0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan21 halaman

Syarat Pekerjaan Peningkatan Jalan Desa

Dokumen ini menjelaskan syarat-syarat umum untuk pekerjaan peningkatan jalan lingkungan di Desa Jambearjo, termasuk lingkup pekerjaan, dasar pelaksanaan, rencana kerja, serta tanggung jawab kontraktor. Kontraktor diwajibkan untuk mematuhi spesifikasi teknis dan peraturan yang berlaku, serta bertanggung jawab atas kualitas pekerjaan dan keselamatan tenaga kerja. Selain itu, dokumen ini juga mengatur tentang pengelolaan pekerjaan tambah/kurang dan penerapan kesehatan dan keselamatan kerja.

Diunggah oleh

Enik Ika
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan21 halaman

Syarat Pekerjaan Peningkatan Jalan Desa

Dokumen ini menjelaskan syarat-syarat umum untuk pekerjaan peningkatan jalan lingkungan di Desa Jambearjo, termasuk lingkup pekerjaan, dasar pelaksanaan, rencana kerja, serta tanggung jawab kontraktor. Kontraktor diwajibkan untuk mematuhi spesifikasi teknis dan peraturan yang berlaku, serta bertanggung jawab atas kualitas pekerjaan dan keselamatan tenaga kerja. Selain itu, dokumen ini juga mengatur tentang pengelolaan pekerjaan tambah/kurang dan penerapan kesehatan dan keselamatan kerja.

Diunggah oleh

Enik Ika
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

SYARAT – SYARAT UMUM

1. LINGKUP PEKERJAAN
Ruang lingkup pekerjaan yang dimaksud adalah Peningkatan Jalan Lingkungan
Permukiman Desa Jambearjo Kecamatan Tajinan Kabupaten Malang yang meliputi:
a. Pekerjaan Persiapan
b. Pekerjaan Jalan Beton
Pekerjaan harus dilaksanakan dengan penuh keahlian, dan sesuai dengan Spesifikasi
Teknis, Gambar Perencanaan, Berita Acara Penjelasan, Kerangka Acuan Kerja (KAK)
serta mengikuti petunjuk dan keputusan Pengawas lapangan dan Tim Teknis Kegiatan.

2. DASAR – DASAR PELAKSANAAN KERJA


a. Pekerjaan ini harus dilaksanakan berdasarkan:
a) Kontrak Kerja
b) Syarat – Syarat Teknis
c) Gambar perencanaan
d) Berita Acara Penjelasan Pekerjaan
e) Petunjuk dan Perintah Direksi/Pengawas Lapangan selama berlangsungnya
pelaksanaan pekerjaan.
b. Menurut ketentuan dan persyaratan sebagai berikut :
a) Peraturan
1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi
2) Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018 sebagaimana telah diubah
dengan Nomor 12 Tahun 2021 Tentang Tentang Perubahan atas Peraturan
Presiden Nomor 16 Tahun 2019 Tentang Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah
3) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Permen) No.
14 Tahun 2020 Tentang Standar dan Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi
melalui penyedia.
4) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 08 tahun
2023 Tentang Pedoman Penyusunan Perkiraan Biaya Pekerjaan Konstruksi
bidang Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

b) Standar Konstruksi
1) SNI 15-7064-2004 Standar Nasional Indonesia Semen portland
2) SNI 3976 1995 Tata cara pengadukan pengecoran beton
3) Petunjuk / Tata Cara Standard lainnya yang berhubungan dengan pekerjaan
ini

