Fungsi Kidung dalam Bojana Ekaristi
Fungsi Kidung dalam Bojana Ekaristi
ABSTRAK
Persoalan yang diangkat dalam tulisan ini adalah, bagaimana nyanyian difungsikan oleh rama dan kawula
dalam Bojana Ekaristi? Untuk menjawab, digunakan metode analisis strukturalisme Lèvi-Strauss. Analisis
dilakukan dengan menetapkan rama dan kawula sebagai pasangan oposisi yang melantunkan kidung.
Kemudian kidung dicari relasi fungsinya terhadap Bojana Ekaristi. Tulisan dihasilkan melalui kerja kualitatif,
yaitu pengamatan, perekaman, studi pustaka, dan wawancara. Hasil yang diperoleh adalah kidung
difungsikan oleh rama dan kawula untuk menyertai berbagai aktivitas dalam Bojana Ekaristi. Kegiatan itu
memberi makna terhadap berbagai fenomena yang disertai.
ABSTRACT
This paper delivers question on how is chant functioned by rama and kawula in Bojana Ekaristi? To answer the question, it
is using Levi-Strauss’ structuralism analytical method. The Analytic is done by stating rama and kawula as the opposing
partners whose sing the ballad. After that, the ballad’s relation-function to Bojana Ekaristi is being examined. This paper is
a result of qualitative work, which is contained with observation, recording, literature review, and interview. The result is that
ballad is functioned by rama and kawula in accompanying their activities at Bojana Ekaristi. The activities give meaning on
the phenomenon that is included.
1
Vol. 10 No. 1, April 2015
2
Renaldi Lestianto Utomo Putro: Fungsi Kidung dalam Bojana Ekaristi
Identitas itu dibangun melalui suatu proses yang struktur dalam atau logika kebudayaan.
mengikatkan rama dan kawula sebagai kesatuan Berdasarkan struktur dalam itu dibangun sebuah
hubungan sosial. Hubungan itu terjadi secara model dari logika kebudayaan—paramorph—yang
dialektik terjalin melalui sakramen yang sifatnya dapat menerangkan fenomena
menghubungkan rama dan kawula. Melalui kebudayaan yang dicermati (Ahimsa, 2006: 30).
sakramen itu diyakini identitas sosial dapat Strukturalisme Lévi-Strauss memandang
berlanjut atau berubah. Identitas sosial bagi manusia merupakan figur dengan pemikiran
keduanya tercipta dari aktivitas pemosisian yang primitif. Melalui pemikiran primitif itu manusia
dilakukan sebelumnya. Pada bagian ini telaah bagi memiliki kemampuan menciptakan ketertatataan
aktivitas yang menghubungkan keduanya yaitu dan keterulangan yang sifatnya tetap atau diam
sakramen dianggap penting untuk dilakukan. dalam dunianya (Taum, 2011: 167). Oleh karena itu,
kebudayaan dalam pemikiran Lévi-Strauss
2. Struktur dinyatakan sebagai konfigurasi struktural yang
Konsep kedua sekaligus yang utama sifatnya transformasional. Refleksi dari masa lalu
menopang penelitian ini ialah struktur. Struktur hadir dalam materi yang kekinian (Kurzweil, 2010:
dalam penelitian ini sepenuhnya meminjam 22).
pemikiran strukturalisme Lévi-Strauss. Pengertian Pada paparan yang sudah disampaikan
struktur pada strukturalisme Lévi-Strauss ialah sebelumnya tentang materi yang ditelaah, yaitu
sistem relasi. Sistem relasi itu dibagi menjadi dua, teks Kandjeng Rama, diferensiasi kidung, dan
yaitu struktur luar dan struktur dalam (Xiao sakramen ditanggapi sebagai miteme-miteme yang
Lixian, 2013: 164). Struktur luar dibangun atas sifatnya transformasional. Proses pembacaan
berbagai fenomena atau material yang konfigurasi transformasional bertujuan untuk
menyatakan sesuatu. Material atau fenomena itu mengungkap struktur dalam atau logika
disebut miteme (Ahimsa, 2006: 86). Pada tataran ini kebudayaan Katolik Jawa.
