0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan12 halaman

Fungsi Kidung dalam Bojana Ekaristi

Diunggah oleh

Yehuda Alfandi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan12 halaman

Fungsi Kidung dalam Bojana Ekaristi

Diunggah oleh

Yehuda Alfandi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Renaldi Lestianto Utomo Putro: Fungsi Kidung dalam Bojana Ekaristi

FUNGSI KIDUNG DALAM BOJANA EKARISTI

Renaldi Lestianto Utomo Putro


Program Pascasarjana
Institut Seni Indonesia Surakarta
Jl. Ki Hadjar Dewantara No. 19 Kentingan, Jebres, Surakarta 57126

ABSTRAK

Persoalan yang diangkat dalam tulisan ini adalah, bagaimana nyanyian difungsikan oleh rama dan kawula
dalam Bojana Ekaristi? Untuk menjawab, digunakan metode analisis strukturalisme Lèvi-Strauss. Analisis
dilakukan dengan menetapkan rama dan kawula sebagai pasangan oposisi yang melantunkan kidung.
Kemudian kidung dicari relasi fungsinya terhadap Bojana Ekaristi. Tulisan dihasilkan melalui kerja kualitatif,
yaitu pengamatan, perekaman, studi pustaka, dan wawancara. Hasil yang diperoleh adalah kidung
difungsikan oleh rama dan kawula untuk menyertai berbagai aktivitas dalam Bojana Ekaristi. Kegiatan itu
memberi makna terhadap berbagai fenomena yang disertai.

Kata kunci: fungsi kidung, Bojana Ekaristi.

ABSTRACT

This paper delivers question on how is chant functioned by rama and kawula in Bojana Ekaristi? To answer the question, it
is using Levi-Strauss’ structuralism analytical method. The Analytic is done by stating rama and kawula as the opposing
partners whose sing the ballad. After that, the ballad’s relation-function to Bojana Ekaristi is being examined. This paper is
a result of qualitative work, which is contained with observation, recording, literature review, and interview. The result is that
ballad is functioned by rama and kawula in accompanying their activities at Bojana Ekaristi. The activities give meaning on
the phenomenon that is included.

Keywords: the function of ballad, Bojana Ekaristi.

A. Pendahuluan pemimpin ibadat dan kawula sebagai peserta.


Wujud aksi lantunan berupa interaksi antar
Ibadat Bojana Ekaristi keduanya. Rama melalui kidung memberikan pesan
Bojana Ekaristi adalah suatu bentuk ibadat yang teologis kepada kawula. Kemudian, kawula
dilakukan oleh umat Katolik Jawa dan menyatakan aklamasi terhadap pesan teologis
diselenggarakan di Gereja Katolik. Aktivitas ibadat yang dinyatakan rama. Kawula melalui kidung juga
tersebut memakai perangkat budaya Jawa. melakukan ungkapan teologis. Ungkapan itu
Perangkat itu adalah bahasa dan musik. Khusus dilakukan untuk menanggapi dan menyertai
musik, wujudnya berupa pelantunan kidung berbagai peristiwa yang disepakati penting dalam
dengan teks berbahasa Jawa. Bojana Ekaristi.
Kidung selalu dilantunkan pada setiap Pelantunan kidung dalam Bojana Ekaristi
penyelenggaraan Bojana Ekaristi. Sistem musik yang bertujuan membantu peserta yang hadir untuk
disuarakan sebagai rekan teks, umumnya diatonis menghayati ibadat. Tanpa pelantunan kidung,
bila disertai organ. Kadang pula pentatonis, diyakini hayatan peserta secara personal dalam
utamanya pelog bila disertai gamelan. Keduanya Bojana Ekaristi akan dangkal (Martasudjita &
disuarakan dalam aturan pitch yang longgar. Aksi Kristanto, 2007: 16). Pelantunan kidung dalam
artikulasi teks dianggap lebih penting dilakukan Bojana Ekaristi mengikuti aturan tertentu. Sejak
karena mengandung pesan teologis, meskipun kapan aturan tersebut dan pada bagian mana, serta
artikulasi teks tidak pernah meninggalkan unsur jenis kidung apa yang dilantunkan pada Bojana
melodis. Ekaristi yang sesuai dan mematuhi rumusan liturgi
Pelantunan kidung pada Bojana Ekaristi atau tata cara ibadat?
dilakukan oleh dua figur, yaitu rama sebagai

1
Vol. 10 No. 1, April 2015

Berdasarkan paparan di atas munc ul Menurut Damono (2012: 2) proses translasi


persoalan, yaitu bagaimana kidung difungsikan kebudayaan tidak dapat dilepaskan dari peran
oleh rama dan kawula dalam Bojana Ekaristi? Tujuan media. Media menjadi wahana atau kendaraan
dari tulisan ini tentunya ialah mengungkap upaya untuk mengungkapkan atau memindahkan suatu
kidung yang difungsikan dalam Bojana Ekaristi. gagasan. Elleström dalam Damono (2012: 3) justru
Sementara, manfaat dari tulisan ini ialah menganggap peran media seperti teks kultural
memberikan kontribusi bagi bidang keilmuan merupakan wahana yang merujuk pada konteks
musik liturgi. Guna mendukung upaya itu tulisan historis dan ideologi. Berpijak pada pendapat di
ini meminjam analisis struktural Lévi-Strauss atas pengungkapan sebuah teks kultural akan
yaitu dengan menetapkan figur rama dan kawula menjelaskan pemosisian rama dan kawula dalam
sebagai oposisi berpasangan yang berelasi kebudayaan Katolik Jawa. Teks Kandjeng Rama pada
menggunakan kidung dalam Bojana Ekaristi. penelitian ini dilihat sebagai teks kultural yang
Rangkaian kidung yang dilakukan rama dan kawula merupakan artefak dari pemikiran proses alih
dibaca dalam lajur sintagmatis dan paradigmatis wahana. Diyakini makna, gagasan dan perasaan
(Ahimsa, 2000: 412; 2006: 48). Dari kedua lajur itu Kristiani yang dibawa Van Lith bersentuhan
ditarik relasi fungsional kidung terhadap Bojana dengan budaya setempat dan memberikan
Ekaristi. Pola analisis dengan menggunakan pemahaman kontekstual baru. Teks itu dipandang
pendekatan sebagai berikut. merupakan abstraksi dari fenomena kebudayaan
yang terajut di dalamnya (Wahyudi, 2012: 22). Oleh
1. Diferensiasi karena itu, pada penelitian ini pengungkapan
Alex Surya, dkk. (2004: 24-25), menganggap aktivitas missionaris Van Lith beserta penjabaran
hadirnya sebuah diferensiasi terkait dengan teks Kandjeng Rama hasil translasinya dipandang
pemosisian yang kuat dalam tataran kebudayan. mutlak untuk dilakukan.
Selanjutnya, diferensiasi itu juga menampakkan Menurut Alex Surya, dkk. (2012: 24) diferensiasi
citra identitas dan terefleksi dalam aktivitas juga dipandang sebagai strategi untuk
pemosisian. Dapat dinyatakan hubungan mewujudkan keberbedaan dengan cara tertentu.
ketiganya, yaitu pemosisian diferensiasi identitas Kidung rama dan kawula merupakan wujud strategi
saling mempengaruhi. Diferensiasi memiliki secara musikal bagi keduanya. Pada tataran ini
pengertian perbedaan. Menurut Scott Lash dalam diferensiasi kidung keduanya menjadi sasaran
Putranto (2005: 248) diferensiasi dapat terjadi pada untuk diulas secara mendalam.
tataran apapun termasuk pada strata sosial. Scott Terakhir keberbedaan itu membangun citra
Lash memandang pemisahan lapisan sosial terkait materi yang mengandung tolok ukur nilai dari
erat dengan proses modernisasi dan menyebabkan suatu materi. Identitas materi itu tercipta pada
pemisahan secara sosial. Bentuk kultur yang aktivitas pemosisian yang sudah dilakukan
tadinya tidak terdistingsikan dengan jelas mulai sebelumnya (Alex Surya, 2012: 24-25). Bangunan
terbedakan satu dengan lainnya. citra materi pada penelitian ini dipahami sebagai
Pandangan Scott Lash di atas secara eksplisit identitas sosial. Hal itu karena, identitas sosial per-
menyatakan terjadinya diferensiasi tidak dapat sonal merefleksikan citra yang diyakini memiliki
dilepaskan dari fakta historis yang sifatnya nilai tertentu.
memodernisasi. Senada dengan pendapat Scott Menurut Sarwono (2005: 22-24) identitas sosial
Lash di atas, Alek Surya, dkk. (2004: 13) menganggap itu dimiliki oleh suatu kelompok yang anggotanya
terjadinya sebuah diferensiasi tidak dapat sadar adanya identitas sosial bersama. Identitas
dilepaskan dari proses pemosisian pada tataran sosial dibangun melalui proses yang mengikatkan
kebudayaan yang terjalin melalui peristiwa individu pada kelompoknya dan yang
historis. Proses pemosisian ini bertujuan untuk menyebabkan individu menyadari diri sosialnya.
mengenalkan identitas materi. Berpijak pada Diyakini dalam proses itu ada hubungan dialektik
pendapat itu, eksisnya istilah rama dan kawula antara subjek dengan subjek lain. Identitas sosial
diyakini terkait dengan aktivitas missionaris asing. dapat berlanjut atau dapat berubah.
Hal itu karena, melalui aktivitas misi itu sebuah Rama dan kawula figurnya dipandang sebagai
paham dari kebudayaan yang berbeda identitas sosial. Keduanya sadar akan identitas
diterjemahkan ke dalam budaya setempat. yang dimiliki bersama sebagai suatu kelompok.

