Pengaruh Ekstrak Sirsak pada Kedelai
Pengaruh Ekstrak Sirsak pada Kedelai
I PENDAHULUAN
Kedelai (Glycine max) adalah salah satu jenis tanaman pangan utama setelah padi
dan jagung yang memiliki potensi produksi yang tinggi dan nilai ekonomi yang penting.
Kedelai banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia dalam berbagai olahan, karena
kandungan protein yang tinggi dan harga kedelai yang terjangkau oleh semua
dan kebutuhan bahan baku industri olahan pangan seperti tahu, tempe, kecap, susu kedelai,
tauco, snack, dan sebagainya (Damardjati et al. 2005).Sedangkan menurut data (BPS, 2019)
Sumatera Utara pada tanggal 17 juni 2019 kebutuhan pasokan kedelai di Sumatera Utara
9,908 ton/bulan sedangkan produksi di Sumatera Utara 1,271 ton terjadi defisit 7,908 ton,
Sumatera Utara hanya bisa menyediahkan 12% dari seluruh kebutuhan kedelai di Sumatera
Utara.
suplai kedelai tambahan yang harus diimpor karena produksi dalam negeri belum dapat
Produktivitas kedelai yang masih rendah dan beragam diantaranya disebabkan oleh
masih tingginya serangan hama dan penyakit. Hama utama pada tanaman kedelai
Hama perusak polong terdiri dari hama pengisap dan penggerek polong. Ada tiga spesies
hama penghisap polong di Indonesia yang sering menyerang pertanaman kedelai yaitu
(Riptortus linearis), (Nezara viridula L). dan (Piezodorus hybner). Diantara ketiga jenis hama
tersebut (R. Linearis)mempunyai daerah penyebaran dan serangan yang paling luas.
Butler).Spesies yang dominan dan memiliki daerah penyebaran yang paling luas adalah
(Etiella zinckenella Treischke). Salah satu penyakit yang menyebabkan produksi kedelai
keracunan pada organisme non target seperti predator, burung, ikan maupun satwa yang
lainnya dan munculnya hama resisten sehingga dalam jangka waktu tertentu akan memicu
terjadinya ledakan hama. Bahaya penggunaanpestisida juga akan berdampak pada manusia
yaitu keracunan yang dapat terjadi akibat kontak langsung dengan pestisida, Selain itu harga
pestisida cukup tinggi dipasaran, hal ini disebabkan karena bahan aktif pestisida yang masih
Usaha untuk mengatasi dampak negatif tersebut adalah dengan pengelolaan OPT
dengan praktik yang berwawasan ramah lingkungan yaitu dengan memanfaatkan bahan alami
yang tersedia dilingkungan untuk mengendalikan OPT agar berada pada batas yang tidak
untuk mempertahankan diri di alam. Bahan metabolit sekunder tersebut dapat digunakan
Penggunaan pestisida botani memiliki banyak keuntungan karena secara umum mudah
didapat dan tersedia secara [Link] ini dapat dikerjakan dan diusahakan oleh petani sendiri
14
sehingga dapat menghemat dalam pembiayaan. Beberapa tanaman telah digunakan secara
langsung dalam pengendalian hama dan penyakit maupun melalui proses ekstraksi terlebih
dahulu untuk mendapatkan ekstrak kasar yang diaplikasikan ke hama dan penyakit tanaman.
saponin dan steroid yang mampu digunakan untuk mencegah serangan hama perusak daun,
polong dan penyakit karat [Link] juga dapat merangsang kelenjar endokrin untuk
kegagalan metamorfosis pada serangga selain itu alkaloid juga berfungsi untuk
penyakit pada tanaman kedelai diharapkan dapat menjadi salah satu solusi pemecahan
masalah untuk mengatasi tanaman kedelai yang selama ini pengendaliannya masih sering
Menurut hasil penelitihan Rina (2016) aplikasi nabati 3 hari sekali belum mampu
memberikan pengaruh yang nyata pada intensitas serangan hama pada tanaman kedelai. Pada
penelitihan ini dilakukan menggunakan aplikasi interval 1 minggu sekali dan 2 minggu sekali
ekstrak biji sirsak sehingga diduga aplikasi interval tersebut terlalu jauh apabila digunakan
Pada penelitian ini dilakukan pengujian ekstrak Biji sirsak (Annona sacarata)
terhadap hama perusak daun, polong dan penyakit pada tanaman kedelai di lapangan.
