0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan22 halaman

Pengaruh Ekstrak Sirsak pada Kedelai

Dokumen ini membahas pentingnya kedelai sebagai tanaman pangan utama di Indonesia dan tantangan yang dihadapi dalam produksinya, termasuk defisit pasokan dan serangan hama serta penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh aplikasi pestisida botani dari ekstrak biji sirsak terhadap hama dan penyakit pada tanaman kedelai. Diharapkan penggunaan pestisida botani dapat menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan pestisida sintetik.

Diunggah oleh

Cann
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan22 halaman

Pengaruh Ekstrak Sirsak pada Kedelai

Dokumen ini membahas pentingnya kedelai sebagai tanaman pangan utama di Indonesia dan tantangan yang dihadapi dalam produksinya, termasuk defisit pasokan dan serangan hama serta penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh aplikasi pestisida botani dari ekstrak biji sirsak terhadap hama dan penyakit pada tanaman kedelai. Diharapkan penggunaan pestisida botani dapat menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan pestisida sintetik.

Diunggah oleh

Cann
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

12

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kedelai (Glycine max) adalah salah satu jenis tanaman pangan utama setelah padi

dan jagung yang memiliki potensi produksi yang tinggi dan nilai ekonomi yang penting.

Kedelai banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia dalam berbagai olahan, karena

kandungan protein yang tinggi dan harga kedelai yang terjangkau oleh semua

[Link] kedelai terus meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk

dan kebutuhan bahan baku industri olahan pangan seperti tahu, tempe, kecap, susu kedelai,

tauco, snack, dan sebagainya (Damardjati et al. 2005).Sedangkan menurut data (BPS, 2019)

Sumatera Utara pada tanggal 17 juni 2019 kebutuhan pasokan kedelai di Sumatera Utara

9,908 ton/bulan sedangkan produksi di Sumatera Utara 1,271 ton terjadi defisit 7,908 ton,

Sumatera Utara hanya bisa menyediahkan 12% dari seluruh kebutuhan kedelai di Sumatera

Utara.

Kebutuhan kedelai di Indonesia setiap tahun selalu meningkat seiring dengan

pertambahan penduduk dan perbaikan pendapatan [Link] karena itu, diperlukan

suplai kedelai tambahan yang harus diimpor karena produksi dalam negeri belum dapat

mencukupi kebutuhan [Link] budidaya kedelai pun diperluas dan produktivitasnya

[Link] pencapaian usaha tersebut, diperlukan pengenalan mengenai tanaman

kedelai yang lebih mendalam (Irwan, 2006).

Produktivitas kedelai yang masih rendah dan beragam diantaranya disebabkan oleh

masih tingginya serangan hama dan penyakit. Hama utama pada tanaman kedelai

dikelompokkan menjadi hama perusak daun, dan perusak polong.


13

Hama perusak polong terdiri dari hama pengisap dan penggerek polong. Ada tiga spesies

hama penghisap polong di Indonesia yang sering menyerang pertanaman kedelai yaitu

(Riptortus linearis), (Nezara viridula L). dan (Piezodorus hybner). Diantara ketiga jenis hama

tersebut (R. Linearis)mempunyai daerah penyebaran dan serangan yang paling luas.

Sedangkan penggerek polong yaitu (Etiella zinckenella Treischke)dan (E. hobsoni

Butler).Spesies yang dominan dan memiliki daerah penyebaran yang paling luas adalah

(Etiella zinckenella Treischke). Salah satu penyakit yang menyebabkan produksi kedelai

rendah adalah serangan penyakit karat yang disebabkan oleh ( Phakospora

pachyrhizi)(Baliadi dkk, 2008).

Upaya yang sering dilakukan petani dalam mengendalikandengan menggunakan

pestisida [Link] pestisida kimiawi yang berlebihan akan mengakibatkan

keracunan pada organisme non target seperti predator, burung, ikan maupun satwa yang

lainnya dan munculnya hama resisten sehingga dalam jangka waktu tertentu akan memicu

terjadinya ledakan hama. Bahaya penggunaanpestisida juga akan berdampak pada manusia

yaitu keracunan yang dapat terjadi akibat kontak langsung dengan pestisida, Selain itu harga

pestisida cukup tinggi dipasaran, hal ini disebabkan karena bahan aktif pestisida yang masih

impor (Djunaedy, 2009).

Usaha untuk mengatasi dampak negatif tersebut adalah dengan pengelolaan OPT

dengan praktik yang berwawasan ramah lingkungan yaitu dengan memanfaatkan bahan alami

yang tersedia dilingkungan untuk mengendalikan OPT agar berada pada batas yang tidak

merugikan. Tumbuhan mengandung metabolit sekunder yang berguna sebagai mekanisme

untuk mempertahankan diri di alam. Bahan metabolit sekunder tersebut dapat digunakan

sebagai bahan pengendalihama dan penyakityang disebut sebagai pestisida botani.

