0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan45 halaman

Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima di Sanggau

Dokumen ini adalah proposal penelitian mengenai implementasi Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2013 yang berkaitan dengan penataan dan pemberdayaan pedagang kaki lima di kawasan Taman Arunk Belopa, Kecamatan Kapuas, Kabupaten Sanggau. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas implementasi peraturan tersebut dan memberikan masukan bagi pemerintah daerah dalam mengatasi permasalahan yang ada. Fokus penelitian mencakup identifikasi masalah, hambatan, dan tantangan dalam penataan serta pemberdayaan pedagang kaki lima.

Diunggah oleh

gustirayhan221
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan45 halaman

Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima di Sanggau

Dokumen ini adalah proposal penelitian mengenai implementasi Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2013 yang berkaitan dengan penataan dan pemberdayaan pedagang kaki lima di kawasan Taman Arunk Belopa, Kecamatan Kapuas, Kabupaten Sanggau. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas implementasi peraturan tersebut dan memberikan masukan bagi pemerintah daerah dalam mengatasi permasalahan yang ada. Fokus penelitian mencakup identifikasi masalah, hambatan, dan tantangan dalam penataan serta pemberdayaan pedagang kaki lima.

Diunggah oleh

gustirayhan221
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

USULAN PENELITIAN

IMPLEMENTASI PERATURAN DAERAH NOMOR 9 TAHUN


2013 TENTANG PENATAAN DAN PEMBERDAYAAN
PEDAGANG KAKI LIMA PADA KAWASAN TAMAN ARUNK
BELOPA KECAMATAN KAPUAS KABUPATEN SANGGAU

Program Studi Ilmu Administrasi Publik


Kajian Kebijakan Publik

Oleh :
Gusti Rayhan Mahardhika
E1011181125

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK


UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2025
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis harutkan kepada ALLAH SWT, KARENA berkat

limpahan dan rahmat dan karunianya hingga penulis dapat menyelesaikan proposal

ini dengan tepat waktu yang sudah ditentukan.

Adapun Tujuan Dari Penulisan Proposal Ini Adalah Untuk Menyelesaikan

Seluruh Proses Perkuliahan. Selain Itu, Proposal Ini Juga Bertujuan Untuk

Menambah Wawasan Tentang “Implementasi Perda No 9 Tahun 2013 Tentang

Penataan Dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima Pada Kawasan Taman Arunk

Belopa Kecamatan Kapuas Kabupaten Sanggau”. Bagi Para Pembaca Dan Juga

Penulis.

Saya Juga Berterimakasih Kepada Semua Pihak Yang Telah Selama Ini

Membantu Saya Dalam Menyelesaikan Proposal Ini.

Saya Menyadari Proposal Yang Saya Tulis Ini Masih Jauh Dari Kata

Sempurna. Oleh Karena Itu, Segala Kritik Dan Saran Yang Membangun Akan Saya

Perbaiki Demi Kesempurnaan Proposal Ini.

pontianak, 20 juli 2025

Gusti Rayhan Mahardhika

I
DAFTAR ISI

BAB I ...................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN................................................................................................... 1
A. Latar Belakang................................................................................................ 1
1.2 Identifikasi Masalah ...................................................................................... 6
1.3 Fokus Penelitian ............................................................................................ 6
1.4 Rumusan Masalah ......................................................................................... 6
1.5 Tujuan Penelitian ........................................................................................... 7
1.6 Manfaat Penelitian ......................................................................................... 7
BAB II ..................................................................................................................... 9
TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................................... 9
2.1 Konsep Kebijakan Publik .............................................................................. 9
2.2 Konsep Implementasi Kebijakan ................................................................. 11
2.3 konsep pedagang kaki lima ......................................................................... 21
2.4 Penelitian yang Relevan .............................................................................. 27
2.5 Alur Pikir Penelitian .................................................................................... 30
BAB III ................................................................................................................. 33
METODE PENELITIAN ................................................................................... 33
3.1 Metode Penelitian ........................................................................................ 33
3.2 Teknik Pengumpulan Data .......................................................................... 34
3.3 Instrumen Penelitian .................................................................................... 36
3.4 Teknik Analisis Data ................................................................................... 37
3.5 Teknik Keabsahan Data ............................................................................... 39
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 41

II
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Pedagang kaki lima adalah sebutan untuk para penjual yang berjualan di

trotoar, pinggir jalan, atau tempat umum lainnya, biasanya dengan menggunakan

gerobak, tenda, atau meja kecil. Mereka sering kali menjual makanan, minuman,

atau barang-barang kebutuhan sehari-hari.

Ciri khas dari pedagang kaki lima adalah lokasi mereka yang strategis dan

mudah diakses oleh masyarakat, serta harga yang biasanya lebih terjangkau

dibandingkan dengan toko atau restoran. Pedagang kaki lima memainkan peran

penting dalam perekonomian lokal, menyediakan lapangan pekerjaan dan pilihan

konsumsi yang bervariasi bagi masyarakat. Namun, mereka juga sering

menghadapi tantangan seperti izin usaha, penertiban dari pihak berwenang, dan

persaingan dengan pedagang lainnya.

Dalam konteks kebijakan publik, efektivitas mencakup sejauh mana

peraturan dan kebijakan mencapai target yang telah ditetapkan. Implementasi,

sebagai bagian integral dari efektivitas, merujuk pada pelaksanaan atau penerapan

peraturan tersebut (Rosalina, 2012). Pertumbuhan Pedagang Kaki Lima (PKL)

meningkat secara signifikan akibat urbanisasi dan perkembangan ekonomi di kota-

kota besar. Meskipun lapangan pekerjaan terbuka luas, tidak semua masyarakat

urban memenuhi kriteria yang ditetapkan, sehingga banyak yang beralih ke sektor

informal seperti menjadi PKL.

1
2

PKL merupakan elemen penting dalam ekosistem perkotaan, namun

keberadaan mereka menimbulkan tantangan seperti gangguan lalu lintas, masalah

sanitasi, dan persaingan dengan ritel modern. Regulasi perizinan yang rumit dan

biaya tinggi juga menjadi hambatan bagi PKL untuk beroperasi secara legal (Fadoli,

2011). Dengan pendekatan yang tepat, PKL dapat terus berkontribusi pada

keberlanjutan dan inklusi sosial-ekonomi perkotaan. Dalam studi ini, fokus akan

diberikan pada langkah-langkah yang diambil untuk meningkatkan kesejahteraan

pedagang kaki lima (PKL) di Pasar Sentral, kecamatan kapuas, kabupaten sanggau

sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2013.

Pedagang kaki lima merupakan aset yang saat ini di Indonesia menjadi salah

satu yang menjadi perhatian pemerintah terkait dengan penataan sesuai dengan

peraturan daerah. Banyak sekali muncul pedagang kaki lima terutama di kota besar

dikarenakan menjadi salah satu solusi mudah untuk menghasilkan uang. Tetapi,

karena menjamurnya pedagang kaki lima tersebut mengakibatkan carut marutnya

penataan kota karena mereka (para pedagang kaki lima) tidak lagi memperhatikan

faktor efisiensi dan faktor keindahan kota, karena mereka mementingkan

bagaimana mendapatkan uang dengan cepat. Selain itu permasalahan dari daerah

yang terkadang juga kurang memperhatikan mereka sehingga kurangnya tempat

bagi pedagang kaki lima untuk berjualan.

Pemberdayaan disini dalam arti bahwa perlu adanya campur tangan

pemerintah untuk bisa meberdayakan pedagang kaki lima sebagai aset daerah.

