0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan30 halaman

Manfaat dan Tinjauan Kehamilan Trimester III

Dokumen ini menjelaskan manfaat teoritis dan praktis dari laporan mengenai kehamilan, persalinan, dan nifas untuk institusi pendidikan, mahasiswa, masyarakat, dan tempat studi kasus. Selain itu, dokumen ini juga membahas pengertian kehamilan, perubahan fisiologis dan psikologis selama trimester III, tanda bahaya kehamilan, serta standar pelayanan antenatal care dan proses persalinan. Informasi ini diharapkan dapat digunakan sebagai referensi untuk meningkatkan pemahaman dan kualitas pelayanan kebidanan.

Diunggah oleh

Wandy Iswandi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan30 halaman

Manfaat dan Tinjauan Kehamilan Trimester III

Dokumen ini menjelaskan manfaat teoritis dan praktis dari laporan mengenai kehamilan, persalinan, dan nifas untuk institusi pendidikan, mahasiswa, masyarakat, dan tempat studi kasus. Selain itu, dokumen ini juga membahas pengertian kehamilan, perubahan fisiologis dan psikologis selama trimester III, tanda bahaya kehamilan, serta standar pelayanan antenatal care dan proses persalinan. Informasi ini diharapkan dapat digunakan sebagai referensi untuk meningkatkan pemahaman dan kualitas pelayanan kebidanan.

Diunggah oleh

Wandy Iswandi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

D.

Manfaat

1. Manfaat Teoritis

a. Insitusi Pendidikan

Lapoaran ini di harapakan dapat memberikan manfaat sebagai


referensi tambahan insitusi atau acuan dan evaluasi tambahan untuk
mahasiswa selanjutkan.
b. Mahasiswa selanjutnya
Laporan ini di harapkan dapat memeberikan manfaat dalam
perkembangan ilmu pengetahuan dan di gunakan sebagai acuan dalam
pembuatan laporan yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan, nifas
dan neonatus.
2. Manfaat Praktisi
a. Masyarakat
Agar masyarakat mampu mengetahui apasaja asuhan yang di
berikan kepada ibu muali dari hamil, persalinan, bayi baru lahir dan pada
saat masa nifas dan mendapatkan pelayanan kebidanan yang sesuai
dengan standar.
b. Tempat pelaksanaan studi kasus
Sebagai masukan dalam pemeberian pelayanan untuk
meningkatkan mutu pelayanan kebidanan melalui pendekatan manajemen
asuhan kebidanan pada kehamilan, persalinan, nifas dan bayi baru lahir

15
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Kehamilan

1. Pengertian Kehamilan
Kehamilan merupakan suatu proses alamiah dan fisiologis. Setiap wanita
yang memiliki organ reproduksi sehat, jika telah mengalami menstruasi dan
melakukan hubungan seksual dengan seorang pria yang organ reproduksinya
sehat, sangat besar kemungkinannya terjadi kehamilan. Apabila kehamilan
direncanakan, akan memberi rasa Bahagia dan penuh harapan, tetapi disisi lain
diperlukan kemampuan bagi Wanita untuk beradaptasi dengan perubahan yang
terjadi selama kehamilan, baik perubahan yang bersifat fisiologis maupun
psikologis (Fatimah & Nuryaningsih, 2017).

Kehamilan Trimester III adalah dimana usia kehamilan seorang ibu 7-9
bulan atau kehamilan memasuki minggu ke-28 sampai tiba waktu melahirkan (28-
40 minggu). Trimester III ditandai dengan klimaks kegembiraan emosi karena
kelahiran bayi. (Padila, 2014).

2. Etiologi

Untuk setiap kehamilan harus ada Ovum (Sel Telur), Spermatozoa (Sel
Sperma), Pembuahan (Konsepsi), Nidasi, dan Plasenta. (Dartiwen, 2019).

3. Perubahan Anatomi dan Fisiologi Pada Kehamilan Trimester III


Perubahan anatomi dan fisiologi pada perempuan hamil sebagian besar
sudah terjadi segera setelah fertilisasi dan terus berlanjut selama kehamilan
(Prawirohardjo, 2018).

16
a. Sistem Reproduksi
1) Uterus
Selama kehamilan, uterus akan berubah menjadi suatu organ yang
mampu menampung janin, plasenta dan cairan amnion rata- rata rata pada
akhir kehamilan volume totalnya mencapai 5 L bahkan dapat mencapai 20
L atau lebih dengan berat rata-rata 1100 gram.

Tinggi fundus uteri dapat diperkirakan dengan rumus [Link],


rumus Bartholomew, dan palpasi Leopold. Pengukuran tinggi fundus uteri
dengan tekhnik Mc. Donald dilakukan menggunakan pita ukur dan
pengukuran abdomen dimulai dari Simfisis pubis hingga fundus uteri
(Pratiwi, 2019).

Tabel 2.1 Ukuran TFU menurut Usia Kehamilan melalui Perabaan


No Usia Kehamilan Tinggi Fundus Uteri
1 12 Minggu 1/3 di atas simpisis
2 16 Minggu ½ simpisis -pusat
3 20 Minggu 2/3 di atas simpisis
4 24 Minggu Setinggi pusat
5 28 Minggu 1/3 di atas pusat
6 34 Minggu ½ pusat Px
7 36 Minggu Setengah Px
8 40 Minggi 2 jari bawah Px
Sumber: (Pratiwi, 2019)

2) Serviks
Satu bulan setelah konsepsi serviks akan menjadi lebih lunak dan
kebiruan. Perubahan ini terjadi akibat penambahan vaskularisasi dan

17
terjadinya edema pada seluruh serviks, bersamaan dengan terjadinya
hipertrofi dan hiperplasia pada kelenjar-kelenjar serviks.

3) Ovarium
Proses ovulasi selama kehamilan akan terhenti dan pematangan
folikel baru juga di tunda. Hanya satu korpus luteum yang dapat
ditemukan di ovarium. Folikel ini akan berfungsi maksimal selama 6 -7
minggu awal kehamilan dan setelah itu akan berperan sebagai penghasil
progesteron dalam yang relative minimal.

4) Vagina dan Perineum


Selama kehamilan peningkatan vaskularisasi dan hiperemia
terlihat jelas pada kulit dan otot-otot di perineum dan vulva, sehinga
pada vagina akan terlihat berwarna merah kebiru-biruan yang dikenal
dengan tanda Chadwick.

b. Kulit
Pada kulit dinding perut akan terjadi perubahan warna menjadi
kemerahan, kusam, dan kadang-kadang juga akan mengenai daerah
payudara dan paha. Perubahanini dikenal dengan nama striae gravidarum.
Pada permpuan kulit di garis pertengahan perutnya (linea alba) akan
menjadi hitam kecoklatan (linea nigra). Kadang-kadang muncul pada
wajah dan leher (Chloasma atau melasma gravidarum). Selain itu pada
areola dan daerah genetalia juga akan terlihat hiperpigmentasi.

c. Payudara
Pada awal kehamilan perempuan akan merasakan payudaranya
menjadi lebih lunak. Setelah bulan kedua payudara akan bertambah
ukurannya dan vena-vena di bawah kulit akan terlihat. Puting payudara
akan lebih besar, kehitaman, dan tegak. Setelah bulan pertama cairan
berwarna kekuningan yang disebut kolostrum keluar.