Penggunaan pestisida botani memiliki banyak keuntungan karena secara umum mudah

didapat dan tersedia secara [Link] ini dapat dikerjakan dan diusahakan oleh petani sendiri
14

sehingga dapat menghemat dalam pembiayaan. Beberapa tanaman telah digunakan secara

langsung dalam pengendalian hama dan penyakit maupun melalui proses ekstraksi terlebih

dahulu untuk mendapatkan ekstrak kasar yang diaplikasikan ke hama dan penyakit tanaman.

(Prakash dan Rao, 1997; Regnault-Roger, 2005).

Salah satu alternatif penggunaan pestisida sintesis, pestisida botani dapat

menggantikanya, seperti penggunaanekstrak biji sirsak ([Link]). Estrak biji sirsak

mengandung senyawa kimia antara lain, isoquinolinic, flavonoid, alacoloid, sitokinin,

saponin dan steroid yang mampu digunakan untuk mencegah serangan hama perusak daun,

polong dan penyakit karat [Link] juga dapat merangsang kelenjar endokrin untuk

menghasilkan hormon ekdison, peninggkatan hormonetersebut dapat menyebabkan

kegagalan metamorfosis pada serangga selain itu alkaloid juga berfungsi untuk

penolakserangga dan senyawa [Link] ekstrak biji sirsak terhadap hamadan

penyakit pada tanaman kedelai diharapkan dapat menjadi salah satu solusi pemecahan

masalah untuk mengatasi tanaman kedelai yang selama ini pengendaliannya masih sering

menggunakan insektisida sintetik (Rianda, 2015).

Menurut hasil penelitihan Rina (2016) aplikasi nabati 3 hari sekali belum mampu

memberikan pengaruh yang nyata pada intensitas serangan hama pada tanaman kedelai. Pada

penelitihan ini dilakukan menggunakan aplikasi interval 1 minggu sekali dan 2 minggu sekali

ekstrak biji sirsak sehingga diduga aplikasi interval tersebut terlalu jauh apabila digunakan

untuk penggunaan pestisida nabati.

Pada penelitian ini dilakukan pengujian ekstrak Biji sirsak (Annona sacarata)

terhadap hama perusak daun, polong dan penyakit pada tanaman kedelai di lapangan.

1. 2 Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui pengaruh waktu aplikasi pestisida botani terhadap hama perusak

daun dan polong kedelai serta penyakit karat daun pada tanaman kedelai (Glycine max).
15

1. 3 Hipotesis

Ada pengaruh waktu aplikasi pestisida botani biji sirsak (Annona muricata) terhadap

kerusakan daun dan polong serta penyakit karat pada tanaman kedelai (Glycine max).

1. 4 Kegunaan Penelitian

1. Sebagai bahan informasi bagi pihak yang berkepentingan dalam penggunaan Ekstrak

pestisida botani biji sirsak pada tanaman kedelai.

2. Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana S1 di Fakultas Pertanian

Universitas Islam Sumatera Utara, Medan.


16

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi Tanaman Kedelai

Kedelai adalah tanaman asli cina yang sudah dibudidayakan oleh manusia sejak 2500

[Link] mulai dikenal di Indonesia sejak abad ke-16 yang tepatnya berada di pulau jawa

kemudian berkembang pulau- pulau [Link] botani dan nama ilmia tanaman kedelai

telah disepakati, yaitu (Glycine max).Tanaman kedelai mempunyai klasifikasi taksonomi

sebagai berikut:

Kindom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Subdivisio : Angiospermae

Kelas : Magnoliopsida

Ordo : Fabales

Famili : Fabaceae

Genus : Glycine

Spesies : Glycine max (L.)

2.2 Morfologi Tanaman Kedelai

2.2.1 Akar

Sistem perakaran pada kedelai terdiri dari sebuah akar tunggang yang terbetuk dari

calon akar, sejumlah akar sekunder yang tersusun dalam empat barisan sepanjang akar

tunggang, cabang akar sekunder, cabang akar adventif yang tumbuh dari bagian bawah

[Link] akar pertama terlihat 10 hari setelah [Link] akar tunggang ditentukan

oleh berbagai faktor, seperti kekerasan tanah, populasi tanaman, varietas, dan sebagainya.

Akar tunggang dapat mencapai kedalaman 200 cm, namun pada pertanaman tunggal dapat

mencapai 250 cm. Populasi tanaman yang rapat dapat mengganggu pertumbuhan akar.

Umumnya sistem perakaran terdiri dari akar lateral yang berkembang 10-15 cm di atas akar
17

tunggang. Kedelai memiliki akar tunggang, dan memiliki bintil-bintil akar yang merupakan

koloni dari bakteri Rhizobium japonicum.

