0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan18 halaman

Pendekatan Pemecahan Masalah dalam Pembelajaran

Dokumen ini membahas pendekatan pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika, menjelaskan pengertian, tujuan, manfaat, dan tahapan yang terlibat. Pendekatan ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa dan memudahkan mereka dalam menyelesaikan soal cerita matematika. Selain itu, dokumen juga menguraikan keunggulan dan kelemahan pendekatan ini serta pentingnya pemahaman siswa terhadap soal yang dihadapi.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan18 halaman

Pendekatan Pemecahan Masalah dalam Pembelajaran

Dokumen ini membahas pendekatan pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika, menjelaskan pengertian, tujuan, manfaat, dan tahapan yang terlibat. Pendekatan ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa dan memudahkan mereka dalam menyelesaikan soal cerita matematika. Selain itu, dokumen juga menguraikan keunggulan dan kelemahan pendekatan ini serta pentingnya pemahaman siswa terhadap soal yang dihadapi.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

8

BAB II

KAJIAN PUSTAKA,KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A. Kajian Pustaka

1. Pendekatan Pemecahan Masalah

a. Pengertian Pendekatan Pemecahan Masalah

Ada beberapa pengertian pendekatan menurut beberapa ahli yakni, Wena

(2013: 52) menyatakan bahwa “hakekat pemecahan masalah adalah melakukan

operasi prosedural urutan tindakan, tahap demi tahap secara sistematis, sebagai

seorang pemula (novice) dalam memecahkan suatu masalah”. Menurut Setiani dan

Donni (2015: 188) “pendekatan pemecahan adalah berpikir yang mengarahkan pada

jawaban terhadap suatu masalah yang melibatkan pembentukan dan memilih konsep-

konsep yang sudah ada serta memberikan alternatif yang baru”.

Berdasarkan pendapat dari beberapa ahli diatas, dapat ditarik kesimpulan

bahwa pendekatan pemecahan masalah adalah suatu pendekatan yang pada proses

pembelajaran, guru mengarahkan dan menuntun siswa untuk berpikir kritis, sistematis

dan logis dalam menemukan jawaban dari pertanyaan dengan berusaha membuat

pelajaran yang bermakna dalam kehidupan sehari-hari.

b. Tujuan dan Manfaat Pendekatan Pemecahan Masalah

Sebagai suatu pendekatan pembelajaran, pemecahan masalah mempunyai

tujuan sehingga dapat digunakan atau diterapkan dalam proses pembelajaran.

Menurut Sudjana (Trianto 2011) mengatakan bahwa metode pemecahan masalah

8
9

dapat membantu siswa untuk merumuskan tugas-tugas, dan bukan menyajikan tugas-

tugas pelajaran berdasarkan objek pelajaran yang ada disekitar bukan dari buku.

Sejalan dengan itu, Ibrahim (Trianto 2011 : 70) mengatakan bahwa :

Pengajaran berdasarkan masalah dikembangkan untuk membantu siswa

mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan keterampilan

intelektual; belajar berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam

pengalaman nyata atau stimulasi; dan menjadi pembelajar yang otonom dan mandiri.

Selain tujuan, pendekatan pemecahan masalah juga memiliki manfaat

sebagaimana yang diutarakan oleh Setiani dan Donni (2015 : 187) yaitu :

1) Mengembangkan sikap keterampilan peserta didik dalam


memecahkan permasalahan, serta dalam mengambil keputusan
secara objektif dan mandiri.
2) Mengembangkan kemampuan berpikir para peserta didik, anggapan
yang menyatakan bahwa kemampuan berpikir akan lahir bila
pengetahuan makin bertambah.
3) Melalui inkuiri atau pemecahan masalah maka kemampuan berpikir
tersebut mampu diproses dalam situasi atau keadaan yang benar-
benar dihayati, diminati peserta didik serta dalam berbagai macam
ragam alternative.
4) Membina pengembangan sikap perasaan (ingin tahu lebih lanjut) dan
cara berpikir objektif-mandiri, kritis-analisis baik secara individual
maupun kelompok.

