0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan38 halaman

Analisis Struktur dan Dinding Geser pada Bangunan

Dokumen ini membahas berbagai aspek analisis struktur menggunakan perangkat lunak ETABS, termasuk ketahanan struktur, dinding geser, dan bangunan tahan gempa. Selain itu, dokumen ini menjelaskan kombinasi pembebanan dan pembebanan struktur sesuai dengan standar SNI, serta metode perhitungan gaya geser dasar seismik. Informasi ini penting untuk perencanaan dan evaluasi struktur bangunan yang aman dan tahan terhadap gempa.

Diunggah oleh

Rizal Rifdo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan38 halaman

Analisis Struktur dan Dinding Geser pada Bangunan

Dokumen ini membahas berbagai aspek analisis struktur menggunakan perangkat lunak ETABS, termasuk ketahanan struktur, dinding geser, dan bangunan tahan gempa. Selain itu, dokumen ini menjelaskan kombinasi pembebanan dan pembebanan struktur sesuai dengan standar SNI, serta metode perhitungan gaya geser dasar seismik. Informasi ini penting untuk perencanaan dan evaluasi struktur bangunan yang aman dan tahan terhadap gempa.

Diunggah oleh

Rizal Rifdo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

2 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Software Analisis Struktur

Program ETABS merupakan program analisis struktur yang dikembangkan

oleh perusahaan Software Computers and Structures, Incorporated (CSI) yang

berada di Barckley, California, Amerika Serikat. (Andrianto, 2007). ETABS

merupakan salah satu program analisis struktur yang dapat menganalisis struktur

gedung secara static untuk memperoleh gaya-gaya dalam yang diperlukan untuk

perencanaan struktur. Ketahanan struktur balok dan kolom dapat dianalisa

menggunakan program ETABS. Ketahanan struktur ditunjukkan setelah melalui

hasil running program pada menu check design structure. Khusus evaluasi

ketahanan struktur kolom divisualisasikan melalui indikasi warna-warna yang

dikeluarkan oleh program ETABS. Warna-warna tersebut merupakan nilai rasio

kapasitas penampang elemen struktur tersebut terhadap beban yang dihitung secara

otomatis oleh program. Berikut analisa warna untuk ketahanan struktur pada

program ETABS:

1. warna biru muda: rasio 0.00 sampai 0.50: Sangat Aman,

2. warna hijau: rasio 0.50 sampai 0.70: Aman,

3. warna kuning: rasio 0.70 sampai 0.90: Aman,

4. warna ungu: rasio 0.90 sampai 0.94: Cukup aman,

5. warna merah: rasio >0.95: Kritis (Over Stress/OS).

7
2.2 Dinding Geser

Menurut SNI 2847:2019 “persyaratan beton structural untuk bangunan

gedung” dinding geser adalah dinding yang diproporsikan untuk menahan

kombinasi geser, momen, dan gaya aksial. Dalam perencanaannya dinding geser

harus direncanakan terhadap beban eksentris dan setiap beban lateral atau beban

lain yang bekerja padanya. Dinding geser secara geometri dapat diklasifikasikan

menjadi tiga, yaitu: (SNI 2847, 2019)

1. flexural wall (dinding langsing), yaitu dinding geser yang memiliki rasio

hw/lw > 2 dan desainnya dikontrol oleh perilaku lentur,

2. squat wall (dinding pendek), yaitu dinding geser yang memiliki rasio

hw/lw < 2 dan desainnya dikontrol oleh perilaku geser, dan

3. coupled shearwall (dinding berangkai), dimana momen guling yang

terjadi akibat beban gempa ditahan oleh sepasang dinding, yang

dihubungkan oleh balok-balok perangkai, sebagai gaya-gaya tarik dan

tekan yang bekerja pada masing-masing dasar pasangan dinding tersebut.

Di dalam SNI 03-2847-2019 terdapat syarat ketebalan dinding pendukung

yang dilakukan dengan cara empiris tidak boleh kurang daripada 1/25 tinggi atau

panjang bagian dinding yang ditopang secara lateral, diambil yang terkecil, dan

tidak pula kurang daripada 100 mm. Dalam perencanaan dinding geser harus

dilakukan perhitungan terhadap beban eksentris dan setiap beban lateral atau beban

lainnya yang bekerja padanya.

Design dari shear wall membantu dalam kinerja struktur sebuah gedung. Jadi

gaya geser yang ditahan oleh sistem struktur disetiap tingkat bisa dihitung

berdasarkan rasio kekakuan dengan memakai prinsip statis tak tertentu. Gedung

8
yang sesungguhnya tidak memiliki dinding geser yang berdiri sendiri karena

dinding berhubungan dalam segala arah dengan balok atau batang lain ke kolom-

kolom disekitarnya. Sehingga deformasi dinding akan dibatasi dan keadaan ini

sebagai pengaruh pembatasan (boundary effect). Agar daya tahan dinding dapat

berfungsi sebagaimana mestinya, maka syarat-syarat harus dipenuhi. Ananda MS,

(2014).

2.3 Bangunan Tahan Gempa

Bangunan tahan gempa adalah bangunan yang mampu bertahan dan tidak

runtuh jika terjadi gempa. Bangunan tahan gempa bukan berarti tidak boleh

mengalami kerusakan sama sekali namun bangunan tahan gempa boleh mengalami

kerusakan asalkan masih memenuhi persyaratan yang berlaku.

Pendapat Widodo (2012) filosofi bangunan tahan gempa adalah sebagai

berikut:

1. Pada gempa kecil (light, atau minor earthquake) yang sering terjadi, maka

struktur utama bangunan harus tidak rusak dan berfungsi dengan baik.

Kerusakan kecil yang masih dapat ditoleransi pada elemen non struktur

masih dibolehkan,

2. Pada gempa menengah (moderate earthquake) yang relatif jarang terjadi,

maka struktur utama bangunan boleh rusak/retak ringan tapi masih dapat

diperbaiki. Elemen non struktur dapat saja rusak tetapi masih dapat

diganti yang baru,

3. Pada gempa kuat (strong earthquake) yang jarang terjadi, maka bangunan

boleh rusak tetapi tidak boleh runtuh total (totally collapse). Kondisi

9
seperti ini juga diharapkan pada gempa besar (great earthquake), yang

tujuannya adalah melindungi manusia/penghuni bangunan secara

maksimum.

Level-level kerusakan bangunan yang dimaksud dapat diilustrasikan pada

Gambar 2.1 di bawah ini.

Gambar 2.1 Level-level kerusakan bangunan

(Sumber: Widodo, 2012)

2.4 Kombinasi Pembebanan

Beban kombinasi yang direncanakan sesuai desain ultimit. Maka kombinasi

beban yang diberikan pada struktur bangunan harus mengacu pada SNI 1726:2019.

