0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan95 halaman

Simulasi Hidrolik HEC-RAS Kali Silandak

Dokumen ini adalah tugas akhir yang membahas tentang simulasi hidrolik menggunakan aplikasi HEC-RAS pada Kali Silandak Semarang, disusun oleh Nur Laila dan Safitri Biru Ning Tyas untuk memenuhi syarat program sarjana Teknik Sipil di Universitas Islam Sultan Agung. Tugas akhir ini mencakup analisis curah hujan, debit banjir, dan penerapan metode HEC-RAS dalam simulasi aliran sungai. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah memberikan dukungan dalam penyelesaian tugas akhir ini.

Diunggah oleh

ilham djasman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan95 halaman

Simulasi Hidrolik HEC-RAS Kali Silandak

Dokumen ini adalah tugas akhir yang membahas tentang simulasi hidrolik menggunakan aplikasi HEC-RAS pada Kali Silandak Semarang, disusun oleh Nur Laila dan Safitri Biru Ning Tyas untuk memenuhi syarat program sarjana Teknik Sipil di Universitas Islam Sultan Agung. Tugas akhir ini mencakup analisis curah hujan, debit banjir, dan penerapan metode HEC-RAS dalam simulasi aliran sungai. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah memberikan dukungan dalam penyelesaian tugas akhir ini.

Diunggah oleh

ilham djasman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS AKHIR

SIMULASI HIDROLIK DENGAN MENGGUNAKAN APLIKASI HEC-RAS


PADA KALI SILANDAK SEMARANG

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan dalam Menyelesaikan


Program Sarjana Program Studi Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Islam Sultan Agung

Disusun Oleh :
Nur Laila Safitri Biru Ning Tyas
NIM : 30201900162 NIM : 30201900191

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
2023
MOTTO

ِ َ ‫ّلل ۗ َولَ ْو ََم َمنَ أ َ ْْ ُ ُ ٱ ْل ِك َٰت‬


‫ب‬ ِ َّ ‫وف َوت َ ْن َه ْونَ َع ِن ٱ ْل ُمنك َِر َوتُؤْ ِمنُونَ بِٱ‬ِ ‫اس ت َأ ْ ُم ُرونَ بِٱ ْل َم ْع ُر‬ ِ َّ‫ت ِللن‬ ْ ‫ُكنت ُ ْم َخي َْر أ ُ َّم ٍة أ ُ ْخ ِر َج‬
‫لَ َكانَ َخي ًْرم لَّ ُهم ۚ ِم ْن ُه ُم ٱ ْل ُمؤْ ِمنُونَ َوأ َ ْكث َ ُرُْ ُم ٱ ْل َٰفَ ِسقُو َن‬
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh
kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.
Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara
mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang
fasik” (QS. Ali ‘Imran ayat 110)

‫ط ِريقًا إِلَى ْمل َجنَّ ِة‬ َّ ُ َ ‫س فِي ِه ِع ْل ًما َس َّه‬


َ ‫َّللاُ لَهُ بِ ِه‬ ُ ‫ط ِريقًا يَ ْلت َِم‬
َ ‫َو َم ْن َسلَ َك‬
"Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan
baginya jalan menuju surga." (HR Muslim , no. 2699)

‫ف ْمل َجنَّ ِة‬


َ ‫ضا ِمنَ ملدُّ ْن َيا لَ ْم َي ِجدْ َع ْر‬
ً ‫يب بِ ِه َع َر‬
َ ‫ُص‬ ِ َّ ُ‫َم ْن ت َ َعلَّ َم ِع ْل ًما ِم َّما يُ ْبتَغَى ِب ِه َو ْجه‬
ِ ‫َّللا َع َّز َو َج َّ ُ الَ يَت َ َعلَّ ُمهُ إِالَّ ِلي‬
‫يَ ْو َم ْمل ِقيَا َم ِة‬
"Barangsiapa yang mempelajari ilmu yang dengannya dapat memperoleh
keridhoan Allah SWT, (tetapi) ia tidak mempelajarinya kecuali untuk
mendapatkan kesenangan duniawi, maka ia tidak akan mendapatkan harumnya
surga di hari kiamat nanti.” (HR Abu Daud)

‫َّللا َحتَّى يَ ْر ِج َع‬ ِ ِ‫ب ْمل ِع ْل ِم فَ ُه َو فِى َسب‬


ِ َّ ُ ‫ي‬ ِ َ‫طل‬
َ ‫َم ْن خ ََر َج فِى‬
"Barang siapa keluar dalam rangka menuntut ilmu, maka dia berada di jalan Allah
sampai ia kembali." (HR Tirmidzi)

َ ‫ت َ َعلَّ ُم ْو َمو َع ِل ُم ْو َموت ََوم‬


‫ضعُ ْوم ِل ُم َع ِل ِميْ ُك ْم َولَ َيلَ ْوم ِل ُم َع ِل ِم ْي ُك ْم‬
“Belajarlah kamu semua, dan mengajarlah kamu semua, dan hormatilah guru-
gurumu, serta berlaku baiklah terhadap orang yang mengajarkanmu.” (HR
Thabrani)

vi
PERSEMBAHAN

Puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan pemilik jiwa dan alam semesta yang
telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya. Sholawat serta salam selalu
tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya dan juga
para pengikutnya. Tugas akhir ini saya persembahkan kepada:
1. Allah SWT yang telah memberikan kesehatan, rahmat, hidayah, rizekinya
sehingga atas izin dan karunianya tugas akhir ini dapat terselesaikan.
2. Tugas akhir ini saya persembahkan untuk kedua orang tua saya, Bapak
saya Maslani dan Ibu saya Murwati, yang telah memberikan semua
dukungan moral maupun material, kasih sayang, kesabaran, do’a dan
segalanya sehingga saya dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini.
3. Bapak Prof. Ir. H. Slamet Imam Wahyudi, DEA dan Bapak Ir. Moh.
Faiqun Ni’am, MT., Ph.D yang telah meluangkan waktu, tenaga dan
pikirannya untuk membimbing kami agar bisa menyelesaikan tugas akhir
ini.
4. Seluruh dosen Fakultas Teknik Program Studi Teknik Sipil UNISSULA,
terimakasih atas semua ilmunya yang sangat bermanfaat.
5. Teman-teman terdekat saya; Tegar, Totti, Ryan, Angga, Azmi, Raps,
Romi, Farul, dan juga Okta terima kasih telah mendengarkan keluh kesah
saya, doa, dukungan, dan segala bantuannya.
6. Takdir Alisyahbana (@jek___) selaku selebtweet dengan followers hampir
dua juta, yang selalu memberikan motivasi tidak seberapa tapi bisa
membuat saya tertawa serta lebih bersabar di setiap membaca tweetnya.
7. Dan yang paling utama, terima kasih kepada diri saya sendiri yang tidak
pernah menyerah dalam menyelesaikan berbagai rintangan dan kesulitan
dari awal hingga tulisan ini dapat terselesaikan.

Nur Laila
NIM : 30201900162

vii
PERSEMBAHAN

Puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan pemilik jiwa dan alam semesta yang
telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya. Sholawat serta salam selalu
tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya dan juga
para pengikutnya. Tugas akhir ini saya persembahkan kepada:
1. Allah SWT yang telah memberikan kesehatan, rahmat, hidayah, rezekinya
sehingga atas izin dan karunianya tugas akhir ini dapat terselesaikan.
2. Kedua orang tua saya, Bapak saya Joko Suprayitno dan Ibu saya Chosiah,
atas semua dukungan moral maupun material, kasih sayang, kesabaran dan
do’a.
3. Bapak Prof. Ir. H. Slamet Imam Wahyudi, DEA dan Bapak Ir. Moh.
Faiqun Ni’am, MT., Ph.D. yang telah meluangkan waktu, tenaga dan
pikirannya untuk memberikan bimbingan pada kami agar bisa
menyelesaikan tugas akhir ini dengan baik.
4. Seluruh dosen Fakultas Teknik Program Studi Teknik Sipil UNISSULA,
terimakasih atas semua ilmunya yang sangat bermanfaat.
5. Nur Laila, selaku rekan yang telah berjuang dan bekerja keras bersama
dalam penyelesaian Tugas Akhir ini.
6. Teman-teman saya Angel, Amel, Zhahra, Rizka, Meilani, Happy, Safira,
dan Eka yang selalu ada dan mau mendengarkan keluh kesah saya selama
ini.

Safitri Biru Ning Tyas


NIM : 30201900191

viii
KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, karena hanya dengan
rahmat dan karunia-Nya laporan Tugas Akhir ini dapat terselasaikan dengan baik
tentang “Simulasi Hidrolik Menggunakan Aplikasi HEC-RAS Pada Kali Silandak
Semarang”, guna memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan Program Sarjana
Taknik Sipil di Universitas Islam Sultan Agung Semarang.
Pada kesempatan ini, penulis hendak menyampaikan ucapan terimakasih
yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah mendukung dalam
penyusunan tugas akhir ini, yaitu:
1. Bapak M. Rusli Ahyar, ST., [Link] selaku Ketua Program Studi Teknik
Sipil Fakultas Teknik Universitas Islam Sultan Agung Semarang.
2. Bapak Prof. Ir. H. Slamet Imam Wahyudi, DEA selaku Dosen
Pembimbing I Tugas Akhir, yang telah meluangkan waktu, tenaga dan
pikiran untuk memberikan bimbingan pada kami agar bisa menyelesaikan
tugas akhir ini dengan baik.
3. Bapak Ir. Moh. Faiqun Ni’am, MT., Ph.D., selaku Dosen Pembimbing II
Tugas Akhir, yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk
memberikan bimbingan pada kami agar bisa menyelesaikan tugas akhir ini
dengan baik.
4. Seluruh Dosen Program Studi Teknik Sipil UNISSULA yang telah
memberikan ilmunya kepada penulis
5. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian tugas akhir ini
yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa tugas akhir ini masih banyak kekurangan baik
isi maupun susunannya, semoga tugas akhir ini bermanfaat tidak hanya
bagi penulis juga bagi para pembacanya.

Semarang, Agustus 2023

Penulis

ix
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .......................................................................................... i


HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................ ii
LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................ iii
BERITA ACARA BIMBINGAN TUGAS AKHIR ........................................... iv
PERNYATAAN BEBAS PLAGIASI ................................................................ v
PERNYATAAN KEASLIAN ............................................................................ vii
MOTTO .............................................................................................................. ix
PERSEMBAHAN ............................................................................................... x
KATA PENGANTAR ........................................................................................ xii
DAFTAR ISI ....................................................................................................... xiii
DAFTAR TABEL ............................................................................................... xiv
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... xv
ABSTRAK .......................................................................................................... xvi
ABSTRACT ........................................................................................................ xvii

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1


1.1. Latar Belakang ............................................................................................ 2
1.2. Rumusan Masalah ........................................................................................ 2
1.3. Batasan Masalah .......................................................................................... 2
1.4. Tujuan Kajian............................................................................................... 2
1.5. Lokasi ........................................................................................................... 2
1.6. Sistematika Penulisan .................................................................................. 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................ 4


2.1. Sungai .......................................................................................................... 4
2.1.1. Penampang Sungai .................................................................................... 5
2.2. Daerah Aliran Sungai (DAS) ....................................................................... 5
2.3. Hidrologi ...................................................................................................... 6
2.4. Hidrolika ...................................................................................................... 6
2.5. Curah Hujan ................................................................................................. 7
2.5.1. Metode Rata-rata Aljabar .......................................................................... 7
2.5.2. Metode Polygon Thiessen ......................................................................... 8
2.5.3. Metode Isohyet .......................................................................................... 9
2.6. Debit Banjir Rencana ................................................................................... 10
2.6.1. Metode Rasional ....................................................................................... 10
2.7. HEC-RAS .................................................................................................... 11
2.7.1. Prinsip Dasar Aliran .................................................................................. 11
[Link]. Aliran Permanen (Steady Flow) ............................................................. 12
[Link]. Aliran Tidak Permanen (Unsteady Flow) .............................................. 15

BAB III METODE PENELITIAN ..................................................................... 18


3.1. Pengumpulan Data ....................................................................................... 18
3.1.1. Data Primer ............................................................................................... 18
3.1.2. Data Sekunder ........................................................................................... 18
3.2. Tahapan Penelitian ....................................................................................... 18

x
3.3. Bagan Alir Pikir Penelitian .......................................................................... 24
3.4. Lokasi Penelitian ......................................................................................... 25

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN ...................................................... 27


4.1. Tinjauan Umum ........................................................................................... 27
4.1.1. Keadaan Geografis .................................................................................... 27
4.1.2. Keadaan Iklim ........................................................................................... 29
4.1.3. Kependudukan .......................................................................................... 29
4.2. Analisis Curah Hujan ................................................................................... 30
4.2.1. Analisis Curah Hujan Maksimum Rata-Rata dengan Metode Rerata
Arimatik (Aljabar)............................................................................................... 30
4.3. Analisis Frekuensi ........................................................................................ 35
4.3.1. Pengukuran Dispersi ................................................................................. 35
4.3.2. Pemilihan Distribusi Curah Hujan ............................................................ 37
4.4. Pengujian Kesesuaian Distribusi .................................................................. 37
4.4.1. Uji Kesesuaian Distribusi Dengan Metode Chi-Kuadrat .......................... 37
4.4.2. Uji Kesesuaian Dstribusi Dengan Metode Smirnov Kolmogorov ............ 41
4.5. Distribusi Curah Hujan Metode Log Pearson Type III ................................ 47
4.6. Perhitungan Curah Hujan Maksimum Yang Mungkin Terjadi (PMP) ........ 49
4.7. Perhitungan Hidrograf Banjir Rencana Metode HSS Nakayasu ................. 54
4.7.1. Perhitungan Rerata Hujan Dari Awal Sampai Jam ke-T .......................... 54
4.7.2. Hasil Perhitungan Curah Hujan Efektif (Rn) ............................................ 57
4.7.3. Hasil Perhitungan Hidrograf Banjir Rencana Metode HSS Nakayasu ..... 58
4.8. Simulasi Kali Silandak Dengan HEC-RAS ................................................. 74

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................. 81


5.1. Kesimpulan .................................................................................................. 81
5.2. Saran ............................................................................................................ 81

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

xi
DAFTAR TABEL

Tabel 4.1. Curah Hujan Maksimum Harian Rata-Rata Per Tahun Pada Stasiun
Kantor Balai PSDA Bodri Kuto .......................................................................... 32
Tabel 4.2. Curah Hujan Maksimum Harian Rata-Rata Per Tahun Pada Stasiun
Plumbon .............................................................................................................. 33
Tabel 4.3. Curah Hujan Maksimum Harian Rata-Rata Per Tahun Pada Stasiun
Gn. Pati ............................................................................................................... 34
Tabel 4.4. Rekapitulasi Perhitungan Curah Hujan Maksimum Harian Rata-Rata 35
Tabel 4.5. Hasil Perhitungan Parameter Statistik Curah Hujan .......................... 36
Tabel 4.6. Syarat Pemilihan Distribusi ............................................................... 37
Tabel 4.7. Urutan Data Hujan Maksimum Tahunan ........................................... 38
Tabel 4.8. Nilai Kritis untuk Distribusi Chi-Kuadrat ......................................... 39
Tabel 4.9. Perhitungan Uji Chi-Kuadrat ............................................................. 40
Tabel 4.10. Urutan Curah Hujan Maksimum Tahunan....................................... 41
Tabel 4.11. Perhitungan Nilai S dan Cs .............................................................. 42
Tabel 4.12. Hasil Perhitungan Nilai Cs .............................................................. 43
Tabel 4.13. Hasil Perhitungan Uji Smirnov Kolmogorov .................................. 45
Tabel 4.14. Harga D Kritis untuk Smirnov Kolmogorov Test ........................... 46
Tabel 4.15. Nilai Cs untuk Nilai Positif .............................................................. 46
Tabel 4.16. Nilai Cs untuk Nilai Negatif ............................................................ 47
Tabel 4.17. Harga Perhitungan Nilai Cs Metode Log Pearson Type III ............. 48
Tabel 4.18. Hasil Perhitungan Curah Hujan Rencana dengan Metode Log Pearson
Type III ............................................................................................................... 49
Tabel 4.19. Rata-Rata Hujan Maksimum............................................................ 49
Tabel 4.20. Hasil Perhitungan Log Pearson Type III ......................................... 54
Tabel 4.21. Nilai Rasio Hujan Harian Maksimum.............................................. 57
Tabel 4.22. Tabel Koefisien Pengaliran .............................................................. 57
Tabel 4.23. Curah Hujan Rencana Efektif (Rn) .................................................. 58
Tabel 4.24. Distribusi Hujan Efektif Jam-Jaman ................................................ 58
Tabel 4.25. Ordinat Hidrograf Satuan................................................................. 61
Tabel 4.26. Hidrograf Satuan Banjir Rencana Kala Ulang 2 Tahun................... 63
Tabel 4.27. Hidrograf Satuan Banjir Rencana Kala Ulang 5 Tahun................... 64
Tabel 4.28. Hidrograf Satuan Banjir Rencana Kala Ulang 10 Tahun................. 65
Tabel 4.29. Hidrograf Satuan Banjir Rencana Kala Ulang 25 Tahun................. 66
Tabel 4.30. Hidrograf Satuan Banjir Rencana Kala Ulang 50 Tahun................. 67
Tabel 4.31. Hidrograf Satuan Banjir Rencana Kala Ulang 100 Tahun............... 68
Tabel 4.32. Hidrograf Satuan Banjir Rencana Kala Ulang 1000 Tahun............. 69
Tabel 4.33. Hidrograf Satuan Banjir Rencana PMF ........................................... 70
Tabel 4.34. Rekapitulasi Hidrograf Satuan Banjir .............................................. 71

xii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Penampang Sungai ......................................................................... 5


