Pengendalian Vektor Nyamuk DBD
Pengendalian Vektor Nyamuk DBD
Assalamu’alikum Wr. Wb
Dwi Hartanto
BAB I
PENDAHULUAN
a. Mengetahui Klasifikasi
b. Mengetahui Siklus Hidup
c. Mengetahui Bionomik
d. Mengetahui Umur
e. Mengetahui Peranan Serangga Terhadap Kehidupan Masyarakat
Penyakit ini disebabkan oleh suatu virus yang menyebabkan gangguan pada
pembuluh darah kapiler dan pada sistem pembekuan darah, sehingga
mengakibatkan perdarahan-perdarahan.
Vektor yang berperan dalam penularan penyakit ini adalah nyamuk Aedes
aegypti.
Manifestasi penyakit
Sesudah masa tunas / inkubasi selama 3 - 15 hari orang yang tertular dapat
mengalami / menderita penyakit ini dalam salah satu dari 4 bentuk berikut ini,
yaitu :
Pengobatan.
Pencegahan.
Awasi lingkungan di dalam rumah dan di halaman rumah. Buang atau timbun
benda-benda tak berguna yang menampung air, atau simpan sedemikian rupa
sehingga tidak menampung air. Taburkan serbuk abate (yang dapat dibeli di
apotik) pada bak mandi dan tempat penampung air lainnya, juga pada parit /
selokan di dalam dan di sekitar rumah, terutama bila selokan itu airnya tidak /
kurang mengalir. Kolam / akuarium jangan dibiarkan kosong tanpa ikan, isilah
dengan ikan pemakan jentik nyamuk. Semprotlah bagian-bagian rumah dan
halaman yang merupakan tempat berkeliarannya nyamuk, dengan obat
semprot nyamuk (yang banyak dijual di toko-toko) BILA TAMPAK
NYAMUK BERKELIARAN DI PAGI / SIANG / SORE HARI.
Bila ada salah seorang penghuni yang positif atau diduga menderita DBD,
segera semprotlah seluruh bagian rumah dan halaman dengan obat semprot
nyamuk di pagi, siang dan sore hari, sekalipun penderita tersebut sudah
dirawat di rumah sakit. Hubungi PUSKESMAS setempat untuk meminta
fogging di rumah-rumah di lingkungan setempat.
Pencegahan secara massal di lingkungan setempat dengan bekerja sama
dengan RT/RW/Kelurahan dengan PUSKESMAS setempat dilakukan dengan
Pembersihan Sarang Nyamuk (PSN), Fogging, atau memutuskan mata rantai
pembiakan Aedes aegypti dengan Abatisasi
Senin, 05/03/2007
Setiap memasuki awal dan akhir musim hujan kita selalu disibukkan oleh terjadinya
kenaikan kasus atau kejadian luar biasa (KLB) demam berdarah dengue (DBD).
Angka kesakitan dan kematian masih terus bertambah, terlebih lagi di wilayah
Jakarta pascabanjir 2007. Kurangnya pemahaman masyarakat tentang DBD
menimbulkan rasa ketakutan berlebihan terhadap infeksi virus dengue. Selain itu,
belum optimalnya peran serta masyarakat dalam pencegahan serta
pengendaliannya.
Tidak sedikit anggota masyarakat yang menderita demam yang mungkin tidak
disebabkan DBD menjadi ketakutan berlebihan sehingga minta rawat inap di rumah
sakit. Di samping itu, masyarakat belum banyak mempunyai pemahaman tepat dan
benar tentang pencegahan dan pengendalian vektor DBD. Akibatnya, peran serta
masyarakat terhadap pencegahan dan pengendaliannya masih sangat kurang.
Karena itu, perlu dilakukan terobosan baru untuk meningkatkan pemaham terhadap
masyarakat melalui penyuluhan, kampanye, atau promosi kesehatan tentang DBD,
vektor, cara penularan, serta cara pencegahan dan pengendaliannya secara
berkesinambungan. Di samping itu, agar masyarakat mempunyai tanggung
jawab,diperlukan payung hukum––seperti undang-undang atau peraturan
pemerintah–– yang memberikan keharusan kepada masyarakat dalam menjaga
lingkungan, bangunan, dan rumah masing-masing agar bebas dari jentik dan
nyamuk aedes vektor DBD sehingga tidak menjadi sumber penularan.
DBD merupakan salah satu penyakit menular yang berbasis lingkungan. Artinya,
kejadian dan penularannya dipengaruhi berbagai faktor lingkungan. Tiga faktor
lingkungan yang berpengaruh, antara lain lingkungan biologi, fisik, sosialbudaya.
