RKS Pekerjaan Perencanaan Landmark UIN
RKS Pekerjaan Perencanaan Landmark UIN
PEKERJAAN
KONSULTAN PERENCANA
RENCANA KERJA DAN SYARAT
PEKERJAAN PERENCANAAN LANDMARK
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) WALISONGO SEMARANG TA. 2022
(ARSITEKTUR)
BAGIAN A; PEKERJAAN PERSIAPAN
A. 1. PERSYARATAN UMUM
1. Spesifikasi Umum
a. Penyedia Jasa konstruksi diwajibkan mempelajari secara seksama seluruh Gambar
Kerja serta Uraian Pekerjaan dan Persyaratan Pelaksanaan Teknis, seperti yang
akan diuraikan dalam Buku ini.
b. Apabila terdapat ketidakjelasan, perbedaan-perbedaan dan / atau kesimpangsiuran
informasi dalam pelaksanaan, Penyedia Jasa konstruksi diwajibkan mengadakan
pertemuan dengan Direksi / Konsultan Pengawas untuk mendapat, kejelasan
pelaksanaan.
2. Lingkup Pekerjaan
a. Pekerjaan yang harus dilaksanakan sesuai yang dinyatakan dalam Gambar Kerja
serta Uraian Pekerjaan dan Persyaratan Teknis.
b. Menyediakan tenaga kerja yang ahli, bahan-bahan, peralatan berikut alat bantu
lainnya.
c. Mengadakan pengamanan, pengawasan dan pemeliharaan terhadap bahan, alat-alat
kerja maupun hasil pekerjaan selama masa pelaksanaan berlangsung sehingga
seluruh pekerjaan selesai dengan sempurna.
d. Pekerjaan, pembersihan dan pengamanan dalam Tapak Bangunan sebelum
pelaksanaan dan setelah pembangunan.
e. Pekerjaan yang dilaksanakan adalah Pekerjaan Perencanaan Landmark
f. Universitas Islam Negeri (Uin) Walisongo Semarang Ta. 2022 dengan lingkup pekerjaan
sebagai berikut :
- Pekerjaan Persiapan
- Pekerjaan Tanah
- Pekerjaan Beton (Struktur)
- Pekerjaan Besi/Baja dan Aluminium
- Pekerjaan Pasangan Dinding
- Pekerjaan Penutup Lantai & Dinding
- Pekerjaan Plafond
- Pekerjaan Fabrikasi Logo UIN
- Pekerjaan Finishing
- Pekerjaan Pengecatan
- Pekerjaan Pemipaan atau Plumbing
- Pekerjaan Listrik
3. Gambar Dokumen
Apabila terdapat ketidakjelasan, kesimpangsiuran, perbedaan dan / atau ketidak
sesuaian dan keragu-raguan diantara setiap Gambar Kerja, Penyedia Jasa konstruksi
diwajibkan melaporkan kepada Direksi / Konsultan Pengawas gambar mana yang akan
dijadikan pegangan. Hal tersebut di atas tidak dapat dijadikan alasan dan Penyedia Jasa
konstruksi untuk memperpanjang / meng- claim biaya maupun waktu pelaksanaan
4. Shop Drawing
a. Penyedia Jasa konstruksi wajib membuat shop drawing untuk detail khusus yang
belum tercakup lengkap dalam Gambar Kerja/Dokumen Kontrak maupun yang
diminta oleh Direksi / Konsultan Pengawas/ Perencana.
b. Dalam Shop Drawing ini harus jelas dicantumkan dan digambarkan semua data yang
diperlukan termasuk pengajuan contoh bahan, keterangan produk, cara pemasangan
dan / atau spesifikasi / persyaratan khusus sesuai dengan spesifikasi pabrik.
5. Ukuran
a. Pada dasarnya semua ukuran dalam Gambar Kerja (Arsitektur) pada dasarnya
adalah ukuran jadi seperti dalam keadaan selesai.
b. Penyedia Jasa konstruksi tidak dibenarkan merubah atau mengganti ukuran yang
tercantum di dalam Gambar Pelaksanaan/Dokumen Kontrak tanpa sepengatahuan
Direksi.
6. Sarana Kerja
a. Penyedia Jasa konstruksi wajib memasukkan identitas, nama, jabatan, keahlian
masing-masing anggota kelompok kerja pelaksana dan inventarisasi peralatan yang
dipergunakan dalam pekerjaan ini
b. Penyedia Jasa konstruksi wajib memasukkan identifikasi tempat kerja (workshop dan
peralatan yang dimiliki dimana pekerjaan Penyedia Jasa konstruksi akan
dilaksanakan serta jadwal kerja
c. Penyediaan tempat penyimpanan bahan/material di lapangan harus aman dari
segala kerusakan, kehilangan dan hal-hal yang dapat mengganggu pekerjaan lain
yang sedang berjalan serta memenuhi persyaratan penyimpanan bahan tersebut.
7. Standard Yang Dipergunakan
Semua pekerjaan yang akan dilaksanakan harus mengikuti Normalisasi Indonesia,
Standard Industri Konstruksi, Peraturan Nasional lainnya yang ada hubungannya
dengan pekerjaan, antara lain :
PUBI – 1982 Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia
NI-3 PMI PUBBI Peraturan Umum Bahan Bangunan di Indonesia
NI-4 Persyaratan Cat Indonesia
SNI 7973-2013 Spesifikasi desain untuk konstruksi kayu.
NI-8 Peraturan Semen Portland Indonesia
NI-10 Bata Merah Sebagai Bahan Bangunan
PUIL-2000 Peraturan Umum Instalasi Listrik
SNI 03 - 1729 - 2002 tata cara perencanaan struktur baja untuk bangunan gedung
Peraturan Teknis lain yang berlaku di Indonesia.
8. Syarat Bahan
a. Semua bahan yang digunakan dalam pekerjaan ini harus dalam keadaan baik tidak
cacat, sesuai dengan spesifikasinya yang diminta dan bebas dari noda lainnya yang
dapat mengganggu kualitas maupun penampilan.
b. Untuk pekerjaan khusus/tertentu, selain harus mengikuti standard yang dipergunakan
juga harus mengikuti persyaratan Pabrik yang bersangkutan
A. 2. PERSYARATAN TEKNIS
1. Pekerjaan Sarana Tapak
Pekerjaan ini meliputi :
a. Penyediaan Air dan Daya Listrik untuk bekerja
Air untuk bekerja harus disediakan Penyedia Jasa konstruksi. Air harus bersih,
bebas dari bau, Lumpur, Minyak dan Bahan Kimia lainnya yang merusak.
Penyediaan air sesuai dengan petunjuk dan persetujuan Direksi / Konsultan
Pengawas , Listrik untuk bekerja harus disediakan Penyedia Jasa konstruksi.
b. Pekerjaan penyediaan Alat Pemadam Kebakaran
Penyedia Jasa konstruksi wajib menyediakan Tabung alat Pemadam
Kebakaran ( Fire Estinguisher ) lengkap dengan isinya, untuk menjaga
kemungkinan bahaya kebakaran.
c. Drainase Tapak.
Penyedia Jasa konstruksi wajib membuat Saluran sementara yang berfungsi
untuk pembuangan air yang ada. Pembuatan Saluran sementara harus sesuai
petunjuk atau persetujuan Direksi / Konsultan Pengawas.
2. Pekerjaan Persiapan
Pekerjaan yang dimaksud meliputi :
Pekerjaan pembersihan sebelum pelaksanaan. Pekerjaan penentuan Peil P. 0.00,
Papan nama kegiatan pekerjaan serta pekerjaan perbaikan kembali dan/atau seperti
tercantum dalam Gambar Kerja. Fasilitas tersebut tidak boleh dibongkar tanpa seijin
Direksi / Konsultan Pengawas.
Penyedia Jasa konstruksi harus mengamankan/melindungi hasil pekerjaan
sebelumnya maupun yang sedang berjalan, bahan/komponen yang dipertahankan
agar tidak rusak atau cacat.
3. Persyaratan Bahan
a. Adukan pengisi siar dan nat memakai semen warna khusus nat. Warna
ditentukan kemudian.
b. Bahan-bahan yang dipakai, harus baru dan sebelum dipasang terlebih dahulu
harus diserahkan contoh-contohnya untuk mendapatkan persetujuan dari
Direksi / Konsultan Pengawas
c. Material lain yang tidak terdapat pada daftar di atas tetapi dibutuhkan untuk
penyelesaian/penggantian pekejaan dalam bagian ini, harus baru, kualitas
terbaik dari jenisnya dan harus disetujui Direksi / Konsultan Pengawas
4. Persyaratan Pelaksanaan
a. Adukan yang dipakai 1 PC : 4 Pasir. Pasir yang dipakai mempunyai gradasi 2
mm, harus dicuci dan disaring. Tidak dibenarkan menyiram Air Semen ke
permukaannya.
b. Seluruh rongga pada permukaan batu alam bagian belakang harus terisi dengan
adukan sewaktu batu alam bagian belakang harus terisi dengan adukan sewaktu
dipasang.
c. Pola pemasangan batu alam harus sesuai dengan Gambar Kerja / Shop Drawing
atau sesuai dengan petunjuk pabrik.
d. Toleransi kecekungan adalah 20 mm untuk setiap 2 M2 atau terlihat rata dan
serasi.
e. Garis-garis tepi batu alam yang terbentuk maupun siar siar harus serasi. Lebar
siar harus baik yaitu maximum 20 mm dengan kedalaman 2 mm.
f. Persyaratan pelaksanaan aduk & pengisi aduk perekat harus sesuai dengan
spesifikasi pabrik agar didapatkan hasil yang baik. Untuk lantai yang luas
harus diberi dilatasi nat semen.
g. Selama 3 x 24 jam setelah pemasangan, batu alam Lantai harus dihindarkan
dari injakan atau pemberian beban.
