Analisis Struktur dan Dinding Geser pada Bangunan
Analisis Struktur dan Dinding Geser pada Bangunan
TINJAUAN PUSTAKA
merupakan salah satu program analisis struktur yang dapat menganalisis struktur
gedung secara static untuk memperoleh gaya-gaya dalam yang diperlukan untuk
hasil running program pada menu check design structure. Khusus evaluasi
kapasitas penampang elemen struktur tersebut terhadap beban yang dihitung secara
otomatis oleh program. Berikut analisa warna untuk ketahanan struktur pada
program ETABS:
7
2.2 Dinding Geser
kombinasi geser, momen, dan gaya aksial. Dalam perencanaannya dinding geser
harus direncanakan terhadap beban eksentris dan setiap beban lateral atau beban
lain yang bekerja padanya. Dinding geser secara geometri dapat diklasifikasikan
1. flexural wall (dinding langsing), yaitu dinding geser yang memiliki rasio
2. squat wall (dinding pendek), yaitu dinding geser yang memiliki rasio
yang dilakukan dengan cara empiris tidak boleh kurang daripada 1/25 tinggi atau
panjang bagian dinding yang ditopang secara lateral, diambil yang terkecil, dan
tidak pula kurang daripada 100 mm. Dalam perencanaan dinding geser harus
dilakukan perhitungan terhadap beban eksentris dan setiap beban lateral atau beban
Design dari shear wall membantu dalam kinerja struktur sebuah gedung. Jadi
gaya geser yang ditahan oleh sistem struktur disetiap tingkat bisa dihitung
berdasarkan rasio kekakuan dengan memakai prinsip statis tak tertentu. Gedung
8
yang sesungguhnya tidak memiliki dinding geser yang berdiri sendiri karena
dinding berhubungan dalam segala arah dengan balok atau batang lain ke kolom-
kolom disekitarnya. Sehingga deformasi dinding akan dibatasi dan keadaan ini
sebagai pengaruh pembatasan (boundary effect). Agar daya tahan dinding dapat
(2014).
Bangunan tahan gempa adalah bangunan yang mampu bertahan dan tidak
runtuh jika terjadi gempa. Bangunan tahan gempa bukan berarti tidak boleh
mengalami kerusakan sama sekali namun bangunan tahan gempa boleh mengalami
berikut:
1. Pada gempa kecil (light, atau minor earthquake) yang sering terjadi, maka
struktur utama bangunan harus tidak rusak dan berfungsi dengan baik.
Kerusakan kecil yang masih dapat ditoleransi pada elemen non struktur
masih dibolehkan,
maka struktur utama bangunan boleh rusak/retak ringan tapi masih dapat
diperbaiki. Elemen non struktur dapat saja rusak tetapi masih dapat
3. Pada gempa kuat (strong earthquake) yang jarang terjadi, maka bangunan
boleh rusak tetapi tidak boleh runtuh total (totally collapse). Kondisi
9
seperti ini juga diharapkan pada gempa besar (great earthquake), yang
maksimum.
beban yang diberikan pada struktur bangunan harus mengacu pada SNI 1726:2019.
Menurut (Tavio & Wijaya, 2018) berdasarkan Tata Cara Perencanaan Ketahanan
1. U = 1.4 D (2-1)
10
3. U = 1.2 D + 1.0 Eqx + 0.3 Eqy + 0.5 L (2-3)
di mana D = beban mati, L = beban hidup, Ex = beban gempa arah x dan Ey= beban
gempa arah y
Berdasarkan Beban desain minimum dan kriteria terkait untuk bangunan gedung
11
dan struktur lain (SNI 1727:2020) maka beban yang bekerja pada bangunan yang
1. Beban mati ialah berat seluruh bahan konstruksi bangunan gedung yang
terpasang, termasuk dinding, lantai, atap, plafon serta peralatan tetap yang
2. Beban hidup ialah beban yang diakibatkan oleh pengguna dan penghuni
bangunan gedung tersebut atau struktur lain yang tidak termasuk beban
3. Beban gempa ialah semua beban statik ekuivalen yang bekerja pada
gedung atau bagian gedung yang menirukan pengaruh dari gerakan tanah
Nasional Indonesia (SNI 1726:2019) dapat dilihat pada subbab dibawah ini.
