“LAPORAN PENDAHULUAN DIARE”
Dosen Pembimbing:
“[Link] bayuningsih,[Link].,[Link]”
Disusun Oleh:
Al Aini 202205019
S1 Keperawatan Tk 3A
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MITRA KELUARGA
TAHUN AJARAN 2024/2025
A. KONSEP DASAR PENYAKIT
1. Definisi
Diare merupakan buang air besar dengan konsistensi encer atau cair sebanyak 3
kali atau lebih dalam sehari (24 jam) dan berlangsung kurang dari 14 hari. Diare
merupakan suatu kondisi medis yang ditandai dengan frekuensi buang air besar
yang meningkat dan konsistensi tinja yang encer, masih menjadi masalah
kesehatan global yang signifikan. Diare dapat disebabkan oleh infeksi bakteri,
virus, atau parasit, serta oleh faktor-faktor lain seperti intoleransi makanan,
penyakit radang usus, dan efek samping obat. Penyakit ini merupakan penyebab
utama morbiditas dan mortalitas, terutama pada anak-anak di negara berkembang,
termasuk Indonesia (WHO, 2024).
a. Virus:
1) Tipe virus: Rotavirus, Adenovirus, Calicivirus, Virus Norwalk.
2) Astrovirus : Tidak menyebabkan peradangan, invasi mukosa (-), diare
cair, lekosit dalam tinja (-).
b. Bakteri:
1) Akibat infeksi bakteri di usus halus (Vibrio cholera, Escherichia coli),
umumnya tidak bersifat inflamasi, invasi mukosa (-), diare cair, lekosit
dalam tinja (-).
2) Akibat infeksi bakteri di kolon (Salmonella sp. , Shigella sp. ,
Campylobacter jejuni, Yersinia enterocolitica, Escherichia coli yang
invasi-enterotoxigenik/EIEC, Escherichia coli 0157:H7, Staphylococcus
aureus, Clostridium difficile), biasanya ada invasi mukosa, bersifat
inflamasi, diare berdarah, serta lekosit dalam tinja (+).
c. Parasit:
1) Akibat infeksi parasit di usus halus (Giardia lamblia, Cryptosporidium),
umumnya tidak bersifat inflamasi, invasi mukosa (-), diare cair, lekosit
dalam tinja (-).
2) Akibat infeksi parasit di kolon (Entamoeba histolytica), umumnya
bersifat inflamasi, invasi mukosa (+), diare berdarah, lekosit dalam tinja
(+).
( WHO, 2024)
2. Manifestasi Klinis
Gejala diare dapat bervariasi, tetapi umumnya meliputi:
a. Feses cair atau encer
b. Kram atau nyeri perut
c. Urgensi untuk buang air besar
d. Mual atau muntah
e. Demam
f. Lethargy atau kelelahan. (kementrian kesehatan, 2024)
3. Patofisiologi
4. Komplikasi
a. Dehidrasi ( ringan, sedang, berat)
b. Gagal ginjal akut
c. Intoleransi sekunder
d. Malnutrisi energi protein, terjadi ketika muntah dan diare yang
berkepanjangan. Diare yang berkepanjangan tanpa penanganan medis yang
benar akan mengakibatkan kematian (Muhammad, 2020)
5. Pemeriksaan Diagnostik
a. Pemeriksaan feses Pada pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan colok anus,
pemeriksaan mikroskopis dan makroskopis, pemeriksaan pH tinja dan kadar
gula.
b. Analisis gas darah, jika didapatkan asam basa terjadi indikasi kelainan
keseimbangan.
c. Pengukuran kadar ureum dan kreatinin untuk menilai kesehatan pada ginjal.
d. Menganalisa elektrolit, yaitu fokus pada konsentrasi, Na, Kalsium, dan
Fosfor
(Muhammad, 2020)
6. Penatalaksanaan Medis
a. Terapi Rehidrasi
Terapi terpenting pada diare akut adalah rehidrasi, lebih disenangi melalui
rute oral dengan larutan yang mengandung air, garam, dan gula. Terapi
rehidrasi oral (oral rehydration therapy/ORT) merupa kan pemberian cairan
melalui mulut untuk mencegah atau mengoreksi dehidrasi akibat diare.
