USULAN PENELITIAN
IMPLEMENTASI PERATURAN DAERAH NOMOR 9 TAHUN
2013 TENTANG PENATAAN DAN PEMBERDAYAAN
PEDAGANG KAKI LIMA PADA KAWASAN TAMAN ARUNK
BELOPA KECAMATAN KAPUAS KABUPATEN SANGGAU
Program Studi Ilmu Administrasi Publik
Kajian Kebijakan Publik
Oleh :
Gusti Rayhan Mahardhika
E1011181125
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2025
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis harutkan kepada ALLAH SWT, KARENA berkat
limpahan dan rahmat dan karunianya hingga penulis dapat menyelesaikan proposal
ini dengan tepat waktu yang sudah ditentukan.
Adapun Tujuan Dari Penulisan Proposal Ini Adalah Untuk Menyelesaikan
Seluruh Proses Perkuliahan. Selain Itu, Proposal Ini Juga Bertujuan Untuk
Menambah Wawasan Tentang “Implementasi Perda No 9 Tahun 2013 Tentang
Penataan Dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima Pada Kawasan Taman Arunk
Belopa Kecamatan Kapuas Kabupaten Sanggau”. Bagi Para Pembaca Dan Juga
Penulis.
Saya Juga Berterimakasih Kepada Semua Pihak Yang Telah Selama Ini
Membantu Saya Dalam Menyelesaikan Proposal Ini.
Saya Menyadari Proposal Yang Saya Tulis Ini Masih Jauh Dari Kata
Sempurna. Oleh Karena Itu, Segala Kritik Dan Saran Yang Membangun Akan Saya
Perbaiki Demi Kesempurnaan Proposal Ini.
pontianak, 20 juli 2025
Gusti Rayhan Mahardhika
I
DAFTAR ISI
BAB I ...................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN................................................................................................... 1
A. Latar Belakang................................................................................................ 1
1.2 Identifikasi Masalah ...................................................................................... 6
1.3 Fokus Penelitian ............................................................................................ 6
1.4 Rumusan Masalah ......................................................................................... 6
1.5 Tujuan Penelitian ........................................................................................... 7
1.6 Manfaat Penelitian ......................................................................................... 7
BAB II ..................................................................................................................... 9
TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................................... 9
2.1 Konsep Kebijakan Publik .............................................................................. 9
2.2 Konsep Implementasi Kebijakan ................................................................. 11
2.3 konsep pedagang kaki lima ......................................................................... 21
2.4 Penelitian yang Relevan .............................................................................. 27
2.5 Alur Pikir Penelitian .................................................................................... 30
BAB III ................................................................................................................. 33
METODE PENELITIAN ................................................................................... 33
3.1 Metode Penelitian ........................................................................................ 33
3.2 Teknik Pengumpulan Data .......................................................................... 34
3.3 Instrumen Penelitian .................................................................................... 36
3.4 Teknik Analisis Data ................................................................................... 37
3.5 Teknik Keabsahan Data ............................................................................... 39
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 41
II
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pedagang kaki lima adalah sebutan untuk para penjual yang berjualan di
trotoar, pinggir jalan, atau tempat umum lainnya, biasanya dengan menggunakan
gerobak, tenda, atau meja kecil. Mereka sering kali menjual makanan, minuman,
atau barang-barang kebutuhan sehari-hari.
Ciri khas dari pedagang kaki lima adalah lokasi mereka yang strategis dan
mudah diakses oleh masyarakat, serta harga yang biasanya lebih terjangkau
dibandingkan dengan toko atau restoran. Pedagang kaki lima memainkan peran
penting dalam perekonomian lokal, menyediakan lapangan pekerjaan dan pilihan
konsumsi yang bervariasi bagi masyarakat. Namun, mereka juga sering
menghadapi tantangan seperti izin usaha, penertiban dari pihak berwenang, dan
persaingan dengan pedagang lainnya.
Dalam konteks kebijakan publik, efektivitas mencakup sejauh mana
peraturan dan kebijakan mencapai target yang telah ditetapkan. Implementasi,
sebagai bagian integral dari efektivitas, merujuk pada pelaksanaan atau penerapan
peraturan tersebut (Rosalina, 2012). Pertumbuhan Pedagang Kaki Lima (PKL)
meningkat secara signifikan akibat urbanisasi dan perkembangan ekonomi di kota-
kota besar. Meskipun lapangan pekerjaan terbuka luas, tidak semua masyarakat
urban memenuhi kriteria yang ditetapkan, sehingga banyak yang beralih ke sektor
informal seperti menjadi PKL.
1
2
PKL merupakan elemen penting dalam ekosistem perkotaan, namun
keberadaan mereka menimbulkan tantangan seperti gangguan lalu lintas, masalah
sanitasi, dan persaingan dengan ritel modern. Regulasi perizinan yang rumit dan
biaya tinggi juga menjadi hambatan bagi PKL untuk beroperasi secara legal (Fadoli,
2011). Dengan pendekatan yang tepat, PKL dapat terus berkontribusi pada
keberlanjutan dan inklusi sosial-ekonomi perkotaan. Dalam studi ini, fokus akan
diberikan pada langkah-langkah yang diambil untuk meningkatkan kesejahteraan
pedagang kaki lima (PKL) di Pasar Sentral, kecamatan kapuas, kabupaten sanggau
sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2013.
Pedagang kaki lima merupakan aset yang saat ini di Indonesia menjadi salah
satu yang menjadi perhatian pemerintah terkait dengan penataan sesuai dengan
peraturan daerah. Banyak sekali muncul pedagang kaki lima terutama di kota besar
dikarenakan menjadi salah satu solusi mudah untuk menghasilkan uang. Tetapi,
karena menjamurnya pedagang kaki lima tersebut mengakibatkan carut marutnya
penataan kota karena mereka (para pedagang kaki lima) tidak lagi memperhatikan
faktor efisiensi dan faktor keindahan kota, karena mereka mementingkan
bagaimana mendapatkan uang dengan cepat. Selain itu permasalahan dari daerah
yang terkadang juga kurang memperhatikan mereka sehingga kurangnya tempat
bagi pedagang kaki lima untuk berjualan.
Pemberdayaan disini dalam arti bahwa perlu adanya campur tangan
pemerintah untuk bisa meberdayakan pedagang kaki lima sebagai aset daerah.
Bentuk pemberdayaan yang dimaksud adalah bisa dengan pemberian tempat yang
memadai hingga tidak mengganggu tata letak kota maupun bisa dengan
3
memberikan modal kecil bagi mereka yang benar-benar membutuhkan. Tetapi akan
menjadi permasalahan besar jika ternyata pedagang kaki lima berkembang tak
terkontrol karena semakin besarnya kebutuhan hidup masyarakat dan
bertambahnya jumlah penduduk. Kemudahan mencari uang dengan berdagang
membuat masyarakat menganggap berdagang adalah satu-satunya cara bagi mereka
mendapatkan pemasukan keluarga. Tetapi mereka tidak memperhatikan dampak
yang terjadi pada kota yang mereka tinggali jika pedagang kaki lima muncul tak
beraturan hingga mereka mengambil tempat-tempat strategis yang seharusnya
tempat tersebut tidak bisa digunakan untuk berdagang. Terlebih jika para pedagang
kaki lima menggunakan sebagian trotoar pejalan kaki. Pemerintah memaklumi jika
pedagang menggunakan trotoar untuk berdagang karena kebutuhan sosial mereka,
tetapi pedagang kaki lima juga harus memperhatikan hak dari pejalan kaki bahwa
trotoar adalah tempat mereka berjalan kaki.