Bentuk pemberdayaan yang dimaksud adalah bisa dengan pemberian tempat yang

memadai hingga tidak mengganggu tata letak kota maupun bisa dengan
3

memberikan modal kecil bagi mereka yang benar-benar membutuhkan. Tetapi akan

menjadi permasalahan besar jika ternyata pedagang kaki lima berkembang tak

terkontrol karena semakin besarnya kebutuhan hidup masyarakat dan

bertambahnya jumlah penduduk. Kemudahan mencari uang dengan berdagang

membuat masyarakat menganggap berdagang adalah satu-satunya cara bagi mereka

mendapatkan pemasukan keluarga. Tetapi mereka tidak memperhatikan dampak

yang terjadi pada kota yang mereka tinggali jika pedagang kaki lima muncul tak

beraturan hingga mereka mengambil tempat-tempat strategis yang seharusnya

tempat tersebut tidak bisa digunakan untuk berdagang. Terlebih jika para pedagang

kaki lima menggunakan sebagian trotoar pejalan kaki. Pemerintah memaklumi jika

pedagang menggunakan trotoar untuk berdagang karena kebutuhan sosial mereka,

tetapi pedagang kaki lima juga harus memperhatikan hak dari pejalan kaki bahwa

trotoar adalah tempat mereka berjalan kaki.

Hal tersebut akan sedikit menjadi pertentangan bagi masyarakat bila ditinjau

dari Perda Nomor 9 Tahun 2013 tentang penataan dan pemberdayaan pedagang

kaki lima, pada pasal 5 dijelaskan bahwa pemerintah daerah berkewajiban

memberikan kesempatan para PKL berusaha dengan penetapan pemberian lokasi

yang sesuai dengan peruntukannya demi mewujudkan kota yang bersih, tertib dan

aman dengan sarana dan prasarana perkotaan yang memadai dan berwawasan

lingkungan. di daerah. Sehingga mereka yang bergelut sebagai kaum marginal atau

golongan have nots dapat hidup yang layak sesuai dengan kemampuannya atas

pekerjaan yang layak (Ridlo, 2016: 96). Dapat dilihat bahwa orang akan menyalah

prediksikan bahwa memberikan kehidupan yang layak untuk PKL adalah dengan
4

membebaskan mereka untuk berjualan sesuka hati mereka. Ada aturan-aturan bagi

mereka untuk dipatuhi sehingga pemerintah akan dengan suka cita membantu para

PKL dengan pembinaan.

namun yang terjadi dilapangan selalu ada perselisihan antara pedagang kaki

lima dengan pemerintah kabupaten sanggau melalui dinas perindustrian

perdagangan koperasi dan UMKM karena mereka menggunakan tempat yang tidak

seharusnya dijadikan tempat jualan pada kawasan taman arunk belopa. Akar

permasalahannya adalah pedagang kaki lima menggunakan tempat yang

menggangu arus kendaraan di sekitaran taman arunk belopa yang mana sangat

berdekatan dengan pasar sentral (jarai) serta terminal bis. Penertiban dilakukan

karena mereka membandel, akan tetapi para pedagang beralasan bahwa mereka

merasa tempat yang disediakan sama pemerintah kabupaten sanggau kurang

memadai.

Permasalahan penertiban pedagang kaki lima di atas merupakan

permasalahan klasik yang sering terjadi di kota-kota besar dan belum bisa

ditemukan ujung pangkal permasalahan sesungguhnya. Ini akan terus berlanjut bila

pemerintah terutama pemerintah daerah tidak segera menindak lanjutinya. Bentuk

tindak lanjut dari pemerintah daerah adalah dengan adanya kebijakan penataan

pedagang kaki lima. Walaupun kenyataannya di lapangan kebijakan tersebut belum

tentu efektif, tetapi paling tidak pedagang mengerti dan pemerintah akan lebih

leluasa melakukan penindakan keras terhadap pedagang yang nakal.


5

Demikian halnya dengan yang terjadi di kawasan taman arunk belopa,

banyak sekali para pedagang kaki lima yang memilih tempat mereka untuk

berdagang di tepi jalan taman arunk belopa. Untuk saat ini memang belum ada

tindakan serius dari pemerintah kabupaten sanggau atas Pedagang Kaki Lima di

kawasan taman arunk belopa. Secara visual tampak bahwa taman arunk belopa

menjadi tempat tujuan wisata kuliner karena adanya para pedagang kaki lima, tetapi

juga tampak bahwa penataan taman menjadi sedikit carut marut karena pedagang

kaki lima terutama tempat parkir bagi para pelanggan dari PKL tersebut.

Kemacetan akan sering terjadi ketika malam hari dan hari-hari libur. Dampak

lainnya adalah sampah hasil dari limbah PKL juga terkadang tidak dibersihkan

sehingga menggangu keindahan taman.

Berdasarkan latar belakang di atas, penulis sebagai mahasiswa Program

Studi ilmu administrasi publik tertarik untuk mengadakan penelitian tentang

“Implementasi peraturan daerah nomor 9 tahun 2013 tentang penataan dan

pemberdayaan pedagang kaki lima pada kawasan taman arunk belopa kelurahan

beringin kecamatan kapuas kabupaten sanggau”. hal tersebut erat kaitannya dengan

program studi ilmu administrasi publik.


6

1.2 Identifikasi Masalah


Berdasarkan uraian dan pemaparan diatas, identifikasi permasalahan dalam

masalah penataan dan pemberdayaan pedagang kaki lima pada kawasan taman

arunk belopa kecamatan kapuas kabupaten sanggau penulis rangkap ini yaitu:

1. Masih adanya pedagang kaki lima yang berjualan diluar tempat yang

disediakan.

2. Lokasi dan penempatan yang disediakan terhadap pedagang kaki lima

kurang memadai.

1.3 Fokus Penelitian


Berdasarkan latar belakang masalah serta mengingat ruang lingkup

penataan dan pemberdayaan pedagang kaki lima sangat luas dan agar penelitian ini

lebih terfokus maka fokus penelitian pada penelitian ini adalah

1. Penelitian berfokus pada sejauh mana pemkab sanggau dalam mengatasi

permasalahan penataan dan pemberdayaan kepada pedagang kaki lima.

2. mengidentifikasi hambatan dan tantangan dalam penataan dan

pemberdayaan pedagang kaki lima.

1.4 Rumusan Masalah


7

Berdasarkan identifikali masalah dan fokus penelitian tersebut maka dalam

penelitian ini peneliti menggunakan rumusan masalah berbentuk deskriptif dan

dapat dirumuskan menjadi “ mengapa implementasi peraturan daerah nomor 9

tahun 2013 Belum Berjalan Optimal?”.

1.5 Tujuan Penelitian


Adapun tujuan penelitian ini adalah sesuai dengan masalah yang

dikemukakan sebelumnya yaitu untuk menganalisis dan mengkaji faktor-faktor

yang mempengaruhi Implementasi peraturan daerah sanggau tentang penataan dan

pemberdayaan pedagang kaki lima sesuai dengan teori yang dipakai, yaitu teori

oleh george edward III yang mengemukakan empat faktor, yaitu komunikasi,

sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi.

1.6 Manfaat Penelitian

1. Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat memperluas wawasan

dan memperkaya pandangan ilmiah tentang Ilmu Administrasi Publik

khususnya dalam kajian Kebijakan Publik yang terkait dengan

Implementasi peraturan tentang penataan dan pemberdayaan pedagang kaki

lima pada kawasan taman arunk belopa di kabupaten sanggau.

2. Secara praktis hasil penelitian ini dapat menjadi masukan dan sumbangan

pemikiran bagi pihak Dinas perindustrian perdagangan koperasi dan

UMKM selaku pihak implementor kebijakan, harapannya adalah agar


8

instansi terkait dapat memperbaiki atau melengkapi dari kekurangan yang

ada dalam mengimplementasikan peraturan daerah kabupaten sanggau

Nomor 9 Tahun 2013 Tentang Penataan Dan Pemberdayaan Pedagang Kaki

Lima.

Untuk peneliti selanjutnya diharapkan penelitian ini akan bermanfaat

sebagai rujukan atau refrensi dalam proses penelitian skripsi atau laporan

yang akan dibuat diwaktu mendatang.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Kebijakan Publik

Konsep kebijakan publik menurut Sulaiman adalah sebagai suatu proses

yang mengandung berbagai pola berbagai aktivitas tertentu yang merupakan

seperangkat keputusan yang bersangkutan dengan tindakan untuk mencapai tujuan

dalam beberapa cara yang khusus, dengan demikian, maka konsep kebijakan publik

berhubungan dengan tujuan pola aktivitas pemerintahan mengenai sejumlah

masalah serta mengandung tujuan (Sulaiman, 1998:24).