1. 2 Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui pengaruh waktu aplikasi pestisida botani terhadap hama perusak
daun dan polong kedelai serta penyakit karat daun pada tanaman kedelai (Glycine max).
15
1. 3 Hipotesis
Ada pengaruh waktu aplikasi pestisida botani biji sirsak (Annona muricata) terhadap
kerusakan daun dan polong serta penyakit karat pada tanaman kedelai (Glycine max).
1. 4 Kegunaan Penelitian
1. Sebagai bahan informasi bagi pihak yang berkepentingan dalam penggunaan Ekstrak
2. Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana S1 di Fakultas Pertanian
II TINJAUAN PUSTAKA
Kedelai adalah tanaman asli cina yang sudah dibudidayakan oleh manusia sejak 2500
[Link] mulai dikenal di Indonesia sejak abad ke-16 yang tepatnya berada di pulau jawa
kemudian berkembang pulau- pulau [Link] botani dan nama ilmia tanaman kedelai
sebagai berikut:
Kindom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Subdivisio : Angiospermae
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Fabales
Famili : Fabaceae
Genus : Glycine
2.2.1 Akar
Sistem perakaran pada kedelai terdiri dari sebuah akar tunggang yang terbetuk dari
calon akar, sejumlah akar sekunder yang tersusun dalam empat barisan sepanjang akar
tunggang, cabang akar sekunder, cabang akar adventif yang tumbuh dari bagian bawah
[Link] akar pertama terlihat 10 hari setelah [Link] akar tunggang ditentukan
oleh berbagai faktor, seperti kekerasan tanah, populasi tanaman, varietas, dan sebagainya.
Akar tunggang dapat mencapai kedalaman 200 cm, namun pada pertanaman tunggal dapat
mencapai 250 cm. Populasi tanaman yang rapat dapat mengganggu pertumbuhan akar.
Umumnya sistem perakaran terdiri dari akar lateral yang berkembang 10-15 cm di atas akar
17
tunggang. Kedelai memiliki akar tunggang, dan memiliki bintil-bintil akar yang merupakan
Bakteri Rhizobium bekerja mengikat nitrogen dari udara yang kemudian dapat
digunakan untuk pertumbuhan tanaman. Pada tanah gembur, akar tanaman kedelai dapat
tumbuh sampai kedalaman 150 cm. Akar kedelai dapat mencapai kedalaman 150 cm dalam
tanah, tetapi kebanyakan kedalaman perakaran hanya mencapai 60 cm. Sistem perakaran
yang berada 15 cm lapisan atas tanah banyak berperan dalam mengabsorbsi air dan unsur
2.2.2 Batang
Batang tanaman kedelai berasal dari proses embrio yang terdapat pada biji masak.
