8
BAB II
KAJIAN PUSTAKA,KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A. Kajian Pustaka
1. Pendekatan Pemecahan Masalah
a. Pengertian Pendekatan Pemecahan Masalah
Ada beberapa pengertian pendekatan menurut beberapa ahli yakni, Wena
(2013: 52) menyatakan bahwa “hakekat pemecahan masalah adalah melakukan
operasi prosedural urutan tindakan, tahap demi tahap secara sistematis, sebagai
seorang pemula (novice) dalam memecahkan suatu masalah”. Menurut Setiani dan
Donni (2015: 188) “pendekatan pemecahan adalah berpikir yang mengarahkan pada
jawaban terhadap suatu masalah yang melibatkan pembentukan dan memilih konsep-
konsep yang sudah ada serta memberikan alternatif yang baru”.
Berdasarkan pendapat dari beberapa ahli diatas, dapat ditarik kesimpulan
bahwa pendekatan pemecahan masalah adalah suatu pendekatan yang pada proses
pembelajaran, guru mengarahkan dan menuntun siswa untuk berpikir kritis, sistematis
dan logis dalam menemukan jawaban dari pertanyaan dengan berusaha membuat
pelajaran yang bermakna dalam kehidupan sehari-hari.
b. Tujuan dan Manfaat Pendekatan Pemecahan Masalah
Sebagai suatu pendekatan pembelajaran, pemecahan masalah mempunyai
tujuan sehingga dapat digunakan atau diterapkan dalam proses pembelajaran.
Menurut Sudjana (Trianto 2011) mengatakan bahwa metode pemecahan masalah
8
9
dapat membantu siswa untuk merumuskan tugas-tugas, dan bukan menyajikan tugas-
tugas pelajaran berdasarkan objek pelajaran yang ada disekitar bukan dari buku.
Sejalan dengan itu, Ibrahim (Trianto 2011 : 70) mengatakan bahwa :
Pengajaran berdasarkan masalah dikembangkan untuk membantu siswa
mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan keterampilan
intelektual; belajar berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam
pengalaman nyata atau stimulasi; dan menjadi pembelajar yang otonom dan mandiri.
Selain tujuan, pendekatan pemecahan masalah juga memiliki manfaat
sebagaimana yang diutarakan oleh Setiani dan Donni (2015 : 187) yaitu :
1) Mengembangkan sikap keterampilan peserta didik dalam
memecahkan permasalahan, serta dalam mengambil keputusan
secara objektif dan mandiri.
2) Mengembangkan kemampuan berpikir para peserta didik, anggapan
yang menyatakan bahwa kemampuan berpikir akan lahir bila
pengetahuan makin bertambah.
3) Melalui inkuiri atau pemecahan masalah maka kemampuan berpikir
tersebut mampu diproses dalam situasi atau keadaan yang benar-
benar dihayati, diminati peserta didik serta dalam berbagai macam
ragam alternative.
4) Membina pengembangan sikap perasaan (ingin tahu lebih lanjut) dan
cara berpikir objektif-mandiri, kritis-analisis baik secara individual
maupun kelompok.
Berdasarkan tujuan dan manfaat pendekatan pemecahan masalah diatas dapat
ditarik kesimpulan bahwa jenis pendekatan pembelajaran ini sangat cocok diterapkan
dalam menyelesaikan soal cerita matematika. Penekanan terhadap arahan dan
tuntunan guru dalam membantu memahami makna soal dapat memudahkan siswa
menemukan jawaban dari pertanyaan.
10
c. Tahapan Pembelajaran Pemecahan Masalah
Banyak ahli yang menjelaskan tahapan dalam pendekatan pemecahan
masalah. Menurut Wena (2013: 62) mengatakan bahwa
Secara operasional tahap-tahap pemecahan masalah sistematis terdiri
atas empat tahap berikut:
1) Memahami masalahnya.
2) Membuat rencana penyelesaian.
3) Melaksanakan rencana penyelesaian.