Hal tersebut akan sedikit menjadi pertentangan bagi masyarakat bila ditinjau
dari Perda Nomor 9 Tahun 2013 tentang penataan dan pemberdayaan pedagang
kaki lima, pada pasal 5 dijelaskan bahwa pemerintah daerah berkewajiban
memberikan kesempatan para PKL berusaha dengan penetapan pemberian lokasi
yang sesuai dengan peruntukannya demi mewujudkan kota yang bersih, tertib dan
aman dengan sarana dan prasarana perkotaan yang memadai dan berwawasan
lingkungan. di daerah. Sehingga mereka yang bergelut sebagai kaum marginal atau
golongan have nots dapat hidup yang layak sesuai dengan kemampuannya atas
pekerjaan yang layak (Ridlo, 2016: 96). Dapat dilihat bahwa orang akan menyalah
prediksikan bahwa memberikan kehidupan yang layak untuk PKL adalah dengan
4
membebaskan mereka untuk berjualan sesuka hati mereka. Ada aturan-aturan bagi
mereka untuk dipatuhi sehingga pemerintah akan dengan suka cita membantu para
PKL dengan pembinaan.
namun yang terjadi dilapangan selalu ada perselisihan antara pedagang kaki
lima dengan pemerintah kabupaten sanggau melalui dinas perindustrian
perdagangan koperasi dan UMKM karena mereka menggunakan tempat yang tidak
seharusnya dijadikan tempat jualan pada kawasan taman arunk belopa. Akar
permasalahannya adalah pedagang kaki lima menggunakan tempat yang
menggangu arus kendaraan di sekitaran taman arunk belopa yang mana sangat
berdekatan dengan pasar sentral (jarai) serta terminal bis. Penertiban dilakukan
karena mereka membandel, akan tetapi para pedagang beralasan bahwa mereka
merasa tempat yang disediakan sama pemerintah kabupaten sanggau kurang
memadai.
Permasalahan penertiban pedagang kaki lima di atas merupakan
permasalahan klasik yang sering terjadi di kota-kota besar dan belum bisa
ditemukan ujung pangkal permasalahan sesungguhnya. Ini akan terus berlanjut bila
pemerintah terutama pemerintah daerah tidak segera menindak lanjutinya. Bentuk
tindak lanjut dari pemerintah daerah adalah dengan adanya kebijakan penataan
pedagang kaki lima. Walaupun kenyataannya di lapangan kebijakan tersebut belum
tentu efektif, tetapi paling tidak pedagang mengerti dan pemerintah akan lebih
leluasa melakukan penindakan keras terhadap pedagang yang nakal.
5
Demikian halnya dengan yang terjadi di kawasan taman arunk belopa,
banyak sekali para pedagang kaki lima yang memilih tempat mereka untuk
berdagang di tepi jalan taman arunk belopa. Untuk saat ini memang belum ada
tindakan serius dari pemerintah kabupaten sanggau atas Pedagang Kaki Lima di
kawasan taman arunk belopa. Secara visual tampak bahwa taman arunk belopa
menjadi tempat tujuan wisata kuliner karena adanya para pedagang kaki lima, tetapi
juga tampak bahwa penataan taman menjadi sedikit carut marut karena pedagang
kaki lima terutama tempat parkir bagi para pelanggan dari PKL tersebut.
Kemacetan akan sering terjadi ketika malam hari dan hari-hari libur. Dampak
lainnya adalah sampah hasil dari limbah PKL juga terkadang tidak dibersihkan
sehingga menggangu keindahan taman.
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis sebagai mahasiswa Program
Studi ilmu administrasi publik tertarik untuk mengadakan penelitian tentang
“Implementasi peraturan daerah nomor 9 tahun 2013 tentang penataan dan
pemberdayaan pedagang kaki lima pada kawasan taman arunk belopa kelurahan
beringin kecamatan kapuas kabupaten sanggau”. hal tersebut erat kaitannya dengan
program studi ilmu administrasi publik.
6
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian dan pemaparan diatas, identifikasi permasalahan dalam
masalah penataan dan pemberdayaan pedagang kaki lima pada kawasan taman
arunk belopa kecamatan kapuas kabupaten sanggau penulis rangkap ini yaitu:
1. Masih adanya pedagang kaki lima yang berjualan diluar tempat yang
disediakan.
2. Lokasi dan penempatan yang disediakan terhadap pedagang kaki lima
kurang memadai.
1.3 Fokus Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah serta mengingat ruang lingkup
penataan dan pemberdayaan pedagang kaki lima sangat luas dan agar penelitian ini
lebih terfokus maka fokus penelitian pada penelitian ini adalah
1. Penelitian berfokus pada sejauh mana pemkab sanggau dalam mengatasi
permasalahan penataan dan pemberdayaan kepada pedagang kaki lima.
2. mengidentifikasi hambatan dan tantangan dalam penataan dan
pemberdayaan pedagang kaki lima.
1.4 Rumusan Masalah
7
Berdasarkan identifikali masalah dan fokus penelitian tersebut maka dalam
penelitian ini peneliti menggunakan rumusan masalah berbentuk deskriptif dan
dapat dirumuskan menjadi “ mengapa implementasi peraturan daerah nomor 9
tahun 2013 Belum Berjalan Optimal?”.
1.5 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah sesuai dengan masalah yang
dikemukakan sebelumnya yaitu untuk menganalisis dan mengkaji faktor-faktor
yang mempengaruhi Implementasi peraturan daerah sanggau tentang penataan dan
pemberdayaan pedagang kaki lima sesuai dengan teori yang dipakai, yaitu teori
oleh george edward III yang mengemukakan empat faktor, yaitu komunikasi,
sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi.
1.6 Manfaat Penelitian
1. Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat memperluas wawasan
dan memperkaya pandangan ilmiah tentang Ilmu Administrasi Publik
khususnya dalam kajian Kebijakan Publik yang terkait dengan
Implementasi peraturan tentang penataan dan pemberdayaan pedagang kaki
lima pada kawasan taman arunk belopa di kabupaten sanggau.
2. Secara praktis hasil penelitian ini dapat menjadi masukan dan sumbangan
pemikiran bagi pihak Dinas perindustrian perdagangan koperasi dan
UMKM selaku pihak implementor kebijakan, harapannya adalah agar
8
instansi terkait dapat memperbaiki atau melengkapi dari kekurangan yang
ada dalam mengimplementasikan peraturan daerah kabupaten sanggau
Nomor 9 Tahun 2013 Tentang Penataan Dan Pemberdayaan Pedagang Kaki
Lima.
Untuk peneliti selanjutnya diharapkan penelitian ini akan bermanfaat
sebagai rujukan atau refrensi dalam proses penelitian skripsi atau laporan
yang akan dibuat diwaktu mendatang.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Kebijakan Publik
Konsep kebijakan publik menurut Sulaiman adalah sebagai suatu proses
yang mengandung berbagai pola berbagai aktivitas tertentu yang merupakan
seperangkat keputusan yang bersangkutan dengan tindakan untuk mencapai tujuan
dalam beberapa cara yang khusus, dengan demikian, maka konsep kebijakan publik
berhubungan dengan tujuan pola aktivitas pemerintahan mengenai sejumlah
masalah serta mengandung tujuan (Sulaiman, 1998:24).
Istilah kebijakan digunakan dalam praktek sehari-hari namun digunakan
untuk kegiatan atau keputusan yang sangat berbeda, kebijakan atau kebijaksanaan
publik mempunyai arti yang beraneka ragam. Menurut Amir Santoso
sekurangkurangnya ada dua macam pendapat mengenai kebijakan publik ini.
Pertama adalah pedapat dari mereka yang memandang kebijakan publik sama
dengan tindakan-tindakan pemerintah dan yang kedua adalah dari para ahli yang
memberikan perhatian khusus pada pelaksanaan kebijakan (Ekowati, 2009:5).
