PENERAPAN APLIKASI E-MODUL BELAJAR AKHLAK
TERPUJI TERHADAP HASIL BELAJAR PESERTA
DIDIK PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN
AGAMA ISLAM DI SEKOLAH DASAR
NEGERI 23 BATARA
Proposal Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Kependidikan IAIN Palopo untuk
Melakukan Penelitian Skripsi dalam Rangka Penyelesaian Studi Jenjang Sarjana
pada Program Studi Pendidikan Agama Islam
Diajukan Oleh
M. Choiruddin Ali Syahputra
20 0201 0033
Pembimbing
1. Muh Agil Amin, [Link]., [Link].
2. Muhammad Yamin, [Link]., [Link].
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEPENDIDIKAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PALOPO
2025
DAFTAR ISI
Daftar Isi.......................................................................................................... i
Bab I Pendahuluan......................................................................................... 1
A. Latar belakang...................................................................................... 1
B. Rumusan masalah................................................................................. 6
C. Tujuan penelitian.................................................................................. 6
D. Manfaat penelitian................................................................................ 6
Bab II Kajian Teori........................................................................................ 8
A. Penelitian terdahulu yang relevan......................................................... 8
B. Landasan teori....................................................................................... 15
C. Kerangka pikir...................................................................................... 27
D. Hipotesis Tindakan...............................................................................
Bab III Metode penelitian.............................................................................. 30
A. Jenis penelitian...................................................................................... 30
B. Tempat dan waktu penelitian................................................................ 30
C. Subjek penelitian.................................................................................. 30
D. Pelaksanaan dan Kolabrator................................................................. 30
E. Rancangan penelitian............................................................................ 31
F. Teknik pengumpulan data..................................................................... 34
G. Teknik analisis data.............................................................................. 36
H. Instrument penelitian............................................................................ 37
I. Indicator keberhasilan........................................................................... 38
Daftar Pustaka................................................................................................... 39
i
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan harus dilihat sebagai proses dan sekaligus sebagai tujuan.
Pendidikan sebagai kegiatan kehidupan dalam masyarakat mempunyai arti
penting, baik bagi individu maupun masyarakat.1 Seorang peserta didik dituntut
untuk tidak terlalu tergantung dengan pendidik dalam proses pembelajaran, setiap
peserta didik harus mampu bersikap mandiri dalam menganalisis dan
menyimpulkan suatu materi pelajaran.2 Adapun peran pendidik adalah sebagai
pembimbing yang bertugas meluruskan dan memperbaiki kesalahan yang
diperbuat oleh peserta didik sehingga mampu di evaluasi untuk menjadi lebih baik
kedepannya.
Era digital merupakan periode yang ditandai dengan adanya teknologi
digital teknologi yang dominan diera ini adalah teknologi internet. Di era digital
saat ini teknologi telah memungkinkan pendidikan untuk menjadi lebih
terjangkau, lebih interaktif dan lebih efisien. Teknologi dapat membantu pendidik
untuk memberikan pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap
peserta didik, dengan teknologi pendidik dan peserta didik dapat mengakses
sumber daya pendidikan
1
Zelhendri Zen Syafril, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan (Jakarta: Prenadamedia Group,
2020).hal 41
2
Leo Agung Nunuk Suryani, Strategi Belajar Mengajar (Yogyakarta: Ombak, 2012).
1
2
dimana saja dan kapan saja, ini dapat membantu peserta didik yang tinggal di
daerah terpencil atau yang tidak memiliki akses ke sumber daya pendidikan yang
cukup.
Teknologi pendidikan merupakan bentuk dari berkembangnya teknologi,
dengan berkembangnya teknologi ini dalam kajian dan praktek pendidikan maka
akan lebih efektif dan lebih mudah juga untuk memecahkan masalah pendidikan.
Mengingat perkembangan bersifat dinamis dan terus menerus mengikuti zaman,
maka keterampilan media pendidikan secara tepat diperlukan oleh setiap peserta
didik. Untuk efektivitas dan efisiensi proses belajar mengajar penggunaan
media/alat dalam pengajaran tentu saja akan membantu pendidik dalam
menyamPendidikan Agama Islamkan materi dan peserta didik mudah memahami
materi dengan baik3. Proses pembelajaran tidak terlepas dari media, metode, dan
hasil belajar. Media pada hakekatnya merupakan salah satu komponen sistem
pembelajaran.4
Menurut Nasution, media pembelajaran adalah sebagai alat bantu
mengajar, yakni penunjang penggunaan metode mengajar yang dipergunakan
pendidik.5 Maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Media
Pembelajaran adalah alat atau bahan yang digunakan dalam proses belajar
mengajar untuk membantu peserta didik memahami materi pelajaran dengan lebih
mudah dan menyenangkan. Media pembelajaran dapat berupa alat bantu visual,
3
Nurrita. (2018). Kata Kunci : Media Pembelajaran dan Hasil Belajar Peserta didik.
Misykat, 03, 171–187.
4
Sadiman, A. S. dk. (2009). Media Pendidikan. Al-Afkar : Jurnal Keislaman &
Peradaban, V(1), 5
5
Ida Widiawati and others, ‘Pemanfaatan Moditif (Modul Digital Kreatif) Untuk
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas 6 SD Mengenai Zakat’, Al-Madrasah: Jurnal
Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, 7.2 (2023), 755 <[Link]
3
audio atau gabungan keduanya. Media pembelajaran juga perlu di perhatikan
kualitas dan kecocokannya dengan tujuan pembelajaran yang ingin
dicaPendidikan Agama Islam, dan harus dikembangkan dengan baik agar sesuai
dengan tujuan pembelajaran karakteristik dan kebutuhan peserta didik agar dapat
meningkatkan hasil belajar yang optimal.
Pendidikan Agama Islam adalah Pendidikan yang bertujuan untuk
memberikan pemahaman dan pengetahuan mengenai ajaran islam, Pendidikan ini
mencakup berbagai aspek pemahaman terhadap Aqidah (Keyakinan), Akhlaq
(Etika dan Moral), Syariah (Hukum Islam) dan Tarikh (Sejarah Islam). Tujuanya
adalah untuk membantu peserta didik dalam memahami ajaran islam yang
komprehensif, sehingga mereka dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan
sehari – hari, adapun beberapa tujuan dari Pendidikan Agama Islam adalah
meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik, membentuk karakter dan
akhlak yang baik, meningkatkan pemahaman tentang ajaran islam, mengajarkan
nilai – nilai keislaman yang sesuai dengan perkembangan zaman, serta bisa
mengembangkan keterampilan dalam beribadah dan beramal shaleh. Selain itu,
Pendidikan Agama Islam juga mengajarkan nilai – nilai toleransi, saling
menghargai, dan menghormati perbedaan antar sesama manusia. Sejalan dengan
hal tersebut Allah [Link] dalam al-Quran Surah al-alaq 1-5 : 96/30
َخ َلَق اِاْلْنَس اَن ِمْن َعَل ٍۚق١ ِاْقَر ْأ ِباْس ِم َر ِّبَك اَّلِذْي َخ َل َۚق
َعَّلَم اِاْلْنَس اَن َما٤ اَّلِذْي َعَّلَم ِباْلَقَل ِۙم٣ ِاْقَر ْأ َوَر ُّبَك اَاْلْكَر ُۙم٢
٥ َلْم َيْعَل ْۗم
Terjemahnya:
4
1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! 2) Dia
menciptakan manusia dari segumpal darah. 3) Bacalah! Tuhanmulah Yang
Maha Mulia, 4) yang mengajar (manusia) dengan pena. 5) Dia
mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.6
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa surat al-'Alaq ayat 1
samPendidikan Agama Islam 5 merupakan risalah Allah yang menyikapi awal
mula kecintaan dan rahmat-Nya kepada umat-Nya sekaligus sebagai tanbih
(peringatan) mengenai fase awal penciptaan manusia dari awal hingga akhir.
'alaqah. Ayat ini juga menjelaskan kebesaran Allah Swt yang telah
menganugerahkan hikmah kepada umat manusia informasi yang selama ini
mereka abaikan.7
Dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi
maka digiring dengan Upaya penyelesaian masalah yang ada dengan segala
kecanggihan teknologi. Masalah yang ada membuat peneliti merancang suatu
penelitian untuk menyelesaikan masalah utama yaitu Bagaimana Media Aplikasi
E-modul Belajar Akhlak Terpuji di terapkan dalam pembentukan akhlak terpuji
di kelas VI Sekolah Dasr Negeri 23 Batara.
