0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
232 tayangan48 halaman

Proposal Umpri

Skripsi ini menganalisis gaya bahasa gaul dalam konten Reza Arap, seorang konten kreator populer di media sosial, dan bagaimana gaya tersebut membentuk persona digital serta mempengaruhi pola komunikasi generasi muda. Penelitian ini menyoroti pentingnya bahasa gaul sebagai fenomena sosiolinguistik yang mencerminkan dinamika budaya digital dan identitas sosial. Selain itu, skripsi ini juga mengidentifikasi kritik terhadap penggunaan bahasa yang dianggap vulgar dan implikasinya dalam konteks komunikasi publik.

Diunggah oleh

radelasafayuma
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
232 tayangan48 halaman

Proposal Umpri

Skripsi ini menganalisis gaya bahasa gaul dalam konten Reza Arap, seorang konten kreator populer di media sosial, dan bagaimana gaya tersebut membentuk persona digital serta mempengaruhi pola komunikasi generasi muda. Penelitian ini menyoroti pentingnya bahasa gaul sebagai fenomena sosiolinguistik yang mencerminkan dinamika budaya digital dan identitas sosial. Selain itu, skripsi ini juga mengidentifikasi kritik terhadap penggunaan bahasa yang dianggap vulgar dan implikasinya dalam konteks komunikasi publik.

Diunggah oleh

radelasafayuma
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ANALISIS GAYA BAHASA GAUL TERHADAP

KONTEN REZA ARAP

SKRIPSI

Oleh :

MUHAMMAD SYAFA FIRDAUS


NPM : 2022406403005

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PRINGSEWU
2025
HALAMAN PERSETUJUAN

ANALISIS GAYA BAHASA GAUL TERHADAP KONTEN REZA ARAP

PROPOSAL PENELITIAN

Oleh :
MUHAMMAD SYAFA FIRDAUS
NPM : 2022406403005

Mengetahui,
Komisi Pembimbing

Pembimbing I Pembimbing II,

Dwi Fitriyani, [Link]. Amy Sabila, [Link]


NIDN 0221078204. NIDN 0230019001

Ketua Program Studi PBSI

Dr. Izhar, [Link]


NIDN 0208028601

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
berkat dan rahmat-Nyalah sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang
berjudul "Analisis Gaya Bahasa Gaul Terhadap Konten Reza Arap" tepat pada
waktunya. Adapun tujuan dari penulisan skripsi ini adalah untuk memperoleh
gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Pada kesempatan ini, penulis hendak menyampaikan terima kasih kepada
semua pihak yang telah memberikan dukungan moril maupun materiil sehingga
skripsi penelitian ini dapat selesai. Ucapan penulis tujukan kepada :

1. Ns. Arena Lestari, [Link]., [Link], J., Ph.D selaku Rektor Universitas
Muhammadiyah Pringsewu Lampung.
2. Nurfaizal, [Link]. selaku Dekan Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Pringsewu Lampung.
3. Dr. Izhar, [Link] selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia Universitas Muhammadiyah Pringsewu Lampung.
4. Dwi Fitriyani, [Link]. selaku dosen Pembimbing 1 yang telah memberikan
bimbingan, arahan, masukan. dan motivasi sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi penelitian ini.
5. Amy Sabila, [Link]., selaku Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan,
arahan, masukan, dan motivasi sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi
penelitian ini.
6. Seluruh dosen dan staf pengajar Universitas Muhammadiyah Pringsewu
Lampung yang telah membekali ilmu selama penulis kuliah di Universitas
Muhammadiyah Pringsewu Lampung.
7. Orang tua dan keluarga yang senantiasa memberikan doa dan dukungannya.
8. Teman, Sahabat dan Orang Terkasih yang menjadi penyemangat dan pelipur
letih.
9. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu, yang telah
memberikan dukungan.

ii
Penulis berusaha menyelesaikan penulisan skripsi ini sebaik mungkin,
penulis menyadari bahwa skripsi ni masih ada kekurangan. Oleh karena itu,
penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca guna
menyempurnakan segala kekurangan dalam penyusunan skripsi ini dengan
harapan berguna bagi pembaca dan pihak lainnya.

Pringsewu, 2024
Peneliti

Muhammad Syafa Firdaus


NPM. 2022406403005

iii
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI............................................................................................................i
DAFTAR GAMBAR..............................................................................................ii
DAFTAR TABEL..................................................................................................iii
BAB I.......................................................................................................................1
PENDAHULUAN...................................................................................................1
A. Latar Belakang..............................................................................................1
B. Identifikasi Masalah......................................................................................5
C. Fokus Masalah..............................................................................................6
D. Rumusan Masalah.........................................................................................6
E. Tujuan Penelitian..........................................................................................6
F. Manfaat Penelitian........................................................................................6
BAB II.....................................................................................................................8
LANDASAN PUSTAKA........................................................................................8
A. Kajian Pustaka...............................................................................................8
1. Sosiolinguistik............................................................................................8
2. Gaya Bahasa............................................................................................11
3. Bahasa Indonesia dalam Konteks Media Sosial......................................15
4. Media Sosial Tik Tok sebagai Saluran Komunikasi................................17
5. Dinamika Sosial dan Budaya dalam Penggunaan Bahasa.......................19
B. Kajian Penelitian yang relevan...................................................................21
C. Kerangka Berpikir.......................................................................................23
BAB III..................................................................................................................26
METODE PENELITIAN....................................................................................26
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian..................................................................26
B. Sumber Data................................................................................................28
C. Metode dan Instrumen Pengumpulan Data.................................................29
D. Keabsahan Data..........................................................................................31
E. Teknik Analisis Data...................................................................................37

iv
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................38

v
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kerang Berpikir………………………………………………………………………24

vi
DAFTAR TABEL

vii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menurut Saputra & Dinata (2024) Di era digital yang berkembang

pesat, media sosial telah menjadi panggung utama bagi ekspresi diri dan

interaksi sosial, terutama di kalangan generasi muda. Platform seperti

YouTube, Instagram, dan TikTok tidak hanya mengubah cara individu

menyampaikan pesan, tetapi juga meredefinisi bentuk komunikasi publik.

Dalam konteks ini, bahasa mengalami transformasi signifikan: tidak lagi

sekadar alat formal, melainkan menjadi wahana kreativitas dan identitas. Gaya

bahasa gaul, sebagai salah satu manifestasi dari perubahan ini,

merepresentasikan dinamika linguistik yang tumbuh bersama perkembangan

budaya digital.

Hootsuite (2024) mencatat bahwa sekitar 77,8% masyarakat Indonesia

aktif menggunakan media sosial, dengan pengguna dominan berasal dari

kelompok usia 16–34 tahun. Tingginya intensitas penggunaan media sosial

oleh kelompok usia produktif ini turut memengaruhi pola komunikasi mereka.

Bahasa yang digunakan dalam platform daring menjadi cermin dari

perkembangan budaya populer, termasuk ekspresi linguistik yang

menonjolkan unsur spontanitas, kedekatan, dan kekhasan kelompok sosial

tertentu. Hal ini menjadikan bahasa gaul sebagai fenomena sosiolinguistik

yang penting untuk dikaji.

1
Penggunaan bahasa gaul di media sosial menciptakan semacam ruang

semantik baru yang memungkinkan munculnya identitas linguistik khas

generasi digital. Bahasa tidak hanya menjadi alat komunikasi, melainkan juga

sarana simbolik untuk membentuk dan memperkuat relasi sosial. Dalam dunia

para influencer, gaya bahasa yang digunakan menjadi instrumen penting

dalam membangun kedekatan emosional dengan audiens, memperkuat

keaslian persona digital, serta menciptakan loyalitas komunitas daring. Tokoh

seperti Reza Oktovian atau Reza Arap menjadi contoh konkret dari bagaimana

strategi linguistik informal menjadi bagian tak terpisahkan dari konstruksi

citra publik (Desrina, 2024).

