ANALISIS GAYA BAHASA GAUL TERHADAP
KONTEN REZA ARAP
SKRIPSI
Oleh :
MUHAMMAD SYAFA FIRDAUS
NPM : 2022406403005
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PRINGSEWU
2025
HALAMAN PERSETUJUAN
ANALISIS GAYA BAHASA GAUL TERHADAP KONTEN REZA ARAP
PROPOSAL PENELITIAN
Oleh :
MUHAMMAD SYAFA FIRDAUS
NPM : 2022406403005
Mengetahui,
Komisi Pembimbing
Pembimbing I Pembimbing II,
Dwi Fitriyani, [Link]. Amy Sabila, [Link]
NIDN 0221078204. NIDN 0230019001
Ketua Program Studi PBSI
Dr. Izhar, [Link]
NIDN 0208028601
i
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
berkat dan rahmat-Nyalah sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang
berjudul "Analisis Gaya Bahasa Gaul Terhadap Konten Reza Arap" tepat pada
waktunya. Adapun tujuan dari penulisan skripsi ini adalah untuk memperoleh
gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Pada kesempatan ini, penulis hendak menyampaikan terima kasih kepada
semua pihak yang telah memberikan dukungan moril maupun materiil sehingga
skripsi penelitian ini dapat selesai. Ucapan penulis tujukan kepada :
1. Ns. Arena Lestari, [Link]., [Link], J., Ph.D selaku Rektor Universitas
Muhammadiyah Pringsewu Lampung.
2. Nurfaizal, [Link]. selaku Dekan Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Pringsewu Lampung.
3. Dr. Izhar, [Link] selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia Universitas Muhammadiyah Pringsewu Lampung.
4. Dwi Fitriyani, [Link]. selaku dosen Pembimbing 1 yang telah memberikan
bimbingan, arahan, masukan. dan motivasi sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi penelitian ini.
5. Amy Sabila, [Link]., selaku Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan,
arahan, masukan, dan motivasi sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi
penelitian ini.
6. Seluruh dosen dan staf pengajar Universitas Muhammadiyah Pringsewu
Lampung yang telah membekali ilmu selama penulis kuliah di Universitas
Muhammadiyah Pringsewu Lampung.
7. Orang tua dan keluarga yang senantiasa memberikan doa dan dukungannya.
8. Teman, Sahabat dan Orang Terkasih yang menjadi penyemangat dan pelipur
letih.
9. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu, yang telah
memberikan dukungan.
ii
Penulis berusaha menyelesaikan penulisan skripsi ini sebaik mungkin,
penulis menyadari bahwa skripsi ni masih ada kekurangan. Oleh karena itu,
penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca guna
menyempurnakan segala kekurangan dalam penyusunan skripsi ini dengan
harapan berguna bagi pembaca dan pihak lainnya.
Pringsewu, 2024
Peneliti
Muhammad Syafa Firdaus
NPM. 2022406403005
iii
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI............................................................................................................i
DAFTAR GAMBAR..............................................................................................ii
DAFTAR TABEL..................................................................................................iii
BAB I.......................................................................................................................1
PENDAHULUAN...................................................................................................1
A. Latar Belakang..............................................................................................1
B. Identifikasi Masalah......................................................................................5
C. Fokus Masalah..............................................................................................6
D. Rumusan Masalah.........................................................................................6
E. Tujuan Penelitian..........................................................................................6
F. Manfaat Penelitian........................................................................................6
BAB II.....................................................................................................................8
LANDASAN PUSTAKA........................................................................................8
A. Kajian Pustaka...............................................................................................8
1. Sosiolinguistik............................................................................................8
2. Gaya Bahasa............................................................................................11
3. Bahasa Indonesia dalam Konteks Media Sosial......................................15
4. Media Sosial Tik Tok sebagai Saluran Komunikasi................................17
5. Dinamika Sosial dan Budaya dalam Penggunaan Bahasa.......................19
B. Kajian Penelitian yang relevan...................................................................21
C. Kerangka Berpikir.......................................................................................23
BAB III..................................................................................................................26
METODE PENELITIAN....................................................................................26
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian..................................................................26
B. Sumber Data................................................................................................28
C. Metode dan Instrumen Pengumpulan Data.................................................29
D. Keabsahan Data..........................................................................................31
E. Teknik Analisis Data...................................................................................37
iv
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................38
v
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Kerang Berpikir………………………………………………………………………24
vi
DAFTAR TABEL
vii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menurut Saputra & Dinata (2024) Di era digital yang berkembang
pesat, media sosial telah menjadi panggung utama bagi ekspresi diri dan
interaksi sosial, terutama di kalangan generasi muda. Platform seperti
YouTube, Instagram, dan TikTok tidak hanya mengubah cara individu
menyampaikan pesan, tetapi juga meredefinisi bentuk komunikasi publik.
Dalam konteks ini, bahasa mengalami transformasi signifikan: tidak lagi
sekadar alat formal, melainkan menjadi wahana kreativitas dan identitas. Gaya
bahasa gaul, sebagai salah satu manifestasi dari perubahan ini,
merepresentasikan dinamika linguistik yang tumbuh bersama perkembangan
budaya digital.
Hootsuite (2024) mencatat bahwa sekitar 77,8% masyarakat Indonesia
aktif menggunakan media sosial, dengan pengguna dominan berasal dari
kelompok usia 16–34 tahun. Tingginya intensitas penggunaan media sosial
oleh kelompok usia produktif ini turut memengaruhi pola komunikasi mereka.
Bahasa yang digunakan dalam platform daring menjadi cermin dari
perkembangan budaya populer, termasuk ekspresi linguistik yang
menonjolkan unsur spontanitas, kedekatan, dan kekhasan kelompok sosial
tertentu. Hal ini menjadikan bahasa gaul sebagai fenomena sosiolinguistik
yang penting untuk dikaji.
1
Penggunaan bahasa gaul di media sosial menciptakan semacam ruang
semantik baru yang memungkinkan munculnya identitas linguistik khas
generasi digital. Bahasa tidak hanya menjadi alat komunikasi, melainkan juga
sarana simbolik untuk membentuk dan memperkuat relasi sosial. Dalam dunia
para influencer, gaya bahasa yang digunakan menjadi instrumen penting
dalam membangun kedekatan emosional dengan audiens, memperkuat
keaslian persona digital, serta menciptakan loyalitas komunitas daring. Tokoh
seperti Reza Oktovian atau Reza Arap menjadi contoh konkret dari bagaimana
strategi linguistik informal menjadi bagian tak terpisahkan dari konstruksi
citra publik (Desrina, 2024).
Reza Arap dikenal luas sebagai konten kreator dengan gaya
komunikasi yang lugas, penuh ekspresi, dan sarat dengan elemen bahasa gaul
yang unik. Ia memiliki lebih dari tiga juta pengikut di berbagai platform media
sosial, menjadikannya salah satu figur digital yang paling berpengaruh di
Indonesia. Gaya bahasanya yang flamboyan, sarkastik, namun autentik
menjadi daya tarik tersendiri bagi audiens muda. Keberhasilannya membentuk
persona publik melalui bahasa informal membuka peluang analisis terhadap
hubungan antara pilihan linguistik dan strategi personal branding di era digital
(Ahdiyat, 2020).
Penelitian oleh Desrina (2024) menegaskan bahwa media sosial
memiliki peran sentral dalam pembentukan gaya bahasa remaja. Bahasa gaul
tidak hanya digunakan sebagai alat komunikasi fungsional, tetapi juga sebagai
simbol pergaulan dan identitas kelompok. Hal ini memperkuat pentingnya
2
studi tentang gaya bahasa gaul sebagai fenomena budaya yang tidak dapat
dilepaskan dari konteks sosial dan psikologis penggunanya. Reza Arap, dalam
konteks ini, tampil sebagai simbol dari pergeseran norma berbahasa yang
berlangsung secara dinamis di ruang digital.