Berdasarkan tujuan dan manfaat pendekatan pemecahan masalah diatas dapat

ditarik kesimpulan bahwa jenis pendekatan pembelajaran ini sangat cocok diterapkan

dalam menyelesaikan soal cerita matematika. Penekanan terhadap arahan dan

tuntunan guru dalam membantu memahami makna soal dapat memudahkan siswa

menemukan jawaban dari pertanyaan.


10

c. Tahapan Pembelajaran Pemecahan Masalah

Banyak ahli yang menjelaskan tahapan dalam pendekatan pemecahan

masalah. Menurut Wena (2013: 62) mengatakan bahwa

Secara operasional tahap-tahap pemecahan masalah sistematis terdiri


atas empat tahap berikut:
1) Memahami masalahnya.
2) Membuat rencana penyelesaian.
3) Melaksanakan rencana penyelesaian.
4) Memeriksa kembali, mengecek hasilnya.

Sejalan dengan itu, Polya (Setiani dan Donni, 2015: 190) memberi empat

langkah pokok dalam melaksanakan pembelajaran pemecahan masalah yaitu:

1) Memahami masalahnya. Masing-masing peserta didik mengerjakan


latihan yang berbeda dengan teman sebangkunya.
2) Menyusun rencana penyelesaian. Pada tahap ini peserta didik
diarahkan untuk dapat mengidentifikasi masalah, kemudian
mencari cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah tersebut.
3) Melaksanakan rencana penyelesaian tersebut. Langkah yang ketiga,
peserta didik dapat menyelesaikan masalah dengan melihat contoh
atau dari buku, dan bertanya kepada guru.
4) Memeriksa kembali penyelesaian yang telah dilaksanakan.
Terakhir peserta didik mengulang kembali atau memeriksa jawaban
yang telah dikerjakan, kemudian peserta didik bersama guru dapat
menyimpulkan dan mempersentasikan di depan kelas.

Sementara itu, Suyanto dan Asep (2013) mengatakan bahwa langkah-langkah

pemecahan masalah yaitu:

1) Identifikasi masalah,

2) Curah pendapat untuk mencari berbagai solusi

3) Memilih satu solusi dan mencoba melakukannya,

4) Mengevaluasi apa yang terjadi.


11

Adapun indikator kemampuan pemecahan masalah (khususnya dalam

pelajaran matematika) menurut Polya disajikan dalam tabel berikut:

Tabel 2.1. Indikator Kemampuan Pemecahan Masalah


No Indikator Penjelasan
1. Memahami Merupakan kegiatan mengidentifikasi kecukupan data
Masalah untuk menyelesaikan masalah sehingga memperoleh
gambaran lengkap apa saja yang diketahui dan ditanyakan
dalam masalah tersebut
2. Merencanakan Merupakan kegiatan dalam menetapkan langkah-langkah
Penyelesaian penyelesaian, pemilihan konsep, persamaan dan teori yang
sesuai untuk setiap langkah.
3. Menjalankan Merupakan kegiatan menjalankan penyelesaian
Rencana berdasarkan langkah-langkah yang telah dirancang dengan
menggunakan konsep, persamaan serta teori yang dipilih.
4. Pemeriksaan Melihat kembali apa yang telah dikerjakan, apakah
langkah-langkah penyelesaian telah terealisasikan sesuai
rencana sehingga pada akhirnya membuat kesimpulan
akhir.
Sumber: Setiani dan Donni (2015: 193)

Indikator-indikator yang terdapat dalam tabel tersebut merupakan panduan

yang dapat digunakan untuk menilai kemampuan siswa dalam memecahkan masalah

matematika. Apabila peserta didik telah mampu melaksanakan semua indikator dalam

tabel tersebut dengan benar, maka mereka akan memperoleh keterampilan yang dapat

digunakan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya.

Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam

pendekatan pemecahan masalah terdapat empat tahap secara umum yaitu:


12

1) Memahami masalah, yaitu menetapkan apa yang diketahui dalam permasalahan

dan apa yang ditanyakan.

2) Membuat rencana pemecahan, yaitu menentukan konsep atau rumus yang akan

digunakan dalam memecahkan atau menyelesaikan masalah.

