1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Negara Kesatuan Republik Indonesia terdiri dari beribu-ribu pulau, suku
dan juga agama. Namun keberagaman ini tidak membuat Indonesia terpecah-
belah, tetapi hal demikian justru membuat Indonesia bersatu ditengah
keberagaman yang ada. Setiap suku bangsa yang ada di Indonesia memiliki adat
istiadat yang khas dan berbeda satu sama lain seperti bahasa, adat istiadat, dan
hukum yang berlaku. Salah satu suku yang ada di Indonesia adalah suku Batak
yang memiliki adat istiadat dan aturan-aturan hukum (adat) yang mengatur dan
mengikat masyarakat hukum adat Batak tersebut yang menjadi jiwa atau roh
masyarakatnya.
Masyarakat hukum adat adalah kesatuan-kesatuan kemasyarakatan yang
mempunyai kelengkapan-kelengkapan untuk sanggup berdiri sendiri yaitu,
mempunyai kesatuan hukum, kesatuan penguasa dan kesatuan lingkungan
hidup berdasarkan hak bersama atas tanah dan air bagi semua anggotanya.
Bentuk hukum kekeluargannya (patrilineal, matrilineal atau bilateral)
mempengaruhi sistem pemerintahannya. Penghidupan mereka bercirikomunal,
dimana gotong royong, tolong menolong, serasa, dan selalu mempunyai
peranan besar.1
1
Soerjono Soekanto, Hukum Adat Indonesia, Raja Grafindo, Jakarta, 2007, hlm. 94
2
Sistem kekerabatan mengatur mengenai cara penarikan garis keturunan
yang menentukan siapa kerabat dan bukan kerabat. Sistem kekerabatan atau
prinsip garis keturunan merupakan faktor yang fundamental yang menjadi dasar
bagi pembentukan masyarakat-masyarakat suku bangsa di Indonesia, dan
menjadi salah satu hal yang dipergunakan sebagai sarana untuk memelihara
integritas suku bangsa yang bersangkutan. Sistem kekerabatan maupun prinsip
garis keturunan mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap bidang-
bidang hukum adat tertentu, terutama yang mengatur pribadi masyarakat seperti
hukum waris. Penarikan garis keturunan yang berbeda-beda berpengaruh
terhadap aturan-aturan hukum waris, khususnya terkait tentang siapa pewaris,
ahli waris dan sistem kewarisannya.2
Ketentuan hukum adat yang masih berlaku bagi masyarakat Batak
hingga sekarang ini adalah aturan-aturan mengenai hukum waris, yang sampai
sejauh ini belum ada unifikasi mengenai hukum waris tersebut secara nasional.
Sebagaimana diketahui, bahwa dalam bidang hukum waris di Indonesia terdapat
pluralism hukum dengan adanya 3 jenis hukum waris yang berlaku yaitu Hukum
Waris Islam, Hukum Waris Perdata Barat dan Hukum Waris Adat. Masing-
masing sistem hukum tersebut mempunyai corak dan sifat-sifat tersendiri.
2
Ibid., hlm. 56.
3
Hukum waris adat mempunyai corak dan sifat-sifat yang khas bangsa
Indonesia, sebagaimana yang dinyatakan oleh Hilman Hadikusuma: Hukum
waris adat itu mempunyai corak dan sifat-sifat yang khas Indonesia, yang
berbeda dari hukum islam maupun hukum barat. Sebab perbedaannya terletak
dari latar belakang alam pikiran bangsa Indonesia yang berfalsafah Pancasila
dengan masyarakat yang bhineka tunggal ika. Latar belakang itu pada dasarnya
adalah kehidupan bersama yang bersifat tolong-menolong guna mewujudkan
dan kedamaian di dalam hidup.3
Selain itu hukum waris adat merupakan suatu peraturan yang mengatur
masalah pewarisan adat. Sebagaimana dinyatakan oleh Soepomo; Hukum adat
waris memuat peraturan-peraturan yang mengatur proses meneruskan serta
mengoperkan barang-barang harta benda dan barang-barang yang tidak
terwujud benda (immateriele goederen) dari suatu angkatan manusia (generatie)
kepada turunannya.4
Hukum waris tidak saja terdapat dalam hukum Adat, tetapi juga terdapat
dalam hukum Islam dan hukum Barat. Hal ini bukan saja akibat adanya
pembagian dalam Pasal 163 dan Pasal 131 I.S., tetapi kenyataannya sekarang
masih terasa dan terdapat pembagian itu. Untuk membedakan hukum waris
dalam satu sistem hukum dengan hukum waris dalam sistem hukum lainnya,
maka dalam hal ini digunakan istilah hukum waris adat.
3
Hilman Hadikusumah (1), Hukum Waris Adat, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2015, hlm. 19.
4
Soepomo, Bab-bab Tentang Hukum Adat, Pradya Paramita, Bandung, 2000, hlm. 84.
4
Istilah waris belum ada kesatuan arti, baik yang ditemui dalam kamus
hukum maupun sumber lainnya. Istilah waris ada yang mengartikan dengan
“harta peninggalan, pusaka atau hutang piutang yang ditinggalkan oleh seorang
yang meninggal dunia seluruh atau sebagian menjadi hak para ahli waris atau
orang yang ditetapkan dalam surat wasiat”.5 Selain itu ada yang mengartikan
waris “yang berhak menerima harta pusaka dari orang yang telah meninggal”.6
Terlihat terdapat perbedaan, disatu pihak mengartikan istilah waris dengan harta
peninggalan dan dipihak lain mengartikan dengan orang yang berhak menerima
harta peninggalan tersebut. Adanya perbedaan pendapat ini menunjukkan
belum adanya keseragaman dalam bahasa hukum kita.
Untuk mendapatkan suatu pengertian yang jelas perlu adanya kesatuan
pendapat tentang suatu istilah tersebut. Untuk mencapai itu, usaha yang
dilakukan adalah menelusuri secara etimologi. Istilah waris berasal dari bahasa
Arab yang diambil alih menjadi bahasa Indonesia, yaitu berasal dari kata
“warisa” artinya mempusakai harta, “waris artinya ahli waris, waris”.7 Waris
menunjukkan orang yang menerima atau mempusakai harta dari orang yang
telah meninggal dunia.
Dalam hukum adat istilah waris lebih luas artinya dari arti asalnya, sebab
terjadinya waris tidak saja setelah adanya yang meninggal dunia tetapi selagi
masih hidupnya orang yang akan meninggalkan hartanya dapat
5
Andi Hamzah, Kamus Hukum, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1986, hlm. 630.
6
. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1989. hlm. 1008
7
Mahmud Yunus, Kamus Arab – Indonesia, Hidakarya Agung, Jakarta, 1990, hlm. 496.
5
mewariskan kepada warisnya. Hukum waris adat atau ada yang menyebutnya
dengan hukum adat waris adalah hukum adat yang pada pokoknya mengatur
tentang orang yang meninggalkan harta atau memberikan hartanya (Pewaris),
harta waris (Warisan), waris (Ahli waris dan bukan ahli waris) serta pengoperan
dan penerusan harta waris dari pewaris kepada warisnya.
Menurut Soepomo bahwa Hukum adat waris memuat peraturan-
peraturan yang mengatur proses meneruskan serta mengoperkan barang-barang
yang tidak terwujud benda (immateriele goederen) dari suatu angkatan manusia
8
(generatie) kepada turunannya. Sedangkan menurut Iman Sudiyat bawha
Hukum waris adat meliputi aturan-aturan dan keputusan-keputusan hukum yang
bertalian dengan proses penerus/pengoperan dan peralihan /perpindahan harta
kekayaan materiil dan immateriil dari generasi ke generasi.9 Menurut Hilman
Hadikusuma :…hukum waris adat adalah hukum adat yang memuat garis-garis
ketentuan tentang sistem dan azas-azas hukum waris tentang warisan, pewaris
dan waris serta cara bagaimana harta warisan itu dialihkan penguasaan dan
pemilikannya dari pewaris kepada waris.10
Dari beberapa pendapat di atas terdapat suatu kesamaan bahwa, hukum
waris adat yang mengatur penerusan dan pengoperan harta waris dari suatu
generasi keturunannya. Hal ini menunjukkan dalam hukum adat untuk
terjadinya pewarisan haruslah memenuhi 4 unsur pokok, yaitu: adanya Pewaris;
8
R. Soepomo, [Link], hlm. 84.
9
Iman Sudiyat, Hukum Adat Sketsa Asas, Liberty, Yogyakarta, 1981, hlm. 151.