Namun, gaya bahasa yang digunakan oleh Reza Arap tidak lepas dari
kontroversi. Sebagian masyarakat menilai bahwa penggunaan diksi yang
vulgar, kasar, atau terlalu ekspresif dalam kontennya dapat berdampak negatif
terhadap audiens muda. Fenomena ini menimbulkan perdebatan tentang batas-
batas kebebasan berekspresi dan tanggung jawab sosial di ruang publik digital.
Bahasa, dalam hal ini, bukan sekadar sarana komunikasi, tetapi juga menjadi
medan konflik nilai dan norma (Saputra & Dinata, 2024).
Fenomena ini penting untuk dikaji secara kualitatif, karena
menyangkut berbagai aspek yang saling terkait seperti sosiolinguistik,
semiotika, serta etika komunikasi publik. Kajian ini menjadi relevan dalam
upaya memahami bagaimana gaya bahasa gaul digunakan tidak hanya untuk
hiburan, tetapi juga sebagai alat negosiasi makna dalam interaksi sosial di
media sosial. Analisis terhadap konten Reza Arap dapat mengungkap cara
kerja simbolik dari gaya bahasa yang digunakan dalam membentuk makna dan
pengaruh sosial (Ajisafitri, 2019).
Dalam penelitian sebelumnya, Ahdiyat (2020) membahas kekerasan
verbal dalam konten YouTube dan menyebut Reza Arap sebagai figur yang
signifikan dalam perubahan norma komunikasi daring. Namun, studi tersebut
lebih fokus pada aspek agresi verbal, bukan pada dinamika gaya bahasa gaul
3
sebagai bagian dari strategi komunikasi dan konstruksi identitas digital.
Dengan demikian, penelitian ini berupaya menjembatani celah yang ada
dengan fokus pada aspek pragmatik dan kultural gaya bahasa yang digunakan.
Sementara itu, Lestari (2023) meneliti komunikasi simbolik Habib
Ja’far di media sosial dan menemukan bahwa penggunaan bahasa gaul secara
strategis dapat menjangkau audiens muda. Meski demikian, kajian tersebut
terbatas pada konteks dakwah dan agama. Belum banyak penelitian yang
mengangkat konteks hiburan atau figur yang bersifat anti-konvensional seperti
Reza Arap. Padahal, konten hiburan juga memiliki kekuatan diskursif dalam
membentuk cara pandang masyarakat terhadap bahasa dan budaya.
Terdapat kesenjangan yang signifikan dalam literatur akademik
mengenai bagaimana gaya bahasa gaul digunakan sebagai strategi komunikasi
untuk membangun persona digital dan loyalitas audiens di media sosial.
Kesenjangan ini membuka ruang bagi penelitian yang tidak hanya
menjelaskan fenomena bahasa, tetapi juga membongkar struktur ideologis
yang terkandung dalam praktik berbahasa di ranah daring. Dengan mengkaji
Reza Arap sebagai objek studi, penelitian ini mencoba mengisi kekosongan
tersebut (Zuhri, 2024).
Perubahan norma berbahasa di ruang publik digital menunjukkan
bahwa gaya bahasa informal bukan hanya tren sesaat, melainkan bagian dari
perkembangan ekosistem komunikasi yang lebih besar. Gaya bahasa gaul
yang digunakan di media sosial menjadi penanda zaman yang mencerminkan
nilai, identitas, dan bahkan resistensi terhadap norma lama. Oleh karena itu,
4
pemahaman terhadap fenomena ini menjadi penting dalam konteks literasi
digital (Desrina, 2024).
Beberapa penelitian seperti yang dilakukan oleh Wardani (2023) dan
Zuhri (2024) menunjukkan bahwa bahasa gaul juga digunakan dalam
komunikasi dakwah dan strategi copywriting di media sosial. Meski demikian,
kedua studi tersebut belum mengkaji bahasa gaul dalam ranah hiburan atau
dalam konteks kreator digital dengan gaya komunikasi yang tidak
konvensional. Maka dari itu, pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini
akan memberi perspektif baru terhadap penggunaan bahasa di media sosial.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis dalam
pengembangan ilmu komunikasi, khususnya pada bidang komunikasi digital,
sosiolinguistik, dan studi budaya populer. Kajian ini dapat memperluas
cakupan pemahaman tentang dinamika bahasa yang berkembang di era media
sosial serta dampaknya terhadap pembentukan identitas sosial.
Secara teoritis, hasil penelitian ini akan memperkaya pemahaman
akademik mengenai hubungan antara bahasa dan identitas dalam budaya
digital. Gaya bahasa gaul yang digunakan dalam konteks komunikasi daring
mencerminkan proses negosiasi identitas yang kompleks antara individu,
komunitas, dan budaya global yang terus berubah.
Lebih jauh, penelitian ini dapat menjadi landasan dalam perumusan
kebijakan literasi digital dan kebahasaan, khususnya terkait dengan pentingnya
penggunaan bahasa yang santun namun tetap mencerminkan keotentikan
generasi muda. Hal ini menjadi penting dalam konteks meningkatnya
5
kebutuhan akan komunikasi yang inklusif, reflektif, dan bertanggung jawab di
era digital.
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan
menganalisis gaya bahasa gaul yang digunakan oleh Reza Arap dalam
membentuk persona publiknya serta pengaruhnya terhadap pola komunikasi
generasi muda di media sosial. Penelitian ini tidak hanya mengamati aspek
linguistik, tetapi juga memaknai bahasa sebagai praktik sosial yang
membentuk realitas komunikasi.
Berdasarkan permasalahan dan adanya penelitian-penelitian yang
relevan seperti di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan
judul "Analisis Gaya Bahasa dalam Konten TikTok: Studi Kasus Penggunaan
Bahasa Indonesia dan Implikasinya dalam Konteks Sosial”
B. Identifikasi Masalah
Penggunaan bahasa gaul di media sosial mengalami perkembangan
pesat, terutama di kalangan generasi muda. Gaya bahasa ini kerap digunakan
oleh para konten kreator untuk membangun kedekatan dengan audiens. Reza
Arap merupakan salah satu tokoh yang menonjol dalam hal ini, dengan gaya
bicara yang penuh ekspresi, slang, dan elemen informal lainnya. Namun, gaya
bahasa tersebut tidak jarang mengundang kritik karena dianggap vulgar, tidak
mendidik, atau terlalu bebas. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan tentang
sejauh mana gaya bahasa gaul yang digunakan dalam konten hiburan seperti
milik Reza Arap membentuk identitas digital dan memengaruhi cara
berkomunikasi generasi muda. Belum banyak penelitian yang mengkaji
6
bahasa gaul sebagai strategi komunikasi dari perspektif sosiolinguistik dan
budaya populer dalam konteks non-agamis dan konten hiburan digital.
C. Fokus Masalah
Penelitian ini difokuskan pada gaya bahasa gaul yang digunakan oleh
Reza Arap dalam konten media sosialnya, khususnya bagaimana gaya bahasa
tersebut membentuk persona digital dan memengaruhi pola komunikasi
generasi muda di ruang publik daring.
D. Rumusan Masalah
1. Bagaimana bentuk dan karakteristik gaya bahasa gaul yang digunakan oleh
Reza Arap dalam konten media sosialnya?
2. Bagaimana pengaruh gaya bahasa tersebut terhadap pembentukan persona
digital Reza Arap dan pola komunikasi generasi muda?
3. Bagaimana makna sosial dan kultural yang terkandung dalam gaya bahasa
tersebutt
E. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui Bagaimana bentuk dan karakteristik gaya bahasa gaul
yang digunakan oleh Reza Arap dalam konten media sosialnya
2. Untuk mengetahui Bagaimana pengaruh gaya bahasa tersebut terhadap
pembentukan persona digital Reza Arap dan pola komunikasi generasi
muda
3. Untuk mengetahui Bagaimana makna sosial dan kultural yang terkandung
dalam gaya bahasa tersebut.