4) Memeriksa kembali, mengecek hasilnya.
Sejalan dengan itu, Polya (Setiani dan Donni, 2015: 190) memberi empat
langkah pokok dalam melaksanakan pembelajaran pemecahan masalah yaitu:
1) Memahami masalahnya. Masing-masing peserta didik mengerjakan
latihan yang berbeda dengan teman sebangkunya.
2) Menyusun rencana penyelesaian. Pada tahap ini peserta didik
diarahkan untuk dapat mengidentifikasi masalah, kemudian
mencari cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah tersebut.
3) Melaksanakan rencana penyelesaian tersebut. Langkah yang ketiga,
peserta didik dapat menyelesaikan masalah dengan melihat contoh
atau dari buku, dan bertanya kepada guru.
4) Memeriksa kembali penyelesaian yang telah dilaksanakan.
Terakhir peserta didik mengulang kembali atau memeriksa jawaban
yang telah dikerjakan, kemudian peserta didik bersama guru dapat
menyimpulkan dan mempersentasikan di depan kelas.
Sementara itu, Suyanto dan Asep (2013) mengatakan bahwa langkah-langkah
pemecahan masalah yaitu:
1) Identifikasi masalah,
2) Curah pendapat untuk mencari berbagai solusi
3) Memilih satu solusi dan mencoba melakukannya,
4) Mengevaluasi apa yang terjadi.
11
Adapun indikator kemampuan pemecahan masalah (khususnya dalam
pelajaran matematika) menurut Polya disajikan dalam tabel berikut:
Tabel 2.1. Indikator Kemampuan Pemecahan Masalah
No Indikator Penjelasan
1. Memahami Merupakan kegiatan mengidentifikasi kecukupan data
Masalah untuk menyelesaikan masalah sehingga memperoleh
gambaran lengkap apa saja yang diketahui dan ditanyakan
dalam masalah tersebut
2. Merencanakan Merupakan kegiatan dalam menetapkan langkah-langkah
Penyelesaian penyelesaian, pemilihan konsep, persamaan dan teori yang
sesuai untuk setiap langkah.
3. Menjalankan Merupakan kegiatan menjalankan penyelesaian
Rencana berdasarkan langkah-langkah yang telah dirancang dengan
menggunakan konsep, persamaan serta teori yang dipilih.
4. Pemeriksaan Melihat kembali apa yang telah dikerjakan, apakah
langkah-langkah penyelesaian telah terealisasikan sesuai
rencana sehingga pada akhirnya membuat kesimpulan
akhir.
Sumber: Setiani dan Donni (2015: 193)
Indikator-indikator yang terdapat dalam tabel tersebut merupakan panduan
yang dapat digunakan untuk menilai kemampuan siswa dalam memecahkan masalah
matematika. Apabila peserta didik telah mampu melaksanakan semua indikator dalam
tabel tersebut dengan benar, maka mereka akan memperoleh keterampilan yang dapat
digunakan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam
pendekatan pemecahan masalah terdapat empat tahap secara umum yaitu:
12
1) Memahami masalah, yaitu menetapkan apa yang diketahui dalam permasalahan
dan apa yang ditanyakan.
2) Membuat rencana pemecahan, yaitu menentukan konsep atau rumus yang akan
digunakan dalam memecahkan atau menyelesaikan masalah.
3) Menyelesaikan masalah sesuai rencana, yaitu peserta didik menyelesaikan
masalah dengan melihat contoh dari buku atau bertanya kepada guru sebagai
panduan.
4) Memeriksa ulang hasil yang diperoleh, yaitu menguji kebenaran dan hasil yang
telah diperoleh.