2. Persyaratan Bahan
1. Penggunaan batu alam tempel tebal minimal =20mm.
2. Bahan GRC untuk area yang tertera pada gambar.
3. Syarat-syarat Pelaksanaan
1. Pemasangan harus dibuat/didirikan tegak lurus dengan lantai.
2. Menyerahkan rencana pekerjaan kepada Konsultan MK untuk
persetujuannya. Pertemuan sambungan HPL ataupun wallpaper harus rapi
dan rata.
3. Siapkan sambungan-sambungan, lubang-lubang untuk pekerjaan lain (listrik,
mekanikal).
4. Cara Pemasangan
Lembaran batu alam dan GRC kerawangan yang cacat dan retak-retak tidak
boleh digunakan, dan harus disingkirkan dari lapangan pekerjaan sehingga
rapi.
5. Cara Penyimpanan
Letakkan lembaran-lembaran material yang akan dipakai di daerah yang
terlindung dari cuaca. Tumpukan di atas tiga kayu penahan (alas) pada setiap
panjang lembaran ini. Tinggi tumpukkan lembaran-lembaran tidak boleh lebih
dari 2 meter. Tempat tumpukan harus jauh dari lalu lintas kendaraan proyek
yang mungkin menggangu.
2. Persyaratan Bahan
a. Rangka plafond ruangan menggunakan Hollow Galvanis 0,5 mm
JayaBoard Jaya BMS, Prometama pada seluruh ruangan sesuai dalam
gambar. Penggunaan Kalsium silikat t=6mm pada area basah atau sesuai
gambar dan penggunaan lambersiring setara Sunda Plafon di area yang
tertera pada gambar.
b. Panel Gypsum Board
Spesifikasi Bahan :
Jenis : Panel gypsum board.
Tebal : 9 mm
Ukuran : mengikuti gambar
3. Syarat-syarat Pelaksanaan
a. Pada pekerjaan plafon perlu diperhatikan adanya pekerjaan lain yang dalam
pelaksanaannya sangat berkaitan erat.
b. Sebelum dilaksanakan pemasangan plafond, pekerjaan lain yang terletak di
atas plafon harus sudah terpasang dengan sempurna, a.l: elektrikal, AC, dan
perlengkapan instalasi lain yang diperlukan.
c. Apabila pekerjaan tersebut di atas tidak tercantum dalam Gambar Rencana
Plafond, maka harus diteliti terlebih dahulu pada gambar instalasi yang lain.
d. Rangka penggantung plafon harus sesuai dengan pola Gambar Kerja dan
wajib diperhatikan terhadap peil rencana. Rangka yang datar harus rata air.
e. Rangka penggantung plafon menggunakan rangka Hollow Galvanis 0,5,
lengkap dengan penggantung sesuai gambar kerja.
f. Finishing PLAFON adalah cat.
g. Bagian tepi / pertemuan plafon dan dinding diberi list yang terbuat dari kayu
kamfer.
3. Syarat-syarat Pelaksanaan
a. Umum
Sebelum dikerjakan, semua bahan harus ditunjukkan kepada Konsultan
MK beserta ketentuan/persyaratan jaminan pabrik untuk mendapatkan
[Link] yang tidak disetujui harus diganti tanpa biaya
tambahan.
Jika dipandang perlu diadakan penukaran/penggantian, bahan
pengganti harus disetujui oleh Konsultan MK berdasarkan contoh yang
diajukan Kontraktor.
Untuk pekerjaan cat di daerah terbuka, jangan dilakukan dalam
keadaan cuaca lembab dan hujan atau keadaan angin berdebu, yang
akan mengurangi kualitas pengecatan dalam keadaan terlindung dari
basah dan lembab ataupun debu.
Permukaan bahan yang akan dicat harus benar-benar sudah
dipersiapkan untuk pengecatan, sesuai persyaratan pabrik cat dan
bahan yang bersangkutan. Permukaan yang akan dicat harus benar-
benar kering, bersih dari debu, lemak / minyak dan noda-noda yang
melekat.
Setiap pengecatan yang akan dimulai pada suatu bidang, harus
mendapat persetujuan dari Konsultan MK. Sebelum memulai
pengecatan, Kontraktor wajib melakukan percobaan untuk disetujui
Konsultan MK.
Kontraktor tidak diperkenankan memulai suatu pekerjaan di suatu
tempat bila ada kelainan/perbedaan di tempat itu sebelum kelainan
tersebut diselesaikan.
Bila ada kelainan dalam hal apapun antara gambar dan lain-lainnya,
maka Kontraktor harus segera melaporkannya kepada Konsultan MK.
Kontraktor wajib memperbaiki/mengulangi/mengganti kerusakan yang
terjadi selama masa pelaksanaan dan masa garansi, atas beban biaya
Kontraktor, selama kerusakan bukan disebabkan oleh tindakan
Pemberi Tugas.
b. TEKNIS
Lakukan pengecatan dengan cara terbaik, yang umum dilakukan
kecuali spesifikasi lain. Jadi urutan pengecatan, penggunaan lapisan-
lapisan dasar dan tebal lapisan penutup minimal sama dengan
persyaratan pabrik. Pengecatan harus rata, tidak bertumpuk, tidak
bercucuran atau ada bekas-bekas yang menunjukkan tanda-tanda
sapuan atau semprotan dan roller.
Sapukan semua dasar dengan cat dasar memakai [Link]
hanya diijinkan dilakukan bila disetujui Konsultan MK.
Pengecatan kembali dilakukan bila ada cat dasar atau cat akhir yang
kurang menutupi, atau [Link] pengecatan dilakukan
sebagaimana ditunjukkan oleh Konsultan MK, serta harus mengikuti
petunjuk dan spesifikasi yang dikeluarkan pabrik yang bersangkutan.
Pembersihan permukaan harus mendapat persetujuan. Pekerjaan
termasuk penggunaan ongkos, pencucian dengan air, maupun
pembersihan dengan kain kering.
Kerapian pekerjaan cat ini dituntut untuk tidak mengotori dan
menggangu pekerjaan finishing lain, atau pekerjaan lain yang sudah
terpasang. Pekerjaan yang tidak sempurna diulang dan diperbaiki atas
tanggungan Kontraktor.
c. PENGUJIAN MUTU PEKERJAAN
a. Sebelum melaksanakan pekerjaan, Kontraktor wajib melakukan
percobaan atas semua pekerjaan yang akan dilaksanakan atas biaya
sendiri. Pengecatan yang tidak disetujui Konsultan MK harus
diulangi/diganti, atas biaya Kontraktor.
b. Pada waktu penyerahan, pihak pabrik dengan Kontraktor harus memberi
jaminan selama minimal 2 tahun atas semua pekerjaan pengecatan,
terhadap kemungkinan cacat karena cuaca warna dan kerusakan cat
lainnya.
c. Konsultan MK wajib menguji semua hasil berdasarkan syarat-syarat
yang telah diberikan baik oleh pabrik maupun atas petunjuk Konsultan
MK. Peralatan untuk pengujian disediakan oleh Kontraktor.
d. Konsultan MK berhak meminta pengulangan pengujian bila dianggap
perlu.
e. Dalam hal pengujian yang telah dilakukan dengan baik atau kurang
memuaskan, maka biaya pengujian/pengulangan pengujian merupakan
tanggung jawab Kontraktor.
d. PENGAMANAN PEKERJAAN
a. Daerah-daerah yang sedang dicat agar ditutup dari pekerjaan-pekerjaan
lain, maupun kegiatan lain dan juga daerah tersebut terlindung dari debu
dan kotoran lainnya sampai cat tersebut kering.
b. Lindungi pekerjaan ini dan juga pekerjaan atau bahan lain yang dekat
dengan pekerjaan ini seperti fitting-fitting, kusen-kusen dan sebagainya
dengan cara menutup/melindungi bagian tersebut selama pekerjaan
pengecatan [Link] bertanggung jawab memperbaiki atau
mengganti bahan yang rusak akibat pekerjaan pengecatan tersebut.
.
C. 16. PEKERJAAN ATAP TIDAK ADA
C. 17. PEKERJAAN TALANG (TIDAK ADA)
(STRUKTUR)
PASAL 1
PEKERJAAN GALIAN TANAH
1. Lingkup Pekerjaan
a. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan/peralatan-peralatan dan
alat-alat bantu yang diperlukan untuk terlaksananya pekerjaan ini dengan baik.
b. Pekerjaan ini meliputi seluruh pekerjaan galian pondasi untuk pekerjaan sub struktur,
seperti yang disebutkan/ditunjukkan dalam gambar atau sesuai dengan petunjuk
Direksi / Konsultan Pengawas.
c. Pembuangan sisa galian yang disetujui Direksi / Konsultan Pengawas atas biaya
Penyedia Jasa Konstruksi, pembuangan hasil galian tidak dapat dipergunakan sebagai
bahan urugan kembali pada konstruksi tersebut.
