0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan7 halaman

Evaluasi Kestabilan Penyangga Kayu Tambang

Dokumen ini membahas evaluasi kestabilan sistem penyangga pada tambang bawah tanah batubara BMK-30 dengan menggunakan metode Rock Mass Rating (RMR). Penelitian menunjukkan bahwa jarak antar penyangga melebihi SOP yang ditetapkan, yang dapat berisiko terhadap keselamatan kerja. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai faktor keamanan (FK) penyangga memenuhi standar, dengan jarak penyangga yang direkomendasikan adalah 1,38 m.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan7 halaman

Evaluasi Kestabilan Penyangga Kayu Tambang

Dokumen ini membahas evaluasi kestabilan sistem penyangga pada tambang bawah tanah batubara BMK-30 dengan menggunakan metode Rock Mass Rating (RMR). Penelitian menunjukkan bahwa jarak antar penyangga melebihi SOP yang ditetapkan, yang dapat berisiko terhadap keselamatan kerja. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai faktor keamanan (FK) penyangga memenuhi standar, dengan jarak penyangga yang direkomendasikan adalah 1,38 m.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ISSN: 2302-3333 Jurnal Bina Tambang, Vol. 8, No.

Evaluasi Kestabilan Sistem Penyangga pada Tambang Bawah


Tanah Menggunakan Rock Mass Rating (RMR) pada Lubang
Tambang Tambang Batubara BMK-30 CV. Bara Mitra Kencana
Kec. Talawi, Kota Sawahlunto.
William Putra Simbolon1*, Raimon Kopa1
1
Departemen Teknik Pertambangan, Universitas Negeri Padang

*willyamsimbolon14@[Link]

Abstract. There are cracks and flaws in the wood that do not match the strength of the surrounding rock.
There is a spacing between supports that exceeds the SOP of 2.5 m-2.8 m, which violates the company‟s
SOP of 1 m-1,5 m. The company does not have a buffer design appropriate for the rock load. In this study,
the authors used quantitative research methodology. Quantitative research is research by obtaining data in
the form of number or summarized qualitative data (Sugiyono, 2018:8). In conducting this research, there
are primary data obtained directly from the field, namely the geometry of the opening hole, the dimensions
of the wood support the condition of the discontinuous plane, the point load index value of the rock, the
compressive strength value of the wood. A. the average value of saturated content weight of coal is 1.330
gr/cm3 and siltstone has a saturated content weight of 2.506 gr/cm3. B. the average value of point load index
of coal is 0.246 MPa and siltstone has an average point load index of 0.837 gr/cm3. C. the results of
converting PLI values to UCS, coa; has an average UCS value of 2,90MPa and siltstone has an average
UCS value of 9.890 MPa. Based on the weighting of rock mass classes using the RMR system method, the
results show that the right and left wall rock mass class, which is coal, has a value of 56 and includes class
III rocks, and siltstone rocks are included in class II rocks as roofs. The standing time value of the roof
opening hole section is 7,000 hours or for 291.67 days and the span with the provision of 4 meters of
progress based on the specifiend RMR. From the wood specific gravity test, the average value of wood
specific gravity is 0.51, which indicates that the wood used by CV. Bara Mitre Kencana is in class III. And
for the bending strength value of wood of 623.75 kg/cm3. From the above calculations, the FK cap value is
obtained after evaluating the distance between the supports. From the results of the above analysis, the FK
value ≥1.5 is obtained with a support distance of 1.38 m.