1
c) Peraturan yang berkaitan dengan Ketenagakerjaan dan Jaminan Perlindungan
dan Keselamatan Ketenagakerjaan yang dikeluarkan oleh kementerian
Ketenagakerjaan RI.
3. RENCANA DAN PELAKSANAAN KERJA
a. Selambat-lambatnya 1 (satu) minggu setelah tanggal penunjukan dan perintah
kerja pelaksanaan pekerjaan (SPMK), pihak Kontraktor harus sudah memulai
melaksanakan pembangunan fisik secara nyata di lapangan. Apabila setelah 1
(satu) minggu Kontraktor yang ditetapkan belum melaksanakan pembangunan fisik
secara nyata di lapangan, maka akan diberlakukan ketentuan yang telah dibuat
oleh PPK.
b. Pekerjaan harus dilaksanakan dengan penuh keahlian, sesuai dengan Kontrak,
syarat‐syarat teknis, gambar perencanaan, berita acara penjelasan, Kerangka
Acuan Kerja (KAK) serta mengikuti petunjuk dan keputusan Pengawas lapangan
dan Tim Teknis Kegiatan.
c. Sebelum mulai pelaksanaan pekerjaan di lapangan, Kontraktor wajib membuat
Rencana Kerja Pelaksanaan dari bagian-bagian pekerjaan berupa S-curve.
Rencana Kerja tersebut harus sudah mendapat persetujuan terlebih dahulu dari
Konsultan Pengawas, paling lambat dalam waktu 8 (delapan) hari kalender
setelah Surat Perintah Kerja (SPK) diterima oleh Kontraktor. Rencana Kerja yang
telah disetujui oleh Konsultan Pengawas akan disahkan oleh Pemberi Tugas /
PPK.
d. Kontraktor dalam melaksanakan pekerjaan pembangunan harus sesuai dengan
Rencana Kerja tersebut.
e. Konsultan Pengawas akan menilai prestasi pekerjaan Kontraktor berdasarkan
Rencana Kerja tersebut.
f. Dalam pekerjaan ini perhitungan 1 Bulan sama dengan 26 Hari Kerja

4. TENAGA DAN SARANA KERJA


Kontraktor harus menyediakan tenaga kerja ahli, bahan material, peralatan berikut
alat bantu lainnya untuk melaksanakan pekerjaan serta pengamanan, pengawasan
dan pemeliharaan terhadap bahan-bahan, alat-alat kerja maupun hasil pekerjaan
selama masa pelaksanaan berlangsung sehingga seluruh pekerjaan selesai dengan
sempurna sampai dengan diserah-terimakannya pekerjaan tersebut kepada pemberi
kerja.
a. Tenaga Kerja/Tenaga Ahli
Untuk melaksanakan pekerjaannya kontraktor harus menyediakan personel yang
memenuhi ketentuan, baik ditinjau dari segi lingkup kegiatan maupun tingkat
kompleksitas pekerjaan. Kualifikasi Tenaga Ahli yang dibutuhkan dalam
pelaksanaan pekerjaan Peningkatan Jalan Lingkungan Permukiman:

2
1. Sertifikasi Kompetensi Kerja (SKK) Pelaksana Lapangan Pekerjaan dengan
pendidikan minimal SLTA.
2. Sertifikasi Kompetensi Kerja (SKK) Petugas K3 Konstruksi Memiliki SMK3
dengan pendidikan Minimal SLTA.
b. Peralatan P ekerjaan
Peralatan yang memadai dan sesuai dengan jenis pekerjaan yang akan
dilaksanakan yang wajib disediakan (kondisi layak) untuk pekerjaan Peningkatan
Jalan Lingkungan Permukiman terdiri dari :
1. Gerobak Dorong
c. Pekerjaan Utama.

No Jenis Pekerjaan Utama

1. Perkerasan beton Fc’ 25 Mpa yang setara dengan K-300 untuk jalan
lingkungan dengan Ready Mixed

d. Bahan dan Material


Menyediakan bahan-bahan bangunan sedapat mungkin menggunakan produksi
dalam negeri dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) dalam jumlah yang cukup
untuk setiap jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan serta tepat pada waktunya.

5. TANGGUNG JAWAB KONTRAKTOR


a. Kontraktor harus bertanggung-jawab penuh atas kualitas pekerjaan sesuai dengan
ketentuan-ketentuan dalam Kontrak, Spesifikasi Teknis dan Gambar Kerja.
b. Kehadiran Konsultan Pengawas selaku wakil pemberi tugas untuk melihat,
mengawasi, menegur atau memberi nasehat tidak mengurangi tanggung jawab
penuh tersebut di atas.
c. Kontraktor bertanggung-jawab atas kerusakan lingkungan yang timbul akibat
pelaksanaan pekerjaan. Kontraktor berkewajiban memperbaiki kerusakan tersebut
dengan biaya Kontraktor sendiri.
d. Bilamana terjadi gangguan yang dapat mempengaruhi pelaksanaan pekerjaan,
maka Kontraktor berkewajiban memberikan saran-saran perbaikan kepada
Pemberi Tugas melalui Konsultan Pengawas. Apabila hal ini tidak dilakukan,
Kontraktor bertanggung jawab atas segala kerusakan yang timbul.
e. Kontraktor bertanggung jawab atas keselamatan tenaga kerja yang dikerahkan
dalam pelaksanaan pekerjaan.
f. Kontraktor berkewajiban memenuhi segala hal yang menyangkut jaminan sosial
dan keselamatan bagi petugas/pekerja di lapangan sesuai dengan peraturan
perundang undangan yang berlaku.
g. Segala biaya yang timbul akibat kelalaian Kontraktor dalam melaksanakan
pekerjaan menjadi tanggung jawab Kontraktor.

