0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan24 halaman

Pengendalian Vektor Nyamuk DBD

Dokumen ini membahas tentang pengendalian vektor binatang pengganggu, khususnya nyamuk Aedes aegypti sebagai penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD). Penulisan ini mencakup latar belakang, tujuan, manfaat, serta dasar teori mengenai DBD, termasuk penyebab, manifestasi, pengobatan, dan pencegahan penyakit. Ditekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam pencegahan dan pengendalian vektor DBD melalui program '3M' dan kesadaran lingkungan.

Diunggah oleh

laminakesling
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan24 halaman

Pengendalian Vektor Nyamuk DBD

Dokumen ini membahas tentang pengendalian vektor binatang pengganggu, khususnya nyamuk Aedes aegypti sebagai penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD). Penulisan ini mencakup latar belakang, tujuan, manfaat, serta dasar teori mengenai DBD, termasuk penyebab, manifestasi, pengobatan, dan pencegahan penyakit. Ditekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam pencegahan dan pengendalian vektor DBD melalui program '3M' dan kesadaran lingkungan.

Diunggah oleh

laminakesling
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KATA PENGANTAR

Assalamu’alikum Wr. Wb

Alhamdulillahirobbil’alamin, puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT


Rob semesta alam karena dengan Rahmat dan Hidayah-Nya penulisan
Makalah Pengendalian Vektor Binatang Pengganggu (PVBP) dapat terlaksana.
Tim penyusun mengucapkan banyak terima kasih kepada Dosen Mata
Kuliah Pengendalian Vektor Binatang Pengganggu (PVBP) dalam mengerjakan
makalah PVBP ini. Serta berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu
persatu sehingga dapat tersusunnya makalah ini.
Akhirnya kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna
dan akhirnya kami mohon adanya kritik serta saran yang membangun demi
perbaikan makalah ini.

Jakarta, Juli 2007


Wassalam

Dwi Hartanto
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Serangga termasuk salah satu phylum Arthropoda. Serangga terdiri atas


banyak spesies, baik yang sudah dikenal maupun yang belum kita kenal.
Serangga sendiri dibagi menjadi 2 jenis, yang bersifat umum ( yang tidak
menyebarkan / menjadi vektor penyakit ) dan yang bersifat kesehatan ( yang
menjadi vektor penyakit ).
Salah satu yang termasuk serangga kesehatan adalah ordo Diptera,
yang dibahas dalam laporan ini. jenis ordo diptera yang kami bahas dalam
laporan ini adalah Nyamuk Aedes agypti, Nyamuk Anopeles, dan Nyamuk
Culex.

1.2 Rumusan Masalah

Untuk mengetahui permasalahan yang ada tentang perkembangbiakkan


nyamuk Aedes, nyamuk Anopheles serta jentiknya. Serta bagaimana situasi
penyakit yang pernah terjadi di lingkungan warga sekitar.

1.3 Tujuan Penulisan

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui kehidupan dan seluk-beluk tentang serangga-


serangga pengganggu. Masyarakat melaksanakan PSN dalam memelihara
kebersihan di lingkungannya dalam rangka mewujudkan suatu wilayah yang
bersih dan sehat.
1.3.2Tujuan Khusus

a. Mengetahui Klasifikasi
b. Mengetahui Siklus Hidup
c. Mengetahui Bionomik
d. Mengetahui Umur
e. Mengetahui Peranan Serangga Terhadap Kehidupan Masyarakat

1.4 Manfaat Penulisan

Manfaat yang dapat diambil adalah bagaimana cara menangkap nyamuk


dan bagaimana mengidentifikasinya berdasarkan hasil yang telah di dapat.
Untuk mengetahui pula bagaimana pemberantasan nyamuk yang benar yang
tidak merugikan manusia dan lingkungan sekitar.
BAB II
DASAR TEORI

Demam Berdarah Dengue (DBD)


[Link] SB.

Penyebab dan perantara penularan.


Manifestasi penyakit.
Pengobatan.
Pencegahan.

Penyebab dan perantara penularan.

Penyakit ini disebabkan oleh suatu virus yang menyebabkan gangguan pada
pembuluh darah kapiler dan pada sistem pembekuan darah, sehingga
mengakibatkan perdarahan-perdarahan.
Vektor yang berperan dalam penularan penyakit ini adalah nyamuk Aedes
aegypti.

Manifestasi penyakit

Sesudah masa tunas / inkubasi selama 3 - 15 hari orang yang tertular dapat
mengalami / menderita penyakit ini dalam salah satu dari 4 bentuk berikut ini,
yaitu :

 Bentuk abortif, penderita tidak merasakan suatu gejala apapun.


 Dengue klasik, penderita mengalami demam tinggi selama 4 - 7 hari,
nyeri-nyeri pada tulang, diikuti dengan munculnya bintik-bintik atau
bercak-bercak perdarahan di bawah kulit.
 Dengue Haemorrhagic Fever (Demam berdarah dengue/DBD)
gejalanya sama dengan dengue klasik ditambah dengan perdarahan dari
hidung, mulut, dubur dsb.
 Dengue Syok Sindrom, gejalanya sama dengan DBD ditambah dengan
syok / presyok pada bentuk ini sering terjadi kematian.
Karena seringnya terjadi perdarahan dan syok maka pada penyakit ini angka
kematiannya cukup tinggi, oleh karena itu setiap Penderita yang diduga
menderita Penyakit Demam Berdarah dalam tingkat yang manapun
harus segera dibawa ke dokter atau Rumah Sakit, mengingat sewaktu-
waktu dapat mengalami syok / kematian.

Pengobatan.

Pengobatan terhadap penyakit ini terutama ditujukan untuk mengatasi


perdarahan, mencegah/mengatasi keadaan syok / presyok, yaitu dengan
mengusahakan agar penderita banyak minum, bila perlu dilakukan pemberian
cairan melalui infus.
Demam diusahakan diturunkan dengan kompres dingin, atau pemberian
antipiretika

Pencegahan.