Menurut (Tavio & Wijaya, 2018) berdasarkan Tata Cara Perencanaan Ketahanan

Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Nongedung sebagai berikut:

1. U = 1.4 D (2-1)

2. U = 1.2 D + 1.6 L (2-2)

10
3. U = 1.2 D + 1.0 Eqx + 0.3 Eqy + 0.5 L (2-3)

4. U = 1.2 D + 1.0 Eqx - 0.3 Eqy + 0.5 L (2-4)

5. U = 1.2 D - 1.0 Eqx + 0.3 Eqy + 0.5 L (2-5)

6. U = 1.2 D - 1.0 Eqx - 0.3 Eqy + 0.5 L (2-6)

7. U = 1.2 D + 1.0 Eqy + 0.3 Eqx + 0.5 L (2-7)

8. U = 1.2 D + 1.0 Eqy - 0.3 Eqx + 0.5 L (2-8)

9. U = 1.2 D - 1.0 Eqy + 0.3 Eqx + 0.5 L (2-9)

10. U = 1.2 D - 1.0 Eqy - 0.3 Eqx + 0.5 L (2-10)

11. U = 0.9 D + 1.0 Eqx + 0.3 Eqy (2-11)

12. U = 0.9 D + 1.0 Eqx - 0.3 Eqy (2-12)

13. U = 0.9 D - 1.0 Eqx + 0.3 Eqy (2-13)

14. U = 0.9 D - 1.0 Eqx - 0.3 Eqy (2-14)

15. U = 0.9 D + 1.0 Eqy + 0.3 Eqx (2-15)

16. U = 0.9 D + 1.0 Eqy - 0.3 Eqx (2-16)

17. U = 0.9 D - 1.0 Eqy + 0.3 Eqx (2-17)

18. U = 0.9 D - 1.0 Eqy - 0.3 Eqx (2-18)

19. Graf = 1.2 D + 1.0 L (2-19)

di mana D = beban mati, L = beban hidup, Ex = beban gempa arah x dan Ey= beban

gempa arah y

2.5 Pembebanan Struktur

Pada proses perencanaan maupun peninjauan struktur bangunan harus

diperhitungkan beban-beban yang bekerja pada struktur bangunan tersebut.

Berdasarkan Beban desain minimum dan kriteria terkait untuk bangunan gedung

11
dan struktur lain (SNI 1727:2020) maka beban yang bekerja pada bangunan yang

ditinjau dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Beban mati ialah berat seluruh bahan konstruksi bangunan gedung yang

terpasang, termasuk dinding, lantai, atap, plafon serta peralatan tetap yang

merupakan bagian yang tak terpisahkan dari gedung itu.

2. Beban hidup ialah beban yang diakibatkan oleh pengguna dan penghuni

bangunan gedung tersebut atau struktur lain yang tidak termasuk beban

konstruksi dan beban lingkungan, contohnya seperti beban angin, beban

hujan, beban gempa, beban banjir, atau beban mati.

3. Beban gempa ialah semua beban statik ekuivalen yang bekerja pada

gedung atau bagian gedung yang menirukan pengaruh dari gerakan tanah

akibat gempa itu.

2.6 Kajian Pembebanan Statik Ekivalen untuk Gempa

Kajian pembebanan static ekivalen untuk gempa berdasarkan Standar

Nasional Indonesia (SNI 1726:2019) dapat dilihat pada subbab dibawah ini.

2.6.1 Gaya Geser Dasar Seismik Respons (V1)

Kekuatan besarnya gaya geser dasar seismik respons ragam pertama (V1)

untuk arah x dan arah y menggunakan prosedur gaya lateral ekivalen, harus dihitung

berdasarkan (SNI 1726:2019) Pasal 7.8.1 melalui Persamaan (2.20)

V1 = C1 . Wt (2-20)

di mana C1 = koefisien desain seismic dan Wt = jumlah berat seismik efektif

12
2.6.2 Koefisien Respons Sesimik (Cs)

Dalam penentuan koefisien respons seismik (Cs) didasarkan pada (SNI

1726- 2019) Pasal [Link]. Koefisien respons seismik ditinjau dari arah arah x dan

arah y dihitung menggunakan Persamaan (2.21), (2.22) dan (2.23).

Cs min = [Link] > 0,01 (2-21)

Cs maks = 𝑆𝐷𝑠 .𝐼𝑒 (2-22)


𝑅

Cs hitungan = 𝑆𝐷1 .𝐼𝑒 (2-23)


𝑇. 𝑅

di mana SDs = parameter respons spektral percepatan desain pada perioda pendek,

SD1 = parameter respons spektral percepatan desain pada perioda 1 detik, Ie = faktor

keutamaan gempa (SNI 1726:2019) pasal 4.1.2, T = periode fundamental struktur

dan R = faktor modifikasi respon (SNI 1726:2019) pasal 7.2.2.

Tabel 2.1 Faktor Keutamaan Gempa

Kategori Resiko Faktor Keutamaan Gempa (Ie)

I atau II 1

III 1,25

IV 1,50

2.6.3 Distribusi Vertikal Gaya Geser Dasar Seismik (FX)

Gaya geser dasar seismik selanjutnya didistribusikan vertikal ke lantai di

atasnya, dengan menggunakan Persamaan (2.24) dalam (SNI 1726:2019):

Fx = Cvx x V1
(2-24)
Cvx 𝑤𝑥 ℎ𝑥𝑘
= ∑𝑛
𝑖=1 𝑤𝑖 ℎ𝑖𝑘

13
di mana Fx = Faktor distribusi vertikal, V = gaya geser dasar seismik, wi,wx = bagian

berat seismik efektif total struktur (W) yang dikenakan pada tingkat i atau x, hi, hx=

tinggi dari dasar sampai tingkat i atau x, dan k = eksponen yang terkait dengan

periode struktur, ditentukan sebagai berikut: 1 untuk struktur dengan T<0.5 detik,

2 untuk struktur dengan T>2.5 detik, 2 atau dilakukan interpolasi linier antara 1 dan

2, untuk 0.5<T<2.5.

2.6.4 Periode Getar Fundamental

Penentuan nilai periode getar fundamental didasarkan pada (SNI 1726-

2019) Pasal 7.8.2, untuk periode getar fundamental suatu bangunan dibatasi nilai

maksimum dan nilai minimum. Periode getar fundamental untuk nilai maksimum

ditinjau dari arah x dan arah y dihitung dengan Persamaan (2.25).

Ta maks = 𝐶𝑢 𝑇𝑎 𝑚𝑖𝑛 (2-24)

Koefisien Cu ditentukan melalui Tabel 2.2.

Tabel 2.2 Koefisien untuk batas atas pada perioda (SNI 1726:2019)

Parameter percepatan respons spektral Koefisien

desain pada titik (SD1) (Cu)

> 0,4 1,4

0,3 1,4

0,2 1,5

0,15 1,6

< 0,1 1,7

14
Periode getar fundamental untuk nilai minimum ditinjau dari arah x dan

arah y dihitung dengan Persamaan (2.26).

Ta min = 𝐶𝑡 𝐻𝑛𝑥 (2-26)

di mana Hnx adalah ketinggian struktur, dalam (m), di atas dasar sampai tingkat

tertinggi struktur, dan koefisien Ct dan x ditentukan dari Tabel 2.3.

Tabel 2.3 Nilai Parameter Perioda Pendekatan Ct dan x berdasarkan

(SNI 1726:2019)

Tipe Struktur Ct x

Sistem rangka pemikul momen di mana rangka memikul


- 1.00
100 persen gaya gempa yang disyaratkan dan tidak

dilingkupi atau dihubungkan dengan komponen yang lebih

kaku dan akan mencegah rangka dari defleksi jika dikenai

gaya gempa seismik

Rangka baja pemikul momen 0.0724 0.80

Rangka beton pemikul momen 0.0466 0.90

Rangka baja dengan bresing eksentris 0.0731 0.75

Rangka baja dengan bresing terkekang terhadap tekuk 0.0731 0.75

Semua sistem struktur lainnya 0.0488 0.75

2.6.5 Gaya Geser Dasar Seismik Spektrum Respons Ragam (Vt)

Pemodelan ETABS dapat menghitung besarnya nilai story shears. Nilai

story shear pada lantai dasar merupakan gaya geser dasar seismik respons spektrum

yang dapat diperoleh dari hasil running analisis program ETABS.