Berdasarkan hasil obervasi awal ketika peneliti melaksanakan kunjungan
di Sekolah Dasar Negeri 23 Batara, menunjukkan bahwa proses pembelajaran
ditempat tersebut masih kurang maksimal, yang mana pada saat proses
pembelajaran berlangsung pendidik hanya menggunakan metode ceramah dan
tanya jawab. Media yang digunakan dalam pembelajaran pun hanya papan tulis
6
Kementrian Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemahnya (Jakarta: PT. Lajnah Pentashihan Mushaf,
2019).
7
Ibnu Kasir,Tiara Anggraini, ‘Menganalisis Surat Al-Alaq Tentang Belajar Berdasarkan Tafsir
Tarbawi’, Pendidikan Agama Islam, 2.3 (2024), 186.
5
dan buku cetak. Sehingga kegiatan belajar mengajar terlihat kurang menarik dan
peserta didik merasa bosan.
Sebagian besar peserta didik sangat jarang terlibat aktif dalam mengajukan
pertanyaan atau melontarkan pendapat, walaupun pendidik berulang kali meminta
peserta didik untuk bertanya jika ada yang kurang jelas atau belum dipahami.
Begitu pula sebaliknya pada saat pendidik bertanya tidak ada satupun dari peserta
didik yang mengangkat tangan atau mengancungkan jari untuk memberikan
sebuah pertanyaan. Bahkan beberápa peserta didik mulai membuat kegaduhan dan
bercanda dengan peserta didik lainnya. Oleh karena itu banyak peserta didik
terlihat malas, tidak percaya diri dalam mengerjakan soal- soal latihan dan hasil
belajar yang yang di dapatkan kurang memuaskan.
Permasalahan tersebut menunjukkan bahwa peserta didik kurang aktif
ketika pembelajaran berlangsung, seperti pada saat diskusi kelompok, mengajukan
pertanyaan, mengerjakan tugas, dan memperhatikan penjelasan dari pendidik. Hal
ini berkaitan dengan model yang diterapkan oleh pendidik dalam proses
pembelajaran tersebut.
Metode ceramah yang diterapkan tersebut kurang meningkatkan hasil
belajar peserta didik untuk belajar Pendidikan agama Islam dan budi pekerti,
oleh karena itu, dibutuhkan suatu model pembelajaran yang dapat melibatkan
peserta didik secara aktif dengan menggunakan media yang menarik selama
proses pembelajaran, seperti penggunaan media gambar dalam
pembelajaran. Dengan mencermati uraian yang dipaparkan, peneliti mencoba
6
menerapkan model pembelajaran yang kooperatif dalam Proses Pembelajaran
Pendidikan Agama Islam terhadap peserta didik kelas VI Sekolah Dasar Negeri
23 Batara, dengan tujuan untuk meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama
Islam agar tercapai dengan baik membuat peserta didik aktif dalam proses
pembelajaran di dalam kelas.
Berdasarkan hal tersebut maka Pendidikan Agama Islam memiliki aspek
dan cakupan materi yang lumayan luas, serta waktu penelitian yang juga
terbatas maka berdasarkan pada pertimbangan tersebut, Peneliti merasa perlu
untuk menentukan batasan masalah dari penelitian ini, peneliti tidak akan
mengambil materi Pendidikan Agama Islam secara keseluruhan melainkan
hanya mengambil satu materi saja. Adapun fokus utama penelitian ini terletak
pada materi akhlak terpuji.
Terkait hal tersebut peneliti tertarik untuk mengangkat sebuah judul
berdasarkan permasalahan yang ada maka peneliti berkeinginan untuk melakukan
penelitian yang berjudul “Penerapan Aplikasi E-modul Belajar Akhlak Terpuji
Terhadap Hasil Belajar Peserta didik Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama
Islam di Sekolah Dasar Negeri 23 Batara”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti dapat merumuskan
permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana penerapan aplikasi e-modul belajar akhlak terpuji pada
pembelajaran Pendidikan agama islam kelas VI di Sekolah Dasar Negeri
23 Batara?
7
2. Bagaimana peningkatan terhadap hasil belajar peserta didik kelas VI di
Sekolah Dasar Negeri 23 Batara?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan diatas, maka dari
penelitian ini adalah sebagai tujuan penelitian yaitu:
1. Untuk mengetahui penerapan aplikasi e-modul belajar akhlak terpuji pada
pembelajaran Pendidikan Agama Islam kelas VI di Sekolah Dasar Negeri
23 Batara.
2. Untuk mengetahui pengaruh penggunaan media aplikasi e-modul belajar
akhlak terpuji terhadap hasil belajar peserta didik kelas VI di Sekolah
Dasar Negeri 23 Batara.
D. Manfaat Penelitian
Berdasarakan hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat
yang mendalam dan komperensif terhadap peneliti, khususnya lnstansi atau
lembaga terkait. Secara ideal penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dari
beberapa aspek, diantaranya sebagai berikut.
1. Manfaat Praktis
a. Bagi Sekolah
Sebagai bahan acuan untuk meningkatkan mutu dan kualitas pada proses
pembelajaran di Sekolah Dasar Negeri 23 Batara sehingga peserta didik menjadi
lebih antusias dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas khususnya pada mata
pelajaran Pendidikan Agama Islam.
b. Bagi Pendidik
8
Meningkatkan keterampilan pendidik dalam pembelajaran Pendidikan
Agama Islam dengan menggunakan Aplikasi E-modul Belajar Akhlak Terpuji
sehingga akan berdampak pada kualitas pendidik yang semakin meningkat dan
kualitas pembelajaran di kelas yang lebih baik kedepannya.
c. Bagi Peserta Didik
1) Memberikan suasana yang menarik sehingga peserta didik lebih
termotivasi untuk belajar
2) Meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap mata pelajaran
Pendidikan Agama Islam
2. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapakan dapat memberikan kontribusi yang positif
terhadap:
a. Kajian tentang penerapan aplikasi e-modul belajar akhlak dalam
pembelajaran Pendidikan Agama Islam disekolah dasar.
b. Penelitian ini dapat dijadikan rujukan tentang penerapan e-modul belajar
akhlak dalam pembelajaran.
8
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Penelitian Terdahulu Yang Relevan
Penelitian ini berjudul penerapan aplikasi e-modul belajar akhlak terpuji
terhadap hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran pendidikan agama islam
di Sekolah Dasar Negeri 23 Batara. Berdasarkan judul penelitian tersebut,
sebelumnya telah diangkat oleh beberapa peneliti sebagai obyek penelitian yang
berbeda. Adapun permasalahan tersebut akan dijadikan sebagai bahan rujukan dan
yang dilakukan peneliti. Berikut ini beberapa penelitian terdahulu yang dijadikan
peneliti sebagai perbandingan terhadap penelitian ini adalah:
Pertama, Megawati Firdaus. Dengan Judul Pengembangan E-modul
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbantuan Canva pada Materi
Mengonsumsi Makanan dan Minuman yang Halal dan Menjauhi yang Haram di
SMPN 7 Kota Palopo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui analisis
kebutuhan peserta didik terhadap pengembangan e-modul pembelajaran
pendidikan agama Islam, untuk mengetahui kevalidan e-modul dan untuk
mengetahui kepraktisan e-modul. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian
R&D (Research and Development). Peneliti menggunakan model pengembangan
ADDIE dengan lima tahap pengembangan yaitu tahap analysis (analisis), design
(desain), development (pengembangan), implementation (penerapan) dan
evaluation (evaluasi). Penelitian ini dilakukan di SMPN 7 kota Palopo. Subjek
8
9
dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas VIII B tahun ajaran 2022/2023.
Teknik pengumpulan data dalam
9
9
penelitian ini adalah lembar validasi dan angket praktikalitas. Adapun teknik
analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dan deskriptif
kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa e-modul pembelajaran
pendidikan agama Islam yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan peserta
didik. Hasil validasi e-modul pembelajaran pendidikan agama Islam yaitu validasi
ahli media memperoleh persentase 79,16% dengan kriteria valid dan hasil validasi
ahli materi memperoleh persentase 85% dengan kriteria sangat valid. Untuk uji
kepraktisan e-modul yang diperoleh dari pendidik memperoleh persentase 96,5%
dengan kategori sangat praktis dan uji kepraktisan e-modul yang diperoleh dari
peserta didik memperoleh persentase 89,5% dengan kategori sangat praktis.
