0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan47 halaman

TP 2

Skripsi ini menganalisis nilai penting dan ancaman pada situs prasejarah di Subkawasan Gua Lopi-Lopi, Kabupaten Maros. Penelitian ini mencakup nilai sejarah, ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan ekonomi serta ancaman yang dihadapi situs tersebut. Selain itu, skripsi ini juga memberikan rekomendasi untuk pelestarian tinggalan arkeologi di kawasan tersebut.

Diunggah oleh

sucisaputri252
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan47 halaman

TP 2

Skripsi ini menganalisis nilai penting dan ancaman pada situs prasejarah di Subkawasan Gua Lopi-Lopi, Kabupaten Maros. Penelitian ini mencakup nilai sejarah, ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan ekonomi serta ancaman yang dihadapi situs tersebut. Selain itu, skripsi ini juga memberikan rekomendasi untuk pelestarian tinggalan arkeologi di kawasan tersebut.

Diunggah oleh

sucisaputri252
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ANALISIS NILAI PENTING DAN ANCAMAN PADA SITUS DI

SUBKAWASAN GUA PRASEJARAH LOPI-LOPI, KABUPATEN MAROS

Skripsi
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Ujian Akhir
Guna Memperoleh Gelar Sarjana Humaniora Pada
Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas
Hasanuddin

Oleh
REGITA CAHYANI SYAM
F071181012

DEPARTEMEN ARKEOLOGI
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2023
ii
iii
iv
v
KATA PENGANTAR

Bismillahirahmanirahim.

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamudlillahi Rabbil ‘Aalamin, puji syukur penulis haturkan kehadirat Allah

SWT, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan

program studi starata 1 (S1) pada Departemen Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya,

Universitas Hasanuddin. Shalawat serta salam tak lupa pula penulis haturkan untuk

Baginda Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabat-sahabatnya.

Adapun judul yang penulis ajukan adalah sebagai berikut: “Analisis Nilai Penting

dan Ancaman Pada Situs Di Subkawasan Gua Prasejarah Lopi-Lopi, Kabupaten

Maros”. Selama penulisan skripsi ini penulis mendapatkan banyak tantangan dan

hambatan, sehingga penulis menyadari bahwa skripsi yang diajukan penulis masih jauh

dari kata sempurna sebagai suatu karya ilmiah. Hal tersebut disebabkan oleh

keterbatasan penulis sebagai manusia yang masih proses pembelajaran. Oleh karena itu

penulis mengharapkan partisipasi aktif dari berbagai pihak berupa kritik dan saran yang

bersifat membangun demi penyempurnaan skripsi ini.

Terima kasih penulis ucapkan kepada:

1.

Terima kasih kepada Rektor Universitas Hasanuddin Periode 2018-2022 Prof. Dr.

Dwia Tina Pulubuhu, M.A. beserta jajarannya yang telah memberikan kesempatan

kepada penulis untuk menempuh perkuliahan di kampus merah ini.

vi
2. Periode 2022-2026, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, [Link]. beserta jajarannya yang

telah memberikan kesempatan untuk menemupuh program studi stara 1 (S1) di

Universitas Hasanuddin hingga selesai.

3. Dekan Fakultas Ilmu Budaya Prof. Dr. Akin Duli, M.A. beserta jajarannya.

4. Ketua Departemen Arkeologi, [Link], S.S., [Link]. serta staf pengajar Drs.

Iwan Sumantri, M.A., [Link]., Dr. Anwar Thosibo, [Link]., Sr., Erni Erawati, [Link].,

Dr. Yadi Mulyadi, S.S., M.A., Yusriana, S.S., M.A., Dr. Supriadi, M.A., Dr.

Muhammad Nur, S.S., M.A., Dr. Khadijah Tahir Muda, [Link]., Dr. Hasanuddin,

M.A., Nur Ihsan D, S.S., M.A., Muh. Saiful, S.S., M.A., Suryatman, S.S., M.A.,

Dott. Erwin Mansyur Ugu Saraka, [Link]., Dr. H. Bahar Akkase Teng, Lc.p.,

[Link]., Dr. Eng Ilham Alimuddin, S.T., [Link]., Ir. H. Djamaluddin, M.T..

5. Terima Kasih juga kepada pembimbing akademik penulis, Bapak Prof. Dr. Akin

Duli, M.A. yang telah memberikan saran kepada penulis selama menempuh

pendidikan di Departemen Arkeologi Universitas Hasanuddin.

6. Terima kasih juga sebesar besarnya kepada bapak Syarifuddin, SE. yang sangat

berdedikasi dalam menjalankan tugas dalam bidang administrasi. Terima kasih

telah mengemban amanah dan luar biasa.

7. Terima kasih sebesar besarnya kepada tim penelitian penulis Kak Isba, Andi

Nurfadillah, Andini Dwi Putri, St. Nurlaila, Fadia Ayu Lestari, Muh. Nur Taufiq,

dan Ahyar yang telah meluangkan waktu dan tenaga untuk membantu penulis

dalam pengumpulan data.

vii
8. Terima kasih penulis ucapkan kepada Kak Meta dan Kak Iswadi telah memberikan

referensi dan masukan yang sangat membantu penulis selama proses penyusunan

skripsi ini, semoga diberikan kesehatan dan kelancaran dalam segala urusannya.

9. Terima kasih kepada Andi Nurfadillah, yang selalu mengerti penulis yang selalu

mager, keras kepala, dan si bodo amat. Semoga kita berdua sukses dan

dipertemukan kembali dilain waktu. Tetap semangat.

10. Terima kasih saya ucapkan kepada sobat ambyar [Link], Andini Dwi Putri,

Salna Dafanjani, Ririn Awalya, Fadia Ayu Lestari, Fifin Arianti, dan Riski Nur

Mutmaina yang mengisi waktu penulis dengan berjalan-jalan, mengadakan

perkumpulan selama proses penyusunan skripsi ini.

11. Terima kasih saya ucapkan kepada teman SMA penulis Annisa Putri Hadinata,

Anggun Dwi Wardani, Wiwi Juliana, Hasriani Putri, Nur Ismayani, Sastri

Mutakhara, Rahmat Akbar, Dinal Pramudia Dien, Alsyidik Alfian, Muhammad

Reza Dermawan, Fahrul, A. Khaeril dan Imran yang mengisi waktu kekosongan

penulis dengan mengadakan perkumpulan.

12. Terima kasih kepada teman-teman “Pottery 2018” Nurul Izza Khaerunnisa, Kartika

Sari, Salna Dafanjani, Ririn Awlya, Andi Nurfadillah, Zulkifli, Nur Ismi Aulia,

Fifin Arianti, Alfrida Limbong Allo, Ashrullah Djalil, Annisa Musfira Ahmad,

Andini Dwi Putri, Kasnia, Fadia Ayu Lestari, Novianti Lepong, Risky Nur

Mutmainah, St. Nurlaila, Lalu Muhammad Balia F, Muh. Arif Hidayat, Muh. Nur

Taufiq, Muhammad Nur Akram A.N, Muh. Hafdal H, Riska Maulida Muhammad

Algis, Khainun, Muhammad Agang, Aditya Joseph Mesalayuk, Erniati, dan Samhir

viii
yang telah berproses bersama, melalui suka dan duka baik dari perkuliahan maupun

berlembaga.

13. Terima kasih penulis ucapkan untuk seluruh warga Keluarga Mahasiswa Arkeologi,

Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin (KAISAR FIB-UH) yang telah

memberikan banyak pelajaran dan pengalaman kepada penulis dalam berlembaga.

14. Terima kasih kepada teman-teman Kuliah Kerja Nyata Gelombang 107 Wilayah

Bulukumba 3 Andi Rahmat Hambali, Ahmad Ahimsyah, Eva Reska, Enriko,

Zulkifli, Abimayu Rezki Januar, Muh Fitra Al-Faiyed, Editya Angga Wijaya, Irsan

Anugrah, Risywar, Hendarto, St. Nurlaila, Andi Nurfadillah, Andini Dwi Putri,

Ririn Awalya, Salna Dafanjani, dan Ika Ardiana yang telah memberikan kesan

selama KKN berlangsung, semoga kalian semua diberikan kesehatan dan rezeki

yang berlimpah sehingga kita bisa berkumpul bersama.

