TP 2
TP 2
Skripsi
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Ujian Akhir
Guna Memperoleh Gelar Sarjana Humaniora Pada
Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas
Hasanuddin
Oleh
REGITA CAHYANI SYAM
F071181012
DEPARTEMEN ARKEOLOGI
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2023
ii
iii
iv
v
KATA PENGANTAR
Bismillahirahmanirahim.
SWT, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan
program studi starata 1 (S1) pada Departemen Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya,
Universitas Hasanuddin. Shalawat serta salam tak lupa pula penulis haturkan untuk
Adapun judul yang penulis ajukan adalah sebagai berikut: “Analisis Nilai Penting
Maros”. Selama penulisan skripsi ini penulis mendapatkan banyak tantangan dan
hambatan, sehingga penulis menyadari bahwa skripsi yang diajukan penulis masih jauh
dari kata sempurna sebagai suatu karya ilmiah. Hal tersebut disebabkan oleh
keterbatasan penulis sebagai manusia yang masih proses pembelajaran. Oleh karena itu
penulis mengharapkan partisipasi aktif dari berbagai pihak berupa kritik dan saran yang
1.
Terima kasih kepada Rektor Universitas Hasanuddin Periode 2018-2022 Prof. Dr.
Dwia Tina Pulubuhu, M.A. beserta jajarannya yang telah memberikan kesempatan
vi
2. Periode 2022-2026, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, [Link]. beserta jajarannya yang
3. Dekan Fakultas Ilmu Budaya Prof. Dr. Akin Duli, M.A. beserta jajarannya.
4. Ketua Departemen Arkeologi, [Link], S.S., [Link]. serta staf pengajar Drs.
Iwan Sumantri, M.A., [Link]., Dr. Anwar Thosibo, [Link]., Sr., Erni Erawati, [Link].,
Dr. Yadi Mulyadi, S.S., M.A., Yusriana, S.S., M.A., Dr. Supriadi, M.A., Dr.
Muhammad Nur, S.S., M.A., Dr. Khadijah Tahir Muda, [Link]., Dr. Hasanuddin,
M.A., Nur Ihsan D, S.S., M.A., Muh. Saiful, S.S., M.A., Suryatman, S.S., M.A.,
Dott. Erwin Mansyur Ugu Saraka, [Link]., Dr. H. Bahar Akkase Teng, Lc.p.,
[Link]., Dr. Eng Ilham Alimuddin, S.T., [Link]., Ir. H. Djamaluddin, M.T..
5. Terima Kasih juga kepada pembimbing akademik penulis, Bapak Prof. Dr. Akin
Duli, M.A. yang telah memberikan saran kepada penulis selama menempuh
6. Terima kasih juga sebesar besarnya kepada bapak Syarifuddin, SE. yang sangat
7. Terima kasih sebesar besarnya kepada tim penelitian penulis Kak Isba, Andi
Nurfadillah, Andini Dwi Putri, St. Nurlaila, Fadia Ayu Lestari, Muh. Nur Taufiq,
dan Ahyar yang telah meluangkan waktu dan tenaga untuk membantu penulis
vii
8. Terima kasih penulis ucapkan kepada Kak Meta dan Kak Iswadi telah memberikan
referensi dan masukan yang sangat membantu penulis selama proses penyusunan
skripsi ini, semoga diberikan kesehatan dan kelancaran dalam segala urusannya.
9. Terima kasih kepada Andi Nurfadillah, yang selalu mengerti penulis yang selalu
mager, keras kepala, dan si bodo amat. Semoga kita berdua sukses dan
10. Terima kasih saya ucapkan kepada sobat ambyar [Link], Andini Dwi Putri,
Salna Dafanjani, Ririn Awalya, Fadia Ayu Lestari, Fifin Arianti, dan Riski Nur
11. Terima kasih saya ucapkan kepada teman SMA penulis Annisa Putri Hadinata,
Anggun Dwi Wardani, Wiwi Juliana, Hasriani Putri, Nur Ismayani, Sastri
Reza Dermawan, Fahrul, A. Khaeril dan Imran yang mengisi waktu kekosongan
12. Terima kasih kepada teman-teman “Pottery 2018” Nurul Izza Khaerunnisa, Kartika
Sari, Salna Dafanjani, Ririn Awlya, Andi Nurfadillah, Zulkifli, Nur Ismi Aulia,
Fifin Arianti, Alfrida Limbong Allo, Ashrullah Djalil, Annisa Musfira Ahmad,
Andini Dwi Putri, Kasnia, Fadia Ayu Lestari, Novianti Lepong, Risky Nur
Mutmainah, St. Nurlaila, Lalu Muhammad Balia F, Muh. Arif Hidayat, Muh. Nur
Taufiq, Muhammad Nur Akram A.N, Muh. Hafdal H, Riska Maulida Muhammad
Algis, Khainun, Muhammad Agang, Aditya Joseph Mesalayuk, Erniati, dan Samhir
viii
yang telah berproses bersama, melalui suka dan duka baik dari perkuliahan maupun
berlembaga.