Lingkungan biologi, seperti virus dengue sebagai penyebab/ agen penyakit, nyamuk
aedessebagai penular disebut sebagai vektor DBD, manusia sebagai penjamu atau
hospes yang menderita sakit dengue dan DBD, faktor-faktor biologi lain, seperti
musuh alami nyamuk (bakteri, predator, parasit, parasitoid) dan vegetasi lainnya.
Sifat ini meningkatkan risiko penularan pada masa KLB karena satu nyamuk aedes
infektif dalam satu hari akan mampu menularkan virus dengue kepada lebih dari
satu orang (calon pasien). Kebiasaan menggigit atau menghisap darah hospes
terjadi pada siang hari, puncak aktivitas menggigit antara pukul 06.00–10.00 dan
sore hari antara pukul 16.00–18.00. Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, vektor
DBD sebagai nyamuk pemukiman. Artinya, berada dan ditemukan di daerah
pemukiman penduduk. Habitat perkembangbiakan stadium pradewasa,yaitu telur,
larva, dan pupa, terdapat di segala jenis tempat penampungan air, seperti bak
mandi, penampungan air minum, pot bunga, kaleng bekas, drum, ban bekas, aksila
pohon, talang air, tempat minum [Link] ini yang berisi air bersih, relatif
jernih dan tidak langsung kontak dengan tanah. (*)
Partisipasi Masyarakat Perlu Digiatkan
Demam Berdarah Terus Telan Korban
PROGRAM ”3M” dalam penanggulangan wabah penyakit demam berdarah
sangat simpel yakni ”menguras”, ”menutup”, dan ”mengubur”. Menguras yaitu
melakukan pengurasan secara teratur seminggu sekali tempat penampungan
air bersih.
Siapa pun yakin tidak ada yang sulit untuk melakukan kegiatan tersebut. Tidak
perlu biaya dan kalaupun harus dikeluarkan hanya sedikit tenaga. Namun,
apakah orang mau melakukannya? Di sini memang problemanya. Kendati sejak
1998, Departemen Kesehatan pernah membuat klip program kampanye
penanggulangan demam berdarah dengan menggunakan bintang film/sinetron
populer Rano ”Si Doel” Karno yang rajin tayang di televisi, rasanya orang lebih
terpikat dengan akting sang bintang. Apakah pemirsanya mau mengikuti dan
melaksanakan anjurannya, masih perlu dipertanyakan.
Populasi nyamuk
Diakui Laode, bila pengabutan dilakukan berulang kali dengan frekuensi teratur,
memang akan menekan kepadatan populasi nyamuk. Akan tetapi, setelah
pengabutan dihentikan, populasi nyamuk akan kembali meningkat. Di sisi lain,
pengabutan di era krisis seperti sekarang ini dihadapkan pada banyak kendala.
Pengabutan memerlukan biaya yang tidak sedikit, terutama dalam pengadaan
insektisida. Gambarannya, satu kali pengabutan dengan jangkauan wilayah
yang tidak terlalu luas biaya yang diperlukan Rp 150.000,00 per liter.
Daerah endemi
Kabupaten Brebes merupakan daerah endemi DBD. Pada tahun 2001, terdapat
17 desa endemis di 7 kecamatan yakni Jatibarang, Ketanggungan, Larangan,
Bulakamba, Wanasari, Tanjung, dan Brebes. Jumlah kasus sebanyak 120
penderita dengan 8 orang di antaranya meninggal. Dari data itu diperoleh
kesimpulan, angka kesakitan sebesar 7 per 100.000 penduduk. Dari sisi ini
tergolong baik karena target nasional 20 penderita per 100.000 penduduk.
Namun, dari sisi angka kematian (case fatality rate) yang mencapai sebesar
6,7%, bisa dikatakan kurang baik karena target nasionalnya kurang dari 1%.
Adanya kasus wabah di Desa Sengon yang terjadi awal tahun ini dan
menyebabkan 8 orang penderitanya meninggal, mengisyaratkan bahwa DBD
diam-diam terus menelan korban.
Untuk itu, Ka Dinkes Laode Budiono kembali menegaskan, kini sudah saatnya
orientasi penanggulangan DBD mesti berubah. Program penanggulangan DBD
yang selama ini cenderung pada upaya pemberantasan nyamuk dewasanya
saja, sementara aspek pencegahan dengan kegiatan pemberantasan sarang
nyamuk (PSN) belum mendapatkan perhatian sungguh-sungguh. Padahal,
justru PSN merupakan kegiatan yang efektif dan efisien hanya belum secara
utuh diketahui masyarakat sebagai langkah penanggulangan DBD yang benar.