7
F. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan memperkaya kajian di bidang ilmu komunikasi,
sosiolinguistik, dan budaya digital, khususnya dalam memahami dinamika
gaya bahasa gaul dalam media sosial sebagai bagian dari konstruksi
identitas dan strategi komunikasi.
2. Manfaat Praktis
a) Bagi guru
penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran untuk
meningkatkan kesadaran siswa terhadap penggunaan bahasa Indonesia
yang baik dan benar.
b) Bagi Mahasiswa
penelitian ini dapat meningkatkan pemahaman mereka tentang
pentingnya menjaga kualitas bahasa, meskipun dalam konteks
komunikasi informal.
c) Bagi masyarakat
hasil penelitian ini dapat menjadi refleksi atas kebiasaan berbahasa
yang berkembang di media sosial, serta mendorong penggunaan
bahasa yang lebih santun dan efektif dalam kehidupan sehari-hari.
8
BAB II
LANDASAN PUSTAKA
A. Kajian Pustaka
1. Sosiolinguistik
Hubungan antara bahasa dan faktor kemasyarakatan dapat
dipelajari melalui salah satu cabang ilmu bahasa, yaitu sosiolinguistik
(Wijana, 2021: 4). Istilah sosiolinguistik menjelaskan bahwa kajian
tersebut tersusun atas dua unsur, yaitu sosio- dan lingustik. Linguistik
memiliki pengertian ilmu yang mempelajari bahasa, khususnya unsurunsur
di dalam bahasa seperti fonem, morfem, kata kalimat serta hubungan
dengan struktur bahasa termasuk hakikat dan pembentukannya. Unsur
sosio- membahas tentang hubungan dengan masyarakat, kelompok, dan
fungsinya (Nababan, 1993: 2).
Definisi tersebut selaras dengan pendapat Pride bahwa
sosiolinguistik merupakan ilmu tentang setiap aspek struktur maupun
penggunaan bahasa yang berkaitan dengan fungsi sosial dan kulturalnya.
Secara sosial penggunaan bahasa dimasyarakat bertujuan membangun dan
mempertahankan hubungkan, sedangkan secara kultural bahasa digunakan
untuk menampilkan budaya yang dibuat (Susylowati, 2024: 1). Pendapat
lain menganggap bahwa sosiolinguistik bersifat interdisipliner yang
mengkaji permasalahan terkait kebahasaan dengan hubungan terhadap
faktor-faktor sosial, situsional, dan kulturnya. Hal ini yang menyebabkan
para ahli bahasa mengarahkan bahwa sosiolinguistik bermula dari adanya
9
anggapan mengenai keterakitan bahasa dengan faktor kemasyarakatan
yang menjadi dampak dari keadaan komunitas yang heterogen (Tricahyo,
2021: 2). Bahasa sebagai objek kajian sosiolinguistik tidak dilihat sebatas
bahasa saja seperti dalam bidang linguistik umum, tetapi bahasa dilihat
sebagai saran komunikasi dalam masyarakat.
Untuk lebih jelasnya berikut asumsi mengenai bahasa dari segi
linguistik dan sosiolinguistik, yaitu linguistik tradisional mengasumsikan
bahasa sebagai entitas tunggal, sistem tertutup, dan homogen, dengan
fokus pada bahasa sebagai objek abstrak yang dapat dijelaskan tanpa
merujuk pada kepentingan sosial. Sebaliknya, sosiolinguistik menekankan
bahwa bahasa sangat beragam dan bervariasi, tergantung pada konteks
sosial dan struktur sosial. Bahasa tidak terpisahkan dari karakteristik
penuturnya, termasuk nilai-nilai sosial budaya yang diterapkan oleh
penuturnya. Selain itu, jenis bahasa yang digunakan oleh orang-orang dari
luar kelompok status tinggi sering kali ditandai dengan penggunaan
katakata dan frasa yang tidak biasa dibandingkan dengan bentuk
konvensional (Daulay, 2019:8).
Berdasarkan hal tersebut sosiolinguistik menunjukkan bahwa
bahasa adalah sistem yang kompleks dan dinamis yang dipengaruhi oleh
berbagai faktor sosial dan budaya. Sebagai sebuah kajian sosiolinguistik
memiliki permasalahan yang dibahas yang terdiri atas tiga masalah utama
(Nababan, 1993: 3). Masalah tersebut meliputi hal-hal berikut:
10
a. Bahasa dikaji dalam konteks sosial dan budaya;
b. Melihat hubungan dari faktor-faktor seperti kebahasaan, ciriciri, serta
ragam bahasa dengan situasi seperti faktor sosial dan budaya; dan
c. Mengkaji terhadap fungsi sosial dan penggunaan bahasa dalam
masyarakat.
Selanjutnya, dalam konferensi sosiolinguistik pertama dilakukan
sebuah perumusan terkait permasalahan atau objek kajian sosiolinguistik
(Nuryani, 2021: 11). Berikut merupakan tujuh objek kajian yang
dibicarakan, yaitu:
a. Identitas sosial penutur;
b. dentitas sosial pendengar yang terlibat
c. Lingkungan sosial tempat peristiwa tutur
d. nalisis sinkronik dan diakronik dari dialek-dialek sosial;
e. Penilaian sosial yang berbeda dari penutur terhadap bentukbentuk
ujaran perilaku;
f. Tingkatan variasi dan ragam bahasa; dan
g. Penerapan praktis dari penelitian sosiolinguistik.
Fokus kajian sosiolinguistik bertujuan untuk mendapatkan
pemahaman yang sesuai terhadap struktur bahasa serta cara bahasa
tersebut difungsikan dalam komunikasi (Nuryani, 2021: 11). Berdasarkan
sosiolinguistik merupakan ilmu yang mengkaji bahasa dan faktor-faktor di
luar bahasa seperti faktor sosial dan budaya yang menciptakan keragaman
11
dalam penggunaan bahasa untuk tujuan dan fungsi dari komunikasi yang
dilakukan.
2. Gaya Bahasa
a. Pengertian Gaya Bahasa
Gaya bahasa, atau yang sering disebut sebagai style, adalah
cara khas seseorang dalam mengungkapkan pikiran dan perasaannya
melalui bahasa. Gorys Keraf (2010:112) mendefinisikan gaya bahasa
sebagai cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas, yang
mencerminkan kepribadian dan karakter seseorang. Gaya ini tampak
dalam pilihan kata, struktur kalimat, dan cara penyampaian pesan, baik
dalam bentuk lisan maupun tulisan.
Dalam konteks modern, Oktavia (2023:45) menyatakan bahwa
gaya bahasa adalah bentuk kreatif penggunaan bahasa oleh seseorang
untuk menciptakan efek tertentu, baik untuk hiburan, sindiran, maupun
penekanan makna. Dalam konteks modern, gaya bahasa tidak lagi
terbatas pada tulisan ilmiah atau sastra, tetapi juga berkembang luas di
media sosial dan komunikasi digital.
b. Fungsi Gaya Bahasa dalam Komunikasi dan Karya Tulis
Menuru Talunohi, A. L. (2024:78) Gaya bahasa memiliki
fungsi penting dalam memperindah dan memperkuat pesan yang
disampaikan. Dalam komunikasi lisan maupun tulisan, gaya bahasa
digunakan untuk:
12
1) Menarik perhatian pendengar atau pembaca.
2) Membantu penekanan makna agar pesan lebih mengena secara
emosional atau logis.
3) Menghidupkan suasana komunikasi, sehingga pesan tidak terasa
kaku atau monoton.
4) Meningkatkan daya retorika, terutama dalam pidato, debat, dan
persuasi.
5) Memberikan sentuhan estetika, terutama dalam karya sastra seperti
puisi, cerpen, dan novel.
