0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan53 halaman

Kelebihan dan Kekurangan Beton Bertulang

Dokumen ini membahas tentang beton dan beton bertulang, termasuk komposisi, kelebihan, dan kekurangan beton bertulang sebagai bahan konstruksi. Selain itu, dijelaskan juga elemen struktur bangunan seperti kolom, balok, dan pelat, serta langkah-langkah perencanaan dan perhitungan yang terkait dengan masing-masing elemen tersebut. Beton bertulang merupakan bahan penting dalam konstruksi yang memiliki ketahanan tinggi dan umur panjang, meskipun memerlukan bekisting dan memiliki berat yang signifikan.

Diunggah oleh

sarjana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan53 halaman

Kelebihan dan Kekurangan Beton Bertulang

Dokumen ini membahas tentang beton dan beton bertulang, termasuk komposisi, kelebihan, dan kekurangan beton bertulang sebagai bahan konstruksi. Selain itu, dijelaskan juga elemen struktur bangunan seperti kolom, balok, dan pelat, serta langkah-langkah perencanaan dan perhitungan yang terkait dengan masing-masing elemen tersebut. Beton bertulang merupakan bahan penting dalam konstruksi yang memiliki ketahanan tinggi dan umur panjang, meskipun memerlukan bekisting dan memiliki berat yang signifikan.

Diunggah oleh

sarjana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Beton dan Beton Bertulang

Beton adalah suatu campuran yang terdiri dari pasir, kerikil, batu
pecah, atau agregat agregat lain yang dicampur menjadi satu dengan suatu
pasta yang terbuat dari semen dan air membentuk suatu massa mirip batuan.
Biasanya satu atau lebih bahan aditif ditambahkan untuk menghasilkan
beton dengan karakteristik tertentu, seperti kemudahan pengerjaan
(workability), durabilitas, dan waktu pengerasan.([Link], 2004:1).
Seperti bahan mirip batuan lainnya, beton memiliki kuat tekan yang tinggi
dan kuat tarik yang sangat rendah.

Beton bertulang adalah suatu kombinasi. antara beton dan baja di


mana tulangan baja berfungsi menyediakan kuat tarik yang tidak dimiliki
oleh beton.([Link], 2004:1). Tulangan baja juga dapat menahan gaya
tekan sehingga digunakan pada kolom dan pada berbagai kondisi lainya.
Beton bertulang merupakan salah bahan konstruksi yang paling penting
dalam bidang kontruksi biasanya beton bertulang digunakan dalam hampir
semua elemen struktur dari yang besar maupun kecil seperti, jembatan,
perkerasan jalan, bendungan, dinding penahan tanah, terowongan, jembatan
yang melintasi lembah (viaduct), drainase serta fasilitas irigasi, tangki, dan
sebagainya.

Adaupun Terdapat kelebihan dan kekuarangan Beton Bertulang


sebagai bahan kontruksi kontruksi ,antara lain :

a. Kelebihan beton bertulang


1. Beton bertulang mempunyai ketahanan yang tinggi terhadap api
dan air. bahkan merupakan bahan struktur terbaik untuk
bangunan yang banyak bersentuhan dengan air. Pada peristiwa
kebakaran dengan intensitas rata - rata, batang struktur dengan
ketebalan penutup beton yang memadai sebagai pelindung

4
5

tulangan hanya mengalami kerusakan pada permukaannya saja


tanpa mengalami keruntuhan.
2. Dibandingkan dengan bahan lain, beton memiliki usia layan yang
sangat panjang. Dalam kondisi-kondisi normal, struktur beton
bertulang dapat digunakan sampai kapan pun tanpa kehilangan
kemampuannya untuk menahan beban. Ini dapat dijelaskan dari
kenyataan bahwa kekuatan beton tidak berkurang dengan
berjalannya waktu bahkan semakin lama semakin bertambah
dalam hitungan tahun, karena lamanya proses pemadatan pasta
[Link] bangunan yang kokoh menjadikan beton
bertulang tahan terhadap api dan air
3. Beton bertulang tidak memerlukan biaya pemeliharaan yang
tinggi.
b. Kekurangan beton bertulang
1. Dalam pelaksanaan pekerjaanya beton bertulang memerlukan
bekisting sebagai penahan bentuk beton bertulang yang akan
dibuat dan supaya beton berada pada tempatnya sampai beton
beton mengeras.
2. Pada dasarnya beton memiliki beban yang sangat berat, sehingga
berpengaruh terhadap struktur yang memiliki bentang Panjang
yang dapat menyebabkan terjadinya momen lentur.
3. Beton bertulang relative memiliki ukuran yang lebih besar,
sehingga di pertimbangkan jika digunakan pada bangunan tinggi.
2.2 Elemen Struktur

Secara umum , Struktur bangunan Gedung terdiri dari 2 bagian


utama yaitu berupa struktur atas yang terdiri dari balok,kolom dan plat,
sedangkan struktur bawah hanya meliputi pondasi

2.2.1 Struktur atas

Struktur atas merupakan salah satu komponen yang struktur yang


berada di atas tanah. Struktur atas memiliki komponen seperti
6

kolom,balok,plat. Komponen tersebut memiliki fungsi yang berbeda – beda


dalam sebuah struktur.

[Link] Kolom

Kolom adalah komponen struktur bangunan yang tugas utamanya


menyangga beban aksial tokan vertikal dengan bagian tinggi yang tidak
ditopang paling tidak tiga kali dimensi lateral terkecil. (Dhipohusodo,1994
: 287).

Sedangkan komponen struktur yang menahan beban aksial vertikal


dengan rasio bagian tinggi dengan dimensi lateral for kecil kurang dari tiga
dinamaken pedestal Sebagai bagian dari suatu kerangka bangunan dengan
fungsi dan peran seperti tersebut, kolom menempati posisi penting di dalam
sis tem struktur bangunan Kegagalan kolom akan berakibat langsung pada
runtuhnya kom ponen struktur lain yang berhubungan dengannya, atau
bahkan merupakan batas runtuh total keseluruhan struktur bangunan. Pada
umumnya kegagalan atau keruntuhan kompo nen tekan tidak diawali
dengan tanda peringatan yang jelas, bersifat mendadak.
Terdapat 3 jenis Kolom beton bertulang antara lain :
1. Kolom menggunakan pengikat Sengkang lateral. Kolom ini
merupakan kolom beton yang ditulangi dengan batang
tulangan Pokok memanjang, yang pada jarak spasi tertentu
diikat dengan pengikat Sengkang ke arah lateral, sehingga
penulangan keseluruhan membentuk kerangka.
2. Kolom menggunakan pengikat spiral. Bentuknya sama dengan
kolom yang menggunakan pengikat Sengkang lateral hanya
saja sebagai pengikat tulangan pokok memanjang berbentuk
spiral memanjang yang dililitkan keliling membentuk heliks
menerus sepanjang kolom.
3. Sttuktur kolom komposit, merupakan komponen struktur
tekan yang diperkuat pada arah memanjang dengan gelagar
7

baja profil atau profil pipa, dengan atau tanpa diberi tulangan
pokok memanjang.

Gambar 2.1 Jenis kolom

Berikut tahapan dalam perencanaan kolom

1. Langkah – langkah perhitungan kolom

𝑀𝑢
𝑒= (2.1)
𝑃𝑢

𝐸𝑐 = 4700 𝑥 √𝑓𝑐 ′ (2.2)

1
𝐼𝑘 = 12 𝑥 𝑏 𝑥ℎ3 (2.3)

1
𝐼𝑏 = 12 𝑥 𝑏 𝑥ℎ3 (2.4)

𝑟 = 0,3 𝑥ℎ3 ℎ (2.5)

𝐸.𝐼𝑘
(2.6)
𝐿𝑘

𝐸.𝐼𝑏
(2.7)
𝐿𝑏

𝐸.𝐼𝑘

𝐿𝑘
𝜓𝐴 = 𝐸.𝐼𝑏 (2.8)

𝐿𝑏
𝐸.𝐼𝑘

𝐿𝑘
𝜓𝐵 = 𝐸.𝐼𝑏 (2.9)

𝐿𝑏

𝑘.𝑙𝑢 𝑀1
< 34 − 12 (2.10)
𝑟 𝑀2
8

2. Selanjutnya dilakukan penulangan kolom pendek ekivalen


𝐴𝑠 𝑥 𝑓𝑦
𝑎= (2.11)
0,85 𝑥 𝑓𝑐 ′ 𝑥 𝑏
𝑎
𝑀𝑛 = 𝐴𝑠 𝑓𝑦 (𝑑 − 2) (2.12)

𝑀𝑅 = 𝜃𝑀𝑛 (2.13)
𝑀𝑅 > 𝑀𝑢 (𝑂𝐾𝐸) (2.14)
3. Pemeriksaan Pu terhadap beban pada keadaan seimbang ∅Pnb
600
Cb = (600+𝑓𝑦) 𝑑 (2.15)

𝑎𝑏 = 𝛽1 Cb (2.16)
𝐶𝑏 −𝑑′
𝑓𝑠′ = 600 ( ) (2.17)
𝐶𝑏

∅𝑃𝑛𝑏 = 0,65 (0,85 𝑓𝑐 ′ 𝑎𝑏 + 𝐴𝑠 𝑓𝑦 − 𝐴𝑠 𝑓𝑦 ) (2.18)


4. Pemeriksaan kekuatan penampang pada kolom 4

𝑓𝑦
𝑚= (2.19)
0,85 𝑓𝑐′

𝐴𝑠
𝜌= (2.20)
𝑏𝑑

ℎ−2𝑒 2 ′
𝑃𝑛 = 0,85 𝑓𝑐 ′ 𝑏 𝑑 [( )+ √(ℎ−2𝑒) + 2𝑚𝑝 (1 − 𝑑 )] 10−3 (2.21)
2𝑑 2𝑑 𝑑

𝜃𝑃𝑛 = 0,65 𝑥 𝑃𝑛 (2.22)

𝜃𝑃𝑛 > 𝑃𝑢 (𝑂𝐾𝐸) (2.23)

[Link] Balok

Balok merupakan elemen lentur pada struktur bangunan, yaitu


sebuah elemen struktur yang dominan memikul gaya dalam berupa momen
lentur dan juga geser. Balok pada sturktur bangunan memiliki fungsi untuk
menopang beban lantai diatasnya, balok juga berfungsi sebagai penyalur
momen menuju kolom-kolom. Balok beton bertulang sering didesain untuk
memikul momen lentur dengan menggunakan penampang bertulang ganda,
sebab ditinjau dari mekanisme lentur penampang bertulang ganda
9

mempunyai daktilitas yang lebih besar daripada penampang bertulangan


tunggal.

