0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan5 halaman

Melahirkan Normal Setelah Operasi Caesar

Melahirkan normal setelah operasi caesar (VBAC) umumnya aman, namun ada risiko robek rahim yang perlu didiskusikan dengan dokter. Ibu hamil disarankan untuk mempersiapkan diri dengan mencari dokter yang tepat, belajar tentang proses persalinan, dan menjaga kesehatan fisik serta mental. Proses melahirkan normal terdiri dari beberapa tahap, dan setelah melahirkan, ibu perlu menjalani perawatan untuk memastikan pemulihan yang baik.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan5 halaman

Melahirkan Normal Setelah Operasi Caesar

Melahirkan normal setelah operasi caesar (VBAC) umumnya aman, namun ada risiko robek rahim yang perlu didiskusikan dengan dokter. Ibu hamil disarankan untuk mempersiapkan diri dengan mencari dokter yang tepat, belajar tentang proses persalinan, dan menjaga kesehatan fisik serta mental. Proses melahirkan normal terdiri dari beberapa tahap, dan setelah melahirkan, ibu perlu menjalani perawatan untuk memastikan pemulihan yang baik.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Melahirkan normal setelah operasi caesar

Perlu diketahui, melahirkan normal setelah pada persalinan sebelumnya menjalani operasi
caesar (vaginal birth after cesarean delivery atau VBAC) umumnya aman. Meski demikian, ibu
hamil yang melakukan VBAC berisiko mengalami robek rahim.

Oleh sebab itu, diskusikan dengan dokter kandungan bila sebelumnya pernah menjalani operasi
caesar dan kini ingin melahirkan normal.

Sebelum Melahirkan Normal

Agar proses persalinan lancar, lakukan beberapa hal berikut ini sebelum mendekati waktu
persalinan:

 Carilah dokter kandungan dan dokter anak yang tepat.

 Pelajari proses dan tahapan melahirkan normal sejak masa awal kehamilan, misalnya
dengan mengikuti kelas persalinan dan senam hamil, atau dengan bertanya pada wanita
yang pernah melahirkan. Pelajari pula tanda-tanda persalinan, teknik bernapas, dan
mengejan.

 Persiapkan mental, misalnya dengan meditasi atau teknik relaksasi. Hal ini berguna
untuk membantu Anda selama proses persalinan, dan untuk menghadapi kemungkinan
yang dapat terjadi bila tidak dapat melahirkan normal, misalnya pada kondisi harus
dilakukan operasi caesar.

 Lakukan olahraga ringan, seperti pemanasan otot, jalan kaki, atau bersepeda dengan
menggunakan sepeda statis. Hal ini untuk memperkuat otot panggul mengejan saat
melahirkan.

 Konsumsilah makanan bergizi seimbang untuk memenuhi gizi ibu dan janin, serta
mencegah berat badan berlebih. Kelebihan berat badan saat hamil berisiko
menyebabkan berat janin berlebih dan mempersulit proses persalinan.

 Persiapkan kebutuhan bayi, seperti baju, popok, dan botol susu. Siapkan pula kebutuhan
lain bagi ibu, misalnya bra menyusui. Masukkan barang-barang tadi ke dalam satu tas.
Dengan begitu, ibu tinggal membawa tas tersebut ketika tanda persalinan muncul.

Tanda-Tanda Jelang Melahirkan

Meski tanggal persalinan tidak dapat diketahui secara pasti, dokter akan memberikan perkiraan
tanggal persalinan. Perkiraan tanggal persalinan ini dapat maju atau mundur kurang lebih 2
minggu. Oleh sebab itu, penting bagi ibu untuk mengetahui tanda-tanda yang dirasakan ketika
janin akan lahir, seperti:
 Napas menjadi lebih ringan
Hal ini terjadi karena mulai turunnya kepala janin ke rongga panggul sehingga membuat
tekanan terhadap paru-paru berkurang.

 Keinginan untuk buang air kecil meningkat


Meningkatnya keinginan untuk buang air kecil dikarenakan janin menekan kandung
kemih. Selain buang air kecil, ibu juga dapat menjadi lebih sering buang air besar atau
bahkan sering mengalami diare.