15. Terima kasih yang tak terhingga kepada Dosen Pembimbing Penulis Bapak Drs.

Iwan Sumantri, M.A.,[Link]. selaku pembimbing I dan Ibu Yusriana, S.S., M.A.,

selaku Pembimbing II yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk

membantu penulis dan mengarahkan penulis selama proses penyelesaian skripsi ini.

Semoga bapak dan ibu selalu diberikan kesehatan oleh Allah SWT.

16. Terima kasih penulis ucapkan kepada Kak Isba yang telah setia menemani penulis

dalam berproses menjadi dewasa dan bijaksana dalam menentukan pilihan. Serta

memberikan saran, masukan, dan motivasi selama penyusunan skripsi ini.

17. Terima kasih juga penulis ucapkan kepada kakak penulis Aidil Aksal Ikhwan, yang

selalu memberikan semangat dan saran selama proses penyusunan skripsi ini,

ix
terima kasih kepada kakak ipar Nurul Dwi Anggraini sebagai teman berkeluh kesah

dan bercerita semoga selalu sehat. Terima juga kasih kepada kedua adik penulis

Nurul Aulia Cahyani dan Muhammad Alfaizul Akbar yang selalu mengisi hari

dengan bercanda dan menjaili mereka, terima kasih telah mengisi kebosanan

penulis selama menyelesaikan penyusunan skripsi ini.

Skripsi ini penulis persembahkan kepada kedua orang tua tercinta. Ayahanda

tercinta Zainuddin yang telah memberikan cinta dan kasih sayang begitu besar, serta

nasihat-nasihat untuk menjadi manusia yang lebih baik dan berguna bagi orang sekitar.

Terima kasih tiada batas kepada ayahanda tercinta atas jasanya dalam mendidik, jerih

payah, dan keikhlasannya dalam menghidupi keluarga. Walaupun jarak kita terpisah

jauh tetapi kasih sayang yang diberikan tiada batas. Kepada ibunda Marwanti terima

kasih tiada batas atas segala pengorbanan yang telah dilakukan, serta doa-doa yang

dipanjatkan tak habis-habisnya untuk mendoakan penulis untuk menjadi sukses seperti

orang diluar sana, terima kasih tiada batas atas dukungan yang diberikan kepada penulis.

Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada kakek dan nenek penulis

karena telah merawat penulis mulai sedari masih duduk di bangku taman kanak-kanak

hingga sekarang, terima kasih atas didikan moril, nasehat, dan motivasi. Terima kasih

tiada batas yang kuucapkan karena sangat berjasa dalam kehidupan penulis.

Makassar, Juli 2023

Penulis

x
DAFTAR ISI

SAMPUL........................................................................................................................ i
LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................................ ii
LEMBAR PERSETUJUAN .......................................................................................iii
LEMBAR PENERIMAAN ........................................................................................ iv
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ..................................................................... v
KATA PENGANTAR ................................................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................................ xi
DAFTAR GAMBAR ................................................................................................. xiv
DAFTAR TABEL ....................................................................................................... xv
DAFTAR DIAGRAM ............................................................................................... xvi
ABSTRAK ................................................................................................................ xvii
ABSTRACT ..............................................................................................................xviii
BAB I............................................................................................................................. 1
PENDAHULUAN ........................................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................... 7
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ....................................................................... 8
1.4 Metode Penelitian ........................................................................................... 8
1.5 Tinjuan Pustaka............................................................................................. 11
1.6 Sistematika Penulisan ................................................................................... 21
BAB II ......................................................................................................................... 22
PROFIL WILAYAH .................................................................................................. 22
2.1 Kondisi Lingkungan ..................................................................................... 22
2.2 Kondisi Geologi ............................................................................................ 24
2.3 Kondisi Iklim ................................................................................................ 25
2.4 Kondisi Sosial ............................................................................................... 26

xi
BAB III........................................................................................................................ 30
DATA PENELITIAN ................................................................................................. 30
3.1 Leang Dujie .................................................................................................. 34
3.2 Leang Bontosunggu 5 .................................................................................. 36
3.3 Leang Panto-Panto 2 ..................................................................................... 38
3.4 Leang Cakarra 2............................................................................................ 40
BAB IV ANALISIS NILAI PENTING DAN ANCAMAN PADA SITUS DI
SUBKAWASAN PRASEJARAH LOPI-LOPI KABUPATEN MAROS .............. 42

4.1 Nilai Penting Situs Prasejarah Subkawasan Lopi-Lopi, Kabupaten Maros . 42


4.1.1 Nilai Penting Sejarah .......................................................................... 42
4.1.2 Nilai Penting Ilmu Pengetahuan ......................................................... 45
4.1.3 Nilai Penting Pilihan .......................................................................... 46
4.1.4 Nilai Penting kebudayaan ................................................................... 47
4.1.5 Nilai Penting Ekonomi dan Pariwisata ............................................... 48
4.2 Ancaman Situs Prasejarah pada Subkawasan Prasejarah Lopi-Lopi,
Kabupaten Maros ................................................................................................ 50
4.2.1 Leang Dujie ......................................................................................... 50
4.2.2 Leang Bontosunggu 5 .......................................................................... 56
4.2.3 Leang Panto-Panto 2 ............................................................................ 60
4.2.4 Leang Cakkara 2 .................................................................................. 62
4.3 Kebijakan Pelestarian Tinggalan Arkeologi di Subkawasan Prasejarah
Lopi-Lopi. ........................................................................................................... 64
4.3.1 Pelaksanaan Zonasi .............................................................................. 64
4.3.2 Survey .................................................................................................. 65
4.3.3 Studi Teknis ......................................................................................... 65
4.4 Presepsi Masyarakat di Subkawasan Prasejarah Lopi-Lopi. ....................... 66
4.5 Arahan Pelestarian Gua di Subkawasan Prasejarah Lopi-Lopi .................... 68

xii
BAB V ......................................................................................................................... 76
PENUTUP ................................................................................................................... 76
5.1 Kesimpulan ................................................................................................... 76
5.2 Saran ............................................................................................................. 77
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 79

xiii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Peta Administrasi Kabupaten Maros ...................................................... 22


Gambar 3.1 Peta keletakan situs di Subkawasan Prasejarah Lopi-Lopi ................... 33
Gambar 3.2 Tampak Utara Leang Dujie .................................................................... 34
Gambar 3.3 Tampak Barat Leang Dujie..................................................................... 35
Gambar 3.4 Tinggalan Alat Serpih Leang Dujie ....................................................... 35
Gambar 3.5 Temuan Cangkang Moluska Leang Dujie ............................................. 36
Gambar 3.6 Tampak Depan Leang Bontosunggu 5 .................................................. 37
Gambar 3.7 Asosiasi Temuan Moluska dan Artefak Batu ........................................ 37
Gambar 3.8 temuan tulang Leang Bontosunggu 5 .................................................... 38
Gambar 3. 9 Tampak depan Leang Panto-Panto 4 .................................................... 39
Gambar 3.10 Temuan Moluska Leang Panto-Panto 2 ............................................... 40
Gambar 3.11 Temuan Cangkang Moluska Leang Cakkara ....................................... 41
Gambar 4.1 Lanskap alam Subkawasan Prasejarah Lopi-Lopi ................................. 49
Gambar 4.2 a. pengelupasan pada kulit batuan menyebabkan keruskan lukisan
Dinding ............................................................................................... 51
b. organisme yang dapat merusak lukisan dinding gua ........................... 51
Gambar 4.3 Sampah plastik di Leang Dujie ............................................................. 53
Gambar 4.4 Sampah Tas di Leang Dujie ................................................................... 53
Gambar 4.5 Peta Radius areal persawahan dan pemukiman warga di Leang Dujie .. 55
Gambar 4.6 Penyimpanan jerami dan ternak di Situs Leang Bontosunggu 5 ........... 56
Gambar 4.7 coretan menggunakan alat tulis .............................................................. 57
Gambar 4.8 Peta Radius Jarak Pabrik dan Pemukiman Leang Bontosunggu 5 ........ 59
Gambar 4.9 Pengalihfungsian gua menjadi penyimpana ternak ............................... 60
Gambar 4.10 Peta Jarak Pemukiman Leang Panto-Panto 4 ...................................... 61
Gambar 4.11 Coretan dinding menggunakan tipe-x ................................................. 62
Gambar 4.12 Peta Radius Leang Cakkara 2............................................................... 63

xiv
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Kondisi Iklim Kabupaten Maros Tahun 2022 .............................................. 25


