tanpa perlakuan
(13,80  0,447 ) hari. Hasil uji beda lama waktu kesembuhan luka antara ketiga variable adalah 0,013 dan hasil man whitney tidak ada perbedaan
yang signifikan antara kelompok gel ekstrak daun lamtoro dan kelompok kontrol dengan nilai p=0,100. Berdasarkan hasil yang dicapai dapat
disimpulkan bahwa gel ekstrakdaunlamtoro pada kesembuhan luka sayat lebih cepat dibandingkan dengan kelompok ekstrak etanolik rimpang
kunyit dan kelompok kontrol.

Kata Kunci:Luka insisi, Daun Lamtoro, Fase penyembuhan.

Abstract

Wound is losing or breaking part of body tissue. There are so many causes factor of wound condition. The example are trauma of dull
or sharp thing, explosion, chemical substance, temperature, electric shock or animal bites. Respon of organisme was reached with stabilized
tissue fisiologic or organ in the skin do rearranging of skin tissue sign by forming of functional epitel which cover the wound. Some herbal
medicine can used on wound healing such as lamtoro leaf, curcuma and ginger. The aim of this study is to know the celerity difference in wound
healing process in incision wound which smeared by lamtoro ekstract gel, povidone iodine as a control group and without treatment in white
mice.

This study is a true experimental in 15 white mice, the age between 3-4 month and weight 150-250 gram, were randomly assigned into
3 groups, lamtoro ekstract gel group, control group, and without treatment group. Incision wound is made by scalpel, the length was 2 cm and
the depth was 2 mm. The macroscopical observation of wound healing is using scoring system to know wound healing process and measured by
ruler to know the wound wide. The result will analized by nonparametric statistic test krusskal wallis with 95% confidence interval and continued
by man whitney test.

The study shows that the fastest wound healing process is by lamtoro ekstrak gel, 11,80  0,837 days, povidone iodine as a control
group is 12,80  0,837 days, and without treatment is 13,80  0,447 days. The result of difference celerity in wound healing process between all
variable is 0,013 and man whitney shows there is an insignificant difference between lamtoro ekstract gel group and control group (p=0,100).
From the result above shows that lamtoro ekstract gel group is faster than povidone iodine as control group and without treatment in wound
healing process

Keyword: Incision wound, lamtoro leaf, wound healing process


Penyembuhan luka sangat diperlukan untuk

Pendahuluan mendapatkan kembali jaringan tubuh yang

utuh. Beberapa faktor yang berperan dalam


Luka adalah terjadinya gangguan
mempercepat penyembuhan, yaitu faktor
atau kerusakan kontinuitas jaringan pada
internal (dari dalam tubuh) dan faktor
kulit yang semula normal menjadi tidak
eksternal (dari luar tubuh)3.
normal sehingga dapat menimbulkan trauma

dan gangguan aktifitas bagi penderitanya. Pada zaman modern, sudah banyak

Kerusakan jaringan tersebut bisa berupa yang di pelajari tentang proses

goresan kecil pada jari atau bahkan luka penyembuhan luka dan beberapa faktor yang

bakar derajat tiga yang meliputi hampir menghalanginya. Obat herbal yang sering

seluruh bagian tubuh. Luka disini bisa digunakan oleh masyarakat untuk

disebabkan oleh mekanis seperti luka sayat menyembuhkan luka adalah kunyit

atau penyebab fisik seperti luka bakar1. (curcuma longa). Obat tradisional adalah

Proses penyembuhan luka yang kemudian media pengobatan dengan menggunakan

terjadi pada jaringan yang rusak dapat dibagi bahan–bahan alamiah dari tumbuhan sebagai

dalam tiga fase yaitu fase inflamasi, fase bahan baku4.