Pencegahan dilakukan dengan MENGHINDARI GIGITAN NYAMUK di


sepanjang siang hari (pagi sampai sore) karena nyamuk aedes aktif di siang
hari (bukan malam hari). Hal tersebut dapat dilaksanakan dengan menghindari
berada di lokasi-lokasi yang banyak nyamuknya di siang hari, terutama di
daerah yang ada penderita DBD nya. Bila memang sangat perlu untuk berada
di tempat tersebut KENAKAN PAKAIAN YANG LEBIH TERTUTUP,
celana panjang dan kemeja lengan panjang misalnya. GUNAKAN
CAIRAN/KRIM ANTI NYAMUK (MOSQUITO REPELLANT) yang
banyak dijual di toko-toko, pada bagian badan yang tidak tertutup pakaian.

Awasi lingkungan di dalam rumah dan di halaman rumah. Buang atau timbun
benda-benda tak berguna yang menampung air, atau simpan sedemikian rupa
sehingga tidak menampung air. Taburkan serbuk abate (yang dapat dibeli di
apotik) pada bak mandi dan tempat penampung air lainnya, juga pada parit /
selokan di dalam dan di sekitar rumah, terutama bila selokan itu airnya tidak /
kurang mengalir. Kolam / akuarium jangan dibiarkan kosong tanpa ikan, isilah
dengan ikan pemakan jentik nyamuk. Semprotlah bagian-bagian rumah dan
halaman yang merupakan tempat berkeliarannya nyamuk, dengan obat
semprot nyamuk (yang banyak dijual di toko-toko) BILA TAMPAK
NYAMUK BERKELIARAN DI PAGI / SIANG / SORE HARI.

Bila ada salah seorang penghuni yang positif atau diduga menderita DBD,
segera semprotlah seluruh bagian rumah dan halaman dengan obat semprot
nyamuk di pagi, siang dan sore hari, sekalipun penderita tersebut sudah
dirawat di rumah sakit. Hubungi PUSKESMAS setempat untuk meminta
fogging di rumah-rumah di lingkungan setempat.
Pencegahan secara massal di lingkungan setempat dengan bekerja sama
dengan RT/RW/Kelurahan dengan PUSKESMAS setempat dilakukan dengan
Pembersihan Sarang Nyamuk (PSN), Fogging, atau memutuskan mata rantai
pembiakan Aedes aegypti dengan Abatisasi

Mencegah KLB DBD di Indonesia

Senin, 05/03/2007

Setiap memasuki awal dan akhir musim hujan kita selalu disibukkan oleh terjadinya
kenaikan kasus atau kejadian luar biasa (KLB) demam berdarah dengue (DBD).

Kejadian tersebut selalu berulang dan meresahkan sehingga masyarakat dihantui


ketakutan tertular atau terinfeksi virus dengue penyebab DBD. Sebab, DBD dapat
secara cepat menimbulkan kematian. Sektor kesehatan dari tingkat pusat, provinsi,
dan kabupaten/ kota bahkan sampai ke pelayanan terdepan, para pejabat publik
selalu kewalahan mengatasi masalah KLB DBD yang sampai saat ini belum mampu
dikendalikan dengan baik.

Angka kesakitan dan kematian masih terus bertambah, terlebih lagi di wilayah
Jakarta pascabanjir 2007. Kurangnya pemahaman masyarakat tentang DBD
menimbulkan rasa ketakutan berlebihan terhadap infeksi virus dengue. Selain itu,
belum optimalnya peran serta masyarakat dalam pencegahan serta
pengendaliannya.

Tidak sedikit anggota masyarakat yang menderita demam yang mungkin tidak
disebabkan DBD menjadi ketakutan berlebihan sehingga minta rawat inap di rumah
sakit. Di samping itu, masyarakat belum banyak mempunyai pemahaman tepat dan
benar tentang pencegahan dan pengendalian vektor DBD. Akibatnya, peran serta
masyarakat terhadap pencegahan dan pengendaliannya masih sangat kurang.

Sering penulis temukan, di setiap kunjungan ke pemukiman/rumah-rumah, banyak


jentik nyamuk aedes di tempat-tempat penampungan air; baik di tipe perumahan
tertata maupun yang tidak tertata. Bahkan, tidak jarang jentik nyamuk aedes
ditemukan dalam jumlah cukup banyak di fasilitas umum, seperti sekolah, kantor,
tempat-tempat ibadah. Pada beberapa gerakan kebersihan dalam rangka
pencegahan dan pengendalian nyamuk DBD sering salah sasaran.

Yang dilakukan adalah membersihkan saluran pembuangan limbah, drainase, dan


sampah sehingga tempat penampungan air sebagai habitat perkembangbiakan
nyamuk DBD tidak tersentuh. Gerakan kebersihan tersebut tidak salah dan sangat
bagus untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).Apabila, hal itu
bertujuan untuk mencegah dan mengendalikan DBD tidak tepat sasaran. Gerakan
tersebut membuktikan bahwa pemahaman masyarakat tentang DBD dan cara
pengendalian vektor masih belum baik.

Pengetahuan atau pemahaman tentang DBD, cara pencegahan, dan


pengendaliannya secara baik dan benar oleh masyarakat, aparat pemerintah, dan
lintas sektor terkait, termasuk LSM dan tokoh masyarakat akan meningkatkan
kepedulian, kemampuan, dan peran sertanya secara tepat. Dengan demikian,
diharapkan mempunyai daya ungkit yang positif dalam mencegah terjadinya
penularan dan KLB DBD di Indonesia.

