0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan44 halaman

Dzikir dan Shalat Dhuha Tingkatkan Spiritual SD

Proposal ini membahas efektivitas kegiatan dzikir dan shalat dhuha dalam membentuk kesadaran spiritual peserta didik di SD Inpres 5 Birobuli. Penelitian bertujuan untuk memahami sejauh mana kegiatan tersebut berpengaruh dan mengidentifikasi faktor pendukung serta penghambatnya. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi positif bagi pengembangan pendidikan agama di sekolah dasar.

Diunggah oleh

Ayu Riska
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan44 halaman

Dzikir dan Shalat Dhuha Tingkatkan Spiritual SD

Proposal ini membahas efektivitas kegiatan dzikir dan shalat dhuha dalam membentuk kesadaran spiritual peserta didik di SD Inpres 5 Birobuli. Penelitian bertujuan untuk memahami sejauh mana kegiatan tersebut berpengaruh dan mengidentifikasi faktor pendukung serta penghambatnya. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi positif bagi pengembangan pendidikan agama di sekolah dasar.

Diunggah oleh

Ayu Riska
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

EFEKTIVITAS KEGIATAN DZIKIR DAN SHALAT DHUHA

DALAM MEMBENTUK KESADARAN SPIRITUAL PADA


PESERTA DIDIK SD INPRES 5 BIROBULI

PROPOSAL SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mengikuti Seminar Proposal


Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI)
Fakultas Tarbiyah Dan Ilmu Keguruan (FTIK)
Universitas Islam Negeri (UIN)
Datokarama Palu

Oleh:
AYU RISKA RUSTAM
211040024

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN (FTIK)


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
DATOKARAMA PALU
2025

I
ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Proposal yang berjudul “Peran Kegiatan Dzikir Dan Shalat Dhuha Dalam

Membentuk Kesadaran Spiritual Dan Etika Beribadah Pada Peserta Didik SD Inpres

5 Birobuli” oleh mahasiswa atas nama Ayu Riska Rustam NIM : 211040024,

mahasiswa jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Fakultas Tarbiyah

dan Ilmu Keguruan (FTIK), Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu,

setelah dengan seksama meneliti dan mengoreksi proposal yang bersangkutan, maka

masing-masing pembimbing memandang bahwa proposal tersebut telah memenuhi

syarat-syarat ilmiah dan dapat diajukan untuk diseminarkan.

Sigi, 6 Januari

2025 M

06 Rajab 1446 H

Pembimbing I Pembimbing II

Dr, Elya, [Link]., [Link]. Zaitun [Link].I., [Link].I


NIP: 19740515200642001 NIP: 198811202025212005
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ....................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN ............................................................ ii
DAFTAR ISI ....................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang .............................................................................. 1


B. Rumusan Masalah ......................................................................... 4
C. Tujuan dan kegunaan penelitian Penelitian ................................... 5
D. Manfaat penelitian ......................................................................... 5
E. Penegasan Istilah ........................................................................... 6
F. Garis-Garis Besar Isi ..................................................................... 7
BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Penelitian Terdahulu ..................................................................... 8


B. Kajian Pustaka ............................................................................... 10
1. Efektivitas ................................................................................. 10
2. Dzikir ........................................................................................ 12
3. Shalat Dhuha ............................................................................ 13
4. Kesadaran Spiritual .................................................................. 17
5. Peserta Didik ............................................................................ 24
6. Kerangka Pemikiran ................................................................. 26
BAB III METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian ................................................................... 27


B. Lokasi Penelitian ........................................................................... 28
C. Kehadiran Peneliti ......................................................................... 28
D. Data Dan Sumber Data .................................................................. 30
E. Teknik Pengumpulan Data ........................................................... 31
F. Teknik Analisis Data .................................................................... 34
G. Pengecekan Keabsahan Data ......................................................... 36
DAFTAR PUSTAKA

iv
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana

belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik aktif mengembangkan potensi

dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual kegamaan, pengendalian diri, kepribadian,

kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan

masyarakat.1

Pendidikan menjadi pintu awal untuk membawa perubahan, membebaskan

dari ketidaktahuan, dan mendorong tercapainya manusia yang bebas sesuai dengan

tujuan kemerdekaan bangsa Indonesia. Di era modern dan globalisasi saat ini, yang

ditandai dengan kehidupan yang semakin teknis dan profesional, diperkirakan banyak

orang mulai mengesampingkan nilai-nilai moral dan keagamaan dalam kehidupan

pribadi maupun sosial.

Kegagalan pendidikan agama di sekolah turut andil dalam lemahnya moral

dan etika peserta didik. Tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan agama memiliki

beberapa kekurangan, seperti waktu pembelajaran yang sangat terbatas, materi yang

terlalu teoritis, serta pendekatan yang kurang efektif dalam pengajaran agamayang

1
Abd Rahman BP dkk., “PengertianPendidikan, IlmuPendidikandanUnsur-UnsurPendidikan,”
Al UrwatulWutsqa: KajianPendidikan Islam 2, no. 1 (2021): 2–3.

1
2

cenderung bertumpu pada aspek kognisi dari pada afeksi dan psikomotorik peserta

didik disekolah.2

Di era modern sekarang ini, setiap kali timbul permasalahan dalam kehidupan

masyarakat, solusinya diharapkan berasal dari masyarakat itu sendiri. Salah satu cara

untuk mengatasinya adalah melalui pendidikan, khususnya dengan menanamkan

nilai-nilai spiritual melalui jalur pendidikan formal, nonformal, maupun informal.

Pendidikan spiritual berperan dalam memperkuat aspek spiritual peserta didik serta

menanamkan keimanan dalam diri mereka sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan

agama secara alami. Selain itu, pendidikan ini membantu membentuk karakter yang

beretika, mengembangkan potensi, dan mengarahkan peserta didik pada nilai-nilai

spiritual, prinsip hidup, serta keteladanan yang diperoleh dari keyakinan terhadap

Allah Swt, malaikat, kitab-kitab suci, rasul, hari akhir, serta takdir baik maupun

buruk.3

Sekolah adalah institusi pendidikan formal yang memiliki program terstruktur

dalam memberikan bimbingan, pengajaran, dan pelatihan kepada peserta didik guna

membantu mereka berkembang sesuai dengan potensi yang dimiliki. Sekolah

memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk kepribadian peserta didik,

sebab fungsinya dapat menggantikan peran keluarga dan orang tua dalam proses

pendidikan. Oleh karena itu, pembiasaan sikap spiritual menjadi salah satu tujuan

Suwaibatul Aslamiah, “Pendidikan Spiritual Sebagai Benteng Terhadap Kenakalan Remaja


2

(Sebuah Kajian Terhadap Riwayat Nabi Yusuf As),” Legalite: Jurnal Perundang Undangan dan
Hukum Pidana Islam 2, no. 1 (2021): 96–97.
3
Ibid., 97-98.
3

utama pendidikan di indonesia, yaitu untuk membentuk manusia yang memiliki

keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berperilaku mulia.

Dalam konteks spiritual, peserta didik diharapkan dapat membangun hubungan

vertikal dengan Allah, yaitu menciptakan ikatan yang berkelanjutan antara jiwa dan

Tuhan dalam segala aspek kehidupan, baik dalam tindakan, pikiran, maupun

pearasaan. Untuk menumbuhkan Kecerdasan Spiritual (SQ), pendidikan formal

memiliki peran penting dalam membimbing peserta didik agar mampu membentuk

sikap spiritual yang kuat, seingga mereka tumbuh menjadi pribadi yang religius.

Spiritual mencakup berbagai pemahaman tentang kesadaran diri terhadap

makna hidup, yang mendorong individu untuk berpikir secara mendalam,

kontekstual, dan transformatif sehingga terbentuk pribadi yang utuh secara

intelektual, emosional, dan spiritual. Kecerdasan spiritual menjadi sumber dari

kebijaksanaan dan kesadaran terhadap nilai serta tujuan hidup, serta membantu

individu untuk secara kreatif menemukan dan membangun makna baru dalam

hidupnya.4

Dalam kegiatan dzikir dan shalat dhuha di SD Inpres 5 Birobuli merupakan

kegiatan rutinitas yang diadakan setiap seminggu sekali dalam setiap hari jumat di

lingkungan sekolah, kegiatan ini bertujuan untuk pembinaan keagamaan yang sangat

penting ditanamkan sejak dini untuk menguatkan pondasi peserta didik. Maka dari itu

4
Firdiansyah Alhabsy dan Faridahtul Hasanah, “Pengembangan Sikap Spiritual Peserta Didik
Pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SDN 12 Palu,” Scolae: Journal of Pedagogy 4,
no. 1 (2021): 26.
4

kegiatan ini dilakukan secara terus menerus untuk membangun keyakinan dan

keimanan agar tetap taat kepada Allah Swt.