10
Hilman Hadikusuma, [Link]., hlm. 17.
6
adanya Harta Waris; adanya ahli Waris; dan Penerusan dan Pengoperan harta
waris.
Pada suku Batak, menganut sistem kekerabatan patrilineal dimana
perempuan bukan merupakan ahli waris dari orangtuanya sampai saat ini. Anak
perempuan tidak berhak memiliki bagian dari harta kekayaan orangtuanya. Hal
tersebut dilatarbelakangi oleh sistem perkawinan jujur yang dianut oleh
masyarakat Batak Toba. Anak perempuan setelah melakukan perkawinan
dianggap telah berpindah dari kelompok marga orangtuanya ke kelompok
keluarga orangtua laki-laki, yang ditandai dengan pemberian uang jujur atau
sinamot. Anak perempuan juga tidak memiliki kewajiban untuk memenuhi
kebutuhan hidup saudaranya selama orangtuanya masih hidup ataupun setelah
meninggal dunia. Harta peninggalan orangtua diberikan kepada anak laki-laki,
khususnya anak laki-laki tertua yang menjadi penanggung jawab atau tulang
punggung untuk memenuhi kebutuhan hidup saudaranya.11
Di Sidoarjo yang merupakan kota di Provinsi Jawa Timur terdapat
Putusan dari Pengadilan Negeri Sidoarjo mengenai pemberian hak waris
diantara masyarakat suku adat batak yang memiliki akibat hukum yang tidak
jelas karena didalam amar Putusan yang pada intinya menyatakan menolak
gugatan dari penggugat maupun penggugat rekonpensi, sehingga masih tidak
ada kepastian hukum mengenai hak waris terhadap harta waris yang
disengketakan didalam putusan ini.
11
Djaren Saragih dkk., Hukum Perkawinan Adat Batak, Tarsito, Bandung, 1980, hlm.83
7
Kaum perempuan yang menuntut pelepasan diri dari nilai-nilai hukum
Adat yang bersifat diskriminatif antara, peran, hak, dan kewenangan kaum
lelaki dibanding dengan kaum perempuan. Mereka berpendapat bahwa hukum
adat itu tidak memberi peran hak dan derajat yang sama antara pria dengan
perempuan dalam kehidupan, sosial budaya, politik, ekonomi dan juga dalam
kehidupan rumah tangga serta harta perkawinan dan warisan. Seiring dengan
adanya perkembangan zaman yang dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi,
politik, ilmu pengetahuan, dan teknologi, terjadilah keinginan untuk
menyeimbangkan hak dan kedudukan laki-laki dan perempuan terutama dalam
hal pewarisan.12
Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk mengangkat judul
“Analisis Yuridis Pemberian Hak Waris Terhadap Anak Perempuan Di
Dalam Hukum Waris Adat Batak (Studi Putusan Nomor:
13/Pdt.G/2010/[Link])”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka dalam penelitian ini dapat dapat
dirumuskan permasalahan yang akan diteliti sehingga menjadi bahan penelitan
ini adalah sebagai berikut:
12
Agung Basuki Prasetyo, Sri Wahyu Ananingsih, Siti Osadanaros Delima L.*
"Perkembangan Hak Waris Perempuan pada Sistem Kekeluargaan Patrilineal Batak (Studi Kasus
Putusan No.583/pdt.g/2011/[Link])." Diponegoro Law Review, vol. 5, no. 2, 2016, pp. 1-17, hlm.
3
8
1. Apa yang menjadi dasar pertimbangan hakim dalam perkara pemberian hak
waris kepada anak perempuan dalam masyarakat adat batak dalam Putusan
Nomor: 13/Pdt.G/2010/[Link] ?
2. Bagaimana akibat hukum dari Putusan Nomor: 13/Pdt.G/2010/[Link]
pihak penggugat dan tergugat ?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui dasar pertimbangan hakim dalam perkara pemberian hak
waris kepada anak perempuan dalam masyarakat adat batak dalam Putusan
Nomor: 13/Pdt.G/2010/[Link]
2. Untuk mengetahui akibat hukum dari Putusan Nomor:
13/Pdt.G/2010/[Link] bagi pihak penggugat dan tergugat
1.4 Manfaat Penelitian
1. Kegunaan Teoritis: Diharapkan dengan dibuatnya proposal ini, maka dapat
menambah ilmu pengetahuan dibidang hukum waris adat khususnya yang
berkaitan dengan pelaksanaan pembagian waris dalam hukum adat.
2. Kegunaan Praktis: Dengan dibuatnya skripsi ini diharapkan dapat
memberikan sumbangan informasi pemikiran bagi pihak-pihak yang
berkepentingan, termasuk bagi masyarakat adat batak yang hendak
melakukan pembagian waris
9
1.5 Tinjauan Pustaka
1.5.1 Sistem Kekerabatan Menurut Hukum Adat
Sistem kekerabatan atau prinsip garis keturunan adalah faktor-
faktor yang menjadi dasar bagi susunan/struktur masyarakat suku-suku
bangsa di Indonesia. Faktor-faktor tersebut selain menjadi dasar pembeda
antar berbagai suku bangsa di Indonesia juga menjadi salah satu hal yang
digunakan sebagai sarana untuk memelihara integritas suku bangsa.
Sistem kekerabatan ini sangat berpengaruh dalam pengaturan bidang-
bidang hukum adat yang mengatur kehidupan pribadi dari masyarakat,
seperti misalnya hukum keluarga dan hukum waris.13
Masyarakat hukum adat menganut sifat kebersamaan
(komunalistik) yang meliputi seluruh lapangan hukum adat dan menjadi
salah satu corak atau pola dalam hukum adat. Hazairin memberikan suatu
uraian yang relatif Panjang mengenai masyarakat hukum adat, sebagai
berikut:14
“masyarakat-masyarakat Hukum Adat seperti desa di Jawa, marga di
Sumatera Selatan, nagari di Minangkabau, kuria di Tapanuli, wanua di
Sulawesi Selatan, adalah kesatuan-kesatuan kemasyarakatan yang
mempunyai kelengkapan-kelengkapan untuk sanggup berdiri sendiri
yaitu mempunyai kesatuan hukum, kesatuan penguasa dan kesatuan
lingkungan hidup berdasarkan hak bersama atas tanah dan air bagi semua
anggotanya ….Bentuk hukum kekeluargannya (patrilineal, matrilinieal,
atau bilateral) mempengaruhi sistem pemerintahannya terutama
berlandaskan atas pertanian, peternakan, perikanan dan pemungutan hasil
hutan dan hasil air, ditambah sedikit dengan perburuan binatang liar,
pertambangan dan kerajinan tangan. Semua anggotanya sama dalam
13
Soerjono Soekanto dan Soleman B. Taneko, Hukum Adat Indonesia, Raja Grafindo Persada,
Jakarta, 2003, hlm. 56.
14
Soerjono Soekanto, [Link]., hlm 93-94.
10
hak dan kewajibannya. Penghidupan mereka berciri komunal, dimana
gotong royong, tolong menolong, serasa dan selalu mempunyai peranan
yang besar.”
Uraian Hazairin mengenai masyarakat hukum adat diatas, tentu
sudah tidak lagi relevan di jaman sekarang. Seiring dengan
perkembangan jaman yang terjadi akibat globalisasi. Kini tidak semua
masyarakat hukum adat memiliki/menggantungkan penghidupannya
dengan berlandaskan atas pertanian, perikanan dan perburuan binatang
liar. Suatu masyarakat dapat dikatakan sebagai masyarakat hukum adat
apabila masyarakat tersebut mempunyai adanya kesatuan wilayah,
kesatuan penguasa dan kesatuan hukum dan memiliki anggota yaitu
warga masyarakatnya.