Hipokotil merupakan bagian terpenting pada poros embrio, yang berbatasan dengan bagian
ujung bawah permulaan akar yang menyusun bagian kecil dari poros bakal akar
[Link] atas poros embrio berakhir pada epikotil yang terdiri dari dua daun
sederhana, yaitu primordial (bakal) daun bertiga pertama dan ujung [Link] percabangan
akar dipengaruhi oleh varietas dan lingkungan, seperti panjang hari, jarak tanam, dan
kesuburan tanah. Bila kondisi kelembaban dan suhu sesuai, calon akar akan muncul dari kulit
Tanaman kedelai dikenal dua tipe pertumbuhan batang, yaitu determinit dan
[Link] tipe determinit apabila pada akhir fase generatif pada pucuk batang tanaman
kedelai ditumbuhi polong, sedangkan tipe indeterminit pada pucuk batang tanaman masih
terdapat daun yang tumbuh. Jumlah buku pada batang akan bertambah sesuai pertambahan
umur tanaman, tetapi pada kondisi normal jumlah buku berkisar 15-20 buku dengan jarak
antar buku berkisar 2-9 cm. Batang tanaman kedelai ada yang bercabang dan ada pula yang
tidak bercabang, tergantung dari karakter variasi kedelai, akan tetapi umumnya cabang pada
2.2.3 Daun
Daun pertama yang keluar dari buku sebelah atas kotiledon berupa daun tunggal
daun bertiga dan letaknya [Link] daun bertiga mempunyai bentuk yang
bermacam-macam, mulai dari bulat hingga lancip. Adakalanya terbentuk 4-7 daun dan dalam
beberapa kasus terjadi penggabungan daun lateral dengan daun terminal. Bentuk daun kedelai
adalah lancip, bulat dan lonjong (oval) serta terdapat perpaduan bentuk daun, misalnya antara
lonjong dan [Link] besar bentuk daun kedelai yang ada di Indonesia adalah
berbentuk [Link] umumnya bentuk daun kedelai ini mempunyai bentuk daun lebar,
memiliki stomata dan berjumlah 190-320 buah/[Link] memiliki bulu dengan warna cerah
dan jumlahnya bervariasi. Panjang bulu ini mencapai 1 mm bahkan lebih dan memiliki lebar
2.2.4 Bunga
Bunga kedelai termasuk bunga sempurna yaitu setiap bunga memiliki kelamin jantan
dan [Link] berkelompok dan tergantung dari kondisi lingkungan tumbuh dan varietas
[Link] adalah tanaman menyerbuk sendiri dengan penyerbukan pada waktu bunga
masih tertutup (kleistogami), sehingga kemungkinan terjadi penyerbukan silang sangat kecil.
Penyerbukan sendiri terjadi karena polen berasal dari bunga yang sama atau bunga berbeda
pada tanaman yang sama. Bunga tanaman kedelai memiliki 5 helai daun mahkota, 1 helai
bendera, 2 helai sayap, dan 2 helai tunas. Benang sari pada tanaman kedelai berjumlah 10
buah, 9 buah diantarnya bersatu yang terdapat di bagian pangkal yang membentuk seludang
yang mengelilingi [Link] kedelai ini tumbuh di ketiak daun yang membentuk rangkaian
bunga yang terdiri dari 3-15 buah bunga di setiap [Link] kedelai ini memiliki
Polong kedelai pertama kali terbentuk sekitar 7-10 hari setelah munculnya bunga
[Link] polong muda sekitar 1 cm. Jumlah polong yang terbentuk pada setiap ketiak
tangkai daun sangat beragam, antara 1-10 buah dalam setiap [Link] setiap tanaman,
jumlah polong dapat mencapai lebih dari 50, bahkan ratusan. Kecepatan pembentukan polong
dan pembesaran biji akan semakin cepat setelah proses pembentukan bunga berhenti. Ukuran
dan bentuk polong menjadi maksimal pada saat 9 awal periode pemasakan biji.
Hal ini kemudian diikuti oleh perubahan warna polong, dari hijau menjadi kuning
kecoklatan pada saat masak. Polong kedelai di dalam polong terdapat biji yang berjumlah 2-3
biji. Biji kedelai terbagi menjadi dua bagian utama, yaitu kulit biji dan janin (embrio).Pada
kulit biji terdapat bagian yang disebut pusar (hilum) yang berwarna coklat, hitam, atau putih.