Keywords: Evaluation, Geometry, Faulting, Rock Weighting, Opening Geometry

1. Pendahuluan yang terdapat di CV. BMK terdiri dari batulanau,


batupasir dan batubara. Sistem pertambangan yang
Penambangan di Sawahlunto bermula dari ekspedisi diterapkan oleh [Link] ialah tambang bawah tanah
seorang geologi asal Belanda bernama W.H. de Groet. dengan metode room and pillar. Sedangkan untuk sistem
Pada pertengahan abad ke-19, de Groet mendeteksi penyanggaan yang diterapkan perusahaan yaitu
kandungan batubara di sekitar Sungai Ombilin. Tahun menggunakan penyangga kayu dan juga terdapat
1891 adalah awal dari penambangan batubara di daerah penyangga beton sepanjang 15 meter pada bagian kanopi
Sawahlunto. (Damayanti, 2019) Hingga kini, mine entry. Sistem tambang bawah tanah dengan
penambangan batubara di Sawahlunto masih beroperasi menggunakan metode room and pillar yang diterapkan
melalui beberapa perusahaan daerah. CV. Bara Mitra ini memiliki resiko geomekanika yang berbeda
Kencana (BMK) merupakan salah satu perusahaan dibandingkan dengan tambang terbuka, hal ini erat
daerah yang bergerak di bidang pertambangan batubara kaitannya dengan kekuatan batuan yang dibongkar untuk
yang terletak di Tanah Kuning, Desa Batu Tanjung, pembuatan lubang bukaan tambang dengan metode
Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto. Lapisan batuan penggalian semi-konvensional menggunakan breaker.
181
ISSN: 2302-3333 Jurnal Bina Tambang, Vol. 8, No. 2

Selama proses penggalian, kekuatan massa batuan


tersebut akan terganggu, sehingga massa batuan akan
mencari kesetimbangan baru setelah adanya perlakuan 2.1.2 Tahap Kedua Kegiatan
yang diberikan terhadapnya, tak jarang dapat terjadi
lanjutan dari tahap Tahap kedua kegiatan Kegiatan
beberapa kondisi seperti sliding load, sliding fault dan
yang akan dilakukan pada tahap kedua ini merupakan
ambrukan lainnya jika tidak segera dilakukan
pertama dimana pillar dibagi menjadi beberapa bagian.
penyanggaan. Selain itu, kondisi pemasangan penyangga
Dan nantinya akan dilakukan pembongkaran apabila
yang tidak sesuai dengan beban batuan juga akan
kegiatan untuk lubang maju telah selesai, selanjutnya
menjadikan risiko geomekanika tersendiri pada tambang
sesuai dengan perencanaan yang telah disiapkan
bawah tanah tersebut.
perusahaan
CV. Bara Mitra Kencana melakukan upaya menjaga
kestabilan lubang maju atau tunnel dengan menggunakan 2.2 Metode Penambangan
penyangga kayu. Dari hasil pengamatan yang dilakukan
pada lubang BMK-30 di kedalaman 70m, terdapat Pada penambangan batubara dengan metode
penyangga yang jarak antar penyangga 2,5 m dimana hal penambangan bawah tanah yang terpeting adalah
ini telah melebihi SOP CV. Bara Mitra Kencana sendiri mempertahankan lubang bukaan seaman mungkin agar
telah menetapkan SOP jarak antar penyangga yaitu 1m- terhindar dari kemungkinan keruntuhan atap batuan,
1,5m. Dampak lain yang dapat terjadi jika perusahaan runtuhnya dinding lubang (rib spalling), dan
belum memiliki rancangan penyangga yang sesuai penggelembungan lantai lapisan batubara (floor heave).
dengan beban batuan adalah dampak keamanan dan Disamping itu kegagalan yang disebabkan batuan dan
keselamatan pekerja dan alat produksi pada lubang batubara itu tidak mempunyai daya penyangga di
tersebut. Jika suatu saat terjadi kecelakaan yang samping faktor- faktor alami dari keadaan geologi
menyebabkan terjebaknya pekerja di dalam lubang, endapan batubara tersebut. Penambangan batubara
bahkan terjadi fatality, maka besar kemungkinan secara tambang dalam kenyataannya sangat ditentukan
perusahaan dapat dicabut izin usaha pertambangannya. oleh cara mengusahakan agar lubang bukaan dapat
Berdasarkan pertimbangan tersebut, diperlukan suatu dipertahankan selama mungkin pada saat
evaluasi rancangan penyangga kayu yang sesuai dengan berlangsungnya penambangan batubara dengan biaya
beban batuan yang berada di sekitarnya untuk menjamin rendah atau lebih ekonomis. Metode penambangan
keamanan dan keselamatan pekerja pada lubang secara tambang dalam pada garis besarnya dapat
tambang. Maka dari itu, berdasarkan uraian diatas dibedakan sebagi berikut:
penulis mengangkat judul tentang “Evaluasi Kestabilan
Penyangga Kayu Menggunakan Metode Rock Mass 2.2.1 Room and Pillar
Rating (RMR) Pada Lubang Tambang BMK-30 CV
Bara Mitra Kencana Kec. Talawi, Kota Sawahlunto” Cara penambangan ini mengandalkan endapan
batubara yang tidak diambil sebagai penyangga dan
endapan batubara yang diambil sebagai room. Besar
2. Tinjauan Pustaka bentuk dan ruangan sebagai akibat pengambilan batubara
nya harus diusahakan agar penyangga yang dipakai
2.1 Sistem Penambangan Bawah Tanah cukup memadai kuat mempertahankan ruangan tersebut
Tambang bawah tanah (Underground mining) tetap aman sampai saatnya dilakukan pengambilan
adalah metode penambangan yang segala kegiatan penyangga yang sebenarnya yaitu tiang penyangga
aktifitas penambangannya dilakukan di bawah batubara (coal pillar).
permukaan bumi, dan tempat kerjanya tidak
berhubungan langsung dengan udara luar (samanlangi,
2016). Pada peneliian kali ini, metode penambangan
penambangan yang dipakai PT. Bara Mitra Kencana
adalah metode Room and pillar terdapat dua tahap
pelaksanaan, yaitu :
2.1.1 Tahap Pertama Kegiatan