Gambar 2.2. Penampang Sungai di Daerah Hulu, Tengah, dan Hilir ................. 5
Gambar 2.3. Siklus Hidrologi ............................................................................. 6
Gambar 2.4 Metode Polygon Thiessen ............................................................... 9
Gambar 2.5. Metode Isohyet ............................................................................... 10
Gambar 2.6. Diagram Aliran Berubah Beraturan ............................................... 13
Gambar 2.7. Pembagian Tampang Kapasitas Angkut ........................................ 15
Gambar 2.8. Kerangka Volume Kontrol ............................................................. 15
Gambar 3.1. Tampilan Menu Utama HEC-RAS 5.0.7 ....................................... 22
Gambar 3.2. Peta Lokasi ..................................................................................... 25
Gambar 3.3. Area DAS Kali Silandak ................................................................ 26
Gambar 4.1. Grafik Faktor Penyesuaian Rata-Rata Terhadap Pengamatan
Maksimum .......................................................................................................... 52
Gambar 4.2. Grafik Faktor Penyesuaian Simpangan Baku Terhadap Pengamatan
Maksimum .......................................................................................................... 52
Gambar 4.3. Grafik Faktor Penyesuaian Rata-rata dan Simpangan Baku Terhadap
Panjang Pengamatan Data................................................................................... 53
Gambar 4.4. Grafik Harga Km............................................................................ 53
Gambar 4.5. Grafik Ordinat Hidrograf Satuan ................................................... 60
Gambar 4.6. Grafik Rekapitulasi Hidrograf Satuan Banjir Rencana Metode
Nakayasu dengan PMF ....................................................................................... 72
Gambar 4.7. Grafik Rekapitulasi Hidrograf Satuan Banjir Rencana Metode
Nakayasu tanpa PMF .......................................................................................... 73
Gambar 4.8. Hasil Pemodelan Skema Aliran dan Geometri Penampang Hasil
Pengukuran Topografi ........................................................................................ 74
Gambar 4.9. Tampilan Jendela Cross Section Data ............................................ 74
Gambar 4.10. Pemasukan Data Debit Stage Hydrograph .................................. 75
Gambar 4.11. Pemasukan Data Debit Flow Hydrograph ................................... 76
Gambar 4.12. Persiapan Komponen Komputasi Aliran Permanen..................... 76
Gambar 4.13. Laporan Dari Proses Komputasi .................................................. 77
Gambar 4.14. Kedalaman Kritis Q100.................................................................. 77
Gambar 4.15. Profil Memanjang Kali Silandak pada Q100 ................................. 78

xiii
ABSTRAK

Meningkatnya pertumbuhan penduduk menyebabkan semakin besar tekanan


terhadap ruang lingkup yang terbatas sehingga banyak lahan kosong yang
kemudian terbangun. Perubahan tata guna lahan ini kemudian menjadi kawasan
pemukiman maupun tempat fasilitas umum yang menjadi pusat kegiatan manusia.
Hal tersebut dapat mengakibatkan berkurangnya daerah resapan air sehingga air
tidak meresap secara maksimal dan presentase aliran permukaan bertambah,
kajian ini bertujuan mensimulasikan kondisi hidrolis Kali Silandak.
Analisis dilakukan dengan cara menghitung curah hujan menggunakan Metode
HSS Nakayasu. Hasil dari analisis tersebut menghasilkan debit kala ulang banjir
pada waktu yang telah ditentukan, kemudian dibuat pemodelan simulasi Kali
Silandak menggunakan program aplikasi HEC-RAS.
Hasil perhitungan debit banjir dengan metode HSS Nakayasu pada periode
ulang berturut-turut yaitu Q2 = 250,620 m³/detik. Q5 = 345,013 m³/detik, Q10 =
375,677 m³/detik, Q25 = 411,727 m³/detik, Q50 = 434,946 m³/detik, Q100 =
455,993 m³/detik, Q1000 = 513,361 m³/detik, dengan debit banjir. Dalam analisis
pada ruas penampang Kali Silandak pada program HEC-RAS terdapat beberapa
limpasan melalui tanggul, seperti pada STA 520, STA 530, dan STA 540,
sedangkan pada kondisi debit normal menimbulkan alur sungai yang menjalin /
Graided.

Kata Kunci : Simulasi Hidrolik; Debit Banjir; HEC-RAS; Kali Silandak.

xiv
ABSTRACT

The increase in population growth causes greater pressure on the limited scope so
that a lot of vacant land is then developed. This change in land use then becomes a
residential area or a public facility which is the center of human activity. This can
result in reduced water catchment areas so that water does not absorb optimally
and the percentage of surface runoff increases. This study aims to simulate the
hydraulic conditions of the Silandak River.
Analysis was carried out by calculating rainfall using the HSS Nakayasu
method. The results of this analysis produce a flood return discharge at a
predetermined time, then a simulation modeling of the Silandak River is made
using the HEC-RAS application program
The results of calculating the flood discharge using the HSS Nakayasu method
for successive return periods are Q2 = 250.620 m³/sec. Q5 = 345.013 m³/sec, Q10 =
375.677 m³/sec, Q25 = 411.727 m³/sec, Q50 = 434.946 m³/sec, Q100 = 455.993
m³/sec, Q1000 = 513.361 m³/sec. In the analysis of the cross-section of the Silandak
River in the HEC-RAS program, there is some runoff through the embankment,
such as at STA 520, STA 530, and STA 540, whereas under normal discharge
conditions it causes a river channel that is Graided.

Keywords : Hydraulic Simulation; Flood Discharge; HEC-RAS; Kali Silandak.

xv
1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Meningkatnya pertumbuhan penduduk menyebabkan semakin besar tekanan
terhadap ruang lingkup yang terbatas sehingga banyak lahan kosong yang
kemudian terbangun. Perubahan tata guna lahan ini kemudian menjadi kawasan
pemukiman maupun tempat fasilitas umum yang menjadi pusat kegiatan manusia,
hal tersebut dapat mengakibatkan berkurangnya daerah resapan air sehingga air
tidak meresap secara maksimal. Jika hal ini terjadi, maka sebagian besar air akan
mengalir ke sungai dan menambah debit sungai sehingga sungai tidak mampu
untuk menampung kemudian terjadi peluapan apabila pembuatan drainase tidak
tepat.
Drainase yaitu suatu jaringan saluran air yang berfungsi untuk mengurangi atau
membuang kelebihan air dari suatu tempat ke tempat yang lain, sehingga tempat
tersebut dapat difungsikan secara optimal dan dapat mencegah terjadinya banjir di
tempat tersebut. Selain itu, drainase juga berfungsi sebagai prasarana untuk
mengalirkan air permukaan ke badan air atau tempat resapan.
Banjir dapat disebabkan oleh perubahan iklim dan curah hujan dengan
intensitas yang tinggi dan dengan durasi yang lama, selain itu juga dapat
disebabkan oleh perbuatan manusia yang sudah banyak menjadikan daerah
resapan sebagai pemukiman. Dengan berkurangnya daerah resapan
mengakibatkan meluapnya sungai yang tidak mampu untuk menampung dan
berakhir meluap ke daerah pemukiman. Hal ini akan berdampak ke faktor
ekonomi maupun sosial bagi masyarakat yang terdampak.
Berdasarkan uraian tersebut perlu dilakukan usaha untuk mengantisipasi
supaya tidak akan terjadi banjir. Agar penanganan lebih efektif, maka diperlukan
riset pada setiap kondisi banjir supaya mengetahui penyebab terjadinya banjir itu
sendiri. Oleh karena itu, saluran drainase harus dirancang sedemikian rupa supaya
dapat mengatasi masalah tersebut.
1.2. Rumusan Masalah

Pada tugas akhir ini terdapat permasalahan yang dirumuskan sebagai berikut :

1. Bagaimana pemodelan simulasi hidrolik menggunakan aplikasi HEC-RAS?


2. Bagaimana profil aliran yang terjadi di pelimpah sampai hilir menggunakan
program HEC-RAS?

1.3. Batasan Masalah

Agar penelitian ini sesuai dan tidak terlalu luas tinjauannya maka dibuat
pembatasan masalah sebagai berikut :

1. Pada penelitian ini tidak dilakukan perhitungan analisa curah hujan.


2. Tidak dilakukan perhitungan anggaran biaya dalam penelitian.

1.4. Tujuan Kajian


1. Menganalisis data hidrologi.
2. Membuat simulasi hidrolik Kali Silandak dengan aplikasi HEC-RAS.
3. Menyimpulkan titik-titik lokasi kritis terhadap banjir.

1.5. Lokasi
Lokasi kegiatan penelitian ini berada di Kali Silandak yang terletak di Kota
Semarang tepatnya di Kelurahan Bambankerep, Kecamatan Ngaliyan, Kota
Semarang, Provinsi Jawa Tengah.

1.6. Sistematika Penulisan Laporan


Berikut adalah sistematika dalam penyusunan laporan tugas akhir ini :

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini berisikan Latar Belakang, Rumusan Masalah, Batasan Masalah, Tujuan
Kajian, dan Sistematika Penulisan Laporan.

2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini membahas mengenai teori dan hal yang berhubungan dengan masalah
yang dikaji pada penelitian ini.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Dalam bab ini berisi tentang metodologi dan hal – hal yang berhubungan dengan
pelaksanaan penelitian serta permasalahan yang berkaitan dengan perencanaan
hidrolik menggunakan aplikasi HEC-RAS.

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Bab ini berisikan tentang data – data yang diperlukan dan hasil dari penelitian
yang telah didalaksanakan.

BAB V PENUTUP

Bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran atas penelitian yang sudah dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA

Dalam bab ini berisi daftar referensi dan acuan yang digunakan sebagai sumber
penulis untuk menyusun laporan tugas akhir.

LAMPIRAN

Bab ini berisi kelengkapan serta beberapa hal yang mendukung dalam penelitian.

3
4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Sungai

Sungai adalah suatu saluran drainase yang terbentuk secara alamiah. Akan tetapi
disamping fungsinya sebagai saluran drainase dan dengan adanya air yang
mengalir di dalamnya, sungai menggerus tanah dasarnya secara terus-menerus
sepanjang masa existensinya dan terbentuklah lembah-lembah sungai. Volume
sedimen yang sangat besar yang dihasilkan dari keruntuhan tebing-tebing sungai
di daerah pegunungan dan tertimbun di dasar sungai tersebut terangkut ke hilir
oleh aliran sungai. Hal ini diakibatkan karena pada daerah pegunungan
kemiringan sungainya curam dan gaya tarik aliran airnya cukup besar, setelah itu
gaya tariknya menjadi sangat menurun ketika mencapai dataran. Dengan demikian
beban yang terdapat dalam arus sungai berangsur-angsur diendapkan
(Sosrodarsono, 1984).

Sungai merupakan saluran terbuka dengan profil memanjang yang terbentuk


secara alami yang berada di permukaan bumi yang berfungsi untuk menampung
air hujan dan mengalirkan airnya untuk berakhir di laut. Sungai berfungsi untuk
memenuhi kebutuhan manusia seperti kegiatan pertanian, industri, lingkungan,
rumah tangga, dan kegiatan lainnya.

Selain itu, sungai juga sangat berpengaruh untuk kehidupan alam dikarenakan
sungai merupakan faktor utama dalam ekosistem flora dan fauna. Sedangkan
secara alamiah, sungai mempunyai fungsi utama yaitu untuk mengalirkan air dan
mengangkut sedimen yang merupakan hasil erosi pada alur sungai.
2.1.1. Penampang Sungai

Penampang sungai adalah permukaan atau bidang yang rata pada sungai.

Gambar 2.1 Penampang sungai

Gambar 2.2 Penampang sungai di daerah hulu, tengah, dan hilir

2.2. Daerah Aliran Sungai (DAS)

Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan gabungan seluruh alur sungai yang
berasal dari daerah daratan yang dibatasi oleh sisi-sisi gunung yang dapat
menampung air hujan dan kemudian dialirkan ke laut melalui sungai utama.

Daerah Aliran Sungai (DAS) memiliki sifat tersendiri hal ini dipengaruhi oleh
luas, bentuk daerah dan kemiringannya. Pada DAS memiliki dua daerah aliran
sungai yaitu daerah pemberi air (daerah hulu) dan daerah penerima air (hilir).
Keduanya saling berhubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain dalam
satu ekosistem Daerah Aliran Sungai (DAS).

5
2.3. Hidrologi

Hidrologi merupakan suatu cabang ilmu yang mempelajari tentang proses


perubahan wujud air yang mengikuti siklus keseimbangan yang terjadi di
lingkungan alam.

Hidrologi dipelajari untuk dapat memecahkan masalah yang berhubungan


dengan air seperti manajemen air, pengendalian banjir, dan perancangan bangunan
air. Hidrologi biasanya lebih mengutamakan masalah air di daratan. Analisis
hidrologi digunakan untuk memprediksi aliran air yang masuk selama periode
waktu tertentu, biasanya 5 tahun atau 10 tahun untuk daerah industri.

Air secara alami mengalir dari hulu ke hilir,dari daerah tinggi ke darah
yang lebih rendah. Air mengalir di atas permukaan tanah namun air juga mengalir
di dalam tanah. Di dalam lingkungan alam proses, perubahan wujud, gerakan
aliran air (di permukaan tanah, di dalam tanah dan di udara) dan jenis air yang
mengikuti suatu siklus keseimbangan dan dikenal dengan istilah Siklus Hidrologi
(Kodoatie, 2010). Proses aliran air secara umum digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2.3 Siklus Hidrologi

(Sumber : Guru Pendidikan, 2023)

2.4. Hidrolika

Hidrolika merupakan ilmu terapan dan teknik terapan yang berhubungan dengan
sifat mekanik fluida dan mempelajari perilaku aliran mikro dan makro air.
Pembahasan hidrolika mencakup beberapa aspek sains dan disiplin keteknikan,

6
serta mencakup beberapa konsep seperti aliran tertutup (pipa), desain bendungan,
pompa, turbin, tenaga air, perhitungan dinamika fluida, pengukuran aliran dan
perilaku aliran di saluran terbuka seperti sungai.

Analisa hidrolika digunakan untuk menentukan kapasitas saluran dengan


memperhatikan sifat hidrolik yang ada di saluran drainase tersebut. karakteristik
tersebut meliputi jenis aliran, angka kekasaran, dan sifat alirannya (kritis, subkritis
dan superkritis).

2.5. Curah Hujan

Hujan merupakan fenomena alam dimana air jatuh dari atmosfer ke bumi.
Fenomena ini mempunyai peran penting dalam siklus hidrologi. Pada daerah yang
berbeda pun hujan juga akan mengalami perbedaan, hal ini akan menghasilkan
karakteristik yang berbeda pula..

Curah hujan yang diperlukan untuk menyusun suatu rancangan


pemanfaatan air dan rancangan pengendalian banjir adalah curah hujan rata-rata di
seluruh daerah yang bersangkutan, bukan curah hujan pada suatu titik tertentu.
Curah hujan ini disebut curah hujan wilayah/daerah dan dinyatakan dalam
milimeter. Curah hujan ini harus diperkirakan dari beberapa titik pengamatan
curah hujan.(Sosrodarsono, 2003:27).