Istilah kebijakan digunakan dalam praktek sehari-hari namun digunakan

untuk kegiatan atau keputusan yang sangat berbeda, kebijakan atau kebijaksanaan

publik mempunyai arti yang beraneka ragam. Menurut Amir Santoso

sekurangkurangnya ada dua macam pendapat mengenai kebijakan publik ini.

Pertama adalah pedapat dari mereka yang memandang kebijakan publik sama

dengan tindakan-tindakan pemerintah dan yang kedua adalah dari para ahli yang

memberikan perhatian khusus pada pelaksanaan kebijakan (Ekowati, 2009:5).

Kebijakan publik merupakan salah satu dimensi administrasi publik yang

berkenaan dengan keputusan tentang apa yang harus dikerjakan. Dimensi kebijakan

dianalogikan dengan pekerjaan otak yang selalu memutuskan apa yang hendak

dikerjakan oleh sistem organ tubuh atau dimensi struktur organisasi melalui suatu

9
10

energi atau sistem penggerak dan kendali atau dimensi manajemen (Keban,

2008:57)

Kebijakan publik menempati posisi yang vital dan penyelenggaraan negara,

karena kebijakan publik merupakan instrumen yang digunakan pemerintah dalam

mengatur kehidupan bernegara. Bahkan Riant Nugroho menempatkan kebijakan

publik kedalam salah satu komponen utama dalam sebuah negara. Menurut

Nugroho, negara adalah sebuah identitas politik yang bersifat formal yang

mempunyai minimal empat komponen utama. Pertama, komponen

lembagalembaga negara, yaitu lembaga pemerintah (eksekutif), lembaga

perundangan (legislatif), dan lembaga peradilan (yudikatif). Kedua, komponen

rakyat sebagai warga negara (citizen). Ketiga, wilayah yang diakui kedaulatannya.

Keempat, komponen kebijakan publik (Nugroho, 2011:17-18).

Penataan dan pemberdayaan pedagang kaki lima pada kawasan taman arunk

belopa merupakan sebuah kebijakan publik. Kebijakan publik tersebut merupakan

kebijakan yang dibuat oleh pemerintah kabupaten sanggau melalui perda no 9 tahun

2013 tentang penataan dan pemberdayaan pedagang kaki lima. Hal ini merupakan

tindakan yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten sanggau untuk menata

pedagang kaki lima agar memberikan kenyamanan dan kemudahan para pedagang

maupun masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang tertata rapi. Kebijakan ini

bertujuan untuk mendukung aspek hukum dalam melakukan penataan dan

pemberdayaan pedagang kaki lima, dengan adanya kebijakan ini maka pihak

implementor bisa bertindak sesuai kebijakan.


11

2.2 Konsep Implementasi Kebijakan

Implementasi kebijakan menurut Eugane Bardach dalam Leo Agustini

adalah cukup membuat sebuah program dan kebijakan umum yang kelihatannya

bagus diatas kertas. Lebih sulit lagi merumuskannya dalam kata-kata dan slogan-

slogan yang kedengarannya mengenakan bagi telinga para pemimpin dan para

pemilih yang mendengarkannya dan lebih sulit lagi untuk melaksanakannya dalam

bentuk cara yang memuaskan semua orang termasuk mereka angggap klien

(Agustini, 2014:138).

Implementasi kebijkan menurut Daniel Mazmanian dan Paul Sabatier dalam

Leo Agustino adalah pelaksana keputusan kebijaksanaan dasar biasanya dalam

bentuk undang-undang, namun dapat pula berbentuk perintah-perintah atau

keputusan eksekutif yang penting atau keputusan badan peradilan (Agustino,

2014:139).

Implementasi kebijakan menurut Van Mater dan Van Horn dalam Leo

Agustino adalah tindakan-tindakan yang baik oleh individu-individu atau

pejabatpejabat dan kelompok-kelompok pemerintah atau swasta yang diarahkan

pada tercapainya tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam keputusan pelaksanaan

kebijakan (Agustino, 2014:139).

Dari tiga denifisi diatas dapat diketahui bahwa Implementasi Kebijakan

manyangkut pada tiga hal yaitu:

1. Adanya tujuan atau sasaran kebijkan.


12

2. Adanya aktivitas atau kegiatan pencapaian tujuan.

3. Adanya hasil kegiatan.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa implementasi

merupakan suatu proses yang dinamis, dimana pelakasana kebijakan melakukan

aktivitas atau kegiatan sehingga pada akhirnya akan mendapatkan suatu hasil yang

sesuai dengan tujuan atau sasaran kebijakan itu sendiri.

Implementasi kebijakan merupakan alat administrasi hukum, dimana

berbagai aktor, organisasi, prosedur dan teknik yang bekerja bersama-sama untuk

menyelenggarakan kebijakan guna meraih dampak dan tujuan yang di inginkan.

Pada sisi lain implementasi merupakan fenomena yang kompleks yang mungkin

dapat di pahami sebagai suatu proses, suatu keluaran maupun (output) maupun

sebagai suatu dampak (outcome) (Winamo, 2001:144).

1. Implementasi Kebijakan Model Donald Van Meter dan Carl Van Horn

Model pendekatan top-down yang dirumuskan oleh Donald Van Meter dan

Carl Van Horn disebut dengan A Model of The Policy Implementation. Proses

implementasi ini merupakan sebuah abstraksi atau performansi suatu implementasi

kebijakan yang pada dasarnya secara sengaja dilakukan untuk meraih kinerja

implementasi kebijakan public yang tinggi yang berlangsung dalam hubungan

berbagai variabel. Model ini mengendalikan bahwa implementasi kebijakan

berjalan secara linier dari keputusan politik yang tersedia, pelaksana dan kinerja

kebijakan publik.
13

Ada enam variabel menurut Van Meter dan Van Horn yang mempengaruhi

kinerja kebijakan publik:

1. Ukuran dan Tujuan Kebijakan Kinerja

implementasi kebijakan dapat diukur tingkat keberhasilannya jika dan

hanya jika ukuran dari kebijakan memang realistis dengan sosio-kultur yang

mengada di level pelaksana kebijakan. Ketika ukuran kebijakan atau tujuan

kebijakan terlalu ideal (bahkan terlalu utopis) untuk dilaksanakan di level

warga, maka agak sulit merealisasikan kebijakan public hingga titik yang

dapat dikatakan berhasil.

2. Sumberdaya

Keberhasilan proses implementasi kebijakan sangat tergantung dari

kemampuan manfaat sumberdaya yang tersedia. Manusia merupakan

sumberdaya yang terpenting dalam menentukan suatu keberhasilan proses

implementasi. Tahap-tahap tertentu dari keseluruhan proses implementasi

menuntut adanya sumberdaya manusia yang berkualitas sesuai dengan

pekerjaan yang diisyaratkan oleh kebijakan yang telah ditetapkan secara

politik. Tetapi ketika kompetensi dan kapabilitas dari sumber daya itu nihil

maka kinerja kebijakan publik sangat sulit untuk diharapkan. Tetapi diluar

sumberdaya manusia sumberdaya lain yang perlu diperhitungkan juga

adalah sumberdaya finansial dan sumberdaya waktu. Karena mau tidak mau

ketika sumberdaya manusia yang kompeten dan kapabel telah tersedia

sedangkan kucuran dana melalui anggaran tidak tersedia, maka memang


14

menjadi persoalan pelik untuk merealisasikan apa yanghendak dituju oleh

tujuan kebijakan public.