Soepomo mengatakan, masyarakat-masyarakat hukum adat di
Indonesia menurut dasar susunannya dapat dibagi menjadi dua golongan,
yaitu berdasarkan pertalian keturunan (genealogis) dan berdasarkan
lingkungan daerah (teritorial) dan ditambah dengan susunan yang
didasarkan pada kedua dasar tersebut (teritorial genealogis). Sedangkan
dari sudut bentuknya, masyarakat hukum adat ada yang berdiri sendiri
(tunggal), ada yang menjadi bagian dari masyarakat hukum adat yang
lebih tinggi atau mencakup beberapa masyarakat hukum adat yang lebih
rendah (bertingkat), serta merupakan perserikatan dari beberapa
masyarakat hukum adat yang sederajat (berangkai).15
15
Soerjono Soekanto dan Soleman B. Taneko, [Link]., hlm. 95.
11
Pada masyarakat yang teritorial, faktor pengikatnya adalah
karena mereka bertempat tinggal di dalam wilayah yang sama atau sama-
sama berasal dari wilayah yang sama. Contoh masyarakat teritorial
tersebut adalah masyarakat Jawa. Masyarakat yang genealogis adalah
masyarakat yang para anggota masyarakat adatnya mendasarkan
keterikatan di antara anggota-anggota pada hubungan darah yakni, setiap
orang dalam masyarakat itu merasa terikat satu dengan yang lainnya
karena sama-sama berasal dari hubungan darah yang sama. Misalnya
suku pada masyarakat Minangkabau, orang-orang yang sesuku meyakini
bahwa mereka adalah kelompok orang yang berasal dari satuperempuan
yang sama dan marga pada masyarakat Batak, orang yang satu marga
meyakini mereka adalah saudara karena berasal dari satu laki-laki yang
sama. Sedangkan masyarakat yang teritorial-genealogis adalah
masyarakat yang mendasarkan keterikatan antara anggota-anggotanya
pada adanya kesamaan tempat tinggal dan juga karena adanya hubungan
darah yang sama. Misalnya nagari pada masyarakat Minangkabau dan
kuria pada masyarakat Batak.
Sedangkan berdasarkan bentuknya masyarakat hukum adat terdiri
dari masyarakat tunggal, bertingkat dan berangkai. Suatu masyarakat
dikatakan tunggal apabila pada saat bertindak sebagai kesatuan terhadap
dunia luar tidak menjadi bagian masyarakat yang kedudukannya lebih
tinggi dan tidak terbagi menjadi masyarakat yang lebih rendah.
Contohnya adalah desa di Jawa yang dalam satu wilayah hanya ada satu
12
desa, satu masyarakat hukum adat dengan satu kepala adat. Masyarakat
hukum adat bertingkat terdiri dari masyarakat atasan dan masyarakat
bawahan. Masyarakat bawahan tunduk kepada masyarakat atasan.
Dalam satu wilayah terdapat dua macam masyarakat yang
berbeda kedudukannya dan terdapat dua penguasa yang berbeda yaitu
penguasa masyarakat atasan dan penguasa masyarakat bawahan.
Contohnya pada masyarakat Sumatera Selatan (Palembang), masyarakat
atasan adalah negri dan masyarakat bawahan adalah marga. Sedangkan
masyarakat berangkai merupakan suatu bentuk kerja sama dari beberapa
masyarakat hukum adat yang setingkat. Kerja sama itu dilakukan dalam
hal-hal tertentu dengan maksud untuk mencapai tujuan yang sama secara
bersama-sama. Contohnya adalah subak di Bali yang bekerja sama dalam
beberapa banjar dalam masalah air.
Salah satu patokan untuk mengetahui hubungan suatu masyarakat
adat adalah melalui cara penarikan garis keturunan dari masyarakat
tersebut. Keturunan akan menjadi penerus orang tua dalam
mempertahankan sistem kekerabatan dan meneruskan pengurusan harta
benda orang tuanya. Klan, suku ataupun kerabat ini akan
mempertahankan keturunanya, sehingga apabila tidak ada keturunan
langsung yang lahir dari ibu bapaknya dapat dilakukan pengangkatan
anak (adopsi) sebagai pengganti keturunan langsungnya itu.
13
Berdasarkan sifatnya, keturunan dapat dibagi menjadi dua jenis,
yaitu:16
1. Garis keturunan lurus keatas dan kebawah, yakni seseorang yang
merupakan langsung keturunan dari orang yang lain, misalnya antara
bapak dan anak atau antara kakek, bapak dan anak, cucu, cicit dan
seterusnya lurus kebawah.
2. Garis keturunan menyimpang atau bercabang, yakni apabila antara kedua
orang atau lebih itu terdapat adanya ketunggalan leluhur, misalnya bapak
ibunya sama (saudara sekandung), atau sekakek nenek dan lain
sebagainya.
Penentuan garis keturunan menunjukkan apakah seseorang
masuk kedalam keluarga yang sama dengan ibu dan bapaknya atau hanya
dengan salah satu pihak, ibu atau bapak saja. Hubungan-hubungan
kekerabatan diberikan batas oleh prinsip keturunan karena prinsip
keturunan menentukan siapakah yang masuk batas hubungan
kekerabatan dan siapa yang secara biologis berada di luar batas tersebut.
Pada umumnya, garis keturunan dibagi menjadi empat macam, yakni:
1. Prinsip garis keturunan patrilineal atau patrilineal descent
Prinsip garis keturunan patrilineal atau patrilineal descent
menurut Koentjaraningrat adalah:
…..yang menghitung hubungan kekerabatan melalui orang laki-laki saja,
dan karena itu mengakibatkan bahwa bagi tiap-tiap individu dalam
16
Bushar Muhammad, Pokok-pokok Hukum Adat, Pradnya Paramita, Jakarta, 1991, hlm. 4.
14
masyarakat semua kaum kerabat ayahnya masuk di dalam batas
hubungan kekerabatannya, sedangkan semua kaum kerabat ibunya jatuh
di luar batas itu.17
Koentajaraningrat menyebutkan masyarakat Batak sebagai
contoh masyarakat hukum adat yang menerapkan prinsip garis keturunan
patrilineal. Koentjaraningrat menegaskan bahwa prinsip garis keturunan
melalui orang laki-laki saja, padahal terdapat sistem kekerabatan
patrilineal beralih-alih yang dimungkinkan sewaktu-waktu garis
keturunan harus ditarik dari garis perempuan. Sedangkan Hazairin
menjelaskan prinsip garis keturunan patrilineal dengan membedakan
patrilineal murni dan patrilineal beralih-alih.
Contoh dari patrilineal murni terdapat pada orang Batak yaitu
garis keturunan ditarik melalui garis laki-laki saja. Sedangkan prinsip
patrilineal beralih-beralih, walaupun sistem kekerabatannya bercorak
patrilineal tetapi memungkinkan menarik garis keturunan dari pihak
perempuan tergantung pada bentuk perkawinan sebagai penghubung
garis keturunan tersebut. Prinsip keturunan patrilineal beralih-alih
terdapat pada masyarakat Bali. Karena sewaktu-waktu prinsip keturunan
ditarik melalui garis perempuan, tergantung jenis perkawinannya.
Apabila melakukan perkawinan biasa maka ditarik melalui garis laki-
laki, sedangkan apabila melakukan perkawinan nyentana, dimana pihak
17
Ibid., hlm. 50.
15
laki-laki masuk ke keluarga perempuan maka prinsip keturunannya
ditarik melalui garis perempuan.