15
2.6.6 Faktor Skala Gaya Geser Dasar Seismik Spektrum Respons Ragam

Berdasarkan (SNI 1726:2019) Pasal [Link].1, apabila nilai gaya geser dasar

seismik respons spektrum (Vt) lebih kecil 100% dari gaya geser dasar yang dihitung

menggunakan prosedur gaya lateral ekivalen (V1), maka nilai gaya Vt harus

dikalikan dengan faktor skala. Nilai faktor skala tersebut dapat dihitung dengan

Persamaan (2.27) (SNI 1726:2019) Pasal [Link].2:

Faktor skala 𝑉𝑥
= >1 (2-27)
𝑉𝑡

2.6.7 Faktor Redudansi (ρ) untuk Kategori Desain Seismik D sampai F

Berdasarkan (SNI 1726:2019) Pasal [Link], untuk struktur yang dirancang

pada kategori desain seismik D, E atau F, maka ρ harus sama dengan 1.3 artinya

apabila ditemukan pada lantai tertentu tidak memenuhi nilai 35% dari Vt, maka

nilai gaya geser lantai tiap lantai harus dikalikan dengan ρ=1.3. Jika tiap lantai

memenuhi 35% dari Vt, maka diizinkan nilai ρ=1.

2.7 Grafik Respons Spektra

Respons spektrum merupakan grafik hubungan nilai puncak responsstruktur

percepatan akibat gempa sebagai fungsi dari periode natural system struktur.

Spektrum gempa dibuat berdasarkan Peta Gempa Indonesia 2021. Pembuatan

spektrum gempa disesuaikan dengan letak geografis dan kategori kelas jenis situs

tanah bangunan. Pembuatan grafik respons spektra dipengaruhi oleh data nilai

parameter percepatan respons spektral desain dan nilai periode getar fundamental.

16
Nilai parameter percepatan respons spektral desain dipengaruhi oleh jenis

kelas situs tanah. Jika kelas situs tanah telah diketahui, maka selanjutnya dapat

ditentukan parameter-parameter percepatan gempa untuk pembuatan grafik respons

spektrum.

2.7.1 Parameter Percepatan Terpetakan

Parameter percepatan batuan dasar pada perioda pendek (SS) dan percepatan

batuan dasar pada perioda 1 detik (S1) harus ditetapkan masing-masing dari respons

spektral percepatan 0.2 detik dan 1 detik dalam peta gerak tanah seismik (SNI

1726:2019). Nilai SS dan S1 dapat juga diperoleh melalui hasil analisa website

aplikasi desain spektra Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemukiman

(PUSKIM), Kementrian Pekerjaan Umum.

2.7.2 Parameter Respons Spektral Percepatan Gempa Maksimum yang

Dipertimbangkan Resiko –Tertarget (MCER)

Penentuan parameter respons spektral percepatan gempa MCER di

permukaan tanah, diperlukan suatu faktor amplifikasi seismik pada perioda 0.2

detik dan perioda 1 detik. Faktor amplifikasi meliputi faktor amplifikasi getaran

terkait percepatan pada getaran perioda pendek (Fa) dan faktor amplifikasi terkait

percepatan yang mewakili getaran perioda 1 detik (Fv). Parameter percepatan

respons spektral MCER pada perioda pendek (SMS) dan perioda 1 detik (SM1) yang

disesuaikan dengan pengaruh klasifikasi situs, harus ditentukan dengan Persamaan

(2.28) dan (2.29) berdasarkan (SNI 1726:2019) Pasal 6.2

𝑆𝑀𝑆 = 𝐹𝑎 𝑆𝑠 (2-28)

𝑆𝑀1 = 𝐹𝑣 𝑆1 (2-29)

17
Penentuan koefisien situs Fa (Koefisien situs untuk perioda pendek pada

perioda 0.2 detik) ditentukan berdasarkan nilai Ss pada Tabel 2.4. Penentuan

koefisien situs Fv (Koefisien situs untuk perioda panjang pada perioda 1 detik)

ditentukan berdasarkan nilai S1 pada Tabel 2.5.

Tabel 2.4 Koefisien Situs, Fa

(SNI 1726:2019)

Parameter respons spektral percepatan gempa MCER terpetakan


Kelas
pada perioda pendek, T=0.2 detik, SS
Situs
SS < 0.25 SS < 0.50 SS < 0.75 SS < 1.0 SS < 1.0 SS < 1.5

SA 0.8 0.8 0.8 0.8 0.8 0.8

SB 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9

SC 1.3 1.3 1.2 1.2 1.2 1.2

SD 1.6 1.4 .1.2 .1.1 1.0 1.0

SE 2.4 1.7 1.3 1.1 0.9 0.8

SF SS(a)

Tabel 2.5 Koefisien Situs, Fv

(SNI 1726:2019)

Parameter respons spektral percepatan gempa MCER terpetakan


Kelas
pada perioda pendek, T=1 detik, SS
Situs
SS < 0.1 SS < 0.2 SS < 0.3 SS < 0.4 0.5 0.6

SA 0.8 0.8 0.8 0.8 0.8 0.8

SB 0.8 0.8 0.8 0.8 0.8 0.8

SC 1.5 1.5 1.5 1.5 1.5 1.4

18
SD 2.4 2.2 2.0 1.9 1.8 1.7

SE 4.2 3.3 2.8 2.4 2.2 2.0

SF SS(a)

2.8 Simpangan Antar Lantai dari Kinerja Batas Ultimit

Kinerja batas ultimit ditentukan oleh simpangan antar tingkat maksimum

struktur akibat pengaruh gempa rencana dalam kondisi strutur gedung diambang

keruntuhan, dimaksudkan untuk membatasi kemungkinan terjadinya keruntuhan

struktur gedung yang dapat menimbulkan korban jiwa dan benturan antar gedung.

Hasil dari analisis struktur akan menghasilkan gaya-gaya dalam, antara lain:

gaya momen, geser, torsi dan axial. Program ETABS juga dapat mengeluarkan data

output berupa base shear dan displacement atau total drift. Nilai total drift disebut

juga dengan nilai perpindahan elastis di lantai tingkat x (δex). Nilai perpindahan

elastis antar lantai diperoleh dari hasil selisih nilai δex lantai tingkat atas dikurangi

δex lantai tingkat bawah. Menurut BSN (2019) dalam (SNI 1726- 2019)

menjelaskan bahwa nilai perpindahan elastis antar lantai (story drift) harus dihitung

dengan faktor perbesaran atau amplifikasi defleksi dan faktor keutamaan gempa.

Nilai perpindahan atau simpangan antar lantai tingkat (story drift) yang

diperbesar, ditentukan melalui Persamaan (2.30).

𝛿𝑥 = 𝐶𝑑 𝛿𝑥𝑒 (2-30)
𝐼 𝑒

di mana Cd = faktor amplifikasi defleksi, 𝛿xe= defleksi pada lokasi yang disyaratkan

(ditentukan dengan analisis elastis), dan Ie = faktor keutamaan gempa.