2
Renaldi Lestianto Utomo Putro: Fungsi Kidung dalam Bojana Ekaristi

Identitas itu dibangun melalui suatu proses yang struktur dalam atau logika kebudayaan.
mengikatkan rama dan kawula sebagai kesatuan Berdasarkan struktur dalam itu dibangun sebuah
hubungan sosial. Hubungan itu terjadi secara model dari logika kebudayaan—paramorph—yang
dialektik terjalin melalui sakramen yang sifatnya dapat menerangkan fenomena
menghubungkan rama dan kawula. Melalui kebudayaan yang dicermati (Ahimsa, 2006: 30).
sakramen itu diyakini identitas sosial dapat Strukturalisme Lévi-Strauss memandang
berlanjut atau berubah. Identitas sosial bagi manusia merupakan figur dengan pemikiran
keduanya tercipta dari aktivitas pemosisian yang primitif. Melalui pemikiran primitif itu manusia
dilakukan sebelumnya. Pada bagian ini telaah bagi memiliki kemampuan menciptakan ketertatataan
aktivitas yang menghubungkan keduanya yaitu dan keterulangan yang sifatnya tetap atau diam
sakramen dianggap penting untuk dilakukan. dalam dunianya (Taum, 2011: 167). Oleh karena itu,
kebudayaan dalam pemikiran Lévi-Strauss
2. Struktur dinyatakan sebagai konfigurasi struktural yang
Konsep kedua sekaligus yang utama sifatnya transformasional. Refleksi dari masa lalu
menopang penelitian ini ialah struktur. Struktur hadir dalam materi yang kekinian (Kurzweil, 2010:
dalam penelitian ini sepenuhnya meminjam 22).
pemikiran strukturalisme Lévi-Strauss. Pengertian Pada paparan yang sudah disampaikan
struktur pada strukturalisme Lévi-Strauss ialah sebelumnya tentang materi yang ditelaah, yaitu
sistem relasi. Sistem relasi itu dibagi menjadi dua, teks Kandjeng Rama, diferensiasi kidung, dan
yaitu struktur luar dan struktur dalam (Xiao sakramen ditanggapi sebagai miteme-miteme yang
Lixian, 2013: 164). Struktur luar dibangun atas sifatnya transformasional. Proses pembacaan
berbagai fenomena atau material yang konfigurasi transformasional bertujuan untuk
menyatakan sesuatu. Material atau fenomena itu mengungkap struktur dalam atau logika
disebut miteme (Ahimsa, 2006: 86). Pada tataran ini kebudayaan Katolik Jawa.
dapat dipahami fenomena atau material itu Akumulasi data pada tulisan ini dilakukan
dianggap sebagai sebuah teks yang ditelaah. Proses melalui beberapa tahap, yaitu amatan, perekaman,
telaah (Ahimsa, 2000: 402). Analisis struktural studi pustaka dan wawancara. Amatan
memiliki metode pembacaan teks secara intrinsik merupakan upaya yang bertujuan untuk
atau dalam rantai sintagmatis maupun secara mengamati dan mengalami peristiwa pelantunan
ekstrinsik, yaitu kaitan asosiatif terhadap fenomena kidung secara langsung. Upaya itu didukung
budaya atau dalam rantai paradigmatis-nya dengan aksi perekaman. Kegiatan amatan dan
(Ahimsa, 2000: 412; 2006: 48). Berdasarkan perekaman dilakukan di tiga gereja Katolik
pembac aan sintagmatis dan paradigmatis Surakarta, yaitu (1) Gereja San Inigo Dirjodipuran;
terhadap miteme akan ditemukan relasi bersifat (2) Gereja Santo Petrus Purwasari; (3) Gereja Santa
kebalikan atau oposisi (Ahimsa, 2006: 69). Relasi Maria Regina Purbowardayan. Aksi di ketiga gereja
yang sifatnya oposisi itu merupakan sebuah unit dilakukan pada Mei 2014 saat Tahun Liturgi A.
terkecil sebagai distinctive features dan membedakan Aktivitas juga dilengkapi studi pustaka untuk
antara pasangan yang bersifat kebalikannya. mendapat informasi tentang kidung dalam Bojana
Unsur pembeda itu akan menjadi bermakna bila Ekaristi. Penunjang terakhir ialah wawancara yang
berada dalam sebuah konteks (Ahimsa, 2006: 84). bertujuan untuk menemukan informasi yang tidak
Pembacaan sintagmatis dan paradigmatis ditemukan dalam proses amatan maupun studi
juga dilakukan terhadap miteme lainnya. Kemudian pustaka.
relasi oposisi dari antar miteme disusun secara
sintagmatis—vertikal—dan paradigmatis— B. Paparan Bojana Ekaristi
horizontal. Berdasarkan susunan itu diketahui
hubungan antar miteme sifatnya ialah Bojana Ekaristi merupakan ibadat yang terdiri
transformasional—alih rupa. Wujud atas empat bagian besar, yaitu Pambuka, Ibadah Sabda,
transformasional itu merupakan struktur luar. Ibadah Ekaristi, serta Panutup. Tiap bagian besar
Kemudian struktur luar itu direlasikan dengan memiliki sub bagian kecil yang mengkonstruksi
hubungan asosiatif dan terwujud bangunan bagian besar tersebut. Uraian bagian itu sebagai
berikut.