Kekuatan besarnya gaya geser dasar seismik respons ragam pertama (V1)
untuk arah x dan arah y menggunakan prosedur gaya lateral ekivalen, harus dihitung
V1 = C1 . Wt (2-20)
12
2.6.2 Koefisien Respons Sesimik (Cs)
1726- 2019) Pasal [Link]. Koefisien respons seismik ditinjau dari arah arah x dan
di mana SDs = parameter respons spektral percepatan desain pada perioda pendek,
SD1 = parameter respons spektral percepatan desain pada perioda 1 detik, Ie = faktor
I atau II 1
III 1,25
IV 1,50
Fx = Cvx x V1
(2-24)
Cvx 𝑤𝑥 ℎ𝑥𝑘
= ∑𝑛
𝑖=1 𝑤𝑖 ℎ𝑖𝑘
13
di mana Fx = Faktor distribusi vertikal, V = gaya geser dasar seismik, wi,wx = bagian
berat seismik efektif total struktur (W) yang dikenakan pada tingkat i atau x, hi, hx=
tinggi dari dasar sampai tingkat i atau x, dan k = eksponen yang terkait dengan
periode struktur, ditentukan sebagai berikut: 1 untuk struktur dengan T<0.5 detik,
2 untuk struktur dengan T>2.5 detik, 2 atau dilakukan interpolasi linier antara 1 dan
2, untuk 0.5<T<2.5.
2019) Pasal 7.8.2, untuk periode getar fundamental suatu bangunan dibatasi nilai
maksimum dan nilai minimum. Periode getar fundamental untuk nilai maksimum
Tabel 2.2 Koefisien untuk batas atas pada perioda (SNI 1726:2019)
0,3 1,4
0,2 1,5
0,15 1,6
14
Periode getar fundamental untuk nilai minimum ditinjau dari arah x dan
di mana Hnx adalah ketinggian struktur, dalam (m), di atas dasar sampai tingkat
(SNI 1726:2019)
Tipe Struktur Ct x
story shear pada lantai dasar merupakan gaya geser dasar seismik respons spektrum
15
2.6.6 Faktor Skala Gaya Geser Dasar Seismik Spektrum Respons Ragam
Berdasarkan (SNI 1726:2019) Pasal [Link].1, apabila nilai gaya geser dasar
seismik respons spektrum (Vt) lebih kecil 100% dari gaya geser dasar yang dihitung
menggunakan prosedur gaya lateral ekivalen (V1), maka nilai gaya Vt harus
dikalikan dengan faktor skala. Nilai faktor skala tersebut dapat dihitung dengan
Faktor skala 𝑉𝑥
= >1 (2-27)
𝑉𝑡
pada kategori desain seismik D, E atau F, maka ρ harus sama dengan 1.3 artinya
apabila ditemukan pada lantai tertentu tidak memenuhi nilai 35% dari Vt, maka
nilai gaya geser lantai tiap lantai harus dikalikan dengan ρ=1.3. Jika tiap lantai
percepatan akibat gempa sebagai fungsi dari periode natural system struktur.
spektrum gempa disesuaikan dengan letak geografis dan kategori kelas jenis situs
tanah bangunan. Pembuatan grafik respons spektra dipengaruhi oleh data nilai
parameter percepatan respons spektral desain dan nilai periode getar fundamental.
16
Nilai parameter percepatan respons spektral desain dipengaruhi oleh jenis
kelas situs tanah. Jika kelas situs tanah telah diketahui, maka selanjutnya dapat
spektrum.
Parameter percepatan batuan dasar pada perioda pendek (SS) dan percepatan
batuan dasar pada perioda 1 detik (S1) harus ditetapkan masing-masing dari respons
spektral percepatan 0.2 detik dan 1 detik dalam peta gerak tanah seismik (SNI
1726:2019). Nilai SS dan S1 dapat juga diperoleh melalui hasil analisa website
permukaan tanah, diperlukan suatu faktor amplifikasi seismik pada perioda 0.2
detik dan perioda 1 detik. Faktor amplifikasi meliputi faktor amplifikasi getaran
terkait percepatan pada getaran perioda pendek (Fa) dan faktor amplifikasi terkait
respons spektral MCER pada perioda pendek (SMS) dan perioda 1 detik (SM1) yang
𝑆𝑀𝑆 = 𝐹𝑎 𝑆𝑠 (2-28)
𝑆𝑀1 = 𝐹𝑣 𝑆1 (2-29)
17
Penentuan koefisien situs Fa (Koefisien situs untuk perioda pendek pada
perioda 0.2 detik) ditentukan berdasarkan nilai Ss pada Tabel 2.4. Penentuan
koefisien situs Fv (Koefisien situs untuk perioda panjang pada perioda 1 detik)
(SNI 1726:2019)
SF SS(a)
(SNI 1726:2019)
18
SD 2.4 2.2 2.0 1.9 1.8 1.7
SF SS(a)
struktur akibat pengaruh gempa rencana dalam kondisi strutur gedung diambang
struktur gedung yang dapat menimbulkan korban jiwa dan benturan antar gedung.