Kegiatan yang dilakukan pada tahap pertama


adalah pembuatan room and pillar. Tujuannya adalah
untuk membuat lubang bukaan sebagai jalan masuk ke
lapisan batubara serta untuk membuat pillar-pillar yang Gambar 1. Metode room and pillar
nantinya akan diambil pada tahap kedua kegiatan.
Pembuatan lubang bukaan ini dilakukan dengan cara 2.2.2 Metode Longwall
konvensional taitu dengan menggunakan peralatan
Belincong dan jack hammer sebagai pembongkaran. Penambangan menggunakan metode Longwall
yaitu dengan cara maju (advancing) dan mundur
(retreating). Pada penambangan dengan metode

182
ISSN: 2302-3333 Jurnal Bina Tambang, Vol. 8, No. 2

advancing Longwall terlebih dahulu dibuat lubang maju gaya yang menahan massa batuan dari penggerakan agar
yang nantinya akan berfungsi sebagai lubang utama tidak terjadi ambrukan. Sedangkan gaya penggerak
(main gate) dan lubang pengiring (tail gate), dibuat adalah gaya yang menyebabkan massa batuan bergerak
bersamaan pada pengambilan batubara dari lubang sehingga terjadi ambrukan. Gaya penahan dapat
bukaan tersebut. diartikan sebagai dinding terowongan atau penyangga
Pada metode retreating Longwall merupakan yang dipasang. Sedangkan gaya penggerak adalah
kebalikan dari metode advancing longwall karena besarnya beban yang diberikan kepada dinding atau
pengambilan batubara belum dapat dilakukan sebelum penyangga tersebut. Oleh karena itu, kondisi lubang
selesai dibuat suatu panel yang akan memberikan bukaan dianggap aman apabila perbandingan antara gaya
batasan lapisan batubara yang akan diambil. penahan dan gaya penggerak lebih dari satu dan akan
Pemilihan salah satu metode tersebut harus terjadi runtuhan apabila kurang dari satu. (Hoek, 1998)
memperhatikan keadaan dan kondisi alami yang di
temukan pada endapan batubara itu sendiri agar nantinya
tidak menghadapi kesulitan-kesulitan selama dilakukan
pengambilan yang pada akhirnya tentu bertujuan
mencari biaya serendah mungkin. Pengg
Pengg alian
alian
2.3 Fungsi Penyanggaan

Fungsi dari penyanggan yaitu: 1) menahan


perpindahan tegangan pada dinding lubang bukaan. 2)
menyangga batuan yang potensial untuk memperkecil Gambar 2. Efek Penggalian pada Struktur Massa
deformasi batuan. Batuan