Karena itu, perlu dilakukan terobosan baru untuk meningkatkan pemaham terhadap
masyarakat melalui penyuluhan, kampanye, atau promosi kesehatan tentang DBD,
vektor, cara penularan, serta cara pencegahan dan pengendaliannya secara
berkesinambungan. Di samping itu, agar masyarakat mempunyai tanggung
jawab,diperlukan payung hukum––seperti undang-undang atau peraturan
pemerintah–– yang memberikan keharusan kepada masyarakat dalam menjaga
lingkungan, bangunan, dan rumah masing-masing agar bebas dari jentik dan
nyamuk aedes vektor DBD sehingga tidak menjadi sumber penularan.

DBD merupakan salah satu penyakit menular yang berbasis lingkungan. Artinya,
kejadian dan penularannya dipengaruhi berbagai faktor lingkungan. Tiga faktor
lingkungan yang berpengaruh, antara lain lingkungan biologi, fisik, sosialbudaya.
Lingkungan biologi, seperti virus dengue sebagai penyebab/ agen penyakit, nyamuk
aedessebagai penular disebut sebagai vektor DBD, manusia sebagai penjamu atau
hospes yang menderita sakit dengue dan DBD, faktor-faktor biologi lain, seperti
musuh alami nyamuk (bakteri, predator, parasit, parasitoid) dan vegetasi lainnya.

Virus dengue ditularkan melalui gigitan nyamuk vektor, masyarakat umum


menyebut sebagai nyamuk demam berdarah, yaitu nyamuk aedes, aedes aegypti
sebagai vektor utama, dan Ae albopictus sebagai vektor sekunder. Nyamuk aedes
warna hitam dan belang-belang sehingga sering disebut sebagai nyamuk harimau,
lebih banyak menggigit manusia sehingga disebut bersifat antropofilik. Nyamuk
aedes aegypti sebagai vektor DBD sangat efektif, di samping rentan terhadap virus
dengue juga bersifat multiple feeding. Artinya, aedes aegypti dalam menghisap
darah sampai kenyang sering berpindah hospes dari satu orang ke orang lain.

Sifat ini meningkatkan risiko penularan pada masa KLB karena satu nyamuk aedes
infektif dalam satu hari akan mampu menularkan virus dengue kepada lebih dari
satu orang (calon pasien). Kebiasaan menggigit atau menghisap darah hospes
terjadi pada siang hari, puncak aktivitas menggigit antara pukul 06.00–10.00 dan
sore hari antara pukul 16.00–18.00. Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, vektor
DBD sebagai nyamuk pemukiman. Artinya, berada dan ditemukan di daerah
pemukiman penduduk. Habitat perkembangbiakan stadium pradewasa,yaitu telur,
larva, dan pupa, terdapat di segala jenis tempat penampungan air, seperti bak
mandi, penampungan air minum, pot bunga, kaleng bekas, drum, ban bekas, aksila
pohon, talang air, tempat minum [Link] ini yang berisi air bersih, relatif
jernih dan tidak langsung kontak dengan tanah. (*)
Partisipasi Masyarakat Perlu Digiatkan
Demam Berdarah Terus Telan Korban
PROGRAM ”3M” dalam penanggulangan wabah penyakit demam berdarah
sangat simpel yakni ”menguras”, ”menutup”, dan ”mengubur”. Menguras yaitu
melakukan pengurasan secara teratur seminggu sekali tempat penampungan
air bersih.

Sementara itu, menutup adalah menutup rapat-rapat tempat penampungan air


bersih. Dan mengubur, yang dimaksudkan adalah mengubur atau
menyingkirkan kaleng-kaleng bekas, plastik, dan barang bekas lainnya yang
dapat menampung air hujan hingga menjadi sarang nyamuk.

Siapa pun yakin tidak ada yang sulit untuk melakukan kegiatan tersebut. Tidak
perlu biaya dan kalaupun harus dikeluarkan hanya sedikit tenaga. Namun,
apakah orang mau melakukannya? Di sini memang problemanya. Kendati sejak
1998, Departemen Kesehatan pernah membuat klip program kampanye
penanggulangan demam berdarah dengan menggunakan bintang film/sinetron
populer Rano ”Si Doel” Karno yang rajin tayang di televisi, rasanya orang lebih
terpikat dengan akting sang bintang. Apakah pemirsanya mau mengikuti dan
melaksanakan anjurannya, masih perlu dipertanyakan.

Terbukti, penyakit demam berdarah atau Demam Berdarah Dengue (BDB)


masih sering mewabah. Seperti yang tengah melanda Desa Sengon
Kecamatan Tanjung Kabupaten Brebes, Jawa Tengah belakangan ini. Bahkan,
karena telah merenggut nyawa 8 anak-anak dalam sebulan terakhir (Pikiran
Rakyat, 15/1), hampir setiap orang tua di desa itu dibuat panik berlebihan setiap
salah seorang atau lebih dari anaknya menderita panas dan demam. Mereka
takut anak-anaknya akan sama nasibnya dengan kedelapan anak yang telah
meninggal akibat gigitan nyamuk Aedes aegypty itu.

Setelah menjadi wabah seperti itu, menurut Kepala Dinas Kesehatan


Kabupaten Brebes Dr. H. Laode Budiono, M.P.H., warga desa yang terkena
maupun desa-desa sekitarnya langsung berbondong meminta dilakukan
fogging (pengabutan) atau penyemprotan dengan menggunakan campuran
Malathion 4% dan solar. ”Karena masyarakat menganggap, penyemprotan
merupakan satu-satunya senjata pamungkas. Ada kasus demam berdarah,
asumsi masyarakat berarti harus ada fogging,” ujarnya.

Padahal dalam upaya penanggulangan demam berdarah dewasa ini,


pengabutan hanyalah upaya penanggulangan sesaat dan tidak memiliki efek
pencegahan.

Alasannya, nyamuk-nyamuk yang mati akibat terkena semprotan hanya


nyamuk Aedes aegypty dewasa saja. Sementara itu, jentik dan kepompong
sebagai stadium nyamuk yang hidup di tempat berair tidak tersentuh. Oleh
karena itu, efek pengabutan akan hilang bersama hilangnya kabut insektisida
yang disemprotkan. Selama penderita DBD masih ada dalam wilayah tersebut,
nyamuk baru yang muncul kemudian dari kepompong tetap memunyai
kesempatan mengisap darah penderita DBD yang masih ada dan penularan
akan tetap berlangsung.