Tabel 2. Laju Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Maros 2020-2021 ...................... 26
Tabel 4. Tabel Temuan Sumberdaya Budaya Subkawasan Prasejarah Lopi-Lopi ..... 29
Tabel 5. Riwayat Pelestarian Subkawasan Prasejarah Lopi-Lopi ............................. 63

xv
DAFTAR DIAGRAM

Diagram 1. Pengetahuan Masyarakat Terhadap Nilai penting.................................... 66


Diagram 2. Tingkat Presepsi Masyarakat Sekitar ....................................................... 67

xvi
ABSTRAK
Regita Cahyani Syam. “Analisis Nilai Penting dan Ancaman Pada Situs di
Subkawasan Gua Prasejarah Lopi-Lopi, Kabupaten Maros”. Dibimbing oleh Iwan
Sumantri dan Yusriana.

Subkawasan Prasejarah Lopi-Lopi merupakan subkawasan yang menyimpan berbagai


tinggalan arkeologis di Kabupaten Maros. Terdapat 61 gua yang mengandung tinggalan
arkeologis, dalam penelitian ini hanya empat situs yang menjadi sampel penelitian hal
tersebut berdasarkan pada keletakan gua terhadap ancaman. Keberadaan gua pada
Subkawasan Prasejarah Lopi-Lopi memiliki banyak ancaman yang dapat
mempengaruhi sumberdaya budaya yang dikandungnya. Ada dua ancaman pada
Subkawasan Prasejarah Lopi-Lopi yakni ancaman alam dan ancaman manusia.
Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi nilai penting dan ancaman yang terjadi di
Subkawasan Prasejarah Lopi-Lopi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif
deskriptif dengan tahapan pengumpulan data yang terdiri pengumpulan data pustaka,
observasi dan wawancara. Tahapan selanjutnya yaitu analisis data. Analisis data
digunakan yaitu analisis nilai penting dan analisis ancaman. Tahapan terakhir yaitu
tahapan interpretasi data. Hasil penelitian ini menjelaskan nilai penting yaitu nilai
penting sejarah, nilai penting ilmu pengetahuan, nilai penting pilihan, nilai penting
kebudayaan, dan nilai penting ekonomi dan pariwisata serta ancaman yang terbagi atas
ancaman alam dan ancaman manusia pada Subkawasan Prasejarah Lopi-Lopi.

Kata Kunci: Nilai Penting, Ancaman, Subkawasan Prasejarah Lopi-Lopi.

xvii
ABSTRACT
Regita Cahyani Syam. "Analysis of Significance and Threats to Sites in the Lopi-Lopi
Prehistoric Cave Subregion, Maros Regency” supervised by Iwan Sumantri and
Yusriana.

The Lopi-Lopi Prehistoric Sub-region is a sub-region that stores various archaeological


remains in Maros Regency. There are 61 caves containing archaeological remains, in
this study only four sites were sampled this was based on the location of the cave against
threats. The existence of caves in the Lopi-Lopi Prehistoric Subregion has many threats
that can affect the cultural resources they contain. There are two threats to the Lopi-
Lopi Prehistori Subregion, namely natural threats and human threats.
The purpose of this research is to identify the important values and threats that occur in
the Lopi-Lopi Prehistoric Sub-region. This study used a descriptive qualitative method
with data collection stages consisting of library data collection, observation and
interviews. The next stage is data analysis. Data analysis was used, namely important
value analysis and threat analysis. The last stage is the data interpretation stage. The
results of this study explain the important values, namely the important historical values,
the important values of science, the important values of choice, the important cultural
values, and the important economic and tourism values as well as threats which are
divided into natural threats and human threats in the Lopi-Lopi Prehistoric Subregion.

Keywords: Significant Value, Threat, Lopi-Lopi Prehistoric Subregion

xviii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Perkembangan zaman telah membawa kesadaran bahwa warisan budaya

memiliki nilai penting karena tidak dapat diperbaharui (non-renewble), terbatas (finite),

dan khas (contextual). Oleh karena itu dibutuhkan upaya untuk menjaga nilai penting

sebuah warisan budaya (Tanudirjo, 2003). Di Indonesia banyak sumberdaya arkeologi

yang terancam kelestariannya bahkan rusak dan hilang. Penyebab kerusakan dapat

berupa faktor alamiah, maupun faktor manusia (Nur, 2009). Kawasan Karst Maros-

Pangkep adalah salah satu kawasan karst yang menyimpan berbagai kekayaan budaya

yang setara dengan tingkat internasional. Kekayaan tersebut adalah gua-gua prasejarah

dengan berbagai tinggalannya yaitu lukisan dinding, artefak batu, cangkang moluska,

tulang, dan tembikar (Susanti, 2016).

Sejak 1902, penelitian di gua-gua prasejarah untuk Kawasan Karst Maros-

Pangkep telah dirintis oleh Paul dan Fritz Sarasin, pecinta alam berkebangsaan Swiss.

Lalu pada tahun 1950 penemuan lukisan dinding berupa babi rusa dan cap tangan

pertama kali dikaji oleh HR Van Heekeren, Miss Heeren Palm dan C.J.H Franssen pada

tahun 1950 (Hadimuljono, 1992:29-52, Susanti, 2016:5). Sejak 1980-an, peneliti

dalam negeri pun mulai melirik kawasan ini, terutama oleh Pusat Penelitian Arkeologi

Nasional (PuslitArkenas) dan mahasiswa Jurusan Arkeologi Universitas Hasanuddin

(Sumantri, 2004:24-25; Supriadi 2008). Hasil penelitian yang dilakukan telah banyak

mengungkap temuan pada gua-gua prasejarah di Kawasan Maros-Pangkep.

1
Tidak berhenti sampai di situ saja, tahun 2014 kawasan ini kembali dilirik oleh

ahli arkeologi dari luar negeri dan menemukan hasil yang spektakuler di kalangan

prasejarawan dunia. Maxime Aubert (2014) telah meneliti situs Leang Timpuseng,

Leang Barugayya, Leang Jing, Leang Lompoa, Leang Bulu Bettue, Leang Sampeang,

Leang Burung 1 & 2, dan Leang Jarie terkait dengan pertanggalan gambar cadas

dengan metode dating u-series. Hasil dari penelitian menjelaskan bahwa pertanggalan

pada Kawasan karst Maros-Pangkep berkisar 39, 9- 17, 4 kyr (Aubert, 2014).

Penelitian pada Kawasan Karst Maros-Pangkep sudah banyak dilakukan oleh

lembaga penelitian, lembaga pelestari dan akademisi. Dari tahun ke tahun, banyak

pihak yang berusaha mengungkap tentang data-data gua prasejarah di kawasan karst

Maros-Pangkep. Hal tersebut dilihat dari banyaknya temuan arkeologis yang tesebar di

gua-gua prasejarah Maros-Pangkep, dan gua tersebut sangat mudah dijangkau karena

jarak dan akses menuju kawasan tersebut relatif dekat (Susanti, 2016).

Subkawasan Lopi-Lopi merupakan salah satu kawasan gua prasejarah yang berada

dalam Kawasan Karst Maros-Pangkep. Subkawasan Lopi-Lopi mencakup 3 (tiga)

wilayah pedesaan/kelurahan yang berada di kabupaten Maros , yaitu Kelurahan

Kallabirang, Kelurahan Leang-leang, dan Desa Mangeloreng, Kecamatan Bantimurung.