Berdasarkan observasi awal penulis, penulis melihat peserta didik belum

sepenuhnya sadar akan rutinitas kegiatan dzikir dan shalat dhuha yang sudah menjadi

kewajiban setiap minggunya. Dimana peserta didik dalam kegiatan tersebut masih

banyak bercerita dan bercanda gurau sehingga tidak fokus dalam melaksanakan

kegiatan dzikir dan sholat dhuha.

Pelaksanaan kegiatan dzikir bersama merupakan amalan yang dilakukan oleh

peserta didik dan guru serta para staf sekolah, diharapkan kegiatan dzikir ini mampu

memberikan pengaruh positif terhadap kondisi batin dan psikologi peserta didik,

sehingga keimanan mereka dapat meningkat dan mendorong mereka untuk tetap taat

kepada Alla Swt. Apabila nilai-nilai Islam telah tertanam melalui praktik keagamaan

tersebut, maka hal itu akan memperkuat iman serta membentuk perilaku peserta didik

agar tetap berada dalam batas ajaran agama.

G. Rumuans Masalah

Berdasarkan pada uraian latar belakang masalah diatas, penulis dapat

menyusun rumusan masalah sebagai berikut, yaitu:

1. Bagaimana Efektivitas kegiatan dzikir dan shalat dhuha dalam membentuk

kesadaran spiritual Peserta didik kelas V SD Inpres 5 Birobuli?

2. Faktor-faktor apa saja yang mendukung serta yang menjadi hambatan dalam

pelaksanaan kegiatan dzikir dan shalat dhuha dalam membentuk kesadaran

spiritual peserta didik kelas V SD Inpres 5 Birobuli?


5

H. Tujuan dan kegunaan penelitian

1. Untuk memahami sejauh mana keefektivan kegiatan dzikir dan shalat dhuha

dalam membentuk kesadaran spiritual Peserta didik kelas V SD Inpres 5 Birobuli.

2. Untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung maupun penghambat

kegiatan dzikir dan shalat dhuha dalam membentuk kesadaran spiritual peserta

didik kelas V SDI npres 5 Birobuli.

I. Manfaat penelitian

1. Manfaat teoritis

Diharapkan bahwa penelitian mampu menyumbangkan wawasan ilmiah

dalam penelitian dibidang pendidikan, serta bisa dijadikan rujukan atau pedoman

untuk penelitian-penelitian berikutnya yang relevan dengan kegiatan dzikir dan shalat

dhuha dalam membentuk kesadaran spiritual Pesertadidik. Dengan demikian,

penelitian ini diharapkan mampu memberikan dampak positif terhadap

perkembangan ilmu pendidikan terutama di lingkungan Sekolah Dasar.

2. Manfaat praktis

a. Bagi Peserta didik

Peserta didik berpeluang memperoleh pemahaman lebih baik lagi dalam

kegiatan dzikir dan shalat dhuha. Mereka dapat terbiasa melaksanakan pekerjaan

sunnah yang ada di dalam syariat islam melalui kegiatan ini yang ditanamkan sejak

usia dini.
6

b. Bagi Sekolah

Temuan dari penelitian ini bisa menjadi sumber informasi bagi pihak

sekolah agar dapat mengembangkan program kegiatan dzikir dan shalat dhuha yang

diterapkan di SD Inpres 5 Birobuli.

c. Bagi Penulis

Hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi oleh penulis untuk penelitian

lanjutan atau sebagai landasan untuk penulisan karya ilmiah lainnya dalam bidang

pendidikan keagamaan.

J. Penegasan Istilah

1. Shalat dhuha merupakan ibadah sunnah yang dilaksanakan ketika matahari mulai

meninggi. Shalat dhuha paling sedikit dilakukan dua rakaat, dan bisa ditambah

empat, enam, atau delapan rakaat yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan

salam dengan ketentuan syariat.

2. Kecerdasan spiritual (SQ) merupakan kemampuan dalam menyikapi serta

menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan makna dan nilai kehidupan. Hal

ini mencakup kecakapan dalam memaknai perilaku serta kemampuan dalam

menempatkan perilaku dan kehidupan kita dalam konteks yang lebih mendalam

dan bernilai, serta mampu menilai bahwa pilihan hidup seseorang memiliki makna

yang lebih besar dibandingkan lainnya.


7

3. Peserta didik meupakan individu yang sedang terlibat dalam aktivitas pendidikan

atau proses pembelajaran guna mengembangkan potensi dirinya.5

f. Garis-Garis Besar Isi

Proposal ini mencakup III bab utama yaitu:

BabI adalah bagian pendahuluan yang mejelaskan alasan dilakukaannya

penelitian, mencakup latar belakang, perumusan masalah, tujuan serta manfaat

penelitian, penegasan istilah/definisi operasional, serta garis-garis besar isi proposal.

BabII, yaitu terdiri dari penelitian terdahulu/penelitian yang dianggap relevan

dengan penelitian yang akan penulis teliti, kajian teori, serta kerangka pemikiran

penelitian.

Bab III, yaitu metode penelitian. Terdiri dari, pendekatan dan desain

penelitian, lokasi penelitian, data dan sumber data, teknik pengumpulan data, teknik

analisis data, dan pengecekan keabsahan data.

5
Kamaliah, “Hakikat peserta Didik,”Educational Journal: General and Specific Research 1,
no. 1 (2021): 53.
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

C. Penelitian Terdahulu

Penelitian berikut ini adalah penelitian yang dinilai relevan dengan penelitian

yang mengangkat masalah tentang efektivitas kegiatan dzikir dan salat dhuha dalam

membentuk kecerdasan spiritual pada peserta didik SD Inpres 5 Birobuli, diantaranya

sebagai berikut:

N Nama Persama Perbedaan Hasil


o Jurnal an Penelitian
1 Ririn sama- Perbedaan Pelaksana
. Nur’aini, sama meneliti penelitian ini an shalat Dhuha
“Implementasi tentang shalat dengan penelitian secara berjamaah
Shalat Dhuha dhuha dalam sebelumnya yaitu di MTs
dalam meningkatkan objek yang Al‑Hikmah
meningkatkan kecerdasan digunakan oleh
terbukti efektif
Kecerdasan Spiritual peserta peneliti, dalam
dalam
Spiritual didik, dan penelitian
membangun
siswa kelas metode yang sebelumnya
aspek spiritual
VIII di MTS dilakukan sama- menggunakan
siswa, seperti
Al-Hikmah sama objek peserta didik
keteguhan ibadah,
Batanghari menggunakan MTs, sedangkan
kejujuran,
Lampung metode penelitian ini
amanah, dan
Timur”. kualitatif. menggunakan
disiplin waktu
objek penelitian
meskipun masih
peserta didik SD,
terdapat tantangan
dan juga lokasi
terkait
penelitian ini
kedisiplinan siswa
dengan penelitian
sebelumnya
berbeda.6
2 Faizat sama- Penelitian Pembiasaa

6
Ririn Nur’aini, “Implementasi Shalat Dhuha dalam meningkatkan Kecerdasan Spiritual
siswa kelas VIII di MTS Al-Hikmah Batanghari Lampung Timur” (Undergraduate thesis, Institut
Agama Islam Negeri Metro, 2021).

8
9

. ur Rohmah, sama sebelumnya n shalat Dhuha di


“Pembiasaan menggunakan berfokus pada MIN 1 Jember
Shalat Dhuha subjek shalat pembiasaan shalat terbukti efektif
dalam dhuha dalam dhuha dalam dalam membentuk
membentuk penelitian, membentuk karakter spiritual
siswa menjadi lebih
Karakter kemudian kecerdasan berdisiplin, jujur,
Kecerdasan menggunkan spiritual peserta dan bertanggung
Spiritual objek yang didik, serta lokasi jawab
Siswa di sama dalam penelitian yang meningkatkan
Madrasah penelitian, yaitu berbeda pada kecerdasan spiritual
Ibtidaiyah peserta didik penelitian yang menggabungkan
Negeri 1 SD/MI, dan akan penulis teliti.7 IQ, EQ, dan relasi
Jember”. metode yang dengan nilai
dilakukan sama- spiritual yang lebih
sama dalam.
menggunakan
metode
kualitatif.
3 Darma Sama- Pada Totalitas
. watini, sama penelitian terdaulu pelaksanaan dan
“Totali menggunakan berfokus pada pendampingan
tas Shalat subjek shalat totalitas shalat guru menjadikan
Dhuha dalam dhuha, dan juga dhuha dalam shalat Dhuha
Membangun menggunakan membangun kegiatan religius
Kecerdasan objek yang kecerdasan yang terstruktur
Spiritual sama dalam spiritual, dan bermakna
Siswa Kelas penelitian sedangkan bagi siswa.
V di SD IT penulis, serta penelitian penulis Kecerdasan
Wahdatul metode yang berfokus pada spiritual siswa
Ummah Kota sama yaitu peran shalat dhuha berkembang,
Metro”. metode dalam membentuk terlihat dari
kualitatif. kesadaran spiritual integrasi spiritual,
peserta didik. emosional, dan
Serta sosial
perbedaan lokasi [Link]

