Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ........................................................................................................................ 1
BAB II KONSEP DASAR AUDITING ............................................................................................... 3
2.1 Definisi Audit ........................................................................................................................... 3
2.2 Tujuan Audit ........................................................................................................................... 3
2.3 Peran Strategis Audit.............................................................................................................. 4
BAB III KONSEP WALKTHROUGH DALAM AUDIT ........................................................... 6
3.1 Definisi Walkthrough............................................................................................................... 6
3.2 Tujuan dan Manfaat Walkthrough ........................................................................................ 7
3.3 Ruang Lingkup Modul ........................................................................................................... 7
3.4 Prinsip Walkthrough dalam SA 315 ...................................................................................... 7
3.5 Tahapan Walkthrough ............................................................................................................ 8
BAB IV PANDUAN IMPLEMENTASI WALKTHROUGH...................................................... 9
4.1 Latar Belakang Perusahaan (PT XYZ)................................................................................. 9
4.2 Standar Operasional Prosedur (SOP) Penjualan dan Pembelian ............................... 10
4.2.1 SOP Penjualan di PT XYZ ........................................................................................ 10
4.3 Template dan Naratif Walkthrough ....................................................................... 11
4.3.1 Naratif dan Walkthrough Sheet Testing pada Proses Penjualan PT XYZ ............. 11
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................................... 14
i
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Audit merupakan salah satu elemen fundamental dalam sistem akuntansi modern
yang berfungsi memastikan akurasi, kewajaran, dan integritas laporan keuangan suatu
entitas. Keberadaan audit tidak hanya untuk memenuhi kewajiban regulasi, tetapi juga
menjadi mekanisme pertanggungjawaban manajemen kepada pemangku kepentingan
eksternal, seperti investor, kreditur, maupun regulator. Melalui proses audit, auditor
bertugas untuk memberikan opini yang objektif dan independen terhadap apakah laporan
keuangan telah disusun secara wajar dalam semua hal yang material, sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berlaku umum (Liniarti, 2024; Diktat Auditing 1, 2021).
Seiring dengan meningkatnya dinamika bisnis dan kompleksitas transaksi
keuangan, risiko terjadinya kesalahan pelaporan atau penyimpangan data keuangan pun
semakin tinggi. Dalam hal ini, audit menjadi alat mitigasi yang efektif terhadap risiko
informasi, baik yang bersumber dari kesalahan (error) maupun dari kecurangan (fraud).
Hal ini selaras dengan pandangan Liniarti (2024) yang menekankan bahwa audit modern
mengintegrasikan aspek teknis, sistematis, dan manajerial, terutama dalam menilai
efektivitas kontrol yang diterapkan oleh entitas.
Namun demikian, tantangan signifikan dalam pelaksanaan audit terletak pada
pemahaman auditor terhadap sistem dan proses internal klien. Dalam pendekatan audit
berbasis risiko (risk-based audit), auditor dituntut untuk mampu mengidentifikasi dan
memahami proses bisnis secara menyeluruh guna mengarahkan fokus pemeriksaan pada
area-area yang memiliki risiko tertinggi terhadap salah saji material (Sulviani &
Hermayana, 2019). Untuk mendukung proses tersebut, prosedur walkthrough menjadi
salah satu teknik audit yang penting. Melalui walkthrough, auditor menelusuri jalannya
satu transaksi dari awal hingga pencatatan, dengan tujuan untuk memperoleh pemahaman
menyeluruh terhadap sistem informasi akuntansi dan kontrol internal yang digunakan.
1
Walkthrough tidak hanya digunakan untuk memahami dokumentasi prosedur,
tetapi juga untuk mengonfirmasi implementasi aktual di lapangan. Dengan demikian,
auditor tidak hanya menilai desain sistem, melainkan juga mengevaluasi efektivitas
operasionalnya. ISA 315 secara eksplisit menyebutkan bahwa auditor harus memahami
sistem pengendalian internal entitas sebagai dasar dalam mengidentifikasi dan menilai
risiko salah saji material, baik pada tingkat laporan keuangan maupun pada tingkat asersi
(Liniarti, 2024).