 Keluar lendir
Keluarnya lendir bercampur darah dari vagina menandakan bahwa leher rahim (serviks)
sudah mulai membuka.

 Nyeri pada punggung bagian bawah yang hilang timbul


Nyeri punggung bisa muncul sendiri atau bersamaan dengan kontraksi. Rasa nyeri ini
juga dapat disertai sensasi kendur di sendi, terutama di area panggul.

 Kontraksi otot
Kontraksi otot rahim dapat muncul secara berkala tiap 10 menit. Kontraksi ini bisa
digambarkan seperti rasa mengencang di rahim atau seperti kram saat menstruasi
dengan intensitas dan frekuensi yang meningkat mendekati waktu persalinan.

 Keluar air ketuban


Keluarnya air ketuban terjadi akibat pecahnya selaput pelindung janin. Setelah air
ketuban keluar, janin harus dikeluarkan tidak lebih dari 24 jam.

Tahapan Sebelum Melahirkan Normal

Tahap sebelum melahirkan normal dalam dunia medis disebut dengan kala 1. Tahap ini terbagi
dalam 3 fase, yaitu fase awal (laten), fase aktif, dan fase transisi. Berikut adalah penjelasannya:

Fase laten

Fase laten berlangsung selama 8–12 jam. Fase ini ditandai dengan kontraksi ringan selama 30–
45 detik setiap 5–30 menit. Kontraksi ini kemudian berangsur-angsur menjadi lebih sering dan
intensitasnya meningkat. Pada fase laten, serviks akan membuka 3–4 cm secara bertahap.

Pada fase ini, ibu hamil disarankan untuk tetap tenang dan tidak perlu terburu-buru ke rumah
sakit. Ibu masih boleh melakukan aktivitas ringan di rumah, tetapi harus tetap menjaga asupan
nutrisi yang dibutuhkan dan mencatat kontraksi yang terjadi.

Fase aktif
Fase aktif berlangsung selama 3–5 jam, tetapi bisa lebih lama pada ibu yang baru pertama kali
hamil. Kontraksi pada fase ini berlangsung selama 45–60 detik setiap 3–5 menit. Pada fase aktif,
serviks membuka sekitar 4–7 cm.

Ibu hamil yang sudah memasuki fase aktif disarankan untuk segera ke rumah sakit. Dokter
akan mengukur tekanan darah, denyut nadi, dan suhu tubuh ibu hamil, serta memeriksa detak
jantung janin. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan panggul, untuk mengetahui sampai
sejauh mana proses kontraksi.

Bila diperlukan, dokter akan memberikan bius epidural untuk meredakan nyeri akibat kontraksi.

Fase transisi

Fase transisi berlangsung sekitar 30 menit sampai 2 jam. Kontraksi pada fase ini terasa kuat dan
terus menerus, serta menimbulkan nyeri tidak tertahankan. Pada fase transisi, serviks akan
membuka 8–10 cm.

Perlu diketahui, pada fase ini akan muncul desakan untuk mendorong janin agar segera ke luar.
Namun, jangan lakukan hal tersebut sebelum diminta oleh dokter. Mendorong janin sebelum
serviks terbuka sempurna dapat menyebabkan serviks membengkak dan memperlambat proses
persalinan.

Proses Melahirkan Normal

Proses melahirkan normal disebut juga dengan kala 2, yaitu ketika leher rahim telah terbuka
sempurna sebesar 10 cm. Proses melahirkan kala 2 bisa berlangsung 2 jam atau lebih.

Kontraksi pada tahap ini berlangsung sekitar 60–90 detik dan mereda tiap 2–5 menit. Setiap kali
kontraksi muncul, ibu akan merasakan desakan kuat untuk mengejan. Namun, perlu diingat,
mengejan sebaiknya hanya dilakukan ketika diminta oleh dokter.