Populasi nyamuk

Diakui Laode, bila pengabutan dilakukan berulang kali dengan frekuensi teratur,
memang akan menekan kepadatan populasi nyamuk. Akan tetapi, setelah
pengabutan dihentikan, populasi nyamuk akan kembali meningkat. Di sisi lain,
pengabutan di era krisis seperti sekarang ini dihadapkan pada banyak kendala.
Pengabutan memerlukan biaya yang tidak sedikit, terutama dalam pengadaan
insektisida. Gambarannya, satu kali pengabutan dengan jangkauan wilayah
yang tidak terlalu luas biaya yang diperlukan Rp 150.000,00 per liter.

”Karenanya, dengan program penanggulangan DBD di Kabupaten Brebes yang


saat ini sumber dananya dari Dana Alokasi Umum (DAU), yang pada tahun
2001 anggarannya cuma sebesar Rp 12,2 juta dan naik menjadi Rp 15 juta
untuk tahun 2002, sulit bagi Dinkes untuk bisa meliputi 295 desa dan kelurahan
yang ada,” kata Laode menambahkan.

Daerah endemi

Kabupaten Brebes merupakan daerah endemi DBD. Pada tahun 2001, terdapat
17 desa endemis di 7 kecamatan yakni Jatibarang, Ketanggungan, Larangan,
Bulakamba, Wanasari, Tanjung, dan Brebes. Jumlah kasus sebanyak 120
penderita dengan 8 orang di antaranya meninggal. Dari data itu diperoleh
kesimpulan, angka kesakitan sebesar 7 per 100.000 penduduk. Dari sisi ini
tergolong baik karena target nasional 20 penderita per 100.000 penduduk.
Namun, dari sisi angka kematian (case fatality rate) yang mencapai sebesar
6,7%, bisa dikatakan kurang baik karena target nasionalnya kurang dari 1%.
Adanya kasus wabah di Desa Sengon yang terjadi awal tahun ini dan
menyebabkan 8 orang penderitanya meninggal, mengisyaratkan bahwa DBD
diam-diam terus menelan korban.

Untuk itu, Ka Dinkes Laode Budiono kembali menegaskan, kini sudah saatnya
orientasi penanggulangan DBD mesti berubah. Program penanggulangan DBD
yang selama ini cenderung pada upaya pemberantasan nyamuk dewasanya
saja, sementara aspek pencegahan dengan kegiatan pemberantasan sarang
nyamuk (PSN) belum mendapatkan perhatian sungguh-sungguh. Padahal,
justru PSN merupakan kegiatan yang efektif dan efisien hanya belum secara
utuh diketahui masyarakat sebagai langkah penanggulangan DBD yang benar.

”Asumsi ini bisa saja keliru. Tetapi, jika mengkaji beberapa surat usulan dari
masyarakat untuk kegiatan pengabutan masih menunjukkan ketidaktahuan
masyarakat terhadap upaya penanggulangan DBD. Misalnya saja, ada surat
dari seorang kepala desa yang meminta agar wilayahnya segera diberikan
pengabutan dengan alasan di wilayahnya banyak air kotor yang tergenang.
Alasan ini bisa dikatakan kontradiktif, mengingat nyamuk Aedes aegypty lebih
suka bertelur dalam bejana dengan air yang relatif jernih bahkan yang tidak
kontak dengan tanah,” kata Laode.

Pemberantasan sarang nyamuk, ujarnya lebih jauh, pada dasarnya menganut


prinsip-prinsip dalam pencegahan DBD. Yakni kemampuannya untuk
memutuskan rantai penularan karena daur hidup Aedes aegypty tidak akan
pernah tercapai. Jadi pada gilirannya mampu menurunkan kepadatan populasi
nyamuk Aedes aegypty. Pemberantasan sarang nyamuk akan menjadi sangat
berarti jika dilaksanakan satu kali dalam seminggu, dengan maksud agar daur
hidup nyamuk yang berlangsung 7-10 hari tidak tercapai sehingga nyamuk tidak
sempat menjadi dewasa.

Memang banyak kendala yang menyertai upaya pencegahan ini. Akan tetapi,
paling tidak sudah ada agenda nasional yaitu ”Bulan Gerakan 3M” yang telah
dicanangkan sejak 24 April 1998. Tinggal bagaimana masyarakat menyikapinya
untuk meningkatkan kualitas dan konsistensi gerakan kebersihan tersebut.

Menurut Dr. H. Laode Budiono M.P.H., pendekatan reward and punishment


dapat saja diterapkan dalam kegiatan pemberantasan sarang nyamuk.
Misalnya, bila ada rumah yang bebas jentik nyamuk Aedes aegypty maka oleh
warga masyarakat lainnya akan diberikan ”penghargaan”. Begitu pun
sebaliknya, layak diberikan ”hukuman” pada warga yang rumahnya banyak
jentik nyamuk Aedes aegypty-nya. Bentuk-bentuk penghargaan maupun
hukuman tersebut dapat disepakati bersama oleh warga masyarakat yang
bersangkutan.