Bakteri Rhizobium bekerja mengikat nitrogen dari udara yang kemudian dapat

digunakan untuk pertumbuhan tanaman. Pada tanah gembur, akar tanaman kedelai dapat

tumbuh sampai kedalaman 150 cm. Akar kedelai dapat mencapai kedalaman 150 cm dalam

tanah, tetapi kebanyakan kedalaman perakaran hanya mencapai 60 cm. Sistem perakaran

yang berada 15 cm lapisan atas tanah banyak berperan dalam mengabsorbsi air dan unsur

hara (Sarwono, 2008).

2.2.2 Batang

Batang tanaman kedelai berasal dari proses embrio yang terdapat pada biji masak.

Hipokotil merupakan bagian terpenting pada poros embrio, yang berbatasan dengan bagian

ujung bawah permulaan akar yang menyusun bagian kecil dari poros bakal akar

[Link] atas poros embrio berakhir pada epikotil yang terdiri dari dua daun

sederhana, yaitu primordial (bakal) daun bertiga pertama dan ujung [Link] percabangan

akar dipengaruhi oleh varietas dan lingkungan, seperti panjang hari, jarak tanam, dan

kesuburan tanah. Bila kondisi kelembaban dan suhu sesuai, calon akar akan muncul dari kulit

biji yang retak di daerah mikrofil dalam 1-2 hari.

Tanaman kedelai dikenal dua tipe pertumbuhan batang, yaitu determinit dan

[Link] tipe determinit apabila pada akhir fase generatif pada pucuk batang tanaman

kedelai ditumbuhi polong, sedangkan tipe indeterminit pada pucuk batang tanaman masih

terdapat daun yang tumbuh. Jumlah buku pada batang akan bertambah sesuai pertambahan

umur tanaman, tetapi pada kondisi normal jumlah buku berkisar 15-20 buku dengan jarak

antar buku berkisar 2-9 cm. Batang tanaman kedelai ada yang bercabang dan ada pula yang

tidak bercabang, tergantung dari karakter variasi kedelai, akan tetapi umumnya cabang pada

tanaman kedelai berjumlah antara 1-5 cabang (Adisarwanto, 2008).


18

2.2.3 Daun

Daun pertama yang keluar dari buku sebelah atas kotiledon berupa daun tunggal

berbentuk sederhana dan letaknya [Link]-daun yang terbentuk kemudian adalah

daun bertiga dan letaknya [Link] daun bertiga mempunyai bentuk yang

bermacam-macam, mulai dari bulat hingga lancip. Adakalanya terbentuk 4-7 daun dan dalam

beberapa kasus terjadi penggabungan daun lateral dengan daun terminal. Bentuk daun kedelai

adalah lancip, bulat dan lonjong (oval) serta terdapat perpaduan bentuk daun, misalnya antara

lonjong dan [Link] besar bentuk daun kedelai yang ada di Indonesia adalah

berbentuk [Link] umumnya bentuk daun kedelai ini mempunyai bentuk daun lebar,

memiliki stomata dan berjumlah 190-320 buah/[Link] memiliki bulu dengan warna cerah

dan jumlahnya bervariasi. Panjang bulu ini mencapai 1 mm bahkan lebih dan memiliki lebar

0,0025 mm tergantung dengan varietes yang di gunakan (Yennita, 2002).

2.2.4 Bunga

Bunga kedelai termasuk bunga sempurna yaitu setiap bunga memiliki kelamin jantan

dan [Link] berkelompok dan tergantung dari kondisi lingkungan tumbuh dan varietas

[Link] adalah tanaman menyerbuk sendiri dengan penyerbukan pada waktu bunga

masih tertutup (kleistogami), sehingga kemungkinan terjadi penyerbukan silang sangat kecil.

Penyerbukan sendiri terjadi karena polen berasal dari bunga yang sama atau bunga berbeda

pada tanaman yang sama. Bunga tanaman kedelai memiliki 5 helai daun mahkota, 1 helai

bendera, 2 helai sayap, dan 2 helai tunas. Benang sari pada tanaman kedelai berjumlah 10

buah, 9 buah diantarnya bersatu yang terdapat di bagian pangkal yang membentuk seludang

yang mengelilingi [Link] kedelai ini tumbuh di ketiak daun yang membentuk rangkaian

bunga yang terdiri dari 3-15 buah bunga di setiap [Link] kedelai ini memiliki

warna kemerahan, dan keungguan (Sumarnoet al, 2016).