Dalam tulisan ilmiah dan jurnalistik, gaya bahasa digunakan
lebih terbatas, tetapi masih memungkinkan pemilihan kata dan struktur
kalimat yang efektif dan komunikatif. Sementara itu, dalam karya
sastra, gaya bahasa justru menjadi unsur dominan untuk menciptakan
makna dan keindahan.
c. Relevansi Gaya Bahasa di Media Sosial
Menurut Azizah (2024:102) Di era digital, gaya bahasa
mengalami perluasan fungsi. Di media sosial seperti TikTok,
Instagram, dan Twitter, gaya bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat
komunikasi, tetapi juga sebagai bentuk ekspresi identitas, emosi, dan
citra diri pengguna. Gaya bahasa di TikTok, misalnya, sering
ditampilkan melalui caption, voice over, atau dialog video yang
menggunakan bahasa gaul, singkatan, campuran bahasa asing, hingga
istilah viral yang kontekstual.
13
Fenomena ini menunjukkan bahwa gaya bahasa kini juga
menjadi bagian dari budaya digital. Pengguna media sosial, terutama
generasi muda, menggunakan gaya bahasa tertentu untuk menunjukkan
keanggotaan dalam kelompok sosial tertentu, mengikuti tren, atau
menarik perhatian audiens secara kreatif. Oleh karena itu, analisis gaya
bahasa dalam media sosial penting untuk memahami dinamika
kebahasaan sekaligus aspek sosial yang menyertainya.
d. Jenis-jenis Gaya Bahasa
Gaya bahasa dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa
kelompok besar berdasarkan bentuk dan tujuannya, seperti
perbandingan, pertentangan, sindiran, dan penegasan. Setiap jenis gaya
bahasa memiliki ciri khas yang digunakan untuk menciptakan efek
tertentu dalam komunikasi, baik secara tertulis maupun lisan. Menurut
Oktavia (2023:2), pembagian gaya bahasa ini memungkinkan penutur
atau penulis memilih ekspresi yang paling sesuai untuk menyampaikan
maksud dan perasaannya secara efektif, estetis, dan komunikatif.
Adapun Jenis-jenis gaya bahasa yaitu :
1) Gaya bahasa perbandingan
Menurut Situmorang (2024: 285) gaya bahas perbandingan
adalah gaya bahasa yang membandingkan satu hal dengan hal lain
secara tidak langsung. Contohnya termasuk metafora (mengganti
nama sesuatu dengan kata lain yang memiliki kemiripan makna),
simile (perbandingan langsung menggunakan kata penghubung
14
seperti "seperti", "bagai", "laksana"), dan personifikasi (memberi
sifat manusia kepada benda mati). Gaya ini sering digunakan untuk
membangun imaji dan memperkuat pesan secara visual dan
emosional dalam komunikasi digital maupun sastra.
2) Gaya Bahasa Pertentangan
Menurut Salsabila (2024 : 1450) Gaya bahasa pertentangan
adalah Gaya bahasa pertentangan yang digunakan untuk
menunjukkan kontras antara dua hal. Contoh gaya ini meliputi
ironi (mengatakan yang berlawanan dari yang dimaksud), litotes
(ungkapan merendahkan diri untuk tujuan kerendahan hati), dan
paradoks (pernyataan yang tampak bertentangan tetapi
mengandung kebenaran). Dalam konteks media sosial, gaya
pertentangan banyak digunakan dalam konten satire atau sindiran
halus yang bertujuan memprovokasi respons emosional audiens.
3) Gaya Bahasa Sindiran
Menurut Azizah (2024 : 22) Gaya bahasa sindiran seperti
sarkasme (sindiran tajam atau kasar), satire (kritik sosial yang
dibungkus humor atau ironi), dan sinisme (ungkapan merendahkan
secara terang-terangan). Gaya ini kerap ditemukan dalam komentar
pengguna di media sosial seperti TikTok dan Twitter, terutama
pada konten-konten kritik sosial atau respons terhadap isu viral.
Penggunaan gaya sindiran di media sosial sering menjadi bentuk
ekspresi emosi publik dan mekanisme kontrol sosial informal.
15
4) Gaya Bahasa Penegasan
Menurut Talunohi (2024 : 3) Gaya bahasa penegasan, yaitu
gaya bahasa yang digunakan untuk menekankan suatu makna atau
ide agar lebih menonjol dan meyakinkan. Bentuknya antara lain
repetisi (pengulangan kata atau frasa), paralelisme (pengulangan
struktur kalimat), dan klimaks (urutan ide dari yang rendah ke
tinggi). Gaya ini lazim dipakai dalam pidato, caption motivasi di
TikTok, maupun konten persuasi agar lebih mudah diingat dan
memberikan dampak emosional kepada audiens.
3. Bahasa Indonesia dalam Konteks Media Sosial
Menurut Naura, (2024: 56). Bahasa Indonesia dalam Konteks Media
Sosial dibagi menjadi beberpa bagian, yaitu :
a. Karakteristik Bahasa Digital: Singkatan, Emoji, dan Akroni
Bahasa digital di media sosial ditandai oleh penggunaan
singkatan, emoji, dan akronim yang mempermudah dan mempercepat
komunikasi. Singkatan seperti "LOL" (laugh out loud), "BRB" (be
right back), dan "FYI" (for your information) sering digunakan untuk
menyampaikan pesan secara ringkas. Emoji juga memainkan peran
penting dalam mengekspresikan emosi dan memperkaya makna teks,
sehingga menjadi bagian krusial dari komunikasi digital. Dalam
banyak situasi, emoji dapat menggantikan kata atau frasa tertentu,
menciptakan bentuk komunikasi yang lebih langsung dan efisien. Hal
16
ini mengubah cara orang berinteraksi secara fundamental, membuat
pesan menjadi lebih visual dan emosional
b. Fenomena Bahasa Gaul dan Campuran: Code-Switching dan Code-
Mixing
Media sosial mendorong munculnya bahasa gaul dan praktik
campur kode (code switching dan code-mixing), di mana pengguna
mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa asing, terutama Inggris.
Fenomena ini mencerminkan masyarakat yang semakin multikultural
dan global. Penggunaan lebih dari satu bahasa dalam satu percakapan
atau yang sering kita sebut code switching juga sering kali terdorong di
media sosial. Pengguna media sosial sering kali mencampur bahasa,
terutama bahasa lokal dengan bahasa Inggris, untuk menyampaikan
pesan dengan lebih efektif. Misalnya, seseorang dapat menulis, "Aku
udah in game buruan login kamu" NA
c. Perubahan Struktur dan Fungsi Bahasa Indonesia Akibat Media Sosial
Media sosial telah membawa perubahan signifikan dalam
struktur dan fungsi Bahasa Indonesia, Pengguna cenderung
menggunakan kalimat yang lebih ringkas dan informal, serta
memperkenalkan kosakata baru melalui singkatan, akronim, dan
serapan dari bahasa asing. Fenomena ini mencerminkan adaptasi
bahasa terhadap kebutuhan. komunikasi yang cepat dan efisien di
platform digital. Namun, perubahan ini juga menimbulkan
17
kekhawatiran terhadap penurunan kualitas tata bahasa dan potensi
kesalahpahaman dalam komunikasi formal.
4. Dinamika Sosial dan Budaya dalam Penggunaan Bahasa
Menurut Putri dkk. (2022 :120) terdapat beberapa Dinamika Sosial dan
Budaya dalam Penggunaan bahasa, yaitu :
a. Bahasa sebagai Simbol Identitas Kelompok (Teori Sosiolinguistik)
Dalam sosiolinguistik, bahasa bukan sekadar alat komunikasi,
tetapi juga simbol identitas sosial. Setiap kelompok sosial—
berdasarkan usia, gender, kelas sosial, profesi, daerah, atau etnis—
memiliki ciri khas bahasa yang mencerminkan keanggotaan mereka
dalam kelompok itu.
Contoh:
1) Remaja memiliki kosakata dan slang khas yang membedakan
mereka dari orang dewasa.