Maka, e-modul pembelajaran pendidikan agama Islam berbatuan canva pada
materi mengonsumsi makanan dan minuman yang halal dan menjauhi yang haram
layak digunakan dalam proses pembelajaran.8
Kedua, Asmiani. Dengan judul Pengembangan Modul Pendidikan Agama
Islam Materi Thaharah Di Kelas VII Sekolah Menengah Pertama Negeri 5
Palopo. Penelitian ini menghasilkan berupa modul pembelajaran pendidikan
agama Islam. Selain itu dalam modul telah dicantumkan beberapa halaman yaitu:
halaman sampul, kata pengantar, daftar isi, glosarium, halaman KD dan KI,
halaman materi, halaman contoh soal, kisah teladan, panduan penggunaan bahan
ajar, peta konsep, tujuan pembelajaran, renungan, daftar pustaka dan sampul
belakang. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 5 Palopo. Hasil validasi produk
media pembelajaran dari ahli media dan ahli materi/isi memperoleh presentase
8
Megawati Firdaus, ‘Halal Dan Menjauhi Yang Haram Agama Islam Berbantuan Canva
Pada Materi’, 2023.
10
masing-masing 90,3% dan 100% dengan rata-rata skor presentase 90,15% yang
artinya sangat valid. Untuk uji kepraktisan modul diperoleh dari pendidik mata
pelajaran pendidikan agama Islam dan respon peserta didik di SMP Negeri 5
Palopo masing-masing memperoleh presentase 100% dan 97,3% dengan rata-rata
skor presentase 98% dengan kategori sangat praktis. Berdasarkan hasil yang
diperoleh pada pengembangan modul pembelajaran pendidikan agama Islam
dapat menjadi modul pembelajaran yang praktis digunakan.9
Ketiga, Vira Syelvia Putri. Dengan judul Pengembangan E-modul
Pembelajaran Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti
di SMA. Jenis peneltian ini adalah penelitian pengembangan yang dikenal dengan
istilah Research & Development (R&D) dengan model pengembangan 4-D.
Model 4- D yang terdiri atas 4 tahap utama, yaitu define (pendefenisian), design
(Perancangan), develop (pengembangan), dan disseminate (penyebaran). Hasil
penelitian pengembangan e-modul pembelajaran yang dikembangkan memperoleh
tingkat validitas 97% untuk materi dengan kategori "Sangat Valid". Aspek media
yang di uji oleh d validator, validator pertama 99% dengan kategori "Sangat
Valid" dan oleh validator kedua 99% dengan kategori "Sangat Valid". Hasil
respon peserta didik mendapat tingkat kepraktiktisan 89% dengan kategorik
"sangat praktis". Berdasarkan hasil uji validitas dan praktikalitas dapat
disimpulkan bahwa produk e-modul pembelajaran telah siap dikembangkan dan
praktis digunakan dalam proses pembelajaran dikelas maupun proses
9
Asmiani, ‘Pengembangan Modul Pendidikan Agama Islam Materi Thaharah Di Kelas
VII Sekolah Menengah Pertama Negeri 5 Palopo’, 2023.
11
pembelajaran secara mandiri pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan
Budi Pekerti.
Keempat, Hajar Ismail. Dengan judul Pengembangan Media Pembelajaran
E-modul Berbasis Aplikasi Canva dan Heyzine Pada Mata Pelajaran Pendidikan
Agama Islam di SMPN 03 Palopo. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian
R&D (Research and Development), dengan model pengembangan ADDIE
(Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation), Subjek dalam
penelitian ini adalah peserta didik kelas VIII SMPN 03 Palopo tahun ajaran
2022/2023. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah lembar analisis,
lembar validasi, angket praktikalitas, tes hasil belajar. Adapun teknik analisis data
yang digunakan adalah analisis deskriptif kualiltatif dan deskriptif kuntitatif. Hasil
penelitian ini menunjukan bahwa e-modul pendidikan agama Islam dari segi
kevalidan telah memenuhi kriteria valid dengan perolehan skor 84,24% oleh ahli
media, 95% oleh ahli materi dan 81,81% oleh ahli bahasa. Memenuhi kriteria
praktis dengan perolehan skor 98% oleh pendidik dan 91% oleh peserta didik. E-
modul berbasis aplikasi canva dan heyzine juga efektif digunakan dalam
pembelajaran karena telah diperoleh ketuntasan klasikal 93% tes uraian dan 87%
tes pilihan ganda. Dengan demikian e-modul pendidikan agama Islam berbasis
aplikasi canva dan heyzine pada materi pengamalan salat sunnah layak digunakan
dalam prose pembelajaran.10
10
Hajar Ismail, ‘Pengembangan E-modul Berbasis Aplikasi Canva Dan Heyzine Pada
Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 03 Palopo.
(Skripsi). Fakultas Tarbiyah Dan Ilmu Kependidikan, Institut Agama Islam Negeri Palopo’, 2023,
2023.
12
Kelima, Angelina Martha Yuniar. Dengan Judul Penerapan E-modul Suhu
Dan Kalor Berbasis Stem Terhadap Motivasi Belajar Dan Pemahaman Konsep
Peserta didik Di Sman 3 Kota Jambi. penelitian ini dilakukan di SMAN 3 Kota
jambi. Subjek dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas XI SMAN 3 Kota
Jambi. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian kuantitatif deskriptif.
Desain penelitian ini menggunakan pre- eksperimental designs jenis one group
pretest posttest design. Penelitian ini dilaksanakan sebanyak 2 kali pertemuan
pada bulan februari 2023. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu terjadi
peningkatan dari pretest-postest terhadap motivasi belajar dan pemahaman konsep
peserta didik pada materi suhu dan kalor di kelas XI mipa 5. SMAN 3 Kota
Jambi. Pada motivasi belajar nilai uji t sebesar 3.964>1.690 dengan demikian
terima Ha dan tolak. Begitu juga dengan pemahaman konsep nilai uji t sebesar
4.722>1.690 dengan demikian terima Ha dan tolak. Sehingga dikatakan bahwa
terdapat peningkatan dari pretest ke postest terhadap motivasi belajar dan
pemahaman konsep peserta didik.11
Tabel 2.2 Penelitian terdahulu yang relevan
No. Penelitian Persamaan Perbedaan
Terdahulu
1. Megawati Firdaus. Sama-sama Perbedaan peneliti
Dengan Judul menggunakan bahan dengan peneliti pertama
Pengembangan E- ajar yaitu E-modul yaitu peneliti
11
Angelina Martha Yuniar, ‘Penerapan E-modul Suhu Dan Kalor Berbasis STEM
Terhadap Motivasi Belajar Dan Pemahaman Konsep Peserta didik Di SMAN 3 Kota Jambi’, AT-
TAWASSUTH: Jurnal Ekonomi Islam, VIII.I (2023), 1–19.
13
modul Pembelajaran menggunakan
Pendidikan Agama penelitian PTK
Islam Berbantuan sedangkan peneliti
Canva pada Materi pertama menggunakan
Mengonsumsi penelitian
Makanan dan pengembangan
Minuman yang
Halal dan Menjauhi
yang Haram di
SMPN 7 Kota
Palopo
2. Asmiani. Dengan Sama-sama Perbedaan peneliti
judul menggunakan bahan dengan peneliti kedua
Pengembangan ajar yaitu E-modul yaitu peneliti meneliti
Modul Pendidikan pada tingkat Sekolah
Agama Islam Materi Dasar Negeri
Thaharah Di Kelas sedangkan peneliti
VII Sekolah kelima pada tingkat
Menengah Pertama SMPN
Negeri 5 Palopo.
3. Vira Syelvia Putri. Sama-sama Perbedaan peneliti
Dengan judul menggunakan bahan dengan peneliti Ketiga
Pengembangan E- ajar yaitu E-modul yaitu peneliti
14
modul Pembelajaran menggunakan
Pada Mata penelitian PTK
Pelajaran sedangkan peneliti
Pendidikan Agama ketiga menggunakan
Islam dan Budi penelitian
Pekerti di SMA. pengembangan
4. Hajar Ismail. Sama-sama Perbedaan peneliti
Dengan judul mengajarkan mata dengan peneliti
Pengembangan Pelajaran Pendidikan Keempat yaitu peneliti
Media Agama Islam menggunakan
Pembelajaran E- penelitian PTK
modul Berbasis sedangkan peneliti
Aplikasi Canva dan keempat menggunakan
Heyzine Pada Mata penelitian
Pelajaran pengembangan
Pendidikan Agama
Islam di SMPN 03
Palopo.