Hasil dari analisis struktur akan menghasilkan gaya-gaya dalam, antara lain:
gaya momen, geser, torsi dan axial. Program ETABS juga dapat mengeluarkan data
output berupa base shear dan displacement atau total drift. Nilai total drift disebut
juga dengan nilai perpindahan elastis di lantai tingkat x (δex). Nilai perpindahan
elastis antar lantai diperoleh dari hasil selisih nilai δex lantai tingkat atas dikurangi
δex lantai tingkat bawah. Menurut BSN (2019) dalam (SNI 1726- 2019)
menjelaskan bahwa nilai perpindahan elastis antar lantai (story drift) harus dihitung
dengan faktor perbesaran atau amplifikasi defleksi dan faktor keutamaan gempa.
Nilai perpindahan atau simpangan antar lantai tingkat (story drift) yang
𝛿𝑥 = 𝐶𝑑 𝛿𝑥𝑒 (2-30)
𝐼 𝑒
di mana Cd = faktor amplifikasi defleksi, 𝛿xe= defleksi pada lokasi yang disyaratkan
19
Penentuan batas nilai story drift/simpangan antar lantai tingkat desain (Δx)
ditentukan berdasarkan tipe dari sistem struktur penahan gaya seismik pada Tabel
(SNI 1726:2019)
Kategori Resiko
Struktur
I atau II III IV
𝑐
Struktur, selain dari struktur dinding geser 0.025ℎ𝑠𝑥 0.020ℎ𝑠𝑥 0.015ℎ𝑠𝑥
tingkat.
Analisis beban dorong ini menerapkan beban di mana besar beban meningkat terus
menerus sampai kondisi yang diinginkan. Dalam analisis ini, beban gempa
20
terdistribusi vertikal dan diasumsikan sebagai beban statik yang bekerja pada titik
pusat massa disetiap lantai. Beban gempa inilah yang akan ditingkatkan secara
Method
dengan respone spectra. Hasil tersebut memberikan gambaran yang jelas tentang
bagaimana bangunan merespon gerakan gempa. Prinsip metode ini adalah mencari
titik temu antara pada spectrum kapasitas dengan respon spectrum sesuai dengan
permintaan (demand).
Kurva kapasitas dibuat untuk mewakili respons dari struktur pada mode
pertama, dengan asumsi mode pertama ini adalah mode yang dominan yang bekerja
pada struktur. Hal ini umumnya berlaku untuk bangunan dengan periode getaran
peralihan lantai atap dengan gaya geser dasar (base shear) akibat dari pemberian
beban lateral secara bertahap pada struktur. Kurva kapasitas ditunjukkan pada
Gambar 2.2.
21
Gambar 2.2 Kurva Kapasitas
dengan permintaan. Oleh karena itu, sebelum menentukan hal-hal yang perlu
kita harus mengetahui hal-hal yang perlu dipersiapkan untuk memperoleh suatu
nilai kinerja. Di mana dalam kondisi ini, lokasi titik kinerja (performance) berada
pada perpotongan:
perpindahan.