2) Komunitas daerah tertentu menggunakan dialek atau logat lokal
sebagai bentuk identitas budaya.
b. Peran Gaya Bahasa dalam Menciptakan Citra Diri (Self-
Representation)
Gaya bahasa (pilihan kata, intonasi, struktur kalimat) berfungsi
sebagai alat pembentuk citra diri. Melalui gaya bicara tertentu,
seseorang dapat membentuk kesan tentang dirinya—misalnya cerdas,
santai, sopan, tegas, humoris, atau profesional.
18
Contoh:
1) Seorang pembicara profesional mungkin menggunakan bahasa
yang lugas, padat, dan formal untuk menampilkan kesan
berwibawa.
2) Seorang konten kreator di media sosial bisa memilih gaya bahasa
santai dan akrab untuk tampil relatable.
c. Pengaruh Gaya Bahasa terhadap Etika dan Sopan Santun Berbahasa
Gaya bahasa sangat berpengaruh terhadap bagaimana
komunikasi dianggap sopan atau tidak sopan, etis atau tidak etis.
Bahasa yang tidak memperhatikan norma kesopanan bisa
menyinggung perasaan, memicu konflik, atau dianggap tidak beretika.
Contoh:
1) Menggunakan bahasa kasar atau merendahkan dalam diskusi
publik dapat dianggap tidak sopan atau agresif.
2) Sebaliknya, pemilihan kata yang sopan dan menghargai lawan
bicara mencerminkan etika berbahasa yang baik.
d. Perubahan Nilai Sosial melalui Gaya Komunikasi Viral
Media sosial telah melahirkan banyak gaya komunikasi baru yang
menjadi viral dan memengaruhi nilai-nilai sosial. Gaya bahasa viral ini
bisa
19
Contoh:
1) Ungkapan seperti “anjay”, “gaskeun”, “bestie”, atau “mabar”
awalnya digunakan dalam kelompok terbatas, tetapi menjadi tren
nasional.
2) Bahasa viral bisa mempengaruhi norma, misalnya generasi muda
jadi lebih terbuka dalam menyatakan perasaan atau opini.
B. Kajian Penelitian yang relevan
1. Penelitian oleh Iswatiningsih, Fauzan, dan Pangesti (2021)
mengungkapkan bahwa penggunaan bahasa gaul oleh remaja milenial di
media sosial tidak sekadar menjadi sarana komunikasi, melainkan juga
sebagai bentuk ekspresi identitas dan solidaritas kelompok. Mereka
menunjukkan bahwa bahasa gaul banyak digunakan untuk menciptakan
kesan keakraban, kekinian, dan kebebasan dalam berekspresi, di mana
media sosial berperan besar dalam menyebarluaskan kosakata baru secara
masif.
2. Sementara itu, penelitian Junadi dan Karomatul Laili (2021) menekankan
pada aspek kreativitas linguistik dalam penggunaan bahasa gaul di
Instagram. Mereka menemukan bahwa pengguna media sosial, terutama
anak muda, secara aktif menciptakan variasi bahasa melalui akronim,
pemadanan bunyi, dan adaptasi dari istilah asing. Hal ini menjadi bagian
dari strategi personal branding, yang bertujuan untuk menarik perhatian
serta membangun citra diri yang dinamis dan modern di hadapan
pengikutnya.
20
3. Penelitian yang dilakukan oleh Hamida, Diana, Tussolekha, dan Sholikhin
(2025) fokus pada konten komedian Indonesia di Instagram. Hasilnya
menunjukkan bahwa bahasa gaul digunakan secara sengaja untuk
membangun suasana humor, santai, dan dekat dengan audiens. Para
komedian memanfaatkan bahasa ini tidak hanya untuk menghibur, tetapi
juga menyisipkan kritik sosial ringan. Gaya bahasa yang demikian ternyata
berdampak pada tingginya interaksi pengguna dengan konten tersebut.
4. Penelitian yang di lakukan oleh Hijraha (2024) membahas tentang
pergeseran makna dan fungsi identitas dalam bahasa gaul di media sosial.
Mereka menemukan bahwa istilah-istilah gaul mengalami perluasan atau
bahkan perubahan makna tergantung konteks pemakaian. Bahasa gaul
tidak lagi bersifat statis, tetapi sangat adaptif terhadap dinamika sosial
digital. Di sisi lain, bahasa ini juga mencerminkan bagaimana pengguna
mempresentasikan identitas mereka di dunia maya.
5. Penelitian yang di lakukan oleh Putri Mafiroh (2024) mengkaji bagaimana
remaja perempuan usia 18–20 tahun menggunakan bahasa gaul dalam
aktivitas mereka di Instagram. Penelitian ini menunjukkan bahwa bahasa
gaul digunakan sebagai alat untuk menunjukkan eksistensi, membangun
citra diri yang menarik, serta menjalin relasi sosial yang cair. Caption,
komentar, dan story menjadi wadah ekspresif yang penuh warna, di mana
gaya bahasa gaul digunakan untuk menegaskan jati diri dan keterhubungan
dengan komunitas sebaya.
21
C. Kerangka Berpikir
Adapun kerangka berpikir pada penelitian ini yaitu :
Pengguna Gaya
Bahasa Gaul di
Media Sosial
Konten Reza Arap
Bentuk dan Makna Sosial dan
Karakteristik Gaya Kultural Gaya Bahasa
Bahasa Gaul
Pesona Digital dan
Pola Komunikasi
Generasi Muda
Analisis Bahasa Gaul
Terhadap Konten
Reza Arap
Kerangka berpikir dalam penelitian ini menggambarkan hubungan antara
fenomena penggunaan bahasa gaul di media sosial dengan konstruksi identitas
digital yang ditampilkan melalui konten Reza Arap. Penelitian dimulai dari
pemahaman bahwa media sosial telah memunculkan transformasi linguistik, di
mana gaya bahasa tidak lagi bersifat formal, melainkan sarat dengan inovasi
seperti slang, singkatan, dan campur kode. Reza Arap dipilih sebagai objek studi
22
karena gaya komunikasinya yang khas, lugas, dan penuh bahasa gaul, yang
sekaligus menimbulkan kontroversi serta mencerminkan dinamika budaya anak
muda. Gaya bahasa ini menciptakan kedekatan dengan audiens namun juga
memunculkan perdebatan etika, menjadikannya fenomena linguistik dan sosial
yang penting untuk diteliti.
Kerangka ini kemudian bercabang ke dua arah analisis utama: pertama,
mengidentifikasi bentuk dan karakteristik gaya bahasa gaul yang digunakan Reza
Arap melalui analisis struktur dan ragam gaya tutur berdasarkan teori gaya bahasa
dan sosiolinguistik; kedua, menganalisis makna sosial dan kultural dari gaya
tersebut menggunakan pendekatan wacana kritis. Keduanya bermuara pada
pemahaman bagaimana bahasa digunakan sebagai strategi untuk membangun
persona digital dan memengaruhi pola komunikasi generasi muda. Penelitian ini
bertujuan untuk mengungkap dimensi ideologis, identitas, dan pengaruh sosial
dari penggunaan gaya bahasa gaul dalam ranah digital secara komprehensif dan
kontekstual.
23
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
1. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, yang
bertujuan untuk mendeskripsikan secara sistematis dan faktual mengenai
gaya bahasa gaul. Pendekatan ini dipilih karena sesuai dengan
karakteristik data penelitian yang berbentuk non-numerik, seperti ujaran,
teks, caption, atau komentar yang digunakan dalam kontennya Reza Arap.
Menurut Moleong (2019: 6), pendekatan kualitatif digunakan
untuk memahami fenomena yang terjadi pada subjek penelitian secara
holistik, dengan cara mendeskripsikan dalam bentuk kata-kata dan bahasa,
pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan
berbagai metode ilmiah. Dalam konteks ini, konten dipandang sebagai
realitas sosial yang sarat makna dan nilai-nilai budaya, yang perlu
dianalisis berdasarkan pemahaman subjektif pengguna serta makna sosial
yang terkandung di dalamnya.