Pada ujung hilum terdapat mikrofil, berupa lubang kecil yang terbentuk pada saat proses
pembentukan biji. 8 Warna kulit biji bervariasi, mulai dari kuning, hijau, coklat, hitam, atau
2.3.1 Iklim
Tanaman kedelai menghendaki daerah dengan curah hujan minimum sekitar 800 mm
pada masa pertumbuhan selama 3 – 4 bulan, sebenarnya tanaman ini resisten terhadap daerah
yang agak kering kecuali selama pembungaan10. Di sentra penanaman kedelai di Indonesia
pada umumnya kondisi iklim yang paling cocok adalah daerah – daerah yang mempunyai
suhu antara 25°- 27° C, kelembaban udara rata – rata 65 %, penyinaran matahari 12 jam per
hari atau minimal 10 jam perhari dan curah hujan paling optimum antara 100 – 200
Kedelai tergolong tanaman hari pendek, yaitu tidak mampu berbunga bila panjang
hari (lama penyinaran) melebihi16 jam,dan mempercepat pembungaan bila lama penyinaran
kurang dari 12 jam. Tanaman hari pendek pada kedelai bermaknabahwa hari (panjang
20
penyinaran) yang semakin pendek akan merangsang pembungaan lebih [Link] umum
persyaratan panjang hari untuk pertumbuhan kedelai berkisar antara 11-16 jam, dan panjang
hari optimal untuk memperoleh produktivitas tinggi adalah panjang hari 14-15 [Link]
panjang hari pada dataran rendah (1-500 m dpl), dataran sedang (501- 900 m dpl), dan
dataran tinggi (901-1600 m dpl) relatif konstan dan sama, sekitar 12 jam. Perbedaan panjang
hariyang disebabkan oleh pergeseran garis edar matahari tidak lebih dari 45 menit, sehingga
seluruh wilayah Indonesia secara geografis sesuai untukusahatani kedelai (Sumarnoet al,
2016).
2.3.2 Tanah
Tanaman kedelai pada umumnya dapat beradaptasi terhadap berbagai jenis tanah dan
menyukai tanah yang bertekstur ringan hingga sedang, dan berdraenase [Link] ini
peka terhadap kondisi salin. Kedelai tumbuh baik pada tanah yang bertekstur gembur,
lembab, tidak tergenang air, dan memiliki pH 6 – 6,8. Pada pH < 5,5 pertumbuhannya sangat
terlambat karena keracunan aluminium. Kedelai dapat tumbuh di tanah yang agak masam
akan tetapi pada pH yang terlalu rendah bias menimbulkan keracunan Al (Sofia, 2007).
curah hujan optimal antara 100 – 200 mm/bulan dengan kelembaban rata 50%. Tanaman
kedelai dapat tumbuh pada ketinggian 0 – 900 meter dari permukaan laut namun akan
tumbuh optimal pada ketinggian 650 meter dari permukaan laut (Sugiarto, 2015).
Klasifikasi L. indicata
Menurut Kalshoven (1981), klasifikasi ulat penggulung daun ini adalah sebagai
berikut :
21
Kingdom : Animalia
Divisio : Arthropoda
Class : Insecta
Ordo : Lepidoptera
Family : Pyralidae
Genus : Lamprosema
Telur
Telur berbentuk hampir bulat dengan bagian datar melekat pada daun (kadang
500 butir) tertutup bulu seperti [Link] telur berlangsung selama 3 hari (Rahayu, dkk,
2009).
Larva
Larva yang keluar dari telur berwarna hijau, licin, transparan dan agak
[Link] bagian punggung (toraks) terdapat bintik [Link] tubuh ulat yang
telah tumbuh penuh 20 [Link] larva berlangsung selama 22-28 hari (Balitbang, 2006).
22
Masa pupa dihabiskan dengan melipat daun dan kadang-kadang jatuh dibawah
[Link], instar dua dan instar tiga juga ditemukan didalam gulungan [Link] pupa
berlangsung selama 5-15 [Link] berukuran kecil dan sayapnya berwarna kuning
kecoklatan dengan tiga garis coklat [Link] rentangan sayap 20 mm (Rahayu, dkk,
2009).
Imago
Panjang tubuh ulat dewasa sekitar 20 mm. Kepompong terbentuk di dalam gulungan
[Link]-kadang ulat jenis Tortricidae dijumpai dalam gulungan daun (Singh, 1990).
