0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
34 tayangan18 halaman

Peran Pemuda dalam Kewirausahaan Lokal

Dokumen ini membahas peran pemuda dalam kewirausahaan kreatif berbasis lokal, menekankan pentingnya inovasi dan teknologi untuk mengembangkan usaha yang berakar pada potensi lokal. Penelitian menunjukkan bahwa dengan pelatihan dan dukungan yang tepat, pemuda dapat mengatasi tantangan dan menciptakan peluang ekonomi yang berkelanjutan. Selain itu, praktik pembelajaran kewirausahaan yang berfokus pada kreativitas lokal diharapkan dapat memberdayakan masyarakat dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di daerah.

Diunggah oleh

nisa.fitriani625
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
34 tayangan18 halaman

Peran Pemuda dalam Kewirausahaan Lokal

Dokumen ini membahas peran pemuda dalam kewirausahaan kreatif berbasis lokal, menekankan pentingnya inovasi dan teknologi untuk mengembangkan usaha yang berakar pada potensi lokal. Penelitian menunjukkan bahwa dengan pelatihan dan dukungan yang tepat, pemuda dapat mengatasi tantangan dan menciptakan peluang ekonomi yang berkelanjutan. Selain itu, praktik pembelajaran kewirausahaan yang berfokus pada kreativitas lokal diharapkan dapat memberdayakan masyarakat dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di daerah.

Diunggah oleh

nisa.fitriani625
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ARTIKEL ILMIAH

PDGK4306 PEMBELAJARAN BERBASIS KEMASYARAKATAN

TUGAS PRAKTIK 1
(PERAN PEMUDA INOVATIF DALAM KEWIRAUSAHAAN LOKAL)

OLEH :
KELOMPOK 5 :

NAMA : 1. PUTRI RAHMANTI (860271958)


2. SILVI INTAN APRILIA (860208692)
3. TIA CAHYANI (860209845)

UNIVERSITAS TERBUKA
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN
POKJAR RUMBIA
UPBJJ BANDARLAMPUNG
TAHUN 2025/2026
BAB I
PENDAHULUAN

A. LatarBelakang
Pemuda adalah agen transformasi yang memiliki kemampuan besar dalam mendorong
perkembangan ekonomi, khususnya di bidang kewirausahaan yang berfokus pada kreativitas lokal.
Tulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran pemuda dalam meningkatkan usaha kreatif yang
berlandaskan potensi lokal di lingkungan mereka. Melalui kajian kasus di Desa Sukamaju,
Kecamatan Cibereum, Jawa Barat, tulisan ini menunjukkan cara pemuda menggunakan teknologi,
inovasi, dan sumber daya setempat untuk menciptakan peluang usaha yang berkelanjutan. Temuan
penelitian menunjukkan bahwa pemuda memberikan sumbangan yang signifikan dalam
pengembangan usaha yang berakar pada budaya lokal dan kebijaksanaan daerah. Dengan pelatihan
yang sesuai, dukungan dari pemerintah, dan akses ke pasar digital, mereka dapat mempercepat
pertumbuhan kewirausahaan kreatif di tingkat lokal.

Pemuda memainkan peran yang sangat krusial dalam transformasi sosial, ekonomi, dan budaya.
Mereka tidak hanya sebagai motor perubahan, tetapi juga sebagai agen inovasi yang dapat
memanfaatkan sumber daya lokal untuk menciptakan peluang ekonomi. Dalam konteks
kewirausahaan kreatif, pemuda mempunyai kontribusi signifikan dalam mendirikan usaha yang
memadukan elemen kreativitas, budaya, dan teknologi, yang berpengaruh positif terhadap
pertumbuhan ekonomi di daerah.

Kewirausahaan kreatif berbasis lokal adalah usaha yang berlandaskan pada kearifan lokal, produk
budaya, dan sumber daya alam, yang dikembangkan melalui inovasi dan kreativitas. Usaha-usaha ini
tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga memperkenalkan dan melindungi budaya lokal,
serta membuka peluang kerja bagi masyarakat di sekitarnya. Kewirausahaan kreatif berbasis lokal
ini berpotensi menjadi penggerak ekonomi di daerah, terutama di negara-negara berkembang seperti
Indonesia, yang memiliki beragam budaya dan kekayaan alam yang melimpah.