dapat dipahami fenomena atau material itu Akumulasi data pada tulisan ini dilakukan
dianggap sebagai sebuah teks yang ditelaah. Proses melalui beberapa tahap, yaitu amatan, perekaman,
telaah (Ahimsa, 2000: 402). Analisis struktural studi pustaka dan wawancara. Amatan
memiliki metode pembacaan teks secara intrinsik merupakan upaya yang bertujuan untuk
atau dalam rantai sintagmatis maupun secara mengamati dan mengalami peristiwa pelantunan
ekstrinsik, yaitu kaitan asosiatif terhadap fenomena kidung secara langsung. Upaya itu didukung
budaya atau dalam rantai paradigmatis-nya dengan aksi perekaman. Kegiatan amatan dan
(Ahimsa, 2000: 412; 2006: 48). Berdasarkan perekaman dilakukan di tiga gereja Katolik
pembac aan sintagmatis dan paradigmatis Surakarta, yaitu (1) Gereja San Inigo Dirjodipuran;
terhadap miteme akan ditemukan relasi bersifat (2) Gereja Santo Petrus Purwasari; (3) Gereja Santa
kebalikan atau oposisi (Ahimsa, 2006: 69). Relasi Maria Regina Purbowardayan. Aksi di ketiga gereja
yang sifatnya oposisi itu merupakan sebuah unit dilakukan pada Mei 2014 saat Tahun Liturgi A.
terkecil sebagai distinctive features dan membedakan Aktivitas juga dilengkapi studi pustaka untuk
antara pasangan yang bersifat kebalikannya. mendapat informasi tentang kidung dalam Bojana
Unsur pembeda itu akan menjadi bermakna bila Ekaristi. Penunjang terakhir ialah wawancara yang
berada dalam sebuah konteks (Ahimsa, 2006: 84). bertujuan untuk menemukan informasi yang tidak
Pembacaan sintagmatis dan paradigmatis ditemukan dalam proses amatan maupun studi
juga dilakukan terhadap miteme lainnya. Kemudian pustaka.
relasi oposisi dari antar miteme disusun secara
sintagmatis—vertikal—dan paradigmatis— B. Paparan Bojana Ekaristi
horizontal. Berdasarkan susunan itu diketahui
hubungan antar miteme sifatnya ialah Bojana Ekaristi merupakan ibadat yang terdiri
transformasional—alih rupa. Wujud atas empat bagian besar, yaitu Pambuka, Ibadah Sabda,
transformasional itu merupakan struktur luar. Ibadah Ekaristi, serta Panutup. Tiap bagian besar
Kemudian struktur luar itu direlasikan dengan memiliki sub bagian kecil yang mengkonstruksi
hubungan asosiatif dan terwujud bangunan bagian besar tersebut. Uraian bagian itu sebagai
berikut.
3
Vol. 10 No. 1, April 2015
j2j j j 2 j1j j j 2 2 1 1 .
BAGIAN-BAGIAN BOJANA EKARISTI
I II III IV
Pambuka Ibadah Sabda Ibadah Ekaristi Panutup
Perarakan Mlebu Waosan Alkitab Pisungsung Pawartos Tu-win Hyang Roh Su - ci
Salam Pambagya Kidung Panglimbang Prefasi Berkah
Keduwung Waosan Alkitab Kidung Suci Ayahan
Nyuwun Kawelasan Kidung Cecala Puji Panuwun Perarakan Metu
Agung
Kawula:
.j j j 1 1 2 .
Kamulyan Waosan Injil Anamnesis
Donga Pambuka Homili Rama Kawula
Kawula Pitados Nyuwun Tentrem
Panyuwunan Umum Cempening Allah A - mi - n
Komuni
Salam Pambagya
Tabel 1. Kerangka Bojana Ekaristi. Rama:
4
Renaldi Lestianto Utomo Putro: Fungsi Kidung dalam Bojana Ekaristi
3 3 j3j j j 2 1 t .
jawaban masalah itu ada pada tiga bacaan — A - yo padha munjuk sembah nuwun konjuk ing Al - lah
terutama Injil— yang sudah dituturkan.