3
Vol. 10 No. 1, April 2015

j2j j j 2 j1j j j 2 2 1 1 .
BAGIAN-BAGIAN BOJANA EKARISTI
I II III IV
Pambuka Ibadah Sabda Ibadah Ekaristi Panutup
Perarakan Mlebu Waosan Alkitab Pisungsung Pawartos Tu-win Hyang Roh Su - ci
Salam Pambagya Kidung Panglimbang Prefasi Berkah
Keduwung Waosan Alkitab Kidung Suci Ayahan
Nyuwun Kawelasan Kidung Cecala Puji Panuwun Perarakan Metu
Agung
Kawula:
.j j j 1 1 2 .
Kamulyan Waosan Injil Anamnesis
Donga Pambuka Homili Rama Kawula
Kawula Pitados Nyuwun Tentrem
Panyuwunan Umum Cempening Allah A - mi - n
Komuni

Salam Pambagya
Tabel 1. Kerangka Bojana Ekaristi. Rama:

j1j j j 2 j1j j j j 2 j2j j j 1 1


(Panitia Liturgi, 1980: 4-6)

Kerangka Bojana Ekaristi di atas, diisi oleh dua Gus-ti manung - ga - la


jenis kidung. Pertama kidung yang selalu sama
disajikan pada tiga gereja dan sumbernya berasal Kawula:
dari Tata Laksana Bojana Ekaristi. Jenis itu dinamakan
kidung pendek.1 Kidung pendek sifatnya kekal dan j1j j j 2 j2j j j 2 j1j j j 1 j2j j j 2
selalu menempati posisi yang sama ketika Ka - li yan ku - la - sa da - ya
entitasnya dihadirkan dalam peristiwa serupa.
Kidung ini diuraikan terintegrasi dengan uraian Sesudah melakukan aktivitas di atas rama
Bojana Ekaristi dan ditulis berdasarkan sistem musik memandu kawula untuk menyatakan Keduwung
diatonis dengan notasi angka — do, re, mi, fa, sol, la, (Komisi Liturgi 1994: 7). Sebagai perwujudan tanda
si, do. Kedua, kidung yang sifatnya tidak abadi dan pertobatan, kawula melantunkan Kidung Gusti
posisinya dapat digantikan dengan varian Nyuwun Kawelasan. Dilanjutkan kawula
sejenisnya, namun fungsi dan tema lagunya tetap melantunkan Kidung Kamulyan. Seusai pelantunan,
serta memiliki durasi panjang. Jenis itu diistilahkan rama membacakan Donga Pambuka. Ini merupakan
kidung panjang. Pada uraian Bojana Ekaristi, kidung akhir dari bagian Pambuka. Tujuan dari Pambuka ini
panjang juga hanya dicantumkan identitasnya. adalah mempersiapkan kawula supaya layak
mengikuti Bojana Ekaristi (Komisi Liturgi, 2002: 11).
1. Pambuka
Bagian pertama ini dimulai dengan 2. Ibadah Sabda
pembunyian lonceng kec il sebagai tanda Pada bagian ini dua petugas altar berjalan
dimulainya ibadat. Kawula kemudian berdiri dan menuju ke salah satu mimbar. Petugas pertama—
menyanyikan Kidung Pambuka. Bersamaan dengan yang disebut lektor—melakukan Waosan Alkitab
itu rama dan para petugas altar secara berbaris pertama. Sesudahnya kedua petugas itu bertukar
melakukan Perarakan Mlebu ke ruangan utama. posisi di atas mimbar. Kemudian petugas kedua —
Prosesi dilakukan melalui pintu utama gereja. yang disebut pemazmur— memandu pelantunan
Kawula kemudian menyudahi pelantunan Kidung Kidung Panglimbang yang merupakan nyanyian
Pambuka dan selanjutnya rama memberikan Tandha antar bacaan serta menghubungkan ke bacaan
Pamenthangan2 serta menyampaikan Salam Pambagya Alkitab selanjutnya. Usai pelantunan, petugas
sebagai berikut. pertama kembali memberikan Waosan Alkitab.
Kemudian sesudahnya terjadi pergantian posisi
Tandha Pamenthangan kembali dan petugas kedua memandu kawula untuk
Rama: melantunkan Kidung Cecala. Bersamaan dengan itu
j j j 1 j2j j j 2 j2j j j 2 j2j j j 1 rama berjalan menuju mimbar lainnya untuk
melakukan Waosan Injil. Waosan Injil dimulai oleh
Kon - juk ing As - ma Dalem
rama dengan melantunkan deretan kidung pendek.
Kawula meresponnya dengan kidung pendek
j2j j j j 3 j2j j j 2 j2j j j 2 j2j j j 2 sambil memberikan tandha pamenthangan kecil di
dahi, mulut, dan dada. Berikut ilustrasinya.
HyangRa - ma - sa - ha Hyang Pu - tra

4
Renaldi Lestianto Utomo Putro: Fungsi Kidung dalam Bojana Ekaristi

Salam Pambagya Kemudian, rama kembali ke altar dan mengajak


Rama: para kawula untuk mendaraskan Kawula Pitados.
j1j j j 2 j1j j j j 2 j2j j j 1 1
Usai narasi itu, salah satu petugas berjalan ke
mimbar dan membacakan Panyuwunan Umum.
Gus - ti manung - ga - la Bagian kedua dari Bojana Ekaristi ini bertujuan untuk
memberikan contoh keteladanan dan penguatan
Kawula: iman dari kisah-kisah Alkitab (Komisi Liturgi, 2002:

j1j j j 2 j2j j j 2 j1j j j 1 j2j j j 2


13).

Ka - li yan ku - la sa da - ya 3. Ibadah Ekaristi


Bagian ketiga merupakan bagian utama dari
Kidung Pambuka Waosan Injil seluruh bagian lainnya. Bagian ketiga ini dimulai
Rama: dengan Pisungsung. Pada bagian ini, rama melakukan
2 2 2 2 jtj j j 1 2 aksi mencampur air dan anggurdi dalam piala3 dan
dibantu petugas altar lainnya mempersiapkan
Pe - tik - an In - jil Su - ci
sibori4 berisi Hosti. Campuran air dan anggur serta
2 2 2 2 2 j2j j j j 2 j2j j j j 1 1 Hosti5 diletakkan di altar dan semuanya itu disebut
ang - gi - ta - ne San to Yo - ha - nes sebagai Pisungsung. Bersamaan aktivitas itu, kawula
melantunkan Kidung Pisungsung. Rama kemudian
Kawula: melantukan kidung pendek yang disebut Prefasi.
2 2 j1j j j j 1 2 2
Prefasi merupakan ungkapan pujian syukur
(Mariyanto, 2004: 181). Prefasi dilantunkan
Li - nu - hur - na Gus - ti demikian.