Namun, meskipun ada potensi besar, sektor kewirausahaan yang berlandaskan kreativitas lokal di
Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Beberapa masalah yang muncul termasuk
kurangnya akses modal, keterbatasan pengetahuan manajerial, dan terbatasnya jaringan pasar untuk
produk-produk lokal. Kendala-kendala ini sering kali menghalangi pemuda untuk mengembangkan
potensi kewirausahaan mereka secara maksimal. Padahal, jika dikelola oleh pemuda yang inovatif,
sektor ini dapat tumbuh dengan pesat dengan menggabungkan nilai-nilai tradisional dan teknologi
modern.

Signifikansi peran pemuda dalam kewirausahaan kreatif ini dapat dilihat dari fenomena yang
semakin berkembang di berbagai daerah, di mana pemuda bukan hanya sebagai pelaku usaha, tetapi
juga sebagai pencipta inovasi dalam sektor kreatif. Pemuda mampu memanfaatkan teknologi digital
untuk mempromosikan produk lokal mereka secara lebih luas dan efisien, mengurangi batasan
geografis, dan membuka peluang pasar internasional. Contohnya, penggunaan platform digital
seperti Instagram, TikTok, dan e-commerce memungkinkan produk kreatif lokal untuk dipasarkan
dan dikenal secara global.
Kewirausahaan kreatif berbasis lokal juga memiliki nilai tambah dalam pelestarian budaya, di mana
produk yang dihasilkan mencerminkan identitas daerah tersebut. Dengan demikian, semakin banyak
pemuda yang terlibat dalam kewirausahaan kreatif diharapkan dapat menciptakan peluang baru
untuk mengembangkan produk lokal yang dapat bersaing di pasar internasional.

Mengingat pentingnya sektor kewirausahaan yang berlandaskan kreativitas lokal, penelitian ini
bertujuan untuk mendalami peran pemuda dalam mendorong pertumbuhan kewirausahaan kreatif
yang berfokus pada potensi lokal. Penelitian ini juga akan mengkaji kendala-kendala yang dihadapi
pemuda dalam mengembangkan usaha kreatif, serta strategi yang dapat diterapkan untuk
mengatasinya.
Daftar Pustaka:
1. *Alvesson, M. , dan Sköldberg, K. * (2009). Metodologi Reflektif: Perspektif Baru untuk
Penelitian Kualitatif. Penerbit Sage.
2. *Bakker, E. , Molleman, L. , dan Rutte, C. * (2012). Peran Pemerintah dalam Mendorong
Kewirausahaan Kreatif. Jurnal Industri Kreatif, 15(2), 121-132.
3. *Christensen, C. M. * (2003). Dilema Inovator: Ketika Teknologi Baru Mengakibatkan
Kegagalan Perusahaan Besar. Harvard Business Press.
4. *Hesmondhalgh, D. * (2007). Industri Budaya. Penerbit Sage.
5. *Jauhari, A. , Fitrani, E. , dan Supriyadi, B. * (2020). Pemberdayaan Pemuda untuk Ekonomi
Kreatif: Peran Pemerintah dan Lembaga Akademis. Jurnal Internasional Manajemen
Kewirausahaan dan Inovasi, 24(5), 48-60.
6. *Prasetyo, Y. A. , dan Santosa, P. I. * (2019). Pemuda dan Kewirausahaan Kreatif yang
Berbasis Lokal. Jurnal Ekonomi Kreatif Indonesia, 2(1), 45-60.
7. *Schwartz, S. * (2012). Pemuda, Kreativitas, dan Kewirausahaan: Peluang serta Tantangan.
Jurnal Pengembangan Pemuda, 16(3), 88-102.
8. *Sung, T. K. , Kim, S. , dan Lee, J. H. * (2016). Kewirausahaan Pemuda di Era Digital:
Peran Media Sosial dan Platform E-Commerce. Jurnal Internasional Kewirausahaan Digital,
12(4), 115-130.
9. *Stam, E. , dan Bosma, N. * (2011). Inovasi, Kewirausahaan, dan Pertumbuhan Ekonomi.
Kebijakan Penelitian, 40(9), 1193-1204.
10. *Zahra, S. A. , dan George, G. * (2002). Kapasitas Serap: Tinjauan, Rekonsepsi, dan
Perluasan. Ulasan Akademi Manajemen, 27(2), 185-203.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka rumusan masalahnya
adalah :
1. Bagaimana pelaksanaan program pemberantasan buta aksara dengan metode pendekatan
keaksaraan fungsional?
2. Bagaimana kemampuan warga belajar sesudah dan sebelum adanya program pemberantasan
buta aksara ?
3. Bagaimana kemampuan warga belajar sesudah dan sebelum adanya program pemberantasan
buta aksara ?