3) Menyelesaikan masalah sesuai rencana, yaitu peserta didik menyelesaikan

masalah dengan melihat contoh dari buku atau bertanya kepada guru sebagai

panduan.

4) Memeriksa ulang hasil yang diperoleh, yaitu menguji kebenaran dan hasil yang

telah diperoleh.

Empat tahap pemecahan masalah tersebut merupakan satu kesatuan yang

sangat penting untuk dikembangkan. Dalam pembelajaran pemecahan masalah ada

beberapa strategi, namun yang sesuai untuk pembelajaran matematika, terutama

pemecahan masalah soal cerita adalah strategi pemecahan masalah sistematis

disimpulkan bahwa tahapan tersebut yaitu :

1. Memahami masalah

2. Membuat rencana pemecahan

3. Menyelesaikan masalah sesuai rencana

4. Memeriksa ulang hasil yang diperoleh

d. Keunggulan dan Kelemahan Pendekatan Pemecahan Masalah


13

Tidak bisa ditapik bahwa setiap pendekatan pembelajaran memiliki kelebihan

dan kekurangan dalam penerapan pada proses pembelajaran. Untuk itu, seorang guru

harus pandai memilah pendekatan mana yang sesuai dengan materi untuk diterapkan

sehingga siswa mudah memahami dan tidak sulit menemukan jawaban yang

diinginkan. Menurut Sanjaya (2012 : 220-221) menyatakan keunggulan dan

kelemahan pendekatan pemecahan masalah, yaitu :

a. Keunggulan
1) Pemecahan masalah (problem solving) merupakan teknik yang
cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran
2) Pemecahan masalah (problem solving) dapat menantang kemampuan
siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan
baru bagi siswa
3) Pemecahan masalah (problem solving) dapat meningkatkan aktivitas
pembelajaran siswa
4) Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa
bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami
masalah dalam kehidupan nyata
5) Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa untuk
mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggungjawab dalam
pembelajaran yang mereka lakukan. Di samping itu, pemecahan
masalah itu juga dapat mendorong untuk melakukan evaluasi sendiri
baik terhadap hasil maupun proses belajarnya
6) Melalui pemecahan masalh (problem solving) bisa memperlihatkan
kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran (matematika, IPA,
sejarah, dan lain sebagainya), pada dasarnya merupakan cara
berpikir, dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya
sekadar belajar dari guru atau buku-buku saja
7) Pemecahan masalah (problem solving) dianggap lebih
menyenangkan dan disukai siswa
8) Pemecahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan
kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan
kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru
9) Pemecahan masalah (problem solving) dapat memberikan
kesempatan pada siswa untuk memngaplikasikan pengetahuan yang
mereka miliki dalam dunia nyata
14

10) Pemecahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan


minat siswa untuk secara terus- menerus belajar sekalipun belajar
pada pendidikan formal telah berakhir
b. Kelemahan
1) Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai
kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan,
maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba
2) Keberhasilan strategi pembelajaran melalui problem solving
membutuhkan cukup waktu untuk persiapan
3) Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan
masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar
apa yang mereka ingin pelajari

Dari keunggulan dan kelemahan pendekatan pemecahan masalah tersebut,

maka dapat disimpulkan bahwa pendekatan pemecahan masalah mampu memberi

tantangan berpikir kritis kepada siswa untuk memecahkan masalah yang ada pada

pembelajaran namun didukung oleh pemberian pemahaman yang berkesinambungan

dari guru.

2. Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita Matematika

a. Pengertian Kemampuan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kemampuan berasal dari kata

mampu yang berarti “kuasa (bisa, sanggup, melakukan sesuatu, dapat, berada, kaya,

mempunyai harta berlebihan)”. Selanjutnya dijelaskan bahwa kemampuan memiliki

arti yang sama dengan kata “kesanggupan, kecakapan, kekuatan”. Sejalan dengan itu,

Dimyati (2006) “kemampuan yang akan dicapai dalam pembelajaran adalah tujuan

pembelajaran”. Selanjutnya Robbins (2003: 50) mengatakan bahwa “kemampuan

adalah suatu kapasitas seorang individu untuk mengerjakan berbagai tugas dalam

suatu pekerjaan”. Jadi kemampuan adalah suatu kesanggupan dalam melakukan


15

sesuatu. Seseorang dikatakan mampu apabila ia bisa melakukan sesuatu yang harus ia

lakukan. Selanjutnya, Robbins (2003) menyatakan bahwa kemampuan terdiri dari

dua, yaitu:

1) Kemampuan Intelektual

Kemampuan intelektual adalah kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukan

berbagai aktivitas mental, berpikir, menalar dan memecahkan masalah.

2) Kemampuan Fisik

Kemampuan fisik adalah kemampuan tugas-tugas yang menuntut stamina,

keterampilan, kekuatan dan karakteristik serupa.

b. Soal Cerita Matematika

Soal cerita dalam pembelajaran matematika biasanya diajarkan pada setiap

akhir sub bab setiap materi. Soal cerita bertujuan untuk pembinaan keterampilan,

sebagai konsep terakhir dalam pembelajaran matematika di SD sesuai dengan

kurikulum. Soal cerita berkaitan dengan kata-kata atau rangkaian kalimat yang

mengandung konsep-konsep matematika. Menurut Swedan (Setyo dan Sri, 2011)

mengartikan bahwa soal cerita matematika yaitu soal berbentuk cerita yang yang

berasal dari pengalaman sehari-hari siswa yang berhubungan dengan konsep

matematika. Sejalan dengan itu, Setyo dan Sri (2011: 122) mengatakan bahwa “soal

cerita adalah soal matematika yang diuangkapkan atau dinyatakan dengan kata-kata

atau kalimat-kalimat dalam bentuk soal cerita yang dikaitkan dengan kehidupan

sehari-hari”. Berdasarkan kedua pendapat tersebut, soal cerita matematika adalah soal
16

yang dinyatakan dalam bentuk kalimat-kalimat berupa cerita yang berhubungan

dengan kehidupan sehari-hari siswa.

Kemampuan dalam pemecahan masalah perlu dilatih pada siswa sejak dini,

agar siswa SD memiliki pengetahuan tentang pemecahan masalah sejak awal, guna

mempermudah siswa dalam menyelesaikan tugas terutama dalam menyelesaikan soal

cerita matematika. Guru sangat berperan dalam pemilihan strategi atau pendekatan

pembelajaran dalam mengerjakan soal cerita matematika yang bisa membuat

pembelajaran jadi bermakna dan mudah diingat oleh siswa.

Setyo dan Sri (2011) menyajikan langkah-langkah yang dapat digunakan

sebagai pedoman untuk menyelesaikan soal cerita adalah sebagai berikut.

1) Temukan/ cari apa yang ditanyakan oleh soal cerita itu.

2) Cari informasi/ keterangan yang esensi.

3) Pilih operasi/ pengerjaan yang sesuai.

4) Tulis kalimat matematikanya (model matematika).

5) Selesaikan kalimat matematikanya.

6) Nyatakan jawaban soal cerita itu dalam bahasa Indonesia sehingga menjawab

pertanyaan dari soal cerita tersebut.

Langkah-langkah tersebut dapat disederhanakan menjadi tiga langkah utama

yaitu:

1) Pengumpulan informasi dalam soal, berupa hal yang diketahui dan ditanyakan,

2) Penyelesaian soal,

3) Kesimpulan yaitu menjawab pertanyaan dalam soal cerita.


17

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan

menyelesaikan soal cerita matematika adalah kesanggupan seseorang untuk

menyelesaikan soal matematika yang dinyatakan dalam bentuk cerita yang

berhubungan dengan kehidupan sehari-hari dengan menggunakan langkah-langkah

yang tepat. Muhsetyo dkk. (2007: 13) mengatakan bahwa “seseorang mampu

menyelesaikan soal cerita jika memahami suasana dan makna kalimat yang

digunakan, memilih algoritma atau prosedur yang sesuai, dan menggunakan

algoritma atau prosedur yang benar”. Berdasarkan informasi yang terdapat dalam

pendapat tersebut, dapat diketahui bahwa kemampuan seseorang dalam

menyelesaikan soal cerita sangat dipengaruhi oleh tingkat pemahaman terhadap soal

serta konsep atau prosedur yang akan digunakan dalam mengerjakan soal itu.