Empat tahap pemecahan masalah tersebut merupakan satu kesatuan yang
sangat penting untuk dikembangkan. Dalam pembelajaran pemecahan masalah ada
beberapa strategi, namun yang sesuai untuk pembelajaran matematika, terutama
pemecahan masalah soal cerita adalah strategi pemecahan masalah sistematis
disimpulkan bahwa tahapan tersebut yaitu :
1. Memahami masalah
2. Membuat rencana pemecahan
3. Menyelesaikan masalah sesuai rencana
4. Memeriksa ulang hasil yang diperoleh
d. Keunggulan dan Kelemahan Pendekatan Pemecahan Masalah
13
Tidak bisa ditapik bahwa setiap pendekatan pembelajaran memiliki kelebihan
dan kekurangan dalam penerapan pada proses pembelajaran. Untuk itu, seorang guru
harus pandai memilah pendekatan mana yang sesuai dengan materi untuk diterapkan
sehingga siswa mudah memahami dan tidak sulit menemukan jawaban yang
diinginkan. Menurut Sanjaya (2012 : 220-221) menyatakan keunggulan dan
kelemahan pendekatan pemecahan masalah, yaitu :
a. Keunggulan
1) Pemecahan masalah (problem solving) merupakan teknik yang
cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran
2) Pemecahan masalah (problem solving) dapat menantang kemampuan
siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan
baru bagi siswa
3) Pemecahan masalah (problem solving) dapat meningkatkan aktivitas
pembelajaran siswa
4) Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa
bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami
masalah dalam kehidupan nyata
5) Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa untuk
mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggungjawab dalam
pembelajaran yang mereka lakukan. Di samping itu, pemecahan
masalah itu juga dapat mendorong untuk melakukan evaluasi sendiri
baik terhadap hasil maupun proses belajarnya
6) Melalui pemecahan masalh (problem solving) bisa memperlihatkan
kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran (matematika, IPA,
sejarah, dan lain sebagainya), pada dasarnya merupakan cara
berpikir, dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya
sekadar belajar dari guru atau buku-buku saja
7) Pemecahan masalah (problem solving) dianggap lebih
menyenangkan dan disukai siswa
8) Pemecahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan
kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan
kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru
9) Pemecahan masalah (problem solving) dapat memberikan
kesempatan pada siswa untuk memngaplikasikan pengetahuan yang
mereka miliki dalam dunia nyata
14
10) Pemecahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan
minat siswa untuk secara terus- menerus belajar sekalipun belajar
pada pendidikan formal telah berakhir
b. Kelemahan
1) Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai
kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan,
maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba
2) Keberhasilan strategi pembelajaran melalui problem solving
membutuhkan cukup waktu untuk persiapan
3) Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan
masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar
apa yang mereka ingin pelajari
Dari keunggulan dan kelemahan pendekatan pemecahan masalah tersebut,
maka dapat disimpulkan bahwa pendekatan pemecahan masalah mampu memberi
tantangan berpikir kritis kepada siswa untuk memecahkan masalah yang ada pada
pembelajaran namun didukung oleh pemberian pemahaman yang berkesinambungan
dari guru.
2. Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita Matematika
a. Pengertian Kemampuan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kemampuan berasal dari kata
mampu yang berarti “kuasa (bisa, sanggup, melakukan sesuatu, dapat, berada, kaya,
mempunyai harta berlebihan)”. Selanjutnya dijelaskan bahwa kemampuan memiliki
arti yang sama dengan kata “kesanggupan, kecakapan, kekuatan”. Sejalan dengan itu,
Dimyati (2006) “kemampuan yang akan dicapai dalam pembelajaran adalah tujuan
pembelajaran”. Selanjutnya Robbins (2003: 50) mengatakan bahwa “kemampuan
adalah suatu kapasitas seorang individu untuk mengerjakan berbagai tugas dalam
suatu pekerjaan”. Jadi kemampuan adalah suatu kesanggupan dalam melakukan
15
sesuatu. Seseorang dikatakan mampu apabila ia bisa melakukan sesuatu yang harus ia
lakukan. Selanjutnya, Robbins (2003) menyatakan bahwa kemampuan terdiri dari
dua, yaitu:
1) Kemampuan Intelektual
Kemampuan intelektual adalah kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukan
berbagai aktivitas mental, berpikir, menalar dan memecahkan masalah.