Reza Arap dikenal luas sebagai konten kreator dengan gaya

komunikasi yang lugas, penuh ekspresi, dan sarat dengan elemen bahasa gaul

yang unik. Ia memiliki lebih dari tiga juta pengikut di berbagai platform media

sosial, menjadikannya salah satu figur digital yang paling berpengaruh di

Indonesia. Gaya bahasanya yang flamboyan, sarkastik, namun autentik

menjadi daya tarik tersendiri bagi audiens muda. Keberhasilannya membentuk

persona publik melalui bahasa informal membuka peluang analisis terhadap

hubungan antara pilihan linguistik dan strategi personal branding di era digital

(Ahdiyat, 2020).

Penelitian oleh Desrina (2024) menegaskan bahwa media sosial

memiliki peran sentral dalam pembentukan gaya bahasa remaja. Bahasa gaul

tidak hanya digunakan sebagai alat komunikasi fungsional, tetapi juga sebagai

simbol pergaulan dan identitas kelompok. Hal ini memperkuat pentingnya

2
studi tentang gaya bahasa gaul sebagai fenomena budaya yang tidak dapat

dilepaskan dari konteks sosial dan psikologis penggunanya. Reza Arap, dalam

konteks ini, tampil sebagai simbol dari pergeseran norma berbahasa yang

berlangsung secara dinamis di ruang digital.

Namun, gaya bahasa yang digunakan oleh Reza Arap tidak lepas dari

kontroversi. Sebagian masyarakat menilai bahwa penggunaan diksi yang

vulgar, kasar, atau terlalu ekspresif dalam kontennya dapat berdampak negatif

terhadap audiens muda. Fenomena ini menimbulkan perdebatan tentang batas-

batas kebebasan berekspresi dan tanggung jawab sosial di ruang publik digital.

Bahasa, dalam hal ini, bukan sekadar sarana komunikasi, tetapi juga menjadi

medan konflik nilai dan norma (Saputra & Dinata, 2024).

Fenomena ini penting untuk dikaji secara kualitatif, karena

menyangkut berbagai aspek yang saling terkait seperti sosiolinguistik,

semiotika, serta etika komunikasi publik. Kajian ini menjadi relevan dalam

upaya memahami bagaimana gaya bahasa gaul digunakan tidak hanya untuk

hiburan, tetapi juga sebagai alat negosiasi makna dalam interaksi sosial di

media sosial. Analisis terhadap konten Reza Arap dapat mengungkap cara

kerja simbolik dari gaya bahasa yang digunakan dalam membentuk makna dan

pengaruh sosial (Ajisafitri, 2019).

Dalam penelitian sebelumnya, Ahdiyat (2020) membahas kekerasan

verbal dalam konten YouTube dan menyebut Reza Arap sebagai figur yang

signifikan dalam perubahan norma komunikasi daring. Namun, studi tersebut

lebih fokus pada aspek agresi verbal, bukan pada dinamika gaya bahasa gaul

3
sebagai bagian dari strategi komunikasi dan konstruksi identitas digital.

Dengan demikian, penelitian ini berupaya menjembatani celah yang ada

dengan fokus pada aspek pragmatik dan kultural gaya bahasa yang digunakan.

Sementara itu, Lestari (2023) meneliti komunikasi simbolik Habib

Ja’far di media sosial dan menemukan bahwa penggunaan bahasa gaul secara

strategis dapat menjangkau audiens muda. Meski demikian, kajian tersebut

terbatas pada konteks dakwah dan agama. Belum banyak penelitian yang

mengangkat konteks hiburan atau figur yang bersifat anti-konvensional seperti

Reza Arap. Padahal, konten hiburan juga memiliki kekuatan diskursif dalam

membentuk cara pandang masyarakat terhadap bahasa dan budaya.

Terdapat kesenjangan yang signifikan dalam literatur akademik

mengenai bagaimana gaya bahasa gaul digunakan sebagai strategi komunikasi

untuk membangun persona digital dan loyalitas audiens di media sosial.

Kesenjangan ini membuka ruang bagi penelitian yang tidak hanya

menjelaskan fenomena bahasa, tetapi juga membongkar struktur ideologis

yang terkandung dalam praktik berbahasa di ranah daring. Dengan mengkaji

Reza Arap sebagai objek studi, penelitian ini mencoba mengisi kekosongan

tersebut (Zuhri, 2024).

Perubahan norma berbahasa di ruang publik digital menunjukkan

bahwa gaya bahasa informal bukan hanya tren sesaat, melainkan bagian dari

perkembangan ekosistem komunikasi yang lebih besar. Gaya bahasa gaul

yang digunakan di media sosial menjadi penanda zaman yang mencerminkan

nilai, identitas, dan bahkan resistensi terhadap norma lama. Oleh karena itu,

4
pemahaman terhadap fenomena ini menjadi penting dalam konteks literasi

digital (Desrina, 2024).

Beberapa penelitian seperti yang dilakukan oleh Wardani (2023) dan

Zuhri (2024) menunjukkan bahwa bahasa gaul juga digunakan dalam

komunikasi dakwah dan strategi copywriting di media sosial. Meski demikian,

kedua studi tersebut belum mengkaji bahasa gaul dalam ranah hiburan atau

dalam konteks kreator digital dengan gaya komunikasi yang tidak

konvensional. Maka dari itu, pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini

akan memberi perspektif baru terhadap penggunaan bahasa di media sosial.

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis dalam

pengembangan ilmu komunikasi, khususnya pada bidang komunikasi digital,

sosiolinguistik, dan studi budaya populer. Kajian ini dapat memperluas

cakupan pemahaman tentang dinamika bahasa yang berkembang di era media

sosial serta dampaknya terhadap pembentukan identitas sosial.

Secara teoritis, hasil penelitian ini akan memperkaya pemahaman

akademik mengenai hubungan antara bahasa dan identitas dalam budaya

digital. Gaya bahasa gaul yang digunakan dalam konteks komunikasi daring

mencerminkan proses negosiasi identitas yang kompleks antara individu,

komunitas, dan budaya global yang terus berubah.

Lebih jauh, penelitian ini dapat menjadi landasan dalam perumusan

kebijakan literasi digital dan kebahasaan, khususnya terkait dengan pentingnya

penggunaan bahasa yang santun namun tetap mencerminkan keotentikan

generasi muda. Hal ini menjadi penting dalam konteks meningkatnya

5
kebutuhan akan komunikasi yang inklusif, reflektif, dan bertanggung jawab di

era digital.

Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan

menganalisis gaya bahasa gaul yang digunakan oleh Reza Arap dalam

membentuk persona publiknya serta pengaruhnya terhadap pola komunikasi

generasi muda di media sosial. Penelitian ini tidak hanya mengamati aspek

linguistik, tetapi juga memaknai bahasa sebagai praktik sosial yang

membentuk realitas komunikasi.

Berdasarkan permasalahan dan adanya penelitian-penelitian yang

relevan seperti di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan

judul "Analisis Gaya Bahasa dalam Konten TikTok: Studi Kasus Penggunaan

Bahasa Indonesia dan Implikasinya dalam Konteks Sosial”

B. Identifikasi Masalah

Penggunaan bahasa gaul di media sosial mengalami perkembangan

pesat, terutama di kalangan generasi muda. Gaya bahasa ini kerap digunakan

oleh para konten kreator untuk membangun kedekatan dengan audiens. Reza

Arap merupakan salah satu tokoh yang menonjol dalam hal ini, dengan gaya

bicara yang penuh ekspresi, slang, dan elemen informal lainnya. Namun, gaya

bahasa tersebut tidak jarang mengundang kritik karena dianggap vulgar, tidak

mendidik, atau terlalu bebas. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan tentang

sejauh mana gaya bahasa gaul yang digunakan dalam konten hiburan seperti

milik Reza Arap membentuk identitas digital dan memengaruhi cara

berkomunikasi generasi muda. Belum banyak penelitian yang mengkaji

6
bahasa gaul sebagai strategi komunikasi dari perspektif sosiolinguistik dan

budaya populer dalam konteks non-agamis dan konten hiburan digital.

C. Fokus Masalah

Penelitian ini difokuskan pada gaya bahasa gaul yang digunakan oleh

Reza Arap dalam konten media sosialnya, khususnya bagaimana gaya bahasa

tersebut membentuk persona digital dan memengaruhi pola komunikasi

generasi muda di ruang publik daring.

