0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan6 halaman

Program K3: Identifikasi dan Pelatihan

Dokumen ini membahas berbagai program dan praktik Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) yang meliputi identifikasi bahaya, penilaian risiko, pelatihan, komunikasi, dan audit K3. Setiap program memiliki tujuan untuk meningkatkan keselamatan pekerja dan memastikan kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku. Selain itu, dokumen ini juga menekankan pentingnya partisipasi pekerja dalam memberikan ide dan konsultasi terkait K3 di tempat kerja.

Diunggah oleh

MTU Safety
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan6 halaman

Program K3: Identifikasi dan Pelatihan

Dokumen ini membahas berbagai program dan praktik Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) yang meliputi identifikasi bahaya, penilaian risiko, pelatihan, komunikasi, dan audit K3. Setiap program memiliki tujuan untuk meningkatkan keselamatan pekerja dan memastikan kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku. Selain itu, dokumen ini juga menekankan pentingnya partisipasi pekerja dalam memberikan ide dan konsultasi terkait K3 di tempat kerja.

Diunggah oleh

MTU Safety
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1.

Identifikasi bahaya dan penilaian risiko

Program identifikasi bahaya dan penilaian risiko merupakan contoh program K3 yang paling dasar dan
sangat mempengaruhi program-program yang lain. Program ini mengharuskan pekerja untuk dapat
menyebutkan semua aktifitas yang ada di tempat kerja baik rutin, non rutin, ataupun dalam keadaan
darurat untuk kemudian diidentifikasi bahaya serta risikonya. Setelah identifikasi dilakukan, kita
kemudian dapat merencanakan pengendalian terhadap risiko yang disebutkan.

Bentuk dari identifikasi bahaya dan penilaian risiko ini dapat bermacam-macam. Kita mungkin paling
sering menemukan job safety analysis dan Hazard Identification, Risk Assessment and Determination
Control (HIRADC). Adapun beberapa metode identifikasi bahaya lain dikembangkan untuk
mengidentifikasi bahaya dan risiko yang spesifik seperti Hazop yang mengidentifikasi risiko keselamatan
proses, REBA untuk risiko ergonomik dan Kuesioner Survei Diagnosis Stres dalam Permenaker 5 Tahun
2018 untuk mengidentifikasi faktor risiko psikologi di tempat kerja.

2. Identifikasi peraturan dan perundangan

Peraturan dan perundangan keselamatan dan kesehatan kerja dapat berasal dari pemerintah dan
kementerian, korporat perusahaan pusat dan sumber peraturan perundangan K3 yang lain. Identifikasi
peraturan perundangan ini berguna untuk memastikan kepatuhan terhadap peraturan serta sebagai
bekal untuk negosiasi kepada manajemen dan pekerja juga sebagai bagian untuk memastikan
kepatuhan terhadap peraturan.

3. Penetapan tujuan dan program

Penetapan tujuan dan program K3 biasanya dilakukan di awal tahun. Program ini haruslah disepakati
oleh pihak manajemen dan juga pihak pekerja. Program ini memberikan kita panduan untuk bekerja dan
menjadi ukuran bagi kita tentang kesuksesan sebuah program K3.

4. Pelatihan K3

Pelatihan K3 berfungsi untuk meningkatkan kompetensi pekerja dan juga bagi beberapa pelatihan
menjadi sarana kepatuhan terhadap peraturan dan perundangan K3. Pelatihan K3 dapat dilakukan dari
pihak internal seperti Ahli K3 Umum, tim HRD, dan tim P2K3 atau juga bisa dilakukan dari pihak
eksternal seperti lembaga sertifikasi, PJK3, dan juga dinas atau kementerian terkait. Sebelum dilakukan
pelatihan, hendaknya pihak HRD membuat identifikasi kebutuhan pelatihan dan juga rencana untuk
pemenuhan pelatihan tersebut.

Contoh pelatihan K3 misalnya adalah safety induction untuk pekerja baru, pengenalan bahaya kimia,
pengenalan alat pelindung diri. Adapun contoh pelatihan K3 untuk memenuhi peraturan perundangan
K3 misalnya adalah pelatihan Ahli K3 Umum, pelatihan operator K3 forklift, pelatihan petugas utama K3
ruang terbatas.