18
d. Perubahan Metabolik
Sebagian besar penambahan berat badan selama kehamilan berasal
dari uterus dan isinya, kemudian payudara, volume darah, dan cairan
ekstraselular. Diperkirakan selama kehamilan berat badan akan
bertambah 12,5 kg. Pada trimester ke-2 dan ke-3 pada perempuan dengan
gizi baik dianjurkan menambah berat badan per minggu sebesar 0,4 kg,
sementara pada perempuan dengan gizi kurang atau berlebih dianjurkan
menambah berat badan per minggu masingmasing sebesar 0,5 kg dan 0,3
kg.

e. Sistem Kardiovaskuler
Sejak pertengahan kehamilan pembesaran uterus akan menekan
vena kava inferior dan aorta bawah ketika berada dalam posisi telentang.
penekanan vena kava inferior ini akan mengurangi darah balik vena ke
jantung, sehingga akan menyebabkan terjadinya sindrom hipotensi supine
yang merupakan keadaan turunnya tekanan darah sistolik sebesar 30%
(sekitar 15-30 mmHg) dan pada keadaan yang cukup berat akan
mengakibatkan ibu kehilangan kesadaran. penekanan pada aorta ini juga
akan mengurangi aliran darah uteroplasma ke ginjal. hamil dalam posisi
telentang pada akhir kehamilan (Prawiroharjdo, 2016).

f. Sistem Muskuloskeletal
Lordosis yang progresif akan menjadi bentuk yang umum pada
kehamilan. Akibat kompensasi dari pembesaran uterus ke posisi anterior,
lordosis menggeser pusat daya barat ke belakang kearah dua tungkai.
Sendi sakroiliaka, sakrokoksigis, dan pubis akan meningkat mobilitasnya,
yang diperkirakan karena pengaruh hormonal.

19
g. Sistem Perkemihan
Pada bulan pertama kehamilan kandung kemih akan tertekan oleh
uterus yang mulai membesar sehingga menimbulkan sering berkemih.
keadaan ini akan menghilang dengan makin tuanya kehamilan bila uterus
keluar dari rongga panggul. pada akhir kehamilan, jika kepala janin sudah
mulai turun ke pintu atas panggul keluhan itu akan timbul kembali
(Prawirohardjo, 2016).

h. Sistem Pencernaan
Seiring dengan makin besarnya uterus, lambung dan usus akan
bergeser. Demikian juga dengan yang lainnya seperti apendiks yang akan
bergeser kea rah atas dan lateral. Perubahan yang nyata akan terjadi pada
penurunan mobilitas otot polos pada traktus digestivus dan penurunan
sekresi asam hidroklorid dan peptin di lambung sehingga akan
menimbulkan gejala berupa pyrosis(heartburn) yang disebabkan oleh
refluks asam lambung ke esofagus bawah sebagai akibat perubahan
posisi lambung ke esofagus bawah sebagai akibat perubahan posisi
lambung dan menurunnya otot tonus sfingter esofagus bagian bawah.
Mual terjadi akibat penurunan asam hidroklorid dan penurunan motilitas,
serta konstipasi sebagai akibat penurunan motilitas usus besar
(Prawirohardjo, 2016).
i. Sistem Pernafasan
Selama kehamilan, diafragma terangkat sekitar 4 cm. Sudut subkosta
melebar secara bermakna karena diameter melintang sangkar toraks
meningkat sekitar 2 cm. Lingkar toraks meningkat sekitar 6 cm, tetapi
tidak cukup untuk mencegah pengeluaran volume paru residual yang
terjadi akibat naiknya diafragma. Pergerakan diafragma pada wanita hamil
sebenarnya lebih besar dari pada wanita tidak hamil. (Susanto,2016).

20
3. Perubahan Psikologis Pada Kehamilan Trimester III
Trimester III sering disebut periode penantian dengan penuh
kewaspadaan. Pada trimester III ini ibu merasa tidak sabar menunggu
kelahiran bayinya, ibu merasa cemas, khawatir atau takut apabila bayinya
akan lahir abnormal. Pada pertengahan trimester ini peningkatan seksual
akan menghilang karena ibu merasa perutnya semakn membesar.
Ibu juga akan kembali meraskan ketidaknyamanan fisik yang semakn
kuat menjelang akhir kehamilan. Ia akan merasa canggung, jelek,
berantakan karena perubahan fiksik pada tubuhnya dan memerlukan
dukungan yang sanagat besar dan konsisten dari pasangannya (Pratiwi,
2019).
4. Tanda Bahaya Kehamilan
Ada beberapa tanda bahaya kehamilan menurut Buku Kesehatan Ibu
Dan Anak (2020) yaitu:
a. Muntah terus dan tidak mau makan.
b. Demam tinggi
c. Bengkak pada kaki, tangan dan wajah atau sakit kepala disertai
kejang.
d. Janin dirasakan kurang bergerak dibandingkan sebelumnya.
e. Perdarahan pada hamil muda atau tua.
f. Air ketuban keluar sebelum waktunya.
Selanjutnya tanda bahaya diatas ada beberapa masalah yang dapat
terjadi selama masa kehamilan yaitu :

a. Demam menggigil dan berkeringat. Bila terjadi di daerah endemis


malaria, maka
b. Kemungkinan menunjukkan gejala penyakit malaria.
c. Terasa sakit pada saat kencing atau keluar keputihan atau gatal-gatal
di daerah kemaluan.
d. Batuk lama hingga lebih dari 2 minggu.