5. Angelina Martha Sama-sama Perbedaan peneliti
Yuniar. Dengan menggunakan bahan dengan peneliti Kelima
Judul Penerapan E- ajar yaitu E-modul yaitu peneliti
modul Suhu Dan menggunakan
Kalor Berbasis Stem penelitian PTK
15
Terhadap Motivasi sedangkan peneliti
Belajar Dan kelima menggunakan
Pemahaman Konsep penelitian kuantitatif
Peserta didik Di
Sman 3 Kota Jambi.
B. Landasan Teori
1. Penerapan
Secara umum Penerapan dalam kamus besar Indonesia berarti pelaksanaan
atau penerapan. Istilah suatu penerapan biasanya dikaitkan dengan suatu kegiatan
yang dilaksanakan untuk mencaPendidikan Agama Islam tujuan tertentu.
Penerapan merupakan sebuah penempatan ide, konsep, kebijakan, atau inovasi
dalam suatu tindakan praktis sehingga memberikan dampak, baik berupa
perubahan pengetahuan, keterampilan maupun nilai dan sikap. 12
penerapan atau pelaksanaan adalah perluasan aktivitas yang saling
menyesuaikan proses interaksi antara tujuan dan tindakan untuk mencaPendidikan
Agama Islamnya serta memerlukan jaringan pelaksana, birokrasi yang efektif.13
2. Model Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran kooperatif merupakan bentuk pembelajan
mengutamakan adanya kelompok-kelompok. Pembelajaran koperatif pada
dasarnya bertujuan untuk mengaktifkan peserta didik dalam pembelajaran,
12
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Badan Pengembangan
dan Pembinaan Bahasa, Penerapan, 2016.
13
Ali Miftakhu Rosad, ‘Penerapan Pendidikan Karakter Melalui Managemen Sekolah’,
Tarbawi: Jurnal Keilmuan Manajemen Pendidikan, 5.02 (2019), 173
<[Link]
16
sehingga pengalaman belajar yang dirasakan akan bermakna dan berarti karena
dengan melalui pembelajaran kooperatif. Dengan menggunakan e-modul
mengaktifkan peserta didik untuk menemukan atau memahami gambar/video
yang sudah disajikan dalam e-modul.
Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dengan cara
peserta didik belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara
kolaboratif yang anggotanya terdiri dari dua hingga empat orang peserta didik
dengan struktur kelompok bersifat heterogen.14
Pembelajaran dengan metode ini, dapat memenuhi semua aspek
pencapaian materi pembelajaran yaitu dari segi afektif, psikomotorik, maupun
dari aspek kognitif peserta didik.
a. Langkah-Langkah Model Pembelajaran kooperatif
Langkah–langkah metode pembelajaran kooperatif diantaranya: 15
1. Pendidik membuka pelajaran.
2. Pendidik menyampaikan kepada peserta didik untuk mendownload aplikasi
e-modul
3. Pendidik mengarahkan kepada peserta didik untuk membaca dan menonton
video yang ada dalam e-modul
4. Pendidik meminta peserta didik untuk mendiskusikan dengan teman
sebangkunya tentang pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam e-modul.
14
Eni Fariyatul Fahyuni Nurdyansyah, Inovasi Model Pembelajaran (Sidoarjo: Nizamia
Learning Center, 2016).53
15
Martina Napra Tilora Nurlianti, ‘Pelaksanaan Metode Pembelajaran Oleh Pendidik
Fikih Di Madrasah Ibtidaiyah Al- Rasyid Simpang Tiga Sungai Luar Kecamatan Batang Tuaka’,
Mitra PGMI, 6.7 (2020), 43.
17
5. Pendidik meminta kepada peserta didik untuk mempresentasikan hasil
diskusi yang di dapatkan teman sebangkunya secara bergiliran.
6. Pendidik memberikan klarifikasi jawaban atau menambahkan penjelasan
mengenai pertanyaan yang ada di e-modul.
b. Kelebihan Model Pembelajaran Kooperatif
Johonson dalam Trianto, menyatakan: 1). Pendidik lebih mengetahui
kemampuan masing-masing peserta didik. 2). Melatih berpikir logis dan
sistematis 3). Membantu peserta didik belajar berpikir berdasarkan sudut pandang
suatu subjek bahasa dengan memberikan kebebasan peserta didik dalam praktik
berpikir. 4). Mengembangkan motivasi untuk belajar yang lebih baik. 5). Peserta
didik dilibatkan dalam perencanaan dan pengelolaan kelas.16
c. Kekurangan model pembelajaran kooperatif
Ervan Septiady menyatakan: 1. Memakai banyak waktu 2. Banyak peserta
didik yang pasif 3. Pendidik khawatir akan terjadi kekacauan di kelas. 4. Banyak
peserta didik yang tidak senang apabila disuruh bekerja sama dengan yang 5.
Dibutuhkan dukungan fasilitas, alat dan biaya yang cukup memadai Untuk
mengatasi kekurangan tersebut di atas, pembentukan kelompok dilakukan secara
heterogen agar anak yang kurang aktif berinteraksi dengan anak yang aktif, begitu
juga dengan anak yang kurang pandai dicampur dengan anak yang pandai.17
Metode pembelajaran kooperatif akan memungkinkan peserta didik lebih
aktif di dalam kelas karena peserta didik diberikan sajian gambar,video dan
audio yang ada dalam e-modul materi yang dibahas selanjutnya peserta didik
16
Trianto Johonson, ‘Model Pembelajaran Kooperatif’, Jurnal Obsesi, 6.2 (2021), 125.
17
Ervan Septiady, Model Kooperatif Untuk Meningkatkan Pemahaman Sejarah, 2020.
18
diarahkan untuk berdiskusi bersama kelompoknya dan menguraikan maksud
dari gambar dan video yang ada dalam e-modul.18
Langkah-langkah pembelajaran dari model kooperatif menjadi perhatian
bagi seorang pendidik, agar skenario pembelajaran yang telah dibuat dan
disusun dapat berjalan sebagaimana mestinya. Terlebih pada proses
pembelajaran yang sedang berlangsung seorang pendidik dihadapkan oleh
peserta didik atau peserta didik yang masih sangat dibawah umur, tentunya
perhatian ekstra kepada pesertan didik perlu ditingkatkan oleh seorang
pendidik.
Langkah-langkah yang perlu diperhatikan dengan kelebihan dan
kelemahan ini diharapkan dapat membantu pendidik kapan saatnya dapat
menerapkan model pembelajaran ini, dengan penggunaan model ini tentu
kemudahan dalam proses pembelajaran akan terlihat terlebih memungkinkan
peserta didik akan lebih paham dalam menerima pembelajaran yang diberikan
oleh pendidik.
3. E-modul
E-modul adalah sumber belajar yang berisi pokok bahasan, strategi belajar
serta langkah mengevaluasi yang disusun secara runtut guna menarik serta
mencapai kompetensi sesuai dengan kurikulum secara elektronik. Kemudian
pengertian e-modul adalah modul yang dikombinasikan dengan teknologi serta
berisi penggalan-penggalan kata dengan pertanyaan pada Setiap penggalan.19
18
Martina Napra Tilora Nurlianti, ‘Pelaksanaan Metode Pembelajaran Kooperatif Oleh
Pendidik Fikih Di Madrasah Ibtidaiyah Al- Rasyid Simpang Tiga Sungai Luar Kecamatan Batang
Tuaka’, Mitra PGMI, 6.1 (2020), 40.
19
Wiwik Okta Susilawati, ‘Pengembangan E-modul Pembelajaran Perkembangan Sosial
Aud Berbasis Karakter Menggunakan Software Flipbook Maker’, Inspiratif Pendidikan, 10.2
(2021), 1 <[Link]
19
Dengan adanya kemajuan teknologi yang pesat sekarang, dapat
memudahkan peserta didik dalam mengakses elektronik modul dengan
menggunakan android ataupun PC untuk menemukan materi pembelajaran yang
mereka butuhkan.20 Hal tersebut sangat memudahkan akses peserat didik dalam
memepelajari dan memahami lebih luas pembelajaran yang diberikan serta
menjadikan elektronik modul sebagai bagian dari sumber belajar peserta didik.
Untuk mempermudah peserta didik mempelajari topik sendiri, instruktur
menulis alat pendidikan yang disebut modul. Ada dua macam modul yang
dikembangkan dalam bidang pendidikan saat ini: modul cetak dan elektronik.