Dalam kegiatan pemberantasan sarang nyamuk, hendaknya masyarakat sendiri


yang melaksanakan kegiatan perencanaan, pelaksanaan, maupun evaluasinya.
Sementara itu, petugas kesehatan hanyalah bertindak sebagai pendorong saja.
Hanya dalam kegiatan pemberantasan sarang nyamuk, masyarakat masih
perlu meminta bantuan petugas kesehatan yang memunyai data mengenai
Demam Berdarah dengue. Petugas kesehatan akan menentukan ”Bulan
Gerakan 3 M” sebaiknya dilakukan. Jadi, menguras, menutup, dan mengubur
sebagaimana disarankan Rano ”Si Doel” Karno lewat kampanye ”Gerakan 3 M”
memang satu-satunya cara untuk menghindar dari ancaman demam berdarah.
(Marsis Santoso/”PR)***

DEMAM BERDARAH

Gambaran Klinis
Demam yang akut, selama 2 hingga 7 hari, dengan 2 atau lebih gejala ? gejala
berikut : nyeri kepala, , nyeri otot, nyeri persendian, bintik-bintik pada kulit
sebagai manifestasi perdarahan dan leukopenia.
Kriteria Untuk Diagnosa Laboratorium
Satu atau lebih dari hal-hal berikut :
Isolasi virus dengue dari serum, plasma, leukosit ataupun otopsi.
Ditemukannya anti bodi IgG ataupun AgM yang meningkatkan tinggi titernya
mencapai empat kali lipat terhadap satu atau lebih antigen dengue dalam
spesimen serta berpadangan.
Dibuktikan adanya virus dengue dari jaringan otopsi dengan cara
immunokimiawi atau dengan cara immuno-flouresens, ataupun didalam
spesimen serum dengan uji ELISA
Dibuktikan dengan keberadaan gambaran genomic sekuen virus dari jaringan
otopsi, sediaan serum atau cairan serebro spinal (CSS), dengan uji Polymerase
Chain Reaction ( PCR).

Klarifikasi Kasus
Dicurigai sebagai kasus : Yaitu kasus yang jelas dengan melihat gejala
klinisnya.
Kemungkinan sebagai Kaus : ialah kasus yang menunjukkan gejala klinis dan
didukung oleh satu atau lebih dari ;
Uji serologi berupa munculnya titer anti bodi dengan hemaglutinasi ? inhibisi
1280 atau lebih yang sebanding dengan titer positif IgG dengan uji ELISA,
ataupun titer positif zat anti bodi IgM pada fase akhir yang akut pada fase
konvalesens.
Munculnya kasus DD lain dilokasi dan waktu yang sama
Kasus yang Pasti : ialah kasus yang secara klinis benar, serta didukung pula
kebenarannya secara laboratoris.
Kriteria Untuk Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Sindrom Syok Dengue
(SSD)
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah kasus tersangka ataupun kasus yang
pasti dari dengue dengan kecenderungan perdarahan disertai adanya satu atau
lebih dari hal ? hal berikut :

Tes Tourniquet yang positif.


Adanya perdarahan dalam bentuk petekiae, ekimosis atau purpura.
Perdarahan selaput lendir mukosa, alat cerna gastrrointestinal, tempat suntikan
atau ditempat lainnya.
Hematemesis atau melena
Dan trombositopenia ( < 100.000 per mm3)
Dan perembesan plasma yang erat hubungannya dengan kenaikan
permiabilitas dinding pembuluh darah, yang ditandai dengan munculya satu
atau lebih dari :
Kenaikan nilai 20 % (hematokrit atau lebih tergantung umur dan jenis kelamin)
Menurunnya nilai hematokrit dari nilai dasar 20 % atau lebih sesudah
pengobatan.
Tanda ? tanda perembesan plasma ( yaitu, efusi pleura, asites,
hipoproteinaemia

2. Sindrom Syok Dengue (SSD)


Mencakup semua kriteria DBD diatas ditambah lagi dengan munculnya
gangguan sirkulasi darah dengan tanda-tanda denyut nadi menjadi lemah dan
cepat, menyempitnya tekanan nadi (20 mmHg atau kurang) atau hipotesi
berdasar umur, kedinginan, keringat dingin dan gelisah.
Selasa, 09 Maret 2004

Pencegahan Demam Berdarah

Pertanyaan:
Pengasuh rubrik yang terhormat,
Terkait dengan mewabahnya demam berdarah saat ini, di RT kami akan
dilakukan pengasapan (fogging). Karena setiap rumah yang akan di-fogging
harus membayar, maka tidak semua warga bersedia ikut program pengasapan
tersebut. Sehubungan dengan itu saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan
sebagai berikut, dan mohon dapat dijawab dalam waktu yang tidak terlalu lama
karena kami sangat membutuhkan informasi ini secepatnya. Pertanyaan saya:

1. Apakah tidak ada program pengasapan gratis dari pemerintah? Kalau ada
bagaimana cara memperolehnya ?
2. Apa tanda-tanda utama atau ciri pengenal nyamuk Aedes aegypti penyebab
demam berdarah tersebut ?
3. Sekarang ini di lingkungan kami jika ada orang yang menderita demam, kami
langsung khawatir ia terkena demam berdarah. Sebenarnya apa gejala
penyakit demam berdarah yang harus diwaspadai?
4. Saya mendengar bahwa wabah demam berdarah kali ini disebabkan oleh
munculnya jenis virus baru yang lebih berbahaya dari virus sebelumnya,
benarkah?
5. Selain pengasapan, apakah ada cara lain yang cukup efektif untuk
membasmi nyamuk demam berdarah?
Demikian pertanyaan saya, sekali lagi kami mohon agar pertanyaan kami dapat
dijawab secepatnya. Atas jawaban Pengasuh kami sampaikan banyak terima
kasih.
Mimi Suhendra, Manggarai Jakarta

Jawaban:
Ibu Mimi yang baik,
Demam berdarah di negeri kita saat ini memang sedang mewabah hebat,
menelan sangat banyak korban sakit dan meninggal dunia. Pemerintah bahkan
telah menyatakan peristiwa ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Oleh sebab
itu, kita semua harus ekstra waspada terhadapnya. Jika ada keluarga atau
tetangga yang menderita demam cukup tinggi, jangan sampai terlambat
membawanya ke rumah sakit terdekat untuk memperoleh perawatan. Penderita
yang sudah mengalami syok karena perdarahan yang hebat, menyebabkan
sulit ditolong setibanya di rumah sakit sehingga dapat menyebabkan kematian.