poliferasi dan fase penyudahan yang Petai cina atau tanaman lamtoro

merupakan perupaan kembali (remodeling) memiliki kandungan alkaloid, saponin,

jaringan2. Semua jenis luka perlu melewati flavonoid, tannin, mimosin, leukanin,

ketiga fase tersebut untuk dapat protein, asam lemak dan serat. Tanaman

mengembalikan integritas jaringan. lamtoro terutama pada biji dan daun muda
terdapat senyawa kimia yang disebut digunakan pada penelitian ini adalah tikus

mimosin. Mimosin dapat mengikat Fe++ putih.

dalam darah sehingga sel darah merah pecah


Sampel yang diuji adalah 15 ekor
dan mengeluarkan trombokinase.
tikus putih yang dibagi dalam tiga kelompok
Trombokinase adalah enzim yang berfungsi
yaitu 5 ekor tikus putih diberi perlakuan
untuk membentuk serat-serat fibrin,
dengan olesan gel ekstrak daun lamtoro
sehingga darah menggumpal dan menutup
(Leucaena Leucocephal), 5 ekor tikus putih
5
luka . Berkaitan dengan uraian di atas,
diberi perlakuan dengan olesan povidone
mendorong peneliti untuk mengetahui
iodine sebagai kelompok kontrol, dan 5 ekor
perbedaan kecepatan kesembuhan luka insisi
tikus putih tidak diberi perlakuan.
dengan olesan gel ekstrak daun lamtoro
Kriteria inklusi yang ditetapkan
(Leucaena Leucocephala) dan povidone
untuk diteliti adalah tikus putih jantan yang
iodine sebagai kontrol pada tikus putih
berumur antara 3-4 bulan atau yang cukup
(rattus norvegicus).
umur dengan berat badan 250-300 gram,

Bahan dan Cara dalam keadaan sehat, aktif bergerak dan

tidak mempunyai kelainan genetik. Kriteria


Penelitian ini adalah penelitian
eksklusi adalah tikus putih yang sakit atau
eksperimental laboratorium untuk
mati pada saat proses penelitian
mengetahui perbedaan kecepatan
berlangsung.
kesembuhan pada luka insisi yang diolesi

gel ekstrak daun lamtoro, povidone iodine Variabel bebas penelitian ini adalah

sebagai kelompok kontrol dan tanpa perawatan luka insisi dengan diberi olesan

perlakuan pada tikus putih. Populasi yang gel ekstrak daun lamtoro (Leucaena

Leucocephal), povidone iodine sebagai


kelompok kontrol, atau tanpa perlakuan Penelitian ini dilaksanakan di

pada tikus putih. Sedangkan Variabel terikat Laboratorium Hewan Uji Fakultas

penelitian adalah waktu kesembuhan luka Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas

insisi pada tikus putih yang diolesi gel Muhammadiyah Yogyakarta pada bulan Mei

ekstrak daun lamtoro(Leucaena sampai bulan Juli 2013.

Leucocephal), povidone iodine, atau tanpa


Pelaksanaan diawali dengan
[Link] penggangu yakni
pengambilan daun lamtoro yang didapatkan
oksigenasi, jenis luka yang dibuat, status
di kebun sekitar perumahan Alam Brajan,
nutrisi dan aktifitas tikus putih.
setelah itu dilanjutkan dengan pembuatan

Bahan yang digunakan pada ekstrak yang dilakukan di Laboratorium

penelitian ini adalah gel ekstrrak daun penelitian FKIK UMY, dengan langkah

lamtoro, povidone iodine, etanol, Nacl 0,9 kerja sebagai berikut daun lamtoro

%, eter, CMC, Nipagin/Nipasol, dan dibersihkan dengan cara dicuci dengan air.

