Syarat Pekerjaan Peningkatan Jalan Desa
Syarat Pekerjaan Peningkatan Jalan Desa
1. LINGKUP PEKERJAAN
Ruang lingkup pekerjaan yang dimaksud adalah Peningkatan Jalan Lingkungan
Permukiman Desa Jambearjo Kecamatan Tajinan Kabupaten Malang yang meliputi:
a. Pekerjaan Persiapan
b. Pekerjaan Jalan Beton
Pekerjaan harus dilaksanakan dengan penuh keahlian, dan sesuai dengan Spesifikasi
Teknis, Gambar Perencanaan, Berita Acara Penjelasan, Kerangka Acuan Kerja (KAK)
serta mengikuti petunjuk dan keputusan Pengawas lapangan dan Tim Teknis Kegiatan.
b) Standar Konstruksi
1) SNI 15-7064-2004 Standar Nasional Indonesia Semen portland
2) SNI 3976 1995 Tata cara pengadukan pengecoran beton
3) Petunjuk / Tata Cara Standard lainnya yang berhubungan dengan pekerjaan
ini
1
c) Peraturan yang berkaitan dengan Ketenagakerjaan dan Jaminan Perlindungan
dan Keselamatan Ketenagakerjaan yang dikeluarkan oleh kementerian
Ketenagakerjaan RI.
3. RENCANA DAN PELAKSANAAN KERJA
a. Selambat-lambatnya 1 (satu) minggu setelah tanggal penunjukan dan perintah
kerja pelaksanaan pekerjaan (SPMK), pihak Kontraktor harus sudah memulai
melaksanakan pembangunan fisik secara nyata di lapangan. Apabila setelah 1
(satu) minggu Kontraktor yang ditetapkan belum melaksanakan pembangunan fisik
secara nyata di lapangan, maka akan diberlakukan ketentuan yang telah dibuat
oleh PPK.
b. Pekerjaan harus dilaksanakan dengan penuh keahlian, sesuai dengan Kontrak,
syarat‐syarat teknis, gambar perencanaan, berita acara penjelasan, Kerangka
Acuan Kerja (KAK) serta mengikuti petunjuk dan keputusan Pengawas lapangan
dan Tim Teknis Kegiatan.
c. Sebelum mulai pelaksanaan pekerjaan di lapangan, Kontraktor wajib membuat
Rencana Kerja Pelaksanaan dari bagian-bagian pekerjaan berupa S-curve.
Rencana Kerja tersebut harus sudah mendapat persetujuan terlebih dahulu dari
Konsultan Pengawas, paling lambat dalam waktu 8 (delapan) hari kalender
setelah Surat Perintah Kerja (SPK) diterima oleh Kontraktor. Rencana Kerja yang
telah disetujui oleh Konsultan Pengawas akan disahkan oleh Pemberi Tugas /
PPK.
d. Kontraktor dalam melaksanakan pekerjaan pembangunan harus sesuai dengan
Rencana Kerja tersebut.
e. Konsultan Pengawas akan menilai prestasi pekerjaan Kontraktor berdasarkan
Rencana Kerja tersebut.
f. Dalam pekerjaan ini perhitungan 1 Bulan sama dengan 26 Hari Kerja
2
1. Sertifikasi Kompetensi Kerja (SKK) Pelaksana Lapangan Pekerjaan dengan
pendidikan minimal SLTA.
2. Sertifikasi Kompetensi Kerja (SKK) Petugas K3 Konstruksi Memiliki SMK3
dengan pendidikan Minimal SLTA.
b. Peralatan P ekerjaan
Peralatan yang memadai dan sesuai dengan jenis pekerjaan yang akan
dilaksanakan yang wajib disediakan (kondisi layak) untuk pekerjaan Peningkatan
Jalan Lingkungan Permukiman terdiri dari :
1. Gerobak Dorong
c. Pekerjaan Utama.