Subkawasan Lopi-Lopi sendiri mencakup 61 situs gua prasejarah yang saling

berdekatan dengan dan membentuk perbukitan karst yang memanjang dari arah Barat

hingga Timur, bersebelahan dengan bagian Selatan Sub Kawasan Leang-Leang

(Anonim, 2019). Sebagai sumber data prasejarah Sulawesi Selatan, Subkawasan

2
LopiLopi mempunyai tinggalan arkeologis yang lengkap. Berbagai tinggalan arkeologi

berupa artefak batu, tulang, lukisan dinding (rock art), sampah dapur

(kkjonkemodinger), dan tembikar. Temuan artefak batu hampir dijumpai di semua gua,

lukisan dinding yang terdapat berupa lukisan dinding non figurative dan dan figurative.

Lukisan dinding figurative antara lain lukisan cap tangan dan lukisan manusia yang

berwarna merah.

Melihat potensi budaya yang ada, maka kawasan ini sangat layak untuk

dilestarikan dan dikelola secara berkelanjutan. Namun, sebelum itu perlu untuk

mengetahui apakah kawasan ini layak untuk dikelola, mengingat keberadaan

Subkawasan Prasejarah Lopi-Lopi yang dekat dengan pemukiman dan areal

persawahan, mengakibatkan gua-gua ini tidak terlepas dari ancaman kerusakan oleh

aktivitas manusia. Perubahan lahan asli yang banyak pepohonan menjadi lahan

pertanian yang lebih terbuka telah merubah lingkungan situs. Aktivitas pertanian baik

secara langsung maupun tidak langsung dapat mengancam kelestarian Subkawasan

Prasejarah Lopi-lopi.

Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan (BPCB) adalah pihak

pemegang otoritas terhadap pelestarian. BPCB telah melakukan beberapa program

pelestrarian diantaranya pembuatan pagar, papan informasi, akses jalan ke gua,

pengangkatan juru pelihara, studi teknis dan pemintakatan (Zoning) di beberapa gua

serta inventarisasi gua. Namun upaya yang dilakukan tidak cukup untuk mencegah

ancaman dan kerusakan yang terjadi.

3
Merujuk dari hasil kajian BPCB secara garis besar ancaman situs yang terjadi

di Subkawasan Prasejarah Lopi-Lopi adalah ancaman permukiman. Pertumbuhan

penduduk yang semakin pesat menjadikan masyarakat membutuhkan lahan untuk

dijadikan ladang dan tempat bermukim (Anonim, 2016), menurut R. Cecep Permana

penyebab kerusakan lukisan dinding di gua prasejarah Maros-Pangkep adalah

kebutuhan manusia akan lahan garapan dan pemukiman (Permana, 2015).

Ancaman lain yang sangat berpengaruh terhadap kerusakan gua adalah jalan

raya, dekatnya mulut gua dengan jalan raya dapat mempercepat kerusakan karena

sumbangan debu dan polusi dapat memperparah pengulupasan kulit batu pada dinding

gua yang berakibat pada lukisan dinding. Kerusakan yang terjadi diperparah dengan

adanya pabrik industri yang berdekatan dengan gua, serta adanya indikasi tambang

marmer (Anonim, 2016), Area Subkawasan Prasejarah Lopi-lopi adalah area

penggunaan lainnya yang dikemudian hari bisa saja menjadi area penambangan

(Anonim, 2019). Jika ancaman tersebut diabaikan maka kerusakan dan hilangnya

sumber daya budaya tidak dapat dipungkiri.

Ada beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli untuk

membuktikan ancaman terhadap lukian dinding di Kabupaten Maros antara lain Cecep

Eka Permana (2021) “ Jamur Paecilomyces dari Leang Pettae di Kawasan Karst Maros

dan Saran Pelestarian” yang menjelaskan bahwa jamur yang berjenis paecilomyces

menjadi mikroorganisme penyebab kerusakan gambar cadas, mikroorganisme tesebut

tumbuh subur pada gua dengan kondisi lembab dan basah. Bentuk kerusakan yang

4
diakibatkan oleh jamur Paecilomyces ditujukan dengan lapisan endapan putih pada

dinding dan gambar cadas. Penelitian ini lakukan di Leang Pettae, Kabupaten Maros

(Permana, 2021).

Pada tahun 2021 penelitian terkait dengan penyebab kerusakan gambar cadas

di lakukan oleh Huntley et al (2021) “ The Effect of Climate Change on the Pleistocene

Rock Art of Sulawesi” yang menjelaskan tekait dengan perubahan iklim yang membuat

tingkat kristalisasi garam pada panel gambar cadas dan berpangaruh terhadap

kerusakan gambar cadas di Sulawesi (Huntley et al, 2021)

Pada tahun 2022 penelitian dilakukan oleh Gagan et al (2022) “The Historical

Impact of Anthropogenic Air-bone Sulphur on The Pleistocene Rock Art of Sulawesi”

yang menjelaskan terkait dengan aktivitas masyarakat lokal yang mempunyai

kebiasaan membekar jerami pasca panen selama ratusan tahun, mengakibatkan

lepasnya oksidasi sulphur yang reaktif dan mempengaruhi kerusakan gambar cadas

(Gagan et al, 2022).

Upaya pelestarian sumberdaya budaya terutama tinggalan arkeologi pada

dasarnya membutuhkan keterlibatan banyak pihak mulai dari pemerintah, akademisi,

swasta dan masyarakat. semua pihak tersebut harus saling bersinergi demi tercapainya

pelestarian yang berkelanjutan. Terlebih lagi di era moderinisasi ditandai dengan

pesatnya pembangunan dan semakin sedikitnya ruang menjadikan pelestarian cagar

budaya semakin sulit. Masyarakat sebagai pemilik sah warisan budaya harus terlibat

aktif dalam pelestarian (Mulyadi, 2016).

5
Masyarakat memiliki peranan yang sangat terbatas dalam pelestarian

sumberdaya budaya, sedangkan semua tanggung jawab pelestarian berada di bawah

kekuasaan pemerintah pusat. Peraturan mengenai pelestarian yang sangat ketat

membatasi upaya masyarakat dalam melindungi cagar budaya. dan tidak adanya

keuntungan yang didapatkan dalam proses pelestarian sumberdaya budaya. setalah

terjadinya perubahan paradigma, masyarakat dianggap sebagai faktor dominan dalam

upaya pelestarian. Pelestarian dilakukan dengan melibatkan stakeholder salah satunya

yaitu masyarakat (Winarni, 2014).

Peran antara masyarakat dan pemerintah sangat vital dalam melindungi situs

sejarah ini agar tidak terbengkalai (Fatimah, 2014). Upaya masyarakat dalam

pelestarian situs sangat dibutuhkan untuk menjaga dan melindungi kebudayaan bangsa.

Jika situs sejarah tidak dijaga dan dilestarikan, generasi berikutnya akan lupa dengan

kebudayaan bangsa yang kita miliki seiring dengan perkembangan zaman (Afnani,

2021). Selain itu keberadaannya sekarang, juga bersifat langka dan mengandung

nilainilai baik secara akademis maupun sosial (Pearson and Sullivan, 1995: 11-12).

Melihat ancaman yang ada, Subkawasan Prasejarah Lopi-lopi harus tetap

dilindungi dan dilestarikan karena bersifat terbatas maka penulis ingin mengetahui

lebih jauh mengenai potensi keterancaman dengan memfokuskan pada pengamatan

terhadap aktivitas, dampak dan bagaimana pemahaman masyarakat setempat mengenai

situs-situs gua prasejarah di Kawasan Lopi-Lopi Maros.

6
Pada penelitian ini diambil beberapa sampel gua prasejarah pada Subkawasan

Prasejarah Lopi-Lopi yaitu Leang Dujie, Leang Bontosunggu 5, Leang Panto-Panto 2,

dan Leang Cakkara 2 yang berfokus terhadap ancaman yang terjadi dengan

membandingkan perlakukan masyarakat terhadap gua di subkawasan tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

Menurut Donald G. Macleod (1977) dalam Tanudirjo (2005) sebuah usaha

dalam pelestarian tidak akan berhasil tanpa melibatkan masyarakat (Tanudirjo, 2005).