2. Syarat-syarat Pelaksanaan
a. Kedalaman galian pondasi dan galian-galian lainnya harus sesuai dengan peil-peil
yang tercantum dalam gambar. Semua bekas-bekas pondasi bangunan lama, batu,
jaringan jalan/aspal, akar dan pohon-pohon yang terdapat dibagian galian yang akan
dilaksanakan harus dibongkar dan dibuang.
b. Apabila ternyata terdapat pipa-pipa pembuangan, kabel listrik, telepon dan lain-lain
yang masih digunakan, maka Penyedia Jasa Konstruksi harus secepatnya
memberitahukan kepada Direksi / Konsultan Pengawas, atau kepada intansi yang
berwenang untuk mendapatkan petunjuk-petunjuk seperlunya. Penyedia Jasa
Konstruksi bertanggung jawab atas segala kerusakan-kerusakan sebagai akibat dari
pekerjaan galian tersebut, apabila timbul kerusakan kontraktor berhak bertanggung
jawab untuk mengembalikan atau memindahkan sesuai fungsinya.
c. Dasar dari semua galian harus waterpas, bilamana pada dasar setiap galian masih
terdapat akar-akar tanaman atau bagian-bagian gembur, maka harus digali keluar
sedang lubanglubang diisi kembali dengan pasir, disiram dan dipadatkan sehingga
mendapatkan kembali dasar yang waterpas.
d. Apabila terdapat air didasar galian, baik pada waktu penggalian maupun pada waktu
pekerjaan struktur harus disediakan pompa air dengan kapasitas yang memadai atau
pompa lumpur yang diperlukan dapat bekerja terus menerus, untuk menghindari
tergenangnya air lumpur pada dasar galian.
e. Semua tanah kelebihan yang berasal dari pekerjaan galian, setelah mencapai jumlah
tertentu harus segera disingkirkan dari halaman pekerjaan pada setiap saat yang
dianggap perlu dan atas petunjuk Direksi / Konsultan Pengawas.
PASAL 2
PEKERJAAN ACUAN / BEKISTING
1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan, peralatan, pengangkutan dan
pelaksanaan untuk menyelesaikan semua pekerjaan beton sesuai dengan gambar-
gambar konstruksi, dengan memperhatikan ketentuan tambahan dari arsitek dalam
uraian dan syarat-syarat pelaksanaannya.
2. Persyaratan Bahan
Bahan acuan yang dipergunakan dapat dalam bentuk : kayu/ multiplek setebal
minimal 9 mm dengan kelas kuat kayu minimal 2 yang akan dipergunakan harus
mendapat persetujuan tertulis dari Direksi / Konsultan Pengawas terlebih dahulu.
Acuan yang terbuat menggunakan kayu/ multiplek disupport dengan perancah
skafolding, diposisi kolom, balok digunakan perancah dengan material dari baja. Serta
ditambah dengan cover PVC yang dicor diluar site guna tidak mencemari air.
3. Syarat-syarat Pelaksanaan
a. Perencanaan acuan dan konstruksinya harus direncanakan untuk dapat menahan
beban-beban, tekanan lateral dan tekanan yang diizinkan dan peninjauan terhadap
beban angin dan lain-lain, peraturan harus dikontrol terhadap Peraturan
Pembangunan Pemerintah Daerah setempat.
b. Semua ukuran-ukuran penampang Struktur Beton yang tercantum dalam gambar
struktur adalah ukuran bersih.
c. Sebelum memulai pekerjaannya, Penyedia Jasa Konstruksi harus memberikan gambar
dan perhitungan acuan serta sample bahan yang akan dipakai, untuk disetujui secara
tertulis oleh Direksi / Konsultan Pengawas. Pada dasarnya tiap-tiap bagian dari
bekisting, harus mendapat persetujuan dari Direksi / Konsultan Pengawas, sebelum
bekisting dibuat pada bagian itu.
1
d. Acuan yang direncanakan sedemikian rupa sehingga tidak ada perubahan bentuk dan
cukup kuat menampung beban-beban sementara maupun tetap sesuai dengan
jalannya pengecoran beton.
e. Susunan acuan dengan penunjang-penunjang yang diatur sedemikian rupa sehingga
memungkinkan dilakukannya inspeksi dengan mudah oleh Direksi / Konsultan
Pengawas. Penyusunan acuan harus sedemikian rupa hingga pada waktu
pembongkarannya tidak menimbulkan kerusakan pada bagian beton yang
bersangkutan.
f. Cetakan beton harus dibersihkan dari segala kotoran-kotoran yang melekat seperti
potongan-potongan kayu, potongan-potongan kawat, paku, tahi gergaji, tanah dan
sebagainya.
g. Acuan harus dapat menghasilkan bagian konstruksi yang ukuran, kerataan/kelurusan,
elevasi dan posisinya sesuai dengan gambar-gambar konstruksi.
h. Bondek acuan harus bersih dan dibasahi terlebih dulu sebelum pengecoran. Harus
diadakan tindakan untuk menghindarkan terkumpulnya air pembasahan tersebut
pada sisi bawah.
i. Posisi stop cor kolom dapat diletakkan pas dibawah dari balok, yang sebelumnya
penyambungan Kolom HWF dengan Balok IWF disambungkan terlebih dahulu.
i. Cetakan beton harus dipasang sedemikian rupa sehingga tidak akan terjadi kebocoran
atau hilangnya air semen selama pengecoran, tetap lurus (tidak berubah bentuk )
dan tidak bergoyang.
j. Sebelumnya dengan mendapat persetujuan tertulis dari Direksi / Konsultan Pengawas
diperlukan untuk ikatan-ikatan dalam beton harus diatur sedemikian, sehingga bila
bekisting dibongkar kembali, maka semua besi tulangan harus berada dalam
permukaan beton.
k. Pada bagian terendah (dari setiap phase pengecoran) dari kolom baja atau dinding
harus ada bagian yang mudah dibuka untuk inspeksi dan pembersihan.
l. Pada prinsipnya semua penunjang bekisting harus menggunakan steger besi
(scafolding).
m. Setelah pekerjaan diatas selesai, Penyedia Jasa Konstruksi harus meminta
persetujuan dari Direksi / Konsultan Pengawas dan minimum 3 (tiga) hari sebelum
pengecoran Penyedia Jasa Konstruksi harus mengajukan permohonan tertulis untuk
izin pengecoran kepada Direksi / Konsultan Pengawas.
n. Pada posisi kolom beton bertulang menggunakan bekesting berupa multiplek tebal 9
mm menggunakan rangka rangka kaso ukuran 5 x 7 cm.
2
o. Tambahan PVC D 8 Inch untuk pile diameter 20 cm dan PVC D 12 Inch untuk pile
diameter 30 cm. Yang nantinya harus terinstal cor tulangan masiv dan dibawa ke site
sudah bersih.
4. Pembongkaran
a. Pembongakaran dilakukan sesuai dengan Peraturan Beton Indonesia, dimana bagian
konstruksi yang dibongkar cetakannya harus dapat memikul berat sendiri dan beban-
beban pelaksanaannya.
b. Bagian konstruksi boleh dilepas dalam waktu sesuai dengan ijin dari Direksi /
Konsultan Pengawas.
c. Setiap rencana pekerjaan pembongkaran cetakan harus diajukan terlebih dahulu
secara tertulis untuk disetujui oleh Direksi / Konsultan Pengawas.
d. Permukaan beton harus terlihat baik pada saat acuan dibuka, tidak bergelombang,
berlubang, atau retak-retak dan tidak menunjukkan gejala keropos/tidak sempurna.
e. Acuan harus dibongkar secara cermat dan hati-hati, tidak dengan cara yang dapat
menimbulkan kerusakan pada beton dan material-material lain disekitarnya, dan
pemindahan acuan harus dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan
kerusakan akibat benturan pada saat pemindahan. Perbaikan yang rusak akibat
kelalaian Penyedia Jasa Konstruksi menjadi tanggungan Penyedia Jasa Konstruksi.
f. Apabila setelah cetakan dibongkar ternyata terdapat bagian-bagian beton yang
keropos atau cacat lainnya, yang akan mempengaruhi konstruksi tersebut, maka
Penyedia Jasa Konstruksi harus segera memberitahukan kepada Direksi / Konsultan
Pengawas, untuk meminta persetujuan tertulis mengenai cara perbaikan pengisian
atau pembongkarannya. Penyedia Jasa Konstruksi tidak diperbolehkan
menutup/mengisi bagian beton yang keropos tanpa persetujuan tertulis
Direksi / Konsultan Pengawas. Semua resiko yang terjadi sebagai akibat
pekerjaan tersebut dan biaya-biaya perbaikan, pembongkaran, atau pengisian atau
penutupan bagian tersebut, manjadi tanggung jawab Penyedia Jasa Konstruksi.
g. Seluruh bahan-bahan bekas acuan yang tidak terpakai harus dibersihkan dari lokasi
proyek dan dibuang pada tempat-tempat yang ditentukan oleh Direksi / Konsultan
Pengawas sehingga tidak mengganggu lahan kerja.
Meskipun hasil pengujian silinder - silinder beton memuaskan, Direksi / Konsultan
Pengawas mempunyai wewenang untuk menolak konstruksi beton yang cacat
sebagai berikut :
Konstruksi beton yang keropos yang dapat mengurangi kekuatan konstruksi.
Konstruksi beton yang tidak sesuai dengan bentuk/ukuran yang direncanakan
atau posisi-posisinya tidak seperti yang ditunjuk oleh gambar.
3
Konstruksi beton yang tegak lurus atau rata seperti yang telah direncanakan.
Konsruksi beton yang berisikan kayu atau benda lainnya yang memperlemah
kekuatan konstruksi.