5. Media Komunikasi K3 Cetak

Media komunikasi K3 cetak meliputi poster K3, spanduk K3, buku sosialisasi K3, dan lain-lain. Program
K3 ini biasanya yang paling terlihat ketika kita memasuki tempat kerja yang menerapkan sistem
manajemen K3. Dalam penyusunan media komunikasi K3 cetak ini, kita diharapkan memilih material
komunikasi yang paling efektif dan tidak menyinggung para pekerja.
Kelebihan dari media komunikasi K3 cetak adalah mudah dalam pembuatan dan pemasangannya.
Kekurangan dalam program ini adalah perlu diganti secara berkala karena pekerja yang sudah melihat
bisa saja merasa bosan dan kemudian tidak dilihat lagi oleh pekerja.

6. Media komunikasi K3 elektronik

Seiring dengan perkembangan zaman, muncul pula tekhnologi-tekhnologi yang memberikan kita
kesempatan dalam komunikasi K3. Contoh media elektronik yang dapat kita manfaatkan adalah email
perusahaan dan juga whatsapp di mana kita bisa membuat grup yang khusus membahas tentang
keselamatan dan kesehatan kerja.

7. Rambu K3

Rambu K3 merupakan salah satu media komunikasi K3 yang sederhana namun efektif dalam
penyampaian pesan. Rambu K3 ini bisa saja berupa rambu K3 larangan, perintah ataupun peringatan.
Rambu ini harus dipasang di tempat yang tepat dan mudah terlihat sehingga akan menjadi lebih efektif.

8. Pelaporan K3

Ada beberapa pelaporan yang wajib dilaporkan kepada dinas terkait. Pelaporan tersebut
seperti pelaporan kegiatan P2K3 per 3 bulan sekali kepada dinas tenaga kerja dan pelaporan kecelakaan
kerja kepada BPJS Ketenagakerjaan ataupun kepada Dinas Ketenagakerjaan. Setelah melaporkan, kita
harus menyimpan bukti pelaporan kita agar memastikan mampu telusur.

9. Konsultasi K3

Program ini memberikan kesempatan bagi seluruh pekerja untuk mendiskusikan permasalahan K3 di
area kerjanya. Apabila bisa, kita harus memberikan tindakan lanjutan (follow up) terhadap konsultasi
yang dilakukan. Jikalau tidak mungkin untuk diberikan tindakan lanjutan, maka kita harus menjelaskan
alasan-alasannya.

10. Ide berkelanjutan

Program ide berkelanjutan memungkinkan pekerja untuk memberikan solusi terhadap permasalahan-
permasalahan K3 yang ia temukan. Semua ide berkelanjutan ini dapat dikompilasi dalam sebuah
dokumen dan terus dipantau.

11. Kiken Yoochi Training (KYT)

Kiken Yoochi Training merupakan sebuah pelatihan yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi
bahaya. Sebuah gambar bisa ditujukan kepada pekerja dan pekerja bisa diskusi satu sama lain untuk
menyepakati bahaya dan bagaimana cara pengendaliannya. KYT ini biasanya dilakukan oleh perusahaan
Jepang, namun tentunya tidak menjadi masalah apabila perusahaan lain ingin menerapkannya. KYT ini
bisa menjadi target dari setiap department agar masing-masing department mau untuk melaksanakaan
KYT.

12. Management visit

Program K3 yang ada, janganlah hanya berfokus kepada pekerja di lapangan tapi juga harus mengarah
ke setiap pihak termasuk kepada manajemen. Salah satu program yang bisa kita lakukan
adalah management visit yang merupakan program rutin bagi manajemen untuk meninjau penerapan
keselamatan dan kesehatan kerja di lapangan serta berdialog kepada para pekerja.

Management visit ini dapat diintegrasikan dengan key performance indicator baik bagi individu ataupun
bagi departemen. Dalam management visit ini, manajemen akan datang langsung ke lapangan,
mengamati aktivitas yang dilakukan oleh pekerja, memberikan solusi terhadap permasalahan yang ada
dan melakukan pemeriksaan terhadap program-program K3 yang telah dijalankan.