Demam berdarah adalah salah satu jenis penyakit yang sering muncul di
musim hujan. Penyakit ini bukan disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti,
namun oleh virus Dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes
aegypti. Aedes aegypti adalah nyamuk rumah yang biasanya menggigit pada
siang hari, berbeda dengan nyamuk lain yang biasa berkeliaran pada malam
hari.

Aedes berbadan sedikit lebih kecil, tubuhnya sampai ke kaki berwarna hitam
dan bergaris-garis putih. Nyamuk ini tidak menyukai tempat yang kotor, biasa
bertelur pada genangan air yang tenang dan bersih seperti jambangan bunga,
tempayan, bak mandi dan lain-lain yang kurang diterangi matahari dan tidak
dibersihkan secara teratur. Bagi nyamuk Aedes, darah manusia berfungsi untuk
mematangkan telur agar dapat dibuahi pada saat perkawinan. Mereka
mempunyai kebiasaan menggigit berulang kali, jadi sekali menyerbu bisa
beberapa orang sekaligus terkena.

Infeksi virus Dengue menimbulkan variasi gejala mulai sindroma virus


nonspesifik sampai perdarahan yang fatal. Gejala demam Dengue tergantung
pada umur penderita. Pada bayi dan anak-anak kecil biasanya berupa demam
disertai dengan ruam-ruam pada kulit.

Pada anak-anak yang lebih besar dan dewasa, umumnya dimulai dengan
demam ringan atau tinggi (>390 C) yang tiba-tiba dan berlangsung selama 2-7
hari, disertai dengan sakit kepala hebat, nyeri di belakang mata, nyeri sendi dan
otot, mual, muntah, dan ruam-ruam. Bintik-bintik perdarahan di kulit sering
terjadi, kadang disertai dengan bintik-bintik perdarahan di tenggorokan dan
selaput bening mata. Penderita juga sering mengeluh nyeri saat menelan,
perasaan tidak enak di ulu hati, nyeri di tulang rusuk kanan atau nyeri di seluruh
perut.

Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF)


adalah komplikasi serius demam Dengue yang dapat mengancam jiwa
penderitanya, ditandai oleh demam tinggi yang terjadi tiba-tiba, tanda-tanda
perdarahan, pembesaran hati dan kadang-kadang disertai syok. Syok dapat
terjadi pada keadaan yang sangat parah karena terjadi kegagalan sirkulasi
darah akibat kebocoran plasma. Keadaan ini disebut Dengue Shock Syndrome
(DSS). Memang ada kekhawatiran telah berkembangnya strain virus baru
penyebab demam berdarah. Di Indonesia terdapat empat serotipe virus Dengue
yaitu D1, D2, D3 dan D4. Selama ini, serotipe D3 lebih dominan sehingga
sebagian penduduk telah memiliki imunitas.

Pada wabah demam berdarah kali ini, memang tetap bahwa yang dominan
adalah serotipe D3, namun dilaporkan adanya peningkatan dari serotipe D2
dan D1 yang menyebabkan peningkatan kasus dengan gejala DBD yang tidak
khas bahkan menimbulkan gejala yang berat sampai kematian. Untuk
memastikan serotipe dan membuktikan adanya strain baru, beberapa pakar
kesehatan sedang melakukan penelitian. Hasil penelitian suatu virus tidak akan
diperoleh dalam waktu yang singkat, karena penelitian ini memerlukan
reagensia, peralatan canggih dan biaya tinggi.

Salah satu upaya efektif untuk pencegahan demam berdarah adalah dengan
membasmi atau memutuskan mata rantai kehidupan nyamuk Aedes aegypti.
Pengasapan adalah salah satu cara yang cukup banyak dipakai di negara kita,
walaupun sebenarnya cara ini saja kurang efektif. Pengasapan hanya dapat
menghalau atau membunuh nyamuk betina dewasa tetapi tidak dapat
membunuh larvanya. Sebaiknya dilakukan pemutusan mata rantai kehidupan
nyamuk Aedes melalui dua arah sekaligus, yaitu dengan membunuh nyamuk
dewasanya dan dibarengi dengan upaya menghalangi perkembang-biakan
nyamuk Aedes atau membunuh larvanya.

Untuk membantu masyarakat dalam menanggulangi wabah demam berdarah


saat ini pemerintah menyediakan program pengasapan gratis. Untuk
memperolehnya Anda dapat mengajukan surat kepada Dinas Kesehatan atau
Puskesmas yang berada di wilayah tempat tinggal Anda. Namun, perlu diingat
bahwa pengasapan menggunakan insektisida Malathion 4 persen dicampur
solar, hanya dapat membunuh nyamuk-nyamuk dewasa pada wilayah radius
100-200 meter di sekitarnya dan efektif hanya untuk satu-dua hari.

Sementara, siklus pertumbuhan jentik nyamuk menjadi nyamuk dewasa


memerlukan waktu 5-8 hari. Sehingga tidak cukup dilakukan satu kali
penyemprotan saja. Selain itu, pengasapan yang dilakukan secara berulang-
ulang bisa mengganggu keseimbangan ekologi, termasuk peningkatan
kekebalan nyamuk tersebut.

Pengasapan yang paling efektif juga harus dilakukan pada pagi hari saat angin
belum banyak bertiup, dengan komposisi satu liter obat untuk 19,8 liter solar.
Oleh karena itu, para ahli lebih menekankan pembasmian nyamuk demam
berdarah pada tingkat larva dibandingkan pembasmian nyamuk betina dewasa.

Pencegahan perkembang-biakan nyamuk Aedes aegypti sangat tepat


dilakukan dengan program 3M (Menguras, Menutup dan Mengubur) yang
disarankan oleh pemerintah. Menguras bak mandi, bak penampungan air,
tempat minum hewan peliharaan, menutup rapat tempat penampungan air serta
mengubur barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai, yang kesemuanya
dapat menampung air hujan sebagai tempat berkembang-biaknya nyamuk
Aedes aegypti sebagai vektor atau penular penyakit DBD tersebut sangat perlu
dilakukan.