Dan lain-lain cacat yang menurut pendapat Perencana/Direksi / Konsultan
Pengawas dapat mengurangi kekuatan konstruksi.
h. Alternatif Acuan/Bekisting :
Penyedia Jasa Konstruksi dapat mengusulkan alternatif jenis acuan yang akan
dipakai, dengan melampirkan brosur/gambar acuan tersebut beserta
perhitungannya untuk mendapat persetujuan tertulis dari Direksi / Konsultan
Pengawas. Dengan catatan bahwa alternatif acuan tersebut tidak merupakan kerja
tambah dan tidak menyebabkan keterlambatan dalam [Link] diharapkan
agar Penyedia Jasa Konstruksi dapat mengajukan usulan acuan
yangdapatmempersingkatwaktu pelaksanaan tanpa mengurangi/membahayakan
mutu beton dan sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku.
i. Pembongkaran bekesting dari material pembetonan dapat dilepas minimum jangka
waktu 3 hari dari waktu selesai pelaksanaan pengecoran.
PASAL 3
PEKERJAAN BETON
1. Lingkup Pekerjaan
Pembetonan dilakukan sesuai gambar kerja yang memiliki material beton dengan
mutu sesuai dengan spesifikasi yang tertera pada gambar. Diperbolehkan memakai
4
material precast beton namun mutunya sesuai dengan spesifikasi. Untuk Kolom
pedestal, sloof struktur, footplat menggunakan K-300 ( Kuat Tekan Karakteristik 300
kg/cm2 atau fc’=26,4 MPa ). Namun pada apabila dilakukan pekerjaan beton praktis
menggunakan K-225 ( Kuat Tekan Karakteristik 225 kg/cm2 atau fc’=19 MPa ).
Seluruh pekerjaan cor dilakukan diluar site perairan sehingga air semen tidak
mencemari lingkungan. Dilapangan tinggal pasang dan sambungan plester ringan
(1 pc : 3 ps).
Beton merupakan campuran PC, air dan material berbutir dan tidak boleh memakai bahan
lain tanpa ijin direksi. Penggunaan semen SNI 15-2049-2004. setelah beton mengeras harus
didapat bahan yang padat, awet dan kokoh dan mempunyai sifat yang diisyaratkan.
a. Perbandingan antara butir halus dan kasar tergantung gradasi. Tetapi butir halus
lebih sedikit dan bila dikombinasikan dengan PC akan menghasilkan adukan
yang mengisi rongga antara butiran kasar dan cukup tersisa untuk membentuk
permukaan halus (Beton Expose).
b. Sebelum pekerjaan pembetonan dimulai kontraktor akan membiayai seperti
yang disyaratkan sesuai kehendak direksi untuk menentukan perbandingan
material berbutir kasar, persentase semen dan nilai air semen.
c. Direksi dapat mengubah perbandingan campuran beton itu bilaman dipandang
perlu selama pelaksanaan untuk dapat mencapai persyaratan yang sesuai.
3. Mutu Beton
Mutu beton untuk semua pekerjaan beton kecuali beton prestress, paling sedikit dengan
mutu K-3000 (fc’= 26,4 MPa) struktur utama dan menyesuaikan dengan gambar kerja,
kolom praktis menggunakan mutu beton K-225 (fc’= 19 MPa).
a. Agar persyaratan mutu beton tersebut dapat tercapai, maka kontraktor
menghubungi laboratorium yang ditunjuk direksi untuk penentuan mixed design
nya.
b. Jika terjadi penyimpangan mutu beton maka direksi berhak memerintahkan
kontraktor untuk membongkar tanpa ada tuntutan biaya tambahan.
c. Sebelum disetujui rencana campuran beton, atau ditentukannya perubahan
suatu rencana campuran yang telah ada maka direksi menunjuk perlu diadakan
percobaan.
d. Cara mempersiapkan benda uji dan hasil, jumlah dan evaluasinya sesuai yang
tercantum dalam SNI 2847-2013. Pasal [Link] (SNI 03-2847-2002-[Link])
e. Bila percobaan pendahuluan memenuhi syarat maka dapat dipakaipada
pekerjaan selanjutnya yang sesuai.
5
f. Untuk pelaksanaan pekerjaan beton yang besar lebih dari 60 m3, harus dibentuk
benda uji setiap 5 m3, atau setiap truck mixer datang dengan minimum tiga
benda uji setiap hari/ kedatangan, kecuali permulaan pekerjaan dimana
frekuensi pembuatan benda uji harus lebih besar, agar segera terkumpul 20
benda uji.
g. Benda uji digunakan untuk mengontrol apakah mutu beton tersebut masih
dipertahankan. Untuk pekerjaan beton dibawah 60 m3, berlaku ketentuan
sebagai berikut:
Pembuatan benda uji.
Interval pengecoran beton dibuat sedemikian sehingga tiap interval diambil
sebuah benda uji, sampai akhir terkumpul 20 benda uji.
Apabila kubikasi sebanyak 20 buah dianggap terlalu banyak, Direksi dapat
menentukan lain selama diambil kubikasi benda uji ynag hampir sama.
Pembuatan perlindungan benda uji dikerjakan sesuai dengan persyaratan
yang tertera pada SNI 2847-2013. Pasal [Link] (SNI 03-2847-2002-
[Link]).
Benda uji dibuat berebentuk silinder dengan diameter 15 cm dan tinggi 30
cm.
h. Dalam perawatan beton (Curing) atau penambahan bahan khusus (Additive),
benda uji diperlakukan sama dengan demikian sama dengan konstruksi beton
yang diwakilinya sehingga benda uji mencerminkan sifat dan kekuatan
konstruksi yang sebenarnya.
i. Jika dari dewean direksi tidak ada ketentuan lain maka diambil ketentuan
sebagai berikut:
Untuk menetapkan kekuatan beton biasa minimal 2 benda uji untuk tiap 30
m3 beton.
Untuk menetapkan lamanya curring jika beton diuap atau penambahan
bahan lain maka jumlah benda uji ditetapkan direksi.
Untuk menetapkan sifat tertentu beton misal modulus elastisitas, shrinkage,
creep atau keperluan yang dianggap khusus, maka benda uji ditetapkan
direksi.
j. Jika konstruksi ditest lebih lama atau kurang dari umur 28 hari, maka kekuatan
akan dikorelasikan dengan kekuatan benda uji yang berumur 28 hari.
k. Jika pemeriksaan benda kurang memenuhi syarat maka diusahakan untuk
memeriksa kekuatan beton yang telah dicor dengan cara mengambil / dibor atas
ijin direksi, diganti dengan mutu yang sesuai spesifikasi.
6
l. Pada beton post tensioning, ini diperhatikan direksi dengan hati-hati agar
pengambilan dan pengisian conoth tidak membahayakan kekuatan suatu
konstruksi secara keseluruhan.
m. Jika benda uji memenuhi syarat kekuatan maka pengecoran dapat dilanjutkan .
n. Bila hasil tidak memenuhi persyaratan maka direksi meminta beton yang telah
dilaksanakan untuk dibongkar dan diganti dengan beton yang memenuhi syarat.
o. Dalam hal khusus pada konstruksi memungkinkan direksi untuk
mempertimbangkan agar tentang pengurangan beton itu, maka diadakan
percobaan pembebanan, sehingga pembongkaran beton pada tempat itu tidak
dilaksanakan.
p. Penyimpanan dari gambar konstruksi rencana, dapat mengakibatkan pekerjaan
tersebut dibongkar dan diperbaharui lagi sesuai dengan spesifikasi dan petunjuk
direksi.
q. Keropos pada waktu pelaksanaan dapat dipertimbangkan oleh direksi untuk
dibongkar bila dianggap membahayakan konstruksi, dan sepenuhnya tanggung
jawab kontraktor dan biaya sepenuhnya ditanggung kontraktor.
r. Sebelum pengecoran dimulai harus mendapat ijin tertulis direksi tentang
rangkaian pembesian dan kebersihan material dan air yang digunakan, serta
hal lainnya.
s. Sebelum menuangkan beton mortel kearah cetakan beton, harus diperiksa
dahulu slumpnya, apabila memenuhi syarat (10 +/- 2 cm) dan dipandang
menurut direksi pekerjaan dapat dilaksanakan waktu datang dari site mix ke
lokasi tidak lebih dari 3 jam, jika tidak (lebih dari 3 jam dengan beton normal
tanpa admixture) maka sebaiknya dibuang dan tidak digunakan untuk material
struktural.
4. Penyimpanan Material
7
b. Semen yang telah menggumpal tidak dipebolehkan untuk dipakai dalam
pekerjaan konstruksi. Penggudangan tersebut hendaknya disesuaikan agar
jumlah material cukup banyak untuk menjaga kemacetan pekerjaan yang
diakibatkan keterlambatan pengiriman material.
c. Pengiriman semen ke tempat penyimapanan atau pekerjaan harus dijaga agar
semen tidak lembab.
5. Pengadukan Beton
8
g. Lamanya pengadukan umumnya tidak boleh kurang dari 1,5 menit, dihitung dari
saat tercampurnya semua bahan-bahan beton termasuk air. Untuk mixer
kapasitas lebih dari 1m3, maka waktu minimum tersebut dapat ditambah sesuai
petunjuk direksi. Sebelum waktu minimum selesai tidak diperbolehkan
menghentikan mesin dan atau mengambil sebagian isinya.
h. Putaran mesin hendaknya diperiksa agar dapat kontinue sesuai dengan
rekomendasi pabrik.
i. Pada permulaan pengadukan, semen, pasir dan air dari adukan itu akan
menempel pada dinding kontainer. Karena itu hendaknya pada pengadukan
pertama dipertahankan sedemikian rupa agar hasil adari adukan pemula itu
jumlah semen, air dan pasir tidak kurang dari pesyaratan yang sebenarnya.
j. Sebelum membuat adukan baru, hasil adukan sebelumnya harus sudah keluar
semua dari kontainer.
k. Harus selalu disediakan ditempat pekerjaan sebuah atau beberapa buah mixer
yang selalu siap digunakan bila digunakan antara lain dalam keadaan dimana
segera dibutuhkan adukan beton untuk mengisi kembali bagian-bagian yang
rusak (reserve mixer).
l. Pengadukan kembali beton-beton yang sudah mulai mengeras tidak
diperbolehkan. Beton didalam keadaan seperti itu bila rusak harus
dibuang/disingkirkan dari lokasi pekerjaan.
m. Pengangkutan adukan beton dari tempat pengadukan ke tempat pengecoran
harus dilakukan dengan cara-cara dengan mana dapat dicegah segredasi dan
kehilangan bahan-bahan (air, semen atau butir halus).
n. Cara pengangkutan adukan beton harus lancar sehingga tidak terjadi perbedaan
waktu pengikatan yang menyolok antara beton yang sudah dicor dan kan diberi
cor.
o. Memindahkan adukan beton dari tempat pengadukan ke tempat pengecoran
dengan perantaraan talang-talang miring hanya dapat dilakukan dengan ijin
direksi.
p. Adukan beton umumnya harus sudah dicor dalam waktu satu jam setelah
pengadukan air dimulai. Jangka waktu ini harus diperhatikan apabila diperlukan
waktu pengangkutan yang panjang.
