0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan5 halaman

Kebijakan Luar Negeri Indonesia Soekarno-Soeharto

Dokumen ini membahas kebijakan luar negeri Indonesia pada masa pemerintahan Soekarno dan Soeharto, mencakup periode dari kemerdekaan 1945 hingga kejatuhan Soekarno pada 1966 dan era Orde Baru di bawah Soeharto. Kebijakan luar negeri Soekarno ditandai dengan konfrontasi dan diplomasi, sementara Soeharto menerapkan politik bebas aktif dan memperkuat kerjasama regional melalui ASEAN. Selain itu, dokumen ini juga mencatat peristiwa penting seperti pengakuan terhadap Singapura dan integrasi Timor Timur.

Diunggah oleh

febiegratia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan5 halaman

Kebijakan Luar Negeri Indonesia Soekarno-Soeharto

Dokumen ini membahas kebijakan luar negeri Indonesia pada masa pemerintahan Soekarno dan Soeharto, mencakup periode dari kemerdekaan 1945 hingga kejatuhan Soekarno pada 1966 dan era Orde Baru di bawah Soeharto. Kebijakan luar negeri Soekarno ditandai dengan konfrontasi dan diplomasi, sementara Soeharto menerapkan politik bebas aktif dan memperkuat kerjasama regional melalui ASEAN. Selain itu, dokumen ini juga mencatat peristiwa penting seperti pengakuan terhadap Singapura dan integrasi Timor Timur.

Diunggah oleh

febiegratia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KEBIJAKAN LUAR NEGERI INDONESIA

KEBIJAKAN LUAR NEGERI INDONESIA PADA


MASA PEMERINTAHAN SOEKARNO DAN
SOEHARTO

Dosen Pengampu:
Dr. Asep Kamaluddin Nashir, [Link], [Link]

Disusun oleh:
Elizabeth Febie Gratia Milenne
1710412081

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL


2018

A. PENDAHULUAN
Sejak merdeka tahun 1945 Indonesia telah memiliki kebijakan luar negeri guna
menentukan sikap dalam pergumulan dunia internasional, termasuk dalam menentukan
bagaimana bertindak mengambil keputusan ketika dihadapkan pada satu situasi, begitu
pula menentukan bagaimana Indonesia menjalin kerjasama dengan negara negara lain,
serta menentukan bagaimana partisipasi Indonesia dalam kancah Internasional.
Kebijakan luar negeri Indonesia yang pernah diputuskan dan dialami tentu sudah
sangat banyak. Kebijakan-kebijakan tersebut lalu dikelompokkan berdasarkan era
pemerintahan atau siapa yang memimpin Indonesia pada masanya masing-masing.
Pembelajaran ini kemudian berguna untuk membaca situasi Indonesia pada kala itu,
begitu pula membaca sifat dari strategi yang dijalankan di masa orde lama dibawah
kepemimpinan Soekarno maupun orde baru dibawah kepemimpinan Soeharto.

B. Kebijakan Luar Negeri Indonesia pada Masa Soekarno


Orde lama dimulai dengan merdekanya Indonesia pada 1945 sampai kejatuhan
kepemimpinan Soekarno pada 1966. Ditandai dengan masa perang dingin antara blok
barat (Amerika Serikat) dan blok timur (Uni Soviet), dalam rentang waktu yang cukup
lama tersebut dunia perpolitikan internasional Indonesia mengalami berbagai hal,
beberapa diantaranya bahkan sangat berdampak besar. Dalam usaha mempertahankan
eksistensinya, Indonesia menjalankan perrjuangan fisik dan taktik diplomasi.
Untuk memudahkan pengelompokan kebijakan luar negeri Indonesia pada masa
Soekarno (orde lama) dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan rentang waktunya.
1. Politik Luar Negeri Indonesia pada Awal Masa Kemerdekaan
Dengan adanya pergantian sistem pemerintahan yang awalnya presidensial ke
parlementer dengan PM Natsir yang memiliki pemikiran lebih realis melihat
kondisi geo-politik Indonesia dan posisi Indonesia dalam politik Internasional, cara
diplomasi lebih banyak dilakukan ketimbang cara kekerasan dengan kekuatan
senjata. Hal itu lalu menghasilkan perundingan Linggarjati dengan pihak Belanda .
Setelah itu lahir pula perjanjian Renville pada 1948 dan perjanjian Roem-Roijen
pada 1949.
2. Politik Luar Negeri Indonesia pada Masa Demokrasi Parlementer (1950-1959)
Tujuan utama poltik luar negeri Indonesia pada masa ini yaitu membebaskan
Irian Barat dan pembubaran Uni Indonesia-Belanda. Sembari berjuang mati-matian
untuk membebaskan Irian Barat, Indonesia tetap aktif dalam perpolitikan
internasional. Indonesia menjadi salah satu negara pencetus atau pendukung bagi
negara negara di Asia Afrika untuk melepaskan diri dari pengaruh kolonialisme.
Dari sinilah lahir KTT (Konferensi Asia Afrika) I yang diselenggarakan di
Bandung.
3. Politik Luar Negeri Indonesia pada Masa Demokrasi Terpimpin (1959-1966)
Pembentukan kelompok negara berkembang “the New emerging forces”
(Nefos) dengan oposisi yang terdiri dari negara kolonialis dan imperialis yang
menetang kemajuan dari negara berkembang disebut the Old Established Forces
(Oldefos).
a. Konfrontasi Irian Barat
Kegagalan jalur diplomasi Indonesia dalam mempertahankan Irian
Barat kemudian memaksa Indonesia untuk menggunakan kekuatan militer
dalam upaya memerintahkan Belanda untuk mengembalikan Irian Barat ke
Indonesia. Konfrontasi ini berakhir dengan perjanjian New York dengan
perundingan yang dimediasi oleh PBB.
b. Konfrontasi Malaysia
Pembentukan Malaysia dianggap Soekarno sebagai upaya
pengepungan Indonesia, oleh karenanya ia menjalankan kebijakan
“ganyang” Malaysia. Hal ini berimbas pada konfrontasi Indonesia-
Malaysia.
c. Politik ‘Poros-Porosan’
Soekarno pada masa kepemimpinannya menjalakan hubungan bilateral
dengan China, Hanoi, dan Korea Utara yang notabene adalah negara-
negara yang dikenal berhaluan kiri.

