Panduan Lengkap Diabetes Melitus
Panduan Lengkap Diabetes Melitus
Jmoh7
EKNK 7 MOYTK\A
EAEBYAH
EA 7
N <<<<;63
TO@EJMJBA
NUHKNNKDAQKH VKMONLKEB
<6<;
A. Pengertian
American Diabetes Association (2016) menyatakan bahwa Diabetes
Melitus (DM) adalah penyakit metabolik ditandai dengan
hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja
insulin atau kedua-duanya. Diabetes
Melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang terjadi ketika
pankreas tidak menghasilkan cukup insulin (hormon yang mengatur
gula darah) atau ketika
tubuh tidak dapat secara aktif menggunakan insulin yang dihasilkan
(World Health Organization, 2016. Diabetes Melitus (DM) adalah keadaan
kronis yang terjadi ketika adanya peningkatan kadar glukosa darah
karena tubuh yang tidak dapat mengunakan insulin secara efektif
atau tidak menghasilkan cukup hormon insulin (International Diabetes
Federation, 2017).
B. Etiologi
Menurut Padila (2012), etiologi diabetes melitus adalah :
1. Diabetes Tipe 1
a. Faktor genetik
Pasien diabetes sendiri tidak mewarisi diabetes tipe 1 dengan
sendirinya, tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kerentanan
genetik dari diabetes tipe 1, dan kerentanan genetik ini ada
pada individu dengan antigen tipe HLA.
b. Faktor-fakror imunologi
Terdapat reaksi autoimun yang merupakan reaksi abnormal di
mana antibodi secara langsung terarah pada jaringan manusia
normal dengan bereaksi terhadap jaringan yang dianggap
sebagai benda asing yaitu
autoantibodi terhadap sel pulau Langerhans dan insulin endogen.
c. Faktor lingkungan
Toksin atau virus tertentu yang dapat memicu proses autoimun
yang menimbulkan destruksi sel beta.
2. Diabetes
Tipe 2
Mekanisme pasti yang menyebabkan resistensi insulin dan
gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe 2 masih belum jelas.
Faktor genetik berperan dalam perkembangan resistensi insulin.
Faktor-faktor resiko :
a. Usia
b. Obesitas
c. Riwayat keluarga
C. Manifestasi klinis
Menurut Febrinasari et al (2020), manifestasi klinis diabetes melitus adalah:
1. Poliuria (sering kencing)
2. Polidipsia (sering merasa haus)
3. Polifagia (sering merasa lapar)
4. Penurunan berat badan yang tidak diketahui
penyebabnya. Selain hal-hal tersebut, gejala lain
adalah:
1. Mengeluh lemah dan kurang energi
2. Kesemutan di tangan atau kaki
3. Mudah terkena infeksi bakteri atau jamur
4. Gatal
5. Mata kabur
6. Penyembuhan luka yang lama.
D. Komplikasi
Komplikasi diabetes melitus sangat mungkin terjadi dan bisa
menyerang seluruh organ tubuh. Apabila kadar gula darah tidak
dikendalikan maka akan terjadi komplikasi baik jangka pendek (akut)
maupun jangka panjang (kronis).
Menurut Febrinasari et al (2020) komplikasi diabetes melitus ada 2 (dua) yaitu
1. Komplikasi diabetes melitus akut
Komplikasi diabetes akut dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu
naik turunnya kadar gula darah secara drastis. Keadaan ini
membutuhkan perhatian medis segera, karena jika terlambat
dapat menyebabkan hilangnya kesadaran, kejang dan kematian.
Terdapat 3 macam komplikasi diabetes melitus akut:
a. Hipoglikemia
Hipoglikemia merupakan kondisi dimana turunnya
kadar gula darah secara drastis akibat terlalu banyak insulin
dalam tubuh, terlalu banyak mengonsumsi obat penurun gula
darah, atau terlambat makan.
Gejala berupa penglihatan kabur, detak jantung cepat, sakit
kepala, gemetar, berkeringat dingin dan pusing. Kadar gula
darah yang terlalu rendah dapat menyebabkan pingsan,
kejang, bahkan koma.
b. Ketosiadosis diabetik (KAD)
Ketosiadosis diabetik merupakan keadaan darurat
medis yang disebabkan oleh kadar gula darah yang tinggi. Ini
merupakan komplikasi penyakit diabetes yang terjadi ketika
tubuh tidak dapat menggunakan gula atau glukosa sebagai
sumber bahan bakar, sehingga tubuh mengolah lemak dan
menghasilkan keton sebagai sumber energi.
Jika tidak segera mencari pertolongan medis, kondisi ini
dapat menyebabkan penumpukan asam yang berbahaya di
dalam darah, sehingga dapat menyebabkan dehidrasi, koma,
sesak napas, bahkan kematian.
c. Hyperosmolar hyperglycemic state (HHS)
Situasi ini juga merupakan salah satu situasi darurat,
dan tingkat situasi ini juga merupakan salah satu situasi
darurat dimana angka kematian mencapai 20%. Terjadinya
HHS disebabkan oleh peningkatan mortalitas sebesar 20%.