C. Praktik Pembelajaran Kewirausahaan Kreativitas Lokal


Dalam proses pembelajaran kewirausahaan, mahasiswa berfungsi sebagai tutor profesional yang
dapat melakukan aktivitas pembelajaran yang berkaitan dengan kreativitas lokal. Dengan
berbagai strategi yang dimiliki, seorang tutor mampu menghasilkan hasil yang diharapkan untuk
mengembangkan potensi kewirausahaan di komunitas lokal.

Aspek ini adalah langkah pertama yang perlu dilakukan dan dipikirkan agar keberhasilan dalam
memajukan kewirausahaan lokal dapat tercapai. Saat mempersiapkan sesi bimbingan yang
pertama, penting untuk mempertimbangkan keinginan Warga Belajar (WB) supaya terjalin
kesepakatan antara pengajar dan WB. Contohnya, menentukan tempat dan waktu yang sesuai
untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran.

Selanjutnya, penting untuk membangun komunikasi yang efektif, agar interaksi dapat terasa lebih
dekat dan tidak terkesan seperti mengajari. Komunikasi yang baik akan mendukung pertukaran
ide dan pengalaman antara pengajar dan WB. Mencantumkan informasi terkait pengalaman
calon pengajar bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi WB, khususnya mengenai keterampilan
yang terkait dengan potensi kewirausahaan lokal yang ada.

Saat melakukan bimbingan, disarankan untuk mengenakan pakaian santai, karena hal ini akan
menciptakan kesan yang lebih dekat dan kasual, serta membantu menciptakan suasana yang
mendukung untuk proses pembimbingan. Selain itu, sebagai pengajar, penting untuk
memperhatikan karakter setiap WB yang dibimbing. Memahami latar belakang, minat, dan
potensi masing-masing WB akan membantu pengajar dalam menyusun materi dan metode
pembelajaran yang tepat.
Dalam praktik pembelajaran kewirausahaan kreativitas lokal, pengajar dapat mendorong WB untuk
mengeksplorasi ide-ide inovatif yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat sekitar.
Misalnya, mengembangkan produk yang berbasis sumber daya lokal, menciptakan layanan yang
memanfaatkan teknologi, atau merumuskan strategi pemasaran yang efisien. Dengan pendekatan
yang baik, diharapkan WB dapat mengembangkan usaha yang tidak hanya menguntungkan
secara finansial, tetapi juga berdampak positif bagi komunitas.
A. Istilah-istilah Penting Dalam Praktik Pembelajaran Kewirausahaan Kreatifitas lokal

Berikut beberapa istilah teknis yang perlu dipahami yang terkait dengan program kewirausahaan
kreativitas lokal, antara lain:

1. Warga Belajar (WB): Merupakan individu yang akan dibimbing untuk mengasah kemampuan
kewirausahaan dan kreativitas lokal mereka.

2. Kelompok Belajar (Pokjar): Ruang di mana tutor dan Warga Belajar melakukan proses
pembelajaran kewirausahaan kreativitas lokal.

