Dzikir dan Shalat Dhuha Tingkatkan Spiritual SD
Dzikir dan Shalat Dhuha Tingkatkan Spiritual SD
PROPOSAL SKRIPSI
Oleh:
AYU RISKA RUSTAM
211040024
I
ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Proposal yang berjudul “Peran Kegiatan Dzikir Dan Shalat Dhuha Dalam
Membentuk Kesadaran Spiritual Dan Etika Beribadah Pada Peserta Didik SD Inpres
5 Birobuli” oleh mahasiswa atas nama Ayu Riska Rustam NIM : 211040024,
dan Ilmu Keguruan (FTIK), Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu,
setelah dengan seksama meneliti dan mengoreksi proposal yang bersangkutan, maka
Sigi, 6 Januari
2025 M
06 Rajab 1446 H
Pembimbing I Pembimbing II
iv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik aktif mengembangkan potensi
masyarakat.1
dari ketidaktahuan, dan mendorong tercapainya manusia yang bebas sesuai dengan
tujuan kemerdekaan bangsa Indonesia. Di era modern dan globalisasi saat ini, yang
ditandai dengan kehidupan yang semakin teknis dan profesional, diperkirakan banyak
dan etika peserta didik. Tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan agama memiliki
beberapa kekurangan, seperti waktu pembelajaran yang sangat terbatas, materi yang
terlalu teoritis, serta pendekatan yang kurang efektif dalam pengajaran agamayang
1
Abd Rahman BP dkk., “PengertianPendidikan, IlmuPendidikandanUnsur-UnsurPendidikan,”
Al UrwatulWutsqa: KajianPendidikan Islam 2, no. 1 (2021): 2–3.
1
2
cenderung bertumpu pada aspek kognisi dari pada afeksi dan psikomotorik peserta
didik disekolah.2
Di era modern sekarang ini, setiap kali timbul permasalahan dalam kehidupan
masyarakat, solusinya diharapkan berasal dari masyarakat itu sendiri. Salah satu cara
Pendidikan spiritual berperan dalam memperkuat aspek spiritual peserta didik serta
agama secara alami. Selain itu, pendidikan ini membantu membentuk karakter yang
spiritual, prinsip hidup, serta keteladanan yang diperoleh dari keyakinan terhadap
Allah Swt, malaikat, kitab-kitab suci, rasul, hari akhir, serta takdir baik maupun
buruk.3
dalam memberikan bimbingan, pengajaran, dan pelatihan kepada peserta didik guna
memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk kepribadian peserta didik,
sebab fungsinya dapat menggantikan peran keluarga dan orang tua dalam proses
pendidikan. Oleh karena itu, pembiasaan sikap spiritual menjadi salah satu tujuan
(Sebuah Kajian Terhadap Riwayat Nabi Yusuf As),” Legalite: Jurnal Perundang Undangan dan
Hukum Pidana Islam 2, no. 1 (2021): 96–97.
3
Ibid., 97-98.
3
keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berperilaku mulia.
vertikal dengan Allah, yaitu menciptakan ikatan yang berkelanjutan antara jiwa dan
Tuhan dalam segala aspek kehidupan, baik dalam tindakan, pikiran, maupun
memiliki peran penting dalam membimbing peserta didik agar mampu membentuk
sikap spiritual yang kuat, seingga mereka tumbuh menjadi pribadi yang religius.
kebijaksanaan dan kesadaran terhadap nilai serta tujuan hidup, serta membantu
individu untuk secara kreatif menemukan dan membangun makna baru dalam
hidupnya.4
kegiatan rutinitas yang diadakan setiap seminggu sekali dalam setiap hari jumat di
lingkungan sekolah, kegiatan ini bertujuan untuk pembinaan keagamaan yang sangat
penting ditanamkan sejak dini untuk menguatkan pondasi peserta didik. Maka dari itu
4
Firdiansyah Alhabsy dan Faridahtul Hasanah, “Pengembangan Sikap Spiritual Peserta Didik
Pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SDN 12 Palu,” Scolae: Journal of Pedagogy 4,
no. 1 (2021): 26.