”Asumsi ini bisa saja keliru. Tetapi, jika mengkaji beberapa surat usulan dari
masyarakat untuk kegiatan pengabutan masih menunjukkan ketidaktahuan
masyarakat terhadap upaya penanggulangan DBD. Misalnya saja, ada surat
dari seorang kepala desa yang meminta agar wilayahnya segera diberikan
pengabutan dengan alasan di wilayahnya banyak air kotor yang tergenang.
Alasan ini bisa dikatakan kontradiktif, mengingat nyamuk Aedes aegypty lebih
suka bertelur dalam bejana dengan air yang relatif jernih bahkan yang tidak
kontak dengan tanah,” kata Laode.
Memang banyak kendala yang menyertai upaya pencegahan ini. Akan tetapi,
paling tidak sudah ada agenda nasional yaitu ”Bulan Gerakan 3M” yang telah
dicanangkan sejak 24 April 1998. Tinggal bagaimana masyarakat menyikapinya
untuk meningkatkan kualitas dan konsistensi gerakan kebersihan tersebut.
DEMAM BERDARAH
Gambaran Klinis
Demam yang akut, selama 2 hingga 7 hari, dengan 2 atau lebih gejala ? gejala
berikut : nyeri kepala, , nyeri otot, nyeri persendian, bintik-bintik pada kulit
sebagai manifestasi perdarahan dan leukopenia.
Kriteria Untuk Diagnosa Laboratorium
Satu atau lebih dari hal-hal berikut :
Isolasi virus dengue dari serum, plasma, leukosit ataupun otopsi.
Ditemukannya anti bodi IgG ataupun AgM yang meningkatkan tinggi titernya
mencapai empat kali lipat terhadap satu atau lebih antigen dengue dalam
spesimen serta berpadangan.
Dibuktikan adanya virus dengue dari jaringan otopsi dengan cara
immunokimiawi atau dengan cara immuno-flouresens, ataupun didalam
spesimen serum dengan uji ELISA
Dibuktikan dengan keberadaan gambaran genomic sekuen virus dari jaringan
otopsi, sediaan serum atau cairan serebro spinal (CSS), dengan uji Polymerase
Chain Reaction ( PCR).
Klarifikasi Kasus
Dicurigai sebagai kasus : Yaitu kasus yang jelas dengan melihat gejala
klinisnya.
Kemungkinan sebagai Kaus : ialah kasus yang menunjukkan gejala klinis dan
didukung oleh satu atau lebih dari ;
Uji serologi berupa munculnya titer anti bodi dengan hemaglutinasi ? inhibisi
1280 atau lebih yang sebanding dengan titer positif IgG dengan uji ELISA,
ataupun titer positif zat anti bodi IgM pada fase akhir yang akut pada fase
konvalesens.
Munculnya kasus DD lain dilokasi dan waktu yang sama
Kasus yang Pasti : ialah kasus yang secara klinis benar, serta didukung pula
kebenarannya secara laboratoris.
Kriteria Untuk Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Sindrom Syok Dengue
(SSD)
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah kasus tersangka ataupun kasus yang
pasti dari dengue dengan kecenderungan perdarahan disertai adanya satu atau
lebih dari hal ? hal berikut :
Pertanyaan:
Pengasuh rubrik yang terhormat,
Terkait dengan mewabahnya demam berdarah saat ini, di RT kami akan
dilakukan pengasapan (fogging). Karena setiap rumah yang akan di-fogging
harus membayar, maka tidak semua warga bersedia ikut program pengasapan
tersebut. Sehubungan dengan itu saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan
sebagai berikut, dan mohon dapat dijawab dalam waktu yang tidak terlalu lama
karena kami sangat membutuhkan informasi ini secepatnya. Pertanyaan saya:
1. Apakah tidak ada program pengasapan gratis dari pemerintah? Kalau ada
bagaimana cara memperolehnya ?
2. Apa tanda-tanda utama atau ciri pengenal nyamuk Aedes aegypti penyebab
demam berdarah tersebut ?
3. Sekarang ini di lingkungan kami jika ada orang yang menderita demam, kami
langsung khawatir ia terkena demam berdarah. Sebenarnya apa gejala
penyakit demam berdarah yang harus diwaspadai?
4. Saya mendengar bahwa wabah demam berdarah kali ini disebabkan oleh
munculnya jenis virus baru yang lebih berbahaya dari virus sebelumnya,
benarkah?
5. Selain pengasapan, apakah ada cara lain yang cukup efektif untuk
membasmi nyamuk demam berdarah?