19
Penentuan batas nilai story drift/simpangan antar lantai tingkat desain (Δx)

ditentukan berdasarkan tipe dari sistem struktur penahan gaya seismik pada Tabel

2.6. berdasarkan (SNI 1726:2019) Pasal 7.12.1

Tabel 2.6 Simpangan Antar Lantai Ijin berdasarkan

(SNI 1726:2019)

Kategori Resiko
Struktur
I atau II III IV
𝑐
Struktur, selain dari struktur dinding geser 0.025ℎ𝑠𝑥 0.020ℎ𝑠𝑥 0.015ℎ𝑠𝑥

batu bata, 4 tingkat atau kurang dengan

dinding interior, partisi, langit-langit dan

sistem dinding eksterior yang telah didesain

untuk mengakomodasi simpangan antar lantai

tingkat.

Struktur dinding geser kantilever batu batad 0.010ℎ𝑠𝑥 0.010ℎ𝑠𝑥 0.010ℎ𝑠𝑥

Struktur dinding geser batu bata lainnya 0.007ℎ𝑠𝑥 0.007ℎ𝑠𝑥 0.007ℎ𝑠𝑥

Semua struktur lainnya 0.020ℎ𝑠𝑥 0.015ℎ𝑠𝑥 0.010ℎ𝑠𝑥

dimana hsx adalah tinggi tingkat dibawah tingkat x.

2.9 Pengertian Analisis Statik Non-Linier (Pushover Analysis)

Analisis nonlinear static pushover (beban dorong) merupakan

penyerdehanaan dari analisis nonlinear dynamic time history (riwayat waktu).

Analisis beban dorong ini menerapkan beban di mana besar beban meningkat terus

menerus sampai kondisi yang diinginkan. Dalam analisis ini, beban gempa

20
terdistribusi vertikal dan diasumsikan sebagai beban statik yang bekerja pada titik

pusat massa disetiap lantai. Beban gempa inilah yang akan ditingkatkan secara

bertahap sampai terjadi sendi plastis.

2.10 Analisis Beban Dorong Berdasarkan ATC-40 (Capacity-Spectrum

Method

Capacity-spectrum method merupakan analisis statis nonlinier yang

memberikan hasil berupa grafik dari kurva global force-displacement capacity

dengan respone spectra. Hasil tersebut memberikan gambaran yang jelas tentang

bagaimana bangunan merespon gerakan gempa. Prinsip metode ini adalah mencari

titik temu antara pada spectrum kapasitas dengan respon spectrum sesuai dengan

permintaan (demand).

2.10.1 Kapasitas (Capacity)

Kurva kapasitas dibuat untuk mewakili respons dari struktur pada mode

pertama, dengan asumsi mode pertama ini adalah mode yang dominan yang bekerja

pada struktur. Hal ini umumnya berlaku untuk bangunan dengan periode getaran

sampai dengan 1 detik.

Kurva kapasitas merupakan kurva yang memperlihatkan hubungan antara

peralihan lantai atap dengan gaya geser dasar (base shear) akibat dari pemberian

beban lateral secara bertahap pada struktur. Kurva kapasitas ditunjukkan pada

Gambar 2.2.

21
Gambar 2.2 Kurva Kapasitas

(Sumber : ATC - 40)

2.10.2 Permintaan (Demand)

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa kinerja erat kaitannya

dengan permintaan. Oleh karena itu, sebelum menentukan hal-hal yang perlu

dipersiapkan untuk mendesain struktur gedung sesuai dengan permintaan, maka

kita harus mengetahui hal-hal yang perlu dipersiapkan untuk memperoleh suatu

nilai kinerja. Di mana dalam kondisi ini, lokasi titik kinerja (performance) berada

pada perpotongan:

1. Titik berada di kurva spectrum kapasitas mewakili struktur saat terjadi

perpindahan.

2. Titik berada pada demand spectrum. Demand spectrum tersebut

merupakan reduksi dari kurva spectrum dengan redaman 5%.

Kurva spectrum dengan redaman 5% diperoleh dengan mengalikan kurva

spectrum tersebut dengan suatu faktor reduksi. Berikut ini adalah langkah-langkah

yang perlu dilakukan untuk memperoleh faktor reduksi:

1. Mengubah kurva kapasitas menjadi spectrum kapasitas (capacity spectrum)

Spectrum kapasitas adalah representasi dari kurva dengna format

Acceleration-Displacement Respons Spectra (ADRS) atau disebut juga kurva

22
Sa versus Sd. Kurva Kapasitas dan Spektrum Kapasitas dapat dilihat pada

Gambar 2.3. Persamaan yang digunakan untuk mengubah kurva kapasitas

menjadi spectrum kapasitas adalah sebagai berikut (Applied Technology

Council. 1996):

∫ 𝑃𝐹1 = ∑𝑁𝑖=1(𝑚𝑖 ∅𝑖𝑙 ) (2-31)


2
∑𝑁 𝑖=1(𝑚𝑖 ∅𝑖𝑙 )

2
∫ 𝑃𝐹1 = ∑𝑁
𝑖=1(𝑚𝑖 ∅𝑖𝑙 ) (2-32)
2
∑𝑁 𝑁
𝑖=1(𝑚𝑖 ) ∑𝑖=1(𝑚𝑖 ∅𝑖𝑙 )

Sa = 𝑉 / 𝑊 (2-33)
𝛼 1

Sd = ∆𝑟𝑜𝑜𝑓 (2-34)
𝑃𝐹1 ∅ 𝑟𝑜𝑜𝑓.1

di mana PF1= Modal participation factor untuk mode 1, α = Modal mass coefficient

untuk mode1, Mi = Massa lantai ke-i, ∅𝑖𝑙 = Amplitudo dari mode 1 pada lantai-i,

N = Tingkat ke N, tingkat utama, V = Gaya geser dasar, W = Berat mati bangunan,

Δroof = Peralihan atap, Sa = Spectral acceleration, dan Sd = Spectral displacement.

Gambar 2.3 Kurva Kapasitas dan Spektrum Kapasitas

(Sumber: ATC - 40)

23
2. Mengubah respons spectrum tradisional dengan redaman 5% menjadi demand

spectrum dalam format ADRS

Persamaan yang digunakan untuk mengubah respons spectrum tradisional

menjadi deman spectrum pada Gambar 2.4 dalam format ADRS adalah sebagai

berikut (Applied Technology Council. 1996):

s = 1 𝑆𝑎 𝑇 2 (2-35)
4𝜋 2

di mana Sa = Spectral acceleration, Sd = Spectral displacement, T = Periode (detik)

Gambar 2.4 Respons Spektrum Tradisional dan Demand Spectrum

(Sumber: ATC - 40)

3. Menampilkan spectrum kapasitas dan demand spectrum dalam satu grafik

Langkah ini dilakukan untuk menentukan perkiraan awal api dan dpi. Grafik

kedua spectrum ini dapat dilihat pada Gambar 2.5.

24
Gambar 2.5 Plot Spektrum Kapasitas dan Demand Spektrum

(Sumber: ATC - 40)

4. Membentuk kurva representasi bilinier

Kurva representasi bilinear dibentuk dari spectrum kapasitas dengan

ketentuan sebagai berikut:

Gambar 2.6 Representasi Bilinear dari Spektrum Kapasitas

(Sumber: ATC - 40)

Kurva representasi bilinier Gambar 2.9 ini dibuat dengan menyamakan luas

A1 dengan luas A2. Tujuan menyamakan kedua luasan ini adalah agar masing

masing daerah memiliki energi disipasi akibat damping yang sama.