3. Hakikat Pembelajaran Matematika di SD

a. Pengertian Pembelajaran Matematika

Menurut Dikmenum (Tukiran,dkk 2010: 66) “matematika berasal dari bahasa

latin manthanein atau mathema yang berarti belajar atau hal yang dipelajari. Salah

satu mata pelajaran yang wajib diajarkan oleh seorang guru di Sekolah Dasar (SD)

yaitu matematika. Sebagaimana yang telah di amanatkan dalam UU No. 20 Tahun

2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 37 ayat 1, dikemukakan secara jelas

bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang wajib ada pada kurikulum

pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Oleh sebab itu, pembelajaran

matematika harus dapat dikuasai oleh peserta didik sebagai salah satu syarat dalam

memperoleh pendidikan di SD.


18

Agar matematika dapat dipahami oleh siswa, harus tercipta pembelajaran yang

berkualitas, kondusif, dan menyenangkan. Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 pasal 1

ayat 20 tentang Sisdiknas dijelaskan bahwa “pembelajaran adalah proses interaksi

peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”.

Senada dengan itu, pembelajaran menurut Mappasoro (2013) yaitu tempat atau wadah

berlangsungnya kegiatan mengajar yang dilakukan oleh guru. Sejalan dengan itu

Susanto (2013: 185) mengatakan bahwa “pembelajaran merupakan komunikasi dua

arah, mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar

dilakukan oleh peserta didik”. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajaran

adalah proses belajar dan mengajar yang berlangsung melalui komunikasi dua arah

oleh peserta didik dan pendidik dalam sebuah lingkungan belajar.

Johnson dan Rising (Runtukahu dan Selpius, 2014: 28) mendefinisikan

matematika sebagai berikut:

1) Matematika adalah pengetahuan terstruktur, dimana sifat dan teori


dibuat secara deduktif berdasarkan unsur-unsur yang didefinisikan
atau tidak didefinisikan dan berdasarkan aksioma, sifat, atau teori
yang telah dibuktikan kebenarannya.
2) Matematika ialah bahasa simbol tentang berbagai gagasan dengan
menggunakan istilah-istilah yang didefinisikan secara cermat, jelas
dan akurat.
3) Matematika adalah seni, di mana keindahannya terdapat dalam
keterurutan dan keharmonisan.
Sementara itu, Soedjadi (Heruman, 2012: 1) mengatakan bahwa “hakekat

matematika yaitu memiliki objek tujuan abstrak, bertumpu pada kesepakatan, dan

pola pikir deduktif”. Senada dengan itu, Ismail dkk. (Hamzah dan Muhlisrarini, 2014:

48) mengatakan bahwa “matematika adalah ilmu yang membahas angka-angka dan
19

perhitungannya, membahas masalah numerik, mengenai kuantitas dan besaran,

mempelajari hubungan pola, bentuk dan struktur, sarana berpikir, kumpulan sistem,

struktur dan alat”. Sehingga dapat disimpulkan dari ketiga pendapat ahli tersebut

bahwa matematika adalah ilmu terstruktur yang mempelajari tentang angka dan

perhitungannya, serta bertumpu pada kesepakatan yang dituangkan dalam bahasa

simbol yang memiliki nilai seni berupa keteraturan dan keharmonisannya.

Berdasarkan penjelasan-penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa

pembelajaran matematika adalah suatu proses belajar mengajar yang diciptakan oleh

guru untuk mengembangkan kreatifitas berpikir siswa yang dapat meningkatkan

kemampuan berpikir siswa terhadap materi dan konsep ilmu matematika.

b. Tujuan Pembelajaran Matematika di SD

Tujuan pembelajaran menurut Dikmenum (Tukiran,dkk 2010: 93-94) adalah :

a. Melatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan,


misalnya melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, eksperimen,
menunjukkan kesamaan, perbedaan, konsisten, dan inkonsisten.
b. Mengembangkan aktivitas kreatif, yang melibatkan imajinasi,
intuisi, dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen,
orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta
mencoba-coba.
c. Mengembanhkan kemampuan memecahkan masalah.
d. Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau
mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan,
grafik, peta, diagram, dalam menjelaskan gagasan.