Adanya perbedaan yang dibuat oleh Hazairin, antara prinsip
patrilineal murni dan prinsip patrilineal beralih-alih memperjelas
kerancuan dari definisi sebelumnya dari ahli hukum adat. Karena dapat
disimpulkan, terdapat pembagian dalam prinsip garis keturunan
patrilineal. Prinsip patrilineal murni adalah prinsip keturunan yang
ditarik dari garis laki-laki saja. Setiap anak baik laki-laki maupun
perempuan masuk kedalam sistem kekerabatan ayahnya, dengan contoh
masyarakat Batak. Sedangkan prinsip patrilineal beralih-alih adalah
prinsip keturunan yang ditarik dari garis laki-laki namun memungkinkan
sewaktu-waktu ditarik melalui garis perempuan, tergantung pada kondisi
keluarga perempuan (isteri) yang tidak mempunyai anak laki-laki
sementara prinsip kewarisannya adalah mayorat laki-laki maka harus
dilakukan bentuk perkawinan adat tertentu yang mengakibatkan anak
perempuan menjadi ahli waris sekaligus penerus keturunan orang
tuanya.18
2. Prinsip garis keturunan matrilineal
Prinsip garis keturunan matrilineal merupakan kebalikan dari
prinsip garis keturunan patrilineal. Jika prinsip garis keturunan patrilineal
ditarik melalui garis laki-laki, dalam prinsip garis keturunan matrilineal
18
Firdaweri, Edisi I. "Konsep Ahli Waris Menurut Islam dan Adat." Asas: Jurnal Hukum dan
Ekonomi Islam, vol. 7, no. 2, Jun. 2015, hlm. 2.
16
ini ditarik melalui garis perempuan saja. Koentjaraningrat mengatakan
bahwa prinsip garis keturunan matrilineal merupakan suatu prinsip yang
menghitungkan hubungan kekerabatan melalui orang-orang perempuan
saja, dan karena itu mengakibatkan bahwa bagi tiap-tiap individu dalam
masyarakat semua kerabat ibunya masuk dalam batas hubungan
kekerabatannya sedangkan semua kaum kerabat ayahnya jatuh di luar
batas itu.19
Prinsip keturunan matrilineal hanya menarik keturunan darigaris
perempuan dan tiap individu masuk ke klan ibunya. Perlu dijelaskan
lebih lanjut, bahwa dalam prinsip garis keturunan matrilineal seorang
perempuan tetap dalam klan keluarganya walaupun sudah menikah dan
keturunan yang lahir baik itu laki-laki atau perempuan mengikuti klan
ibunya. Sedangkan pihak suami, tidak masuk ke klan isteri dan tetap
dalam sistem kekerabatan ibunya. Karena perkawinan yang
dilangsungkan bersifat matrilokal yaitu suami mengunjungi dan tinggal
di pihak isteri.
Suami dipandang tamu dan diperlakukan sebagai tamu dalam
keluarga. Tempatnya yang sah adalah dalam garis keturunan ibunya, ia
berfungsi sebagai anggota keluarga laki-laki yang memiliki tanggung
jawab dalam garis keturunan ibunya. Seperti menjadi pembimbing bagi
keponakan-keponakannya, yang disebut mamak dan memimpin upacara
19
Soerjono Soekanto dan Soleman B. Taneko, [Link]., hlm. 51.
17
adat serta musyawarah di keluarganya. Inilah yang mengakibatkan suami
tidak masuk ke sistem kekerabatan isteri dan tetap dalam sistem
kekerabatan ibunya. Contoh masyarakat yang menganut sistem
kekerabatan matrilineal adalah Minangkabau.20
3. Prinsip garis keturunan bilateral atau parental
Prinsip garis keturunan bilateral atau parental adalah prinsip
keturunan yang menarik garis keturunan dari dua pihak yaitu laki-laki
dan perempuan tanpa menekankan pada salah satu pihak saja. Laki-laki
dan perempuan memiliki kedudukan yang sama. Masyarakat Jawa
menerapkan prinsip garis keturunan bilateral atau parental. Setiap
keturunan bagi orang Jawa baik itu laki-laki dan perempuan adalah
penghubung dan menghasilkan anggota keluarga.
4. Prinsip garis keturunan bilineal
Prinsip garis keturunan bilineal bukanlah gabungan dari prinsip
patrilineal dan matrilineal. Karena dalam suatu kondisi tertentu prinsip
bilateral melahirkan kelompok-kelompok yang unik, misalnya hubungan
kekerabatan dihitung melalui orang laki-laki saja untuk sejumlah hal
tertentu dan melalui perempuan saja untuk hak dan kewajiban lainnya,
seperti yang terjadi pada beberapa di Aceh, terdapat masyarakat-
masyarakat dengan gejala bilineal. Artinya pada masyarakat-masyarakat
tersebut terdapat suatu tradisi, di mana benda-benda tertentu diwariskan
20
Fauzi, Anwar. "Dualitas Hukum Waris Minangkabau Dan Islam (Studi Konstruksi Sosial
Masyarakat Muslim Minangkabau Di Malang)." Jurisdictie, vol. 3, no. 1, 2012, hlm. 48.
18
oleh ayah kepada anak laki-laki saja, dan demikian pula bagi benda-
benda tertentu dari seorang ibu hanya diwariskan kepada anak
perempuannya.21
Berdasarkan uraian diatas, maka terdapat empat jenis sistem
kekerabatan atau prinsip garis keturunan yang berlaku di Indonesia.
Pertama, prinsip garis keturunan patrilineal yang menarik garis keturunan
melalui pihak laki-laki saja dengan contoh pada Masyarakat Batak.
Terdapat juga prinsip garis keturunan patrilineal beeralih-alih, yang
menarik garis keturunan dari pihak laki-laki namun tidak menutup
kemungkinan melalui garis perempuan, bergantung pada bentuk
perkawinan seperti yang terjadi pada masyarakat Bali, Lampung dan
Rejang. Kedua, prinsip garis keturunan matrilineal yang menarik garis
keturunan dari pihak perempuan saja dengan contoh masyarakat
Minangkabau. Ketiga, prinsip garis keturunan bilateral yang menarik
garis keturunan dari pihak laki-laki dan perempuan dengan kedudukan
yang sama, misalnya pada masyarakat Jawa. Terakhir, prinsip garis
keturunan bilineal yang menarik garis keturunan dari pihak laki-laki
untuk hak dan kewajiban tertentu dan dari pihak perempuan untuk hak
dan kewajiban lainnya seperti pada masyarakat Aceh.
21
Soerjono Soekanto dan Soleman B. Taneko, [Link]., hlm. 55.
19
1.5.2 Sistem Kewarisan Menurut Hukum Adat
[Link] Pengertian Hukum Waris Adat
Hukum waris adat di Indonesia sangat dipengaruhi oleh
prinsip garis keturunan yang berlaku pada masyarakat
bersangkutan, yang mungkin merupakan prinsip patrilineal
murni, patrlineal beralih-alih (alternerend) matrilineal, bilateral,
ada pula prinsip unilateral berganda atau bilineal(dubbel-
unilateral). Prinsip-prinsip garis keturunan tersebut terutama
berpengaruh terhadap penetapan ahli waris maupun bagian harta
peninggalan yang diwariskan (baik yang materiel maupun
immateriel).22
Beberapa ahli hukum adat memberikan pengertian hukum
waris adat. Menurut Ter Haar BZN, hukum waris adat meliputi
aturan-aturan hukum yang bertalian dengan proses dari abad ke
abad yang menarik perhatian, ialah proses penerusan dan
peralihan kekayaan materiel dan immaterieel dari turunan ke
turunan.23 Sedangkan Soepomo menyatakan bahwa, hukum adat
waris memuat peraturan-peraturan yang mengatur proses
meneruskan serta mengoperkan barang-barang harta benda dan
22
Soekanto (a), [Link]., hlm.260.
23
Ter Haar BZN, Asas-asas dan Susunan Hukum Adat, Pradnya Paramatia, Jakarta, 2001, hlm.
202.