Lebih jauh, perkembangan teknologi informasi telah memengaruhi cara auditor
dalam mengakses dan memverifikasi informasi keuangan. Sistem akuntansi berbasis
digital yang terintegrasi dengan aplikasi manajemen operasional menuntut auditor untuk
mampu memahami arsitektur sistem informasi serta titik kontrol yang tertanam di
dalamnya. Dalam studi yang dilakukan oleh Nugroho, Budiyono, dan Widjajarto (2020),
penggunaan framework seperti Cyber Kill Chain dalam auditing memungkinkan pengujian
keamanan dan integritas sistem dilakukan secara terstruktur dan efisien. Meskipun
kerangka tersebut berasal dari dunia keamanan siber, prinsip dasarnya sangat relevan
dalam konteks audit keuangan, khususnya dalam menelusuri jejak digital suatu transaksi.
Pendekatan serupa juga muncul dalam sistem manajemen audit berbasis aplikasi
yang dirancang untuk menyederhanakan proses inspeksi, dokumentasi, dan pelaporan,
sebagaimana diuraikan dalam studi oleh Nasution (2023). Inovasi ini mendukung
efektivitas proses walkthrough, karena memungkinkan auditor untuk mencatat hasil
observasi secara real-time, mengevaluasi pengendalian internal melalui data terintegrasi,
serta mendokumentasikan alur transaksi dalam format yang sistematis dan mudah
ditelusuri.
Dengan mempertimbangkan tantangan dan perkembangan tersebut, maka
kemampuan auditor dalam memahami dan mengimplementasikan walkthrough menjadi
semakin krusial. Tidak hanya untuk memenuhi standar audit, tetapi juga untuk
menghasilkan audit yang berkualitas tinggi dan dapat diandalkan. Selain itu, penting juga
untuk memberikan pemahaman yang mendalam mengenai prosedur ini kepada mahasiswa,
praktisi, dan auditor pemula. Oleh karena itu, penyusunan modul ini ditujukan untuk
menjawab kebutuhan tersebut, dengan menghadirkan panduan lengkap mengenai konsep
walkthrough, tahapan pelaksanaannya, serta studi kasus sebagai ilustrasi nyata dalam
praktik audit profesional (Chandrasari & Suwardi, 2021; Setiawan, 2017).
2
BAB II
KONSEP DASAR AUDITING
2.1 Definisi Audit
Audit merupakan proses sistematis dan objektif yang dilakukan oleh auditor
independen untuk menilai kewajaran penyajian informasi keuangan yang disusun oleh
manajemen. Audit tidak sekadar mengumpulkan bukti, tetapi melibatkan tahapan evaluasi,
pengujian, dan penilaian terhadap asersi yang dibuat oleh entitas, dengan merujuk pada
standar akuntansi dan regulasi yang berlaku. Dalam praktiknya, audit memerlukan
keahlian teknis, skeptisisme profesional, serta kemampuan analitis untuk menilai apakah
laporan keuangan telah disusun dalam semua hal yang material secara wajar (Liniarti,
2024).
Menurut definisi yang dirujuk dari Arens et al. (dalam Liniarti, 2024), audit
melibatkan proses memperoleh dan mengevaluasi bukti tentang informasi ekonomi untuk
menentukan tingkat kesesuaian informasi tersebut terhadap kriteria yang telah ditetapkan.
Tujuan akhirnya adalah menghasilkan opini audit yang dapat digunakan oleh pengguna
laporan keuangan dalam pengambilan keputusan. Definisi ini juga diperkuat dalam Buku
Diktat Auditing 1 (2021), yang menegaskan bahwa audit merupakan bentuk jasa
profesional dengan tanggung jawab publik, yang menghubungkan pihak manajemen
sebagai penyusun informasi dan pihak eksternal sebagai pengguna informasi.
Secara praktik, audit mencakup berbagai jenis pemeriksaan, termasuk audit keuangan,
audit operasional, audit kepatuhan, dan audit teknologi informasi. Meskipun ruang
lingkupnya berbeda, seluruh jenis audit memiliki kesamaan dalam hal prinsip dasar, yaitu
independensi auditor, objektivitas dalam pengumpulan dan evaluasi bukti, serta fokus
terhadap peningkatan akuntabilitas dan transparansi (Nasution, 2023).
