0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan40 halaman

Sistem Drainase dan Fungsinya

Dokumen ini membahas tentang drainase, termasuk definisi, sistem jaringan, fungsi, jenis, dan pola jaringan drainase. Drainase berfungsi untuk mengalirkan kelebihan air dari kawasan untuk mencegah genangan dan kerusakan, serta memiliki berbagai jenis dan sistem berdasarkan tujuan dan konstruksi. Selain itu, drainase juga penting dalam konteks perkotaan dan lingkungan untuk mendukung kesehatan dan estetika.

Diunggah oleh

jublinaalola
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan40 halaman

Sistem Drainase dan Fungsinya

Dokumen ini membahas tentang drainase, termasuk definisi, sistem jaringan, fungsi, jenis, dan pola jaringan drainase. Drainase berfungsi untuk mengalirkan kelebihan air dari kawasan untuk mencegah genangan dan kerusakan, serta memiliki berbagai jenis dan sistem berdasarkan tujuan dan konstruksi. Selain itu, drainase juga penting dalam konteks perkotaan dan lingkungan untuk mendukung kesehatan dan estetika.

Diunggah oleh

jublinaalola
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Drainase


Drainase berasal dari bahasa inggris yaitu drainage yang mempunyai arti
mengalirkan, menguras, membuang, atau mengalihkan air. Secara umum, drainase
dapat didefinisikan sebagai suatu tindakan teknis untuk mengurangi kelebihan air,
baik yang berasal dari air hujan, rembesan, maupun kelebihan air irigasi dari suatu
kawasan atau lahan. Sehingga fungsi kawasan atau lahan tidak terganggu. System
drainase dapat didefinisikan sebagai serangkaian bangunan air yang berfungsi
untuk mengurangi atau membuang kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan,
sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal (Suripin, 2004).
Drainase merupakan sebuah sistem yang dibuat untuk menangani persoalan
kelebihan air, kelebihan air yang berada di atas permukaan tanah maupun kelebihan
air yang berada di permukaan tanah. Kelebihan air dapat disebabkan oleh intensitas
hujan yang tinggi atau akibat dari durasi hujan yang lama. Secara umum drainase
didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang usaha mengalirkan air yang
berlebihan pada suatu kawasan (Wesli, 2008).
Drainase secara umum didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang
mempelajari usaha untuk mengalirkan air yang berlebihan dalam suatu konteks
pemanfaatan tertentu. Drainase perkotaan atau terapan adalah ilmu drainase yang
diterapakan mengkhususkan pengkajian pada kawasan perkotaan yang erat
dikaitkan dengan kondisi lingkungan sosial budaya yang ada di kawasan kota
(Haling Hasmar, 2012).
Drainase perkotaan atau terapan merupakan system pengiringan dan
pengiringan air dari wilayah perkotaan yang meliputi:
1. Permukiman
2. Kawasan industri dan perdagangan
3. Kampus dan sekolah
4. Rumah sakit dan fasilitas umum
5. Lapangan olahraga
6. Lapangan parkir

4
7. Instalasi militer, listrik, telokomunikasi
8. pelabuhan

2.2 Sistem Jaringan Drainase


Sistem jaringan drainase merupakan bagian dari infrastruktur pada suatu
kawasan. Drainase masuk pada kelompok infrastruktur air pada pengelompokkan
infrastruktur wilayah, selain itu ada kelompok jalan, kelompok sarana transportasi,
kelompok pengelolaan limbah, kelompok bangunan kota, kelompok energi dan
kelompok telekomunikasi (Suripin, 2004).
Air hujan yang jatuh di suatu kawasan perlu dialirkan atau dibuang dengan
cara pembuatan saluran yang dapat menampung air hujan yang mengalir di
permukaan tanah tersebut, selanjutnya dialirkan ke sistem yang lebih besar.
Bagian infrastruktur (sistem drainase) dapat didefinisikan sebagai
serangkaian bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi dan/atau membuang
kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan, sehingga lahan dapat difungsikan
secara optimal. Ditinjau dari hulunya, bangunan sistem drainase terdiri dari saluran
penerima (interseptor drain), saluran pengumpul (colector drain), saluran
pembawa (conveyor drain), saluran induk (main drain) dan badan air penerima
(receiving waters). Di sepanjang sistem sering dijumpai bangunan lainnya, seperti
gorong-gorong, siphon, jembatan air (aquaduct), pelimpah, pintu-pintu air,
bangunan terjun, kolam tandon dan stasiun pompa. Pada sistem drainase yang
lengkap, sebelum masuk ke badan air penerima air diolah dahulu pada Instalasi
Pengolah Air Limbah (IPAL), khususnya untuk sistem tercampur. Hanya air yang
telah memiliki baku mutu tertentu yang dimasukan ke dalam badan air penerima
biasanya sungai, sehingga tidak merusak lingkungan (Suripin, 2004).
Kriteria desain drainase perkotaan memiliki kekhususan, serta untuk
perkotaan ada tambahan variabel desain seperti:
1. Keterkaitan dengan tata guna lahan.
2. Keterkaitan dengan masterplan drainase kota.
3. Keterkaitan dengan masalah sosial budaya.
Selain untuk pengeringan tanah atau menghambat terjadinya banjir, drainase
dapat juga berfungsi untuk:

5
1. Pertanian
Tanah yang terlalu basah seperti rawa misalnya tidak dapat ditanami. Untuk
dapat digunakan sebagai lahan pertanian, tanah rawa yang selalu basah perlu
dikeringkan.
2. Bangunan
Untuk mendirikan bangunan (gedung, dan jalan lapangan terbang) diatas tanah
yang basah perlu drainase agar tanah menjadi kering dan daya dukung tanah
menjadi bertambah sehingga dapat mendukung beban bangunan diatasnya.
3. Kesehatan
Tanah yang digenangi air dapat menjadi tempat berkembangbiaknya nyamuk,
sehingga perlu dikeringkan dengan sistem jaringan drainase. Pada tanah kering
telur dan larva nyamuk tidak hidup. Sedangkan dari ilmu kesehatan gas-gas
yang terdapat dirawa seperti gas methan tidak baik untuk kesehatan, sehingga
tanah sekitar permukiman perlu dikeringkan.
4. Lansekap
Untuk pemandangan yang baik, tanah basah/berair harus dikeringkan sehingga
dapat ditanami rumput atau tanaman-tanaman hias lainnya.

2.3 Fungsi Saluran Drainase


Menurut Wesli (2008) Dalam sebuah drainase digunakan saluran sebagai
sarana pengaliran air yang terdiri dari saluran interceptor, saluran cellector dan
saluran conveyor, Masing-masing saluran mempunyai fungsi yang berbeda yaitu:
1. Saluran penerima (Interceptor)
Yakni saluran yang berfungsi sebagai pencegah terjadinya pembebanan aliran
dari suatu daerah terhadap daerah lain di bawahnya.

Gambar 2.1 Posisi Saluran Interceptor.


(Sumber : Wesli, 2008)

6
2. Saluran pengumpul (Collector)
Saluran kolektor berfungsi sebagai pengumpul aliran dari saluran drainase
yang lebih kecil, misalnya saluran interseptor.

Gambar 2.2 Posisi Saluran Collector


(Sumber : Wesli, 2008)
3. Saluran Pembawa (Conveyor)
Saluran konveyor adalah saluran yang berfungsi sebagai saluran pembawa
seluruh air buangan dari suatu daerah ke lokasi pembuang, misalnya ke sungai
tanpa membahayakan daerah yang dilaluinya.

Gambar 2.3 Posisi Saluran Conveyor


(Sumber : Wesli, 2008)

2.4 Jenis Drainase


Drainase memiliki banyak jenis dan jenis drainase tersebut dilihat dari
berbagai aspek (Wesli 2008). Adapun jenis-jenis saluran drainase dapat dibedakan
sebagai berikut:

2.4.1 Menurut Sejarah Terbentuknya


Drainase menurut sejarahnya terbentuk dalam berbagai cara, berikut ini cara
terbentuknya drainase :

7
1. Drainase Alamiah (Natural Drainage)
Drainase alamiah terbentuk melalui proses alamiah yang berlangsung lama.
Saluran drainase terbentuk akibat gerusan air sesuai dengan kontur tanah.
Drainase alamiah ini terbentuk pada kondisi tanah yang cukup
kemiringannya, sehingga air akan mengalir dengan sendirinya, masuk ke
sungai-sungai. Pada tanah yang cukup poreous, air yang ada di permukaan
tanah akan meresap ke dalam tanah (infiltrasi)

Gambar 2.4 Drainase Alamiah Pada Saluran Air


(Sumber : Diny Setyanti 2014)

Air yang meresap berubah menjadi aliran antara (subsurface flow) mengalir
menuju sungai, dan dapat juga mengalir masuk ke dalam tanah (perkolasi)
hingga ke air tanah yang kemudian bersama-sama dengan air tanah mengalir
sebagai aliran air tanah menuju sungai.
2. Drainase Buatan (Artificial Drainage)
Drainase buatan adalah sistem yang dibuat dengan maksud tertentu dan
merupakan hasil rekayasa berdasarkan hasil hitungan-hitungan yang
dilakukan untuk upaya penyempurnaan atau melengkapi kekurangan sistem
drainase alamiah. Pada sistem drainase buatan memerlukan biaya-biaya baik
pada perencanaannya maupun pada pembuatannya.