20
barang-barang yang tidak berwujud benda (materiele goedren)
dari suatu angkatan manusia (generatie) kepada turunannya.24
Kedua ahli hukum adat mengatakan hukum waris adat
merupakan peralihan harta kepada turunannya. Padahal terdapat
golongan ahli waris keutamaan, apabila pewaris tidak memiliki
keturunan maka harta waris akan diteruskan ke golongan ahli
waris keutamaan lainnya, seperti orang tua, saudara, kakek dan
nenek pewaris. Berdasarkan definisi yang diberikan oleh kedua
ahli hukum waris adat tersebut, seolah harta warisan yang tidak
diteruskan kepada turunan bukan atau kepada generasi setelahnya
contohnya dari anak kepada orangtuanya dan seterusnya keatas.
Penulis memiliki pendapat yang berbeda, karena didasarkan
dengan adanya golongan keutamaan ahli waris. Tidak semua
pewaris memiliki keturunan dan golongan keutamaan ahli waris
merupakan jalan keluar agar harta warisan tetap dapat diteruskan
atau dialihkan.
Hilman Hadikusuma memberikan definisi berbeda mengenai
hukum waris adat, yaitu hukum waris adat sebagaimana berlaku
di kalangan berbagai masyarakat Indonesia (asli) tidak hanya
mengatur pewarisan sebagai akibat kematian seseorang, tetapi
mengatur pewarisan sebagai akibat dan mengalihkan harta
24
Soepomo, Bab-bab tentang Hukum Adat, Pradnya Paramita, Jakarta, 1989, hlm. 79.
21
kekayaan baik yang berwujud atau tidak berwujud, baik yang
bernilai uang atau tidak bernilai uang dari pewaris ketika ia masih
hidup atau sudah mati kepada para waris terutama para ahli
warisnya.25
Beliau mengkategorikan harta yang dialihkan pewaris pada
saat masih hidup sebagai bagian dari proses pewarisan. Padahal
tidak selalu demikian, misalnya pada masyarakat Lampung yang
menganut sistem kewarisan mayorat laki-laki. Beralihnya harta
waris kepada ahli waris harus terjadi pada saat pewaris meninggal
dunia. Hal tersebut juga terdapat dalam ketentuan waris adat di
daerah Bali. Pemberian harta kepada ahli waris semasa pewaris
masih hidup bukan merupakan pengalihan harta waris melainkan
hanya berupa pemberian lepas dari pewaris kepada ahli waris
yang disebut “jiwa dana”. 26
Oleh karena itu, definisi yang
diberikan oleh Hilman Hadikusuma tidak mencakup semua
ketentuan waris adat pada masyarakat hukum adat di Indonesia.
Berdasarkan definisi yang diberikan oleh beberapa ahli hukum
adat diatas, dapat disimpulkan bahwa hukum waris adat adalah
seperangkat aturan yang memuat aturan mengenai perpindahan
dan atau penerusan harta kekayaan baik materiel maupun
imateriel yang meliputi siapa yang menjadi pewaris, ahli waris,
25
Hilman Hadikusuma (2), Hukum Perkawinan Adat, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1995, hlm.
6-7.
26
Soekanto, [Link]., hlm. 270.
22
proses pewarisan dan obyek waris bergantung pada masyarakat
hukum adat tersebut.
Terdapat beberapa prinsip atau syarat dalam mewaris
menurut hukum waris adat, pertama terdapat seseorang yang
meninggal dan meninggalkan harta kekayaan disebut dengan
pewaris. Pewaris adalah orang yang meneruskan harta
peninggalan ketika hidupnya kepada ahli waris atau orang yang
setelah wafat meninggalkan harta peninggalan yang diteruskan
atau dibagikan kepada ahli waris. Kedua, adanya seseorang atau
beberapa orang yang berhak menerima kekayaan yang
ditinggalkan oleh pewaris disebut dengan ahli waris. Ketiga,
adanya harta warisan atau harta peninggalan yaitu kekayaan “in
concreto” yang ditinggalkan dan akan beralih kepada ahli waris.27
Harta kekayaan tersebut dapat berupa yang telah dibagi atau
masih dalam keadaan tidak terbagi.
[Link] Macam-macam Sistem Kewarisan
Menurut para ahli, terdapat 3 macam sistem kewarisan yang
dikenal pada Hukum adat di Indonesia, yaitu:
27
Soerojo Wignjodipuro, Pengantar dan Azas-azas Hukum Adat, Penerbit Alumni, Bandung,
1995, hlm.192.
23
1. Sistem kewarisan individual
Sistem kewarisan individual merupakan sistem
kewarisan yang para ahli warisnya mewarisi secara perorangan.
28
Setelah harta warisan itu diadakan pembagian maka masing-
masing waris dapat menguasai dan memiliki bagian harta
warisannya untuk diusahakan dinikmati ataupun dialihkan
(dijual) kepada sesama ahli waris, anggota kerabat, tetangga,
ataupun orang lain. Sistem individual ini banyak berlaku di
kalangan masyarakat adat Jawa atau juga dikalangan masyarakat
adat lainnya seperti Batak yang berlaku adat manjae (Jawa,
mencar, metas) atau juga di kalangan masyarakat adat yang kuat
dipengaruhi hukum Islam, seperti dikalangan masyarakat adat
Lampung beradat peminggir, di pantai-pantai selatan Lampung.
Faktor yang menyebabkan perlu dilaksanakan
pembagian warisan secara individual adalah dikarenakan tidak
ada lagi yang berhasrat memimpin penguasaan atau pemilikan
harta warisan secara bersama, disebabkan para waris tidak
terikat lagi pada satu rumah kerabat (rumah gadang) atau rumah
orangtua, dan juga karena lapangan kehidupan masing-masing
anggota waris telah tersebar tempat kediamannya. Kebaikan dari
28
Soekanto, [Link]., hlm 23.
24
sistem pewarisan individual, dengan pemilikan secara pribadi
maka ahli waris dapat bebas menguasai dan memiliki harta
warisan bagiannya untuk dipergunakan sebagai modal
kehidupannya lebih lanjut tanpa dipengaruhi anggota-anggota
keluarga lain. Kelemahan dari sistem pewarisan individual ialah
pecahnya harta warisan dan merenggangnya tali kekerabatan
yang dapat berakibat timbulnya hasrat ingin memiliki kebendaan
secara pribadi dan mementingkan diri sendiri.29
2. Sistem kewarisan kolektif,
Sistem kewarisan kolektif adalah sistem kewarisan yang
para ahli warisnya secara kolektif (bersama-sama) mewarisi
harta peninggalan yang tidak dapat di bagi-bagi pemilikannya
kepada masing-masing ahli waris dan hanya boleh dibagi-
bagikan pemakaiannya saja kepada mereka.30
Kebaikan dari sistem kolektif yang masih nampak
apabila fungsi harta kekayaan itu diperuntukkan buat
kelangsungan hidup keluarga besar untuk sekarang dan masa
seterusnya masih tetap berperanan, tolong menolong antara yang
satu dan yang lain dibawah pimpinan kepala kerabat yang penuh
tanggung jawab masih tetap dapat dipelihara, dibina dan
dikembangkan. Kelemahan sistem kolektif ialah menumbuhkan
29
Hilman Hadikusuma, [Link]., hlm. 34-35.
30
Soekanto, [Link]., hlm 24.
25
cara berpikir yang terlalu sempit yaitu kurang terbuka bagi orang
luar. Di samping itu oleh karena tidak selamanya suatu kerabat
mempunyai kepempimpinan yang dapat diandalkan dan
aktivitas hidup yang kian meluas bagi para anggota kerabat,
maka rasa setia kawan, rasa setia kerabat bertambah luntur.31
3. Sistem kewarisan mayorat:
Dalam sistem kewarisan mayorat dapat dibedakan ke
dalam 2 (dua) bentuk, yaitu:
a. Mayorat laki-laki, yaitu apabila anak laki-laki tertua pada saat
pewaris meninggal atau anak laki-laki sulung (atau keturunan
laki-laki) merupakan ahli waris tunggal, seperti di Lampung.
b. Mayorat perempuan, yaitu apabila anak perempuan tertua pada
saat pewaris meninggal adalah ahli waris tunggal. Misalnya pada
masyarakat di Tanah Semendo.