2.2.5 Buah dan Biji


19

Polong kedelai pertama kali terbentuk sekitar 7-10 hari setelah munculnya bunga

[Link] polong muda sekitar 1 cm. Jumlah polong yang terbentuk pada setiap ketiak

tangkai daun sangat beragam, antara 1-10 buah dalam setiap [Link] setiap tanaman,

jumlah polong dapat mencapai lebih dari 50, bahkan ratusan. Kecepatan pembentukan polong

dan pembesaran biji akan semakin cepat setelah proses pembentukan bunga berhenti. Ukuran

dan bentuk polong menjadi maksimal pada saat 9 awal periode pemasakan biji.

Hal ini kemudian diikuti oleh perubahan warna polong, dari hijau menjadi kuning

kecoklatan pada saat masak. Polong kedelai di dalam polong terdapat biji yang berjumlah 2-3

biji. Biji kedelai terbagi menjadi dua bagian utama, yaitu kulit biji dan janin (embrio).Pada

kulit biji terdapat bagian yang disebut pusar (hilum) yang berwarna coklat, hitam, atau putih.

Pada ujung hilum terdapat mikrofil, berupa lubang kecil yang terbentuk pada saat proses

pembentukan biji. 8 Warna kulit biji bervariasi, mulai dari kuning, hijau, coklat, hitam, atau

kombinasi campuran dari warna-warna tersebut (Irwan, 2006).

2.3 Syarat Tumbuh Tanaman Kedelai

2.3.1 Iklim

Tanaman kedelai menghendaki daerah dengan curah hujan minimum sekitar 800 mm

pada masa pertumbuhan selama 3 – 4 bulan, sebenarnya tanaman ini resisten terhadap daerah

yang agak kering kecuali selama pembungaan10. Di sentra penanaman kedelai di Indonesia

pada umumnya kondisi iklim yang paling cocok adalah daerah – daerah yang mempunyai

suhu antara 25°- 27° C, kelembaban udara rata – rata 65 %, penyinaran matahari 12 jam per

hari atau minimal 10 jam perhari dan curah hujan paling optimum antara 100 – 200

mm/bulan 16 (Jayasumarta, 2012).

Kedelai tergolong tanaman hari pendek, yaitu tidak mampu berbunga bila panjang

hari (lama penyinaran) melebihi16 jam,dan mempercepat pembungaan bila lama penyinaran

kurang dari 12 jam. Tanaman hari pendek pada kedelai bermaknabahwa hari (panjang
20

penyinaran) yang semakin pendek akan merangsang pembungaan lebih [Link] umum

persyaratan panjang hari untuk pertumbuhan kedelai berkisar antara 11-16 jam, dan panjang

hari optimal untuk memperoleh produktivitas tinggi adalah panjang hari 14-15 [Link]

panjang hari pada dataran rendah (1-500 m dpl), dataran sedang (501- 900 m dpl), dan

dataran tinggi (901-1600 m dpl) relatif konstan dan sama, sekitar 12 jam. Perbedaan panjang

hariyang disebabkan oleh pergeseran garis edar matahari tidak lebih dari 45 menit, sehingga

seluruh wilayah Indonesia secara geografis sesuai untukusahatani kedelai (Sumarnoet al,

2016).

2.3.2 Tanah

Tanaman kedelai pada umumnya dapat beradaptasi terhadap berbagai jenis tanah dan

menyukai tanah yang bertekstur ringan hingga sedang, dan berdraenase [Link] ini

peka terhadap kondisi salin. Kedelai tumbuh baik pada tanah yang bertekstur gembur,

lembab, tidak tergenang air, dan memiliki pH 6 – 6,8. Pada pH < 5,5 pertumbuhannya sangat

terlambat karena keracunan aluminium. Kedelai dapat tumbuh di tanah yang agak masam

akan tetapi pada pH yang terlalu rendah bias menimbulkan keracunan Al (Sofia, 2007).

Ketinggian Tempat Temperatur terbaik untuk pertumbuhan tanaman kedelai adalah

25 – 270 C dengan penyinaran penuh (minimal 10 jam/hari). Tanaman kedelai menghendaki

curah hujan optimal antara 100 – 200 mm/bulan dengan kelembaban rata 50%. Tanaman

kedelai dapat tumbuh pada ketinggian 0 – 900 meter dari permukaan laut namun akan

tumbuh optimal pada ketinggian 650 meter dari permukaan laut (Sugiarto, 2015).

2.4 Hama Perusak Daun dan Polong

2.4.1 Hama Penggulung Daun (Lamprosema indicata F.)

Klasifikasi L. indicata

Menurut Kalshoven (1981), klasifikasi ulat penggulung daun ini adalah sebagai

berikut :
21

Kingdom : Animalia

Divisio : Arthropoda

Class : Insecta

Ordo : Lepidoptera

Family : Pyralidae

Genus : Lamprosema

Spesies : Lamprosema indicata

2.4.2 DeskripsiHama Penggulung DaunL. indicata

Telur

Telur berbentuk hampir bulat dengan bagian datar melekat pada daun (kadang

tersusun 2 lapis), warna coklat kekuning-kuningan,berkelompok (masing-masing berisi 25 –

500 butir) tertutup bulu seperti [Link] telur berlangsung selama 3 hari (Rahayu, dkk,

2009).