13. Terima kasih penulis ucapkan untuk seluruh warga Keluarga Mahasiswa Arkeologi,
14. Terima kasih kepada teman-teman Kuliah Kerja Nyata Gelombang 107 Wilayah
Zulkifli, Abimayu Rezki Januar, Muh Fitra Al-Faiyed, Editya Angga Wijaya, Irsan
Anugrah, Risywar, Hendarto, St. Nurlaila, Andi Nurfadillah, Andini Dwi Putri,
Ririn Awalya, Salna Dafanjani, dan Ika Ardiana yang telah memberikan kesan
selama KKN berlangsung, semoga kalian semua diberikan kesehatan dan rezeki
15. Terima kasih yang tak terhingga kepada Dosen Pembimbing Penulis Bapak Drs.
Iwan Sumantri, M.A.,[Link]. selaku pembimbing I dan Ibu Yusriana, S.S., M.A.,
selaku Pembimbing II yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk
membantu penulis dan mengarahkan penulis selama proses penyelesaian skripsi ini.
Semoga bapak dan ibu selalu diberikan kesehatan oleh Allah SWT.
16. Terima kasih penulis ucapkan kepada Kak Isba yang telah setia menemani penulis
dalam berproses menjadi dewasa dan bijaksana dalam menentukan pilihan. Serta
17. Terima kasih juga penulis ucapkan kepada kakak penulis Aidil Aksal Ikhwan, yang
selalu memberikan semangat dan saran selama proses penyusunan skripsi ini,
ix
terima kasih kepada kakak ipar Nurul Dwi Anggraini sebagai teman berkeluh kesah
dan bercerita semoga selalu sehat. Terima juga kasih kepada kedua adik penulis
Nurul Aulia Cahyani dan Muhammad Alfaizul Akbar yang selalu mengisi hari
dengan bercanda dan menjaili mereka, terima kasih telah mengisi kebosanan
Skripsi ini penulis persembahkan kepada kedua orang tua tercinta. Ayahanda
tercinta Zainuddin yang telah memberikan cinta dan kasih sayang begitu besar, serta
nasihat-nasihat untuk menjadi manusia yang lebih baik dan berguna bagi orang sekitar.
Terima kasih tiada batas kepada ayahanda tercinta atas jasanya dalam mendidik, jerih
payah, dan keikhlasannya dalam menghidupi keluarga. Walaupun jarak kita terpisah
jauh tetapi kasih sayang yang diberikan tiada batas. Kepada ibunda Marwanti terima
kasih tiada batas atas segala pengorbanan yang telah dilakukan, serta doa-doa yang
dipanjatkan tak habis-habisnya untuk mendoakan penulis untuk menjadi sukses seperti
orang diluar sana, terima kasih tiada batas atas dukungan yang diberikan kepada penulis.
Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada kakek dan nenek penulis
karena telah merawat penulis mulai sedari masih duduk di bangku taman kanak-kanak
hingga sekarang, terima kasih atas didikan moril, nasehat, dan motivasi. Terima kasih
tiada batas yang kuucapkan karena sangat berjasa dalam kehidupan penulis.