Data yang digunakan dalam menentukan curah hujan tahunan yaitu data
curah harian yang tertinggi. Adapun metode perhitungan yang digunakan ada 3
yaitu metode aljabar, metode Polygon Thiessen, dan metode Isohyet.

2.5.1. Metode rata-rata Aljabar

Metode ini merupakan metode paling sederhana karena pengukurannya dapat


dilakukan dalam waktu yang bersamaan di beberapa stasiun. Stasiun hujan yang
digunakan dalam perhitungan pun harus yang berada dalam DAS walaupun yang
di luar DAS yang masih berdekatan dapat diperhitungkan juga. Metode ini akan
bekerja maksimal jika stasiun hujan tersebar secara merata di seluruh DAS dan
distribusi hujan pun relatif merata di semua DAS.

7
Rumus perhitungan curah hujan rata-rata yaitu sebagai berikut :

………………………………………….. (2.1)

Dengan:

R : rata-rata curah hujan

P1, P2, hingga Pn : stasiun atau pos-pos

n : jumlah stasiun

2.5.2. Metode Polygon Thiessen

Metode Polygon Thiessen memperhitungkan bobot dari masing-masing stasiun


yang mewakili luasan di sekitarnya. Metode ini digunakan ketika sebaran stasiun
hujan tidak merata di daerah yang ditinjau. Dengan metode ini, setidaknya ada 3
stasiun hujan yang digunakan dalam perhitungan. Curah hujan rata-rata dihitung
dengan cara memperhitungkan daerah pengaruh dari masing-masing stasiun.

Metode ini sering digunakan untuk menghitung curah hujan rata-rata di


suatu daerah. Polygon Thiessen bersifat tetap untuk suatu jaringan di stasiun hujan
tertentu. Jika ada perubahan pada jaringan stasiun hujan seperti pemindahan atau
bahkan penambahan stasiun, maka harus membuat poligon yang baru.

…………………………………(2.2)

Dengan:

R : curah hujan maksimum rata-rata (mm)

R1,R2,…,Rn : curah hujan pada stasiun 1,2,…n (mm)

A1,A2,…An : luas daerah pada polygon 1,2,..n (km2 )

8
Gambar 2.4. Metode Polygon Thiessen

(Sumber: Komunitas Atlas, 2010)

2.5.3. Metode Isohyet

Isohyet adalah garis yang menghubungkan titik-titik dengan kedalaman hujan


yang sama. Pada metode Isohyet, dianggap bahwa hujan pada suatu daerah di
antara dua garis Isohyet adalah merata dan sama dengan nilai rata-rata dari kedua
garis Isohyet tersebut. Metode Isohyet merupakan cara paling teliti untuk
menghitung kedalaman hujan rata-rata di suatu daerah, pada metode ini stasiun
hujan harus banyak dan tersebar merata, metode Isohyet membutuhkan pekerjaan
dan perhatian yang lebih banyak dibanding dua metode lainnya. (Triatmodjo,
2008).

……………………………. (2.3)

Dengan:

R : Curah hujan rata-rata (mm)

R1,R2,…,Rn : curah hujan pada stasiun 1,2,…n (mm)

A1,A2,…An : luas bagian yang dibatasi oleh isohyet (km2 )

9
Gambar 2.5. Metode Isohyet

(Sumber: Komunitas Atlas, 2010)

2.6. Debit Banjir Rencana

Debit banjir rencana merupakan debit maksimum rencana di sungai atau saluran
alamiah dengan periode tertentu yang dapat dialirkan tanpa membahayakan
lingkungan sekitar dan stabilitas sungai. Metode untuk memperkirakan puncak
yang umum dipakai adalah metode rasional USSCS (1973). Model ini merupakan
model kotak hitam (Suripin,2004) dan saat ini masih digunakan di Indonesia
dengan menurunkan hujan menjadi aliran permukaan (Suharini, dkk., 2010).

2.6.1. Metode Rasional

QR = 0,00278.C.I.A ………………………………………..…..(2.4)

Dimana:

QR : Debit aliran permukaan (m3/detik)

C : Koefisien Runoff

I : Intensitas curah hujan (mm/jam)

A : Luas DAS (ha)

Menurut Triatmojo (2010), m etode rasional lebih cocok dan valid untuk
memperkirakan debit puncak yang ditimbulkan oleh hujan deras pada daerah

10
tangkapan air DAS kecil, dimana Ponce (1989) berpendapat bahwa DAS kecil
adalah yang mempunyai ukuran kurang dari km2.

2.7. HEC-RAS

HEC-RAS merupakan program aplikasi untuk memodelkan aliran di sungai, River


Analysis System (RAS), yang dibuat oleh Hydrologic Engineering Center (HEC)
yang merupakan satu divisi di dalam Institute for Water Resources (IWR), di
bawah US Army Corps of Engineers (USACE). HEC-RAS merupakan model satu
dimensi aliran permanen maupun tak permanen (steady and unsteady
onedimensional flow model). HEC-RAS merupakan program aplikasi yang
mengintegrasikan fitur graphical user interface, analisis hidrolik, manajemen dan
penyimpanan data, grafik, serta pelaporan.

HEC-RAS memiliki empat komponen analisa hidrolika satu dimensi


untuk:

1. Hitungan profil muka air aliran permanen


2. Simulasi aliran tak permanen
3. Hitungan transport sedimen
4. Hitungan kualitas air

Terdapat lima langkah utama dalam pembangunan model hidrolik


menggunakan HEC-RAS, yaitu :

1. Memulai HEC-RAS
2. Pembuatan nama pekerjaan
3. Memasukkan data geometri
4. Memasukkan data debit (steady flow) dan kondisi batas
5. Running program

2.7.1. Prinsip Dasar Aliran


Hitungan hidrolika aliran pada dasarnya adalah mencari kedalaman dan
kecepatan aliran di sepanjang alur yang ditimbulkan oleh debit yang masuk
kedalam alur dan kedalaman aliran dibatas hilir. Perhitungan hidrolika aliran di
dalam HEC-RAS dilakukan dengan membagi aliran ke dalam dua kategori, yaitu

11
aliran permanen dan aliran tak permanen. HEC-RAS menggunakan metode
hitungan yang berbeda untuk masing-masing kategori aliran tersebut.
[Link]. Aliran Permanen (Steady flow)
Dalam memodelkan aliran permanen HEC-RAS memakai persamaan energi
kecuali di tempat-tempat yang kedalaman alirannya melewati kedalaman kritis,
sedangkan di tempat terjadi loncat air, pertemuan alur, dan aliran dangkal
melalui jembatan, HEC-RAS memakai persamaan (kekekalan) momentum. Di
tempat terjadi terjunan, aliran melalui peluap, dan aliran melalui bendung, HEC-
RAS memakai persamaan-persamaan empiris.
a. Persamaan Energi
Dalam aliran permanen, HEC-RAS menghitung profil muka air di sepanjang
alur urut dari satu tampang lintang ke tampang lintang berikutnya. Muka air
dihitung dengan memakai persamaan energi yang diselesaikan dengan
metode yang dikenal sebagai standard step method. Persamaan energi antara
dua tampang lintang ditunjukan pada Persamaan 2.5.

Y2+Z2+ =Y1+Z1+ ..................................... (2.5)

Dengan:
Y1, Y2 : kedalaman aliran
Z1, Z2 : elevasi dasar saluran
V1, V2 : kecepatan rata-rata (debit dibagi luas tampang basah)
α1, α2 : koefisien
g : percepatan gravitasi
he : kehilangan tinggi energy
Berikut diagram aliran berubah beraturan ditunjukan pada Gambar 2.5 :

12
Gambar 2.6. Diagram aliran berubah beraturan
(Sumber: Istiarto, 2014)

b. Kehilangan Tinggi Energi


Kehilangan tinggi energi he, di antara dua tampang lintang terdiri dari dua
komponen, yaitu kehilangan energi karena gesekan (friction losses) dan
kehilangan energi karena perubahan tampang (contraction or expansion
losses). Kehilangan energi antara tampang 2 dan 1 dinyatakan dengan
Persamaan 2.6 berikut :

he = LSf + C - ……………………………………(2.6)

dengan:
L : panjang ruas sungai antar kedua tampang
Sf : kemiringan gesekan (friction slope)
C : keofisien ekspansi dan kontraksi
Panjang ruas sungai antar dua tampang (jarak sepanjang bentang) L,
dinyatakan dengan persamaan 2.7 berikut :

…………………….…………(2.7)

Dengan:

13
Llob, Lch, Lrob : jarak sepanjang potongan melintang pada aliran yang
ditinjau di pinggir kiri sungai/left overbank (lob), saluranutama/main channel
(ch), dan pingir kanan sungai/right overbank (rob),

Qlob, Qch, Qrob : jarak sepanjang potongan melintang pada aliran yang
ditinjau di pinggir kiri sungai (lob), saluran utama (ch), dan pinggir kanan
sungai (rob).
c. Kapasitas Angkut Tampang
Kapasitas angkut dan kecepatan rata-rata di suatu tampang dihitung dengan
membagi tampang menjadi beberapa bagian, di setiap bagian kecepatan
terbagi merata seperti yang ditunjukan pada Gambar 2.6.
Bagian tersebut dikelompokan menjadi tiga alur yaitu bantaran kiri (left
overbank), alur utama (main channel), dan alur bantaran kanan (right
overbank). Alur kiri ataupun alur kanan dapat terdiri dari beberapa bagian,
sedangkan alur utama umumnya terdiri dari satu bagian tampang. Nilai
koefisien manning ditetapkan di setiap bagian tampang tersebut. Setiap
tampang kapasitas angkut dihitung dengan memakai persamaan manning
yang dinyatakan pada Persamaan 2.8 dan Persamaan 2.9 berikut ini.

Q = KSf1/2 …………………………………………..……. (2.8)


K = AR2/3 …………………………………………..…….. (2.9)

dengan:
K : kapasitas angkut tiap bagian tampang,
n : koefisien kekasaran manning tiap bagian tampang,

A : luas tampang basah tiap bagian tampang,


R : radius hidraulik tiap bagian tampang.

14
Gambar 2.7. Pembagian Tampang Kapasitas Angkut
(Sumber: Istiarto, 2014)
[Link]. Aliran tidak permanen (unstead flow)
Dalam aliran tak permanen, HEC-RAS memakai persamaan kekekalan massa
(continuity, conservation of mass) dan persamaan momentum. Kedua persamaan
dituliskan dalam bentuk persamaan diferensial parsial yang kemudian
diselesaikan dengan metode finite difference approximation berskema implisit.
Aliran di saluran atau sungai merupakan proses fisik yang mengikuti
hukum kekekalan massa dan kekekalan momentum. Proses fisik ini dapat
digambarkan dengan persamaan matematik, yang dikenal sebagai Persamaan St.
Venant. Persamaan St. Venant terdiri dari persamaan kontinuitas (prinsip
konservasi massa) dan persamaan momentum (prinsip konservasi momentum)
yang dituliskan dalam bentuk persamaan diferensial parsial sebagai berikut ini.
a. Persamaan Kontinuitas
Persamaan kontinuitas untuk aliran tidak permanen dapat diuraikan dengan
mengguakan kerangka volume kontrol seperti pada Gambar 2.7 berikut:

Gambar 2.8. Kerangka Volume Kontrol


Volume kontrol ini adalah pias air dibatasi sehingga debit air masuk dan

15
keluar dapat diamati secara detail. Tujuan bidang antara pias 1 dan pias 2
memiliki nilai debit air Q1 dan Q2. Permukaan air bebas, sehingga Q1 tidak
selalu sama dengan Q2, perbedaan tersebut dapat dinyatakan pada
Persamaan 2.10.

Q1-Q2 = x …………………………………………….. (2.10)

Dimana Q1 adalah debit masuk volume control, Q2 adalah debit keluar

volume control, x adalah pias volume control, dan adalah kecepatan

perubahan nilai Q sepanjang x.


Besar perubahan di sepanjang x tersebut dapat dinyatakan dalam
persamaan 2.11.

x ……………………………………………................ (2.11)

Jika nilai persamaan 2.10 dan 2.11 besarnya sama tetapi berlawanan tanda,
maka akan didapat persamaan kontinuitas untuk persamaan aliran tak tetap
sebagai persamaan 2.12.

+ = 0 ………………………………………………... (2.12)

Jika terdapat debit air masuk (lateral inflow) di sepanjang x maka menjadi
persamaan 2.13.

+ = q1 ……………………………………………….. (2.13)

dengan:
A : luas penampang basah (m²)

Q : debit aliran (m³/dt),


q1 : debir air masuk (aliran inflow) per satuan panjang dari kiri dan kanan

16
sungai (m³/dt/m),
x : jarak memanjang sungai (m)
t : waktu (dt)

b. Persamaan Momentum
Suatu aliran terbuka juga harus memenuhi hukum kekekalan momentum.
Hukum kekekalan momentum pada aliran tidak permanen dituliskan pada
persamaan 2.14 sebagai berikut:

Sf ) = 0 .......................................................(2.14)

Dengan:
A : Luas penampang basah (m2)
Q : debit aliran air (m3/dt2)
g : percepatan gravitasi (m/dt2)
x : jarak memanjang sungai (m)
z : tinggi muka air (m)
t : waktu (dt)
Sf : kemiringan garis energi (friction slope), dihitung dengan persamaan
manning pada persamaan 2.15

Sf = ............................................................................ (2.15)

Dengan :
n : koefisien kekasaran manning
R : radius hidraulik

17
BAB III

METODE PENELITIAN
3.1. Pengumpulan Data

Dalam penyusunan tugas akhir ini, data yang digunakan sebagai bahan acuan ini
menggunakan metode yang sesuai dengan data yang diperlukan, yaitu data primer
dan data sekunder.

3.1.1. Data Primer

Data primer merupakan data yang diperoleh dengan cara melakukan peninjauan
atau survei langsung untuk identifikasi dan dokumentasi di lapangan. Data yang
berhubungan dengan data primer ini meliputi hasil survei lokasi yang berupa foto
dokumentasi titik lokasi yang digunakan untuk mengetahui kondisi Kali Silandak.

3.1.2. Data Sekunder

Data sekunder merupakan sumber data yang tidak langsung diterima oleh
pengumpul data, data ini bisa didapat melalui orang lain atau lewat dokumen.
Pengumpulan data sekunder pada penulisan ini di antaranya diperoleh dari PT.
STUDI TEKNIK Kota Semarang, data sekunder yang digunakan yaitu:

1. Data Penampang Kali Silandak


2. Data Limpasan Sebelumnya
3. Data Curah Hujan
4. Peta Lokasi

3.2. Tahapan Penelitian

Dalam tahapan ini, jenis tahapan yang digunakan yaitu pendekatan kuantitatif
yang bersifat deskriptif melalui studi literatur, pengumpulan data, dan analisis
data. Penelitian ini juga bersifat teoritis dikarenakan banyak opini dan logika yang
akan digunakan dalam menyelesaikan masalah dan fenomena yang akan dihadapi
dalam model kuantitatif.

Proses kegiatan pada penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu:
1. Tahapan Persiapan
Pada tahap ini, literatur tentang penelitian ini dikumpulkan dan diteliti. Hasil
dari langkah ini berupa sketsa dan interpretasi awal keadaan wilayah
penelitian yang digunakan dalam tahap pengumpulan data.
2. Tahapan Pengumpulan Data
Dalam penyusunan studi kasus diperlukan data dan penerapan metode yang
tepat sehingga lebih efektif, mudah dipahami serta menghemat biaya, waktu,
dan tenaga. Mengumpulkan data yang ada merupakan bagian penting dari
metode ilmiah agar penelitian dapat dilakukan dengan menggunakan data
primer dan data sekunder, untuk itu perlu mengumpulkan data dari penelitian
sebelumnya untuk dapat menemukan apa yang tersedia dan mempelajarinya
dengan seksama karena hal tersebut merupakan hal yang penting untuk
penelitian. Peninjauan terhadap data yang tersedia dapat dilakukan setelah
atau sebelum topik penelitian dipilih dan segera melakukan pencarian literatur
sebagai referensi pendukung untuk memecahkan setiap masalah yang dipilih.