3. Karakteristik Agen Pelaksanaan

Pusat perhatian pada agen pelaksana meliputi organisasi formal dan

organisasi informal yang akan terlibat pengimplementasian kebijakan

publik. Hal ini sangat penting karena kinerja implementasi kebijakan publik

akan sangat banyak dipengaruhi oleh ciri-ciri yang tepat serta cocok dengan

para agen [Link]/Kecenderungan (Dispositon) para

pelaksana. Sikap penerimaan atau penolakan dari agen pelaksana akan

sangat banyak mempengaruhi keberhasilan atau tidaknya kinerja

implementasi kebijakan publik. Hal ini sangat mungkin terjadi karena

kebijakan yang dilaksanakan bukanlah hasil formulasi warga setempat

yangmengenal betul persoalan dan permasalahan yang mereka rasakan.

Tetapi kebijakan yang akan implementor pelaksanaan adalah kebijakan dari

atas (top down) yang sangat mungkin para pengambil keputusannya tidak

pernah mengetahui (bahkan tidak mampu menyentuh) kebutuhan,

keinginan, atau permasalahan yang ingin masyarakat selesaikan.

4. Sikap/kecenderungan (Disposition)

Para Pelaksana Sikap penerimaan atau penolakan dari agen pelaksana akan

sangat banyak mempengaruhi keberhasilan atau tidaknya kerja

implementasi kebijakan publik. Hal ini sangat mungkin terjadi oleh karena

kebijakan yang dilaksanakan bukanlah hasil formulasi warga setempat yang


15

mengenal betul persoalan dan permasalahan yang mereka rasakan. Tetapi

kebijakan yang akan implementor pekaksanaan adalah kebijakan “dari atas”

(top down) yang sangat mungkin para pengambil keputusan tidak pernah

mengetahui (bahkan tidak mampu menyentuh) kebutuhan, keinginan, atau

permasalahan yang warga ingin selesaikan.

5. Komunikasi Antarorganisasi dan Aktivitas Pelaksana

Komunikasi merupakan mekanisme yang paling ampuh dalam

implementasi kebijakan publik. Semakin baik komunikasi dan koordinasi

antara pihak-pihak yang terlibat dalam suatu proses implementasi, maka

asumsinya adalahkesalahan-kesalahan akan sangat kecil untuk terjadi dan

begitu pula sebaliknya.

6. Lingkungan Ekonomi, Sosial dan Politik

Hal terahir yang perlu diperhatikan guna menilai kinerja implementasi

publik dalam perspektif yang ditawarkan oleh Van Meter dan Van Horn

adalah sejauh mana lingkungan eksternal turut mendorong keberhasilan

kebijakan publik yang telah ditetapkan. Lingkungan sosial, ekonomi, dan

politik yang tidak kondusif dapat menjadi biang keladi dari kegagalan

kinerja implementasi kebijakan. Karena itu upaya untuk

mengimplementasikan harus pula memperhatikan kokondusifan kondisi

lingkungan eksternal.

2. Implementasi kebijakan model George C Edward III


16

Menuruut teori George C. Edward III (dalam Agustino, 2006:149)

implementasi kebijakan dipengaruhi oleh empat variable, yakni:

komunikasi,sumber daya, disposisi dan struktur birokrasi.

i. Komunikasi (communication). Faktor pertama yang mempengaruhi

keberhasilan implementasi suatu kebijakan, menurut George C. Edward III

(dalam Agustino, 2006:150) yaitu komunikasi. Komunikasi menurutnya

lebih lanjut sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan dari

implementasi kebijakan publik, implementasi yang efektif terjadi apabila

para pembuat keputusan sudah mengetahui apa yang akan mereka kerjakan.

Pengetahuan atas apa yang akan mereka kerjakan dapat berjalan bila

komunikasi berjalan dengan baik, sehingga setiap keputusan kebijakan dan

peraturan implementasi harus ditransmisikan (atau dikomunikasikan)

kepada bagian personalia yang tepat. Selain itu, kebijakan yang

dikomunikasikan pun harus tepat, akurat, dan konsisten. Komunikasi

(pentransmisian informasi) diperlukan agar para pembuat keputusan dan

para implementor akan semakin konsisten dalam melaksanakan setiap

kebijakan yang akan diterapkan dalam masyarakat. Terdapat tiga yang dapat

digunakan dalam mengukur keberhasilan komunikasi tersebut diatas, yaitu:

a. Transmisi, penyaluran komunikasi yang baik akan dapat

menghasilkan suatu implementasi yang baik pula. Seringkali yang

terjadi dalam penyaluran komunikasi adalah adanya salah

pengertian (miskomunikasi), hal tersebut disebagiankan karena


17

komunikasi telah melalui beberapa tingkatan birokrasi, sehingga apa

yang diharapkan terdistorsi ditengah jalan.

b. Kejelasan, komunikasi yang diterima oleh para pelaksana kebijakan

(street-level-bereuacrats) haruslah jelas tidak membingungkan

(tidak ambigu/mendua). Ketidakjelasan pesan kebijakan tidak selalu

menghalangi implementasi, pada tataran tertentu, para pelaksana

membutuhkan fleksibilitas dalam melaksanakan kebijakan. Tetapi

pada tataran yang lain hal tersebut justru akan menyelewengkan

tujuan yang hendak dicapai oleh kebijakan yang telah ditetapkan.

c. Konsistensi, perintah yang diberikan dalam pelaksana kebijakan

haruslah konsisten dan jelas (untuk diterapkan atau dijalankan).

Karena jika perintah yang diberikan sering berubah-ubah, maka

dapat menimbulkan kebingungan bagi pelaksana dilapangan.

ii. Sumber daya. Faktor kedua yang memeperngaruhi keberhasilan

implementasi suatu kebijakan adalah sumber daya. Sumber daya merupakan

hal penting lainnya, merupakan George C. Edward III (dalam Agustino,

2006:151) dalam mengimplementasikan kebijakan sumber daya terdiri dari

beberapa elemen yaitu:

a. Staf, sumber daya utama dalam implementasi kebijakan adalah staf.

Kegagalan yang sering terjadi dalam implementasi kebijakan salah

satunya disebagiankan oleh akrena staf yang tidak mencukupi,

memadai, ataupun tidak komponen dibidangnya. Penambahan


18

jumlah staf dan implementor sata tidak mencukupi, tetapi diperlukan

pula kecukupan staf dengan keahlian dan kemampuan yang

diperlukan (kompoten dan kapabel) dalam mengimplementasikan

kebiajakn atau melaksanakan tugas yang diinginkan oleh kebijakan

itu sendiri.

b. Informasi, dalam implementasi kebijakan informasi mempunyai dua

bentuk yaitu pertama, informasi yang berhubungan dengan cara

melaksanakan kebijakan. Implementor harus mengetahui apa yang

harus mereka lakukan disaat mereka diberi perintah untuk

melakukan tindakan. Kedua, informasi mengenai data kepatuhan

dari para pelaksana terhadap peraturan dan regulasi pemerintah yang

telah ditetapkan. Implementor harus mengetahui apabila orang lain

yang terlibat di dalam pelaksanaan kebijakan tersebut patuh

terhadap hukum.

c. Wewenang, pada umunya kewenangan harus bersifat formal agar

perintah dapat dilaksanakan. Kewenangan merupakan otoritas atau

legimitasi bagi para pelaksana dalam melaksanakan kebijakan yang

ditetapkan secara politik. Ketika wewenang it nihil, maka kekuatan

para implementor dimata public tidak terlegimitasi sehingga dapat

menggalkan proses implementasi kebijakan.

d. Fasilitas, fasilitas fisik juga merupakan factor penting dalam

implementasi kebijakan. Implementor mungkin staf yang


19

mencukupi, mengerti apa yang harus dilakukannya, dan memiliki

wewenang untuk melaksanakan tugasnya tetapi tanpa adanya

fasilitas pendukung (sarana dan prasarana) maka implementasi

kebijakan tersebut tidaka kan berhasil.

iii. Disposisi. Faktor ketiga yang mempengaruhi tingkat keberhasilan

implementasi kebijakan public bagi Geoerge C. Edward III

(dalamAgustino, 2006:152) adalah disposisi. Disposisi atau sikap dari

pelaksana kebijakan adalah factor penting ketiga dalam pendekatan

mengenai pelaksanakan suatu kebijakan public. Jika pelaksanaan suatu

kebijakan ingin efektif, maka para pelaksana kebijakan tidak hanya harus

mengetahui apa yang akan dilakukan tetapi juga harus memiliki

kemampuan untuk melaksanakannya sehingga dalam praktiknya tidak

terjadi bias. Hal-hal yang perlu dicermati pada variable disposisi adalah:

a. Pengangkatan birokrat, disposisi atau sikap para pelaksana akan

menimbulkan hambatan-hambatan yang nyata terhadap

implementasi kebijakan yang diinginkan oleh pejabat-pejabat tinggi.