Gambar 2.5 Drainase Buatan


(Sumber : Tsipilunikom, 2013)

8
2.4.2 Menurut Sistem Pengalirannya
1. Drainase Dengan Sistem Jaringan
Yakni suatu sistem pengeringan atau pengaliran air pada suatu kawasan yang
dilakukan dengan mengalirkan air melalui sistem tata saluran dengan
bangunan-bangunan pelengkapnya.
2. Drainase Dengan Sistem Resapan
Yakni sistem pengeringan atau pengaliran air yang dilakukan dengan
menerapkan air ke dalam tanah. Cara resapan ini dapat dilakukan langsung
terhadap genangan air di permukaan tanah ke dalam tanah atau melalui
sumuran/resapan.

2.4.3 Menurut Tujuan Atau Sasarannya


1. Drainase Perkotaan
Yakni pengeringan atau pengaliran air dari wilayah perkotaan ke sungai yang
melimpah wilayah perkotaan tersebut sehinggan wilayah perkotaan tidak
digenangi air.
2. Drainase Daerah Pertanian
Yakni pengeringan atau pengaliran air di daerah pertanian baik di persawahan
maupun daerah sekitarnya yang bertujuan untuk mencegah kelebihan air agar
pertumbuhan tanaman tidak terganggu.
3. Drainase Lapangan Terbang
Yakni pengeringan atau pengaliran air di kawasan lapangan terbang terutama
pada runway dan taxiway sehingga kegiatan penerbangan baik takeoff,
landing maupun taxing tidak terhambat.
4. Drainase Jalan Raya
Yakni pengeringan atau pengaliran air di permukaan jalan yang bertujuan
untuk menghindari kerusakan pada badan jalan dan menghindari kecelakaan
lalu lintas.
5. Drainase Jalan Kereta Api
Yakni pengeringan atau pengaliran di sepanjang jalur rel kereta api yang
bertujuan untuk menghindari kerusakan pada jalur rel kereta api.

9
6. Drainase Pada Tanggul Dan Dam
Yakni pengaliran air daerah sisi luar tanggul dan dam yang bertujuan untuk
mencegah keruntuhan tanggul dan dam akibat erosi rembesan aliran air.
7. Drainase Lapangan Olahraga
Yakni pengeringan atau pengaliran air pada suatu lapangan olahraga seperti
lapangan bola kaki dan lainnya agar kegiatan tersebut tidak terganggu
meskipun dalam kondisi hujan.
8. Drainase Untuk Keindahan Kota
Yakni bagian dari drainase perkotaan, namun pembuatan drainase ini lebih
ditujukan lebih pada sisi estetika seperti tempat rekreasi dan lainnya.
9. Drainase Untuk Kesehatan Lingkungan
Yakni bagian dari drainase perkotaan, di mana pengeringan dan pengaliran
air bertujuan untuk mencegah genangan yang dapat menimbulkan wabah
penyakit.
10. Drainase Untuk Penambahan Areal
Yakni pengeringan atau pengaliran air pada daerah rawa ataupun laut yang
tujuannya sebagai upaya untuk menambah areal.

2.4.4 Menurut Letak Saluran


Saluran drainase menurut letak bangunannya terbagi dalam beberapa bentuk,
berikut ini bentuk drainase menurut letak bangunannya:
1. Drainase Permukaan Tanah (Surface Drainage)
Yakni system drainase yang salurannya berada di atas permukaan tanah yang
pengaliran air terjadi karena adanya beda tinggi permukaan saluran (Slope).
2. Drainase Bawah Permukaan Tanah (Sub Surfacedrainage)
Saluran ini bertujuan mengalirkan air limpasan permukaan melalui media
dibawah permukaan tanah (pipa-pipa) karena alasan-alasan tertentu. Alasan
itu antara lain tuntutan artistik, tuntutan fungsi permukaan tanah yang tidak
membolehkan adanya saluran di permukaan tanah seperti lapangan sepak
bola, lapangan terbang, taman dan lain-lain.

10
2.4.5 Menurut Fungsi Drainase
Drainase berfungsi mengalirkan air dari tempat yang tinggi ke tempat yang
rendah, berikut ini jenis drainase menurut fungsinya :
1. Single Purpose
Yakni saluran yang berfungsi mengalirkan satu jenis air buangan, misalnya
air hujan saja atau jenis air buangan yang lain.
2. Multipurpose
Yakni saluran yang berfungsi mengalirkan beberapa jenis air buangan baik
secara bercampur maupun bergantian, misalnya mengalirkan air buangan
rumah tangga dan air hujan secara bersamaan.

2.4.6 Menurut Konstruksi


Dalam merancang sebuah drainase terlebih dahulu harus tahu jenis kontruksi
drainase seperti apa yang harus dibuat, berikut ini drainase menurut konstruksi.
1. Saluran Terbuka
Yakni saluran yang konstruksi bagian atasnya terbuka dan berhubungan
dengan udara luar. Saluran ini lebih sesuai untuk drainase hujan yang terletak
di daerah yang mempunyai luasan yang cukup, ataupun drainase non hujan
yang tidak membahayakan kesehatan/mengganggu lingkungan.
2. Saluran Tertutup
Yakni saluran yang konstruksi bagian atasnya tertutup dan saluran ini tidak
berhubungan dengan udara luar. Saluran ini sering digunakan untuk aliran-
aliran kotor atau untuk saluran yang terletak di tengah kota.

2.5 Pola Jaringan Drainase


Menurut Wesli (2008) Pola jaringan drainase dapat dibedakan sebagai
berikut:
1. Pola Siku
Pola siku adalah suatu pola dimana saluran cabang membentuk siku-siku pada
saluran utama. Biasanya dibuat pada daerah yang mempunyai tofografi
sedikit lebih tinggi dari pada sungai dimana sungai merupakan saluran
pembuang utama yang berada di tengah kota seperti Gambar 2.6 berikut.

11
`
Gambar 2.6 Pola Jaringan Siku
(Sumber : Ato Basahona, 2018)
2. Pola Parallel
Pola paralel adalah suatu pola dimana saluran utama terletak sejajar dengan
saluran cabang yang pada bagian akhir saluran cabang dibelokan menuju
saluran utama. Pada pola parallel saluran cabang cukup banyak dan pendek-
pendek seperti Gambar 2.7 berikut.

Gambar 2.7 Pola Jaringan Parallel


(Sumber : Ato Basahona, 2018)
3. Pola Grid Iron
Pola grid iron adalah pola jaringan drainase dimana sungai terletak
dipinggiran kota sehingga saluran-saluran cabang dikumpulkan dulu pada
saluran pengumpul kemudian dialirkan pada sungai seperti Gambar 2.8
berikut.

Gambar 2.8 Jaringan Grid Iron


(Sumber : Ato Basahona, 2018)

12
4. Pola Alamiah
Pola alamiah adalah suatu pola jaringan drainase yang hampir sama dengan
pola siku dimana sungai sebagai saluran berada ditengah kota, namun
jaringan saluran cabang tidak terlalu terbentuk siku terhadap saluran utama
atau sungai seperti Gambar 2.9 berikut.

Gambar 2.9 Pola Jaringan Alamiah


(Sumber : Ato Basahona, 2018)
5. Pola radial
Pola radial adalah pola jaringan drainase yang mengalirkan air dari pusat
sumber air memencar ke berbagai arah, pola ini sangat cocok digunakan pada
daerah yang bukit seperti diperlihatkan pada Gambar 2.10 berikut.

Gambar 2.10 Pola Jaringan Radial


(Sumber : Ato Basahona, 2018)
6. Pola Jaring-Jaring
Pola jaring-jaring adalah pola drainase yang mempunyai saluran-saluran
pembuang mengikuti arah jalan raya. Pola ini sangat cocok untuk daerah yang
topografinya datar.

Gambar 2.11 Pola Jaringan Jaring-Jaring


(Sumber : Ato Basahona, 2018)

13
2.6 Macam-Macam Bentuk Penampang Saluran Drainase
1. Bentuk Trapesiun
Pada umumnya saluran air drainase memiliki bentuk trapesium yang berbuat
dari tanah. Namun tidak menutup kemungkinan dapat di buat dari pasangan
batu atau beton. Bentuk trapesium tersebut berfungsi untuk menampung dan
menyalurkan limpasan air hujan yang memiliki debit yang besar ( Hasmar,
2012).

Gambar 2.12 Bentuk Rapesiun


(Sumber : Ato Basahona, 2018)
2. Bentuk Persegi
Saat ini pembuatan saluran air sistem drainase sering menggunakan beton
berbentuk persegi. Saluran berbentuk persegi ini biasa terbuat dari pasangan
batu dan beton. Menampung dan mengalurkan limpasan air hujan dengan
debit yang besar menjadi fungsi utama dari saluran air bentuk persegi ini
(Hasmar, 2012).

Gambar 2.13 Bentuk Persegi


(Sumber : Ato Basahona, 2018)
3. Bentuk Segitiga
Memiliki bentuk yang cukup aneh dimana hanya memiliki dua sisi saja yang
menghadap ke tanah membuat saluran air berbentuk segitiga ini sangat jarang
digunakan. Saluran segitiga hanya digunakan pada kondisi tertentu saja
dimana hanya berfungsi untuk menempung dan menyalurkan limpasan air
huja dengan debit kecil (Hasmar, 2012).

14
Gambar 2.14 Bentuk Segitiga
(Sumber : Ato Basahona, 2018)
4. Setengah Lingkaran
Saluran ini terbuat dari pasangan batu atau dari beton dengan cetakan yang
telah tersedia. Saluran ini berfungsi untuk menampung dan menyalurkan
limpasan air hujan serta air buangan domestik dengan debit yang bersar
(Hasmar, 2012).