7
Faizatur Rohmah, “Pembiasaan Shalat Dhuha dalam membentuk Karakter Kecerdasan
Spiritual Siswa di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 Jember” (Undergraduate thesis, Institut Agama Islam
Negeri Jember, 2020).
10

dalam penilitian terhadap


ini.8 Kecerdasan
Spiritual
Pemaham
an spiritual
meningkat, siswa
lebih memahami
makna ibadah dan
hubungan dengan
Allah; ibadah
menjadi
kebutuhan batin,
bukan sekadar
ritual. Akhlak
positif tumbuh,
terlihat dari rasa
tanggung jawab,
peduli sesama,
rasa hormat
kepada guru dan
teman, serta
kedisiplinan
waktu

D. Kajian Pustaka

1. Efektivitas

a. Penegertian Efektivitas

Efektivitas merupakan turunan dari kata “efektif” yang berartiberhasil

mencapai tujuan yang telah direncanakan. Istilah ini berkaitan erat dengan sejauh

mana hasil yang diperoleh sesuai dengan target atau harapan yang telah ditentukan.

8
Darma Watini, “Totalitas Shalat Dhuha dalam Membangun Kecerdasan Spiritual Siswa
Kelas V di SD IT Wahdatul Ummah Kota Metro” (Undergraduate thesis, Institut Agama Islam Negeri
Metro, 2022).
11

Efektivitas adalah suatu kondisi yang memberikan dampak terhadap sesuatu secara

optimal, mencerminkan tingkat keberhasilan efektivitas tindakan serta berfungsinya

suatu usaha atau kegiatan.9

Efektivitas adalah indikator yang menunjukkan sejauh mana tujuan yang telah

dirancang sebelumnya oleh suatu lembaga atau orgtanisasi dan berguna untuk

menilai tingkat perkembangan dan kemajuan yang tela diraih.

Dapat disimpulkan bahwa efektivitas adalah kemampuan yang diharapkan

dalam suatu hal untuk mencapai tujuan yang diinginkan, atau suatu keberhasilan yang

diperoleh dari kegiatan yang ditetapkan.

b. Faktor-Faktor yang mempengaruhi Efektivitas

Adapun faktor yang mempengaruhi suatu efektivitas adalah:

1) Faktor Eksternal

Faktor ekternal atau sering kita kenal dengan faktor dari luar, yakni

efektivitas dipengaruhi oleh berbagai hal yang eksternal, seperti kondisi

lingkungan sekolah. Adapun yang dilihat dari sekolahnya yaitu sarana dan

prasarana yang disediakan, serta tujuan dan strategi yang di laksanakan dalam

kegiatan.

2) Faktor Internal

Faktor Internal atau sering kita sebut faktor dari dalam, yaitu faktor

yang mempengaruhi efektivitas dari dalam, misalnya pada diri peserta didik

9
Muammad Sawir, Birokrasi Pelayanan Publik Konsep, Teori, dan Aplikasi
(Yogyakarta:Grup Penerbitan CV Budi Utama, 2020), 126.
12

seperti kesadaran dan minat peserta didik dalam melaksanakan kegiatan dzikir

dan shalat dhuha.

Jadi dapat disimpulkan bahwa efektivitas suatu kegiatan dapat terlaksana

dengan baik dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor eksternal dan faktor internal.

2. Dzikir

Kalimat, "dzikir" merupakan bentuk masdar dari fi'il madhi 'dzakara' yang

terdiri dari bab tsulasi mujarrad. Sedangkan dalam tinjauan maknanya berarti:

mengingat, memperhatikan, mengenang, mengambil pelajaran, mengenal atau

mengerti. Sementara dalam tinjauan istilah, para ulama bervariasi dalam memaknai

dzikir. "dzikir dari segi bahasa adalah mengingat. Sedangkan menurut istilah yaitu

Sebuah usaha yang sungguh-sungguh untuk mengalihkan sebuah ide, pikiran dan

perhatian manusia menuju Tuhan dan akhirat. Said Aqil Siraj menjelaskan bahwa

dzikir mencakup seluruh gerakan dan aktivitas yang berfokus pada usaha

mendekatkan diri kepada Allah Swt, mengucapkan kalimat-kalimat tertentuyang

mengandung ingatan kepada Allah juga tergolong sebagai [Link] hakikatnya

sama yaitu mengingat. Maka Intinya, dengan berdzikir dapat mengingat kebesaran

Allah.10

Beberapa fadilah atau keutamaan dari Dzikir yaitu:11

10
Hamdisyaf, Dzikir dan Self Awareness (Jawa Barat: Guepedia, 2021), 21-23.
11
M. KhalilurramanAlmahfani, KeutamaanDoa dan Dzikir (Jakarta Selatan: PT. Wahyu
Media, t.t.), 38-43.
13

1. Allah akan ingat kepada hamba yang ingat kepada-Nya. Allah akan

memberikan perhatian yang lebih kepada hamba-Nya yang selalu ingat

kepada-Nya.

2. Dzikir kepada Allah yang termasuk dalam doa merupakan ibadah yang

sangat mulia di hadapan Allah, bahkan melebihi keutamaan bersedekah

dengan emas dan perak. Dikarenakan Dzikir merupakan sarana bagi seorang

hamba untuk berkomunikasi dengan Tuhannya yang bisa dilakukan.

3. Dzikir merupakan sunnah para nabi dan rasul, dan merupakan amalan utama

para wali Allah dan orang-orang shaleh.

4. Dzikir merupakan obat hati yang paling murjarab

3. Shalat Dhuha

a. Pengertian Shalat Dhuha

Shalat secara bahasaa adalah doa, dan secara syara’ sebagaimana yang

disampaikan oleh imam Rafi’i adalah ucapan dan pekerjaan yang dimulai dengan

takbir dan diakhiri dengan salam dengan syarat-syarat tertentu.12Shalat dibagi

menjadi dua kategori yaitu shalat wajib dan shalat sunnah. Salat wajib adalah ibadah

yang mendatangkan pahala bagi yang melaksanakannya, namun menjadi dosa jika

ditinggalkan. Sementara shalatsunnah adalah ibadah yang juga mendatangkan pahala

12
Syaikh al-Imam Abi AbdillahMuammad bin Qosim al-Ghozi, FatulQorib, ed. oleh Nailul
Huda, trans. oleh Muhammad Hamim HR, Terjemah Fathul Qorib Paling Lengkap
(Lirboyo:SantriSalaf Press, 2020), 38-43.
14

apabila dilaksanakan, tetapi tidak dianggap dosa jika [Link] satu shalat

sunnah yang sangat penting untuk diketahui adalah shalat sunnah Dhuha.13

Dapat ditarik kesimpulan bahwa shalat terbagi menjadi dua yaitu, shalat wajib

atau fardhu, dan shalat sunnah.

Shalat dhuha adalah shalat sunnah yang dikerjakan pada waktu matahari

sedang naik. Sekurang-kurangnya shalat dhuha inidikerjaklan dua rakaat, boleh empat

rakaat, enam rakaat, atau delapan rakaat yang dimulai dengan takbir dan diakhiri

dengan salam serta menurut syarat-syarat yang telah ditentukan syara’.14

Jadi shalat sunnah dhuha adalah shalat sunnah yang dikerjakan diwaktu pagi

hari atau pada waktu dhuha sekiranya matahari telah naik dari tempat terbitnya.

1) Hukum Melaksanakan Shalat Dhuha.

Pada umumnya, hukum melaksanakan shalat dhuha menurut sejumlah hadis

yang relevan adalah [Link] shalat dhuha dapat dilihat dari riwayat Abu

Hurairah, sebagai berikut :

‫سل َم ِبثَلَث صيام ث َ َلث َ ِة أَي ٍام ِم ْن هك ِل‬


َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َ ‫أ َ ْو‬
َ ‫صانِي َخ ِل ْي ِل ْي‬
َ ‫صلى للاه‬

.‫ َوأ َ ْنأهوتِ َر َق ْب َل ا َ ْن أنَا هم‬،‫ض َحى‬


ُّ ‫ َو َر ْك َعتَي ال‬،‫ش ْه ٍر‬
َ

Artinya:

13
Anindya Zhafira Azurazmi dkk. , “Analisis Pelaksanaan Shalat DhuhaTerhadap Karakter
Religius Siswa Di Sekolah Dasar,” Jurnal Edukarya 30, no. 10 (2024): 175–76.

