Evaluasi Kestabilan Penyangga Kayu Tambang
Evaluasi Kestabilan Penyangga Kayu Tambang
*willyamsimbolon14@[Link]
Abstract. There are cracks and flaws in the wood that do not match the strength of the surrounding rock.
There is a spacing between supports that exceeds the SOP of 2.5 m-2.8 m, which violates the company‟s
SOP of 1 m-1,5 m. The company does not have a buffer design appropriate for the rock load. In this study,
the authors used quantitative research methodology. Quantitative research is research by obtaining data in
the form of number or summarized qualitative data (Sugiyono, 2018:8). In conducting this research, there
are primary data obtained directly from the field, namely the geometry of the opening hole, the dimensions
of the wood support the condition of the discontinuous plane, the point load index value of the rock, the
compressive strength value of the wood. A. the average value of saturated content weight of coal is 1.330
gr/cm3 and siltstone has a saturated content weight of 2.506 gr/cm3. B. the average value of point load index
of coal is 0.246 MPa and siltstone has an average point load index of 0.837 gr/cm3. C. the results of
converting PLI values to UCS, coa; has an average UCS value of 2,90MPa and siltstone has an average
UCS value of 9.890 MPa. Based on the weighting of rock mass classes using the RMR system method, the
results show that the right and left wall rock mass class, which is coal, has a value of 56 and includes class
III rocks, and siltstone rocks are included in class II rocks as roofs. The standing time value of the roof
opening hole section is 7,000 hours or for 291.67 days and the span with the provision of 4 meters of
progress based on the specifiend RMR. From the wood specific gravity test, the average value of wood
specific gravity is 0.51, which indicates that the wood used by CV. Bara Mitre Kencana is in class III. And
for the bending strength value of wood of 623.75 kg/cm3. From the above calculations, the FK cap value is
obtained after evaluating the distance between the supports. From the results of the above analysis, the FK
value ≥1.5 is obtained with a support distance of 1.38 m.
182
ISSN: 2302-3333 Jurnal Bina Tambang, Vol. 8, No. 2
advancing Longwall terlebih dahulu dibuat lubang maju gaya yang menahan massa batuan dari penggerakan agar
yang nantinya akan berfungsi sebagai lubang utama tidak terjadi ambrukan. Sedangkan gaya penggerak
(main gate) dan lubang pengiring (tail gate), dibuat adalah gaya yang menyebabkan massa batuan bergerak
bersamaan pada pengambilan batubara dari lubang sehingga terjadi ambrukan. Gaya penahan dapat
bukaan tersebut. diartikan sebagai dinding terowongan atau penyangga
Pada metode retreating Longwall merupakan yang dipasang. Sedangkan gaya penggerak adalah
kebalikan dari metode advancing longwall karena besarnya beban yang diberikan kepada dinding atau
pengambilan batubara belum dapat dilakukan sebelum penyangga tersebut. Oleh karena itu, kondisi lubang
selesai dibuat suatu panel yang akan memberikan bukaan dianggap aman apabila perbandingan antara gaya
batasan lapisan batubara yang akan diambil. penahan dan gaya penggerak lebih dari satu dan akan
Pemilihan salah satu metode tersebut harus terjadi runtuhan apabila kurang dari satu. (Hoek, 1998)
memperhatikan keadaan dan kondisi alami yang di
temukan pada endapan batubara itu sendiri agar nantinya
tidak menghadapi kesulitan-kesulitan selama dilakukan
pengambilan yang pada akhirnya tentu bertujuan
mencari biaya serendah mungkin. Pengg
Pengg alian
alian
2.3 Fungsi Penyanggaan
2.4 Tujuan Penyangga Jika gaya penggerak lebih besar daripada gaya
Tujuan utama penyangga ditambang bawah tanah penahan dan terdapat runtuhan disekitar penggalian,
terdapat dua pendekatan yang bisa dilakukan yaitu rock
adalah mempertahankan luas dan bentuk bidang
reinforcement dan rock support yang berbeda fungsinya.