21
e. Jantung berdebaa-debar atau nyeri di dada.
f. Diare berulang
g. Sulit tidur dan cemas berlebihan.
h. Jarak kehamilan
5. Standar Pelayanan Kehamilan / Antenatal care
Asuhan antenatal (antenatal care) adalah pengawasan sebelum
persalinan terutama di tunjukan pada pertumbuhan dan perkembangan
janin dalam rahim. Dilakukan dengan observasi berencana dan teratur
terhadap ibu hamil melalui pemeriksaan, pendidikan, pengawasan secara
dini terhadap komplikasi dan penyakit ibu yang dapat mempengarui
kehamilan ibu.
Pemeriksaan Antenatal Care terbaru sesuai dengan standar
pelayanan yaitu minimal 6 kali pemeriksaan selama kehamilan dan
minimal 2 kali pemeriksaan oleh dokter pada trimester I dan III. 2 kali
pada trimester pertama (0-12 minggu), 1 kali ,pada trimester kedua
(kehamilan diatas 12-26 minggu), 3 kali pada trimester ketiga (kehamilan
diatas 24-40 minggu). Buku KIA 2020.
Standar Pelayanan Antenatal Care 14 T , sebagai berikut :
1. Ukur tinggi badan dan berat badan
2. Ukur lingkar lengan atas
3. Ukur Tekanan Darah
4. Ukur tinggi fundus (TFU)
5. Pemberian tablet Fe sebanyak 90 tablet
6. Pemberian imunisasi TT (Tetanus Toxoid)
7. Pemeriksaan HB
8. Pemeriksaan Veneral Disease Research Lab
9. Perawatan payudara
10. Pemeliharaan Tingkat kebugaran / senam ibu hamil
11. Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan

22
12. Pemeriksaan protein urine atas indikasi
13. Pemeriksaan reduksi urine atas indikasi
14. Pemeriksaan USG

B. Persalinan

1. Pengertian Persalinan
Persalianan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban keluar
dari uterus ibu, persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia
kehamilan cukup bulan (setelah 37 minggu) tanpa disertai adanya penyulit
(JNPKKR, 2017) persalinan dimulai sejak uterus berkontraksi dan menyebabkan
perubahan pada serviks (membuka dan menipis) dan berakhir sampai lahirnya
plasenta secara lengkap . (JNKP-KR, 2017)

2. Tahap Persalinan
a. Kala 1
Kala 1 persalinan dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus yang
teratus dan meningkat (frekuensi dan kekuatannya) hingga serviks membuka
lengkap (10m). kala 1 persalina terdiri dari 2 fase yaitu :
1) Fase Laten
Sejak awal kontraksi yang menyebabkan penipisan dan
pembukaan serviks secara lengkap, berlangsung hingga serviks
membuka kurang dari 4 cm. Pada umumnya fase laten berlangsung
hampir atau hingga 8 jam. Fase laten masih his lemah dengan frekuensi
jarang. (JNKP-KR, 2017)
2) Fase Aktif
Pada fase aktif frekuensi dan lama kontraksi uteus akan
meningkat secara bertahap (kontraksi dianggap adekuat/memadai jika
terjadi 3 kali atau lebih dalam waktu 10 menit). dari pembukaan 4 cm
hingga mencapai pembukaan lengkap atau 10 cm, akan terjadi dengan

23
kecepatan rata-rata 1 cm perjam (nulipara atau primigravida) atau lebih
dari 1 cm hingga 2 cm (multipara),terjadi penurunanbagian terbawah
janin. (JNKP-KR, 2017)
Fase aktif dibagi menadi 3 yaitu:
a) Fase akselerai yaitu pembukaan 3-4 cm.
b) Fase dilatasi maksimal yaitu pembukaan 4-9 cm.
c) Fase deselerasi yaitu pembukaan 9-10 cm.
b. Kala 2
Persalinan kala 2 dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10
cm) dan berakhir lahirnya bayi. Kala 2 juga disebut sebagai kala pengeluaran
bayi, JNPK-KR, 2017.
Menurut JNPK-KR, 2017 gejala dan tanda kala 2 persalinan adalah:
a) Ibu merasa ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi.
b) Ibu merasa adanya peningkatan tekanan pada rektum dan vagina.
c) Perineum menonjol.
d) Vulva-vagina dan sfingter ani membuka.
Ibu dengan primigravida jika persalinan tidak terjadi dalam satu jam
maka harus segera dirujuk ke fasilitas rujukan sedangkan ibu dengan
multigravida persalinan tidak terjadi dalam waktu dua jam harus segera
dirujuk ke fasilitas Kesehatan, (JNPK-KR, 22017)

c. Kala 3
Batasan kala 3 persalinan menurut, (JNPK-RK 2017), dimulai setelah
lahirnya bayi dan berakhir dengan lahirnya plasenta dan selaput ketuban.
Pada kala 3 persalinan otot uterus berkontraksi mengikuti penyusutan
volume rongga uterus setelah lahirnya bayi. Penyusutan ukuran ini
mengakibatkan berkurangnya ukuran tempat pelekatan plasenta. Karena
tempat perlekatan menjadi semakin kecil, sedangkan ukuran plasenta tidak
dapat berubah maka plasenta akan melipat, menebal dan kemudian lepas dari
dinding uterus.

24
Manajemen aktif kala 3 membantu menghindarkan perdarahan
pasca persalinan. Manajemen aktif kala 3 meliputi: pemberian suntikan
oksitosin dalam 1 menit pertama setelah bayi lahir, melakukan
penegangan tali pusat terkendali dan massase fundus uteri. Tanda
pelepasan plasenta menurut, (JNKP-KR, 2017), yaitu terdapat semburan
darah tiba-tiba, pemanjangan tali pusat terlihat pada introitus vagina,
perubahan bentuk uterus dan tinggi fundus.
d. Kala 4
Persalinan kala 4 dimulai setelah lahirnya plasenta dan berakhir 2 jam
setelah itu. Pemantauan kala 4 setiap 15 menit pada satu jam pertama dan
setiap 30 menit pada satu jam kedua. Keadaan yang dipantau meliputi
keadaan umum ibu, tekanan darah, pernapasan, suhu dan nadai, TFU,
kontraksi, kandung kemih dan jumlah darah (JNPK-KR, 2017).
3. Tanda- tanda Persalinan
Ada sejumlah tanda dan gejala peringatan yang akan meningkatkan
kesiagaan bahwa seorang wanita sedang mendekati waktu bersalin. Wanita
tersebut akan mengalami berbagai kondisi-kondisi yang akan disebutkan di
bawah, mungkin semua atau malah tidak sama sekali. Dengan mengingat tanda
dan gejala tersebut, akan terbantu ketika menangani wanita yang sedang hamil
tua sehingga dapat memberikan konseling dan bimbingan antisipasi yang tepat.
Sulis Diana (2019) menjelaskan tanda dan gejala menjelang persalinan antara
lain:
a. Lightening
Lightening yang dimulai dirasa kira-kira dua minggu sebelum
persalinan, adalah penurunan bagian presentasi bayi ke dalam pelvis
minor. Pada presentasi sefalik, kepala bayi bisanya menancap (engaged)
setelah lightening, yang bisanya oleh wanita awam disebut "kepala bayi
sudah turun". Sesak napas yang dirasakan sebelumnya selama trimester III
akan berkurang, penurunan kepala menciptakan ruang yang lebih besar di
dalam abdomen atas untuk ekspansi paru.