9
6. Pengecoran Beton
Pengecoran tidak boleh dilakukan sebelum pekerjaan perancah dan pekerjaan persiapan
yang disebutkan pada spesifikasi ini telah sempurna dikerjakan dan disetujui oleh direksi.
a. Sebelum pengecoran dimulai, semua alat-alat material pekerja-pekerja harus
sudah ada di tempat dimana harus bekerja, dan semua alat-alat dalam keadaan
bersih serta siap pakai. Permukaan sebelah dalam dari acuan harus sudah
dibersihkan dari bahan-bahan lepas maupun potongan kawat/besi. Acuan yang
terbuat dari kayu dimana dikhawatirkan adanya pengisapan air oleh kayu, maka
acuan harus dibasahi dengan air dahulu hingga jernih.
b. Tulang-tulangan harus disetujui dahulu oleh direksi mengenai penempatannya
dan harus diberi beton dekking sedemikiam sehingga untuk pengecoran dan
pemadatan beton nantinya akan menyebabkan tulangan bergeser terlalu dekat
dengan permukaan luar beton.
c. Pemakaian bahan-bahan pembantu dengan maksud memudahkan pelepasan
acuan setelah beton mengeras dan sudah betul-betul diperiksa sehingga tidak
mengganggu pelekatan antara besi dan beton. Bidang beton lama akan
berhubungan dengan beton yang akan dicor, harus terlebih dahulu dikasarkan
dan disiram dengan air semen hingga jenuh.
d. Dekat dengan pengecoran beton baru, bidang-bidang kontak beton lama
tersebut harus sudah disapu dengan mortal yang cmapurannya sesuai dengan
betonnya. Atau diberi pengait beton lama dan beton baru.
e. Bilamana pengecoran yang akan dilakukan diperkirakan sampai malam hari
perelengkapan-perlengkapan penerangan dan lain-lain harus sudah
dipersiapkan sebelumnya.
f. Pengecoran dilakukan segera setelah selesai pengadukan dan sebelum beton
mulai mengeras. Pengecoran dan pengerjaan beton harus diselesaikan dalam
waktu paling lama 20 menit sesudah keluar dari mixer kecuali bila diberikan
bahan-bahan pembantu dengan maksud untuk melambatkan proses
pengerasan beton.
g. Cara pengerjaan pengecoran beton hendaknya dikerjakan sedemikian sehingga
tidak terjadi pemisahan bahan (segregation) dan pengerjaan kembali beton
yang telah selesai dicor itu.
h. Adukan beton tidak boleh dijatuhkan melebihi tinggi 1,5 meter dan tidak
diperkenankan menimbun beton dalam jumlah banyak disuatu tempat dengan
maksud untuk kemudian meratakannya sepanjang acuan.
10
i. Pada beton-beton mutu lebih besar dari K-300 (fc’= 26,4 MPa) atau beton
dengan persyaratan kekuatan yang tinggi pengecoran harus dilakukan
secepatnya sesudah selesai pengadukan.
j. Untuk dinding beton, pengecoran dilakukan secara lapis-lapis horizontal setelah
umumnya 30 cm, menerus seluruh panjangnya, sampaiu dengan pengakiran
yang disokongkan oleh acuan yang kokoh atau konstruksi khusus (construction
joint) seperti yang tertera pada gambar rencana.
k. Beton, acuan dan atau tulangan yang menonjol keluar harus dicegah dari
kemungkinan kena sentuhan atau getaran dapat membahayakan daya letaknya
dengan beton.
l. Slum test harus sering diadakan selama pelaksanaan pekerjaan beton, untuk
menjamin agar nilai air semen tetap sesuai dengan beton-beton yang telah
diisyaratkan, kecuali ditetapkan lain oleh direksi dengan mengingat cuaca pada
waktu pengecoran (kering atau lembab).
m. Cara melaksanakan slum test harus sesuai dengan SNI 03-2847-2002.
n. Selama dalam pengecoran beton harus dipadatkan dengan alat-alat pemadat
(Internal atau External Vibrator) mekanis, kecuali bila direksi / pengawas
mengijinkan cara pemadatan dengan tenaga manusia.
o. Cara pemadatan dengan tenaga manusia terdiri dari memukul-mukul acuan dari
sebelah luar, merocok dan menusuk-nusuk adukan beton secara kontinue (hal
ini sebagai pembantu dan bukan fungsi pokok pemadatan).
p. Ketelitian dalam hal ini sangat perlu untuk diperhatikan agar semua sudut-sudut
terisi sela-sela diantara di sekelilingnya tulangan terpenuhi tanpa menggeser
kedudukan tulangan tersebut membuat agar permukaan menjadi rata halus,
mengeluarkan gelembung-gelembung udara dan mengisi semua rongga.
q. Harus juga diperhatikan agar penggetaran / pemadatan tidak terlalu lama
dikerjakan yang dapat mengakibatkan pemisahan bahan-bahan.
r. Tenaga yang mengerjakan ini harus telah banyak pengalaman dan pekerjaan
pemadatan dilaksanakan sesuai dengan petunjuk Direksi.
s. Alat pemadat mekanis yang digunakan harus mampu memberikan getaran
paling sedikit 5.000 getaran permenit (RPM) dan berat efektif sebesar 0,25 kg.
t. External vibrator diletakkan sedemikian pada acuan sehingga akan
menghasilkan getaran-getaran mendatar bila lebih dari suatu alat yang
digunakan jaraknya harus sedemikian rupa sehingga tidak menyebabkan
peredam getaran alat lainnya.
11
u. Pada beton precast, dapat dibuat satu meja getar dari konstruksi yang disetujui
oleh direksi dan dipakai alat penggetar yang dapat memberikan paling tidak
5.000 getaran permenit (RPM).
v. Untuk lantai beton atau plat-plat beton pemakaian external vibrator yang
diletakkan pada acuan digunakan atas seijin direksi.
w. Internal vibrator digunakan dengan cara memasukkan alat-alat penggetar
mekanis ke dalam adukan beton yang baru dicor. Alat tersebut harus paling
tidak dapat memberikan 5.000 getaran permenit bila dimasukkan kedalam
adukan beton mempunyai nilai slum 2,5 cm. Yang akan memberikan radius
tidak kurang dari 45 cm.
x. Alat ini harus dimasukkan ke dalam adukan beton searah dengan as
memanjang tulangan pokok sedalam menurut perkiraan bahwa beton itu secara
keseluruhan tingginya telah dipadatkan kemudian ditarik keluar perlahan-
lahann dan dimasukkan lagi pada posisi semula.
y. Alat ini tidak boleh dibiarkan disuatu tempat lebih lama dari 30 detik dan
ditempatkan pada posisi yang tidak lebih jauh dari 45 cm (untuk selanjutnya
dipatuhi) Persyaratan di SNI 03-2847-2013. Alat ini tidak diperbolehkan guna
mendorong beton ke samping dan selanjutnya tidak boleh menumpu pada
tulangan.
12
Jumlah minimum banyaknya internal vibrator untuk memadatkan beton harus cukup dan
paling sedikit sebagai daftar dibawah ini:
1. 4 m3 beton / jam 2
2. 8 m3 beton / jam 3
3. 12 m3 beton / jam 4
7. Perawatan Beton
Pada umumnya beton yang baru selesai dicor harus dilindungi terhadap hujan dan panas
matahari seta kerusakan-kerusakan lainnya yang disebabkan oleh gaya-gaya sentuhan
sampai beton telah menjadi keras, permukaan beton harus diusahakan tetap dalam
keadaan lembab, dengan cara menutupinya dengan karung-karung basah, pada air basah
atau menggenangi dengan air basah.
a. Setelah lantai aus (Concrete Wearing Surface) selesai dan sesudah beton mulai
mengeras permukaannya harus segara ditutup dengan karung-karung basah
atau bahan-bahan lainnya yang sejenis atau diusahakan agar tetap lembab
dengan tiap kali menyiramnya dengan pasir sampai beton mengeras dengan
sempurna. Permukaan itu kemudian ditutup dengan pasir paling tidak setebal 5
cm, secepatnya hal ini harus dijaga agar tetap lembab untuki selama paling tidak
14 hari dan dibiarkan sedemikian selama 21 hari.
b. Beton yang menggunakan beton biasa dan tidak memakai bahan-bahan
pembantu lainnya harus dusahakan pembasahan untuk selama minimum 14
hari.
c. Beton yang dibuat dengan semen yang mempunyai sifat kekuatan awal yang
tinggi atau boleh yang menggunakan semen biasa tetapi dengan bahan-bahan
pembantu, harus tetap dibasahi sampai saat dimana kekuatan mencapai 70 %
dari kekuatan minimum kubus test beton dari macam yang sama dan 28 hari.