(Eppy, 2023)
b. Terapi Antimiktobial
Terapi antimikrobial empiris mungkin diperlukan pada:
1) Pasien dengan demam, feses berdarah/mucoid, terdapat darah sa mar
atau leukosit pada feses.
2) Pasien dengan buang air besar >8 kali/hari, dehidrasi, gejala >1
minggu, yang memerlukan perawatan, atau immunocompro mise.
3) Untuk diarrhea sedang/berat atau diare dengan demam dan atau feses
berdarah sebaiknya diberikan terapi antimikrobial empiris dengan
quinolone sebagai pilihan pertama dan cotrimoxazole sebagai pilihan
ke dua.
c. Terapi Simtomatik
a. Antimotilitas
Obat-obat antimotilitas, seperti loperamide atau diphenoxylate dapat
digunakan sebagai terapi simtomatik pada diare akut dengan atau
tanpa demam serta fesesnya tidak berdarah/mukoid. Loperamide
menghambat peristaltik usus dan mempunyai efek antisekresi yang
ringan. Pemberian loperamide mula-mula 2 tablet (4 mg), kemudian 2
mg setiap keluar feses yang tak berbentuk, tidak lebih dari 16 mg/hari
selama ≤2 hari.
b. Antisekresi
Bismut subsalisilat dapat mengurangi gejala diare, mual, dan nye ri
abdomen pada diare. Obat ini paling efektif untuk pasien dengan
gejala muntah yang menonjol, namun tidak boleh diberikan pada
diare inflamasi atau berdarah.
c. Adsorben
Kaolinpektin, activated charcoal, dan attapulgit dapat menyerap ba
han infeksius atau toksin, namun menunjukkan efikasi yang tidak
adekuat untuk diare akut pada orang dewasa.2,10 Obat-obat tersebut
mengabsorbsi air dan membuat feses menjadi lebih berbentuk.
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN (SDKI, SLKI, dan SIKI)
1. Pengkajian Kesehatan
a. Riwayat Kesehatan Sekarang
1) Awal serangan: pada awalnya gelisah, terjadi peningkatan suhu tubuh,
anoreksia kemudian terjadilah diare.
2) Keluhan utama: fases dari lembek menjadi cair, terjadi muntah, apabila
muntah terus-menerus akan banyak kehilangan air dan elektrolit yang
akan terjadi masalah gejala dehidrasi, penurunan berat badan.
b. Pola Aktifitas Sehari-hari
1) Pola aktivitas / istirahat
Biasanya aktivitas pasien akan terganggu dikarenakan faktor diare yang
menyebabkan kondisi lemah dan terdapat nyeri akibat distensi abdomen.
Istirahat dan tidur yang akan terganggu dikarenakan adanya distensi
abdomen yang akan menyebabkan rasa tidak nyaman.
2) Pola nutrisi dan metabolisme
Biasanya pasien mual, muntah, anoreksia, terjadi mual lalu muntah,
anoreksia, terjadilah penurunan berat badan.
3) Pola eliminasi
Biasanya pada pasien terjadi perubahan frekuensi BAB yaitu lebih dari
4x dalam sehari, dengan konsistensi feses cair.
c. Keadaan Umum
Keadaan umum biasanya terlihat lemah, gelisah, composmentis sampai
koma, peningkatan suhu tubuh, nadi terasa cepat dan lemah, peningkatan
frekuensi pernafasan.
d. Pemeriksaan Fisik
1) Pengukuran antropometri
Penurunan berat badan karena kekurangan nutrisi.