3
h. Selama pembangunan belangsung, Kontraktor harus menjaga keamanan
bahan/ material, barang milik proyek, milik Konsultan Pengawas dan milik Pihak
Ketiga yang ada di lapangan, maupun bangunan yang dilaksanakannya sampai
tahap serah terima. Bila terjadi kehilangan bahan-bahan bangunan yang telah
disetujui, baik yang telah dipasang maupun yang belum, adalah tanggung jawab
Kontraktor dan tidak akan diperhitungkan dalam biaya Pekerjaan Tambah.
i. Apabila terjadi kebakaran, Kontraktor bertanggung jawab atas akibatnya, baik
yang berupa barang-barang maupun keselamatan jiwa.
j. Apabila pekerjaan telah selesai, Kontraktor harus segera mengangkut bahan
bongkaran dan sisa-sisa bahan bangunan yang sudah tidak dipergunakan lagi
keluar lokasi pekerjaan. Segala pembiayaannya menjadi tanggung jawab
Kontraktor.

6. KUASA KONTRAKTOR DI LAPANGAN


a. Kontraktor wajib menunjuk seorang kuasa Kontraktor atau biasa disebut Manager
Pelaksana yang cakap untuk memimpin pelaksanaan pekerjaan di lapangan dan
mendapat kuasa penuh dari Kontraktor,
b. Dengan adanya Pelaksana proyek, tidak berarti bahwa Kontraktor lepas tanggung
jawab sebagian maupun keseluruhan terhadap kewajibannya.
c. Kontraktor wajib memberi tahu secara tertulis kepada Direksi/Pengawas
Lapangan/Tim Pengelola Teknis Kegiatan, nama dan jabatan Manager Pelaksana
untuk mendapatkan persetujuan.
d. Bila kemudian hari menurut pendapat Direksi/ PengawasLapangan/ Tim Pengelola
Teknis Kegiatan, Manager Pelaksana kurang mampu atau tidak cakap memimpin
pekerjaan, maka akan diberitahu kepada kontraktor secara tertulis untuk
menggantinya dengan personil yang memenuhi syarat.
e. Dalam waktu 7 (tujuh) hari setelah dikeluarkan Surat Pemberitahuan, kontraktor
harus sudah menunjuk Manager Pelaksana baru atau kontraktor sendiri
(penanggung jawab/ Direktur Perusahaan) yang akan memimpin pelaksanaan.

7. PENJELASAN SPESIFIKASI TEKNIS DAN GAMBAR


a. Bila gambar yang menyangkut spesifikasi tidak sesuai dengan spesifikasi teknis,
maka yang mengikat/berlaku adalah spesifikasi teknis.
b. Harus juga disadari bahwa revisi-revisi pada alignemen, lokasi seksi (bagian)
dan detail gambar mungkin akan dilakukan didalam waktu pelaksanaan kerja.
Kontraktor harus melaksanakan pekerjaan sesuai dengan maksud gambar dan
spesifikasinya, dan tidak boleh mencari keuntungan dari kesalahan atau kelalaian
dalam gambar atau dari ketidak-sesuaian antara gambar dan spesifikasinya.
Setiap deviasi dari karakter yang tidak dijelaskan dalam gambar dan spesifikasi