13
8. Pengujian Beton
Benda uji tidak diperkenankan untuk diuji jika salah satu diameternya berbeda labih dari
2% dengan dengan dimater bagian lainnya dari benda uji yang sama. Hal ini dapat terjadi
bila cetakan sekali pakai rusak atau berubah bentuk pada saat pemindahan, pada saat
cetakan sekali pakai yang bersifat fleksibel berubah bentuk ketika pencetakan atau bila
pengeboran inti bergeser waktu pengeboran.
a. Tidak satupun dari benda uji tekan diperkenankan berbeda dari posisi tegak
lurus terhadap sumbu lebih dari 0,5 derajat (kira – kira sama dengan 3 mm).
Ujung benda uji tekan yang tidak rata sebesar 0,050 mm harus dilapisi kaping,
dipotong atau digosok sesuai SNI 03-6369-2000, atau jika ujung-ujungnya
memenuhi persyaratan, lapis neoprene dengan pengontrol baja dapat
digunakan sebagai pelapis. Diameter yang digunakan untuk perhitungan luas
penampang melintang dari benda uji harus ditetapkan mendekati 0,25 mm dari
rata – rata 2 (dua) diameter yang diukur tegak lurus ditengah – tengah benda
uji.
b. Jumlah silinder yang diukur untuk menetapkan diameter rata – rata dapat
dikurangi menjadi 1 (satu) untuk 10 (sepuluh) benda uji atau 3 (tiga) benda uji
perhari, pilih mana yang lebih besar, bila benda uji diketahui dibuat dari satu
kelompok cetakan yang dapat digunakan kembali atau cetakan sekali pakai yang
secara konsisten menghasilkan benda uji dengan diameter rata – rata rentang
0,5 mm. Bila diameter rata – rata tidak didalam rentang 0,5 mm atau bila silinder
tidak dibuat dari satu kelompok cetakan, masing – masing silinder yang diuji
harus diukur dan nilai ini harus digunakan dalam perhitungan kuat tekan satuan
benda uji itu. Bila diameter diukur pada frekuensi yang dikurangi, luas
penampang melintang yang diuji pada hari tersebut harus dihitung dari rata –
rata diameter 3 (tiga) silinder atau lebih yang dianggap mewakili grup yang diuji
hari tersebut.
c. Panjang harus diukur sampai mendekati 0,05 D (diameter penampang benda
uji) bila perbandingan panjang terhadap diameter kurang dari 1,8 atau lebih dari
2,2 atau bila sisi silinder ditetapkan dari sisi yang diukur.
d. Panjang dan diameter benda uji silinder memiliki perbandingan tentu dimana
benda uji standart memiliki rasio L/D = 1,8 – 2,2 dengan faktor koreksi = 1.
e. Benda uji dapat diuji oleh pihak ketiga dari laboratorium pengujian material
perguruan tinggi yang telah memiliki ijin dan tersertifikasi.
14
Contoh Form Pengujian
15
9. Standart Rujukan
Standar Nasional Indonesia (SNI):
SNI 15-0302-2004 : Semen Portland Pozzolan
SNI 03-1968-1990 : Metode Pengujian tentang Analisis Saringan
Agregat Halus dan Kasar
SNI 1972 : 2008 : Metode Pengujian Slump Beton
SNI 1973 : 2008 : Metode Pengujian Berat Isi Beton
SNI 1974 : 2008 : Metode Pengujian Kuat Tekan Beton
SNI 15-2049-2004 : Semen Portland
SNI 2417:2008 : Metode Pengujian Keausan Agregat dengan
Mesin Los Angeles
SNI 2458:2008 : Metode Pengambilan Contoh untuk
Campuran Beton Segar
SNI 03-2460-1991 : Spesifikasi Abu Terbang Sebagai Bahan
Tambahan untuk Campuran Beton
SNI 03-2491-1991 : Metode Pengujian Kuat Tarik Belah Beton
SNI 03-2492-2002 : Metode Pengambilan dan Pengujian Beton Inti
SNI 03-2493-1991 : Metode Pembuatan dan Perawatan Benda
Uji Beton di Laboratorium
SNI 03-2495-1991 : Spesifikasi Bahan Tambahan untuk Beton
SNI 03-2816-1992 : Metode Pengujian Kotoran Organik dalam
Pasir untuk Campuran Mortar dan Beton
SNI 03-2834-2000 : Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal
SNI 03-3976-1995 : Tata Cara Pengadukan dan Pengecoran Beton
SNI 03-4433-1997 : Spesifikasi Beton Siap Pakai
SNI 03-6889-2002 : Tata Cara Pengambilan Contoh Agregat
SNI 15-7064-2004 : Semen Portland Komposit
SNI 03-3403-1994 : Metode Pengujian Kuat Tekan Beton Inti Pemboran
SNI 3407:2008 : Metode Pengujian Sifat Kekekalan Bentuk Agregat
Terhadap Laruran Natrium Sulfat Dan Magnesium Sulfat
SNI 03-3418:1994 : Metode Pengujian Kandungan Udara Pada Beton Segar
SNI 03-4141-1996 : Metode Pengujian Gumpalan Lempung dan Butir-butir
Mudah Pecah dalam Agregat
SNI 03-4142-1996 : Metode Pengujian Jumlah Bahan dalam
Agregat yang Lolos Saringan No.200
16
SNI 03-4156-1996 : Metode Pengujian Bliding dari Beton Segar
SNI 03-4806-1998 : Metode Pengujian Kadar Semen Portland Dalam Beton
Segar dengan Cara Titrasi Volumetri
SNI 03-4807-1998 : Metode Pengujian Untuk Menentukan Suhu
Beton Segar Semen Portland
SNI 03-4808-1998 : Metode Pengujian Kadar Air Dalam Beton
Segar Dengan Cara Titrasi Volumetri
SNI 03-4810-2008 : Metode Pembuatan dan Perawatan Benda Uji
Beton di Lapangan
SNI 03-6817-2002 : Metode Pengujian Mutu Air Untuk Digunakan Dalam Beton
SNI 03-6429-2000 : Metode Pengujian Kuat Tekan Beton Silinder Dengan
Cetakan Silinder di dalam Tempat Cetakan
ASTM :
ASTM C 33-93 : Standard Spesification for Concrete Aggregates
ASTM C 403-90 : Time of Setting of Concrete Mixtures by Penetration
Resistance
ASTM C 989-95 : Spesification for Ground Granulated Blast Furnace
Slag For Use in Concrete and Mortars
ACI :
ACI 305R-99 : Hot Weather Concreting
ACI 363R-92 : State-of-the-art on High Strength Concrete
17
PASAL 4
PEKERJAAN KONSTRUKSI BESI DAN BAJA
1. Umum.
1.1 Pasal ini mengatur pelaksanaan pekerjaan baja berikut segala peralatan
pendukung yang dibutuhkan seperti tercantum dalam gambar struktur dan
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari spesifikasi lainnya.
1.2 Pekerjaan ini harus dilaksanakan oleh Kontraktor yang berpengalaman untuk
pekerjaan ini dan harus disetujui oleh Konsultan Pengawas. Kontraktor harus
mempunyai tenaga ahli yang berpengalaman dan bersertifikasi sehingga dapat
mengatasi seluruh masalah lapangan dengan cepat dan benar.
1.4 Kontraktor harus melampirkan metode pelaksanaan serta alat-alat yang akan
digunakan dalam proyek ini dengan memperhatikan urutan dan kecepatan
pekerjaan.
1.5 Kontraktor wajib menyediakan peralatan tersebut di lokasi pekerjaan tepat pada
waktunya sehingga tidak menghambat pekerjaan lainnya.
2. Lingkup Pekerjaan
18
2.4 Gambar kerja/ shop drawings.
Kontraktor harus membuat gambar kerja secara ditail, sebelum pekerjaan
dimulai, termasuk penyesuaian dengan kondisi lapangan sampai mendapatkan
persetujuan dari Konsultan Pengawas.
3. Peraturan - Peraturan
19
4. Perhitungan Berat Konstruksi Baja
5. Material
5.1 Baja
Jika tidak disebutkan secara spesifik di dalam gambar, maka semua material
untuk konstruksi baja harus menggunakan baja yang baru dan merupakan "Hot
rolled structural steel" dengan mutu baja ST 37 (PPBBI-83) atau ASTM A 36
atau SS 41 (JIS. U 3101-1970), yang memiliki tegangan leleh (yield stress)
minimal, Fy = 240 Mpa dan tegangan tarik (tensile stress) Fu = 370 Mpa. Baja
jenis ini umum disebut baja karbon (Carbon Steel) yang mengandung karbon
antara 0.25 - 0.29 %. Semua material baja harus baru, bebas/bersih dari karat,
lobang-lobang dan kerusakan lainnya, lurus, tidak terpuntir, tanpa tekukan,
serta memenuhi syarat toleransi sesuai dengan spesifikasi ini.
5.2 Baut.
Kecuali ditentukan lain dalam gambar, baut penyambung yang digunakan
adalah HTB A325 yang memiliki tegangan tarik putus nominal antara 105 -
120 ksi (735 - 840 Mpa). Baut penyambung harus merupakan material baru,
dan panjang ulir harus sesuai dengan yang diperlukan. Jika tidak disebutkan
khusus di dalam gambar maka baut yang dimaksud adalah type A325-X (ulir
terletak di luar bidang geser). Baut harus dilengkapi dengan 2 ring, masing-
masing 1 buah pada kedua sisinya. Mutu pelat ring harus sesuai dengan mutu
baut, dimensi baut mengikuti gambar kerja.