Gambar 2.15 Bentuk Setengah Lingkaran


(Sumber : Ato Basahona, 2018)

2.7 Analisa Hidrologi


Analisa hidrologi merupakan salah satu bidang yang sangat rumit dan
kompleks. Hal ini ditimbulkan karena adanya ketidaktentuan pada hidrologi,
keterbatasan teori, rekaman data, dan keterbatasan ekonomi. Hal ini dipersulitkan
karena kecendrungan hujan yang bisa terjadi kapan saja, yang berarti
memperkirakan dengan tepat seberapa besar hujan yang jatuh dalam jangka waktu
tertentu adalah suatu hal yang mustahil (Suripin, 2004).

2.7.1 Siklus Hidrologi


Kumpulan proses pergerakan air di alam yang terjadi secara konstan
dinamakan siklus hidrologi. Secara kronologis siklus hidrologi dimulai dari
bergeraknya air ke udara, selanjutnya jatuh ke permukaan laut atau daratan, air yang
mengalir di permukaan atau di dalam tanah akan kembali lagi ke laut atau langsung

15
menguap. Dalam siklus hidrologi terdapat empat macam proses yang harus
dimengerti :
1. Presipitasi merupakan kondisi dimana uap air di atmosfer kembali ke
permukaan laut atau tanah setelah terkondensasi dalam bentuk salju, kabut,
embun ataupun hujan.
2. Evaporasi yaitu perubahan wujud air yang bersumber dari berbagai
permukaan badan air menjadi udara
3. Infiltrasi yaitu proses terserapnya air ke dalam tanah
4. Limpasan air tanah (subsurface runoff) dan limpasan permukaan (surface run
off).
Berikut adalah skema setiap proses yang terjadi dalam siklus hidrologi.

Gambar 2.16 Siklus Hidrologi


(Sumber : Sumantri, 2010)

2.7.2 Curah Hujan


Daerah Curah hujan sangat dibutuhkan dalam proses perencanaan sebuah
sistem infrastruktur pengairan. Data hujan didapatkan dari alat penakar untuk hujan
yang terjadi hanya pada satu titik tempat saja (point rainfall). Untuk daerah yang
lebih luas tidak cukup hanya menempatkan satu penakar hujan pada wilayah
tersebut, untuk itu diperlukan data curah hujan rata-rata dari beberapa stasiun di
kawasan tersebut. Umumnya terdapat tiga metode yang digunakan dalam
perhitungan curah hujan rata-rata.
1. Metode Rata-Rata Aljabar
Metode ini mengamsusikan bahwa seluruh penakar hujan yang terpasang
berpengaruh setara satu sama lain. Metode ini dapat digunakan pada kawasan
yang memiliki topografi datar, alat penakar hujan yang merata, dan harga

16
individual curah hujan menedekati dengan harga rata-ratanya. Hujan kawasan
dapat dihitung dengan persamaan:
𝑃1+𝑃2+𝑃3…𝑃𝑛 ∑𝑛
𝑖 =1 Pi
P= = (2.1)
𝑛 𝑛

Keterangan :
P = curah hujan daerah maksimum setahun (mm)
N = jumlah stasiun hujan
Pn = data curah hujan harian maksimum setahun di stasiun-stasiun
hujan (mm)
2. Metode Poligon Thiessen
Metode ini mengidentifikasi skala luasan wilayah imbas pos penakar hujan
sehingga jarak yang tidak seragam dapat disetarakan. Garis tegak lurus
terhadap garis penghubung mendeskripsikan dua pos penakar terdekat beserta
wilayah imbasnya. Metode ini mengasumsikan variasi hujan antara dua pos
adalah linear dan pos manapun dapat merepresentasikan daerah terdekat.
Adapun mekanisme yang digunakan adalah :
a. Membuat plot lokasi dan garis penghubung antara dua pos penakar hujan
pada peta Daerah Aliran Sungai (DAS).
b. Membentuk poligon Thiessen dengan cara membuat garis tegak lurus di
antara tiap garis penghubung. Seluruh titik dalam tiap poligon jaraknya
akan berdekatan dengan pos penakar. Setelah itu, curah hujan pada pos
tadi merepresentasikan hujan di kawasan poligon tersebut.
c. Menggunakan planimeter untuk mengukur luas area poligon serta luas
area total Daerah Aliran Sungai (DAS).
Hujan rata-rata DAS dapat diketahui dengan persamaan berikut:
𝑃1𝐴1+𝑃2𝐴2+𝑃3𝐴3…..𝑃𝑛𝐴𝑛 ∑𝑛
𝑖 =1 PiAi
P= = (2.2)
𝐴1+𝐴2+𝐴3…..𝐴𝑛 𝐴𝑖
Keterangan :
P = Curah hujan daerah maksimum setahun (mm)
A = Luas daerah (ha, m2 , km2 )
An = Luas daerah pengaruh tiap stasiun hujan (ha, m2 , km2 )
Pn = Data curah hujan harian maksimum setahun ditiap stasiun hujan
(mm)

17
3. Metode Isohyet
Metode ini secara aktual memperhitungkan masing-masing pos penakar
hujan. Dengan kata lain, metode ini menduga bahwa masing-masing pos
penakar mencatat kedalaman yang sama. Berikut beberapa Langkah
menggunakan metode isohyet. Metode Isohyet terdiri dari beberapa langkah
sebagai berikut:
a. Menentukan kedalaman air hujan untuk setiap pos penakar pada peta.
b. Menggambar kontur yang menghubungkan setiap titik dengan
kedalaman air yang sama. Dengan interval isohyet 10 mm.
c. Menghitung luas area dengan menggunakan planimeter di antara dua
garis isohyet.
d. Untuk dua isohyet yang berdekatan kalikan tiap luas area dengan nilai
rata-rata hujan.
e. Nilai hujan rata-rata pada DAS dapat ditentukan berdasarkan persamaan:
𝑃1+𝑃2 𝑃2+𝑃3 𝑃𝑛−1+𝑃𝑛
A1(
2
)+A2(
2
)+⋯ An−1(
2
) ∑𝑛
𝑖=1 PiAi
P = = (2.3)
𝐴1+𝐴2+⋯𝐴𝑛−1 𝐴𝑖
Atau
𝑃1+𝑃2
∑ [A( )]
2
P= ∑A
Metode ini selalu digunakan pada kawasan yang tidak teratur seperti
daerah perbukitan.

2.7.3 Analisa Frekuensi Dan Probabilitas


Kemungkinan terjadinya hujan dengan suatu besaran tertentu disebut
frekuensi hujan. Sedangkan waktu hipotetik hujan yang menggunakan besaran
tertentu disebut kala ulang (Suripin, 2004). Sistem drainase perkotaan dengan area
10-100 Ha sesuai dengan kareakteristik suatu desain hidrologi menggunakan
periode ulang dua sampai lima tahun yang berarti satu kali dalam lima tahun terjadi
curah hujan terbesar atau kala ulang eksklusif yang setara atau melampaui curah
hujan rancangan. Terdapat empat metode yang dapat menghitung kala ulang
rencana yaitu distribusi normal, distribusi log normal, distribusi log person tipe III,
dan distribusi gumbel. Terdapat persyaratan parameter pada setiap metode
ditunjukkan pada Tabel 2.2 dibawah ini.

18
Tabel 2.2 Persyaratan Parameter Statistic Suatu Distribusi
No Distribusi Persyratan
1 Gunbel Cs = 1,14
Ck = 5,4
2 Normal Cs = 0
Ck = 3
3 Log Normal Cs = Cv3+3Cv
Ck = Cv8+6Cv6+15Cv4+16Cv2+3
4 Log Person Type III Selain dari nilai di atas
(Sumber : Bambang, 2008)
Keterangan tabel 2.2:
𝑛
∑ (xi− x̅)3
 Koefisien Kepencengan (Cs) = √(n−1)(n−
𝑖=1
2)s3

𝑛
∑ (xi− x̅)4
 Koefisien Kortosis (Ck) = √(n−1)(n−
𝑖=1
2) (n−3)s4

∑𝑛
𝑖=1 xi
 x̅ = nilai rata-rata X = n
𝑛
∑ (xi− x̅)2
 Standar Deviasi (S) = √ 𝑖=1n−1

1. Distribusi Normal
Data yang digunakan dalam perhitungan adalah sampel maka hujan rencana
ditentukan dengan persamaan berikut.
𝑋𝑇 = x̅ + 𝐾𝑇 xS (2.4)
Keterangan:
XT = Hujan rencana dengan periode ulang T tahun
x̅ = Nilai rata-rata dari data hujan (X) mm
KT = Standar deviasi dari data hujan (X)mm
S = Faktor frekoensi, nilainya tergantung dari nilai T (lihat Tabel 2.3
nilai variable reduksi gaus).
Tabel 2.3 Nilai Variabel Reduksi Gauss
No Periode Ulang T Puluang KT
(Tahun)
1 1,001 0.999 -3.05
2 1.005 0.995 -2.58
3 1.010 0.990 -2.33
4 1.050 0.950 -1,64
5 1.110 0.900 -1.28
6 1.250 0.800 -0.84
7 1.330 0.750 -0.67
8 1.430 0.700 -0.52