1. Perkerasan beton Fc’ 25 Mpa yang setara dengan K-300 untuk jalan
lingkungan dengan Ready Mixed
3
h. Selama pembangunan belangsung, Kontraktor harus menjaga keamanan
bahan/ material, barang milik proyek, milik Konsultan Pengawas dan milik Pihak
Ketiga yang ada di lapangan, maupun bangunan yang dilaksanakannya sampai
tahap serah terima. Bila terjadi kehilangan bahan-bahan bangunan yang telah
disetujui, baik yang telah dipasang maupun yang belum, adalah tanggung jawab
Kontraktor dan tidak akan diperhitungkan dalam biaya Pekerjaan Tambah.
i. Apabila terjadi kebakaran, Kontraktor bertanggung jawab atas akibatnya, baik
yang berupa barang-barang maupun keselamatan jiwa.
j. Apabila pekerjaan telah selesai, Kontraktor harus segera mengangkut bahan
bongkaran dan sisa-sisa bahan bangunan yang sudah tidak dipergunakan lagi
keluar lokasi pekerjaan. Segala pembiayaannya menjadi tanggung jawab
Kontraktor.
4
atau gambar kerja yang mungkin diperlukan oleh keadaan darurat konstruksi atau
lain-lainnya, akan ditentukan oleh Konsultan Pengawas dan disahkan secara
tertulis.
c. Konsultan Pengawas akan memberikan instruksi berkenaan dengan penafsiran
yang semestinya untuk memenuhi ketentuan gambar dan spesifikasinya.
Permukaan-permukaan pekerjaan yang sudah selesai harus sesuai dengan garis,
lapisan bagian dan ukuran yang tercantum dalam gambar, kecuali bila ada
ketentuan lain dari Konsultan Pengawas.
d. Bila ada keraguan mengenai ukuran, kontraktor wajib melaporkan secara tertulis
kepada Konsultan Pengawas yang selanjutnya akan memberikan keputusan
ukuran mana yang akan dipakai dan dijadikan pegangan.
e. Bila ukuran sudah tertera dalam gambar atau dapat dihitung, maka pengukuran
skala tidak boleh dipergunakan kecuali bila sudah disetujui oleh Konsultan
Pengawas. Setiap deviasi dari gambar karena kondisi lapangan yang tak
terduga akan ditentukan oleh Konsultan Pengawas dan disahkan secara tertulis.
Kontraktor tidak dibenarkan merubah atau mengganti ukuran- ukuran yang
tercantum di dalam Gambar Pelaksanaan tanpa sepengetahuan Konsultan
Pengawas/Direksi, dan segala akibat yang terjadi adalah tanggung jawab
Kontraktor/ Pemborong baik dari segi biaya maupun waktu.
f. Perbedaan Gambar.
1) Bila suatu gambar tidak cocok dengan gambar yang lain dalam satu disiplin
kerja, maka gambar yang mempunyai skala yang lebih besar yang mengikat
(berlaku).
2) Mengingat setiap kesalahan maupun ketidak-telitian di dalam pelaksanaan
satu bagian pekerjaan akan selalu mempengaruhi bagian pekerjaan lainnya,
maka didalam hal terdapat ketidak-jelasan, kesimpang-siuran, perbedaan-
perbedaan dan ataupun ketidak-sesuaian dan keragu-raguan diantara setiap
Gambar Kerja, Kontraktor diwajibkan melaporkan kepada Konsultan
Pengawas secara tertulis dan selanjutnya diadakan pertemuan dengan
Konsultan Pengawas/Direksi dan Konsultan Perencana, untuk mendapat
keputusan gambar mana yang akan dijadikan pegangan.
3) Ketentuan tersebut di atas tidak dapat dijadikan alasan oleh Kontraktor/
Pemborong untuk memperpanjang/meng-“klaim” biaya maupun waktu
pelaksanaan.
g. Shop Drawing.
1) Shop drawing merupakan gambar detail pelaksanaan di lapangan yang harus
dibuat oleh Kontraktor berdasarkan gambar dokumen kontrak yang telah
disesuaikan dengan keadaan lapangan.