Berdasarkan Depdiknas 2006 tentang Standar Isi SD atau MI menyatakan

tujuan pembelajaran matematika adalah agar peserta didik memiliki kompetensi atau

kemampuan umum sebagai berikut:


20

1) Melakukan operasi hitung penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian,

beserta operasi campurannya, termasuk melibatkan pecahan.

2) Menentukan sifat dan unsur berbagai bangun datar dan bangun ruang sederhana,

termasuk penggunaan sudut, keliling, luas, dan volume.

3) Menentukan sifat simetri, kesebangunan, dan sistem koordinat.

4) Menggunakan pengukuran: satuan, kesetaraan antarsatuan, dan penafsiran

pengukuran.

5) Menentukan dan menafsirkan data sederhana, seperti: ukuran tertinggi, terendah,

rata-rata, modus, mengumpulkan, dan menyajikannya.

6) Memecahkan masalah, melakukan penalaran, dan mengkomunikasikan gagasan

secara matematika.

Menurut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan KTSP (Depdiknas 2006)

tujuan mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan

sebagai berikut :

1) Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan

mengaplikasikan konsep alogaritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat

dalam pemecahan masalah.

2) Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika

dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan

pernyataan matematika.

3) Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah,

merancang model dan menapsirkan solusi yang diperoleh.


21

4) Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, table, diagram, atau media lain

untuk memperjelas keadaan atau masalah.

5) Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu

memiliki rasa ingin tahu, perhatian dan minat dalam mempelajari matematika,

serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah

Berdasarkan penjelasan diatas, maka pelajaran matematika bertujuan agar

peserta didik memiliki kemampuan diantaranya mamahami konsep matematika

menggunakan penalaran pada pola dan sifat, memecahakan masalah,

mengkomunikasikan gagasan dengan simbol dan memiliki sikap menghargai. Agar

tujuan pembelajaran matematika tersebut dapat tercapai seorang guru hendaknya

menciptakan kondisi dan situasi pembelajaran yang memungkinkan siswa belajar

dengan baik. Sehingga setiap pembelajaran matematika dapat dipahami, serta

dipergunakan dalam kehidupan nyata siswa.

c. Konsep Pembelajaran Matematika di SD

Konsep-konsep pada kurikulum matematika SD dapat dibagi menjadi tiga

kelompok besar yaitu penanaman konsep dasar (penanaman konsep), pemahaman

konsep, dan pembinaan keterampilan. Berikut adalah penjelasan pembelajaran yang

ditekankan pada konsep-konsep matematika sebagaimana yang dijelaskan oleh

Heruman (2012).

1) Penanaman konsep dasar (penanaman konsep), yaitu pembelajaran suatu konsep

baru matematika, ketika siswa belum pernah mempelajari konsep tersebut.


22

2) Pemahaman konsep, yaitu pembelajaran lanjutan dari penanaman konsep, yang

bertujuan agar siswa lebih memahami suatu konsep matematika.

3) Pembinaan keterampilan, yaitu pembelajaran lanjutan dari penanaman konsep

bertujuan agar siswa lebuh terampil dalam menggunakan berbagai konsep

matematika.

Ketiga konsep-konsep tersebut diajarkan kepada siswa secara sistematis dan

berurutan agar dapat mencapai tujuan pembelajaran matematika. Di antara ketiga

konsep tersebut, yang paling sulit dipelajari siswa biasanya adalah konsep yang

ketiga. Namun hal ini tentunya menjadi tanggung jawab bagi guru untuk memberikan

solusi yang tepat dalam menanganinya.