Kelemahan dan kebaikan sistem kewarisan mayorat
terletak pada kepempimpinan anak tertua dalam kedudukannya
sebagai pengganti orang tua yang telah wafat dalam mengurus
harta kekayaan dan memanfaatkannya guna kepentingan semua
anggota keluarga yang ditinggalkan.32
31
Hadikusuma (2), [Link]., hlm. 37-38.
32
Ibid., hlm. 39.
26
Maka di Indonesia terdapat tiga jenis sistem kewarisan.
Pertama, sistem kewarisan individual yaitu ahli waris mewarisi
secara perorangan seperti pada masyarakat Jawa dan juga Batak.
Kedua, sistem kewarisan kolektif yaitu ahli waris mewarisi
secara bersama-sama yang berlaku pada masyarakatmatrilineal.
Terakhir, sistem kewarisan mayorat yang dibagi menjadi
mayorat laki-laki (Lampung) dan perempuan (tanah semendo)
yang bergantung pada jenis kelamin anak tertua. Ketiga sistem
kewarisan ini, masing-masing tidak langsung menunjuk kepada
suatu bentuk susunan masyarakat tertentu dimana sistem
kewarisan itu berlaku, sebab suatu sistem tersebut diatas dapat
diketemukan juga dalam pelbagai bentuk susunan masyarakat
ataupun dalam satu bentuk susunan masyarakat dapat pula
dijumpai lebih dari satu sistem kewarisan dimaksud diatas.
Misalnya pada masyarakat Minahasa yang bilateral dan Ambon
yang parental namun sama-sama menerapkan sistem kewarisan
kolektif selain itu pada masyarakat Batak yang patrilineal dan
masyarakat Jawa yang bilateral sama-sama menerapkan sistem
kewarisan individual dalam masyarakatnya.
27
1.5.3 Masyarakat Hukum Batak
[Link] Sejarah Singkat Masyarakat Batak
Individu bersuku Batak lebih suka menyebut diri sebagai
bangsa Batak ketimbang orang Batak. Menurut mitos yang
hidup di dalam masyarakat Batak, nenek moyang masyarakat
Batak adalah Si Raja Batak, la tinggal di Sianjur Mula-mula,
yaitu suatu daerah di kaki Gunung Pusuk Buhit, kurang lebih 8
kilometer di arah barat pinggiran Danau Toba.
Bila lahirnya masyarakat Batak ditinjau dari versi
sejarah, maka cerita yang ada sedikit berbeda. Sejarah
mengatakan Si Raja Batak dan rombongannya datang dari
Thailand, melewati Semenanjung Malaysia lalu menyeberang ke
Sumatera dan akhirnya menghuni Sianjur Mula Mula, kira-kira
8 km arah barat Pangururan, pinggiran Danau Toba. Versi
sejarah lain mengatakan Si Raja Batak datang dari Indiamelalui
Barus atau dari Alas Gayo berkelana ke selatan hingga
bermukim di pinggir Danau Toba.33
Sejarah memperkirakan Si Raja Batak hidup sekitar
tahun 1300 (awal abad XIV). Sebutan Raja kepada Si Raja Batak
diberikan oleh keturunannya bukan karena ia seorang raja atau
ia memiliki rakyat, melainkan karena keturunannya
33
Batara Sangti (Ompu Buntilan), Sejarah Batak, Karl Sianipar Company, Balige, 1977, hlm.
128.
28
menghormatinya. Dampaknya, setiap keturunan Si Raja Batak
disebut raja (laki-laki) dan inang soripada (=ibu terhormat,
perempuan).34
Melalui penelitian yang berjalan selama bertahun-tahun,
Sibeth (1996) menemukan bahwa keturunan Si Raja Batak
dibagi-bagi menjadi 6 kelompok besar (subsuku) berdasarkan
wilayah yang didiaminya. Kelompok tersebut adalah Toba,
Karo, Mandailing, Angkola, Simalungun, dan Pakpak-Dairi
(peta wilayah dapat dilihat pada bagian lampiran).
Masyarakat Batak pada awalnya menganut paham
animisme. Seiring dengan munculnya penyebaran agama dan
misionaris, masyarakat Batak Toba mendapat pengaruh besar
sehingga agama yang dianut berubah menjadi Kristen dan Islam.
Perbandingan jumlah penganut kedua agama tersebut di
masyarakat Batak dapat dikatakan hampir sama besar. Sekarang,
agama Batak lama (animisme) sudah mulai ditinggalkandengan
makin kuatnya pengaruh keislaman dan kekristenan.35
34
Ibid., hlm. 128.
35
Hidayat Erond L. Damanik, “Batak Dan Bukan Batak: Paradigma Sosiohistoris Tentang
Konstruksi Identitas Etnik Di Kota Medan, 1906-1939", Jurnal Sejarah Citra Lekha, Vol. 3 , No. 2,
2018, hlm. 71-87.
29
[Link] Adat Batak Toba
Untuk masyarakat Batak Toba, adat adalah suci.
Melupakan dan menyia-nyiakan adat berbahaya bagi kesehatan
dan kesejahteraan. Adat bagi orang Batak merupakan pusaka
yang tidak kunjung usang. Adat harus selalu dilestarikan dan
dijunjung tinggi. Dalam melaksanakan adat, tiap-tiap anggota
masyarakat Batak harus berlaku dan bertindak sesuai dengan
status yang disandangnya. Status ini ditentukan melalui prinsip
dalihan na tolu. Prinsip ini dideskripsikan melalui gambaran
sebuah tungku berkaki tiga (dalihan^tungku, na= nan,
to/u=tiga). Ketiga kaki tunggu melambangkan tiga elemen
penting dalam sistem kekerabatan masyarakat Batak, yaitu hula-
huta, dongan tuhu dan boru. Sama halnya dengan kaki tungku
yang memiliki panjang dan ketebalan yang simetris, ketiga
elemen ini juga memiliki arti dan fungsi yang sama penting dan
sama besar.36
Adat mendominasi kegiatan masyarakat Batak. Hampir
seluruh peristiwa yang terjadi dilaksanakan melalui acara adat.
Misalnya ketika melahirkan anak, menikah. menguburkan orang
meninggal, mencari calon pasangan hidup, membagi warisan,
memberikan marga pada orang lain dari luar bangsa Batak, dan
36
Siregar, Rinaldi A., et al. "Peranan Persatuan Batak Toba Dalam Mewariskan Adat
Perkawinan Masyarakat Batak Toba Di Sebanga Duri." Jurnal Online Mahasiswa Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau, vol. 4, no. 2, Oct. 2017, pp. 1-15, hlm. 3.
30
sebagainya. Dalam melaksanakan dan mengatur setiap bagian
acara adat tersebut tetap dilandaskan pada prinsip dalihan na
tolu, termasuk di dalamnya tata cara pembagian tempat duduk
bagi ketiga elemen dalihan na tolu, pengaturan tugas-tugas
dalam acara adat tersebut, pemberian berkat dan ucapan terima
kasih, dan sebagainya.
[Link] Prinsip Keturunan dalam Adat Batak Toba
Anak adalah pengikat hubungan suami-istri, penerus
nama, penyempurna kehidupan keluarga, ahli waris, penerus
keturunan. Anak laki-lakilah yang dapat meneruskan garis
keturunan. Anak laki-laki pulalah yang berhak atas warisanatau
harta pusaka. Tidak heran bila lahir pepatah yang terkenal dalam
masyarakat Batak bahwa keluarga yang tidak mempunyai anak
laki-laki sama seperti tanaman yang tidak menghasilkan apa-apa
sehingga nantinya mati atau punah.