3. Tutor: Orang yang memiliki wewenang untuk memberikan bimbingan kepada Warga Belajar
dalam bidang kewirausahaan, berfungsi sebagai pembimbing dalam kegiatan belajar.

4. Instruktur: Sebutan untuk tutor yang mengajar mata kuliah yang berkaitan dengan
kewirausahaan dan pengembangan masyarakat.

5. Kelompok Mahasiswa (Pokma): Istilah untuk kelompok mahasiswa yang diwajibkan mengikuti
praktik pembelajaran kewirausahaan kreativitas lokal dan melaksanakan kegiatan tutorial langsung.

6. Supervisor: Orang yang bertanggung jawab untuk mengawasi mahasiswa yang memberikan
bimbingan kepada Warga Belajar di Pokjar.

Dalam praktik pembelajaran kewirausahaan kreativitas lokal, tujuan utama adalah mencapai
standar kompetensi kewirausahaan yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan minimal 3
dari 5 Warga Belajar yang mendapatkan bimbingan. Oleh karena itu, kegiatan praktik harus
dilaksanakan dengan baik melalui prosedur dan tahapan yang telah ditetapkan. Adapun tahapan
tersebut meliputi:

Tahapan Praktik Pembelajaran Kewirausahaan Kreativitas Lokal

1. Praktik Mengidentifikasi Kemampuan Awal WB:

- Melakukan kunjungan kepada calon Warga Belajar untuk mengetahui latar belakang dan potensi
yang dimiliki.

- Mengidentifikasi kemampuan dan kebutuhan awal calon WB melalui format observasi (Check List)
dan wawancara untuk memperoleh informasi tentang kebutuhan dan minat mereka.

2. Tahap Membuat Perencanaan Pembelajaran Kewirausahaan:

- Menentukan topik yang sesuai dengan minat dan kebutuhan WB terkait bidang kewirausahaan.

- Menyusun jadwal waktu untuk kegiatan pembelajaran.

- Mencari referensi dan materi ajar yang relevan.

- Merancang kegiatan yang mencakup aspek pemasaran, manajemen, dan inovasi produk.

- Menyusun jadwal untuk setiap kegiatan pembelajaran.

- Menghasilkan ringkasan dari semua tahap di atas untuk proses evaluasi.

3. Tahap Membimbing WB Melalui Pendekatan Praktis:

- Mendorong WB untuk berbagi pemikiran kewirausahaan mereka dengan menggunakan bahasa


mereka sendiri.

- Mencatat pemikiran yang disampaikan dan mendiskusikannya bersama untuk memperdalam


pemahaman.

- Menggunakan permainan dan aktivitas interaktif untuk membantu WB mengingat konsep-konsep


kewirausahaan.

- Membimbing WB untuk melatih keterampilan dasar seperti perhitungan biaya, analisis pasar, dan
strategi pemasaran.

- Mendorong WB untuk mencatat ide-ide dan kata-kata baru dalam buku catatan pribadi mereka
sebagai acuan.
Dengan memahami istilah-istilah dan tahapan di atas, diharapkan praktik pembelajaran
kewirausahaan kreativitas lokal dapat berjalan dengan efektif dan memberikan dampak positif bagi
pengembangan potensi kewirausahaan di masyarakat.
D. Praktik Pembelajaran Kewirausahaan Kreatifitas Lokal

Pembelajaran kewirausahaan yang berfokus pada kreativitas lokal adalah suatu Pembelajaran
kewirausahaan yang berfokus pada kreativitas lokal adalah suatu proses yang ditujukan untuk
meningkatkan kemampuan inovatif dan kewirausahaan yang berasal dari kekuatan serta sumber
daya yang ada di masyarakat lokal. Metode pembelajaran ini tidak hanya terbatas pada teori,
tetapi juga berorientasi pada praktik nyata yang dapat mempercepat perkembangan bisnis dan
memberdayakan ekonomi lokal secara berkelanjutan.

1. Persiapan Pembelajaran

Mengenali Potensi Lokal dan Partisipan

Pengajar melakukan observasi dan penelitian awal untuk menemukan potensi kreatif dan
kewirausahaan yang ada di sekitar, serta karakteristik kebutuhan dan minat dari peserta didik.