4
kegiatan ini dilakukan secara terus menerus untuk membangun keyakinan dan
sepenuhnya sadar akan rutinitas kegiatan dzikir dan shalat dhuha yang sudah menjadi
kewajiban setiap minggunya. Dimana peserta didik dalam kegiatan tersebut masih
banyak bercerita dan bercanda gurau sehingga tidak fokus dalam melaksanakan
peserta didik dan guru serta para staf sekolah, diharapkan kegiatan dzikir ini mampu
memberikan pengaruh positif terhadap kondisi batin dan psikologi peserta didik,
sehingga keimanan mereka dapat meningkat dan mendorong mereka untuk tetap taat
kepada Alla Swt. Apabila nilai-nilai Islam telah tertanam melalui praktik keagamaan
tersebut, maka hal itu akan memperkuat iman serta membentuk perilaku peserta didik
G. Rumuans Masalah
2. Faktor-faktor apa saja yang mendukung serta yang menjadi hambatan dalam
1. Untuk memahami sejauh mana keefektivan kegiatan dzikir dan shalat dhuha
kegiatan dzikir dan shalat dhuha dalam membentuk kesadaran spiritual peserta
I. Manfaat penelitian
1. Manfaat teoritis
dalam penelitian dibidang pendidikan, serta bisa dijadikan rujukan atau pedoman
untuk penelitian-penelitian berikutnya yang relevan dengan kegiatan dzikir dan shalat
2. Manfaat praktis
kegiatan dzikir dan shalat dhuha. Mereka dapat terbiasa melaksanakan pekerjaan
sunnah yang ada di dalam syariat islam melalui kegiatan ini yang ditanamkan sejak
usia dini.
6
b. Bagi Sekolah
Temuan dari penelitian ini bisa menjadi sumber informasi bagi pihak
sekolah agar dapat mengembangkan program kegiatan dzikir dan shalat dhuha yang
c. Bagi Penulis
Hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi oleh penulis untuk penelitian
lanjutan atau sebagai landasan untuk penulisan karya ilmiah lainnya dalam bidang
pendidikan keagamaan.
J. Penegasan Istilah
1. Shalat dhuha merupakan ibadah sunnah yang dilaksanakan ketika matahari mulai
meninggi. Shalat dhuha paling sedikit dilakukan dua rakaat, dan bisa ditambah
empat, enam, atau delapan rakaat yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan
menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan makna dan nilai kehidupan. Hal
menempatkan perilaku dan kehidupan kita dalam konteks yang lebih mendalam
dan bernilai, serta mampu menilai bahwa pilihan hidup seseorang memiliki makna
3. Peserta didik meupakan individu yang sedang terlibat dalam aktivitas pendidikan
dengan penelitian yang akan penulis teliti, kajian teori, serta kerangka pemikiran
penelitian.
Bab III, yaitu metode penelitian. Terdiri dari, pendekatan dan desain
penelitian, lokasi penelitian, data dan sumber data, teknik pengumpulan data, teknik
5
Kamaliah, “Hakikat peserta Didik,”Educational Journal: General and Specific Research 1,
no. 1 (2021): 53.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
C. Penelitian Terdahulu
Penelitian berikut ini adalah penelitian yang dinilai relevan dengan penelitian
yang mengangkat masalah tentang efektivitas kegiatan dzikir dan salat dhuha dalam
sebagai berikut:
6
Ririn Nur’aini, “Implementasi Shalat Dhuha dalam meningkatkan Kecerdasan Spiritual
siswa kelas VIII di MTS Al-Hikmah Batanghari Lampung Timur” (Undergraduate thesis, Institut
Agama Islam Negeri Metro, 2021).
8
9
7
Faizatur Rohmah, “Pembiasaan Shalat Dhuha dalam membentuk Karakter Kecerdasan
Spiritual Siswa di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 Jember” (Undergraduate thesis, Institut Agama Islam
Negeri Jember, 2020).
10
D. Kajian Pustaka
1. Efektivitas
a. Penegertian Efektivitas
mencapai tujuan yang telah direncanakan. Istilah ini berkaitan erat dengan sejauh
mana hasil yang diperoleh sesuai dengan target atau harapan yang telah ditentukan.
8
Darma Watini, “Totalitas Shalat Dhuha dalam Membangun Kecerdasan Spiritual Siswa
Kelas V di SD IT Wahdatul Ummah Kota Metro” (Undergraduate thesis, Institut Agama Islam Negeri
Metro, 2022).
11
Efektivitas adalah suatu kondisi yang memberikan dampak terhadap sesuatu secara
Efektivitas adalah indikator yang menunjukkan sejauh mana tujuan yang telah
dirancang sebelumnya oleh suatu lembaga atau orgtanisasi dan berguna untuk
dalam suatu hal untuk mencapai tujuan yang diinginkan, atau suatu keberhasilan yang
1) Faktor Eksternal
Faktor ekternal atau sering kita kenal dengan faktor dari luar, yakni
lingkungan sekolah. Adapun yang dilihat dari sekolahnya yaitu sarana dan
prasarana yang disediakan, serta tujuan dan strategi yang di laksanakan dalam
kegiatan.
