1.
Cerita Rakyat Kelingking Sakti
Alkisah, ada sepasang suami istri di Jambi yang miskin dan belum
memiliki momongan. Meskipun mereka sudah puluhan tahun
membina rumah tangga, namun mereka tak kunjung memiliki
seorang anak. Segala daya upaya sudah dilakukan, tetapi hasilnya
selalu nihil.
Hingga akhirnya, sang suami memohon kepada Tuhan Yang Maha
Kuasa untuk mengabulkan permintaanya untuk memiliki seorang
anak laki-laki. Walaupun sebesar kelingking, mereka rela asalkan
memiliki anak.
Beberapa bulan kemudian, sang istri pun dikabarkan mengandung
seorang anak. Sesuai doa yang diminta oleh sang suami, anaknya
pun lahir hanya sebesar jari kelingking saja. Meskipun ukuran
badannya kecil, suami dan istri tersebut tetap bersyukur dan
menyayangi anaknya.
Pada suatu hari, desa Jambi didatangi oleh hantu pemakan manusia, nenek Gergasi.
Seluruh warga pun ketakutan, sehingga tidak ada satupun yang berani keluar rumah.
Demi menyelamatkan warga, raja dari desa Jambi pun mengajak rakyatnya untuk
mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Akan tetapi Kelingking menolak untuk mengungsi, ia lebih memilih tinggal di desa
untuk mengusir nenek Gergasi. Sayangnya, niat tersebut diragukan oleh para warga
karena badannya yang teramat kecil.
Namun Kelingking tidak mempedulikannya. Berkat keberanian dan kecerdasan
Kelingking, ia mampu membunuh setan tersebut dengan cara memasukkannya ke
jurang. Oleh karenanya, Raja Desa Jambi menghadiahkan Kelingking berupa pangkat
Panglima Perang.
2. Cerita Rakyat Lutung Kasarung
Pada jaman dahulu, ada dua orang putri dari Kerajaan Pasundan.
Mereka adalah Praburarang dan Purbasari yang memiliki wajah
sangat cantik serta berkulit putih.
Sepeninggalnya sang Raja, Purbasari diperintahkan untuk
menggantikan tahtanya. Mendengar hal tersebut, Praburarang
merasa sangat iri dan ingin mencelakakan Purbasari.
Ia memutuskan untuk menemui nenek sihir agar mengutuk adiknya,
Purbasari. Oleh karenanya, wajah dan tubuh Purbasari berubah
menjadi bertotol-totol hitam. Hal tersebut kemudian dijadikan
sebuah alasan untuk mengusirnya ke sebuah hutan, sehingga tahta
pun berhasil pindah ke tangan Praburarang.
Selama tinggal di hutan, Purbasari berteman dengan seekor kera
berbulu hitam. Kera tersebut bernama Lutung Kasarung. Ia sangat
perhatian dan menyayangi Purbasari.
Untuk membantu Purbasari, Lutung bersemedi di tempat yang sepi
pada saat bulan purnama. Tidak lama kemudian, terciptalah sebuah
telaga kecil yang berair sangat jernih. Lutung pun meminta
Purbasari mandi di telaga tersebut.
Hebatnya, air dari telaga tersebut mampu mengembalikan
kecantikannya. Purbasari pun bisa kembali ke wajahnya yang
semula, yaitu putih dan cantik.
Mendengar hal tersebut, Praburarang merasa cemas. Ia khawatir
jika adiknya merebut kembali tahtanya. Kemudian, ia pun
menghampiri adiknya dan mengajaknya beradu untuk
memperebutkan kursi raja.
Praburarang mengajak adiknya adu ketampanan dari tunangan
masing-masing. Purbasari menunjukkan Lutung Kasarung sebagai
tunanganya. Kakaknya pun menertawakannya dan merasa
tunanganya lebih tampan dari seekor kera.
Pada saat itu juga, lutung kasarung berubah ke wujud aslinya.
Ternyata ia adalah seorang pangeran dengan wajah yang tampan.
Prubararang akhirnya mengakui kekalahannya dan menyerahkan
tahta kerajaan kepada adiknya.