D. Rumusan Masalah

1. Bagaimana bentuk dan karakteristik gaya bahasa gaul yang digunakan oleh

Reza Arap dalam konten media sosialnya?

2. Bagaimana pengaruh gaya bahasa tersebut terhadap pembentukan persona

digital Reza Arap dan pola komunikasi generasi muda?

3. Bagaimana makna sosial dan kultural yang terkandung dalam gaya bahasa

tersebutt

E. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui Bagaimana bentuk dan karakteristik gaya bahasa gaul

yang digunakan oleh Reza Arap dalam konten media sosialnya

2. Untuk mengetahui Bagaimana pengaruh gaya bahasa tersebut terhadap

pembentukan persona digital Reza Arap dan pola komunikasi generasi

muda

3. Untuk mengetahui Bagaimana makna sosial dan kultural yang terkandung

dalam gaya bahasa tersebut.

7
F. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan memperkaya kajian di bidang ilmu komunikasi,

sosiolinguistik, dan budaya digital, khususnya dalam memahami dinamika

gaya bahasa gaul dalam media sosial sebagai bagian dari konstruksi

identitas dan strategi komunikasi.

2. Manfaat Praktis

a) Bagi guru

penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran untuk

meningkatkan kesadaran siswa terhadap penggunaan bahasa Indonesia

yang baik dan benar.

b) Bagi Mahasiswa

penelitian ini dapat meningkatkan pemahaman mereka tentang

pentingnya menjaga kualitas bahasa, meskipun dalam konteks

komunikasi informal.

c) Bagi masyarakat

hasil penelitian ini dapat menjadi refleksi atas kebiasaan berbahasa

yang berkembang di media sosial, serta mendorong penggunaan

bahasa yang lebih santun dan efektif dalam kehidupan sehari-hari.

8
BAB II
LANDASAN PUSTAKA

A. Kajian Pustaka

1. Sosiolinguistik

Hubungan antara bahasa dan faktor kemasyarakatan dapat

dipelajari melalui salah satu cabang ilmu bahasa, yaitu sosiolinguistik

(Wijana, 2021: 4). Istilah sosiolinguistik menjelaskan bahwa kajian

tersebut tersusun atas dua unsur, yaitu sosio- dan lingustik. Linguistik

memiliki pengertian ilmu yang mempelajari bahasa, khususnya unsurunsur

di dalam bahasa seperti fonem, morfem, kata kalimat serta hubungan

dengan struktur bahasa termasuk hakikat dan pembentukannya. Unsur

sosio- membahas tentang hubungan dengan masyarakat, kelompok, dan

fungsinya (Nababan, 1993: 2).

Definisi tersebut selaras dengan pendapat Pride bahwa

sosiolinguistik merupakan ilmu tentang setiap aspek struktur maupun

penggunaan bahasa yang berkaitan dengan fungsi sosial dan kulturalnya.

Secara sosial penggunaan bahasa dimasyarakat bertujuan membangun dan

mempertahankan hubungkan, sedangkan secara kultural bahasa digunakan

untuk menampilkan budaya yang dibuat (Susylowati, 2024: 1). Pendapat

lain menganggap bahwa sosiolinguistik bersifat interdisipliner yang

mengkaji permasalahan terkait kebahasaan dengan hubungan terhadap

faktor-faktor sosial, situsional, dan kulturnya. Hal ini yang menyebabkan

para ahli bahasa mengarahkan bahwa sosiolinguistik bermula dari adanya

9
anggapan mengenai keterakitan bahasa dengan faktor kemasyarakatan

yang menjadi dampak dari keadaan komunitas yang heterogen (Tricahyo,

2021: 2). Bahasa sebagai objek kajian sosiolinguistik tidak dilihat sebatas

bahasa saja seperti dalam bidang linguistik umum, tetapi bahasa dilihat

sebagai saran komunikasi dalam masyarakat.

Untuk lebih jelasnya berikut asumsi mengenai bahasa dari segi

linguistik dan sosiolinguistik, yaitu linguistik tradisional mengasumsikan

bahasa sebagai entitas tunggal, sistem tertutup, dan homogen, dengan

fokus pada bahasa sebagai objek abstrak yang dapat dijelaskan tanpa

merujuk pada kepentingan sosial. Sebaliknya, sosiolinguistik menekankan

bahwa bahasa sangat beragam dan bervariasi, tergantung pada konteks

sosial dan struktur sosial. Bahasa tidak terpisahkan dari karakteristik

penuturnya, termasuk nilai-nilai sosial budaya yang diterapkan oleh

penuturnya. Selain itu, jenis bahasa yang digunakan oleh orang-orang dari

luar kelompok status tinggi sering kali ditandai dengan penggunaan

katakata dan frasa yang tidak biasa dibandingkan dengan bentuk

konvensional (Daulay, 2019:8).

Berdasarkan hal tersebut sosiolinguistik menunjukkan bahwa

bahasa adalah sistem yang kompleks dan dinamis yang dipengaruhi oleh

berbagai faktor sosial dan budaya. Sebagai sebuah kajian sosiolinguistik

memiliki permasalahan yang dibahas yang terdiri atas tiga masalah utama

(Nababan, 1993: 3). Masalah tersebut meliputi hal-hal berikut:

10
a. Bahasa dikaji dalam konteks sosial dan budaya;

b. Melihat hubungan dari faktor-faktor seperti kebahasaan, ciriciri, serta

ragam bahasa dengan situasi seperti faktor sosial dan budaya; dan

c. Mengkaji terhadap fungsi sosial dan penggunaan bahasa dalam

masyarakat.

Selanjutnya, dalam konferensi sosiolinguistik pertama dilakukan

sebuah perumusan terkait permasalahan atau objek kajian sosiolinguistik

(Nuryani, 2021: 11). Berikut merupakan tujuh objek kajian yang

dibicarakan, yaitu:

a. Identitas sosial penutur;

b. dentitas sosial pendengar yang terlibat

c. Lingkungan sosial tempat peristiwa tutur

d. nalisis sinkronik dan diakronik dari dialek-dialek sosial;

e. Penilaian sosial yang berbeda dari penutur terhadap bentukbentuk

ujaran perilaku;

f. Tingkatan variasi dan ragam bahasa; dan

g. Penerapan praktis dari penelitian sosiolinguistik.

Fokus kajian sosiolinguistik bertujuan untuk mendapatkan

pemahaman yang sesuai terhadap struktur bahasa serta cara bahasa

tersebut difungsikan dalam komunikasi (Nuryani, 2021: 11). Berdasarkan

sosiolinguistik merupakan ilmu yang mengkaji bahasa dan faktor-faktor di

luar bahasa seperti faktor sosial dan budaya yang menciptakan keragaman

11
dalam penggunaan bahasa untuk tujuan dan fungsi dari komunikasi yang

dilakukan.

2. Gaya Bahasa

a. Pengertian Gaya Bahasa

Gaya bahasa, atau yang sering disebut sebagai style, adalah

cara khas seseorang dalam mengungkapkan pikiran dan perasaannya

melalui bahasa. Gorys Keraf (2010:112) mendefinisikan gaya bahasa

sebagai cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas, yang

mencerminkan kepribadian dan karakter seseorang. Gaya ini tampak

dalam pilihan kata, struktur kalimat, dan cara penyampaian pesan, baik

dalam bentuk lisan maupun tulisan.

Dalam konteks modern, Oktavia (2023:45) menyatakan bahwa

gaya bahasa adalah bentuk kreatif penggunaan bahasa oleh seseorang

untuk menciptakan efek tertentu, baik untuk hiburan, sindiran, maupun

penekanan makna. Dalam konteks modern, gaya bahasa tidak lagi

terbatas pada tulisan ilmiah atau sastra, tetapi juga berkembang luas di

media sosial dan komunikasi digital.

b. Fungsi Gaya Bahasa dalam Komunikasi dan Karya Tulis

Menuru Talunohi, A. L. (2024:78) Gaya bahasa memiliki

fungsi penting dalam memperindah dan memperkuat pesan yang

disampaikan. Dalam komunikasi lisan maupun tulisan, gaya bahasa

digunakan untuk:

12
1) Menarik perhatian pendengar atau pembaca.