MohRifa’i, Risalah Tuntunan Shalat Lengkap (Semarang: [Link] Toha Putra, 2019), 84.
14
15

“Kekasihku Rasulullah Saw. Mewasiatkan kepada tiga hal, yaitu


puasa tiga hari, dua sholat dhuha, dan sholat witir sbelum tidur.”
([Link] Muslim).15

Menurut imam nawawi dalam alim bahwa, sholat dhuha adalah sunnah

mu’akad (sangat dianjurkan). Dengan kata lain, sholat dhuha adalah sholat sunnah

istimewa sehingga kita dianjurkan untuk tidak melalaikannya sebagai kita diwajibkan

untuk tidak melalaikan pelaksanaan sholat-sholat wajib.16

2) Syarat sahnya Shalat

Dalam kitab Safitanun Najah karya Syeikh Salim bin Smeer Al-Hadhrami

terdapat beberapa syarat sahnya salat, yaitu:17

a) Suci dari dua hadas (hadas kecil dan hadas besar)


b) Suci dari kotoran yang melekat pada pakaian, badan, dan tempat (shalat)
c) Menutup aurat
d) Menghadap kiblat
e) Telah masuk waktu shalat
f) Mengetahui fardhu-fardhunya shalat
g) Tidak menganggap salah satu fardhunya shalat adalah sunnah
h) Menghindari dari hal-hal yang membatalkan shalat.
3) Tata Cara Melaksanakan Salat Dhuha

15
Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari dan Muslim, “Hadis riwayat Al-Bukhari (no.1981) dan Muslim
(no.721),” t.t.

16
Abdur Rohim, “Kegiatan Sholat Dhuha Berjamaah dalam Membentuk Karakter Siswa di
Madrasah Ibtidaiyah Al Azhar Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember,” AL-ASHR: Jurnal
Pendidikan Dan Pembelajaran Dasar, Prodi PGMI-Fakultas Tarbiyah-UIJ 5, no. 2 (2020): 22.
17
Syeikh Salim bin Smeer Al-Hadrami, Safinatun Najah, trans. oleh Abu Muammad Alaydrus
Terjemah Safinatun Najah panduan fiqih dasar madzhab Syafi’i (Surabaya: Mutiara Ilmu Agency,
2015), 26.
16

Adapun caranya yaitu sebagai berikut:18

a) Niat, niat shalat dhuha diucapkan di dalam hati bersamaan dengan pada saat
takbiratul ikhram.
b) Setelah berniat shalat dhuha maka untuk selanjutnya mulailah membaca bacaan
iftitah
c) Setela membaca bacaan iftitah, membaca surah al-Fatihah
d) Kemudian membaca surah-surah pendek.
e) Ruku’ (membaca tasbih sebnyak 3 kali)
f) Kemudian i’tidal dengan membaca bacaan i’tidal
g) Setelah itu sujud pertama dengan membaca bacaan sujud (dibaca 3 kali)
h) Kemudian duduklah diantara dua sujud,lalu membacakan bacaan duduk shalat
pada sujud kedua, bacalah pada bacaan sujud kedua tersebut sebanyak tiga kali
i) Setelah rakaat pertama telah diselesaikan, maka lakukannlah rakaat kedua dengan
cara yang sama seperti diatas, kemudian pada tahsyahud akhir sesudah semua
selesai maka segera mulailah membaca salam untuk sebanyak 2 kali.
j) Setelah melaksanakan shalat dhuha membaca doa:19

‫ض َحآ هء َك َو ْالبَ َهآ َء بَ َهآ هء َك َوال َج َما َل َج َماله َك َو ْالقهوة َ قهوت ه َك‬
‫ض َحآ َء ه‬
ُّ ‫الل ههم اِن ال‬

‫ اَلل ههم ا ِْن َكانَ ِر ْزقِى فِى الس َمآ ِء فَأ َ ْن ِز ْلهه َوا ِْن‬.‫ص َمت ه َك‬ ْ ‫َو ْالقهد َْرة َ قهد َْرت ه َك َو ْال ِع‬
ْ ‫ص َمةَ ِع‬

ِ ‫ض فَأ َ ْخ ِر ْجهه َوا ِْن َكانَ هم ْع‬


َ َ‫ص ًرا فَ َيس ِْرهه َوا ِْن َكانَ َح َرا ًما ف‬
‫ط ِه ْرهه َوا ِْن‬ ِ ‫َكانَ ِفى ْاْلَ ْر‬

َ ‫ض َحآ ِء َك َوبَ َهآ ِء َك َو َج َما ِل َك َوقهوتِ َك َوقهد َْر ِت َك ٰا ِتنِ ْي َمآ ٰاتَي‬
‫ْت‬ ِ ‫َكانَ َب ِع ْيدًا فَقَ ِر ْبهه بِ َح‬
‫ق ه‬

. َ‫ِعبَادَ َك الصا ِل ِحيْن‬

4) Manfaat Shalat Dhuha

18
Ibid., 23.
[Link]’i, 85.
19
17

Sabda nabi Muhammad Saw yang diriwayatkan oleh bAbu Hurairah ra.
Dalam hadis:20

ُّ ‫ش ْفعَ ِة ال‬
‫ضحٰ ى‬ ‫ع َلى ه‬ َ َ‫سل َم َم ْن َحاف‬
َ ‫ظ‬ َ ‫علَ ْي ِه َو‬
َ ‫ّٰللاه‬
‫صلى ه‬ ِ ‫س ْو هل ه‬
َ ‫ّٰللا‬ ‫قا َل َر ه‬
‫َت ِمثْ َل زَ بَد ِْال َب ْح ِر‬
ْ ‫غ ِف َرلَهه ذهنه ْوبههه َوا ِْن َكان‬
‫ه‬
Artinya:
“Siapa saja yang dapaat mengerjakan salat dhuha dengan langgeng,
akan diampuni dosanya ole Allah, sekalipun dosa itu sebanyak busa di
lautan”.

Berikut beberapa Manfaat dari shalat Dhuha:21

a) Shalat dhuha sebagai sedekah


b) Shalat dhuha sebagai investasi amal cadangan
c) Shalat dhuha sebagai Ghanimah (Keuntangan) yang besar.
d) Dicukupi kebutuhan hidupnya
e) Pahala haji dan umrah
f) Diampuni semua dosanya walau sebanyak buih di laut
g) Dibangunkan istana di surga.

4. Kesadaran Spiritual

a. Pengertian kecerdasam spiritual

Dalam bahasa Inggris, kecerdasan dikenal sebagai intelligence, sedangkan

dalam bahasa Arab disebut al-dzaka', yang berasal dari kata yang berarti

sempurnanya perkembangan akal budi (seperti kemampuan berpikir dan memahami).

Kata "kecerdasan" terbentuk dari penambahan awalan dan akhiran yang menunjukkan

20
Moh. Rifai’i, 86.
21
M. KhalilurramanAlmahfani, Keutamaan Doa dan Dzikir (Jakarta Selatan: PT. Wahyu
Media, 2008), 19-27.
18

tindakan untuk mencerdaskan atau menyempurnakan akal budi. Secara etimologis,

kecerdasan merujuk pada pemahaman, ketepatan, dan kesempurnaan dalam suatu hal,

serta mencerminkan al-qudrah atau kemampuan untuk memahami sesuatu secara

akurat dan sempurna.22

kata spiritual dalam bahasa Inggris berasal dari akar kata "spirit". Menurut

Oxford Anvanced Learner's Dictionary yang dikutip oleh Tobrani, spirit mencakup

berbagai makna seperti jiwa, roh, semangat, makhluk halus, nilai moral, sertatujuan

atau makna yang mendalam. Sementara itu dalam bahasa Arab, istilah spiritual

berkaitan dengan aspekruhani dan makna batin dari segala sesuatu.23

Danah Zohar dan Ian Marshalll menjelaskan bahwa kecerdasan spiritual (SQ)

merupakan kemampuan untuk menghadapi dan menyelesaikan persoalan yang

berkaitan dengan makna dan nilai. Kecerdasan ini memungkinkan seseorang untuk

memahami perilaku dan kehidupan dalam kerangka makna yang lebih mendalam dan

luas, serta menilai bahwa cara hidup tertentu memiliki nilai yang lebih tinggi

dibandingkan pilihan hidup lainnya.24

Menurut Ary Ginanjar Agustian, kecerdasan spiritual adalah potensi dalam

diri manusia untuk menjadikan setiap tindakan dan aktivitasnya sebagai bentuk

Wahyu SabilarRosad, “PelaksanaanShalatDhuhaDalamMeningkatkanKecerdasan Spiritual


22

Siswa Kelas 3 Madrasah IbtidaiyahMa‘Arif Nu AjibarangWetan,” Al-Munqidz: Jurnal Kajian


Keislaman 8, no. 1 (2020): 127.

