0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan4 halaman

Survei Lokasi Komposter Komunal dengan Drone

Dokumen ini membahas proposal pemanfaatan drone mapping untuk survei penempatan komposter komunal dengan tujuan mengidentifikasi lokasi potensial dan menyusun peta rekomendasi. Terdapat juga tinjauan pustaka mengenai program Kang Pisman di Bandung yang bertujuan mengelola sampah secara efektif, serta pentingnya pengelolaan sampah organik menjadi kompos. Selain itu, dijelaskan tentang desain komposter rumah tangga komunal yang ramah lingkungan dan proses pengomposan yang efisien.

Diunggah oleh

Hafiz
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan4 halaman

Survei Lokasi Komposter Komunal dengan Drone

Dokumen ini membahas proposal pemanfaatan drone mapping untuk survei penempatan komposter komunal dengan tujuan mengidentifikasi lokasi potensial dan menyusun peta rekomendasi. Terdapat juga tinjauan pustaka mengenai program Kang Pisman di Bandung yang bertujuan mengelola sampah secara efektif, serta pentingnya pengelolaan sampah organik menjadi kompos. Selain itu, dijelaskan tentang desain komposter rumah tangga komunal yang ramah lingkungan dan proses pengomposan yang efisien.

Diunggah oleh

Hafiz
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

UAS Ekonomi dan Pengembangan Wilayah

Proposal Pemanfaatan Drone Mapping untuk Survei Penempatan Komposter Komunal

Tujuan khusus terkait lingkup drone mapping adalah:


A. Mengidentifikasi titik-titik potensial untuk komposter komunal;
B. Menggunakan drone untuk pemetaan spasial berbasis citra;
C. Menyusun peta rekomendasi lokasi komposter.

2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Program “Kang Pisman”
Sumber makalah berjudul: “Effectiveness of Kang Pisman Program (Reduce, Separate and
Utilise) in Waste Management in Bandung City”
Penulis: Tatik Fidowaty, Cici Nurnovianti
Tahun Publikasi: 2025
Ringkasan isi:
Pada tahun 2018, Pemerintah Kota Bandung memperkenalkan sebuah inisiatif lingkungan
yang dinamakan Kang Pisman, akronim dari Kurangi, Pisahkan, dan Manfaatkan. Program
ini bertujuan untuk menekan jumlah sampah, mendorong pemilahan sejak dari sumber, serta
memanfaatkan kembali sampah yang masih memiliki potensi untuk didaur ulang secara
efektif.

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas Program Kang Pisman (Kurangi,
Pisahkan, dan Manfaatkan) dalam pengelolaan sampah di Kota Bandung dengan
menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui wawancara, observasi, dan
dokumentasi. Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun sosialisasi program telah berjalan
baik dan meningkatkan pemahaman masyarakat, pengelolaan sampah masih belum optimal
karena fasilitas fisik yang belum memadai, sistem pengangkutan yang belum efisien, serta
rendahnya kesadaran dan partisipasi publik. Program ini telah diterapkan di beberapa RW,
namun masih menghadapi tantangan dalam hal kolaborasi antar pemangku kepentingan dan
pembagian peran yang jelas. Meskipun demikian, Kang Pisman dinilai berhasil
meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pemilahan dan pemanfaatan sampah,
terutama dalam upaya mengurangi sampah dari sumbernya.