Kebijakan publik merupakan salah satu dimensi administrasi publik yang
berkenaan dengan keputusan tentang apa yang harus dikerjakan. Dimensi kebijakan
dianalogikan dengan pekerjaan otak yang selalu memutuskan apa yang hendak
dikerjakan oleh sistem organ tubuh atau dimensi struktur organisasi melalui suatu
9
10
energi atau sistem penggerak dan kendali atau dimensi manajemen (Keban,
2008:57)
Kebijakan publik menempati posisi yang vital dan penyelenggaraan negara,
karena kebijakan publik merupakan instrumen yang digunakan pemerintah dalam
mengatur kehidupan bernegara. Bahkan Riant Nugroho menempatkan kebijakan
publik kedalam salah satu komponen utama dalam sebuah negara. Menurut
Nugroho, negara adalah sebuah identitas politik yang bersifat formal yang
mempunyai minimal empat komponen utama. Pertama, komponen
lembagalembaga negara, yaitu lembaga pemerintah (eksekutif), lembaga
perundangan (legislatif), dan lembaga peradilan (yudikatif). Kedua, komponen
rakyat sebagai warga negara (citizen). Ketiga, wilayah yang diakui kedaulatannya.
Keempat, komponen kebijakan publik (Nugroho, 2011:17-18).
Penataan dan pemberdayaan pedagang kaki lima pada kawasan taman arunk
belopa merupakan sebuah kebijakan publik. Kebijakan publik tersebut merupakan
kebijakan yang dibuat oleh pemerintah kabupaten sanggau melalui perda no 9 tahun
2013 tentang penataan dan pemberdayaan pedagang kaki lima. Hal ini merupakan
tindakan yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten sanggau untuk menata
pedagang kaki lima agar memberikan kenyamanan dan kemudahan para pedagang
maupun masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang tertata rapi. Kebijakan ini
bertujuan untuk mendukung aspek hukum dalam melakukan penataan dan
pemberdayaan pedagang kaki lima, dengan adanya kebijakan ini maka pihak
implementor bisa bertindak sesuai kebijakan.
11
2.2 Konsep Implementasi Kebijakan
Implementasi kebijakan menurut Eugane Bardach dalam Leo Agustini
adalah cukup membuat sebuah program dan kebijakan umum yang kelihatannya
bagus diatas kertas. Lebih sulit lagi merumuskannya dalam kata-kata dan slogan-
slogan yang kedengarannya mengenakan bagi telinga para pemimpin dan para
pemilih yang mendengarkannya dan lebih sulit lagi untuk melaksanakannya dalam
bentuk cara yang memuaskan semua orang termasuk mereka angggap klien
(Agustini, 2014:138).
Implementasi kebijkan menurut Daniel Mazmanian dan Paul Sabatier dalam
Leo Agustino adalah pelaksana keputusan kebijaksanaan dasar biasanya dalam
bentuk undang-undang, namun dapat pula berbentuk perintah-perintah atau
keputusan eksekutif yang penting atau keputusan badan peradilan (Agustino,
2014:139).
Implementasi kebijakan menurut Van Mater dan Van Horn dalam Leo
Agustino adalah tindakan-tindakan yang baik oleh individu-individu atau
pejabatpejabat dan kelompok-kelompok pemerintah atau swasta yang diarahkan
pada tercapainya tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam keputusan pelaksanaan
kebijakan (Agustino, 2014:139).
Dari tiga denifisi diatas dapat diketahui bahwa Implementasi Kebijakan
manyangkut pada tiga hal yaitu:
1. Adanya tujuan atau sasaran kebijkan.
12
2. Adanya aktivitas atau kegiatan pencapaian tujuan.
3. Adanya hasil kegiatan.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa implementasi
merupakan suatu proses yang dinamis, dimana pelakasana kebijakan melakukan
aktivitas atau kegiatan sehingga pada akhirnya akan mendapatkan suatu hasil yang
sesuai dengan tujuan atau sasaran kebijakan itu sendiri.
Implementasi kebijakan merupakan alat administrasi hukum, dimana
berbagai aktor, organisasi, prosedur dan teknik yang bekerja bersama-sama untuk
menyelenggarakan kebijakan guna meraih dampak dan tujuan yang di inginkan.
Pada sisi lain implementasi merupakan fenomena yang kompleks yang mungkin
dapat di pahami sebagai suatu proses, suatu keluaran maupun (output) maupun
sebagai suatu dampak (outcome) (Winamo, 2001:144).
1. Implementasi Kebijakan Model Donald Van Meter dan Carl Van Horn
Model pendekatan top-down yang dirumuskan oleh Donald Van Meter dan
Carl Van Horn disebut dengan A Model of The Policy Implementation. Proses
implementasi ini merupakan sebuah abstraksi atau performansi suatu implementasi
kebijakan yang pada dasarnya secara sengaja dilakukan untuk meraih kinerja
implementasi kebijakan public yang tinggi yang berlangsung dalam hubungan
berbagai variabel. Model ini mengendalikan bahwa implementasi kebijakan
berjalan secara linier dari keputusan politik yang tersedia, pelaksana dan kinerja
kebijakan publik.
13
Ada enam variabel menurut Van Meter dan Van Horn yang mempengaruhi
kinerja kebijakan publik:
1. Ukuran dan Tujuan Kebijakan Kinerja
implementasi kebijakan dapat diukur tingkat keberhasilannya jika dan
hanya jika ukuran dari kebijakan memang realistis dengan sosio-kultur yang
mengada di level pelaksana kebijakan. Ketika ukuran kebijakan atau tujuan
kebijakan terlalu ideal (bahkan terlalu utopis) untuk dilaksanakan di level
warga, maka agak sulit merealisasikan kebijakan public hingga titik yang
dapat dikatakan berhasil.
2. Sumberdaya
Keberhasilan proses implementasi kebijakan sangat tergantung dari
kemampuan manfaat sumberdaya yang tersedia. Manusia merupakan
sumberdaya yang terpenting dalam menentukan suatu keberhasilan proses
implementasi. Tahap-tahap tertentu dari keseluruhan proses implementasi
menuntut adanya sumberdaya manusia yang berkualitas sesuai dengan
pekerjaan yang diisyaratkan oleh kebijakan yang telah ditetapkan secara
politik. Tetapi ketika kompetensi dan kapabilitas dari sumber daya itu nihil
maka kinerja kebijakan publik sangat sulit untuk diharapkan. Tetapi diluar
sumberdaya manusia sumberdaya lain yang perlu diperhitungkan juga
adalah sumberdaya finansial dan sumberdaya waktu. Karena mau tidak mau
ketika sumberdaya manusia yang kompeten dan kapabel telah tersedia
sedangkan kucuran dana melalui anggaran tidak tersedia, maka memang
14
menjadi persoalan pelik untuk merealisasikan apa yanghendak dituju oleh
tujuan kebijakan public.
3. Karakteristik Agen Pelaksanaan
Pusat perhatian pada agen pelaksana meliputi organisasi formal dan
organisasi informal yang akan terlibat pengimplementasian kebijakan
publik. Hal ini sangat penting karena kinerja implementasi kebijakan publik
akan sangat banyak dipengaruhi oleh ciri-ciri yang tepat serta cocok dengan
para agen [Link]/Kecenderungan (Dispositon) para
pelaksana. Sikap penerimaan atau penolakan dari agen pelaksana akan
sangat banyak mempengaruhi keberhasilan atau tidaknya kinerja
implementasi kebijakan publik. Hal ini sangat mungkin terjadi karena
kebijakan yang dilaksanakan bukanlah hasil formulasi warga setempat
yangmengenal betul persoalan dan permasalahan yang mereka rasakan.
Tetapi kebijakan yang akan implementor pelaksanaan adalah kebijakan dari
atas (top down) yang sangat mungkin para pengambil keputusannya tidak
pernah mengetahui (bahkan tidak mampu menyentuh) kebutuhan,
keinginan, atau permasalahan yang ingin masyarakat selesaikan.