25
5. Menentukan nilai 𝛽0

Untuk mendapatkan nilai 𝛽0 maka diperlukan damping energi (ED) yang

diperoleh dengan rumus (Applied Technology Council. 1996)

ED = 4 ( 𝛼𝑝𝑖 𝑑𝑝𝑖 − 2𝐴1 − 2𝐴2 − 2𝐴3 ) (2-35)

= 4 ( 𝛼𝑝𝑖 𝑑𝑝𝑖 − 2𝑑𝑦 (𝛼𝑝𝑖 − 𝛼𝑦 ) − 𝑎𝑦 𝑑𝑦 − (𝑑𝑝𝑖 − 𝑑𝑦 )(𝑎𝑝𝑖 − 𝑎𝑦 ))

= 4 ( 𝛼𝑦 𝑑𝑝𝑖 − 𝑑𝑦 𝛼𝑝𝑖 )

Keterangan koefisien dari rumus diatas dapat dilihat dari Gambar 2.7.

Gambar 2.7 Damping Energi

(Sumber: ATC - 40)

Berikut adalah keterangan untuk Gambar 2.7 di mana ED = Area tertutup dari

hysteretic loop = Area dari luas jajar genjang yang lebih besar = 4 kali area jajar

genjang yang diarsir.

Rumus untuk membuat area yang diarsir (Applied Technology Council. 1996):

𝐴1 = (𝛼𝑝𝑖 − 𝛼𝑦 ) * 𝑑𝑦 (2-36)

𝐴2 = (𝛼𝑦 ∗ 𝑑𝑦 ) / 2 (2-37)

26
𝐴3 = [((𝑎𝑝𝑖 − 𝑎𝑦 ) * ( 𝑑𝑝𝑖 − 𝑑𝑦 ))] (2-38)

Selain nilai ED, untuk menentukan β0 juga diperlukan nilai maximum strain

energy (ES0). Nilai ES0 diperoleh dari rumus berikut (Applied Technology Council.

1996):

ES0 = 𝑎𝑝𝑖 𝑑𝑝𝑖 / 2 (2-39)

Keterangan dari rumus di atas dapat dilihat dari Gambar 2.8.

Gambar 2.8 Hysteretic Damping Memperlihatkan Maximum Strain Energy

(Sumber: ATC - 40)

Dari nilai-nilai yang telah diperoleh, maka dapat dihitung nilai β0 (%)

dengan rumus sebagai berikut (Applied Technology Council. 1996):

27
β0 = 1 𝐸𝐷 (2-40)
4𝜋 𝐸𝑠0

1 4 ( 𝛼𝑦 𝑑𝑝𝑖 −𝑑𝑦 𝛼𝑝𝑖 )


= 4𝜋 𝑎𝑝𝑖 𝑑𝑝𝑖 / 2

0.637 ( 𝛼𝑦 𝑑𝑝𝑖 −𝑑𝑦 𝛼𝑝𝑖 )


= 𝑎𝑝𝑖 𝑑𝑝𝑖

β0 = 63.7 ( 𝛼𝑦 𝑑𝑝𝑖 −𝑑𝑦 𝛼𝑝𝑖 ) (2-41)


𝑎 𝑑 𝑝𝑖 𝑝𝑖

6. Menentukan nilai 𝛽0

Menghitung factor reduksi spectral (SRA dan SRV) Rumus SRA dan SRV

diperoleh dari rumus berikut (Applied Technology Council. 1996):

SRA 3.21−0.68.𝐿𝑛(𝛽𝑒𝑓𝑓 ) (2-42)


= > 𝑆𝑅𝐴𝑚𝑖𝑛
2.12

SRA 2.31−0.41.𝐿𝑛(𝛽𝑒𝑓𝑓 ) (2-43)


= > 𝑆𝑅𝐴𝑚𝑖𝑛
1.65

Nilai 𝛽𝑒𝑓𝑓 (%) diperoleh dari rumus (Applied Technology Council. 1996):

𝛽𝑒𝑓𝑓 = 𝑘. 𝛽0 + 5 (2-44)

Nai k diperoleh dari Tabel 2.7 berikut (Applied Technology Council. 1996):

Tabel 2.7 Nilai k

(Sumber : ATC – 40 )

Tipe Struktur 𝛽0 (%) k

Tipe A < 16.25 1

> 16.25 0.51 ( 𝛼𝑦 𝑑𝑝𝑖 −𝑑𝑦 𝛼𝑝𝑖 )


1.13 - 𝑎𝑝𝑖 𝑑𝑝𝑖

Tipe B < 25 0.67

> 25 0.51 ( 𝛼𝑦 𝑑𝑝𝑖 −𝑑𝑦 𝛼𝑝𝑖 )


. 13 - 𝑎𝑝𝑖 𝑑𝑝𝑖

Tipe C Any value 3.33

28
Nilai 𝑆𝑅𝐴𝑚𝑖𝑛 dan 𝑆𝑅𝑉𝑚𝑖𝑛 dapat dilihat Tabel 2.8 berikut (Applied Technology

Council. 1996

Tabel 2.8 Nilai 𝑆𝑅𝐴𝑚𝑖𝑛 dan 𝑆𝑅𝑉𝑚𝑖𝑛

(Sumber : ATC – 40 )

Tipe Struktur 𝑆𝑅𝐴𝑚𝑖𝑛 𝑆𝑅𝑉𝑚𝑖𝑛

Tipe A 0.33 0.50

Tipe B 0.44 0.56

Tipe C 0.56 0.67

Tipe gedung di klasifikasikan berdasarkan ketentuan berikut (Applied Technology

Council. 1996):

Tabel 2.9 Tipe Struktur

(Sumber : ATC – 40 )

Essentially Average Poor Existing

Shaking Duration Existing Existing Building

Building Building

Short Type A Type B Type C

Long Type B Type C Type C

2.10.3 Kinerja (Performance)

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, level kinerja diperoleh dari

perpotongan capacity curve dengan demand spectrum. Grafik perpotongan tersebut

dapat diperoleh dari Gambar 2.9

29
Gambar 2.9 Grafik Perpotongan Kurva Kapasitas dengan Demand Spectrum

(Sumber: ATC - 40)

Titik perpotongan antara demand spectrum dan spectrum kapasitas dalam

hal ini berup titik (di,ai). Nilai dari titik perpotongan tersebut harus berada dalam

suatu batas toleransi 5% dari titik (api,dpi). Bila nilai tersebut diluar batas toleransi,

maka prosedur dalam mencari faktor reduksi diulangi dari tahap mencari

representasi bilinier, dengan api=ai dan dpi=di sampai batas toleransi terpenuhi.