2) Membantu penekanan makna agar pesan lebih mengena secara

emosional atau logis.

3) Menghidupkan suasana komunikasi, sehingga pesan tidak terasa

kaku atau monoton.

4) Meningkatkan daya retorika, terutama dalam pidato, debat, dan

persuasi.

5) Memberikan sentuhan estetika, terutama dalam karya sastra seperti

puisi, cerpen, dan novel.

Dalam tulisan ilmiah dan jurnalistik, gaya bahasa digunakan

lebih terbatas, tetapi masih memungkinkan pemilihan kata dan struktur

kalimat yang efektif dan komunikatif. Sementara itu, dalam karya

sastra, gaya bahasa justru menjadi unsur dominan untuk menciptakan

makna dan keindahan.

c. Relevansi Gaya Bahasa di Media Sosial

Menurut Azizah (2024:102) Di era digital, gaya bahasa

mengalami perluasan fungsi. Di media sosial seperti TikTok,

Instagram, dan Twitter, gaya bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat

komunikasi, tetapi juga sebagai bentuk ekspresi identitas, emosi, dan

citra diri pengguna. Gaya bahasa di TikTok, misalnya, sering

ditampilkan melalui caption, voice over, atau dialog video yang

menggunakan bahasa gaul, singkatan, campuran bahasa asing, hingga

istilah viral yang kontekstual.

13
Fenomena ini menunjukkan bahwa gaya bahasa kini juga

menjadi bagian dari budaya digital. Pengguna media sosial, terutama

generasi muda, menggunakan gaya bahasa tertentu untuk menunjukkan

keanggotaan dalam kelompok sosial tertentu, mengikuti tren, atau

menarik perhatian audiens secara kreatif. Oleh karena itu, analisis gaya

bahasa dalam media sosial penting untuk memahami dinamika

kebahasaan sekaligus aspek sosial yang menyertainya.

d. Jenis-jenis Gaya Bahasa

Gaya bahasa dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa

kelompok besar berdasarkan bentuk dan tujuannya, seperti

perbandingan, pertentangan, sindiran, dan penegasan. Setiap jenis gaya

bahasa memiliki ciri khas yang digunakan untuk menciptakan efek

tertentu dalam komunikasi, baik secara tertulis maupun lisan. Menurut

Oktavia (2023:2), pembagian gaya bahasa ini memungkinkan penutur

atau penulis memilih ekspresi yang paling sesuai untuk menyampaikan

maksud dan perasaannya secara efektif, estetis, dan komunikatif.

Adapun Jenis-jenis gaya bahasa yaitu :

1) Gaya bahasa perbandingan

Menurut Situmorang (2024: 285) gaya bahas perbandingan

adalah gaya bahasa yang membandingkan satu hal dengan hal lain

secara tidak langsung. Contohnya termasuk metafora (mengganti

nama sesuatu dengan kata lain yang memiliki kemiripan makna),

simile (perbandingan langsung menggunakan kata penghubung

14
seperti "seperti", "bagai", "laksana"), dan personifikasi (memberi

sifat manusia kepada benda mati). Gaya ini sering digunakan untuk

membangun imaji dan memperkuat pesan secara visual dan

emosional dalam komunikasi digital maupun sastra.

2) Gaya Bahasa Pertentangan

Menurut Salsabila (2024 : 1450) Gaya bahasa pertentangan

adalah Gaya bahasa pertentangan yang digunakan untuk

menunjukkan kontras antara dua hal. Contoh gaya ini meliputi

ironi (mengatakan yang berlawanan dari yang dimaksud), litotes

(ungkapan merendahkan diri untuk tujuan kerendahan hati), dan

paradoks (pernyataan yang tampak bertentangan tetapi

mengandung kebenaran). Dalam konteks media sosial, gaya

pertentangan banyak digunakan dalam konten satire atau sindiran

halus yang bertujuan memprovokasi respons emosional audiens.

3) Gaya Bahasa Sindiran

Menurut Azizah (2024 : 22) Gaya bahasa sindiran seperti

sarkasme (sindiran tajam atau kasar), satire (kritik sosial yang

dibungkus humor atau ironi), dan sinisme (ungkapan merendahkan

secara terang-terangan). Gaya ini kerap ditemukan dalam komentar

pengguna di media sosial seperti TikTok dan Twitter, terutama

pada konten-konten kritik sosial atau respons terhadap isu viral.

Penggunaan gaya sindiran di media sosial sering menjadi bentuk

ekspresi emosi publik dan mekanisme kontrol sosial informal.

15
4) Gaya Bahasa Penegasan

Menurut Talunohi (2024 : 3) Gaya bahasa penegasan, yaitu

gaya bahasa yang digunakan untuk menekankan suatu makna atau

ide agar lebih menonjol dan meyakinkan. Bentuknya antara lain

repetisi (pengulangan kata atau frasa), paralelisme (pengulangan

struktur kalimat), dan klimaks (urutan ide dari yang rendah ke

tinggi). Gaya ini lazim dipakai dalam pidato, caption motivasi di

TikTok, maupun konten persuasi agar lebih mudah diingat dan

memberikan dampak emosional kepada audiens.

3. Bahasa Indonesia dalam Konteks Media Sosial

Menurut Naura, (2024: 56). Bahasa Indonesia dalam Konteks Media

Sosial dibagi menjadi beberpa bagian, yaitu :

a. Karakteristik Bahasa Digital: Singkatan, Emoji, dan Akroni

Bahasa digital di media sosial ditandai oleh penggunaan

singkatan, emoji, dan akronim yang mempermudah dan mempercepat

komunikasi. Singkatan seperti "LOL" (laugh out loud), "BRB" (be

right back), dan "FYI" (for your information) sering digunakan untuk

menyampaikan pesan secara ringkas. Emoji juga memainkan peran

penting dalam mengekspresikan emosi dan memperkaya makna teks,

sehingga menjadi bagian krusial dari komunikasi digital. Dalam

banyak situasi, emoji dapat menggantikan kata atau frasa tertentu,

menciptakan bentuk komunikasi yang lebih langsung dan efisien. Hal

16
ini mengubah cara orang berinteraksi secara fundamental, membuat

pesan menjadi lebih visual dan emosional

b. Fenomena Bahasa Gaul dan Campuran: Code-Switching dan Code-

Mixing

Media sosial mendorong munculnya bahasa gaul dan praktik

campur kode (code switching dan code-mixing), di mana pengguna

mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa asing, terutama Inggris.

Fenomena ini mencerminkan masyarakat yang semakin multikultural

dan global. Penggunaan lebih dari satu bahasa dalam satu percakapan

atau yang sering kita sebut code switching juga sering kali terdorong di

media sosial. Pengguna media sosial sering kali mencampur bahasa,

terutama bahasa lokal dengan bahasa Inggris, untuk menyampaikan

pesan dengan lebih efektif. Misalnya, seseorang dapat menulis, "Aku

udah in game buruan login kamu" NA

c. Perubahan Struktur dan Fungsi Bahasa Indonesia Akibat Media Sosial

Media sosial telah membawa perubahan signifikan dalam

struktur dan fungsi Bahasa Indonesia, Pengguna cenderung

menggunakan kalimat yang lebih ringkas dan informal, serta

memperkenalkan kosakata baru melalui singkatan, akronim, dan

serapan dari bahasa asing. Fenomena ini mencerminkan adaptasi

bahasa terhadap kebutuhan. komunikasi yang cepat dan efisien di

platform digital. Namun, perubahan ini juga menimbulkan

17
kekhawatiran terhadap penurunan kualitas tata bahasa dan potensi

kesalahpahaman dalam komunikasi formal.