Untuk mempermudah peserta didik mempelajari topik sendiri, instruktur menulis
alat pendidikan yang disebut modul. Ada dua macam modul yang dikembangkan
dalam bidang pendidikan saat ini: modul cetak dan elektronik.21
Berdasarkan definisi yang diberikan dapat disimpulkan bahwa peserta didik
dapat belajar mandiri dengan modul berdasarkan kemampuannya dalam
mengingat materi. Modul adalah sarana atau alat pembelajaran yang memuat isi,
pendekatan, batasan, dan teknik penilaian yang disusun secara metodis dan kreatif
untuk mencaPendidikan Agama Islam kompetensi yang diperlukan sesuai dengan
tingkat kerumitannya. Modul adalah sumber daya instruksional yang terdiri dari
tujuan pembelajaran, panduan penggunaan, deskripsi isi, abstrak, penilaian dan
umpan balik, serta kegiatan tindak lanjut sistematis yang berfungsi sebagai alat
pembelajaran yang berdiri sendiri. E-modul sangat direkomendasikan dalam
20
Hasbi Hasbi, Hasriadi Hasriadi, and Nurul Hikmah Azhari, ‘Aksiologi Perpustakaan
Sebagai Sumber Belajar Mahapeserta didik Program Studi Pendidikan Agama Islam Iain Palopo’,
Kelola: Journal of Islamic Education Management, 8.2 (2023), 315–144
<[Link]
21
Najuah, Pristi Suhendro Lukitoyo, and Winna Wirianti, Modul Elektronik: Prosedur
Penyusunan Dan Aplikasinya, Yayasan Kita Menulis. (Yayasan Kita Menulis, 2020).
20
penerapan pembelajaran di kelas.22 Sekaligus menjadi media pembelajaran yang
digunakan dalam proses belajar mengajar di kelas.
Penggunaan media pembelajaran sangatlah penting untuk menunjang
proses belajar peserta didik. Hal ini terjadi karena media pembelajaran dapat
memberikan berbagai manfaat. Salah satu manfaat dari penggunaan media
pembelajaran adalah dapat meningkatkan daya serap dan pemahaman
peserta didik terhadap materi pelajaran.23
a. Manfaat dan kelebihan Elektronik modul
Dengan adanya penggunaan elektronik modul maka akan jauh lebih
memudahkan peserta didik dalam mengakses materi pembelajarannya. Beberapa
keunggulan yang dapat diperoleh dari e-modul karena fasilitas dan
kemudahannya, seperti:24
1) Mengalihkan fokus peserta didik dari membuka hal-hal yang tidak berguna di
ponsel dan jaringan internet ke arah kesempatan belajar yang lebih
bermanfaat.
2) Memberikan kesempatan kepada peserta untuk melihat materi pembelajaran
yang menarik dan interaktif yang menarik minat mereka.
3) Menawarkan cara untuk membantu peserta didik menggunakan teknologi
informasi dan komunikasi secara bijaksana.
22
Suci Prihatiningtyas and Fatikhatun Nikmatus Sholihah, Physics Learning By E-
Module (LPPM Universitas KH. A. Wahab Hasbullah, 2020).
23
St Marwiyah, Muhammad Ihsan, and Muh Yamin, ‘Media Pembelajaran Inovatif
Berbasis Lingkungan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di Pondok Pesantren Pengkendekan
Luwu Utara Pendahuluan,4.2(2023),531539<[Link]
article/view/426%0A[Link]
download/426/290>.
24
Fatika Wulandari, Relsas Yogica, and Rahmawati Darussyamsu, ‘Analisis Manfaat
Penggunaan E-modul Interaktif Sebagai Media Pembelajaran Jarak Jauh di Masa Pandemi Covid-
19’, Khazanah Pendidikan, 15.2 (2022), 139–144.
21
4) Suka atau tidak suka dengan pengajar, pemberdayaan mereka untuk mengatasi
kendala yang ditimbulkan oleh kemajuan informasi dan teknologi akan
berdampak pada bidang pendidikan dan pembelajaran.
Kelebihan Elektronik modul dibandingkan dengan modul konvensional
adalah:25
1) Lebih menawan karena kemampuan multimedianya (gambar, animasi, musik,
dan video).
2) Lebih menarik karena peserta didik mampu menilai suatu kemampuan sendiri
dan mengambil tindakan setelah mempelajari temuan evaluasi mandiri.
3) Paperless, dengan demikian penggunaan kertas bisa berkurang.
4) Multiplatform, Modul elektronik kompatibel dengan sejumlah gadget, seperti
laptop, komputer desktop.
b. kekurangan e-modul
E-modul pembelajaran juga tidak terlepas dari kekurangan. Adapun
beberapa kekurangan e-modul dapat dilihat sebagai berikut:
1) Bagus atau tidaknya suatu modul bergantung pada keahlian penyusunnya.
Perancangan materi e-modul harus memiliki pengetahuan tentang komputer
berbasis pembelajaran untuk mendesain lingkungan pembelajaran yang
efektif.
2) E-modul hanya bisa diakses menggunakan jaringan internet melalui perangkat
elektronik berupa komputer, laptop atau handphone. Jika perangkat tersebut
tidak tersedia maka e-modul tidak dapat digunakan.
25
Anggraini Diah Puspitasari, ‘Penerapan Media Pembelajaran Fisika Menggunakan
Modul Cetak Dan Modul Elektronik Pada Peserta didik SMA’, JPF (Jurnal Pendidikan Fisika)
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, 7.1 (2019), 17–25.
22
c. Karakteristik e-modul
Karakteristik e-modul diangkat dari modul yang berupa cetak, karena
karakter yang dimiliki modul dapat diterapkan pada e-modul. Modul dapat
dikatakan sebagai modul yang baik, apabila modul tersebut mampu meningkatkan
motivasi belajar. Oleh karena itu, pengembangan modul harus memperhatikan dan
memenuhi beberapa karakteristik sebagai berikut:
2) Self Instructional; modul dapat dipelajari sendiri (mandiri), tidak bergantung
kepada pihak lain.
3) Self Contained; modul dikatakan self contained bila seluruh materi
pembelajaran yang dibutuhkan termuat dalam modul tersebut.
4) Stand Alone; modul tidak bergantung pada bahan ajar/media lain.
5) Adaptive; modul menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi (IPTEK).
6) User Friendly; modul yang bersahabat dengan pemakainya dapat diperhatikan
melalui penggunaan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti secara
umum, termasuk kemudahan pemakai dalam merespon dan mengakses sesuai
dengan keinginan.
d. Komponen Modul
komponen modul pembelajaran adalah sebagai berikut; 1) Adanya tujuan
pembelajaran; 2) Materi Ajar; 3) Latihan yang disajikan untuk menerapkan
keterampilan dan kompetensi yang sedang dipelajari; 4) Umpan balik yang
menjadi indikator tentang kualitas latihan yang dilakukan pembelajar.26
26
Elfita Rahmi, Nurdin Ibrahim, and Dwi Kusumawardani, ‘Pengembangan Modul
Online Sistem Belajar Terbuka Dan Jarak Jauh Untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Pada
Program Studi Teknologi Pendidikan’, Visipena, 12.1 (2021), 44–66
23
4. Pendidikan Agama Islam Dan Budi Pekerti
1. Pendidikan Agama Islam dan Budi pekerti
Pengertian pembelajaran berbeda dengan istilah pengajaran, perbedaannya
terletak pada orientasi subjek yang difokuskan, dalam istilah pengajaran pendidik
merupakan subjek yang lebih berperan aktif dalam kegiatan belajar mengajar,
sedangkan pembelajaran memfokuskan pada peserta didik. Untuk memahami
hakikat pembelajaran dapat dilihat dari dua segi, yaitu dari segi bahasa
(etimologis) dan istilah (terminologis). Secara bahasa, kata pembelajaran
merupakan terjemahan dari bahasa Inggris, instruction yang bermakna sederhana
“upaya untuk membelajarkan seseorang atau kelompok orang, melalui berbagai
upaya (effort) dan berbagai strategi, metode dan pendekatan ke arah tujuan yang
telah direncanakan”.27
Dapat dipahami bahwa pembelajaran merupakan sebuah sistem, yaitu
suatu totalitas yang melibatkan berbagai komponen yang saling berinteraksi.
Untuk mencapai interaksi pembelajaran, sudah tentu perlu adanya komunikasi
yang jelas antara pendidik dan peserta didik, sehingga akan terpadu dua kegiatan,
yaitu tindakan penyampaian ilmu pengetahuan melalui kegiatan mengajar (usaha
pendidik) dan tindakan perubahan tingkah laku melalui kegiatan belajar (usaha
peserta didik) yang berguna untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran
juga dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan pendidik secara terpadu
dalam desain instruksional (instructional design) untuk membuat peserta didik
<[Link]
27
Zakarya , ‘Peran Pendidik Pendidikan Agama Islam Dalam Meningkatkan Motivasi
Belajar Peserta Didik Di SMA Muhammadiyah 1 Surakarta’, Attractive : Innovative Education
Journal, 5.2 (2023), 909–18 <[Link]
24
atau peserta didik belajar secara aktif (student active learning), yang menekankan
pada penyediaan pada sumber belajar.