Dalam adat Batak, anak perempuan tidak dapat
meneruskan garis keturunan keluarganya dengan mewariskan
marga kepada anak-anaknya. Ketika seorang perempuan Batak
Toba menikah, ia akan meninggalkan keluarganya, termasuk
marga-nyu, dan menjadi bagian dari keluarga suaminya.
Kenyataan ini dapat dipahami sebagai pentingnya kelahiran dan
kehadiran anak laki-laki dalam suatu keluarga. Sebuah keluarga
Batak sangat khawatir dan takut jikalau tidak mempunyai anak
31
laki-laki. Hal ini berarti juga marga pada keluarga tersebut akan
terputus.
[Link] Hak Laki-laki dan Perempuan dalam Adat Batak
Situasi adat seperti yang dijelaskan di atas menimbulkan
adanya perbedaan hak antara anak laki-laki dan anak perempuan.
Perbedaan hak tersebut sebagai berikut: bagi suku Batak, marga
lebih mutlak digunakan sebagai identitas diri daripada nama
yang diberikan saat lahir. Bila seorang Batak ditanya siapa
namanya, ia seyogianya menjawab dengan memberikan nama
lengkap dengan marga-nya, contohnya Sahat Pasaribu atau
Tumpal Pangaribuan. Apalagi bila ia sudah menikah dan
menjadi warga adat, ia tabu dipanggil dengan namanya saja. Ia
harus dipanggil dengan marga-nya saja, misalnya Tuan Sianipar
atau Pak Tampubolon. Bila ia sudah memiliki anak atau cucu, ia
harus dipanggil dengan membubuhkan nama anak pertamanya
atau nama cucu pertama dari anak laki-lakinya yang pertama
pula setelah panggilan umum, seperti Ama ni Togar (ayah si
Togar) atau Ompung Surung (kakek si Surung). Aturan
pemakaian marga dan nama ini dibubuhkan hanya kepada
seluruh keturunan laki-laki Batak.
Untuk perempuan, istilah marga berubah menjadi boru,
misalnya Tarida boru Sianturi. Tetapi, dapat pula tanpa
menambahkan istilah boru, misalnya Rosni Simanungkalit.
32
Apabila perempuan tersebut sudah menikah, ia akan
menyandang identitas baru, yaitu sebagai istri dari suaminya,
sehingga ia secara terhormat akan dipanggil sesuai marga
suaminya. Pemberian boru tetap dapat digunakan setelah
identitas marga suaminya namun hanya bersifat sebagai
pelengkap. Misalnya, Ibu Marpaung atau Ny. Sirait boru Siregar.
Bila ia sudah memiliki anak atau cucu, pemberian identitas sama
halnya dengan pemberian identitas pada laki-laki. Hanya,
penamaan boru tidak lazipi dipakai lagi. Contohnya, Nai Pontas
(ibu Pontas) atau Ompung Daulat (nenek si Daulat).37
Garis keturunan dalam masyarakat Batak Toba ditarik
berdasarkan dan atau marga yang mengakibatkan timbulnya
hubungan kekeluargaan yang hidup dalam masyarakat. Oleh
sebab itu yang dimaksud dengan sistem kekeluargaan adalah
rangkaian kesatuan dari hubungan kekerabatan yang saling
terkait satu dengan yang lain serta tersusun secara fungsional.
Seluruh hubungan kekerabatan pada masyarakat Batak Toba
baik berdasarkan pertalian darah maupun karena hubungan
perkawinan terkait dengan filsafah “Dalihan Na Tolu” (tiga
tungku sejarangan) yang mengandung makna yaitu “somba mar
hula-hula”, “elek marboru”, ”manat mar dongan tubu”, artinya
37
Paimin Napitupulu, Edison Pasar Tua Hutauruk, Pedoman Praktis Upacara Adat Batak,
Papas Sinar Sinanti, Depok, 2008, hlm. 243.
33
ketiga pola inilah yang menjadi dasar atau pedoman dalam
kehidupan sosial maupun kegiatan lainnya di masyarakat
Batak.38
Dilihat dari posisi dalihan na tolu terdapat perbedaan
struktural dan perbedaan prinsip, akan tetapi melalui peran
dalihan na tolu seluruh aspek kegiatan tetap mengacu kepada
hasil yang terbaik. Dalihan na tolu mempunyai kedudukan dan
fungsi sebagai suatu sistem kekerabatan, pergaulan, dan
kesopanan, sosial hukum (adat) dan akhirnya diakui menjadi
falsafah hidup masyarakat Batak. Dalam berhubungan dengan
orang lain, orang Batak Toba menempatkan dirinya dalam
susunan dalihan na tolu tersebut, sehingga selalu dapat mencari
kemungkinan adanya hubungan kekerabatan di antara
sesamanya (martutur/martarombo).
Somba mar hula-hula berarti bersikap hormat kepada
hulahula yaitu marga dari pihak istri maupun marga ibu.
Hulahula harus dihormati karena dianggap mempunyai
kedudukan yang lebih tinggi. Elek marboru berarti bersikap
mengasihi atau menyayangi boru/putri dari semarga (yang
termasuk kelompok boru adalah pihak keluarga hela, termasuk
38
Ryna Leli Naibaho, “Efektivitas Penerapan Yurisprudensi Mahkamah Agung Republik
Indonesia Nomor 179/K/Sip/1961 Di Dalam Persamaan Hak Mewaris Anak Laki-Laki Dan Anak
Perempuan Pada Masyarakat Suku Batak Toba Perkotaan (Studi Di Kecamatan Medan Baru)”
Premise Law Journal, vol. 4, 2015, hlm. 7.
34
orang tuanya dan keturunannya, setelah anak perempuan kawin
maka ia akan ikut dengan marga suaminya. Mangat mar dongan
tubu berarti bersikap hati-hati terhadap kerabat semarga, teman
semarga adalah teman untuk menjalankan maupun menerima
adat.39
Dalihan na tolu merupakan suatu kerangka yang sangat
baik, bagaimana orang Batak Toba berinteraksi dengan
lingkungannya, kaya dengan sistem nilai yang baik dan dapat
bertahan sepanjang zaman, karena nilai yang terkandung
didalamnya bersifat universal dengan nilai-nilai religius yang
sangat mendalam. Dalihan na tolu yang terdiri dari tiga unsur
kelompok yang satu dengan yang lainnya memegang peranan
sangat penting dalam setiap kegiatan pada masyarakat Batak
Toba seperti dalam pelaksanaan pesta perkawinan, perceraian,
pembagian harta warisan, dan lain-lain, karena kelompok
dalihan na tolu yang akan selalu dilibatkan dan dimintai
pendapat dalam peristiwa-peristiwa tersebut di atas.40
39
Ibid., hlm. 7
40
Vergouwen J.C., Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba, Pustaka Azet, Jakarta, 1986,
hlm. 68.
35
1.5.4 Putusan Nomor: 13/Pdt.G/2010/[Link]
Dalam Putusan Nomor: 13/Pdt.G/2010/[Link] ini menyatakan
bahwa gugatan penggugat tidak dapat diterima dan juga menyatakan
gugatan gugatan penggugat rekonpensi tidak dapat diterima yang
menyebabkan ketidakjelasan terhadap harta waris dari para ahli waris
setelah adanya putusan ini. Pihak yang bersengketa dalam putusan ini
adalah Martaulina, Tiurlina, Neliana sebagai penggugat dan Ray Ati,
Halomoan, Wagiyem, Parlin sebagai tergugat.
1.6 Metode Penelitian
1.6.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis
normatif. Metode yuridis normatif merupakan studi penulisan dokumen
baik itu kajian terhadap norma dan asas yang ada di dalam tersebut.
Metode penelitian hukum ini mengkaji hukum normatif yang difokuskan
pada teori hukum yang dikaitkan dengan pembagian waris terhadap anak
perempuan di dalam masyarakat adat batak setelah adanya Putusan
Nomor: 13/Pdt.G/2010/[Link].