4. Dinamika Sosial dan Budaya dalam Penggunaan Bahasa

Menurut Putri dkk. (2022 :120) terdapat beberapa Dinamika Sosial dan

Budaya dalam Penggunaan bahasa, yaitu :

a. Bahasa sebagai Simbol Identitas Kelompok (Teori Sosiolinguistik)

Dalam sosiolinguistik, bahasa bukan sekadar alat komunikasi,

tetapi juga simbol identitas sosial. Setiap kelompok sosial—

berdasarkan usia, gender, kelas sosial, profesi, daerah, atau etnis—

memiliki ciri khas bahasa yang mencerminkan keanggotaan mereka

dalam kelompok itu.

Contoh:

1) Remaja memiliki kosakata dan slang khas yang membedakan

mereka dari orang dewasa.

2) Komunitas daerah tertentu menggunakan dialek atau logat lokal

sebagai bentuk identitas budaya.

b. Peran Gaya Bahasa dalam Menciptakan Citra Diri (Self-

Representation)

Gaya bahasa (pilihan kata, intonasi, struktur kalimat) berfungsi

sebagai alat pembentuk citra diri. Melalui gaya bicara tertentu,

seseorang dapat membentuk kesan tentang dirinya—misalnya cerdas,

santai, sopan, tegas, humoris, atau profesional.

18
Contoh:

1) Seorang pembicara profesional mungkin menggunakan bahasa

yang lugas, padat, dan formal untuk menampilkan kesan

berwibawa.

2) Seorang konten kreator di media sosial bisa memilih gaya bahasa

santai dan akrab untuk tampil relatable.

c. Pengaruh Gaya Bahasa terhadap Etika dan Sopan Santun Berbahasa

Gaya bahasa sangat berpengaruh terhadap bagaimana

komunikasi dianggap sopan atau tidak sopan, etis atau tidak etis.

Bahasa yang tidak memperhatikan norma kesopanan bisa

menyinggung perasaan, memicu konflik, atau dianggap tidak beretika.

Contoh:

1) Menggunakan bahasa kasar atau merendahkan dalam diskusi

publik dapat dianggap tidak sopan atau agresif.

2) Sebaliknya, pemilihan kata yang sopan dan menghargai lawan

bicara mencerminkan etika berbahasa yang baik.

d. Perubahan Nilai Sosial melalui Gaya Komunikasi Viral

Media sosial telah melahirkan banyak gaya komunikasi baru yang

menjadi viral dan memengaruhi nilai-nilai sosial. Gaya bahasa viral ini

bisa

19
Contoh:

1) Ungkapan seperti “anjay”, “gaskeun”, “bestie”, atau “mabar”

awalnya digunakan dalam kelompok terbatas, tetapi menjadi tren

nasional.

2) Bahasa viral bisa mempengaruhi norma, misalnya generasi muda

jadi lebih terbuka dalam menyatakan perasaan atau opini.

B. Kajian Penelitian yang relevan

1. Penelitian oleh Iswatiningsih, Fauzan, dan Pangesti (2021)

mengungkapkan bahwa penggunaan bahasa gaul oleh remaja milenial di

media sosial tidak sekadar menjadi sarana komunikasi, melainkan juga

sebagai bentuk ekspresi identitas dan solidaritas kelompok. Mereka

menunjukkan bahwa bahasa gaul banyak digunakan untuk menciptakan

kesan keakraban, kekinian, dan kebebasan dalam berekspresi, di mana

media sosial berperan besar dalam menyebarluaskan kosakata baru secara

masif.

2. Sementara itu, penelitian Junadi dan Karomatul Laili (2021) menekankan

pada aspek kreativitas linguistik dalam penggunaan bahasa gaul di

Instagram. Mereka menemukan bahwa pengguna media sosial, terutama

anak muda, secara aktif menciptakan variasi bahasa melalui akronim,

pemadanan bunyi, dan adaptasi dari istilah asing. Hal ini menjadi bagian

dari strategi personal branding, yang bertujuan untuk menarik perhatian

serta membangun citra diri yang dinamis dan modern di hadapan

pengikutnya.

20
3. Penelitian yang dilakukan oleh Hamida, Diana, Tussolekha, dan Sholikhin

(2025) fokus pada konten komedian Indonesia di Instagram. Hasilnya

menunjukkan bahwa bahasa gaul digunakan secara sengaja untuk

membangun suasana humor, santai, dan dekat dengan audiens. Para

komedian memanfaatkan bahasa ini tidak hanya untuk menghibur, tetapi

juga menyisipkan kritik sosial ringan. Gaya bahasa yang demikian ternyata

berdampak pada tingginya interaksi pengguna dengan konten tersebut.

4. Penelitian yang di lakukan oleh Hijraha (2024) membahas tentang

pergeseran makna dan fungsi identitas dalam bahasa gaul di media sosial.

Mereka menemukan bahwa istilah-istilah gaul mengalami perluasan atau

bahkan perubahan makna tergantung konteks pemakaian. Bahasa gaul

tidak lagi bersifat statis, tetapi sangat adaptif terhadap dinamika sosial

digital. Di sisi lain, bahasa ini juga mencerminkan bagaimana pengguna

mempresentasikan identitas mereka di dunia maya.

5. Penelitian yang di lakukan oleh Putri Mafiroh (2024) mengkaji bagaimana

remaja perempuan usia 18–20 tahun menggunakan bahasa gaul dalam

aktivitas mereka di Instagram. Penelitian ini menunjukkan bahwa bahasa

gaul digunakan sebagai alat untuk menunjukkan eksistensi, membangun

citra diri yang menarik, serta menjalin relasi sosial yang cair. Caption,

komentar, dan story menjadi wadah ekspresif yang penuh warna, di mana

gaya bahasa gaul digunakan untuk menegaskan jati diri dan keterhubungan

dengan komunitas sebaya.

21
C. Kerangka Berpikir

Adapun kerangka berpikir pada penelitian ini yaitu :

Pengguna Gaya
Bahasa Gaul di
Media Sosial

Konten Reza Arap

Bentuk dan Makna Sosial dan


Karakteristik Gaya Kultural Gaya Bahasa
Bahasa Gaul

Pesona Digital dan


Pola Komunikasi
Generasi Muda

Analisis Bahasa Gaul


Terhadap Konten
Reza Arap

Kerangka berpikir dalam penelitian ini menggambarkan hubungan antara

fenomena penggunaan bahasa gaul di media sosial dengan konstruksi identitas

digital yang ditampilkan melalui konten Reza Arap. Penelitian dimulai dari

pemahaman bahwa media sosial telah memunculkan transformasi linguistik, di

mana gaya bahasa tidak lagi bersifat formal, melainkan sarat dengan inovasi

seperti slang, singkatan, dan campur kode. Reza Arap dipilih sebagai objek studi

22
karena gaya komunikasinya yang khas, lugas, dan penuh bahasa gaul, yang

sekaligus menimbulkan kontroversi serta mencerminkan dinamika budaya anak

muda. Gaya bahasa ini menciptakan kedekatan dengan audiens namun juga

memunculkan perdebatan etika, menjadikannya fenomena linguistik dan sosial

yang penting untuk diteliti.

Kerangka ini kemudian bercabang ke dua arah analisis utama: pertama,

mengidentifikasi bentuk dan karakteristik gaya bahasa gaul yang digunakan Reza

Arap melalui analisis struktur dan ragam gaya tutur berdasarkan teori gaya bahasa

dan sosiolinguistik; kedua, menganalisis makna sosial dan kultural dari gaya

tersebut menggunakan pendekatan wacana kritis. Keduanya bermuara pada

pemahaman bagaimana bahasa digunakan sebagai strategi untuk membangun

persona digital dan memengaruhi pola komunikasi generasi muda. Penelitian ini

bertujuan untuk mengungkap dimensi ideologis, identitas, dan pengaruh sosial

dari penggunaan gaya bahasa gaul dalam ranah digital secara komprehensif dan

kontekstual.

23
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian

1. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, yang

bertujuan untuk mendeskripsikan secara sistematis dan faktual mengenai

gaya bahasa gaul. Pendekatan ini dipilih karena sesuai dengan

karakteristik data penelitian yang berbentuk non-numerik, seperti ujaran,

teks, caption, atau komentar yang digunakan dalam kontennya Reza Arap.