Perencanaan Materi dan Teknik Pembelajaran

Materi pembelajaran dirancang berdasar pada hasil penemuan potensi lokal, dengan menggunakan
metode yang interaktif, kontekstual, dan praktis, seperti studi kasus tentang bisnis lokal, simulasi
usaha, dan praktik langsung.

Pengaturan Waktu dan Lokasi

Menentukan tempat belajar yang nyaman dan sesuai dengan aktivitas peserta didik, serta
menjadwalkan waktu yang disesuaikan untuk meningkatkan partisipasi dan kontinuitas dalam
pembelajaran.

2. Pelaksanaan Pembelajaran
Pembukaan dan Pemberian Motivasi

Memulai sesi pembelajaran dengan memberikan semangat dan menjelaskan tujuan pembelajaran
agar peserta didik termotivasi untuk aktif terlibat dan berinovasi.

Pengembangan Ide Kreatif dan Usaha

Mengajak peserta didik untuk mengeksplorasi ide-ide inovatif yang diambil dari potensi lokal,
seperti produk kerajinan tangan, makanan khas daerah, atau layanan berbasis teknologi setempat.
Ide-ide tersebut akan dibahas bersama untuk memperkuat konsep dan nilai tambah produk.

Pendampingan dalam Penyusunan Rencana Bisnis

Pengajar membimbing peserta didik dalam merancang rencana bisnis yang mencakup analisis pasar,
perencanaan keuangan sederhana, strategi pemasaran, dan manajemen sumber daya.

Simulasi dan Praktik Usaha

Melaksanakan simulasi usaha seperti perhitungan modal, pengelolaan persediaan, serta praktik
langsung dalam pembuatan atau pemasaran produk untuk memperkuat pengetahuan dan
keterampilan.

Pemberdayaan Jaringan dan Kerja Sama

Mendorong peserta didik untuk menjalin jaringan dengan pelaku usaha lainnya, komunitas lokal,
dan pihak-pihak yang dapat membantu pengembangan bisnis kreatif mereka.

3. Evaluasi dan Tindak Lanjut

Penilaian Kemajuan Peserta


Melakukan evaluasi secara berkala terhadap perkembangan peserta didik, baik dalam hal
pengetahuan, keterampilan, maupun inovasi dalam pengembangan bisnis.

Umpan Balik dan Penguatan

Memberikan umpan balik yang membangun dan memotivasi untuk memberi arahan kepada peserta
didik agar bisa memperbaiki serta mengembangkan usaha mereka.

Pendampingan Berkelanjutan

Menjadwalkan sesi pendampingan lanjutan untuk mendukung peserta didik dalam menghadapi
tantangan usaha serta mendorong keberlanjutan pengembangan bisnis.

4. Prinsip-Prinsip Pembelajaran Kewirausahaan Kreativitas Lokal

Berdasarkan Potensi Lokal

Mengoptimalkan sumber daya dan budaya lokal sebagai landasan kreativitas dan inovasi dalam
usaha.

Partisipatif dan Kooperatif

Mengikutsertakan peserta didik secara aktif dalam proses belajar dan mendorong kerjasama antar
peserta dan komunitas.

Relevan dan Praktis

Materi dan metode pembelajaran langsung berkaitan dengan kebutuhan riil serta bisa diterapkan
dalam kehidupan dan usaha sehari-hari.
Memberdayakan dan Memotivasi

Memberikan peluang, dorongan, dan dukungan supaya peserta didik merasa percaya diri dan
mandiri dalam berwirausaha.

Berfokus pada Dampak Sosial dan Ekonomi

Mengarahkan pembelajaran agar usaha yang dihasilkan tidak hanya menguntungkan secara
finansial, tetapi juga membawa manfaat bagi kesejahteraan masyarakat. yang ditujukan untuk
meningkatkan kemampuan inovatif dan kewirausahaan yang berasal dari kekuatan serta sumber
daya yang ada di masyarakat lokal. Metode pembelajaran ini tidak hanya terbatas pada teori,
tetapi juga berorientasi pada praktik nyata yang dapat mempercepat perkembangan bisnis dan
memberdayakan ekonomi lokal secara berkelanjutan.