25
b. Pollakisuria
Pada akhir bulan ke-9 hasil pemeriksaan didapatkan epigastrium
kendor, fundus uteri lebih rendah dari pada kedudukannya dan kepala
janin sudah mulai masuk ke dalam pintu atas panggul. Keadaan ini
meyebabkan kandung kencing tertekan sehingga merangsang ibu untuk
sering kencing.
c. Perubahan serviks
Mendekati persalinan, serviks semakin "matang". Kalau tadinya
selama hamil, serviks masih lunak, dengan konsistensi seperti puding dan
mengalami sedikit penipisan (effacement) dan kemungkinan sedikut
dilatasi.
d. Pertunjukan berdarah
Plak lendir disekresi sebagai hasil proliferasi kelenjar lendir serviks
pada awal kehamilan. Plak ini menjadi sawar pelindung dan menutup
jalan lahir selama kehamilan. Pengeluaran plak lendirinilah yang
dimaksud dengan bloody show.
e. Energy spurt
Lonjakan energi, banyak wanita mengalami lonjakan energi
kurang lebih 24 jam sampai 48 jam sebelum awitan persalinan. Umumnya
para wanita ini merasa energik selama beberapa jam sehingga
bersemangat melakukan berbagai aktivitas di antaranya pekerjaan rumah
tangga dan berbagai tugas lain yang sebelumnya tidak mampu mereka
laksanakan.
f. Gangguan saluran pencernaan
Ketika tidak ada penjelasan yang tepat untuk diare, kesulitan
mencerna, mual, dan muntah. Diduga hal-hal tersebut merupakan gejala
menjelang persalinan walaupun belum ada penjelasan untuk hal ini.
Beberapa wanita mengalami satu atau beberapa gejala tersebut.

26
4. Faktor yang mempengaruhi persalinan
a. Tenaga (power)
Tenaga atau Power adalah kekuatan yang mendorong janin keluar.
Kekuatan ini meliputi his,kontraksi otot-otot perut, kontraksi diafragma dan
aksi dari ligamen dengan kerjasama yang baik dan sempurna.
b. Janin (passanger)
Meliputi sikap janin, letak, presentasi, bagian terbawah dan posisi janin.
c. Jalan lahir (passage)
Yaitu panggul, yang meliputi talang-tulang panggul (rangka panggul),
otototot, jaringan-jaringan dan ligamen-ligamen yang terdapat di panggul.
d. Posisi
Mengubah posisi membuat rasa letih hilang, memberi rasa nyaman dan
memperbaiki sirkulasi
e. Psikologis
Kelahiran bayi merupakan peristiwaa penting bagi kehidupan seorang
ibu dan keluarga. Banyak ibu mengalami psikis (kecemasan, keadaan
emosional Wanita) dalam menghadapi persalinan. Seorang bidan harus
mengutamakan assuhan sayng ibu dengan melibatkan peran pendamping
oleh suami dan keluarga secara berkelanjutan untuk meningkatkan keadan
psikologis ibu (Kurniaru, 2016).
5. Kebutuhan dasar ibu bersalin
Menurut JNPK-KR (2017) adapun kebutuhan dasar ibu bersalin adalah
sebagai berikut:
a. Dukungan emosional
Perasaan takut dapat meningkatkan rasa nyeri, otot-otot tegang dan
ibu menjadi cepat lelah dan menyerah yang pada akhirnya akan
mempengaruhi proses persalinan sehingga dibutuhkan dukungan dari
keluarga atau petugas Kesehatan. (JNPK-KR, 2017).

27
b. Kebutuhan makanan atau cairan
Makanan yang bersifat padat tidak dianjurkan diberikan selama
persalinan aktif, karena makanan padat lebih lama tinggal dalam lambung
daripada makanan cair, sehingga proses pencernaan berjalan lebih lambat
selama persalinan. Anjurkan ibu makan dan minum sesering mungkin
seperti makan roti, minum teh manis dan air. (JNPK-KR, 2017).
c. Kebutuhan eliminasi
Kandung kencing harus dikosongkan setiap 2 jam selama proses
persalinan demikian pula dengan jumlah dan waktu berkemih harus
dicatat. Bila pasien tidak mampu berkemih sendiri dapat dilakukan
kateterisasi, karena kandung kencing yang penuh akan menghambat
penurunan bagian terendah janin (JNPK-KR, 2017).
d. Mengatur posisi
Posisi yang nyaman akan membuat ibu lenih tenang dalam
persalinan, disini peranan bidan adalah mendukung ibu dalam pemilihan
posisi apapun, menyarankan alternatif hanya apabila tindakan ibu tidak
efektif atau memahayakan bagi diri sendir maupun bagi bayinya.
e. Peran pendamping
Kehadiran suami atau orang terdekat ibu untuk memberikan
dukungan pada ibu, menciptakan suasana kekeluargaan dan rasa aman,
membantu ibu ke kamar mandi, memberi cairan dasn nutrisi, memberikan
dorongan spiritual dengan ikut berdoa, yang dapat membantu proses
persalinan sehingga ibu merasa lebih tenang dan proses persalinannya
dapat berjalan dengan lancer. (JNPK-KR, 2017).
f. Pengurangan rasa nyeri
Pengurangan rasa nyeri bisa dilakukan dengan pijatan pada daerah
lumba sakralis dengan arah melingkat, dengan pengaturan pernapasan,
dengan miring kiri dan tidak terlentang terlalu lama atau tidak miring
kanan terlalu lama. Adapun secara umum teknik pengurangan rasa sakit

28
seperti kehadiran pendamping, penekanan pada lutut, kompres air hangat
dan dingin, berendam, visualisasi dan pemusatan perhatian,
mendengarkan musik serta aromatherapy. (JNPK-KR, 2017)
g. Pencegahan infeksi
Menjaga lingkungan tetap bersih dan aman bagi ibu dan bayinya,
juga akan melindungi penolong persalinan dan pendamping dari infeksi.
(JNPK-KR, 2017).

C. Bayi Baru Lahir


1. Pengertian bayi baru lahir
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dengan presentasi belakang
kepala pada usia kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dengan berat badan
lahir 2500-4000 gram (Armini dkk, 2017). Neonatus adalah bayi yang baru
mengalami proses kelahiran, berusia 0-28 hari (Jamil dkk, 2017).

2. Adaptasi bayi baru lahir


Perubahan fisiologis bayi segera setelah lahir menurut Fitriana (2018),
diantaranya:
a. Termoregulasi
Termoregulasi merupakan suatu pengaturan fisiologis suhu tubuh
manusia mengenai keseimbangan produksi panas dan kehilangan panas
sehingga suhu tubuh dapat dipertahankan secara konstan. Mekanisme
pengaturan suhu tubuh pada bayi baru lahir belum berfungsi dengan
sempurna, untuk itu perlu dilakukan upaya. pencegahan kehilangan panas
pada bayi baru lahir. Hal ini dikarenakan bayi mengalami hipotermia.
Bayi baru lahir mengalami hipotermia apabila memiliki suhu tubuh di
bawah 36⁰C, sedangkan suhu normal yang harus dimiliki bayi baru lahir
adalah 36⁰C sampai 37⁰C.