Hasil yang diperoleh setelah batas toleransi terpenuhi, api (spectral displacement,

Sd) dan dpi (spectral acceleration, Sa) perlu diubah menjadi gaya geser untuk api

dan perpindahan (displacement) untuk dpi. Konversi hasil tersebut adalah dengan

menggunakan rumus-rumus berikut (Applied Technology Council. 1996):

𝑆 = ∆𝑟𝑜𝑜𝑓 (2-45)
𝑃𝐹 ∅ 1 1.𝑟𝑜𝑜𝑓

Maka displacement (∆𝑟𝑜𝑜𝑓) menjadi :

∆𝑟𝑜𝑜𝑓 = 𝑆𝑑 . PF1 . ∅1 𝑟𝑜𝑜𝑓 (2-46)

30
Karena nilai 𝑆𝑑 = 𝑑𝑝𝑖 , maka rumus (2.46) menjadi :

∆𝑟𝑜𝑜𝑓 = 𝑑𝑝𝑖 . PF1 . ∅1 𝑟𝑜𝑜𝑓 (2-47)

S 𝑉⁄ (2-48)
𝑊
= 𝛼1

Maka gaya gesernya (V), menjadi :

𝑉 = 𝑆𝑎 . W . 𝛼1 (2-49)

Karena nilai 𝑆𝑎 = 𝛼𝑝𝑖 , maka rumus menjadi :

𝑉 = 𝛼𝑝𝑖 . W . 𝛼1 (2-50)

di mana PF1 = Modal perticipation factor untuk mode 1, 𝛼1 = Modal koefisien

massa untuk mode 1, Ø[Link] = Ø lantai atap, mode 1, V = Gaya geser dasar, W =

Berat mati bangunan, Δroof = peralihan Atap, Sa = Spectral acceleration, Sd =

Spectral displacement.

2.11 Sendi Plastis

Sendi plastis merupakan daerah konsentrasi tegangan di mana pada bagian

tersebut telah mencapai leleh karena adanya gaya yang membebani. Sendi plastis

merupakan salah satu hasil dari disipasi energi yang dilakukan struktur, di mana

struktur berusaha memencarkan energi yang diterima akibat beban serta

mengubahnya ke bentuk yang lain (peralihan dan sendi plastis). Pemodelan sendi

dilakukan untuk mendefinisikan perilaku non-linier force-displacement dan/atau

momen-rotasi yang dapat ditempatkan pada beberapa tempat di sepanjang bentang

balok atau kolom. Pemodelan sendi adalah rigid dan tidak memiliki efek pada

perilaku linier pada member.

31
2.11.1 Hasil Analisis Sendi Plastis

Dengan menggunakan analisis nonlinier, dapat diperoleh hasil analisis

sendi plastis. Pemodelan dan hasil analisis sendi plastis dapat diklasifikasikan

dengan mengacu pada kurva hubungan momen-rotasi (force-displacement) seperti

terlihat pada Gambar 2.13 (Federal Emergency Management Agency. 2000).

Gambar 2.10 Kurva Hubungan Momen-Rotasi, Setipe dengan Kurva Hubungan

Force- Displacement

(Sumber: FEMA - 356)

Dengan menggunakan analisis nonlinier, dapat diperoleh hasil analisis

sendi plastis. Pemodelan dan hasil analisis sendi plastis dapat diklasifikasikan

dengan mengacu pada kurva hubungan momen-rotasi (force-displacement) seperti

terlihat pada Gambar 2.13 (Federal Emergency Management Agency. 2000).

Kurva pada Gambar 2.10 memiliki lima titik utama, yaitu titik A, B, C, D

dan E serta kondisi taraf kinerja yang bisa dicapai pada posisi tertentu seperti

Immediate Occupancy (IO), Life Safety (LS) dan Collapse Prevention (CP).

Keterangan dari Gambar 2.13 yaitu: titik A merupakan titik awal sebelum struktur

32
dikenai beban gempa, ritik B memperlihatkan kelelehan, namun deformasi belum

terjadi sampai dengan titik B, garis AB menunjukkan respons linier, titik C

merepresentasikan kapasitas ultimit, garis BC menunjukkan strain hardening, titik

D merepresentasikan kekuatan sisa (residual strength), garis CD menunjukkan

degradasi kekuatan, titik E memperlihatkan kondisi keruntuhan total, garis DE

menunjukkan pengurangan kekuatan lagi, a adalah bagian deformasi yang terjadi

setelah leleh sampai kapasitas ultimitnya, b adalah bagian deformasi yang terjadi

setelah leleh sampai kondisi keruntuhan total, dan c adalah kekuatan sisa setelah

terjadi penurunan kekuatan yang mendadak dari C ke D.

Hasil dari analisis sendi plastis, yaitu: gaya dan/atau momen pada sendi,

peralihan dan/atau rotasi plastis, kondisi paling ekstrim yang terjadi pada sendi,

kondisi ini tidak menunjukkan apakah terjadi deformasi positif atau negatif: A ke

B, B ke C, C ke D, D ke E, dan >E, taraf kinerja paling ekstrim yang terjadi pada

sendi, taraf ini tidak menunjukkan apakah terjadi deformasi positif atau negatif: A

ke B, B ke IO, IO ke LS, LS ke CP dan >CP.

2.11.2 Distribusi Sendi Plastis

Sendi plastis hanya boleh terjadi pada balok, dasar kolom yang dekat

dengan pondasi, balok perangkai pada dinding geser, dan dasar dari dinding geser.

Dalam perencanaan, desain kapasitas harus terpenuhi, di mana kolom harus

didesain lebih kuat dari balok, sehingga sendi plastis diharapkan terjadi pada balok

terlebih dahulu (beam sway mechanism). Hal ini karena kerusakan yang terjadi

pada balok termasuk dalam kerusakan lokal dan dapat diperbaiki. Dengan

33
terjadinya sendi plastis pada balok, maka energy akan tersebar dibanyak tempat.

Berbeda dengan story mechanism, di mana sendi plastis terjadi pada kolom dan

energy terpusat di satu tempat. Tentunya hal ini sangat berbahaya. Sendi plastis

yang terjadi pertama kali harus memiliki kapasitas rotasi yang cukup untuk

pembentukan sendi plastis berikutnya, tanpa mengalami penurunan kekuatan dan

kekakuan yang signifikan. Dengan demikian mekanisme kelelehan yang daktail

dapat tercapai.

2.11.3 Mekanisme Pembentukan Sendi Plastis

Pada saat struktur mengalami percepatan tanah pada tumpuan struktur,

maka massa struktur juga akan mengalami percepatan. Besarnya percepatan massa

struktur tersebut dipengaruhi oleh periode alami struktur. Dari grafik respons

spectrum dapat diketahui bahwa dengan berkurangnya periode alami struktur maka

percepatan massa akan membesar dan dengan bertambahnya periode alami struktur

akan mengurangi percepatan massa struktur. Namun hal tersebut sangat

dipengaruhi oleh karakteristik dari sebuah rekaman gempa tertentu yang bisa

mempengaruhi respons yang dihasilkan. Karena beban gempa yang digunakan

berupa rekaman gempa actual yang merupakan fungsi dari waktu, bersifat dinamis

dan tidak beraturan, maka ada kemungkinan pada saat tertentu akan terjadi gaya

inersia yang menyebabkan suatu keadaan di mana beban yang terjadi melebihi dari

kekuatan leleh elemen struktur tersebut. Gaya inersia ini timbul dari massa yang

mengalami percepatan.

Akibat keadaan tersebut maka elemen struktur dapat mengalami kelelehan

dan berusaha mendisipasikan energi sehingga terjadi deformasi plastis. Pada

34
kondisi terjadinya deformasi plastis, akan terbentuk sendi-sendi plastis pada ujung-

ujung elemen struktur. Oleh karena itu penting untuk merencanakan letak sendi

plastis, dengan cara meningkatkan kekuatan struktur seperti pada pertemuan antara

kolom dan balok. Kapasitas kolom ditingkatkan sehingga sendi plastis akan

terbentuk pada elemen balok. Pembentukan sendi-sendi plastis pada elemen balok

sangat menguntungkan karena:

a) Bahaya keruntuhan struktur menjadi lebih kecil;

b) Disipasi energi dapat terjadi di banyak tempat;

c) Sendi-sendi plastis yang terjadi pada elemen balok dapat berfungsi

dengan baik, sehingga memungkinkan terjadinya rotasi sendi plastis

yang besar;

d) Daktilitas yang diinginkan dari struktur dapat dengan mudah dipenuhi.