5
2) Kontraktor wajib membuat shop drawing untuk detail khusus yang belum
tercakup lengkap dalam Gambar Kerja/Dokumen Kontrak maupun yang
diminta oleh Konsultan Pengawas.
3) Dalam shop drawing ini harus jelas dicantumkan dan digambarkan semua
data yang diperlukan, keterangan produk, cara pemasangan dan atau
spesifikasi/persyaratan khusus sesuai dengan spesifikasi pabrik yang belum
tercakup secara lengkap di dalam Gambar Kerja/Dokumen Kontrak maupun di
dalam Spesifikasi Teknis.
4) Kontraktor wajib mengajukan shop drawing tersebut kepada Konsultan
Pengawas untuk mendapat persetujuan tertulis dari Konsultan
Pengawas/Direksi.
5) Semua gambar yang dipersiapkan oleh Kontraktor dan diajukan kepada
Konsultan Pengawas untuk diminta persetujuannya harus sesuai dengan
format standar dari proyek.
h. Perubahan, Penambahan, Pengurangan Pekerjaan dan Pembuatan “As Built
Drawing“.
1) Tata cara pelaksanaan dan penilaian perubahan, penambahan dan
pengurangan pekerjaan disesuaikan dengan Dokumen Kontrak.
2) Setelah pekerjaan selesai dan diserah-terimakan, Kontraktor berkewajiban
membuat gambar-gambar yang memuat seluruh perubahan, dan sesuai
dengan kenyataan yang telah dikerjakan/dibangun oleh Kontraktor ( As Built
Drawing ).
3) Biaya untuk penggambaran “As Built Drawing”, sepenuhnya menjadi
tanggungan Kontraktor.
6
e. Adanya Pekerjaan Tambah tidak dapat dijadikan alasan sebagai penyebab
kelambatan penyerahan pekerjaan, tetapi Direksi/Pengawas Lapangan/Tim
Pengelola Teknis Kegiatan dapat mempertimbangkan perpanjangan waktu
karena adanya pekerjaan tambah tersebut
7
1. Terpukul alat pemukul
10. LAPORAN
a. Pelaksana lapangan setiap hari harus membuat Laporan Harian mengenai segala
hal yang berhubungan dengan pelaksanaan pembangunan/pekerjaan, baik bersifat
teknis maupun administratif.
b. Dalam pembuatan laporan tersebut, pihak Kontraktor harus memberikan data-data
yang diperlukan menurut data dan keadaan sebenarnya.
c. Laporan Mingguan dan Laporan Bulanan secara rutin dibuat oleh Kontraktor/
Pemborong
d. Laporan-laporan tersebut di atas setiap minggu dan bulannya, harus diserahkan
kepada Pemimpin Proyek untuk bahan monitoring pekerjaan.
8
e. Sebelum ada kepastian dari laboratorium di atas tentang baik atau tidaknya
kualitas dari bahan-bahan tersebut, Pelaksana tidak diperkenankan melanjutkan
pekerjaan - pekerjaan yang menggunakan bahan-bahan tersebut di atas.
f. Bila diminta oleh Konsultan Pengawas, Kontraktor harus memberikan penjelasan
lengkap tertulis mengenai tempat asal diperolehnya material dan tempat pekerjaan
yang akan dilaksanakan.
10
BAB II
SYARAT - SYARAT TEKNIS
1. PEKERJAAN PERSIAPAN
Pekerjaan persiapan merupakan persiapan awal yang wajib dilakukan dalam
melaksanakan suatu proyek. Pada tahap ini, segala izin yang dibutuhkan untuk proses
pembangunan telah diurus serta segala sesuatu yang menyangkut kelancaran
pekerjaan pelaksanaan harus telah disiapkan di lokasi sebelum melaksanakan
pekerjaan. Penyusunan jadwal terinci, mobilisasi peralatan dan tenaga kerja, hingga
kelengkapan administrasi lapangan harus sudah disiapkan sebelum memulai
pekerjaan.