Selanjutnya ialah aktivitas Waosan Injil yang Salam Pambagya


dilakukan rama. Waosan Injil kemudian ditutup Rama:

j5j j j 6 j5j j j 6 j6j j j 5 5


dengan kidung pendek oleh rama sebagai berikut.

Kidung Panutup Waosan Injil Gus -ti manung - ga - la


Rama:
1 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Kawula:

j5j j j 6 j6j j j 6 j5j j j 5 6 6


Ra - ha - yu wong kang u - ri - pe se - la - ras

3 3 j3j j j 2 1 t .

ka - ro kar - sa Da - lem Ka - li yan ku - la sa da - ya


1 2 3 3 3 3 3 3 2 3 .

lan ngu - ge - mi dha - wuh dha - wuh Da - lem Pambuka Prefasi


Rama:
7 7 7 7 j6j7! 7 j6j j j 7 6 6 5
Kawula:
j3j j 2 j1j j 1 j1j j 1 j1j j 2 1 t Pad - ha tu - meng a ing nga lu hur

Ri-ne - sep-na Sabda Dalem Gus - ti Kawula:

j1j j 1 j3j j 3 2 1 . 7 j6j7! j7j j j7j j 7 j6j j j 7 6 6 5


Ingma nah ka wu - la Sam- pun tumenga ing Gus - ti

Sesudah Waosan Injil, kawula duduk dan Rama:


kemudian rama melakukan Homili, yaitu orasi
tentang masalah kontekstual dan menafsir, 7 6 5 j5j6j 7 j7j j j 7 7 j6j7! j7j j 7 6 6 7 j67 6

jawaban masalah itu ada pada tiga bacaan — A - yo padha munjuk sembah nuwun konjuk ing Al - lah
terutama Injil— yang sudah dituturkan.

5
Vol. 10 No. 1, April 2015

Kawula : para murid kaliyan ngandika “padha tampanana iki lan


padha dipangan awit iki saliraku, salira kang dikurbanake
7 j6j7! j7j j j7j j 7 j6j j j 7 6 6 5 kanggo nglabuhi kowe” [Sungguh kuduslah Engkau
Mi - la pantes lan pra - yo - gi ya Allah, sumber segala yang kudus. Maka kami
mohon semoga Rohmu mensucikan persembahan
Prefasi ini. Agar menjadi bagi kami tubuh dan darah Putra-
Rama : Mu terkasih, Tuhan kami Yesus Kristus. Tuhan
6 ! ! ! ! ! ! ! ! ! ! ! ! ! ! Yesus pada malam Ia diserahkan sebelum
menderita sengsara dengan rela mengambil roti
Mi-la pantes lan prayogi tuwin asung ra - ha - yu
serta mengucap syukur memecah-mecah roti, lalu
! ! ! ! ! 7 6 6 7 7 diberikan kepada para murid seraya berkata “
memuji Gusti sawanci - wan-ci,
terimalah dan makanlah inilah tubuhku yang
dikurbankan bagimu”].
6 ! ! ! ! ! ! ! ! ! ! ! 7 7 6 7 7

Nanging utaminipun ing dinten punika langkung gambira, Kawula: Gusti Kawula lan Allah Kawula [Ya Tuhanku
6 ! ! ! ! ! ! ! 6 6 7 7
dan Allahku]

Jer Sang Kristus cempe Paskahan kawula,


Ketika rama menuturkan padha tampanana dan
7 7 7 7 7 5 6 7 6 seterusnya ia mengangkat Hosti dan disambut
Sampun estu kakur-banaken. dengan bunyi gong dan lonceng kecil oleh putra
altar. Gong dan lonceng dibunyikan untuk
6 ! ! ! ! ! ! ! ! ! ! ! ! !
menandai peristiwa paling penting dalam Bojana
Awit kawontenan la-mi sampun ka-le-bur sirna Ekaristi (Savio, wawancara 15 Januari 2014). Selain
! ! ! ! ! ! ! ! ! ! 6 7 7 itu, menjadi media ungkap untuk membantu proses
meresapi Tuhan yang transenden melalui bunyi
Alam bibrah kabangun enggal dados wetah
gema instrumen yang semakin menghilang (Karl-
7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 ! 7 Edmund Prier, wawancara 30 Mei 2013).
Lan gesang pulih wangsul linengga ingsih

7 7 7 7 7 5 6 7 6
Rama: Mekaten ugi bakda Bojana, Gusti Yesus mundhut
tuwung sarta munjuk sembah nuwun malih. Tuwung dipun
krana Sang Kristus Sang Pamarta.
paringaken dhateng para murid kaliyan ngandika “padha
6 ! ! ! ! ! ! ! ! ! ! ! ! tampananan iki lan padha diombe, awit tuwung iki isi rahku
prami-la krana nugrahing Paskah punika rahing prajanjian anyar sarta sarta langgeng rah kang
dituntasake kanggo nglabuhi kowe lan wong kabeh
! ! ! ! ! ! ! ! ! ! ! ! ! 7 6 7 7
minagka pangapuraning dosa iki padha tindakna kanggo
sakurebing langit salumahing bumi suka gambira, ngeling-eling marang aku” [Demikian sesudah
6 ! ! ! ! ! ! ! ! ! ! ! ! 7 perjamuan ia mengambil piala. Sekali lagi
mengucap syukur, lalu mengedarkan piala itu
Dene para malekat sarta i-si-ning swarga,
kepada para murid seraya berkata” Terimalah dan
Seusai kidung di atas, kawula menyanyikan minumlah, inilah piala darhku, darah perjanjian
Kidung Suci. Kemudian aktivitas masuk pada Puji baru dan kekal yang ditumpahkan bagimu dan
Panuwun Agung. Pada bagian itu rama menarasikan bagi semua orang demi pengampunan dosa,
aktivitas peristiwa perjamuan terakhir sebagai kenangkanlah ake dengan merayakan peristiwa
berikut. ini”].
Rama: Gusti tuhu suci, sarta jumeneng sumbering sadaya
kasucian ingkang punika panyuwunan kawula, mugi Kawula: Gusti Kawula lan Allah Kawula [Ya Tuhanku
karsaa nucekaken pisungsung punika mawi berkahing Roh dan Allahku]
Dalem. Amrih dadosa Salira Dalem Gusti kawula Sri Yesus Aktivitas yang sama seperti di atas diulang
Kristus. Gusti Yesus nalika badhe pasrah sangsara saking ketika rama menuturkan padha tampanana dan
karsa Dalem pribadi mundhut roti sarta munjuk sembah seterusnya. Bedanya rama kali ini mengangkat piala
nuwun roti dipun cuwil-cuwil dipun paringaken dhateng berisi air anggur. Selanjutnya rama kemudian