Menurut Moleong (2019: 6), pendekatan kualitatif digunakan

untuk memahami fenomena yang terjadi pada subjek penelitian secara

holistik, dengan cara mendeskripsikan dalam bentuk kata-kata dan bahasa,

pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan

berbagai metode ilmiah. Dalam konteks ini, konten dipandang sebagai

realitas sosial yang sarat makna dan nilai-nilai budaya, yang perlu

dianalisis berdasarkan pemahaman subjektif pengguna serta makna sosial

yang terkandung di dalamnya.

Pendekatan ini juga relevan untuk mengeksplorasi gaya bahasa

gaul sebagai bentuk ekspresi sosial dan identitas linguistik, yang sering

kali tidak bisa dijelaskan dengan angka atau statistik. Melalui pendekatan

kualitatif deskriptif, peneliti dapat memahami bagaimana pengguna

membentuk, mengubah, atau mempertahankan norma-norma kebahasaan

melalui praktik komunikasi digital

24
2. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah

kualitatif. Studi kasus merupakan suatu pendekatan yang mendalam dan

terfokus terhadap suatu fenomena atau unit tertentu dalam konteks

kehidupan nyata (Santoso, 2020: 35). Dalam hal ini, unit yang dikaji

adalah konten Reza Arap yang menggunakan bahasa gaul sebagai media

komunikasi, khususnya dalam hal penggunaan gaya bahasa yang muncul

di dalamnya.

Menurut Salsabila dkk. (2024:22), studi kasus digunakan ketika

peneliti ingin memahami suatu fenomena dalam konteks kehidupan nyata

secara menyeluruh, terutama ketika batas antara fenomena dan konteks

tidak jelas. Penelitian ini tidak bermaksud melakukan generalisasi luas,

tetapi untuk memahami secara mendalam bagaimana gaya bahasa gaul

dibentuk dan digunakan oleh pengguna, serta apa implikasi sosial yang

muncul dari gaya tersebut.

Studi ini dilakukan secara eksploratif dan deskriptif. Eksploratif

karena bertujuan menggali lebih dalam fenomena gaya bahasa gaul digital

yang berkembang di konten, dan deskriptif karena menjelaskan ciri-ciri,

bentuk, serta dampak sosial dari gaya bahasa tersebut. Konten video Reza

Arap dijadikan sebagai fokus pengamatan untuk melihat jenis-jenis gaya

bahasa Gaul, serta bagaimana hal tersebut mencerminkan perubahan dalam

norma dan nilai kebahasaan di masyarakat, terutama di kalangan generasi

muda.

25
B. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini terbagi menjadi dua, yaitu data

primer dan data sekunder (Sugiono, 2022:74) :

1. Data primer

Data primer adalah diperoleh langsung dari objek yang diteliti, yaitu

konten video Reza Arap yang menggunakan Bahasa Gaul. Konten tersebut

mencakup narasi verbal, caption, dialog, atau teks dalam video, serta

kolom komentar dari pengguna. Data ini dikumpulkan melalui observasi

dan dokumentasi terhadap akun reza Arap yang aktif membuat konten

dengan gaya bahasa gaul yang mencolok atau mencerminkan fenomena

linguistik tertentu seperti bahasa gaul, campur kode, atau sarkasme.

Pemilihan sumber data primer ini mempertimbangkan keaktifan akun,

popularitas, serta variasi gaya bahasa yang digunakan.

2. Data sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari berbagai referensi

penunjang yang digunakan untuk menganalisis dan mendukung temuan

data primer. Sumber ini mencakup buku-buku ilmiah, jurnal penelitian,

artikel akademik, dan publikasi digital yang relevan dengan kajian

sosiolinguistik, gaya bahasa, dan komunikasi digital. Data sekunder

berfungsi untuk memberikan landasan teoritis dan memperkuat analisis,

serta sebagai pembanding atau konfirmasi terhadap temuan yang diperoleh

dari data primer. Penggunaan data sekunder membantu peneliti untuk

26
memahami konteks sosial dan budaya dari gaya bahasa yang muncul

dalam media sosial.

C. Metode dan Instrumen Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui beberapa

teknik yang disesuaikan dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Tujuannya

adalah untuk memperoleh data yang akurat, mendalam, dan relevan terkait

penggunaan gaya bahasa dalam konten Reza Arap serta implikasinya dalam

konteks sosial kebahasaan masyarakat, khususnya remaja, adapun metode dan

Instrumen pengumpulan data menurut Widiatmaka, I. (2021:115) yaitu :

1. Metode Observasi Dokumentasi

Peneliti menggunakan metode observasi dokumentasi, yaitu

pengamatan secara langsung terhadap konten video Reza Arap tanpa

keterlibatan langsung peneliti dalam aktivitas sosial media tersebut.

Observasi ini dilakukan untuk mengidentifikasi bentuk, jenis, dan

karakteristik gaya bahasa dalam konten yang diproduksi oleh pengguna.

Kriteria video yang dipilih antara lain:

a) Menggunakan bahasa Indonesia.

b) Mengandung unsur gaya bahasa yang menonjol (gaul, sindiran,

metafora, dll).

c) Populer atau memiliki interaksi tinggi (like, komentar).

d) Dibuat oleh pengguna dari kalangan remaja atau generasi muda.

Metode ini sejalan dengan pendapat Widiatmaka (2021:88) yang

menyatakan bahwa observasi dokumentasi sangat efektif dalam penelitian

27
kualitatif karena mampu merekam data autentik dari objek yang sedang diteliti

tanpa intervensi langsung dari peneliti.

2. Metode Analisis Isi (Content Analysis)


Setelah data diperoleh dari dokumentasi, peneliti melakukan analisis isi

terhadap video Reza Arap tersebut. Proses ini meliputi:

a) Transkripsi lisan atau teks dari video.

b) Identifikasi gaya bahasa (majas, struktur kalimat, penggunaan istilah

viral).

c) Klasifikasi jenis gaya bahasa berdasarkan teori Keraf yang relevan.

d) Penafsiran makna dan fungsi sosial dari gaya bahasa yang digunakan.

Menurut Permana & Mulyadi (2020:120), analisis isi dalam konteks

media sosial sangat penting untuk menggambarkan kecenderungan

komunikasi digital serta memahami makna simbolik yang muncul dalam

media baru.

3. Instrumen Pengumpulan Data


Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi:
a) Panduan Observasi

Berisi indikator seperti: jenis gaya bahasa (metafora, hiperbola, dll),

struktur kalimat, konteks sosial penggunaan bahasa.

b) Tabel Klasifikasi Gaya Bahasa

Tabel ini digunakan untuk mencatat jenis-jenis gaya bahasa yang

ditemukan dalam video, lengkap dengan contoh kutipan dan konteksnya.

28
Penyusunan instrumen ini mengacu pada prinsip kejelasan, kesesuaian

dengan tujuan penelitian, dan fleksibilitas dalam pelaksanaan. Hal ini sejalan

dengan pendapat Rohmadi (2023:57) yang menyatakan bahwa penyusunan

instrumen dalam penelitian bahasa harus mempertimbangkan kejelasan

indikator dan konteks penggunaannya agar menghasilkan data yang akurat.

D. Keabsahan Data

Keabsahan data dilakukan untuk membuktikan apakah penelitian yang

dilakukan benar-benar merupakan penelitian ilmiah sekaligus untuk menguji

data yang diperoleh. Uji keabsahan data dalam penelitian kualitatif meliputi

uji, credibility, transferability, dependability, dan confirmability (Sugiyono.

2007:270).

Agar data dalam penelitian kualitatif dapat dipertanggungjawabkan

sebagai penelitian ilmiah perlu dilakukan uji keabsahan data. Adapun uji

keabsahan data yang dapat dilaksanakan.

1. Credibility

Uji credibility (kredibilitas) atau uji kepercayaan terhadap data

hasil penelitian yang disajikan oleh peneliti agar hasil penelitian yang

dilakukan tidak meragukan sebagai sebuah karya ilmiah dilakukan.

a. Perpanjangan Pengamatan

Perpanjangan pengamatan dapat meningkatkan kredibilitas/

kepercayaan data. Dengan perpanjangan pengamatan berarti peneliti

kembali ke lapangan, melakukan pengamatan, wawancara lagi dengan

sumber data yang ditemui maupun sumber data yang lebih baru.