2) Faktor Internal
Faktor Internal atau sering kita sebut faktor dari dalam, yaitu faktor
yang mempengaruhi efektivitas dari dalam, misalnya pada diri peserta didik
9
Muammad Sawir, Birokrasi Pelayanan Publik Konsep, Teori, dan Aplikasi
(Yogyakarta:Grup Penerbitan CV Budi Utama, 2020), 126.
12
seperti kesadaran dan minat peserta didik dalam melaksanakan kegiatan dzikir
dengan baik dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor eksternal dan faktor internal.
2. Dzikir
Kalimat, "dzikir" merupakan bentuk masdar dari fi'il madhi 'dzakara' yang
terdiri dari bab tsulasi mujarrad. Sedangkan dalam tinjauan maknanya berarti:
mengerti. Sementara dalam tinjauan istilah, para ulama bervariasi dalam memaknai
dzikir. "dzikir dari segi bahasa adalah mengingat. Sedangkan menurut istilah yaitu
Sebuah usaha yang sungguh-sungguh untuk mengalihkan sebuah ide, pikiran dan
perhatian manusia menuju Tuhan dan akhirat. Said Aqil Siraj menjelaskan bahwa
dzikir mencakup seluruh gerakan dan aktivitas yang berfokus pada usaha
sama yaitu mengingat. Maka Intinya, dengan berdzikir dapat mengingat kebesaran
Allah.10
10
Hamdisyaf, Dzikir dan Self Awareness (Jawa Barat: Guepedia, 2021), 21-23.
11
M. KhalilurramanAlmahfani, KeutamaanDoa dan Dzikir (Jakarta Selatan: PT. Wahyu
Media, t.t.), 38-43.
13
1. Allah akan ingat kepada hamba yang ingat kepada-Nya. Allah akan
kepada-Nya.
2. Dzikir kepada Allah yang termasuk dalam doa merupakan ibadah yang
dengan emas dan perak. Dikarenakan Dzikir merupakan sarana bagi seorang
3. Dzikir merupakan sunnah para nabi dan rasul, dan merupakan amalan utama
3. Shalat Dhuha
Shalat secara bahasaa adalah doa, dan secara syara’ sebagaimana yang
disampaikan oleh imam Rafi’i adalah ucapan dan pekerjaan yang dimulai dengan
menjadi dua kategori yaitu shalat wajib dan shalat sunnah. Salat wajib adalah ibadah
yang mendatangkan pahala bagi yang melaksanakannya, namun menjadi dosa jika
12
Syaikh al-Imam Abi AbdillahMuammad bin Qosim al-Ghozi, FatulQorib, ed. oleh Nailul
Huda, trans. oleh Muhammad Hamim HR, Terjemah Fathul Qorib Paling Lengkap
(Lirboyo:SantriSalaf Press, 2020), 38-43.
14
apabila dilaksanakan, tetapi tidak dianggap dosa jika [Link] satu shalat
sunnah yang sangat penting untuk diketahui adalah shalat sunnah Dhuha.13
Dapat ditarik kesimpulan bahwa shalat terbagi menjadi dua yaitu, shalat wajib
Shalat dhuha adalah shalat sunnah yang dikerjakan pada waktu matahari
sedang naik. Sekurang-kurangnya shalat dhuha inidikerjaklan dua rakaat, boleh empat
rakaat, enam rakaat, atau delapan rakaat yang dimulai dengan takbir dan diakhiri
Jadi shalat sunnah dhuha adalah shalat sunnah yang dikerjakan diwaktu pagi
hari atau pada waktu dhuha sekiranya matahari telah naik dari tempat terbitnya.
yang relevan adalah [Link] shalat dhuha dapat dilihat dari riwayat Abu
Artinya:
13
Anindya Zhafira Azurazmi dkk. , “Analisis Pelaksanaan Shalat DhuhaTerhadap Karakter
Religius Siswa Di Sekolah Dasar,” Jurnal Edukarya 30, no. 10 (2024): 175–76.
MohRifa’i, Risalah Tuntunan Shalat Lengkap (Semarang: [Link] Toha Putra, 2019), 84.