6
Renaldi Lestianto Utomo Putro: Fungsi Kidung dalam Bojana Ekaristi

melantunkan kidung pendek yang dinamakan [Inilah Anak Domba Allah yang menghapus dosa
Anamnesis. Anamnesis adalah ungkapan penghadiran dunia. Berbahagialah kita yang diundang ke
masa silam ke masa kini, supaya masa kini dapat Perjamuan-NYA].
berpartisipasi secara nyata dalam peristiwa masa
silam (Mariyanto, 2004: 16). Kawula:
Gusti estunipun kawula mboten pantes dipun rawuhi,
Kidung Anamnesis namung kawula aturi ngandika, sukma kawula temtu badhe
Rama: saras [Tuhan tidak pantas datang kepada saya, tapi
bersabdalah maka kami akan sembuh].
j1j j 2 j3j j 5 j3j j 2 j3j j 5 j2j j 3 1
Rama:
En-dah agung ke-ke - ra ning pengandel
Salira Dalem [Tubuh Kristus].
Kawula:
Kawula:
.j j 1 j1j j 2 3 2 j1j j 2 j3j j 5 j5j j 3 2 Amin.
Se - da Dalem kawu - la war - tas - a - ken
Hosti yang sudah diupacarakan kemudian
j.j j 3 j2j j 3 5 3 j2j j 3 j2j j 1 j2j j 3 5 dibagikan rama kepada para kawula dibantu petugas
Wungu Dalem kawu - la a -ken - i
pemberi Hosti, aktivitas itu dinamakan Komuni.
Pada proses ini juga dilantunkan Kidung Komuni.
j.j j 5 j5j j 3 j2j j j 3 5 j1j j 2 j3j j 5 j3j j 2 3
Seusai Komuni, bagian Ibadah Ekaristi ini ditutup
Rawuh Da-lem ma - lih ka-wu - la an - tu - an tu dengan doa yang dinarasikan rama. Ibadah Ekaristi
. 1 j2j j j 3 3 bertujuan untuk melakukan perayaan seperti yang
Duh Gus - ti
dilakukan Tuhan sendiri (Komisi Liturgi, 2002: 16).

Rama kemudian melanjutkan Puji Panuwun 4. Panutup


Agung dan mengajak kawula untuk melantunkan Bagian ini dimulai dengan Pawartos. Akan
kidung Rama Kawula. Sesudah pelantunan kidung tetapi, bagian terpenting dari Panutup adalah Berkah
itu rama kemudian menyampaikan kidung pendek dan Ayahan. Aktivitas itu diawali rama dengan
yang dinamakan Panyuwun Tentrem demikian. kidung pendek, sembari membuat Tandha
Pamenthangan ke arah umat dan selanjutnya
Rama:
menarasikan Ayahan.
j7j j j j7j j j 7 j7j j 7 j7j j ! 7 j5j j 5 j5j j 5 j4j j 5 7

Katentreman Dalem Gus- ti tansah Manung-ga - la Salam Pambagya


Rama:
Kawula:
j7j j j j7j j j 7 j!j j 7 j5j j 4 5 7 . j1j j j 2 j1j j j j 2 j2j j j 1 1

Ka - li - yan ku-la sada - ya Gus -ti manung - ga - la

Usai pelantunan kidung pendek di atas, kawula Kawula:

j1j j j 2 j2j j j 2 j1j j j 1 j2j j j 2


menyanyikan kidung Nyuwun Tentrem, dilanjutkan
Kidung Cempening Allah. Bersamaan dengan itu, rama
memecah Hosti yang berukuran paling besar dan Ka - li yan ku - la sa da - ya
mengambil sebagian kecil untuk dimasukkan ke
piala yang berisi campuran air anggur sebagai Berkah
simbol Kristus. Seusai kidung kemudian rama Rama:
1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 2 1
mengelevasi Hosti dan anggur serta menuturkan
tentang Cempening Allah demikian.
Muga kita kabeh kaberkahan dening Allah kang Maha Kuwasa

Rama: j2j j j j 3 j2j j j 2 j2j j j 2 j2j j j 2


Ya iki Cempening Allah kang mbirat dosaning jagad. HyangRa - ma Sa - ha Hyang Pu-tra
Rahayu wong kang tinimbalan ndherek Bojana Dalem

7
Vol. 10 No. 1, April 2015

j2j j j 2 j1j j j 2 2 1 1 .
terlebih dahulu dipaparkan tabel nomor referensi
Kidung Adi dan Kidung Panglimbang lan Kidung Cecala
Tu – win Hyang Roh Su - ci
pada Bojana Ekaristi ditiga gereja. Kedua buku itu,
Kawula: merupakan sumber utama pelantunan kidung
yang dipakai pada Bojana Ekaristi di tiga gereja.
.j j 1 1 2 .
No Kidung Ignatius Maria Regina Petrus
A - mi - n Dirjodipuran Purbowardayan Purwosari
1 Pambuka 366 365 169
2 Gusti Nyuwun Kawelasan 180 177 177
Ayahan 3 Kamulyan 190 187 187
4 Kidung Panglimbang 78 78 80
Rama: 5 Kidung Cecala 79 79 81
6 Pisungsung 217 360 211
Para kadang kinasih Bojana Ekaristi sampun paripurna 7 Kidung Suci 225 222 222
[Para saudara sekalian Perayaan Ekaristi sudah 8 Rama Kawula 139 140 140
9 Nyuwun Tentrem 145 Berkah Dalem 145
selesai]. 10 Cempening Allah 235 232 232
11 Komuni 415 363 414
12 Panutup 265 359 265
Kawula:
Sembah nuwun konjuk ing Gusti [Puji syukur kepada Tabel 2. Nomor Referensi Kidung Adi dan Kidung
Allah]. Panglimbang lan Kidung Cecala.