Penulis
x
DAFTAR ISI
SAMPUL........................................................................................................................ i
LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................................ ii
LEMBAR PERSETUJUAN .......................................................................................iii
LEMBAR PENERIMAAN ........................................................................................ iv
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ..................................................................... v
KATA PENGANTAR ................................................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................................ xi
DAFTAR GAMBAR ................................................................................................. xiv
DAFTAR TABEL ....................................................................................................... xv
DAFTAR DIAGRAM ............................................................................................... xvi
ABSTRAK ................................................................................................................ xvii
ABSTRACT ..............................................................................................................xviii
BAB I............................................................................................................................. 1
PENDAHULUAN ........................................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................... 7
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ....................................................................... 8
1.4 Metode Penelitian ........................................................................................... 8
1.5 Tinjuan Pustaka............................................................................................. 11
1.6 Sistematika Penulisan ................................................................................... 21
BAB II ......................................................................................................................... 22
PROFIL WILAYAH .................................................................................................. 22
2.1 Kondisi Lingkungan ..................................................................................... 22
2.2 Kondisi Geologi ............................................................................................ 24
2.3 Kondisi Iklim ................................................................................................ 25
2.4 Kondisi Sosial ............................................................................................... 26
xi
BAB III........................................................................................................................ 30
DATA PENELITIAN ................................................................................................. 30
3.1 Leang Dujie .................................................................................................. 34
3.2 Leang Bontosunggu 5 .................................................................................. 36
3.3 Leang Panto-Panto 2 ..................................................................................... 38
3.4 Leang Cakarra 2............................................................................................ 40
BAB IV ANALISIS NILAI PENTING DAN ANCAMAN PADA SITUS DI
SUBKAWASAN PRASEJARAH LOPI-LOPI KABUPATEN MAROS .............. 42
xii
BAB V ......................................................................................................................... 76
PENUTUP ................................................................................................................... 76
5.1 Kesimpulan ................................................................................................... 76
5.2 Saran ............................................................................................................. 77
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 79
xiii
DAFTAR GAMBAR
xiv
DAFTAR TABEL
xv
DAFTAR DIAGRAM
xvi
ABSTRAK
Regita Cahyani Syam. “Analisis Nilai Penting dan Ancaman Pada Situs di
Subkawasan Gua Prasejarah Lopi-Lopi, Kabupaten Maros”. Dibimbing oleh Iwan
Sumantri dan Yusriana.
xvii
ABSTRACT
Regita Cahyani Syam. "Analysis of Significance and Threats to Sites in the Lopi-Lopi
Prehistoric Cave Subregion, Maros Regency” supervised by Iwan Sumantri and
Yusriana.
xviii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
memiliki nilai penting karena tidak dapat diperbaharui (non-renewble), terbatas (finite),
dan khas (contextual). Oleh karena itu dibutuhkan upaya untuk menjaga nilai penting
yang terancam kelestariannya bahkan rusak dan hilang. Penyebab kerusakan dapat
berupa faktor alamiah, maupun faktor manusia (Nur, 2009). Kawasan Karst Maros-
Pangkep adalah salah satu kawasan karst yang menyimpan berbagai kekayaan budaya
yang setara dengan tingkat internasional. Kekayaan tersebut adalah gua-gua prasejarah
dengan berbagai tinggalannya yaitu lukisan dinding, artefak batu, cangkang moluska,
Pangkep telah dirintis oleh Paul dan Fritz Sarasin, pecinta alam berkebangsaan Swiss.
Lalu pada tahun 1950 penemuan lukisan dinding berupa babi rusa dan cap tangan
pertama kali dikaji oleh HR Van Heekeren, Miss Heeren Palm dan C.J.H Franssen pada
dalam negeri pun mulai melirik kawasan ini, terutama oleh Pusat Penelitian Arkeologi
(Sumantri, 2004:24-25; Supriadi 2008). Hasil penelitian yang dilakukan telah banyak
1
Tidak berhenti sampai di situ saja, tahun 2014 kawasan ini kembali dilirik oleh
ahli arkeologi dari luar negeri dan menemukan hasil yang spektakuler di kalangan
prasejarawan dunia. Maxime Aubert (2014) telah meneliti situs Leang Timpuseng,
Leang Barugayya, Leang Jing, Leang Lompoa, Leang Bulu Bettue, Leang Sampeang,
Leang Burung 1 & 2, dan Leang Jarie terkait dengan pertanggalan gambar cadas
dengan metode dating u-series. Hasil dari penelitian menjelaskan bahwa pertanggalan
pada Kawasan karst Maros-Pangkep berkisar 39, 9- 17, 4 kyr (Aubert, 2014).
lembaga penelitian, lembaga pelestari dan akademisi. Dari tahun ke tahun, banyak
pihak yang berusaha mengungkap tentang data-data gua prasejarah di kawasan karst
Maros-Pangkep. Hal tersebut dilihat dari banyaknya temuan arkeologis yang tesebar di
gua-gua prasejarah Maros-Pangkep, dan gua tersebut sangat mudah dijangkau karena
jarak dan akses menuju kawasan tersebut relatif dekat (Susanti, 2016).