19
Tabel 2.3 (Lanjutan)
9 1.670 0.600 -0.25
10 2.000 0.500 0
11 2.500 0.400 0.25
12 3.330 0.300 0.52
13 4.000 0.025 0.67
14 5.000 0.200 0.84
15 10.000 0.100 1.28
16 20.000 0.050 1.64
17 50.000 0.020 2.05
18 100.000 0.010 2.33
19 200.000 0.005 2.58
20 500.000 0.002 2.88
(Sumber : Suripin, 2004)
2. Distribusi Log Normal
Perhitungan dimana data yang digunakan dalam menentukan hujan rencana
berupa sampel:
Log 𝑋𝑇 = Log X + 𝐾𝑇 × S log X (2.5)
Keterangan :
Log 𝑋𝑇 = Nilai logaritma hujan rencana dengan periode ulang T
∑𝑛
𝑖=1 log Xi
Log X = nilai rata-rata dari Log X =√ n
𝑛
∑𝑖=1(log Xi−logX)2
S log X = Nilai rata-rata populasi X = √ n−1
𝐾𝑇 = Faktor frekuensi, nilainya tergantung dari nilai T ( lihat table
variable reduksi gauss pada Tabel 2.4

Tabel 2.4 Faktor Frekuensi Kt Untuk Distribusi Log Pearson Type III
Periode Ulang (Tahun)
Koef. G 1,0101 1,2500 2 5 10 25 50 100
Peluang (%)
99 80 50 20 10 4 2 1
3.0 -0.667 -0.636 -0.396 0.420 1.180 2.278 3.152 4.051
2.8 -0.714 -0.666 -0.384 0.460 1.210 2.275 3.144 3.973
2.6 -0.769 -0.696 -0.368 0.499 1.238 2.267 3.071 2.889
2.4 -0.832 -0.725 -0.351 0.537 1.262 2.256 3.023 3.800
2.2 -0.905 -0.752 -0.330 0.574 1.284 2.240 2.970 3.705
2.0 -0.990 -0.777 -0307 0.609 1.302 2.219 2.192 3.605
1.8 -1.087 -0.799 -0282 0.643 1.318 2.193 2.848 3.499
1.6 -1.197 -0.817 -0.254 0.675 1.329 2.163 2.780 3.388
1.4 -1.318 0.832 0.225 0.705 1.337 2.128 2.076 3.271
1.2 -1.449 -0.844 -0.195 0.732 1.340 2.087 2.626 3.149
0.4 -2.615 -0816 0.066 0.855 1.231 1.606 1.834 2.029
-0.6 -2.755 -0.800 0.099 0.857 1.200 1.528 1.720 1.880

20
Tabel 2.4 (lanjutan)
-0.8 -2.891 -0.78 0.132 0.856 1.166 1.448 1.606 1.733
-1.0 -3.022 -0.758 0.164 0.852 1.086 1.366 1.492 1.588
-1.2 -2.149 -0.732 0.195 0.844 1.086 1.282 1.379 1.449
-1.4 -2.271 -0.705 0.225 0.832 1.041 1.198 1.270 1.318
-1.6 -2.238 -0.675 0.254 0.817 0.994 1.116 1.166 1.197
-1.8 -3.499 -0.643 0.282 0.799 0.945 1.305 1.069 1.087
-2.0 -3.065 -0.609 0.307 0.777 0.895 0.959 0.980 0.990
-2.2 -3.705 -0.674 0.330 0.752 0.844 0.888 0.900 0.905
-2.4 -3.800 -0.532 0.351 0.725 0.795 0.823 0.823 0.832
-2.6 -3.889 -0.490 0.368 0.696 0.747 0.764 0.768 0.796
-2.8 -3.973 -0.469 0.384 0.666 0.702 0.712 0.714 0.714
(Sumber : Suripin, 2004)
3. Distribusi Log-Person III
Berdasarkan distribusi log-person tipe III, apabila data yang digunakan dalam
perhitungan hujan rencana berupa sampel maka persamaannya menjadi:
Log 𝑋𝑇 = Log X + 𝐾𝑇 × Slog X (2.6)

Keterangan :
Log 𝑋𝑇 = Nilai logaritma hujan rencana dengan periode ulang T
∑𝑛
𝑖=1 log Xi
Log X = nilai rata-rata dari Log X =√ n

𝑛
∑𝑖=1(log Xi−logX)2
S log X = Nilai rata-rata populasi X = √ n−1

𝐾𝑇 = Faktor frekuensi, nilainya tergantung dari nilai T ( lihat table


variable reduksi gauss pada Tabel 2.4
4. Distribusi Gumbel
Berdasarkan distribusi gumbel, Dalam menghitung hujan rencana apabila
data yang digunakan berupa sampel maka dapat dihitung dengan persamaan
berikut:
XT = x̅ + S × K (2.7)
Keterangan :
XT = Hujan rencana atau debit dengan kala ulang T
x̅ = Nilai rata-rata dari data hujan (X)
S = Standar deviasi dari data hujan (X)

21
𝑌𝑡−𝑌𝑛
K = Faktor Frekoensi Gumbel : 𝐾 = 𝑆𝑛
𝑇−1
YT = Reduced Variabel = - In 𝑇

Nilai Ytr bisa ditentukan berdasarkan (Tabel 2.5)


Sn = Reduced standar deviasi (Tabel 2.6)
Yn = Reduced Mean (Tabel 2.6)
Tabel 2.5 Nilai Reduced Variate (Ytr)
Periode Ulang T Ytr
(tahun)
2 0.3056
5 1.4999
10 2.2504
20 2.9702
25 3.1255
50 3.9019
100 4.6001
(Sumber : Soeharto, 19987)

Tabel 2.6 Nilai Reduced Standar Deviation (Sn) dan Nilai Reduced
Mean
n Sn Yn n Sn Yn
10 0.9497 0.4952 60 1.1750 0.5521
15 1.0210 0.5128 70 1.1850 0.5548
20 1.0910 0.5236 80 1.1940 0.5567
30 1.1120 0.5390 90 1.2010 0.5586
35 1.1280 0.5403 100 1.2060 0.5600
40 1.1410 0.5436 200 1.2360 0.5672
45 1.1520 0.5463 500 1.2590 0.5724
50 1.1610 0.5485 1000 1.2690 0.5745
(Sumber : Soeharto, 19987)
2.7.4 Uji Kecocokan
Distribusi Saat melakukan uji kecocokan distribusi sampel data (the
goodness of fittest test) terhadap fungsi distribusi peluang dimana distribusi
frekuensi tersebut terwakili diperlukan adanya parameter. Pengujian parameter
yang umum digunakan yaitu Uji Chi-kuadrat dan Smirnov-Kolmogrov (Suripin,
2004).
1. Uji Chi-Kuadrat

22
Dalam menentukan apakah distribusi data statistik sampel dapat mewakili
persamaan distribusi yang digunakan, maka dilakukan uji chi-kuadrat.
Pengambilan keputusan uji chi-kuadrat menggunakan parameter x2, dimana
dapat ditentukan dengan persamaann berikut :
𝑘
(𝑂𝑓 −𝐸𝑓 ) 2
X2 = ∑ (2.8)
𝐸𝑓
𝑖=1

Keterangan :
X 2 = Parameter Chi-Kuadrat terhitung
Ef = Frekuensi yang diharapkan sesuai dengan pembangian kelasnya
𝑂𝑓 = Frekuensi yang diamati pada kelas yang sama
𝐸𝑓 = jumlah sup kelompok
Derajat nyata atau derajat kepercayaan (α) tertentu yang sering diambil adalah
5%. Derajat kebebasan (DK) dihitung dengan persamaan berikut :
DK = K-(P+1) (2.9)
K = 1+3,3 log n
Keterangan :
DK = Derajat kebebasan
K = Jumlah kelas distribusi
P = Banyaknya parameter untuk Uji-Chi Kuadrat adalah 2
n = banyaknya data
Setelah itu dalam menentukan distribusi curah hujan rencana yang digunakan
yaitu distribusi yang memiliki simpangan maksimum (X2) lebih kecil dari
simpangan kritisnya (X 2 cr), sesuai dengan persamaan berikut :
X 2 < 𝑋 2 cr (2.10)
Keterangan :
X2 = Parameter Chi-Kuadrat terhitung
X 2 cr = Parameter Chi-Kuadrat kritis (Tabel 2.7)
Dalam melakukan uji chi-kuadrat dilakukan langkah-langkah yaitu:
a. Mengurutkan data pengamatan dari kecil ke besar atau sebaliknya
b. Menghitung jumlah kelas
c. Menghitung parameter X2cr dan DK
d. Menghitung kelas distribusi

23
e. Menghitung interval kelas
f. Menghitung parameter X2
g. Menbandingkan nilai X 2 terhadap X 2 cr.
Tabel 2.7 Nilai Parameter Chi-Kuadrat Kritis
DK α (Derajat Kepercayaan)
0,995 0,99 0,975 0,95 0,05 0,025 0,01 0,005
1 0,000039 0,00013 0,000098 0,0039 3841 5024 6635 7879
2 0,01 0,0201 0,0506 0,103 5991 7378 9210 10597
3 0,0717 0,115 0,216 0,352 7815 9348 11345 12838
4 0,207 0,297 0,484 0,711 9488 11143 13277 14860
5 0,412 0,554 0,831 1154 11070 12832 15086 16750
6 0,676 0,872 1237 1635 12592 14449 16812 18548
7 0,989 1239 1690 2167 14067 16013 18475 20278
8 1344 1646 2180 2733 15507 17535 20090 21955
9 1735 2088 2700 3325 16919 190234 21666 23589
10 2156 2558 3247 3940 18307 20483 23209 2599
11 2603 3053 3816 4575 19675 21920 24725 26757
12 3074 3571 4404 5226 21026 23337 26712 28300
13 3565 4107 5009 5892 22362 24736 27688 29819
14 4075 4660 5629 6571 23685 26119 29141 31319
15 4601 5229 6262 7261 24996 27488 30578 32801
16 5142 5812 6908 7962 26296 28845 32000 34267
17 5697 6408 7564 8672 27587 30191 33409 35718
18 6265 7015 8231 9390 28869 31526 34805 37156
19 6844 7633 8907 10117 30144 32852 36191 38582
20 7434 8260 9591 10851 31410 34170 37566 39997
21 8034 8897 10283 11591 36271 35479 38932 41401
22 8643 9542 10982 12338 33924 36781 40289 42796
23 9260 10196 11689 13091 36172 38076 41638 44181
24 9886 10856 12401 13848 36415 39364 42980 45558
25 10520 11524 13120 14611 37652 40646 44314 46928
26 11160 12918 13844 15379 38885 41923 45642 48290
27 11808 12879 14573 16151 40113 43194 46963 49645
28 12641 13565 15308 16928 41337 44461 48278 50993
29 13121 14256 16047 17708 42557 45722 46588 52336
30 13787 14953 16791 18493 43773 46979 50892 53672
(Sumber : Suripin, 2004)

