Faktor Penyebab ISPA
Faktor-faktor penyebab ISPA terbagi dalam kelompok yaitu intrinsik dan
ekstrinsik (Depkes, 2009).Faktor internal merupakan suatu keadaan didalam diri
penderita (balita) yang memudahkan untuk terpapar dengan bibit penyakit (agent) ISPA
yang meliputi jenis kelamin, umur, berat badan lahir, status gizi, dan status imunisasi.
Faktor Intrinsik
a. Jenis kelamin
Jenis kelamin merupakan faktor resiko terhadap kejadian ISPA yaitu laki-laki
lebih beresiko di banding perempuan, hal ini disebabkan aktivitas anak laki-laki
lebih banyak dari anak perempuan sehingga peluang untuk terpapar oleh agent
lebih banyak. Penelitian yang dilakukan oleh Yusuf dan Lilis (2011), didapatkan
hasil bahwa proporsi kasus ISPA menurut jenis kelamin tidak sama, yaitu laki-
laki 59% dan perempuan 41%, terutama pada anak usia muda.
b. Umur
Umur mempunyai pengaruh cukup besar untuk terjadinya [Link] dengan
umur <2 tahun merupakan faktor resiko terjadinya [Link] ini disebabkan
karena anak dibawah dua tahun imunitasnya belum sempurna dan saluran napas
lebih sempit. Kejadian ISPA pada bayi dan balita akan memberikan gambaran
klinik yang lebih besar dan jelek, hal ini disebabkan karena ISPA pada bayi dan
balita merupakan kejadian infeksi pertama serta belum terbentuknya secara
optimal proses kekebalan secara alamiah.
c. Status Gizi Balita
Dalam keadaan gizi yang baik, tubuh mempunyai cukup kemampuan untuk
mempertahankan diri terhadap penyakit infeksi. Jika keadaan gizi menjadi buruk
maka reaksi kekebalan tubuh akan menurun yang berarti kemampuan tubuh untuk
mempertahankan diri terhadap serangan infeksi menjadi turun. Oleh karena itu,
setiap bentuk gangguan gizi sekalipun dengan gejala defisiensi yang ringan
merupakan pertanda awal dari terganggunya kekebalan tubuh terhadap penyakit.
Penelitian yang dilakukan di berbagai negara menunjukkan bahwa infeksi
protozoa pada anak-anak yang tingkat gizinya buruk akan jauh lebih parah
dibandingkan dengan anak-anak yang gizinya baik (Notoatmodjo, 2013).
d. Status Imunisasi
Imunisasi berarti memberikan kekebalan terhadap suatu penyakit [Link]
satu strategi untuk mengurangi kesakitan dan kematian akibat ISPA pada anak
adalah dengan pemberian imunisasi. Pemberian imunisasi dapat menurunkan
angka kesakitan dan kematian pada balita tertutama penyakit yang dapat dicegah
dengan imunisasi. Setiap anak harus mendapatkan imunisasi dasar terhadap tujuh
penyakit utama sebelum usia satu tahun yaitu imunisasi BCG, DPT, hepatitis B,
polio, campak. Imunisasi bermafaat untuk mencegah beberapa jenis penyakit
infeksi seperti campak, polio, TBC, difteri, pertusis, tetanus dan hepa-titis B.
Bahkan imunisasi juga dapat mencegah kematian dari akibat penyakit-penyakit
tersebut. Sebagian besar kasus ISPA merupakan penyakit yang dapat dicegah
dengan imunisasi, penyakit yang tergolong ISPA yang dapat dicegah dengan
imunisasi adalah difteri dan batuk rejan.
Faktor Ekstrinsik
a. Kepadatan Hunian
Kepadatan hunian dalam rumah menurut keputusanmenteri kesehatan nomor
829/MENKES/SK/VII/1999 tentangpersyaratan kesehatan rumah, satu orang
minimal menempatiluas rumah 8m².Dengan kriteria tersebut diharapkan
dapatmencegah penularan penyakit dan melancarkan [Link] tempat
tinggal yang padat dapatmeningkatkan faktor polusi dalam rumah yang telah
[Link] menunjukkan ada hubungan bermakna antarakepadatan dan
kematian dari bronkopneumonia pada bayi,tetapi disebutkan bahwa polusi udara,
tingkat sosial, danpendidikan memberi korelasi yang tinggi pada faktor ini(Prabu,
2009).
b. Ventilasi kurang memadai
Ventilasi yaitu proses penyediaan udara ataupengerahan udara ke atau dari
ruangan baik secara alamimaupun secara mekanis. Fungsi dari ventilasi
dapatdijabarkan sebagai berikut :
a) Mensuplai udara bersih yaitu udara yang mengandungkadar oksigen yang
optimum bagi pernapasan.
b) Membebaskan udara ruangan dari bau-bauan, asapataupun debu dan zat-zat
pencemar lain dengan carapengenceran udara
c) Mensuplai panas agar hilangnya panas badan seimbang.
d) Mensuplai panas akibat hilangnya panas ruangan danbangunan.
e) Mengeluarkan kelebihan udara panas yang disebabkanoleh radiasi tubuh,
kondisi, evaporasi ataupun keadaaneksternal. Mendisfung-sikan suhu udara
secara merata(Prabu, 2009).