penampang yang cukup dan untuk melindungi pekerja (lihat Gambar). Rock reinforcement pada dasarnya
dari resiko tertimpa reruntuhan. menginduksi stabilitas gaya di dalam massa batuan,
seperti rock bolts dan shotcrete. Sementara itu rock
2.5 Jenis-jenis Penyangga support menggunakan elemen eksternal untuk
memperkuat massa batuan tersebut sehingga terdapat
jenis penyangga dapat dibagi menjadi dua, yaitu
stabilitas yang berasal dari tenaga eksternal/di luar dari
Penyangga pasif (Passive Support) dan Penyangga aktif
tenaga massa batuan, contoh concrete.
(Active Support.)
2.8 Desain Penyangga Kayu
2.6 Faktor Keamaan (Safety Factor) Sistem
Penyangga
Material penyangga kayu yang digunakan di CV.
Bara mitra Kencana adalah jenis kayu akasia, dan
Menurut Keputusan Menteri Energi dan Sumber
meranti, Adapun kekuatan kayu dari berbagai kelas,
daya Mineral Nomor 1827K/30/MEM/2018, penyangga
menurut PKKI 1961, dapat dilihat pada Tabel 1
dapat dikatakan aman apabila penyangga memiliki nilai
FK yang melebihi dari 1,5. Rumus factor keamanan
(safety factor) yang digunakan yaitu: Kelas Kuat Berat Kekuatan Kekuatan Tekan
Jenis Lengkung (Kg/cm2)
……………………………..………… (1) (Kg/cm2)
Parameter-parameter yang ditentukan dalam penetuan uniaksial itu sendiri, batas elastis, Modulus Young
sifat fisik batuan antara lain: rata-rata dan Poisson‟s Ratio. Nilai kuat tekan
a. Massa Jenis asli (natural density) (gr/cpm3): uniaksial dapat dihitung dengan persamaan berikut:
… ………….(15) 𝜎 = ……………………(16)
b. Massa Jenis Kering (dry density) (gr/cm3): c. Uji Kuat Tarik Uji Brazilian
……………...(16) Uji Brazilian, sebagai salah satu metode uji
c. Massa Jenis Jenuh (saturated density) (gr/cm3) kuat tarik batuan secara tidak langsung, dilakukan
…………… (17) untuk mengetahui kuat tarik secara tidak langsung
dari contoh uji batuan Menurut Bieniawski (1967),
kuat tarik suatu contoh batuan dapat dihitung
d. “Apperent specife gravity” :
dengan rumus:
massa jenis air……………… (18)
𝜎t = ………………..(17)
e. “True Specifegravity” ( }: massa
jenis air ………………..(19) d. Klasifikasi Massa Batuan
Uji Brazilian, sebagai salah satu metode uji
f. Kadar air asli (natural water content) (%): kuat tarik batuan secara tidak langsung, dilakukan
× 100% ….…………(20) untuk mengetahui kuat tarik secara tidak langsung
dari contoh uji batuan (lihat Gambar 3). Menurut
g. Kadar air jenuh (absorpotion) (%): Bieniawski (1967), kuat tarik suatu contoh batuan
× 100% …………….(21) dapat dihitung dengan rumus:
𝜎t = …………………(18)
h. Derajat kejenuhan (%) : e. System Klasifikasi Rock Mass Rating (RMR)
× 100% ……………(22)
Rock Mass Rating (RMR) atau dikenal dengan
Geomechanichs Classification dikembangkan oleh
i. Porositas (%) : × 100% Bieniawski pada tahun 1973, 1976, dan 1989.