24
2. Uji Smirnov-Kolmogorov (secara analisis)
Metode Smirnov-Kolmogorov dilakukan pengujian distribusi probabilitas
dengan menerapkan perhitungan sebagai berikut:
a. Mengurutkan data (Xi) dari kecil ke besar atau sebaliknya.
b. Menentukan peluang empiris dari data yang sudah diurutkan P(Xi),
dengan menggunakan persamaan:
𝑚
Pe = 𝑛+1 x 100 (2.11)

Keterangan :
n = Jumlah data
Pe = Peluang empiris
m = Nomer urut data bedakan tabel
i = Nomer urut data (setelah setelah diurut dari besar ke kecil
atau sebaliknya)
Menghitung nilai f(t) sebagai acuan untuk menentukan nilai tabel
wilayah luas dibawah kurva normal.
c. f(t) = data curah hujan + curah hujan rerata + standar deviasi
d. Tentukan peluang teoritis Pt bedarasarkan hitungan P’(Xi) dari 1- nilai tabel
wilayah luas dibawah kurva normal, lalu hitungan Pt = P’(Xi) x 100.
e. Menghitung ∆Pi antara peluang empiris dan teoritis setiap data yang
sudah diurut : ∆P = Pe – Pt.
Menentukan apakah ∆P < ∆P kritis (Tabel 2.8), Apabila “tidak” berarti
distribusi probabilitas yang dipilih tidak dapat diterima, demikian sebaliknya.

Tabel 2.8 Nilai ∆P kritis Smirnov-Kolmogrov


N Α
0.20 0.10 0.05 0.01
5 0,45 0,51 0,56 0,67
10 0,32 0,37 0,41 0,49
15 0,27 0,3 0,34 0,4
20 0,23 0,26 0,29 0,36
25 0,21 0,24 0,27 0,32
30 0,19 0,22 0,24 0,29
35 0,18 0,2 0,23 0,27
40 0,17 0,19 0,21 0,25
45 0,16 0,18 0,2 0,24

25
50 0,15 0,17 0,19 0,23
N>50 1,07 1,22 1,36 1,63
N 0.5 N 0.5 N 0.5 N 0.5
(Sumber : Suripin, 2004)

2.7.5 Analisis Intensitas Hujan


Banyaknya curah hujan dibagi satuan waktu disebut Intensitas hujan. Apabila
intensitas hujan semakin tinggi maka perioide ulangnya meningkat dan hujan
terjadi semakin singkat. Intensitas hujan bisa ditentukan dengan menggunakan
persamaan mononobe yaitu:
𝑅24 24 𝑚
I= (𝑇𝑐) (2.12)
24

Keterangan :
I = Intensitas Hujan (m/jam, m/detik)
Tc = Waktu konsentrasi(jam, detik)
𝑅24 = Curah hujan maksimum dalam 24 jam (mm) dalam kaitan dengan
kajian ini dimodifikasi menjadi curah hujan harian (mm).
Untuk menghitung tc maka digunakan persamaan berikut:
tc = to + td
2 𝑛𝑑 0.167
to = (3 x 3.28 x lo x ) (2.13)
√ s
𝐿
td = 60 𝑥 𝑣

Keterangan:
tc = Waktu konsentrasi
to = Waktu inlet (menit)
td = Waktu aliran (menit)
lo = Panjang permukaan daerah pengaliran
S = Kemiringan daerah pengaliran
L = Panjang saluaran (m)
nd = Koefisien hambatan (lihat tabel 2.9)
v = Kecepatan aliran air yang diizinkan (m/detik) (lihat tabel 2.10)
Tabel 2.9 Hubungan Kondisi Permukaan Dengan Koefisien Hambatan
No Kondisi Lapisan Permukaan Nd
1 Lapisan semen dan aspal beton 0.013
2 Permukaan licin dan kedap air 0.20
3 Permukaan licin dan kokoh 0.10

26
Tabel 2.9 (lanjutan)
4 Tanah dengan rumput tipis dan gundul dengan 0.20
permukaan sedikit kasar
5 Padang rumput dan rerumputan 0.40
6 Hutan gundul 0.60
7 Hutan rimbun dan hutan gundul rapat dengan hamparan 0.80
rumput jarang sampai rapat
(Sumber : Suripin, 2004)
Tabel 2.10 Nilai Kecepatan Aliran Yang Diisinkan
No Jenis bahan Kecepatan aliran yang diizinkan (m/detik)
1 Pasir halus 0.45
2 Lempung kepasiran 0.50
3 Lanau alluvial 0.60
4 Kerikil halus 0.75
5 Lempung kokoh 0.75
6 Lempung padat 1.10
7 Kerikil pasir 1.20
8 Batu-batu besar 1.50
9 Pasangan batu 1.50
10 Beton 1.50
11 Beton bertulang 1.50
(Sumber : Suripin, 2004)
2.7.6 Waktu Konsentrasi (Tc)
Waktu konsentrasi terdiri atas waktu yang diperlukan limpasan untuk
mengalir pada permukaan tanah hingga sampai pada saluran terdekat (to),
kemudian waktu pengaliran dalam saluran menuju titik yang ditentukan atau
dimaksud (td). Pada penelitian yang dilakukan peninjauan drainase dilakukan
sepanjang aliran batas sungai, dan terbagi menjadi empat spot atau titik tinjauan.
Drainase yang ditinjau pada penelitian ini yaitu pada sebelah kiri dan kanan badan
jalan. Untuk melakukan perhitungan waktu konsentrasi (tc) maka persamaan yang
digunakan adalah sebagai berikut :
Tc = To dan Td
2 𝑛
To = [ x 3.28 x L x ]0,167 (2.14)
3 √s
𝐿𝑠
Td = 60 𝑥 𝑉

Keterangan :
L = Panjang lintasan aliran di atas permukaan lahan (m)
Ls = Panjang lintasan aliran di dalam saluran (m)
S = Kemiringan saluran
V = Kecepatan aliran di dalam saluran (m/detik)

27
n = Angka kekerasan manning
Pada perhitungan diatas, nilai S didasarkan pada kemiringan melintang
normal perkerasan jalan yang tersedia pada Tabel 2.11
Tabel 2.11 Kemiringan Melintang Normal Perkerasan Jalan
No Jenis lapis permukaan jalan Kemiringan normal
1 Beraspal, beton 2% - 3%
2 Japat 4% - 6%
3 Kerikil 3% - 6%
4 Tanah 4% - 6%
(Sumber : Petunjuk Desain Drainase Jalan No. 008/T/BNKT/1900)
Pada perhitungan nilai n (Angka Kekasaran Manning) diperoleh berdasarkan
perbandingan yang tersaji pada Tabel 2.12
Tabel 2. 12 Harga n Untuk Rumus Manning
No Tipe saluran Sangat baik Baik Sedang Tidak baik
1 Saluran tanah lurus teratur 0,017 0.020 0,023 0,025
2 Saluran tanah yang dibuat lurus 0,023 0,028 0,030 0,040
teratur
3 Saluran pada dinding batuan, lurus, 0,023 0,030 0,033 0,035
teratur
4 Saluran pada dinding batuan, tidak 0,035 0,040 0,045 0,045
lurus, teratur
5 Saluran bantuan yang dibedakan 0,025 0,030 0.035 0,040
ada tumbuh-tumbuhan
6 Dasar saluran dari tanah,sisi saluran 0,028 0,030 0,033 0,035
berbatu
7 Saluran lengkug dengan kecepatan 0,020 0,025 0.028 0.035
aliran rendah
8 Banyak tumbuh-tumbuhan 0.075 0.100 0.015 0.015
9 Bersih, lurus, tidak berpasir , tidak 0.025 0.028 0,030 0.033
berlubang
10 Melengkung, bersih, berlubang dan 0,033 0.035 0,040 0,045
berdinding pasir
11 Seperti nomor 9 tapi ada tambahan 0,030 0.033 0,035 0.040
atau kerikil
12 Seperti nomor 10, dangkal tidak 0.040 0,045 0,050 0.055
teratur
13 Seperti nomor 10,berbatu dan 0,035 0,040 0,045 0.060
tumbuh-tumbuhan
14 Seperti nomor 12, sebagian berbatu 0,045 0,050 0,055 0,060
15 Aliran pelan banyak tumbuhan 0,050 0,060 0,070 0,080
berlubang
16 Saluran pasangan batu tanpa 0,025 0,030 0,033 0,035
finishing
17 Sakuran pasangan batu dengan 0,017 0,020 0,025 0,030
finifhing
18 Saluran beton 0,014 0,016 0,019 0,021
19 Saluran beton, halus dan rata 0.010 0,011 0.012 0,013
(Sumber : Petunjuk Desain Drainase Permukaan Jalan No. 008/T/BNKT/1900)