B. Kerangka Pikir

Soal cerita pada pelajaran matematika umumnya dirasa sulit oleh kebanyakan

siswa pada sekolah dasar. Hal ini mengharuskan guru memilah pendekatan yang pas

untuk diterapkan dikelas sehingga pelajaran matematika yang dianggap sulit berganti

menjadi pelajaran yang mudah dan menyenangkan. Di SD Inpres BTN IKIP 1

Kecamatan Rappocini Kota Makassar, pelajaran matematika khususnya pada

penyelesaian soal cerita mengalami masalah yang teridentifikasi disebabkan oleh 2

aspek yang berpengaruh besar. Pertama dari aspek siswa, hasil observasi menyatakan

bahwa sebagian besar siswa SD Inpres BTN IKIP 1 kelas VB menganggap

matematika itu sulit. Terkhusus pada penyelesaian soal cerita siswa terlihat kesulitan

memahami makna dari soal sehingga sulit untuk menemukan jawaban akhir, terlebih
23

beberapa siswa tidak memahami dasar perhitungan matematika yang menyebabkan

kesalahan saat melakukan perhitungan. Kedua dari aspek guru, saat proses

pembelajaran berlangsung guru menjelaskan materi berorientasi pada buku tanpa

memanfaatkan keadaan dan pengalaman di kehidupan nyata siswa dan setelah

memberikan contoh soal, guru terkadang meninggalkan siswa mengerjakan sendiri

tugasnya tanpa dipandu atau dituntun menuju penyelesaian tugas. Melihat hal

tersebut, maka sangat perlu diterapkan pendekatan yang mampu menambah

pemahaman siswa tentang penyelesaian soal cerita.

Penerapan pendekatan pemecahan masalah memiliki 4 tahap pelaksanaan

yang kiranya bisa membuat penyelesaian soal cerita pada mata pelajaran matematika

menjadi lebih mudah dan menyenangkan bagi siswa kelas VB SD Inpres BTN IKIP 1

Kecamatan Rappocini Kota Makassar. Tahapannya yaitu pahami masalah yang ada

pada soal, buat rencana penyelesaian jawaban, laksanakan rencana penyelesaian dan

periksa kembali dan cek hasil jawaban.

Pendekatan pemecahan masalah berorientasi pada pembelajaran yang

menghubungkan masalah yang terdapat pada soal cerita dengan kehidupan nyata

siswa disertai tuntunan dan arahandari guru. Melalui penerapan pendekatan

pemecahan masalah, diharapkan kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika

pada kelas VB SD Inpres BTN IKIP 1 Kecamatan Rappocini Kota Makassar

meningkat. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka kerangka pikir penelitian ini

digambarkan sebagai berikut :


24

Pembelajaran Matematika siswa kelas


VB SD Inpres BTN IKIP 1 Kecamatan
Rappocini Kota Makassar

Aspek guru: Aspek siswa:


1. Siswa mengerjakan tugasnya 1. Kesulitan memaknai soal
tanpa diberi tuntunan/ 2. Kesalahan dalam melakukan
bimbingan. perhitungan.
2. Penjelasan guru masih 3. Kurang aktif dalam pembelajaran
berorientasi pada buku. 4. Menganggap matematika sulit

Kemampuan menyelesaikan soal


cerita siswa kelas VB SD Inpres
BTN IKIP 1 rendah

Pendekatan pemecahan masalah:

1. Memahami masalah
2. Membuat rencana pemecahan
3. Menyelesaikan masalah sesuai rencana
4. Memeriksa ulang hasil yang diperoleh

Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita


Matematika siswa kelas VB SD Inpres BTN
IKIP 1 meningkat

Gambar 2.1. Skema Kerangka Pikir Pendekatan Pemecahan Masalah pada


siswa Kelas VB SD Inpres BTN IKIP 1 Kecamatan Rappocini
Kota Makassar
25

C. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kajian teori dan kerangka pikir, maka hipotesis tindakan yang

diajukan dalam penelitian ini adalah jika pendekatan pemecahan masalah diterapkan

dalam pembelajaran, maka kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika siswa

kelas VB SD Inpres BTN IKIP 1 Kecamatan Rappocini Kota Makassar akan

meningkat.

Anda mungkin juga menyukai