Berikut merupakan langkah – langkah dalam melakukan


perencanaan balok :

1. Langkah perencanaan
𝑀𝑢
𝑘 = ∅.𝑏.𝑑 (2.24)

𝑘
𝜔 = 0,85 − √072 − 1,7 𝑓𝑐′ (2.25)

2. Pemeriksaan rasio tulangan Tarik balok


𝑓𝑐′
𝜌 = 𝜔. 𝑓𝑦 (2.26)
0,85.𝑓𝑐 ′ .𝛽1 600
𝜌𝑏 = 𝑓𝑦
+ (600+𝑓𝑦) (2.27)

𝜌 max = 0,75 𝜌𝑏 (2.28)


1,4
𝜌𝑚𝑖𝑛 = 𝑓𝑦
(2.29)

3. Pemeriksaan rasio tulangan


𝜌 min > 𝜌 < 𝜌𝑚𝑎𝑥 (Keruntuhan Seimbang)
𝜌 > 𝜌𝑚𝑖𝑛 (Keruntuhan Tarik)
𝜌 < 𝜌𝑚𝑎𝑥 (Keruntuhan Tekan)
4. Luas Tulangan Pokok
As = 𝜌 . b .drencana (2.30)
5. Pemeriksaan b pakai
bpakai = 2 x selimut beton + 2 x ∅ 𝑠𝑒𝑛𝑔𝑘𝑎𝑛𝑔 + n ∅ 𝑡𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 +
(n – 1) x jarak tulangan
jika b pakai < b rencana (digunakan tulangan satu lapis)
jika b pakai > b rencana ( digunakan tulangan dua pipis)
6. Pemeriksaan d pakai
dpakai = h x selimut beton + ∅ 𝑠𝑒𝑛𝑔𝑘𝑎𝑛𝑔 + ½ ∅ 𝑡𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛
dpakai > drencana (OKE)
7. Pemeriksaan Tulangan Penampang
𝐴𝑠 𝑥𝑓𝑦
𝑎= 0,85 𝑥 𝑓𝑐 ′ 𝑥 𝑏
(2.31)
10

8. Momen nominal penampang


𝑎
𝑀𝑛 = 𝐴𝑠 𝑓𝑦 (𝑑 − 2) (2.32)

9. Momen tahanan penampang


𝑀𝑅 = 𝜃𝑀𝑛 (2.33)
10. Kontrol
𝑀𝑅 > 𝑀𝑢 (OKE) (2.34)
[Link] Pelat

Pelat merupakan salah satu komponen struktur bangunan yang


berfungsi untuk menahan beban secara langsung. Pada pelat dimana
perbandingan antara sisi panjang (ly) dan sisi pendek (lx) lebih dari 2 dapat
di pakai penulangan pelat satu arah, sedangkan apabila perbandingan sisi
panjang (ly) dan sisi pendek (lx) kurang dari 2 maka dapat memakai sistem
penulangan pelat dua arah.

1. Pelat satu arah

Struktur pelat satu arah dapat diartikan sebagai plat yang di dukung
pada dua tepi yang berhadapan, sehingga lenturan timbul hanya dalam satu
arah saja, yaitu pada arah yang tegak lurus terhadap arah dukungan tepi.

Berikut tabel batasan tebal minimum untuk plat satu arah


berdasarkan SNI 2847 : 2019 :

Tabel 2.1 Tabel Batasan Pelat Satu Arah

Kondisi Tumpuan h Minimum


Tumpuan sederhanan l/20
Satu ujung menerus l/24
Kedua ujung menerus l/28
Kantilever l/10
Untuk fy lebih dari 420 Mpa harus dikalikan dengan persamaan berikut:

𝑓𝑦
(0,4 + 700) (2.35)
11

2. Pelat dua arah

Struktur pelat dua arah merupakan pelat didukung sepanjang


keempat sisinya, di batasi oleh balok anak pada kedua sisi panjang dan oleh
balok induk pada kedua sisi pendek, dimana lentur akan timbul pada dua
arah yang saling tegak lurus, dinamakan sebagai pelat dua arah.

Berikut ketebalan minimum pelat dua arah nonprategang tanpa


balok interior :

Tabel 2.2 Tabel Batasan Pelat Dua Arah

Tanpa drop panel Dengan drop panel


Panel eksterior Panel Panel eksterior Panel
Fy interior interior
(Mpa) Tanpa Dengan Tanpa Dengan
balok tepi balok balok balok
tepi tepi tepi
280 ln/33 ln/36 ln/36 ln/36 ln/40 ln/40
420 ln/30 ln/33 ln/33 ln/33 ln/36 ln/36
520 ln/28 ln/31 ln/31 ln/31 ln/34 ln/34

Untuk tebal pelat dua arah dengan balok yang membentang di antara
tumpuan pada semua sisinya, tebal minimumnya (h) harus memenuhi
ketentuan sebagai berikut :

1. 𝛼𝑓𝑚 ≤ 0,2 menggunakan persamaan pada tabel 2.2


2. 0,2 < 𝛼𝑓𝑚 ≤ 2,0 menggunakan persamaan berikut :
𝑓𝑦
𝑙𝑛(0,8+ )
1400
(2.36)
36+5𝛽(𝛼𝑓𝑚−0,2)

3. 𝛼𝑓𝑚 > 2,0 menggunakan persamaan berikut :


12

𝑓𝑦
𝑙𝑛(0,8+ )
1400
(2.37)
36+9𝛽

Perhitungan momen pada plat dua arah menggunakan persamaan


berikut :

𝑞𝑢 𝑙2 𝑙𝑛2
𝑀𝑜 = (2.38)
8

Setelah mencari Mo mencari distribusi di ujung – ujung bentang

Tabel 2.3 Tabel perhitungan momen pelat dua arah

Tepi Pelat Pelat balok antara Tepi


eksterior dengan tumpuan interior eksterior
tak balok Tanpa Dengan terkekekang
terkekang antara balok balok penuh
semua tepi tepi
tumpuan
Negatif 0,75 0,70 0,52 0,70 0,65
interior
Positif 0,63 0,57 0,26 0,50 0,35
Negative 0 0,16 0,26 0,30 0,65
eksterior
Pada bentang interior Mo harus didistribusikan sebagai 0,65 Mo
ke momen negatif dan 0,35 Mo ke momen negatif

4. Perencanaan penulangan plat dapat digunakan menggunakan


persamaan tersebut :

𝑀𝑢
𝑘 = ∅.𝑏.𝑑 (2.38)

𝑘
𝜔 = 0,85 − √072 − 1,7 𝑓𝑐′ (2.39)

5. Pemeriksaan rasio tulangan menggunakan persamaan berikut

𝑓𝑐′
𝜌 = 𝜔. 𝑓𝑦 (2.40)
13

0,85.𝑓𝑐 ′ .𝛽1 600


𝜌𝑏 = 𝑓𝑦
+ (600+𝑓𝑦) (2.41)

𝜌 max = 0,75 𝜌𝑏 (2.42)

1,4
𝜌𝑚𝑖𝑛 = 𝑓𝑦
(2.43)

As = 𝜌 . 𝑏 . 𝑑 (2.44)

6. Untuk tulangan susut digunakan persamaan berikut :

As = 0,002 x b x h (2.43)

7. Pemeriksaan d-pakai menggunakan persamaan berikut:

1
𝑑𝑝𝑎𝑘𝑎𝑖 = ℎ − 𝑠𝑒𝑙𝑖𝑚𝑢𝑡 𝑏𝑒𝑡𝑜𝑛 − 2 ∅ 𝑡𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑝𝑜𝑘𝑜𝑘

8. Untuk kontrol menggunakan persamaan di bawah ini :

𝐴𝑠 𝑥 𝑓𝑦
𝑎= (2.44)
0,85 𝑥 𝑓𝑐 ′ 𝑥 𝑏

𝑎
𝑀𝑛 = 𝐴𝑠 𝑓𝑦 (𝑑 − ) (2.45)
2

𝑀𝑅 > ∅𝑀𝑛 (𝑜𝑘𝑒) (2.46)

2.2.2 Struktur Bawah

Struktur atas merupakan salah satu komponen yang struktur yang


berada di bawah bagian paling dasar pada struktur bangunan. Salah satu
komponen struktur bawah adalah pondasi.

[Link] Pondasi

Pondasi adalah struktur yang digunakan untuk menumpu kolom dan


dinding dan memindahkan beban ke lapisan tanah. Beton bertulang adalah
material yang paling cocok sebagai pondasi untuk baik struktur beton
bertulang maupun bangunan struktur lainya.

Selain diharapkan untuk mentransfer beban struktur utama pada


lapisan tanah tanpa terjadi penurunan atau rotasi yang berlebihan atau tidak
14

merata , juga haru dapat meberikan tahanan yang cukup terhadap geser dan
guling. Untuk mencapai tujuan tersebut, beban yang harus dipikul harus
disebar ke lapisan tanah dengan kekuatan yang cuku dan kemudian
menyebarkanya pada area dengan rentang regangan yang sesuai pada
kapasitas pondasi yang akan direncanakan.