14
15
Menurut imam nawawi dalam alim bahwa, sholat dhuha adalah sunnah
mu’akad (sangat dianjurkan). Dengan kata lain, sholat dhuha adalah sholat sunnah
istimewa sehingga kita dianjurkan untuk tidak melalaikannya sebagai kita diwajibkan
Dalam kitab Safitanun Najah karya Syeikh Salim bin Smeer Al-Hadhrami
15
Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari dan Muslim, “Hadis riwayat Al-Bukhari (no.1981) dan Muslim
(no.721),” t.t.
16
Abdur Rohim, “Kegiatan Sholat Dhuha Berjamaah dalam Membentuk Karakter Siswa di
Madrasah Ibtidaiyah Al Azhar Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember,” AL-ASHR: Jurnal
Pendidikan Dan Pembelajaran Dasar, Prodi PGMI-Fakultas Tarbiyah-UIJ 5, no. 2 (2020): 22.
17
Syeikh Salim bin Smeer Al-Hadrami, Safinatun Najah, trans. oleh Abu Muammad Alaydrus
Terjemah Safinatun Najah panduan fiqih dasar madzhab Syafi’i (Surabaya: Mutiara Ilmu Agency,
2015), 26.
16
a) Niat, niat shalat dhuha diucapkan di dalam hati bersamaan dengan pada saat
takbiratul ikhram.
b) Setelah berniat shalat dhuha maka untuk selanjutnya mulailah membaca bacaan
iftitah
c) Setela membaca bacaan iftitah, membaca surah al-Fatihah
d) Kemudian membaca surah-surah pendek.
e) Ruku’ (membaca tasbih sebnyak 3 kali)
f) Kemudian i’tidal dengan membaca bacaan i’tidal
g) Setelah itu sujud pertama dengan membaca bacaan sujud (dibaca 3 kali)
h) Kemudian duduklah diantara dua sujud,lalu membacakan bacaan duduk shalat
pada sujud kedua, bacalah pada bacaan sujud kedua tersebut sebanyak tiga kali
i) Setelah rakaat pertama telah diselesaikan, maka lakukannlah rakaat kedua dengan
cara yang sama seperti diatas, kemudian pada tahsyahud akhir sesudah semua
selesai maka segera mulailah membaca salam untuk sebanyak 2 kali.
j) Setelah melaksanakan shalat dhuha membaca doa:19
ض َحآ هء َك َو ْالبَ َهآ َء بَ َهآ هء َك َوال َج َما َل َج َماله َك َو ْالقهوة َ قهوت ه َك
ض َحآ َء ه
ُّ الل ههم اِن ال
اَلل ههم ا ِْن َكانَ ِر ْزقِى فِى الس َمآ ِء فَأ َ ْن ِز ْلهه َوا ِْن.ص َمت ه َك ْ َو ْالقهد َْرة َ قهد َْرت ه َك َو ْال ِع
ْ ص َمةَ ِع
َ ض َحآ ِء َك َوبَ َهآ ِء َك َو َج َما ِل َك َوقهوتِ َك َوقهد َْر ِت َك ٰا ِتنِ ْي َمآ ٰاتَي
ْت ِ َكانَ َب ِع ْيدًا فَقَ ِر ْبهه بِ َح
ق ه
18
Ibid., 23.
[Link]’i, 85.
19
17
Sabda nabi Muhammad Saw yang diriwayatkan oleh bAbu Hurairah ra.
Dalam hadis:20
ُّ ش ْفعَ ِة ال
ضحٰ ى ع َلى ه َ َسل َم َم ْن َحاف
َ ظ َ علَ ْي ِه َو
َ ّٰللاه
صلى ه ِ س ْو هل ه
َ ّٰللا قا َل َر ه
َت ِمثْ َل زَ بَد ِْال َب ْح ِر
ْ غ ِف َرلَهه ذهنه ْوبههه َوا ِْن َكان
ه
Artinya:
“Siapa saja yang dapaat mengerjakan salat dhuha dengan langgeng,
akan diampuni dosanya ole Allah, sekalipun dosa itu sebanyak busa di
lautan”.
4. Kesadaran Spiritual
dalam bahasa Arab disebut al-dzaka', yang berasal dari kata yang berarti
Kata "kecerdasan" terbentuk dari penambahan awalan dan akhiran yang menunjukkan
20
Moh. Rifai’i, 86.
21
M. KhalilurramanAlmahfani, Keutamaan Doa dan Dzikir (Jakarta Selatan: PT. Wahyu
Media, 2008), 19-27.