Mekanisme pembentukan sendi plastis ini akan berlangsung dengan sangat baik

jika terjadi pada daerah yang daktail.

2.12 Taraf Kinerja Struktur

Setiap struktur bangunan dirancang pada taraf kinerja tertentu. Taraf kinerja

ini berkaitan dengan kerusakan bangunan jika terjadi gempa. Pada suatu taraf

kinerja terdapat kondisi batas maksimum kerusakan elemen struktural maupun

nonstruktural. Pemilihan taraf kinerja bergantung pada lokasi bangunan, keinginan

pemilik bangunan, kondisi perekonomian pemilik bangunan, nilai sejarah

bangunan, dan besar gempa yang mungkin dialami struktur bangunan. Taraf kinerja

dinyatakan secara kualitatif dalam kriteria tingkat kerusakan fisik yang terjadi,

35
ancaman terhadap keselamatan jiwa manusia, dan kemampuan layan struktur pasca

gempa. Terdapat beberapa macam klasifikasi taraf kinerja secara kualitatif, yaitu:

1. Taraf penghunian segera (Immediate Occupancy), “IO”. Berarti

kerusakan akibat gempa sangat kecil. Gaya vertikal dan horizontal dari

bangunan dapat menahan seluruh kekuatan dari gempa dan kekakuan

struktur. Resiko korban jiwa sebagai hasil dari kerusakan struktural

sangat rendah, meskipun beberapa perbaikan nonstructural minor masih

diperlukan.

2. Taraf control kerusakan (Damage Control), “DC”. Pada taraf ini struktur

bangunan boleh rusak, namun tidak runtuh. Resiko korban jiwa sangat

rendah. Kerusakan yang terjadi bervariasi di antara kategori IO dan LS.

Hal ini berguna di mana sasaran kinerja yang ingin dicapai mempunyai

kriteria yang lebih ketat daripada taraf LS, tetapi kelayakan huni bukanlah

masalah utama. Contohnya adalah bangunan-bangunan bersejarah.

3. Taraf keselamatan jiwa (Life Safety), “LS”. Kerusakan struktural terjadi

setelah adanya gempa, tetapi keruntuhan sebagian maupun seluruh

bangunan tidak terjadi. Beberapa elemen dan komponen struktural rusak.

Resiko korban jiwa sebagai akibat dari kerusakan struktural diharapkan

rendah. Memungkinkan untuk dapat memperbaiki struktur, walaupun

secara ekonomis tidak dilaksanakan. Ketika kerusakan dari struktur tidak

mendekati resiko keruntuhan, perlu adanya perbaikan secara hati-hati

atau tindakan memasang bracing sementara.

36
4. Taraf keamanan terbatas (Limited Safety). Taraf ini bukan merupakan

level spesifik, tetapi merupakan taraf diantara Life Safety dan Structural

Stability.

5. Taraf stabilitas struktur (Collapse Prevention atau Structural

Stability),“CP”. Gedung berada pada batas keruntuhan sebagian atau

total. Kerusakan struktural terjadi, berpotensi mengurangi kekakuan dan

kekuatan dari sistem penahan gaya lateral dan mengurangi kapasitas

untuk menahan gaya vertikal. Komponen penting untuk menahan beban

gravitasi harus tetap dapat menahan beban gravitasi. Resiko korban jiwa

mungkin ada. Struktur secara teknikal tidak dapat diperbaiki dan tidak

aman ditempati kembali.

6. Taraf yang tidak diperhitungkan. Taraf ini bukan merupakan tingkat

kinerja, tetapi khusus untuk situasi di mana hanya untuk evaluasi seismic

nonstructural atau retrofit. Penjelasan khusus mengenai kondisi balok dan

kolom pada berbagai kategori taraf kinerja dapat dilihat pada Tabel 2.10.

2.13 Klasifikasi Deformation Limit

Nilai displacement yang dihasilkan dari setiap prosedur baik menggunakan

Capacity Spectrum maupun Displacement Coefficient Method, digunakan untuk

mendapatkan nilai drift. Nilai drift ini digunakan sebagai indikator kinerja dari

struktur yang sedang dianalisis. Pada Tabel 2.10 memperlihatkan klasifikasi dari

deformation limit untuk berbagai macam tingkat kinerja. Di mana Maximum Total

drift didefinisikan sebagai rasio antar tingkat (drift) pada nilai target displacement.

37
Sementara maximum Inelastic Drift didefinisikan sebagai bagian dari Maximum

Total Drift di luar titik leleh efektif.

Tabel 2.10 Deformation Limit untuk Berbagai Tingkat Kinerja

(Sumber : ATC – 40 )

Performance Level

Interstory Immediate Damage Life Structural

Drift Occupancy Control Safety Stability

Limit (IO) (DC) (LS) (SS)

Maximum

Total Drift 0.01 0.01-0.02 0.02 0.33Vi/Pi

(Xmax/H)

Maximum
No
Inelastic 0.005 0.005-0.015 No Limit
Limit
Drift Limit

2.14 Peneliti Terdahulu

Terdapat beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya

tentang perhitungan dinding geser dan penggunaan analisis pushover pada struktur

bangunan bertingkat.

1. Rachman, et al., (2012) dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis

Kinerja Struktur Pada Gedung Bertingkat Dengan Analisis Pushover

Menggunakan Software Etabs (Studi Kasus: Bangunan Hotel di

Semarang) Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja gedung

38
berdasarkan mekanisme terbentuknya sendi plastis pada balok kolom

serta hubungan base shear dengan displacement pada kurva pushover

dan kurva seismic demand. Metode yang digunakan adalah analisis

statik nonlinier pushover dengan menggunakan program ETABS.

Kesimpulan dari penelitian menunjukkan bahwa gaya geser dari

evaluasi pushover pada arah x sebesar 557,867 ton. Nilai displacement

adalah 0,112 m. Displacement pada gedung tidak melampaui

displacement yang diijinkan, sehingga gedung aman terhadap gempa

rencana. Maksimum total drift adalah 0,0035 m dan maksimum In-

elastic drift adalah 0,0034 m, Sehingga gedung termasuk dalam level

kinerja Immediate Occupancy (IO).