Pendekatan ini juga relevan untuk mengeksplorasi gaya bahasa
gaul sebagai bentuk ekspresi sosial dan identitas linguistik, yang sering
kali tidak bisa dijelaskan dengan angka atau statistik. Melalui pendekatan
kualitatif deskriptif, peneliti dapat memahami bagaimana pengguna
membentuk, mengubah, atau mempertahankan norma-norma kebahasaan
melalui praktik komunikasi digital
24
2. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
kualitatif. Studi kasus merupakan suatu pendekatan yang mendalam dan
terfokus terhadap suatu fenomena atau unit tertentu dalam konteks
kehidupan nyata (Santoso, 2020: 35). Dalam hal ini, unit yang dikaji
adalah konten Reza Arap yang menggunakan bahasa gaul sebagai media
komunikasi, khususnya dalam hal penggunaan gaya bahasa yang muncul
di dalamnya.
Menurut Salsabila dkk. (2024:22), studi kasus digunakan ketika
peneliti ingin memahami suatu fenomena dalam konteks kehidupan nyata
secara menyeluruh, terutama ketika batas antara fenomena dan konteks
tidak jelas. Penelitian ini tidak bermaksud melakukan generalisasi luas,
tetapi untuk memahami secara mendalam bagaimana gaya bahasa gaul
dibentuk dan digunakan oleh pengguna, serta apa implikasi sosial yang
muncul dari gaya tersebut.
Studi ini dilakukan secara eksploratif dan deskriptif. Eksploratif
karena bertujuan menggali lebih dalam fenomena gaya bahasa gaul digital
yang berkembang di konten, dan deskriptif karena menjelaskan ciri-ciri,
bentuk, serta dampak sosial dari gaya bahasa tersebut. Konten video Reza
Arap dijadikan sebagai fokus pengamatan untuk melihat jenis-jenis gaya
bahasa Gaul, serta bagaimana hal tersebut mencerminkan perubahan dalam
norma dan nilai kebahasaan di masyarakat, terutama di kalangan generasi
muda.
25
B. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini terbagi menjadi dua, yaitu data
primer dan data sekunder (Sugiono, 2022:74) :
1. Data primer
Data primer adalah diperoleh langsung dari objek yang diteliti, yaitu
konten video Reza Arap yang menggunakan Bahasa Gaul. Konten tersebut
mencakup narasi verbal, caption, dialog, atau teks dalam video, serta
kolom komentar dari pengguna. Data ini dikumpulkan melalui observasi
dan dokumentasi terhadap akun reza Arap yang aktif membuat konten
dengan gaya bahasa gaul yang mencolok atau mencerminkan fenomena
linguistik tertentu seperti bahasa gaul, campur kode, atau sarkasme.
Pemilihan sumber data primer ini mempertimbangkan keaktifan akun,
popularitas, serta variasi gaya bahasa yang digunakan.
2. Data sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari berbagai referensi
penunjang yang digunakan untuk menganalisis dan mendukung temuan
data primer. Sumber ini mencakup buku-buku ilmiah, jurnal penelitian,
artikel akademik, dan publikasi digital yang relevan dengan kajian
sosiolinguistik, gaya bahasa, dan komunikasi digital. Data sekunder
berfungsi untuk memberikan landasan teoritis dan memperkuat analisis,
serta sebagai pembanding atau konfirmasi terhadap temuan yang diperoleh
dari data primer. Penggunaan data sekunder membantu peneliti untuk
26
memahami konteks sosial dan budaya dari gaya bahasa yang muncul
dalam media sosial.
C. Metode dan Instrumen Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui beberapa
teknik yang disesuaikan dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Tujuannya
adalah untuk memperoleh data yang akurat, mendalam, dan relevan terkait
penggunaan gaya bahasa dalam konten Reza Arap serta implikasinya dalam
konteks sosial kebahasaan masyarakat, khususnya remaja, adapun metode dan
Instrumen pengumpulan data menurut Widiatmaka, I. (2021:115) yaitu :
1. Metode Observasi Dokumentasi
Peneliti menggunakan metode observasi dokumentasi, yaitu
pengamatan secara langsung terhadap konten video Reza Arap tanpa
keterlibatan langsung peneliti dalam aktivitas sosial media tersebut.
Observasi ini dilakukan untuk mengidentifikasi bentuk, jenis, dan
karakteristik gaya bahasa dalam konten yang diproduksi oleh pengguna.
Kriteria video yang dipilih antara lain:
a) Menggunakan bahasa Indonesia.
b) Mengandung unsur gaya bahasa yang menonjol (gaul, sindiran,
metafora, dll).
c) Populer atau memiliki interaksi tinggi (like, komentar).
d) Dibuat oleh pengguna dari kalangan remaja atau generasi muda.
Metode ini sejalan dengan pendapat Widiatmaka (2021:88) yang
menyatakan bahwa observasi dokumentasi sangat efektif dalam penelitian
27
kualitatif karena mampu merekam data autentik dari objek yang sedang diteliti
tanpa intervensi langsung dari peneliti.
2. Metode Analisis Isi (Content Analysis)
Setelah data diperoleh dari dokumentasi, peneliti melakukan analisis isi
terhadap video Reza Arap tersebut. Proses ini meliputi:
a) Transkripsi lisan atau teks dari video.
b) Identifikasi gaya bahasa (majas, struktur kalimat, penggunaan istilah
viral).
c) Klasifikasi jenis gaya bahasa berdasarkan teori Keraf yang relevan.
d) Penafsiran makna dan fungsi sosial dari gaya bahasa yang digunakan.
Menurut Permana & Mulyadi (2020:120), analisis isi dalam konteks
media sosial sangat penting untuk menggambarkan kecenderungan
komunikasi digital serta memahami makna simbolik yang muncul dalam
media baru.
3. Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi:
a) Panduan Observasi
Berisi indikator seperti: jenis gaya bahasa (metafora, hiperbola, dll),
struktur kalimat, konteks sosial penggunaan bahasa.
b) Tabel Klasifikasi Gaya Bahasa
Tabel ini digunakan untuk mencatat jenis-jenis gaya bahasa yang
ditemukan dalam video, lengkap dengan contoh kutipan dan konteksnya.
28
Penyusunan instrumen ini mengacu pada prinsip kejelasan, kesesuaian
dengan tujuan penelitian, dan fleksibilitas dalam pelaksanaan. Hal ini sejalan
dengan pendapat Rohmadi (2023:57) yang menyatakan bahwa penyusunan
instrumen dalam penelitian bahasa harus mempertimbangkan kejelasan
indikator dan konteks penggunaannya agar menghasilkan data yang akurat.
D. Keabsahan Data
Keabsahan data dilakukan untuk membuktikan apakah penelitian yang
dilakukan benar-benar merupakan penelitian ilmiah sekaligus untuk menguji
data yang diperoleh. Uji keabsahan data dalam penelitian kualitatif meliputi
uji, credibility, transferability, dependability, dan confirmability (Sugiyono.
2007:270).
Agar data dalam penelitian kualitatif dapat dipertanggungjawabkan
sebagai penelitian ilmiah perlu dilakukan uji keabsahan data. Adapun uji
keabsahan data yang dapat dilaksanakan.
1. Credibility
Uji credibility (kredibilitas) atau uji kepercayaan terhadap data
hasil penelitian yang disajikan oleh peneliti agar hasil penelitian yang
dilakukan tidak meragukan sebagai sebuah karya ilmiah dilakukan.
a. Perpanjangan Pengamatan
Perpanjangan pengamatan dapat meningkatkan kredibilitas/
kepercayaan data. Dengan perpanjangan pengamatan berarti peneliti
kembali ke lapangan, melakukan pengamatan, wawancara lagi dengan
sumber data yang ditemui maupun sumber data yang lebih baru.