2) Kemampuan Fisik
Kemampuan fisik adalah kemampuan tugas-tugas yang menuntut stamina,
keterampilan, kekuatan dan karakteristik serupa.
b. Soal Cerita Matematika
Soal cerita dalam pembelajaran matematika biasanya diajarkan pada setiap
akhir sub bab setiap materi. Soal cerita bertujuan untuk pembinaan keterampilan,
sebagai konsep terakhir dalam pembelajaran matematika di SD sesuai dengan
kurikulum. Soal cerita berkaitan dengan kata-kata atau rangkaian kalimat yang
mengandung konsep-konsep matematika. Menurut Swedan (Setyo dan Sri, 2011)
mengartikan bahwa soal cerita matematika yaitu soal berbentuk cerita yang yang
berasal dari pengalaman sehari-hari siswa yang berhubungan dengan konsep
matematika. Sejalan dengan itu, Setyo dan Sri (2011: 122) mengatakan bahwa “soal
cerita adalah soal matematika yang diuangkapkan atau dinyatakan dengan kata-kata
atau kalimat-kalimat dalam bentuk soal cerita yang dikaitkan dengan kehidupan
sehari-hari”. Berdasarkan kedua pendapat tersebut, soal cerita matematika adalah soal
16
yang dinyatakan dalam bentuk kalimat-kalimat berupa cerita yang berhubungan
dengan kehidupan sehari-hari siswa.
Kemampuan dalam pemecahan masalah perlu dilatih pada siswa sejak dini,
agar siswa SD memiliki pengetahuan tentang pemecahan masalah sejak awal, guna
mempermudah siswa dalam menyelesaikan tugas terutama dalam menyelesaikan soal
cerita matematika. Guru sangat berperan dalam pemilihan strategi atau pendekatan
pembelajaran dalam mengerjakan soal cerita matematika yang bisa membuat
pembelajaran jadi bermakna dan mudah diingat oleh siswa.
Setyo dan Sri (2011) menyajikan langkah-langkah yang dapat digunakan
sebagai pedoman untuk menyelesaikan soal cerita adalah sebagai berikut.
1) Temukan/ cari apa yang ditanyakan oleh soal cerita itu.
2) Cari informasi/ keterangan yang esensi.
3) Pilih operasi/ pengerjaan yang sesuai.
4) Tulis kalimat matematikanya (model matematika).
5) Selesaikan kalimat matematikanya.
6) Nyatakan jawaban soal cerita itu dalam bahasa Indonesia sehingga menjawab
pertanyaan dari soal cerita tersebut.
Langkah-langkah tersebut dapat disederhanakan menjadi tiga langkah utama
yaitu:
1) Pengumpulan informasi dalam soal, berupa hal yang diketahui dan ditanyakan,
2) Penyelesaian soal,
3) Kesimpulan yaitu menjawab pertanyaan dalam soal cerita.
17
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan
menyelesaikan soal cerita matematika adalah kesanggupan seseorang untuk
menyelesaikan soal matematika yang dinyatakan dalam bentuk cerita yang
berhubungan dengan kehidupan sehari-hari dengan menggunakan langkah-langkah
yang tepat. Muhsetyo dkk. (2007: 13) mengatakan bahwa “seseorang mampu
menyelesaikan soal cerita jika memahami suasana dan makna kalimat yang
digunakan, memilih algoritma atau prosedur yang sesuai, dan menggunakan
algoritma atau prosedur yang benar”. Berdasarkan informasi yang terdapat dalam
pendapat tersebut, dapat diketahui bahwa kemampuan seseorang dalam
menyelesaikan soal cerita sangat dipengaruhi oleh tingkat pemahaman terhadap soal
serta konsep atau prosedur yang akan digunakan dalam mengerjakan soal itu.