29
Perpanjangan pengamatan berarti hubungan antara peneliti dengan

sumber akan semakin terjalin, semakin akrab, semakin terbuka, saling

timbul kepercayaan, sehingga informasi yang diperoleh semakin

banyak dan lengkap. Perpanjangan pengamatan untuk menguji

kredibilitas data

penelitian difokuskan pada pengujian terhadap data yang telah

diperoleh. Data yang diperoleh setelah dicek kembali ke lapangan

benar atau tidak, ada perubahan atau masih tetap. Setelah dicek

kembali ke lapangan data yang telah diperoleh sudah dapat

dipertanggungjawabkan/benar berarti kredibel, maka perpanjangan

pengamatan perlu diakhiri

b. Meningkatkan kecermatan dalam penelitian

Meningkatkan kecermatan atau ketekunan secara berkelanjutan

maka kepastian data dan urutan kronologis peristiwa dapat dicatat atau

direkam dengan baik, sistematis. Meningkatkan kecermatan

merupakan salah satu cara mengontrol/mengecek pekerjaan apakah

data yang telah dikumpulkan, dibuat, dan disajikan sudah benar atau

belum.

Untuk meningkatkan ketekunan peneliti dapat dilakukan

dengan cara membaca berbagai referensi, buku, hasil penelitian

terdahulu, dan dokumen-dokumen terkait dengan membandingkan

hasil penelitian yang telah diperoleh. Dengan cara demikian, maka

30
peneliti akan semakin cermat dalam membuat laporan yang pada

akhirnya laporan yang dibuat akan smakin berkualitas.

c. Triangulasi

Wiliam Wiersma (1986) mengatakan triangulasi dalam

pengujian kredibilitas diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai

sumber dengan berbagai waktu. Dengan demikian terdapat triangulasi

sumber, triangulasi teknik pengumpulan data, dan waktu (Sugiyono,

2007:273).

1) Triangulasi Sumber

Untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara

mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Data

yang diperoleh dianalisis oleh peneliti sehingga menghasilkan

suatu kesimpulan selanjutnya dimintakan kesepakatan (member

check) dengan tiga sumber data (Sugiyono, 2007:274).

2) Triangulasi Teknik

Untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara

mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang

berbeda. Misalnya untuk mengecek data bisa melalui wawancara,

observasi, dokumentasi. Bila dengan teknik pengujian kredibilitas

data tersebut menghasilkan data yang berbeda, maka peneliti

melakukan diskusi lebih lanjut kepada sumber data yang

bersangkutan untuk memastikan data mana yang dianggap benar

(Sugiyono, 2007:274).

31
3) Triangulasi Waktu

Data yang dikumpulkan dengan teknik wawancara di pagi

hari pada saat narasumber masih segar, akan memberikan data

lebih valid sehingga lebih kredibel. Selanjutnya dapat dilakukan

dengan pengecekan dengan wawancara, observasi atau teknik lain

dalam waktu atau situasi yang berbeda. Bila hasil uji menghasilkan

data yang berbeda, maka dilakukan secara berulang-ulang sehingga

sampai ditemukan kepastian datanya (Sugiyono, 2007:274).

d. Analisis Kasus Negatif

Melakukan analisis kasus negatif berarti peneliti mencari data

yang berbeda atau bahkan bertentangan dengan data yang telah

ditemukan. Bila tidak ada lagi data yang berbeda atau bertentangan

dengan temuan, berarti masih mendapatkan data-data yang

bertentangan dengan data yang ditemukan, maka peneliti mungkin

akan mengubah temuannya (Sugiyono, 2007:275).

e. Menggunakan Bahan Referensi

Yang dimaksud referensi adalah pendukung untuk

membuktikan data yang telah ditemukan oleh peneliti. Dalam laporan

penelitian, sebaiknya data-data yang dikemukakan perlu dilengkapi

dengan foto- foto atau dokumen autentik, sehingga menjadi lebih dapat

dipercaya (Sugiyono, 2007:275).

f. Mengadakan Membercheck

32
Tujuan membercheck adalah untuk mengetahui seberapa jauh

data yang diperoleh sesuai dengan apa yang diberikan oleh pemberi

data. Jadi tujuan membercheck adalah agar informasi yang diperoleh

dan akan digunakan dalam penulisan laporan sesuai dengan apa yang

dimaksud sumber data atau informan (Sugiyono, 2007:276).

2. Transferability

Transferability merupakan validitas eksternal dalam penelitian

kualitatif. Validitas eksternal menunjukkan derajat ketepatan atau

dapat diterapkannya hasil penelitian ke populasi di mana sampel

tersebut diambil (Sugiyono, 2007:276).

Pertanyaan yang berkaitan dengan nilai transfer sampai saat ini

masih dapat diterapkan/dipakai dalam situasi lain. Bagi peneliti nilai

transfer sangat bergantung pada si pemakai, sehingga ketika penelitian

dapat digunakan dalam konteks yang berbeda di situasi sosial yang

berbeda validitas nilai transfer masih dapat dipertanggungjawabkan.

3. Dependability

Reliabilitas atau penelitian yang dapat dipercaya, dengan kata

lain beberapa percobaan yang dilakukan selalu mendapatkan hasil

yang sama. Penelitian yang dependability atau reliabilitas adalah

penelitian apabila penelitian yang dilakukan oleh orang lain dengan

proses penelitian yang sama akan memperoleh hasil yang sama pula.

Pengujian dependability dilakukan dengan cara melakukan

audit terhadap keseluruhan proses penelitian. Dengan cara auditor yang

33
independen atau pembimbing yang independen mengaudit keseluruhan

aktivitas yang dilakukan oleh peneliti dalam melakukan penelitian.

Misalnya bisa dimulai ketika bagaimana peneliti mulai

menentukan masalah, terjun ke lapangan, memilih sumber data,

melaksanakan analisis data, melakukan uji keabsahan data, sampai

pada pembuatan laporan hasil pengamatan.

4. Confirmability

Objektivitas pengujian kualitatif disebut juga dengan uji confirmability

penelitian. Penelitian bisa dikatakan objektif apabila hasil penelitian

telah disepakati oleh lebih banyak orang. Penelitian kualitatif uji

confirmability berarti menguji hasil penelitian yang dikaitkan dengan

proses yang telah dilakukan. Apabila hasil penelitian merupakan

fungsi dari proses penelitian yang dilakukan, maka penelitian tersebut

telah memenuhi standar confirmability.

Validitas atau keabsahan data adalah data yang tidak berbeda

antara data yang diperoleh oleh peneliti dengan data yang terjadi

sesungguhnya pada objek penelitian sehingga keabsahan data yang

telah disajikan dapat dipertanggungjawabkan.

E. Teknik Analisis Data

Menurut Miles dan Hubermen (Sugiyono, 2011:245), tugas analisis

data dalam penelitian kualitatif dilakukan secara interaktif dan diselesaikan

secara terus menerus hingga data jenuh. Jika tidak ada informasi atau data

baru yang dikumpulkan, maka data tersebut dikatakan jenuh. Reduksi data,

34
visualisasi data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi merupakan kegiatan

analisis. Berikut penjelasan ketiga kegiatan tersebut:

5. Reduksi data, disebut juga penyaringan, adalah langkah analitis di mana

data dipilih dan diurutkan. Dengan kata lain, peneliti memilih data yang

telah dikumpulkan tergantung pada seberapa baik kriteria data terpenuhi.

Tujuan seleksi adalah memilih data yang paling mewakili seluruh data

yang tersedia. Selain itu, data yang tidak dipilih tidak langsung dibuang

atau dihapus; sebaliknya, data tersebut disimpan sebagai bank data, atau

cadangan, untuk peneliti jika mereka memerlukannya sewaktu-waktu.

6. Penyajian Data, Proses menciptakan penjelasan data yang terorganisir

untuk mengambil keputusan dan mengambil tindakan disebut penyajian

data. Pada tahap ini, prosa naratif digunakan sebagai tampilan data atau

format penyajian.