1. Persiapan Pembelajaran

Mengenali Potensi Lokal dan Partisipan

Pengajar melakukan observasi dan penelitian awal untuk menemukan potensi kreatif dan
kewirausahaan yang ada di sekitar, serta karakteristik kebutuhan dan minat dari peserta didik.

Perencanaan Materi dan Teknik Pembelajaran

Materi pembelajaran dirancang berdasar pada hasil penemuan potensi lokal, dengan menggunakan
metode yang interaktif, kontekstual, dan praktis, seperti studi kasus tentang bisnis lokal, simulasi
usaha, dan praktik langsung.

Pengaturan Waktu dan Lokasi


Menentukan tempat belajar yang nyaman dan sesuai dengan aktivitas peserta didik, serta
menjadwalkan waktu yang disesuaikan untuk meningkatkan partisipasi dan kontinuitas dalam
pembelajaran.

2. Pelaksanaan Pembelajaran

Pembukaan dan Pemberian Motivasi

Memulai sesi pembelajaran dengan memberikan semangat dan menjelaskan tujuan pembelajaran
agar peserta didik termotivasi untuk aktif terlibat dan berinovasi.

Pengembangan Ide Kreatif dan Usaha

Mengajak peserta didik untuk mengeksplorasi ide-ide inovatif yang diambil dari potensi lokal,
seperti produk kerajinan tangan, makanan khas daerah, atau layanan berbasis teknologi setempat.
Ide-ide tersebut akan dibahas bersama untuk memperkuat konsep dan nilai tambah produk.

Pendampingan dalam Penyusunan Rencana Bisnis

Pengajar membimbing peserta didik dalam merancang rencana bisnis yang mencakup analisis pasar,
perencanaan keuangan sederhana, strategi pemasaran, dan manajemen sumber daya.

Simulasi dan Praktik Usaha

Melaksanakan simulasi usaha seperti perhitungan modal, pengelolaan persediaan, serta praktik
langsung dalam pembuatan atau pemasaran produk untuk memperkuat pengetahuan dan
keterampilan.

Pemberdayaan Jaringan dan Kerja Sama


Mendorong peserta didik untuk menjalin jaringan dengan pelaku usaha lainnya, komunitas lokal,
dan pihak-pihak yang dapat membantu pengembangan bisnis kreatif mereka.

3. Evaluasi dan Tindak Lanjut

Penilaian Kemajuan Peserta

Melakukan evaluasi secara berkala terhadap perkembangan peserta didik, baik dalam hal
pengetahuan, keterampilan, maupun inovasi dalam pengembangan bisnis.

Umpan Balik dan Penguatan

Memberikan umpan balik yang membangun dan memotivasi untuk memberi arahan kepada peserta
didik agar bisa memperbaiki serta mengembangkan usaha mereka.

Pendampingan Berkelanjutan

Menjadwalkan sesi pendampingan lanjutan untuk mendukung peserta didik dalam menghadapi
tantangan usaha serta mendorong keberlanjutan pengembangan bisnis.

4. Prinsip-Prinsip Pembelajaran Kewirausahaan Kreativitas Lokal

Berdasarkan Potensi Lokal

Mengoptimalkan sumber daya dan budaya lokal sebagai landasan kreativitas dan inovasi dalam
usaha.

Partisipatif dan Kooperatif

Mengikutsertakan peserta didik secara aktif dalam proses belajar dan mendorong kerjasama antar
peserta dan komunitas.

Relevan dan Praktis

Materi dan metode pembelajaran langsung berkaitan dengan kebutuhan riil serta bisa diterapkan
dalam kehidupan dan usaha sehari-hari.

Memberdayakan dan Memotivasi

Memberikan peluang, dorongan, dan dukungan supaya peserta didik merasa percaya diri dan
mandiri dalam berwirausaha.