Subkawasan Lopi-Lopi merupakan salah satu kawasan gua prasejarah yang berada
berdekatan dengan dan membentuk perbukitan karst yang memanjang dari arah Barat
2
LopiLopi mempunyai tinggalan arkeologis yang lengkap. Berbagai tinggalan arkeologi
berupa artefak batu, tulang, lukisan dinding (rock art), sampah dapur
(kkjonkemodinger), dan tembikar. Temuan artefak batu hampir dijumpai di semua gua,
lukisan dinding yang terdapat berupa lukisan dinding non figurative dan dan figurative.
Lukisan dinding figurative antara lain lukisan cap tangan dan lukisan manusia yang
berwarna merah.
Melihat potensi budaya yang ada, maka kawasan ini sangat layak untuk
dilestarikan dan dikelola secara berkelanjutan. Namun, sebelum itu perlu untuk
persawahan, mengakibatkan gua-gua ini tidak terlepas dari ancaman kerusakan oleh
aktivitas manusia. Perubahan lahan asli yang banyak pepohonan menjadi lahan
pertanian yang lebih terbuka telah merubah lingkungan situs. Aktivitas pertanian baik
Prasejarah Lopi-lopi.
pengangkatan juru pelihara, studi teknis dan pemintakatan (Zoning) di beberapa gua
serta inventarisasi gua. Namun upaya yang dilakukan tidak cukup untuk mencegah
3
Merujuk dari hasil kajian BPCB secara garis besar ancaman situs yang terjadi
dijadikan ladang dan tempat bermukim (Anonim, 2016), menurut R. Cecep Permana
Ancaman lain yang sangat berpengaruh terhadap kerusakan gua adalah jalan
raya, dekatnya mulut gua dengan jalan raya dapat mempercepat kerusakan karena
sumbangan debu dan polusi dapat memperparah pengulupasan kulit batu pada dinding
gua yang berakibat pada lukisan dinding. Kerusakan yang terjadi diperparah dengan
adanya pabrik industri yang berdekatan dengan gua, serta adanya indikasi tambang
penggunaan lainnya yang dikemudian hari bisa saja menjadi area penambangan
(Anonim, 2019). Jika ancaman tersebut diabaikan maka kerusakan dan hilangnya
Ada beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli untuk
membuktikan ancaman terhadap lukian dinding di Kabupaten Maros antara lain Cecep
Eka Permana (2021) “ Jamur Paecilomyces dari Leang Pettae di Kawasan Karst Maros
dan Saran Pelestarian” yang menjelaskan bahwa jamur yang berjenis paecilomyces
tumbuh subur pada gua dengan kondisi lembab dan basah. Bentuk kerusakan yang
4
diakibatkan oleh jamur Paecilomyces ditujukan dengan lapisan endapan putih pada
dinding dan gambar cadas. Penelitian ini lakukan di Leang Pettae, Kabupaten Maros
(Permana, 2021).
Pada tahun 2021 penelitian terkait dengan penyebab kerusakan gambar cadas
di lakukan oleh Huntley et al (2021) “ The Effect of Climate Change on the Pleistocene
Rock Art of Sulawesi” yang menjelaskan tekait dengan perubahan iklim yang membuat
tingkat kristalisasi garam pada panel gambar cadas dan berpangaruh terhadap
Pada tahun 2022 penelitian dilakukan oleh Gagan et al (2022) “The Historical
lepasnya oksidasi sulphur yang reaktif dan mempengaruhi kerusakan gambar cadas
swasta dan masyarakat. semua pihak tersebut harus saling bersinergi demi tercapainya
budaya semakin sulit. Masyarakat sebagai pemilik sah warisan budaya harus terlibat
5
Masyarakat memiliki peranan yang sangat terbatas dalam pelestarian
membatasi upaya masyarakat dalam melindungi cagar budaya. dan tidak adanya
Peran antara masyarakat dan pemerintah sangat vital dalam melindungi situs
sejarah ini agar tidak terbengkalai (Fatimah, 2014). Upaya masyarakat dalam
pelestarian situs sangat dibutuhkan untuk menjaga dan melindungi kebudayaan bangsa.