2.4 Tujuan Penyangga Jika gaya penggerak lebih besar daripada gaya
Tujuan utama penyangga ditambang bawah tanah penahan dan terdapat runtuhan disekitar penggalian,
terdapat dua pendekatan yang bisa dilakukan yaitu rock
adalah mempertahankan luas dan bentuk bidang
reinforcement dan rock support yang berbeda fungsinya.
penampang yang cukup dan untuk melindungi pekerja (lihat Gambar). Rock reinforcement pada dasarnya
dari resiko tertimpa reruntuhan. menginduksi stabilitas gaya di dalam massa batuan,
seperti rock bolts dan shotcrete. Sementara itu rock
2.5 Jenis-jenis Penyangga support menggunakan elemen eksternal untuk
memperkuat massa batuan tersebut sehingga terdapat
jenis penyangga dapat dibagi menjadi dua, yaitu
stabilitas yang berasal dari tenaga eksternal/di luar dari
Penyangga pasif (Passive Support) dan Penyangga aktif
tenaga massa batuan, contoh concrete.
(Active Support.)
2.8 Desain Penyangga Kayu
2.6 Faktor Keamaan (Safety Factor) Sistem
Penyangga
Material penyangga kayu yang digunakan di CV.
Bara mitra Kencana adalah jenis kayu akasia, dan
Menurut Keputusan Menteri Energi dan Sumber
meranti, Adapun kekuatan kayu dari berbagai kelas,
daya Mineral Nomor 1827K/30/MEM/2018, penyangga
menurut PKKI 1961, dapat dilihat pada Tabel 1
dapat dikatakan aman apabila penyangga memiliki nilai
FK yang melebihi dari 1,5. Rumus factor keamanan
(safety factor) yang digunakan yaitu: Kelas Kuat Berat Kekuatan Kekuatan Tekan
Jenis Lengkung (Kg/cm2)
……………………………..………… (1) (Kg/cm2)

I > 0,90 > 1100 > 650


𝑝𝑡𝑃𝑀𝑎𝑥 = 𝜎𝑠𝑓. 𝐹 …………………………………… (2)
II 0,90–0,60 1100 – 725 650 – 425
Keterangan :
Asf = tegangan perlengkungan kayu yang diijinkan III 0,60–0,40 725 – 500 425 – 300
SF = Safety
factor (Faktor Keamanan) IV 0,40–0,30 500 – 360 300 – 215
pt = Total Beban
PMax = Beban Maximal yang diizinkan V < 0,30 < 360 < 215
2.7 Stabilitas dan Prinsip Penyangga Lubang
Bukaan 2.9 Sifat Fisik Batuan
Stabilitas dipengaruhi oleh dua buah gaya yaitu
gaya penahan dan gaya penggerak. Gaya penahan yaitu
183
ISSN: 2302-3333 Jurnal Bina Tambang, Vol. 8, No. 2