3. Hakikat Pembelajaran Matematika di SD
a. Pengertian Pembelajaran Matematika
Menurut Dikmenum (Tukiran,dkk 2010: 66) “matematika berasal dari bahasa
latin manthanein atau mathema yang berarti belajar atau hal yang dipelajari. Salah
satu mata pelajaran yang wajib diajarkan oleh seorang guru di Sekolah Dasar (SD)
yaitu matematika. Sebagaimana yang telah di amanatkan dalam UU No. 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 37 ayat 1, dikemukakan secara jelas
bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang wajib ada pada kurikulum
pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Oleh sebab itu, pembelajaran
matematika harus dapat dikuasai oleh peserta didik sebagai salah satu syarat dalam
memperoleh pendidikan di SD.
18
Agar matematika dapat dipahami oleh siswa, harus tercipta pembelajaran yang
berkualitas, kondusif, dan menyenangkan. Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 pasal 1
ayat 20 tentang Sisdiknas dijelaskan bahwa “pembelajaran adalah proses interaksi
peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”.
Senada dengan itu, pembelajaran menurut Mappasoro (2013) yaitu tempat atau wadah
berlangsungnya kegiatan mengajar yang dilakukan oleh guru. Sejalan dengan itu
Susanto (2013: 185) mengatakan bahwa “pembelajaran merupakan komunikasi dua
arah, mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar
dilakukan oleh peserta didik”. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajaran
adalah proses belajar dan mengajar yang berlangsung melalui komunikasi dua arah
oleh peserta didik dan pendidik dalam sebuah lingkungan belajar.
Johnson dan Rising (Runtukahu dan Selpius, 2014: 28) mendefinisikan
matematika sebagai berikut:
1) Matematika adalah pengetahuan terstruktur, dimana sifat dan teori
dibuat secara deduktif berdasarkan unsur-unsur yang didefinisikan
atau tidak didefinisikan dan berdasarkan aksioma, sifat, atau teori
yang telah dibuktikan kebenarannya.
2) Matematika ialah bahasa simbol tentang berbagai gagasan dengan
menggunakan istilah-istilah yang didefinisikan secara cermat, jelas
dan akurat.
3) Matematika adalah seni, di mana keindahannya terdapat dalam
keterurutan dan keharmonisan.
Sementara itu, Soedjadi (Heruman, 2012: 1) mengatakan bahwa “hakekat
matematika yaitu memiliki objek tujuan abstrak, bertumpu pada kesepakatan, dan
pola pikir deduktif”. Senada dengan itu, Ismail dkk. (Hamzah dan Muhlisrarini, 2014:
48) mengatakan bahwa “matematika adalah ilmu yang membahas angka-angka dan
19
perhitungannya, membahas masalah numerik, mengenai kuantitas dan besaran,
mempelajari hubungan pola, bentuk dan struktur, sarana berpikir, kumpulan sistem,
struktur dan alat”. Sehingga dapat disimpulkan dari ketiga pendapat ahli tersebut
bahwa matematika adalah ilmu terstruktur yang mempelajari tentang angka dan
perhitungannya, serta bertumpu pada kesepakatan yang dituangkan dalam bahasa
simbol yang memiliki nilai seni berupa keteraturan dan keharmonisannya.
Berdasarkan penjelasan-penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran matematika adalah suatu proses belajar mengajar yang diciptakan oleh
guru untuk mengembangkan kreatifitas berpikir siswa yang dapat meningkatkan
kemampuan berpikir siswa terhadap materi dan konsep ilmu matematika.
b. Tujuan Pembelajaran Matematika di SD
Tujuan pembelajaran menurut Dikmenum (Tukiran,dkk 2010: 93-94) adalah :
a. Melatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan,
misalnya melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, eksperimen,
menunjukkan kesamaan, perbedaan, konsisten, dan inkonsisten.
b. Mengembangkan aktivitas kreatif, yang melibatkan imajinasi,
intuisi, dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen,
orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta
mencoba-coba.
c. Mengembanhkan kemampuan memecahkan masalah.
d. Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau
mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan,
grafik, peta, diagram, dalam menjelaskan gagasan.
