0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
81 tayangan2 halaman

Pertandingan Voli Persahabatan Kampung

Pertandingan bola voli persahabatan antara tim kampungku dan kampung sebelah berlangsung meriah dengan dukungan dari para suporter yang menjunjung tinggi sportivitas. Setelah pertandingan yang ketat, tim kampung sebelah berhasil meraih kemenangan. Namun, setelah pertandingan, aku mendapati sepeda kesayanganku hilang dan berencana melaporkannya kepada kepala desa.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
81 tayangan2 halaman

Pertandingan Voli Persahabatan Kampung

Pertandingan bola voli persahabatan antara tim kampungku dan kampung sebelah berlangsung meriah dengan dukungan dari para suporter yang menjunjung tinggi sportivitas. Setelah pertandingan yang ketat, tim kampung sebelah berhasil meraih kemenangan. Namun, setelah pertandingan, aku mendapati sepeda kesayanganku hilang dan berencana melaporkannya kepada kepala desa.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Suasana pertandingan bola voli persahabatan antara tim di kampungku dengan kampung

sebelah sudah hampir dimulai. Aku bergegas memarkir sepedaku berbaur dengan sepeda para

penonton lain yang sudah datang terlebih dahulu.

Suasana lapangan sudah cukup riuh, akupun bergegas menyela kerumunan agar bisa

menyaksikan pertandingan dari jarak dekat. Tak lupa aku selalu mengabadikan adegan-adegan

pemain yang kuanggap menarik lewat handphone bututku.

Tepu tangan membahana bertubi-tubi. Para pemain bergegas menuju ke lapangan setelah

wasit membunyikan peluit tiga kali.

Pendukung masing-masing tim terus memberikan semangat dan yel-yel hingga membuat seisi

kampung serasa bergetar. Akhirnya pertandingan yang ditunggu-tunggu itupun dimulai. Tepuk

tangan kembali membahana untuk kesekian kalinya. Para penonton tumpah ruah di sisi

lapangan bahkan meluber hingga ke bibir jalan kampung. Sementara itu matahari sudah lansir

ke arah barat. Sang mentari sudah mulai jinak dan tak terasa lagi cahaya kegarangannya

seperti siang tadi.

Suasana pertandingan makin seru. Kekuatan kedua tim tampaknya sangat seimbang. Untuk

sementara kedudukan seimbang 1-1 setelah dua set berlangsung. Kini pertandingan sudah

memasuki set ketiga. Ketuk sorak dan yel-yel Membahana silih berganti dari kubu setiap

suporter Ketika tim jagoannya berhasil Meraih nilai.

Memasuki set ketiga suasana semakin ramai dan riuh. Para penonton yang suporter semakin

berjubel. Meskipun suasana ramai dan riuh, para penonton dan suporter tetap menjunjung

tinggi sportivitas. Apalagi kepemimpinan wasit cukup bagus, jujur, dan adil. Hal itu membuat

suasana pertandingan benar-benar menarik. Tanpa terasa pertandingan sudah memasuki set

yang kelima setelah kedua tim bermain imbang 2-2. Tinggal satu set lagi suasana pertandingan

semakin ramai dan meriah. Penonton yang suporter juga semakin bersemangat dalam

memberikan dukungan kepada timnya.


Reporter yang sedap tadi melaporkan jalannya pertandingan juga sepertinya tak kenal lelah.

“Saudara-saudara sekarang skor sudah 11 12. Ayo tetap semangat dan kita berikan applause

meriah kepada kedua tim. Semoga kedua tim menjadi juara.” Teriak sang reporter

Suaranya lantang dan membahana seperti mampu menembus dinding langit di atas sana.

Aku benar-benar merasakan suasana persahabatan antar kampung yang sangat bersahabat

dan rukun. Suporter kedua kubu juga saling menghormati bahkan saling melemparkan senyum

saat memberikan dukungan kepada timnya.

Hingga akhirnya pertandingan selesai dengan kemenangan diraih tim kampung sebelah.

Setelah semua pemain dua kubu bersalaman sebagai tanda pertandingan berakhir, mereka

bersama-sama beristirahat sejenak di rumah kepala desa yang sudah dipersiapkan

sebelumnya. Namun aneh, ketika aku mau mengambil sepeda di tempat parkir, sepeda

kesayanganku itu tidak ada. Padahal aku ingat betul bahwa sepeda itu kuparkir dekat pintu

pagar pembatas antara tempat parkir dan lapangan. Kini yang tersisa di tempat parkir hanya

sekitar 20-an sepeda. Aku pun kembali meneliti satu persatu sepeda yang tersisa. Namun

berulang-ulang aku lakukan sepeda kesayanganku itu sudah tidak terlihat jejaknya Aku pun

bergegas menuju ke rumah bapak kepala desa yang kebetulan tidak terlalu jauh dari lapangan

Aku harus melaporkan kejadian ini kepada bapak kepala desa. Siapa tahu sepeda

kesayanganku itu bisa kembali ke tanganku

Anda mungkin juga menyukai