2) Inspeksi : biasanya didapatkan hasil mata cekung, ubun-ubun besar atau
cekung, selaput lender, kering pada mulut dan bibir, penurunan berat
badan, terdapat kemerahan pada sekitar anus.
3) Perkusi : biasanya didapatkan adanya distensi abdomen
4) Palpasi : biasanya didapatkan turgor kulit yang tidak Kembali dengan
cepat.
5) Auskultasi : biasanya dihasilkan peningkatan peristaltik usus
e. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan tinja, darah lengkap dan duodenum intubation, yaitu
pemeriksaan yang berguna untuk mengetahui penyebab baik secara
kuantitatif (jumlah) maupun kualitatif (sifat atau jenisnya).
2. Diagnosa Keperawatan
a. Diare berhubungan dengan iritsasi gastrointestinal (D.0020)
b. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis (D.0077)
c. Disfungsi motilitas gastrointestinal berhubungan dengan malnutrisi
(D.0021)
d. Hipovolemia berhubungan dengan kehilangan cairan aktif (D.0023)
e. Defisit nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna makanan
(D.0019)
f. Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit (D.0130)
g. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan kelebihan volume cairan
(D.0192) (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017)
3. Intervensi Keperawatan
a. Diare berhubungan dengan iritsasi gastrointestinal (D.0020)
Luaran : eliminasi fekal membaik, dengan kriteria hasil : Kontrol
pengeluaran feses meningkat, Konsistensi feses membaik, Frekuensi BAB
membaik, Peristaltik usus membaik (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019)
Intervensi : Manajemen Diare (I.03101). (Tim Pokja SIKI DPP PPNI,
2018)
b. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis (D.0077)
Luaran : tingkat nyeri menurun, dengan kriteria hasil: Keluhan nyeri
menurun, Meringis menurun, Gelisah menurun, Kesulitan tidur menurun,
Frekuensi nadi membaik
Intervensi : Manajemen Nyeri (I.08238)
c. Hipovolemia berhubungan dengan kehilangan cairan aktif (D.0023)
Luaran : keseimbangan cairan meningkat, dengan kriteria hasil :
Membrane mukosa lembab meningkat, Tekanan darah membaik,
Frekuensi nadi membaik, Kekuatan nadi membaik
Intervensi : Manajemen Hipovolemia (I.03116)
d. Defisit nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna makanan
(D.0019)
Luaran : status nutrisi membaik, dengan kriteria hasil: Porsi makan yang
dihabiskan meningkat, Berat badan membaik, Indeks massa tubuh (IMT)
membaik
Intervensi : Manajemen Nutrisi (I.03119)
e. Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit, dehidrasi (D.0130)
Luaran : termoregulasi membaik, dengan kriteria hasil: Suhu tubuh
membaik
Intervensi : Manajemen Hipertermia (I.15506)
f. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan kekurangan volume cairan
(D.0192)
Luaran : integritas kulit meningkat, dengan kriteria hasil: Kerusakan
lapisan kulit menurun
Intervensi : Perawatan Integritas Kulit (I.11353), Perawatan Luka
(I.14564)
DAFTAR PUSTAKA
Eppy. (2023). Diare Akut leading. Leading Article, 22(3), 91–98.
[Link]
kementrian kesehatan. (2024). DIARE. Kementrian Kesehatan.
[Link]
Muhammad. (2019). 45(45), 95-98. In Asuhan Keperawatan Diare
Ariastuti, & Kusmawati, D. (2020). Gambaran Pengobatan Diare Akut di Puskesmas Jiwan
Madiun. Jurnal Ilmu Farmasi, 11(1), 35–42.
Abdillah, Z. S. (2020). Asuhan Keperawatan Dengan Diare. Buletin Kesehatan: Publikasi
Ilmiah Bidang Kesehatan, 3(1), 115–132
Hariani, H., & Ramlah, R. (2020). Pelaksanaan Program Penanggulangan Diare Di
Puskesmas Matakali. J-KESMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat, 5(1), 34..