Gambar 1. Telur [Link]


Sumber : Dokumentasi Penelitian 2022

Larva

Larva yang keluar dari telur berwarna hijau, licin, transparan dan agak

[Link] bagian punggung (toraks) terdapat bintik [Link] tubuh ulat yang

telah tumbuh penuh 20 [Link] larva berlangsung selama 22-28 hari (Balitbang, 2006).
22

Gambar 2. Larva [Link]


Sumber : Dokumentasi Penelitian 2022
Pupa

Masa pupa dihabiskan dengan melipat daun dan kadang-kadang jatuh dibawah

[Link], instar dua dan instar tiga juga ditemukan didalam gulungan [Link] pupa

berlangsung selama 5-15 [Link] berukuran kecil dan sayapnya berwarna kuning

kecoklatan dengan tiga garis coklat [Link] rentangan sayap 20 mm (Rahayu, dkk,

2009).

Gambar 3. Pupa [Link]


Sumber : Dokumentasi Penelitian 2022

Imago

Panjang tubuh ulat dewasa sekitar 20 mm. Kepompong terbentuk di dalam gulungan

[Link]-kadang ulat jenis Tortricidae dijumpai dalam gulungan daun (Singh, 1990).

Gambar 4. Imago [Link]


Sumber : [Link] 2020
23

Gejala Serangan L. indicata

Ulat ini menyerang tanaman dengan menggulung daun dengan merekatkan daun yang

satu dengan yang lainnya dari sisi dalam dengan zat perekat yang [Link]

gulungan daun, ulat tersebut memakan daun tanaman sehingga akhirnya tinggal tulang

daunnyasaja yang tersisa. Bila gulungan dibuka, akan dijumpai ulat atau kotorannya yang

berwarna coklat kehitaman. Selain menyerang kedelai, ulat ini juga menyerang kacang hijau,

kacang tunggak, kacang panjang, Calopogonium [Link] kacang tanah (Balitbang, 2006).

Pengendalian Hama L. indicata

Untuk mengendalikan [Link], petani umumnya menggunakan insektisida

kimia yang intensif (dengan frekuensi dan dosis tinggi). Hal ini mengakibatkan timbulnya

dampak negatif seperti gejala resistensi, resurjensi hama, terbunuhnya musuh alami,

meningkatnya residu pada hasil, mencemari lingkungan dan gangguan kesehatan bagi

pengguna. Pengurangan penggunaan pestisida di areal pertanian menuntut tersedianya cara

pengendalian lain yang aman dan ramah lingkungan, di antaranya dengan memanfaatkan

musuh alami dan penggunaan pestisida nabati (Samsudin, 2008).

2.4.3Hama Pengerek Polong (Etiella zinckenella)

Klasifikasi E. zinckenella

Menurut Boror dkk (1992) klasifikasi hama penggerek polong kedelaiE. zinckenella

adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia

Filum : Arthropoda

Kelas : Insekta

Ordo : Lepidoptera

Family : Pyralidae
24

Genus : Etiella

Spesies : Etiellazinckenella.

2.4.4 Deskripsi Hama Pengerek Polong [Link]

Telur

Pada saat diletakkan, telur [Link] berwarna putih mengkilap,kemudian berubah

kemerahan dan berwarna jingga ketika akan menetas. Telur diletakkan pada daun atau pada

polong dengan jumlah sekitar 7-15 butir. Telur biasanya berbentuk lonjong, diameter 0,6 mm

(Fatmawati, 2008).

Gambar 5. Telur E. zinckenella


Sumber : Litbang . com

Larva

Larva dewasa mempunyai kepala berwarna coklat keemasan pada bagian atasnya,

dengan bagian mulut berwarna coklat gelap tetapi pada larva yang masih muda, kepalanya

berwarna hitam. Dibagian belakang kepala terdapat sebuah perisai berwarna hitam, tetapi

pada waktu istirahat, tubuhnya berwarna hijau sedikit kemerahan yang akan lebih jelas

dengan bertambahnya usia. Ada beberapa belang berwarna abuabu kecoklatan disepanjang

tubuh yang lebih jelas pada saat larva masih muda (Austin dkk, 1993).
25

Gambar 6. Larva E. zinckenella


Sumber : Dokumentasi Penelitian 2022

Pupa

Dalam pembentukan pupa, larva yang dewasa dalam polong kedelai tadi melakukan

gerekan keluar dan selanjutnya turun menuju tanah, didalam tanah inilah dilakukan

pembentukan [Link] berwarna coklat dengan panjang 8-10 mm dan lebar 2 mm

dibentuk dalam tanah dengan terlebih dahulu membuat sel dari [Link] 9-15 hari, pupa

berubah menjadi ngengat (Kartasapoetra, 1987).