Beberapa ahli merumuskan pengertian pembelajaran sebagai berikut;
1) Menurut Syaiful Sagala, pembelajaran adalah membelajarkan peserta didik
menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar yang merupakan penentu
utama keberhasilan pendidikan. Pembelajaran merupakan proses komunikasi
dua arah. Mengajar dilakukan oleh pihak pendidik sebagai pendidik,
sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik. 28
2) Menurut Corey, pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan
seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam
kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu.29
3) Menurut Oemar Hamalik, pembelajaran adalah suatu kombinasi yang
tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material fasilitas, perlengkapan
dan prosedur yang saling mempengaruhi dalam mencapai tujuan
pembelajaran. Manusia yang terlibat dalam sistem pembelajaran terdiri atas
peserta didik, pendidik dan tenaga lainnya, misalnya tenaga laboratorium.
Material meliputi buku-buku, papan tulis fotografi, slide dan film, audio dan
video tape. Fasilitas dan perlengkapan terdiri dari ruangan kelas,
perlengkapan audio visual juga komputer. Prosedur meliputi jadwal dan
28
Syaiful, Damiati Muhamad Nurasikin Junaedi Masduki Asbari, ‘Prinsip Pembelajaran
Dalam Kurikulum Merdeka’, Journal Of Information Systems And Management, 03.02 (2024),
11–17.
29
Corey, Asbari. Damiati Muhamad Nurasikin Junaedi Masduki Asbari, ‘Prinsip
Pembelajaran Dalam Kurikulum Merdeka’, Journal Of Information Systems And Management,
03.02 (2024), 11–17.
25
metode penyamPendidikan Agama Islaman informasi, praktek, belajar, ujian
dan sebagainya.30
Pembelajaran sebagai aktivitas yang tidak hanya didominasi oleh pendidik
saja, ataupun sebaliknya, namun keduanya memiliki peran yang sama pentingnya
untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sedangkan Corey lebih memandang
pembelajaran sebagai proses penyampaikan pengetahuan (transfer of knowledge)
sehingga mengutamakan pengelolaan lingkungan agar peserta didik dapat
menghasilkan respon yang baik berupa penerimaan informasi secara maksimal.
Menurut Dzakiyah Darajat, Pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha untuk
membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami
kandungan ajaran Islam secara menyeluruh, menghayati makna tujuan, yang pada
akhirnya dapat mengamalkan dan menjadikan Islam sebagai pandangan hidup.31
Pendidikan Agama Islam merupakan usaha sadar yang dilakukan
pendidik dalam mempersiapkan peserta didik untuk meyakini, memahami dan
mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau pelatihan
yang telah direncanakan untuk mencaPendidikan Agama Islam tujuan yang telah
ditetapkan. Adapun esensi pendidikan, yaitu adanya proses transfer nilai,
pengetahuan, dan keterampilan dari generasi tua agar generasi muda dapat hidup.
Oleh karena itu, ketika dikaitkan dengan pendidikan Islam, maka akan mencakup
dua hal, yaitu; (a) mendidik peserta didik untuk berperilaku sesuai dengan nilai-
30
Oemar Hamalik, Asbari. Damiati Muhamad Nurasikin Junaedi Masduki Asbari,
‘Prinsip Pembelajaran Dalam Kurikulum Merdeka’, Journal Of Information Systems And
Management, 03.02 (2024), 11–17.
31
Asbari. Damiati Muhamad Nurasikin Junaedi Masduki Asbari, ‘Prinsip Pembelajaran
Dalam Kurikulum Merdeka’, Journal Of Information Systems And Management, 03.02 (2024),
11–17.
26
nilai atau akhlak Islam. (b) mendidik peserta didik untuk mempelajari materi
ajaran Islam.
Dari beberapa penjelasan di atas, maka dapat dipahami bahwa pendidikan
agama Islam adalah upaya untuk menanamkan nilai-nilai keislaman kepada
peserta didik melalui bimbingan dan pelatihan yang telah direncanakan agar
peserta didik dapat menggunakannya baik sebagai pola pikirnya maupun landasan
hidupnya dengan menjadikan Ibadah sebagai orientasi tujuannya. Sedangkan
makna pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah suatu upaya membuat
peserta didik dapat belajar, butuh belajar, terdorong belajar, mau belajar dan
tertarik untuk terus-menerus mempelajari agama Islam, baik untuk mengetahui
bagaimana cara beragama yang benar maupun mempelajari Islam sebagai
pengetahuan. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dapat mengaktualisasikan
apa yang terdapat dalam kurikulum agama Islam sebagai kebutuhan peserta didik
secara menyeluruh yang mengakibatkan beberapa perubahan tingkah laku peserta
didik baik dalam ranah kognitif, afektif maupun psikomotor. Secara umum
pendidikan agama Islam bertujuan untuk mentransfer pengetahuan, pemahaman,
dan pengamalan sehingga peserta didik memiliki bekal untuk meningkatkan
keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt dan sekaligus untuk dapat menjadi
warga Negara yang baik, serta dikemudian hari mereka dapat melanjutkan
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.32
Dari penjelasan mengenai pembelajaran dan Pendidikan Agama Islam
penulis menyimpulkan bahwa pembelajaran Pendidikan Agama Islam dapat
32
Abdul Rahim Karim, ‘Reafirmasi Pendidikan Agama Islam Melalui Sistem Boarding
School Di Sekolah Umum’, Jurnal Pendidikan Agama Islam Al-Thariqah, 5.1 (2020), 38–49
<[Link]
27
diartikan sebagai usaha yang terencana untuk menciptakan suasana belajar bagi
peserta didik untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki, yang dengan
pengembangan pengetahuan itu maka mereka akan mengalami perubahan tingkah
laku menuju arah yang lebih baik sesuai tuntunan Al-Qur’an dan sunnah untuk
dapat bermuamalah dengan masyarakat maupun dengan Khalik (habl min Allah
wa habl min al-Nas).33
C. Kerangka Pikir
Penelitian ini diawali dengan permasalahan yang didapatkan di
Sekolah Dasar Negeri 23 Batara. Dalam hal peningkatan hasil belajar
peserta didik pada mata Pelajaran Agama Islam, proses belajar mengajar di
sekolah dianggap kurang efektif. Proses pembelajaran di sekolah terhambat
oleh minimnya penggunaan media pembelajaran. Media pembelajaran e-
modul merupakan salah satu media pembelajaran yang memberikan
kesempatan kepada peserta didik untuk dapat bekerja sendiri kemudian
bekerja sama dengan orang lain dalam proses pembelajaran yang dilakukan.
Maka dari itu peneliti menyusun bagan yang akan menjadi kerangka pikir
pada penelitian tindakan kelas, dan menjadi acuan dalam penelitian, yaitu
sebagai berikut:
33
Heru Setiawan and siti zakiah, ‘Konsep Metode Pembelajaran Pendidikan Agama
Islam’, At Ta’Lim, 4.2 (2022), 12–22.
28
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam peserta didik kelas VI Sekolah Dasar
Negeri 23 Batara
1. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam belum
Kondisi Awal menggunakan media pembelajaran e-modul
2. Peserta didik tidak terlibat aktif dalam
pembelajaran Pendidikan Agama Islam
1. Menggunakan media
pembelajaran e-modul belajar Siklus I
Tindakan
akhlak terpuji dan II
2. PTK Model spiral dari Kemmis
and MC Tanggart
Terjadi peningkatan terhadap hasil belajar peserta
Kondisi didik dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Akhir dengan menggunakan media pembelajaran e-modul
akhlak terpuji
Gambar 2.1 Bagan kerangka pikir
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action
research). Penelitian tindakan dalam bidang pendidikan yang dilaksanakan dalam
kawasan kelas dengan tujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas
pembelajaran. Secara singkat PTK dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk
penelaahan penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan
tertentu agar dapat memperbaiki dan meningkatkan praktik- praktik pembelajaran
di kelas secara lebih professional yang dilakukan pada semester genap tahun
pelajaran 2024/2025.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri 23 Batara pada peserta
didik kelas VI dengan waktu penelitian dilaksanakan Setelah keluarnya surat izin
penelitian semester genap tahun pelajaran 2024/2025
C. Subjek Penelitian
Adapun subyek dalam penelitian ini adalah 20 peserta didik kelas VI di
Sekolah Dasar Negeri 23 Batara
D. Pelaksana dan kolaborator
Kolaborator adalah kerjasama antara praktisi (pendidik, kepala sekolah,
peserta didik dan lain-lain) serta peneliti dalam pemahaman, kesepakatan tentang
permasalahan, pengambilan keputusan yang akhirnya melahirkan kesamaan
tindakan. Melalui kerja sama, mereka secara bersama menggali dan mengkaji
29
permasalahan nyata yang dihadapi. Terutama pada kegiatan mendiagnosis
masalah,
30
31
menyusun usulan, melaksanakan tindakan, menganalisis data, menyeminarkan
hasil dan menyusun laporan akhir yang menjadi kolaborator di sini adalah
Perencana
pendidik dan peserta didik kelas VI Sekolah Dasar Negeri 23 Batara.