4
atau gambar kerja yang mungkin diperlukan oleh keadaan darurat konstruksi atau
lain-lainnya, akan ditentukan oleh Konsultan Pengawas dan disahkan secara
tertulis.
c. Konsultan Pengawas akan memberikan instruksi berkenaan dengan penafsiran
yang semestinya untuk memenuhi ketentuan gambar dan spesifikasinya.
Permukaan-permukaan pekerjaan yang sudah selesai harus sesuai dengan garis,
lapisan bagian dan ukuran yang tercantum dalam gambar, kecuali bila ada
ketentuan lain dari Konsultan Pengawas.
d. Bila ada keraguan mengenai ukuran, kontraktor wajib melaporkan secara tertulis
kepada Konsultan Pengawas yang selanjutnya akan memberikan keputusan
ukuran mana yang akan dipakai dan dijadikan pegangan.
e. Bila ukuran sudah tertera dalam gambar atau dapat dihitung, maka pengukuran
skala tidak boleh dipergunakan kecuali bila sudah disetujui oleh Konsultan
Pengawas. Setiap deviasi dari gambar karena kondisi lapangan yang tak
terduga akan ditentukan oleh Konsultan Pengawas dan disahkan secara tertulis.
Kontraktor tidak dibenarkan merubah atau mengganti ukuran- ukuran yang
tercantum di dalam Gambar Pelaksanaan tanpa sepengetahuan Konsultan
Pengawas/Direksi, dan segala akibat yang terjadi adalah tanggung jawab
Kontraktor/ Pemborong baik dari segi biaya maupun waktu.
f. Perbedaan Gambar.
1) Bila suatu gambar tidak cocok dengan gambar yang lain dalam satu disiplin
kerja, maka gambar yang mempunyai skala yang lebih besar yang mengikat
(berlaku).
2) Mengingat setiap kesalahan maupun ketidak-telitian di dalam pelaksanaan
satu bagian pekerjaan akan selalu mempengaruhi bagian pekerjaan lainnya,
maka didalam hal terdapat ketidak-jelasan, kesimpang-siuran, perbedaan-
perbedaan dan ataupun ketidak-sesuaian dan keragu-raguan diantara setiap
Gambar Kerja, Kontraktor diwajibkan melaporkan kepada Konsultan
Pengawas secara tertulis dan selanjutnya diadakan pertemuan dengan
Konsultan Pengawas/Direksi dan Konsultan Perencana, untuk mendapat
keputusan gambar mana yang akan dijadikan pegangan.
3) Ketentuan tersebut di atas tidak dapat dijadikan alasan oleh Kontraktor/
Pemborong untuk memperpanjang/meng-“klaim” biaya maupun waktu
pelaksanaan.

g. Shop Drawing.
1) Shop drawing merupakan gambar detail pelaksanaan di lapangan yang harus
dibuat oleh Kontraktor berdasarkan gambar dokumen kontrak yang telah
disesuaikan dengan keadaan lapangan.

5
2) Kontraktor wajib membuat shop drawing untuk detail khusus yang belum
tercakup lengkap dalam Gambar Kerja/Dokumen Kontrak maupun yang
diminta oleh Konsultan Pengawas.
3) Dalam shop drawing ini harus jelas dicantumkan dan digambarkan semua
data yang diperlukan, keterangan produk, cara pemasangan dan atau
spesifikasi/persyaratan khusus sesuai dengan spesifikasi pabrik yang belum
tercakup secara lengkap di dalam Gambar Kerja/Dokumen Kontrak maupun di
dalam Spesifikasi Teknis.
4) Kontraktor wajib mengajukan shop drawing tersebut kepada Konsultan
Pengawas untuk mendapat persetujuan tertulis dari Konsultan
Pengawas/Direksi.
5) Semua gambar yang dipersiapkan oleh Kontraktor dan diajukan kepada
Konsultan Pengawas untuk diminta persetujuannya harus sesuai dengan
format standar dari proyek.
h. Perubahan, Penambahan, Pengurangan Pekerjaan dan Pembuatan “As Built
Drawing“.
1) Tata cara pelaksanaan dan penilaian perubahan, penambahan dan
pengurangan pekerjaan disesuaikan dengan Dokumen Kontrak.
2) Setelah pekerjaan selesai dan diserah-terimakan, Kontraktor berkewajiban
membuat gambar-gambar yang memuat seluruh perubahan, dan sesuai
dengan kenyataan yang telah dikerjakan/dibangun oleh Kontraktor ( As Built
Drawing ).
3) Biaya untuk penggambaran “As Built Drawing”, sepenuhnya menjadi
tanggungan Kontraktor.

8. PEKERJAAN TAMBAH / KURANG


a. Tugas mengerjakan pekerjaan tambah/kurang diberitahukan dengan tertulis dalam
buku harian oleh Direksi/Pengawas Lapangan/Tim Pengelola Teknis Kegiatan
serta persetujuan Pemberi Tugas.
b. Pekerjaan tambah/kurang hanya berlaku bila memang nyata‐nyata ada perintah
tertulis dari Direksi/Pengawas Lapangan/TimPengelola Teknis Kegiatan atas
persetujuan Pemberi Tugas.
c. Biaya pekerjaan tambah / kurang akan diperhitungkan menurut daftar harga
satuan pekerjaan, yang dimaksudkan oleh Kontraktor yang pembayarannya
diperhitungkan bersama‐sama angsuran terakhir.
d. Untuk pekerjaan tambah yang harga satuannya tidak tercantum dalam harga
satuan yang dimasukkan dalam penawaran, harga satuannya akan ditentukan
lebih lanjut oleh Direksi/Pengawas Lapangan/Tim PengelolaTeknis Kegiatan
bersama‐sama Kontraktor dengan persetujuan Pemberi Tugas.