5
Vol. 10 No. 1, April 2015
Nanging utaminipun ing dinten punika langkung gambira, Kawula: Gusti Kawula lan Allah Kawula [Ya Tuhanku
6 ! ! ! ! ! ! ! 6 6 7 7
dan Allahku]
7 7 7 7 7 5 6 7 6
Rama: Mekaten ugi bakda Bojana, Gusti Yesus mundhut
tuwung sarta munjuk sembah nuwun malih. Tuwung dipun
krana Sang Kristus Sang Pamarta.
paringaken dhateng para murid kaliyan ngandika “padha
6 ! ! ! ! ! ! ! ! ! ! ! ! tampananan iki lan padha diombe, awit tuwung iki isi rahku
prami-la krana nugrahing Paskah punika rahing prajanjian anyar sarta sarta langgeng rah kang
dituntasake kanggo nglabuhi kowe lan wong kabeh
! ! ! ! ! ! ! ! ! ! ! ! ! 7 6 7 7
minagka pangapuraning dosa iki padha tindakna kanggo
sakurebing langit salumahing bumi suka gambira, ngeling-eling marang aku” [Demikian sesudah
6 ! ! ! ! ! ! ! ! ! ! ! ! 7 perjamuan ia mengambil piala. Sekali lagi
mengucap syukur, lalu mengedarkan piala itu
Dene para malekat sarta i-si-ning swarga,
kepada para murid seraya berkata” Terimalah dan
Seusai kidung di atas, kawula menyanyikan minumlah, inilah piala darhku, darah perjanjian
Kidung Suci. Kemudian aktivitas masuk pada Puji baru dan kekal yang ditumpahkan bagimu dan
Panuwun Agung. Pada bagian itu rama menarasikan bagi semua orang demi pengampunan dosa,
aktivitas peristiwa perjamuan terakhir sebagai kenangkanlah ake dengan merayakan peristiwa
berikut. ini”].
Rama: Gusti tuhu suci, sarta jumeneng sumbering sadaya
kasucian ingkang punika panyuwunan kawula, mugi Kawula: Gusti Kawula lan Allah Kawula [Ya Tuhanku
karsaa nucekaken pisungsung punika mawi berkahing Roh dan Allahku]
Dalem. Amrih dadosa Salira Dalem Gusti kawula Sri Yesus Aktivitas yang sama seperti di atas diulang
Kristus. Gusti Yesus nalika badhe pasrah sangsara saking ketika rama menuturkan padha tampanana dan
karsa Dalem pribadi mundhut roti sarta munjuk sembah seterusnya. Bedanya rama kali ini mengangkat piala
nuwun roti dipun cuwil-cuwil dipun paringaken dhateng berisi air anggur. Selanjutnya rama kemudian
6
Renaldi Lestianto Utomo Putro: Fungsi Kidung dalam Bojana Ekaristi
melantunkan kidung pendek yang dinamakan [Inilah Anak Domba Allah yang menghapus dosa
Anamnesis. Anamnesis adalah ungkapan penghadiran dunia. Berbahagialah kita yang diundang ke
masa silam ke masa kini, supaya masa kini dapat Perjamuan-NYA].
berpartisipasi secara nyata dalam peristiwa masa
silam (Mariyanto, 2004: 16). Kawula:
Gusti estunipun kawula mboten pantes dipun rawuhi,
Kidung Anamnesis namung kawula aturi ngandika, sukma kawula temtu badhe
Rama: saras [Tuhan tidak pantas datang kepada saya, tapi
bersabdalah maka kami akan sembuh].
j1j j 2 j3j j 5 j3j j 2 j3j j 5 j2j j 3 1
Rama:
En-dah agung ke-ke - ra ning pengandel
Salira Dalem [Tubuh Kristus].
Kawula:
Kawula:
.j j 1 j1j j 2 3 2 j1j j 2 j3j j 5 j5j j 3 2 Amin.
Se - da Dalem kawu - la war - tas - a - ken
Hosti yang sudah diupacarakan kemudian
j.j j 3 j2j j 3 5 3 j2j j 3 j2j j 1 j2j j 3 5 dibagikan rama kepada para kawula dibantu petugas
Wungu Dalem kawu - la a -ken - i
pemberi Hosti, aktivitas itu dinamakan Komuni.