2. Robach, et al., (2014) dalam penelitiannya yang berjudul “Perencanaan

Dinding Geser pada Struktur Gedung Beton Bertulang dengan Sistem

Ganda” bertujuan untuk mengetahui mekanisme pembagian beban pada

struktur beton bertulang yang menggunakan sistem ganda, dan

mendapatkan hasil rancangan dinding geser pada struktur beton

bertulang yang menggunakan sistem ganda. Dari penelitian tersebut

didapat beberapa kesimpulan, yaitu distribusi beban pada struktur

memakai prinsip bahwa komponen struktur akan menerima beban

sesuai dengan kekakuannya. Pada Sistem Ganda, komponen SRPM

berupa kolom, menerima beban lateral minimal sebesar 25%, sedangkan

sisanya diterima oleh dinding geser. Dengan menghitung massa gedung

berdasarkan dimensi komponen-komponennya, didapatkan gaya gempa

nominal V yang didistribusikan menjadi gaya geser tiap lantai Fi. Gaya

39
geser Fi kemudian didistribusikan ke tiap portal yang proporsinya sesuai

dengan kekakuan relatifnya. Dengan memodelkan dinding geser sebagai

struktur kantilever, didapatkan gaya geser dan momen lentur, dan dari

analisis terhadap tributary area, didapatkan gaya aksial, yang dipakai

untuk merencanakan tulangan pada dinding geser, yang meliputi

tulangan horizontal dan vertikal. Tulangan vertikal yang terpasang,

diperiksa kapasitasnya terhadap lentur dan aksial dengan bantuan

diagram interaksi pada program PCACOL. Jika gaya aksial dan momen

nominal pada penampang kurang dari gaya aksial dan momen ultimit

hasil analisis, maka rasio tulangan perlu ditambah, dan dari besarnya

nilai c (jarak serat tekan terluar ke sumbu netral) dapat ditentukan

apakah dinding geser perlu diberi komponen batas atau tidak. Dari hasil

perhitungan yang dilakukan, didapatkan bahwa tulangan horizontal

pada dinding geser lantai 1 sampai dengan 3 adalah D19 – 160 (2 lapis),

dan pada lantai 4 sampai dengan 7 adalah D19 – 200 (2 lapis).

Sedangkan tulangan vertikal untuk seluruh penampang dinding geser

adalah 16 – D22 (2 sisi), dan pada komponen batas adalah 9 – D22 (4

sisi).

3. Pranata & Yunizar, (2011) dalam penelitiannya yang berujudul

“Pemodelan Dinding Geser Bidang sebagai Elemen Kolom Ekivalen

pada Gedung Beton Bertulang Bertingkat Rendah” bertujuan untuk

mempelajari pemodelan dindinggeser bidang sebagai elemen kolom

ekivalen pada studi kasus gedung beton bertulang dengan klasifikasi

40
gedung tidak beraturan. Dari penelitian tersebut terdapat beberapa

kesimpulan, yaitu sebagai berikut ini.

a. Hasil penelitian ini diperoleh faktor pengali penampang momen

inersia untuk gedung A yaitu 15, untuk gedung B yaitu 9. Dengan

faktor pengali penampang momen inersia tersebut diperoleh hasil

waktu getar alami yang hampir sama antara gedung dinding geser

yang dimodelkan sebagai kolom ekivalen dengan yang dimodelkan

sebagai wall.

b. Hasil analisis dinamik gedung A yaitu gaya geser dasar sebagai

berikut, %- relatif perbedaan antara gedung A1 dan A2 untuk arah-

x sebesar 0,12%, hasil ini memperlihatkan bahwa pemodelan kolom

ekivalen tepat dilakukan untuk arah-x.

c. Hasil analisis dinamik gedung B yaitu gaya geser dasar sebagai

berikut, %- relatif perbedaan antara gedung B1 dan B2 untuk arah-x

sebesar 0,57%, hasil ini memperlihatkan bahwa pemodelan kolom

ekivalen tepat dilakukan untuk arah-x.

d. Hasil analisis dinamik gedung A yaitu peralihan atap sebagai

berikut, %-relatif perbedaan antara gedung A1 dan A2 untuk arah-x

sebesar 7,17%, hasil ini memperlihatkan bahwa pemodelan kolom

ekivalen tepat dilakukan untuk arah-x. Hasil analisis dinamik

gedung B yaitu peralihan atap sebagai berikut, %-relatif perbedaan

antara gedung B1 dan B2 untuk arah-x sebesar 78,46%, hasil ini

memperlihatkan bahwa pemodelan kolom ekivalen tidak tepat

dilakukan untuk arah-x.

41
4. Ananda MS, (2014) dalam penelitian yang berjudul “Perencanaan

Penulangan Dinding Geser (Shear Wall) Berdasarkan Tata Cara SNI 03-

2847- 2002” bertujuan untuk menentukan besar gaya pada dinding geser

pada suatu konstruksi portal 6 lantai dimana letak shearwall simetris dan

beraturan, dimana 10 shearwall dengan dan tanpa tulangan.

Merencanakan penulangan dari dinding geser sesuai dengan gaya-gaya

yang terjadi akibat kombinasi beban gempa (konsep gaya dalam) serta

membandingkan antara dinding geser yang menggunakan tulangan

dengan dinding geser tanpa tulangan. Dari penelitian tersebut dapat

ditarik kesimpulan seperti berikut.

1. Dinding geser (shear wall) yang direncanakan menggunakan

dimensi panjang /lebar dinding geser 6 m dan tebal 30 cm dengan

tinggi gedung 24 m.

2. Gaya geser maksimum yang terjadi pada dinding geser (Vumax)

adalah 2875,46 kN.

3. Dinding geser (shear wall) yang direncanakan menggunakan dua

layer baja tulangan D16-300.

4. Berdasarkan perhitungan analisa struktur pada perencanaan struktur

dinding geser diperoleh kuat geser (Vn) sebesar 5015,179 kN (Vn >

Vumax). Dengan demikian, dinding geser (shear wall) cukup kuat

menahan gaya geser yang terjadi pada struktur.

5. Dari data perbandingan struktur open frame dengan dinding geser

(shear wall) dan struktur open frame didapat:

a. Struktur Open Frame dengan Dinding Geser (shear wall)

42
1) Tulangan yang dibutuhkan adalah 53098,807 kg

2) Volume pekerjaan adalah 792,32 m3

b. Struktur Open Frame

1) Tulangan yang dibutuhkan adalah 61192,794 kg

2) Volume pekerjaan adalah 803,12 m3

Dari hasil penelitian tersebut didapat struktur open frame dengan

dinding geser (shear wall) lebih ekonomis dari struktur open frame.

5. Manalip, et al., (2015) dalam penelitiannya yang berjudul “Penempatan

Dinding Geser pada Bangunan Beton Bertulang dengan Analisa

Pushover” bertujuan untuk menghitung kinerja struktur menggunakan

metode pushover dan mengetahui respon pada penempatan instrumen

dinding geser. Dari penelitian tersebut dapat ditarik kesimpulan sebagai

berikut:

1. Model penempatan dinding sesuai dengan kelas situs tanah dan

hazard gempa adalah sebagai berikut:

a. Untuk hazard gempa 2500 tahun, penempatan dinding geser

pada kelas Situs A mengikuti pola model 19, kelas situs B dan C

mengikuti pola model 13, kelas situs D mengikuti pola model

12, dan kelas situs E mengikuti model 4.

b. Untuk hazard gempa 500 tahun, penempatan dinding geser pada

kelas seluruh kelas situs A sampai E mengikuti pola model 11.

c. Untuk hazard gempa 1000 tahun, penempatan dinding geser

pada kelas Situs A mengikuti pola model 19 dan atau 20, kelas

situs B dan C, mengikuti pola model 19 dan atau 4, kelas situs

43
D, mengikuti pola model 11 dan atau 19, dan kelas situs E

mengikuti pola model 4 dan atau 12. Tipe model penempatan

dinding geser direkomendasikan persamaan Y = 1,057082X –

17, 236 dimana nilai X merupakan prosentase perbandingan

antara besarnya base shear terhadap berat total struktur, nilai Y

memenuhi { Y | Y ϵ A, Y ≤ 20 }.

Kombinasi antara desain berbasis kinerja dan penempatan dinding geser

yang tepat menghasilkan desain struktur yang optimal.

44

Anda mungkin juga menyukai