6
e. Adanya Pekerjaan Tambah tidak dapat dijadikan alasan sebagai penyebab
kelambatan penyerahan pekerjaan, tetapi Direksi/Pengawas Lapangan/Tim
Pengelola Teknis Kegiatan dapat mempertimbangkan perpanjangan waktu
karena adanya pekerjaan tambah tersebut

9. KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (K3)


Penerapan prinsip K3 di proyek sangat perlu diperhatikan dalam pekerjaan konstruksi.
Pelaksana konstruksi harus mengetahui dan menerapkan prinsip-prinsip kerja sesuai
ketentuan K3 di lingkungan proyek.
Dokumen Rencana Keselamatan Konstruksi (RKK) memuat:
a. Elemen SMKK, meliputi :
1) Kepemimpinan dan partisipasi pekerja dalam keselamatan konstruksi;
2) Perencanaan Keselamatan Konstruksi:
a) Uraian pekerjaan;
b) Manajemen risiko dan rencana tindakan meliputi:
- penjelasan manajemen risiko meliputi mengidentifikasi bahaya, menilai
tingkat risiko, dan mengendalikan risiko;
- penjelasan rencana tindakan meliputi sasaran khusus dan program
khusus;
3) Dukungan Keselamatan konstruksi;
4) Operasi Keselamatan Konstruksi;
5) Evaluasi Kinerja Keselamatan Konstruksi.
b. Pakta komitmen yang ditandatangani oleh pimpinan tertinggi perusahaan penyedia
jasa.
Pernyataan komitmen Keselamatan Konstruksi Memenuhi ketentuan Keselamatan
Konstruksi;
1. Memenuhi ketentuan Keselamatan Konstruksi;
2. Menggunakan tenaga kerja kompeten bersertifikat;
3. Menggunakan peralatan yang memenuhi standar kelaikan;
4. Menggunakan material yang memenuhi standar mutu;
5. Menggunakan teknologi yang memenuhi standar kelaikan;
6. Melaksanakan Standar Operasi dan Prosedur (SOP); dan
7. Memenuhi 9 ( Sembilan ) komponen biaya penerapan SMKK.

RENCANA KESELAMATAN KONSTRUKSI (RKK)


Peningkatan Jalan Lingkungan Permukiman

JENIS / TYPE IDENTIFIKASI JENIS KEKERAPAN DAN RESIKO


NO.
PEKERJAAN BAHAYA & RESIKO K3 KEPARAHAN KESELAMATAN

7
1. Terpukul alat pemukul

1 - Persiapan 2. Tertusuk Paku


2 Kecil
3. Terpeleset

1. Tertimpah material beton


2. Terluka akibat kena
2 - Pekerjaan Beton 3 Kecil
percikan beton
3. Iritasi pada kulit oleh
semen

10. LAPORAN
a. Pelaksana lapangan setiap hari harus membuat Laporan Harian mengenai segala
hal yang berhubungan dengan pelaksanaan pembangunan/pekerjaan, baik bersifat
teknis maupun administratif.
b. Dalam pembuatan laporan tersebut, pihak Kontraktor harus memberikan data-data
yang diperlukan menurut data dan keadaan sebenarnya.
c. Laporan Mingguan dan Laporan Bulanan secara rutin dibuat oleh Kontraktor/
Pemborong
d. Laporan-laporan tersebut di atas setiap minggu dan bulannya, harus diserahkan
kepada Pemimpin Proyek untuk bahan monitoring pekerjaan.