c. Asap Dalam Ruangan
Pencemaran udara dalam rumah terjadi terutama karena aktivitas penghuninya,
antara lain ; penggunaan bahan bakar biomasa untuk memasak maupun
memanaskan ruangan, asap dari sumber penerangan yang menggunakan minyak
tanah sebagai bahan bakarnya, asap rokok, penggunaan insektisida semprot
maupun bakar. Disamping itu ditentukan juga oleh ventilasi, penggunaan bahan
bangunan sintetis berupa cat dan asbes (Anwar, A., 2012).Penggunaan bahan bakar
biomasa seperti kayu bakar untuk memasak, arang dan minyak tanah muncul
sebagai faktor resiko terhadap terjadinya infeksi saluran [Link] ini
sebagian masyarakat pedesaan masih menggunakan bahan bakarbiomasa untuk
memasak. Ditambah lagi dengan kebiasaan ibu yang membawa bayi/anak balitanya
di dapur yang penuh asap sambil memasak akan mempunyai resiko yang lebih
besar untuk terkena ISPA dibandingkan dengan ibu yang tidak membawa bayi/anak
balitanya didapur.
d. Tingkat Pengetahuan Ibu
Keterbatasan kesempatan untuk memperoleh pendidikan merupakan faktor yang
dapat mempengaruhi tingkat kesehatan, serta upaya pencegahan penyakit.
Padakelompok masyarakat dengan tingkat pendidikan yang rendah pada umumnya
status ekonominya rendah pula. Mereka sulit untuk menyerap informasi mengenai
kesehatan dalam hal penularan dan cara pencegahannya. Pendidikan yang rendah
menyebabkan masyarakat tidak tahu cara untuk memilih makanan yang bergizi dan
pengadaan sarana sanitasi yang diperlukan (Soewasti, dkk.,2007). Tingkat
pendidikan ibu yang rendah merupakan faktor resiko yang meningkatkan kematian
ISPA terutama pnemonia. Kekurang pahaman orang tua terhadap pnemonia juga
menyebabkan keterlambatan mereka mambawa anak mereka yang sakit pada
tenaga [Link] beranggapan bahwa bayi/anak balita mereka hanya
menderita batuk-batuk biasa, yang sebenarnya merupakan tanda awal
[Link] tua hanya memberikan obat batuk tradisional yang tidak
memecahkan masalah (Tuminah, S., 2009).
Patofisiologi ISPA
Menurut Amalia Nurin, dkk, (2014) Perjalanan alamiah penyakit ISPAdibagi 4
tahap yaitu :
1. Tahap prepatogenesis : penyebab telah ada tetapi belum menunjukkan reaksi apa-
apa.
2. Tahap inkubasi : virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa. Tubuh menjadi
lemah apalagi bila keadaan gizi dan daya tahan sebelumnya rendah.
3. Tahap dini penyakit : dimulai dari munculnya gejala penyakit, timbul gejala demam
dan batuk.
4. Tahap lanjut penyaklit, dibagi menjadi empat yaitu dapat sembuh sempurna,
sembuh dengan atelektasis, menjadi kronis dan meninggal akibat pneumonia.
Saluran pernafasan selama hidup selalu terpapar dengan dunia luar sehingga untuk
mengatasinya dibutuhkan suatu sistem pertahanan yang efektif dan efisien. Ketahanan
saluran pernafasan tehadap infeksi maupun partikel dan gas yang ada di udara amat
tergantung pada tiga unsur alami yang selalu terdapat pada orang sehat yaitu keutuhan epitel
mukosa dan gerak mukosilia, makrofag alveoli, dan antibodi. Infeksi bakteri mudah terjadi
pada saluran nafas yang sel-sel epitel mukosanya telah rusak akibat infeksi yang terdahulu.
Selain hal itu, hal-hal yang dapat mengganggu keutuhan lapisan mukosa dan gerak silia
adalah asap rokok dan gas SO2 (polutan utama dalam pencemaran udara), sindroma imotil,
pengobatan dengan O2 konsentrasi tinggi (25 % atau lebih). Makrofag banyak terdapat di
alveoli dan akan dimobilisasi ke tempat lain bila terjadi infeksi. Asap rokok dapat
menurunkan kemampuan makrofag membunuh bakteri, sedangkan alkohol akan menurunkan
mobilitas sel-sel ini. Antibodi setempat yang ada di saluran nafas ialah Ig A. Antibodi ini
banyak ditemukan di mukosa. Kekurangan antibodi ini akan memudahkan terjadinya infeksi
saluran nafas, seperti yang terjadi pada anak. Penderita yang rentan (imunokompkromis)
mudah terkena infeksi ini seperti pada pasien keganasan yang mendapat terapi sitostatika atau
[Link] infeksi pada ISPA dapat melalui jalan hematogen, limfogen,
perkontinuitatum dan udara nafas.
DAFTAR PUSTAKA
Amalia Nurin, dkk. 2014. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan ISPA. KTI.
Poltekes Kemenkes Riau. (Online), tersedia: [Link] 14
Maret 2022.
[Link], 2009 Sistem Kesehatan Nasional. Jakarta.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2013. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta : PT
Rineka Cipta.
Prabu, Putra. 2009. Rumah Sehat dan Perilaku Sehat. Jakarta: Rineka Cipta. Soewasti,
dkk., 2007. Pedoman Nasional. Penanggulangan ISPA. Cetakan ke 8. Jakarta: Depkes
RI
Rahajeng E, Tuminah S. 2009. Prevalensi Determinannya ISPA di Indonesia. Jakarta:
Pusat Penelitian Biomedis dan Farmasi Badan Penelitian Kesehatan Departemen
Kesehatan RI, Jakarta.
Hidayat, A. Aziz Alimul, 2012, Konsep Dasar Keperawatan, Jakarta: Salemba
Medika.