29
Perpanjangan pengamatan berarti hubungan antara peneliti dengan
sumber akan semakin terjalin, semakin akrab, semakin terbuka, saling
timbul kepercayaan, sehingga informasi yang diperoleh semakin
banyak dan lengkap. Perpanjangan pengamatan untuk menguji
kredibilitas data
penelitian difokuskan pada pengujian terhadap data yang telah
diperoleh. Data yang diperoleh setelah dicek kembali ke lapangan
benar atau tidak, ada perubahan atau masih tetap. Setelah dicek
kembali ke lapangan data yang telah diperoleh sudah dapat
dipertanggungjawabkan/benar berarti kredibel, maka perpanjangan
pengamatan perlu diakhiri
b. Meningkatkan kecermatan dalam penelitian
Meningkatkan kecermatan atau ketekunan secara berkelanjutan
maka kepastian data dan urutan kronologis peristiwa dapat dicatat atau
direkam dengan baik, sistematis. Meningkatkan kecermatan
merupakan salah satu cara mengontrol/mengecek pekerjaan apakah
data yang telah dikumpulkan, dibuat, dan disajikan sudah benar atau
belum.
Untuk meningkatkan ketekunan peneliti dapat dilakukan
dengan cara membaca berbagai referensi, buku, hasil penelitian
terdahulu, dan dokumen-dokumen terkait dengan membandingkan
hasil penelitian yang telah diperoleh. Dengan cara demikian, maka
30
peneliti akan semakin cermat dalam membuat laporan yang pada
akhirnya laporan yang dibuat akan smakin berkualitas.
c. Triangulasi
Wiliam Wiersma (1986) mengatakan triangulasi dalam
pengujian kredibilitas diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai
sumber dengan berbagai waktu. Dengan demikian terdapat triangulasi
sumber, triangulasi teknik pengumpulan data, dan waktu (Sugiyono,
2007:273).
1) Triangulasi Sumber
Untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara
mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Data
yang diperoleh dianalisis oleh peneliti sehingga menghasilkan
suatu kesimpulan selanjutnya dimintakan kesepakatan (member
check) dengan tiga sumber data (Sugiyono, 2007:274).
2) Triangulasi Teknik
Untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara
mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang
berbeda. Misalnya untuk mengecek data bisa melalui wawancara,
observasi, dokumentasi. Bila dengan teknik pengujian kredibilitas
data tersebut menghasilkan data yang berbeda, maka peneliti
melakukan diskusi lebih lanjut kepada sumber data yang
bersangkutan untuk memastikan data mana yang dianggap benar
(Sugiyono, 2007:274).
31
3) Triangulasi Waktu
Data yang dikumpulkan dengan teknik wawancara di pagi
hari pada saat narasumber masih segar, akan memberikan data
lebih valid sehingga lebih kredibel. Selanjutnya dapat dilakukan
dengan pengecekan dengan wawancara, observasi atau teknik lain
dalam waktu atau situasi yang berbeda. Bila hasil uji menghasilkan
data yang berbeda, maka dilakukan secara berulang-ulang sehingga
sampai ditemukan kepastian datanya (Sugiyono, 2007:274).
d. Analisis Kasus Negatif
Melakukan analisis kasus negatif berarti peneliti mencari data
yang berbeda atau bahkan bertentangan dengan data yang telah
ditemukan. Bila tidak ada lagi data yang berbeda atau bertentangan
dengan temuan, berarti masih mendapatkan data-data yang
bertentangan dengan data yang ditemukan, maka peneliti mungkin
akan mengubah temuannya (Sugiyono, 2007:275).
e. Menggunakan Bahan Referensi
Yang dimaksud referensi adalah pendukung untuk
membuktikan data yang telah ditemukan oleh peneliti. Dalam laporan
penelitian, sebaiknya data-data yang dikemukakan perlu dilengkapi
dengan foto- foto atau dokumen autentik, sehingga menjadi lebih dapat
dipercaya (Sugiyono, 2007:275).
f. Mengadakan Membercheck
32
Tujuan membercheck adalah untuk mengetahui seberapa jauh
data yang diperoleh sesuai dengan apa yang diberikan oleh pemberi
data. Jadi tujuan membercheck adalah agar informasi yang diperoleh
dan akan digunakan dalam penulisan laporan sesuai dengan apa yang
dimaksud sumber data atau informan (Sugiyono, 2007:276).
2. Transferability
Transferability merupakan validitas eksternal dalam penelitian
kualitatif. Validitas eksternal menunjukkan derajat ketepatan atau
dapat diterapkannya hasil penelitian ke populasi di mana sampel
tersebut diambil (Sugiyono, 2007:276).
Pertanyaan yang berkaitan dengan nilai transfer sampai saat ini
masih dapat diterapkan/dipakai dalam situasi lain. Bagi peneliti nilai
transfer sangat bergantung pada si pemakai, sehingga ketika penelitian
dapat digunakan dalam konteks yang berbeda di situasi sosial yang
berbeda validitas nilai transfer masih dapat dipertanggungjawabkan.
3. Dependability
Reliabilitas atau penelitian yang dapat dipercaya, dengan kata
lain beberapa percobaan yang dilakukan selalu mendapatkan hasil
yang sama. Penelitian yang dependability atau reliabilitas adalah
penelitian apabila penelitian yang dilakukan oleh orang lain dengan
proses penelitian yang sama akan memperoleh hasil yang sama pula.
Pengujian dependability dilakukan dengan cara melakukan
audit terhadap keseluruhan proses penelitian. Dengan cara auditor yang
33
independen atau pembimbing yang independen mengaudit keseluruhan
aktivitas yang dilakukan oleh peneliti dalam melakukan penelitian.
Misalnya bisa dimulai ketika bagaimana peneliti mulai
menentukan masalah, terjun ke lapangan, memilih sumber data,
melaksanakan analisis data, melakukan uji keabsahan data, sampai
pada pembuatan laporan hasil pengamatan.
4. Confirmability
Objektivitas pengujian kualitatif disebut juga dengan uji confirmability
penelitian. Penelitian bisa dikatakan objektif apabila hasil penelitian
telah disepakati oleh lebih banyak orang. Penelitian kualitatif uji
confirmability berarti menguji hasil penelitian yang dikaitkan dengan
proses yang telah dilakukan. Apabila hasil penelitian merupakan
fungsi dari proses penelitian yang dilakukan, maka penelitian tersebut
telah memenuhi standar confirmability.
Validitas atau keabsahan data adalah data yang tidak berbeda
antara data yang diperoleh oleh peneliti dengan data yang terjadi
sesungguhnya pada objek penelitian sehingga keabsahan data yang
telah disajikan dapat dipertanggungjawabkan.
E. Teknik Analisis Data
Menurut Miles dan Hubermen (Sugiyono, 2011:245), tugas analisis
data dalam penelitian kualitatif dilakukan secara interaktif dan diselesaikan
secara terus menerus hingga data jenuh. Jika tidak ada informasi atau data
baru yang dikumpulkan, maka data tersebut dikatakan jenuh. Reduksi data,
34
visualisasi data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi merupakan kegiatan
analisis. Berikut penjelasan ketiga kegiatan tersebut:
5. Reduksi data, disebut juga penyaringan, adalah langkah analitis di mana
data dipilih dan diurutkan. Dengan kata lain, peneliti memilih data yang
telah dikumpulkan tergantung pada seberapa baik kriteria data terpenuhi.
Tujuan seleksi adalah memilih data yang paling mewakili seluruh data
yang tersedia. Selain itu, data yang tidak dipilih tidak langsung dibuang
atau dihapus; sebaliknya, data tersebut disimpan sebagai bank data, atau
cadangan, untuk peneliti jika mereka memerlukannya sewaktu-waktu.
6. Penyajian Data, Proses menciptakan penjelasan data yang terorganisir
untuk mengambil keputusan dan mengambil tindakan disebut penyajian
data. Pada tahap ini, prosa naratif digunakan sebagai tampilan data atau
format penyajian.