Demikian pertanyaan saya, sekali lagi kami mohon agar pertanyaan kami dapat
dijawab secepatnya. Atas jawaban Pengasuh kami sampaikan banyak terima
kasih.
Mimi Suhendra, Manggarai Jakarta
Jawaban:
Ibu Mimi yang baik,
Demam berdarah di negeri kita saat ini memang sedang mewabah hebat,
menelan sangat banyak korban sakit dan meninggal dunia. Pemerintah bahkan
telah menyatakan peristiwa ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Oleh sebab
itu, kita semua harus ekstra waspada terhadapnya. Jika ada keluarga atau
tetangga yang menderita demam cukup tinggi, jangan sampai terlambat
membawanya ke rumah sakit terdekat untuk memperoleh perawatan. Penderita
yang sudah mengalami syok karena perdarahan yang hebat, menyebabkan
sulit ditolong setibanya di rumah sakit sehingga dapat menyebabkan kematian.
Demam berdarah adalah salah satu jenis penyakit yang sering muncul di
musim hujan. Penyakit ini bukan disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti,
namun oleh virus Dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes
aegypti. Aedes aegypti adalah nyamuk rumah yang biasanya menggigit pada
siang hari, berbeda dengan nyamuk lain yang biasa berkeliaran pada malam
hari.
Aedes berbadan sedikit lebih kecil, tubuhnya sampai ke kaki berwarna hitam
dan bergaris-garis putih. Nyamuk ini tidak menyukai tempat yang kotor, biasa
bertelur pada genangan air yang tenang dan bersih seperti jambangan bunga,
tempayan, bak mandi dan lain-lain yang kurang diterangi matahari dan tidak
dibersihkan secara teratur. Bagi nyamuk Aedes, darah manusia berfungsi untuk
mematangkan telur agar dapat dibuahi pada saat perkawinan. Mereka
mempunyai kebiasaan menggigit berulang kali, jadi sekali menyerbu bisa
beberapa orang sekaligus terkena.
Pada anak-anak yang lebih besar dan dewasa, umumnya dimulai dengan
demam ringan atau tinggi (>390 C) yang tiba-tiba dan berlangsung selama 2-7
hari, disertai dengan sakit kepala hebat, nyeri di belakang mata, nyeri sendi dan
otot, mual, muntah, dan ruam-ruam. Bintik-bintik perdarahan di kulit sering
terjadi, kadang disertai dengan bintik-bintik perdarahan di tenggorokan dan
selaput bening mata. Penderita juga sering mengeluh nyeri saat menelan,
perasaan tidak enak di ulu hati, nyeri di tulang rusuk kanan atau nyeri di seluruh
perut.
Pada wabah demam berdarah kali ini, memang tetap bahwa yang dominan
adalah serotipe D3, namun dilaporkan adanya peningkatan dari serotipe D2
dan D1 yang menyebabkan peningkatan kasus dengan gejala DBD yang tidak
khas bahkan menimbulkan gejala yang berat sampai kematian. Untuk
memastikan serotipe dan membuktikan adanya strain baru, beberapa pakar
kesehatan sedang melakukan penelitian. Hasil penelitian suatu virus tidak akan
diperoleh dalam waktu yang singkat, karena penelitian ini memerlukan
reagensia, peralatan canggih dan biaya tinggi.
Salah satu upaya efektif untuk pencegahan demam berdarah adalah dengan
membasmi atau memutuskan mata rantai kehidupan nyamuk Aedes aegypti.
Pengasapan adalah salah satu cara yang cukup banyak dipakai di negara kita,
walaupun sebenarnya cara ini saja kurang efektif. Pengasapan hanya dapat
menghalau atau membunuh nyamuk betina dewasa tetapi tidak dapat
membunuh larvanya. Sebaiknya dilakukan pemutusan mata rantai kehidupan
nyamuk Aedes melalui dua arah sekaligus, yaitu dengan membunuh nyamuk
dewasanya dan dibarengi dengan upaya menghalangi perkembang-biakan
nyamuk Aedes atau membunuh larvanya.
Pengasapan yang paling efektif juga harus dilakukan pada pagi hari saat angin
belum banyak bertiup, dengan komposisi satu liter obat untuk 19,8 liter solar.
Oleh karena itu, para ahli lebih menekankan pembasmian nyamuk demam
berdarah pada tingkat larva dibandingkan pembasmian nyamuk betina dewasa.
BAB III
ANALISA PEMBAHASAN
Philum : Arthropoda
Class : Hexapoda
Ordo : Diptera
Sub Ordo : Nematocera
Family : Culicidae
Genus : Aedes
Spesies : Aedes Aegypti
Dimulai dari telur, larva, pupa / kepompong dan nyamuk dewasa. Telur,
larva dan pupa terdapat di air, sedangkan nyamuk dewasa terdapat diluar air.