2.2 Tujuan Audit
Tujuan utama dari pelaksanaan audit adalah untuk meningkatkan keyakinan pihak
eksternal terhadap kewajaran laporan keuangan yang disajikan oleh entitas. Audit
memberikan assurance bahwa laporan keuangan bebas dari kesalahan penyajian material,
baik yang disebabkan oleh kesalahan tidak disengaja (errors) maupun kecurangan (fraud).
Keyakinan ini diperoleh melalui proses evaluasi yang terstruktur terhadap bukti audit yang
3
memadai dan relevan, sehingga auditor dapat memberikan opini yang mencerminkan
kondisi sebenarnya dari entitas yang diperiksa (Liniarti, 2024).
Sebagaimana diatur dalam Standar Audit SA 200 (IAPI, 2021), auditor bertanggung
jawab untuk memperoleh keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan secara
keseluruhan bebas dari salah saji material. Dengan demikian, hasil audit menjadi dasar
pertimbangan penting bagi para pengambil keputusan, termasuk investor, kreditur,
regulator, hingga masyarakat umum. Dalam konteks bisnis global, opini audit tidak hanya
dilihat sebagai bentuk verifikasi teknis, tetapi juga sebagai sinyal kepercayaan atas kinerja
dan integritas manajemen (Buku Diktat Auditing 1, 2021).
Di era digital seperti saat ini, tujuan audit juga berkembang untuk mencakup aspek
evaluasi terhadap sistem informasi, kontrol teknologi, dan kepatuhan terhadap standar
keamanan data. Penerapan pendekatan Cyber Kill Chain dalam audit sistem, sebagaimana
dijelaskan oleh Nugroho, Budiyono, & Widjajarto (2020), memberikan bukti bahwa audit
kini juga memiliki kontribusi terhadap perlindungan informasi dan mitigasi risiko digital,
yang sangat relevan untuk perusahaan berbasis teknologi tinggi.
2.3 Peran Strategis Audit
Audit memiliki peran yang sangat strategis dalam mendukung tata kelola perusahaan
yang baik (good corporate governance). Dalam perspektif teori agensi, audit berfungsi
sebagai jembatan antara manajemen sebagai agen dan pemilik perusahaan sebagai
prinsipal. Ketika terjadi perbedaan kepentingan dan informasi yang tidak simetris, audit
bertindak sebagai mekanisme pengawasan yang memastikan bahwa manajemen menyusun
dan menyajikan informasi keuangan secara akurat dan jujur (Chandrasari & Suwardi,
2021).
Dengan peran tersebut, audit tidak hanya menambah kepercayaan pemilik terhadap
laporan yang dibuat oleh manajemen, tetapi juga memperkuat akuntabilitas internal. Selain
itu, audit menjadi instrumen penting dalam mencegah, mendeteksi, dan merespons praktik
penyimpangan yang dapat merugikan entitas dan pemangku kepentingannya. Proses audit
yang baik akan menciptakan budaya transparansi dan kepatuhan terhadap prinsip etika
serta hukum yang berlaku (Sulviani & Hermayana, 2019).
4
Peran strategis audit semakin diperkuat dengan adanya prosedur teknis seperti
walkthrough, yang menjadi tahapan awal dalam proses pengujian sistem. Walkthrough
membantu auditor memperoleh pemahaman menyeluruh tentang bagaimana transaksi
diproses, bagaimana kontrol diimplementasikan, dan di mana letak potensi kelemahan.
Dalam praktiknya, walkthrough dapat mengungkap adanya celah yang tidak terdeteksi
dalam prosedur tertulis, dan membantu auditor merancang pengujian lanjutan yang tepat
sasaran (Setiawan, 2017; Liniarti, 2024).
Dengan demikian, audit bukan hanya alat validasi informasi, melainkan juga bagian
dari sistem manajemen risiko yang berperan langsung dalam menjaga keberlangsungan
bisnis dan reputasi perusahaan. Kombinasi antara keahlian teknis auditor, pemahaman
sistem, dan penggunaan prosedur seperti walkthrough menjadikan audit sebagai instrumen
strategis yang mendukung kelangsungan usaha secara berkelanjutan.