23
Darmadi, Kecerdasan Spiritual anak Usia Dini dalam Cakrawala Pendidikan Islam
(Bogor: Guepedia, t.t.).
24
Surianti dan Rahmatullah, “Pelaksanaan Shalat Dhuha dalam Meningkatkan Kecerdasan
Spiritual Pada Siswa SMA 8 Sinjai,” Mimbar Jurnal Media Intelektual Muslim dan Bimbingan Rohani
8, no. 1 (2022): 29.
19

ibadah. Hal ini dicapai melalui pemikiran dan langkah yang selaras dengan fitrah,

diarahkan pada pencapaian kepribadian yang utuh, berdasarkan pola piker tauhid, dan

dilandasi oleh niat karena Allah Swt.

Michel Levin juga menjelaskan bahwa kecerdasan spiritual adalah sebuah

perspektif yang mengarahkan cara berpikir kita menuju hakikat terdalam kehidupan

manusia, yaitu penghambaan diri pada Sang Maha Suci dan Maha Meliputi.25

kecerdasan spiritual tertinggi hanya dapat dilihat jika individu telah mampu

mewujudkannya dan merefleksikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kecerdasan spiritual merupakan intuisi hati yang berasal dari kebenaran Ilahi,

karena penerapannya mencerminkan hati nurani yang jernih dan terang, ditunjukkan

melalui perbuatan positif, mengarahkan manusia pada jalan yang benar, serta

menjadikannya mampu bersikap bijak dalam menghadapi dan menyelesaikan

berbagai masalah.

b. Karakteristik Kecerdasan Spiritual

Dadang Hawari menyatakan bahwa ciri-ciri individu dengan tingkat

kecerdasan spiritualyang tinggi sebagai berikut:26

1. Memiliki iman kepada Allah serta bertakwa kepada-Nya sebagai sang pencipta

2525
Triantoro Safaria, Spiritual Intelligence: Pengembangan Kecerdasan Spiritual pada
Anak (Yogyakarta: Jejak Pustaka, 2023), 14.

26
Wahyu Sabilar Rosad, “Pelaksanaan Shalat Dhuha dalam meningkatkan Kecerdasan
Spiritual Siswa Kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah Ma’arif NU Ajibarang Wetan” Jurnal Ilmiah Maasiswa
Raushan Fikr9,no.2(2020): 33.
20

2. Membuat keberadaan dirinya bermanfaat untuk orang lain dan bukan

sebaliknya. Ia bertanggungjawab dan mempunyai kepedulian sosial.

3. Memiliki rasa kasih sayang antar sesama sebagai pertanda seorang yang

beriman.

4. Tidak bersifat dusta terhadap sesame maupun ajaran agama, serta senantiasa

menunjukkan sikap pengorbanan, suka berbagi, dan patuh terhadap ajaran

agama.

5. Memiliki sikap menghargai dan menggunakannya secara produktif melalui

amal kebaikan, serta berlomba-lomba dalam melakukan kebenaran dan

menunjukkan kesabaran.

c. Tahap pengembangan kecerdasan spiritual

Menurut muhaimin Azzet27ada sejumlah tahapan dalam mengembangkan

kecerdasan spiritual yang penting untuk dijadikan pedoman hidup agar seseorang

senantiasa berada dalam rasa syukur, selalu mengingat Allah, serta merasakan

kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Berikut tahapan pengembangan kecerdasan spiritual:

1. Membiasakan diri berpikir positif

Anak perlu dibiasakan untuk memiliki dasar berpikir positif, khususnya

terhadap Tuhan yang telah menciptakan dan menentukan takdir setiap individu.

Berpikir positif juga merupakan cara orang tua atau pendidik untuk membimbing

anak agar tetap bersemangat dan optimis dalam menghadapi berbagai hal.

27
Ibid., 36-37.
21

Seseorang yang memiliki semangat cenderung lebih mudah dalam meraih

tujuannya, sedangkan orang yang optimis akan memandang segala hal secara

positif dan berusaha sungguh-sungguh dalam mewujudkan harapannya.

2. Memberikan sesuatu yang terbaik

Setiap individu memiliki niat baik dalam hatinya, dan ketika niat tersebut

diwujudkan dalam bentuk tindakan positif terhadap Tuhan, diri sendiri, maupun

sesame, maka kebaikan itu menjadi upaya yang tulus untuk meraih ridho Allah

Swt. Sikap seperti ini dipandang sebagai bentuk kerja keras yang dimiliki

seseorang , yang pada akhirnya akan membuahkan hasil yang memuaskan.

3. Mencari pelajaran dari setiap peristiwa

Mencari pelajaran dari setiap peristiwa merupakan wujud keyakinan bahwa

tuhan selalu memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya. Setiap kejadian yang

terjadi pasti memiliki hikmah, dan bahkan dalam pengalaman yang paling pahit

pun, tetap ada sisi positif yang bisa [Link] salah satu bentuk sebuah

keyakinan bahwa Tuhan pasti memberikan yang terbaik untuk hamba-hambaNya,

bahwa segala sesuatu yang terjadi pasti ada manfaatnya, bahwa sepahit-pahitnya

sebuah kejadian pasti bisa ditemukan nilai manisnya.

d. Faktor-Faktor yang mempengaruhi kecerdasan Spiritual

Terdapat sejumlah faktor yang berperan dalaam membentuk kecerdasan

spiritual guna mencapai kesempurnaan spiritual, dengan mengetahui faktor-faktor ini,

seseorang dapat lebih memahami dan mengaplikasikannya secara tepat, antar lain:

1) Faktor Internal (Faktor dari dalam)


22

Allah Swtmenciptakan manusia dengan kelebihanberupa akal dan jiwa, yang

memungkinkan mereka menjadi pribadi yangbaik, percaya diri, serta mampu menjaga

dan memelihara bumi sebagai seorang khalifah atau pemimpin. Dapat ditarik

kesimpulan bahwa faktor internal yang mempengarui kecerdasan spiritual berasal dari

dalam diri manusia itu sendiri.

2) Faktor Eksternal (Faktor dari lingkungan luar)

Faktor-faktor dari lingkungan luar (eksternal) memiliki pengaaruh yang

sangat signifikan terhadap kecerdasan spiritual anak, khususnya dalam membentuk

dan mengembangkan jiwa yang religius. Adapun faktor tersebut antara lain:28

a) Lingkungan Keluarga.

Keluarga adalah lingkungan awal dan paling penting bagi setiap anak

(peserta didik). Informasi danPengetahuan umumnya diperoleh dari orang tua,

yang membuat mereka memegang peran penting dalam pengembangan kecerdasan

peserta [Link] tua bertugas membimbing anak-anak dalam memahami serta

mengalami nilai-nilai keagamaan secara tepat dan nyata.

b) Lingkungan Sekolah.

Sekolah juga berperan penting dalam membentuk jiwa religius peserta

didik. Di lingkungan sekolah, para pendidik yang yang memegang peran penting

dalam membantu meningkatkan kecerdasan peserta didik. Seluruh proses

28
Rizky Amaliyah, “Efektivitas Penerapan Salat Dhuha dalam Meningkatkan Kecerdasaan
Spiritual Siswi di SMP Islam terpadu Alhusnayain Pidoli Dolok Panyabungan” (Jurusan Pendidikan
Agama Islam, UIN Syekh Ali Hasan Amad Addary, Padangsidimpuan, 2023), 31-33.
23

pendidikan di sekolah, baik melalui keteladanan, rutinitas, maupun kegiatan

lainnya, dapat menjadi motivasi bagi peserta didik untuk meniru dan

menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ole karena itu, sekolah sebaiknya

memberikan teladan yang baik bagi peserta didik..

c) Lingkungan Masyarakat.

Masyarakat memiliki peran yang signifikan dalam mendukung

pertumbuhan spiritual peserta didik. Lingkungan masyarakat mencakup area

sekitar rumah tempat peserta didik belajar, bermain, menonton televisi serta

mengakses media cetak yang umumnya dimanfaatkan sebagai sarana hiburan

maupun sumber pembelajaran.

[Link] Didik

a. Pengertian peserta didik

Dalam pandangan pendidikan Islam, peserta didik adalah seseorang yang

tengah berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan secara fisik, mental,

sosial, dan religius,sebagai bekal menjalani kehidupan di dunia dan akhirat.

Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa peserta didik peserta didik

adalah individu yang belum mencapai kedewasaan. Anak dalam keluargadisebut

peserta didik keluarga, anak-anak dilingkungan sekolah merupakan peserta didik di

sekolah, anak-anak dimasyarakat merupakan peserta didik di lingkungan sosialnya.29

29
Kamaliah, “Hakikat peserta Didik,”Educational Journal: General and Specific Research 1,
no. 1 (2021): 50.
24

Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan

potensi diri melalui proses pembelajaran pada jalur pendidikan baik

pendidikaninformal, pendidikan formal maupun pendidikan nonformal, pada jenjang

pendidikann jenis pendidikan tertentu.30Peserta didik Juga ialah anak didik yang

belum dewasa dan memiliki banyak sekali potensi yang harus dikembangkan. Anak

didik adalah "bahan yang masih mentah" (bahan mentah) dalam proses

perkembangan dan pertumbuhannya. Dengan demikian, peserta didik adalah mereka

yang bercita-cita untuk tumbuh melalui proses pendidikan dengan mengikuti jalur

tertentu dan memperoleh jenis pengetahuan tertentu.31

Jadi, peserta didik adalah orang sedang meningkatkan potensi dirinya dengan

menimbah ilmu pengetahuan melalui pendidikan, baik pendidikan Sekolah dasar,

Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas.

b. Karakteristik Peserta didik Sekolah Dasar

Karakteristik peserta didik Sekolah Dasar yaitu:32

1. Perkembangan intelektual

30
[Link] pada tanggal 15 mey, 2025.
Pukul13.39.

Faisal dkk., “Hakikat Peserta Didik The Nature Of Students,” JIC: Jurnal Intelek Insan
31

Cendekia 1, no. 6 (2024): 2012.

32
Muhammad Misbahudholam AR, Memahami Karakteristik Peserta Didik (Jakarta
Barat:Tare Books, 2021),140-143.
25

Anak usia sekolah dasar (6-12 tahun) telah mampu merespon rangsangan

yang bersifat intelektual serta menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran yang

membutuhkan kemampuan berpikir, seperti membaca, menulis, dan berhitung.

2. Perkembangan Bahasa

Bahasa berfungsi sebagai alat untuk berinteraksi dengan orang lain. Hal ini

mencakup berbagai bentuk komunikasi, dimana gagasan dan emosi disampaikan

melalui tulisan, ucapan, isyarat, gerakan, serta symbol seperti kata, kalimat, suara,

gambar, maupun lukisan.

3. Perkembangan sosial

Di usia ini, anak mulai mampu menyesuaikan dirinya dari sikap yang

berpusat pada diri sendiri (egosentris) menjadi lebih kooperatif (bekerja sama)

dan peduli terhadap orang lain (sosiosentris). Perkembangan social inilah yang

membantu anak untuk lebih muda beradaptasi dalam lingkungan sosialnya.

4. Perkembangan emosi

Anak dapat belajar mengendalikan emosinya melalui proses meniru dan

pembiasaan. Dalam proses ini, cara orang tua mengatur emosinya memiliki

pengaruh besar terhadap anak. Emosi sendiri menjadi salah satu faktor utama yang

memengaruhi perilaku seseorang, termasuk dalam konteks perilaku saat belajar.

5. Perkembangan emosional

Seorang anak mulai memahami nilai-nilai moral pertama kali dari

keluarganya. Awalnya mungkin mereka belum sepenuhnya, tetapi seiring waktu

pemahaman itu akan tumbuh. Saat anak memasuki usia sekolah dasar ia sudah
26

mampu mematuhi aturan yang diberikan oleh orang tua maupun lingkungan

sosialnya.

6. Perkembangan penghayatan keagamaan

Pada tahap ini, pemahaman anak terhadap nilai-nilai keagamaan mulai

berkembang dengan ciri-ciri sebagai berikut:

a. Anak mulai menerima ajaran agama dan memahaminya secara bertahap.

b. Pemahaman tentang Tuhan mulai dibentuk melalui pendekatan rasional yang

sesuai dengan logika, dengan melihat alam semesta sebagai bukti kebesaran-

Nya.

c. Anak semakin mendalami aspek spiritual, dan pelaksanaan ibadah mulai

dianggap kewajiban moral.

d. Masa sekolah dasar menjadi waktu penting dalam membentuk nilai-nilai

keagamaan, sebagai kelanjutan dari pengalaman sebelumnya.

7. Perkembangan motorik Seiring dengan perkembangan fisiknya yang beranjak

matang maka perkembangan motorik anak sudah terkoordinasi dengan baik.

6. Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran dalam penelitian adalah konsep atau model yang

digunakan untuk menjelaskan hubungan antara teori, konsep, dan variabel dalam

penelitian, yang berfungsi sebagai panduan dalam penelitian dan membantu penulis

merumuskan hipotesis.

Kerangka ini membantu penulisuntuk memahami alur penelitian,

menghubungkan berbagai bagian penelitian, dan menjawab rumusan [Link]


27

bagian ini, penulis akan menguraikan tentang kerangka pikir yang akan dijadikan

sebagai patokan untuk melaksanakan penelitian ini.

Hal ini dianggap jelas karena dapat mempermudah penulis memperoleh data

dan informasi yang diperlakukan dalam memecahkan permasalahan sesuai dengan

penelitian yang bersifat ilmiah.

Adapun kerangka berpikir yang dimaksud adalah:

Kegiatan Dzikir dan Shalat


dhuha oleh peserta didik SD Inpres 5
Birobuli

Implementasi Kegiatan Dzikir


dan Shalat dhuha oleh peserta didik
SD Inpres 5 Birobuli

Shalat Dhuha sebagai sarana


dalam meningkatkan kecerdasan
spiritual peserta didik

Efektivitas Kegiatan Dzikir dan


Shalat Dhuha dalam meningkatkan
kecerdasan spiritual peserta didik
BAB III

METODE PENELITIAN

B. Pendekatan Penelitian

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan jenis penelitian kualitatif karena

penelitian ini bermaksud mengamati Efektivitas Kegiatan Dzikir dan Shalat Dhuha

dalam Membentuk Kesadaran Spiritual dan Etika Beribadah pada Peserta Didik SD

Inpres 5 Birobuli. Dengan demikian penelitian ini dapat dikategorikan sebagai

penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan metode penelitian yang

menghasilkan data dalam bentuk deskripsi, baik melalui tulisan maupun ucapan dari

individu serta perilaku yang dapat diamati.

Penelitian kualitati fmerupakan metode penelitian yang menghasilkan temuan

yang tidak bisa diperoleh melalui prosedur statistik atau metode kuantitatif lainnya.

Pendekatan kualitatif sebenarnya merupakan metode penelitian yang menghasilkan

data deskriptif berupa ucapan atau tulisan dari individu serta perilaku yang bisa

diamati. Maka dari itu, data yang diperoleh berupa kata-kata, kalimat, atau gambar,

bukan berupa angka.33 Sementara itu tujuan dari penelitian kualitatif deskriptif ini

adalah untuk mebuat penggambaran secara sistematis, faktual dan akurat tentang

fakta dan sifat populasi atau lokasi tertentu.

33
VW, Sujarweni, Metodologi Penelitian(Yogyakarta: Pustaka Baru Press, 2014), 32.

28
29

C. LokasiPenelitian

Tempat penelitian merupakan lokasi di mana peneliti mendapatkan informasi

dan data yang dibutuhkan.

Menurut Imam Gunawan, lokasi penelitian merupakan tempat di mana

kegiatan penelitian akan dilaksanakan. Penentuan lokasi penelitian perlu

mempertimbangkan aspek menarik, keunikan, serta relevansinya dengan topik yang

[Link] pemilihan lokasi tersebut, peneliti diharapkan dapat menemukan

temuan-temuan yang signifikan dan inovatif.34

Penelitain ini dilaksanakan di SD Inpres 5 Birobuli, Kecamatan palu selatan,

Kota Palu, Sulawesi Tengah. Pemilihan lokasi ini dipilih sebagai lokasi penelitian

dengan pertimbangan bahwa dilokasi tersebut terdapat beberapa peserta didik yang

masih kurang dalam berperilaku baik serta untuk mengetahui upaya apa yang

dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut.

D. Kehadiran Peneliti

Dalam penelitian kualitatif, kehadiran peneliti dilapangan mutlak adanya

sebagai instrumen. Dilapangan peneliti berperan sebagai pengamat penuh, instumen,

pencatat lapangan, dan aktif dalam mengumpulkan informasi dan data yang

diperlukan dengan cara langsung mengamaati dan mencari informasi melalui

informan atau narasumber. Dalam proses pelaksanaannya, peneliti menggunakan

berbagai metode antara lain: observasi wawancara, dan dokumentasi.

34
Imam Gunawan, Metode penelitian kualitatif: Teori dan Praktek (Jakarta: Bumi
aksara,2018),278.
30

S. Margiono menyatakan pandangannya mengenai pentingnya kehadiran

penulis di tempat penelitian sebagai berikut:

“Manusia berperan sebagai instrumen utama dalam mengumpulkan data.