……. (23) Metode klasifikasi ini dengan menggunakan rating
yang besarannya didasarkan pada pengalaman
j. Angka pori (void ratio, e) : …… (24) Bieniawski dalam mengerjakan proyek-proyek
terowongan dangkal. Metode ini telah dikenal luas
2.10 Sifat Mekanik Batuan dan banyak diaplikasikan pada keadaan dan lokasi
yang berbeda-beda seperti tambang pada batuan
Penentuan sifat mekanik batuan dapat dilakukan kuat, terowongan, tambang batubara, kestabilan
dengan melalukan pegujian sebagai sebagai berikut: lereng, dan kestabilan pondasi.
a. Perangkat lunak
1) Software dips untuk membantu mengidentifikasi
Gambar 3. Uji Point Loud Indeks arah kekar atau joint. Data joint ini akan
dikelompokkan menjadi family berdasarkan arah
b. Uji Kuat Tekan Uniaxial tegasannya.
Uji kuat tekan uniaksial ialah pengujian sifat 2) software rocklab untuk membantu menentukan
mekanik batuan untuk mengetahui kuat tekan parameter kekuataan massa batuan.
184
ISSN: 2302-3333 Jurnal Bina Tambang, Vol. 8, No. 2
185
ISSN: 2302-3333 Jurnal Bina Tambang, Vol. 8, No. 2
Daftar Pustaka
[1] Abbas, S. M. (2014) „Rock mass classification
systems’, Handbook of Geotechnical Investigation
and Design Tables, hal. 263–280
[2] Anggara, Rochsyid (2017). Diktat Sistem Tambang
Bawah Tanah. Sawahlunto: Balai Diklat TBT
[3] Arafah, M. (2012) Modul “Memahami Bahan
Bangunan”. Mamuju: Dinas Pendidikan Pemuda
dan Olahraga Kabupaten Mamuju, SMK Negeri 1
Karossa
[4] Behzadi, M. (2018) „Studi Pemanfaatan Kayu
Karet sebagai Material 5) 5) Penyangga Tambang
Bawah Tanah di Desa Pualam Sari, Kecamatan
Binuang, Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan
Selatan‟, Univeristas Lambung Mangkurat.
[5] Bieniawski, Z. T. (1989) Engineering Rock Mass
Classifications – A Complete Manual for Engineers
and Geologist in Mining, Civil and Petroleum
Engineering. New York.: John Wiley and Sons
[6] Biron, Cemal and Arioglu. (1983) Design of
Support in Mines. Virginia: John Wiley & Sons
[7] Cahyono, E.B. (2011) Prosiding Hasil Kegiatan
Pusat Sumber Daya Geologi Tahun 2011.
[8] Claude,RD & G.B. Clark (1955). Stress Around
Mine Openings in Some Simple
[9] Damayanti, Retno (2019). Aksi Hijau Dilingkar
Tambang. Direktorat Jenderal Minerba,
Kementerian ESDM.
[10] Deere, D. U. (1967) Rock quality designation
(RQD) after twenty years. Vicksburg, USA.:
Experiment Station.
[11] Geological Structures. University Of Illinois
Bulletin.
[12] Hoek E. dan E. T. Brown. 1980. Underground
Excavation in Rock. London: Institution of Mining
and Metallurgy.
[13] Hudson J. A. 1940. Rock Mechanics Principles in
Engineering [Link]: CIRIA.
[14] Ilep Prengki. 2018. Analisis Beban Runtuh dan
Evaluasi Lubang Bukaan Berdasarkan Metode
Rock Mass Rating dan Q-System pada Tambang
Bawah Tanah CV. Bara Mitra Kencana, Kota
Sawahlunto, Sumatera Barat. Padang: Teknik
Pertambangan UNP.
[15] Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral Republik Indonesia Nomor 1827 K 30
MEM Tahun 2018. Pedoman Pelaksanaan Kaidah
Teknik Pertambangan yang Baik.
[16] Wahyu Marta, Bambang. Evaluasi sistem
penyangga pa tunel THC 04 CV. Tahiti Coal
menggunakan RMR. Padang. Universitas Negeri
Padang.
187