Rama: Tabel di atas menunjukkan, bahwa kidung


Ayo pada mundur mawi sangu katentreman Dalem Gusti panjang pada tiga gereja sifatnya tidak tetap.
[Mari pulang dengan membawa rahmat Tuhan]. Posisinya dapat digantikan dengan varian
sejenisnya. Penghadiran kidung pada tiap bagian
Kawula: berorientasi dari Kalender Liturgi7 dan bergantung
Amin. kesepakatan tiap kelompok kawula yang secara
bergilir mendapat tugas koor (Yohanes Tri
Narasi salam Pambagya selesai, Kidung Panutup Wijdiyanto, wawancara 19 November 2013). Tabel
dilantunkan. Selanjutnya rama dan seluruh petugas di atas juga menunjukkan terdapat beberapa
altar melakukan Perarakan Metu keluar dari ruangan kidung yang sama digunakan di tiap gereja.
utama. Selesailah seluruh rangkaian dari Bojana Persamaan itu, karena nyanyian tersebut akrab
Ekaristi. dilantunkan di kalangan kawula. Selain itu,
ditemukan adanya kidung di luar sumber Kidung
C. Fungsi Kidung dalam Bojana Ekaristi Adi seperti Berkah Dalem. Pemakaian kidung itu
dianggap legal karena memang diciptakan bagi
1. Kidung Pendek dalam Bojana Ekaristi kepentingan Bojana Ekaristi.
Melalui paparan di atas, kidung pendek Kidung panjang berdasarkan pelacakan
menunjukkan interaksi pelantunan kidung antara sumber secara kuantitas hanya memiliki fungsi
rama dan kawula. Rama memberikan pesan teologis bagi kawula. Artinya apabila dilantunkan hanya
dan kawula menyatakan aklamasi. Interaksi itu berimplikasi bagi kawula. Fungsi itu secara lengkap
dianggap sebagai dialog yang dinyatakan rama dapat dilihat pada tabel berikut.
sebagai In Persona Christi tentang tawaran kasih No Kidung Fungsi
Allah dan ditanggapi oleh kawula (Yohanes 1 Pambuka Memulai Bojana Ekaristi, membina kesatuan
kawula dan menyertai perjalanan rama sampai
Triwijdiyanto, wawancara 19 November 2013). di altar
Fungsi lain tentang kidung pendek tidak ditemukan 2 Gusti Nyuwun Kawelasan Pernyataan hormat dan permohonan
pengampunan tobat
lebih lanjut. Oleh karena itu, pemahaman fungsi 3 Kamulyan Pernyataan Kemuliaan Tuhan
lain kidung pendek dapat diketahui dengan melihat 4 Kidung Panglimbang Tanggapan perenungan terhadap sabda yang
dibacakan
relasinya terhadap Bojana Ekaristi di domain 5 Kidung Cecala Mempersiapkan kawula untuk menyambut
tempatnya eksis. bacaan Injil yang akan diwartakan
6 Pisungsung Menyertai persiapan bahan-bahan
persembahan, membina kesatuan kawula
untuk masuk ke Ibadah Ekaristi
2. Kidung Panjang dalam Bojana Ekaristi
7 Kidung Suci Partisipasi kawula dalam menjawab Prefasi
Kidung panjang,6 fungsinya berbeda dengan yang dilantunkan rama
8 Rama Kawula Simbol kawula untuk ikut perjamuan
kidung pendek. Guna memperjelas ulasan, berikut 9 Nyuwun Tentrem Pernyataan damai dalam menyambut komuni

8
Renaldi Lestianto Utomo Putro: Fungsi Kidung dalam Bojana Ekaristi

10 Cempening Allah Menyertai pemecahan roti, ungkapan simbolis Keterangan:


kawula yang menyantap dari satu Hosti R : Rama
11 Komuni Kebersatuan kawula dan Gusti secara K : Kawula
sakramental
P M : Perarakan Mlebu
12 Panutup Menutup Bojana Ekaristi, simbol perutusan,
menyertai perjalananrama sampai di Sakristi
KP : Kidung Pambuka
S P : Salam Pambagya
NK : Nyuwun kawelasan
Tabel 3. Fungsi Tiap Kidung Panjang. M : Minulya
(Martasudjita & Kristanto, 2007: 22-24; Prier, D P : Donga Pambuka
P : Pambuka
2010: 27)

Fungsi yang ditetapkan dalam tabel di atas Episode ini dimulai dari rama melakukan
merupakan gambaran dari fungsi bagi tiap kidung Perarakan Mlebu. Kawula menyertai aktivitas itu
panjang. Tiap jenis kidung panjang memiliki satu dengan menyanyikan Kidung Pambuka. Berdasarkan
konsep fungsi, meskipun memiliki beragam varian. tabel lima, Kidung Pambuka dilantunkan kawula
Konsep ini disusun secara berurutan dan tidak untuk menyertai Perarakan Mleburama. Tindakan ini,
dapat ditukar posisinya satu dengan lainnya. juga dapat dimaknai sebagai sambutan kawula
terhadap kedatangan rama. Pada bagian ini, kawula
D. Relasi Fungsi Kidung terhadap Bojana Ekaristi merupakan pihak yang melakukan aktivitas dan
rama sebagai personal yang dikenai tindakan.
Berdasarkan paparan di atas, diketahuikidung Inversi terjadi pada Tandha Pamenthangan. Rama
memiliki relasi konkret dengan tiap bagian Bojana kemudian bertindak sebagai aktor pemberi trinitas
Ekaristi. Kidung merupakan material yang kepada kawula. Kawula menerimanya dengan
fungsional. Oleh karena itu, perlu diungkap lebih aklamasi. Lalu, dilanjutkan dengan Salam Pambagya.
lanjut keterkaitan fungsi kidung dalam Pada bagian Salam Pambagyasecara tegas trinitas
mengkonstruksi Bojana Ekaristi. Seperti sistem dinyatakan melekat dalam diri kawula. Pernyataan
tanda, kidung dibaca relasinya terhadap domain itu secara eksplisit terdapat pada narasi rama, yaitu
di tempatnya eksis. Aspek yang ditekankan ialah Gusti Manunggala [Tuhan sertamu] dan aklamasi
perihal fungsi dengan sifatnya kesemenaan. kawula, yakni Kaliyan Kula Sadaya [bersama kami
Artinya meskipun wujud kidung sama, bila semua].
diletakkan pada domain berbeda maka fungsinya Rama melanjutkan dengan membacakan
juga berbeda. Paparan dilakukan dengan selalu Waosing Pangibadah. Secara prinsip bagian ini
mencermati relasi kidung terhadap aktivitas memang merupakan unsur dari Pambuka, namun
penggunanya, yaitu rama dan kawula.8 Keduanya isi bagian ini hanya berupa pembacaan tema atau
merupakan pasangan oposisi yang secara mekanis permohonan dari kawula dalam bentuk tertulis.
menjalankan Bojana Ekaristi. Artinya bila bagian ini ditiadakan, tidak akan
berimplikasi secara konkret. Bagian yang penting
1. Episode Pambuka selanjutnya ialah Keduwung. Aktivitas diawali oleh
Episode Pambuka 9 disusun atas beberapa rama membacakan tobat dan diikuti kawula.
bagian, yaitu Perarakan Mlebu, Tandha Pamenthangan, Kemudian berpijak pada tabel lima, sebagai
Salam Pambagya, Keduwung, Nyuwun Kawelasan, pernyataan tobat itu kawula menyanyikan Gusti
Minulya, Donga Pambuka.10 Susunan itu dihadirkan Nyuwun Kawelasan. Lantas sebagai tanda
secara berurutan oleh rama dan kawula. Berikut pertobatan diterima, kawula melantunkan Minulya.
perwujudan susunan tersebut. Ketiga bagian ini merupakan satu kesatuan sebagai
rangkaian pertobatan. Pada alur ini kawula dapat
Bagan Oposisi 1 dinyatakan mengalami aktivitas ditobatkan.
R disambut KP trinitas pemberi K
Episode ini, ditutup dengan Donga Pambuka.
NK Bagian itu, dianggap merupakan bagian
PM TP SP M tersendiri. 11 Namun berdasarkan hasil amatan
DP
K menyambut KP aklamasi penerima peristiwa, Donga Pambuka dilakukan setelah kidung
Minulya. Artinya bila melihat bagian sebelumnya
menobatkan melayakkan
ialah Minulya [kidung pujian] maka Donga Pambuka
P tujuan memiliki kesatuan konsep dengan kidung itu. Oleh
ditobatkan dilayakkan