3. Cerita Rakyat Si Penakluk Rajawali
Dahulu, ada seorang raja di Sulawesi Selatan yang memiliki tujuh
orang putri. Konon, jika memiliki 7 orang anak, salah satunya harus
dipersembahkan kepada seekor Rajawali Raksasa agar keluarga
istana terhindar dari mala petaka.
Hal tersebut membuat sang raja sedih dan memutuskan untuk
membuka sayembara. Siapa saja yang berhasil menaklukan
Rajawali, jika ia laki-laki maka akan dinikahkan dengan salah satu
putrinya. Apabila ia perempuan, maka akan diangkat menjadi
anggota keluarga.
Oleh karena itu, banyak warga yang berbondong-bondong untuk
menyelamatkan putri kerajaan. Namun, tidak ada satupun yang
mampu mengalahkan Rajawali.
Saat Rajawali Raksasa mendekat dan hendak memakan sang putri,
datanglah seorang pemuda yang menyelamatkannya dengan seutas
tali dan badik. Ia pun sukses menikam dan membunuh Rajawali.
Sang putri pun akhirnya selamat dan bisa kembali ke kerajaan
dengan perasaan lega dan tenang.
Sayangnya, pemuda itu lantas pergi dan tidak datang untuk
meminta upahnya. Oleh karenanya, raja pun membuka kembali
sayembara untuk menemukan penakluk rajawali tersebut.
Oleh sebab itu, banyak sekali warga yang mengaku-ngaku telah
menyelamatkan sang putri. Untungnya, sang putri masih mengenali
wajah laki-laki yang telah menyelamatkannya. Ia pun berhasil
menemukan penyelamatnya tersebut.
Raja pun bertanya, “kenapa kamu tidak datang ke kerajaan, untuk
menagih janji atas keberhasilanmu menyelematkan anakku?” Anak
laki-laki itu pun menjawab, “aku menyelematkan sang putri bukan
karena hadiahnya, tapi hamba tulus. Kalaupun baginda raja ingin
menikahkan kami, hamba ingin semua itu berdasarkan permintaan
sang putri.”
Sang putri pun mengatakan jika ia telah menyukai laki-laki tersebut
sejak awal bertemu. Pada akhirnya, mereka hidup bersama dan
bahagia selamanya.
4. Cerita Rakyat Timun Mas
Di Jawa Tengah, hiduplah sepasang suami istri yang hidup
sederhana tapi bahagia. Hanya saja, mereka belum dikaruniai
seorang anak. Setiap malam mereka berdoa memohon kepada
Tuhan Yang Maha Esa agar diberikan momongan.
Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk datang ke gua
menemui raksasa. Konon, raksasa tersebut bisa memberikan
keturunan untuk pasangan suami tersebut.
Benar saja, selang beberapa saat setelah memohon, mereka
diberikan sebuah biji-bijian mentimun, yang nantinya akan tumbuh
seorang anak didalamnya. Tetapi raksasa memberikan satu syarat,
jika nanti anak tersebut sudah berumur 17 tahun, raksasa akan
mengambilnya untuk dijadikan makanan.
Pasangan suami istri tersebut merawat pohon mentimun dengan
kasih sayang. Beberapa saat kemudian tumbuhlah buah timun
berwarna keemasan. Setelah dibuka, terdapat bayi cantik
didalamnya dan mereka menamainya Timun Mas.
Tahun demi tahun berlalu, Timun Mas tumbuh menjadi gadis yang
sangat cantik dan menawan. Ibu dari Timun Mas pun mulai
khawatir, karena sebentar lagi anak kesayangannya akan berusia 17
tahun dan pastinya raksasa jahat akan mengambilnya.
Untuk itu, ia berpesan pada Timun Mas untuk lari dari raksasa
tersebut dan memberinya sebuah benda ajaib dalam kantong.
Benda tersebut adalah garam, cabai, dan biji-bijian mentimun.