Pada proses ini juga dilantunkan Kidung Komuni.
j.j j 5 j5j j 3 j2j j j 3 5 j1j j 2 j3j j 5 j3j j 2 3
Seusai Komuni, bagian Ibadah Ekaristi ini ditutup
Rawuh Da-lem ma - lih ka-wu - la an - tu - an tu dengan doa yang dinarasikan rama. Ibadah Ekaristi
. 1 j2j j j 3 3 bertujuan untuk melakukan perayaan seperti yang
Duh Gus - ti
dilakukan Tuhan sendiri (Komisi Liturgi, 2002: 16).
7
Vol. 10 No. 1, April 2015
j2j j j 2 j1j j j 2 2 1 1 .
terlebih dahulu dipaparkan tabel nomor referensi
Kidung Adi dan Kidung Panglimbang lan Kidung Cecala
Tu – win Hyang Roh Su - ci
pada Bojana Ekaristi ditiga gereja. Kedua buku itu,
Kawula: merupakan sumber utama pelantunan kidung
yang dipakai pada Bojana Ekaristi di tiga gereja.
.j j 1 1 2 .
No Kidung Ignatius Maria Regina Petrus
A - mi - n Dirjodipuran Purbowardayan Purwosari
1 Pambuka 366 365 169
2 Gusti Nyuwun Kawelasan 180 177 177
Ayahan 3 Kamulyan 190 187 187
4 Kidung Panglimbang 78 78 80
Rama: 5 Kidung Cecala 79 79 81
6 Pisungsung 217 360 211
Para kadang kinasih Bojana Ekaristi sampun paripurna 7 Kidung Suci 225 222 222
[Para saudara sekalian Perayaan Ekaristi sudah 8 Rama Kawula 139 140 140
9 Nyuwun Tentrem 145 Berkah Dalem 145
selesai]. 10 Cempening Allah 235 232 232
11 Komuni 415 363 414
12 Panutup 265 359 265
Kawula:
Sembah nuwun konjuk ing Gusti [Puji syukur kepada Tabel 2. Nomor Referensi Kidung Adi dan Kidung
Allah]. Panglimbang lan Kidung Cecala.
8
Renaldi Lestianto Utomo Putro: Fungsi Kidung dalam Bojana Ekaristi
Fungsi yang ditetapkan dalam tabel di atas Episode ini dimulai dari rama melakukan
merupakan gambaran dari fungsi bagi tiap kidung Perarakan Mlebu. Kawula menyertai aktivitas itu
panjang. Tiap jenis kidung panjang memiliki satu dengan menyanyikan Kidung Pambuka. Berdasarkan
konsep fungsi, meskipun memiliki beragam varian. tabel lima, Kidung Pambuka dilantunkan kawula
Konsep ini disusun secara berurutan dan tidak untuk menyertai Perarakan Mleburama. Tindakan ini,
dapat ditukar posisinya satu dengan lainnya. juga dapat dimaknai sebagai sambutan kawula
terhadap kedatangan rama. Pada bagian ini, kawula
D. Relasi Fungsi Kidung terhadap Bojana Ekaristi merupakan pihak yang melakukan aktivitas dan
rama sebagai personal yang dikenai tindakan.
Berdasarkan paparan di atas, diketahuikidung Inversi terjadi pada Tandha Pamenthangan. Rama
memiliki relasi konkret dengan tiap bagian Bojana kemudian bertindak sebagai aktor pemberi trinitas
Ekaristi. Kidung merupakan material yang kepada kawula. Kawula menerimanya dengan
fungsional. Oleh karena itu, perlu diungkap lebih aklamasi. Lalu, dilanjutkan dengan Salam Pambagya.
lanjut keterkaitan fungsi kidung dalam Pada bagian Salam Pambagyasecara tegas trinitas
mengkonstruksi Bojana Ekaristi. Seperti sistem dinyatakan melekat dalam diri kawula. Pernyataan
tanda, kidung dibaca relasinya terhadap domain itu secara eksplisit terdapat pada narasi rama, yaitu
di tempatnya eksis. Aspek yang ditekankan ialah Gusti Manunggala [Tuhan sertamu] dan aklamasi
perihal fungsi dengan sifatnya kesemenaan. kawula, yakni Kaliyan Kula Sadaya [bersama kami
Artinya meskipun wujud kidung sama, bila semua].
