Judul: "Kita yang Berbeda, Tapi Sama"
Tokoh:
Lina, siswi kelas 11 SMA, usia 16 tahun. Cerdas, peka, dan sedang tumbuh menjadi remaja yang
lebih terbuka pada dunia.
(Panggung sederhana. Sebuah bangku dan meja belajar. Sebuah tas ransel tergeletak. Lina
masuk pelan, meletakkan ranselnya. Ia berdiri menghadap penonton, ekspresi seperti ingin
cerita tapi ragu-ragu.)
Lina:
Terkadang banyak sekali pertanyaan yang timbul dalam pikiranku
Bisa mengganggu…., bisa juga menjadi sebuah tantangan untuk kita cari jawabannya…
(berpikir tentang suatu hal yang mengganggunya)
Kenapa ya, kita sering merasa lebih nyaman sama orang yang “mirip” sama kita?
Yang satu selera, satu gaya, satu lingkaran.
Apa karena itu lebih aman? Lebih mudah?
Aku Lina. 16 tahun. Kelas 11.
Anak biasa yang duduk di tengah, bukan anak paling pinter di kelas, tapi juga nggak pernah
remed.
Aku suka baca. Suka diam di perpustakaan, kadang dibilang kutu buku.
Aku juga suka nulis puisi, walau belum pernah berani posting di mana-mana.
(Ia duduk di bangku, membuka ranselnya lalu mengeluarkan buku catatan.)
Aku punya buku ini, isinya cerita-cerita kecil soal temen-temenku.
Tentang hal-hal yang dulu aku anggap "aneh", tapi sekarang aku tahu... mereka cuma
"berbeda".
(Ia tersenyum kecil.)
Misalnya Raka.
Anak yang badannya paling tinggi di kelas dan suaranya keras.
Dia dari Papua, pindah ke kota ini sejak SMP.
Waktu pertama kali dia presentasi, beberapa anak ketawa pelan karena logatnya.
Ada yang bisik-bisik, “Ngomongnya lucu ya.”
Padahal, isi presentasinya bagus banget. Rapi. Tertata. Dan dia paham banget apa yang dia
omongin.
Tapi ya gitu… kadang kita lebih fokus ke cara orang ngomong, bukan ke isi yang dia sampaikan.
Aku ingat waktu aku tanya ke Raka, "Kamu marah enggak sih waktu itu?"
Dia jawab, "Enggak, aku udah biasa. Tapi capek juga, sih."
(Lina terdiam sejenak. Lalu berdiri pelan.)
Capek.
Capek dianggap “berbeda” seolah-olah itu salah.
Padahal, siapa sih yang sama persis?
Bahkan anak kembar aja bisa beda kepribadian.
(Lina berjalan perlahan ke depan panggung, seperti mendekat ke penonton.)
Di kelas aku juga ada Ratna.
Dia paling heboh soal drama Korea, suka banget nge-dance.
Instagram-nya penuh dengan video dia joget dan makeup tutorial.
Ada yang bilang dia lebay.
Tapi tahu nggak?
Pas kita lomba pensi sekolah, yang pertama maju ngajarin koreografi ya… Ratna.
Dan justru karena dia beda dari kebanyakan, kita punya sesuatu yang unik di tim kita.
(Ia berhenti. Senyum kecil muncul.)
Terus... ada Wulan.
Anak yang paling tenang, paling rajin nyatet, dan paling hemat.
Wulan pernah bilang dia bawa bekal terus karena harus bantu ibunya hemat uang jajan.
Pernah suatu kali, aku dengar ada yang bilang, “Ih, pelit banget sih, masa enggak mau patungan
terus.”
Aku pengen teriak, “Dia bukan pelit! Dia sedang berjuang!”
Tapi... waktu itu aku diem. Dan aku nyesel.
(Ia duduk kembali. Nada mulai melambat.)
Dulu aku kira, semua orang punya hidup yang kira-kira sama.
Ternyata enggak.
Ada yang bisa liburan ke luar negeri, ada yang bantu orang tuanya jualan habis pulang sekolah.
Ada yang dijemput pakai mobil, ada yang naik sepeda setiap hari.
Tapi kita semua duduk di kelas yang sama, dengerin guru yang sama, dan…
kita semua manusia. Punya cerita. Punya beban. Punya impian.
(Lina membuka buku catatan, menatapnya sebentar, lalu membacakan satu paragraf.)
"Perbedaan bukan masalah. Yang jadi masalah adalah saat kita menolak untuk memahami.
Karena perbedaan itu seperti warna.
Satu warna nggak cukup untuk bikin lukisan. Tapi kalau semua warna disatukan... kita bisa bikin
pelangi."
(Ia menutup buku dan menatap lurus ke depan.)
Aku tahu, kadang memang butuh keberanian buat mendekati yang beda.
Tapi setelah aku nyoba... rasanya malah lebih hidup.
Aku jadi tahu dunia lebih luas dari yang aku kira.
Bahwa orang-orang yang berbeda dari aku... justru ngajarin aku jadi versi terbaik diriku.
Sekarang, aku enggak lagi takut sama perbedaan.
Aku malah bersyukur karena temen-temenku unik.
Karena dari mereka, aku belajar banyak hal yang enggak pernah aku pelajari dari buku.
(Ia tersenyum hangat. Berdiri kembali. Nada suara naik penuh semangat.)
Kita bisa satu sekolah, satu angkatan...
Tapi kita tumbuh di rumah yang berbeda.
Kita punya cerita, luka, dan cita-cita yang beda.
Dan justru itu yang bikin kita kaya.
Karena kita ini bukan salinan fotokopi.
Kita ini... kolase.
Potongan-potongan warna yang kalau disatukan… bisa jadi karya luar biasa.
(Ia melangkah pelan ke tengah panggung. Menatap jauh.)
Aku Lina. Aku mungkin beda dari kamu.
Kamu juga beda dari aku.
Tapi selama kita mau saling mendengarkan, saling mengerti, dan saling bantu...
Kita bisa jalan bareng, meski pijakan kita berbeda.
Dan menurutku… itu yang bikin kita manusia.
(Lampu mulai redup. Musik lembut mengalun. Lina memeluk buku catatannya, menatap
penonton sekali lagi, lalu berjalan pelan ke belakang panggung.)