Upaya pelestarian yang dilakukan pada Subkawasan Prasejarah Lopi-Lopi hingga saat

ini belum maksimal. Berdasarkan kenyataan, masyarakat yang bermukim di sekitar

Subkawasan Prasejarah Lopi-Lopi sampai saat ini menggunakan gua disekitarnya

untuk melakukan berbagai aktivitas.

Secara tidak sadar aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat dapat merusak dan

mengubah kondisi gua. hal tersebut terjadi karena tidak adanya rasa kepemilikan

masyarakat terhadap gua yang memiliki tinggalan arkeologis. Berdasarkan hasil

penjelasan tersebut, penulis merumuskan dua rumusan masalah yang mendasari

penelitian ini:

1. Nilai Penting apa saja yang terkandung di situs Subkawasan Lopi-Lopi,

Kabupaten Maros ?

2. Apa saja ancaman yang ada pada gua-gua di Subkawasan Prasejarah Lopi-Lopi,

Kabupaten Maros ?

7
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.3.1 Tujuan Penelitian:

1. Mengidentifikasi nilai penting yang terkandung pada situs di Subkawasan

Prasejarah Lopi-Lopi, Kabupaten Maros.

2. Mengidentifikasi ancaman yang ada pada Subkawasan Prasejarah Lopi-Lopi,

Kabupaten Maros.

2.2.1 Manfaat Penelitian

1. Mengetahui nilai penting yang terkandung pada gua di Subkawasan Prasejarah

Lopi-Lopi, Kabupaten Maros.

2. Mengetahui ancaman gua di Subkawasan Prasejarah Lopi-Lopi, Kabupaten

Maros.

1.4 Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Boghan

dan Taylor mengemukakan bahwa penelitian kualitatif merupakan prosedur penelitian

yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari

orangorang dan perilaku yang diamati (Moloeng, 2007:3). Dalam operasionalnya

pengumpulan data dibagi menjadi dua yakni pengumpulan data pustaka dan data

lapangan.

Penelitian ini menggunakan 3 tahap dalam mengumpulkan data yakni

pengumpulan data pustaka, observasi, dan wawancara. Pengumpulan data pustaka

8
digunakan sebagai rujukan dalam penyusunan skripsi, sedangkan data lapangan

dikumpulkan melalui observasi, dan wawancara.

1.4.1 Pengumpulan Data

Adapun beberapa teknik yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu

pengumpulan data pustaka dan pengumpulan data lapangan.

1. Data Pustaka

Proses pengumpulan data pustaka merupakan langkah awal yang dilakukan

oleh penulis yang bertujuan untuk mengumpulkan referensi yang berkaitan dengan

topik penelitian. Sumber data pustaka diambil dari Skripsi, Artikel, Jurnal, Buku serta

laporan penelitian yang berkaitan dengan topik penelitian yang akan diangkat, yang

kemudian dijadikan rujukan dalam penyusunan rancangan penelitian. Referensi terkait

diakses melalui internet, Perpustakaan Pusat Universitas Hasanuddin, dan

Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, serta Kantor Balai

Pelestarian Cagar Budaya.

2. Observasi

Observasi dilakukan dengan melakukan pengamatan pada Subkawasan

prasejarah Lopi-Lopi. Pada tahap ini penulis mengumpulkan data terkait dengan data

arkeologis, dan data keterancaman gua. Pengamatan baik berupa aktivitas masyarakat,

dan kondisi gua. Tahapan observasi dilakukan dengan melakukan deskripsi, dan

dokumentasi.

9
3. Wawancara

Jenis wawancara yang dilakukan adalah wawancara terbuka (opened interview).

Sistem wawancara terbuka dilakukan dengan menetapkan satu kata kunci atau topik

pertanyaan penelitian agar wawancara lebih terarah dan leluasa Kegiatan wawancara

dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai prespektif masyarakat terkait

ancaman Subkawasan Prasejarah Lopi-lopi dan sejauh mana pemahaman masyarakat

terhadap ancaman di Subkawasan Prasejarah Lopi-Lopi. Sasaran informan pada

metode pengumpulan data ini adalah masyarakat yang bermukim di sekitar gua yang

menjadi sampel dalam penelitian ini.

1.4.2 Pengolahan Data

1. Analisis Data

Analisis data meliputi analisis terhadap ancaman gua pada Subkawasan

Prasejarah Lopi-Lopi, analisis nilai penting serta analisis hasil wawancara. Pada

analisis ancaman dilakukan identifikasi terhadap ancaman gua yang menyebabkan

kerusakan terhadap gua dan benda cagar budaya. tahapan selanjutnya adalah Analisis

nilai penting. Analisis ini dilakukan dengan mengindetifikasi nilai penting setiap

sampel gua di Subkawasan Prasejarah Lopi-Lopi, serta tahapan analisis wawancara

dilakukan untuk mengetahui presepsi masyarakat terhadap gua.

1.4.3 Interpretasi Data

Tahap interpretasi data merupakan tahapan akhir dalam penelitian. Pada

tahapan ini dilakukan perumusan terhadap arahan pelestarian yang tepat dengan

10
melibatkan masyarakat didalamnya. Himpunan data tentang apresiasi masyarakat,

tingkat keterancaman dan kerusakan serta nilai penting sumber daya budaya. maka

dapat dirumuskan sebuah arahan pelestarian yang melibatkan masyarakat sebagai

Pemangku kepentingan.

1.5 Tinjuan Pustaka

1.5.1 Landasan Konseptual

1. Cultural Resource Management (CRM)

Cultural Resources Management (CRM) pertama kali berkembang di Amerika

pada tahun 1980-an, namun di Indonesia Cultural Resources Management baru

berkembang sekitar tahun 1990-an ketika Indonesia dihadapkan pada persoalan

pembangunan yang membutuhkan bentuk pengelolaan yang merujuk langsung pada

kepentingan pengembangan dan pemanfaatan (Sulistyanto, 2009). CRM dalam ilmu

arkeologi dikenal dengan beberapa istilah Management of Heritage Place (Australia),

Preservation of Cultural Properties (Jepang), conservation Archaeology, Public

Archeology, Historic Preservation, Salvage Archaeology dan Rescue Archaeology,

perbedaan istilah tersebut pada dasarnya memiliki makna yang sama yaitu kesadaran

terhadap pentingnya upaya pelestarian terhadap sumber budaya karena sifatnya yang

tak terbaharui (non-renewble), terbatas (finite), tak dapat dipindahkan (non movable)

dan kontekstual (contextual) (Sulistyanto, 2009: 17-19).

Setiap orang dapat memberikan presepsi mengenai nilai dari sumberdaya

budaya, Karena setiap orang memiliki pandangan berbeda terhadap sumberdaya

11
budaya maka, CRM muncul sebagai upaya pengeloaan sumber daya budaya yang

secara bijak mempertimbangkan kepentingan banyak pihak (Pearson & Sullivan 1995).

Tanudirjo (1998) mengemukakan bahwa CRM cenderung melakukan pencarian solusi

dengan mengakomodasi berbagai kepentingan (Sulistyanto, 2009). Pelestrarian dengan

melibatkan masyarakat dalam pengambilan kebijakan mendorong pelestarian yang

simpatik. Hal tersebut sejalan dengan tujuan dari pelestarian

Dengan perkembangan, lingkup kajian CRM tidak berfokus pada lingkup data

arkeologis yang bersifat fisik (tangible), melainkan juga terhadap manifestasi dari

budaya manusia diantaranya seperti mitos, seni, bahasa, musik, dan tradisi budaya yang

lebih bersifat nonfisik dalam suatu konteks kawasan budaya tertentu (Pearson &

Sullivan, 1995). Perubahan lingkup kajian disebabkan oleh munculnya perubahan baru

bahwa komponen-komponen sumberdaya budaya saling berkaitan dengan aspek-aspek

lainnya, yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari masyarakat saat ini

yang semakin dinamik, dalam suatu kawasan. Dengan pemahaman tersebut, maka

disadari bahwa keberadaan sumber daya budaya kemudian tidak dapat dipisahkan dari

masyarakat (Nugroho, 2006).