7. Tahap menarik kesimpulan dan melakukan verifikasi adalah ketika peneliti

mencoba menafsirkan setiap fenomena yang diperoleh dari data yang

dikumpulkan, mencatat pola atau konfigurasi apa pun yang mungkin ada,

alur sebab akibat dari fenomena tersebut, dan proposisi.

35
DAFTAR PUSTAKA

Ahdiyat, M. A. (2020). Kekerasan verbal di konten YouTube Indonesia dalam

perspektif kultivasi. Ettisal: Journal of Communication.

Ajisafitri, W. (2019). Akronim Bahasa Indonesia Ragam Gaul Dalam Media

Sosial Instagram. Repository Universitas Jember

Aminah, S., & Sari, R. (2022). Teknik Wawancara dalam Penelitian

Sosiolinguistik. Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia, 6(1), 78–86.

Asfiani, I. M., Afandy, S. N., Zaidaan, F. A., & Sholihatin, E. (2023). Pengaruh

bahasa Indonesia dalam konten TikTok terhadap peningkatan kreativitas

mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur. Syntax Imperatif: Jurnal Ilmu Sosial

dan Pendidikan, 4(2), 85–95.

Ashadi, F. N., Putra, G. P., Artika, S. U., & Salsabila, T. A. (2024). Pengaruh

Konten TikTok Terhadap Penggunaan Bahasa Indonesia Sesuai E.Y.D Di

Aplikasi WhatsApp Pada Remaja Di Bandung. Filosofi: Publikasi Ilmu

Komunikasi, Desain, Seni Budaya, 1(2)

Azizah, V. P. N., et al. (2024). "Pengaruh Media Sosial terhadap Gaya Bahasa

Mahasiswa UPN 'Veteran' Jawa Timur: Analisis Pola Komunikasi di

Platform X." Jurnal Inovasi Pendidikan, 7(5)

Daulay, S., H. (2019). Language and Society. Medan: Lembaga Peduli

Pengembangan Pendidikan Indonesia (LPPI).

36
Desrina, I. (2024). Peran Media Sosial dalam Pembentukan Gaya Bahasa Remaja.

Indonesian Research Journal on Education.

Finalosa, S., & Fikri, H. (2024). Penggunaan bahasa gaul dalam kolom komentar

media sosial TikTok. Jurnal Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,

8(2).

Hamida, D., Diana, T., Tussolekha, N., & Sholikhin, M. (2025). Penggunaan

bahasa gaul dalam akun Instagram komedian Indonesia. Jurnal Semiotic,

13(1), 75–85.

Hijrah, A., Maulani, S., & Rizky, N. (2024). Pergeseran makna dan ekspresi

identitas dalam bahasa gaul di media sosial. Jurnal Bahasa dan Sastra

Digital, 2(1), 50–61.

Indonesia Pengguna TikTok Terbesar di Dunia, Tembus 157 Juta, Kalahkan AS.

Diakses dari [Link]

Ismiati, I., Sofiatin, S., & Zuhriyah, L. F. (2024). Desain Dakwah Ustadz Hanan

Attaki Melalui Media Sosial. Anida.

Iswatiningsih, D., Fauzan, M., & Pangesti, P. R. (2021). Ekspresi remaja milenial

melalui penggunaan bahasa gaul di media sosial. Kembara: Jurnal

Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, 7(2), 235–245

Junadi, J., & Laili, K. (2021). Fenomena bahasa gaul sebagai kreativitas linguistik

di Instagram. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Metalingua, 6(1), 31–42.

Jurnal Filsafat & Pendidikan, ASDKVI. (2024). Pengaruh Media Sosial Terhadap

Penggunaan Bahasa Indonesia Sesuai EYD.

37
Keraf, Gorys. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2010.

Lestari, M. (2023). Komunikasi Simbolik Habib Ja’far di Media Sosial. Arkana:

Jurnal Komunikasi dan Media.

Mafiroh, Z. R. P., Rahmawati, D., & Nurani, S. (2024). Analisis bahasa gaul pada

Instagram remaja perempuan. Jurnal Linguistik Terapan Indonesia, 4(2),

92–101.

Moleong, L. J. (2019). Metodologi Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). Bandung:

Remaja Rosdakarya.

Nababan, P. W. J., (1993). Sosiolinguistik: Suatu Pengantar. Jakarta: PT.

Gramedia Pustaka Utama.

Naura, N. J. (2024). Pengaruh Media Sosial terhadap Perubahan Bahasa:

Analisis Sosiolinguistik pada Gaya Bahasa dalam Postingan di Twitter.

Journal Educational of Indonesia Language, 5(1)

Nuryani, Isnaniah, S., & Eliya, I. (2021). Sosiolinguistik dalam Pengajaran

Bahasa Berbasis Multikultural. Bogor: In Media.

Putri, A. R. N., Maharani, I., Melisa, N., Azizah, D. H. N., & Ramadhani, N. R.

(2025). Analisis pengaruh content creator terhadap gaya bahasa remaja di

platform TikTok. Wawasan Nusantara: Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sosial,

6(1), 40–49.

Putri, D. A., & Wulandari, S. (2022). Gaya Bahasa dan Etika Komunikasi di

Media Sosial: Studi Kasus pada Generasi Z. Jurnal Ilmu Sosial dan

Humaniora, 11(2), 114–127.

38
Rohmadi, M. (2023). Penyusunan Instrumen Penelitian Bahasa dan Sastra. Jurnal

Penelitian Bahasa dan Pengajaran, 11(1), 45–53.

Salsabila, A. A., Putri, A. S., & Samhati, S. (2024). Pengaruh globalisasi terhadap

bahasa pada komentar di media sosial TikTok. Jurnal Bahasa dan Sastra

Indonesia (JBS), 10(1), 13–22.

Salsabila, A. K., Tampubolon, D. P. E. B., Ayudiya, M. T., Sari, F. P., & Rahman,

A. F. (2024). Pengaruh penggunaan media sosial terhadap perubahan

perilaku berbahasa pada remaja di Kota Surabaya. Journal of

Multidisciplinary Inquiry in Science, Technology and Educational

Research, 2(1b), 1446–1453.

Santosa, R. (2020). Metode penelitian kualitatif linguistik. Surakarta: UNS Press.

Saputra, A. B., & Dinata, F. F. (2024). Eksistensi Bahasa di Tengah Globalisasi

dan Realitas Sosial

Siahaan, A. P., & Chairani, D. C. (2024). Pengaruh Era Digital Terhadap

Pemakaian Bahasa Indonesia di Kalangan Remaja Melalui Media Sosial.

JEJAKDIGITAL: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 1(1), 1–10.

Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung:

Sugiyono. (2022). Metode penelitian kualitatif, kuantitatif, dan R&D. Bandung:

Alfabeta.

Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung:

Elfabeta.

Susylowati, E., Zakiyah, F., Sandy, D. K., & Cicilia, V. D. (2024). Sosiolinguistik

Teori dan Aplikasi. Klaten: Underline.

39
Talunohi, A. L. (2024). "Pengaruh Media Sosial terhadap Perkembangan Gaya

Bahasa Gen Z." The Columnist.

Tricahyo, A. (2021). Sosiolinguistik: Kajian Budaya dalam Analisis Bahasa.

Panorogo: CV. Nata Karya.

Wardani, A. O. (2023). Retorika Dakwah Fuadh Naim. Repository Universitas

Metro.

Wasniah, W. (2024). Analisis kesalahan berbahasa pada kolom komentar media

sosial TikTok tataran fonologi. DIKBASTRA: Jurnal Pendidikan Bahasa

dan Sastra, 6(2).

Widiatmaka, I. (2021). Teknik Observasi Dokumentasi dalam Penelitian

Kualitatif. Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Humaniora, 9(2), 112–119.

Wijana, I. D. P. (2021). Pengantar Sosiolinguistik. Yogyakarta: Gadjah Mada

University Press.

Zuhri, R. R. (2024). Strategi Copywriting Melalui Media Sosial Instagram dalam

Komunikasi Dakwah. UII Repository.

40

Anda mungkin juga menyukai