2.2 Kompos
World Health Organization (WHO) menyatakan, sampah merupakan benda yang tidak lagi
digunakan oleh manusia dan dibuang, serta tidak berasal dari proses alamiah. Sementara itu,

3
UAS Ekonomi dan Pengembangan Wilayah
Proposal Pemanfaatan Drone Mapping untuk Survei Penempatan Komposter Komunal

berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, sampah


didefinisikan sebagai sisa padat dari aktivitas manusia sehari-hari atau hasil dari proses alam.
Salah satu kontributor terbesar terhadap volume sampah adalah limbah rumah tangga. Upaya
pengelolaan dapat dimulai dari rumah dengan membedakan sampah organik dan anorganik.
Limbah dapur seperti sayuran dan makanan basi dapat dimanfaatkan menjadi kompos yang
berguna bagi tanah dan tanaman (Agustrina et al., 2023). Tanpa penanganan yang tepat,
sampah bisa menimbulkan berbagai dampak negatif seperti banjir, perubahan iklim, bau
tidak sedap, hingga penyebaran penyakit. Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk
dan kemajuan industri, pencemaran lingkungan menjadi tantangan besar bagi semua
makhluk hidup (Sompotan & Sinaga, 2022). Meskipun limbah rumah tangga tidak dapat
dihilangkan sepenuhnya, pengurangan dapat dilakukan melalui pemilahan sampah organik
dan anorganik, yang selanjutnya dapat diolah menjadi kompos atau didaur ulang (Tamyiz et
al., 2020).

Pada kenyataannya, pengelolaan sampah organik masih belum dilakukan secara maksimal,
terutama dalam pemanfaatan sampah sebagai kompos. Oleh karena itu, dibutuhkan
sosialisasi dan praktik langsung penggunaan bioaktivator yang dapat mempercepat proses
pengomposan. Kompos sendiri merupakan hasil dari proses penguraian bahan organik oleh
mikroorganisme (Warjoto et al., 2018) dan memiliki berbagai manfaat lingkungan, seperti
memperbaiki struktur dan kesuburan tanah serta meningkatkan hasil pertanian secara
berkelanjutan (Shitophyta et al., 2021).

Proses pembuatan kompos dapat dilakukan secara aerob maupun anaerob. Pada sistem
aerob, penguraian bahan organik berlangsung dengan bantuan oksigen dan menghasilkan
karbon dioksida, air, dan panas (Nur et al., 2018). Sedangkan dalam kondisi anaerob,
pengomposan berlangsung tanpa oksigen di dalam wadah tertutup, dibantu oleh
mikroorganisme untuk memecah bahan organik menjadi senyawa seperti asam organik,
karbon dioksida, dan gas metana (Erickson Sarjono Siboro et al., 2013).

Tabel 1. Perbandingan Kompos untuk Pupuk vs Pakan Maggot

Kompos untuk Kompos untuk Pakan


Aspek Sumber Referensi
Pupuk Maggot BSF
Tujuan Menghasilkan pupuk Menyediakan media SNI 19-7030-2004;
Utama organik untuk makan bagi larva maggot Nugroho (2020);
tanaman BSF FAO (2021)