5
BAB III
KONSEP WALKTHROUGH DALAM AUDIT
3.1 Definisi Walkthrough
Walkthrough merupakan salah satu prosedur penting dalam proses audit yang
digunakan auditor untuk memperoleh pemahaman menyeluruh mengenai bagaimana suatu
transaksi diproses dalam sistem informasi akuntansi klien. Prosedur ini dilakukan dengan
cara menelusuri satu transaksi dari tahap awal (misalnya pemesanan barang atau jasa)
hingga tahap akhir (misalnya pencatatan ke dalam laporan keuangan), dengan tujuan untuk
mengidentifikasi langkah-langkah yang dilalui oleh transaksi tersebut serta mengevaluasi
sistem pengendalian internal yang terlibat di dalamnya (Liniarti, 2024).
Prosedur walkthrough tidak hanya terbatas pada pengamatan dokumentasi, tetapi
mencakup aktivitas wawancara dengan personel yang terlibat, observasi atas pelaksanaan
tugas, serta verifikasi dokumen pendukung seperti form pesanan, invoice, atau jurnal
transaksi. Dengan pendekatan ini, auditor dapat memahami secara langsung bagaimana
sistem informasi akuntansi bekerja dalam praktik dan apakah pengendalian internal yang
dirancang oleh manajemen telah diimplementasikan dengan baik. Buku Diktat Auditing 1
(2021) menegaskan bahwa prosedur walkthrough bertujuan untuk menguji apakah
prosedur standar operasional benar-benar diterapkan, serta apakah kontrol internal yang
ada cukup efektif untuk mencegah dan mendeteksi kesalahan atau kecurangan.
Walkthrough sering digunakan pada tahap awal audit, khususnya saat auditor sedang
melakukan pemahaman terhadap entitas dan lingkungannya, sebagaimana disyaratkan
oleh SA 315. Dalam tahap ini, auditor bertugas untuk mengidentifikasi titik-titik risiko
yang berpotensi menimbulkan salah saji material pada laporan keuangan. Dengan
melakukan walkthrough, auditor memperoleh informasi yang dibutuhkan untuk
mengevaluasi desain sistem pengendalian internal, menentukan apakah kontrol tersebut
telah diimplementasikan, dan menilai apakah kontrol tersebut relevan dan memadai untuk
mendukung penyajian laporan keuangan yang wajar (Liniarti, 2024; Sulviani &
Hermayana, 2019).
Selain itu, dalam praktik audit berbasis teknologi informasi, prosedur walkthrough
juga menjadi penting karena memungkinkan auditor memahami integrasi antara sistem
informasi digital dan kontrol manual. Sebagaimana dicontohkan dalam penelitian oleh
6
Nasution (2023), pelaksanaan audit berbasis aplikasi mobile yang mengadopsi prinsip-
prinsip walkthrough dapat meningkatkan efisiensi proses evaluasi sistem, sekaligus
membantu auditor mendeteksi celah pada pengendalian sistem informasi. Hal ini
menunjukkan bahwa definisi walkthrough telah berkembang, dari sekadar prosedur teknis
menjadi pendekatan audit yang juga memperhatikan elemen perilaku organisasi, sistem
digital, dan konteks manajerial.
3.2 Tujuan dan Manfaat Walkthrough
Tujuan utama dari prosedur walkthrough adalah untuk memberikan auditor
pemahaman operasional yang memadai mengenai proses bisnis dan sistem pengendalian
internal entitas yang relevan dengan audit. Dengan menelusuri satu transaksi secara
menyeluruh dari inisiasi hingga pencatatan akhir, auditor dapat mengidentifikasi
bagaimana aktivitas dilakukan secara nyata, apakah sistem telah berjalan sesuai dengan
prosedur, serta mengevaluasi titik-titik krusial yang berisiko tinggi terhadap kesalahan
penyajian laporan keuangan (Liniarti, 2024). Menurut Sulviani dan Hermayana (2019),
walkthrough sangat efektif dalam membantu auditor mengenali titik-titik kontrol yang
penting, area dengan potensi risiko signifikan, serta kelemahan sistem yang tidak selalu
dapat dideteksi melalui pengujian substantif semata. Prosedur ini juga berperan penting
dalam tahap perencanaan audit, khususnya dalam pendekatan berbasis risiko (risk-based
audit), karena memberikan dasar bagi auditor untuk menentukan fokus pemeriksaan dan
merancang pengujian lanjutan secara lebih tepat sasaran.