Refleksi Siklus Ke-1 Pelaksana
E. Rancangan Penelitian
Ada beberapa ahli yang mengemukakan
Pengamat model penelitian tindakan dengan
bagan yang berbeda, namun secara garis besar terdapat empat tahapan yang lazim
Perencana
dilalui, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan (observasi), dan refleksi.
Refleksidan penjelasan untuk
Adapun model Siklus Ke-2
masing-masing Pelaksana
tahap adalah sebagai berikut
Pengamat
Gambar 3.1 Penelitian Tindakan Kelas
Prosedur penelitian tindakan kelas ini terdiri dari 4 tahap. Secara rinci
prosedur penelitian Tindakan kelas ini sebagai berikut:
a. Siklus I
1) Perencanaan
32
a) Merencanakan proses pelaksanaan media Pembelajaran e-modul pada mata
pelajaran Pendidikan Agama Islam materi akhlak terpuji.
b) Mengembangkan skenario media pembelajaran dengan membuat RPP
c) Menyusun LOS (Lembar Observasi Peserta didik)
d) Menyusun kuis (tes)
2) Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan yang dilaksanakan tahap ini yaitu melaksanakan proses
pembelajaran dengan media pembelajaran e-modul pada mata pelajaran
Pendidikan Agama Islam materi akhlak terpuji yang telah direncanakan
diantaranya:
1. Pendidik membuka pelajaran.
2. Pendidik menyampaikan kepada peserta didik untuk mendownload aplikasi
e-modul
3. Pendidik mengarahkan kepada peserta didik untuk membaca dan menonton
video yang ada dalam e-modul
4. Pendidik meminta peserta didik untuk mendiskusikan dengan teman
sebangkunya tentang pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam e-modul.
5. Pendidik meminta kepada peserta didik untuk mempresentasikan hasil
diskusi yang di dapatkan teman sebangkunya secara bergiliran.
6. Pendidik memberikan klarifikasi jawaban atau menambahkan penjelasan
mengenai pertanyaan yang ada di e-modul.
7. Penutup
3) Observasi
33
Kolaborator mengamati keaktifan peserta didik pada proses pelaksanaan
media pembelajaran e-modul pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam pada
materi akhlak terpuji
4) Refleksi
a) Meneliti hasil kerja peserta didik terhadap kuis yang diberikan.
b) Menganalisis hasil pengamatan untuk membuat kesimpulan sementara
terhadap pelaksanaan pengajaran pada siklus 1.
c) Mendiskusikan hasil analisis untuk tindakan perbaikan pada pelaksanaan
kegiatan penelitian dalam siklus II.
b. Siklus II
Setelah melakukan evaluasi tindakan I, maka dilakukan tindakan II. Langkah-
langkah siklus II adalah sebagai berikut:
1) Perencanaan
a) Mengidentifikasi masalah-masalah khusus yang dialami pada siklus
sebelumnya.
b) Membuat RPP
c) Menyusun LOS
d) Menyusun kuis (tes)
2) Pelaksanaan tindakan
Kegiatan yang dilaksanakan tahap ini yaitu Pengembangan rencana tindakan
II dengan melaksanakan tindakan upaya lebih meningkatkan hasil belajar peserta
34
didik dalam proses pelaksanaan media pembelajaran e-modul pada mata pelajaran
Pendidikan Agama Islam materi Akhlak terpuji.
3) Observasi
Kolaborator mencatat semua proses yang terjadi dalam proses belajar
mengajar media pembelajaran, mendiskusikan tentang tindakan II yang telah
dilakukan mencatat kelemahan baik ketidaksesuaian antara skenario dengan
respon dari peserta didik yang mungkin tidakdiharapkan.
4) Refleksi
a) Meneliti hasil kerja peserta didik terhadap kuis yang diberikan.
b) Menganalisis hasil pengamatan untuk membuat kesimpulan sementara
terhadap pelaksanaan pengajaran pada siklus II.
c) Mendiskusikan hasil analisis untuk tindakan perbaikan pada pelaksanaan
kegiatan penelitian dalam siklus berikutnya.
F. Teknik Pengumpulan Data
1. Jenis Data
Adapun jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif
dan kuantitatif yang terdiri dari:
1. Data tentang keaktifan peserta didik.
2. Data tentang kerjasama peserta didik.
3. Data tentang pelaksanaan pembelajaran oleh pendidik.
4. Data tentang evaluasi hasil belajar peserta didik
2. Teknik Pengumpulan Data
35
1. Metode Observasi
Metode Observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses
yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis Teknik pengumpulan
data dengan observasi digunakan bila penelitian berkenaan dengan perilaku
manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak
terlalu besar. Metode observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan
secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada obyek penelitian.
Metode observasi digunakan untuk mengumpulkan data dengan cara
mengadakan pengamatan langsung terhadap aktivitas peserta didik dalam proses
pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Agama Islam materi pokok
akhlak terpuji di kelas VI Sekolah Dasar Negeri 23 Batara sebelum dan sesudah
menggunakan media pembelajaran e-modul dengan menggunakan pree tes dan
post tes
2. Metode Tes
Metode tes adalah seperangkat rangsangan (stimuli) yang mendapat jawaban
yang dapat dijadikan dasar bagi penetapan skor angka.
Metode tes ini digunakan untuk mengetahui hasil belajar peserta didik
sebelum dan sesudah menggunakan media pembelajaran e-modul pada mata
pelajaran Pendidikan Agama islam materi akhlak terpuji di kelas VI Sekolah
Dasar Negeri 23 Batara sebagai bentuk evaluasi.
36
c. Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel
yang berupa catatan, buku, transkip, surat kabar majalah, prasasti. notulen rapat,
legger, agenda dan sebagainya.
Metode ini digunakan untuk memperoleh data mengenai seluk beluk proses
pembelajaran mata pelajaran matematika materi pokok bangun ruang di kelas VI
Sekolah Dasar Negeri 23 Batara dengan menggunakan media pembelajaran e-
modul seperti RPP, LOS dan daftar nama peserta didik
G. Teknik Analsis Data
Kemudian Data-data yang diperoleh dari penelitian baik melalui
pengamatan, tes atau menggunakan metode yang lain kemudian diolah dengan
analisis deskriptif untuk menggambarkan keadaan peningkatan pencaPendidikan
Agama Islaman indikator keberhasilan tiap siklus dan untuk menggambarkan
keberhasilan pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Agama Islam materi akhlak
terpuji di kelas VI Sekolah Dasar Negeri 23 Batara setelah menerapkan media
pembelajaran e-modul.
Adapun teknik pengumpulan data yang berbentuk kuantitatif berupa data
data yang disajikan berdasarkan angka-angka maka menggunakan analisis
deskriptif persentase dengan rumus sebagai berikut:
Skor yang dicaPendidikan Agama Islam
Persentase ¿ × 100
Jumlah Peserta didik
%
37
H. Instrumen Penelitian
Instrumen yang peneliti gunakan untuk menilai tingkat keberhasilan
peserta didik adalah:
1. Instrumen evaluasi
Instrumen evaluasi adalah alat untuk memperoleh data hasil belajar
yangtelah diberikan kepada peserta didik Sedang bentuk tes yang digunakan
adalah tes tertulis berupa soal sebanyak 4 soal masing masing pada siklus ini,
dimana setiap item yang benar nilai 25 dan salah 0.
Tabel 3.1
ContohTabel Model Penilaian Hasil Belajar
NO Nama Nilai Ketuntasan
2. Lembar observasi
Lembar observasi adalah lembar pengamatan yang harus diisi oleh observer.