29
b. Sistem pernafasan
Pada proses awal pernafasan bayi ada faktor yang berperan pada
rangsangan nafas pertama bayi yaitu tekanan terhadap rongga dada
sewaktu melewati jalan lahir dan rangsangan dinding di daerah muka
yang dapat merangsang gerakan pernafasan, dan refleks deflasi Hering
bruer yaitu pengisian paru yang meningkatkan aktivitas pusat ekspirasi.
Pernafasan pertama pada bayi baru lahir terjadi dengan normal dalam
waktu 30 detik setelah kelahiran. Tekanan pada rongga dada 84 bayi saat
bayi melalui jalan lahir pervaginam mengakibatkan cairan paru yang
jumlahnya 80 – 100 ml, berkurang sepertiga sehigga volume yang hilang
diganti dengan udara.
Paru mengembang sehingga rongga dada kembali ke bentuk
semula. Pernafasan pada neonatus terutama pernafasan diafragmatik dan
abdominal biasanya frekuensi dan kedalaman pernafasan masih belum
teratur, dalam hal ini rangsangan taktil diaggap tidak terlalu bermakna.
Akan tetapi rasa sakit yang disebabkan oleh ekstensi tungkai yang masih
fleksi, sendi – sendi dan tulang punggung dapat dianggap menjadi
penyebab timbulnya respons awal bayi terhadap kehidupan di luar uterus.
(Heryani, 2019).
c. Sistem pencernaan
Pada masa neonatus, saluran pencernaan bayi mengeluarkan tinja
pertama biasanya dalam 24 jam pertama berupa mekonium (zat yang
berwarna hitam kehijauan).
Dengan adanya pemberian susu, mekonium mulai digantikan oleh tinja
tradisional pada hari ketiga sampai empat yang berwarna coklat
kehijauan. (Marmi, 2015) Menurut (Marmi, 2015) Pada saat lahir,
aktifitas mulut bayi sudah berfungsi yaitu menghisap dan menelan.
d. Metabolisme
Glukosa Agar berfungsi dengan baik, otak memerlukan glukosa
dalam jumlah tertentu. Pada saat kelahiran, begitu tali pusat di klem,

30
seorang bayi harus mulai mempertahankan kadar glukosa darahnya
sendiri. Pada setiap bayi baru lahir, kadar glukosa darah akan turun dalam
waktu cepat (1-2 jam).
e. Sistem ginjal
Walaupun sangat penting dalam kehidupan janin, muatannya
terbilang kecil hingga setelah kelahiran. Urine bayi encer, berwarna
kekuning kuningan, dan tidak berbau. Tingkat filtrasi glomerulus rendah
dan kemampuan reabsorpsi tubular terbatasbayi tidak mampu
mengencerkan urine dengan baik saat mendapat asupan cairan, dan tidak
juga tidak dapat mengantisipasi tingkat larutan yang tinggi atau rendah
dalam darah.
Urine dibuang dengan cara mengosongkan kandung kemih secara
refleks. Urine pertama dibuang saat lahir dan dalam 24 jam, dan akan
semakin sering dengan banyaknya cairan yang masuk (Heryani, 2019).

3. Standara Suhan Pada Bayi Baru Lahir


Komponen asuhan bayi baru lahir yaitu pencegahan infeksi, penilaian
segera setelah lahir, pencegehan kehilangan panas, perawatan tali pusat, IMD,
manajemen laktasi, pencegahan infeksi mata dengan pemberian salep mata
erythromycin, pemberian imunisasi Hb-0, injeksi Vitamin K1 1 mg
intramuscular pada paha kiri anterolateral, dan pemeriksaan fisik bayi baru
lahir, serta pemberian identitas (tanda pengenal).

4. Perawatan Bayi Baru Lahir


Perawatan bayi baru lahir menurut JNPK-KR (2017), yaitu sebagai berikut:
a. Penilaian yaitu apakah bayi cukup bulan, air ketuban jernih, tidak
bercampur mekonium, bayi menangis atau bernafas, tonus otot bayi baik.
b. Asuhan bayi baru lahir.
c. Jaga kehangatan.
d. Bersihkan jalan napas (bila perlu).

31
e. Keringkan dan tetap jaga kehangatan.
f. Potong dan ikat tali pusat tanpa membubuhi apapun, kira-kira dua menit
setelah lahir.
g. Lakukan Inisisasi Menyusu Dini (IMD) dan kontak kulit bayi dengan kulit
ibu.
h. Beri salep mata antibiotika pada kedua mata.
i. Beri suntikan Vitamin K untuk mencegah perdarahan, dengan dosis 0,5-
1 mg secara intramuskular (IM), di paha kiri anterolateral setelah IMD.
j. Beri imunisasi hepatitis B uniject 0,5 ml secara intramuskular (IM),
diberikan kira-kira 1-2 jam setelah pemberian vitamin K atau 0-7 hari
sesuai pedoman buku KIA.
k. Asuhan 1 jam bayi baru lahir, meliputi pemeriksaan fisik bayi baru lahir
l. Asuhan 6 jam bayi baru lahir, meliputi pemeriksaan fisik dan reflek bayi
setelah 6 jam

5. Tanda Bahaya Bayi Baru Lahir


Dalam buku Kesehatan Ibu dan Anak, 2019 tanda bahaya pada Bayi Baru
Lahir sebagai berikut:
a. Tidak mau menyusu
b. Kejang kejang.
c. Lemah.
d. Sesak nafas.
e. Bayi merinntih dan menagis terus menerus.
f. Tali pusat kemerahan dan bebau busuk.
g. Demam / panas tinggi.
h. Mata bayi bernanah.
i. Diare atau buang air besar lebih dari 3x sehari
j. Kulit danmata bayi kuning.
k. Tinja bayi saat buang air besa warna pucat.

32
6. Kunjungan Bayi baru lahir/Neonatus
Pelayana Kesehatan menurut Kemenkes RI, (2015 ) adalah pelayanan
Kesehatan sesuai standar yang di berikan oleh tenaga kesehtan kepada bayi baru
lahir / Neonatus sedikitnya 3 kali, selama periode 0 sampai dengan 28 hari
setelah lahir.
a. Kunjungan KN 1( 6 – 48 jam) setelah lahir, asuhan yang di berikan sebagai
berikut :
1) Pemeriksaan pernafsan
2) Warna kulit bayi
3) Gerak bayi aktif /tidak
4) Melakuka penimbangan badan dan pengukuran tinggi badan, Lingkar
kepala dan lingkar dada
5) Pemberian salep mata
6) Pemebrian Vitamin K1
7) Imunisasi HB 0/ hepatitis B
8) Perawatab tali pusat
9) Menjaga bayi agar tetap hangat
b. KN 2 (3 – 7 hari ) setelah lahir, asuhan yang di berikan sebagai berikut :
1) Pemriksaan fisik meliputi tanda-tanda vital bayi seperti, Nadi,
respirasi dan suhu bayi
2) Melakukan perawatan tali pusat dan memberikan KIE ke ibu cara
perawatan tali pusat
3) Pemberian ASI eksklusif
4) Personal hygine
5) Pola istirahat dan nutrisi bayi
6) Keaman dan KIE tanda bahaya.
c. KN 3 ( 8 – 28 hari ) setelah bayi ahir, asuhan yang di berikan sebagai
berikut :
1) Pemeriksaan pertumbuhan perkembangan bayi melalui
penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan.