18
kecerdasan merujuk pada pemahaman, ketepatan, dan kesempurnaan dalam suatu hal,
kata spiritual dalam bahasa Inggris berasal dari akar kata "spirit". Menurut
Oxford Anvanced Learner's Dictionary yang dikutip oleh Tobrani, spirit mencakup
berbagai makna seperti jiwa, roh, semangat, makhluk halus, nilai moral, sertatujuan
atau makna yang mendalam. Sementara itu dalam bahasa Arab, istilah spiritual
Danah Zohar dan Ian Marshalll menjelaskan bahwa kecerdasan spiritual (SQ)
berkaitan dengan makna dan nilai. Kecerdasan ini memungkinkan seseorang untuk
memahami perilaku dan kehidupan dalam kerangka makna yang lebih mendalam dan
luas, serta menilai bahwa cara hidup tertentu memiliki nilai yang lebih tinggi
diri manusia untuk menjadikan setiap tindakan dan aktivitasnya sebagai bentuk
23
Darmadi, Kecerdasan Spiritual anak Usia Dini dalam Cakrawala Pendidikan Islam
(Bogor: Guepedia, t.t.).
24
Surianti dan Rahmatullah, “Pelaksanaan Shalat Dhuha dalam Meningkatkan Kecerdasan
Spiritual Pada Siswa SMA 8 Sinjai,” Mimbar Jurnal Media Intelektual Muslim dan Bimbingan Rohani
8, no. 1 (2022): 29.
19
ibadah. Hal ini dicapai melalui pemikiran dan langkah yang selaras dengan fitrah,
diarahkan pada pencapaian kepribadian yang utuh, berdasarkan pola piker tauhid, dan
perspektif yang mengarahkan cara berpikir kita menuju hakikat terdalam kehidupan
manusia, yaitu penghambaan diri pada Sang Maha Suci dan Maha Meliputi.25
kecerdasan spiritual tertinggi hanya dapat dilihat jika individu telah mampu
Kecerdasan spiritual merupakan intuisi hati yang berasal dari kebenaran Ilahi,
karena penerapannya mencerminkan hati nurani yang jernih dan terang, ditunjukkan
melalui perbuatan positif, mengarahkan manusia pada jalan yang benar, serta
berbagai masalah.
1. Memiliki iman kepada Allah serta bertakwa kepada-Nya sebagai sang pencipta
2525
Triantoro Safaria, Spiritual Intelligence: Pengembangan Kecerdasan Spiritual pada
Anak (Yogyakarta: Jejak Pustaka, 2023), 14.
26
Wahyu Sabilar Rosad, “Pelaksanaan Shalat Dhuha dalam meningkatkan Kecerdasan
Spiritual Siswa Kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah Ma’arif NU Ajibarang Wetan” Jurnal Ilmiah Maasiswa
Raushan Fikr9,no.2(2020): 33.
20
3. Memiliki rasa kasih sayang antar sesama sebagai pertanda seorang yang
beriman.
4. Tidak bersifat dusta terhadap sesame maupun ajaran agama, serta senantiasa
agama.
menunjukkan kesabaran.
kecerdasan spiritual yang penting untuk dijadikan pedoman hidup agar seseorang
senantiasa berada dalam rasa syukur, selalu mengingat Allah, serta merasakan
terhadap Tuhan yang telah menciptakan dan menentukan takdir setiap individu.
Berpikir positif juga merupakan cara orang tua atau pendidik untuk membimbing
anak agar tetap bersemangat dan optimis dalam menghadapi berbagai hal.
27
Ibid., 36-37.
21
tujuannya, sedangkan orang yang optimis akan memandang segala hal secara
Setiap individu memiliki niat baik dalam hatinya, dan ketika niat tersebut
diwujudkan dalam bentuk tindakan positif terhadap Tuhan, diri sendiri, maupun
sesame, maka kebaikan itu menjadi upaya yang tulus untuk meraih ridho Allah
Swt. Sikap seperti ini dipandang sebagai bentuk kerja keras yang dimiliki
tuhan selalu memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya. Setiap kejadian yang
terjadi pasti memiliki hikmah, dan bahkan dalam pengalaman yang paling pahit
pun, tetap ada sisi positif yang bisa [Link] salah satu bentuk sebuah
bahwa segala sesuatu yang terjadi pasti ada manfaatnya, bahwa sepahit-pahitnya
seseorang dapat lebih memahami dan mengaplikasikannya secara tepat, antar lain:
memungkinkan mereka menjadi pribadi yangbaik, percaya diri, serta mampu menjaga
dan memelihara bumi sebagai seorang khalifah atau pemimpin. Dapat ditarik
kesimpulan bahwa faktor internal yang mempengarui kecerdasan spiritual berasal dari
dan mengembangkan jiwa yang religius. Adapun faktor tersebut antara lain:28
a) Lingkungan Keluarga.