Kontraktor juga harus mempertimbangkan situasi lapangan sebagai berikut:
- Volume pekerjaan yang merujuk pada batasan minimal yang wajib terpenuhi,
hal ini agar proyek tidak menyimpang dari perencanaan.
Agar tidak terjadi kesalahan dalam pelaksanaan proyek, kontraktor juga wajib
melakukan pengukuran yang sesuai dengan target dan estimasi waktu serta biaya
proyek.
Pada tahap ini, kontraktor bertanggung jawab atas ketepatan ukuran dan mutu
bangunan yang sesuai dengan syarat dan rencana kerja. Akan tetapi, jika terjadi
ketidakcocokan, kontraktor tidak diperkenankan untuk melakukan tindakan pembetulan
sebelum mendapatkan persetujuan dari manajemen konstruksi.
Selanjutnya,
a. Lingkup Pekerjaan
1) Pengukuran dan Penandaan
2) Pasang Papan Nama Kegiatan
b. Syarat – Syarat Pekerjaan
1) Sebelum pekerjaan pengukuran dilakukan perlu diambil langkah pembersihan
yang mana kontraktor wajib membersihkan lokasi proyek dari hal-hal yang dapat
menghambat proses pembangunan. Contohnya, lokasi harus bersih dari
pepohonan sampai ke akarnya agar tidak merusak struktur tanah pada
bangunan.
2) Pekerjaan uitzet dilaksanakan bersama – sama antara direksi, Perencana dan
Penyedia Barang/Jasa, Pengelola Teknik Kegiatan serta Pengawas Lapangan.
11
3) Kontraktor bertanggung jawab atas ketepatan pengukuran, apabila terjadi
ketidakcocokan, kontraktor tidak diperkenankan untuk melakukan tindakan
pembetulan sebelum mendapatkan persetujuan dari manajemen konstruksi.
4) Pasang Papan nama kegiatan.
Fungsi plastik adalah untuk menjaga agar permukaan dasar beton tidak langsung berh
ubungan dengan tanah/ pasir urug yang memiliki kelembaban. Sehingga kemungkinan
air / uap air masuk ke dalam pori-pori beton menjadi lebih kecil, dan juga air semen tid
ak mudah menyerap ke lapisan tanah dibawahnya sehingga kadar air pada adukan be
12
ton dapat terjaga dengan baik dan proses pengeringannya pun dapat terjaga sehingga
beton tdak mudah cepat kering.
Langkah Pekerjaan
a. Setelah Pekerjaan penghamparan pasir urug dilaksanakan dengan baik dan
rata sepanjang jalan maka pekerjaan selanjutnya pemasangan plastic/ polytene
125 micron
b. Plastik dipasang selebar jalan dan sepanjang jalan beton yang akan
dilaksanakan.
c. Dipasang secara bertahap sesuai jumlah Panjang beton atau volume beton
yang akan di cor agar pemasangan plastik tidak mudah rusak akibat terlalu
lama menunggu proses pengecoran.
d. Pemasangan Plastik dengan overlap 30 cm – 50 cm bila plastic yang ada tidak
memenuhi lebar jalan secara langsung karena lebar plastic dipasaran biasanya
1 – 1,50 m
4. PEKERJAAN BETON
Pekerjaan beton merupakan salah satu bagian pekerjaan yang memerlukan perhatian
yang serius dari Kontraktor dan Direksi dalam setiap proses dan keputusan yang
diambil.
a. Lingkup Pekerjaan
1. Pekerjaan Jalan Beton menggunakan Ready Mixed disertai dengan tiket dari
batching plant (untuk syarat pencairan) atau Site Mixed bergantung pada
Perencana yang tertuang di dalam RAB serta keadaan lapangan yang tidak
memungkinkan dengan Ready Mixed
2. Pekerjaan beton yang dilakukan adalah pembuatan jalan beton dan lain –
lain tercantum dalam gambar kerja.