28
2.7.7 Koefisien Limpasan (Runoff)
Koefisien limpasan adalah perbandingan nilai antara hujan yang membentuk
limpasan langsung dengan total hujan yang terjadi (Triatmodjo, 2008). Setiap
daerah memiliki koefisien limpasan yang berbeda. Perhitungan koefisien limpasan
dapat dihitung dengan persamaan berikut:
∑ 𝐶𝑖 𝐴𝑖
C= ∑ 𝐴𝑖
(2.15)

Keterangan :
Ci = koefisian limpasan untuk daerah luasan 𝐴𝑖
Ai = luasan daerah nilai C yang berbeda
∑ = penjumlahan semua luasan dengan nilai C yang berbeda
Dalam mempermudah kalkulasi koefisien limpasan maka dapat digunakan
angka-angka koefisien limpasan untuk masing-masing fungsi lahan yang tersaji
pada Tabel 2.13. Selain melakukan penentuan curah hujan rencana dan luas daerah
pelayanan drainase, penting bagi penulis unntuk mengetahui nilai koefisien
pengaliran (C). Untuk Koefisien C dalam metode rasional dapat dilihat pada tabel
2.13 dibawah ini.
Tabel 2.13 Koefisien Limpasan Untuk Metode Rasional (C)
Jenis Penutupan Lahan / Karakteristik Permukaan Koefisien Pengaliran (C)
Bisnis
- Perkotaan 0,70 – 0,95
- Pinggiran 0,50 – 0,75

Perumahan
- Rumah tinggal 0.30 – 0,50
- Multiunit terpisah 0.40 – 0,60
- Multiunit tergabung 0,60 – 0,75
- Perkampungan 0,25 – 0,40
- Apartemen 0,50 – 0,70

Industry
- Ringan 0,50 – 0,80
- Berat 0,60 – 0,90

Perkerasan
- Aspal danbeton 0,70 – 0,95
- Batu bata, paving 0,50 – 0,70

29
Tabel 2.13 (lanjutan)
Halaman tanah berpasir
- Datar 2% 0,05 – 0,10
- Rata-rata 2-7 % 0,10 – 0,15
- Curam 7% 0,15 – 0,20

Halaman kerja api 0,10 – 0,35


Taman tempat bermain 0,20 – 0,35
Taman, perkebunan 0,10 – 0,25
Atap 0,75 – 0,95
Hutan
- Datar 0-5% 0,10 – 0,35
- Rata-rata 5-10% 0,25 – 0,50
- Curam 10-30% 0,30 – 0,60
(Sumber : Suripin, 2004)

2.7.8 Analisa Debit Air Hujan


Untuk melakukan perhitungan debit banjir rencana seluruhnya bergantung
pada data yang tersedia. Apabila menggunakan data debit yang tidak lengkap, maka
kalkulasi debit hujan rencana dapat dilakukan dengan metode rasional (modified
rational method). Pada umumnya debit rencana pada daerah perkotaan
direncanakan dengann melakukan pembuangan air secara langsung, sehingga tidak
ada genangan air atau banjir. Sangat penting bahwa saluran diselaraskan dengan
debit rancangan (Soemarto, 1999).
Beberapa faktor yang dapat menentukan seperti apa batas ketinggian dari
genangan air yang disarankan sehingga tidak menyebabkan kerugian pada
masyarakat adalah :
1. Seberapa luas daerah yang akan terdampak genangan (hingga batas ketinggan
yang diperbolehkan)
2. Periode terjadinya genangan Pada umumnya daerah perkotaan memiliki
aliran drainase yang merupakan bagian dari suatu daerah aliran lain yang
lebih luas dan sudah memiliki sistem aliran drainase alami, oleh karenanya
perencanaan dan pengembangan yang dilakukan pada sistem drainase
perkotaan harus diselaraskan dengan sistem eksisting alami. Hal ini dilakukan
untuk mempertahankan keadaan asli dari drainase alami.
Qah = 0,278. [Link] (2.16)
Keterangan :
Qah = debit maksimum (m3 /detik)
0,278 = konstanta, digunakan jika satuan luas daerah menggunakan km3

30
C = koefisien limpasan air hujan
I = intensitas curah hujan selama waktu konsentrasi
A = luas daerah pengaliran (km3 )

2.7.9 Analisa Debit Air Kotor


Debit air kotor merupakan debit air yang berasal dari buangan aktivitas
penduduk seperti instansi, bangunan komersial, tempat tinggal, dan sebagainya
yang merupakan daerah padat penduduk (Suhardjono, 1984). Untuk melakukan
estimasi total aliran air buangan maka terdapat tiga hal yang harus diperhatikan :
1. Resapan air tanah (daerah pelayanan dan disepanjang pipa) dan air
permukaan (hujan)
2. Air buangan industri dan komersial.
3. Air buangan domestik.
Debit air kotor dapat ditentukan dengan persamaan berikut:
𝑝𝑛 .𝑄𝑘𝑒𝑝
Qak = (2.17)
𝐴

Keterangan :
Qak = Debit air kotor (I . Det-1 . km2 )
Qkep = Jumlah kebutuhan air (I .DEt-1 .orang-1)
A = Luas daerah (Km2)
Pn = Jumlah penduduk

2.7.10 Analisa Debit Banjir Rancangan


Dalam melakukan perhitungan kapasitas saluran drainase, maka harus
diketahui telebih dahulu jumlah air kotor dan hujan yang akan dilimpahkan pada
saluran drainase tersebut, sehingga Debit banjir rancangan (Qranc) yaitu akumulasi
dari debit air kotor (Qak) dan debit air hujan. Debit banjir rancangan diperoleh
dengan cara menambahkan debit banjir dengan 10% kandungan sedimen yang ada
pada aliran banjir. (Sosrodarsono,1994). Kapasitas saluran drainase dari debit banjir
rancangan ditentukan dengan persamaan berikut:
Qranc = Qah + Qak (2.18)
Keterangan:
Qranc = Debit rancangan (m3 /detik)
Qah = Debit air hujan (m3 /detik)

31
Qak = Debit air kotor (m3 /detik)

2.8 Analisis Hidrolika


Bangunan alami maupun buatan manusia dapat memindahkan zat cair dari
satu tempat ke tempat lainnya. Bangunan ini (bangunan pembawa) dapat memiliki
bukaan atas maupun tertutup. Saluran yang tertutup (tidak memiliki bukaan
diatasnya) disebut saluran tertutup (closed conduits), sementara untuk saluran yang
memiliki bukaan diatasnya disebut saluran terbuka (open channels). Contoh saluran
terbuka adalah selokan, saluran irigasi dan sungai, sedangkan contoh saluran
tertutup adalah gorong-gorong, aquaduct, pipa, dan terowongan (Suripin, 2004).
Pada penelitian yang dilakukan, analisis hidrolika dilakukan untuk menetapkan
acuan dalam kalkulasi dimensi hidrolis untuk sebuah saluran drainase baik untuk
saluran tertutup maupun saluran terbuka.
2.8.1 Saluran Terbuka
Untuk bangunan pembawa dengan bentuk saluran terbuka maka terdapat
permukaan air yang bebas. Secara langsung permukaan ini dipengaruhi oleh
tekanan.
Udara alirannya dipengaruhi oleh gravitasi dan viskositasnya. Pada umumnya
saluran terbuka digunakan pada daerah sebagai berikut :
1. Sisi kiri dan kanan saluran memiliki badan jalan yang relatif ringan.
2. Daerah dengan jumlah pejalan kaki yang tidak banyak.
3. Kondisi lahan yang memungkinkan (luas) untuk saluran terbuka.
2.8.2 Saluran Tertutup
Pada saluran tertutup aliran air digerakan oleh gradient tekanan, sehingga
ketentuan yang berlaku pada aliran tertutup tidak dapat digunakan pada saluran
terbuka. Di Indonesia perancangan drainase perkotaan masih dilakukan dengan cara
konvensional, yaitu menggunakan saluran terbuka. Terdapat asumsi bahwa apabila
digunakan saluran yang ditahan didalam tanah maka saluran tersebut tidak dapat
terisi penuh. Saluran tertutup pada umumnya digunakan pada daerah sebagai
berikut :
1. Tempat/Lahan yang difungsikan sebagai lapangan parkir.
2. Daerah dengan jumlah pejalan kaki yang padat.
3. Daerah dengan lahan terbatas contohnya pertokoan, pasar dan perkantoran.