Keluarga adalah lingkungan awal dan paling penting bagi setiap anak
b) Lingkungan Sekolah.
didik. Di lingkungan sekolah, para pendidik yang yang memegang peran penting
28
Rizky Amaliyah, “Efektivitas Penerapan Salat Dhuha dalam Meningkatkan Kecerdasaan
Spiritual Siswi di SMP Islam terpadu Alhusnayain Pidoli Dolok Panyabungan” (Jurusan Pendidikan
Agama Islam, UIN Syekh Ali Hasan Amad Addary, Padangsidimpuan, 2023), 31-33.
23
lainnya, dapat menjadi motivasi bagi peserta didik untuk meniru dan
c) Lingkungan Masyarakat.
sekitar rumah tempat peserta didik belajar, bermain, menonton televisi serta
[Link] Didik
tengah berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan secara fisik, mental,
Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa peserta didik peserta didik
29
Kamaliah, “Hakikat peserta Didik,”Educational Journal: General and Specific Research 1,
no. 1 (2021): 50.
24
pendidikann jenis pendidikan tertentu.30Peserta didik Juga ialah anak didik yang
belum dewasa dan memiliki banyak sekali potensi yang harus dikembangkan. Anak
didik adalah "bahan yang masih mentah" (bahan mentah) dalam proses
yang bercita-cita untuk tumbuh melalui proses pendidikan dengan mengikuti jalur
Jadi, peserta didik adalah orang sedang meningkatkan potensi dirinya dengan
1. Perkembangan intelektual
30
[Link] pada tanggal 15 mey, 2025.
Pukul13.39.
Faisal dkk., “Hakikat Peserta Didik The Nature Of Students,” JIC: Jurnal Intelek Insan
31
32
Muhammad Misbahudholam AR, Memahami Karakteristik Peserta Didik (Jakarta
Barat:Tare Books, 2021),140-143.
25
Anak usia sekolah dasar (6-12 tahun) telah mampu merespon rangsangan
2. Perkembangan Bahasa
Bahasa berfungsi sebagai alat untuk berinteraksi dengan orang lain. Hal ini
melalui tulisan, ucapan, isyarat, gerakan, serta symbol seperti kata, kalimat, suara,
3. Perkembangan sosial
Di usia ini, anak mulai mampu menyesuaikan dirinya dari sikap yang
berpusat pada diri sendiri (egosentris) menjadi lebih kooperatif (bekerja sama)
dan peduli terhadap orang lain (sosiosentris). Perkembangan social inilah yang
4. Perkembangan emosi
pembiasaan. Dalam proses ini, cara orang tua mengatur emosinya memiliki
pengaruh besar terhadap anak. Emosi sendiri menjadi salah satu faktor utama yang
5. Perkembangan emosional
pemahaman itu akan tumbuh. Saat anak memasuki usia sekolah dasar ia sudah
26
mampu mematuhi aturan yang diberikan oleh orang tua maupun lingkungan
sosialnya.
sesuai dengan logika, dengan melihat alam semesta sebagai bukti kebesaran-
Nya.
6. Kerangka Pemikiran
digunakan untuk menjelaskan hubungan antara teori, konsep, dan variabel dalam
penelitian, yang berfungsi sebagai panduan dalam penelitian dan membantu penulis
merumuskan hipotesis.
bagian ini, penulis akan menguraikan tentang kerangka pikir yang akan dijadikan
Hal ini dianggap jelas karena dapat mempermudah penulis memperoleh data
METODE PENELITIAN
B. Pendekatan Penelitian
penelitian ini bermaksud mengamati Efektivitas Kegiatan Dzikir dan Shalat Dhuha
dalam Membentuk Kesadaran Spiritual dan Etika Beribadah pada Peserta Didik SD
menghasilkan data dalam bentuk deskripsi, baik melalui tulisan maupun ucapan dari
yang tidak bisa diperoleh melalui prosedur statistik atau metode kuantitatif lainnya.
data deskriptif berupa ucapan atau tulisan dari individu serta perilaku yang bisa
diamati. Maka dari itu, data yang diperoleh berupa kata-kata, kalimat, atau gambar,
bukan berupa angka.33 Sementara itu tujuan dari penelitian kualitatif deskriptif ini
adalah untuk mebuat penggambaran secara sistematis, faktual dan akurat tentang
33
VW, Sujarweni, Metodologi Penelitian(Yogyakarta: Pustaka Baru Press, 2014), 32.
