Napas menjadi lebih ringan
Hal ini terjadi karena mulai turunnya kepala janin ke rongga panggul sehingga membuat
tekanan terhadap paru-paru berkurang.
Keinginan untuk buang air kecil meningkat
Meningkatnya keinginan untuk buang air kecil dikarenakan janin menekan kandung
kemih. Selain buang air kecil, ibu juga dapat menjadi lebih sering buang air besar atau
bahkan sering mengalami diare.
Keluar lendir
Keluarnya lendir bercampur darah dari vagina menandakan bahwa leher rahim (serviks)
sudah mulai membuka.
Nyeri pada punggung bagian bawah yang hilang timbul
Nyeri punggung bisa muncul sendiri atau bersamaan dengan kontraksi. Rasa nyeri ini
juga dapat disertai sensasi kendur di sendi, terutama di area panggul.
Kontraksi otot
Kontraksi otot rahim dapat muncul secara berkala tiap 10 menit. Kontraksi ini bisa
digambarkan seperti rasa mengencang di rahim atau seperti kram saat menstruasi
dengan intensitas dan frekuensi yang meningkat mendekati waktu persalinan.
Keluar air ketuban
Keluarnya air ketuban terjadi akibat pecahnya selaput pelindung janin. Setelah air
ketuban keluar, janin harus dikeluarkan tidak lebih dari 24 jam.
Tahapan Sebelum Melahirkan Normal
Tahap sebelum melahirkan normal dalam dunia medis disebut dengan kala 1. Tahap ini terbagi
dalam 3 fase, yaitu fase awal (laten), fase aktif, dan fase transisi. Berikut adalah penjelasannya:
Fase laten
Fase laten berlangsung selama 8–12 jam. Fase ini ditandai dengan kontraksi ringan selama 30–
45 detik setiap 5–30 menit. Kontraksi ini kemudian berangsur-angsur menjadi lebih sering dan
intensitasnya meningkat. Pada fase laten, serviks akan membuka 3–4 cm secara bertahap.
Pada fase ini, ibu hamil disarankan untuk tetap tenang dan tidak perlu terburu-buru ke rumah
sakit. Ibu masih boleh melakukan aktivitas ringan di rumah, tetapi harus tetap menjaga asupan
nutrisi yang dibutuhkan dan mencatat kontraksi yang terjadi.
Fase aktif
Fase aktif berlangsung selama 3–5 jam, tetapi bisa lebih lama pada ibu yang baru pertama kali
hamil. Kontraksi pada fase ini berlangsung selama 45–60 detik setiap 3–5 menit. Pada fase aktif,
serviks membuka sekitar 4–7 cm.
Ibu hamil yang sudah memasuki fase aktif disarankan untuk segera ke rumah sakit. Dokter
akan mengukur tekanan darah, denyut nadi, dan suhu tubuh ibu hamil, serta memeriksa detak
jantung janin. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan panggul, untuk mengetahui sampai
sejauh mana proses kontraksi.
Bila diperlukan, dokter akan memberikan bius epidural untuk meredakan nyeri akibat kontraksi.
Fase transisi
Fase transisi berlangsung sekitar 30 menit sampai 2 jam. Kontraksi pada fase ini terasa kuat dan
terus menerus, serta menimbulkan nyeri tidak tertahankan. Pada fase transisi, serviks akan
membuka 8–10 cm.
Perlu diketahui, pada fase ini akan muncul desakan untuk mendorong janin agar segera ke luar.
Namun, jangan lakukan hal tersebut sebelum diminta oleh dokter. Mendorong janin sebelum
serviks terbuka sempurna dapat menyebabkan serviks membengkak dan memperlambat proses
persalinan.
Proses Melahirkan Normal
Proses melahirkan normal disebut juga dengan kala 2, yaitu ketika leher rahim telah terbuka
sempurna sebesar 10 cm. Proses melahirkan kala 2 bisa berlangsung 2 jam atau lebih.
Kontraksi pada tahap ini berlangsung sekitar 60–90 detik dan mereda tiap 2–5 menit. Setiap kali
kontraksi muncul, ibu akan merasakan desakan kuat untuk mengejan. Namun, perlu diingat,
mengejan sebaiknya hanya dilakukan ketika diminta oleh dokter.
Normalnya, bayi akan terdorong setiap kali terjadi kontraksi. Namun, jika janin tidak juga turun,
dokter akan menyarankan ibu untuk mengubah posisi menjadi jongkok, duduk, atau berlutut.
Bila kontraksi kurang kuat, dokter akan memberikan obat oksitosin untuk menguatkan kontraksi.
Selama proses kontraksi dan mengejan, kepala bayi akan mulai terlihat dari vagina. Pada tahap
ini, vagina dan perineum (area antara vagina dan anus) akan sangat meregang sehingga
menimbulkan nyeri seperti terbakar.
Untuk mempercepat proses persalinan dan mencegah perineum robek, dokter akan
melakukan episiotomi, yaitu tindakan memotong sebagian kecil perineum. Prosedur ini
didahului dengan pemberian bius lokal. Dokter akan menjahit kembali perineum setelah
persalinan selesai.