Berdasarkan Depdiknas 2006 tentang Standar Isi SD atau MI menyatakan
tujuan pembelajaran matematika adalah agar peserta didik memiliki kompetensi atau
kemampuan umum sebagai berikut:
20
1) Melakukan operasi hitung penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian,
beserta operasi campurannya, termasuk melibatkan pecahan.
2) Menentukan sifat dan unsur berbagai bangun datar dan bangun ruang sederhana,
termasuk penggunaan sudut, keliling, luas, dan volume.
3) Menentukan sifat simetri, kesebangunan, dan sistem koordinat.
4) Menggunakan pengukuran: satuan, kesetaraan antarsatuan, dan penafsiran
pengukuran.
5) Menentukan dan menafsirkan data sederhana, seperti: ukuran tertinggi, terendah,
rata-rata, modus, mengumpulkan, dan menyajikannya.
6) Memecahkan masalah, melakukan penalaran, dan mengkomunikasikan gagasan
secara matematika.
Menurut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan KTSP (Depdiknas 2006)
tujuan mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan
sebagai berikut :
1) Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan
mengaplikasikan konsep alogaritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat
dalam pemecahan masalah.
2) Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika
dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan
pernyataan matematika.
3) Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah,
merancang model dan menapsirkan solusi yang diperoleh.
21
4) Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, table, diagram, atau media lain
untuk memperjelas keadaan atau masalah.
5) Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu
memiliki rasa ingin tahu, perhatian dan minat dalam mempelajari matematika,
serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah
Berdasarkan penjelasan diatas, maka pelajaran matematika bertujuan agar
peserta didik memiliki kemampuan diantaranya mamahami konsep matematika
menggunakan penalaran pada pola dan sifat, memecahakan masalah,
mengkomunikasikan gagasan dengan simbol dan memiliki sikap menghargai. Agar
tujuan pembelajaran matematika tersebut dapat tercapai seorang guru hendaknya
menciptakan kondisi dan situasi pembelajaran yang memungkinkan siswa belajar
dengan baik. Sehingga setiap pembelajaran matematika dapat dipahami, serta
dipergunakan dalam kehidupan nyata siswa.
c. Konsep Pembelajaran Matematika di SD
Konsep-konsep pada kurikulum matematika SD dapat dibagi menjadi tiga
kelompok besar yaitu penanaman konsep dasar (penanaman konsep), pemahaman
konsep, dan pembinaan keterampilan. Berikut adalah penjelasan pembelajaran yang
ditekankan pada konsep-konsep matematika sebagaimana yang dijelaskan oleh
Heruman (2012).
1) Penanaman konsep dasar (penanaman konsep), yaitu pembelajaran suatu konsep
baru matematika, ketika siswa belum pernah mempelajari konsep tersebut.
22
2) Pemahaman konsep, yaitu pembelajaran lanjutan dari penanaman konsep, yang
bertujuan agar siswa lebih memahami suatu konsep matematika.
3) Pembinaan keterampilan, yaitu pembelajaran lanjutan dari penanaman konsep
bertujuan agar siswa lebuh terampil dalam menggunakan berbagai konsep
matematika.
Ketiga konsep-konsep tersebut diajarkan kepada siswa secara sistematis dan
berurutan agar dapat mencapai tujuan pembelajaran matematika. Di antara ketiga
konsep tersebut, yang paling sulit dipelajari siswa biasanya adalah konsep yang
ketiga. Namun hal ini tentunya menjadi tanggung jawab bagi guru untuk memberikan
solusi yang tepat dalam menanganinya.