28
29
C. LokasiPenelitian
Kota Palu, Sulawesi Tengah. Pemilihan lokasi ini dipilih sebagai lokasi penelitian
dengan pertimbangan bahwa dilokasi tersebut terdapat beberapa peserta didik yang
masih kurang dalam berperilaku baik serta untuk mengetahui upaya apa yang
D. Kehadiran Peneliti
pencatat lapangan, dan aktif dalam mengumpulkan informasi dan data yang
34
Imam Gunawan, Metode penelitian kualitatif: Teori dan Praktek (Jakarta: Bumi
aksara,2018),278.
30
menjadi sangat krusial, sebab dalam penelitian kualitatif, informasi diperoleh dari
narasumber. Oleh sebab itu, penulis diwajib kan hadir langsung di tempat penelitian
penulis harus terlebih dahulu mengajukan permohonan izin kepada dekan fakultas
penulis di lokasi penelitian dapat terpantau, dan hal ini mempermudah proses
pengambilan data, dan mengobservasi secara teliti dan cermat terhadap objek
penelitian. Penulis sangat berperan penting dalam sebuah penelitian karena dengan
adanya kehadiran penulis maka observasi akan berjalan lancer dan merupakan kunci
dari sebuah penelitian karena penulis yang melakukan observasi ke lapangan dan
menghasilkan data yang konkret dan tepat. Kehadiran penulis dapat melibatkan
35
S. Margono, Metode Penelitian pendiikan (Jakarta: Rineka Cipta,2000), ke-2
31
langsung orang yang diteliti dan harus berinteraksi langsung serta membangun
efektivitas kegiatan dzikir dan shalat dhuha dalam membentuk kesadaran spiritual
yang bias berupa angka, simbol, atau karakteristik tertentu. Sumber data menjadi
elemen yang sangat krusial dalam kegiatan penelitian. Sumber data menjadi elemen
Data bias dikumpulkan dari berbagai sumber, baik secara langsung melalui
penelitian, dari pernyataan orang lain, media, dan lainnya. Namun, untuk memperoleh
data yang tepat dan akurat, harus dilakukan sesuai dengan prosedur yang telah
1. Data Primer
Data primer adalah informasi yang diperoleh langsung dari lapangan, berupa
ucapan atau tindakan responden yang diamati atau diwawancarai oleh peneliti dan
yang telah diisi, serta dokumen yang dikumpulkan dari informan atau pihak terkait
lainnya.
36
SuharsimiArikuntyo, ProsedurPenerlitianSuatuPendekatanPraktik(Jakarta RenikaCipta,
2010), 129.
32
2. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang dikumpulkan dari lembaga atau instansi
yang relevan dengan topik penelitian, dan biasanya berupa referensi pustaka seperti
buku, situs internet, dokumen hukum, serta berbagai sumber tertulis lainnya yang
berhubungan.37
Data sekunder juga bisa diperoleh dari dokumen dan berbagai catatan yang
latar belakang sejarah, kondisi tenaga pendidik, siswa, serta fasilitas sekolah.
pedoman yang sudah ditetapkan. Dalam penelitian kualitatif, metode dasar yang
1. Observasi
terencana dan terstruktur dengan cara mengamati serta mencatat gejala-gejala yang
juga aktivitas terhadap suatu proses atau objek dengan maksud merasakan dan
37
Eko Murdiyanto, Metode Penelitian Kualitatif (Yogyakarta:Lembaga Penelitian dan
Pengabdian Pada masyarakat UPN “VETERAN” Yogyakarta Press,2020), 127.
38
Ibid., 147
33
yang telah ada sebelumnya, dengan tujuan memperoleh informasi yang diperlukan
Dalam penelitian ini penulis mengamati seberapa efektif kegiatan dzikir dan
2. Wawancara
kepada responden. Wawancara dilakukan secara tatap muka antara pewawancara dan
komunikasi antara dua pihak, yakni pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan
maupun tidak langsung, baik dalam bentuk terstruktur maupun bebas. Tujuan
utamanya adalah untuk memperoleh informasi yang tidak bisa diamati secara
langsung.40
39
P. JokoSubagyo, MetodePenelitian :DalamTeoridanPraktek(Jakarta: RinekaCipta 1997) 62-
63.
40
Eko Murdiyanto, Metode Penelitian Kualitatif, 59.