7. Tahap menarik kesimpulan dan melakukan verifikasi adalah ketika peneliti
mencoba menafsirkan setiap fenomena yang diperoleh dari data yang
dikumpulkan, mencatat pola atau konfigurasi apa pun yang mungkin ada,
alur sebab akibat dari fenomena tersebut, dan proposisi.
35
DAFTAR PUSTAKA
Ahdiyat, M. A. (2020). Kekerasan verbal di konten YouTube Indonesia dalam
perspektif kultivasi. Ettisal: Journal of Communication.
Ajisafitri, W. (2019). Akronim Bahasa Indonesia Ragam Gaul Dalam Media
Sosial Instagram. Repository Universitas Jember
Aminah, S., & Sari, R. (2022). Teknik Wawancara dalam Penelitian
Sosiolinguistik. Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia, 6(1), 78–86.
Asfiani, I. M., Afandy, S. N., Zaidaan, F. A., & Sholihatin, E. (2023). Pengaruh
bahasa Indonesia dalam konten TikTok terhadap peningkatan kreativitas
mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur. Syntax Imperatif: Jurnal Ilmu Sosial
dan Pendidikan, 4(2), 85–95.
Ashadi, F. N., Putra, G. P., Artika, S. U., & Salsabila, T. A. (2024). Pengaruh
Konten TikTok Terhadap Penggunaan Bahasa Indonesia Sesuai E.Y.D Di
Aplikasi WhatsApp Pada Remaja Di Bandung. Filosofi: Publikasi Ilmu
Komunikasi, Desain, Seni Budaya, 1(2)
Azizah, V. P. N., et al. (2024). "Pengaruh Media Sosial terhadap Gaya Bahasa
Mahasiswa UPN 'Veteran' Jawa Timur: Analisis Pola Komunikasi di
Platform X." Jurnal Inovasi Pendidikan, 7(5)
Daulay, S., H. (2019). Language and Society. Medan: Lembaga Peduli
Pengembangan Pendidikan Indonesia (LPPI).
36
Desrina, I. (2024). Peran Media Sosial dalam Pembentukan Gaya Bahasa Remaja.
Indonesian Research Journal on Education.
Finalosa, S., & Fikri, H. (2024). Penggunaan bahasa gaul dalam kolom komentar
media sosial TikTok. Jurnal Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,
8(2).
Hamida, D., Diana, T., Tussolekha, N., & Sholikhin, M. (2025). Penggunaan
bahasa gaul dalam akun Instagram komedian Indonesia. Jurnal Semiotic,
13(1), 75–85.
Hijrah, A., Maulani, S., & Rizky, N. (2024). Pergeseran makna dan ekspresi
identitas dalam bahasa gaul di media sosial. Jurnal Bahasa dan Sastra
Digital, 2(1), 50–61.
Indonesia Pengguna TikTok Terbesar di Dunia, Tembus 157 Juta, Kalahkan AS.
Diakses dari [Link]
Ismiati, I., Sofiatin, S., & Zuhriyah, L. F. (2024). Desain Dakwah Ustadz Hanan
Attaki Melalui Media Sosial. Anida.
Iswatiningsih, D., Fauzan, M., & Pangesti, P. R. (2021). Ekspresi remaja milenial
melalui penggunaan bahasa gaul di media sosial. Kembara: Jurnal
Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, 7(2), 235–245
Junadi, J., & Laili, K. (2021). Fenomena bahasa gaul sebagai kreativitas linguistik
di Instagram. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Metalingua, 6(1), 31–42.
Jurnal Filsafat & Pendidikan, ASDKVI. (2024). Pengaruh Media Sosial Terhadap
Penggunaan Bahasa Indonesia Sesuai EYD.
37
Keraf, Gorys. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2010.
Lestari, M. (2023). Komunikasi Simbolik Habib Ja’far di Media Sosial. Arkana:
Jurnal Komunikasi dan Media.
Mafiroh, Z. R. P., Rahmawati, D., & Nurani, S. (2024). Analisis bahasa gaul pada
Instagram remaja perempuan. Jurnal Linguistik Terapan Indonesia, 4(2),
92–101.
Moleong, L. J. (2019). Metodologi Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Nababan, P. W. J., (1993). Sosiolinguistik: Suatu Pengantar. Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama.
Naura, N. J. (2024). Pengaruh Media Sosial terhadap Perubahan Bahasa:
Analisis Sosiolinguistik pada Gaya Bahasa dalam Postingan di Twitter.
Journal Educational of Indonesia Language, 5(1)
Nuryani, Isnaniah, S., & Eliya, I. (2021). Sosiolinguistik dalam Pengajaran
Bahasa Berbasis Multikultural. Bogor: In Media.
Putri, A. R. N., Maharani, I., Melisa, N., Azizah, D. H. N., & Ramadhani, N. R.
(2025). Analisis pengaruh content creator terhadap gaya bahasa remaja di
platform TikTok. Wawasan Nusantara: Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sosial,
6(1), 40–49.
Putri, D. A., & Wulandari, S. (2022). Gaya Bahasa dan Etika Komunikasi di
Media Sosial: Studi Kasus pada Generasi Z. Jurnal Ilmu Sosial dan
Humaniora, 11(2), 114–127.
38
Rohmadi, M. (2023). Penyusunan Instrumen Penelitian Bahasa dan Sastra. Jurnal
Penelitian Bahasa dan Pengajaran, 11(1), 45–53.
Salsabila, A. A., Putri, A. S., & Samhati, S. (2024). Pengaruh globalisasi terhadap
bahasa pada komentar di media sosial TikTok. Jurnal Bahasa dan Sastra
Indonesia (JBS), 10(1), 13–22.
Salsabila, A. K., Tampubolon, D. P. E. B., Ayudiya, M. T., Sari, F. P., & Rahman,
A. F. (2024). Pengaruh penggunaan media sosial terhadap perubahan
perilaku berbahasa pada remaja di Kota Surabaya. Journal of
Multidisciplinary Inquiry in Science, Technology and Educational
Research, 2(1b), 1446–1453.
Santosa, R. (2020). Metode penelitian kualitatif linguistik. Surakarta: UNS Press.
Saputra, A. B., & Dinata, F. F. (2024). Eksistensi Bahasa di Tengah Globalisasi
dan Realitas Sosial
Siahaan, A. P., & Chairani, D. C. (2024). Pengaruh Era Digital Terhadap
Pemakaian Bahasa Indonesia di Kalangan Remaja Melalui Media Sosial.
JEJAKDIGITAL: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 1(1), 1–10.
Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung:
Sugiyono. (2022). Metode penelitian kualitatif, kuantitatif, dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung:
Elfabeta.
Susylowati, E., Zakiyah, F., Sandy, D. K., & Cicilia, V. D. (2024). Sosiolinguistik
Teori dan Aplikasi. Klaten: Underline.
39
Talunohi, A. L. (2024). "Pengaruh Media Sosial terhadap Perkembangan Gaya
Bahasa Gen Z." The Columnist.
Tricahyo, A. (2021). Sosiolinguistik: Kajian Budaya dalam Analisis Bahasa.
Panorogo: CV. Nata Karya.
Wardani, A. O. (2023). Retorika Dakwah Fuadh Naim. Repository Universitas
Metro.
Wasniah, W. (2024). Analisis kesalahan berbahasa pada kolom komentar media
sosial TikTok tataran fonologi. DIKBASTRA: Jurnal Pendidikan Bahasa
dan Sastra, 6(2).
Widiatmaka, I. (2021). Teknik Observasi Dokumentasi dalam Penelitian
Kualitatif. Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Humaniora, 9(2), 112–119.
Wijana, I. D. P. (2021). Pengantar Sosiolinguistik. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Zuhri, R. R. (2024). Strategi Copywriting Melalui Media Sosial Instagram dalam
Komunikasi Dakwah. UII Repository.
40