2.3 Pembebanan

Pemebebanan merupakan salah satu kondisi dimana terdapat berat


yang ditimbulkan pada sebuah bangunan atau pada struktur bangunan. Beban
– beban pada hakekatnya adalah setiap factor yang menimbulkan resultan
dalam bentuk tegangan dan regangan di ddalam struktur. Beban eksternal yang
bekerja di dalam struktur bersumber dari berbagai damapak yang berebeda.
Dampak dari gaya gravitasi, berat sendiri, atau beban angin merupakan contoh
dari beban langsung. Sedangkan damapak dari gempa bumi, perubahan suhu,
perbedaan penurunan pada dukungan adalah contoh dari beban tak langsung.
Gaya beban dapat berupa aksi terpusat, momen , terbagi merata, tidak merata,
simetri, asimetri dan sebagainya. Sementara itu , penggolongan beban yang
didasarkan pada sifat- sifat alamiahnya dapat dibedakan sebagai berikut

1. Beban mati
2. Beban hidup
3. Beban lingkungan
2.3.1 Beban Mati

Beban mati terdiri dari berat berat sendiri komponen termasuk


bagian – bagian atau kelengkapan bangunan yang melekat permanen pada
stuktur bangunan tersebut. Beban mati pelat lantai dilengkapi dengan
material pelapis, langit – langit, pelat atap, dinding partisi yang menetap,
serta sumber beban mati lain yang bekerja pada lantai. Demikian pula beban
mati dari dinding penyekat lengkap dengan material pelapisnya. Semua
beban yang melekat tetap pada tempatnya digolongkan sebagai beban mati.
15

2.3.2 Beban Hidup

Beban hidup terdiri dari beban yang tidak menetap baik dari segi
posisi. Intensitas maupun rentang [Link] hidup terdiri dari
timbunan material, lalu lintas jembatan, manusia, pengunjung perpustakaan,
perabot, perlengkapan bergerak, alat kontruksi dan sebagainya. Beban
hidup utama bagi bangunan Gedung peruntukanya yang dicantumkan pada
peraturan bangunan termasuk memeperhitungkan probabilitasnya.
Penetapan nilai beban tertentu pada umumnya disertai dengan alas an kuat
dalam menggunakan beban maksimum yang diperkirakan ada selama
struktur bergfungsi. Beban yang lebih besar bisa muncul, namun dengan
probabilitasnya lebih lemah sehingga terlalu rendah untuk digunakan untuk
digunakan dalam perancangan.

2.3.3 Beban Lingkungan

Beban lingkunngan muncu sebagai dampak dari dari fenomena alam


yang mampu mengakibatkan deformasi pada struktur. Beban lingkungan
yang sering terjadi pada struktur bangunan adalah beban akibat hujan,
gempa bumi, angin, perubahan suhu, tekanan dari air atau tanah, penurunan
tanah dan sebagainya. Tinjauan analisis dampak akibat beban tersebut
terhadap struktur pada keadaan normal cukup berpengaruh, bahkan sering
bersifat menentukan akibat beban tersebut. Pada penentapan reaksi atau
respon struktur untuk berbagai kejadian tersebut menuntut analisis yang
sedikit lebih kompleks. Setiap peraturan atau spesifikasi teknis perencanaan
standar pada umumnya mengijinkan penyerdehanaan pendekatan di dalam
meninjau akibat beban angin dan beban gempa. Cara demikian digunakan
untuk mempermudah prosesdur analisis yang harus didasarkan pada
penelitian, pengujian, dan pengamatan secara khusus. Dampak dari beban
alam lainya biasanya hanya ikut diperhitungan jika untuk tujuan perencnaan
struktur khusus sedetail mungkin, meski tidak menutup kemungkinan
bahwa kondisi yang biasa juga bisa memerlukan analisis yanv detail.
16

Adaupun klasifikasi beban lingkungan sebagai berikut :

1. Beban angin
2. Beban gempa
3. Beban suhu
4. Beban lain – lain
[Link] Beban Angin

Beban Angin Angin merupakan udara dalam keadaan bergerak


oleh sebab timbulnya perbedaan tekanan. Jika gerakannya terhalang
dengan adanya bangunan, sebagian energi kinetiknya berubah menjadi
tekanan kepada bangunan. Distribusi dan resultan tekanan angin
tergantung pada ukuran dan bentuk bangunan. kecepatan angin sangat
dipengaruhi oleh kondisi medan di sekitar, rintangan rintangan dan
penyebab olakan lainnya. Karena respons struktur bangunan yang
terutama ialah terhadap ragam kecepatan dalam jangka pendek atau
kerasnya hembusan maka mekanika fluida udara yang sedang menerpa
struktur menjadi rumit.

Gambar 2.2 beban akibat beban angin

[Link] Beban Gempa

Kejadian gempa bumi diawali dengan terjadinya pergeseran di sepan


jang garis cacat lapis batuan pada kedalaman tertentu di bawah permukaan
bumi. Dari pusat tersebut, dipancarkan gelombang goncangan menjalar di
lapis batuan dan tanah yang pada akhimya mencapai dasar dari struktur
bangunan dalam bentuk percepatan Sudah tentu gerakan gempa seperti itu
akan berdampak terhadap bangunan yang tertanam kuat di dalam
17

Mekanisme demikian menimbulkan respons dinamik yang menyebabkan


aksi guncangan, melendut, yang disertai percepatan pula di semua titik
didalam bangunan. Peraturan bangunan biasanya merekomendasikan
pendekatan yang melibatkan perhitungan gaya geser dasar statik ekivalen
V, yang mewakili keadaan gempa terburuk. Kemudian gaya geser dasar
tersebut diubah menjadi setara susunan beban lateral statis yang setara, yang
bekerja di berbagai tingkat lantai dari struktur. Struktur kemudian dianalisis
dengan memakai salah satu cara analisis rangka.

Gambar 2.3 beban akibat beban gempa

[Link] Beban Suhu

Setiap benda padat akan mengalami perubahan dimensi (deformasi)


saat timbul perubahan suhu. Kuantitas perubahan terkait langsung dengan
koefisien muai material, dimensi awal komponen, dan derajat perubahan
suhu. Bagi sepotong batang memanjang-perubahan panjangnya .

Sesungguhnya pemuaian bebas sesuatu material tidaklah


mengakibatkan munculnya tegangan karena komponen bebas bergerak.
Keadaan menjadi lain apabila pemuaian atau deformasinya harus terkekang
oleh karena sesuatu hal, seperti adanya dukungan di ujung batang. Sehingga
untuk memungkinkan gerakan bebas dalam batas tertentu yang sekaligus
mengurangi tegangan, di dalam sistem struktur sengaja dipasang dukungan
elastomerik, sambungan muai (expansion joint) dan semacamnya Kesulitan
18

muncul ketika detil seperti itu dilupakan dan tanpa disadarinya dampak
lebih jauh berupa kekangan yang tak dikehendaki.

[Link] Beban Lainya

Selain beban utama tersebut , masih terdapat beberapa sumber


beban tambahan yang mengakibatkan munculnya tegangan dalam
komponen struktur. Di antara yang pokok-pokok, misalnya tekanan
hidrostatik di dalam tangki atau gorong-gorong, tekanan tanah terhadap
dinding penahan, beda penurunan pada per letakan (dukungan), dampak
dalam ketel, ledakan atau beban kejut, atau tim bulnya beban yang tidak
biasa seperti akibat kesalahan pemasangan komponen.

2.4 Beban Kombinasi

Beban kombinasi merupakan suatu beban gabungan yang diperoleh


dari hasil perhitungan beberapa gabungan jenis beban dengan
menggunakan faktor yang pengali berbeda.

2.4.1 Kombinasi Dasar dan Kombianasi Beban Seismic

Struktur, komponen, dan fondasi harus didesain sedemikian rupa


sehingga kekuatan desainnya sama atau melebihi efek beban-beban
terfaktor dalam beban kombinasi . Efek dari satu atau lebih beban yang tidak
bekerja harus dipertimbangkan. Efek beban seismik harus sesuai dengan
ketentuan beban kombinasi dalam perarturan yang sudah ada. Berikut beban
kombinasi yang dipakai :

1. 1,4 D
2. 1,2 D + 1,6 L + 0,5 ( L atau R )
3. 1,2 D + 1,6 ( L atau R ) + ( L atau 0,5 W )
4. 1,2 D + 1,0 W + L + 0,5 ( L atau R)
5. 0,9 D + 1,0 W
6. 1,2 D + Ev + Eh + L
7. 0,9 D – Ev + Eh
19

Dimana :

D = Beban mati

L = Beban hidup

R = Beban hujan

E = Beban gempa

W = Beban angin

2.5 Analisis Beban Gempa

Struktur bangunan Gedung terdiri dari struktur atas dan bawah.


Struktur atas adalah bagian dari struktur bangunan Gedung yang berada di
atas muka tanah. Struktur bawah adalah bagian dari struktur bangunan
Gedung yang terletak di bawah muka tanah, yang dapat terdiri dari struktur
basement dan struktur pondasinya. Struktur bangunan Gedung harus
memiliki sistem penahan gaya lateral dan vertikal yang lengkap, yang
mampu memberikan kekuatan, kekakuan, dan kapasitas disipasi energi yang
cukup untuk menahan gerak tanah desain dalam Batasan – Batasan
kebutuhan deformasi dan kekuatan yang diisyaratkan.

2.5.1 Gempa Rencana

Tata cara ini menentukan pengaruh gempa rencana yang harus


ditinjau dalam perencanaan dan evaluasi struktur bangunan Gedung dan non
Gedung serta berbagai bagian dan peralatanya secara umum. Gempa
rencana ditetapkan sebagai gempa dengan kemungkinan terlampaui
besaranya selama umur struktur bangunan 50 tahun adalah 2%.