33
2) Pemeriksaan nutrisi bayi.
3) bounding attachment.
4) Menjelaskan imunisasi selanjutnya ke Ibu dan keluarga,
7. Terapi Komplementer Bayi
a. Pijat bayi
Baby massage adalah pemijatan yang dilakukan lebih mendekati
usapanusapan halus atau rangsangan raba (taktil) yang dilakukan
dipermukaan kulit, manipulasi terhadap jaringan atau organ tubuh bertujuan
untuk menghasilkan efek terhadap syaraf otot, dan sistem pernafasan serta
memperlancar sirkulasi darah
b. Manfaat pijat Bayi
Efek fisik / klinis pijat bayi adalah sebagai berikut:
a) Meningkatkan jumlah dan sitotoksisitas dari sistem imunitas (sel
pembunuh alami).
b) Mengubah gelombang otak secara positif.
c) Memperbaiki sirkulasi darah dan pernafasan.
d) Merangsang fungsi pencernaan serta pembuangan.
e) Meningkatkan kenaikan berat badan.
f) Mengurangi depresi dan ketegangan.
g) Membuat tidur lelap.
h) Mengurangi rasa sakit.
i) Mengurangi kembung dan kolik (sakit perut).
j) Meningkatkan hubungan batin antara orang tua dan bayinya (bonding)
c. Tekhnik Pijat Bayi
Tehnik pijat pada bayi sebaiknya dimulai dari kaki bayi karena
umumnya bayi lebih menerima apabila dipijat pada daerah kaki. Dengan
demikian akan memberi kesempatan pada bayi untuk membiasakan dipijat
sebelum bagian lain dari badannya disentuh (Nurmalasari, Agung, and
Nahariani, 2016).

34
D. Nifas

1. Pengertian masa Nifas


Masa Nifas adalah masa dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir
ketika alat kandung kembali seperti semula sebelum hamil, yang berlangsung
selama 6 minggu atau ± 40 hari. Masa nifas juga dapat disebut sebagai masa
setelah melahirkan bayi dan biasa disebut juga dengan masa pulih kembali,
dengan maksud keadaan pulihnya alat reproduksi seperti sebelum hamil (Sutanto,
2019).
2. Perubahan fisiologi masa Nifas
Perubahan fisiologis masa nifas menurut, Susanto (2019), yaitu:
a. Perubahan sistem Repoduksi
1) Involusi Uterus
Uterus secara berangsur-angsur menjadi kecil (involusi)
sehingga akhirnya kembali seperti sebelum hamil, adapuntabel involusi
uterus yaitu:
Tabel 2.2 Tinggi Fundus Uteri dan Berat Uterus
No Involusi TFU Berat uterus

1 Bayi lahir Setinggi pusat, 2 jari di bawah 1.000 gr


pusat
2 1 minggu Pertengahan pusat 750 gr
sympisis
3 2 minggu Tidak teraba di atas sympisis 500 gr

4 6 minggu Normal 50 gr

5 8 minggu Normalseperti sebelum hamil 30 gr

Sumber: (Sutanto, 2019).

Setelah persalinan tempat plasenta merupakan tempat dengan


permukaan kasar, tidak rata, dan kira-kira besarnya setelapak tangan.
Dengan cepat luka ini mengecil, pada akhir minggu ke 2 hanya sebesar

35
3-4 cm dan pada akhir nifas1-2 cm.
2) Lochea
Menurut Kemenkes (2016), lochea adalah ekskresi cairan rahim
selama masa nifas. Lochea mengandung darah dan sisa jaringan desidua
yang nekrotik dari dalam uterus. Pemeriksaan lochea meliputi
perubahan warna dan bau karena lochea memiliki ciri khas: bau amis
atau khas darah danadanya bau busuk menandakan adanya infeksi.
Jumlah total pengeluaran seluruh periode lochea rata-rata kira-kira 240–
270 ml. Lochea terbagi 4 tahapan:
a) Lochea Rubra/Merah (Cruenta)
Lochea ini muncul pada hari 1 sampai hari ke-3 masa postpartum.
Cairan yang keluar berwarna merah karena berisi darah segar, jaringan
sisa-sisa plasenta, dinding rahim, lemak bayi.
b) Lochea Sanguinolenta
Cairan yang keluar berwarna merah kecokelatan dan berlendir.
Berlangsung dari hari ke-4 sampai hari ke-7 postpartum.
c) Lochea Serosa
Lochea ini berwarna kuning kecokelatan karena mengandung serum,
leukosit, dan robekan/laserasi plasenta. Muncul pada hari ke-8 sampai hari
ke-14 postpartum.
d) Lochea Alba/Putih
Servik mengandung leukosit, sel desidua, sel epitel, selaput lendir
serviks, dan serabut jaringan yang mati. Lochea alba bisa berlangsung
selama 2 sampai 6 minggu postpartum.
3) Servik dan Vagina
Mengalami involusi bersama-sama uterus setelah persalinan,
ostium eksterna dapat dimasuki oleh 2 hingga 3 jari tangan, setelah 6
minggu serviks menutup. Vagina dan lubang vagina pada permulaan
masa nifas merupakan suatu saluran yang luas dan berdinding tipis.
secara berangsung angsur luasnya berkurang, tetapi jarang kembli

36
seperti semula atau seperti ukurang seorang nulipara.
4) Perubahan sistem Pencernaan
Perubahan sistem pencernaan dari masa kehamilan dan kemudian
sekaranberada pada masa nifas diawali dengan menurunnya kadar
progesteron yang akan memulihkan sistem perncernaan yang semula
mengalami beberapa perubahan ketika kehamilan. Tonus dan motilitas
otot traktus akan kembali ke keadaan normal sehingga akan
memperlancar sistem pencernaan. Asuhan yang akan dilakukan yaitu
memperbanyak minum minimal 3 liter/harinya, meningkatkan makanan
yang berserat, buah--buahan, dan membiasakan BAB tepat waktu.
5) Perubahan sistem Perkemihan
Pengkemihan Pelvis, ginjal dan ureter yang meregang dan
berdilatasi selama kehamilan kembali normalpada akhir minggu ke
empat setelah melahirkan. Kandung kemih pada masa nifas mempunyai
kapasitas yang meningkat secara relative. Oleh karena itu, distensi yang
berlebihan, urine residual yang berlebih, pengosongan yang tidak
sempurna, harus diwaspadai dengan seksama. Urine dan pelvis yang
mengalami distensi akan kembali normal pada dua sampai delapan
minggu setelah persalinan.