4. Sikap/kecenderungan (Disposition)
Para Pelaksana Sikap penerimaan atau penolakan dari agen pelaksana akan
sangat banyak mempengaruhi keberhasilan atau tidaknya kerja
implementasi kebijakan publik. Hal ini sangat mungkin terjadi oleh karena
kebijakan yang dilaksanakan bukanlah hasil formulasi warga setempat yang
15
mengenal betul persoalan dan permasalahan yang mereka rasakan. Tetapi
kebijakan yang akan implementor pekaksanaan adalah kebijakan “dari atas”
(top down) yang sangat mungkin para pengambil keputusan tidak pernah
mengetahui (bahkan tidak mampu menyentuh) kebutuhan, keinginan, atau
permasalahan yang warga ingin selesaikan.
5. Komunikasi Antarorganisasi dan Aktivitas Pelaksana
Komunikasi merupakan mekanisme yang paling ampuh dalam
implementasi kebijakan publik. Semakin baik komunikasi dan koordinasi
antara pihak-pihak yang terlibat dalam suatu proses implementasi, maka
asumsinya adalahkesalahan-kesalahan akan sangat kecil untuk terjadi dan
begitu pula sebaliknya.
6. Lingkungan Ekonomi, Sosial dan Politik
Hal terahir yang perlu diperhatikan guna menilai kinerja implementasi
publik dalam perspektif yang ditawarkan oleh Van Meter dan Van Horn
adalah sejauh mana lingkungan eksternal turut mendorong keberhasilan
kebijakan publik yang telah ditetapkan. Lingkungan sosial, ekonomi, dan
politik yang tidak kondusif dapat menjadi biang keladi dari kegagalan
kinerja implementasi kebijakan. Karena itu upaya untuk
mengimplementasikan harus pula memperhatikan kokondusifan kondisi
lingkungan eksternal.
2. Implementasi kebijakan model George C Edward III
16
Menuruut teori George C. Edward III (dalam Agustino, 2006:149)
implementasi kebijakan dipengaruhi oleh empat variable, yakni:
komunikasi,sumber daya, disposisi dan struktur birokrasi.
i. Komunikasi (communication). Faktor pertama yang mempengaruhi
keberhasilan implementasi suatu kebijakan, menurut George C. Edward III
(dalam Agustino, 2006:150) yaitu komunikasi. Komunikasi menurutnya
lebih lanjut sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan dari
implementasi kebijakan publik, implementasi yang efektif terjadi apabila
para pembuat keputusan sudah mengetahui apa yang akan mereka kerjakan.
Pengetahuan atas apa yang akan mereka kerjakan dapat berjalan bila
komunikasi berjalan dengan baik, sehingga setiap keputusan kebijakan dan
peraturan implementasi harus ditransmisikan (atau dikomunikasikan)
kepada bagian personalia yang tepat. Selain itu, kebijakan yang
dikomunikasikan pun harus tepat, akurat, dan konsisten. Komunikasi
(pentransmisian informasi) diperlukan agar para pembuat keputusan dan
para implementor akan semakin konsisten dalam melaksanakan setiap
kebijakan yang akan diterapkan dalam masyarakat. Terdapat tiga yang dapat
digunakan dalam mengukur keberhasilan komunikasi tersebut diatas, yaitu:
a. Transmisi, penyaluran komunikasi yang baik akan dapat
menghasilkan suatu implementasi yang baik pula. Seringkali yang
terjadi dalam penyaluran komunikasi adalah adanya salah
pengertian (miskomunikasi), hal tersebut disebagiankan karena
17
komunikasi telah melalui beberapa tingkatan birokrasi, sehingga apa
yang diharapkan terdistorsi ditengah jalan.
b. Kejelasan, komunikasi yang diterima oleh para pelaksana kebijakan
(street-level-bereuacrats) haruslah jelas tidak membingungkan
(tidak ambigu/mendua). Ketidakjelasan pesan kebijakan tidak selalu
menghalangi implementasi, pada tataran tertentu, para pelaksana
membutuhkan fleksibilitas dalam melaksanakan kebijakan. Tetapi
pada tataran yang lain hal tersebut justru akan menyelewengkan
tujuan yang hendak dicapai oleh kebijakan yang telah ditetapkan.
c. Konsistensi, perintah yang diberikan dalam pelaksana kebijakan
haruslah konsisten dan jelas (untuk diterapkan atau dijalankan).
Karena jika perintah yang diberikan sering berubah-ubah, maka
dapat menimbulkan kebingungan bagi pelaksana dilapangan.
ii. Sumber daya. Faktor kedua yang memeperngaruhi keberhasilan
implementasi suatu kebijakan adalah sumber daya. Sumber daya merupakan
hal penting lainnya, merupakan George C. Edward III (dalam Agustino,
2006:151) dalam mengimplementasikan kebijakan sumber daya terdiri dari
beberapa elemen yaitu:
a. Staf, sumber daya utama dalam implementasi kebijakan adalah staf.
Kegagalan yang sering terjadi dalam implementasi kebijakan salah
satunya disebagiankan oleh akrena staf yang tidak mencukupi,
memadai, ataupun tidak komponen dibidangnya. Penambahan
18
jumlah staf dan implementor sata tidak mencukupi, tetapi diperlukan
pula kecukupan staf dengan keahlian dan kemampuan yang
diperlukan (kompoten dan kapabel) dalam mengimplementasikan
kebiajakn atau melaksanakan tugas yang diinginkan oleh kebijakan
itu sendiri.
b. Informasi, dalam implementasi kebijakan informasi mempunyai dua
bentuk yaitu pertama, informasi yang berhubungan dengan cara
melaksanakan kebijakan. Implementor harus mengetahui apa yang
harus mereka lakukan disaat mereka diberi perintah untuk
melakukan tindakan. Kedua, informasi mengenai data kepatuhan
dari para pelaksana terhadap peraturan dan regulasi pemerintah yang
telah ditetapkan. Implementor harus mengetahui apabila orang lain
yang terlibat di dalam pelaksanaan kebijakan tersebut patuh
terhadap hukum.
c. Wewenang, pada umunya kewenangan harus bersifat formal agar
perintah dapat dilaksanakan. Kewenangan merupakan otoritas atau
legimitasi bagi para pelaksana dalam melaksanakan kebijakan yang
ditetapkan secara politik. Ketika wewenang it nihil, maka kekuatan
para implementor dimata public tidak terlegimitasi sehingga dapat
menggalkan proses implementasi kebijakan.
d. Fasilitas, fasilitas fisik juga merupakan factor penting dalam
implementasi kebijakan. Implementor mungkin staf yang
19
mencukupi, mengerti apa yang harus dilakukannya, dan memiliki
wewenang untuk melaksanakan tugasnya tetapi tanpa adanya
fasilitas pendukung (sarana dan prasarana) maka implementasi
kebijakan tersebut tidaka kan berhasil.
iii. Disposisi. Faktor ketiga yang mempengaruhi tingkat keberhasilan
implementasi kebijakan public bagi Geoerge C. Edward III
(dalamAgustino, 2006:152) adalah disposisi. Disposisi atau sikap dari
pelaksana kebijakan adalah factor penting ketiga dalam pendekatan
mengenai pelaksanakan suatu kebijakan public. Jika pelaksanaan suatu
kebijakan ingin efektif, maka para pelaksana kebijakan tidak hanya harus
mengetahui apa yang akan dilakukan tetapi juga harus memiliki
kemampuan untuk melaksanakannya sehingga dalam praktiknya tidak
terjadi bias. Hal-hal yang perlu dicermati pada variable disposisi adalah:
a. Pengangkatan birokrat, disposisi atau sikap para pelaksana akan
menimbulkan hambatan-hambatan yang nyata terhadap
implementasi kebijakan yang diinginkan oleh pejabat-pejabat tinggi.