Aquades. Daun dipisahkan dengan batangnya,

kemudian keringakan dengan dijemur sinar


Alat yang digunakan pada penelitian
matahari sampai kering/dikeringkan
ini adalah pisau bedah/scaplle dengan
mengunakan oven. Daun lamtoro yang
pembatasan kedalaman luka untuk membuat
sudah kering dihaluskan untuk dibuat serbuk
luka insisi, kasa steril, kamera, pengerok
menggunakan mesin pengiling setelah jadi
bulu, sarung tangan, kandang, kom steril,
dalam bentuk bubuk kemuadian di lakukan
penggaris, pinset anatomis, pinset cirurgis,
tahap ektraksi dengan metode maserasi.
bak instrumen, bengkok &gunting.
Serbuk daun lamtoro (simplisia) yang

didapatkan dari daun lamtoro, dimasukkan


ke dalam wadah, setelah itu ditambahkan Pembuatan luka insisi dimulai

pelarut etanol (alkohol 96%) dengan dengan menentukan lokasi pada daerah

perbandingan 10 : 1. Kemudian direndam punggung tikus putih. Menghilangkan bulu

selama 24 jam dengan melakukan dengan cara mencukurnya sampai sekitar  3

pengadukan secara berkala. Setelah itu cm – 5cm disekitar area kulit yanga akan di

dilakukan penampungan filtrat. Ampas yang insisi. Kemudian disterilkan bagian tersebut

didapatkan dari penyaringan kemudian dengan alkohol 70%. Memasang perlak dan

direndam kembali dengan menggunakan alasnya di bawah tubuh mencit yang akan di

etanol 96%. Prosedur ini dilakukan insisi dan kemudian cuci tangan. Memakai

sebanyak 3 kali. Setelah filtrat didapatkan sarung tangan bersih dan melakukan anestesi

maka dilakukanlah evaporasi dengan menggunkan eter. Melakukan penyayatan

menggunakan evaporator hingga dihasilkan kulit dengan menggunakan pisau bedah

ekstrak semi padat etanol daun lamtoro. steril dengan panjang luka 2 cm dan

Kemudian keringkan dalam kompor bersuhu kedalaman luka  2 mm selanjutnya

40º C hingga didapatkan ekstrak kental melakukan pembersihan terhadap darah

etanol daun lamtoro. Selanjutnya ekstrak yang keluar dengan cara dialiri dengan Nacl

kental etanol daun lamtoro yang didapatkan 0,9 % fisiologis menggunakan spuit 5 ml

di formulasikan menjadi gel dengan bantuan sampai perdarahan berhenti. Mengeringkan

dari bagian Farmasi UMY. luka dengan menggunakan kasa kering

dengan gerakan sirkulet dari dalam keluar.


Pengelompokkan tikus putih dibagi
Melepas sarung tangan bersih kemudian
dalam 3 kompok yaitu gel ekstrak daun
menggunakan sarung tangan steril.
lamtoro, povidone iodine sebagai kontrol
Melakukan perawatan luka dengan
dan tanpa perlakuan.
menggunakan gel ekstrak daun lamtoro, ada nekrotik dan slough. Mengoleskan gel

povidone iodine sebagai kelompok kontrol ekstrak daun lamtoro untuk perlakuan luka

dan tanpa perlakuan dibersihkan sayat yang dirawat dengan daun lamtoro,

menggunakan Nacl 0,9 % fisiologis. Luka dan mengoleskan povidone iodine sebagai

diperlakukan membuka karena untuk kelompok kontrol, begitu pula pada

melihat proses penyembuhan luka. kelompok tanpa perlakuan hanya

dibersihkan NaCl 0,9% dalam proses


Perawatan luka dilakukan dengan
perawatannya.
intensitas yang sama yaitu tiap hari sekali

pada waktu pagi hari jam 10.00 WIB. Cara Pengamatan dilakukan pada ketiga

kerjanya adalah mencuci tangan dan kelompok mencit setiap sore harinya, pada

memakai sarung tangan bersih. Mengatur saat dilakukan perawatan setelah perlakuan.

posisi mencit senyaman mungkin sehingga Pengamatan dilakukan dengan cara

memudahkan perawatan tindakan. makroskopik dengan menggunakan

Menempatkan bengkok dan plastik terbuka penggaris untuk mengukur panjang luka.

di dekat luka yang akan dirawat. Mengkaji Kemudian menggunakan loup dan difoto

kondisi luka, warna luka, ukuran luka, untuk mengetahui perkembangan

adanya cairan/ pus pada luka, adanya edema penyembuhan luka sayat.