Parameter-parameter yang ditentukan dalam penetuan uniaksial itu sendiri, batas elastis, Modulus Young
sifat fisik batuan antara lain: rata-rata dan Poisson‟s Ratio. Nilai kuat tekan
a. Massa Jenis asli (natural density) (gr/cpm3): uniaksial dapat dihitung dengan persamaan berikut:
… ………….(15) 𝜎 = ……………………(16)
b. Massa Jenis Kering (dry density) (gr/cm3): c. Uji Kuat Tarik Uji Brazilian
……………...(16) Uji Brazilian, sebagai salah satu metode uji
c. Massa Jenis Jenuh (saturated density) (gr/cm3) kuat tarik batuan secara tidak langsung, dilakukan
…………… (17) untuk mengetahui kuat tarik secara tidak langsung
dari contoh uji batuan Menurut Bieniawski (1967),
kuat tarik suatu contoh batuan dapat dihitung
d. “Apperent specife gravity” :
dengan rumus:
massa jenis air……………… (18)
𝜎t = ………………..(17)
e. “True Specifegravity” ( }: massa
jenis air ………………..(19) d. Klasifikasi Massa Batuan
Uji Brazilian, sebagai salah satu metode uji
f. Kadar air asli (natural water content) (%): kuat tarik batuan secara tidak langsung, dilakukan
× 100% ….…………(20) untuk mengetahui kuat tarik secara tidak langsung
dari contoh uji batuan (lihat Gambar 3). Menurut
g. Kadar air jenuh (absorpotion) (%): Bieniawski (1967), kuat tarik suatu contoh batuan
× 100% …………….(21) dapat dihitung dengan rumus:
𝜎t = …………………(18)
h. Derajat kejenuhan (%) : e. System Klasifikasi Rock Mass Rating (RMR)
× 100% ……………(22)
Rock Mass Rating (RMR) atau dikenal dengan
Geomechanichs Classification dikembangkan oleh
i. Porositas (%) : × 100% Bieniawski pada tahun 1973, 1976, dan 1989.
……. (23) Metode klasifikasi ini dengan menggunakan rating
yang besarannya didasarkan pada pengalaman
j. Angka pori (void ratio, e) : …… (24) Bieniawski dalam mengerjakan proyek-proyek
terowongan dangkal. Metode ini telah dikenal luas
2.10 Sifat Mekanik Batuan dan banyak diaplikasikan pada keadaan dan lokasi
yang berbeda-beda seperti tambang pada batuan
Penentuan sifat mekanik batuan dapat dilakukan kuat, terowongan, tambang batubara, kestabilan
dengan melalukan pegujian sebagai sebagai berikut: lereng, dan kestabilan pondasi.

a. Uji Point Loud Indeks


Pengujian point load merupakan pengujian 3. Metodologi Penelitian
yang telah dikenal untuk memprediksi nilai UCS
3.1 Jenis Penelitian
suatu batuan secara tidak langsung di lapangan. Hal
ini disebabkan prosedur pengujiannya sederhana, Dalam penelitian ini penulis menggunakan
preparasi contohnya mudah dan dapat dilakukan metodologi penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif,
dilapangan. (Made Astawa Rai dkk.2010) adalah penelitian dengan memperoleh data yang
berbentuk angka atau data kualitatif yang diangkakan
(Sugiono, 2012:8) Dalam pelaksanakan penelitian ini
terdapat data primer yang didapat langsung dari
lapangan yaitu geometri lubang bukaan,, dimensi
penyangga kayu, kondisi bidang diskontinyu, nilai point
load index batuan, nilai kuat tekan kayu, nilai kuat lentur
kayu.

3.2 Instrument Penelitian

a. Perangkat lunak
1) Software dips untuk membantu mengidentifikasi
Gambar 3. Uji Point Loud Indeks arah kekar atau joint. Data joint ini akan
dikelompokkan menjadi family berdasarkan arah
b. Uji Kuat Tekan Uniaxial tegasannya.
Uji kuat tekan uniaksial ialah pengujian sifat 2) software rocklab untuk membantu menentukan
mekanik batuan untuk mengetahui kuat tekan parameter kekuataan massa batuan.
184
ISSN: 2302-3333 Jurnal Bina Tambang, Vol. 8, No. 2