2.5.2 Kategori Resiko

Berdasarkan SNI 1726:2019 bahwa untuk berbagai kategori risiko


struktur bangunan Gedung dan non Gedung sesuai dengan Tabel 2.1.
20

Tabel 2.4 kategori risiko bangunan Gedung dan nin Gedung untuk beban gempa

Kategori
Jenis Pemanfaatan
Risiko
Gedung dan non Gedung yang memiliki risiko rendah terhadap jiwa
manusia pada saat terjadi kegagalan, termasuk, tapi tidak dibatasi
untuk, antara lain : I
- Fasilitas pertanian, perkebunan, perternakan, dan perikanan
- Fasilitas sementara
- Gedung penyimpanan
- Rumah jaga dan struktur kecil lainya
Semua Gedung dan struktur lain, kecuali yang termasuk dalam
kategori risiko I, III, IV, termasuk , tapi tidak dibatasi untuk:
- Perumahan
- Rumah toko dan kantor
- Pasar
- Gedung perkantoran II
- Gedung apartemen/rumah susun
- Pusat perbelanjaan/mall
- Bangunan industry
- Fasilitas manufaktur
- Pabrik

Gedung dan non Gedung yang memiliki risiko tinggi terhadap jiwa
manusia pada saat terjadi kegagalan, termasuk, tapi tidak dibatasi
untuk :
- Bioskop
- Gedung pertemuan
- Stadion
- Fasilitas kesehatan yang tidak memiliki unit bedah dan unit
gawat darurat
- Fasilitas penitipan anak
21

- Penjara
- Bangunan untuk orang jompo
Gedung dan non Gedung, tidak termasuk kedalam risiko katgori IV,
yang memiliki potensi untuk menyebabkan dampak ekonomi yang
besar dan atau gangguan masal terhadap kehidupan masyarakat III
sehari hari bila terjadi kegagalan, termasuk, tapi tidak dibatasi untuk
:
- Pusat pembangkit listrik biasa
- Fasilitas penanganan air
- Fasilitas penanganan limbah
- Pusat telekomunikasi
Gedung dan non Gedung yang tidak dalam kategori risiko IV,
(termasuk, tetapi tidak dibatasi untuk fasilitas manufaktor proses,
penaganan, penyimpanan, penggunaan atau tempat pembuangan
bahan bakar berbahaya, bahan kimia berbahaya, limbah berbahaya
atau bahkan yang mudah meledak). Yang mengandung bahan
beracun atau peledak di mana jumlah kandungan bahanya melebihi
batas yang diisyaratakan oleh instansi yang berwewenang dan cukup
menimbulkan bahaya lagi masyarakat jika terjadi kebocoran.
Gedung dan non Gedung yang dikategorikan sebagai fasilitas yang
penting, termasuk, tetapi tidak dibatasi untuk:
- Bangunan – bagunan monumental
- Gedung sekolah dan fasilitas Pendidikan
- Rumah ibadah
- Rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainya yang memiliki
fasilitas bedah dan unit gawat darurat
- Fasilitas pemadam kebakaran, ambulans, dan kantor
polisi,serta garasi kendaraan darurat
- Tempat perlindungan terhadap gempa bumi, tsunami, angin
badai, dan tempat perlindungan darurat lainya.
IV
22

- Fasilitas kesiapan darurat, komunikasi, pusat operasi dan


fasilitas lainya untuk tanggap darurat
- Pusat pembangkit energi dan fasilitas public lainnya yang
dibutuhkan pada saat keadaan darurat
- Struktur tambahan ( termasuk Menara komunikasi, tangki
penyimpanan bahan bakar, Menara pendingin, struktur
stasiun listrik, tangka air pemadam kebakaran atau struktur
rumah atau struktur pendukung air atau material atau
peralatan pemadam kebakaran) yang diisyaratakan untuk
beroperasi pada saat keadaan darurat
Gedung dan non Gedung yang dibutuhkan untuk mempertahankan
fungsi struktur bangunan lain yang masuk ke dalam kategori risiko
IV

2.5.3 Faktor Keutamaan Gempa

Untuk berbagai risiko struktur bangunan Gedung dan non Gedung


sesuai dengan Tabel 2.1 pengaruh gempa rencana terhadapnya harus
dikalikan dengan suatu faktor keutamaan Ie terdapat pada tabel 2.2

Tabel 2.5. Faktor Keutamaan Gempa

Kategori risiko Faktor keutamaan gempa Ie


I dan II 1,0
III 1,25
IV 1,50

2.6 Kalsifikasi Situs untuk Desain Seismik

Pada perumusan kriteria desain seismik suatu bangunan di


permukaan tanah atau penentuan amplifikasi besaran percepatan gempa
puncak dari batuan dasar ke permukaan tanah untuuk suatu situs, maka
situs tersebut harus diklasifikasikan terlebih dahulu.
23

Profil tanah di situs harus harus diklasifikasikan sesuai dengan Tabel


3.3, berdasarkan profil tanah lapisan tanah 30 m paling atas. Penetapan kelas
situs harus melalui penyelidikan tanah di lapangan dan di laboratorium,
yang dilakukan oleh pihak yang berwewenang atau ahli geoteknik
bersertifikat, dengan minimal mengukur secara independen dua atau taiga
parameter tanah yang tercantum dalam Tabel 2.3.

Tabel 2.6 Klasifikasi situs

Kelas situs 𝒗𝒔 (m/detik) ̅ atau 𝑵


𝑵 ̅ cb ̅u (kpa)
𝑺
SA (batuan keras) >1500 N/A N/A
SB (batuan) 750 sampai 1500 N/A N/A

SC (tanah
350 sampai 750 >50 ≥100
keras,sangat padat
dan batuan lunak)
SD (tanah sedang) 175 sampai 350 15 sampai 50
50 sampai100
SE (tanah lunak) <175 <15 <50
Atau setiap profil tanah yang mengandung lebih
dari 3 m tanah dengan karaktersitik sebagai
berikut:
1. Indeks plastisitas PI >20
2. Kadar air w≥40%
3. Kuat geser niralir 𝑆̅𝑢 <25 kPa
SF (tanah khusus Setiap profil lapisan tanah yang memiliki salah
,yang membutuhkan satu atau lebih dari karakteristik berikut:
investigasi geoteknik - Rawan dan berpotensi gagal atau rumah
spesifik dan analisis akibat beban gempa seperti mudah
respon spesifikasi likuifaksi, lempung sangat sensistif,
yang mengikuti 0) tanah tersementasi lemah
24

- Lempung sangat organic atau gambut


(ketebalan H > 3m)
- Lempung berplastisitas sangat tinggi
(ketebalan H > 7,5 m dengan indeks
Plastsitas PI > 75)
- Lapisan lempung lunak atu setengah
teguh dengan ketebalan H > 35 m
dengan Su < 50 kPa
Dimana : N/A = Tidak dibatasi

Penetapan kelas situs SC,SD dan SE harus dilakukan dengan


̅ dan
menggunakan sedikitnya hasil pengukuran dua dari tiga parameter 𝑣𝑠 , 𝑁
̅̅̅̅ yang dihitung sesuai :
𝑆𝑢

1. 𝑣̅𝑠 lapisan 30 m paling atas (metode 𝑣𝑠 )


̅ lapisan 30 m paling atas (metode 𝑁
2. 𝑁 ̅)
̅ untuk lapisan non kohesif (20 PI > ) 30 m paling atas, 𝑆̅u untuk
3. 𝑁
lapisan tanah kohesif (20 PI > ) 30 m paling atas ( metode 𝑆̅u).
̅ ch dan 𝑆̅u menghasilakan kriteria yang berbeda, kelas situs
Bila 𝑁
dengan kondisi yang lebih buruk harus diberlakukam.

Beberapa definisi dalam pasal ini berlaku untuk profil tanah


kedalaman 30 m paling atas dari suatu situs. Profil tanah yang mengandung
beberapa lapisan tanah atau batuan yang berbeda, harus dibagi menjadi
beberapa lapisan yang yang di beri no 1 sampai ke -n dari atas ke bawah,
sehingga ada total n- lapisan tanah yang berbeda pada lapisan 30 m paling
atas tersebut. Bila sebagian dari lapisan n adalah kohesif dan yang lainya
non kohesif, maka adalah jumlah lapisan kohesif dan jumlah lapisan non
koheesif , symbol – i megacu kepada lapisan 1 dan n
25

2.6.1 Kecepatan Rata – Rata Gelombang Geser


Nilai 𝑣̅𝑠 harud ditentukan sesuai dengan perumusan berikut :

∑𝑛
𝑖=1 𝑑𝑖
𝑣̅𝑠 = 𝑑𝑖 (2.47)
∑𝑛
𝑖=1 𝑣𝑠𝑖

Keterangan:

di = tebal setiap lapisan antara kedalaman 0 sampai 30 m

𝑣𝑠𝑖 = kecepatan gelombang geser lapisan i (m/detik)

∑𝑛𝑖=1 𝑑𝑖 = 30 meter

2.6.2 ̅ , dan
Tahanan Penetrasi Standar Lapangan Rata – Rata 𝑵
Tahanan Penetrasi Standar Rata – Rata Untuk Lapisan Tanah
̅ ch
nonkohesif, 𝑵

Nilai ̅̅̅ ̅ ch harus ditentukan sesuai dengan perumusan berikut:


𝑁 dan 𝑁
𝑛
̅ = ∑𝑖=1 𝑑𝑖
𝑁
𝑑𝑖
(2.48)
𝑛 ∑𝑖=1
𝑁𝑖

Dimana Ni dan di dalam persamaan tersebut berlaku untuk tanah non


kohesif, tanah kohesif dan lapisan batuan

𝑑𝑠
̅𝑐𝑏 =
𝑁 𝑑𝑖 (2.49)
𝑚
∑𝑖=1
𝑁𝑖

Dimana Ni dan di dalam persamaan tersebut berlaku untuk tanah nonkohesif


saja dan ∑𝑚
𝑖=1 𝑑𝑖 = 𝑑𝑠 , dimana ds adalah ketebalan total dari lapisan tanah

nonkohesif di 30 m lapisan paling atas. Ni adalah tahanan penetrasi standar


sesuai dengan SNI – 4153, dengan nilai tidak lebih dari 300 pukulan/m. Jika
ditemukan perlawanan lapisan batuan, maka nilai Ni tidak boleh dari 300
pukulan/m
26

2.6.3 Kuat Geser Niralir Rata – Rata ̅


𝑺u

Nilai Su harus ditentukan sesuai dengan perumusan berikut :

𝑑𝑐
𝑆𝑢̅ = 𝑘 𝑑𝑖 (2.50)
∑𝑖=1
𝑆𝑢𝑖

Dimana

∑𝑘𝑖=1 𝑑𝑖 = 𝑑𝑐 (2.51)

𝑑𝑐
𝑆𝑢̅ = 𝑘 𝑑𝑖 (2.52)
∑𝑖=1
𝑆𝑢𝑖

Keterangan :

dc = ketebalan total lapisan – lapisan tanah kohesif di dalam lapisan 30


meter paling atas.

PI = indeks plastisitas berdasarkan tata cara yang berlaku.

w = kadar air dalam persen, sesuai tata cara yang berlaku.

sui = kuat geser niralir (kPa), dengan nilai tidak lebih dari 250 kPa
seperti yang ditentukan dan sesuai dengan tata cara yang berbeda.