pada luka. Mengambil gambar luka sayat


Penelitian kesembuhan luka dengan
pada mencit dengan menggunakan kamera
memperhatikan criteria kesembuhan luka
sebagai dokumentasi perkembangan
sayat dengan pencatatan menggunaka check
pemulihan luka. Melepas sarung tangan
list atau lembar observasi kesembuhan luka.
bersih kemudian menggunakan sarung
Pencatatan dilakukan setiap sore hari. Setiap
tangan steril. Melakukan debridement jika
criteria diberi skor kemudian dijumlahkan.
Criteria kesembuhan luka meliputi: berbeda dan kelompk mana yang tidak

ada tidaknya tanda-tanda infeksi (eksudat, berbeda.

pus, darah, warna luka, dan lain-lain),

ukuran luka, Wound base (granulasi,


HARI Rerata proses kesembuhan luka insisi
epitelisasi, slough dan nekrotik), pada tikus putih
Perlakuan Perlakuan TanpaPerlakuan
kedalaman luka, jumlah eksudat, tepi luka
kontrol Ekstrak
dan bau. Povidone DaunLamtoro
Iodine
Analisis data yang digunakan adalah 2 13,2 12,6 13,8
3 12,4 12,6 12,8
skala data numeric dengan pengujian
4 11,2 10 11,6
terlebih dahulu data normalitasnya dengan 5 9,8 8,2 10,2

menggunakan metode analitik Shapiro-wilk 6 8,6 6,8 9,2


7 7,8 5,8 7,8
tes karena sampel kecil yaitu kurang ≤50. 8 6 5,2 6,4

Diketahui sebaran data tidak normal, maka 9 4,6 4 5,2


10 3,8 3,2 4,2
dilakukan analisis dengan metode Krusskal-
11 2,2 2,4 3,6
Wallis semua kelompok penelitian. 12 1,6 1 2,2
13 0,6 0,2 1,4
Kemudian dilanjutkan dengan Man-Whitney
14 0,2 0 0,8
tes untuk mengetahui kelompok mana yang

Hasil Penelitian menggambarkan bagaimana perkembangan

luka Insisi bahwa semakin tinggi skor maka


Hasil penelitian yang dilakukan
semakin lama proses penyembuhan luka dan
memperlihatkan rerata skor yang diperoleh
semakin rendah skor maka semakin cepat
masing-masing kelompok penelitian setiap

hari. Skor yang diperoleh akan


proses penyembuhan luka diperlihatkan skor 0,dan pada kelompok tanpa perlakuan

pada tabel 1. mengalami penurunan sampai hari ke 14 dan

tidak mencapi skor 0.


Tabel 1. Rerata proses kesembuhan luka
insisi
Tampak pada hari ke 2 semua

kelompok mengalami penurunan skor

Pada hari ke 1 tidak di nilai skor nya sampai hari ke 14. Pada kelompok Povidone

karena proses insisi tikus dan pemberian iodine mengalami penurunan sampai hari ke

pertama olesan perlakuan pada semua 14 dan mencapai kesembuhan, pada

kelompok tikus. Pada hari ke 2 semua kelompok ekstrak kunyit mengalami

kelompok mengalami penurunan skor penurunan sampai hari ke 13 dan mencapai

sampai hari ke 14. Pada kelompok Povidone kesembuhan dan pada kelompok gel lidah

iodine mengalami penurunan sampai hari ke buaya mengalami penurunan sampai hari ke

14 dan tidak mencapai skor 0, pada 12 dan mencapi kesembuhan, sebagaimana

kelompok ekstrak daun lamtoro mengalami terlihat pada grafik 1.

penurunan sampai hari ke 14 dan mencapai

3 Kontrol Povidone

2 Ekstrak Daun Lamtoro


Tanpa Perlakuan
1

0
2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Grafik 1. Proses penyembuhan Luka


5

3 Kontrol Povidone

2 Ekstrak Daun Lamtoro


Tanpa Perlakuan
1

0
2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
Grafik 2 Tingkat kesembuhan luka berdasarkan wound base

15

10 kontrol Povidone
ekstrak daun lamtoro
5 tanpa perlakuan

0
2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
.