13. Safety talk

Safety talk merupakan briefing terkait keselamatan dan kesehatan kerja yang disampaikan di hadapan
para pekerja. Dalam safety talk, biasanya pekerja dikumpulkan dalam sebuah area yang lapang untuk
mendengarkan orasi, semangat, pengarahan, penjelasan terkait dengan keselamatan dan kesehatan
kerja. Biasanya pula, safety talk hanya diberikan selama 5 menit sehingga sering disebut P5M
(pembicaraan 5 menit).

14. Bulan K3

Bulan K3 dilaksanakan di setiap bulan Januari-Februari pada setiap tahunnya. Bulan K3 dirayakan sebab
pada bulan Januari lah disepakati Undang-undang nomor 1 Tahun 1970. Berbagai macam perayaan
terkait dengan Keselamatan dan kesehatan kerja dapat dilaksanakan pada bulan ini. Berikut adalah
inspirasi pelaksanaan program Bulan K3.

15. Prosedur K3

Prosedur keselamatan dan kesehatan kerja digunakan untuk memberikan panduan tertulis kepada para
pekerja untuk dapat bekerja dengan selamat dan sehat. Berbagai macam prosedur dapat dibuat seperti
prosedur dalam pembuatan sebuah produk, prosedur pemeriksaan alat, dan prosedur tanggap darurat.
Prosedur K3 ini haruslah ditandatangani oleh pihak-pihak yang terkait seperti manajer HSE, manajer
departemen yang terdampak serta Plant Director.

16. Program K3 Pemeriksaan alat dan mesin

Pemeriksaan alat dan mesin merupakan program K3 yang wajib untuk dilakukan karena telah banyak
diatur dalam regulasi K3. Contohnya pemeriksaan tangki timbun dan bejana yang diatur dalam
Permenaker nomor 37 Tahun 2016 dan Pesawat Tenaga Produksi yang diatur dalam Permenaker nomor
38 Tahun 2016. Pemeriksaan alat dan mesin ini dapat dilakukan secara internal oleh ahli yang
berkompetensi dan dilakukan secara eksternal yang dilakukan oleh Perusahaan Jasa Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (PJK3).

Setelah dilakukan pemeriksaan, kita bisa menempelkan stiker terkait dengan status keselamatan sebuah
alat dan mesin. Stiker tersebut haruslah memliki jangka waktu efektif sehingga jika masa efektif sudah
habis, kita bisa melakukan pemeriksaan kembali.

17. Lock out Tag out (LOTO)

Lock out tag out merupakan mekanisme untuk mencegah energi berbahaya seperti energi mekanik,
tekanan, steam, listrik, dan lain-lain agar tidak memapar pekerja yang sedang melakukan perbaikan.
LOTO biasanya berbentuk gembok dan disertai dengan label atau tagging. LOTO ini dipasang di sumber
energi seperti breaker, valve dan switch. Pemasangan LOTO ini harus benar dengan mengeliminasi
secara sempurna energi yang ada. Tulisan lebih lengkap tentang LOTO bisa dibaca di sini.

18. Process safety management

Secara umum Process Safety Management (PSM)/ Manajemen Keselamatan Proses (MKP) mengacu
kepada prinsip dan sistem manajemen kepada identifikasi, pengertian dan pengontrolan pada bahaya
akibat kegiatan proses produksi sebagai upaya perlindungan pada area kerja.

PSM/MKP berfokus kepada:


– Pencegahan
– Persiapan
– Mitigasi
– Respons
– Pemulihan
dari bencana industri

Proses yang dimaksud dalam PSM tersebut adalah untuk perusahaan yang menyimpan, memproduksi
dan menggunakan bahan kimia berbahaya ataupun kombinasi dari aktifitas tersebut.