3. Semua pekerjaan beton yang dilakukan harus disertai test beton di lapangan
yang hasilnya langsung dapat diperoleh, serta test beton di laboratorium
yang dilakukan di lembaga di luar proyek dengan biaya test ditanggung oleh
Kontraktor (untuk syarat berita acara serah terima 1)
4. Bagian-bagian pekerjaan yang dilakukan sebelum, sedang dan sesudah
pengecoran yaitu:
- Persiapan Pengecoran
- Adukan
- Pengecoran
- Pembongkaran begesting
- Pemeliharaan/Perawatan
b. Syarat – Syarat Pekerjaan
13
1) Persyaratan umum
a) Konstruksi bangunan dengan bahan struktur beton struktur harus
menggunakan peraturan peraturan/normalisasi yang berlaku di Indonesia
seperti PBI’71 (Peraturan Beton Indonesia tahun 1971) dan atau SK SNI T–
15–1991-03, PMI (Peraturan Muatan Indonesia), dan lain-lain.
b) Semua pekerjaan beton harus memenuhi syarat-syarat yang ada pada:
- Syarat-syarat bahan untuk semua pekerjaan beton SK SNI T-15-1991-
03 pasal 3.1 sampai 3.9.
- Syarat pelaksanaan pekerjaan beton SK SNI T-15-1991-03 bagian 3
bab 4,5,6 berlaku seluruh pasal.
- Syarat-syarat pekerjaan tulangan SK SNI T-15-1991-03 bab 5 pasal 5.3
sampai 5.8.
- Perhitungan untuk pekerjaan beton struktur berdasarkan SK SNI T-15-
1991-03.
c) Kualitas campuran beton harus memenuhi syarat dengan campuran beton
(sesuai yang ada dalam BOQ)
d) Setiap sambungan beton lama dan baru ditambahkan bahan additive beton.
e) Semua ukuran, dimensi beton yang ada dan tertulis dalam gambar
kerja, adalah ukuran dan dimensi beton konstruksi tidak dan belum
termasuk plesteran/finishingnya.
f) Komposisi
- Komposisi beton untuk semua struktur bangunan harus ditentukan
sedemikian rupa sehingga mencapai kekuatan silinder 28 (dua puluh
delapan) hari sebesar fc’ 25 MPa.
- Untuk beton harus diadakan uji laboratorium dan hasil uji harus
memenuhi mutu beton yang disyaratkan.
- Percobaan Pendahuluan.
Pada bagian beton dimana tidak memungkinkan menggunakan adukan
Ready Mix, Penyedia Jasa harus melakukan pendahuluan dengan
tujuan untuk mencapai kualitas beton yang ditentukan. Mutu beton
tersebut harus dibuktikan oleh Penyedia Jasa dengan percobaan
hancur silinder beton (ukuran 15 x 30 cm) dari Laboratorium
penyelidikan bahan-bahan bangunan yang diakui oleh Pemerintah dan
seluruh biayanya ditanggung oleh Penyedia Jasa. Banyaknya
pengambilan silinder percobaan ialah minimum 4 buah silinder. Benda
uji diperiksa 7 (tujuh) hari, 14 (empat belas) hari, 21 (dua puluh satu)
hari dan 28 (dua puluh delapan) hari untuk setiap beton yang diambil
contohnya. Hasil dari Laboratorium harus segera diserahkan kepada
Direksi Lapangan/ Pengawas Lapangan.
14
g. Masa Pelaksanaan.
Selama masa pelaksanaan, mutu beton harus diperiksa secara kontinyu
dari hasil – hasil pemeriksaan benda uji.
2) Persyaratan Pelaksanaan Pekerjaan
Langkah pelaksanaan pekerjaan beton terdiri dari kegiatan penyiapan adukan,
pemasangan tulangan, persiapan pengecoran atau pemasangan begesting,
pelaksanaan pengecoran, perawatan atau pemeliharaan beton, pembongkaran
begesting dan pelaksanaan uji laboratorium. Sebelum pelaksanaan pekerjaan
beton, Kontraktor harus meneliti gambar gambar kerja penulangan beton.