3. Adaptasi Psikologis masa Nifas


Berikut ini 3 tahap penyesuaian psikologi ibu dalam masa post partum
menurut Sutanto (2019), yaitu:
a. Fase Taking In
Fase ini dari setelah melahirkan sampai hari Ke-2 masa nifas Ciri-
Cirinya: Perasaan ibu berfokus pada dirinya. Ibu masih pasif dan
tergantung dengan orang lain dan masih ingin atau membutuhkan orang
lain. Perhatian ibu tertuji pada kekhawatiran perubahan tubuhnya. Ibu
akan mengulangi pengalaman-pengalaman waktu melahirkan. Ibu
Memerlukan ketenangan dalam tidur untuk mengembalikan keadaan

37
tubuh ke kondisi normal seperti semula lagi. Kurangnya nafsu makan
menandakan proses pengembalian kondisi tubuh tidak berlangsung
normal.
Gangguan psikologis yang mungkin akan dirasakan ibu pada fase
ini adalah sebagai berikut: Kekecewaan karena tidak mendapatkan apa
yang diinginkan tentang bayinya. Misalnya, jenis kelamain anak yang
di inginkan tertentu, warna kulit bayi, jenis rambut bayi, bntuk hidung
dan ketidaknyamanan dengan perubahan fisik ibu dan rasa nyeri yang
di rasakan oleh ibu dan mungkin rasa bersalah karena belum bias
menyususi bayinya.
b. Fase Taking Hold
Fase ini dari hari ke-3 sampai hari ke-10 pada masa nifas Ciri-
cirinya: Ibu merasa merasa khawatir akan ketidaknyamananmerawat
bayinya, muncul perasaan sedih (Baby Blues) Ibumemperhatikan
kemampuan menjadi orang tua dan meningkatkan tanggung jawab akan
bayinya dan ibu juga berusaha untuk menguasai keterampilan merawat
bayi seperti menggendong, menyusui, memandikan dan mengganti
popok. Ibu di masa inicenderung lebih sensitive dengan orang lain karean
menganggap pemebritahuan termasukan memojokan dia, dan di anjurkan
lebih hati hati atau lebih sering memuji ibu di fase ini.
c. Fase letting go
Fase ini dari hari ke-10 sampai akhir masa nifas. Ciri-cirinya: Ibu
merasa percaya diri untuk merawat diri dan bayinya. Setelah ibu pulang
ke rumah dan dipengaruhi oleh dukungan serta perhatian keluarga. Ibu
sudah siap dengan mengasuh anak secara mandiri.

4. Kebutuhan masa Nifas


Kebutuhan pada masa nifas menurut sutanto (2019), yaitu:
a. Nutrisi dan cairan gizi
Nutrisi yang terpenuhi pada ibu menyusui akan sangat

38
berpengaruh pada produksi air susu yang sangat dibutuhkan untuk
pertumbuhan dan perkembangan bayi. Makadari itu ibu nifas sangat
perlu membutuhi nutrisi yang baik seperti sayur, buah, dan protein dan
ibu nifas juga perlu banyak minum air 3 liter dalam sehari karena
berpengaruh untuk produksi ASI.
b. Ambulasi dan Mobilasi Dini
Ambulasi dini adalah kebijaksanaan untuk secepat mungkin
membimbing ibu bersalin keluar dari tempat tidur dan membimbing
secepat mungkin untuk berjalan. Ambulasi dini dilakukan secara
berangsur-angsur, pada persalinan normal sebaiknya ambulasi dini
sikerjakan setelah 2 jam (ibu boleh miring ke kiri atau ke kanan).
Keuntungan menjalankan ambulasi dini yaitu melancarkan pengeluaran
lochea, mengurangi infeksi, mempercepat involusi uterus dan
melancarkan peredaran darah.
c. Eliminasi
Ibu bersalin akan sulit nyeri dan panas saat buang air kecil kurang
lebih selama 1-2 hari, terutama dialami oleh ibu yang baru pertama kali
melahirkan melalui persalinan normal padahal BAK secara spontan
normalnya terjadi setiap 3-4 jam. Penyebabnya, trauma kandung kemih
dan nyeri serta pembengkakak pada perineum yang mengakibatkan
kejang pada saluran kencing. Maka ibu di usahakan untuk kencing
secara mandiri ke kamar mandi sendiri jika tidak bisa kencing maka
perlu di rangsang dengan cara mengidupkan keran air dan mengompres
area sympisis ibu dan jika tidak berhasil maka di lakukan kateterisasi
dalam 6 jam setelah postpartum.
d. Kebersihan Diri
Kebersihan diri ibu membantu mengurangi sumber infeksi dan
meningkatkan perasaan nyaman pada ibu. Anjurkan ibu untuk menjaga
kebersihan diri dengan cara mandi yang teratur minimal 2 kali sehari,
mengganti pakaian, dan rutin mencuci rambut. Dan mencuci tangan jika

39
akan memberikan bayi ASI.
e. Seksual
Dinding vagina akan kembali pada keadaan sebelum hamil dalam
waktu 6-8 minggu. Pada saat itu berhubungan seksual aman untuk ibu
atau padas saat ibu sudah bisa memasukan jari tangan 1- 2 pada vagina
dan ibu sudah siap untuk melakukan hubungan sexsual.
f. Kebutuhan perawatan
Payudara Sebaiknya perawatan mammae telah dimulai sejak
wanita hamil supaya puting lemas, tidak keras dan kering sebagai
persiapan untuk menyusui bayinya. Bila bayi meninggal, laktasi harus
dihentikan dengan cara membalut payudara sampai tertekan, pemberian
obat estrogen untuk supresi LH seperti tablet Lynoral dan Pardolel.
g. Istirahat
Istirahat ibu post partum sangat membutuhkan istirahat yang
berkualitas untuk memulihkan kembali keadaan fisiknya.

5. Tanda Bahaya Masa Nifas


Kemenkes RI (2016) ada beberapa tanda bahaya masa nifas yang harus
diperhatikan, diantaranya yaitu :

a. Demam lebih dari 37,5oC


b. Perdarahan aktif dari jalan lahir,
c. Muntah – muntah
d. Rasa sakit saat buang air kecil, pusing atau sakit kepala yang terus
menerus
e. Gangguan penglihatan,
f. Lokhea berbau,
g. Sulit dalam menyusui,
h. Sakit perut yang hebat,
i. Merasa lebih letih dan sedih,

40
j. Pembengkakan,
k. Kehilangan nafsu makan dalam waktu yang lama.