Karena itu, pemilihan dan pengangkatan personil pelaksana
kebijakan haruslah orang-orang yang memiliki dedikasi pada
kebijakan yang telah ditetapkan lebih khusus lagi pada kepentingan
warga.
b. Insentif, Edward III menyatakan bahwa salah satu teknik yang
disarankan untuk mengatasi masalah kecendrungan para
20
pelaksanaadalah dengan memanipulasi insentif. Oleh karena itu,
pada umumnya orang bertindak menurut kepentingan mereka
sendiri, maka memanipulasi insentif oleh para pembuat kebijakan
mempengaruhi tindakan para pelaksana kebijakan. Dengan cara
menambah keuntungan atau biaya tertentu atau biaya tertentu
mungkin akan menjadi factor pendorong yang membuat para
pelaksana kebijakan melaksanakan perintah dengan baik. Hal ini
dilakukan sebagai upaya memenuhi kepentingan pribadi (self
interest) atau organisasi.
iv. Stuktur Birokrasi. Menurut George C. Edward III (dalam Agustino,
2008:153) yang mempengaruhi tingkat keberhasilan implementasi
kebijakan public adalah struktur birokrasi. Walaupun sumber-sumber untuk
melaksanakan suatu kebijakan tersedia atau para pelaksana kebijakan
mengetahui apa yang seharusnya dilakaukan dan mempunyai keinginan
untuk melaksanakan suatu kebijakan, kemungkinan kebijakan tersebut tidak
dapat terlaksana atau terealisasi karena terdapatnya kelemahan dalam
struktur birokrasi. Kebijakan yang begitu kompleks menuntut adanya
kerjasama banyak orang, ketika struktur birokrasi tidak kondusif pada
kebijakan yang tersedia maka hal ini akan menyebabkan sumber
dayasumber daya menjadi menjadi tidak efektif dan menghambat jalannya
kebijakan. Birokrasi sebagai pelaksana sebuah kebijakan harus dapat
mendukung kebijakan yang telah diputuskan secara politik dengan jalan
melakukan koordinasi dengan baik. Dua karakteristik yang dapat
21
mendongkrak kinerja struktur biroktasi/ organisasi kearah yang lebih baik,
adalah:
a. Standar Operating Prosedure (SOP), suatu kegiatan rutin yang
memungkinkan para pegawai (pelaksana kebijakan/administrasi
birokrat) untuk melaksanakan kegiatan-kegiatannya pada tiap
harinya sesuai dengan standar yang ditetapkan (standar minimum
yang dibutuhkan)
b. Melaksanakan fragmentasi, upaya penyebaran tanggungjawab
kegiatan-kegiatan atau aktivitas-aktivitas pegawai diantara beberapa
unit kerja.
2.3 konsep pedagang kaki lima
Pedagang kaki lima merupakan salah satu bentuk kegiatan perdagangan
sektor informal. Pedagang kaki lima diartikan sebagai setiap orang yang
menjalankan aktivitas perdagangan dan jasa yang dilakukan cenderung berpindah-
pindah dengan besar modal yang terbatas serta dilakukan dengan menggunakan
peralatan sederhana dan berlokasi di tempat umum. Istilah kaki lima asalnya
muncul dari ukuran trotoar pada dulu kala yaitu lebar 5 feet (kaki) atau sama dengan
kurang lebih 1,5 meter. Oleh karena itu, pengertian pedagang kaki lima merupakan
pedagang yang berjualan pada kaki-lima dan umumnya berlokasi di tempat umum
yang ramai seperti trotoar di depan pertokoan, pasar, sekolah, dan gedung bioskop
(Fakultas Ekonomi Unpar, 1980, dalam Widodo, 2000).
22
Pengertian pedagang kaki lima menurut Peraturan Menteri Koperasi dan
Usaha Kecil dan Menengah Nomor 16 Tahun 2018 adalah pelaku usaha yang
melakukan usaha perdagangan dengan menggunakan sarana usaha bergerak
maupun tidak bergerak, menggunakan prasarana kota, fasilitas sosial, fasilitas
umum, lahan dan bangunan milik pemerintah dan/atau swasta yang bersifat
sementara/tidak menetap. McGee & Yeung (1977) mendefinisikan pedagang kaki
lima sebagai sekumpulan orang yang menawarkan barang dan jasa untuk dijual
pada ruang publik terutama di pinggir jalan dan trotoar. Pedagang kaki lima
termasuk ke dalam mata pencaharian di sektor informal yang melakukan kegiatan
menggunakan ruang publik terutama di pedestrian dan pinggir jalan. Para pedagang
kaki lima dalam mejajakan dagangannya menggunakan sarana dagang dan
perlengkapannya yang mudah dibongkar pasang dan mudah dipindahkan. Kegiatan
pedagang kaki lima dapat digambarkan sebagai berikut:
a. Pola kegiatan berdagang tidak teratur dengan baik seperti lokasi maupun
waktu usaha
b. Metode berdagang dilakukan masih secara tradisional
c. Kebanyakan unit usaha tidak mempunyai izin usaha
d. Dana modal dan perputaran keuangan dagang relatif kecil maka skala
operasinya juga relatif kecil
23
e. Kegiatan berdagang tidak tertata secara baik karena unit usaha terjadi
dengan tidak menggunakan kelembagaan formal dan fasilitas yang
tersedia
f. Pada umumnya dana modal bersumber secara mandiri yatitu dari
tabungan sendiri atau dari lembaga keuangan tidak resmi
g. Pada biasanya kebijakan-kebijakan pemerintah dalam membantu
kelompok ekonomi lemah tidak mencakup ke sektor ini
h. Barang dagangan atau jasa yang ditawarkan biasanya dikonsumsi oleh
kelompok masyarakat berpenghasilan mengenah ke bawah
i. Pada umumnya kegaiatan berdagang ini dijalankan oleh diri sendiri
(one man enterprise) atau jika ada pekerja lainnya biasanya dibantu
oleh keluarga sendiri.
McGee dan Yeung (1977) menjelaskan bahwa karakteristik pedagang kaki
lima meliputi jenis barang dagangan, bentuk sarana usaha, waktu pelayanan, sifat
pelayanan, dan pola penyebaran aktivitas (Budi, 2006). Berikut ini adalah
karakteristik pedagang kaki lima:
A. Jenis Barang Dagangan
McGee dan Yeung (1977) menyatakan bahwa jenis dagangan pedagang
kaki lima dipengaruhi oleh kegiatan yang terdapat di sekitar lokasi
24
pedagang tersebut beraktivitas. Jenis dagangan pedagang kaki lima dibagi
menjadi empat kelompok yaitu:
1. Makanan yang tidak dan belum diproses yaitu bahan mentah
makanan seperti daging, buah, sayuran dan bahan makan setengah
jadi seperti beras.
2. Makanan siap saji yaitu makanan atau minuman yang telah diolah
sehingga dapat langsung disajikan seperti nasi, lauk-pauk, kue, dan
jajanan.
3. Bukan makanan yaitu barang dagangan yang bukan berupa makanan
seperti obat-obatan, peralatan, dan tekstil.
4. Jasa yaitu jasa pelayanan yang ditawarkan seperti penjahit, tukang
potong rambut, tukang tambal ban, dan sebagainya.
B. Bentuk Sarana Usah
Bentuk sarana yang digunakan oleh pedagang kaki lima dipengaruhi
oleh jenis dagangan yang dijual. Bentuk sarana tersebut biasanya sangat
sederhana dan mudah untuk dipindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya.
Sedangkan, menurut Waworoentoe (1973), bentuk sarana usaha pedagang
kaki lima dapat digolongkan menjadi lima, yaitu:
1. Gelaran atau alas yaitu bentuk sarana dagang yang menggunakan
alas berupa kain, tikar, dan lain-lain dalam menjual barang
25
dagangannya. Bentuk sarana dagang ini dikategorikan sebagai semi
menetap (semi static hawkers).