Data penulisan yang digunakan dalam penelitian adalah data sekunder dan
data primer. Data sekunder atau data tidak langsung ini berasal dari PT.
STUDI TEKNIK Semarang, BBWS Pemali Juwana, Dinas PUSDATARU
Jateng, yang meliputi : data penampang Kali Silandak, data limpasan
sebelumnya, data curah hujan, dan peta lokasi.

Sementara itu, data primer dapat diperoleh dari observasi lapangan dan
tanya jawab dengan pihak yang terkait. Informasi yang diperoleh dapat berupa
foto lapangan yang didapat dengan berdasarkan pengamatan visual yang
dilakukan.
3. Tahapan Analisis
Analisis hidrologi dilakukan dengan menggunakan pendekatan statistik
(analisis frekuensi) terhadap data aliran. Apabila data aliran tidak tersedia
ataupun tersedia dengan data yang terbatas, maka analisis hidrologi dapat
dilakukan dengan menggunakan pendekatan hubungan hujan-aliran yang
memerlukan data curah hujan, data tata guna lahan, peta topografi, dan peta
geologi.

2
Dalam rangka analisis hidrologi dilakukan inventarisasi data hidrologi.
Data hidrologi yang tersedia berupa data aliran, data hujan berupa data hujan
harian maksimum tahunan di beberapa lokasi stasiun hujan yang mewakili
daerah studi, data klimatologi, dan data peta.

Analisis hidrologi dimaksudkan untuk besaran yang diperlukan dalam


merencanakan bangunan air dalam rangka pekerja detail desain pengelolaan
dan pengendalian banjir sistem sungai. Beberapa tahapan yang dilaksanakan
dalam rangka analisis hidrologi antara lain :

1. Pengumpulan data curah hujan, data debit banjir maksimum selama


minimal 10 tahun pengamatan, data pasang surut,dan data-data lainnya
yang dibutuhkan dalam analisis hidrologi.
2. Analisis hidrologi dilakukan menyeluruh dalam 1 DAS sistem sungai dari
hulu hingga analisis muara.
3. Menghitung debit banjir rencana dengan periode ulang 2, 10, 25, 50 serta
100 tahun.
4. Analisis erosi dan sedimentasi di sungai dan anak-anak sungai serta
melakukan analisis proyeksi sedimentasi yang akan terjadi di sistem
sungai kali silandak.
5. Menghitung debit dan hidrograf banjir rancangan baik secara empiris dan
penggunaan model matematis termasuk juga analisis di muara masing-
masing sungai.
Analisis selanjutnya yaitu pemodelan simulasi hidrolik dan profil aliran
yang terjadi di pelimpah sungai hilir menggunakan program HEC-RAS.
Berikut langkah-langkah pengoperasian program HEC-RAS:
1. Buka menu utama program HEC-RAS
2. Pilih New Project kemudian pilih nama project yang diinginkan.
3. Masuk ke menu Options dan pilih satuan perhitungan yang akan
digunakan. Dalam studi pengendalian banjir ini digunakan satuan metric
yang merupakan satuan standar internasional (SI).
4. Masuk ke menu Geometric Data pada menu Edit. Input data geometri
berupa data reach dan data cross section.

3
a. Pada layar Geometric Data pilih River Reach (ikon pertama dari kiri
sebelah atas layar utama). Buat sebuah garis dari hulu ke hilir dan beri
nama Kali Silandak.
b. Masukkan koordinat skema sungai dengan memilih GIS Tool kemudian
Reach Invert Lines Table.
c. Langkah selanjutnya memasukkan data cross section dengan memilih
pilihan Cross Section (ikon kedua dari atas sebelah kiri layar utama). Pada
layar Cross Section Data pilih opsi Add New Cross Section.
 Data berupa koordinat hubungan Station dengan Elevation
 Data jarak LOB, Chanel, dan ROB
 Data nilai kekasaran Manning’s
 Data Main Chanel dengan menginput titik sebelah kiri dan kanan
saluran.
Data Koefisien Kontraksi yaitu 0,1 dan Koefisien Ekspansi yaitu 0,3
d. Masih pada jendela pilihan Cross Section Data, pilih Options kemudian
pilih Levee. Pilihan ini dimaksudkan untuk memberikan informasi
mengenai batasan tanggul pada HEC-RAS.
e. Setelah semua data simpan dengan memilih menu File kemudian pilih
opsi Save Geometric Data As. Beri nama Kali Silandak
f. Setelah selesai diinput, tutup layar Cross Section Data dengan memilih
menu Exit kemudian pilih opsi Exit Cross Section Editor.
5. Data boundary condition (syarat batas) untuk profil aliran unsteady flow
atau aliran tidak tetap.
a. Pilih menu Unsteady Flow Data pada menu Edit di layar utama program
HEC-RAS.
b. Input kondisi batas hulu yang dibutuhkan, dalam studi ini dipakai data
flow hydrograph. Data hasil hitungan hidrograf satuan sintetis Nakayasu
ada pada Bab 4.
c. Input data inflow sungai anak yang masuk menuju sungai utama, dalam
studi ini dipakai data hubungan waktu dengan debit (Lateral Inflow
Hydrograph). Data hubungan hubungan waktu dengan debit (Lateral
Inflow Hydrograph) ada pada Bab 4.

4
d. Input kondisi batas hilir yang dibutuhkan, dalam studi ini dipakai data
hubungan ketinggian muka air pada cross section yang tertera dengan
debit (Rating Curve). Data hubungan ketinggian muka air pada cross
section yang tertera dengan debit (Rating Curve).
e. Simpan dengan memilih menu File kemudian Save Unsteady Flow Data
As.
6. Simulasi Hidrolika Profil Unsteady
a. Aktifkan layar Unsteady Flow Analysis pada menu Run.
b. Pilih menu File kemudian Save Plan As dan beri judul
c. Tentukan program yang akan disimulasi dan waktu interval simulasi.
d. Kemudian pilih Compute.
e. Tunggu hingga program selesai melakukan simulasi.
7. Hasil Output Simulasi HEC-RAS kondisi eksisting.

Tampilan program HEC-RAS versi 5.0.7 ditunjukkan pada Gambar 3.1

Gambar 3.1 Tampilan menu utama HEC-RAS 5.0.7


Berikut kegunaan tentang beberapa tools yang ada dalam software HEC-RAS:

1. Edit/Enter Geometric Data ( ) untuk membuat dan mengisi data


geometrisungai yang akan dimodelkan.

2. Edit/Enter Unsteady Flow Data ( ) untuk memasukkan data aliran


unsteady serta kondisi batas hulu dan hilir.

3. Perform An Unsteady Flow Simulation ( ) untuk running simulasi aliran.

4. View Cross Sections ( ) untuk melihat potongan melintang sungai.

5. View Profiles ( ) untuk melihat potongan memanjang sungai.


6. View 3D Multiple Cross Section Plot ( ) untuk melihat penampakan
3D daripemodelan yang telah dibuat.

5
7. View Summary Output Tables by Profile ( ) untuk melihat hasil running
berupa tabel.
4. Tahapan Penyusunan Laporan
Tahapan ini merupakan tahapan akhir dari tahap penelitian dimana tahap ini
dimulai dari menyusun data-data di tahap awal hingga akhir yang selanjutnya
akan disimulasi dan dianalisis melalui pemodelan di aplikasi HEC-RAS, lalu
membuat kesimpulan dan saran setelah mendapatkan hasil dari simulasi
pemodelan di aplikasi HEC-RAS yang digunakan.

6
3.3. Bagan Alur Pikir Penelitian

Mulai

Identifikasi Masalah

Studi Pustaka

Pengumpulan Data

Data Primer Data Sekunder


Dokumentasi di - Data Limpasan
Lapangan Sebelumnya
- Data Penampang Kali
Silandak
- Data Hidrologi
- Peta Lokasi

Analisa Data

Tidak
Cek Data Apakah Sudah
Sesuai ?

Ya
Input Data dan Run ke Aplikasi
HEC-RAS

Kesimpulan dan Saran

Selesai

7
3.4. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian dalam penyusunan tugas akhir ini yaitu kali silandak yang
terletak di Kel. Bambankerep, Kec. Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengah. Peta
lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 3.2.

Gambar 3.2. Peta Lokasi

(Sumber : Penulis, 2023)

8
Gambar 3.3. Area DAS Kali Silandak

(Sumber : PT. STUDI TEKNIK)

9
27

BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1. Tinjauan Umum

Banjir merupakan peristiwa bencana alam yang terjadi apabila debit air
mengalami kenaikan dan berujung meluap ke daratan. Banjir ini sering terjadi
dikarenakan tidak mempunyai sungai untuk menampung aliran air yang berlebih
serta kurangnya daerah resapan air sehingga meluap ke daerah pemukiman. Oleh
karena itu diperlukan perancangan saluran drainase yang maksimal supaya dapat
mengatasi masalah tersebut, khususnya di Kali Silandak, Kecamatan Ngaliyan,
Kota Semarang.

Untuk mengatasi bencana banjir di wilayah tersebut diperlukan usaha yang


lebih maksimal mengingat bencana tersebut sering melanda di setiap tahunnya.
Selain perencanaan yang lebih matang, diperlukan juga perancangan dan
penanganan yang maksimal guna upaya pengendalian banjir ini dapat terealisasi
secara optimal supaya peristiwa ini tidak terulang kembali di tahun-tahun
selanjutnya.

Oleh karena itu penulis melakukan Tugas Akhir ini untuk merencanakan
normalisasi dengan cara simulasi hidrolik pada Kali Silandak yang dibantu
menggunakan aplikasi HEC-RAS.

4.1.1. Keadaan Geografis

Kota Semarang merupakan salah satu Kota di Jawa Tengah yang terletak di antara
6° 50’ – 7°10’ Lintang Selatan dan garis 109° 35’ – 110° 50’ Bujur Timur. Kota
Semarang memiliki batas-batas wilayah yaitu sebelah utara dengan Laut Jawa,
sebelah Timur dengan Kabupaten Demak, sebelah Barat dengan Kabupaten
Kendal, serta sebelah selatan dengan Kabupaten Semarang.

Kota Semarang sendiri memiliki luas wilayah 373,70 km2 yang terbagi
dalam 16 kecamatan dan 177 kelurahan. Berdasarkan administrasi wilayah Kota
Semarang memiliki 16 kecamatan yang terdiri dari Banyumanik, Candisari,
Gajahmungkur, Gayamsari, Genuk, Gunungpati, Mijen, Ngaliyan, Pedurungan,
Semarang Barat, Semarang Selatan, Semarang Tengah, Semarang Timur,
Semarang Utara, Tembalang, dan Tugu.

4.1.2. Keadaan Iklim

Kota Semarang memiliki iklim basah dengan rata-rata curah hujan tahunan
sebesar 2.780 mm. Karena pengaruh dari topografi, curah hujan di Kota Semarang
bervariasi dengan rata-rata curah hujan di kota bawah yaitu 2.500 mm sedangkan
di Kota Atas memiliki rata-rata curah hujan yang lebih tinggi yaitu 3.000 mm.
Sepanjang tahun, keadaan suhu di Kota Semarang biasanya bervariasi dengan
suhu terendah 18°C sedangkan suhu tertinggi yaitu menyentuh 39°C, namun rata-
rata suhu tahunan di Kota Semarang sebesar 28°C.

4.1.3. Kependudukan

Berdasarkan dari hasil proyeksi penduduk Kota Semarang pada tahun 2021
tercatat total jumlah penduduk mencapai sebanyak 1.687.222 orang yang terdiri
dari 835.404 orang berjenis kelamin laki-laki dan 851.818 orang berjenis kelamin
perempuan. Jumlah tersebut mengalami kenaikan sebesar 0,08% dibanding pada
tahun sebelumnya. Dalam 5 tahun terakhir, tahun 2021 mengalami penurunan laju
pertumbuhan penduduk dibandingkan dengan tahun 2019 yang mengalami
kenaikan sebanyak 0,69%.

Berdasarkan kelompok umur, penduduk Kota Semarang sebagian besar


berada di kategori usia produktif yakni umur 15-64 tahun mencapai 71,27% atau
sebanyak 1.202.455 orang. Sedangkan kelompok usia non produktif mencapai
28,73% atau sebanyak 533.171 orang. Sebanyak 30,85% penduduk Kota
Semarang tersebut telah menyelesaikan pendidikan yang setara dengan
SLTA/sederajat, dan yang kedua didominasi oleh penduduk yang berpendidikan
SMP/sederajat sebesar 13,30%. Sedangkan sisanya didominasi oleh penduduk
yang berpendidikan Strata I, belum tamat SD/sederajat, dan yang tidak atau belum
tamat sekolah.

29
4.2. Analisis Curah Hujan

Curah hujan (mm) adalah ketinggian air hujan yang terkumpul dalam penakar
hujan pada tempat yang datar, tidak menyerap, tidak meresap dan tidak mengalir
(BMKG, 2016). Dalam penelitian ini, data curah hujan sangat diperlukan dalam
setiap analisis hidrologi, khususnya untuk menghitung debit banjir. Hal ini
dikarenakan oleh tidak adanya atau terbatasnya data debit.

4.2.1. Analisis Curah Hujan Maksimum Rata-Rata dengan Metode Rerata


Aritmatik (Aljabar)

Metode yang digunakan dalam perhitungan curah hujan rata-rata wilayah yaitu
Metode Rerata Aritmatik (aljabar), dimana pengukuran yang dilakukan di
beberapa pos hujan dalam waktu yang bersamaan dijumlahkan dan kemudian
dibagi dengan jumlah stasiunnya. Nilai curah hujan yang akan diambil,
diperoleh dari data hujan harian yaitu jumlah hujan pada bulan tertentu untuk
tahun tertentu yang disebut curah hujan bulanan.

Langkah untuk mendapatkan perhitungan curah hujan harian rata-rata pada


Stasiun Kantor PSDA Bodri Kuto, Stasiun Plumbon dan Stasiun Gn. Pati yaitu:

a. Mengumpulkan data harian hujan 10 tahun yang diperoleh dari Dinas


Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Penata Ruang Provinsi Jawa
Tengah.
b. Rekapitulasi hujan harian maksimum perbulan.

c. Pengumpulan data harian hujan pertahun.

d. Menghitung rata-rata hujan harian maksimum 3 pos stasiun hujan dengan


Rumus 2.1.

Contoh perhitungan:

 Curah Hujan Rata-Rata Maksimum Tahun 2013


𝑆𝑡. 𝐾𝑎𝑛𝑡𝑜𝑟 𝑃𝑆𝐷𝐴 𝐵𝑜𝑑𝑟𝑖 𝐾𝑢𝑡𝑜 + 𝑆𝑡.𝑃𝑙𝑢𝑚𝑏𝑜𝑛
+ 𝑆𝑡 𝐺𝑛.𝑃𝑎𝑡𝑖
𝑅𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎 = 3

150 + 119 + 146


= 3

30
= 138,33

 Curah Hujan Rata-Rata Maksimum Tahun 2014


𝑆𝑡. 𝐾𝑎𝑛𝑡𝑜𝑟 𝑃𝑆𝐷𝐴 𝐵𝑜𝑑𝑟𝑖 𝐾𝑢𝑡𝑜 + 𝑆𝑡.𝑃𝑙𝑢𝑚𝑏𝑜𝑛
+ 𝑆𝑡 𝐺𝑛.𝑃𝑎𝑡𝑖
𝑅𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎 = 3

177 + 124 + 148


= 3

= 149,67

 Curah Hujan Rata-Rata Maksimum Tahun 2015


𝑆𝑡. 𝐾𝑎𝑛𝑡𝑜𝑟 𝑃𝑆𝐷𝐴 𝐵𝑜𝑑𝑟𝑖 𝐾𝑢𝑡𝑜 + 𝑆𝑡.𝑃𝑙𝑢𝑚𝑏𝑜𝑛
+ 𝑆𝑡 𝐺𝑛.𝑃𝑎𝑡𝑖
𝑅𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎 = 3
155 + 127 + 106
= 3

= 129,33
 Curah Hujan Rata-Rata Maksimum Tahun 2016
𝑆𝑡. 𝐾𝑎𝑛𝑡𝑜𝑟 𝑃𝑆𝐷𝐴 𝐵𝑜𝑑𝑟𝑖 𝐾𝑢𝑡𝑜 + 𝑆𝑡.𝑃𝑙𝑢𝑚𝑏𝑜𝑛
 𝑅𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎 = + 𝑆𝑡 𝐺𝑛.𝑃𝑎𝑡𝑖
3

120 + 82 + 152
= 3

= 118

Rekapitulasi hujan maksimum harian rata-rata 3 pos stasiun hujan dapat dilihat
pada tabel 4.4.