2.7 Wilayah Gempa dan Spektrum Respons


2.7.1 Parameter Percepatan Gempa

Parameter Ss (percepatan batuan dasar pada periode pendek) dan S1


(percepatan batuan dasar pada periode 1 detik) harus ditetapkan masing –
masing dari respons spectral percepatan 0,2 detik dan 1 detik dalam peta
gerak tanah seismik dengan kemungkinan 2% terlampauhi dalam 50 tahun
(MCER, 2% dalam 50 tahun), dan dinyatakan dalam bilangan desimal
terhadap gravitasi. Bila S1 ≤ 0,04 g dan Ss ≤ 0,15 g, maka struktur bangunan
boleh dimasukan ke dalam kategori desain seismik A.
27

Gambar 2.4 Parameter gerak tanah Ss, gempa maksimum yang dipertimbangkan risiko – tertarget
(MCER) wilayah Indonesia untuk spektrum respons 0,2 detik (redaman kritis 5%)

Gambar 2.5 Parameter gerak tanah S1, gempa maksimum yang dipertimbangkan risiko – tertarget
(MCER) wilayah Indonesia untuk spektrum respons 0,2 detik (redaman kritis 5%)
28

2.7.2 Koefisien Situs dan Parameter Respons Spektral Percepatan


Gempa Maksimum yang dipertimbangkan Risiko – Tertarget
(MCER)

Penentuan respon spektral percepatan gempa MCER di permukaan


tanah, diperlukan suatu faktor ampliflikasi seismik pada periode 0,2 detik
dan periode 1 detik. Faktor amplifikasi meliputi faktor amplifikasi getaran
terkait percepatan pada getaran periode pendek (Fa) dan faktor amplifikasi
terkait percepatan yang mewakili getaran periode 1 detik (Fv). Parameter
respons spektral percepatan pada periode pendek (SMS) dan periode 1 detik
(SM1) yang disesuaikan dengan pengaruh klarifikasi situs, harus ditentukan
dengan perumusan berikut ini:

SMS = FaSs (2.53)

SM1 = FvS1 (2.54)

Keterangan :

SS = Parameter respons spektral percepatan gempa MCER terpetakan


periode pendek

S1 = Parameter respon spektral percepatan gempa MCER terpetakan


untuk periode 1,0 detik.

Koefisisen situs Fa dan Fv mengikuti Tabel 2.4 dan Tabel 2.5. Bila
situs SE digunakan sebagai kelas situs, maka nilai Fa tidak boleh kurang
dari 1,2 serta nilai Fv, SMs dan SM1 tidak perlu ditentukan.
29

Tabel 2.7 Koefisien situs Fa

Kelas Parameter respons spektral percepatan gempa maksimum yang


situs dipertimbangkan risiko tertarget (MCER) terpetakan pada
periode pendek T =0,2 detik SS
SS ≤ 0,25 SS ≤ 0,5 SS ≤ 0,75 SS ≤ 1,0 SS ≤ 1,25 SS ≤ 1,5
SA 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8
SB 0,9 0,9 0,9 0,9 0,9 0,9
SC 1,3 1,3 1,2 1,2 1,2 1,2
SD 1,6 1,4 1,2 1,1 1,0 1,0
SE 2,4 1,7 1,3 1,1 0,8 0,8
SF SS(a)

Tabel 2.8 Koefisien situs Fv

Kelas Parameter respons spektral percepatan gempa maksimum yang


situs dipertimbangkan risiko tertarget (MCER) terpetakan pada
periode pendek T = 1 detik S1

S1 ≤ 0,1 S1 ≤ 0,5 S1 ≤ 0,75 S1 ≤ 0,4 S1 ≤ 0,5 S1 ≤ 0,6


SA 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8
SB 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8
SC 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5
SD 2,4 2,0 1,9 1,9 1,8 1,7
SE 4,2 2,8 2,4 2,4 2,2 2,0
SF SS(a)

Keterangan :

1. SS = Situs yang memerlukan investigasi geoteknik spesifik dan analisis


respons situs spesifik
30

2.7.3 Parameter Percepatan Spektral Desain

Parameter percepatan spektral desain untuk periode pendek, SDS dan pada
periode 1 detik, SD1, harus ditentukan melalui perumusan berikut ini:

2
SDS = 3 𝑆𝑀𝑆 (2.55)

2
SDS = 3 𝑆𝑀1 (2.56)

Bila digunakan prosedur desain yang disederhanakan sesuai pasal 8, maka


nilai SDS harus ditentukan dan nilai SD1 tidak perlu ditentukan

2.7.4 Spektrum Respons Desain

Bila spektrum respons desain diperlukan oleh tata cara ini dan
prosedur gerak tanah dari spesifik-situs tidak digunakan, maka kurva
spektrum respons desain harus dikembangkan dengan mengacu Gambar dan
mengikuti ketentuan di bawah ini:

1. Untuk periode yang lebih kecil T0, spektrum respons percepatan


desain, Sa , harus diambil dari persamaan :
𝑇
Sa = SDS (0,4 + 0,6 ) (2.57)
𝑇0

2. Untuk periode lebih besar dari atau sama dengan T0 dan lebih
kecil dari atau sama dengan TS , spektrum respons percepatan
desain, Sa, sama dengan SDS
3. Untuk periode lebih besar dari Ts atau sama dengan TL, respons
spektral percepatan desain Sa , diambil berdasarkan persmaan
𝑆𝐷1
Sa = (2.58)
𝑇

4. Untuk periode lebih besar dari TL respons spektral percepatan


desain Sa diambil berdasarkan persamaan :
𝑆𝐷1 𝑇𝐿
Sa = (2.59)
𝑇
31

Keterangan :

SDS = Parameter respon spektral percepatan desain pada periode


pendek.

SD1 = Parameter respon spektral percepatan desain pada periode 1


detik.

T = Periode getar fundamental struktur.

𝑆
T0 = 0,2 𝑆𝐷1 (2.60)
𝐷𝑆

𝑆
T1 = 𝑆𝐷1 (2.61)
𝐷𝑆

TL = Peta transisi periode Panjang yang ditunjukan pada gambar 2.6

Gambar 2.5 Spektrum respon desain


32

2.7.5 Spektrum Respon Desain

Untuk mendapatkan spektrum respon desain secara efisisen di


website PUSKIM yaitu http:/[Link]/. Pada gambar
2.6 pilih sebelah kanan yaitu aplikasi Respon Spektra 2021

Gambar 2.6 Tampilan RSA ([Link]) http:/[Link]/.

Gambar 2.7 Tampilan Desain Spektra indonesia

Pada tampilan spektra Indonesia tersebbut dapat dipilih kordinat


maupun nama kordinat maupun nama kota untuk memilih lokasi. Sebagai
contoh dipilih kabupaten malang.
33

Gambar 2.8 spektrum respon desain kabupaten malang

2.7.6 Kategori Desain Seismik

Struktur harus ditetapkan memiliki suatu kategori desain seismik


yang mengikuti pasal ini. Struktur dengan kategori risiko I, II, atau III yang
berlokasi di mana parameter respons spektral percepatan terpetakan pada
periode 1 detik. Si, lebih besar dari atau sama dengan 0,75 harus ditetapkan
sebagai struktur dengan kategori desain seismik E.

Struktur yang berkategori risiko IV yang berlokasi di mana


parameter respons spektral percepatan terpetakan pada periode 1 detik, S1,
lebih besar dari atau sama dengan 0,75, harus ditetapkan sebagai struktur
dengan kategori desain seismik F.

Semua struktur lainnya harus ditetapkan kategori desain seismik-


nya berdasarkan kategori risikonya dan parameter respons spektral
percepatan desainnya, SDS dan S1. Masing-masing bangunan dan struktur
harus ditetapkan ke dalam kategori desain seismik yang lebih parah, dengan
mengacu pada Tabel 2.6 dan Tabel 2.7, terlepas dari nilai periode
fundamental getaran struktur, T.
34

Apabila Si lebih kecil dari 0.75, kategori desain seismik diizinkan


untuk ditentukan sesuai Tabel 2.6 saja, di mana berlaku semua ketentuan di
bawah:

1. Pada masing-masing dua arah ortogonal, perkiraan periode


fundamental struktur, Ta, yang ditentukan sesuai dengan SNI
1726-2019 adalah kurang dari 0,87, di mana TS.
2. Pada masing-masing dua arah ortogonal, periode fundamental
struktur yang digunakan untuk menghitung simpangan antar
tingkat adalah kurang dari TS;
3. Persamaan CS digunakan untuk menentukan koefisien respons
seismik,
4. Diafragma struktural adalah kaku sebagaimana disebutkan di
SNI 1726-2019 atau untuk diafragma yang fleksibel, jarak antara
elemen-elemen vertikal pemikul gaya seismik tidak melebihi 12
m.

Apabila digunakan alternatif prosedur penyederhanaan


[Link] desain seismik diperbolehkan untuk ditentukan dari Tabel
2.6, dengan menggunakan nilai SDS yang ditentukan.

Tabel 2.9 Kategori desain seismik berdasrkan parameter respons percepatan


pada periode pendek

Kategori risiko
Nilai SDS
I atau II atau III IV
SDS < 0,167 A A
0,167 ≤ SDS <0,33 B C
0,33 ≤ SDS < 0,5 C D
0,50 ≤ SDS D D
35

Tabel 2.10 Kategori desain seismik berdasrkan parameter respons percepatan


pada periode 1 detik

Kategori risiko
Nilai SD1
I atau II atau III IV
SD1 < 0,067 A A
0,067 ≤ SD1 <0,133 B C
0,133 ≤ SD1 < 0,2 C D
0,20 ≤ SD1 D D

2.8 Persyaratan Desain Seismik Struktur Bnagunan


2.8.1 Sistem Struktur Pemikul Gaya Seismik

Sistem dasar pemikul gaya seismik lateral dan vertikal harus


memenuhi salah satu tipe yang ditunjukkan pada Tabel 2.8 atau kombinasi
sistem. Masing masing sistem terbagi berdasarkan tipe elemen vertikal
pemikul gaya seismik lateral. Sistem struktur yang digunakan harus sesuai
dengan batasan sistem struktur dan batasan ketinggian struktur, h, yang
ditunjukkan pada Tabel 2.8. Koefisien modifikasi respons. R. faktor kuat
lebih sistem, Ω0, dan faktor pembesaran simpangan lateral, Ca, yang sesuai
sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 2.8 harus digunakan dalam penentuan
geser dasar, gaya desain elemen, dan simpangan antar tingkat desain.