Grafik 3 Tingkat kesembuhan luka berdasarkan luas luka.

Ket : Jumlah skor kesembuhan luka Perkembangan luka insisi dapat


(vertikal), hari pengamatan luka (horisontal)
dilihat dari perkembangan luka berdasarkan

Tabel 2. Rerata proses kesembuhan luka wound base luka. Skor yang sudah didapat
insisi
bisa memperlihatkan peningkatan atau
N Kelompok Waktu Krusskall
penurunan luka. Pada grafik 2 terlihat semua
O penelitian kesembuha -wallis
n kelompok mengalami penurunan skor.
(hari)
1 Povidone 12,80  p=0,013 Selain bisa terlihat dari wound base
Iodine 0,837 bermakna
perkembagan luka sayat juga tampak pada
2 Ekstrak 11,80 (signifika
DaunLamtoro 0,837 n) ukuran luka. Dari grafik 3 terlihat pada hari
3 TanpaPerlakua 13,80  p<0,05

n 0,447
ke 2 semua kelompok memiliki skor 4 kesembuhan paling lambat dengan derajat

sebagi skor tertinggi yaitu luas luka dengan kemaknaan semua kelompok p=0,007

panjang 1,5-1,99 sentimeter. bermakna.

Berangsur angsur semua kelompok


Diskusi
perlakuan akan mengalami penurunan setiap

harinya. Kelompok perlakuan gel ekstrak Pada Tabel 1 dan grafik 1

daun lamtoro memiliki waktu sembuh memperlihatkan jumlah skor yang diperoleh

penutupan luka yang lebih singkat yaitu masing-masing kelompok penelitian. Pada

pada hari ke 14 (menutup sempurna). hari ke 2 semua kelompok mengalami

Sedangkan pada kelompok povidone iodine penurunan skor sampai hari ke 14 terjadinya

sebagai kelompok kontrol mengalami penurunan skor ini karena sudah mengalami

penyembuhan pada hari ke 14 ( tetapi belum proses penyebuhan luka yang dimulai dari

menutup sempurna) demikian juga pada fase infamasi, fase proliferasi dan fase

kelompok kontrol tanpa perlakuan. maturasi.

Rerata waktu penyembuhan luka Pada grafik 1 menunjukan proses

insisi dalam hari pada kelompok penelitian perkembangan kesembuhan luka, pada hari

menunjukan bahwa kelompok mencit yang pertama sampai hari ke 7 terjadi fase

diberi olesan ekstrak daun lamtoro (11,80  inflamasi. Setelah cedera respon inflamasi

0,837) memiliki rerata waktu kesembuhan terjadi. Kelompok gel aloe vera , kelompok

luka paling cepat dibanding kelompok yang kunyit dan kelompok kontrol pada fase

lain. Berikutnya kelompok kontrol povidone inflamasi terlihat seperti tanda dan gejala

iodine (12,80 0,837) dan tanpa perlakuan klinis fase inflamasi berupa warna

(13,80  0,447 ) memiliki waktu kemerahan (rubor) karena kapiler melebar,


Hari Uji beda Signifikasi per pasangan kelompok
proses antara 3
Povidone Povidone Iodine – TanpaPerlakuan–
kelompok (P)
Iodine --Daun TanpaPerlakuan DaunLamtoro
Lamtoro
2 0,043 0,212 0,189 0,014

3 0,522 0,811 0,221 0,488

4 0,025 0,049 0,419 0,013

5 0,007 0,012 0,343 0,005

6 0,005 0,006 0,174 0,005

7 0,008 0,017 0,174 0,007

8 0,061 0,155 0,502 0,014

9 0,048 0,178 0,174 0,018

10 0,173 0,262 0,343 0,080

11 0,160 0,811 0,093 0,095

12 0,121 0,381 0,174 0,045

13 0,043 0,189 0,212 0,014

14 0,026 0,317 0,072 0,014


rasa hangat (kalor) karena meningkatnya memperlihatkan fase menuju ke

perfusi, Nyeri (dolor) karena akumulasi kesembuhan luka misalnya terlihat granulasi

eksudat dan pembengkakan (tumor)6. hingga berkembang menjadi epitelisasi.