Ulat ini menyerang tanaman dengan menggulung daun dengan merekatkan daun yang
satu dengan yang lainnya dari sisi dalam dengan zat perekat yang [Link]
gulungan daun, ulat tersebut memakan daun tanaman sehingga akhirnya tinggal tulang
daunnyasaja yang tersisa. Bila gulungan dibuka, akan dijumpai ulat atau kotorannya yang
berwarna coklat kehitaman. Selain menyerang kedelai, ulat ini juga menyerang kacang hijau,
kacang tunggak, kacang panjang, Calopogonium [Link] kacang tanah (Balitbang, 2006).
kimia yang intensif (dengan frekuensi dan dosis tinggi). Hal ini mengakibatkan timbulnya
dampak negatif seperti gejala resistensi, resurjensi hama, terbunuhnya musuh alami,
meningkatnya residu pada hasil, mencemari lingkungan dan gangguan kesehatan bagi
pengendalian lain yang aman dan ramah lingkungan, di antaranya dengan memanfaatkan
Klasifikasi E. zinckenella
Menurut Boror dkk (1992) klasifikasi hama penggerek polong kedelaiE. zinckenella
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insekta
Ordo : Lepidoptera
Family : Pyralidae
24
Genus : Etiella
Spesies : Etiellazinckenella.
Telur
kemerahan dan berwarna jingga ketika akan menetas. Telur diletakkan pada daun atau pada
polong dengan jumlah sekitar 7-15 butir. Telur biasanya berbentuk lonjong, diameter 0,6 mm
(Fatmawati, 2008).
Larva
Larva dewasa mempunyai kepala berwarna coklat keemasan pada bagian atasnya,
dengan bagian mulut berwarna coklat gelap tetapi pada larva yang masih muda, kepalanya
berwarna hitam. Dibagian belakang kepala terdapat sebuah perisai berwarna hitam, tetapi
pada waktu istirahat, tubuhnya berwarna hijau sedikit kemerahan yang akan lebih jelas
dengan bertambahnya usia. Ada beberapa belang berwarna abuabu kecoklatan disepanjang
tubuh yang lebih jelas pada saat larva masih muda (Austin dkk, 1993).
25
Pupa
Dalam pembentukan pupa, larva yang dewasa dalam polong kedelai tadi melakukan
gerekan keluar dan selanjutnya turun menuju tanah, didalam tanah inilah dilakukan
dibentuk dalam tanah dengan terlebih dahulu membuat sel dari [Link] 9-15 hari, pupa
Imago
Ngengat dewasa memiliki sayap depan berwarna coklat dengan garis kuning pucat
Zinckenella memakan benih (biji) kedelai sehingga dapat menyebabkan kehilangan hasil serta
dapat menurunkan kualitas dan harga jual benih kedelai.E. Zinckenella dianggap hama
penting dibandingkan E. hobsoni karena hama tersebut lebih dominan terdapat di Jawa dan
daerah pertanaman kedelai lainnya di Indonesia. Gejala kerusakan tanaman akibat serangan
hama ini adalah terdapatnya bintik atau lubang berwarna cokelat tua pada kulit polong, bekas
jalan masuk larva ke dalam biji. Seringkali, pada lubang bekas gerekan terdapat butir-butir
kotoran kering yang berwarna coklat muda dan terikat benang pintal atau sisa-sisa biji
terbalut benang pintal. Merusak biji dengan menggerek kulit polong muda dan kemudian
masuk serta menggerek biji, sebelum menggerek larva baru menetas menutupi dirinya dengan
selubung putih hingga ada bintik coklat tua sebagai jalan masuk hama tersebut (Deptan,
2012).
Pengendalian E. zinckenella
penerapan Pengendalian Hama Terpadau (PHT). PHT adalah suatu cara pendekatan atau cara
pengendalian hama yang didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efesiensi ekonomi dalam
rangka pengelolaan ekosistem yang wawasan lingkungan yang berkelanjutan. Strategi PHT
27
adalah mendukung secara kompatibel semua teknik atau metode pengendalian hama
Klasifikasi N. virudula
Adapun klasifikasi dari hama kepik hijau N. viridula adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Hemiptera
Family : Pentatomidae
Genus : Nezara
Telur
Telur diletakkan pada daun, polong, batang atau pada rumput secara berkelompok
antara 10-118 [Link] telur seperti cangkir, berwarna kuning dan tiga hari sebelum
Nimfa
28
Nimfa muda yang baru keluar dari telur hidup bergerombol di dekat tempat peletakan
[Link] variasi warna pada nimfa sesuai dengan perkembangan [Link] pertama
berwarna coklat muda, instar kedua hitam dengan bintik putih, instar ketiga, keempat dan
kelima hijau dengan bintik hitam dan putih. Nimfa biasanya hidup bergerombol sampai instar
ketiga, sedangkan mulai instar keempat mereka akan berpencar dan hidup sendiri-sendiri.