Pada saat raksasa mengejarnya, Timun Mas melemparkan benda
ajaib tersebut secara bergantian kepadanya . Hingga akhirnya, ia
berhasil membunuh raksasa tersebut. Ia pun kembali ke pelukan ibu
dan ayahnya.
5. Cerita Rakyat Bawang Merah Bawang Putih
Di sebuah desa, tinggallah seorang anak bernama Bawang Putih
bersama dengan ayahnya. Ibu Bawang Putih sudah meninggal
sehingga sang ayah memutuskan untuk menikah kembali.
Sayangnya, ibu tiri dan saudara tirinya yang bernama Bawang
Merah selalu bersikap buruk kepada Bawang Putih.
Kejahatanya semakin menjadi-jadi ketika sang ayah meninggal
dunia. Bawang putih diperlakukan layaknya seorang asisten rumah
tangga.
Pada suatu pagi, Bawang Putih sedang mencuci baju di sungai.
Dikarenakan aliran airnya terlalu deras, salah satu baju ibu tirinya
pun hanyut.
Mengetahui hal tersebut, ibu tiri langsung memarahinya dan
meminta Bawang Putih untuk menemukannya. Dengan berat hati, ia
pun menulusuri sungai untuk menemukan baju ibunya. Ternyata
baju tersebut ditemukan oleh seorang nenek.
Nenek tersebut akan memberikannya, tapi dengan syarat Bawang
Putih harus menemaninya selama satu minggu. Dengan senang
hati, Bawang Putih menemani nenek tersebut. Setiap hari ia
membantunya merapikan dan merawat rumah.
Setelah satu minggu berlalu, nenek itu mengembalikan baju ibunya
dan menawarkan hadiah kepada Bawang Putih atas bantuannya
merawat rumah. Hadiah tersebut berupa labu siam besar dan kecil.
Bawang putih memilih yang kecil karena tidak ingin menyusahkan si
nenek.
Setelah kembali ke rumah dan mebuka labu tersebut, ternyata
isinya adalah emas-emasan. Mengetahui hal itu, Bawang Merah
memutuskan untuk kerumah nenek tersebut dan meminta labu siam
yang besar secara paksa.
Ia berharap jika labunya lebih besar, maka isi perhiasannya pun
semakin banyak. Namun, setelah labu tersebut dibuka yang muncul
justru binatang buas.
1. Legenda Telaga Bidadari
Alkisah, ada seorang pemuda tampan bernama Awang Sukma yang
tinggal di hutan. Ia adalah penguasa daerah hutan tersebut.
Pada suatu hari, Awang mendengar suara wanita dari telaga.
Ternyata di telaga tersebut ada 7 orang bidadari cantik yang sedang
mandi. Awang mengintip bidadari tersebut dari balik semak-semak
dan mengambil salah satu dari selendangnya.
Ketika selesai mandi, para bidadari tersebut mengambil
selendangnya dan kembali ke khayangan. Namun, si bungsu tidak
bisa kembali karena selendangnya diambil oleh Awang Sukma. Ia
pun ditinggalkan oleh keenam kakaknya.
Saat itu, Awang keluar dari persembunyiannya dan membujuk si
bungsu untuk tinggal bersamanya. Karena takut sendirian, ia pun
memutuskan tinggal bersama Awang.
Sesampainya di rumah, Awang menyembunyikan selendang milik
putri bungsu di balik lumbung padi. Hal tersebut ia lakukan lantaran
tidak ingin bidadarinya memutuskan untuk kembali ke khayangan.
Setelah lama tinggal bersama, mereka akhirnya memutuskan untuk
menikah dan dikaruniai satu orang anak. Kehidupan mereka
sangatlah bahagia dan berkecukupan. Namun, kebahagiaan itu
mulai surut ketika si putri bungsu menemukan selendangnya saat
akan mengambil padi di lumbung.
Ia merasa sangat sedih dan kecewa atas kebohongan Awang selama
ini. Dengan berat hati, ia memutuskan untuk kembali ke khayangan
dan meninggalkan Awang serta anaknya. Namun, ia berjanji akan
sering kembali ke bumi untuk menengok putri kesayanganya.