3.3 Ruang Lingkup Modul
Modul ini diperuntukkan bagi auditor di KAP ABC yang ingin memperdalam
pengetahuan tentang penerapan walkthrough. Modul ini menyajikan teori yang dilengkapi
praktik melalui studi kasus dan template observasi, sehingga pembaca tidak hanya
memahami konsep, tetapi juga memiliki keterampilan teknis yang aplikatif.
3.4 Prinsip Walkthrough dalam SA 315
Sesuai dengan ketentuan SA 315, prosedur walkthrough dilakukan untuk
memahami desain dan implementasi pengendalian internal atas transaksi signifikan.
Dalam hal ini, auditor tidak hanya menanyakan bagaimana suatu proses berjalan, tetapi
juga mengamati langsung pelaksanaannya, meninjau dokumen pendukung, dan melakukan
7
wawancara dengan pihak terkait. Hal ini diperkuat pula oleh pendekatan berbasis aplikasi
audit digital yang dikembangkan dalam sistem inspeksi K3 oleh Nasution (2023).
3.5 Tahapan Walkthrough
1. Pemilihan Siklus yang Relevan, sebagai contoh siklus Penjualan.
2. Dapatkan SOP terbaru yang berlaku terkait proses bisnis contohnya SOP Penjualan.
3. Lakukan proses walkthrough untuk mengonfirmasi pemahaman atas desain control dan
implementasi dan control tersebut dengan cara sebagai berikut :
• Inkuiri, yaitu dengan meminta penjelasan mengenai alur proses bisnis antara
lain melalui wawancara atau pemaparan oleh divisi terkait.
• Observasi, yaitu dengan mengamati secara langsung aktivitas dalam alur proses
bisnis klien.
• Identifikasi Kontrol, yaitu dengan mengamati pemisahan tugas, mekanisme
persetujuan, serta pencatatan yang dilakukan dalam setiap transaksi.
• Inspeksi Dokumen, yaitu dengan mengambil satu sampel dokumen lengkap
yang menggambarkan aktivitas dalam alur proses bisnis klien.
4. Evaluasi Konsistensi , yaitu dengan membandingkan antara praktik yang dilakukan di
lapangan dengan kebijakan dan prosedur yang terdokumentasi. Jika ditemukan perbedaan
antara kebijakan tertulis dan pelaksanaan aktual, auditor akan menilai apakah perbedaan
tersebut berpotensi menimbulkan risiko bagi perusahaan.
5. Dokumentasi Temuan, yaitu di mana auditor menyusun laporan mengenai hasil tinjauan
mereka, termasuk kelemahan atau ketidaksesuaian yang ditemukan dalam sistem kontrol
internal. Dokumentasi ini sangat penting sebagai dasar rekomendasi perbaikan bagi manajemen
dan sebagai referensi untuk audit lebih lanjut. Dengan melalui tahapan ini secara sistematis,
auditor dapat menilai efektivitas kontrol perusahaan dan memberikan masukan yang dapat
meningkatkan transparansi serta akuntabilitas dalam operasional bisnis.
8
BAB IV
PANDUAN IMPLEMENTASI WALKTHROUGH
4.1 Latar Belakang Perusahaan (PT XYZ)
PPT XYZ merupakan perusahaan multinasional yang bergerak di sektor teknologi
keamanan berbasis digital. Fokus utama perusahaan ini adalah menyediakan solusi
terintegrasi dalam sistem pengawasan, yang mencakup perangkat keras seperti kamera
pengintai (CCTV), perekam digital (DVR/NVR), serta perangkat lunak berbasis
kecerdasan buatan (AI) dan komputasi awan (cloud). Produk dan layanannya digunakan
secara luas dalam berbagai sektor, mulai dari komersial, industri, pemerintahan, hingga
kebutuhan rumah tangga, menjadikan PT XYZ sebagai salah satu pemain dominan dalam
industri sistem keamanan global.
Dengan jaringan operasional di berbagai negara, termasuk Indonesia, perusahaan
ini menjalankan aktivitas bisnisnya berdasarkan standar mutu dan efisiensi tinggi. Dalam
rangka menjaga integritas proses bisnis, PT XYZ menerapkan pengendalian internal yang
kuat melalui Standar Operasional Prosedur (SOP) pada setiap tahapan, terutama dalam
siklus penjualan dan pembelian. Prosedur tersebut dirancang untuk mendukung
akuntabilitas, mengurangi risiko kesalahan, serta memastikan kepatuhan terhadap regulasi
yang berlaku (Setiawan, 2017).