Apabila terjadi keragu-raguan segera menanyakan dan meminta jawaban
Direksi sebelum memulai pelaksanaan pekerjaan.
a) Adukan
- Adukan beton untuk konstruksi beton struktur digunakan perkerasan
jalan beton dengan mutu f’c 25 MPa ( sesuai yang ada dalam BOQ ).
b) Persiapan Pengecoran
- Kontraktor harus membuat kotak takaran untuk adukan beton.
- Untuk Begisting menggunakan Multiplek 12 mm dan Kayu kelas III
sebagai pengaku
- Semua Begisting dibersihkan dari segala kotoran.
- Begisting harus datar dan tegak lurus, kedudukan dan bentuknya tetap
tidak bergeser maupun bergerak pada waktu dan setelah pengecoran
tetapi mudah dibongkar.
- Sebelum dilakukan pengecoran, jalan harus dipasang plastik atau
Polytene 125 micron sepanjang jalan dan lebar yang akan dicor
- Bekesting menggunakan kayu Kelas III dan harus dipasang dengan
perkuatan - perkuatan sehingga menjamin ukuran -ukuran dan jarak -
jarak tidak berubah selama diadakan pengecoran.
- Bekesting sebelum dilaksanakan pengecoran beton, harus dibersihkan
dari berbagai bentuk kotoran.
e) Pengecoran
- Pengecoran beton harus seijin tertulis dan sepengetahuan Direksi.
- Beton harus dicor dengan ketebalan sedemikian rupa sehingga pekerjaan
pemindahan (menggeser campuran beton segar secara manual) sedapat
mungkin dihindari. Kecuali truk pencampur, truk pengaduk, atau alat angkutan
lainnya yang dilengkapi dengan alat penumpah beton tanpa menimbulkan
segregasi bahan, beton harus dituangkan ke dalam alat penghampar dan
dihamparkan secara mekanis sedemikian rupa untuk mencegah segregasi.
Penghamparan harus dilakukan secara menerus di antara sambungan
melintang tanpa sekatan sementara. Penghamparan secara manual diperlukan
harus dilakukan dengan memakai sekop bukan perlengkapan perata (rakes).
15
Tenaga kerja tidak boleh menginjak hamparan beton yang masih baru dengan
memakai sepatu yang dilekati oleh tanah atau kotoran lainnya
- Beton harus dipadatkan secara merata pada tepi dan sepanjang acuan,
sepanjang dan pada kedua sisi setiap sambungan, dengan menggunakan
vibrator yang dimasukkan ke dalam beton. Vibrator tidak boleh menyentuh
langsung perlengkapan sambungan atau sisi acuan. Vibrator tidak boleh
digunakan lebih dari 5 detik pada setiap tempat
- Beton harus dituangkan sedekat mungkin dengan sambungan ekspansi dan
sambungan kontraksi tanpa merusaknya, tetapi tidak dituangkan langsung dari
corong curah atau penampung (hopper) ke arah perlengkapan sambungan
kecuali jika penampung (hopper) tersebut telah ditempatkan sedemikian rupa
sehingga penumpahan beton tidak menggeser posisi sambungan.
- Ceceran beton yang tertumpah pada permukaan beton yang telah selesai
dihampar harus disingkirkan dengan cara yang disetujui.
f) Pembongkaran Begisting
- Kecuali bila ditentukan lain, acuan/ begesting tidak boleh dibongkar dari beton
yang baru dicor sebelum mencapai waktu paling sedikit 12 jam. Acuan harus
dibongkar dengan hati- hati agar tidak rusak perkerasan beton. Setelah acuan
dibongkar, bagian sisi perkerasan beton harus dirawat (curing)
- Pembongkaran semua Begisting/ begisting harus sesuai dengan
ketentuan – ketentuan yang berlaku, serta seijin dan sepengetahuan
Pengawas Lapangan.