31
Tabel 4.1. Curah Hujan Maksimum Harian Rata-rata Per Tahun pada Stasiun Kantor Balai PSDA Bodri Kuto
Curah Hujan (mm)
Tahun
Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Maksimum Harian Rata
Rata
2013 94 150 27 76 48 140 33 24 20 50 33 65 150
2014 177 95 26 12 53 73 77 12 0 16 57 56 177
2015 64 155 50 51 52 42 0 0 0 0 72 60 155
2016 50 105 43 86 22 68 120 29 80 29 60 20 120
2017 70 48 60 70 40 55 19 2 18 90 66 32 90
2018 44 120 67 84 5 19 0 0 0 14 54 83 120
2019 44 119 42 54 0 0 0 0 9 53 15 62 119
2020 53 60 41 47.5 40 4 49 30 27 40 40 51 60
2021 50 200 24 50 30 70 12 62 71 38 60 47.5 200
2022 40 41 22 38.5 55 39 42 24.5 32 45 60 196 196

32
Tabel 4.2. Curah Hujan Maksimum Harian Rata-rata Per Tahun pada Stasiun Plumbon
Curah Hujan (mm)
Tahun
Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Maksimum Harian Rata
Rata
2013 104 119 24 37 52 94 96 18 0 43 48 41 119
2014 103 124 44 17 12 46 40 12 0 21 61 37 124
2015 65 59 127 44 38 26 40 1 0 43 41 37 127
2016 41 50 47 74 55 82 54 47 0 44 38 33 82
2017 67 44 36 52 10 55 72 3 29 79 46 84 84
2018 61 142 57 49 23 50 0 0 12 8 18 45 142
2019 98 60 69 95 105 0 20 0 5 12 30 51 105
2020 50 78 70 82 89 4 52 23 17 41 36 54 89
2021 71 197 57 15 106 122 29 7 30 20 89 58 197
2022 41 71 56 113 18 12 23 6 34 35 59 76 113

33
Tabel 4.3. Curah Hujan Maksimum Harian Rata-rata Per Tahun pada Stasiun Gn. Pati

Curah Hujan (mm)


Tahun
Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Maksimum Harian Rata
Rata
2013 77 52 59 59 55 33 26 24 0 0 146 132 146
2014 84 148 32 75 49 56 26 25 0 24 36 75 148
2015 69 97 106 66 99 19 0 0 0 14 64 43 106
2016 136 118 78 79 65 67 65 45 76 152 112 117 152
2017 110 65 63 35 49 47 34 0 18 82 103 55 110
2018 44 77.5 85 40 34 44.5 0 0 26 0 50 55 85
2019 70 85 130 62 27 0 0 3 28 3 23 95 130
2020 98 85 72 64 47 0 61 11 25 32 96 82 98
2021 153 148 50 18 52 51 116 26 75 66 72 63 153
2022 190 83 32 61 41 46 6 66 98 112 105 116 190

34
Tabel 4.4. Rekapitulasi Perhitungan Curah Hujan Maksimum Harian Rata-rata

Pos Kantor Pos Pos Gn


No Tahun Rata-Rata
Balai PSDA Plumbon Pati

1 2013 150 119 146 138.33


2 2014 177 124 148 149.67
3 2015 155 127 106 129.33
4 2016 120 82 152 118.00
5 2017 90 84 110 94.67
6 2018 120 142 85 115.67
7 2019 119 105 130 118.00
8 2020 60 89 98 82.33
9 2021 200 197 153 183.33
10 2022 196 113 190 166.33
Jumlah 1387 1182 1318 1295.67
Rata-Rata 138.7 118.2 131.8 129.567

4.3. Analisis Frekuensi

Analisis frekuensi dapat diterapkan untuk data debit sungai atau hujan. Data yang
digunakan yaitu data debit hujan maksimum tahunan, yaitu data terbesar yang
terjadi dalam satu tahun, yang terukur selama beberapa tahun.

4.3.1 Pengukuran Dispersi

Nilai faktor hidrologi tidak semua terletak pada nilai rata-ratanya, kemungkinan
nilainya lebih besar ataupun lebih kecil dari rata-rata atau biasa disebut dengan
faktor. Besar dispersi dapat diketahui melalui perhitungan parameter faktor yaitu
nilai rata-rata (x̄ ), standar deviasi (S), koefisien variasi (Cv), koefisien
kemiringan/skewness (Cs), koefisien kurtosis (Ck).

35
Tabel 4.5. Hasil Perhitungan Parameter Statistik Curah Hujan

No Tahun Rmax (Xi) (xi - x̄ ) (xi - x̄ )2 (xi - x̄ )3 (xi - x̄ )4


1 2013 138.33 8.76 76.81 673.14 5899.42
2 2014 149.67 20.10 404.17 8125.45 163354.05
3 2015 129.33 -0.24 0.06 -0.01 0.00
4 2016 118.00 -11.57 133.77 -1547.21 17895.04
5 2017 94.67 -34.90 1217.73 -42493.93 1482868.34
6 2018 115.67 -13.90 193.10 -2683.30 37287.15
7 2019 118.00 -11.57 133.77 -1547.21 17895.04
8 2020 82.33 -47.24 2231.24 -105394.84 4978430.58
9 2021 183.33 53.76 2890.57 155408.48 8355381.61
10 2022 166.33 36.76 1351.59 49689.92 1826800.11
Jumlah 1295.66 8632.81 60230.48 16885811,35
X 129.566 863.28 6023.05 1688581,14

Pengukuran Dispersi :

a. Standar Deviasi (S)

1
𝑆 = √𝑛−1 ∑𝑛𝑖 = 1(𝑥 − 𝑥̅ )2

8632,81
𝑆=√ = 30,971
9

b. Koefisien Variasi (Cv)


𝑠
Cv = 𝑥
30,971
Cv = 129,566 = 0,239

c. Koefisien Kemiringan/Skewness (Cs)


𝑛
Cs = (𝑛−1)(𝑛−2)𝑆 3 ∑𝑛𝑖−1(𝑥𝑖 − 𝑥̅ )3
10
Cs = (10−1)×(10−2)(10−3)×(30,971)3 × (−60230,48) = 0,282

36
d. Koefisien Kurtosis (Ck)
𝑛2
Ck = (𝑛−1)(𝑛−2)(𝑛−3)𝑆 4 ∑𝑛𝑖−1(𝑥𝑖 − 𝑥̅ )4

102
Ck = (10−1)×(10−2)(10−3)×(30,971)4 × (16885811,35) = 3,641

4.3.2. Pemilihan Distribusi Curah Hujan

Dari parameter statistik, setelah itu dapat dilakukan pemilihan jenis analisis
frekuensi yang akan digunakan dengan membandingkan persyaratan dengan hasil
perhitungan. Dapat dilihat pada tabel 4.6.

Tabel 4.6. Syarat Pemilihan Distribusi


Jenis Hasil
No Distribusi Syarat Perhitungan Keterangan
Cs = 0 Cs = 0,282 Tidak
1. Normal Ck = 3 Ck = 3,641 Memenuhi
Gumbel Cs = 1.1396 Cs = 0,282 Tidak
2. Ck = 5.4002 Ck = 3,641
Tipe 1 Memenuhi
Cs = Cv3+ 3Cv = 0,282
Cs =
0.641
Tidak
3 Log Normal 8
Ck = Cv + 3,641 Memenuhi
Ck=
6Cv6+15Cv4+16Cv2+3
=3.740
Log Pearson Cs≠0 0,282
4 Cs= Memenuhi
III
Hasil penentuan tipe sebaran menunjukkan tidak ada parameter statistik dari data
pengamatan yang memenuhi syarat untuk distribusi normal, log normal dan
distribusi gumbel. Maka akan digunakan distribusi Log Pearson Type III.

4.4. Pengujian Kesesuaian Distribusi

Metode yang digunakan untuk menguji keselarasan distribusi secara analitis yaitu
menggunakan metode Chi-Kuadrat dan Sminov Kolmogorov secara grafis.

4.4.1 Uji Kesesuaian Distribusi dengan Metode Chi-Kuadrat

Langkah pengujian dengan menggunakan metode Chi-Kuadrat yaitu:

a. Mengurutkan data hujan maksimum tahunan dari yang terkecil hingga


yang terbesar.

37
Tabel 4.7. Urutan Data Hujan Maksimum Tahunan

No Tahun R max
1 2020 82.33
2 2017 94.67

3 2018 115.67
4 2019 118

5 2016 118

6 2015 129.33

7 2013 138.33

8 2014 149.67

9 2022 166.33

10 2021 183.33

Jumlah 1295,66
X 129,566
Jumlah Data 10

b. Menentukan Jumlah Kelas (G)


G = 1 + 3,322 log (n)
G = 1 + 3,322 log 10

G = 4,322

G =4

c. Mencari Nilai Ik

R (selisih) = Rmax Terbesar – Rmax terkecil

R = 183,33– 82,33

R = 101
𝑅
Ik = 𝑛

101
= = 10,1
10

38
d. Mencari Nilai Sebaran Analitis (Ei)
𝑛
Ei =𝐺

10
= = 2,5
4

Ei × Ik = 2,5 × 10,1

= 25,25

e. Mencari Nilai Derajat Kebebasan

DK = G – (R+1) (R = 2 untuk distribusi Log Person Type III)


= 4 – (2+1)
=1

f. Derajat Kepercayaan = 5%
g. X2 tabel = 3,841 (Dari tabel 4.8)

Tabel 4.8. Nilai Kritis untuk Distribusi Chi-Kuadrat

39
h. Perhitungan untuk Batas Nilai Tiap Kelas :

P1 = Rmax terkecil + (Ei × Ik)

= 82,33 + 25,25

= 107,58

P2 = P1 + (Ei × Ik)

= 107,58 + 25,25

= 132,83

P3 = P2 + (Ei × Ik)

= 132,83 + 25,25

= 158,08

P4 = P3 + (Ei × Ik)

= 158,08 + 25,25

= 183,33

i. Hitung X2 hitung dengan Rumus 2.15, perhitungan dapat dilihat pada Tabel
4.9.

Tabel 4.9. Perhitungan Uji Chi-Kuadrat


Batas Nilai Tiap Kelas Ei Oi Oi-Ei (Oi-Ei)2 (Oi-Ei)2 /Ei
x < 107,58 2.5 2 -0.5 0.25 0.1
107,58 < X≤ 132,83 2.5 2 -0.5 0.25 0.1
132,83 < X≤ 158,08 2.5 5 2.5 6.25 2.5
158,08 < X≤ 183,33 2.5 1 -1.5 2.25 0.9
Jumlah 10 0 9 3.6

j. Korelasi Hasil Uji Kecocokan

Syarat :

X2 hitung < X2 tabel

3,6 < 3,841 ( OKE )


Dari perhitungan diatas diperoleh nilai Chi-Square (X2) hitung = 3,6. Batas kritis
nilai Chi-Square untuk Dk = 1 dengan derajat kepercayaan 5% dari tabel Chi-

40
Square didapatkan nilai (X2) kritis = 3,841. Sehingga nilai (X2) hitung lebih
kecil dari (X2) kritis yaitu 3,6 < 3,841 maka distribusi Log Pearson III dapat
diterima.
4.4.2. Uji Kesesuaian Distribusi dengan Metode Smirnov Kolmogorov
Langkah pengujian dengan menggunakan metode Smirnov Kolmogorov
yaitu sebagai berikut :
a. Urutkan data dari besar ke kecil untuk menghitung nilai standar deviasi (s)
dankoefisien skewness (cs), dan rata-rata (Xrt).
Nilai standar deviasi dan koefisien skewness diambil dari perhitungan
pada pengukuran dispersi.
Tabel 4.10. Urutan Curah Hujan Maksimum Tahunan

No Tahun R max

1 2021 183.33
2 2022 166.33
3 2014 149.67
4 2013 138.33
5 2015 129.33
6 2016 118
7 2019 118
8 2018 115.67
9 2017 94.67
10 2020 82.33
Jumlah 1295.66
X 129.566
Jumlah Data 10

b. Mencari nilai log dari curah hujan maksimum pertahun, rata-rata, standar
deviasi, dan koefisien skewness.
Contoh perhitungan :

41
Log Xi (2021) = Log (138,33)
= 2,141
Log Xi (2022) = Log (166,33)
= 2,175
Standar Deviasi (S)
1
S = √𝑛−1 ∑𝑛𝑖=1(𝑥𝑖 − 𝑥̅ )2

0,102
S =√ = 0,106
9

Koefisien Kemiringan/Skewness (Cs)


𝑛
Cs = (𝑛−1)(𝑛−2)𝑆3 ∑𝑛𝑖−1(𝑥𝑖 − 𝑥̅ )3
10
Cs = (10−1)×(10−2)×(0,106)3 × (−0,00020) = −0,231

Tabel 4.11. Perhitungan Nilai S dan Cs

(Rmax) Xi
No Log Xi (Xi- (Xi-X)2 (Xi-X)3
Max-Min X)
1 138.33 2.141 0.040 0.002 0.0001
2 149.67 2.175 0.074 0.005 0.0004
3 129.33 2.112 0.011 0.000 0.0000
4 118.00 2.072 -0.029 0.001 0.0000
5 94.67 1.976 -0.125 0.016 -0.0019
6 115.67 2.063 -0.038 0.001 -0.0001
7 118.00 2.072 -0.029 0.001 0.0000
8 82.33 1.916 -0.186 0.034 -0.0064
9 183.33 2.263 0.162 0.026 0.0043
10 166.33 2.221 0.120 0.014 0.0017
Jumlah 1295,66 21.011 0.000 0.101 -0.0020
Xrt 129,566 2.101 0.000 0.010 -0.00020
S 30,971 - - - -
Cs 0,282 - - 0.106 -0,231

42
c. Mencari nilai peluang empiris (Pe), F(t), peluang teoritis (Pt), dan ∆P
maksimum per tahun
Contoh perhitungan :
Peluang Empiris (Pe)
Rmax (2021) = urutan Rmax / (n + 1)
= 1 / (10 + 1)
= 0,091
Rmax (2022) = urutan Rmax / (n + 1)
= 2 / (!0 + 1)
= 0,182
Menghitung Nilai F(t)
(𝐿𝑜𝑔 𝑋𝑖−𝑋𝑟𝑡)
F(t)1 = 𝑆
(2,141−2,101)
= 0,106

= 0,38
(𝐿𝑜𝑔 𝑋𝑖−𝑋𝑟𝑡)
F(t)2 = 𝑆
(2,175−2,101)
= 0,106

= 0,70
Peluang Teoritis (Pt)
Mencari nilai Cs (-0,231) kala ulang 1.01, 5, 10, 25, 50, 100, 1000
menggunakan interpolasi. Nilai Cs (-1) dan Cs (-1, 2) dapat dilihat pada tabel
4.12.
Tabel 4.12. Hasil Perhitungan Nilai Cs

Nilai Cs
Kala Ulang
-1 -1.2 -0,231
1.01 -3.022 -2.149 -2.289
2 0.164 0.195 0.190
5 0.852 0.844 0.845
10 1.128 1.086 1.093
25 1.366 1.282 1.295
50 1.492 1.379 1.397
100 1.588 1.449 1.471
500 1.664 1.501 1.527
1000 1.8 1.625 1.653

43
Nilai Peluang Teoritis (Pt) dihitung dengan interpolasi nilai F(t) terhadap Nilai
Cs (-0,231) pada kala ulang.
Contoh perhitungan :
Pt (1) = -2,011, didapatkan dari nilai Ft (1) = 0,38 diantara nilai Cs pada kala
ulang 25 tahun dan 50 tahun.
Pt (2) = 0,043, didapatkan dari nilai Ft (2) = 0,70 diantara nilai Cs pada kala
ulang 2 tahun dan 5 tahun.
Menghitung ∆𝑷 maksimum
ΔP(1) = | 𝑃𝑒 − 𝑃𝑡 |
= | 0,091 − 9 − 2,011) |
= 210,210
ΔP(2) = | 𝑃𝑒 − 𝑃𝑡 |
= | 0,182 − 0,043 |
= 13,851