Dalam penelitian, keberadaan peneliti lebih diutamakan dibanding bantuan
orang lain sebagai alat pengumpul data. Hal ini bertujuan untuk memudahkan
penyesuaian terhadap fakta-fakta yang ada di lapangan”.35

Mengacu pada pernyataan tersebut, keberadaan penulis di lokasi penelitian

menjadi sangat krusial, sebab dalam penelitian kualitatif, informasi diperoleh dari

narasumber. Oleh sebab itu, penulis diwajib kan hadir langsung di tempat penelitian

guna mengumpulkan data yang dibutuhkan. Sebelum kegiatan penelitian dimulai,

penulis harus terlebih dahulu mengajukan permohonan izin kepada dekan fakultas

melalui surat penelitian. Surat tersebut memuat permohonan izin pelaksanaan

penelitian yang akan dilakukan di SD Inpres 5 [Link] begitu, keberadaan

penulis di lokasi penelitian dapat terpantau, dan hal ini mempermudah proses

pengumpulan data yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti.

Peneliti merupakan orang yang melakukan penelitian dengan caraobservasi,

pengambilan data, dan mengobservasi secara teliti dan cermat terhadap objek

penelitian. Penulis sangat berperan penting dalam sebuah penelitian karena dengan

adanya kehadiran penulis maka observasi akan berjalan lancer dan merupakan kunci

dari sebuah penelitian karena penulis yang melakukan observasi ke lapangan dan

menghasilkan data yang konkret dan tepat. Kehadiran penulis dapat melibatkan

35
S. Margono, Metode Penelitian pendiikan (Jakarta: Rineka Cipta,2000), ke-2
31

langsung orang yang diteliti dan harus berinteraksi langsung serta membangun

hubungan baik dengan komunikasi yang berkesinambungan.

Dalam penelitian ini peneliti hadir langsung dalaam penelitian tentang

efektivitas kegiatan dzikir dan shalat dhuha dalam membentuk kesadaran spiritual

peserta didik yang berlokasi di SD Inpres 5 Birobuli.

E. Data Dan Sumber Data

Data merupakan himpunan informasi yang didapatkan melalui observasi,

yang bias berupa angka, simbol, atau karakteristik tertentu. Sumber data menjadi

elemen yang sangat krusial dalam kegiatan penelitian. Sumber data menjadi elemen

yang sangat krusial dalam kegiatan penelitian.36

Data bias dikumpulkan dari berbagai sumber, baik secara langsung melalui

penelitian, dari pernyataan orang lain, media, dan lainnya. Namun, untuk memperoleh

data yang tepat dan akurat, harus dilakukan sesuai dengan prosedur yang telah

ditentukan. Data ada dua macam yaitu:

1. Data Primer

Data primer adalah informasi yang diperoleh langsung dari lapangan, berupa

ucapan atau tindakan responden yang diamati atau diwawancarai oleh peneliti dan

kemudian didokumentasikan. Data primer dapat berupa hasil wawancara, kuesioner

yang telah diisi, serta dokumen yang dikumpulkan dari informan atau pihak terkait

lainnya.

36
SuharsimiArikuntyo, ProsedurPenerlitianSuatuPendekatanPraktik(Jakarta RenikaCipta,
2010), 129.
32

2. Data Sekunder

Data sekunder merupakan data yang dikumpulkan dari lembaga atau instansi

yang relevan dengan topik penelitian, dan biasanya berupa referensi pustaka seperti

buku, situs internet, dokumen hukum, serta berbagai sumber tertulis lainnya yang

berhubungan.37

Data sekunder juga bisa diperoleh dari dokumen dan berbagai catatan yang

berhubungan dengan objek penelitian, yang memberikan gambaran umum seperti

latar belakang sejarah, kondisi tenaga pendidik, siswa, serta fasilitas sekolah.

F. Teknik Pengumpulan Data

Proses pengumpulan data dilakukan secara sistematis dengan mengikuti

pedoman yang sudah ditetapkan. Dalam penelitian kualitatif, metode dasar yang

digunakan untuk mengumpulkan data meliputi observasi, wawancara, dan

dokumentasi. Untuk lebih jelas akan digambarkan sebagai berikut.”

1. Observasi

Observasi merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan secara

terencana dan terstruktur dengan cara mengamati serta mencatat gejala-gejala yang

sedang diteliti.38 Observasi dilakukan sesuai dengan kebutuhan penelitian. Observasi

juga aktivitas terhadap suatu proses atau objek dengan maksud merasakan dan

kemudian memahami Memahami suatu fenomena melalui pemahaman dan ide-ide

37
Eko Murdiyanto, Metode Penelitian Kualitatif (Yogyakarta:Lembaga Penelitian dan
Pengabdian Pada masyarakat UPN “VETERAN” Yogyakarta Press,2020), 127.
38
Ibid., 147
33

yang telah ada sebelumnya, dengan tujuan memperoleh informasi yang diperlukan

dalam penelitian, lalu dilakukan pencatatan terhadapnya.39

Dalam penelitian ini penulis mengamati seberapa efektif kegiatan dzikir dan

shalat dhuha ini dalam meningkatkan kesadaraan spiritual peserta didik.

2. Wawancara

Salah satu teknik dalam mengumpulkan data adalah wawancara, yaitu

proses memperoleh informasi secara langsung dengan mengajukan pertanyaan

kepada responden. Wawancara dilakukan secara tatap muka antara pewawancara dan

responden, dan prosesnya dilakukan secara verbal.

Wawancara adalah metode pengumpulan data yang dilakukan melalui

komunikasi antara dua pihak, yakni pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan

narasumber yang memberikan jawaban. Wawancara bisa dilakukan secara langsung

maupun tidak langsung, baik dalam bentuk terstruktur maupun bebas. Tujuan

utamanya adalah untuk memperoleh informasi yang tidak bisa diamati secara

langsung.40

Wawancara dalam penelitian ini dilakukan dengan dua cara yaitu:

a. Wawancara informal-deskriptif adalah jenis wawancara di mana peneliti

menyampaikan pertanyaan-pertanyaan bersifat umum dan deskriptif, serta

39
P. JokoSubagyo, MetodePenelitian :DalamTeoridanPraktek(Jakarta: RinekaCipta 1997) 62-
63.
40
Eko Murdiyanto, Metode Penelitian Kualitatif, 59.
34

meminta informan menjelaskan atau menggambarkan secara naratif hal-hal yang

berkaitan dengan penelitian di SD Inpres 5 Birobuli.

b. Wawancara terstruktur dan fokus adalah wawancara dengan daftar pertanyaan

yang telah dirancang sebelumnya oleh peneliti untuk memperoleh informasi yang

lebih mendalam dan detail mengenai penelitian yang [Link] pelaksanaan

wawancara terstruktur berjalan lancar, penulis menggunakan panduan berupa

kisi-kisi wawancara yang kemudian dikembangkan menjadi sejumlah pertanyaan

wawancara.

Adapun yang dipilih terkait dalam wawancara ini iala:

1. Kepala Sekolah SD Inpres 5 Birobuli

2. Guru Agama kelas V SD Inpres 5 Birobuli

3. Peserta didik kelas V SD Inpres 5 Birobuli

3. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan rekaman penting mengenai kejadian-kejadian yang

telah terjadi. Dokumentasi umumnya berupa tulisan, gambar, atau hasi lkarya milik

seseorang. Contoh dokumentasi dalam bentuk tulisan meliputi jurnal harian, catatan

sejarah, serta kisah biografi. Sementara itu, dokumentasi dalam bentuk visual bisa

berupa foto, video, dan media gambarlainnya.


35

G. TeknikAnalisis Data

Tekni kanalisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis

kualitatif. Tiga langkah utama yaitu reduksi data, penyajian data dan langkaht erakhir

kesimpulan.41

1. Reduksi Data

Reduksi data adalah proses menyusun ringkasan, menentukan informasi

utama, menekankan pada bagian yang relevan, serta mengidentifikasi tema dan pola

tertentu. Hasil dari reduksi ini akan memberikan penjelasan yang lebih terstruktur dan

membantu peneliti dalam melanjutkan proses pengumpulan data berikutnya.

2. Penyajian data

Data dapat disajikan melalui bentuk ringkasan, diagram, keterkaitan antar

kategori, bagan alur, atau bentuk serupa lainnya. Dalam penelitian kualitatif, metode

yang paling umum digunakan untuk menyajikan data adalah melalui teks naratif yang

berisi ringkasan hasil observasi serta wawancara. Dengan melakukan display data,

maka akan memudahkan peneliti untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan

kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut. Dipenyajian data

penulis akan menguraikan hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan oleh

penulis.