spectrum tersebut dengan suatu faktor reduksi. Berikut ini adalah langkah-langkah
22
Sa versus Sd. Kurva Kapasitas dan Spektrum Kapasitas dapat dilihat pada
Council. 1996):
2
∫ 𝑃𝐹1 = ∑𝑁
𝑖=1(𝑚𝑖 ∅𝑖𝑙 ) (2-32)
2
∑𝑁 𝑁
𝑖=1(𝑚𝑖 ) ∑𝑖=1(𝑚𝑖 ∅𝑖𝑙 )
Sa = 𝑉 / 𝑊 (2-33)
𝛼 1
Sd = ∆𝑟𝑜𝑜𝑓 (2-34)
𝑃𝐹1 ∅ 𝑟𝑜𝑜𝑓.1
di mana PF1= Modal participation factor untuk mode 1, α = Modal mass coefficient
untuk mode1, Mi = Massa lantai ke-i, ∅𝑖𝑙 = Amplitudo dari mode 1 pada lantai-i,
23
2. Mengubah respons spectrum tradisional dengan redaman 5% menjadi demand
menjadi deman spectrum pada Gambar 2.4 dalam format ADRS adalah sebagai
s = 1 𝑆𝑎 𝑇 2 (2-35)
4𝜋 2
Langkah ini dilakukan untuk menentukan perkiraan awal api dan dpi. Grafik
24
Gambar 2.5 Plot Spektrum Kapasitas dan Demand Spektrum
Kurva representasi bilinier Gambar 2.9 ini dibuat dengan menyamakan luas
A1 dengan luas A2. Tujuan menyamakan kedua luasan ini adalah agar masing
25
5. Menentukan nilai 𝛽0
= 4 ( 𝛼𝑦 𝑑𝑝𝑖 − 𝑑𝑦 𝛼𝑝𝑖 )
Keterangan koefisien dari rumus diatas dapat dilihat dari Gambar 2.7.
Berikut adalah keterangan untuk Gambar 2.7 di mana ED = Area tertutup dari
hysteretic loop = Area dari luas jajar genjang yang lebih besar = 4 kali area jajar
Rumus untuk membuat area yang diarsir (Applied Technology Council. 1996):
𝐴1 = (𝛼𝑝𝑖 − 𝛼𝑦 ) * 𝑑𝑦 (2-36)
𝐴2 = (𝛼𝑦 ∗ 𝑑𝑦 ) / 2 (2-37)
26
𝐴3 = [((𝑎𝑝𝑖 − 𝑎𝑦 ) * ( 𝑑𝑝𝑖 − 𝑑𝑦 ))] (2-38)
Selain nilai ED, untuk menentukan β0 juga diperlukan nilai maximum strain
energy (ES0). Nilai ES0 diperoleh dari rumus berikut (Applied Technology Council.
1996):
Dari nilai-nilai yang telah diperoleh, maka dapat dihitung nilai β0 (%)
27
β0 = 1 𝐸𝐷 (2-40)
4𝜋 𝐸𝑠0
6. Menentukan nilai 𝛽0
Menghitung factor reduksi spectral (SRA dan SRV) Rumus SRA dan SRV
Nilai 𝛽𝑒𝑓𝑓 (%) diperoleh dari rumus (Applied Technology Council. 1996):
𝛽𝑒𝑓𝑓 = 𝑘. 𝛽0 + 5 (2-44)
Nai k diperoleh dari Tabel 2.7 berikut (Applied Technology Council. 1996):
(Sumber : ATC – 40 )
28
Nilai 𝑆𝑅𝐴𝑚𝑖𝑛 dan 𝑆𝑅𝑉𝑚𝑖𝑛 dapat dilihat Tabel 2.8 berikut (Applied Technology
Council. 1996
(Sumber : ATC – 40 )
Council. 1996):
(Sumber : ATC – 40 )
Building Building
29
Gambar 2.9 Grafik Perpotongan Kurva Kapasitas dengan Demand Spectrum
hal ini berup titik (di,ai). Nilai dari titik perpotongan tersebut harus berada dalam
suatu batas toleransi 5% dari titik (api,dpi). Bila nilai tersebut diluar batas toleransi,
maka prosedur dalam mencari faktor reduksi diulangi dari tahap mencari
representasi bilinier, dengan api=ai dan dpi=di sampai batas toleransi terpenuhi.