9
Vol. 10 No. 1, April 2015

karena itu, Donga Pambuka dikelompokkan menjadi Kidung Cecala digunakan untuk mempersiapkan
satu dengan rangkaian pertobatan. umat menyambut bacaan Injil. Memandang secara
Seperti yang sudah disebutkan pada uraian inversi, pada tahap ini dapat dinyatakan rama yang
Bojana Ekaristi, tujuan dari Pambuka adalah proses dipersiapkan oleh kawula untuk melakukan Waosan
untuk melayakkan kawula supaya dapat mengikuti Injil. Peristiwa ini sama seperti Perarakan Mlebu pada
Bojana Ekaristi. Artinya kawula dengan mengikuti bagian Pambuka, karena menyertai rama berjalan ke
tahapan-tahapan itu statusnya berubah dari tidak mimbar untuk melakukan Waosan Injil.
layak menjadi layak. Aktivitas Waosan Injil dirangkai oleh Salam
Pambagya, Kidung Pambuka Waosan Injil, Waosan Injil,
2. Episode Ibadah Sabda Kidung Panutup Waosan Injil, dan Homili. Pada
Episode Ibadah Sabda, secara berurutan disusun rangkaian ini, Homili menjadi ujung aktivitas rama
atas Waosan Alkitab (pertama), Kidung Panglimbang, melakukan tafsir permasalahan kontekstual yang
Waosan Alkitab (kedua), Kidung Cecala, Salam terjadi di masyarakat—kawula.
Pambagya, Kidung Waosan Injil, Waosan Injil, Kidung Episode ini ditutup dengan aktivitas
Panutup Waosan Injil, Homili, Kawula Pitados dan penuturan Kawula Pitados dan Panyuwunan Umum
ditutup dengan Panyuwunan Umum. 12 Deretan yang tujuannya melakukan penguatan atau
bagian itu dapat disusun sebagai berikut. peneguhan. Episode Ibadah Sabda bertujuan untuk
meneladani kawula melalui kisah Alkitab. Rama
Bagan Oposisi 2
merupakan aktor yang menjadi juru peneladan
R mendengar dipersiapkan SP menafsir
WA KW dari aktivitas ini.
KP KC WI
WA KPW
3. Episode Ibadah Ekaristi
K merenungkan mempersiapkan H ditafsir

menguatkan meneladani Episode Ibadah Ekaristi merupakan bagian inti


KS
tujuan dari Bojana Ekaristi. 13 Episode ini disusun atas
PU IS
Pisungsung, Prefasi, Kidung Suci, Puji Panuwun Agung,
dikuatkan diteladani Anamnesis, Panyuwun Tentrem, Nyuwun Tentrem,
Keterangan: Cempening Allah, Komuni.14 Deretan ini dapat disusun
WA : Waosan Alkitab sebagai berikut.
KP : Kidung Palimbang
WA : Waosan Alkitab (kedua) Bagan Oposisi 3
KC : Kidung Cecala
R meramu dikuduskan mengkonsep
SP : Salam Pambagya
PR PP
KW : Kidung waosan Injil P KS A
WI : Waosan Injil
KPW : Kidung Panutup Waosan Injil K menyertai mengkuduskan aklamasi konsep
H : Homili
KS : Kawula Pitados memberikan sifat membuat memberi wujud
PT
PU : Panyuwunan Umum NT C K tujuan

menerima sifat menyertai menerima wujud


Episode ini dimulai dengan Waosan Alkitab.
Pada bagian ini Waosan Alkitab memiliki relasi Keterangan:
dengan Kidung Panglimbang. Pemahaman ini P : Pisungsung
PR : Prefasi
didasarkan pada fungsi kidung pada tabel lima. KS : Kidung Suci
Karl-Edmund Prier, SJ menyatakan, Kidung PP : Puji Panuwun Agung
A : Anamnesis
Panglimbang dinyanyikan sebagai ungkapan
PT : Panyuwun Tentrem
permenungan atas Waosan Alkitab (wawancara, 18 N T : Nyuwun tentrem
Oktober 2014). Pada episode ini, Waosan Alkitab dan C : Cempening Allah
Kidung Panglimbang dikelompokkan menjadi satu. K : Komuni
Pada rangkaian pertama ini, kawula melakukan
aktivitas secara simultan. Sebaliknya, rama justru Episode Ibadah Ekaristi, dimulai dari aktivitas
berposisi sebagai pendengar. pisungsung. Terdapat dua aktivitas, pertama rama
Aktivitas menarik terjadi kemudian, yaitu mempersiapkan bahan di atas altar. Kedua
pelantunan Kidung Cecala. Pada tabel dua diketahui berdasar pada tabel lima, kawula mengkidungkan

10
Renaldi Lestianto Utomo Putro: Fungsi Kidung dalam Bojana Ekaristi

pisungsung untuk menyertai aktivitas itu. Pada Keterangan:


R : Ra m a
tahap ini dapat dinyatakan aktivitas itu ditandai B : Berkah
sebagai sesuatu yang khusus. K : Kawula
Aktivitas selanjutnya, ialah rama A : Ay ah an
PM : Perarakan Metu
mengkidungkan Prefasi dan kawula menanggapinya KP : Kidung Panutup
dengan Kidung Suci sebagai aklamasi. Jika melihat P : Pawartos
bagian selanjutnya adalah Puji Panuwun Agung,
yaitu kegiatan rama melakukan aktivitas serupa Episode Panutup disusun dari beberapa
yang dilakukan Yesus maka rangkaian Prefasi - aktivitas. Pertama rama memberikan Berkah dan
Kidung Suci tidak hanya sekedar aklamasi. Pada kawula melakukan aklamasi. Selanjutnya rama
tahap itu dipahami merupakan titik awal rama naik melakukan ayahan, yaitu mengutus kawula.
level untuk menarasikan tuturan Yesus. Pada Kemudian rama melakukan Perarakan Metu. Kawula
tahap inilah sosok rama ”dikuduskan” oleh kawula menyertai aktivitas itu dengan Kidung Panutup.
melalui Kidung Suci. Sesudah Puji Panuwun Agung Tujuan dari episode ini, yaitu menutup Bojana
selesai, kemudian dilakukan Anamnesis, kidung Ekaristi dan perutusan. Perutusan dilakukan sebagai
tentang pernyataan yang terjadi dahulu terjadi bentuk rahmat bagi Kawula untuk mewartakan
kini. Pada posisi ini, konstruksi tubuh dan darah kabar sukacita atas keikutsertaan dalam Bojana
yang dilakukan terdahulu juga dilakukan sekarang. Ekaristi (Karl-Edmund Prier, SJ, wawancara 8
Artinya terjadi pengukuhan persamaan konsep November 2014).
aktivitas.
Aktivitas kemudian ialah Panyuwun Tentrem E. Simpulan
dan Nyuwun Tentrem. Aktivitas yang pertama
merupakan rangkaian aklamasi secara melodis Berdasarkan uraian susunan relasi kidung
untuk menunjukkan sifat ketentraman. Pada tahap terhadap Bojana Ekaristi di atas, dipahami kidung
ini ketentraman itu merupakan aktualisasi sifat difungsikan untuk menyertai sekaligus menjadi
tubuh yang dikonstruksi. Selanjutnya ialah jembatan penghubung antar peristiwa. Relasi
penyatuan tubuh dan darah yang dilakukan rama kidung dengan tiap bagian Bojana Ekaristi
melalui simbolisasi bersatunya Hosti dan anggur melahirkan makna-makna tertentu seperti
dalam piala. Pada tahap ini kawula menyertai penyambutan, pertobatan, perenungan,
peristiwa ini dengan kidung Cempening Allah. pengkudusan, dan penyatuan. Artinya, kidung
Aktivitas ini merupakan tahap akhir secara konkret tidak sekedar memiliki fungsi
pembentukan tubuh. sebagai ungkapan verbal bermelodis dan
Episode ini ditutup dengan Komuni, yaitu bertujuan mensemarakkan Bojana Ekaristi semata.
penyatuan rama, kawula dengan Allah melalui Namun lebih dari itu, kidung membantu
simbolisasi Hosti yang secara konseptual sudah mengkonstruksi Bojana Ekaristi secara konkret. Oleh
dikonstruksi sebagai bentuk tubuh dan darah karena itu, kidung memiliki fungsi penting bagi
Kristus. Tujuan dari Ibadah Ekaristi ialah terletak penyelenggaraan Bojana Ekaristi. Tanpa memiliki
pada komuni yaitu penyatuan. fungsi, kidung tidak akan eksis dalam Bojana Ekaristi.