Karena itu, pemilihan dan pengangkatan personil pelaksana

kebijakan haruslah orang-orang yang memiliki dedikasi pada

kebijakan yang telah ditetapkan lebih khusus lagi pada kepentingan

warga.

b. Insentif, Edward III menyatakan bahwa salah satu teknik yang

disarankan untuk mengatasi masalah kecendrungan para


20

pelaksanaadalah dengan memanipulasi insentif. Oleh karena itu,

pada umumnya orang bertindak menurut kepentingan mereka

sendiri, maka memanipulasi insentif oleh para pembuat kebijakan

mempengaruhi tindakan para pelaksana kebijakan. Dengan cara

menambah keuntungan atau biaya tertentu atau biaya tertentu

mungkin akan menjadi factor pendorong yang membuat para

pelaksana kebijakan melaksanakan perintah dengan baik. Hal ini

dilakukan sebagai upaya memenuhi kepentingan pribadi (self

interest) atau organisasi.

iv. Stuktur Birokrasi. Menurut George C. Edward III (dalam Agustino,

2008:153) yang mempengaruhi tingkat keberhasilan implementasi

kebijakan public adalah struktur birokrasi. Walaupun sumber-sumber untuk

melaksanakan suatu kebijakan tersedia atau para pelaksana kebijakan

mengetahui apa yang seharusnya dilakaukan dan mempunyai keinginan

untuk melaksanakan suatu kebijakan, kemungkinan kebijakan tersebut tidak

dapat terlaksana atau terealisasi karena terdapatnya kelemahan dalam

struktur birokrasi. Kebijakan yang begitu kompleks menuntut adanya

kerjasama banyak orang, ketika struktur birokrasi tidak kondusif pada

kebijakan yang tersedia maka hal ini akan menyebabkan sumber

dayasumber daya menjadi menjadi tidak efektif dan menghambat jalannya

kebijakan. Birokrasi sebagai pelaksana sebuah kebijakan harus dapat

mendukung kebijakan yang telah diputuskan secara politik dengan jalan

melakukan koordinasi dengan baik. Dua karakteristik yang dapat


21

mendongkrak kinerja struktur biroktasi/ organisasi kearah yang lebih baik,

adalah:

a. Standar Operating Prosedure (SOP), suatu kegiatan rutin yang

memungkinkan para pegawai (pelaksana kebijakan/administrasi

birokrat) untuk melaksanakan kegiatan-kegiatannya pada tiap

harinya sesuai dengan standar yang ditetapkan (standar minimum

yang dibutuhkan)

b. Melaksanakan fragmentasi, upaya penyebaran tanggungjawab

kegiatan-kegiatan atau aktivitas-aktivitas pegawai diantara beberapa

unit kerja.

2.3 konsep pedagang kaki lima

Pedagang kaki lima merupakan salah satu bentuk kegiatan perdagangan

sektor informal. Pedagang kaki lima diartikan sebagai setiap orang yang

menjalankan aktivitas perdagangan dan jasa yang dilakukan cenderung berpindah-

pindah dengan besar modal yang terbatas serta dilakukan dengan menggunakan

peralatan sederhana dan berlokasi di tempat umum. Istilah kaki lima asalnya

muncul dari ukuran trotoar pada dulu kala yaitu lebar 5 feet (kaki) atau sama dengan

kurang lebih 1,5 meter. Oleh karena itu, pengertian pedagang kaki lima merupakan

pedagang yang berjualan pada kaki-lima dan umumnya berlokasi di tempat umum

yang ramai seperti trotoar di depan pertokoan, pasar, sekolah, dan gedung bioskop

(Fakultas Ekonomi Unpar, 1980, dalam Widodo, 2000).


22

Pengertian pedagang kaki lima menurut Peraturan Menteri Koperasi dan

Usaha Kecil dan Menengah Nomor 16 Tahun 2018 adalah pelaku usaha yang

melakukan usaha perdagangan dengan menggunakan sarana usaha bergerak

maupun tidak bergerak, menggunakan prasarana kota, fasilitas sosial, fasilitas

umum, lahan dan bangunan milik pemerintah dan/atau swasta yang bersifat

sementara/tidak menetap. McGee & Yeung (1977) mendefinisikan pedagang kaki

lima sebagai sekumpulan orang yang menawarkan barang dan jasa untuk dijual

pada ruang publik terutama di pinggir jalan dan trotoar. Pedagang kaki lima

termasuk ke dalam mata pencaharian di sektor informal yang melakukan kegiatan

menggunakan ruang publik terutama di pedestrian dan pinggir jalan. Para pedagang

kaki lima dalam mejajakan dagangannya menggunakan sarana dagang dan

perlengkapannya yang mudah dibongkar pasang dan mudah dipindahkan. Kegiatan

pedagang kaki lima dapat digambarkan sebagai berikut:

a. Pola kegiatan berdagang tidak teratur dengan baik seperti lokasi maupun

waktu usaha

b. Metode berdagang dilakukan masih secara tradisional

c. Kebanyakan unit usaha tidak mempunyai izin usaha

d. Dana modal dan perputaran keuangan dagang relatif kecil maka skala

operasinya juga relatif kecil


23

e. Kegiatan berdagang tidak tertata secara baik karena unit usaha terjadi

dengan tidak menggunakan kelembagaan formal dan fasilitas yang

tersedia

f. Pada umumnya dana modal bersumber secara mandiri yatitu dari

tabungan sendiri atau dari lembaga keuangan tidak resmi

g. Pada biasanya kebijakan-kebijakan pemerintah dalam membantu

kelompok ekonomi lemah tidak mencakup ke sektor ini

h. Barang dagangan atau jasa yang ditawarkan biasanya dikonsumsi oleh

kelompok masyarakat berpenghasilan mengenah ke bawah

i. Pada umumnya kegaiatan berdagang ini dijalankan oleh diri sendiri

(one man enterprise) atau jika ada pekerja lainnya biasanya dibantu

oleh keluarga sendiri.

McGee dan Yeung (1977) menjelaskan bahwa karakteristik pedagang kaki

lima meliputi jenis barang dagangan, bentuk sarana usaha, waktu pelayanan, sifat

pelayanan, dan pola penyebaran aktivitas (Budi, 2006). Berikut ini adalah

karakteristik pedagang kaki lima:

A. Jenis Barang Dagangan

McGee dan Yeung (1977) menyatakan bahwa jenis dagangan pedagang

kaki lima dipengaruhi oleh kegiatan yang terdapat di sekitar lokasi


24

pedagang tersebut beraktivitas. Jenis dagangan pedagang kaki lima dibagi

menjadi empat kelompok yaitu:

1. Makanan yang tidak dan belum diproses yaitu bahan mentah

makanan seperti daging, buah, sayuran dan bahan makan setengah

jadi seperti beras.

2. Makanan siap saji yaitu makanan atau minuman yang telah diolah

sehingga dapat langsung disajikan seperti nasi, lauk-pauk, kue, dan

jajanan.

3. Bukan makanan yaitu barang dagangan yang bukan berupa makanan

seperti obat-obatan, peralatan, dan tekstil.

4. Jasa yaitu jasa pelayanan yang ditawarkan seperti penjahit, tukang

potong rambut, tukang tambal ban, dan sebagainya.

B. Bentuk Sarana Usah

Bentuk sarana yang digunakan oleh pedagang kaki lima dipengaruhi

oleh jenis dagangan yang dijual. Bentuk sarana tersebut biasanya sangat

sederhana dan mudah untuk dipindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya.