Lembar observasi berisi tentang aktifitas peserta didik dalam pembelajaran.
Tabel 3.2
Contoh Tabel Lembar Observasi
Sintak Model Kegiatan Keterlaksanaan dalam pembelajaran
38
Pembelajaran Pembelajaran Ya Tidak
Fase 1:
Project
Fase 2:
Activity
Fase 3:
Cooperative
Fase 4 :
Exercise
I. Indikator Keberhasilan
Untuk menganalisis persentase keberhasilan belajar peserta didik, peneliti
menggunakan rumus yang dikemukakan oleh aqila dalam Dwi Silvia, yaitu
sebagai berikut:34
jumlah peserta didik yang tuntas belajar
Persentase ¿ × 100%
Jumlah seluruh Peserta didik
Sedangkan untuk mengetahui tingkat keberhasilan penelitian Tindakan ini
apabila dalam meningkatnya hasil belajar berupa kemampuan pembuktian mata
pelajaran Pendidikan Agama Islam materi pokok akhlak terpuji ditandai rata-rata
nilai yang dicaPendidikan Agama Islam diatas KKM 70 sebanyak 75% dari
jumlah peserta didik.
34
dan M. Husni Abdullah Dewi Silvia Indrawati, ‘Penerapan Model Pembelajaran Project
Based Learning Untuk Meningkatkan Hasil Belaja Siswa Kelas V Sekolah Dasar’, JPGSD, 7.6
(2020), 3546.
39
DAFTAR PUSTAKA
Agama RI, Kementrian, Al-Qur’an Dan Terjemahnya (Jakarta: PT. Lajnah
Pentashihan Mushaf, 2019)
Anggraini, Tiara, ‘Menganalisis Surat Al-Alaq Tentang Belajar Berdasarkan
Tafsir Tarbawi’, Pendidikan Agama Islam, 2.3 (2024), 186
Asbari, Damiati Muhamad Nurasikin Junaedi Masduki, ‘Prinsip Pembelajaran
Dalam Kurikulum Merdeka’, Journal Of Information Systems And
Management, 03.02 (2024), 11–17
Asmiani, ‘Pengembangan Modul Pendidikan Agama Islam Materi Thaharah Di
Kelas VII Sekolah Menengah Pertama Negeri 5 Palopo’, 2023
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia, Penerapan, 2016
Dewi Silvia Indrawati, dan M. Husni Abdullah, ‘Penerapan Model Pembelajaran
Project Based Learning Untuk Meningkatkan Hasil Belaja Siswa Kelas V
Sekolah Dasar’, JPGSD, 7.6 (2020), 3546
Ervan Septiady, Model Kooperatif Untuk Meningkatkan Pemahaman Sejarah,
2020
Hasbi, Hasbi, Hasriadi Hasriadi, and Nurul Hikmah Azhari, ‘Aksiologi
Perpustakaan Sebagai Sumber Belajar Mahasiswa Program Studi Pendidikan
Agama Islam Iain Palopo’, Kelola: Journal of Islamic Education
Management, 8.2 (2023), 315–144
<[Link]
Ismail, Hajar, ‘Pengembangan E-Modul Berbasis Aplikasi Canva Dan Heyzine
Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Di Sekolah Menengah
Pertama (SMP) Negeri 03 Palopo. (Skripsi). Fakultas Tarbiyah Dan Ilmu
Keguruan, Institut Agama Islam Negeri Palopo’, 2023, 2023
Johonson, Trianto, ‘Model Pembelajaran Kooperatif’, Jurnal Obsesi : Jurnal
Pendidikan Anak Usia Dini, 6.2 (2021), 125
Karim, Abdul Rahim, ‘Reafirmasi Pendidikan Agama Islam Melalui Sistem
Boarding School Di Sekolah Umum’, Jurnal Pendidikan Agama Islam Al-
Thariqah, 5.1 (2020), 38–49 <[Link]
thariqah.2020.vol5(1).5082>
Marwiyah, St, Muhammad Ihsan, and Muh Yamin, ‘Media Pembelajaran Inovatif
Berbasis Lingkungan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di Pondok
Pesantren Pengkendekan Luwu Utara Pendahuluan’, Jurnal Dirosah
Islamiyah, Vol [Link] 2 (2023), 25
<[Link]
://[Link]/journals/[Link]/contents/article/download/
40
426/290>
Megawati Firdaus, ‘Halal Dan Menjauhi Yang Haram Agama Islam Berbantuan
Canva Pada Materi’, 2023
Najuah, Pristi Suhendro Lukitoyo, and Winna Wirianti, Modul Elektronik:
Prosedur Penyusunan Dan Aplikasinya, Yayasan Kita Menulis. (Yayasan
Kita Menulis, 2020)
Nunuk Suryani, Leo Agung, Strategi Belajar Mengajar (Yogyakarta: Ombak,
2012)
Nurdyansyah, Eni Fariyatul Fahyuni, Inovasi Model Pembelajaran (Sidoarjo:
Nizamia Learning Center, 2016)
Nurlianti, Martina Napra Tilora, ‘Pelaksanaan Metode Pembelajaran Kooperatif
Oleh Pendidik Fikih Di Madrasah Ibtidaiyah Al- Rasyid Simpang Tiga
Sungai Luar Kecamatan Batang Tuaka’, Mitra PGMI, 6.1 (2020), 40
———, ‘Pelaksanaan Metode Pembelajaran Oleh Pendidik Fikih Di Madrasah
Ibtidaiyah Al- Rasyid Simpang Tiga Sungai Luar Kecamatan Batang Tuaka’,
Mitra PGMI, 6.7 (2020), 43
Prihatiningtyas, Suci, and Fatikhatun Nikmatus Sholihah, Physics Learning By E-
Module (LPPM Universitas KH. A. Wahab Hasbullah, 2020)
Puspitasari, Anggraini Diah, ‘Penerapan Media Pembelajaran Fisika
Menggunakan Modul Cetak Dan Modul Elektronik Pada Siswa SMA’, JPF
(Jurnal Pendidikan Fisika) Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, 7.1
(2019), 17–25
Rahmi, Elfita, Nurdin Ibrahim, and Dwi Kusumawardani, ‘Pengembangan Modul
Online Sistem Belajar Terbuka Dan Jarak Jauh Untuk Meningkatkan
Kualitas Pembelajaran Pada Program Studi Teknologi Pendidikan’, Visipena,
12.1 (2021), 44–66 <[Link]
Rosad, Ali Miftakhu, ‘Penerapan Pendidikan Karakter Melalui Managemen
Sekolah’, Tarbawi: Jurnal Keilmuan Manajemen Pendidikan, 5.02 (2019),
173 <[Link]
Setiawan, Heru, and siti zakiah, ‘Konsep Metode Pembelajaran Pendidikan
Agama Islam’, At Ta’Lim, 4.2 (2022), 12–22
Susilawati, Wiwik Okta, ‘Pengembangan E-Modul Pembelajaran Perkembangan
Sosial Aud Berbasis Karakter Menggunakan Software Flipbook Maker’,
Inspiratif Pendidikan, 10.2 (2021), 1
<[Link]
Syafril, Zelhendri Zen, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan (Jakarta: Prenadamedia
Group, 2020)
Widiawati, Ida, Ari Rismayanti Azzahra, Rahma Isnaini Fadila, and Ani Nur
41
Aeni, ‘Pemanfaatan MODITIF (Modul Digital Kreatif) Untuk Pembelajaran
PAI Kelas 6 SD Mengenai Zakat’, Al-Madrasah: Jurnal Pendidikan
Madrasah Ibtidaiyah, 7.2 (2023), 755
<[Link]
Wulandari, Fatika, Relsas Yogica, and Rahmawati Darussyamsu, ‘Analisis
Manfaat Penggunaan E-Modul Interaktif Sebagai Media Pembelajaran Jarak
Jauh Di Masa Pandemi Covid-19’, Khazanah Pendidikan, 15.2 (2022), 139–
44
Yuniar, Angelina Martha, ‘Penerapan E-Modul Suhu Dan Kalor Berbasis STEM
Terhadap Motivasi Belajar Dan Pemahaman Konsep Siswa Di SMAN 3 Kota
Jambi’, AT-TAWASSUTH: Jurnal Ekonomi Islam, VIII.I (2023), 1–19
Zakarya, Hafidz, Martaputu, and Husna Nashihin, ‘Peran Guru Pendidikan
Agama Islam Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik Di SMA
Muhammadiyah 1 Surakarta’, Attractive : Innovative Education Journal, 5.2
(2023), 909–18 <[Link]