Setiap sistem pemikul gaya seismik yang dipilih harus didesain dan
didetailkan sesuai dengan persyaratan khusus untuk sistem tersebut
sebagaimana ditetapkan dalam dokumen acuan yang berlaku seperti
terdaftar dalam Tabel 2.8.
36

Tabel 2.11 Faktor R, Cd, dan Ω0 untuk sistem pemikul gaya sesimik

Sistem pemikul gaya Koefisien Faktor Faktor Batasan sistem struktur dan
seismik modifikas kuat pembesar Batasan tinggi, hn (m)d
i respon lebih an
Ra sistem 𝛀 defleksi Kategori desain sesimik
0b Cdc B C De Ee Ff
Sistem rangka
pemikul momen
khusus

1. Rangka baja 8 3 5½ TB TB TB TB TB

pemikul khusus
2. Rangka batang baja 7 3 5½ TB TB 48 30 TI

pemikul momen
khusus
3. Rangka baja 4½ 3 4 TB TB 10k TIk TIl

pemikul momen
menengah
4. Rangka baja 3½ 3 3 TB TB TIl TIl TIl

pemikul momen
biasa
5. Rangka beton 8 3 5½ TB TB TB TB TB

bertulang pemikul
momen khususm
6. Rangka beton 5 3 4½ TB TB TI TI TI
bertulang momen
menengah
7. Rangka beton 3 3 2½ TB TI TI TI TI

bertulang pemikul
momen biasa
8. Rangka baja dan 8 3 5½ TB TB TB TB TB

beton komposit
37

pemikul momen
khusus
9. Rangka baja dan 5 3 4½ TB TB TI TI TI
beton komposit
pemikul momen
menengah
10. Rangka baja dan 6 3 5½ 48 48 30 TI TI
beton komposit
terkekang parsial
momen
11. Rangka baja dan 3 3 2½ TB TI TI TI TI
beton komposit
peemikul momen
biasa
12. Rangka baja canai 3½ 3o 3½ 10 10 10 10 10
dingin pemikul
momen khusus
dengan pembautann

2.8.2 Geser dasar sesimik

Gaya geser dasar seismik, V dalam arah yang ditetapkan harus


ditentukan sesuai dengan menggunakan persamaan berikut:

𝑉 = 𝐶𝑆 𝑊 (2.62)

Keterangan :

𝐶𝑆 = Koefisien respon seismik yang ditentukan sesuai dengan

W = Berat sesismik efektif


38

[Link] Perhitungan Koefisien Respons Seismik

Koefisisen respons seismik Cs, harus ditentukan sesuai dengan


persmaan di bawah ini :

𝑆𝐷𝑠
𝐶𝑠 = 𝑅 (2.63)
( )
𝐼𝑒

Keterangan :

SDS = parameter percepatan respons spektral desain dalam rentang


periode pendek

R = koefisien modifikasi respons

Ie = faktor keutamaan gempa

Nilai Cs yang dihitung tidak perlu melebihi

Untuk T ≤ TL

𝑆𝐷1
𝐶𝑠 = 𝑅 (2.64)
𝑇( )
𝐼𝑒

Untuk T > TL

𝑆𝐷1 𝑇𝐿
𝐶𝑠 = 𝑅 (2.65)
𝑇2( )
𝐼𝑒

Cs harus tidak kurang dari

𝐶𝑠 = 0,044𝑆𝐷𝑆 𝐼𝑒 ≥ 0,01 (2.66)

Sebagai tambahan untuk struktur berlokasi di daerah di mana S1


sama dengan atau lebih besar dari 0,6g maka CS harus tidak kurang dari :

0,5𝑆1
𝐶𝑠 = 𝑅 (2.67)
( )
𝐼𝑒
39

Keterangan :

SD1 = parameter percepatan respons spektral desain dalam rentang


periode 1,0 detik

T = periode fundamental struktur

S1 = parameter percepatan respons spektral maksimum yang


dipetakan

2.8.3 Penentuan Periode Gedung T

Periode fundamental struktur, T, dalam arah yang ditinjau harus


diperoleh menggunakan sifat struktur dan karakteristik deformasi elemen
pemikul dalam analisis yang teruji. Periode fundamental struktur, T. tidak
boleh melebihi hasil perkalian koefisien untuk batasan atas pada periode
yang dihitung (Cu.) dari Tabel 2.9 dan periode fundamental pendekatan, T.
Sebagai alternatif dalam melakukan analisis untuk menentukan periode
fundamental struktur, T. diizinkan secara langsung menggunakan periode
bangunan pendekatan, T.

Tabel 2.12 Koefisien untuk batas atas periode yang dihitung

Parameter percepatan respon spektral


Koefisien Cu
desain pada 1 detik, SD1
≥0,4 1,4
0,3 1,4
0,2 1,5
0,15 1,6
≤0,1 1,7

Periode fundamental pendekatan (Ta) dalam detik ditentukan


menggunakan persamaan berikut :

𝑇𝑎 = 𝐶𝑡 ℎ𝑛𝑥 (2.68)
40

Keterangan :

hn adalah ketinggian struktur (m), diatas dasar sampai tingkat tertinggi


strktur dan koefisisen Ct dan x ditentukan dalam Tabel 2.10

Tabel 2.13 Nilai Parameter periode pendekatan Ct dan x

Tipe Struktur Fx x
Sistem rangka pemikul momen di mana rangka
pemikul momen 100% gaya seismik yang
diisyaratkan dan tidak dilingkupi atau dihubungkan
dengan komponen yang lebih kaku dan akan
mencegah rangka dari defleksi jika dikenai gaya
seismik :
• Rangka baja pemikul momen 0,0724 0,8
• Rangka beton pemikul momen 0,0466 0,9
Rangka baja dengan bracing eksentris 0,0731 0,75
Rangka baja dengan bracing terkekang terhadap 0,0731 0,75
tekuk
Semua sistem struktur lainya 0,0488 0,75

Sebagai alternatif, diizinkan untuk menentukan periode fundamental


pendekatan (T), dalam detik, dari persamaan berikut untuk struktur dengan
ketinggian tidak melebihi 12 tingkat di mana sistem pemikul gaya seismik
terdiri dari rangka pemikul momen yang seluruhnya beton atau seluruhnya
baja dan rata-rata tinggi tingkat sekurang-kurangnya 3 m:

𝑇𝑎 = 0,1 𝑁 (2.69)

Keterangan :

N = Jumlah Tingkat
41

2.9 Sistem Rangka Pemikul Momen

Sistem rangka pemikul momen adalah sistem penahan gempa yang


menitik beratkan pada kekakuan portal mekanisme lentur menahan gaya
Lateral. Selain itu gaya vertikal ditahan oleh suatu rangka ruang pemikul
beban gravitasi. Dalam bentuk geometris pada nyatanya, sistem rangka
pemikul ini terdiri dari balok dan kolom yang membentuk portal dan desain
Strong Column Weak Beam. Di mana beban lateral ditahan oleh rangka
pemikul momen terutama beban lateral dipikul oleh suatu rangka pemikul
momen terutama melalui suatu mekanisme lentur sehingga peranan balok
kolom sangatlah penting dalam merencanakan sebuah bangunan. Sistem
rangka pemikul momen dibedakan menjadi tiga jenis berdasarkan
tingkatannya untuk KDS tertentu, diantara lain :
1. Sistem Rangka Pemikul Momen Biasa (SRPMB)
2. Sistem Rangka Pemikul Momen Menengah (SRPMM)
3. Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK)

Gambar 2.9 Desain sistem rangka pemikul momen

2.9.1 Sistem Rangka Pemikul Momen Biasa

Sistem rangka pemikul momen biasa memiliki kekurangan berupa


tingkat kekakuan paling rendah dibandingkan yang lainnya, sehingga tidak
cocok untuk diterapkan di sebagian besar wilayah di Indonesia. jenis sistem
rangka pemikul momen ini memiliki resistensi gempa paling rendah
dibandingkan dengan jenis sistem rangka pemikul momen lainnya. Metode
42

ini dapat digunakan untuk menghitung struktur gedung yang masuk dalam
kategori desain seismik yang rendah yakni KDS A dan B saja .

2.9.2 Sistem Rangka Pemikul Momen Menengah

Jenis sistem rangka pemikul momen menengah difokuskan untuk


menahan kegagalan geser pada struktur gedung. Pada sistem ini di
perbolehkan pada kondisi bangunan yang berada pada desain seismik
A,B,C,D,E dan F, namun untuk bangunan yang berada pada desain seismik
D, E dan F memiliki syarat-syarat tertentu. Faktor reduksi gempa dari jenis
sistem rangka pemikul momen ini adalah sebesar 5.

2.9.3 Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus

Jenis sistem rangka pemikul momen khusus memiliki perilaku


struktur dengan nilai daktilitas yang besar. Yang mana perilaku daktil
yang besar memiliki keuntungan berupa tingkat resistensi gempa yang
sangat tinggi. Sistem rangka pemikul momen khusus cocok digunakan
untuk bagunan yang memiliki kategori desain seismik D, yang mana
memiliki tingkat intensitas gempa yang tinggi dan kerawanan akan gaya
gempa yang tinggi pula. Sistem rangka pemikul momen khusus memiliki
aturan yang cukup banyak untuk dipenuhi dalam segi tulangan pada tiap-
tiap komponen strukturnya titik. Hal tersebut dikarenakan agar tingkat
daktilitas yang tinggi dapat tercapai. Faktor reduksi dari sistem rangka
pemikul momen khusus adalah sebesar 9 untuk jenis sistem rangka
pemikul momen khusus beton bertulang.
Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) yaitu sistem
rangka ruang dimana komponen-komponen struktur dan joint-jointya
menahan gayayang bekerja melalui aksi lentur, geser, dan aksial, sistem
ini pada dasarnya memiliki daktilitas tinggi dan dapat digunakan pada
zona gempa 1 sampai zona gempa 4.
43

[Link] Balok Sistem rangka pemikul momen khusus


[Link].1 Ruang lingkup

Pada pasal [Link] SNI 2487:2019 berlaku untuk balok – balok


sistem rangka pemikul momen khusus yang merupakan baggian dari sistem
pemikul gaya seismik dan utamanya didesain untuk menahan lentur dan
geser harus sesuai dengan syarat – syarat di bawah ini :

1. Pada standar sebelumnya setiap komponen rangka yang terkena


gaya tekan aksial terfaktor (𝐴𝑔 𝑓𝑐 ′ /10) akibat kombinasi beban
harus diproposionalkan.
2. Bentang bersih (Ln) harus minimal 4d.
3. Lebar penampang bw harus sekurangnya nilai terkecil dari 0,3h
dan 250 mm.
4. Proyeksi balok yang melampaui lebar kolom penumpu tidak
boleh melebihi nilai terkecil dari c2 dan 0,75 c1 pada masing –
masing sisi kolom.