44
Tabel 4.13. Hasil Perhitungan Uji Smirnov Kolmogorov

Pe
(Rmax) ∆P= lPe -
Xi (Peluang Ptl
No Log Xi F(t) Pt(Xi)
Empiris)
Max-Min (%)
1 138.33 2.141 0.091 0.38 -2.011 210.210
2 149.67 2.175 0.182 0.70 0.043 13.851
3 129.33 2.112 0.273 0.10 0.016 25.683
4 118.00 2.072 0.364 -0.28 -0.001 36.495
5 94.67 1.976 0.455 -1.18 -0.043 49.721
6 115.67 2.063 0.545 -0.36 -0.005 55.051
7 118.00 2.072 0.636 -0.28 0.018 61.822
8 82.33 1.916 0.727 -1.75 0.012 71.503
9 183.33 2.263 0.818 1.53 0.025 79.283
10 166.33 2.221 0.909 1.13 0.024 88.533
Jumlah 1295.66 21.011 5.000 ∆max (%) 210.210
Xrt 129.566 2.101
S 30.97 0.106
Cs 0.282 -0.231

d. Korelasi Hasil Uji Kecocokan


Nilai Δmaks table harus lebih kecil dari Δkritis. Distribusi terbaik adalah yang
memeberikan nilai Δmaks table paling kecil. Dari hasil ploting data diperoleh :
n = 10
α = 5%
Δkritis = 41 (didapat dari tabel 4.11)
Δmaks table = 210,210
Syarat :
Δmaks tabel < Δkritis
210,210 < 41

45
Tabel 4.14. Harga D Kritis untuk Smirnov Kolmogorov Test

Tabel 4.15. Nilai Cs untuk Nilai Positif

46
Tabel 4.16. Nilai Cs untuk Nilai Negatif

4.5. Distribusi Curah Hujan Metode Log Pearson Type III


Metode perhitungan Log Pearson Type III untuk menganalisis hujan rencana.
Pada metode ini diperhitungkan nilai rata-rata curah hujan maksimum (X) dan
Standar Deviasi (S) dan nilai Kt (koefisien log pearson type III).
a. Standar Deviasi (S)
1
S = √𝑛−1 ∑𝑛1=1(𝑥𝑖 − 𝑥̅ )2

8632,81
S =√ = 30,971
9

b. Koefisien Skewness (Cs)


𝑛
Cs = (𝑛−1)(𝑛−2)𝑆3 ∑𝑛1(𝑥𝑖 − 𝑥̅ )3
10
Cs = × (-60230,48) = 0,282
(10−1)(10−2)×(30,971)3

47
c. Mencari Nilai Kt
Mencari nilai Cs (2,282) kala ulang 5, 10, 25, 50, 100, 1000
menggunakan interpolasi. Nilai Cs (-0,6 ) san Cs (-0,7 ) dapat dilihat pada
Tabel 4.16.

Tabel 4.17. Harga Perhitungan Nilai Cs Metode Log Pearson Type III
Nilai Cs
Kala Ulang
-0.6 0.282 -0.7
2 0.099 -0.492 0.166

5 0.857 0.857 0.857


10 1.2 1.350 1.183
25 1.528 1.881 1.488
50 1.72 2.223 1.663
100 1.88 2.533 1.806
500 2.016 2.810 1.926
1000 2.275 3.378 2.150

d. Menghitung Curah Hujan Rencana (Rn)


Contoh perhitungan untuk Periode Ulang 2 tahun:Xt = X + Kt × Sx
Xt = 129,566 + (-0,492) × 30,971
Xt = 114,330 mm
Contoh perhitungan untuk Periode Ulang 5 tahun:
Xt = X + Kt × Sx
Xt = 129,566+ 0,857× 30,971
Xt = 156,108 mm
Contoh perhitungan untuk Periode Ulang 10 tahun:
Xt = X + Kt × Sx
Xt = 129,566+ 1,350× 30,971
Xt = 171,375 mm

48
Tabel 4.18. Hasil Perhitungan Curah Hujan Rencana dengan Metode
Log Pearson Type III
T P S X Kt Hujan Rencana
(Xt)(mm)
2 50% 30.971 129.566 -0.492 114.330

5 20% 30.971 129.566 0.857 156.108

10 10% 30.971 129.566 1.350 171.375

25 4% 30.971 129.566 1.881 187.816

50 5% 30.971 129.566 2.223 198.406

100 1% 30.971 129.566 2.533 208.006

1000 0.10% 30.971 129.566 3.378 234.171

4.6. Perhitungan Curah Hujan Maksimum yang mungkin Terjadi (PMP)

Metode Hersfield merupakan metode yang digunakan untuk memperkirakan nilai


hujan maksimum. Metode ini digunakan untuk DAS yang luasnya <1000 km2.

a. Urutkan data curah hujan dari kecil ke besar


Tabel 4.19. Rata-rata Hujan Maksimum

No Tahun R max
1 2020 82.33
2 2017 94.67
3 2018 115.67
4 2019 118
5 2016 118
6 2015 129.33
7 2013 138.33
8 2014 149.67
9 2022 166.33
10 2021 183.33
Jumlah 1295,7
Rata-rata 129,57
Jumlah Data 10

49
b. Perhitungan nilai X (rata-rata) dan X2
Luas DAS = 14,70 km2
n1 = 10
jumlah (Xi) = 1295,7
Rata-rata (X) = 887,52/10 = 129,57
n2 = n-1
=9
Jumlah (X2) = jumlah nilai curah hujan maksimum – data terbesar
= 1295,7 – 183,33
= 1112,33
c. Rata-rata hujan harian maksimum tahunan (Xn)
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ ℎ𝑢𝑗𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑘𝑠 ℎ𝑎𝑟𝑖𝑎𝑛
Xn = 𝑛1
1295,7
= 10

= 129,57
d. Rata-rata hujan maksimum tanpa nilai maksimum (Xn-m)
𝑋2
Xn – m = 𝑛2
1112,33
= 9

= 123,592
e. Standar Deviasi (Sn)
Sn = 30,971
f. Standar deviasi tanpa nilai maksimum (Sn – m)
𝑋𝑛− 𝑚
Sn – m = 𝑠𝑛 − ( )
𝑋𝑛
123,592
= 30,971 - 129,57

= 30,017
g. Faktor penyesuaian rata-rata terhadap pengamatan (Xn2)
𝑋𝑛− 𝑚
Xn2 = 𝑋𝑛
123,592
= 129,57

= 0,954
h. Faktor penyesuaian standar deviasi (Sn2)

50
𝑆𝑛−𝑚
Sn2 = 𝑆𝑛
30,017
= 30,971

= 0,969
i. Nilai standar terkoreksi (Xnc)
Dengan Panjang pencatatan 10 tahun, maka faktor penyesuaiannya adalah
105% pada Gambar 4.3.
Dari hasil perhitungan Xn, maka didapat faktor penyesuaian rata-rata terhadap
pengamatan adalah 104% pada Gambar 4.1.
𝑋𝑛−𝑚 × 𝑋𝑛2 × 𝑋𝑓
Xnc = 𝑋𝑛
123,592 ×104% × 105%
= 0,954

= 134,314
j. Nilai standar deviasi terkoreksi (Snc)
Dengan Panjang pencatatan 10 tahun, maka faktor penyesuaiannya adalah
105% pada Gambar 4.3.
Dari hasil perhitungan Sn, maka didapat faktor penyesuaian rata-rata terhadap
pengamatan adalah 112% pada Gambar 4.2.
𝑆𝑛−𝑚 ×𝑆𝑛2
Snc = 𝑆𝑛
30,017 × 112% × 105%
= 30,971

= 35,30
k. Nilai PMP
Dari garis untuk durasi 24 jam didapatkan nilai Km = 16,2 pada Gambar 4.4.
Xm = (Xnc + (Km × Snc)) × 1,13
= (132,314 + (16,2 × 35,30)) × 1,13
= 797,979

51
Gambar 4.1. Grafik Faktor Penyesuaian Rata-rata Terhadap Pengamatan Maksimum
(Sumber : Kementrian PUPR)

Gambar 4.2. Grafik Faktor Penyesuaian Simpangan Baku Terhadap Pengamatan


Maksimum
(Sumber : Kementrian PUPR)

52
Gambar 4.3. Grafik Faktor Penyesuaian Rata-rata dan Simpangan Baku Terhadap
Panjang Pengamatan Data
(Sumber : Kementrian PUPR)

Gambar 4.4. Grafik Harga Km


(Sumber : Kementrian PUPR)

53
4.7. Perhitungan Hidrogaf Banjir Rencana Metode HSS Nakayasu

4.7.1. Perhitungan Rerata Hujan dari Awal sampai Jam ke-T

Perhitungan Distribusi Hujan Jam-jaman dan Rasio Hujan Harian pada Kala Ulang 2
Tahun

Tabel 4.20. Hasil Perhitungan Log Pearson Type III

T P S X Kt Hujan Rencana (Xt)(mm)


2 50% 30.971 129.566 -0.492 114.330
5 20% 30.971 129.566 0.857 156.108
10 10% 30.971 129.566 1.350 171.375
25 4% 30.971 129.566 1.881 187.816
50 5% 30.971 129.566 2.223 198.406
100 1% 30.971 129.566 2.533 208.006
1000 0.10% 30.971 129.566 3.378 234.171

a. Jam ke-1
𝑅24 𝑡 2/3
Intensitas (I) atau Rt =( ) × (𝑇)
𝑡

1 5 2/3
= 5 × (1)

= 0,585 R24

RT = T × 𝑅𝑡 − (𝑇 − 1) × 𝑅(𝑇 − 1)
=1 × 0,585 – (1-1) × (1-1)
= 0,585

Rn = C × R24
= 0,75 × 114.33
= 85,746 mm

Re = Rt × Rn
= 0,585 × 85,746
= 50,161 mm

54
b. Jam ke-2
𝑅24 𝑡 2/3
Intensitas (I) atau Rt =( ) × (𝑇)
𝑡

1 5 2/3
= ×( )
5 2

= 0,368 R24

RT = T × 𝑅𝑡 − (𝑇 − 1) × 𝑅(𝑇 − 1)
=1 × 0,368 – (2-1) × (0,585)
= 0,152

Rn = C × R24
= 0,75 × 114.33

= 85,746 mm

Re = Rt × Rn
= 0,368 × 85,746
= 31,589 mm

c. Jam ke-3
𝑅24 𝑡 2/3
Intensitas (I) atau Rt =( ) × (𝑇)
𝑡

1 5 2/3
= 5 × (3)

= 0,281 R24

RT = T × 𝑅𝑡 − (𝑇 − 1) × 𝑅(𝑇 − 1)
=1 × 0,281 – (3-1) × 0,368

= 0,107

Rn = C × R24
= 0,75 × 114.33

55
= 85,746 mm
Re = Rt × Rn
= 0,281 × 85,746
= 24,107 mm
d. Jam ke-4
𝑅24 𝑡 2/3
Intensitas (I) atau Rt =( ) × (𝑇)
𝑡

1 5 2/3
= 5 × (4)

= 0,232 R24

RT = T × 𝑅𝑡 − (𝑇 − 1) × 𝑅(𝑇 − 1)

=1 × 0,281 – (4-1) × 0,281


= 0,085

Rn = C × R24

= 0,75 × 114.33
= 85,746 mm

Re = Rt × Rn
= 0,232 × 85,746
= 19,900 mm
e. Jam ke-5
𝑅24 𝑡 2/3
Intensitas (I) atau Rt =( ) × (𝑇)
𝑡

1 5 2/3
= 5 × (5)

= 0,200 R24

RT = T × 𝑅𝑡 − (𝑇 − 1) × 𝑅(𝑇 − 1)
=1 × 0,200 – (5-1) × 0,232

56
= 0,072

Rn = C × R24
= 0,75 × 114.33
= 85,746 mm

Re = Rt × Rn
= 0,200 × 85,746
= 17,149 mm

Tabel 4.21. Nilai Rasio Hujan Harian Maksimum

Waktu Hujan (Jam) 1 2 3 4 5


Rasio/RT 0,585 0,152 0,107 0,085 0,072

4.7.2. Hasil Perhitungan Curah Hujan Efektif (Rn)


Nilai C diambil 0.75 (Tabel 4.22) karena DAS terletak di daerah pegunungan.
Tabel 4.22. Tabel Koefisien Pengaliran

Daerah pegunungan yang curam 0.75 - 0.90


Daerah pegunungan tersier 0.70 - 0.80
Daerah bergelombang dan hutan 0.50 - 0.75
Daerah dataran yang ditanami 0.45 - 0.60
Persawahan yang diairi 0.70 - 0.80
Sungai didaerah pegunungan 0.75 - 0.85
Sungai kecil di daerah dataran 0.45 - 0.75
Sungai yang besar dengan wilayah pengaliran 0.50 - 0.75
yang lebih dari seperduanya terdiri dari dataran

Contoh perhitungan hujan efektif (Rn) untuk periode ulang 2 tahun


Rn =C×R
= 0.75 × 114,33
= 85,75
Perhitungan selanjutnya dapat dilihat dalam Tabel 4.23.

57
Tabel 4.23. Curah Hujan Rencana Efektif (Rn)

Periode Ulang Koefisien Curah Hujan Curah Hujan


(Tahun) Pengaliran ( C ) Rencana ( R ) Rencana Efektif (Rn)
2 0.75 114.33 85.75
5 0.75 156.11 117.08
10 0.75 171.38 128.53
25 0.75 187.82 140.87
50 0.75 198.41 148.81
100 0.75 208.02 156.01
1000 0.75 234.19 175.64
PMF 0.75 486.56 340.59

Contoh perhitungan distribusi hujan efektif jam-jaman untuk periode ulang 2 tahun
RT = 0,585 × Rn

= 0,585 × 85,75

= 50,145 mm

Perhitungan selanjutnya dapat dilihat dalam Tabel 4.24.

Tabel 4.24. Distribusi Hujan Efektif Jam-jaman


Periode Rasio Sebaran Hujan (RT)
Rn
Ulang 0.585 0.152 0.107 0.085 0.072
2 85.75 50.14 13.03 9.14 7.28 6.15
5 117.08 68.47 17.80 12.48 9.94 8.39
10 128.53 75.17 19.54 13.70 10.91 9.21
25 140.87 82.38 21.41 15.02 11.96 10.10
50 148.81 87.03 22.62 15.87 12.63 10.67
100 156.01 91.24 23.71 16.63 13.24 11.18
1000 175.64 102.71 26.70 18.73 14.91 12.59
PMF 340.59 199.18 51.77 36.32 28.91 24.41
4.7.3. Hasil Perhitungan Hidrogaf Banjir Rencana Metode HSS Nakayasu
Luas DAS (A) = 14,7 km2
Panjang Sungai (L) = 27 km
C (Koefisien Pengaliran) = 0,75
R0 = 1 mm (hujan satuan)

58
Waktu Kelambatan (Tg) untuk L < 15 km

Tg = 0,21 × L0.75
= 0,21 × (27)0.75
= 2,477 jam

Waktu Durasi Hujan (Tr)


Tr = 0,5 Tg s/d 1,0 Tg
= 1,0 × 2,477
= 2,477 jam

Waktu Puncak (Tp)


Tp = Tg + 0,8×Tr
= 2,48 + 0,8 × 2,48
= 4,48 jam

Koefisien ὰ
ὰ = 1,5 – 3,0
nilai ὰ =2

Waktu Saat 0.3 Kali Debit Puncak (T0.3)


T0.3 = ὰ × Tg
= 2 × 2,48
= 4,974 jam

Satuan Kedalaman Hujan (Ro)


Ro = 1 mm

Debit Puncak Hidrograf

1 𝑅𝑜
Qmaks = 3,6 × 𝐴 × (0,3 × 𝑇𝑝 +𝑇 0,3)

1 1
= 3,6 × 14,7 × (0,3 × 4,477 + 4,974)

= 0,646 m3/detik

Tp + T0.3 = 4,477 + 4,974


= 9,451

59
Tp + T0.3 + 1,5× T0.3 = 4,477 + 4,974+ 1,5 × 4,974
= 19.912
Tp + T0.3 + 1,5× T0.3 + 2 T0.3 = 4,477 + 4,974+ 1,5 × 4,974+ 2 × 4,974
= 26,860

Persamaan Hidrograf Satuan Untuk Kurva Naik


0 < t < Tp  0 ≤ t ≤ 4,477
Persamaan Hidrograf Satuan Untuk Kurva Turun

Nilai : Tp ≤ t ≤ (Tp + T 0,3)  4,477≤ t ≤ 9,451

Nilai : ( Tp + T 0,3) ≤ t ≤ ( Tp + T 0,3 + 1,5 T0x 0,3) 9,451≤ t ≤ 16,912

Nilai : 1,5 T 0,3 > ( Tp + T 0,3 + 1,5 T 0,3 ) 16,912≤ t ≤ 26,860

Grafik Hidrograf Banjir Rencana Metode Nakayasu


0.900

0.800 0.787
0.700

0.600
0.569
0.500 0.493
0.447
0.400
0.351
0.300
0.275
0.247
0.200 0.209
0.177
0.151
0.129
0.109
0.100 0.093 0.093
0.079
0.065
0.058
0.051
0.045
0.040
0.018 0.035
0.031
0.028
0.025
0.022
0.000
21
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

22
23
24
25
1
2
3
4
4.86
5
6
7
8
9

Gambar 4.5. Grafik Ordinat Hidrograf Satuan

60
Tabel 4.25. Ordinat Hidrograf Satuan

Unit Hidrograf (q)


Time Rumus
m3/dt/mm
0 0.000
1 0.018
2 0.093
3 Qp*(t/Tp)^2.4 0.247
4 0.493
4.86 0.787
5 0569
6 0.447
7 Qp*0.3^((t-Tp)/T0.3)) 0.351
8 0.275
9 0.209
10 0,177
11 0.151
12 Qp*0.3^((t-Tp+0.5*T0.3)/(1.5*T0.3)) 0,129
13 0.109
14 0.093
15 0.079
16 0.065
17 0,058
18 0.051
19 0.045
20 0.040
21 Qp*0.3^((t-Tp+1.5*T0.3)/(2*T0.3)) 0.035
22 0.031
23 0.028
24 0.025
25 0.022

Dari tabel ordinat hidrograf satuan, debit puncak terjadi pada puncak terjadi pada
waktu 4,86 jam, dengan unit hidograf sebesar 0,787 m3/detik/mm.