C. Kebijakan Luar Negeri Indonesia pada Masa Soeharto


Orde baru dimulai setelah kejatuhan Soekarno pada 1966 yang ditandai dengan
peristiwa G30S PKI. Pemerintahan orde baru kemudian dipimpin oleh Soeharto.
Soeharto dalam masa kepemimpinannya bertekad memperbaiki perpolitikan luar negeri
Indonesia yang sebelumnya sempat chaos.
1. Pelaksanaan Politik Bebas Aktif
a. Menyelesaikan konfrontasi dengan Malaysia
Karena landasan politik internasional Indonesia adalah bebas aktif,
Soeharto merasa konfrontasi bukanlah salah satu cerminannya, oleh
karena itu Indonesia menyelesaikan konfrontasinya dengan Malaysia
dengan perjanjian Bangkok (1966).
b. Mengakui Republik Singapura

Pengakuan terhadap berdirinya diberikan dengan perantara Duta Besar


Pakistan dari Republik Singapura dengan untuk Myanmar, Habibur
Rachman. Pengakuan dilakukan pada tanggal 2 Juni 1966 kepada PM Lee
Kuan Yew.

2. Memutuskan Hubungan dengan RRC


Karena ketegangan antara Indonesia dengan RRC yang masih berlangsung sejak
keruntuhan orde lama, Soeharto mengambil kebijakan untuk memutuskan segala
hubungan dengan RRC.
3. Kembalinya Indonesia Menjadi Anggota PBB

Pemerintah orde baru masuk dan resmi kembali menjadi anggota PBB pada 8
September 1966. Ini berkaitan erat dengan banyaknya peran PBB terhadap
Indonesia. Salah satunya pengakuan PBB secara de facto dan de jure kepada
Indonesia yang baru merdeka dan peran PBB dalam mengembalikan Irian Barat
menjadi bagian Indonesia.

Setelah kembalinya Indonesia menjadi anggota PBB, Indonesia kemudian turut


ambil bagian dalam upaya menjaga perdamaian dunia dengan mengirimkan Pasukan
Perdamaian PBB dengan nama Pasukan Garuda. Pasukan Garuda kini telah
menempati berbagai titik konflik yang diawasi oleh PBB seperti Kongo, Timur
Tengah, dan Kamboja.

4. Kerjasama Regional ASEAN


Pada Agustus 1967 Indonesia menjadi salah satu negara pendiri ASEAN,
sebagai sebuah organisasi regional. Kerjasama ini tidaklah menyalahi politik bebas
aktif Indonesia, karena ASEAN tidak mengambil sisi dalam perpolitikan
internasional seperti SEATO.
Hal tersebut diperkuat dengan adanya Deklarasi Kuala lumpur pada 27
November 1971, yang berisi pernyatan kelima mentri luar negeri ASEAN mengenai
Asia tenggara sebagai ZONE OF PEACE, FREEDOM, AND NEUTRALITY
(ZOPFAN), bebas dari segala bentuk campur tangan pihak luar.

5. Keluarnya Timor Timur dari Indonesia


Pasca kudeta Portugis pada 1974, posisi Timor Timur seakan diambang
kejelasan. Beberapa kelompok bertekad untuk memisahkan diri dari Indonesia,
namun beberapa kelompok tetap ingin menjadi bagian dari Indonesia. Soeharto
akhirnya memutuskan integrasi Timor Timur ke Indonesia sebagai propinsi ke-27.
Namun, fraksi Fretelin yang menginginkan kemerdekaan Timor Timur dan
melepaskan diri sepenuhnya dari Indonesia untuk berdiri sebagai sebuah negara baru
terus berjuang puluhan tahun. Sampai akhirnya ketika masa pemerintahan orde baru
berakhir, tahun 1999, melalui referendum yang dibantu mediasi oleh PBB, rakyat
Timor Timur memilih mendirikan negara berdaulat.
Pada 20 Mei 2002 Timor Timur diakui dunia sebagai Negara merdeka dengan
nama Timor Leste/ Republica Democratica de Timor Leste dan mendapat sokongan
dana yang luar biasa dari PBB.

Anda mungkin juga menyukai