diletakkan pada domain berbeda maka fungsinya Rama melanjutkan dengan membacakan
juga berbeda. Paparan dilakukan dengan selalu Waosing Pangibadah. Secara prinsip bagian ini
mencermati relasi kidung terhadap aktivitas memang merupakan unsur dari Pambuka, namun
penggunanya, yaitu rama dan kawula.8 Keduanya isi bagian ini hanya berupa pembacaan tema atau
merupakan pasangan oposisi yang secara mekanis permohonan dari kawula dalam bentuk tertulis.
menjalankan Bojana Ekaristi. Artinya bila bagian ini ditiadakan, tidak akan
berimplikasi secara konkret. Bagian yang penting
1. Episode Pambuka selanjutnya ialah Keduwung. Aktivitas diawali oleh
Episode Pambuka 9 disusun atas beberapa rama membacakan tobat dan diikuti kawula.
bagian, yaitu Perarakan Mlebu, Tandha Pamenthangan, Kemudian berpijak pada tabel lima, sebagai
Salam Pambagya, Keduwung, Nyuwun Kawelasan, pernyataan tobat itu kawula menyanyikan Gusti
Minulya, Donga Pambuka.10 Susunan itu dihadirkan Nyuwun Kawelasan. Lantas sebagai tanda
secara berurutan oleh rama dan kawula. Berikut pertobatan diterima, kawula melantunkan Minulya.
perwujudan susunan tersebut. Ketiga bagian ini merupakan satu kesatuan sebagai
rangkaian pertobatan. Pada alur ini kawula dapat
Bagan Oposisi 1 dinyatakan mengalami aktivitas ditobatkan.
R disambut KP trinitas pemberi K
Episode ini, ditutup dengan Donga Pambuka.
NK Bagian itu, dianggap merupakan bagian
PM TP SP M tersendiri. 11 Namun berdasarkan hasil amatan
DP
K menyambut KP aklamasi penerima peristiwa, Donga Pambuka dilakukan setelah kidung
Minulya. Artinya bila melihat bagian sebelumnya
menobatkan melayakkan
ialah Minulya [kidung pujian] maka Donga Pambuka
P tujuan memiliki kesatuan konsep dengan kidung itu. Oleh
ditobatkan dilayakkan
9
Vol. 10 No. 1, April 2015
karena itu, Donga Pambuka dikelompokkan menjadi Kidung Cecala digunakan untuk mempersiapkan
satu dengan rangkaian pertobatan. umat menyambut bacaan Injil. Memandang secara
Seperti yang sudah disebutkan pada uraian inversi, pada tahap ini dapat dinyatakan rama yang
Bojana Ekaristi, tujuan dari Pambuka adalah proses dipersiapkan oleh kawula untuk melakukan Waosan
untuk melayakkan kawula supaya dapat mengikuti Injil. Peristiwa ini sama seperti Perarakan Mlebu pada
Bojana Ekaristi. Artinya kawula dengan mengikuti bagian Pambuka, karena menyertai rama berjalan ke
tahapan-tahapan itu statusnya berubah dari tidak mimbar untuk melakukan Waosan Injil.
layak menjadi layak. Aktivitas Waosan Injil dirangkai oleh Salam
Pambagya, Kidung Pambuka Waosan Injil, Waosan Injil,
2. Episode Ibadah Sabda Kidung Panutup Waosan Injil, dan Homili. Pada
Episode Ibadah Sabda, secara berurutan disusun rangkaian ini, Homili menjadi ujung aktivitas rama
atas Waosan Alkitab (pertama), Kidung Panglimbang, melakukan tafsir permasalahan kontekstual yang
Waosan Alkitab (kedua), Kidung Cecala, Salam terjadi di masyarakat—kawula.
Pambagya, Kidung Waosan Injil, Waosan Injil, Kidung Episode ini ditutup dengan aktivitas
Panutup Waosan Injil, Homili, Kawula Pitados dan penuturan Kawula Pitados dan Panyuwunan Umum
ditutup dengan Panyuwunan Umum. 12 Deretan yang tujuannya melakukan penguatan atau
bagian itu dapat disusun sebagai berikut. peneguhan. Episode Ibadah Sabda bertujuan untuk
meneladani kawula melalui kisah Alkitab. Rama
Bagan Oposisi 2
merupakan aktor yang menjadi juru peneladan
R mendengar dipersiapkan SP menafsir
WA KW dari aktivitas ini.