61
Perhitungan Debit Banjir Rencana Untuk Hujan Jam Jaman dengan Metode
Hidrograf Satuan Sintetik Nakayasu Dihitung dengan Prinsip Super Posisi. Contoh
perhitungan untuk hujan jam-jaman periode 2 tahun:
Q1 = Rn1 × HS1

Q2 = Rn1 × HS2 +Rn2 × HS1

Q3 = Rn1 × HS3 +Rn2× HS1 + Rn1 × HS1

Qn = Rn1 × HSn + Rn2× HS(n-1) + Rn1× HS(n-1) + ….. + Rn × HS1

Q1 = Rn1 × HS1
= 50.14 × 0.086

= 4.312

Q2 = Rn1 × HS2 +Rn2 × HS1

= 50.14 × 0.453 + 13.03× 0,086

= 22.713 + 1.121

= 23.836
Untuk selanjutnya perhitungan dapat di lihat pada Tabel 4.26. sampai Tabel 4.30.

62
Tabel 4.26. Hidrograf Satuan Banjir Rencana Kala Ulang 2 Tahun
Unit Debit
t Hidrograf Curah Hujan Jam Jaman(mm/jam) Banjir
(jam) 1 2 3 4 5 (m3/det)
(m3/dt/mm)
50.14 13.03 9.14 7.28 6.15
0 0 0 0
1 0.086 4.312 0.000 4.312
2 0.453 22.716 1.121 0.000 23.836
3 1.198 60.073 5.904 0.786 0.000 66.764
4 2.39 119.846 15.614 4.142 0.626 0.000 140.228
5 4.082 204.691 31.150 10.953 3.297 0.529 250.620
6 1.979 99.236 53.203 21.851 8.720 2.784 185.795
7 1.545 77.474 25.794 37.321 17.396 7.363 165.347
8 1.206 60.474 20.137 18.094 29.711 14.690 143.106
9 0.941 47.186 15.719 14.126 14.404 25.090 116.525
10 0.783 39.263 12.265 11.026 11.245 12.164 85.963
11 0.664 33.296 10.205 8.603 8.778 9.496 70.379
12 0.563 28.231 8.654 7.159 6.849 7.413 58.306
13 0.477 23.919 7.338 6.071 5.699 5.784 48.811
14 0.404 20.258 6.217 5.147 4.833 4.813 41.269
15 0.343 17.200 5.266 4.361 4.098 4.081 35.005
16 0.291 14.592 4.471 3.694 3.472 3.460 29.689
17 0.251 12.586 3.793 3.136 2.941 2.932 25.388
18 0.222 11.132 3.271 2.661 2.497 2.483 22.044
19 0.196 9.828 2.893 2.295 2.118 2.108 19.243
20 0.173 8.675 2.555 2.030 1.827 1.789 16.875
21 0.153 7.672 2.255 1.792 1.616 1.543 14.878
22 0.135 6.770 1.994 1.582 1.427 1.365 13.137
23 0.119 5.967 1.760 1.399 1.259 1.205 11.590
24 0.106 5.315 1.551 1.234 1.114 1.063 10.278
25 0.093 4.663 1.382 1.088 0.983 0.940 9.056
26 0.082 4.112 1.212 0.969 0.866 0.830 7.989
Jumlah 1616.432

Dari tabel diatas, debit puncak terjadi pada jam ke 5, dengan debit banjir sebesar
250.620 m3/detik.

63
Tabel 4.27. Hidrograf Satuan Banjir Rencana Kala Ulang 5 Tahun

Unit Debit
Hidrograf Curah Hujan Jam Jaman(mm/jam) Banjir
t (jam)
1 2 3 4 5 (m3/det)
(m3/dt/mm)
68.47 17.80 12.48 9.94 6.15
0 0 0 0
1 0.086 5.888 0.000 5.888
2 0.453 31.017 1.531 0.000 32.547
3 1.198 82.026 8.062 1.074 0.000 91.162
4 2.39 163.642 21.320 5.655 0.855 0.000 191.472
5 4.082 279.492 42.534 14.956 4.502 0.529 342.013
6 1.979 135.501 72.646 29.837 11.906 2.784 252.674
7 1.545 105.785 35.220 50.959 23.753 7.363 223.081
8 1.206 82.574 27.496 24.706 40.569 14.690 190.034
9 0.941 64.430 21.463 19.288 19.668 25.090 149.938
10 0.783 53.612 16.747 15.056 15.355 12.164 112.933
11 0.664 45.464 13.935 11.747 11.986 9.496 92.628
12 0.563 38.548 11.817 9.775 9.352 7.413 76.905
13 0.477 32.660 10.020 8.289 7.782 5.784 64.534
14 0.404 27.662 8.489 7.028 6.599 4.813 54.591
15 0.343 23.485 7.190 5.955 5.595 4.081 46.306
16 0.291 19.925 6.104 5.044 4.741 3.460 39.273
17 0.251 17.186 5.179 4.282 4.015 2.932 33.594
18 0.222 15.200 4.467 3.633 3.409 2.483 29.192
19 0.196 13.420 3.951 3.133 2.892 2.108 25.505
20 0.173 11.845 3.488 2.771 2.495 1.789 22.388
21 0.153 10.476 3.079 2.447 2.206 1.543 19.751
22 0.135 9.243 2.723 2.160 1.948 1.365 17.438
23 0.119 8.148 2.403 1.910 1.719 1.205 15.385
24 0.106 7.258 2.118 1.685 1.521 1.063 13.645
25 0.093 6.368 1.886 1.486 1.342 0.940 12.022
26 0.082 5.614 1.655 1.323 1.183 0.830 10.605
Jumlah 2165.505

Dari tabel diatas, debit puncak terjadi pada jam ke 5, dengan debit banjir sebesar
342.013m3/detik.

64
Tabel 4.28. Hidrograf Satuan Banjir Rencana Kala Ulang 10 Tahun
Unit Debit
t Hidrograf Curah Hujan Jam Jaman(mm/jam) Banjir
(jam) 1 2 3 4 5 (m3/det)
(m3/dt/mm)
75.17 19.54 13.70 10.91 9.21
0 0 0.000 0
1 0.086 6.464 0.000 6.464
2 0.453 34.050 1.680 0.000 35.731
3 1.198 90.049 8.850 1.179 0.000 100.078
4 2.39 179.648 23.406 6.208 0.938 0.000 210.200
5 4.082 306.829 46.694 16.419 4.942 0.792 375.677
6 1.979 148.754 79.751 32.755 13.071 4.174 278.505
7 1.545 116.132 38.664 55.944 26.076 11.038 247.854
8 1.206 90.651 30.185 27.122 44.537 22.020 214.515
9 0.941 70.732 23.562 21.174 21.592 37.610 174.669
10 0.783 58.855 18.385 16.528 16.857 18.234 128.858
11 0.664 49.910 15.298 12.896 13.158 14.235 105.497
12 0.563 42.319 12.973 10.731 10.267 11.111 87.401
13 0.477 35.854 11.000 9.100 8.543 8.670 73.167
14 0.404 30.367 9.319 7.716 7.245 7.214 61.861
15 0.343 25.782 7.893 6.537 6.143 6.118 52.473
16 0.291 21.873 6.701 5.537 5.204 5.187 44.503
17 0.251 18.867 5.685 4.701 4.408 4.395 38.056
18 0.222 16.687 4.904 3.988 3.742 3.722 33.043
19 0.196 14.733 4.337 3.440 3.175 3.160 28.845
20 0.173 13.004 3.829 3.043 2.739 2.681 25.295
21 0.153 11.500 3.380 2.686 2.422 2.313 22.301
22 0.135 10.147 2.989 2.371 2.138 2.045 19.691
23 0.119 8.945 2.638 2.097 1.888 1.806 17.373
24 0.106 7.968 2.325 1.850 1.669 1.594 15.406
25 0.093 6.990 2.071 1.631 1.473 1.410 13.575
26 0.082 6.164 1.817 1.453 1.298 1.244 11.976
Jumlah 2423.014

Dari tabel diatas, debit puncak terjadi pada jam ke 5, dengan debit banjir sebesar
375.677 m3/detik.

65
Tabel 4.29. Hidrograf Satuan Banjir Rencana Kala Ulang 25 Tahun
Unit Debit
Hidrograf Curah Hujan Jam Jaman(mm/jam) Banjir
t (jam)
1 2 3 4 5 (m3/det)
(m3/dt/mm)
82.38 21.41 15.02 11.96 10.10
0 0 0.000 0
1 0.086 7.085 0.000 7.085
2 0.453 37.318 1.841 0.000 39.159
3 1.198 98.691 9.700 1.292 0.000 109.682
4 2.39 196.887 25.652 6.804 1.028 0.000 230.371
5 4.082 336.273 51.175 17.994 5.417 0.868 411.727
6 1.979 163.029 87.404 35.898 14.325 4.574 305.231
7 1.545 127.276 42.375 61.312 28.578 12.097 271.638
8 1.206 99.350 33.082 29.725 48.810 24.133 235.100
9 0.941 77.519 25.823 23.206 23.664 41.219 191.431
10 0.783 64.503 20.149 18.114 18.474 19.983 141.224
11 0.664 54.700 16.766 14.134 14.421 15.601 115.621
12 0.563 46.380 14.218 11.761 11.252 12.178 95.788
13 0.477 39.295 12.055 9.973 9.363 9.502 80.188
14 0.404 33.281 10.214 8.456 7.940 7.906 67.797
15 0.343 28.256 8.651 7.165 6.732 6.705 57.508
16 0.291 23.972 7.344 6.068 5.704 5.685 48.774
17 0.251 20.677 6.231 5.152 4.831 4.817 41.707
18 0.222 18.288 5.374 4.371 4.101 4.079 36.214
19 0.196 16.146 4.753 3.770 3.480 3.463 31.613
20 0.173 14.252 4.197 3.334 3.001 2.938 27.723
21 0.153 12.604 3.704 2.944 2.655 2.535 24.441
22 0.135 11.121 3.276 2.598 2.344 2.242 21.581
23 0.119 9.803 2.891 2.298 2.069 1.979 19.040
24 0.106 8.732 2.548 2.028 1.829 1.747 16.884
25 0.093 7.661 2.270 1.787 1.614 1.545 14.878
26 0.082 6.755 1.991 1.592 1.423 1.363 13.125
Jumlah 2655.530

Dari tabel diatas, debit puncak terjadi pada jam ke 5, dengan debit banjir sebesar
411.727 m3/detik.

66
Tabel 4.30. Hidrograf Satuan Banjir Rencana Kala Ulang 50 Tahun
Unit Debit
Hidrograf Curah Hujan Jam Jaman(mm/jam) Banjir
t (jam)
1 2 3 4 5 (m3/det)
(m3/dt/mm)
87.03 22.62 15.87 12.63 10.67
0 0 0.000 0
1 0.086 7.484 0.000 7.484
2 0.453 39.422 1.945 0.000 41.368
3 1.198 104.256 10.247 1.365 0.000 115.867
4 2.39 207.990 27.098 7.188 1.086 0.000 243.363
5 4.082 355.237 54.061 19.009 5.722 0.917 434.946
6 1.979 172.223 92.333 37.923 15.133 4.832 322.444
7 1.545 134.454 44.764 64.770 30.190 12.779 286.957
8 1.206 104.952 34.947 31.401 51.563 25.494 248.358
9 0.941 81.891 27.279 24.515 24.998 43.543 202.226
10 0.783 68.141 21.285 19.136 19.516 21.110 149.188
11 0.664 57.785 17.711 14.931 15.234 16.481 122.142
12 0.563 48.995 15.019 12.424 11.887 12.865 101.190
13 0.477 41.511 12.735 10.536 9.891 10.038 84.710
14 0.404 35.158 10.790 8.933 8.388 8.352 71.621
15 0.343 29.850 9.138 7.569 7.112 7.083 60.751
16 0.291 25.324 7.759 6.410 6.025 6.006 51.524
17 0.251 21.843 6.582 5.442 5.103 5.088 44.060
18 0.222 19.320 5.678 4.617 4.333 4.310 38.257
19 0.196 17.057 5.022 3.983 3.676 3.659 33.396
20 0.173 15.055 4.433 3.523 3.171 3.104 29.286
21 0.153 13.315 3.913 3.110 2.804 2.677 25.820
22 0.135 11.748 3.461 2.745 2.476 2.368 22.798
23 0.119 10.356 3.054 2.428 2.185 2.091 20.113
24 0.106 9.225 2.692 2.142 1.933 1.845 17.837
25 0.093 8.093 2.398 1.888 1.705 1.632 15.717
26 0.082 7.136 2.104 1.682 1.503 1.440 13.865
Jumlah 2805.286

Dari tabel diatas, debit puncak terjadi pada jam ke 5, dengan debit banjir sebesar
434.946 m3/detik.

67
Tabel 4.31. Hidrograf Satuan Banjir Rencana Kala Ulang 100 Tahun
Unit Debit
Hidrograf Curah Hujan Jam Jaman(mm/jam) Banjir
t (jam)
1 2 3 4 5 (m3/det)
(m3/dt/mm)
91.24 23.71 16.63 13.24 11.18
0 0 0.000 0
1 0.086 7.846 0.000 7.846
2 0.453 41.330 2.039 0.000 43.369
3 1.198 109.301 10.743 1.431 0.000 121.474
4 2.39 218.054 28.410 7.536 1.139 0.000 255.139
5 4.082 372.426 56.677 19.929 5.999 0.962 455.993
6 1.979 180.556 96.801 39.758 15.865 5.066 338.047
7 1.545 140.960 46.930 67.904 31.651 13.398 300.843
8 1.206 110.031 36.638 32.921 54.058 26.728 260.376
9 0.941 85.853 28.599 25.701 26.208 45.650 212.012
10 0.783 71.438 22.315 20.062 20.461 22.132 156.407
11 0.664 60.581 18.568 15.653 15.971 17.278 128.052
12 0.563 51.366 15.746 13.025 12.462 13.487 106.086
13 0.477 43.520 13.351 11.046 10.369 10.523 88.809
14 0.404 36.859 11.312 9.365 8.793 8.756 75.086
15 0.343 31.294 9.581 7.935 7.456 7.426 63.691
16 0.291 26.550 8.134 6.721 6.317 6.296 54.017
17 0.251 22.900 6.901 5.706 5.350 5.334 46.192
18 0.222 20.254 5.952 4.841 4.542 4.518 40.108
19 0.196 17.882 5.265 4.175 3.854 3.836 35.012
20 0.173 15.784 4.648 3.693 3.324 3.254 30.703
21 0.153 13.959 4.103 3.260 2.940 2.807 27.069
22 0.135 12.317 3.628 2.878 2.596 2.483 23.901
23 0.119 10.857 3.201 2.545 2.291 2.192 21.087
24 0.106 9.671 2.822 2.246 2.026 1.935 18.700
25 0.093 8.485 2.514 1.980 1.788 1.711 16.477
26 0.082 7.481 2.205 1.763 1.576 1.510 14.536
Jumlah 2941.030

Dari tabel diatas, debit puncak terjadi pada jam ke 5, dengan debit banjir sebesar
455.993 m3/detik.