Sedangkan, menurut Waworoentoe (1973), bentuk sarana usaha pedagang

kaki lima dapat digolongkan menjadi lima, yaitu:

1. Gelaran atau alas yaitu bentuk sarana dagang yang menggunakan

alas berupa kain, tikar, dan lain-lain dalam menjual barang


25

dagangannya. Bentuk sarana dagang ini dikategorikan sebagai semi

menetap (semi static hawkers).

2. Pikulan atau keranjang yaitu bentuk sarana dagang ini digunakan

oleh para pedagang keliling (mobile hawkers) atau pedagang semi

menetap (semi static hawkers) yang bertujuan barang dagangan

mudah dibawa atau dipindahkan.

3. Gerobak yaitu bentuk sarana dagang ini terbagi menjadi 2 macam

yaitu gerobak beratap dan gerobak tanpa atap. Gerobak dapat

dikelompokkan sebagai aktivitas berdagang yang menetap (static

hawkers) dan tidak menetap (mobile hawkers).

4. Warung semi permanen yaitu bentuk sarana berupa gerobak yang

disusun secara berderet dalam sebuah tenda yang biasanya terbuat

dari bahan terpal atau bahan lain yang tidak tembus air serta terdapat

meja dan bangku. Bentuk sarana dagang ini bersifat menetap (static

hawkers).

5. Kios yaitu bentuk sarana dagang yang merupakan bangunan semi

permanen yang terbuat dari susunan papan-papan sehingga

berbentuk bilik. Biasanya bentuk sarana ini juga menjadi tempat

tinggal bagi pedagang yang bersangkutan. Kios termasuk dalam

bentuk sarana dagang yang bersifat menetap (static hawkers).

C. Waktu Pelayanan
26

McGee dan Yeung (1977) menjelaskan penentuan periode waktu

aktivitas pedagang kaki lima disesuaikan dengan perilaku aktivitas sektor

formal dan kondisi yang ada. Perilaku aktivitas antara sector formal dengan

sektor informal cenderung sejalan, tetapi pada saat tertentu keterkaitan

antara keduanya menjadi lemah atau tidak memiliki hubungan langsung.

Waktu pelayanan dari aktivitas pedagang kaki lima terbagi menjadi dua

periode waktu dalam satu hari adalah pagi atau siang dan sore atau malam.

D. Sifat Pelayanan Berdasarkan sifat pelayanan pedagang kaki lima, McGee

dan Yeung (1977) membedakan menjadi tiga, yaitu:

1. Pedagang tidak menetap (mobile hawkers) Pedagang tidak menetap

atau keliling adalah pedagang yang melayani konsumennya dengan

berusaha mendatangi konsumen. Jenis sarana dagangan yang

digunakan berupa sarana yang mudah dibawa dengan volume

dagangan yang kecil. Oleh sebab itu, pelayanan pedagang keliling

yaitu menjual dagangannya bergerak dari satu tempat ke tempat

yang lainnya.

2. Pedagang semi menetap (semi static hawkers) Pedagang semi

menetap adalah pedagang yang layanan berdagangnya bersifat

menetap yang sementara yaitu waktu berdagang hanya saat-saat

tertetu saja yang memiliki kemungkinan datangnya konsumen yang

cukup tinggi.
27

3. Pedagang menetap (static hawkers) Pedagang menetap adalah

pedagang yang bentuk layanannya menetap pada suatu lokasi

tertentu. Hal ini menjadikan konsumen harus mendatangi ke lokasi

pedagang tersebut jika ingin membeli.

E. Pola Penyebaran Aktivitas

Menurut McGee dan Yeung (1977), aktivitas pedagang kaki lima

berdasarkan pola penyebarannya dikategorikan menjadi dua yaitu:

1. Pola Penyebaran Memanjang (Linier Concentations) Pada

umumnya, pola penyebaran ini terjadi di jalan utama (main street)

yang memiliki aksesbilitas tinggi sehingga berpotensi banyak

mendatangkan konsumen. Dengan kata lain, pola penyebaran

memanjang dipengaruhi oleh pola jaringan jalan yang bersangkutan

2. Pola Penyebaran Mengelompok (Focus Aglomerations) Faktor

aglomerasi menjadi pengaruh terbentuknya pola penyebaran

mengelompok yaitu pengelompokkan para pedagang yang menjual

barang yang sejenis atau saling menunjang. Pola penyebaran ini

terjadi di sekitar sektor formal seperti pusat perbelanjaan, pasar,

taman, ruang parkir, ruang terbuka, dan lainnya

2.4 Penelitian yang Relevan

Berdasarkan hasil eksplorasi terhadap penelitian-penelitian terdahulu,

penulis menemukan beberapa penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian


28

ini yang berkaitan dengan tingkat efektivitas pegawai. Meskipun terdapat

keterkaitan pembahasan, penelitian ini masih sangat berbeda dengan penelitian

terdahulu. Adapun beberapa penelitian terdahulu tersebut, antara lain :

1. Elliza Ariftiani Tahun 2013 melakukan penelitian dengan judul “Efektivitas

Pelaksanaan Penataan Pkl Berdasarkan Peraturan Bupati Nomor 36 Tahun 2009

Tentang Penataan Pkl Kabupaten Jember (Studi Kasus Penataan PKL Jl.

Samanhudi dan Jl. Untung suropati Kabupaten Jember)”5 , dengan fokus

penelitian untuk mengetahui bagaimanakah efektifitas pelaksanaan penataan

PKL jalan Samanhudi dan jalan Untung Suropati Jember berdasarkan Peraturan

Bupati Nomor 36 Tahun 2009 tentang Penataan Pedagang Kaki Lima di

Kabupaten Jember6 . Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif

dengan metode kualitatif. Penentuan informan, peneliti menggunakan tehknik

purposive sampling dan tehknik snawball sampling. Tehknik pengumpulan

datanya menggunakan data primer dan data sekunder. Hasil penelitian ini

menunjukkan bahwa pelaksanaan penataan PKL menurut Perbup nomor 36

tahun 2009 dinilai cukup efektif. Hal ini dibuktikan dengan tepatnya kebijakan

penataan PKL, ke dua tepatnya tim pelaksana penataan PKL, ke tiga

pelaksanaan penataan sudah memenuhi target keempat adalah lingkungan

dalam penelitian tahap ini dinilai kurang tepat. Perbedaan penelitian saat ini

dengan penelitian terdahulu yakni pada bagaimana mengetahui efektivitas kerja

pemerintah daerah Kota Kupang dalam pelaksanaan penertiban dan penataan

pedagang kaki lima di Taman Tagepe Kota Kupang. sedangkan variabel yang

digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah bagaimana cara pihak


29

implementor dalam mengatasi permasalahan yang dialami pedagang kaki lima

dalam memberikan fasilitas yang layak dan selanjutnya akan dianalisis

menggunakan metode deskriptif kualitatif yang diperoleh dari data hasil

wawancara terhadap responden-responden pilihan yang ditentukan.

2. DYAH NUR RAHMAH, melakukan penelitian dengan judul kajian

implementasi kebijakan penataan pedagang kaki lima dijalan gatot subroto

kabupaten pemalang dengan fokus penelitian untuk mengetahui bagaimana

kajian implementasi kebijakan penataan pedagang kaki lima di jalan gatot

subroto kabupaten pemalang berdasarkan Peraturan Daerah Kabupatenl

Pemalang Nomor 3 Tahun 2013 tentang Penataanl dan Pemberdayaanl

Pedagang Kakil Lima dengan metode penelitian deskriptif kualitatif Penentuan

informan, peneliti menggunakan tehknik purposive sampling dan tehknik

snawball sampling. Tehknik pengumpulan datanya menggunakan data primer

dan data sekunder. hasil penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi

penataan PKL menurut Perbup nomor 3 tahun 2013 dinilai cukup efektif. Hal

ini dibuktikan dengan tepatnya kebijakan penataan PKL, ke dua tepatnya tim

pelaksana penataan PKL, ke tiga pelaksanaan penataan sudah memenuhi target

keempat adalah lingkungan dalam penelitian tahap ini dinilai kurang tepat.