- Pembongkaran harus dilakukan dengan cara sedemikian rupa hingga
menjamin seluruhnya keamanan beton yang telah dicor.
- Begisting beton dapat dibongkar dengan persetujuan tertulis dari
pengawas, atau jika telah melampaui waktu yang telah ditentukan.
g) Pemeliharaan
- Upaya perawatan beton dilakukan selama proses pengerasan.
- Selama proses pengerasan, beton tiap hari harus disiram dengan cukup
air (curing), selama minimum 1 (satu) minggu berturut-turut.
h) Finishing
- Permukaan jalan beton harus di grooving atau alur melintang jalan.
- Permukaan jalan beton harus diberi joint sealant atau di cutting
melintang jalan dengan jarak per 5,00 m dengan kedalaman 5 cm atau
sesuai dengan gambar rencana dengan alat potong beton kemudian
diisi sealant
- Penggergajian untuk membentuk sambungan harus dilakukan sesegera
mungkin setelah beton cukup keras agar pengergajian dapat dilakukan
dengan hasil yang rapih tanpa menimbulkan keretakan, dan umumnya
tidak kurang dari 4 jam tetapi dalam segala hal tidak lebih dari waktu
16
pengikatan akhir yang diuji sesuai SNI ASTM C403/C403M:2012
(umumnya sekitar 10 jam tergantung bahan-bahan yang digunakan
dalam campuran beton, jenis semen, bahan tambah dan sebagainya)
setelah pemadatan akhir beton, diambil mana yang lebih pendek
waktunya. Semua sambungan harus dibentuk dengan pemotongan
sebelum terjadi retak susut yang tidak terkendali. Bila perlu, kegiatan
penggergajian harus dilakukan siang dan malam dalam cuaca apapun.
Penggergajian untuk membentuk sambungan harus ditangguhkan
bilamana keretakan terjadi pada atau dekat lokasi gergajian pada saat
sebelum digergaji. Penggergajian untuk
17
BAB III
SYARAT – SYARAT BAHAN DAN MATERIAL
Sepanjang tidak ada ketetapan lain dalam Rencana Kerja dan Syarat-syarat
(RKS) ini maupun dalam Berita Acara Penjelasan Pekerjaan, bahan-bahan yang akan
dipergunakan maupun syarat-syarat pelaksanaan harus memenuhi Persyaratan Umum
Bahan Bangunan Indonesia (PUBI Tahun 1982), Standar Industri Indonesia (SII) untuk
bahan termaksud, serta ketentuan-ketentuan dan syarat bahan-bahan lainnya yang
berlaku di Indonesia.
Seluruh barang material yang dibutuhkan dalam menyelesaikan pekerjaan, seperti
material, peralatan dan alat lainnya, harus dalam kondisi baru dan dengan kualitas terbaik
untuk tujuan yang dimaksudkan.
I. PERSYARATAN UMUM
a. Merk pembuatan bahan/material & komponen jadi.
1) Kecuali bila ditentukan lain dalam Dokumen Kontrak, semua merk pembuatan
atau merk dagang dalam Rencana Kerja dan Syarat-syarat Teknis ini
dimaksudkan sebagai penentu standar atau kualitas.
2) Setiap keterangan mengenai peralatan, material barang atau proses, dalam
bentuk nama dagang, buatan atau nomor katalog harus dianggap sebagai
penentu standar atau kualitas dan tidak boleh ditafsirkan sebagai upaya
membatasi persaingan, dan Kontraktor harus dengan sendirinya menggunakan
peralatan, material, barang atau proses, yang atas penilaian Konsultan
Pengawas dan Konsultan Perencana, sesuai dengan keterangan itu. Seluruh
material paten itu harus dipergunakan sesuai dengan instruksi pabrik yang
membuatnya.