2. Pikulan atau keranjang yaitu bentuk sarana dagang ini digunakan
oleh para pedagang keliling (mobile hawkers) atau pedagang semi
menetap (semi static hawkers) yang bertujuan barang dagangan
mudah dibawa atau dipindahkan.
3. Gerobak yaitu bentuk sarana dagang ini terbagi menjadi 2 macam
yaitu gerobak beratap dan gerobak tanpa atap. Gerobak dapat
dikelompokkan sebagai aktivitas berdagang yang menetap (static
hawkers) dan tidak menetap (mobile hawkers).
4. Warung semi permanen yaitu bentuk sarana berupa gerobak yang
disusun secara berderet dalam sebuah tenda yang biasanya terbuat
dari bahan terpal atau bahan lain yang tidak tembus air serta terdapat
meja dan bangku. Bentuk sarana dagang ini bersifat menetap (static
hawkers).
5. Kios yaitu bentuk sarana dagang yang merupakan bangunan semi
permanen yang terbuat dari susunan papan-papan sehingga
berbentuk bilik. Biasanya bentuk sarana ini juga menjadi tempat
tinggal bagi pedagang yang bersangkutan. Kios termasuk dalam
bentuk sarana dagang yang bersifat menetap (static hawkers).
C. Waktu Pelayanan
26
McGee dan Yeung (1977) menjelaskan penentuan periode waktu
aktivitas pedagang kaki lima disesuaikan dengan perilaku aktivitas sektor
formal dan kondisi yang ada. Perilaku aktivitas antara sector formal dengan
sektor informal cenderung sejalan, tetapi pada saat tertentu keterkaitan
antara keduanya menjadi lemah atau tidak memiliki hubungan langsung.
Waktu pelayanan dari aktivitas pedagang kaki lima terbagi menjadi dua
periode waktu dalam satu hari adalah pagi atau siang dan sore atau malam.
D. Sifat Pelayanan Berdasarkan sifat pelayanan pedagang kaki lima, McGee
dan Yeung (1977) membedakan menjadi tiga, yaitu:
1. Pedagang tidak menetap (mobile hawkers) Pedagang tidak menetap
atau keliling adalah pedagang yang melayani konsumennya dengan
berusaha mendatangi konsumen. Jenis sarana dagangan yang
digunakan berupa sarana yang mudah dibawa dengan volume
dagangan yang kecil. Oleh sebab itu, pelayanan pedagang keliling
yaitu menjual dagangannya bergerak dari satu tempat ke tempat
yang lainnya.
2. Pedagang semi menetap (semi static hawkers) Pedagang semi
menetap adalah pedagang yang layanan berdagangnya bersifat
menetap yang sementara yaitu waktu berdagang hanya saat-saat
tertetu saja yang memiliki kemungkinan datangnya konsumen yang
cukup tinggi.
27
3. Pedagang menetap (static hawkers) Pedagang menetap adalah
pedagang yang bentuk layanannya menetap pada suatu lokasi
tertentu. Hal ini menjadikan konsumen harus mendatangi ke lokasi
pedagang tersebut jika ingin membeli.
E. Pola Penyebaran Aktivitas
Menurut McGee dan Yeung (1977), aktivitas pedagang kaki lima
berdasarkan pola penyebarannya dikategorikan menjadi dua yaitu:
1. Pola Penyebaran Memanjang (Linier Concentations) Pada
umumnya, pola penyebaran ini terjadi di jalan utama (main street)
yang memiliki aksesbilitas tinggi sehingga berpotensi banyak
mendatangkan konsumen. Dengan kata lain, pola penyebaran
memanjang dipengaruhi oleh pola jaringan jalan yang bersangkutan
2. Pola Penyebaran Mengelompok (Focus Aglomerations) Faktor
aglomerasi menjadi pengaruh terbentuknya pola penyebaran
mengelompok yaitu pengelompokkan para pedagang yang menjual
barang yang sejenis atau saling menunjang. Pola penyebaran ini
terjadi di sekitar sektor formal seperti pusat perbelanjaan, pasar,
taman, ruang parkir, ruang terbuka, dan lainnya
2.4 Penelitian yang Relevan
Berdasarkan hasil eksplorasi terhadap penelitian-penelitian terdahulu,
penulis menemukan beberapa penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian
28
ini yang berkaitan dengan tingkat efektivitas pegawai. Meskipun terdapat
keterkaitan pembahasan, penelitian ini masih sangat berbeda dengan penelitian
terdahulu. Adapun beberapa penelitian terdahulu tersebut, antara lain :
1. Elliza Ariftiani Tahun 2013 melakukan penelitian dengan judul “Efektivitas
Pelaksanaan Penataan Pkl Berdasarkan Peraturan Bupati Nomor 36 Tahun 2009
Tentang Penataan Pkl Kabupaten Jember (Studi Kasus Penataan PKL Jl.
Samanhudi dan Jl. Untung suropati Kabupaten Jember)”5 , dengan fokus
penelitian untuk mengetahui bagaimanakah efektifitas pelaksanaan penataan
PKL jalan Samanhudi dan jalan Untung Suropati Jember berdasarkan Peraturan
Bupati Nomor 36 Tahun 2009 tentang Penataan Pedagang Kaki Lima di
Kabupaten Jember6 . Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif
dengan metode kualitatif. Penentuan informan, peneliti menggunakan tehknik
purposive sampling dan tehknik snawball sampling. Tehknik pengumpulan
datanya menggunakan data primer dan data sekunder. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa pelaksanaan penataan PKL menurut Perbup nomor 36
tahun 2009 dinilai cukup efektif. Hal ini dibuktikan dengan tepatnya kebijakan
penataan PKL, ke dua tepatnya tim pelaksana penataan PKL, ke tiga
pelaksanaan penataan sudah memenuhi target keempat adalah lingkungan
dalam penelitian tahap ini dinilai kurang tepat. Perbedaan penelitian saat ini
dengan penelitian terdahulu yakni pada bagaimana mengetahui efektivitas kerja
pemerintah daerah Kota Kupang dalam pelaksanaan penertiban dan penataan
pedagang kaki lima di Taman Tagepe Kota Kupang. sedangkan variabel yang
digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah bagaimana cara pihak
29
implementor dalam mengatasi permasalahan yang dialami pedagang kaki lima
dalam memberikan fasilitas yang layak dan selanjutnya akan dianalisis
menggunakan metode deskriptif kualitatif yang diperoleh dari data hasil
wawancara terhadap responden-responden pilihan yang ditentukan.
2. DYAH NUR RAHMAH, melakukan penelitian dengan judul kajian
implementasi kebijakan penataan pedagang kaki lima dijalan gatot subroto
kabupaten pemalang dengan fokus penelitian untuk mengetahui bagaimana
kajian implementasi kebijakan penataan pedagang kaki lima di jalan gatot
subroto kabupaten pemalang berdasarkan Peraturan Daerah Kabupatenl
Pemalang Nomor 3 Tahun 2013 tentang Penataanl dan Pemberdayaanl
Pedagang Kakil Lima dengan metode penelitian deskriptif kualitatif Penentuan
informan, peneliti menggunakan tehknik purposive sampling dan tehknik
snawball sampling. Tehknik pengumpulan datanya menggunakan data primer
dan data sekunder. hasil penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi
penataan PKL menurut Perbup nomor 3 tahun 2013 dinilai cukup efektif. Hal
ini dibuktikan dengan tepatnya kebijakan penataan PKL, ke dua tepatnya tim
pelaksana penataan PKL, ke tiga pelaksanaan penataan sudah memenuhi target
keempat adalah lingkungan dalam penelitian tahap ini dinilai kurang tepat.