Awang pun menyesal atas perbuatannya selama ini. Ia kini tinggal
berdua dengan anaknya dalam rasa penyeselan yang mendalam.
2. Legenda Candi Prambanan
Dahulu kala, di desa Prambanan ada sebuah kerajaan yang dipimpin
Prabu Baka. Ia memiliki seorang putri cantik bernama Roro
Jongrang.
Suatu ketika, kerajaan Prambanan berperang dengan Kerajaan
Pengging yang dipimpin oleh Bandung Bondowoso. Pada
peperangan itu Prabu Baka kalah dan tewas oleh serangan Bandung
Bondowoso. Ia kemudian menguasai kerajaan Prambanan
menggantikan Prabu Baka.
Melihat kecantikan Roro Jongrang, Bandung Bondowoso
memutuskan untuk menikahinya. Namun, ia menolak dengan cara
memberikan syarat yang tidak mungkin Bandung Bondowoso bisa
lakukan. Syarat tersebut adalah membuat seribu candi dalam waktu
satu malam.
Berkat bantuan balatentara roh-roh halus, Bandung Bondowoso
hampir menyelesaikan 1000 candi hanya dalam waktu 1 malam.
Merasa khawatir akan keberhasilannya membangun 1000 candi,
Roro Jonggrang memutuskan untuk membangunkan gadis-gadis di
Desa Prambanan untuk memukul alu pada lesung.
Suasana saat itu sangat riuh, ayam jantan pun berkokok bersautan.
Mendengar suara itu, para roh halus segera meninggalkan
pekerjaan karena khawatir jika matahari segera terbit. Padahal,
pada saat itu hanya kurang 1 candi untuk melengkapi seribu
candinya.
Bandung Bondowoso sangat terkejut dan marah menyadari
usahanya yang telah gagal. Ia kemudian mengutuk Roro Jongrang
menjadi sebuah arca.
3. Legenda Gunung Bromo
Alkisah, pada jaman dahulu hiduplah seorang pemuda bernama Joko
Seger yang jatuh hati kepada Roro Anteng. Mereka pun menjalin
kasih dan memutuskan untuk segera menikah. Sayangnya, niat
tersebut terrhambat oleh orang jahat nan sakti yang ingin merebut
Roro Anteng.
Tetapi Roro tidak berani melakukan penolakan karena merasa
khawatir jika terjadi hal buruk yang mungkin akan dilakukan orang
jahat tersebut. Gadis cantik itu pun kemudian membuat sebuah
persyaratan. Ia menyuruh orang sakti itu untuk membuat lautan di
Bromo dalam waktu semalam.
Sayangnya, pria jahat itu menyanggupinya dan berusaha membuat
sumur di Gunung Bromo menggunakan tempurung kelapa atau
dalam bahasa Jawa disebut dengan batok. Demi menggagalkan
usahanya, Roro Anteng memukulkan alu padi untuk membangunkan
para ayam agar mereka segera berkokok.
Untungnya, usaha tersebut berhasil dan pria jahat itu pun kalah
karena ia belum berhasil membuat lautan. Itulah alasan kenapa
Gunung Bromo berbentuk tumpul.
Merasa marah dan mengamuk, ia melemparkan batok kelapa yang
digunakan dan sekarang menjadi Gunung Batok. Setelah itu, Roro
Anteng kembali ke pelukan Joko Seger. Mereka pun hidup bahagia
selamanya.
4. Legenda Kawah Sikidang Dieng
Pada zaman dahulu, berdiri sebuah kerajaan nan mewah dan indah.
Salah satu putri di kerajaan tersebut bernama Shinta Dewi. Ia
terkenal akan kecantikannya yang luar biasa bak bidadari, sehingga
banyak pangeran yang ingin mempersuntingnya.
Salah satu pangeran yang ingin melamarnya adalah Kidang
Garungan. Pangeran tersebut terkenal akan kekayaannya yang luar
biasa, hampir semua kemewahan dimilikinya. Selain itu, ia juga
terkenal memiliki kesaktian.