Jika situs sejarah tidak dijaga dan dilestarikan, generasi berikutnya akan lupa dengan
kebudayaan bangsa yang kita miliki seiring dengan perkembangan zaman (Afnani,
2021). Selain itu keberadaannya sekarang, juga bersifat langka dan mengandung
nilainilai baik secara akademis maupun sosial (Pearson and Sullivan, 1995: 11-12).
dilindungi dan dilestarikan karena bersifat terbatas maka penulis ingin mengetahui
6
Pada penelitian ini diambil beberapa sampel gua prasejarah pada Subkawasan
dan Leang Cakkara 2 yang berfokus terhadap ancaman yang terjadi dengan
dalam pelestarian tidak akan berhasil tanpa melibatkan masyarakat (Tanudirjo, 2005).
Upaya pelestarian yang dilakukan pada Subkawasan Prasejarah Lopi-Lopi hingga saat
Secara tidak sadar aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat dapat merusak dan
mengubah kondisi gua. hal tersebut terjadi karena tidak adanya rasa kepemilikan
penelitian ini:
Kabupaten Maros ?
2. Apa saja ancaman yang ada pada gua-gua di Subkawasan Prasejarah Lopi-Lopi,
Kabupaten Maros ?
7
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
Kabupaten Maros.
Maros.
yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari
pengumpulan data dibagi menjadi dua yakni pengumpulan data pustaka dan data
lapangan.
8
digunakan sebagai rujukan dalam penyusunan skripsi, sedangkan data lapangan
1. Data Pustaka
oleh penulis yang bertujuan untuk mengumpulkan referensi yang berkaitan dengan
topik penelitian. Sumber data pustaka diambil dari Skripsi, Artikel, Jurnal, Buku serta
laporan penelitian yang berkaitan dengan topik penelitian yang akan diangkat, yang
2. Observasi
prasejarah Lopi-Lopi. Pada tahap ini penulis mengumpulkan data terkait dengan data
arkeologis, dan data keterancaman gua. Pengamatan baik berupa aktivitas masyarakat,
dan kondisi gua. Tahapan observasi dilakukan dengan melakukan deskripsi, dan
dokumentasi.
9
3. Wawancara
Sistem wawancara terbuka dilakukan dengan menetapkan satu kata kunci atau topik
pertanyaan penelitian agar wawancara lebih terarah dan leluasa Kegiatan wawancara
metode pengumpulan data ini adalah masyarakat yang bermukim di sekitar gua yang
1. Analisis Data
Prasejarah Lopi-Lopi, analisis nilai penting serta analisis hasil wawancara. Pada
kerusakan terhadap gua dan benda cagar budaya. tahapan selanjutnya adalah Analisis
nilai penting. Analisis ini dilakukan dengan mengindetifikasi nilai penting setiap
tahapan ini dilakukan perumusan terhadap arahan pelestarian yang tepat dengan
10
melibatkan masyarakat didalamnya. Himpunan data tentang apresiasi masyarakat,
tingkat keterancaman dan kerusakan serta nilai penting sumber daya budaya. maka
Pemangku kepentingan.
perbedaan istilah tersebut pada dasarnya memiliki makna yang sama yaitu kesadaran
terhadap pentingnya upaya pelestarian terhadap sumber budaya karena sifatnya yang
tak terbaharui (non-renewble), terbatas (finite), tak dapat dipindahkan (non movable)
11
budaya maka, CRM muncul sebagai upaya pengeloaan sumber daya budaya yang
secara bijak mempertimbangkan kepentingan banyak pihak (Pearson & Sullivan 1995).