Gambar 7. Pupa E. zinckenella


Sumber : [Link]/

Imago

Ngengat dewasa memiliki sayap depan berwarna coklat dengan garis kuning pucat

sepanjang costa,sedangkan sayap belakangnya berwarna coklat [Link] sayap adalah

sekitar 2 cm (Evans dan Crossley, 2012).


26

Gambar [Link]. zinckenella


Sumber : Dokumentasi Penelitian 2022

Gejala Serangan E zinckenella

E. Zinckenella merupakan hama utama pada tanaman kedelai di Indonesia. Larva E.

Zinckenella memakan benih (biji) kedelai sehingga dapat menyebabkan kehilangan hasil serta

dapat menurunkan kualitas dan harga jual benih kedelai.E. Zinckenella dianggap hama

penting dibandingkan E. hobsoni karena hama tersebut lebih dominan terdapat di Jawa dan

daerah pertanaman kedelai lainnya di Indonesia. Gejala kerusakan tanaman akibat serangan

hama ini adalah terdapatnya bintik atau lubang berwarna cokelat tua pada kulit polong, bekas

jalan masuk larva ke dalam biji. Seringkali, pada lubang bekas gerekan terdapat butir-butir

kotoran kering yang berwarna coklat muda dan terikat benang pintal atau sisa-sisa biji

terbalut benang pintal. Merusak biji dengan menggerek kulit polong muda dan kemudian

masuk serta menggerek biji, sebelum menggerek larva baru menetas menutupi dirinya dengan

selubung putih hingga ada bintik coklat tua sebagai jalan masuk hama tersebut (Deptan,

2012).

Pengendalian E. zinckenella

Pengendalian penggerek polong pada tanaman kedelai dilakukan berdasarkan strategi

penerapan Pengendalian Hama Terpadau (PHT). PHT adalah suatu cara pendekatan atau cara

pengendalian hama yang didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efesiensi ekonomi dalam

rangka pengelolaan ekosistem yang wawasan lingkungan yang berkelanjutan. Strategi PHT
27

adalah mendukung secara kompatibel semua teknik atau metode pengendalian hama

didasarkan pada asas ekologi dan ekonomi (Untung, 2007).

2.4.5Hama Pengisap Polong (Nezara virudula)

Klasifikasi N. virudula

Adapun klasifikasi dari hama kepik hijau N. viridula adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia

Filum : Arthropoda

Kelas : Insecta

Ordo : Hemiptera

Family : Pentatomidae

Genus : Nezara

Species : Nezara viridula

2.4.6 Deskripsi Hama Pengisap Polong [Link]

Telur

Telur diletakkan pada daun, polong, batang atau pada rumput secara berkelompok

antara 10-118 [Link] telur seperti cangkir, berwarna kuning dan tiga hari sebelum

menetas berubah menjadi merah bata (Rukmana dan Sugandi, 1997).

Gambar 9. Telur N viridula


Sumber : [Link]

Nimfa
28

Nimfa muda yang baru keluar dari telur hidup bergerombol di dekat tempat peletakan

[Link] variasi warna pada nimfa sesuai dengan perkembangan [Link] pertama

berwarna coklat muda, instar kedua hitam dengan bintik putih, instar ketiga, keempat dan

kelima hijau dengan bintik hitam dan putih. Nimfa biasanya hidup bergerombol sampai instar

ketiga, sedangkan mulai instar keempat mereka akan berpencar dan hidup sendiri-sendiri.

Nimfa instar pertama tidak makan. Stadium nimfa berlangsung sekitar 23 hari (Harahap,

1994).

Gambar 10. Nimfa N viridula


Sumber : Dokumentasi Penelitihan 2022
Imago

Kepik hijau pada stadium imago berwarna hijau polos, hijau dengan kepala dan

pronotum berwarna jingga atau kuning keemasan, kuning kehijauan dengan tiga bintik hijau,

dan kuning [Link] imago berkisar antara 5-47 hari (Rukmana dan Sugandi, 1997).Kepik

hijau terdapat diseluruh daerah tropis dan daerah [Link] kepik hijau sekitar 16 mm