Perbedaan penelitian saat ini dengan penelitian terdahulu yakni pada bagaimana

teori yang digunakannya dalam penelitannya adalah dari Van Meter dan Van

Horn (1975) untuk melihat tingkat keberhasilan implementasi kebijakan

penataan pedagang kaki lima di Jalan Gatot Subroto.


30

2.5 Alur Pikir Penelitian

Implementasi kebijakan merupakan tahap yang penting dalam merumuskan

suatu kebijakan yang akhirnya berupa keputusan kebijakan yang dapat

menimbulkan pengaruh (dampak), dari proses yang dilakukan oleh pemerintah

yang benar-benar diterapkan dilapangan untuk menghasilkan output dan outcomes,

dimana output sebagai penyebab kebijakan sedangkan outcomes sebagai dampak

dari kebijakan. Ketika menyusun penelitian tentang implementasi kebijakan

Peraturan bupati sanggau Nomor 9 Tahun 2013 tentang penataan dan

pemberdayaan pedagang kaki lima pada kawasan pasar sentral kabupaten sanggau,

peneliti menggunakan teori dari George C. Edwards III sebagai pedoman analisis

untuk mengukur sejauh mana implementasi kebijakan mengenai penataan dan

pemberdayaan pedagang kaki lima di kawasan pasar sentral kabupaten sanggau

sudah berjalan, karena teori yang dikemukakan oleh Edward III adalah yang paling

relevan dengan masalah peneliti yang angkat, yaitu dengan mengkaji 4 indikator

yang ditawarkan antara lain komunikasi, sumber daya, disposisi dan struktur

birokrasi. Adapun 4 indikator ini mengarah pada implementor kebijakan, yaitu

dalam hal ini Dinas perindustrian perdagangan koperasi dan UMKM Kabupaten

Sanggau.
31

Gambar

Alur Pikir Penelitian

Judul
Implementasi Peraturan Daerah Sanggau Nomor 9 Tahun 2013 Tentang Pemberdayaan Dan
Penataan Pedagang Kaki Lima Pada Kawasan Taman Arunk Belopa Kelurahan Beringin
Kecamatan Kapuas Kabupaten Sanggau

Masalah
1. Lokasi dan penempatan yang di berikan terhadap Pedagang Kaki Lima kurang memadai
2. Masih adanya pedagang yang berjualan diluar kawasan taman arunk belopa

Teori
Menurut George C. Edward III (Agustino, 2014:149) ada empat variabel yang mempengaruhi
proses implementasi kebijakan yaitu:
1. Komunikasi
2. Sumber Daya
3. Disposisi
4. Struktur Birokrasi

Output
Implementasi kebijakan tentang penataan dan pemberdayaan pedagang kaki lima pada kawasan
pasar sentral kabupaten sanggau berjalan dengan optimal
32
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Peneilitan ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif,

yakni jenis penelitian yang berupaya menggambarkan atau melukiskan suatu

fenomena atau kejadian secara sistematis. Bogdan dan Taylor (Moleong, 2011:4)

mendefinisikan metodelogi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang

menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang

dan perilaku yang dapat diamati.

Peneliti menggunakan metodelogi penelitian kualitatif yang dianggap

sesuai dengan menggambarkan Implementasi kebijakan bagi para implementor

mulai dari Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM Kabupaten

Sanggau sebagai pelaksana kebijakan.

Menurut Nawawi (dalam burhan:63) menjelaskan bahwa: Jenis penelitian

deskriptif adalah suatu prosedur pemecah masalah yang diselidiki,

menggambarkan, melukiskan, keadaan subyek/obyek penelitian (seseorang,

lembaga, masyarakat) pada saat sekarang berdasarkan fakta yang tampak atau

sebagaimana adanya”.

Berdasarkan pendapat tersebut peneliti menggunakan jenis penelitian

deskriptif untuk menggambarkan keadaan di lapangan. Metode penelitian deskriptif

merupakan suatu pendekatan terhadap obyek penelitian guna melihat permasalahan

fokus mengidentifikasi masalah pada saat sekarang berdasarkan keadaan yang

33
34

sebenarnya. Selanjutnya dalam kaitan penelitian ini berarti peneliti berusaha untuk

memberikan penjelasan tentang implementasi peraturan daerah sanggau no 9 tahun

2013, yaitu tentang penataan dan pemberdayaan pedagang kaki lima pada kawasan

taman arunk belopa di kecamatan kapuas kabupaten sanggau.

3.2 Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data merupakan langkah yang penting karena data yang

terkumpul nantinya dipakai sebagai informasi yang valid guna pemecahan masalah

dimana dalam setiap metode dan instrumen mempunyai keunggulan dan

kelemahan, oleh karena itu dalam suatu proses kegiatan penelitian dapat

menggunakan metode pengumpulan data lebih dari satu ke yang lain.

Peneliti dalam penelitian kualitatif mempunyai peran yang kompleks, yaitu

sebagai perencana, pelaksana, pengumpul data, analis, penafsir data dan pemberi

Hasil laporan akhir hasil penelitian. Teknik pengumpulan data ini digunakan untuk

memperoleh data primer, yaitu data yang diperoleh dari sumber-sumbernya yaitu

dengan cara terjun langsung ke lapangan.

Penelitian lapangan ini memakai teknik pengumpulan data sebagai berikut:

a. Observasi

Observasi dalam penelitian ini yaitu dengan mengamati proses Implementasi

Perda No. 9 tahun 2013 tentang penataan dan pemberdayaan pedagang kaki

lima pada kawasan pasar sentral kecamatan kapuas kabupaten sanggau dimulai

dengan melakukan pengamatan pada kawasan pasar sentral, observasi

dilakukan dengan menganalisa keadaan sekitar, indera penglihatan merupakan


35

instrumen utama dalam melakukan observasi. Observasi juga merupakan teknik

pengumpulan data yang dilakukan dengan pengamatan secara langsung kepada

objek penelitian dan melakukan pencatatan pada saat penelitian dilakukan.

Batasan penelitian atau definisi observasi menurut Young dan Schmidt dalam

Harbani Pasolong (2013:131) adalah “sebagai pengamatan sistematis berkenan

dengan penelitian terhadap fenomena-fenomena yang nampak”. Perhatian yang

dimaksud adalah harus diberikan kepada unit kegiatan yang lebih besar atau

lebih luas pada fenomena-fenomena khusus yang dimari.

b. Wawancara

Metode wawancara adalah teknik pengumpulan data dengan melakukan

percakapan secara langsung dengan sumber informasi atau informan. Peneliti

telah menyiapkan pertanyaan-pertanyaan inti yang akan membantu dalam

mendapatkan informasi dari subjek penelitian. Pertanyaan-pertanyaan ini akan

peneliti sampaikan secara urut terhadap informan tentunya dengan bahasa yang

lugas dan mudah dimengerti.

Moleong (2011:186) mendefinisikan wawancara sebagai percakapan dengan

maksud tertentu, yang dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interview)

yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewer) yang

memberikan jawaban. Peneliti menggunakan panduan wawancara berdasarkan

masalah penelitian untuk dijadikan materi dalam wawancara agar menjadi

terarah dan tidak menyimpang.

c. Dokumentasi
36

Dokumentasi yaitu teknik pengumpulan data dengan menggunakan dokumen

sebagai sumber data. Dokumentasi juga merupakan suatu cara yang mempelajar

surat-surat serta buku-buku literatur yang berhubungan dengan permasalahan

yang diteliti dan obyek penelitian, seperti undang-undang, peraturan-peraturan,

surat keputusan, atau bahkan surat edaran yang dianggap sesuai dengan objek

penelitian.