3) software undwedge untuk membantu menentukan


ukuran baji dalam massa batuan dan sekitar
bukaannya tergantung pada ukuran,bentuk dan
orientasi joint set yang signifikan.
Tabel 5. nilai rata-rata perhitungan sifat fisik sampel
b. Perangkat keras
NO Parameter Coal Siltstone
1. Kompas yang digunakan untuk mengukur strike
1 Bobot Asli (gr/cm3) 1,321 2,793
dan dip dari lubang bukaan. 2 Bobot Jenuh (gr/cm3) 1,330 2,799
2. Meteran digunakan untuk mengukur tinggi dan 3 Bobot Kering (gr/cm3) 1,268 2,782
lebar dari lubang bukaan dan mengukur kekarnya. 4 Berat Jenis Semu 1,268 2,782
3. Rompi digunakan untuk safety di dalam tambang 5 Berat Jenis Asli 1,351 2,831
awah tanah dan kapiler digital. 6 Kadar Air Asli (%) 0,042 0,004
4. Senter digunakan untuk memberi cahaya jalan ke 7 Kadar Air Jenuh (%) 0,049 0,006
lubang tambang bawah tanah. 8 Derajat Kejenuan (%) 0,858 0,695
5. Helm safety digunakan melindungi kepala dari 9 Porositas (%) 0,062 0,017
jatuhnya material batubara. 10 Angka Pori 0,066 0,017
6. Sepatu safety digunakan melindungi kaki.
Tabel 6. hasil analisis point load indexs
3.3 Tahap Penelitian Jar
Kod ak
a. Penentuan lokasi penelitian rawan terjadi amblesan Materi e Ko
D W L P IS σc IS
(c (c (c (kg F (Kg/ (M (M
b. Persiapam adminstrasi dan pengurusan surat-surat al Sam nus
m) m) m) ) cm2 pa) pa)
izin dikampus dan di perusahaan. pel (cm
)
c. pengambilan data langsung dilapangan. BB 3, 272 0, 8,1 0,6
3,5 5 5 7,01
1 5 ,53 32 2 9
BB 3, 268 0, 7,7 0,6
3.4 Analisis Data 2
3,6
6
5 5
,48 32
6,71
8 6
COAL
Dari data yang sudah didapatkan, akan dilakukan BB
3,5
3, 4,
5
276 0,
7,11
8,2 0,7
analisis berdasarkan metode empiris menggunakan Rock 3 5 8 ,68 32 9 0
272 0, 8,0 0,6
Mass Rating (RMR) dan hasil pengujian kuat tekan dan Rata-rata 6,94
,56 32 7 8
kuat lentur kayu sehingga diketahui kekuatan kayu Jar
Kod ak
dalam menyangga massa batuan. Matetr e Ko
D W L P IS σc IS
(c (c (c (kg F (Kg/ (M (M
ial Sam nus
m) m) m) ) cm2 pa) pa)
pel (cm
4. Hasil dan Pembahasan SL
)
3, 490 0, 11,9 13, 1,1
3,7 5 5
1 7 ,95 33 4 92 8
4.1 Hasil Penelitian SL 3, 5, 493 0, 12,0 13, 1,1
3,7 5
SILST 2 7 4 ,58 33 1 92 8
4.1.1 Uji Sifat Fisik Batuan ONE SL
3,5
3, 5,
5
507 0, 13,0 15, 1,2
3 5 2 ,44 32 5 12 8
497 0, 12,3 14, 1,2
Tabel 2. Uji Sifat Fisik Silstone Rata-rata
,32 33 3 32 1
Nama Sampel Wn (g) Ww(g) Ws(g) Wo(g)
SL 1 122,56 123,12 79,95 122,23
SL 2 127,68 128,13 83,11 127,29 Tabel 7. klasifikasi massa batuan dinding kiri
SL 3 98,12 98,51 61,71 97,57 Parameter Klasifikasi Massa Batuan RMR-System
No Parameter Kondisi Rating
Tabel 3. Uji Sifat Fisik Batubara 1 Rock Strength (UCS) 8,07 MPa 2
Nama Sampel Wn (g) Ww(g) Ws(g) Wo(g) 2 Rock Quality Design (RQD) 84,42% 17
BB 1 68,7 69,06 21,3 66,44 3 Spacing of Discontinuities 209,68 mm 10
BB 2 66,51 67,41 14,7 63,27 Presistance 0,76 m 6
BB 3 112,34 112,67 23,63 108,03 Aperture 1,4 mm 1
Sedikit
Roughness 3
Tabel 4. pengujian point load index 4 Condition Kasar
Jarak Infilling None 6
Kode D W L Tidak
Material Konus P (kg) Weathering 6
Sampel (cm) (cm) (cm)
(cm) Melapuk
BB 1 3,5 3,5 5 5 272,53 5 Ground water Lembab 10
BB 2 3,6 3,6 5 5 268,48 6 Strike and Dip of Joint Set Sedang -5
COAL
BB 3 3,5 3,5 4,8 5 276,68 Total Rating 56
Rata-rata 272,56
III
Jarak
Matetrial
Kode
Konus
D W L
P (kg)
Kelas Massa Batuan Fair
Sampel (cm) (cm) (cm) Rock
(cm)
SL 1 3,7 3,7 5 5 490,95
SL 2 3,7 3,7 5,4 5 493,58
SILSTONE
SL 3 3,5 3,5 5,2 5 507,44
Rata-rata 497,32