B. Kerangka Pikir
Soal cerita pada pelajaran matematika umumnya dirasa sulit oleh kebanyakan
siswa pada sekolah dasar. Hal ini mengharuskan guru memilah pendekatan yang pas
untuk diterapkan dikelas sehingga pelajaran matematika yang dianggap sulit berganti
menjadi pelajaran yang mudah dan menyenangkan. Di SD Inpres BTN IKIP 1
Kecamatan Rappocini Kota Makassar, pelajaran matematika khususnya pada
penyelesaian soal cerita mengalami masalah yang teridentifikasi disebabkan oleh 2
aspek yang berpengaruh besar. Pertama dari aspek siswa, hasil observasi menyatakan
bahwa sebagian besar siswa SD Inpres BTN IKIP 1 kelas VB menganggap
matematika itu sulit. Terkhusus pada penyelesaian soal cerita siswa terlihat kesulitan
memahami makna dari soal sehingga sulit untuk menemukan jawaban akhir, terlebih
23
beberapa siswa tidak memahami dasar perhitungan matematika yang menyebabkan
kesalahan saat melakukan perhitungan. Kedua dari aspek guru, saat proses
pembelajaran berlangsung guru menjelaskan materi berorientasi pada buku tanpa
memanfaatkan keadaan dan pengalaman di kehidupan nyata siswa dan setelah
memberikan contoh soal, guru terkadang meninggalkan siswa mengerjakan sendiri
tugasnya tanpa dipandu atau dituntun menuju penyelesaian tugas. Melihat hal
tersebut, maka sangat perlu diterapkan pendekatan yang mampu menambah
pemahaman siswa tentang penyelesaian soal cerita.
Penerapan pendekatan pemecahan masalah memiliki 4 tahap pelaksanaan
yang kiranya bisa membuat penyelesaian soal cerita pada mata pelajaran matematika
menjadi lebih mudah dan menyenangkan bagi siswa kelas VB SD Inpres BTN IKIP 1
Kecamatan Rappocini Kota Makassar. Tahapannya yaitu pahami masalah yang ada
pada soal, buat rencana penyelesaian jawaban, laksanakan rencana penyelesaian dan
periksa kembali dan cek hasil jawaban.
Pendekatan pemecahan masalah berorientasi pada pembelajaran yang
menghubungkan masalah yang terdapat pada soal cerita dengan kehidupan nyata
siswa disertai tuntunan dan arahandari guru. Melalui penerapan pendekatan
pemecahan masalah, diharapkan kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika
pada kelas VB SD Inpres BTN IKIP 1 Kecamatan Rappocini Kota Makassar
meningkat. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka kerangka pikir penelitian ini
digambarkan sebagai berikut :
24
Pembelajaran Matematika siswa kelas
VB SD Inpres BTN IKIP 1 Kecamatan
Rappocini Kota Makassar
Aspek guru: Aspek siswa:
1. Siswa mengerjakan tugasnya 1. Kesulitan memaknai soal
tanpa diberi tuntunan/ 2. Kesalahan dalam melakukan
bimbingan. perhitungan.
2. Penjelasan guru masih 3. Kurang aktif dalam pembelajaran
berorientasi pada buku. 4. Menganggap matematika sulit
Kemampuan menyelesaikan soal
cerita siswa kelas VB SD Inpres
BTN IKIP 1 rendah
Pendekatan pemecahan masalah:
1. Memahami masalah
2. Membuat rencana pemecahan
3. Menyelesaikan masalah sesuai rencana
4. Memeriksa ulang hasil yang diperoleh
Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita
Matematika siswa kelas VB SD Inpres BTN
IKIP 1 meningkat
Gambar 2.1. Skema Kerangka Pikir Pendekatan Pemecahan Masalah pada
siswa Kelas VB SD Inpres BTN IKIP 1 Kecamatan Rappocini
Kota Makassar
25
C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian teori dan kerangka pikir, maka hipotesis tindakan yang
diajukan dalam penelitian ini adalah jika pendekatan pemecahan masalah diterapkan
dalam pembelajaran, maka kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika siswa
kelas VB SD Inpres BTN IKIP 1 Kecamatan Rappocini Kota Makassar akan
meningkat.