Dengan adanya pemahaman baru di atas berimplikasi pada arah perubahan dan

tujuan yang hendak dicapai dalam CRM. Seiring dengan munculnya kesadaran dan

kepedulian masyarakat terhadap sumberdaya budaya, para praktisi telah memahami

dan mengerti bahwa sumberdaya budaya pada dasarnya adalah milik masyarakat, oleh

karena itu, kegiatan CRM kemudian harus ditujukan pula bagi kepentingan masyarakat.

12
Menurut Slocum (1995) partisipasi dipahami sebagai keterlibatan aktif masyarakat

dalam pembuatan keputusan tentang suatu kegiatan yang akan berdampak pada mereka

(Nugroho,2006).

CRM, dalam penerapannya ada lima langkah yang harus diutamakan yaitu: 1)

Lokasi, identifikasi dan dokumentasi sumberdaya baik sumberdaya budaya maupun

kawasannya, 2) penilaian nilai penting terhadap kawasan, 3) perencanaaan dan

pembuatan keputusan berdasarkan nilai penting, peluang, dan hambatan yang sesuai

dengan prinsi-prinsip konservasi, 4) implentasi dari perencanaan dan kebijakan, dan 5)

evaluasi (Pearson and Sullivan, 1995:8-10).

/
Alur Pelaksanaan Cultural Resource Management
Sumber : Pearson & Sullivan; 1995

13
Penelitian yang dilakukan pada bidang CRM adalah penelitian yang

menghasilkan suatu penjelasan tentang pentingnya aspek pelestarian dan pemanfaatan

sumberdaya arkeologi. Secara garis besar langkah yang dilakukan dalam CRM adalah:

1. Identifikasi objek dan dokumentasi lokasi atau objek sumberdaya yang

telah ditentukan sebagai benda cagar budaya.

2. Mendapatkan nilai atau bobot sumberdaya arkeologi tersebut berdasarkan

kriteria-kriteria yang telah ditentukan.

3. Merencanakan dan membuat kebijakan dalam rangka kepentingan

pelestarian sumberdaya arkeologi.

4. Implementasi kebijakan untuk waktu yang akan datang, termasuk

kemungkinan adanya revisi perencanaan (Kasnuwihardjo, 2001:72; Nur,

2009: 15-16).

Konsep pengelolaan yang diterapkan di Indonesia masih menjadi sebuah

monopoli pemerintah yang berorientasi pada pengelolaan situs sebagai entitas bendawi

(Prasojo, 2000:153; Sulistyanto, tt, 17). Sementara, perilaku masyarakat yang kurang

berkembang seringkali menyatukan mitos dan secara untuk menciptakan sebuah tradisi.

Anggota suku/kelompok masyarakat yang terkait dengan kepercayaan menganggap

sakral situs arekologi misalnya pemakaman, dan digunakan sebagai wujud spiritual

(Cleere, 1989).

Perbedaan pandangan beberapa pihak seringkali menjadi konflik pemanfaatan

warisan budaya. untuk menghindari konflik setidaknya terdapat tiga komponen yang

14
dilibatkan dalam pemanfaatan sumberdaya budaya. antara lain akademisi, pemerintah,

dan masyarakat. Akademisi memiliki kewajiban mengkaji dan meneliti untuk

mengungkapkan pengetahuan budaya masa lampau dan membantu pemerintah dalam

memberikan saran dan pertimbangan terkait dengan pengeloaan sumberdaya budaya.

sedangkan pemerintah bertanggung jawab dan memiliki kekuasaan penuh untuk

mengatur dan mengkoordinir pengeloaan sumberdaya budaya, dan masyarakat adalah

pemengang penuh hak atas sumberdaya arkeologi (Mcleod 1977:65; Sulistyanto tanpa

tahun: 22).

2. Nilai Penting

Merujuk pada Undang-Undang Cagar Budaya Nomor 11 Tahun 2010 pada Bab

III tentang kriteria cagar budaya pasal 5 menyebutkan bahwa benda, bangunan,atau

struktur dapat diusulkan sebagai Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, atau

Struktur Cagar Budaya, apabila memenuhi kriteria Pertama berusia 50 (lima puluh)

tahun atau lebih; kedua mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 (lima puluh)

tahun; memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama,

dan/atau kebudayaan; dan keempat memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian

bangsa.

Salah satu tahapan yang dilakukan dalam pelestarian sumberdaya budaya

adalah penetapan nilai penting. Dalam melakukan penilaian sumberdaya budaya bukan

hal yang mudah, hal tersebut dikarenakan banyaknya kriteria dalam nilai penting yang

dikemukakan oleh pakar dengan berbagai alasan. Kriteria sebuah nilai penting

15
sumberdaya budaya ditentukan berdasarkan kondisi dan tujuan dari pelestarian dengan

demikian diperlukan sebuah alasan objektif dan metodologis dalam penetapan nilai

penting sumberdaya budaya (Nur, 2009).

Kriteria pemberian nilai penting terhadap suatu sumberdaya budaya telah

banyak dikemukakan oleh ahli luar maupun dalam negeri. Salah satunya adalah Darvil

(1995) yang membagi nilai penting sumberdaya budaya menjadi tiga yakni nilai

kegunaan (use value), nilai pilihan (option value), dan nilai keberadaan (existence value)

(Darvill, 1995).

Nilai kegunaan adalah kemampuan sumberdaya budaya untuk digunakan sesuai

dengan kepentingan dan keinginan masyarakat masa kini. Nilai pilihan adalah nilai

sumberdaya budaya yang diproduksi dan bukan nilai yang dinikmati. Nilai pilihan

adalah kemampuan sumberdaya budaya untuk menjawab permasalahan yang akan

datang. oleh karena itu, nilai pilihan bersifat nilai yang diprediksi untuk generasi

mendatang dibandingkan generasi masa kini. Nilai pilihan mencakup dua hal yakni

stabilitas (keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian). Nilai keberadaan

bersifat sebagai perintah psikologis atau hubungan emosional tanpa

mempertimbangkan keuntungan nyata dari sumberdaya budaya. ada dua hal yang

menarik dari nilai keberadaan yaitu sebagai identitas budaya dan resisten terhadap

perubahan. Sebagai identitas budaya, sumberdaya dianggap sebagai sesuatu yang

dimiliki dan merupakan refleksi dari perasaan (Darvill, 1995: 43-48; Supriadi 2008:

16
82). Selain itu kriteria nilai penting juga dikemukakan oleh Pearson & Sullivan (1995)

yang menguraikan lima unsur nilai penting sumberdaya budaya sebaga berikut:

1. Nilai estetik, adalah sebuah kelebihan tersendiri yang dimiliki oleh suatu

tempat yang dapat memberikan kesan kepada orang yang sedang

menikmatinya

2. Nilai arsitektur berhubungan dengan gaya rancang bangun yang mewakili

suatu masa tertentu. Tingginya nilai arsitektur suatu bangunan sangat

berhubungan erat dengan sejarah yang melatarinya.

3. Nilai sejarah, berhubungan dengan peran sumberdaya budaya dalam suatu

peristiwa sejarah atau berkaitan dengan tokoh sejarah tertentu. Sebuah

sumberdaya budaya akan mempunyai nilai sejarah yang tinggi apabila

ditemukan dalam keadaan utuh, terutama bagian-bagian penting.

4. Nilai ilmu pengetahuan berhubungan dengan ketersediaan data atau

informasi yang substansial untuk menjawab suatu permasalahan penelitian.

5. Nilai penting sosial berhubungan dengan kemampuan sumbedaya budaya

untuk menciptakan perasaan spiritual, politik, nasionalisme, baik bagi

kelompok mayoritas dan minoritas (Pearson & Sullivan 1995: 133-153).