Dengan perkembangan, lingkup kajian CRM tidak berfokus pada lingkup data
arkeologis yang bersifat fisik (tangible), melainkan juga terhadap manifestasi dari
budaya manusia diantaranya seperti mitos, seni, bahasa, musik, dan tradisi budaya yang
lebih bersifat nonfisik dalam suatu konteks kawasan budaya tertentu (Pearson &
Sullivan, 1995). Perubahan lingkup kajian disebabkan oleh munculnya perubahan baru
lainnya, yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari masyarakat saat ini
yang semakin dinamik, dalam suatu kawasan. Dengan pemahaman tersebut, maka
disadari bahwa keberadaan sumber daya budaya kemudian tidak dapat dipisahkan dari
Dengan adanya pemahaman baru di atas berimplikasi pada arah perubahan dan
tujuan yang hendak dicapai dalam CRM. Seiring dengan munculnya kesadaran dan
dan mengerti bahwa sumberdaya budaya pada dasarnya adalah milik masyarakat, oleh
karena itu, kegiatan CRM kemudian harus ditujukan pula bagi kepentingan masyarakat.
12
Menurut Slocum (1995) partisipasi dipahami sebagai keterlibatan aktif masyarakat
dalam pembuatan keputusan tentang suatu kegiatan yang akan berdampak pada mereka
(Nugroho,2006).
CRM, dalam penerapannya ada lima langkah yang harus diutamakan yaitu: 1)
pembuatan keputusan berdasarkan nilai penting, peluang, dan hambatan yang sesuai
/
Alur Pelaksanaan Cultural Resource Management
Sumber : Pearson & Sullivan; 1995
13
Penelitian yang dilakukan pada bidang CRM adalah penelitian yang
sumberdaya arkeologi. Secara garis besar langkah yang dilakukan dalam CRM adalah:
2009: 15-16).
monopoli pemerintah yang berorientasi pada pengelolaan situs sebagai entitas bendawi
(Prasojo, 2000:153; Sulistyanto, tt, 17). Sementara, perilaku masyarakat yang kurang
berkembang seringkali menyatukan mitos dan secara untuk menciptakan sebuah tradisi.
sakral situs arekologi misalnya pemakaman, dan digunakan sebagai wujud spiritual
(Cleere, 1989).
warisan budaya. untuk menghindari konflik setidaknya terdapat tiga komponen yang
14
dilibatkan dalam pemanfaatan sumberdaya budaya. antara lain akademisi, pemerintah,
pemengang penuh hak atas sumberdaya arkeologi (Mcleod 1977:65; Sulistyanto tanpa
tahun: 22).
2. Nilai Penting
Merujuk pada Undang-Undang Cagar Budaya Nomor 11 Tahun 2010 pada Bab
III tentang kriteria cagar budaya pasal 5 menyebutkan bahwa benda, bangunan,atau
struktur dapat diusulkan sebagai Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, atau
Struktur Cagar Budaya, apabila memenuhi kriteria Pertama berusia 50 (lima puluh)
tahun atau lebih; kedua mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 (lima puluh)
tahun; memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama,
dan/atau kebudayaan; dan keempat memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian
bangsa.
adalah penetapan nilai penting. Dalam melakukan penilaian sumberdaya budaya bukan
hal yang mudah, hal tersebut dikarenakan banyaknya kriteria dalam nilai penting yang
dikemukakan oleh pakar dengan berbagai alasan. Kriteria sebuah nilai penting
15
sumberdaya budaya ditentukan berdasarkan kondisi dan tujuan dari pelestarian dengan
demikian diperlukan sebuah alasan objektif dan metodologis dalam penetapan nilai
banyak dikemukakan oleh ahli luar maupun dalam negeri. Salah satunya adalah Darvil
(1995) yang membagi nilai penting sumberdaya budaya menjadi tiga yakni nilai
kegunaan (use value), nilai pilihan (option value), dan nilai keberadaan (existence value)
(Darvill, 1995).
dengan kepentingan dan keinginan masyarakat masa kini. Nilai pilihan adalah nilai
sumberdaya budaya yang diproduksi dan bukan nilai yang dinikmati. Nilai pilihan
datang. oleh karena itu, nilai pilihan bersifat nilai yang diprediksi untuk generasi
mendatang dibandingkan generasi masa kini. Nilai pilihan mencakup dua hal yakni
mempertimbangkan keuntungan nyata dari sumberdaya budaya. ada dua hal yang
menarik dari nilai keberadaan yaitu sebagai identitas budaya dan resisten terhadap
dimiliki dan merupakan refleksi dari perasaan (Darvill, 1995: 43-48; Supriadi 2008:
16
82). Selain itu kriteria nilai penting juga dikemukakan oleh Pearson & Sullivan (1995)
yang menguraikan lima unsur nilai penting sumberdaya budaya sebaga berikut:
1. Nilai estetik, adalah sebuah kelebihan tersendiri yang dimiliki oleh suatu
menikmatinya
17
“Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan
berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya,
Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan
Cagar Budaya di darat dan/atu di air yang perlu dilestarikan
keberadaanya karena memiliki nilai penting bagi sejarah,
ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan
melauli proses penetapan”
yang dimaksud adalah nilai penting sejarah, nilai penting ilmu pengetahuan, nilai
1. Benda cagar budaya dapat dikatakan memiliki nilai penting sejarah apabila
keilmuan tertentu.