Telur diletakkan satu persatu pada permukaan air atau pada benda –
benda yang ada di air atau dinding wadah air, tanpa pelampung dan biasanya
nyamuk betina meletakkan telurnya di tempat yang gelap dan terbuka.
Tujuannya adalah supaya terlindung dari sinar matahari.
Nyamuk betina meletakkan telurnya didinding wadah diatas permukaan
air. Bila kena air akan menetas menjadi larva / jentik, setelah 5 – 10 hari larva
akan menjadi pupa dan 2 hari kemudian akan menetas menjadi nyamuk
dewasa. Pada keadaan optimum pertumbuhan telur sampai menjadi nyamuk
dewasa memerlukan waktu kira – kira 10 hari ( 7 – 10 hari ).
[Link] Tempat Berkembang Biak
Philum : Arthropoda
Class : Hexapoda
Ordo : Diptera
Sub Ordo : Nematocera
Family : Culicidae
Spesies : Anopheles
Philum : Arthropoda
Class : Hexapoda
Ordo : Diptera
Sub Ordo : Nematocera
Family : Culicidae
Spesies : Culex
4.1 Kesimpulan
Jadi, dapat disimpulkan bahwa nyamuk merupakan serangga
kesehatan yang termasuk ordo Diptera. Jenis ordo diptera tersebut adalah
untuk menentukan jenis nyamuk sebagai berikut adalah Nyamuk Aedes
agypti, Nyamuk Anopeles, dan Nyamuk Culex. Tetapi untuk menentukan
nyamuk tersebut diperlukan kunci identifikasi supaya mengetahui nyamuk jenis
apa yang akan kita ketahui nanti. Dan dalam bionomik / siklus hidupnya
berbeda-beda.
Tempat-tempat yang disenangi untuk tempat hinggap istirahat
nyamuk adalah tempat-tempat yang gelap, lembab, kurang angina dan jauh
dari gangguan predator atau gangguan [Link] pemilihan tempat
hinggap, nyamuk dibedakan menjadi :
1. Endophilik, nyamuk yang lebih suka hinggap istirahat di dalam
rumah atau bangunan (indoor resting).
2. Eksophilik, nyamuk yang lebih suka hinggap istirahat di luar
bangunan (outdoor resting).
Ada hinggap istirahat untuk sementara, yaitu sebelum dan sesudah
menggigit dan ada hinggap istirahat menunggu siklus gonotropik (pematangan
telur).
Penyebaran nyamuk dapat terjadi melalui dengan dua cara :
1. Penyebaran aktif, bila ada nyamuk menyebar ke berbagai
tempat menurut kebiasaan terbangnya/kemampuan
terbangnya.
2. Penyebaran pasif, bila nyamuk terbawa oleh angina atau
kendaraan jadi bukan oleh kekuatan terbangnya sendiri.
Nyamuk jantan cenderung berkumpul di dekat tempat
[Link] nyamuk jantan yang cukup banyak merupakan indikasi
bahwa di dekat tempat tersebut ada tempat perindukan nyamuk. Kelembaban
udara mengatur pola penyebaran nyamuk aktif. Populasi nyamuk
penyebarannya berbentuk kelompok-kelompok (cluster). Bentuk minimum suatu
cluster adalah dua kali jarak terbangnya. Misal,nyamuk [Link] jarak
terbangnya 50 meter, jadi bentuk cluster [Link] adalah 100 meter.
BAB V
REKOMENDASI / SARAN
[Link]
[Link]
[Link]
Majalah Kesehatan
Departemen Kesehatan Republik Indonesia
MAKALAH
PENGENDALIAN VEKTOR PENYAKIT
( PVP )
Disusun oleh :
Nama : Dwi Hartanto
NIM : P2.[Link].014
Kelas : I. A
Halaman
Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 1
1.3 Tujuan Penulisan 1
1.4 Manfaat Penulisan 2
BAB II DASAR TEORI 3
BAB III ANALISA PEMBAHASAN 14
3.1 Klasifikasi Aedes Aegypti 14
3.2 Klasifikasi Anopheles 15
3.3 Klasifikasi Culex 16
3.4 Tempat Hinggap Nyamuk Istirahat 16
3.5 Penyebaran Nyamuk 17
BAB IV KESIMPULAN 18
4.1 Kesimpulan 18
BAB V REKOMENDASI / SARAN 20
5.1 Rekomendasi / saran 20
DAFTAR PUSTAKA 21