Di Indonesia terdapat pedoman dalam menentukan sebuah nilai penting

sumberdaya budaya yaitu Undang-Undang Cagar Budaya Nomor 11 Tahun 2010

tepatnya pada Bab I tentang ketentan Umum Pasal 1 yang berbunyi

17
“Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan
berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya,
Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan
Cagar Budaya di darat dan/atu di air yang perlu dilestarikan
keberadaanya karena memiliki nilai penting bagi sejarah,
ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan
melauli proses penetapan”

Dalam Undang-Undang Cagar Budaya Nomor 11 Tahun 2010 nilai penting

yang dimaksud adalah nilai penting sejarah, nilai penting ilmu pengetahuan, nilai

penting pendidikan, nilai penting Agama, nilai penting kebudayaan.

1. Benda cagar budaya dapat dikatakan memiliki nilai penting sejarah apabila

sumberdaya tersebut dapat menjadi bukti dan menggambarkan peristiwa

serta perkembangan penting pada masa prasejarah maupun sejarah.

2. Nilai penting ilmu pengetahuan apabila sumberdaya arkeologi tersebut

berpotensi diteliti untuk menjawab suatu permasalahan dalam bidang

keilmuan tertentu.

3. Nilai penting kebudayaan apabila sumberdaya tersebut terkait dengan hasil

pencapaian budaya tertentu, mendorong proses penciptaan budaya, dan

menjadi jati diri bangsa atau komunitas tententu. Nilai penting kebudayaan

dibagi atas tiga jenis yaitu nilai etnik, nilai estetika, dan nilai publik

(Tanudirjo, 2004; Nur, 2009: 106).

4. Nilai penting agama apabila sumberdaya tersebut memiliki aspek

keagamaan yang berkaitan dengan sumberdaya budaya, Stakeholder dan

Maha Pencipta.

18
5. Nilai Penting Pendidikan, apabila sumberdaya mempunyai potensi untuk

membantu perkembangan dunia dibidang pendidikan. Seperti

pembangunan museum untuk anak sekolah disekitar sumberdaya budaya.

3. Ancaman

Kata ancaman berasal dari kata dasar ancam. Menurut Kamus Besar Bahasa

Indonesia (KBBI) ancam adalah menyatakan maksud (niat, rencana) untuk melakukan

sesuatu yang merugikan, menyulitkan, menyusahkan, atau mencelakakan pihak lain.

Sedangkan ancaman menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah sesuatu

yang diancamkan, perbuatan.

Ancaman adalah tantangan yang diperlihatkan atau diragukan oleh suatu

kecenderungan atau suatu perkembangan yang tidak menguntungkan dalam

lingkungan yang akan menyebabkan kemerosotan. Dengan demikian dapat dikatakan

ancaman adalah faktor-faktor lingkungan yang tidak menguntungkan (Indah, 2015).

Ancaman di bidang sosial budaya memiliki arti sebagai suatu tindakan yang

dapat menghilangkan dan mengancam keberadaan kebudayaan yang menjadi ciri khas

suatu daerah tertentu (Anonim, 2021).

Dalam konteks arkeologi ancman merupakan suatu kondisi yang

memungkinkan adanya faktor dari dalam maupun luar situs yang berpotensi

menimbulkan kerusakan pada situs. Ada dua jenis ancaman yang dapat terjadi pada

situs arkeologi, yaitu ancaman manusia dan ancaman dari alam.

19
1.5.2 Riwayat penelitian

Kawasan Prasejarah Lopi-lopi telah menarik perhatian peneliti untuk mengkaji

lebih dalam mengenai tinggalan arkeologis pada setiap situs. Pada tahun 2014

dilakukan penelitian di Leang Barugayya, Leang Jing, Leang Lompoa, Leang

Timpuseng, oleh Maxxime Aubert, dkk terkait dengan pertanggalan gambar cadas,

hasil penelitian menujukkan bahwa pertanggalan yang dihasilkan berkisar 39,9-22,9

kyr pada kawasan tersebut.

Tahun 2016, Yadi Mulyadi melakukan penelitian terkait dengan distribusi dan

persebaran gambar cadas di Indonesia, lalu pada tahun 2017 dilakukan peneltian di

Leang Jing dan Leang Timpuseng oleh Basran Burhan dan [Link]. Saiful terkait

dengan pola sebaran lukisan fauna dibagian selatan Sulawesi yang menyimpulkan

bahwa lukisan yang berada di sebelah Utara merujuk pada identitas pelukis sebagai

kelompok Austronesia dan lukisan di sebelah Selatan merepresentasikan identitas

pelukis seagai kelompok Pratoalean.

Penelitian Selanjutnya pada tahun 2019 dilakukan kajian oleh BPCB terkait

dengan pemanfaatan dan pengembangan sub Kawasan Lopi-lopi dan Leang-leang.

Pada kajian ini dihasilkan sebuah strategi pengembangan dan pemanfaatan pada

kawasan tersebut.

20
1.6 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan diuraikan dalam bentuk bab-bab yang saling terkait;

• BAB 1 PENDAHULUAN, berisi latar belakang penelitian, permasalahan

penelitian yang dituangkan dalam bentuk rumusan masalah, tujuan penelitian,

manfaat yang ingin dicapai dalam penelitian, metode yang dilakukan atas beberapa

tahap, tinjauan pustaka.

• BAB II PROFIL WILAYAH berisi tentang gambaran umum wilayah penelitian,

lingkungan fisik, geologi, dan sosial-budaya Kabupaten Maros.

• BAB III DATA PENELITIAN, berisi tentang deskripsi situs, dokumentasi situs

jenis temuan (hasil Ekskavasi).

• BAB IV PEMBAHASAN, berisi tentang analisis nilai penting dan ancaman, serta

arahan pelestarian pada kawasan Prasejarah Lopi-lopi, Kabupaten Maros.

• BAB V PENUTUP, berisi mengenai kesimpulan dan saran dari hasil penelitian

yang dilakukan.

21
BAB II
PROFIL WILAYAH
2.1 Kondisi Lingkungan

Secara astronomis Kabupaten Maros terletak dibagian Barat Sulawesi Selatan

antara 5°01’04.0″ Lintang Selatan dan 119°34’35.0″ Bujur Timur. Luas Wilayah

kabupaten Maros 1619,11 KM2 yang terdiri dari 14 (empat belas) kecamatan yang

membawahi 103 Desa/kelurahan, Kabupaten Maros secara administrasi wilayah

berbatasan dengan :

• Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Pangkep

• Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Gowa dan Bone • Sebelah Selatan

berbatasan dengan Kabupaten Gowa dan Kota Makassar

• Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Makassar.

22
Gambar 2.1 Peta Administrasi Kabupaten Maros
(Sumber peta: Peta Tematik Indonesia)

22
Kabupaten Maros merupakan wilayah yang berbatasan langsung dengan ibukota

propinsi Sulawesi Selatan, dalam hal ini adalah Kota Makassar dengan jarak kedua kota

tersebut berkisar 30 km dan sekaligus terintegrasi dalam pengembangan Kawasan

Metropolitan Mamminasata. Dalam kedudukannya, Kabupaten Maros memegang

peranan penting terhadap pembangunan Kota Makassar karena sebagai daerah

perlintasan yang sekaligus sebagai pintu gerbang Kawasan Mamminasata bagian utara

yang dengan sendirinya memberikan peluang yang sangat besar terhadap pembangunan

di Kabupaten Maros.

2.2 Kondisi Geologi

Bentuk bentang alam karst Maros - Pangkep membentuk arsitektur eksokars

dengan karakteristik relief yang khas berupa bukit-bukit menjulang menyerupai menara

(tower kars), dan fenomena endokars yang unik dengan gua-gua prasejarahnya, serta

kekayaan biotik dan abiotiknya. Sebagai daerah resapan air (“Recharge Zone”),

kawasan ini mampu memenuhi kebutuhan pertanian dan suplai air baku bagi masyarakat

dan daerah disekitarnya (Nuhung, 2016).