Nimfa instar pertama tidak makan. Stadium nimfa berlangsung sekitar 23 hari (Harahap,
1994).
Kepik hijau pada stadium imago berwarna hijau polos, hijau dengan kepala dan
pronotum berwarna jingga atau kuning keemasan, kuning kehijauan dengan tiga bintik hijau,
dan kuning [Link] imago berkisar antara 5-47 hari (Rukmana dan Sugandi, 1997).Kepik
hijau terdapat diseluruh daerah tropis dan daerah [Link] kepik hijau sekitar 16 mm
(Pracaya, 2007).
29
Bagian tanaman yang diserang kepik hijau adalah [Link] serangan juga sulit
polong dan biji [Link] serangannya dapat menurunnkan, baik kualitas maupun
kuantitas produksi serta menurunkan daya [Link] pada polong akibat serangan
kepik hijau beragam tergantung pada perkembangan polong tersebut. Serangan pada polong-
polong muda menyebabkan polong tersebut menjadi kempis. Serangan pada saat pengisian
terbentuknya bintik-bintik kecil atau kulit biji menjadi [Link] pada tunas biasanya
layu, ataudalam kasus yang ekstrim bisa mati. Kerusakan pada buah dari tusukan yaitu bintik-
bintik kecoklatan atau [Link] ini mempengaruhi kualitas buah yang dapat dimakan
dan jelas menurunkan nilai [Link] buah muda terhambat dan sering
PengendalianHama N. viridula
terutama pada tanaman perangkap, yang dilakukan pada umur tanaman 42, 49, 56, 63, dan 70
hari setelah tanam (HST). Pengamatan dilakukan terhadap keberadaan serangga dewasa,
telur, dan nimfa. 3). Aplikasi pestisida dilakukan apabila telah mencapai intensitas kerusakan
lebih dari 2% dan hasil pengamatan ditemukan sepasang imago (jantan dan betina) pada 20
Salah satu hambatan dalam upaya meningkatkan produksi kedelai adalah serangan
penyakit karat yang disebabkan oleh Phakopsora pachyrhizi, penyakit karat telah tersebar
luas di sentra produksi kedelai di [Link] awal penyakit karat pada kedelaiditandai
dengan munculnya bercak klorotik kecil yang tidak beraturan pada permukaan [Link]
umumnya gejala karat muncul pada permukaan bawah [Link] tersebut kemudian
berubah menjadi coklat atau coklat tua dan membentuk pustul-pustul merupakan kumpulan
uredium. Pustulyang telah matang akan pecah dan mengeluarkan tepung yang warnanya
seperti karat besi. Tepung tersebut merupakan kantung-kantung spora yang disebut uredium
dan berisi uredospore, penyakit karat daun menyebabkan daun menjadi kering dan rontok
sebelum waktunya penyakit karat daun yang disebabkan oleh jamur Phakopsora
[Link] yang mengifeksi daun kedelai pada musim kemarau mulai menyerang
Siklus Penyakit
Dua tipe spora telah diketahui padaP. Pachyrhizitipe spora yang pertama adalah
Uredospora, sering ditemukan dari musim ke musim, Uredospora sangat mudah terbawa
angin dan percikan air hujan sehingga cepat tersebar dan siklus akan berkali-kali terjadi dari
musim ke [Link] spora yang kedua adalah teliospora. Di indonesia, teliospora jarang
musim tanam atau di rumah kaca. Pada kondisi laboratorium, teliospora dapat berkecambah
membentuk basidiospora. Jika tidak dijumpai tanaman inang, siklus penyakit akan terhenti.