41
Umar Sidiq, [Link] Choiri, Metode penelitian kualitatif di bidang pendidikan
(Ponorogo: [Link] Karya,2019), 43-45.
36

3. Penarikan kesimpulan

Menarik kesimpulan adalah langkah terakhir dalam proses analisis data, yang

dilakukan dengan mempertimbangkan hasil reduksi data sambil tetap berpedoman

pada rumusan masalah dan tujuan penelitian. Data yang telah diolah kemudian

dibandingkan satusama lain untuk dirumuskan menjadi kesimpulan sebagai solusi

atas permasalahan yang diteliti.

H. Pengecekan Keabsahan Data

Validitas data bertujuan untuk memastikan bahwa suatu penelitian benar-

benar bersifat ilmiah serta untuk mengevaluasi data yang telah dikumpulkan. Dalam

penelitian kualitatif, validitas data diuji melalui triangulasi sumber, teknik, dan

metode.42

Dalam penelitian ini, validitas data diuji melalui teknik triangulasi.

Triangulasi merupakan metode untuk memverifikasi keabsahan data dengan

menggunakan sumber atau informasi lain di luar data utama sebagai bahan

pembanding atau verifikasi.43

Triangulasi dalam menguji kredibilitas diartikan sebagai proses memverifikasi

data melalui berbagai sumber, dengan metode sebagai berikut.:44

42
Lexy J. Maleong, MetodologiPenelitianKualitatif(Bandung: RemajaRosdaKarya, 2015),
178.
43
Ibid., 72.
44
Umar Sidiq, [Link] Choiri, Metode penelitian kualitatif di bidang pendidikan, 94-
95.
37

1. Triangulasi Sumber

Triangulasi sumber untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan

cara memverifikasi data yang telah dikumpulkan melalui berbagaisumber.

Triangulasi sumber dilakukan dengan memvalidasi data hasil lapangan melalui

wawancara dengan berbagai [Link] teknik ini, peneliti bias

mendapatkan data factual dari lapangan, namun berasal dari informan yang

berbeda.

2. Triangulasi Teknik

Triangulasi teknik merupakan metode untuk menguji data dengan

memverifikasi data yang dikumpulkan melalui berbagai teknik, seperti

wawancara dan observasi. contohnya, data yang didapat dari wawancara dapat

diverifikasi melalui metode lain seperti observasi, dokumentasi, atau kuisioner.

3. Triangulasi Waktu

Waktu pelaksanaan pengumpulan data dapat berdampak pada tingkat

kredibilitasnya. Misalnya, wawancara yang dilakukan di pagi hari ketika

narasumber masih dalam kondisi segar dan belum menghadapi banyak gangguan,

cenderung menghasilkan data yang lebih akurat dan terpercaya. Oleh karena itu,

untuk menguji keandalan data, dapat dilakukan verifikasi melalui wawancara,

observasi, atau metode lain pada waktu atau situasi yang berbeda.
DAFTARPUSTAKA

Alhabsy, Firdiansyah, dan Faridahtul Hasanah. “Pengembangan Sikap Spiritual


Peserta Didik Pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SDN 12
Palu.” Scolae: Journal of Pedagogy 4, no. 1 (2021): 26.

Al-Hadrami, Syeikh Salim bin Smeer. Safinatun Najah. Diterjemahkan oleh Abu
MuammadAlaydrus. Mutiara Ilmu Agency, 2015.

Almahfani, M. Khalilurraman. KeutamaanDoa dan Dzikir. PT. Wahyu Media, t.t.

Amaliyah, Rizky. “EfektivitasPenerapan Salat Dhuha dalam Meningkatkan


Kecerdasaan Spiritual Siswi di SMP Islam terpadu Alhusnayain Pidoli Dolok
Panyabungan.” UIN Syekh Ali Hasan Amad Addary, Padangsidimpuan, 2023.

AR, Muhammad Misbahudholam. Memahami Karakteristik PesertaDidik. Tare


Books, 2021.

Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian Ilmiah, Suatu Pendekatan Praktek. Ed. II


(Cet. IX). Rineka Cipta, 1993.

Aslamiah, Suwaibatul. “Pendidikan Spiritual Sebagai Benteng Terhadap Kenakalan


Remaja (Sebuah Kajian Terhadap Riwayat Nabi Yusuf As).” Legalite: Jurnal
Perundang Undangan dan Hukum Pidana Islam 2, no. 1 (2021): 96–97.

Azurazmi, Anindya Zhafira, Thalita Nailah Putri, dan others. “Analisis Pelaksanaan
Shalat Dhuha Terhadap Karakter Religius Siswa Di Sekolah Dasar.” Jurnal
Edukarya 30, no. 10 (2024): 175–76.

BP, Abd Rahman, Subhayati Asri Munandar, AndriFitriani, dan others. “Pengertian
Pendidikan, Ilmu Pendidikan dan Unsur-Unsur Pendidikan.” Al
UrwatulWutsqa: Kajian Pendidikan Islam 2, no. 1 (2021): 2–3.

Darmadi. Kecerdasan Spiritual anak Usia Dini dalam Cakrawala Pendidikan Islam.
Guepedia, t.t.

Faisal, Jumarlina, Kartini, dan Akmir. “HakikatPesertaDidik The Nature Of


Students.” JIC: Jurnal Intelek Insan Cendekia 1, no. 6 (2024): 2012.

Ghozi, Syaikh al-Imam Abi Abdillah Muammad bin Qosim al-. Fatul Qorib.
Disunting oleh Nailul Huda. Diterjemahkan oleh Muhammad Hamim HR.
Santri Salaf Press, 2020.

28
29

Gunawan, Imam. Metode Penelitian Kualitatif: Teori dan Praktek. Bumi Aksara,
2018.

Hamdisyaf. Dzikir dan Self Awareness. Guepedia, 2021.


Kamaliah. “Hakikat peserta Didik.” Educational Journal: General and Specific
Research 1, no. 1 (2021): 53.

Margono, S. Metode Penelitian pendidikan. [Link]. Rineka Cipta, 2004.

Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Remaja Rosda Karya, 2015.


Murdiyanto, Eko. Metode Penelitian Kualitatif. Lembaga Penelitian dan Pengabdian
Pada Masyarakat UPN “Veteran” Yogyakarta Press, 2020.

Nur’aini, Ririn. “Implementasi Shalat Dhuha dalam meningkatkan Kecerdasan


Spiritual siswa kelas VIII di MTS Al-Hikmah Batanghari Lampung Timur.”
Undergraduate thesis, Institut Agama Islam Negeri Metro, 2021.

Rifa’i, Moh. Risalah Tuntunan Shalat Lengkap. PT. Karya Toha Putra, 2019.

Rohim, Abdur. “Kegiatan Sholat Dhuha Berjamaah dalam Membentuk Karakter


Siswa di Madrasah Ibtidaiyah Al Azhar Kecamatan Kaliwates Kabupaten
Jember.” AL-ASHR: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Dasar, Prodi
PGMI-FakultasTarbiyah-UIJ 5, no. 2 (2020): 22.

Rohmah, Faizatur. “Pembiasaan Shalat Dhuha dalam membentuk Karakter


Kecerdasan Spiritual Siswa di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 Jember.”
Undergraduate thesis, Institut Agama Islam Negeri Jember, 2020.

Rosad, Wahyu Sabilar. “Pelaksanaan Shalat Dhuha Dalam Meningkatkan Kecerdasan


Spiritual Siswa Kelas 3 Madrasah IbtidaiyahMa‘Arif Nu AjibarangWetan.”
Al-Munqidz: Jurnal Kajian Keislaman 8, no. 1 (2020): 127.

Safaria, Triantoro. Spiritual Intelligence: Pengembangan Kecerdasan Spiritual pada


Anak. Jejak Pustaka, 2023.

Sawir, Muammad. Birokrasi Pelayanan Publik Konsep, Teori, dan Aplikasi. Grup
Penerbitan CV Budi Utama, 2020.

Sidiq, Umar, dan Moh Miftachul Choiri. Metode Penelitian Kualitatif di Bidang
Pendidikan. CV. Nata Karya, 2019.

Subagyo, P. Joko. MetodePenelitian: DalamTeori dan Praktek. RinekaCipta, 1997.


30

Sujarweni, V. W. Metodologi Penelitian. Pustaka Baru Press, 2014.

Surianti dan Rahmatullah. “Pelaksanaan Shalat Dhuha dalam Meningkatkan


Kecerdasan Spiritual Pada Siswa SMA 8 Sinjai.” Mimbar Jurnal Media
Intelektual Muslim dan Bimbingan Rohani 8, no. 1 (2022): 29.

Watini, Darma. “Totalitas Shalat Dhuha dalam Membangun Kecerdasan Spiritual


Siswa Kelas V di SD IT Wahdatul Ummah Kota Metro.” Undergraduate
thesis, Institut Agama Islam Negeri Metro, 2022.

Anda mungkin juga menyukai