(Pracaya, 2007).
29

Gambar 11. Imago N viridula


Sumber : Dokumentasi Penelitian 2022

Gejala Serangan N. viridula

Bagian tanaman yang diserang kepik hijau adalah [Link] serangan juga sulit

diestimasi karena bersamaan dengan penghisap polong [Link] menghisap cairan

polong dan biji [Link] serangannya dapat menurunnkan, baik kualitas maupun

kuantitas produksi serta menurunkan daya [Link] pada polong akibat serangan

kepik hijau beragam tergantung pada perkembangan polong tersebut. Serangan pada polong-

polong muda menyebabkan polong tersebut menjadi kempis. Serangan pada saat pengisian

biji menyebabkan biji [Link] pada polong-polong tua hanya menyebabkan

terbentuknya bintik-bintik kecil atau kulit biji menjadi [Link] pada tunas biasanya

layu, ataudalam kasus yang ekstrim bisa mati. Kerusakan pada buah dari tusukan yaitu bintik-

bintik kecoklatan atau [Link] ini mempengaruhi kualitas buah yang dapat dimakan

dan jelas menurunkan nilai [Link] buah muda terhambat dan sering

layu(Saranga dkk, 2013).

PengendalianHama N. viridula

Pengendalian hama kepik hijau yang dapat direkomendasikan, yaitu:1). Sebelum

waktu tanam, dilakukan sanitasi terhdap tanaman inang liar.2).Melakukan pengamatan

terutama pada tanaman perangkap, yang dilakukan pada umur tanaman 42, 49, 56, 63, dan 70

hari setelah tanam (HST). Pengamatan dilakukan terhadap keberadaan serangga dewasa,

telur, dan nimfa. 3). Aplikasi pestisida dilakukan apabila telah mencapai intensitas kerusakan

lebih dari 2% dan hasil pengamatan ditemukan sepasang imago (jantan dan betina) pada 20

rumpun tanaman (Balitbang, 2006).

2.5 Penyakit Karat Daun

2.5.1 Cendawan [Link]

Biologi Penyakit Karat Daun


30

Salah satu hambatan dalam upaya meningkatkan produksi kedelai adalah serangan

penyakit karat yang disebabkan oleh Phakopsora pachyrhizi, penyakit karat telah tersebar

luas di sentra produksi kedelai di [Link] awal penyakit karat pada kedelaiditandai

dengan munculnya bercak klorotik kecil yang tidak beraturan pada permukaan [Link]

umumnya gejala karat muncul pada permukaan bawah [Link] tersebut kemudian

berubah menjadi coklat atau coklat tua dan membentuk pustul-pustul merupakan kumpulan

uredium. Pustulyang telah matang akan pecah dan mengeluarkan tepung yang warnanya

seperti karat besi. Tepung tersebut merupakan kantung-kantung spora yang disebut uredium

dan berisi uredospore, penyakit karat daun menyebabkan daun menjadi kering dan rontok

sebelum waktunya penyakit karat daun yang disebabkan oleh jamur Phakopsora

[Link] yang mengifeksi daun kedelai pada musim kemarau mulai menyerang

tanaman berumur 14-21 hari hingga menjelang panen. (Sumartini, 2010).

Gamabar 12. Karat Daun [Link]


Sumber : Dokumentasi Penelitihan 2022

Siklus Penyakit

Dua tipe spora telah diketahui padaP. Pachyrhizitipe spora yang pertama adalah

Uredospora, sering ditemukan dari musim ke musim, Uredospora sangat mudah terbawa

angin dan percikan air hujan sehingga cepat tersebar dan siklus akan berkali-kali terjadi dari

musim ke [Link] spora yang kedua adalah teliospora. Di indonesia, teliospora jarang

ditemukan tetapi di negara-negara yang beriklim subtropis, teliospora ditemukan padaakhir


31

musim tanam atau di rumah kaca. Pada kondisi laboratorium, teliospora dapat berkecambah

membentuk basidiospora. Jika tidak dijumpai tanaman inang, siklus penyakit akan terhenti.

Jika cuaca menguntungkan,uredospora akan berkecambah dan menginfeksi tanaman sehat.

Proses infeksi dimulai dengan perkecambahan uredospora membentuk tabung kecambah

tunggal yang menembus permukaan daun 5–400 m melalui bagian tengah sel epidermis,

sampai terbentuk apresorium (hifa infeksi). Berbeda dengan cendawan karat yang lain, pada

cendawan ini penetrasi apresoriumke sel-sel epidermis daun langsung melalui kutikula,

jarang melalui stomata. Jika melalui stomata, umumnya apresorium masuk melalui sel

penjaga, bukan melalui sel pembuka. Proses penetrasi pada cendawan ini bersifat unik;

cendawan mampu melakukan penetrasi secara langsung. Proses penetrasi tersebut

memudahkan [Link] mendapatkan inang yang luas (Monte et al. 2003).