menjadi jati diri bangsa atau komunitas tententu. Nilai penting kebudayaan
dibagi atas tiga jenis yaitu nilai etnik, nilai estetika, dan nilai publik
Maha Pencipta.
18
5. Nilai Penting Pendidikan, apabila sumberdaya mempunyai potensi untuk
3. Ancaman
Kata ancaman berasal dari kata dasar ancam. Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) ancam adalah menyatakan maksud (niat, rencana) untuk melakukan
Sedangkan ancaman menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah sesuatu
Ancaman di bidang sosial budaya memiliki arti sebagai suatu tindakan yang
dapat menghilangkan dan mengancam keberadaan kebudayaan yang menjadi ciri khas
memungkinkan adanya faktor dari dalam maupun luar situs yang berpotensi
menimbulkan kerusakan pada situs. Ada dua jenis ancaman yang dapat terjadi pada
19
1.5.2 Riwayat penelitian
lebih dalam mengenai tinggalan arkeologis pada setiap situs. Pada tahun 2014
Timpuseng, oleh Maxxime Aubert, dkk terkait dengan pertanggalan gambar cadas,
Tahun 2016, Yadi Mulyadi melakukan penelitian terkait dengan distribusi dan
persebaran gambar cadas di Indonesia, lalu pada tahun 2017 dilakukan peneltian di
Leang Jing dan Leang Timpuseng oleh Basran Burhan dan [Link]. Saiful terkait
dengan pola sebaran lukisan fauna dibagian selatan Sulawesi yang menyimpulkan
bahwa lukisan yang berada di sebelah Utara merujuk pada identitas pelukis sebagai
Penelitian Selanjutnya pada tahun 2019 dilakukan kajian oleh BPCB terkait
Pada kajian ini dihasilkan sebuah strategi pengembangan dan pemanfaatan pada
kawasan tersebut.
20
1.6 Sistematika Penulisan
manfaat yang ingin dicapai dalam penelitian, metode yang dilakukan atas beberapa
• BAB III DATA PENELITIAN, berisi tentang deskripsi situs, dokumentasi situs
• BAB IV PEMBAHASAN, berisi tentang analisis nilai penting dan ancaman, serta
• BAB V PENUTUP, berisi mengenai kesimpulan dan saran dari hasil penelitian
yang dilakukan.
21
BAB II
PROFIL WILAYAH
2.1 Kondisi Lingkungan
antara 5°01’04.0″ Lintang Selatan dan 119°34’35.0″ Bujur Timur. Luas Wilayah
kabupaten Maros 1619,11 KM2 yang terdiri dari 14 (empat belas) kecamatan yang
berbatasan dengan :
• Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Gowa dan Bone • Sebelah Selatan
22
Gambar 2.1 Peta Administrasi Kabupaten Maros
(Sumber peta: Peta Tematik Indonesia)
22
Kabupaten Maros merupakan wilayah yang berbatasan langsung dengan ibukota
propinsi Sulawesi Selatan, dalam hal ini adalah Kota Makassar dengan jarak kedua kota
perlintasan yang sekaligus sebagai pintu gerbang Kawasan Mamminasata bagian utara
yang dengan sendirinya memberikan peluang yang sangat besar terhadap pembangunan
di Kabupaten Maros.