1.6.2 Sumber data
Penelitian yang dilakukan secara normatif dengan cara
mengumpulkan berbagai data penelitian kepustakaan dan penelitian
lapangan. Data-data yang digunakan adalah data Sekunder dan data
[Link] Sekunder merupakan data yang diperlukan untuk melengkapi
36
data primer selain berupa peraturan perundang-undangan, data sekunder
juga dapat berupa pendapat para ahli yang mengenai masalah-masalah
dalam penelitian ini, yang disampaikan dalam berbagai litaratur baik dari
buku-buku, naskah ilmiah, media masa dan lain-lain. Data sekunder
adalah data dari kepustakaan (library research) yaitu terdiri dari:
1. Bahan Hukum primer yang berupa perundang-undangan
yang berkaitan dengan permasalah dalam penelitian ini yaitu
a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945
b. kitab Undang-undang hukum perdata
2. Bahan Hukum Sekunder, yaitu bahan-bahan pustaka yang
erat hubungannya dengan hukum bahan hukum primer dan dapat
membantu menganalisis dan memahami bahan primer, adapun bahan
sekunder yang digunakan terdiri dari tulisan-tulisan hasil karya ahli
hukum yang berupa buku-buku, makalah-makalah, artikel-artikel,
dokumen-dokumen yang relevan dengan judul ini.
3. Bahan Hukum tersier, yaitu bahan-bahan yang memberikan
pertunjuk terhadap bahan hukum primer dan hukum sekunder, yang
berupa kamus diantaranya kamus bahasa Indonesia dan kamus hukum.
Selain itu data Primer dalam Penelitian ini dilakukan dengan cara
wawancara yaitu: wawancara mendalam dilakukan secara langsung
kepada Narasumber. Dalam hal ini, mula-mula dilakukan
37
beberapa pertanyaan untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut,
sehingga dapat diperoleh jawaban yang mendalam data primer dan data
sekunder lainnya.
1.6.3 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah studi pustaka/dokumen dan wawancara. Pengumpulan data melalui
studi pustaka/dokumen yang diperoleh melalui penelitian kepustakaan
yang bersumber dari peraturan perundang-undangan, buku, artikel, dan
jurnal yang berkaitan dengan isu hukum yang dibahas dalam penelitian
ini. Pengumpulan data melalui wawancara dilakukan untuk mendapatkan
data lapangan melalui wawancara bebas terpimpin, artinya terlebih dahulu
dipersiapkan daftar pertanyaan sebagai pedoman tetapi masih
dimungkinkan adanya variasi pertanyaan yang disesuaikan dengan situasi
pada saat wawancara dilakukan. 41
Narasumber dalam penelitian ini adalah para tetua suku adat batak,
masyarakat adat batak yang berada di Sidoarjo, dan Hakim Pengadilan
Negeri Sidoarjo.
1.6.4 Metode Analisis Data
Berdasarkan sifat penelitian ini yang menggunakan metode
penelitian bersifat deskriptif analitis, analisis data yang dipergunakan
adalah pendekatan kualitatif terhadap data primer dan data sekunder.
41
Soerjono Soekanto (3), Pengantar Penelitian Hukum, UIPers, Jakarta, 2014, hlm. 26.
38
Deskriptif tersebut, meliputi isi dan struktur hukum positif, yaitu suatu
kegiatan yang dilakukan oleh penulis untuk menentukan isi atau makna
aturan hukum yang dijadikan rujukan dalam menyelesaikan permasalahan
hukum yang menjadi objek kajian.42
1.6.5 Lokasi Penelitian
Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penulisan proposal
skripsi ini, penulis melakukan penelitian di Pengadilan Negeri Sidoarjo
dan masyarakat adat batak yang berada di Sidoarjo.
1.6.6 Waktu Penelitian
Waktu penelitian ini adalah 3 (tiga) bulan, dimulai dari bulan
Oktober 2020 sampai bulan Desember 2020. Penelitian ini mulai
dilaksanakan pada bulan Januari pada minggu pertama, yang meliputi
tahap persiapan penelitian yakni pengajuan judul (pra proposal), acc judul,
permohonan surat ke Instansi, pencarian data, bimbingan penelitian, dan
penulisan penelitian.
1.6.7 Sistematika Penulisan
Proposal ini dimulai dari pendahuluan sampai dengan penutup, agar
dapat diperoleh hasil yang tepat dan tearah. Penelitian ini disusun secara
sistematis menjadi tiga bab. Setiap bab memiliki keterkaitan antar satu
42
Zainudin Ali, Metode Penelitian Hukum, Cetakan Kedelapan, Jakarta: Sinar Grafika, 2016,
hlm. 107
39
dengan yang lainnya. Untuk itu perlu disusun kerangka penyusunan yang
dituangkan dalam sistematika penulisan.
Bab Pertama merupakan pendahuluan. Pendahuluan yang berisi
uraian mengenai topik yang dibahas dalam penelitian ini. Dalam bab
pertama dibagi menjadi beberapa sub bab yaitu latar belakang, rumusan
masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kajian pustaka dimana
menjelaskan dasar hukum dan teori-teori untuk mendukung pembahasan
dalam penelitian ini.
Bab Kedua membahas tentang rumusan masalah pertama yaitu apa
yang menjadi dasar pertimbangan hakim dalam Putusan Nomor:
13/Pdt.G/2010/[Link]. Dalam bab kedua dapat dibagi menjadi dua sub
bab. Sub bab pertama membahas tentang dasar pertimbangan hakim
dalam Putusan Nomor: 13/Pdt.G/2010/[Link] dan sub bab kedua
membahas analisa dasar pertimbangan hakim dalam Putusan Nomor:
13/Pdt.G/2010/[Link].
Bab ketiga membahas tentang rumusan masalah kedua yaitu akibat
hukum dari Putusan Nomor: 13/Pdt.G/2010/[Link]. Dalam bab ketiga
dapat dibagi menjadi dua sub bab. Sub bab pertama membahas tentang
akibat hukum bagi pihak penggugat dan tergugat dari Putusan Nomor:
13/Pdt.G/2010/[Link] dan sub bab kedua membahas penyelesaian
sengketa waris adat batak diluar Pengadilan.
40
Bab Keempat merupakan bab terakhir sebagai penutup, yang terdiri
atas kesimpulan da saran dari pokok permasalahan yang dibahas. Pada bab
terakhir dari penulisan skripsi ini penulis akan menguraikan kesimpulan
dari bab-bab sebelumnya, dan kemudian akan memberikan saran yang
tepat yang sesuai dengan pokok permasalahan yang dibahas yang dapat
memberikan manfaat terhadap permasalahan yang dibahas.
41
1.6.8 Jadwal Penelitian
September Oktober November Desember
No Jadwal Penelitian
2020 2020 2020 2020
1 Pendaftaran Administrasi
2 Pengajuan Judul dan
Dosen Pembimbing
3 Penetapan Judul
4 Permohonan dan
Pengajuan Surat ke
Instansi
5 Observasi Penelitian
6 Pengumpulan Data
7 Pengerjaan Proposal Bab
I/II/III
8 Bimbingan Proposal
9 Seminar Proposal
10 Revisi Proposal
11 Pengumpulan Laporan
Proposal
12 Pendaftaran Skripsi
13 Pengumpulan Data
Lanjutan
14 Penelitian Bab II/III/IV
Skripsi
15 Pengolahan Data dan
Analisis Data
16 Bimbingan Skripsi
17 Ujian Lisan
18 Pengumpulan Skripsi
Tabel 1
Jadwal Kegiatan
42
1.6.9 Rincian Biaya
Penelitian ini dibiayai secara pribadi oleh penulis dan kedua orang
tua penulis. Rincian penggunaan dana adalah sebagai berikut:
1. Mengerjakan Proposal Skripsi : Rp. 750.000,-
2. Pembelian Buku Refrensi : Rp. 500.000,-
3. Print Revisi Skripsi : Rp. 150.000,-
4. Softcover Proposal Skripsi : Rp. 100.000,-
5. Mengerjakan Skripsi : Rp. 1.000.000,- +
Total Biaya : Rp. 2.500.000,-