Geologi wilayah Maros merupakan bagian dari areal geologi regional Maros,

Pangkep, dan Watampone. Bagian Barat memiliki dua baris pegunungan yang

memanjang dengan arah Utara-Barat laut yang terpisahkan oleh lembah Sungai

Walannae. Pada lereng barat dan beberapa tempat di lereng Timur terdapat topografi

karst (karst topography) , yang menunjukkan adanya kandungan batu gamping, dan

sering disebut sebagai kawasan karst Maros-Pangkep. Kawasan karst atau biasa disebut

24
wilayah karst topography adalah suatu daerah dipermukaan bumi yang terdiri dari batu

kapur, yang terjadi karena adanya terumbu karang atau endapan kalsium karbonat yang

membentuk suatu topografi yang sangat khas akibat aktivitas air berupa erosi dan proses

kimiawi pada bagian permukaan maupun dibawah permukaan. Topografi karst pada

umumnya dicirikan oleh morfologi yang khas berupa kumpulan perbukitan dengan

tekstur kasar serta dengan dinding bertebing tegak dengan retakan –retakan hingga

rongga-rongga (sink-holes), gua-gua (cave), dan biasanya membentuk aliran sungai

dibawah permukaan (sungai bawah tanah), serta mata air sungai (Anonim, 2007: 12).

Gugusan gamping yang membentang di sebelah Timur dari ibukota kabupaten

Maros ini merupakan hasil pengangkatan pada jaman tersier. Berdasarkan tatanan

stratigrafi dan stuktur batuan pada kawasan gua-gua Maros, umumnya merupakan

lingkungan laut dangkal yang telah mengalami proses pengendapan batuan karbonat

secara terus menerus hingga pada masa awal Eosen tengah. Kegiatan pengendapan ini

menyebabkan terjadinya endapan batuan gamping seperti yang terlihat pada kompleks

gua-gua Maros saat ini. Lingkungan laut dangkal ini diperkirakan pernah terjadi pada

masa Glasial Wurm, dimana pada saat itu lapisan-lapisan es di kedua kutub ini mencair,

sehingga permukaan air laut mengalami pasang surut yang mencapai puluhan meter di

atas permukaan air laut sebelumnya.

2.3 Kondisi Iklim

Menurut Oldement, tipe iklim Kabupaten Maros adalah tipe C2 yaitu bulan

basah (200mm) selama 2-3 bulan berturut-turut. Kabupaten Maros termasuk dalam

25
daerah yang beriklim tropis, karena letaknya yang berada pada daerah khatulistiwa

dengan kelembapan berkisar 60-82%. Curah hujan tahunan rata-rata 347 mm/bulan

dengan rata-rata hujan sekitar 16 hari. Temperature udara pada Kabupaten Maros adalah

29º C. dengan kecepatan angina rata-rata adalah 2-3 knot/jam. Daerah kabupaten Maros

pada dasarnya beriklim tropis dengan dua musim, berdasarkan curah hujan yakni:

1. Musim hujan pada periode bulan Oktober hingga Maret

2. Musim kemarau pada bulan April hingga September (Anonim, 2023)

Tabel 1. Kondisi Iklim Kabupaten Maros Tahun 2022


Bulan Suhu/Temperature (ºC) Kelembapan (%)
Minimum Rata- Maximum Minimum Rata- Maximum
Rata Rata
Januari 22,6 26,4 32,6 60,0 84,9 98,0
Februari 22,0 26,4 32,9 60,0 84,9 98,0
Maret 22,9 27,0 34,0 52,0 82,3 97,0
April 21,6 27,3 35,0 51,0 80,4 94,0
Mei 22,6 27,5 35,0 47,0 82,0 96,0
Juni 21,9 26,8 34,4 50,0 82,6 97,0
Juli 20,6 27,3 34,4 46,0 76,5 94,0
Agustus 20,7 27,3 34,0 41,0 72,4 95,0
September 21,6 27,6 35,0 43,0 76,1 95,0
Oktober 22,9 26,9 34,6 52,0 83,8 96,0
November 22,8 26,8 33,6 54,0 83,5 98,0
Desember 21,9 26,1 33,0 55,0 85,8 98,0
Sumber: BPS Kabupaten Maros, 2022

2.4 Kondisi Sosial

1. Jumlah Penduduk

Kepadatan penduduk pada suatu wilayah menajdi salah satu parameter yang

dapat mengukur perkembangan dan kemajuan suatu wilayah. Di Kabupaten Maros

26
kecamatan yang memiliki jumlah penduduk yang padat adalah Kecamatan Mandai

sebesar 53.406 ribu jiwa, disusul oleh Kecamatan Turikale, Marusu, dan Bantimurung.

Kecamatan Bantimurung memiliki jumlah penduduk 33.082 ribu jiwa dengan laju

pertumbuhan penduduk 0.59 pertahun 2020-2021. Berikut tabel laju pertumbuhan

penduduk Kabupaten Maros 2020-2021.

Tabel 2. Laju Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Maros 2020-2021


Laju Pertumbuhan Penduduk Tahun
No. Kecamatan Penduduk (Ribu)
2020-2021
1. Mandai 53.406 2,31
2. Moncongloe 24.336 1,92
3. Maros Baru 28.613 0,67
4. Marusu 35.105 1,70
5. Turikale 48.963 0,62
6. Lau 27.686 0,39
7. Bontoa 30.799 0,48
8. Bantimurung 33.082 0,59
9. Simbang 25.697 0,47
10. Tanralili 31.448 1,17
11. Tompobulu 16.004 0,34
12. Camba 14.291 0,36
13. Cenrana 14.553 0,05
14. Mallawa 12.941 0,75
Maros 396.924
Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Maros, 2022

2. Pendidikan Penduduk.

Selain jumlah penduduk menjadi indikator dalam berkembangnya suatu daerah,

pendidikan juga menjadi salah satu tolak ukur untuk melihat laju perkembangan sutau

daerah. Berdasarkan Badan Pusat Statistik tahun 2022 Kabupaten Maros sendiri

memiliki 625 bangunan sekolah yang telah disiapkan mulai dari jenjang Taman

27
KanakKanak hingga Sekolah Menengah Atas, baik oleh pemerintah maupun pihak

swasta.

Bangunan sekolah yang terdapat pada Kecamatan Bantimurung pada tahun 2019-2020

sebanyak 60 sekolah dengan jumlah siswa 7,226 ribu jiwa. Untuk lebih lengkapnya

disajikan dalam table sebagai berikut

Tabel 3. Keadaan Pendidikan Kabupaten Bantimurung, Kabupaten Maros Tahun 2019-2020


No Jenis Pendidikan Jumlah Sekolah Jumlah Murid
1. Taman Kanak-Kanak 11 327
2. SD/Sederajat 30 3628
3. SMP/Sederajat 11 1959
4. SMA/Sederajat 8 1312
Total 70 7,226
Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Maros, 2022

3. Tradisi / Kebudayaan

Koenjtaraningrat membedakan wujud kebudayaan menjadi 3 bagian

diantaranya:

1. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilainilai,

norma-norma, peraturan, dan sebagainya.

2. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivatis serta tindakan berpola

dari manusia dalam masyarakat.

3. Wujud kebudaayan berupa benda-benda hasil karya manusia.

Ketiga wujud yang disebutkan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan

masyarakat satu sama lain. (Mahdayeni, 2019).

28
Masyarakat Kecamatan Bantimurung mewakili dua karakter suku yaitu Suku

Bugis dan Suku Makassar dengan agama mayoritas Islam yang dianut secara ketat. Hal

tersebut dibuktikan dengan adanya masjid yang dijumpai tidak saling berjauhan.

Sebagai system religi, agama Islam sangat mempengaruhi system kehidupan

masyarakat misalnya perayaan kelahiran, kesuksesan, pernikahan, peringatan kematian,

gaya hidup termasuk model berpakaian (Nur, 2009).

Mayoritas mata pencaharian dilokasi penelitian adalah bertani, hal tersebut

dilihat dari banyaknya hamparan sawah di sekitaran lokasi penelitian. Keterampilan

bertani diwariskan secara turun temurun dari pendahulunya. Selain bidang pertanian

masyarakat menekuni bidang peternakann ayam pedaging. Dengan demikian banyak`

sawah yang beralih fungsi menjadi kandang ternak ayam pedaging.

29

Anda mungkin juga menyukai