Sebagai perusahaan yang mengandalkan teknologi informasi dalam sistem
operasionalnya, PT XYZ juga mengintegrasikan pendekatan evaluasi berbasis digital,
termasuk dalam praktik audit internal. Konsep evaluasi seperti usability walkthrough,
sebagaimana diterapkan dalam sistem berbasis web dan aplikasi (Waspodo & Putra, 2024),
menjadi relevan untuk menguji apakah sistem informasi yang digunakan dapat diandalkan
dan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Lebih jauh, pendekatan ini
memungkinkan auditor untuk mengevaluasi kesesuaian antara proses manual dan sistem
terotomasi dalam satu alur kerja yang utuh dan terdokumentasi (Nugroho et al., 2020).
Dengan demikian, PT XYZ menjadi studi kasus yang representatif dalam
memahami penerapan prosedur audit modern, termasuk penggunaan walkthrough sebagai
teknik audit awal untuk menilai efektivitas pengendalian dan pemrosesan transaksi secara
menyeluruh.
9
4.2 Standar Operasional Prosedur (SOP) Penjualan dan Pembelian
4.2.1 SOP Penjualan di PT XYZ
Proses penjualan di PT XYZ dirancang untuk menjamin akurasi transaksi,
pemenuhan kebutuhan pelanggan, dan kepatuhan terhadap kebijakan internal
perusahaan. Prosedur ini juga mendukung transparansi serta efisiensi operasional
melalui sistem ERP yang terintegrasi. Berikut adalah flowchart SOP Penjualan PT XYZ
10
4.3 Template dan Naratif Walkthrough
4.3.1 Naratif dan Walkthrough Sheet Testing pada Proses Penjualan PT XYZ
Sebagai bagian dari tahap pemahaman sistem dalam proses audit, auditor
melakukan prosedur walkthrough terhadap satu transaksi penjualan yang dipilih secara
acak dari periode bulan April 2024. Tujuan dari walkthrough ini adalah untuk
memperoleh pemahaman menyeluruh mengenai alur transaksi, mengevaluasi
efektivitas pengendalian internal, dan memastikan bahwa sistem yang diterapkan oleh
PT XYZ berfungsi sesuai dengan kebijakan dan prosedur yang ditetapkan. Prosedur
dimulai dengan melakukan wawancara dengan staf administrasi penjualan, supervisor
gudang, dan staf logistik untuk menggali informasi seputar proses aktual. Selain itu,
auditor juga melakukan observasi langsung terhadap dokumen fisik, serta meninjau
pencatatan transaksi dalam sistem ERP perusahaan.
Langkah-langkah prosedur walkthrough pada siklus penjualan PT XYZ :
1. Dapatkan SOP terbaru yang berlaku terkait proses bisnis contohnya SOP
Penjualan.
2. Inkuiri, yaitu dengan meminta penjelasan mengenai alur proses bisnis antara
lain melalui wawancara atau pemaparan oleh divisi terkait.
• Pertanyaan terkait dengan Alur proses bisnis klien :
• Bagaimana proses penjualan ini dimulai? (misalnya, dari penerimaan
pesanan hingga pengiriman barang).
• Department mana saja yang terlibat dalam suatu siklus penjualan
barang pada PT XYZ?
• Apa saja bukti fisik yang digunakan untuk mendukung transaksi
penjualan? (misalnya, faktur, nota pengiriman, bukti pembayaran).
• Apakah terdapat pemisahan tugas antara proses satu dengan proses
yang lainnya pada siklus penjualan ini?
• Dokumen apa yang menjadikan dasar atas penerbitan Faktur
Penjualan?
• Kapan Faktur Penjualan diterbitkan?
• Siapa yang menyetujui atas faktur penjualan ini?
11
• Siapa yang bertanggung jawab mencatat transaksi penjualan pada
system?
• Siapa yang bertanggung jawab memaintenance proses pembayaran?
• Siapa yang bertanggung jawab atas pencatatan penerimaan
pembayaran dari customer?