6. Kunjungan Masa Nifas


Menurut Astutik(2019) kunjungan nifas dalam kebijakan program
nasional masa nifas dilakukan pakling sedikit empat kali kunjungan, dengan
tujuan :
a. KF 1 (6 – 8 jam setelah persalinan)
1) Mencegah perdarahan masa nifas oleh karena atonia uteri.
2) Mendeteksi dan perawatan penyebab lain perdarahan serta
melakukan rujukan bila perdarahan berlanjut.
3) Memberikan konseling pada ibu dan keluarga tentang cara
mencegah perdarahan yang disebabkan atonia uteri.
4) Pemberian ASI awal.
5) Mengajarkan cara mempererat hubungan antara ibu dan bayi baru
lahir.
6) Menjaga bayi tetap sehat melalui pencegahan hipotermi.
7) Setelah bidan melakukan pertolongan persalinan, maka bidan harus
menjaga ibu dan bayi untuk 2 jam pertama setelah kelahiran atau
sampai keadaan ibu dan bayi baru lahir dalam keadaan baik.
b. KF 2 (6 hari setelah persalinan )
1) Memastikan involusi uterus berjalan dengan normal, uterus
berkontraksi dengan baik, tinggi fundus uteri di bawah umbilikus,
tidak ada perdarahan abnormal
2) Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi dan perdarahan
3) Memastikan ibu mendapat istirahat yang cukup
4) Memastikan ibu mendapat makanan yang bergizi dan cukup cairan.
5) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan benar serta tidak ada
tanda-tanda kesulitan menyusui.
6) Memberikan konseling tentang perawatan bayi baru lahir

41
c. KF 3 (2 minggu setelah persalinan )
1) Asuhan pada 2 minggu post partum sama dengan asuhan yang
diberikan pada kunjungan 6 hari post partum
d. KF 4 (6 minggu setelah persalinan )
1) Menanyakan penyulit-penyulit yang dialami ibu selama masa nifas.
2) Memberikan konseling KB secara dini.

7. Terapi komplementer Pijat Oksitosin


Pijat oksitosin adalah suatu tindakan pemijatan tulang belakang mulai
dari nervus ke 5 – 6 sampai scapula yang akan mempercepat kerja saraf
parasimpatis untuk menyampaikan perintah ke otak bagian belakang sehingga
oksitosin keluar. Pijat oksitosin ini dilakukan untuk merangsang refleks
oksitosin Atau let down reflex. Selain untuk merangsang let down reflex
manfaat pijat oksitosin adalah memberikan kenyamanan pada ibu, mengurangi
bengkak, mengurangi sumbatan ASI, Merangsang pelepasan hormone
oksitosin, mempertahankan produksi ASI. Manfaat pijat oksitosin bagi ibu
nifas dan ibu menyusui, diantaranya :
a. Mempercepat penyembuhan luka bekas implantasi plasenta
b. Mencegah terjadinya perdarahan post partum
c. Dapat mempercepat terjadinya proses involusi uterus
d. Meningkatkan produksi ASI
e. Meningkatkan rasa nyaman pada ibu menyusui
f. Meningkatkan hubungan psikologis antar ibu dan keluarga
Efek fisiologis dari pijat oksitosin ini adalah merangsang kontraksi otot
polos uterus baik padaproses saat persalinan maupun setelah persalinan.

42
E. Keluaraga berencana (KB)

1. Pengertian Kontrasepsi
Kontrasepsi berasal dari kata kontra, berarti “mencegah” atau “melawan”
dan konsepsi yang berarti pertemuan sel telur yang matang dan sel sperma yang
mengakibatkan kehamilan. Kontrasepsi adalah menghindari terjadinya
kehamilan akibat pertemuan sel telur matang dengan sel sperma (BKKBN, 2013).
Program keluarga berencana (KB) adalah upaya mengatur kelahiran anak, jarak
dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan, melalui promosi, perlindungan,
dan bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga yang
berkualitas. Kontrasepsi merupakan komponen penting dalam pelayanan
Kesehatan reproduksi sehungga dapat mengurangi risiko kematian dan kesakitan
dalam kehamilan (BKKBN, 2013)
2. Jenis – jenis KB
a. Metode Kontrasepsi Jangka Pendek :
1) Metode Amenore Laktasi (MAL) Adalah kontrasepsi yang
mengandalkan pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif, artinya
hanya di berikan ASI tanpa tambahan makanan atau minuman apapun.
2) KB Alamiah yaitu berdasarkan pada siklus masa subur dan tidak masa
subur, dasar utamanya yaitu saat terjadi ovulasi untuk menetukan saat
ovulasi terdapat 3 cara yaitu terdiri dari metode kalender, suhu basal,
dan metode lendir serviks.
3) Metode Barier yaitu kondom, diafragma dan spermisida Kondom
merupakan selubung /sarung karet tipis yang dipasang pada penis
sebagai tempat penampungan sperma yang dikeluarkan pria pada saat
senggama sehingga tidak tercurah pada vagina. Diafragma merupakan
suatu alat yang berfungsi untuk mencegah sperma mencapai serviks
sehingga sperma tidak memperoleh akses ke saluran alat reproduksi atas
(uterus dan tuba fallopi).
4) Senggama terputus Adalah menghentikan senggama dengan mencabut

43
penis dari vagina pada saat suami menjelang ejakulasi
5) Kontrasepsi Kombinasi (Hormon Estrogen dan Progesteron), terdiri
dari:
a) Pil kombinasi Suatu cara kontrasepsi untuk wanita yang berbentuk
pila tau tablet yang berisi gabungan hormonestrogen dan
progestreron (pil kombinasi).
b) Suntikan kombinasi Yaitu suntik KB yang mengandung estrogen
dan proesteron atau sunti KB 1 bulan (cyclofem).
6) Kontrasepsi Progestin, terdiri dari:
a) kontrasepsi suntikan progestin Terdiri dari 2 jenis suntikan hanya
mengandung progestin yaitu:
a) Depo provera: yang di berikan 3 bulan sekali dengan cara
disuntik intramuskuler.
b) Depo noristerat: diberikan 2 bulan sekali dengan cara
disuntik intramuskuler
b) Kontrasepsi pil progestin (Minipil) Yaitu pil yang hanya terdiri
dari hormone progesterone saja (mini pil) mini pil dapat di
konsumsi saat menyusui efektifitas pil sangat tinggi.

b. Metode kontrasepsi jangka Panjang


1) Implant adalah metode kontrasepsi hormonal yang efektif, tidak
permanen dan dapat mencegah terjadinya kehamilan antara tiga sampai
lima tahun. Kontrasepsi implant ini memiliki cara kerja menghambat
terjadinya ovulasi, menyebabkan selaput lendir endometrium tidak siap
untuk menerima pembuahan (nidasi), mengentalkan lendir dan
menipiskan lapisan endometrium dengan efektivitas keberhasilan
kontrasepsi implant sebesar 97-99% (BKKBN, 2013).
2) Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) / Intra Uterine Devices (IUD)
IUD (Intra Uterin Device) atau nama lain adalah AKDR (Alat
Kontrasepsi Dalam Rahim) adalah suatu benda kecil yang terbuat dari

44

Anda mungkin juga menyukai