Untuk mencegah gigitan nyamuk, upayakan agar selalu memasang kawat


nyamuk halus pada pintu, lubang jendela, dan ventilasi di seluruh bagian rumah
Anda. Hindari menggantung pakaian di kamar mandi, di kamar tidur atau di
tempat yang tidak terjangkau sinar matahari. Jagalah selalu kebersihan
lingkungan Anda. Demikian, mudah-mudahan penjelasan ini berguna bagi
Anda, keluarga dan kerabat. Salam.
Dra. Astri Rozanah,
Biolog Pemerhati Masalah Kesehatan dan Lingkungan

Konsultasi Kesehatan dan Kefarmasian Diasuh oleh Indonesian


Pharmaceutical Watch (IPhW) Koordinator Pengasuh : DR. Ernawati
Sinaga, MS, Apt Alamat Surat: Harian Umum Republika, Jl. Warung Buncit
Raya No. 37, Jakarta 12510
email : medika@[Link], faksimili: (021) 7983623

BAB III
ANALISA PEMBAHASAN

3.1. Klasifikasi Aedes Aegypti

Philum : Arthropoda
Class : Hexapoda
Ordo : Diptera
Sub Ordo : Nematocera
Family : Culicidae
Genus : Aedes
Spesies : Aedes Aegypti

3.1.1 Bionomik / Tata Hidup

[Link] Daur Hidup

Dimulai dari telur, larva, pupa / kepompong dan nyamuk dewasa. Telur,
larva dan pupa terdapat di air, sedangkan nyamuk dewasa terdapat diluar air.
Telur diletakkan satu persatu pada permukaan air atau pada benda –
benda yang ada di air atau dinding wadah air, tanpa pelampung dan biasanya
nyamuk betina meletakkan telurnya di tempat yang gelap dan terbuka.
Tujuannya adalah supaya terlindung dari sinar matahari.
Nyamuk betina meletakkan telurnya didinding wadah diatas permukaan
air. Bila kena air akan menetas menjadi larva / jentik, setelah 5 – 10 hari larva
akan menjadi pupa dan 2 hari kemudian akan menetas menjadi nyamuk
dewasa. Pada keadaan optimum pertumbuhan telur sampai menjadi nyamuk
dewasa memerlukan waktu kira – kira 10 hari ( 7 – 10 hari ).
[Link] Tempat Berkembang Biak

Tempat berkembangnya nyamuk ini biasanya berupa genangan –


genangan air yang tertampung disuatu wadah terutama ditempat penampungan
air bersih dan tidak terkena cahaya matahari ( tempat – tempat gelap ) dan
bukan genangan – genangan air di tanah.

3.2 Klasifikasi Anopheles

Philum : Arthropoda
Class : Hexapoda
Ordo : Diptera
Sub Ordo : Nematocera
Family : Culicidae
Spesies : Anopheles

3.2.1 Daur Hidup dan Tempat Berkembang Biak

Nyamuk berukuran kecil sampai agak besar. Di Indonesia ada 80 jenis


nyamuk anopheles dan 18 jenis diantaranya telah dibuktikan dapat menularkan
penyakit malaria pada orang. Telur berpelampung, di letakkan satu persatu
dipermukaan air.
Larva mempunyai bulu-bulu kipas, tanpa corong udara, dan pada waktu
istirahat sejajar dengan permikaan air. Pupa dengan corong udara pendek dan
lebar. Nyamuk dewasanya kebanyakan hinggap membentuk sudut dengan
permukaan tempat hinggapnya pada waktu istirahat. Proboscis hamper sama
panjang dengan palpi, scutellum tidak berlobus, sayap dengan noda-noda
gelap.
3.3 Klasifikasi Culex

Philum : Arthropoda
Class : Hexapoda
Ordo : Diptera
Sub Ordo : Nematocera
Family : Culicidae
Spesies : Culex

3.3.1 Daur Hidup dan Tempat Berkembang Biak

Nyamuk berukuran kecil sampai agak besar. Tempat peridunkannya


berupa genangan – genangan air di tanah, berupa comberan, parit, got, rawa –
rawa, pinggiran sungai dan sebagainya. Telur diletakkan bergerombol
membentuk benda seperti rakit, terapung di permukaan air. Larva dengan
corong udara dengan lebih satu bulu tuft dan mempunyai acus. Pada waktu
istirahat larva membentuk sudut dengan permukaan air. Pupa dengan corong
udara sempit dan agak panjang. Nyamuk dewasa pada waktu hinggap sejajar
dengan permukaan tempat hinggap. Pada nyamuk jantan palpi samapanjang
dengan proboscis. Pada nyamuk betina palpi sama panjang dengan proboscis.
Pada nyamuk betina palpi sangat pendek ± 1/5 panjang proboscis. Scut – ellum
mempunyai tiga lobus. Pada ujung kaki, terutama kaki belakang mempunyai
pulvili. Di Indonesia ada 82 jenis nyamuk culex. Nyamuk yang sering ditemukan
di kota – kota adalah Culex quinquefasciatus atau Culex fatigants. Sedangkan
di desa – desa dekat sawah banyak ditemukan jenis – jenis nyamuk culex
lainnya.

3.4 Tempat Hinggap Nyamuk Istirahat


Tempat-tempat yang disenangi untuk tempat hinggap istirahat nyamuk
adalah tempat-tempat yang gelap, lembab, kurang angina dan jauh dari
gangguan predator atau gangguan [Link] pemilihan tempat hinggap,
nyamuk dibedakan menjadi :
1. Endophilik, nyamuk yang lebih suka hinggap istirahat di dalam
rumah atau bangunan (indoor resting).
2. Eksophilik, nyamuk yang lebih suka hinggap istirahat di luar
bangunan (outdoor resting).
Ada hinggap istirahat untuk sementara, yaitu sebelum dan sesudah
menggigit dan ada hinggap istirahat menunggu siklus gonotropik (pematangan
telur).