4
UAS Ekonomi dan Pengembangan Wilayah
Proposal Pemanfaatan Drone Mapping untuk Survei Penempatan Komposter Komunal

Kompos untuk Kompos untuk Pakan


Aspek Sumber Referensi
Pupuk Maggot BSF
Material - Daun kering, - Ampas tahu, tempe Sutanto (2002);
Sampah jerami, rumput - Nasi basi, kulit buah Ridwan et al.
kering lunak (2021); Warintek
- Kulit buah & sayur - Sisa makanan tanpa BSF Indonesia
- Serbuk gergaji minyak/ garam tinggi
- Kertas/kardus - Ampas kelapa
tanpa tinta - Daging busuk yang
berbahaya sudah direbus
Tekstur Cenderung kering Lembap, lunak, cepat Composting
Bahan atau seimbang antara membusuk Handbook (EPA,
bahan “hijau” (N) 2016); FAO, 2021
dan “cokelat” (C)
Perlu Disarankan untuk Tidak wajib, tapi FAO (2021);
Pencacahan? mempercepat disarankan untuk Nugroho (2020);
dekomposisi mempercepat konsumsi Zulkifli et al.
oleh maggot (2022)
Proses Dekomposisi Fermentasi ringan 1–2 EPA (2016); BSF
Pengolahan mikroorganisme (1– hari, lalu langsung Indonesia
3 bulan), bisa aerob diberikan ke maggot Guidebook (2021)
atau anaerob
Durasi Proses 1–3 bulan hingga 5–15 hari untuk panen Kompos by KLHK
matang sempurna larva (tergantung suhu (2015); BSF
dan bahan) Academy
Indonesia
Mikroorganis Bakteri, jamur, Larva BSF (Black Nugroho (2020);
me Terlibat cacing tanah Soldier Fly) sebagai Warintek BSF
pengurai utama
Pengadukan Ya, 1–2 kali Tidak wajib, cukup EPA (2016); BSF
(aerasi) seminggu untuk menambah bahan segar Training Module
sirkulasi udara secara berkala
Bau Harum tanah, tidak Bau fermentasi/busuk FAO (2021);
menyengat jika dari bahan lembap Sutanto (2002)
seimbang
Hasil Akhir Kompos remah, Maggot (untuk pakan KLHK (2015);
hitam, siap pakai ternak) + sisa media BSF Indonesia
untuk media tanam (kasgot) sebagai pupuk
Manfaat Memperbaiki Mengurangi limbah Zulkifli et al.
Tambahan struktur dan organik + menghasilkan (2022); FAO
kesuburan tanah protein pakan alternatif (2021)

5
UAS Ekonomi dan Pengembangan Wilayah
Proposal Pemanfaatan Drone Mapping untuk Survei Penempatan Komposter Komunal

Kompos untuk Kompos untuk Pakan


Aspek Sumber Referensi
Pupuk Maggot BSF
Kebutuhan Medium–besar: Fleksibel: ember, baki, Sutanto (2002);
Lahan keranjang, tong plastik, hingga BSF Budidaya
komposter statis, biopond skala besar Komunitas
lubang tanah
Skalabilitas Cocok untuk rumah Cocok untuk peternak FAO (2021);
tangga, sekolah, dan ikan, ayam, atau usaha Warintek BSF
pertanian rumah budidaya maggot Indonesia

2.3 Komposter Komunal


Sumber makalah berjudul: “Rancang Bangun Komposter Rumah Tangga Komunal sebagai
Solusi Pengolahan Sampah Mandiri Kelurahan Pasirjati Bandung”
Penulis: Noviyanti Nugraha, Nuha Desi Anggraeni, Muhammad Ridwan, Odi Fauzi, David
Yusuf
Tahun Publikasi: 2017
Ringkasan isi:
Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan membangun komposter rumah tangga
komunal sebagai solusi pengolahan sampah organik mandiri di Kelurahan Pasirjati, Kota
Bandung. Komposter yang dikembangkan bertipe horizontal dengan dua jenis agitator
(horizontal dan sudut 30°), serta dapat digerakkan secara manual atau menggunakan motor
listrik berdaya 0,5 HP. Kapasitas komposter mencapai 40 kg dengan drum berukuran 200
liter, dan dirancang agar ramah lingkungan serta sesuai untuk pemukiman padat. Proses
pengomposan berlangsung selama 7–9 hari, dengan pengadukan dua kali sehari dan
pemberian mikroba pengurai. Hasil kompos yang dihasilkan memenuhi standar SNI 19-
7030-2004, dengan karakteristik fisik berwarna cokelat kehitaman, tidak berbau, dan
bertekstur seperti tanah. Inovasi ini diharapkan mampu mendorong masyarakat dalam
mengelola sampah rumah tangga secara mandiri dan efektif.

2.4 Pemetaan UAV


Sumber makalah berjudul: “Identifikasi Saluran Irigasi Menggunakan Teknologi Drone
LiDAR dengan Metode Object-Based Image Analysis (OBIA)”
Penulis: Arrofiqoh, Erlyna Nour, dan Ni Putu Praja Chintya
Tahun Publikasi: 2022
Ringkasan isi:

Anda mungkin juga menyukai