21
Note : Sesuai SNI 07-0329-2005 tentang baja profil I Beam Proses Canai Panas.
Pada prinsipnya dalam tahap perencanaan, profil yang digunakan adalah profil yang
diproduksi oleh pabrik. Apabila ternyata profil tersebut tidak tersedia, maka
Kontraktor dapat mengganti profil tersebut dengan profil lain yang disetujui oleh KP.
Usulan perubahan tersebut harus dilengkapi dengan perhitungan yang menunjukkan
bahwa profil pengganti tersebut minimal sama kuat dan kakunya dengan profil yang
digantikan. Juga harus diperhatikan bahwa tinggi profil pengganti harus mempunyai
tinggi maksimal sama dengan profil original, sehingga tidak mengurangi ruang
peralatan M&E. Walaupun perubahan profil tersebut disetujui, Kontraktor tetap harus
mengantisipasi perubahan tersebut, agar tidak terjadi klaim terhadap waktu
pelaksanaan maupun biaya.
22
7. Toleransi dimensi, panjang dan kelurusan
8. Uji material
23
9. Syarat-syarat Pelaksanaan
9.2 Fabrikasi
1. Selama proses fabrikasi Konsultan Pengawas harus menempatkan staffnya
yang berpengalaman dalam fabrikasi baja secara penuh untuk mengawasi
pelaksanaan fabrikasi di bengkel kerja Kontraktor.
2. Kontraktor harus memberikan Fabrication Manual Procedure termasuk
Procedur Quality Control kepada Konsultan Pengawas untuk disetujui.
3. Fabrikasi dari elemen-elemen konstruksi baja harus dilaksanakan oleh
tukang-tukang yang berpengalaman dan diawasi oleh mandor-mandor yang
ahli dalam konstruksi baja.
4. Semua elemen-elemen harus difabrikasi sesuai dengan ukuran-ukuran
dan/atau bentuk yang diinginkan tanpa menimbulkan distorsi-distorsi atau
kerusakan-kerusakan lainnya dengan memperhatikan persyaratan untuk
penanganan sambungan-sambungan serta las di lapangan dan sebagainya.
5. Pemotongan-pemotongan elemen-elemen harus dilaksanakan dengan rapi
dan pemotongan besi harus dilakukan dengan alat pemotong (brender) atau
gergaji besi. Pemotongan dengan mesin las sama sekali tidak diperbolehkan.
24
9.3 Tanda-tanda pada konstruksi baja
1. Semua konstruksi baja yang telah selesai difabrikasi harus dibedakan dengan
kode yang jelas sesuai bagian masing-masing agar dapat dipasang dengan
mudah.
2. Kode tersebut ditulis dengan cat agar tidak mudah terhapus.
3. Pelat-pelat sambungan dan bagian elemen lain yang diperlukan untuk
sambungan-sambungan di lapangan, harus dibaut/diikat sementara dulu
pada masing-masing elemen dengan tetap diberi tanda-tanda.
9.4 Pengelasan
1. Pengelasan harus dilaksanakan sesuai AWS atau AISC Specification dan baru
dapat dilaksanakan setelah mendapatkan ijin tertulis dari Konsultan
Pengawas. Pengelasan harus dilakukan dengan las listrik, bukan dengan las
karbit.
2. Kawat las yang dipakai adalah harus dari produk yang disetujui oleh KP.
Ukuran kawat las disesuaikan dengan tebal pengelasan.
3. Kontraktor harus menyediakan tukang las yang berpengalaman dengan hasil
pengalaman yang baik dalam dalam melaksanakan konstrksi baja sejenis.
Hal ini harus dibuktikan dengan menunjukkan sertifikat yang masih berlaku.
4. Kontraktor harus memperhatikan dengan seksama tipe dan ukuran las yang
tercantum di dalam gambar (las sudut, las tumpul dan lain-lain), dan
Kontraktor harus mempunyai alat untuk mengukur tebal las sehingga dengan
mudah dapat diketahui apakah tebal las sudah sesuai dengan gambar atau
tidak.
5. Permukaan bagian yang akan dilas harus dibersihkan dari cat, minyak, karat
dan bekas-bekas potongan api yang kasar dengan menggunakan mechanical
wire brush dan untuk daerah-daerah yang sulit dapat digunakan sikat baja.
Bekas potongan api harus dihaluskan dengan menggunakan gurinda agar
permukaan baja menjadi baik. Kerak bekas pengelasan harus dibersihkan
dan disikat.
6. Metode pengelasan harus dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak timbul
distorsi dan tegangan residual pada elemen konstruksi baja yang dilas.
Pengelasan pada pertemuan elemen-elemen yang padat seperti pada
tumpuan harus dilakukan dengan teknik preheating.
7. Pada pekerjaan las dimana terjadi banyak lapisan las (pengelasan lebih dari
satu kali), maka sebelum dilakukan pengelasan berikutnya lapisan terdahulu
harus dibersihkan dahulu dari kerak-kerak las/slag dan percikan-percikan
25
logam yang ada. Lapisan las yang berpori-pori atau retak atau rusak harus
dibuang sama sekali.
8. Untuk memudahkan pelaksanaan serta mendapatkan mutu pengelasan yang
baik, maka pada dasarnya semua pekerjaan pengelasan harus dilakukan di
bengkel. Bila akan mengadakan pengelasan lapangan harus seijin tertulis
dari Konsultan Pengawas.
9. Perhatian khusus diberikan pada pengelasan yang dilakukan di lapangan
(field weld), dimana posisi dari tukang las harus sedemikian sehingga dapat
dengan mudah melakukan pengelasan dengan hasil yang baik tanpa
mengabaikan keselamatan kerja.
10. Pada semua pengelasan harus dilakukan pemeriksaan visual untuk
mengetahui apakah :
a. persiapan pengelasan sudah dilakukan dengan baik (bersih, gap yang
cukup dan lain-lain).
b. las yang ada tidak berpori, undercut, retak permukaan atau cacat-cacat
lain.
c. ukuran dan tipe las sudah sesuai gambar.
11. Pada jumlah lokasi 30% dari seluruh lokasi pengelasan juga harus dilakukan
"Liquid Penetrant Test" sesuai dengan AWS D 1.1-90. Lokasi pengetesan
ditentukan oleh Konsultan Pengawas.
12. Apabila dianggap perlu oleh Konsultan Pengawas atau apabila ada keraguan
terhadap hasil "Liquid Penetrant Test" tersebut, maka Konsultan Pengawas
dapat meminta pada Kontraktor untuk juga melakukan Radiographic Test
sesuai dengan AWS D 1.1-90.
13. Laboratorium uji las yang ditunjuk harus mendapat persetujuan Konsultan
Pengawas dan semua biaya pengujian las menjadi tanggung jawab
Kontraktor.
26
setiap 250 baut yang digunakan. Biaya pengujian baut tersebut ditanggung
oleh Kontraktor.
4. Posisi lubang-lubang baut harus benar-benar tepat dan sesuai dengan
diameter baut. Jika tidak disebutkan secara khusus di dalam gambar, maka
diameter lubang baut maksimal 1.60 mm (1/16 inci) lebih besar dari diameter
baut. Kontraktor tidak boleh membuat lubang baru di lapangan tanpa seijin
Konsultan Pengawas.
5. Pembuatan lubang baut harus memakai bor, untuk konstruksi yang tipis,
maksimum 10 mm, boleh memakai mesin pons. Membuat lubang baut
dengan api sama sekali tidak diperkenankan.
27
6. Pemasangan dan pengencangan baut harus dikerjakan dengan kunci momen
torsi yang sebelumnya sudah dikalibrasi, sebagai berikut :
½ 12 90 12,454
¾ 19 320 44,287
1 25 710 98,249
1¼ 32 1.350 186,872
1½ 38 2.580 357,018
7. Setiap pengencangan baut harus dilakukan sampai mencapai gaya tarik baut
sesuai kekencangan baut dengan spesifikasi AISC. Pelaksanaannya harus
diawasi secara langsung oleh Konsultan Pengawas.
8. Panjang baut harus sedemikian rupa, sehingga setelah dikencangkan masih
dapat paling sedikit 4 ulir yang menonjol pada permukaan, tanpa
menimbulkan kerusakan pada ulir baut tersebut. Panjang baut yang tidak
memenuhi syarat ini harus diganti dan tidak boleh digunakan.
9. Untuk menghindarkan adanya baut yang belum dikencangkan maka baut-
baut yang sudah dikencangkan harus diberi tanda dengan cat.
28
10. Percobaan Pengangkatan di Bengkel
30
11.10 Las lapangan.
Secara prinsip las di lapangan sedapat mungkin dihindarkan. Jika pengelasan
harus dilakukan di lapangan dengan alasan tertentu, maka Kontraktor wajib
membuktikan bahwa hasil las lapangan tersebut secara teknis memenuhi
syarat. Untuk itu Kontraktor harus mengusulkan cara pengujian atas hasil las
lapangan ini, agar dapat disetujui oleh Konsultan Pengawas. Uji las tersebut
meliputi antara lain tebal las, kualitas las dan kepadatan las.
12. Pengecatan
1. lapisan mill, yaitu lapisan tipis mengkilap yang berasal dari pabrik baja.
2. karat
3. minyak dan bahan kimia lainnya.
4. kotoran yang akan mempengaruhi kualitas pengecatan.
Apabila cat dasar yang sudah dilakukan belum sempurna, maka Kontraktor
wajib memperbaiki kondisi ini dengan melakukan pembersihan atas cat dasar
tersebut dan pengecatan diulang kembali sesuai dengan prosedur yang ada.