32
2.8.3 Kecepatan Aliran (V)
Untuk melakukan kalkulasi kecepatan aliran (V) maka digunakan persamaan
Manning yang dikemukakan oleh Robert Manning pada tahun 1889. Adapun
persamaan manning dapat dijabarka sebagai berikut :
1 2 1
V = 𝑛 x𝑅3 x 𝑆2 (2.19)

Keterangan :
V = Kecepatan aliran (m/detik)
n = koefisien Manning (tabel 2.14)
R = jari-jari hidrolis (m)
S = Sloop (kemiringan)
Untuk melakukan perhitungan kecepatan aliran maka digunakan
perbandingan koefisien Manning (n). Koefisien tersebut dapat diperhatikan pada
Tabel 2.14 dibawah ini.
Tabel 2.14 Harga Koefisien Manning (n)
No Tipe saluran dan jenis Harga n
Bahan Minimum Normal Maksimum
1 Beton
- Gorong-gorong lurus dan bebas dari 0,01 0,011 0,013
kotoran
- Gorong-gorong dengan lengkungan dan 0,011 0,013 0,014
sedikit kotoran
- Beton dipoles 0,011 0,012 0,014
- Saluran pembuang dengan bak control 0,013 0,015 0,017
2 Tanah lurus dan seragam
- Bersih baru 0,016 0,018 0,022
- Bersih tanak melapuk 0,018 0,022 0,025
- Berkrikil 0,022 0,025 0,03
- Berumput pendek, sedikit tanaman 0,022 0,027 0,033
pengganggu
3 Saluran alam
- Bersih lurus 0,025 0,03 0,033
- Bersih berkelok-kelok 0,033 0,04 0,045
- Banyak tanaman pengganggu 0,05 0,07 0,08
- Dataran banjir berumput pendek-tinggi 0,025 0,03 0,035
- Saluran di belukar 0,035 0,05 0,07
(Sumber : Suripin, 2004)

2.8.4 Debit Aliran


Jumlah air yang mengalir dari suatu area untuk tiap satuan waktu dapat
disebut sebagai debit aliran. Untuk menentukan jumlah air yang mengalir pada

33
suatu saluran atau sungai dan kecepatan air tersebut maka digunakan debit aliran.
Adapun persamaan debit aliran adalah sebagai berikut.
Qeks = A x V (2.20)
Keterangan :
Qeks = Debit (m3 /detik)
A = Luas penampang (m3 )
V = Kecepatan (m/detik)

2.8.5 Dimensi Penampang Saluran


Potongan melintang saluran yang paling ekonomis adalah saluran yang dapat
melewatkan debit maksimum untuk luas penampang basah, kekerasan dan
kemiringan dasar tertentu (Suripin, 2004).
1. Penampang Berbentuk Persegi
Pada penampang melintang saluran berbentuk persegi dengan lebar dasar B
dan kedalaman air h, luas penampang basah A = B x h dan keliling basah P.
Maka bentuk penampang persegi paling ekonomis adalah jika kedalaman
setengah dari lebar dasar saluran atau jari-jari hidrauliknya setengah dari
kedalaman air.

Gambar 2.13 Penampang Persegi Panjang


(Sumber : Bloger, 2014)
Untuk penampang persegi paling ekonomis:
Luas penampang (A):
A = B ×h (2.21)
Keliling basah (P):
P = (2 × h) + B (2.22)
Jari-jari hidrolik R:

34
𝐴
R=𝑃 (2.23)

Kecepatan aliran (V):


1 2 1
V = 𝑛 x𝑅3 x 𝑆2 (2.24)

2. Penampang Berbentuk Trapesium


Luas penampang melintang A dan Keliling basah P, saluran dengan
penampang melintang bentuk trapesium dengan lebar dasar b, kedalaman h
dan kemiringan dinding 1 m (Gambar 2.14) dapat dirumuskan sebagai
berikut:

Gambar 2. Trapesium
(Sumber : Bloger, 2014)
Untuk penampang trapesium paling ekonomis:
Luas penampang (A):
A = (B+mh)h (2.25)
Keliling basah (P):
P = B + 2h √𝑚2 + 1 (2.26)
Jari-jari hidrolik (R):
𝐴
R=𝑃 (2.27)

Kecepatan aliran (V):


1 2 1
V = 𝑛 x𝑅3 x 𝑆2 (2.28)

2.8.6 Dimensi Saluran


Perhitungan dimensi saluran didasarkan pada debit yang harus ditampung
oleh saluran (Qs dalam m3/det) lebih besar atau sama dengan debit rencana yang
diakibatkan oleh hujan rencana (QT dalam m3/det). Kondisi demikian dapat
dirumuskan dengan :

35
Qs ≥Q_T (2.29)
Debit yang mampu ditampung oleh saluran (Qs) dapat diperoleh dengan
persamaan:
Qs = A.V (2.30)
Dimana:
Qs = debit aliran pada saluran (m3/det).
A = luas penampang basah (m2).
V = kecepatan aliran (m/det).
Untuk mencari nilai kecepatan aliran dapat menggunakan persamaan
manning
1 2 1
V = 𝑛 x𝑅3 x 𝑆2 (2.31)

Keterangan :
V = Kecepatan aliran (m/detik)
n = koefisien kekasaran Manning
R= jari-jari hidrolis (m)
S = kemiringan dasar saluran
Nilai R dapat dicari dengan menggunakan persamaan :
𝐴
R=𝑃 (2.32)

Dimana:
R = jari-jari hidrolis (m).
A = luas penampang basah (m2).
P = keliling penampang basah (m).
Nilai koefisien kekasaran Manning n, untuk gorong-gorong dan saluran
pasangan dapat dilihat pada Tabel 2.15.
Tabel 2.15 Koefisien Kekasaran Manning.
No Tipe Saluran Koefisien Manning (n)
1 Besi tuang lapis 0,014
2 Kaca 0,010
3 Saluran beton 0,013
4 Bata dilapis mortar 0,015
5 Pasangan batu disemen 0,025
6 Saluran tanah bersih 0,022
7 Saluran tanah 0,030
8 Saluran dengan dasar baru dan tebing rumput 0,040
9 Saluran pada galian batu padas 0,040

36
Sumber : Wesli, 2008
Tabel 2.16 Nilai Kemiringan Dinding Saluran Sesuai Bahan (ISBN: 979 – 8382
– 49 –8, 1994).
No Bahan saluran Kemiringan dinding (m)
1 Batuan/ cadas 0
2 Tanah lumpur 0,25
3 Lempung keras/ tanah 0,5 – 1
4 Tanah dengan pasangan batuan 1
5 Lempung 1,5
6 Tanah berpasir lepas 2
7 Lumpur berpasir 3
Sumber : Wesli, 2008
2.9 Anggaran
Anggaran merupakan suatu rencana yang disusun secara sistematis dalam
bentuk angka dan dinyatakan dalam unit moneter yang meliputi seluruh kegiatan
perusahaan untuk jangka waktu (periode) tertentu dimasa yang akan datang.
Penganggaran merupakan komitmen resmi manajemen yang terkait dengan
pendapatan, biaya dan beragam transaksi keuangan dalam jangka waktu tertentu
(Juansyah, 2017).

2.9.1 Jenis-Jenis Anggaran Biaya Proyek


Setidaknya ada dua jenis pengelompokkan biaya dalam perhitungan
estimasi biaya proyek, konstruksi yaitu biaya langsung (direct cost) dan biaya
tidak langsung (indirect cost) (Juansyah, 2017).
1. Biaya Langsung (Direct Cost)
Biaya langsung adalah semua biaya yang langsung berhubungan dengan
pelaksanaan pekerjaan proyek konstruksi di lapangan. Biaya langsung pada
proyek konstruksi dapat diperkirakan jumlahnya dengan cara menghitung
volume pekerjaan dan biaya proyek berdasarkan harga satuan
pekerjaan. Biaya langsung sendiri bisa dikelompokkan dalam beberapa
jenis, yaitu :
a. Biaya Material
Biaya material adalah semua biaya untuk pembelian bahan dan material
yang dihitung dengan analisis harga satuan. Dalam perhitungan biaya
material ini harus diperhatikan beberapa hal seperti bahan sisa, harga
terbaik, harga loco atau franco, serta cara pembayaran kepada supplier.

37
b. Biaya Upah Buruh
Biaya upah buru adalah biaya untuk membayar upah atas pekerja yang
diperhitungkan terhadap satuan item mata pembayaran tertentu dan
biasanya sudah memiliki standar harga satuannya. Untuk perhitungan
biaya upah buruh ini harus pula diperhatikan beberapa hal seperti
perbedaan antara upah harian atau borongan, kapasitas kerja, asal dari
mana buruh didatangkan, serta juga mempertimbangkan undang-
undang perburuhan yang berlaku.
c. Biaya Peralatan Atau Equipments
Biaya peralatan adalah biaya terhadap peralatan untuk melaksanakan
pekerjaan konstruksi. Dalam perhitungan biaya ini pula perlu
diperhatikan beberapa hal seperti ongkos keluar masuk gudang, ongkos
buruh pengopersi, dan biaya operasi jika peralatan merupakan barang
sewaan serta investasi, depresiasi, reparasi, pemeliharaan, dan ongkos
mobilisasi jika peralatan merupakan barang tidak disewa.
2. Biaya Tidak Langsung (Indirect Cost)
Biaya tidak langsung (Indirect Cost) adalah semua biaya proyek yang tidak
secara langsung berhubungan dengan konstruksi di lapangan. Meskipun
begitu, biaya tidak langsung harus ada dan tidak bisa dilepaskan dari proyek
yang tengah berjalan. Biaya tidak langsung ini belum secara eksplisit
dihitung pada tiap proyek konstruksi tetapi perlu diperkirakan guna alokasi
biaya di luar pekerjaan konstruksi. Biaya-biaya yang termasuk dalam biaya
tidak langsung adalah sebagai berikut :
a. Biaya tak terduga atau unexpected costs, merupakan biaya yang
disiapkan untuk kejadian-kejadian yang mungkin terjadi ataupun
mungkin tidak terjadi. Sebagai contoh adalah jika terjadi banjir di lokasi
proyek, tentu akan ada biaya khusus untuk mengatasinya. Biaya tak
terduga sendiri umumnya diperkirakan antara 0,5 sampai 5% dari biaya
total proyek. Hal-hal yang termasuk dalam biaya tak terduga ini
adalah:
1) Akibat Kesalahan, seperti gambar kerja yang tidak lengkap atau
kontraktor yang salah dalam melakukan pekerjaan.