Perbaikan luka yang ditunjukan oleh


Penurunan skor bisa terjadi karena
penurunan skor ini memperlihatkan luka
penyempitan luas luka, kedalaman luka yang
berada pada fase proliferasi. Tahap ini
membaik dan keadaan wound base yang
berlangsung dari hari ke 6 sampai dengan 2
minggu. Fibroblast (sel jaringan Untuk mengetahui signifikasi

penyambung) berfungsi untuk menghasilkan perbedaan kecepatan kesembuhan

produk struktur protein yang akan digunakan menggunakan uji stastistik Krusskall-wallis

selama proses rekonstruksi jaringan baru7.

lamtoro adalah kalsium, lemak, fosfor, besi,

protein, serta vitamin A, B1 dan C.


Kandungan gel ekstrak daun lamtoro
Sementara bijinya mengandung mimosin,
sangat memepengaruhi kesembuhan luka.
leukanin, protein, dan leukanol8. Mimosin
Petai cina atau tanaman lamtoro
merupakan golongan asam amino aromatic
mengandung alkaloid, saponin, flavonoid,
dengan rumus kimia (β-N-(3-hydroxy-4-
tannin, mimosin, leukanin, protein, asam
pyridone)-α-amino-propenoic acid). Asam
lemak dan serat. Di dalam tanaman lamtoro
mimosin adalah alkaloid yang merupakan
terutama pada biji dan daun muda terdapat
asam amino, senyawa ini bersifat toksik dan
senyawa kimia yang disebut mimosin.
strukturnya mirip dengan asam amino.
Mimosin dapat mengikat Fe++ dalam darah
Seperti yang sudah diketahui manfaat asam
sehingga sel darah merah pecah dan
amino adalah untuk membentuk sel-sel baru,
mengeluarkan trombokinase. Trombokinase
memberbaiki jaringan yang rusak,
adalah enzim yang berfungsi untuk
membentuk antibody, menyelaraskan enzim
membentuk serat-serat fibrin, sehingga
5
dan hormone8.
darah menggumpal dan menutup luka .

Fase terakhir dari proses


Dalam beberapa referensi
penyembuhan luka adalah fase maturasi,
menyebutkan kandungan kimia pada daun
fase ini biasanya dimulai pada hari ke 24 Pada penelitian ini terdapat variabel

sampai bertahun tahun setelah terjadinya pengganggu yang ditemukan meliputi faktor

luka tergantung dari kondisi luka. Luka yang instrinsic dan faktor ekstrinsik. Faktor

tidak terlalu parah seperti pada luka insisi intrinsik yang menyebabkan perlambatan

yang dilakukan dalam penelitian, fase kesembuhan luka adalah aktifitas tikus yang

maturasi dapat terjadi lebih cepat dan tidak dapat dikontrol sehingga membuat

pertumbuhan kolagen dapat mencapi proses penyembuhan luka menjadi tidak

puncaknya bahkan sebelum minggu kedua 9. efektif. Selain iti aktifitas tikus yang

berlebihan ini menyebabkan antara tikus


Hasil uji Kruskal-Wallis Test
dalam satu kelompok saling bersinggungan.
menunjukan adanya perbedaan pada hari ke
Faktor ekstrinsik yang menggangu berupa
13 dengan nilai p=0,043. Hal ini
faktor lingkungan dan kadang tidak dapat
menunjukan bahwa selain mempercepat fase
dikontrol kebersihannya tiap waktu.
inflamasi dan fase proliferasi gel ekstrak

daun lamtoro juga mempercepat fase


Kesimpulan
maturasi luka pada penelitian.