185
ISSN: 2302-3333 Jurnal Bina Tambang, Vol. 8, No. 2

Tabel 10. hasil perhitungan tegangan pada side post


σv Lb a σb
RM d
kg/cm C ω kg/cm ton/m
R 2 (cm) cm 2 2
m
23 18 1,5 68,70 687,0
61 0,260 18,07
1 2 2 1 1

Tabel 11. FK pada cap


RMR σb Kuat Lengkung Kayu FK
61 544,884 623,75 1,14

Tabel 12. FK Side Post


RMR σb Kuat Lengkung Kayu FK
61 68,701 368,75 5,367
Gambar 4. hasil analisis software rocklab
Tabel 13. dimensi penyangga aktual
Mm
Cap
σv a ly lb d qt ax W
R
(kg/ ( ( ( (c (kg (c σb σsf
M
cm2 m m m m /cm (kg m3 cap (kg/ f
R
) ) ) ) ) ) cm) ) (kg/c cm2 k
m2) )
1 1
1, 2, 2, 315. 57
6 0,26 8, 47, 544,8 623, ,
8 3 3 630, 9,2
1 0 0 32 84 75 1
2 2 1 315 61
7 4

Dari data di atas, jarak antar penyangga (a) akan


dianalisis kembali sehingga FK cap mencapai nilai ≥ 1,5.

Nilai σb cap dengan FK ≥1,5


M a
ma Cap (
l l
σv d qt x W m
R y b
Tabel 8. hasil analisis pada tegangan cap (kg (c (k (k (c )
M ( ( σb σsf
R σv a l d h qt Mmax W σb /c m g/c g m
R m m cap (kg F
M (kg/c (m (m (cm (m (kg/c (kg (cm3 (kg/c m2) ) m) c 3
)
R m2 ) ) ) ) m) cm) ) m2) ) ) (kg/ /c K
m
1,8 2, 18, 2,3 315.63 579, 544, cm2) m2)
61 0,260
2 31 07 1
47,32
0,315 261 884
)
1 24 1
2, 2, 43 34 62 1
6 0,2 8, 0, 415, ,
Tabel 9. Buckling factor 1 60
3 3
0
6,1
87
5,
83
3,7 ,
3
λ+ 2 1 12 77 5 5
7 4 8
λ Λ
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
1, 1, 1, 1, 1, 1, 1, 1, 1,
0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5. Kesimpulan
1 1 2 3 3 4 5 6 6
1, 1, 1, 1, 1, 1, 1, 1, 1, a. kesimpulan
1 1, 1 Hasil analisis FK penyangga kayu menggunakan
0 0 0 0 1 1 1 1 1
0 1 0 jarak antar penyangga aktual sebesar 1,38 m didapatkan
7 8 9 9 1 2 3 4 5
1, 1, 1, 1, 1, 1, 1, 1, 1, FK atap sebesar 1,14 dan FK dinding sebesar 5,367. FK
2 1, 2 atap memiliki nilai di bawah 1,5 yang dikategorikan
1 1 1 1 1 2 2 2 2
0 2 0 tidak aman dan memerlukan evaluasi agar FK atap
5 6 7 8 9 1 2 3 4
1, 1, 1, 1, 1, 1, 1, 1, 1, menjadi aman. Evaluasi jarak antar penyangga dilakukan
3 1, 3 untuk membuat FK aman, dari jarak penyangga aktual
2 2 2 2 2 3 3 3 3
0 3 0 sebesar 1,38 m diubah menjadi 1,67 dan didapatkan FK
5 6 7 9 9 2 3 4 5
1, 1, 1, 1, 1, 1, 1, 1, 1, atap setelah dilakukan evaluasi sebesar 1,5. Apabila
4 1, 4 jarak antar penyangga mengikuti SOP yang berlaku yaitu
3 3 3 4 4 4 4 4 4
0 4 0 sebesar 1,5 m, penyangga memiliki FK sebesar 1,67.
6 8 9 2 3 4 6 7 9
1, 1. 1, 1, 1, 1, 1, 1,
5 1, 1, 5 b. saran
5 5 5 5 5 6 6 6
0 5 6 0 Dari pengukuran jarak penyangga diketahui rata-rata
2 3 5 6 8 1 3 6
jarak antar penyangga sebesar 1,38 m dimana hal ini
melebihi SOP perusahaan yang menetapkan jarak antar
penyangga sebesar 1 – 1,5 m. Jarak rekomendasi yang
186
ISSN: 2302-3333 Jurnal Bina Tambang, Vol. 8, No. 2