3.3 Instrumen Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, maka yang menjadi

instrument penelitian adalah orang atau human instrument, yaitu diri peneliti. Untuk

menjadi instrument penelitian peneliti harus memiliki pengetahuan dan bekal teori

serta wawasan yang luas, sehingga mampu menganalisisdan mendeskripsikan

masalah sehingga mampu membuat pertanyaan yang tepat untuk mendapatkan data

yang diperlukan. Data yang dihasilkan dapat berbentuk kata-kata atau kalimat untuk

mengeksplorasi keadaan sosial pada kenyataannya dan mendeskripsikan masalah

penelitian, yaitu Implementasi Peraturan Daerah Sanggau Tentang Penataan dan

Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima Pada kawasan taman arunk belopa kelurahan

Kecamatan Kapuas Kabupaten Sanggau.

Pengumpulan data ini akan dibantu dengan menggunakan

instrumentenelitian, antara lain:

1. Observasi, untuk teknik ini instrument yang digunakan oleh peneliti yakni :

a. Panduan Observasi
37

b. Buku Tulis

c. Alat Tulis Berupa Pulpen dan Pensil

2. Wawancara, pada teknik ini instrument yang digunakan peneliti yakni :

a. Pedoman Wawancara

b. Alat Tulis berupa buku dan pulpen

c. Handphone sebagai perekam suara dan untuk mengambil gambar

3. Dokumentasi, Pada teknik ini peneliti menggunakan instrument antara lain:

a. Pedoman Dokumentasi

b. Handphone digunakan untuk mengambil gambar, suara dan video

c. peraturan daerah sanggau nomor 9 tahun 2013 tentang penataan dan

pemberdayaan pedagang kaki lima

d. Dokumentasi pendukung lainnya

3.4 Teknik Analisis Data


Data dari hasil penelitian kemudian dianalisa dengan menggunakan teknik

analisa kualitatif, yaitu analisa yang dilakukan dengan cara membaca, meneliti, dan

mempelajari selutuh data yang didapatkan dari penelitian baik itu wawancara

maupun studi dokumendata-data tersebut selanjutnya dianalisis dan disederhanakan

untuk mengetahui maknanya. Selanjutnya hasil analisa yang diperoleh

dihubungkan dengan permasalahan yang sedang diteliti sehingga diperoleh

pemahaman tentang gejala yang menjadi fokus penelitian.

Menurut Miles dan Huberman (dalam Sugiyono, 2012:183) aktifitas dalam

analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung terus-menerus


38

pada setiap tahapan penelitian sampai tuntas dan sampai datanya jenuh. Aktifitas

dalam analisis data antara lain sebagai berikut:

1. Reduksi Data

Reduksi data dilakukan dengan menulis data yang diperoleh dari penelitian

dalam bentuk uraian atau laporan yang terperinci, yaitu dengan mencari

benang merah dari data-data yang telah terkumpul. Hal ini dapat

memudahkan peneliti untuk mengambil kesimpulan atau atau makna yang

valid . Reduksi data dapat dilakukan dengan cara menyampaikan kembali

mengenai data yang diperoleh dengan kalimat yang lebih mudah dipahami.

2. Display Data

Data yang telah direduksi kemudian tahap selanjutnya adalah penyajian

[Link] akan menyajikan datayang telah direduksi dalam bentuk

teksnaratif. Setelah data disajikan maka akan lebih mudah untuk memahami

apa yang sebenarnya terjadi, dandapat mencari alternatif selanjutnya apa

yang akan dikerjakan.

3. Verifikasi

Langkah selanjutnya adalah mengambil kesimpulan dan verifikasi. Setelah

melalui setiap langkah untuk mencari makna dari data yang dikumpulkan,

kesimpulan awal peneliti masih buram, bersifat sementara, masih diragukan

dan akan berubah pada tahap pengumpulan data berikutnya, namun dengan

bertambahnya data dan diperoleh dukungan dari bukti-bukti yang valid,

maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.


39

3.5 Teknik Keabsahan Data

Teknik keabsahan data merupakan standar validitas yang diperoleh. Setiap

penelitian memerlukan kriteria untuk melihat derajat kepercayaan atau kebenaran

atas hasil penelitian. Dalam penelitian kualitatif, standar tersebut dinamakan

keabsahan data. Penelitian ini menggunakan teknik keabsahan data dengan

triangulasi. Triangulasi merupakan cara terbaik untuk menghilangkan perbedaan

kontruski kenyataan yang ada dalam konteks suatu studi sewaktu mengumpulkan

data tentang berbagai kejadian dan hubungan dari berbagai pandangan. Dengan kata

lain bahwa dengan triangulasi, peneliti dapat me-recheck temuanyya dengan jalan

membandingkan berbagai sumber, metode atau teori.

Triangulasi menurut Susan Stainback (dalam Sugiyono, 2012:330)

merupakan “theaim isnot to determinate the truth about some social phenomenon,

rather than the purposeoftriangulation is to increase one's understanding of what

ever is being investigated". Dengan demikian triangulasi bukan bertujuan untuk

mencari kebenaran, akantetapi untuk meningkatkan pemahaman peneliti terhadap

data dan fakta yang dimiliki peneliti.

Sugiyono (2012:333) menjelaskan bahwa triangulasi dalam pengujian

kredibilitas ini diartikan sebagai pemecahan data dari berbagai sumber dengan

berbagai cara dan berbagai [Link] penelitian ini peneliti menggunakan

teknik triangulasi sumber untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan

cara cek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber dilapangan.
40

Meloeng (2007:248) menyatakan teknik triangulasi sumber adalah teknik

yang digunakan untuk menuji kredibilitas data dilakukan dengan cara mencek data

yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Pada penelitian ini peneliti

melakukan wawancara kepada berbagai sumber informan penelitian.


DAFTAR PUSTAKA
Buku :

Agustino, Leo. 2008. Dasar-Dasar Kebijakan Publik. Bandung: Alfabeta

Anggara, Sahya. 2012. Ilmu Administrasi Negara: Kajian Konsep, Teori, dan
Fakta dalam Upaya Menciptakan Good Governance. Bandung: Pustaka
Setia

Arikunto, S. 2013. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka


Cipata

Dunn . Wiliam N. 2000. Analisis Kebijakan Publik. Yogyakarta : Gadjah Mada


University

Press Moleong, Lexy J. 2013. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT.


Remaja Rosdakarya.

Mulyadi, Deddy. 2016. Studi Kebijakan Publik dan Pelayanan Publik. Bandung :
Alfabeta.

Nugroho, Riant. 2012. Public Policy. Jakarta: PT Elex Media Komputino


Pasolong,

Harbani. 2007. Teori Administrasi Publik. Bandung: Alfabeta

Santosa, Pandji. 2008. Administrasi Publik: Teori dan Aplikasi Good Governance.
Bandung: PT Refika Aditama

Subarsono. 2011. Analisis Kebijakan Publik Konsep, Teori, dan Aplikasi.


Yogjakarta : Penerbit Pustaka Pelajar

Sugiyono.2013. Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta.

[Link]. 2011. Kebijakan Publik dan Transparansi Penyelenggaran


Pemerintah Daerah. Jakarta: PT Pustaka Indonesia Press.

Wahab, S.A. 2021. Analisis Kebijakan: dari Formulasi ke Penyusunan


Model Model Implementasi Kebijakan Publik. Jakarta: PT. Bumi Aksara

41
42

Peraturan Undang-Undang :

Peraturan Daerah Kabupaten Sanggau Nomor 9 Tahun 2013 Tentang Penataan


Dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima

Peraturan Daerah Kabupaten Sanggau Nomor 15 Tahun 2017 Tentang Ketertiban


Umum

skripsi:

Nur Rahmah, Dyah. 2024. Kajian Implementasi Kebijakan Penataan Pedagang


Kaki Lima Di Jalan Gatot Subroto Kabupaten Pemalang. Semarang :
Universitas Islam Sultan Agung.

Sulthon Fayyadh, Dhiyaa. 2024. Implementasi Peraturan Daerah Kota Bekasi


Nomor 11 Tahun 2015 Terhadap Pedagang Kaki Lima Di Kota Bekasi:
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah jakarta

Anda mungkin juga menyukai