HHS terjadi karena lonjakan kadar glukosa darah yang
sangat tinggi selama periode waktu tertentu. Gejala HHS
ditandai dengan rasa haus, kejang, kelemahan dan gangguan
kesadaran yang menyebabkan koma. Selain itu, penyakit
diabetes yang tidak terkontrol juga dapat menyebabkan
komplikasi serius lainnya yaitu hiperglikemia non ketosis dan
sindrom hiperglikemia. Komplikasi akut diabetes adalah
kondisi medis serius yang memerlukan perawatan dan
pemantauan oleh dokter di rumah sakit.
2. Komplikasi diabetes melitus kronis
Seringkali komplikasi jangka panjang secara bertahap
terjadi saat diabetes tidak terkontrol dengan baik. Tinggi kadar
gula darah yang tidak terkontrol dari waktu ke waktu akan
menyebabkan kerusakan serius pada semua organ tubuh
Beberapa komplikasi jangka panjang pada penyakit
diabetes melitus menurut Febrinasari et al., 2020 yaitu:
a. Gangguan pada mata (retinopati diabetik)
Tingginya kadar gula darah bisa membahayakan pembuluh
darah di retina yang berpotensial menyebabkan kebutaan.
Kerusakan pembuluh darah di mata juga meningkatkan risiko
gangguan penglihatan, seperti katarak dan glaukoma. Deteksi
dini dan pengobatan retinopati dapat dicegah atau ditunda
secepat mungkin kebutaan. Dorong penderita diabetes
menjalani pemeriksaan mata secara teratur.
b. Kerusakan ginjal (nefropati diabetik)
Kerusakan ginjal yang disebabkan oleh DM disebut dengan
nefropati diabetik. Situasi ini bisa menyebabkan gagal ginjal
dan bahkan bisa mengakibatkan kematian jika tidak
ditangani dengan baik. Saat terjadi
gagal ginjal, pasien harus melakukan dialisis rutin atau
transplantasi ginjal. Dikatakan bahwa diabetes adalah silent
killer, karena biasanya
tidak menimbulkan gejala khas pada tahap awal. Namun,
pada stadium lanjut, gejala seperti anemia, kelelahan,
pembengkakan pada kaki, dan gangguan elektrolit dapat
terjadi. Diagnosis dini, kontrol gula darah dan tekanan darah,
manajemen pengobatan pada tahap awal kerusakan ginjal,
dan membatasi asupan protein adalah cara yang bisa
dilakukan dalam menghambat perkembangan diabetes yang
menyebabkan gagal ginjal.
c. Kerusakan saraf (neuropati diabetik)
Diabetes juga dapat merusak pembuluh darah dan saraf,
terutama saraf di kaki. Kondisi ini disebut neuropati diabetes,
ini karena saraf mengalami kerusakan baik secara langsung
akibat tingginya gula darah, maupun karena penurunan
aliran darah menuju saraf. Rusaknya saraf dapat
menyebabkan gangguan sensorik dengan gelaja berupa mati
rasa, kesemutan, dan nyeri. Kerusakan saraf juga bisa
mempengaruhi saluran pencernaan (gastroparesis).
Gejalanya berupa mual, muntah dan cepat
merasa kenyang saat makan. Pada pria, komplikasi diabetes
bisa menyebabkan disfungsi ereksi atau impotensi.
Komplikasi ini dapat dicegah dan penundaan hanya bila
diabetes terdeteksi sejak dini agar kadar gula darah bisa
terkontrol melalui pola makan dan gaya hidup
sehat dan minum obat yang sesuai rekomendasi dokter.
d. Masalah kaki dan kulit
Komplikasi yang juga sangat umum adalah masalah kulit dan
luka pada kaki yang sulit sembuh. Ini karena kerusakan
pembuluh darah dan saraf serta aliran darah kaki yang
sangat terbatas. Gula darah yang tinggi bisa
mempermudah bakteri dan jamur berkembang biak. Selain
itu, akibat diabetes, kemampuan tubuh untuk menyembuhkan
dirinya sendiri juga berkurang. Jika tidak dirawat dengan
baik, kaki penderita diabetes berisiko mengalami cedera
dan infeksi, yang dapat menyebabkan
gangren dan ulkus diabetes. Perawatan luka di kaki penderita
diabetes adalah dengan memberi antibiotik, perawatan luka
yang baik, hingga
dapat diamputasi jika jaringan rusak ini sudah parah.
e. Penyakit kardiovaskular
Kadar gula darah yang tinggi bisa menyebabkan rusaknya
pembuluh darah sehingga seluruh sirkulasi darah tersumbat
termasuk jantung. Komplikasi yang menyerang jantung dan
pembuluh darah yaitu penyakit jantung, stroke, serangan
jantung dan penyempitan arteri (aterosklerosis).