Hasil penelitian ini dapat disimpulkan


Pada uji kelompok gel ekstrak daun
sebagai berikut :
lamtoro dan povidone iodine sebagai

kelompok kontrol tidak terdapat perbedaan 1. Rerata waktu kesembuha luka insisi

yang bermakna (p=0,100) ini menunjukan dengan olesan gel ekstrak daun

bahwa H1 ditolak, tidak adanya perbedaan lamtoro memiliki waktu paling cepat

kecepatan kesembuhan dikarena waktu yaitu selama 11,80 0,837hari.

sembuh kedua variabel hampir dalam waktu Perkembangan luka mengalami

yang sama. percepatan pada fase inflamasi


dengan adanya kandungan Saran

mimosindan saponin pada Gel


Dari penelitian di atas, disarankan penelitian
ekstrak daun lamtoro yang berperan
lebih lanjut pada probandus manusia yang
dalam pembentukan jaringan sehat
mengalami luka, serta perlunya data
dan proses penyembuhan luka.
mengenai perbedaan perbedaan kecepatan
2. Rerata waktu sembuh luka insisi
kesembuhan luka insisi antara olesan gel
kelompok olesan dengan tanpa
ekstrkak daun lamtoro (Leucanea
perlakuan memiliki waktu sembuh
leucocephala) dan povidone iodine pada
13,80  0,447hari. Proses
tikus putih dengan pemeriksaan kultur
penyembuhan luka terbukti paling
jaringan untuk melihat perkembangan
lama karena disini tidak ada zat
kesembuhan luka pada lapisan dermis.
yang membantu proses
Sehingga penelitian ini lebih diketahui
penyembuhan luka tersebut.
keefektifannya dalam bidang pengobatan
3. Rerata waktu kesembuhan luka insisi
luka dan perlu dilakukan penelitian lanjut
pada kelompok kontrol (Povidone
dengan karekteristik luka yang berbeda
iodine) memiliki waktu sembuh
seperti luka gangrene atau luka bakar.
12,80  0,837 hari.

4. Gel ekstrak daun lamtorodapat


Daftar pustaka
menggantikan povidone iodine dalam
1. Taylor, C, Lilis, C, Lemone P. 2006.
perawatan luka dengan efektifitas
Fundamental of Nursing, The Art
waktu lebih cepat. Percepatan dan and Science of Nursing Care.
Lippincot: Williams & Wilkins.
keefektifian lebih terlihat pada fase 2. Sjamsuhidajat,R & Nim de jong.
(2004). Buku ajar ilmu bedah.
inflamasi dan fase proliferasi. Jakarta: EGC
3. Galiano, R.D., et al. 2007. Topical
vascular endothelial growth factor
accelerates wound healing through
increased angiogenesis and by
mobilizing and recruiting bone
marrow–derived cells. Am. J. Pathol.
164:1935-1947.
4. Cruse P.J, &McPhedran NT. (1995).
Wound healing and management. In:
Sabiston DC (ed) Essentials of
surgery. Saunders: Philadelphia
5. Skerman, P.J. 1977. Tropical Forage
Legumes. Food and Agriculture
Organizati on of The United Nations.
Rome.
6. Nagori, B.P., & Solakin,R (2011).
Role of medicinal plant in wound
healing. Research Journal of
medecine plants. 5 (4) :392-405.
7. Tawi, M. (2008). Proses
penyembuhan luka.
[Link]
diakses 20 September 2013.
8. Laconi, E. B. & Widiyastuti, T.
2010. Kandungan Xantofil 1 Daun
Lamtoro (Lucaena Leucocephala)
Hasil Detoksikasi Mimosin Secara
Fisik Dan Kimia. Departemen Ilmu
Nutrisi Dan Teknologi Pakan,
Fakultas Peternakan, Institut
Pertanian Bogor Jurnal. Diakses 1
Mei 2013 dari elaconi@[Link]
9. Potter & perry, (2006). Buku ajar
fundamental keperawatan, Jakarta:
EGC

Anda mungkin juga menyukai