• Bagaimana Manajemen mengetahui pembayaran atas invoice yang
mana dari customer?
• Apakah ada pemisahan tugas antara penerima uang dan pencatat
akuntansi?
• Bank apa yang dipakai dalam penerimaan uang atas penjualan pada PT
XYZ?
• Bagaimana jurnal atas penerimaan uang atas penjualan pada PT XYZ?
• Siapa saja yang mengetahui PIN rekening Perusahaan?
3. Observasi, Auditor mengamati secara langsung aktivitas dalam alur proses
bisnis klien seperti pengamatan pada system pada PT XYZ.
4. Identifikasi Kontrol, Auditor telah mengidentifikasi pemisahan tugas dan
mekanisme persetujuan, serta pencatatan yang dilakukan dalam setiap transaksi
pada saat melakukan inkuiri dengan klien.
5. Inspeksi Dokumen, Auditor meminta sampel set dokumen yang
menggambarkan suatu siklus bisnis penjualan klien dari awal transaksi sampai
dengan penjurnalan penerimaan kas.
6. Evaluasi Konsistensi dan dokumentasi temuan , Auditor membuat narrative dan
walkthrough testing sheet berdasarkan SOP dan inkuiri dengan divisi terkait
serta sampel set dokumen yang telah diinspeksi oleh Auditor. Auditor
membandingkan antara praktik yang dilakukan di lapangan dengan kebijakan dan
prosedur yang terdokumentasi. Jika ditemukan perbedaan antara kebijakan tertulis dan
pelaksanaan aktual, auditor akan menilai apakah perbedaan tersebut berpotensi
menimbulkan risiko bagi Perusahaan.
7. Kesimpulan siklus penjualan pada PT XYZ berdasarkan prosedur yang
dilakukan pada KAP ABC yaitu, untuk pemisahan tugas setiap department
dalam setiap proses terbilang cukup baik yang mana terdapat beberapa
Department yang terlibat dalam suatu siklus penjualan pada PT XYZ antara lain,
Department Komersil, Department Gudang, Department Logistik, dan
12
Department Finance. Namun, pada proses pencatatan hingga penagihan masih
dinilai kurang baik dikarenakan terdapat pelaksanakaan suatu jobdesk pada
karyawan yang sama, ini memungkinkan terjadinya risiko kecurangan dalam
suatu transaksi penjualan pada PT XYZ. PT XYZ telah memiliki SOP yang
cukup jelas dan PT XYZ telah menjalankna suatu siklus penjualan dengan
sebagaimana mestinya.
13
DAFTAR PUSTAKA
Chandrasari, K. D., & Suwardi, E. (2021). Analisis Pembentukan Judgement Auditor pada
Penilaian Risiko Fraud: Perspektif Bounded Rationality Theory. Behavioral Accounting
Journal, 4(2), 351–353.
Liniarti, S. (2024). Buku Ajar Auditing II. Widina Media Utama.
Nasution, M. I. (2023). Pengembangan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
PP 50 Tahun 2012 Berbasis Mobile Application. Jurnal Pengembangan Ketenagakerjaan,
1(1), 16–24.
Nugroho, R., Budiyono, A., & Widjajarto, A. (2020). Implementasi dan Analisa Security
Auditing Menggunakan Open Source Software Kali Linux dengan Framework Cyber Kill
Chain. e-Proceeding of Engineering, 7(2), 7071–7079.
Setiawan, D. (2017). Prosedur Audit Atas Pendapatan Kontrak Konstruksi PT XYZ Tbk.
Laporan PKL, Institut Perbanas.
Sulviani, A., & Hermayana, H. (2019). Pengaruh Risiko Audit, Materialitas, Kompleksitas
Audit, dan Pengendalian Internal terhadap Pertimbangan Auditor atas Prosedur Audit.
Jurnal Wacana Ekonomi, 19(1), 13–25.
Universitas Penyusun. (2021). Buku Diktat Auditing 1: Prinsip Dasar Pemeriksaan Laporan
Keuangan Berbasis ISA. [Institusi Tidak Ditetapkan].
Waspodo, B., & Putra, H. A. Y. (2024). Evaluasi Usability Website Matajari Menggunakan
Cognitive Walkthrough. Jurnal Informatika dan Teknik Elektro Terapan, 12(3S1), 3445–
3446.
14