Keterangan :

𝐴𝑔 = luas bruto penmapang beton.


fc’ = kekuatan tekan beton yang diisyartkan.
bw = lebar badan (web), tebal dinding, atau diameter penampang
lingkaran.
h = tebal atau tinggi komponen struktur.
c1 = dimensi kolom persegi atau persegi ekivalen, kapital, atau brakit
yang diukur dalam arah bentang dimana momn ditentukan.
c2 = dimensi kolom persegi atau persegi ekivalen, kapital, atau brakit
yang diukur dalam arah dalam arah tegak lurus terhadap c1.
[Link].2 Persayaratan Tulangan Longitudinal

Balok yang berfungi penahan gaya lateral, pada umumnya di desain


dengan menggunakan tulangan rangkap, hal ini dilakukan untuk
mengantisipasi terjadinya momen yang terjadi secara bolak – balik pada
44

balok tersebut, dikarenakan efek gaya lateral yang umumnya terjadi secara
bolak – balik . komponen longitudinal harus memiliki persayaratan berikut
ini :

1. Rasio luasan lentur pada sisi atas dan sisi bawah kolom harus
lebih besar dari persamaan atau sesuai dengan SNI 2487:2019
pasal [Link] berikut ini :
0,25 √𝑓𝑐 ′
𝑏𝑤 𝑑 (2.70)
𝑓𝑦
1,4
𝑏𝑤 𝑑 (2.71)
𝑓𝑦

2. Kekuatan momen positif pada muka joint harus tidak kurang dari
setengah kekuatan momen negative yang disediakan pada muka
joint tersebut. Baika kekuatan momen positif mauapun momen
negative pada sebuah penampang sepanjang komponen struktur
tidak boleh kurang seperempat dari kekuatan maksimum yang
disediakan pada muka salah satu join tersebut.
3. Syarat rasio maksimum untuk tulangan lentur adalah
0,[Link].d .
4. Setidaknya terdapat 2 buah tulangan yang menerus baik disisi
bawah bangunan dan atasa bangunan.
[Link].3 Persayaratan Tulangan Tranversal

Tulangan tranversal pada komponen lentur perlu dibutuhkan,


terutama untuk menahan gaya geser struktur, untuk mengekang pada daerah
utama pada penampang beton bertulang dan menyediakan tahanan lateral
pada setiap batang tulangan lentur dimana tegangan leleh tercipta. Hal yang
akan terjiadi jika pada saat gempa kuat adalah terlepasnya selimut beton
(spalling) dan daerah sekitarnya , maka semua tulangan tranversal pada
elemen sistem rangka pemikul momen khusus (SRPMK) harus
menggunakan Sengkang tertutup. Menurut SNI 2847:2019 pasal 18.6.4 ada
beberapa persyaratan harus dipenuhi untuk tulangan trenversal dinatranya
sebagai berikut :
45

1. Sengkang harus dipasang pada daerah komponen struktur


rangka berikut :

Gambar 2.10 Gambar contoh Sengkang tertutup p (hoop) yang dipasang


bertumpuk dan ilustrasi batasan maksimum spasi horizontal penumpu batang
longitudinal

a. Sepanjang suatu Panjang yang sama dengan dua kali tinggi


komponen struktur yang diukur dari muka kom[ponen struktur
penumpu kearah tengah bentang , di kedua ujung komponen
struktur lentur
b. Sepanjang Panjang yang sama dengan dua kali tinggi komponen
struktur pada kedua sisi suatu penampang dimana pelelehan
lentur sepertinya terjadi dalam hubungan dengan perpindahan
lateral inelastic rangka.
2. Sengkang pengekang pertama harus ditempatkan tidak lebih dari
50 mm dari muka kolom penumpu. Spasi Sengkang pengekang
tidak boleh melebihi nilai terkecil a) hingga c):
46

a). d/4
b). enam kali diameter terkecil batang tulangan lentur utama ,
tidak termasuk tulangan longitudinal samping yang diisyartakan
c). 150 mm
3. Bila diperlukan Sengkang pengekang, Sengkang pengekang
tersebut harus didesain untuk menahan geser.
4. Bila Sengkang tidak diperlukan, Sengkang dengan kait gempa
pada kedua ujungnya harus dipasang dengan spasi tidak lebih
dari d/2 sepanjang bentang balok
5. Pada balok yang mengalami gaya tekan aksial terfaktor melebihi
𝐴𝑔 𝑓𝑐 ′ /10 harus dipasang sengang pengekang
[Link].4 Persayaratan Kekuatan Geser

Gaya desain pada gaya geser desain Vc harus dihitung dari tinjauan
gaya – gaya pada bagian balok diantara kedua muka joint. Pada momen
degan tanda berlawanan yang terkait dengan kekuatan momen lentur
maksimum yang mungkin terjadi, Mpr , harus diamsusikan bekerja pada
muka – muka join dan balok dibebani beban gravitasi tributari terfaktor di
sepanjang bentangnya.

Tulangan tranversal sepanjang daerah yang di definisikan pada SNI


2847:2019 pasal [Link] harus didesain untuk menahan geser dengan
mengasumsikan Vc = 0 bilamana kedua a) dan b) terpenuhi berikut :

a) Gaya geser akibat gempa yang dihitung sesuai dengan SNI


2847:2019 pasal [Link] wewakili setidaknya setengah
kekuatan geser perlu maksimum dalam bentang tersebut.
b) Gaya tekan aksial terfaktor Pu termasuk pengaruh gempa kurang
dari 𝐴𝑔 𝑓𝑐 ′ /20
47

[Link] Kolom Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus


[Link].3 Ruang lingkup

Untuk kolom sistem rangka pemikul momen khusus yang


merupakan bagian sistem pemikul gaya seismic dan utamanya didesain
untuk menahan gaya seismic dan utamanya didesain untuk menahan gaya
lentur geser dan aksial untuk SNI 2847:2019 pasal 18.7.1 kolom SRPMK
terlepas dari besarnya gaya aksial. Sebelum 2014 standar mengizinkan
kolom dengan gaya aksial yang kecil didesain sebagai balok. Berikut
merupakan syarat Batasan kolom yang mecakup berikut :

1. Dimensi penmapang terkecil , diukur pada garis lurus yang


melalui pusat geometri tidak kurang 300 mm
2. Rasio dimensi penampang terkecil terhadap dimensi tegak
lurusnya tidak kurang dari 0,4
[Link].4 Kekuatan Lentur Minimum Kolom

Kolom harus Memenuhi persyaratan berikut :

1. Kekuatan lentur kolom harus memenuhi persamaan berikut :

∑ 𝑀𝑛𝑐 ≥ (1,2) ∑ 𝑀𝑛𝑏 (2.72)

Keterangan :

∑ 𝑀𝑛𝑐 = jumlah kekuatan lentur nominal kolom – kolom yang


merangka ke dalam joint, yang dievaluasi di muka-muka joint.
Kekuatan lentur kolom harus dihitung untuk gaya aksial terfaktor,
konsisten dengan arah gaya-gaya lateral yang ditinjau, yang
menghasilkan kekuatan lentur terendah.

∑ 𝑀𝑛𝑏 = jumlah kekuatan lentur nominal balok yang merangka ke


dalam joint, yang dievaluasi di muka-muka joint. Pada konstruksi
balok-T, dimana pelat dalam kondisi tarik akibat momen-momen di
muka joint, tulangan pelat dalam lebar efektif pelat harus
48

diasumsikan berkontribusi terhadap Mnb jika tulangan pelat tersebut


terangkur dengan baik pada penampang kritisnya.

Kekuatan lentur harus dijumlahkan sedemikian hingga momen –


momen kolom yang berlawanan dengan momen – momen balok.
Pendekatan ini biasa dikenal sebagai konsep kolom kuat balok lemah.
Dengan menggunakan konsep ini diharapkan bahwa kolom tidak akan
mengalami kegagalan terlebih dahulu sebelum balok. Tuangan lentur dipilih
sedemikian sehingga persyaratan diatas terpenuhi.

Menurut SNI 2847:2019 pasal 18.7.4 tulangan lentur pada kolom


harus memenuhi syarat sebagai berikut :

1. Rasio tulangan memanjang Ast tidak boleh kurang dari 0,01Ag


atau lebih dari 0,06 Ag
2. Pada kolom dengan Sengkang tertutup bulat jumlah batang
tulangan longitudinal minimum harus 6.
[Link].5 Tulangan Tranversal Sistem Rangka Pemikul
Momen Khusus

Menurut SNI 2847:2019 pasal 18.7.5, nerikut merupakan


persayaratan Penulangan Tranversal sebagai berikut :

1. Tulangan Tranversal yang diisyaratkan harus dipasang


sepanjang Panjang ℓ0 tidak boleh kurang dari nilai dari nilai
terbesar antara a) hingga c)
a) Tinggi kolom pada muka joint atau pada penampang dimana
pelelehan lentur dimungkinkan terjadi
b) 1/6 tinggi bersih kolom
c) 450 mm
2. Tulangan transversal harus terdiri dari spiral tunggal atau spiral
saling tumpuk (overlap), sengkang pengekang bundar, atau
sengkang pengekang persegi, dengan atau tanpa ikat silang.
49

3. Setiap tekukan ujung sengkang pengekang persegi dan ikat


silang harus mengait batang tulangan longitudinal terluar.
4. Tulangan harus diatur sedemikian sehingga spasi hx antara
tulangan - tulangan longitudinal di sepanjang perimeter
penampang kolom yang tertumpu secara lateral oleh sudut ikat
silang atau kaki-kaki sengkang pengekang tidak boleh melebihi
350 mm
5. Ketika 𝑃𝑢 > 0,3 𝐴𝑔 𝑓𝑐′ atau 𝑓𝑐 ′ > 70 Mpa pada kolom dengan
sengkang pengekang, setiap batang atau bundel tulangan
longitudinal di sekeliling inti kolom harus memiliki tumpuan
lateral yang diberikan oleh sudut dari Sengkang pengekang
ataupun oleh kait gempa, dan nilai hx tidak boleh lebih dari 200
mm. Pu harus merupakan gaya tekan terbesar yang konsisten
dengan kombinasi beban terfaktor termasuk E.
6. Spasi tulangan Tranversal tidak melebihi nilai terkecil dari a)
hingga c) :
a) ¼ dimensi terkecil penampang kolom
b) 6 kali diameter tulangan longitudinal terkecil
c) so yang dihitung dengan :