31
12.3 Cat Finish.
Jika tidak disebutkan secara khusus maka cat finish (semprot / brush) harus
dilakukan 2 (dua) kali dengan ketentuan sebagai berikut :
Sama seperti cat dasar, maka cat finish I maupun cat finish II baru boleh
dilaksanakan setelah lapisan cat-cat sebelumnya betul-betul kering. Kontraktor
wajib melakukan pengecatan sehingga hasil yang diperoleh sesuai dengan yang
diinginkan. Hasil yang tidak sempurna, harus diperbaiki dan Kontraktor
bertanggung jawab atas segala risiko yang terjadi.
32
13. Anti Lendut
Secara umum konstruksi baja harus difabrikasi dengan memperhatikan anti lendut
khususnya untuk kuda-kuda dan kantilever. Besarnya anti lendut adalah minimum
sama dengan besarnya lendutan akibat beban mati. Besarnya anti lendut
tersebut dapat dilihat pada gambar atau jika tidak disebutkan secara khusus besarnya
adalah sebesar :
33
PASAL 5
PEKERJAAN PEMBERSIHAN DAN PENGAMANAN
KONSTRUKSI
1. Lingkup Pekerjaan
a. Pembersihan diawal dan selama pekerjaan berlangsung hingga proyek selesai serah
terima ke pihak owner, Tapak Konstruksi dan pada semua pekerjaan yang termasuk
untuk mempersiapkan mobilitas alat dan bahan material konstruksi dalam Lingkup
Pekerjaan seperti tercantum di Gambar Kerja dan terurai dalam Buku ini dari semua
barang atau bahan bangunan lainnya yang dinyatakan tidak digunakan lagi setelah
pekerjaan yang menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa Konstruksi bersangkutan selesai.
Serta dilarang memangkas pohon yang sudah tertanam dan hanya boleh sebatas
merapikan dahan- dahannya saja.
b. Selama pembangunan berlangsung, Penyedia Jasa Konstruksi harus menjaga Keamanan
bahan/material, barang maupun bangunan yang dilaksanakannya sampai tahap serah
terima, serta kebersihan area proyek selama proses konstruksi berlangsung.
c. Penyedia Jasa Konstruksi harus membuat pengaman-pengaman, proteksi, barikade yang
harus dipasang pada tempat-tempat yang berbahaya (tepi plat, void, core lift dll) dimana
orang dapat jatuh kedalamnya, pada saat pelaksanaan pekerjaan maupun setelah
selesai.
d. Dimana konstruksi dari pengamanan keliling area konstruksi menggunakan pagar seng
serta konstruksi dari direksi keet dibuat sendiri oleh pihak kontraktor, disesuaikan
terhadap spesifikasi pada RAB (Rincian Anggaran Biaya).
34
SPESIFIKASI TEKNIS MATERIAL STRUKTUR
NO. NAMA MATERIAL DIMENSI MUTU MATERIAL FUNGSI/ KEGUNAAN STANDART RUJUKAN
1 Beton Struktur K-300 sesuai gambar DED Kuat tekan benda uji mutu beton untuk SNI 15-0302-2004 : Semen
(fc’= 26,4 MPa) (Struktur utama) silinder D15 tinggi 30 cm - struktur balok, kolom, Portland Pozzolan
Readymix Pondasi, Sloof,Kolom, (fc'=26MPa) atau sloof, pondasi (utama) SNI 03-2834-2000 : Tata Cara
Adhimix,Jayamix,Pionir Balok dan Plat Atap (260kg/cm2) dan Plat Pembuatan Rencana Campuran
Beton Beton Normal
2 Beton Struktur K-225 Planter box Kuat tekan benda uji mutu beton untuk SNI 2847-2019 : Persyaratan
(fc'=19 MPa) (apabila diperlukan) silinder D15 tinggi 30 cm - struktur praktis seperti Beton Struktural untuk Bangunan
Sitemix Seperti balok latiu / (fc'=19 MPa) atau kolom praktis non Gedung
kolom spasi dinding (190kg/cm2) struktural (apabila
diperlukan)
4 Baja Tulangan Ulir Deform (D) atau Ulir, Batas ulur minimum Penulangan Utama SNI 03-6816-2002 : Tata Cara
(BJTS-420) Dimensi > D12mm Fy = 420 MPa dimensi Deform atau Ulir Pendetailan Penulangan Beton
& Kuat tarik minimum Dimensi > D12mm SNI 07-6401-2000: Spesifikasi
Fu = 525 MPa Kawat Baja Dengan Proses Canay
Baja Tulangan Polos Polos Dimensi Batas ulur minimum Penulangan Sengkang Dingin Untuk Tulangan Beton
5 (BJTP-280) (Ø<12mm) Fy = 280 MPa yang memiliki dimensi SNI 03-6812-2002 : Spesifikasi
& polos struktur praktis Anyaman Kawat Baja Polos yang
Dilas Untuk Tulangan Beton
Kuat tarik minimum Dimensi (Ø<12mm)
SNI 2052:2017 : Baja Tulangan
Fu = 350 MPa
Beton
13 Baja Profil plat strip / Tebal minimum BJ37 / ST-37 = Profil dibawah lantai SNI 03-6764-2002 : Spesifikasi
stiffner 10 mm (fy=240MPa ; modul 40 x 40 cm Baja Struktural
fu=370MPa) Toleransi penampang SNI 07-2054-2006 : Baja Profil
2mm Siku Sama Kaki Canai Panas
SNI-1729-2020 perencanaan
struktur baja bangunan gedung
14 Baut / Mur / Angkur sesuai gambar DED / ASTM A325 Grade A / Baut Penyambung Profil SNI 03-6764-2002 :
Bolt atau ditentukan HTB A 325 dan Atap & Angkur Kolom Penyambunganan dengan Baut,
minimal D 13 mm ke Pedestal, maupun ke Mur, dan Paku Baja
apabila tidak tertera beton struktur eksisting
Toleransi penampang SNI-1729-2020 perencanaan
2mm struktur baja bangunan gedung
15 Plat Landas / Plat BJ37 / ST-37 = Plat Konektor Antar Profil
Penyambung / Stiffner (fy=240MPa ; & Konektor dengan
sesuai gambar DED fu=370MPa) Beton, anti lendut
Toleransi penampang
2mm
NB: Apabila ditemukan ketidak sesuaian data dari dimensi dan mutu sebaiknya diambil keputusan untuk dimensi mengacu pada gambar
DED (Detail Engineering Design) serta diambil profil dengan potongan penampang paling besar diantara pilihan tersebut dan untuk mutu
disesuaikan dengan RKS (Rencana Kerja Syarat) serta dicocokan dengan laporan struktur yang ada. Dan dikonsultasikan dengan
pengawas lapangan yang bertanggung jawab disetiap aspek pekerjaan tersebut.
OUTLINE SPESIFIKASI MATERIAL.
A Dinding
1 Batu Bata Lokal kualitas baik Pembentuk elmen
uk=5x11x23 arsitektur dan
landscape
2 PC Plesteran, Acian Gersik Dinding, bangunan
Campuran sesuai Tigaroda atau sesuai gambar.
produk terkait. t=15mm Atau setara
3 Pasir Gunung Berapi/Muntilan Seluruh pekerjaan
konstruksi
4 Hollow 40.40.0,7mm Lokal Rangka Plafon
5 GRC Kerawangan Lokal Backdrop
B Finishing Lantai
1 Batu Alam Andesit Cirebon Dinding, lantai eksterior
Ukuran: Majalengka atau sesuai Gambar.
30x30 Palimanan
20x40
Keterangan
1. Daftar Kuantitas dan Harga harus dibaca sesuai dengan Instruksi Kepada Peserta
(IKP), Syarat-Syarat Umum Kontrak (SSUK) dan Syarat-Syarat Khusus Kontrak (SSKK),
Spesifikasi Teknis dan Gambar.
2. Pembayaran prestasi pekerjaan dilakukan terhadap pekerjaan yang telah dilaksanakan
sesuai dengan ketentuan dalam SSUK dan SSKK.
3. Harga dalam Daftar Kuantitas dan Harga telah mencakup semua biaya pekerjaan,
personil, pengawasan, bahan-bahan, perawatan, asuransi, pengurusan IMB sampai
dengan ijin tersebut keluar, laba, pajak, bea, keuntungan, overhead dan semua risiko,
tanggung jawab, dan kewajiban yang diatur dalam Kontrak.
4. Harga harus dicantumkan untuk setiap mata pembayaran, terlepas dari apakah
kuantitas dicantumkan atau tidak. Jika Penyedia lalai untuk mencantumkan harga untuk
suatu pekerjaan maka pekerjaan tersebut dianggap telah termasuk dalam harga mata
pembayaran lain dalam Daftar Kuantitas dan Harga.
5. Semua biaya yang dikeluarkan untuk memenuhi ketentuan Kontrak harus dianggap
telah termasuk dalam setiap mata pembayaran, dan jika mata pembayaran terkait tidak
ada maka biaya dimaksud harus dianggap telah termasuk dalam harga mata
pembayaran yang terkait.
6. Panitia akan melakukan koreksi aritmatik terhadap volume pekerjaan sesuai dengan
yang tercantum dalam Dokumen Pengadaan.
7. Volume dalam Bill of Quantity (BQ) hanya sebagai Perkiraan saja, Penyedia Jasa
Konstruksi harus menghitung Ulang / sendiri volume.
Dibuat Oleh,
Semarang, Agustus 2022
Konsultan Perencana
[Link]
TIMBUL HADIWIDAYAT,S.T.,IAI
[Link]