Normalnya, bayi akan terdorong setiap kali terjadi kontraksi. Namun, jika janin tidak juga turun,
dokter akan menyarankan ibu untuk mengubah posisi menjadi jongkok, duduk, atau berlutut.
Bila kontraksi kurang kuat, dokter akan memberikan obat oksitosin untuk menguatkan kontraksi.

Selama proses kontraksi dan mengejan, kepala bayi akan mulai terlihat dari vagina. Pada tahap
ini, vagina dan perineum (area antara vagina dan anus) akan sangat meregang sehingga
menimbulkan nyeri seperti terbakar.

Untuk mempercepat proses persalinan dan mencegah perineum robek, dokter akan
melakukan episiotomi, yaitu tindakan memotong sebagian kecil perineum. Prosedur ini
didahului dengan pemberian bius lokal. Dokter akan menjahit kembali perineum setelah
persalinan selesai.
Setelah kepala bayi keluar dengan sempurna, dokter akan mengeluarkan darah, lendir, serta
cairan ketuban, dari mulut dan hidung bayi dengan alat khusus. Untuk sementara, ibu akan
diminta untuk berhenti mengejan. Jika tahap tersebut selesai, ibu akan diminta mengejan
kembali untuk mengeluarkan seluruh badan bayi.

Begitu seluruh tubuh bayi keluar, dokter akan menyerahkan bayi ke ibu. Selain untuk menjalin
ikatan yang kuat antara ibu dan bayi, hal ini juga dilakukan untuk inisiasi menyusui dini. Setelah
itu, dokter akan memotong tali pusat bayi.

Setelah bayi dilahirkan, ibu masih harus mengeluarkan ari-ari atau plasenta. Tahap ini disebut
dengan kala 3. Pada fase ini, kontraksi masih akan terjadi untuk melepas dan mengeluarkan
plasenta dari rahim. Fase ini bisa berlangsung sampai 20 menit.

Setelah seluruh jaringan plasenta telah keluar, dokter kandungan akan memberikan
obat oksitosin untuk meminimalkan perdarahan. Dokter
juga akan melakukan pemeriksaan jalan lahir untuk memastikan tidak ada ruptur perineum atau
robekan di jalan lahir.

Secara keseluruhan, waktu yang diperlukan untuk proses melahirkan normal dari kala 1 sampai
kala 3 adalah 12–24 jam. Pada ibu yang sudah pernah melahirkan normal sebelumnya, waktu
yang diperlukan umumnya lebih singkat.

Setelah Melahirkan Normal

Setelah melahirkan normal, ibu harus menjalani perawatan di rumah sakit selama 1–4 hari.
Tujuannya adalah untuk memulihkan kondisi ibu sebelum pulang, memantau kondisi ibu dan
bayi, serta memastikan tidak terjadi masalah setelah melahirkan. Setelah pulang ke rumah,
masih perlu dilakukan perawatan pascamelahirkan hingga kondisi ibu benar-benar pulih.

Ibu yang baru melahirkan normal disarankan agar menunggu sampai perdarahan selesai atau
sekitar 4–6 minggu sebelum kembali berhubungan seks. Hal ini untuk memastikan kondisi ibu
sudah benar-benar pulih. Sementara bagi ibu yang mengalami robekan vagina saat persalinan,
disarankan untuk menunggu lebih lama.

Beberapa kondisi yang dapat dialami oleh ibu setelah melahirkan normal adalah:

 Wasir, tetapi akan hilang dalam beberapa hari

 Mengompol saat tertawa atau batuk akibat otot panggul yang lemah

 Perdarahan pascamelahirkan (darah nifas atau lochia) yang bisa berlangsung sampai
beberapa minggu, kemudian mereda secara bertahap
 Keluarnya kolostrum, yaitu cairan kuning yang keluar sebelum ASI, diikuti keluarnya ASI
pada hari ketiga atau keempat setelah melahirkan

 Perut menggelambir akibat otot perut yang meregang sejak masa kehamilan, tetapi
dapat kembali normal secara bertahap dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang
dan rutin berolahraga

Anda mungkin juga menyukai