Hasil yang diperoleh setelah batas toleransi terpenuhi, api (spectral displacement,
Sd) dan dpi (spectral acceleration, Sa) perlu diubah menjadi gaya geser untuk api
dan perpindahan (displacement) untuk dpi. Konversi hasil tersebut adalah dengan
𝑆 = ∆𝑟𝑜𝑜𝑓 (2-45)
𝑃𝐹 ∅ 1 1.𝑟𝑜𝑜𝑓
30
Karena nilai 𝑆𝑑 = 𝑑𝑝𝑖 , maka rumus (2.46) menjadi :
S 𝑉⁄ (2-48)
𝑊
= 𝛼1
𝑉 = 𝑆𝑎 . W . 𝛼1 (2-49)
𝑉 = 𝛼𝑝𝑖 . W . 𝛼1 (2-50)
massa untuk mode 1, Ø[Link] = Ø lantai atap, mode 1, V = Gaya geser dasar, W =
Spectral displacement.
tersebut telah mencapai leleh karena adanya gaya yang membebani. Sendi plastis
merupakan salah satu hasil dari disipasi energi yang dilakukan struktur, di mana
mengubahnya ke bentuk yang lain (peralihan dan sendi plastis). Pemodelan sendi
balok atau kolom. Pemodelan sendi adalah rigid dan tidak memiliki efek pada
31
2.11.1 Hasil Analisis Sendi Plastis
sendi plastis. Pemodelan dan hasil analisis sendi plastis dapat diklasifikasikan
Force- Displacement
sendi plastis. Pemodelan dan hasil analisis sendi plastis dapat diklasifikasikan
Kurva pada Gambar 2.10 memiliki lima titik utama, yaitu titik A, B, C, D
dan E serta kondisi taraf kinerja yang bisa dicapai pada posisi tertentu seperti
Immediate Occupancy (IO), Life Safety (LS) dan Collapse Prevention (CP).
Keterangan dari Gambar 2.13 yaitu: titik A merupakan titik awal sebelum struktur
32
dikenai beban gempa, ritik B memperlihatkan kelelehan, namun deformasi belum
setelah leleh sampai kapasitas ultimitnya, b adalah bagian deformasi yang terjadi
setelah leleh sampai kondisi keruntuhan total, dan c adalah kekuatan sisa setelah
Hasil dari analisis sendi plastis, yaitu: gaya dan/atau momen pada sendi,
peralihan dan/atau rotasi plastis, kondisi paling ekstrim yang terjadi pada sendi,
kondisi ini tidak menunjukkan apakah terjadi deformasi positif atau negatif: A ke
sendi, taraf ini tidak menunjukkan apakah terjadi deformasi positif atau negatif: A
Sendi plastis hanya boleh terjadi pada balok, dasar kolom yang dekat
dengan pondasi, balok perangkai pada dinding geser, dan dasar dari dinding geser.
didesain lebih kuat dari balok, sehingga sendi plastis diharapkan terjadi pada balok
terlebih dahulu (beam sway mechanism). Hal ini karena kerusakan yang terjadi
pada balok termasuk dalam kerusakan lokal dan dapat diperbaiki. Dengan
33
terjadinya sendi plastis pada balok, maka energy akan tersebar dibanyak tempat.
Berbeda dengan story mechanism, di mana sendi plastis terjadi pada kolom dan
energy terpusat di satu tempat. Tentunya hal ini sangat berbahaya. Sendi plastis
yang terjadi pertama kali harus memiliki kapasitas rotasi yang cukup untuk
dapat tercapai.
maka massa struktur juga akan mengalami percepatan. Besarnya percepatan massa
struktur tersebut dipengaruhi oleh periode alami struktur. Dari grafik respons
spectrum dapat diketahui bahwa dengan berkurangnya periode alami struktur maka
percepatan massa akan membesar dan dengan bertambahnya periode alami struktur
dipengaruhi oleh karakteristik dari sebuah rekaman gempa tertentu yang bisa
berupa rekaman gempa actual yang merupakan fungsi dari waktu, bersifat dinamis
dan tidak beraturan, maka ada kemungkinan pada saat tertentu akan terjadi gaya
inersia yang menyebabkan suatu keadaan di mana beban yang terjadi melebihi dari
kekuatan leleh elemen struktur tersebut. Gaya inersia ini timbul dari massa yang
mengalami percepatan.