19. Contractor safety management system

Kontraktor adalah perusahaan/orang yang diminta oleh pemilik bisnis untuk jasa/produk tertentu yang
dibutuhkan oleh pemilik bisnis. Dalam banyak kasus, pekerjaan yang dilakukan kontraktor memiliki
bahaya-bahaya keselamatan kerja baik untuk kontraktor itu sendiri ataupun untuk tempat kerjanya. Hal
ini disebabkan karena kontraktor belum mengerti tentang bahaya-bahaya dan standar keselamatan
yang ada di tempat kerja pemilik bisnis, beberapa kontraktor juga bukanlah tenaga kerja
terlatih/terdidik.
Ilustrasi Pekerjaan Kontraktor

Untuk menghindari kecelakaan kerja yang disebabkan oleh kontraktor, setiap pemilik bisnis harus
mengembangkan Sistem Manajemen Keselamatan Kerja Kontraktor (Contractor Safety Management
System) di tempat kerjanya. Sistem Manajemen Keselamatan Kerja Kontraktor ini merupakan
persyaratan wajib bagi semua perusahaan yang ingin mendapatkan sertifikasi OHSAS 18001 karena
sistem ini telah diatur pada klausul 4.4.6 Operational Control.

CSMS ini akan berbeda pada setiap jenis industri dan berbeda pula pada setiap tempat kerja. Namun,
apabila kita generalisir, CSMS akan mencakup 3 bagian yaitu pelaksanaan sebelum pekerjaan, saat
pekerjaan dan setelah pekerjaan.

20. Ergonomi

Faktor ergonomi adalah faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas tenaga kerja, disebabkan oleh
ketidaksesuaian antara fasilitas kerja yang meliputi cara kerja, posisi kerja, alat kerja, dan beban angkat
terhadap Tenaga Kerja. Tempat kerja yang tidak memperhatikan faktor ergonomic dapat menimbulkan
penyakit akibat kerja ataupun kecelakaan kerja.

Faktor ergonomi dapat dimulai dengan analisa risiko ergonomi menggunakan RULA, REBA, ROSA
ataupun alat penilaian yang lain. Kemudian berdasarkan analisa, kita dapat melakukan tindakan
perbaikan dalam hal ergonomi.
21. Investigasi kecelakaan

Investigasi kecelakaan berfungsi untuk mencari penyebab dari kecelakaan dan mampu untuk mencegah
kecelakaan yang sama di masa depan kelak. Investigasi kecelakaan dapat menggunakan beberapa
metode seperti 5 why, fishbone, fault tree analysis, FRAM, dan lain-lain.

22. Program K3 Pengukuran lingkungan kerja

Pengukuran lingkungan kerja dapat dilakukan dengan berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja
Nomor 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja. Faktor-faktor
lingkungan kerja yang diukur meliputi Faktor Kimia, Faktor Biologi, Faktor Fisika, Faktor Ergonomi, dan
Faktor Psikologi.

Pengukuran dapat dilakukan dalam jangka waktu tertentu dengan penguji bisa dari Perusahaan Jasa
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PJK3) ataupun dari tenaga kerja yang berkompeten. Hasil dari
pengukuran dapat digunakan untuk meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja lingkungan kerja.

23. Medical Check UP

Medical Check Up merupakan pemeriksaan kesehatan rutin yang dilakukan oleh perusahaan kepada
para pekerjanya. Pemeriksaan kesehatan harus disesuaikan dengan risiko yang terdapat pada tempat
kerja, misalnya ketika terdapat kebisingan di tempat kerja maka harus disediakan audiometri, ketika ada
banyak paparan kepada pernafasan, maka seharusnya dilakukan pemeriksaan spirometri.

24. Tanggap Darurat

Program tanggap darurat meliputi seluruh program yang berfungsi untuk memperkuat organisasi ketika
ada hal yang bersifat darurat seperti kebakaran, gempa bumi, keracunan, dan lain-lain. Program ini
meliputi persiapan sumber daya manusia yang berkompeten terhadap tanggap darurat, peralatan
tanggap darurat yang memadai, pelatihan yang rutin dan lain-lain.

25. Audit K3

Audit Keselamatan dan kesehatan kerja bisa membantu kita untuk memeriksa implementasi program K3
yang telah kita jalankan. Melalui audit, kita dapat memperoleh masukan pandangan yang baru dari
auditor. Temuan-temuan audit yang ditentukan merupakan kesempatan bagi kita untuk meningkatkan
manajemen K3. Audit yang dilaksanakan bisa berdasarkan Sistem Manajemen K3 PP 50 Tahun 2012,
OHSAS 18001 dan peraturan lain yang terkait dengan keselamatan dan kesehatan kerja.

Anda mungkin juga menyukai