3.5 Penyebaran Nyamuk

Penyebaran nyamuk terjadi dengan dua cara :


1. Penyebaran aktif, bila ada nyamuk menyebar ke berbagai tempat
menurut kebiasaanterbangnya/kemampuan terbangnya.
2. Penyebaran pasif, bila nyamuk terbawa oleh angina atau
kendaraan jadi bukan oleh kekuatan terbangnya sendiri.
Nyamuk jantan cenderung berkumpul di dekat tempat
[Link] nyamuk jantan yang cukup banyak merupakan indikasi
bahwa di dekat tempat tersebut ada tempat perindukan nyamuk. Kelembaban
udara mengatur pola penyebaran nyamuk aktif. Populasi nyamuk
penyebarannya berbentuk kelompok-kelompok (cluster). Bentuk minimum suatu
cluster adalah dua kali jarak terbangnya. Misal,nyamuk [Link] jarak
terbangnya 50 meter, jadi bentuk cluster [Link] adalah 100 meter.
BAB IV
KESIMPULAN

4.1 Kesimpulan
Jadi, dapat disimpulkan bahwa nyamuk merupakan serangga
kesehatan yang termasuk ordo Diptera. Jenis ordo diptera tersebut adalah
untuk menentukan jenis nyamuk sebagai berikut adalah Nyamuk Aedes
agypti, Nyamuk Anopeles, dan Nyamuk Culex. Tetapi untuk menentukan
nyamuk tersebut diperlukan kunci identifikasi supaya mengetahui nyamuk jenis
apa yang akan kita ketahui nanti. Dan dalam bionomik / siklus hidupnya
berbeda-beda.
Tempat-tempat yang disenangi untuk tempat hinggap istirahat
nyamuk adalah tempat-tempat yang gelap, lembab, kurang angina dan jauh
dari gangguan predator atau gangguan [Link] pemilihan tempat
hinggap, nyamuk dibedakan menjadi :
1. Endophilik, nyamuk yang lebih suka hinggap istirahat di dalam
rumah atau bangunan (indoor resting).
2. Eksophilik, nyamuk yang lebih suka hinggap istirahat di luar
bangunan (outdoor resting).
Ada hinggap istirahat untuk sementara, yaitu sebelum dan sesudah
menggigit dan ada hinggap istirahat menunggu siklus gonotropik (pematangan
telur).
Penyebaran nyamuk dapat terjadi melalui dengan dua cara :
1. Penyebaran aktif, bila ada nyamuk menyebar ke berbagai
tempat menurut kebiasaan terbangnya/kemampuan
terbangnya.
2. Penyebaran pasif, bila nyamuk terbawa oleh angina atau
kendaraan jadi bukan oleh kekuatan terbangnya sendiri.
Nyamuk jantan cenderung berkumpul di dekat tempat
[Link] nyamuk jantan yang cukup banyak merupakan indikasi
bahwa di dekat tempat tersebut ada tempat perindukan nyamuk. Kelembaban
udara mengatur pola penyebaran nyamuk aktif. Populasi nyamuk
penyebarannya berbentuk kelompok-kelompok (cluster). Bentuk minimum suatu
cluster adalah dua kali jarak terbangnya. Misal,nyamuk [Link] jarak
terbangnya 50 meter, jadi bentuk cluster [Link] adalah 100 meter.
BAB V
REKOMENDASI / SARAN

5.1 Rekomendasi / Saran


Kami hanya bisa dapat menyarankan agar selalu menjaga
lingkungan sekitar supaya tidak menjadi tempat berkembangbiaknya nyamuk.
Pencegahan perkembang-biakan nyamuk Aedes aegypti sangat tepat
dilakukan dengan program 3M (Menguras, Menutup dan Mengubur) yang
disarankan oleh pemerintah. Menguras bak mandi, bak penampungan air,
tempat minum hewan peliharaan, menutup rapat tempat penampungan air serta
mengubur barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai, yang kesemuanya
dapat menampung air hujan sebagai tempat berkembang-biaknya nyamuk
Aedes aegypti sebagai vektor atau penular penyakit DBD tersebut sangat perlu
dilakukan.
Untuk mencegah gigitan nyamuk, upayakan agar selalu
memasang kawat nyamuk halus pada pintu, lubang jendela, dan ventilasi di
seluruh bagian rumah Anda. Hindari menggantung pakaian di kamar mandi, di
kamar tidur atau di tempat yang tidak terjangkau sinar matahari. Jagalah selalu
kebersihan lingkungan Anda.
DAFTAR PUSTAKA

[Link]
[Link]
[Link]
Majalah Kesehatan
Departemen Kesehatan Republik Indonesia
MAKALAH
PENGENDALIAN VEKTOR PENYAKIT
( PVP )

Disusun oleh :
 Nama : Dwi Hartanto
 NIM : P2.[Link].014
 Kelas : I. A

POLITEKNIK KESEHATAN JAKARTA II


JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
2007
DAFTAR ISI

Halaman
Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 1
1.3 Tujuan Penulisan 1
1.4 Manfaat Penulisan 2
BAB II DASAR TEORI 3
BAB III ANALISA PEMBAHASAN 14
3.1 Klasifikasi Aedes Aegypti 14
3.2 Klasifikasi Anopheles 15
3.3 Klasifikasi Culex 16
3.4 Tempat Hinggap Nyamuk Istirahat 16
3.5 Penyebaran Nyamuk 17
BAB IV KESIMPULAN 18
4.1 Kesimpulan 18
BAB V REKOMENDASI / SARAN 20
5.1 Rekomendasi / saran 20
DAFTAR PUSTAKA 21

Anda mungkin juga menyukai