3) Bahan/material dan komponen jadi yang dipasang/dipakai, harus sesuai
dengan yang tercantum dalam Gambar Kerja dan RKS, memenuhi standar
spesifikasi bahan tersebut, mengikuti peraturan persyaratan bahan bangunan
yang berlaku.
4) Apabila dianggap perlu, Konsultan Pengawas berhak untuk menunjuk tenaga
ahli yang diajukan/ditunjuk oleh pabrik dan atau supplier yang bersangkutan
tersebut sebagai Pelaksana. Dalam hal ini, Kontraktor/ Pemborong tidak
berhak mengajukan klaim sebagai pekerjaan tambah.
5) Disyaratkan dalam satu merk pembuatan atau merk dagang hanya
diperkenankan untuk setiap jenis bahan yang boleh dipakai dalam
pekerjaan ini.
b. Kontraktor terlebih dahulu harus memberikan contoh-contoh semua bahan-bahan
yang diperlukan untuk bangunan tersebut kepada Konsultan Pengawas/Direksi
18
untuk mendapatkan persetujuan secara tertulis sebelum semua bahan-bahan
tersebut didatangkan/dipakai. Contoh bahan tersebut yang harus diserahkan
kepada Konsultan Pengawas/Direksi untuk menetapkan “standard of appearance”
dan disimpan di ruang Direksi. Paling lambat waktu penyerahan contoh bahan
adalah 2 (dua) minggu sebelum jadwal pelaksanaan.
c. Keputusan bahan, jenis, warna, tekstur dan produk yang dipilih, akan di-
informasikan kepada Kontraktor selama tidak lebih dari 7 (tujuh) hari kalender
setelah penyerahan contoh bahan tersebut.
d. Penyimpanan Material
Penyimpanan dan pemeliharaan bahan harus sesuai persyaratan pabrik yang
bersangkutan dan atau sesuai dengan spesifikasi bahan tersebut.
1) Penempatan bahan-bahan material diatur dengan pertimbangan yang matang
agar tidak mengganggu kelancaran pekerjaan serta sirkulasi/akses pekerja.
Bahan material disusun dengan metoda yang baikdengan cara FIFO (first in
first out), sehingga tidak ada bahan material yang tersimpan terlalu lama dalam
gudang/stock material.
2) Material harus disimpan sedemikian rupa untuk menjaga kualitas dan
kesesuaian untuk pekerjaan. Material harus diletakkan di atas permukaan
yang bersih, keras dan bila diminta harus ditutupi. Material harus disimpan
sedemikian rupa agar memudahkan pemeriksaan. Benda-benda milik pribadi
tidak boleh dipergunakan untuk penyimpanan tanpa ijin tertulis dari pemiliknya.
19
- Pasir untuk spesi pasangan dan plesteran, harus seluruhnya dapat melalui
saringan dengan lubang-lubang persegi 3 mm.
- Pasir yang digunakan berasal dari Lumajang
20
- Semua bahan – bahan dan perlengkapan yang akan diperoleh atau
dipasang pada pekerjaan ini, sebelum dipergunakan harus telah diperiksa
dan disetujui oleh Direksi/Pengawas.
- Penggunaan bahan yang tidak sesuai dengan syarat – syarat bahan
tersebut akan ditolak atau dikeluarkan atas perintah Direksi dengan segala
resiko Penyedia Jasa.
- Apabila diperlukan pemeriksaan di Laboratorium atas bahan, maka
biaya pemeriksaan ditanggung oleh Penyedia Jasa.
Segala sesuatu yang belum diatur dalam RKS ini dan diperlukan, akan
dicantumkan dalam Berita Acara Penjelasan Pekerjaan (Aanwijzing). Hal – hal yang
timbul kemudian dalam pelaksanaan dan diperlukan penyelesaian dilapangan akan
dibicarakan dan diatur oleh Pemimpin Proyek, Pengawas Lapangan dan Penyedia
Jasa. Dan bila diperlukan akan dibicarakan untuk mendapatkan penyelesaian.
21