Perbedaan penelitian saat ini dengan penelitian terdahulu yakni pada bagaimana
teori yang digunakannya dalam penelitannya adalah dari Van Meter dan Van
Horn (1975) untuk melihat tingkat keberhasilan implementasi kebijakan
penataan pedagang kaki lima di Jalan Gatot Subroto.
30
2.5 Alur Pikir Penelitian
Implementasi kebijakan merupakan tahap yang penting dalam merumuskan
suatu kebijakan yang akhirnya berupa keputusan kebijakan yang dapat
menimbulkan pengaruh (dampak), dari proses yang dilakukan oleh pemerintah
yang benar-benar diterapkan dilapangan untuk menghasilkan output dan outcomes,
dimana output sebagai penyebab kebijakan sedangkan outcomes sebagai dampak
dari kebijakan. Ketika menyusun penelitian tentang implementasi kebijakan
Peraturan bupati sanggau Nomor 9 Tahun 2013 tentang penataan dan
pemberdayaan pedagang kaki lima pada kawasan pasar sentral kabupaten sanggau,
peneliti menggunakan teori dari George C. Edwards III sebagai pedoman analisis
untuk mengukur sejauh mana implementasi kebijakan mengenai penataan dan
pemberdayaan pedagang kaki lima di kawasan pasar sentral kabupaten sanggau
sudah berjalan, karena teori yang dikemukakan oleh Edward III adalah yang paling
relevan dengan masalah peneliti yang angkat, yaitu dengan mengkaji 4 indikator
yang ditawarkan antara lain komunikasi, sumber daya, disposisi dan struktur
birokrasi. Adapun 4 indikator ini mengarah pada implementor kebijakan, yaitu
dalam hal ini Dinas perindustrian perdagangan koperasi dan UMKM Kabupaten
Sanggau.
31
Gambar
Alur Pikir Penelitian
Judul
Implementasi Peraturan Daerah Sanggau Nomor 9 Tahun 2013 Tentang Pemberdayaan Dan
Penataan Pedagang Kaki Lima Pada Kawasan Taman Arunk Belopa Kelurahan Beringin
Kecamatan Kapuas Kabupaten Sanggau
Masalah
1. Lokasi dan penempatan yang di berikan terhadap Pedagang Kaki Lima kurang memadai
2. Masih adanya pedagang yang berjualan diluar kawasan taman arunk belopa
Teori
Menurut George C. Edward III (Agustino, 2014:149) ada empat variabel yang mempengaruhi
proses implementasi kebijakan yaitu:
1. Komunikasi
2. Sumber Daya
3. Disposisi
4. Struktur Birokrasi
Output
Implementasi kebijakan tentang penataan dan pemberdayaan pedagang kaki lima pada kawasan
pasar sentral kabupaten sanggau berjalan dengan optimal
32
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Peneilitan ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif,
yakni jenis penelitian yang berupaya menggambarkan atau melukiskan suatu
fenomena atau kejadian secara sistematis. Bogdan dan Taylor (Moleong, 2011:4)
mendefinisikan metodelogi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang
menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang
dan perilaku yang dapat diamati.
Peneliti menggunakan metodelogi penelitian kualitatif yang dianggap
sesuai dengan menggambarkan Implementasi kebijakan bagi para implementor
mulai dari Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM Kabupaten
Sanggau sebagai pelaksana kebijakan.
Menurut Nawawi (dalam burhan:63) menjelaskan bahwa: Jenis penelitian
deskriptif adalah suatu prosedur pemecah masalah yang diselidiki,
menggambarkan, melukiskan, keadaan subyek/obyek penelitian (seseorang,
lembaga, masyarakat) pada saat sekarang berdasarkan fakta yang tampak atau
sebagaimana adanya”.
Berdasarkan pendapat tersebut peneliti menggunakan jenis penelitian
deskriptif untuk menggambarkan keadaan di lapangan. Metode penelitian deskriptif
merupakan suatu pendekatan terhadap obyek penelitian guna melihat permasalahan
fokus mengidentifikasi masalah pada saat sekarang berdasarkan keadaan yang
33
34
sebenarnya. Selanjutnya dalam kaitan penelitian ini berarti peneliti berusaha untuk
memberikan penjelasan tentang implementasi peraturan daerah sanggau no 9 tahun
2013, yaitu tentang penataan dan pemberdayaan pedagang kaki lima pada kawasan
taman arunk belopa di kecamatan kapuas kabupaten sanggau.
3.2 Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan langkah yang penting karena data yang
terkumpul nantinya dipakai sebagai informasi yang valid guna pemecahan masalah
dimana dalam setiap metode dan instrumen mempunyai keunggulan dan
kelemahan, oleh karena itu dalam suatu proses kegiatan penelitian dapat
menggunakan metode pengumpulan data lebih dari satu ke yang lain.
Peneliti dalam penelitian kualitatif mempunyai peran yang kompleks, yaitu
sebagai perencana, pelaksana, pengumpul data, analis, penafsir data dan pemberi
Hasil laporan akhir hasil penelitian. Teknik pengumpulan data ini digunakan untuk
memperoleh data primer, yaitu data yang diperoleh dari sumber-sumbernya yaitu
dengan cara terjun langsung ke lapangan.
Penelitian lapangan ini memakai teknik pengumpulan data sebagai berikut:
a. Observasi
Observasi dalam penelitian ini yaitu dengan mengamati proses Implementasi
Perda No. 9 tahun 2013 tentang penataan dan pemberdayaan pedagang kaki
lima pada kawasan pasar sentral kecamatan kapuas kabupaten sanggau dimulai
dengan melakukan pengamatan pada kawasan pasar sentral, observasi
dilakukan dengan menganalisa keadaan sekitar, indera penglihatan merupakan
35
instrumen utama dalam melakukan observasi. Observasi juga merupakan teknik
pengumpulan data yang dilakukan dengan pengamatan secara langsung kepada
objek penelitian dan melakukan pencatatan pada saat penelitian dilakukan.
Batasan penelitian atau definisi observasi menurut Young dan Schmidt dalam
Harbani Pasolong (2013:131) adalah “sebagai pengamatan sistematis berkenan
dengan penelitian terhadap fenomena-fenomena yang nampak”. Perhatian yang
dimaksud adalah harus diberikan kepada unit kegiatan yang lebih besar atau
lebih luas pada fenomena-fenomena khusus yang dimari.
b. Wawancara
Metode wawancara adalah teknik pengumpulan data dengan melakukan
percakapan secara langsung dengan sumber informasi atau informan. Peneliti
telah menyiapkan pertanyaan-pertanyaan inti yang akan membantu dalam
mendapatkan informasi dari subjek penelitian. Pertanyaan-pertanyaan ini akan
peneliti sampaikan secara urut terhadap informan tentunya dengan bahasa yang
lugas dan mudah dimengerti.
Moleong (2011:186) mendefinisikan wawancara sebagai percakapan dengan
maksud tertentu, yang dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interview)
yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewer) yang
memberikan jawaban. Peneliti menggunakan panduan wawancara berdasarkan
masalah penelitian untuk dijadikan materi dalam wawancara agar menjadi
terarah dan tidak menyimpang.
c. Dokumentasi
36
Dokumentasi yaitu teknik pengumpulan data dengan menggunakan dokumen
sebagai sumber data. Dokumentasi juga merupakan suatu cara yang mempelajar
surat-surat serta buku-buku literatur yang berhubungan dengan permasalahan
yang diteliti dan obyek penelitian, seperti undang-undang, peraturan-peraturan,
surat keputusan, atau bahkan surat edaran yang dianggap sesuai dengan objek
penelitian.