dengan karakteristik relief yang khas berupa bukit-bukit menjulang menyerupai menara
(tower kars), dan fenomena endokars yang unik dengan gua-gua prasejarahnya, serta
kekayaan biotik dan abiotiknya. Sebagai daerah resapan air (“Recharge Zone”),
kawasan ini mampu memenuhi kebutuhan pertanian dan suplai air baku bagi masyarakat
Geologi wilayah Maros merupakan bagian dari areal geologi regional Maros,
Pangkep, dan Watampone. Bagian Barat memiliki dua baris pegunungan yang
memanjang dengan arah Utara-Barat laut yang terpisahkan oleh lembah Sungai
Walannae. Pada lereng barat dan beberapa tempat di lereng Timur terdapat topografi
karst (karst topography) , yang menunjukkan adanya kandungan batu gamping, dan
sering disebut sebagai kawasan karst Maros-Pangkep. Kawasan karst atau biasa disebut
24
wilayah karst topography adalah suatu daerah dipermukaan bumi yang terdiri dari batu
kapur, yang terjadi karena adanya terumbu karang atau endapan kalsium karbonat yang
membentuk suatu topografi yang sangat khas akibat aktivitas air berupa erosi dan proses
kimiawi pada bagian permukaan maupun dibawah permukaan. Topografi karst pada
umumnya dicirikan oleh morfologi yang khas berupa kumpulan perbukitan dengan
tekstur kasar serta dengan dinding bertebing tegak dengan retakan –retakan hingga
dibawah permukaan (sungai bawah tanah), serta mata air sungai (Anonim, 2007: 12).
Maros ini merupakan hasil pengangkatan pada jaman tersier. Berdasarkan tatanan
stratigrafi dan stuktur batuan pada kawasan gua-gua Maros, umumnya merupakan
lingkungan laut dangkal yang telah mengalami proses pengendapan batuan karbonat
secara terus menerus hingga pada masa awal Eosen tengah. Kegiatan pengendapan ini
menyebabkan terjadinya endapan batuan gamping seperti yang terlihat pada kompleks
gua-gua Maros saat ini. Lingkungan laut dangkal ini diperkirakan pernah terjadi pada
masa Glasial Wurm, dimana pada saat itu lapisan-lapisan es di kedua kutub ini mencair,
sehingga permukaan air laut mengalami pasang surut yang mencapai puluhan meter di
Menurut Oldement, tipe iklim Kabupaten Maros adalah tipe C2 yaitu bulan
basah (200mm) selama 2-3 bulan berturut-turut. Kabupaten Maros termasuk dalam
25
daerah yang beriklim tropis, karena letaknya yang berada pada daerah khatulistiwa
dengan kelembapan berkisar 60-82%. Curah hujan tahunan rata-rata 347 mm/bulan
dengan rata-rata hujan sekitar 16 hari. Temperature udara pada Kabupaten Maros adalah
29º C. dengan kecepatan angina rata-rata adalah 2-3 knot/jam. Daerah kabupaten Maros
pada dasarnya beriklim tropis dengan dua musim, berdasarkan curah hujan yakni:
1. Jumlah Penduduk
Kepadatan penduduk pada suatu wilayah menajdi salah satu parameter yang
26
kecamatan yang memiliki jumlah penduduk yang padat adalah Kecamatan Mandai
sebesar 53.406 ribu jiwa, disusul oleh Kecamatan Turikale, Marusu, dan Bantimurung.
Kecamatan Bantimurung memiliki jumlah penduduk 33.082 ribu jiwa dengan laju
2. Pendidikan Penduduk.
pendidikan juga menjadi salah satu tolak ukur untuk melihat laju perkembangan sutau
daerah. Berdasarkan Badan Pusat Statistik tahun 2022 Kabupaten Maros sendiri
memiliki 625 bangunan sekolah yang telah disiapkan mulai dari jenjang Taman
27
KanakKanak hingga Sekolah Menengah Atas, baik oleh pemerintah maupun pihak
swasta.
Bangunan sekolah yang terdapat pada Kecamatan Bantimurung pada tahun 2019-2020
sebanyak 60 sekolah dengan jumlah siswa 7,226 ribu jiwa. Untuk lebih lengkapnya
3. Tradisi / Kebudayaan
diantaranya:
28
Masyarakat Kecamatan Bantimurung mewakili dua karakter suku yaitu Suku
Bugis dan Suku Makassar dengan agama mayoritas Islam yang dianut secara ketat. Hal
tersebut dibuktikan dengan adanya masjid yang dijumpai tidak saling berjauhan.
bertani diwariskan secara turun temurun dari pendahulunya. Selain bidang pertanian
29