34
kondisi terjadinya deformasi plastis, akan terbentuk sendi-sendi plastis pada ujung-
ujung elemen struktur. Oleh karena itu penting untuk merencanakan letak sendi
plastis, dengan cara meningkatkan kekuatan struktur seperti pada pertemuan antara
kolom dan balok. Kapasitas kolom ditingkatkan sehingga sendi plastis akan
terbentuk pada elemen balok. Pembentukan sendi-sendi plastis pada elemen balok
yang besar;
Mekanisme pembentukan sendi plastis ini akan berlangsung dengan sangat baik
Setiap struktur bangunan dirancang pada taraf kinerja tertentu. Taraf kinerja
ini berkaitan dengan kerusakan bangunan jika terjadi gempa. Pada suatu taraf
bangunan, dan besar gempa yang mungkin dialami struktur bangunan. Taraf kinerja
dinyatakan secara kualitatif dalam kriteria tingkat kerusakan fisik yang terjadi,
35
ancaman terhadap keselamatan jiwa manusia, dan kemampuan layan struktur pasca
gempa. Terdapat beberapa macam klasifikasi taraf kinerja secara kualitatif, yaitu:
kerusakan akibat gempa sangat kecil. Gaya vertikal dan horizontal dari
diperlukan.
2. Taraf control kerusakan (Damage Control), “DC”. Pada taraf ini struktur
bangunan boleh rusak, namun tidak runtuh. Resiko korban jiwa sangat
Hal ini berguna di mana sasaran kinerja yang ingin dicapai mempunyai
kriteria yang lebih ketat daripada taraf LS, tetapi kelayakan huni bukanlah
36
4. Taraf keamanan terbatas (Limited Safety). Taraf ini bukan merupakan
level spesifik, tetapi merupakan taraf diantara Life Safety dan Structural
Stability.
gravitasi harus tetap dapat menahan beban gravitasi. Resiko korban jiwa
mungkin ada. Struktur secara teknikal tidak dapat diperbaiki dan tidak
kinerja, tetapi khusus untuk situasi di mana hanya untuk evaluasi seismic
kolom pada berbagai kategori taraf kinerja dapat dilihat pada Tabel 2.10.
mendapatkan nilai drift. Nilai drift ini digunakan sebagai indikator kinerja dari
struktur yang sedang dianalisis. Pada Tabel 2.10 memperlihatkan klasifikasi dari
deformation limit untuk berbagai macam tingkat kinerja. Di mana Maximum Total
drift didefinisikan sebagai rasio antar tingkat (drift) pada nilai target displacement.
37
Sementara maximum Inelastic Drift didefinisikan sebagai bagian dari Maximum
(Sumber : ATC – 40 )
Performance Level
Maximum
(Xmax/H)
Maximum
No
Inelastic 0.005 0.005-0.015 No Limit
Limit
Drift Limit
tentang perhitungan dinding geser dan penggunaan analisis pushover pada struktur
bangunan bertingkat.
38
berdasarkan mekanisme terbentuknya sendi plastis pada balok kolom
nominal V yang didistribusikan menjadi gaya geser tiap lantai Fi. Gaya
39
geser Fi kemudian didistribusikan ke tiap portal yang proporsinya sesuai
struktur kantilever, didapatkan gaya geser dan momen lentur, dan dari
diagram interaksi pada program PCACOL. Jika gaya aksial dan momen
nominal pada penampang kurang dari gaya aksial dan momen ultimit
hasil analisis, maka rasio tulangan perlu ditambah, dan dari besarnya
apakah dinding geser perlu diberi komponen batas atau tidak. Dari hasil
pada dinding geser lantai 1 sampai dengan 3 adalah D19 – 160 (2 lapis),
sisi).
40
gedung tidak beraturan. Dari penelitian tersebut terdapat beberapa
waktu getar alami yang hampir sama antara gedung dinding geser
sebagai wall.
41
4. Ananda MS, (2014) dalam penelitian yang berjudul “Perencanaan
Penulangan Dinding Geser (Shear Wall) Berdasarkan Tata Cara SNI 03-
2847- 2002” bertujuan untuk menentukan besar gaya pada dinding geser
pada suatu konstruksi portal 6 lantai dimana letak shearwall simetris dan
yang terjadi akibat kombinasi beban gempa (konsep gaya dalam) serta
tinggi gedung 24 m.
dinding geser diperoleh kuat geser (Vn) sebesar 5015,179 kN (Vn >
42
1) Tulangan yang dibutuhkan adalah 53098,807 kg
dinding geser (shear wall) lebih ekonomis dari struktur open frame.
berikut:
pada kelas Situs A mengikuti pola model 19, kelas situs B dan C
pada kelas Situs A mengikuti pola model 19 dan atau 20, kelas
43
D, mengikuti pola model 11 dan atau 19, dan kelas situs E
memenuhi { Y | Y ϵ A, Y ≤ 20 }.
44