38
2) Ketidakpastian Subjektif, artinya ada interpretasi yang subjektif
terhadap sesuatu seperti penggunaan bahan tertentu yang diartikan
berbeda oleh pekerja.
3) Ketidakpastian Objektif, artinya ada ketidakpastian akan perlu
tidaknya suatu pekerjaan karena ditentukan oleh objek diluar
kemampuan manusia. Contohnya adalah pemasangan sheet pile
untuk pondasi yang ditentukan oleh tinggi rendahnya muka air
tanah.
4) Variasi Efisiensi, yaitu ada tidaknya efisiensi dari sumber daya
seperti buruh, material, dan peralatan.
b. Keuntungan atau profit, yaitu semua hasil yang didapat dari
pelaksanaan sebuah proyek. Keuntungan ini tidak sama dengan gaji
karena dalam keuntungan terkandung usaha, keahlian, ditambah pula
dengan adanya faktor risiko.
c. Biaya Overhead, yaitu biaya tambahan yang tidak terkait langsung
dengan proses berjalannya proyek tetapi harus tetap dimasukkan ke
dalam anggaran layaknya biaya lain agar proyek dapat berjalan dengan
baik. Untuk lebih jelas mengenai biaya Overhead ini, akan dijelaskan
pada poin berikut.

2.9.2 Estimasi Biaya Proyek


Secara umum estimasi biaya proyek dibagi menjadi empat yaitu :
1. Estimasi Kasar Oleh Pemilik (Owner)
Estimasi ini dibutuhkan oleh pemilik proyek untuk memutuskan apakah
proyek yang akan digunakan layak dibangun atau tidak. Dalam hal ini
biasanya pemilik menggunakan jasa tenaga ahli untuk melakukan studi
kelayakan dari ide dasar yang muncul.
2. Estimasi Pendahuluan Oleh Konsultan Perencana (Designer)
Estimasi pendahuluan ini dilaksanakan setelah desain perencanaan selesai
dibuat oleh konsultan perencana, dimana estimasi yang dibuat sudah
berdasarkan gambar-gambar rencana, dan rencana kerja serta syarat-syarat
(RKS) yang lengkap.

39
3. Estimasi Detail Oleh Kontraktor
Etimasi detail dibuat oleh kontraktor dengan mengacu pada desain konsultan
perencana yang berupa dokumen leleang, dimana estimasi yang dibuat lebih
terperinci dan teliti karena sudah memperhitungkan segala kemungkinan
seperti :
a. Memperhatikan kondisi medan
b. Mempertimbangkan metode pelaksanaan
c. Mempertimbangkan stock material
d. Mempengaruhi kemampuan peralatan kerja
e. Dan berbagai hal yang mempengaruhi estimasi biaya
4. Estimasi Sesungguhnya Setelah Proyek Selesai
Estimasi biaya fixed price merupakan biaya yang harus dikeluarkan oleh
pemilik, kecuali pelaksanaan pekerjaan terjadi pekerjaan tambahan atau
kurang , maka nilai estimasi biaya menjadi berubah sesuai dengan pekerjaan
tambah atau kurang yang terjadi. Dalam hal ini estimasi biaya sesungguhnya
tidak dibahas dalam tugas akhir ini.

2.9.3 Rencana Anggaran Biaya


Rencana Anggaran Biaya (RAB) adalah banyaknya biaya yang dibutuhkan
baik upah atau bahan material dalam sebuah proyek kontruksi. Daftar ini berisi
volume, harga satuan , serta total harga dari berbagai macam jenis bahan material
dan upah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk pelaksanaan proyek tersebut. Jadi
dapat disimpulkan bahwa Rencana Anggaran Biaya (RAB) adalah perhitungan
banyaknya biaya yang diperlukan dalam suatu proyek kontruksi yang terdiri dari
biaya bahan material, upah tenaga kerja, serta biaya lain yang berhubungan dengan
proyek tersebut berdasarkan perhitungan volume pekerjaan yang telah dilakukan
sebelumnya (Yan Juansyah, 2017). Dalam menyusun anggaran biaya suatu
bangunan, terlebih dahulu perlu diketahui untuk apan anggaran biaya tersebut
dibuat. Hal ini akan berpengaruh terhadap cara/sistem penyusunan dan hasil yang
diharapkan. Juga faktor waktu anggaran itu di butuhkan, ikut menentukan
bagaimana cara penyusunan anggaran biaya tersebut. Secara garis besar ada 2 jenis
anggaran biaya, yaitu :
1. Anggaran biaya raba/perkiraan (Cost Estimate)

40
2. Anggaran biaya pasti/definitif
Dalam penyusan Rencana Anggaran Biaya (RAB) membutuhkan 5 hal yang
mendasar, yaitu :
1. Bestek
2. Gambar-gambar bestek
3. Daftar harga upah dan bahan material
4. Daftar analisis
5. Daftar volume tiap jenis pekerjaan
Daftar tersebut dapat saling memberikan gambaran dan petunjuk dalam
penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB). Di dalam rencana anggaran biaya
bangunan terdapat Analisis Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) yang mana merupakan
analisa bahan dan upah untuk membuat suatu satuan jenis pekerjaan tertentu.
Semuanya diatur dalam aturan Standar nasional Indonesia (SNI). Volume suatu
pekerjaan merupakan hitungan jumlah banyaknya volume pekerjaan dalam suatu
satuan.
Tabel 2.17 Contoh Analisa Harga Item
Harga Satuan Jumlah
No Dekripsi Sat Kuantitas
(Rp) Harga (Rp)
I. Tenaga kerja
1. Pekerja Jam Rp Rp
2. Tukang Jam Rp Rp
Jumlah Rp
II. Material
1. Semen Zak - Rp Rp
2. Pasir M3 - Rp Rp
Jumlah Rp
III. Peralatan
1. Concerte Mixer Jam - Rp Rp
2. Alat Bantu Ls - Rp Rp
Jumlah Rp
IV Jumlah Total Rp
I+II +III
Sumber : PERMEN PUPR NO. 28 Tahun 2018, AHSP SDA

41
Tabel 2.18 Contoh Daftar Kuantitas dan Harga Pekerjaan
Jumlah
No. Uraian Pekerjaan Sat Vol. Pek. Harga Satuan Harga
(Rp) (Rp)
I. Pekerjaan Pendahuluan
1. Pembersihan lokasi Ls M3
2. Pengadaan tenaga alat & bahan Ls Rp. Rp.
Jumlah I Rp.
I. Pekerjaan Tanah
1. Galian tanah asli M3 Rp. Rp.
2. Timbunan M3 Rp. Rp.
3. Urugan pasir M3 Rp. Rp.
Jumlah II
III Dan seterusnya Rp.
Jumlah I+II+III Rp.
Sumber : PERMEN PUPR NO. 28 Tahun 2018, AHSP SDA
Biaya (anggaran) adalah jumlah dari masing-masing volume dengan harga
satuan pekerjaan yang bersangkutan. Secara umum dapat disimpulkan sebagai
berikut
RAB = 𝞢 (Volume) x Harga satuan pekerjaan (2.33)
Harga satuan pekerjaan ialah jumlah harga bahan dan upah tenaga kerja
berdasarkan perhitungan analisis. Secara umum dapat disimpulkan sebagai berikut:
H.S. Pekerjaan = H.S Bahan + H. S. Upah + H.S. Alat (2.34)
Harga satuan pekerjaan terdiri dari 3 komponen, yaitu analisis harga satuan
bahan material, analisis harga satuan upah tenaga kerja dan analisis harga satuan
sewa alat yang bersifat opsional. Proses analisis harga satuan bahan material pada
dasarnya adalah menghitung banyaknya volume masing-masing bahan serta
besarnya biaya yang dibutuhkan untuk menyeselaikan per-satuan pekerjaaan
kontruksi. Analisis harga satuan bahan material mengandung dua 2 unsur, yaitu :
1. Harga Satuan Bahan, merupakan harga satuan bahan material bangunan yang
berlaku di pasar pada saat anggaran biaya bangunan tersebut di susun.
2. Koefisien Bahan, yaitu koefisien yang menunjukan kebutuhan bahan material
bangunan untuk setiap satuan jenis pekerjaan
𝞢 Bahan = Vol pek x koef analisa bahan (2.35)
Proses analisis harga satuan upah tenaga pada dasarnya adalah menghitung
banyaknya tenaga kerja serta biaya yang dibutuhkan, untuk meyelesaikan per-

42
satuan pekerjaan kontruksi. Analisis harga satuan upah tenaga mengandung 2 (dua)
unsur, yaitu :
1. Harga satuan Upah Tenaga Kerja, merupakan upah yang diberikan kepada
tenaga kerja kontruksi perharinya atsa jasa tenaga yang dilakukan sesuai
dengan keterampilannya
2. Koefisien, yaitu koefisien yang menunjukan kebutuhan tenaga kerja untuk
tiap-tiap posisi kerja.
𝞢 Tenaga kerja = Vol pek x kef analisa tenaga kerja (2.36)
Sementara itu analisis harga satuan sewa alat pada dasarnya adalah
menghitung banyaknya alat yang digunakan serta besarnya biaya alat, untuk
menyelesaikan per-satuan pekerjaan kontruksi. Analisis harga satuan sewa alat
mengandung 2 unsur, yaitu :
1. Harga satuan alat, merupakan harga satuan sewa alat yang berlaku di pasar
pada saat anggaran biaya bangunan tersebut disusun.
2. Koefisien alat, yaitu koefisien yang menunjukan kebutuhan alat untuk setiap
satuan jenis pekerjaan
𝞢 Sewa alat = Vol pek x koef analisa sewa alat (2.37)

43

Anda mungkin juga menyukai