4. Episode Panutup CATATAN AKHIR:


Episode Panutup merupakan bagian akhir dari
seluruh rangkaian Bojana Ekaristi.15 Bagian ini terdiri 1
Kidung pendek ini lebih dikenal sebagai aklamasi,
dari Pawartos, Berkah, Ayahan, Perarakan Metu.16 yaitu jawaban atau tanggapan persetujuan kawula
Berikut konfigurasinya. atas pernyataan-pernyataan teologis yang
Bagan Oposisi 4 disampaikan rama (Mariyanto, 2004: 10). Aklamasi
dianggap bukan kidung, meskipun dinyatakan
R trinitas mengutus disertai KP memberi rahmat
dengan rangkaian melodi tertentu. Namun,
B A PM P ditemukan indikasi yang dapat dipakai untuk
K aklamasi diutus menyertai KP menerima rahmat mengkategorikan aklamasi sebagai kidung. Salah
satunya ialah aklamasi yang disebut Prefasi
tujuan memiliki relasi secara tegas dengan dengan Kidung

11
Vol. 10 No. 1, April 2015

Suci. Keduanya membentuk rangkaian yang tidak Heddy Shri Ahimsa. 2000. “Wacana Seni dalam
terputus. Berdasarkan temuan itu, aklamasi juga Antropologi Budaya” dalam Ketika Orang Jawa
dikategorikan sebagai kidung. Demi kepentingan Nyeni. Yogyakarta: Galang Press, 399-430.
analisis lebih lanjut pada bagian ini, aklamasi
disebut dengan kidung pendek. __________________. 2006. Strukturalisme
2
Pada bagian ini, Tandha Pamenthangan ditulis Lèvi-Strauss. Mitos dan Karya Sastra. Yogyakarta:
dalam dua versi. Versi pertama ditulis seperti itu, Kepel Press.
versi kedua ditulis tandha pamenthangan.
Tujuannya untuk membedakan aktivitas yang Komisi Liturgi Keuskupan Agung Semarang. 1989.
dikidungkan maupun yang tidak. Kidung Panglimbang lan Kidung Cecala Tahun A.
3
Bejana logam. Yogyakarta: Komlit KAS.
4
Serupa piala namun memiliki tutup di atasnya.
5
Roti tidak beragi berwana putih dengan ketebalan Komisi Liturgi Konferensi Wali Gereja Indonesia.
cukup tipis. Ada dua ukuran, 1 buah berukuran 2002. Pedoman Umum Misale Romawi. Jakarta:
besar dan lainnya berukuran kecil. Nusa Indah.
6
Pada uraian di atas hanya disebutkan nama
kidung saja. Mariyanto, E. 2004. Kamus Liturgi Sederhana.
7
Kalender Liturgi pada Gereja Katolik dibagi Yogyakarta: Kanisus.
menjadi tiga, yaitu tahun A, B, dan C. Tiap Bagian
memuat referensi bacaan harian Alkitab. Martasudjita & Kristanto. 2007. Panduan Memilih
8
Rama dan kawula pada bagian analisis ditulis R Nyanyian Liturgi. Yogyakarta: Kanisius.
dan
K. Prier, K. E. 2010. Kedudukan Nyanyian dalam Liturgi.
9
Khusus pada bagian ini Pambuka ditulis P. Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi.
10
Selanjutnya bagian-bagian itu secara berurutan
ditulis PM, TP, SP, K, NK, M, DP. Selain itu, eksis Panitia Liturgi. 1980. Tatalaksana Bojana Kurban
Kidung Pambuka yang dilantukan bersamaan Ekaristi. Yogyakarta: Kanisius.
dengan Perarakan Mlebu. Kidung Pambuka
selanjutnya ditulis KP. Pusat Musik Liturgi. 2007. Kidung Adi. Yogyakarta:
11
Lihat tabel satu. PML.
12
Secara urut deretan bagian itu ditulis WA, KP,
WA, KC, SP, KW, WI, KPW, H, KS, PU. Sapardi Djoko Damono. 2012. Alih Wahana. Jakarta:
13
Pada bagian ini ditulis IE. Editum.
14
Secara berurutan pada bagian ini ditulis P, PR,
KS, PP, A, PT, NT, C, K. Xiao Lixian. 2003. “Analisis Struktural Novel Hong
15
Panutup selanjutnya ditulis P. Lou Meng”. Humaniora Volume 25 Nomor 2
16
Pawartos pada bagian ini tidak diikutsertakan Tahun 2013. 163-174.
dalam analisis, karena tidak berelasi secara konkret
dengan Bojana Ekaristi. Deretan bagian selanjutnya NARASUMBER
secara berurutan ditulis B, A, PM. Selain itu, pada
bagian ini juga dilakukan Kidung Panutup, bagian Karl-Edmund Prier SJ, (75), rama dan salah satu
itu ditulis KP. pendiri Pusat Musik Liturgi Yogyakarta.

KEPUSTAKAAN Savio FIC, (70), bruder, guru, dan biarawan, bertugas


di SMK Santo Leonardus Pangudi Luhur
Alek Surya, dkk. 2004. Positioning, Diferensiasi dan Klaten.
Brand. Jakarta: Gramedia.
Yohanes Triwijdiyanto Pr, (32), salah satu rama di
Aris Wahyudi. 2012. Lakon Dewaruci Cara menjadi Jawa: Gereja Katolik Santa Maria Regina
Sebuah Analisis Strukturalisme Lèvi-Strauss dalam Purbawardayan.
Kajian Wayang. Yogyakarta: Bagaskara.

12

Anda mungkin juga menyukai