Pengendalian Penyakit P. pachyrhizi

Pengendalian penyakit karat dianjurkan dilakukan dengan siklus penyakit karat pada

tanaman [Link] pengendalian yang ramah lingkungan untuk mendukung

pertanian [Link] pengendalian penyakit karat meliputi penanaman varietas

tahan serta penggunaan bahan nabati dan [Link] menggunakan bahan nabati

yakni dilakukan dengan minyak cengkih mengandung bahan aktif eugenol yang berhasiat

menghambat perkembangan beberapa mikroorganisme penyebab penyakit tersebut,

sementara pengendalian hayati dengan mengaplikasikan mikroorganisme antagonis dari

penyebab penyakit (Litbang Pertanian, 2010).

2.6Pestisida Botani Biji Sirsak ( Annona muricata)

Di Indonesia tanaman sirsak tumbuh di dataran rendah sampai dataran tinggi

(ketinggian 1000 mdpl).Tanaman sirsak mulai berbunga setelah berumur 2-3 [Link]

sirsak berbentuk pohon, tingginya mencapai 3-8 m. daunnya mengkilap dan berwarna hijau

tua. Seluruh bagian tanaman bila digores akan mengeluarkan bau yang sama, khas bau sirsak.
32

Bunganya yang majemuk keluar dari ranting ranting ketiak atau langsung dari [Link]

berkelamin dua, benang sarinya banyak, demikian pula bakal buahnya dan bakal bijinya

hanya [Link] buah lonjong, ujungnya sering bengkok atau berbentuk [Link]

majemuk dan dibentuk oleh sejumlah bakal buah yang menjadi [Link] cukup tebal,

namun tidak alot, berduri lemas dan agak bengkok (Rismunandar, 1990).

Menurut Adi (1997), biji sirsak mengandung dua jenis alkaloid yang beracun yaitu

cystinine (C11H114N20) dan spartein (C15H26N220).Selain mengandung alkaloid juga

mengandung rotenon. Rotenon bereaksi dengan menggangu proses produksi energi serangga.

Biji sirsak bentuknya tumpul, berwarna coklat kehitaman dan [Link] sirsak

mengandung minyak yang dapat digunakan sebagai [Link] bijian ini dikelilingi

daging yang dapat [Link] buah sirsak mengandung 60-80 [Link] buah sirsak

mengandung 80% air, 1% protein, 8% karbohidrat dan sejumlah vitamin seperti vitamin B1,

B2 dan C (Samson, 1992).

Selain dari jenis alkaloid diatas juga dari tanaman sirsak telah berhasil juga diisolasi

beberapa senyawa alkaloid Annonainyaitu muriicine( C12H21O4N) dan Muricine (C18H19O4).

Kandungan alkaloid pada tumbuhan sirsak terutama terdapat didalam daun, kulit batang dan

biji [Link] sirsak mengandung senyawa poliketida dan suatu senyawa turunan

bistetrahidrofuran; acetogenin (skuamostatinC, D, anonain, anonasin A, anonin 1, IV, VI,

VIII, IX, XVI, skuarnostatin A, bulatasin, bulatasion, skuamon, neo desatilurarisin, neo

retikulasin A, skuamosten A, asimisin, skuamosin, sanonasin, anonastatin, neo anonin

(Kardinan, 1999).

Biji sirsak selain mengandung bahan aktif di atas, juga mengandung minyak sebanyak

42-45% berwarna kuning dan tidak mudah kering yang bersifat racun iritasi dan

menyebabkan peradangan pada mata. Adapun sifat racun yang dihasilkan dari tumbuhan

family Annonaceae adalah residu racunnya mudah hilang di alam dalam waktu dua hari lebih
33

kurang 48 jam setelah digunakan. Alkaloid yang terdapat didalam tumbuh tumbuhan

merupakan senyawa organik yang bersifat basa, yang banyak mengandung atom N baik

heterosiklis maupun alifatik, terjadi dalam proses alamiah. Dalam bentuk basa alkaloid larut

dalam pelarut organik sedangkan dalam bentuk garam dapat dilarutkan dalam [Link]

dapat merangsang kelenjar endokrin untuk menghasilkan hormon ekdison, peninggkatan

hormonetersebut dapat menyebabkan kegagalan metamorfosis pada serangga selain itu

alkaloid juga berfungsi untuk penolakserangga dan senyawa antifungi (Robinson, 1991).

Menurut hasil penelitihan Rina (2016) aplikasi nabati 3 hari sekali belum mampu

memberikan pengaruh yang nyata pada intensitas serangan hama pada tanaman kedelai. Pada

penelitihan ini dilakukan menggunakan aplikasi interval 1 minggu sekali dan 2 minggu sekali

ekstrak biji sirsak sehingga diduga aplikasi interval tersebut terlalu jauh apabila digunakan

untuk penggunaan pestisida nabati.

Anda mungkin juga menyukai