34
yang telah dirancang sebelumnya oleh peneliti untuk memperoleh informasi yang
wawancara.
3. Dokumentasi
telah terjadi. Dokumentasi umumnya berupa tulisan, gambar, atau hasi lkarya milik
seseorang. Contoh dokumentasi dalam bentuk tulisan meliputi jurnal harian, catatan
sejarah, serta kisah biografi. Sementara itu, dokumentasi dalam bentuk visual bisa
G. TeknikAnalisis Data
Tekni kanalisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis
kualitatif. Tiga langkah utama yaitu reduksi data, penyajian data dan langkaht erakhir
kesimpulan.41
1. Reduksi Data
utama, menekankan pada bagian yang relevan, serta mengidentifikasi tema dan pola
tertentu. Hasil dari reduksi ini akan memberikan penjelasan yang lebih terstruktur dan
2. Penyajian data
kategori, bagan alur, atau bentuk serupa lainnya. Dalam penelitian kualitatif, metode
yang paling umum digunakan untuk menyajikan data adalah melalui teks naratif yang
berisi ringkasan hasil observasi serta wawancara. Dengan melakukan display data,
maka akan memudahkan peneliti untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan
kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut. Dipenyajian data
penulis akan menguraikan hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan oleh
penulis.
41
Umar Sidiq, [Link] Choiri, Metode penelitian kualitatif di bidang pendidikan
(Ponorogo: [Link] Karya,2019), 43-45.
36
3. Penarikan kesimpulan
Menarik kesimpulan adalah langkah terakhir dalam proses analisis data, yang
pada rumusan masalah dan tujuan penelitian. Data yang telah diolah kemudian
benar bersifat ilmiah serta untuk mengevaluasi data yang telah dikumpulkan. Dalam
penelitian kualitatif, validitas data diuji melalui triangulasi sumber, teknik, dan
metode.42
menggunakan sumber atau informasi lain di luar data utama sebagai bahan
42
Lexy J. Maleong, MetodologiPenelitianKualitatif(Bandung: RemajaRosdaKarya, 2015),
178.
43
Ibid., 72.
44
Umar Sidiq, [Link] Choiri, Metode penelitian kualitatif di bidang pendidikan, 94-
95.
37
1. Triangulasi Sumber
mendapatkan data factual dari lapangan, namun berasal dari informan yang
berbeda.
2. Triangulasi Teknik
wawancara dan observasi. contohnya, data yang didapat dari wawancara dapat
3. Triangulasi Waktu
narasumber masih dalam kondisi segar dan belum menghadapi banyak gangguan,
cenderung menghasilkan data yang lebih akurat dan terpercaya. Oleh karena itu,
observasi, atau metode lain pada waktu atau situasi yang berbeda.
DAFTARPUSTAKA
Al-Hadrami, Syeikh Salim bin Smeer. Safinatun Najah. Diterjemahkan oleh Abu
MuammadAlaydrus. Mutiara Ilmu Agency, 2015.
Azurazmi, Anindya Zhafira, Thalita Nailah Putri, dan others. “Analisis Pelaksanaan
Shalat Dhuha Terhadap Karakter Religius Siswa Di Sekolah Dasar.” Jurnal
Edukarya 30, no. 10 (2024): 175–76.
BP, Abd Rahman, Subhayati Asri Munandar, AndriFitriani, dan others. “Pengertian
Pendidikan, Ilmu Pendidikan dan Unsur-Unsur Pendidikan.” Al
UrwatulWutsqa: Kajian Pendidikan Islam 2, no. 1 (2021): 2–3.
Darmadi. Kecerdasan Spiritual anak Usia Dini dalam Cakrawala Pendidikan Islam.
Guepedia, t.t.
Ghozi, Syaikh al-Imam Abi Abdillah Muammad bin Qosim al-. Fatul Qorib.
Disunting oleh Nailul Huda. Diterjemahkan oleh Muhammad Hamim HR.
Santri Salaf Press, 2020.
28
29
Gunawan, Imam. Metode Penelitian Kualitatif: Teori dan Praktek. Bumi Aksara,
2018.
Rifa’i, Moh. Risalah Tuntunan Shalat Lengkap. PT. Karya Toha Putra, 2019.
Sawir, Muammad. Birokrasi Pelayanan Publik Konsep, Teori, dan Aplikasi. Grup
Penerbitan CV Budi Utama, 2020.
Sidiq, Umar, dan Moh Miftachul Choiri. Metode Penelitian Kualitatif di Bidang
Pendidikan. CV. Nata Karya, 2019.