3.3 Instrumen Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, maka yang menjadi
instrument penelitian adalah orang atau human instrument, yaitu diri peneliti. Untuk
menjadi instrument penelitian peneliti harus memiliki pengetahuan dan bekal teori
serta wawasan yang luas, sehingga mampu menganalisisdan mendeskripsikan
masalah sehingga mampu membuat pertanyaan yang tepat untuk mendapatkan data
yang diperlukan. Data yang dihasilkan dapat berbentuk kata-kata atau kalimat untuk
mengeksplorasi keadaan sosial pada kenyataannya dan mendeskripsikan masalah
penelitian, yaitu Implementasi Peraturan Daerah Sanggau Tentang Penataan dan
Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima Pada kawasan taman arunk belopa kelurahan
Kecamatan Kapuas Kabupaten Sanggau.
Pengumpulan data ini akan dibantu dengan menggunakan
instrumentenelitian, antara lain:
1. Observasi, untuk teknik ini instrument yang digunakan oleh peneliti yakni :
a. Panduan Observasi
37
b. Buku Tulis
c. Alat Tulis Berupa Pulpen dan Pensil
2. Wawancara, pada teknik ini instrument yang digunakan peneliti yakni :
a. Pedoman Wawancara
b. Alat Tulis berupa buku dan pulpen
c. Handphone sebagai perekam suara dan untuk mengambil gambar
3. Dokumentasi, Pada teknik ini peneliti menggunakan instrument antara lain:
a. Pedoman Dokumentasi
b. Handphone digunakan untuk mengambil gambar, suara dan video
c. peraturan daerah sanggau nomor 9 tahun 2013 tentang penataan dan
pemberdayaan pedagang kaki lima
d. Dokumentasi pendukung lainnya
3.4 Teknik Analisis Data
Data dari hasil penelitian kemudian dianalisa dengan menggunakan teknik
analisa kualitatif, yaitu analisa yang dilakukan dengan cara membaca, meneliti, dan
mempelajari selutuh data yang didapatkan dari penelitian baik itu wawancara
maupun studi dokumendata-data tersebut selanjutnya dianalisis dan disederhanakan
untuk mengetahui maknanya. Selanjutnya hasil analisa yang diperoleh
dihubungkan dengan permasalahan yang sedang diteliti sehingga diperoleh
pemahaman tentang gejala yang menjadi fokus penelitian.
Menurut Miles dan Huberman (dalam Sugiyono, 2012:183) aktifitas dalam
analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung terus-menerus
38
pada setiap tahapan penelitian sampai tuntas dan sampai datanya jenuh. Aktifitas
dalam analisis data antara lain sebagai berikut:
1. Reduksi Data
Reduksi data dilakukan dengan menulis data yang diperoleh dari penelitian
dalam bentuk uraian atau laporan yang terperinci, yaitu dengan mencari
benang merah dari data-data yang telah terkumpul. Hal ini dapat
memudahkan peneliti untuk mengambil kesimpulan atau atau makna yang
valid . Reduksi data dapat dilakukan dengan cara menyampaikan kembali
mengenai data yang diperoleh dengan kalimat yang lebih mudah dipahami.
2. Display Data
Data yang telah direduksi kemudian tahap selanjutnya adalah penyajian
[Link] akan menyajikan datayang telah direduksi dalam bentuk
teksnaratif. Setelah data disajikan maka akan lebih mudah untuk memahami
apa yang sebenarnya terjadi, dandapat mencari alternatif selanjutnya apa
yang akan dikerjakan.
3. Verifikasi
Langkah selanjutnya adalah mengambil kesimpulan dan verifikasi. Setelah
melalui setiap langkah untuk mencari makna dari data yang dikumpulkan,
kesimpulan awal peneliti masih buram, bersifat sementara, masih diragukan
dan akan berubah pada tahap pengumpulan data berikutnya, namun dengan
bertambahnya data dan diperoleh dukungan dari bukti-bukti yang valid,
maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.
39
3.5 Teknik Keabsahan Data
Teknik keabsahan data merupakan standar validitas yang diperoleh. Setiap
penelitian memerlukan kriteria untuk melihat derajat kepercayaan atau kebenaran
atas hasil penelitian. Dalam penelitian kualitatif, standar tersebut dinamakan
keabsahan data. Penelitian ini menggunakan teknik keabsahan data dengan
triangulasi. Triangulasi merupakan cara terbaik untuk menghilangkan perbedaan
kontruski kenyataan yang ada dalam konteks suatu studi sewaktu mengumpulkan
data tentang berbagai kejadian dan hubungan dari berbagai pandangan. Dengan kata
lain bahwa dengan triangulasi, peneliti dapat me-recheck temuanyya dengan jalan
membandingkan berbagai sumber, metode atau teori.
Triangulasi menurut Susan Stainback (dalam Sugiyono, 2012:330)
merupakan “theaim isnot to determinate the truth about some social phenomenon,
rather than the purposeoftriangulation is to increase one's understanding of what
ever is being investigated". Dengan demikian triangulasi bukan bertujuan untuk
mencari kebenaran, akantetapi untuk meningkatkan pemahaman peneliti terhadap
data dan fakta yang dimiliki peneliti.
Sugiyono (2012:333) menjelaskan bahwa triangulasi dalam pengujian
kredibilitas ini diartikan sebagai pemecahan data dari berbagai sumber dengan
berbagai cara dan berbagai [Link] penelitian ini peneliti menggunakan
teknik triangulasi sumber untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan
cara cek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber dilapangan.
40
Meloeng (2007:248) menyatakan teknik triangulasi sumber adalah teknik
yang digunakan untuk menuji kredibilitas data dilakukan dengan cara mencek data
yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Pada penelitian ini peneliti
melakukan wawancara kepada berbagai sumber informan penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Buku :
Agustino, Leo. 2008. Dasar-Dasar Kebijakan Publik. Bandung: Alfabeta
Anggara, Sahya. 2012. Ilmu Administrasi Negara: Kajian Konsep, Teori, dan
Fakta dalam Upaya Menciptakan Good Governance. Bandung: Pustaka
Setia
Arikunto, S. 2013. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka
Cipata
Dunn . Wiliam N. 2000. Analisis Kebijakan Publik. Yogyakarta : Gadjah Mada
University
Press Moleong, Lexy J. 2013. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT.
Remaja Rosdakarya.
Mulyadi, Deddy. 2016. Studi Kebijakan Publik dan Pelayanan Publik. Bandung :
Alfabeta.
Nugroho, Riant. 2012. Public Policy. Jakarta: PT Elex Media Komputino
Pasolong,
Harbani. 2007. Teori Administrasi Publik. Bandung: Alfabeta
Santosa, Pandji. 2008. Administrasi Publik: Teori dan Aplikasi Good Governance.
Bandung: PT Refika Aditama
Subarsono. 2011. Analisis Kebijakan Publik Konsep, Teori, dan Aplikasi.
Yogjakarta : Penerbit Pustaka Pelajar
Sugiyono.2013. Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta.
[Link]. 2011. Kebijakan Publik dan Transparansi Penyelenggaran
Pemerintah Daerah. Jakarta: PT Pustaka Indonesia Press.
Wahab, S.A. 2021. Analisis Kebijakan: dari Formulasi ke Penyusunan
Model Model Implementasi Kebijakan Publik. Jakarta: PT. Bumi Aksara
41
42
Peraturan Undang-Undang :
Peraturan Daerah Kabupaten Sanggau Nomor 9 Tahun 2013 Tentang Penataan
Dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima
Peraturan Daerah Kabupaten Sanggau Nomor 15 Tahun 2017 Tentang Ketertiban
Umum
skripsi:
Nur Rahmah, Dyah. 2024. Kajian Implementasi Kebijakan Penataan Pedagang
Kaki Lima Di Jalan Gatot Subroto Kabupaten Pemalang. Semarang :
Universitas Islam Sultan Agung.
Sulthon Fayyadh, Dhiyaa. 2024. Implementasi Peraturan Daerah Kota Bekasi
Nomor 11 Tahun 2015 Terhadap Pedagang Kaki Lima Di Kota Bekasi:
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah jakarta