Berfokus pada Dampak Sosial dan Ekonomi

Mengarahkan pembelajaran agar usaha yang dihasilkan tidak hanya menguntungkan secara
finansial, tetapi juga membawa manfaat bagi kesejahteraan masyarakat.
E. HAMBATAN

1. Membaca adalah hal yang paling penting dalam pembelajaran, dalam hal ini memang banyak di
antara mereka yang kesulitan membaca merangkai huruf menjadi kata dan kata menjadi kalimat
2. Menulis perlu memahami huruf dan keterampilan tangan , sama kepembelajaran tutor sangatlah
aktif dalam membimbing warga belajar , karena pada awal kegiatan WB banyak yang
memahami huruf dan perlu meningkat kembali, terlebih lagi , bagi mereka yang tidak pernah
sekolah .
3. Berhitung pada perinsip yang paling mudah dalam berhitung dan membaca angka adalah
masing masing warga belajar pasti mengenal uang . namun dalam bentuk lain ( benda atau
angka) mereka banyak yang kesulitan terutama dalam penjumlahan, pengurangan, perkalian
dan pembagian .

F. GAGASAN MAHASISWA MEMPERBAIKI HAMBATAN

Dari apa yang telah penulis susun pada pembuatan makalah ini, maka dapat penulis ambil beberapa
kesimpulan Gagasan Mahasiswa untuk memperbaiki hambatan yanga ada, diantaranya adalah :

1. Pengalaman yang ada di lapangan menunjukan bahwa kegiatan menulis perlu didahulukan,
karena melalui kegiatan belajar menulis WB secara langsung melakukan belajar membaca juga.

2. Dalam pelaksanaan praktik PBA, tahap penyadaran warga belajar adalah tahap yang paling
penting. Dalam hal ini perlu diadakan adanya pendekatan secara emosional.

3. Dalam teknik pelaksanaan program rencana yan harus dilakukan meliputi tahap persiapan,
pelaksanaan kegiatan, dan evaluasi kegiatn yang ditulis dalam bentuk laporan.

4. Karena WB adalah orang dewasa maka perlu pendekatan Andragogi pada tahap
pelaksanaannya.

B. SARAN

1. Agar pencarian WB dapat berjalan dengan baik, perlu mengadakan pendekatan secara individu
pada masyarakat target pencarian WB.

2. Untuk menguasai langkah praktik PBA perlu mempelajari tentang Praktik Pembelajaran
Keaksaran Fungsional, hal ini menunjang untuk keberhasilan dalam praktik PBA.
3. Agar berjalan dengan baik mahasiswa sebagai tutor hendaklah menggunakan kiat-kiat yang
dapat membantu keberhasilan dalam praktik PBA.

4. Tutor dalam pelaksanaan praktik PBA hendaklah menengok potensi sumber daya yang ada di
lingkungan sekitar WB, hal ini akan mendorong semangat WB dalam melaksanakan program
bimbingan
Daftar Pustaka:
1. BPS Kab Jember. 2014. Jember dalam Angka
http//[Link]/2010/09/konsep-konsep pendidikan luar [Link]
2. Marjuki, M Saleh. 2004. Pengembangan Kompetensi Profesioanl Pendidikan Luar
Sekolah. Jurusan PLS Universitas Negeri Malang: Malang
3. Malcolm, Knowles. 1980. Modern Practice of Adult Education, Association Prs
Follett Publishong Co: Chicago US
4. Napitupiulu PW. 2009. PNFI dalam perspekpektif Pendidikan untuk semua dan
tantangan globalisasi.
5. Makalah Semlok Pendidikan Non Formal: Malang Univeritas Jember. 2014. Indeks
Pembangunan Manusia (IPM Bidang pendidikan Kabupaten Jember.
6. Lembaga Penelitian Universitas Jember: Jember Universitas Jember. 2015.
7. Kajian Penyuusunan Masterplan Pendidikan Kabupaten Jember, LPLPM
Universitas Jember: Jember

Anda mungkin juga menyukai