E. Penatalaksanaan
Menurut Putra, I. W. A., & Berawi (2015) penatalaksanaan
diabetes melitus dikenal dengan 4 pilar penting dalam mengontrol
perjalanan penyakit dan komplikasi. Empat pilar tersebut adalah:
1. Edukasi
Edukasi yang diberikan adalah pahami perjalanan
penyakitnya, pentingnya pengendalian penyakit, komplikasi dan
resikonya, pentingnya
intervensi obat dan pemantauan glukosa darah, bagaimana
menangani hipoglikemia, kebutuhan latihan fisik teratur, dan
metode menggunakan fasilitas kesehatan. Mendidik pasien
bertujuan agar pasien bisa mengontrol gula darah dan kurangi
komplikasi serta meningkatkan keterampilan
perawatan diri sendirian. Diabetes tipe 2 biasanya terjadi pada
saat gaya hidup dan perilaku terbentuk kuat. Petugas kesehatan
mendampingi pasien dan memberikan pendidikan dalam upaya
meningkatkan motivasi dan perubahan perilaku.
Tujuan jangka panjang yang ingin dicapai dengan
memberikan edukasi antara lain: Penderita diabetes bisa hidup
lebih lama dalam kebahagiaan karena kualitas hidup sudah
menjadi kebutuhan seseorang, membantu penderita diabetes
bisa merawat diri sendiri sehingga
kemungkinan komplikasi dapat dikurangi, kselain itu jumlah hari
sakit bisa ditekan, meningkatkan perkembangan penderita
diabetes, sehingga bisa berfungsi normal dan manfaatkan sebaik-
baiknya.
2. Terapi nutrisi
Perencanaan makan yang bagus merupakan bagian penting
dari manajemen diabetes yang komprehensif. Diet keseimbangan
akan mengurangi beban kerja insulin dengan meniadakan
pekerjaan insulin dalam mengubah gula menjadi glikogen.
Keberhasilan terapi ini melibatkan dokter, perawat, ahli gizi,
pasien itu sendiri dan keluarganya. Intervensi nutrisi bertujuan
untuk menurunkan berat badan dan memperbaiki gula darah dan
lipid darah pada pasien diabetes yang kegemukan dan menderita
morbiditas. Penderita diabetes dan kegemukan akan memiliki
resiko yang lebih tinggi daripada mereka yang hanya kegemukan.
3. Aktifitas fisik
Kegiatan fisik setiap hari latihan fisik teratur (3-4 kali
seminggu sekitar 30 menit), adalah salah satu pilar pengelolaan
DMT2. Aktivitas sehari-hari seperti berjalan kaki ke pasar, naik
turun tangga, dan berkebun
tetap harus dilakukan untuk menjaga kesehatan, menurunkan
berat badan, dan memperbaiki sensitivitas insulin. Latihan fisik
dianjurkan yaitu berupa senam aerobik seperti jalan kaki,
bersepeda, jogging, dan berenang, sebaiknya latihan fisik
disesuaikan dengan umur dan status kesegaran. Bagi mereka
yang relatif sehat, dapat meningkatkan intensitas latihan fisik,
dan
mereka yang mengalami komplikasi diabetes dapat dikurangi.
4. Farmakologi
Terapi farmakologis diberikan bersamaan dengan diet dan
latihan fisik (gaya hidup sehat). Pengobatan termasuk dari obat-
obatan oral dan suntikan.
Obat hipoglikemik oral berdasarkan cara kerjanya, OHO dibagi
menjadi 5 golongan: Memicu sekresi insulin sulfonylurea dan
glinid, peningkatan metformin insulin dan thiazolidinone,
penghambat glukoneogenesis, penghambat penyerapan glukosa:
penghambat glukosidase, penghambat
[Link]-IV inhibitor pertumbuhan dan status gizi, usia, stres
akut dan latihan fisik untuk mencapai dan mempertahankan berat
badan yang ideal. Total kalori yang dibutuhkan dihitung
berdasarkan berat tubuh ideal
dikalikan dengan kebutuhan kalori dasar (30 Kkal/kg BB untuk
laki-laki dan 25 Kkal/kg BB untuk wanita). Lalu tambahkan kalori
yang dibutuhkan untuk aktivitas (10-30% atlet dan pekerja berat
bisa lebih banyak lagi, sesuai dengan kalori yang dikeluarkan).
Makanan berkalori berisi tiga makanan utama pagi (20%), sore
(30%) dan malam (25%) dan 2-3 porsi (makanan
ringan 10-15%).
Geneti
tidOakbeseiht ast, Pengeluaran hormone
k
estrogen, progesterone
dan hormone
Kerusakan sel beta gkauyranhgidguep kehamilan
pankreas
rak Retensi Resiko ketidakstabilan
kadar glukosa darah
insulin
Hiperglikemia
Mekanisme radan
Trauma
Kerusaka
jaringan
lunak n
integrita
s
jaringan
Resiko infeksi
Putra, I. W. A., & Berawi, K. (2015). Empat Pilar Penatalaksanaan Pasien Diabetes
Mellitus Tipe 2. Majority, 4(9), 8’12.
[Link] diakses
tanggal 20 November 2020