68
Tabel 4.32. Hidrograf Satuan Banjir Rencana Kala Ulang 1000 Tahun
Unit Debit
t Hidrograf Curah Hujan Jam Jaman(mm/jam) Banjir
(jam) 1 2 3 4 5 (m3/det)
(m3/dt/mm)
102.71 26.70 18.73 14.91 12.59
0 0 0.000 0
1 0.086 8.833 0.000 8.833
2 0.453 46.530 2.296 0.000 48.826
3 1.198 123.052 12.094 1.611 0.000 136.757
4 2.39 245.488 31.984 8.484 1.282 0.000 287.238
5 4.082 419.281 63.807 22.436 6.754 1.083 513.361
6 1.979 203.272 108.980 44.759 17.861 5.703 380.576
7 1.545 158.694 52.835 76.447 35.633 15.083 338.692
8 1.206 123.874 41.248 37.062 60.859 30.091 293.134
9 0.941 96.654 32.197 28.934 29.505 51.393 238.685
10 0.783 80.426 25.123 22.586 23.035 24.916 176.085
11 0.664 68.203 20.904 17.623 17.980 19.452 144.162
12 0.563 57.828 17.727 14.664 14.030 15.184 119.433
13 0.477 48.995 15.031 12.435 11.674 11.847 99.982
14 0.404 41.497 12.735 10.544 9.900 9.858 84.533
15 0.343 35.231 10.786 8.933 8.394 8.360 71.704
16 0.291 29.890 9.157 7.566 7.112 7.088 60.813
17 0.251 25.781 7.769 6.424 6.023 6.006 52.003
18 0.222 22.803 6.701 5.450 5.114 5.086 45.154
19 0.196 20.132 5.927 4.701 4.339 4.318 39.417
20 0.173 17.770 5.233 4.158 3.742 3.664 34.566
21 0.153 15.715 4.619 3.671 3.310 3.160 30.475
22 0.135 13.866 4.085 3.240 2.922 2.795 26.908
23 0.119 12.223 3.604 2.865 2.579 2.468 23.740
24 0.106 10.888 3.177 2.528 2.281 2.178 21.052
25 0.093 9.552 2.830 2.229 2.013 1.926 18.550
26 0.082 8.423 2.483 1.985 1.774 1.700 16.365
Jumlah 3311.042

Dari tabel diatas, debit puncak terjadi pada jam ke 5, dengan debit banjir sebesar
513.361 m3/detik.

69
Tabel 4.33. Hidrograf Satuan Banjir Rencana PMF

Unit Debit
t Hidrograf Curah Hujan Jam Jaman(mm/jam) Banjir
(jam) 1 2 3 4 5 (m3/det)
(m3/dt/mm)
199.18 51.77 36.32 28.91 24.41
0 0 0.000 0
1 0.086 17.130 0.000 17.130
2 0.453 90.229 4.452 0.000 94.681
3 1.198 238.619 23.452 3.123 0.000 265.195
4 2.39 476.043 62.022 16.451 2.486 0.000 557.002
5 4.082 813.057 123.734 43.507 13.097 2.100 995.494
6 1.979 394.179 211.331 86.796 34.636 11.060 738.002
7 1.545 307.735 102.455 148.243 69.098 29.249 656.781
8 1.206 240.212 79.987 71.870 118.016 58.351 568.437
9 0.941 187.429 62.436 56.109 57.216 99.660 462.851
10 0.783 155.959 48.717 43.798 44.668 48.316 341.458
11 0.664 132.256 40.537 34.174 34.867 37.721 279.555
12 0.563 112.139 34.376 28.436 27.206 29.444 231.600
13 0.477 95.009 29.147 24.114 22.638 22.974 193.882
14 0.404 80.469 24.695 20.446 19.197 19.117 163.924
15 0.343 68.319 20.916 17.323 16.277 16.211 139.046
16 0.291 57.962 17.758 14.672 13.791 13.745 117.927
17 0.251 49.994 15.065 12.457 11.680 11.646 100.842
18 0.222 44.218 12.995 10.568 9.917 9.863 87.561
19 0.196 39.039 11.493 9.115 8.413 8.374 76.436
20 0.173 34.458 10.147 8.062 7.257 7.105 67.029
21 0.153 30.475 8.956 7.118 6.418 6.128 59.096
22 0.135 26.889 7.921 6.283 5.667 5.420 52.180
23 0.119 23.703 6.989 5.556 5.002 4.785 46.035
24 0.106 21.113 6.161 4.903 4.423 4.224 40.824
25 0.093 18.524 5.488 4.322 3.903 3.735 35.972
26 0.082 16.333 4.815 3.850 3.440 3.296 31.734
Jumlah 6420.672

Dari tabel diatas, debit puncak terjadi pada jam ke 5, dengan debit banjir sebesar
995,494 m3/detik.

70
Tabel 4.34. Rekapitulasi Hidrograf Satuan Banjir
Debit (Q) Periode Ulang (m3/detik)
t
(jam) 2 5 10 25 50 100 1000 PMF

0 0 0 0.000 0.000 0 0 0 0.000


1 4.312 5.888 6.464 7.085 7.484 7.846 8.833 17.130
2 23.836 32.547 35.731 39.159 41.368 43.369 48.826 94.681
3 66.764 91.162 100.078 109.682 115.867 121.474 136.757 265.195
4 140.228 191.472 210.200 230.371 243.363 255.139 287.238 557.002
5 250.620 342.013 375.677 411.727 434.946 455.993 513.361 995.494
6 185.795 252.674 278.505 305.231 322.444 338.047 380.576 738.002
7 165.347 223.081 247.854 271.638 286.957 300.843 388.692 656.781
8 143.106 190.034 214.515 235.100 248.358 260.376 293.134 568.437
9 116.525 149.938 174.669 191.431 202.226 212.012 238.685 462.851
10 85.963 112.933 128.858 141.224 149.188 156.407 176.085 341.458
11 70.379 92.628 105.497 115.621 122.142 128.052 144.162 279.555
12 58.306 76.905 87.401 95.788 101.109 106.086 119.433 231.600
13 48.811 64.534 73.167 80.188 84.710 88.809 99.982 193.882
14 41.269 54.591 61.861 67.797 71.621 75.086 84.533 163.924
15 35.005 46.306 52.473 57.508 60.751 63.691 71.704 139.046
16 29.689 39.273 44.503 48.774 51.524 54.017 60.813 117.927
17 25.388 33.594 38.056 41.707 44.060 46.192 52.003 100.842
18 22.044 29.192 33.043 36.214 38.257 40.108 45.154 87.561
19 19.243 25.505 28.845 31.613 33.396 35.012 39.417 76.436
20 16.875 22.388 25.295 27.723 29.286 30.703 34.566 67.029
21 14.878 19.751 22.301 24.441 25.820 27.069 30.475 59.096
22 13.137 17.438 19.691 21.581 22.789 23.901 26.908 52.180
23 11.590 15.385 17.373 19.040 20.113 21.087 23.740 46.035
24 10.278 13.645 15.406 16.884 17.837 18.700 21.052 40.824
25 9.056 12.022 13.575 14.878 15.717 16.477 18.550 35.972
26 7.989 10.605 11.976 13.125 13.865 14.536 16.365 31.734

Dari tabel diatas, debit puncak terjadi pada jam ke 5, dengan debit banjir pada kala
ulang 2 tahun sebesar 250,620 m3/detik, pada kala ulang 5 tahun sebesar 342,013
m3/detik, pada kala ulang 10 tahun sebesar 375,677 m 3/detik, pada kala ulang 25
tahun sebesar 411,727 m3/detik, pada kala ulang 50 tahun sebesar 434,946 m3/detik,
pada kala ulang 100 tahun sebesar 455,993 m3/detik, pada kala ulang 1000 tahun
sebesar 513,361 m3/detik, dan pada kala ulang PMF sebesar 995,494 m3/detik.

71
Rekapitulasi Hidrograf Satuan Banjir Rencana Metode
Nakayasu dengan PMF
1200

1000
Qt (m3/det)

800

600

400

200

0
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 1 20 21 22 23 24 25 26
t (jam)

Series1 Series2 Series3 Series4


Series5 Series6 Series7 Series8

Gambar 4.6. Grafik Rekapitulasi Hidrograf Satuan Banjir Rencana Metode Nakayasu
dengan PMF

Grafik diatas merupakan rekapitulasi hidrograf satuan banjir rencana metode


nakayasu dengan PMF, dengan debit puncak terjadi pada jam ke 5, dengan debit
banjir pada kala ulang 2 tahun sebesar 250,620 m 3/detik, pada kala ulang 5 tahun
sebesar 342,013 m3/detik, pada kala ulang 10 tahun sebesar 375,677 m3/detik, pada
kala ulang 25 tahun sebesar 411,727 m3/detik, pada kala ulang 50 tahun sebesar
434,946 m3/detik, pada kala ulang 100 tahun sebesar 455,993 m 3/detik, pada kala
ulang 1000 tahun sebesar 513,361 m3/detik, dan pada kala ulang PMF sebesar
995,494 m3/detik.

72
Rekapitulasi Hidograf Satuan Banjir Rencana Metode
Nakayasu tanpa PMF
600

500
Qt (m3/det)

400

300

200

100

0
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26
t (jam)

Series1 Series2 Series3 Series4


Series5 Series6 Series7

Gambar 4.7. Grafik Rekapitulasi Hidrograf Satuan Banjir Rencana Metode


Nakayasu tanpa PMF

Grafik diatas merupakan rekapitulasi hidrograf satuan banjir rencana metode


nakayasu tanpa PMF, dengan debit puncak terjadi pada jam ke 5, dengan debit banjir
pada kala ulang 2 tahun sebesar 250,620m3/detik, pada kala ulang 5 tahun sebesar
342,013 m3/detik, pada kala ulang 10 tahun sebesar 375,677 m3/detik, pada kala ulang
25 tahun sebesar 411,727 m3/detik, pada kala ulang 50 tahun sebesar 434,946
m3/detik, pada kala ulang 100 tahun sebesar 455,993 m 3/detik, pada kala ulang 1000
tahun sebesar 513,361 m3/detik.

73
4.8. Simulasi Kali Silandak dengan HEC-RAS
a. Pemodelan alur sungai pada HEC-RAS berdasarkan data pengukuran topografi di
lapangan dimana data alur sungai dari hulu ke hilir didigitasi pada HEC-RAS
kemudian memasukan data penampang melintang pada jendela cross section
seperti yang ditunjukan pada Gambar 4.8

Gambar 4.8. Hasil Pemodelan Skema Aliran dan Geometri Penampang


Hasil Pengukuran Topografi
b. Memasukan nilai koefisien manning
Setelah pembuatan pemodelan penampang kemudian langkah selanjutnya adalah
memasukan nilai koefisien manning penampang. Pada penelitian ini nilai
manning pada kanal sungai yaitu sebesar 0.03 sedangkan pada bank sungai nilai
manning sebesar 0.03.
c. Pemasukan Data Debit Rancangan
Selanjutnya pemasukan data debit yang diperoleh dari analisis hidrologi debit

74
banjir rencana. Terdapat 7 profil debit yaitu Q 2, Q5, Q10, Q25, Q50, Q100, Q1000.
Akan tetapi yang akan penulis analisis hanya memakai Q100. Untuk memudahkan
pemasukan data, nama profil debit diubah sesuai debit kala ulang. Cara
pemasukan data debit pada HEC-RAS dapat dilihat pada Gambar 4.9

Gambar 4.9. Pemasukan Data Steady Flow

d. Komputasi Aliran Permanen


Sebelum melakukan komputasi aliran permanen, terlebih dahulu membuat plan
beserta kode identifikasi yang unik untuk plan yang dibuat dari menu Steady Flow
Analysis. Selanjutnya menentukan berkas geometri (Geometry File) dan berkas
data debit aliran (Steady Flow File) yang telah dibuat sebelumnya. Selanjutnya
menetapkan tipe aliran yaitu subkritis dan mengaktifkan opsi Floodplain
Mapping. Kemudian melakukan komputasi aliran permanen dengan mengklik
tombol Compute. Tahapan dari komputasi aliran permanen ini dapat dilihat pada
Gambar 4.10 dan Gambar 4.13.

75
Gambar 4.10. Persiapan Komponen Komputasi Aliran Permanen

Gambar 4.11. Laporan Dari Proses Komputasi

e. Hasil Simulasi Profil Muka Air


Hasil simulasi menunjukan bahwa genangan banjir terjadi pada setiap profil debit
rancangan. Dari pembacaan tabel dan grafik pada nilai kedalaman banjir yang
dapat dilihat pada HEC-RAS diperoleh nilai kedalaman ekstrem. Kedalaman
ekstrem terjadi pada sta 2000 pada bagian sebelah kanan jika dilihat dari hulu

76
sungai. Dimana air sungai meluap diakibatkan kondisi penampang yang tidak
cukup baik dalam menampung debit banjir yang cukup besar seperti yang
ditunjukan pada Gambar 4.12.

Gambar 4.12. Kedalaman Kritis Q100

Dapat dilihat pada profil memanjang sungai pada kala ulang 100 yang di tunjukan
pada Gambar 4.13 pada bagian hilir sungai rata-rata hampir seluruhnya terjadi
genangan banjir.

Gambar 4.13. Profil memanjang Kali Silandak pada Q100

77
Berikut merupakan gambar penampang hasil HEC-RAS yang melampaui tanggul
pada Kali Silandak :

Gambar 4.14. Penampang Pada STA 520

Gambar 4.15. Penampang Pada STA 530

78
Gambar 4.16. Penampang Pada STA 540

79
81

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
1. Hasil perhitungan debit banjir dengan metode Hidrograf Satuan Sintetik (HSS)
Nakayasu pada periode ulang berturut-turut yaitu Q2 = 250,620 m³/detik. Q5 =
345,013 m³/detik, Q10 = 375,677 m³/detik, Q25 = 411,727 m³/detik, Q50 = 434,946
m³/detik, Q100 = 455,993 m³/detik, Q1000 = 513,361 m³/detik.
2. Dari hasil analisis hidrolika aliran pada ruas penampang Kali Silandak di Program
HEC-RAS diperoleh suatu hasil bahwa ditemukan luapan banjir pada beberapa
tempat melebihi ketinggian tebing sungai yang ada di sepanjang kiri dan kanan
sungai.
3. Dalam analisis pada ruas penampang Kali Silandak pada program HEC-RAS
terdapat beberapa limpasan melalui tanggul, seperti pada STA 520, STA 530, dan
STA 540.
5.2. Saran
1. Studi hidrologi yang digunakan harus lebih detail mengenai jumlah stasiun hujan,
panjang waktu pengamatan, dan data hujan yang terbaru sehingga menghasilkan
hasil studi yang lebih baik.
2. Perlunya ketelitian dalam menganalisa setiap data baik data sekunder maupun
data yang diperoleh secara langsung supaya perencanaan manajemen
pelaksanaannya terarah dengan baik.
3. Perlu dipertimbangkan (untuk pengelola maupun penanggung jawab pengendalian
banjir) untuk menjaga alur sungai supaya tidak ada penumpukan sedimen dengan
cara mengeruk sebagai upaya pemeliharaan sungai secara periodik.
4. Perlu diperhatikan untuk elevasi pada cross section, bagian yang bukan merupakan
saluran utama dan memiliki elevasi lebih rendah atau sama dengan saluran, maka
lebih baik tidak perlu dimasukkan ke dalam data koordinat. Karena jika di-running
maka tampilan muka air tertinggi akan mengisi bagian tersebut. Perlu diperhatikan
juga untuk setiap koordinat sesuai dengan data cross section asli, karena jika
terdapat kesalahan sedikit saja, program akan tidak memberi respon ketika di-
running.

82

Anda mungkin juga menyukai