Mengetahui akan hal tersebut, Putri Shinta Dewi pun setuju menikah
dengan Kidang Garungan. Meskipun sebelumnya Shinta belum
pernah bertemu Kidang, ia tetap yakin atas keputusannya untuk
menikah dengan pangeran kaya raya tersebut.
Pada saat prosesi pernikahan tersebut akan dilangsungkan, Shinta
Dewi terkejut melihat wajah Pangeran Kidang. Walaupun berbadan
sangat kuat dan tegar, ternyata wajahnya menyerupai kepala kijang
jantan.
Dalam hati, Shinta Dewi ingin menggagalkan pernikahan tersebut
tetapi merasa keputusannya itu akan mempengaruhi kejayaan
kerajaanya. Oleh karena itu, Shinta membuat persyaratan yang
kiranya sulit untuk dilakukan oleh pangeran Kidang. Permintaan itu
adalah membuat sumur yang sangat dalam dan besar.
Namun, pangeran Kidang menyetujui hal tersebut. Dengan
semangat yang menggebu, ia berusaha membuat sumur yang besar
tersebut. Ditengah usahanya, Shinta Dewi memerintah para
prajuritnya untuk menutup kembali lubang sumur itu dengan tanah.
Pangeran Kidang pun terkubur dalam tanah tersebut. Dengan
kekuatannya yang luar biasa, ia berusaha keluar dari timbunan
tanah tersebut hingga menimbulkan getaran dan permukaan tanah
menjadi panas.
Tetapi, usahanya tersebut sia-sia, ia tidak sanggup lagi keluar dari
timbunan tanah tersebut. Tanah yang bergetar dan menyebabkan
permukaanya menjadi panas tersebut kemudian dinamakan dengan
Kawah Sikidang.
Atas perbuatan jahat dari Shinta Dewi ke Pangeran Kidang, ia
mendapatkan kutukan berambut gimbal dan berwajah buruk rupa.
Kutukan berambut gimbal tersebut tidak hanya dialami oleh Shinta
Dewi saja tetapi juga seluruh keturunannya.
5. Legenda Danau Maninjau
Alkisah, di sebuah perkampungan di Kaki Gunung Tinjau, Sumatra
Barat, hiduplah dua orang yang saling mencintai. Kedua orang
tersebut bernama Siti Rasani dan Giran. Mereka ingin segera
menikah, namun salah satu kakak dari Siti yang bernama Kukuban
tidak menyetujuinya.
Ia tidak menyetujuinya dikarenakan dendam dengan Giran yang
pernah mengalahkannya pada saat pertandingan silat dan
menyebabkan kakinya terluka. Siti sudah berulang kali membujuk
kakaknya untuk memberikan restu padanya, namun kakaknya tetap
bersikukuh menentang cinta mereka.
Pada suatu hari, Giran dan Siti sedang pergi ke hutan untuk mencari
obat untuk kakaknya. Dalam perjalanan pulang, rok yang dikenakan
Siti tersangkut kayu yang berduri hingga sobek. Salah satu warga
yang melihat kejadian tersebut menuduh mereka berbuat hal
memalukan dan melanggar etika adat.
Oleh karena itu, Giran dan Siti digiring warga untuk diadili. Sidang
adat memutuskan bahwa mereka bersalah dan sebagai
hukumannya keduanya harus dibuang ke Kawah Gunung Tinjau agar
tidak membawa malapetaka bagi penduduk.
Giran berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, namun
tidak ada satu pun warga yang memercayainya. Di puncak Gunung
Tinjau, sebelum mereka dibuang ke kawah, Giri berdoa kepada
Allah. Dalam doa tersebut ia meminta Tuhan meletuskan gunung
sebagai tanda bahwa mereka tidak bersalah.
Tidak lama setelah kedua pasangan tersebut dibuang, terjadilah
letusan dahsyat di Gunung Tinjau. Hal itu menyebabkan gempa
hebat dan menghancurkan seluruh pemukiman penduduk.
Bahkan, letusan tersebut menyebabkan kawahnya semakin
membesar hingga menyerupai danau. Danau tersebut hingga kini
disebut dengan nama Danau Maninjau.