tunggal yang menembus permukaan daun 5–400 m melalui bagian tengah sel epidermis,
sampai terbentuk apresorium (hifa infeksi). Berbeda dengan cendawan karat yang lain, pada
cendawan ini penetrasi apresoriumke sel-sel epidermis daun langsung melalui kutikula,
jarang melalui stomata. Jika melalui stomata, umumnya apresorium masuk melalui sel
penjaga, bukan melalui sel pembuka. Proses penetrasi pada cendawan ini bersifat unik;
Pengendalian penyakit karat dianjurkan dilakukan dengan siklus penyakit karat pada
tahan serta penggunaan bahan nabati dan [Link] menggunakan bahan nabati
yakni dilakukan dengan minyak cengkih mengandung bahan aktif eugenol yang berhasiat
(ketinggian 1000 mdpl).Tanaman sirsak mulai berbunga setelah berumur 2-3 [Link]
sirsak berbentuk pohon, tingginya mencapai 3-8 m. daunnya mengkilap dan berwarna hijau
tua. Seluruh bagian tanaman bila digores akan mengeluarkan bau yang sama, khas bau sirsak.
32
Bunganya yang majemuk keluar dari ranting ranting ketiak atau langsung dari [Link]
berkelamin dua, benang sarinya banyak, demikian pula bakal buahnya dan bakal bijinya
hanya [Link] buah lonjong, ujungnya sering bengkok atau berbentuk [Link]
majemuk dan dibentuk oleh sejumlah bakal buah yang menjadi [Link] cukup tebal,
namun tidak alot, berduri lemas dan agak bengkok (Rismunandar, 1990).
Menurut Adi (1997), biji sirsak mengandung dua jenis alkaloid yang beracun yaitu
mengandung rotenon. Rotenon bereaksi dengan menggangu proses produksi energi serangga.
Biji sirsak bentuknya tumpul, berwarna coklat kehitaman dan [Link] sirsak
mengandung minyak yang dapat digunakan sebagai [Link] bijian ini dikelilingi
daging yang dapat [Link] buah sirsak mengandung 60-80 [Link] buah sirsak
mengandung 80% air, 1% protein, 8% karbohidrat dan sejumlah vitamin seperti vitamin B1,
Selain dari jenis alkaloid diatas juga dari tanaman sirsak telah berhasil juga diisolasi
Kandungan alkaloid pada tumbuhan sirsak terutama terdapat didalam daun, kulit batang dan
biji [Link] sirsak mengandung senyawa poliketida dan suatu senyawa turunan
VIII, IX, XVI, skuarnostatin A, bulatasin, bulatasion, skuamon, neo desatilurarisin, neo
(Kardinan, 1999).
Biji sirsak selain mengandung bahan aktif di atas, juga mengandung minyak sebanyak
42-45% berwarna kuning dan tidak mudah kering yang bersifat racun iritasi dan
menyebabkan peradangan pada mata. Adapun sifat racun yang dihasilkan dari tumbuhan
family Annonaceae adalah residu racunnya mudah hilang di alam dalam waktu dua hari lebih
33
kurang 48 jam setelah digunakan. Alkaloid yang terdapat didalam tumbuh tumbuhan
merupakan senyawa organik yang bersifat basa, yang banyak mengandung atom N baik
heterosiklis maupun alifatik, terjadi dalam proses alamiah. Dalam bentuk basa alkaloid larut
dalam pelarut organik sedangkan dalam bentuk garam dapat dilarutkan dalam [Link]
alkaloid juga berfungsi untuk penolakserangga dan senyawa antifungi (Robinson, 1991).
Menurut hasil penelitihan Rina (2016) aplikasi nabati 3 hari sekali belum mampu
memberikan pengaruh yang nyata pada intensitas serangan hama pada tanaman kedelai. Pada
penelitihan ini dilakukan menggunakan aplikasi interval 1 minggu sekali dan 2 minggu sekali
ekstrak biji sirsak sehingga diduga aplikasi interval tersebut terlalu jauh apabila digunakan