KP KC WI
WA KPW
3. Episode Ibadah Ekaristi
K merenungkan mempersiapkan H ditafsir
10
Renaldi Lestianto Utomo Putro: Fungsi Kidung dalam Bojana Ekaristi
11
Vol. 10 No. 1, April 2015
Suci. Keduanya membentuk rangkaian yang tidak Heddy Shri Ahimsa. 2000. “Wacana Seni dalam
terputus. Berdasarkan temuan itu, aklamasi juga Antropologi Budaya” dalam Ketika Orang Jawa
dikategorikan sebagai kidung. Demi kepentingan Nyeni. Yogyakarta: Galang Press, 399-430.
analisis lebih lanjut pada bagian ini, aklamasi
disebut dengan kidung pendek. __________________. 2006. Strukturalisme
2
Pada bagian ini, Tandha Pamenthangan ditulis Lèvi-Strauss. Mitos dan Karya Sastra. Yogyakarta:
dalam dua versi. Versi pertama ditulis seperti itu, Kepel Press.
versi kedua ditulis tandha pamenthangan.
Tujuannya untuk membedakan aktivitas yang Komisi Liturgi Keuskupan Agung Semarang. 1989.
dikidungkan maupun yang tidak. Kidung Panglimbang lan Kidung Cecala Tahun A.
3
Bejana logam. Yogyakarta: Komlit KAS.
4
Serupa piala namun memiliki tutup di atasnya.
5
Roti tidak beragi berwana putih dengan ketebalan Komisi Liturgi Konferensi Wali Gereja Indonesia.
cukup tipis. Ada dua ukuran, 1 buah berukuran 2002. Pedoman Umum Misale Romawi. Jakarta:
besar dan lainnya berukuran kecil. Nusa Indah.
6
Pada uraian di atas hanya disebutkan nama
kidung saja. Mariyanto, E. 2004. Kamus Liturgi Sederhana.
7
Kalender Liturgi pada Gereja Katolik dibagi Yogyakarta: Kanisus.
menjadi tiga, yaitu tahun A, B, dan C. Tiap Bagian
memuat referensi bacaan harian Alkitab. Martasudjita & Kristanto. 2007. Panduan Memilih
8
Rama dan kawula pada bagian analisis ditulis R Nyanyian Liturgi. Yogyakarta: Kanisius.
dan
K. Prier, K. E. 2010. Kedudukan Nyanyian dalam Liturgi.
9
Khusus pada bagian ini Pambuka ditulis P. Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi.
10
Selanjutnya bagian-bagian itu secara berurutan
ditulis PM, TP, SP, K, NK, M, DP. Selain itu, eksis Panitia Liturgi. 1980. Tatalaksana Bojana Kurban
Kidung Pambuka yang dilantukan bersamaan Ekaristi. Yogyakarta: Kanisius.
dengan Perarakan Mlebu. Kidung Pambuka
selanjutnya ditulis KP. Pusat Musik Liturgi. 2007. Kidung Adi. Yogyakarta:
11
Lihat tabel satu. PML.
12
Secara urut deretan bagian itu ditulis WA, KP,
WA, KC, SP, KW, WI, KPW, H, KS, PU. Sapardi Djoko Damono. 2012. Alih Wahana. Jakarta:
13
Pada bagian ini ditulis IE. Editum.
14
Secara berurutan pada bagian ini ditulis P, PR,
KS, PP, A, PT, NT, C, K. Xiao Lixian. 2003. “Analisis Struktural Novel Hong
15
Panutup selanjutnya ditulis P. Lou Meng”. Humaniora Volume 25 Nomor 2
16
Pawartos pada bagian ini tidak diikutsertakan Tahun 2013. 163-174.
dalam analisis, karena tidak berelasi secara konkret
dengan Bojana Ekaristi. Deretan bagian selanjutnya NARASUMBER
secara berurutan ditulis B, A, PM. Selain itu, pada
bagian ini juga dilakukan Kidung Panutup, bagian Karl-Edmund Prier SJ, (75), rama dan salah satu
itu ditulis KP. pendiri Pusat Musik Liturgi Yogyakarta.
12