350−ℎ𝑥
𝑠𝑜 = 100 + ( ) (2.73)
3

Nilai so tidak boleh melebihi 150 mm dan tidak perlu kurang


dari 100 mm
50

Gambar 2.11 Gambar contoh Penulangan Tranversal Kolom


[Link].6 Kekuatan Geser Kolom sistem rangka pemikul
momen khusus

Gaya geser desain Ve harus ditentukan dari peninjauan terhadap


gaya - gaya maksimum yang dapat terjadi di muka-muka joint pada setiap
ujung kolom. Gaya-gaya joint ini harus ditentukan menggunakan kekuatan
lentur maksimum yang mungkin terjadi, Mpr, di setiap ujung kolom yang
terkait dengan rentang beban aksial terfaktor, Pu, yang bekerja pada kolom.
Geser kolom tersebut di atas tidak perlu melebihi nilai geser yang dihitung
dari kekuatan joint berdasarkan Mpr balok yang merangka ke joint. Nilai Ve
tidak boleh kurang dari geser terfaktor berdasarkan analisis struktur

Tulangan tranversal sepanjang ℓ𝑜, harus di proporsikan untuk


menahan geser dengan mengamsusikan Vc = 0 bilamana keduanya (a) dan
(b) terjadi:

a) Gaya geser yang ditimbulka gempa ,yang dihitung sesuai


dengan gaya yang di desain, mecakup setengah atau lebih dari
kekuatan geser perlu maksimum 𝑙𝑜
b) Gaya tekan aksial berfaktor ,Pu termasuk pengraruh gempa
𝐴𝑔 𝑓𝑐 ′ /10
51

Gambar 2.12 Gambar Geser Desain untuk Kolom dan Balok


2.10 Joint Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus
2.10.3 Persyaratan Umum
1. Gaya-gaya pada tulangan longitudinal balok di muka joint harus
dihitung dengan mengasumsikan tegangan pada tulangan tarik
lentur adalah 1,25fy.
2. Tulangan longitudinal balok yang dihentikan di dalam suatu kolom
harus diteruskan ke muka terjauh dari inti kolom terkekang dan
harus disalurkan dalam Tarik
3. Bila tulangan longitudinal balok diteruskan melalui joint balok-
kolom, dimensi kolom yang paralel dengan tulangan balok tersebut
tidak boleh kurang dari 20 kali diameter tulangan longitudinal
terbesar balok untuk beton normal (normalweight). Untuk beton
ringan (lightweight), dimensinya tidak boleh kurang dari 26 kali
diameter tulangan.
52

4. Tinggi joint h tidak boleh kurang dari setengah tinggi balok-balok


yang merangka pada joint tersebut dan yang menyebabkan geser
pada joint sebagai bagian dari sistem pemikul gaya seismik.
2.10.4 Tulangan Tranversal
1. Bila pada keempat sisi joint terdapat balok yang merangka
kepadanya dan bila lebar dari setiap balok tersebut setidaknya tiga
perempat lebar kolom, maka jumlah tulangan yang diperlukan
sesuai SNI 2847:1019 pasal [Link] diizinkan untuk direduksi
setengahnya, dan spasi yang disyaratkan SNI 2847:1019 pasal
[Link] diizinkan untuk ditingkatkan hingga 150 mm dalam
ketinggian balok h yang terendah yang merangka pada joint
tersebut.
2. Tulangan longitudinal balok yang berada di luar inti kolom harus
dikekang oleh tulangan transversal yang menembus kolom dengan
spasi sesuai SNI 2847:1019 pasal [Link], dan persyaratan SNI
2847:1019 pasal [Link] dan SNI 2847:1019 pasal [Link], jika
pengekangan tersebut tidak diberikan oleh balok yang merangka ke
dalam joint.
3. Bila tulangan momen negatif balok menggunakan tulangan
berkepala (headed deformed bar) yang berhenti di dalam joint,
maka ujung atas kolom harus diteruskan di atas joint setidaknya
setinggi h. Sebagai alternatif, tulangan balok harus dikekang pada
muka atas joint oleh tulangan joint vertikal tambahan.
53

2.10.5 Kekuatan Geser


1. Kekuatan geser Vn joint harus sesuai dengan tabel berikut ini :
Tabel 2.14 Tabel Kekuatan Geser Nominal
Konfigurasi Joint Vn

Untuk join yang terkekang oleh balok – balok 1,7𝜆√𝑓𝑐 𝐴𝑗
pada ke empat sisinya

Untuk join yang terkekang oleh balok – balok 1, 2𝜆√𝑓𝑐 𝐴𝑗
pada tiga sisinya atau dua sisi berlawanan

Untuk kasus – kasus lainya 1,0𝜆√𝑓𝑐 𝐴𝑗
Untuk 𝜆 diambil 0,75 untuk beton ringan dan 1,0 untul betin normal,
untuk nilai Aj sesuai dengan SNI 2847:2019 pasal [Link]

Pada tabel 2.11 suatu muka join dianggap terkekang oleh balok
apabila lebar balok tersebut paling tidak ¾ dari lebar efektif join
perpanjangan balok yang melewati muka join setidaknya sama dengan
tinggi balok h boleh dianggap memberikan kekangan pada muka join
tersebut. Untuk luas penampang efektif dalam suatu join Aj harus dihitung
dari tinggi joint kali lebar join efeketif. Tinggi join harus sebesar lebar
kolom h. lebar joint efektif harus selebar kolom, kecuali bila ada balok yang
merangka kedalam kolom yang lebih lebar, lebar joint efektif tidak boleh
melebihi nilai terkeceil dari a) dan b) :

a) Lebar balok ditambah tinggi join


b) Dua kali jarak tegak lurus yang lebih kecil dari sumbu
longitudinal balok ke sisi kolom
54

Gambar 2.13 Gambar Luas Join Efektif


2.11 Perpanjangan Penyaluran Tulangan Tarik

Untuk tulangan D10 hingga D36 yang ujungnya diberi kait standar,
panjang penyaluran ℓdh harus dihitung berdasarkan Pers. ([Link]). Untuk
beton normal, ℓdh yang diperoleh tidak boleh kurang dari nilai terbesar antara
8db dan 150 mm; dan untuk beton ringan tidak boleh kurang dari nilai
terbesar antara 10db dan 190 mm.

𝑓𝑦 𝑑𝑏
ℓdh= (2.74)
5,4 𝜆√𝑓𝑐 ′

Nilai  adalah 0,75 untuk beton ringan dan 1,0 untuk beton normal.
Kait standar harus ditempatkan dalam inti terkekang kolom atau elemen
batas, dengan kait ditekuk ke dalam joint. Untuk tulangan D10 hingga D36,
panjang penyaluran tulangan tarik ℓd untuk tulangan lurus tidak boleh
kurang dari nilai terbesar antara a) dan b):

a) 2,5 kali Panjang sesuai dengan SNI 2847:2019 Pasal [Link] bila
beton yang dicor di bawah tulangan tersebut tidak melebihi 300
mm
55

b) 3,25 kali Panjang sesuai SNI 2847:2019 Pasal [Link] bila tinggi
beton yang di cor bersamaan dibawah batang tulangan melebihi
300 mm

Tulangan lurus yang berhenti pada joint harus melewati inti


terkekang kolom atau elemen batas. Semua bagian ℓd yang tidak berada di
dalam inti terkekang harus diperpanjang dengan faktor sebesar 1,6 kali.

2.12 Kontrol Stabilitas Bangunan


2.12.3 Drift –ratio

Nilai jarak drift yang didapat dari hasil perhitungan drift tertinggi
dibagi dengan tinggi bangunan seperti persamaan berikut ini :

∆𝑡𝑜𝑝 𝐻
Drift ratio = < 0,0025 atau 400 (2.75)
𝐻

Keterangan:
∆top = displacement puncak bangunan (m)
H = tinggi bangunan
2.12.4 Drift –storey

Simpangan antar tingkat harus seragam ,dihindari adanya loncatan


drift antar tingkat.

𝛿𝑖+1 − 𝛿𝑖
Drift storey = (2.76)

Keterangan :

𝛿𝑖+1 = simpangan pada tingkat ke (i-1)

𝛿𝑖 = simpangan pada tingkat ke (i)

h = tinggi antar lantai


56

2.12.5 Pengaruh P – Delta

Pengaruh P – Delta pada geser tingkat dan momen ,gaya dan elemen
struktur yang dihasilkan, dan simpangan antar tingkat yang diakibatkan
tidak perlu diperhitungkan bla koefisien stabilitas (𝜃) seperti ditentukan
oleh persamaan sama dengan atau kurang dari 0,10:

𝑃𝑥 ∆𝐼𝑒
𝜃= (2.77)
𝑉𝑥 ℎ𝑠𝑥 𝐶𝑑

Koefisisen stabilitas (𝜃) tidak boleh melebihi (𝜃𝑚𝑎𝑥 ) yang


ditentukan sebagai berikut :

0,5
𝜃𝑚𝑎𝑥 = ≤ 0,25 (2.78)
𝛽𝐶𝑑

Keterangan :

𝑃𝑥 = beban desain vertical total daan diatas tingkat -x (kN), bila


menghitung 𝑃𝑥 faktor beban individu tidak perlu melebihi 1,0

∆ = simpangan antar tingkat desain, terjadi secara serentak dengan Vx


(mm)

𝐼𝑒 = faktor keutamaan gempa

𝑉𝑥 = gaya geser seismik yang bekerja pada tingkat x dan x-1

ℎ𝑠𝑥 = tinggi tingkat di bawah tingkat x (mm)

𝐶𝑑 = faktor pembesaran defleksi

𝛽 = rasio kebutuhan geser terhadap kapsitas geser untuk tingkat antara


tingkat x dan x-1, rasio ini diizinkan secara konservatif diambil
sebesar 1,0

Anda mungkin juga menyukai