penulis sarankan maksimal 1,67 m agar mencapai FK


yang aman. Perlu diperhatikan ketika pemasangan
penyangga memiliki jarak yang direkomendasikan atau
sesuai SOP agar kegiatan penambangan dapat berjalan
dengan lancer dan aman tanpa menimbulkan kerugian..

Daftar Pustaka
[1] Abbas, S. M. (2014) „Rock mass classification
systems’, Handbook of Geotechnical Investigation
and Design Tables, hal. 263–280
[2] Anggara, Rochsyid (2017). Diktat Sistem Tambang
Bawah Tanah. Sawahlunto: Balai Diklat TBT
[3] Arafah, M. (2012) Modul “Memahami Bahan
Bangunan”. Mamuju: Dinas Pendidikan Pemuda
dan Olahraga Kabupaten Mamuju, SMK Negeri 1
Karossa
[4] Behzadi, M. (2018) „Studi Pemanfaatan Kayu
Karet sebagai Material 5) 5) Penyangga Tambang
Bawah Tanah di Desa Pualam Sari, Kecamatan
Binuang, Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan
Selatan‟, Univeristas Lambung Mangkurat.
[5] Bieniawski, Z. T. (1989) Engineering Rock Mass
Classifications – A Complete Manual for Engineers
and Geologist in Mining, Civil and Petroleum
Engineering. New York.: John Wiley and Sons
[6] Biron, Cemal and Arioglu. (1983) Design of
Support in Mines. Virginia: John Wiley & Sons
[7] Cahyono, E.B. (2011) Prosiding Hasil Kegiatan
Pusat Sumber Daya Geologi Tahun 2011.
[8] Claude,RD & G.B. Clark (1955). Stress Around
Mine Openings in Some Simple
[9] Damayanti, Retno (2019). Aksi Hijau Dilingkar
Tambang. Direktorat Jenderal Minerba,
Kementerian ESDM.
[10] Deere, D. U. (1967) Rock quality designation
(RQD) after twenty years. Vicksburg, USA.:
Experiment Station.
[11] Geological Structures. University Of Illinois
Bulletin.
[12] Hoek E. dan E. T. Brown. 1980. Underground
Excavation in Rock. London: Institution of Mining
and Metallurgy.
[13] Hudson J. A. 1940. Rock Mechanics Principles in
Engineering [Link]: CIRIA.
[14] Ilep Prengki. 2018. Analisis Beban Runtuh dan
Evaluasi Lubang Bukaan Berdasarkan Metode
Rock Mass Rating dan Q-System pada Tambang
Bawah Tanah CV. Bara Mitra Kencana, Kota
Sawahlunto, Sumatera Barat. Padang: Teknik
Pertambangan UNP.
[15] Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral Republik Indonesia Nomor 1827 K 30
MEM Tahun 2018. Pedoman Pelaksanaan Kaidah
Teknik Pertambangan yang Baik.
[16] Wahyu Marta, Bambang. Evaluasi sistem
penyangga pa tunel THC 04 CV. Tahiti Coal
menggunakan RMR. Padang. Universitas Negeri
Padang.

187

Anda mungkin juga menyukai