11. PEMERIKSAAN BAHAN-BAHAN


a. Bahan-bahan yang didatangkan/ dipakai harus sesuai dengan contoh-contoh
yang telah disetujui Konsultan Pengawas/Direksi
b. Bahan-bahan yang tidak memenuhi syarat-syarat atau kualitas jelek yang
dinyatakan afkir/ditolak oleh Konsultan Pengawas, harus segera dikeluarkan dari
lokasi bangunan/ proyek selambat-lambatnya dalam tempo 2 x 24 jam dan tidak
boleh dipergunakan.
c. Apabila sesudah bahan-bahan tersebut dinyatakan ditolak oleh Konsultan
Pengawas dan ternyata masih dipergunakan oleh Pelaksana, maka Konsultan
Pengawas/berhak memerintahkan pembongkaran kembali kepada Kontraktor,
yang mana segala kerugian yang diakibatkan oleh pembongkaran tersebut menjadi
tanggungan Kontraktor sepenuhnya.
d. Jika terdapat perselisihan dalam pelaksanaan tentang pemeriksaan kualitas dari
bahan-bahan tersebut, maka Kontraktor harus menguji dan memeriksakannya ke
laboratorium Balai Penelitian Bahan pemerintah untuk diuji dan hasil pengujian
tersebut disampaikan secara tertulis kepada Konsultan Pengawas/Direksi. Segala
biaya pemeriksaan ditanggung oleh Kontraktor.

8
e. Sebelum ada kepastian dari laboratorium di atas tentang baik atau tidaknya
kualitas dari bahan-bahan tersebut, Pelaksana tidak diperkenankan melanjutkan
pekerjaan - pekerjaan yang menggunakan bahan-bahan tersebut di atas.
f. Bila diminta oleh Konsultan Pengawas, Kontraktor harus memberikan penjelasan
lengkap tertulis mengenai tempat asal diperolehnya material dan tempat pekerjaan
yang akan dilaksanakan.

12. PEMERIKSAAN HASIL PEKERJAAN


a. Ijin Memasuki Tempat Kerja.
1) Pekerjaan atau bagian pekerjaan yang telah dilaksanakan Kontraktor, tetapi
karena bahan/material ataupun komponen jadi maupun mutu pekerjaannya
sendiri ditolak oleh Konsultan Pengawas/ Direksi, harus segera dihentikan dan
selanjutnya dibongkar atas biaya Kontraktor dalam waktu yang ditetapkan oleh
Konsultan Pengawas /Direksi.
2) Tidak ada pekerjaan yang boleh ditutupi atau menjadi tidak terlihat sebelum
mendapatkan persetujuan Konsultan Pengawas, dan Kontraktor harus
memberikan kesempatan sepenuhnya kepada Petugas/ Ahli dari Konsultan
Pengawas untuk memeriksa dan mengukur pekerjaan yang akan ditutup dan
tidak terlihat.
3) Kontraktor harus melaporkan kepada Konsultan Pengawas kapan setiap
pekerjaan sudah siap atau diperkirakan akan siap diperiksa dan Konsultan
Pengawas tidak boleh menunda waktu pemeriksaan, kecuali apabila
Konsultan Pengawas memberikan petunjuk tertulis kepada Kontraktor apa
yang harus dilakukan.
4) Bila permohonan pemeriksaan pekerjaan itu dalam waktu 2 x 24 jam (dihitung
dari waktu diterimanya Surat Permohonan Pemeriksaan, tidak terhitung hari
libur/hari raya) tidak dipenuhi/ditanggapi oleh Konsultan Pengawas, maka
Kontraktor dapat meneruskan pekerjaannya dan bagian yang seharusnya
diperiksa dianggap telah disetujui oleh Konsultan Pengawas/Direksi.
5) Bila Kontraktor melalaikan perintah, Konsultan Pengawas/ Direksi berhak
menyuruh membongkar bagian pekerjaan sebagian atau seluruhnya untuk
diperbaiki.
6) Biaya pembongkaran dan pemasangan/perbaikan kembali menjadi
tanggungan Kontraktor, tidak dapat di-klaim sebagai biaya pekerjaan tambah
maupun alasan untuk perpanjangan waktu pelaksanaan.
b. Kemajuan Pekerjaan
1) Seluruh bahan, peralatan konstruksi dan tenaga kerja yang harus disediakan
oleh Kontraktor demikian pula metode /cara pelaksanaan pekerjaan harus
diselenggarakan sedemikian rupa, sehingga diterima oleh Konsultan
Pengawas.
9
2) Apabila laju kemajuan pekerjaan atau bagian pekerjaan pada suatu waktu
menurut penilaian Konsultan Pengawas telah terlambat, untuk menjamin
penyelesaian pada waktu yang telah ditentukan atau pada waktu yang
diperpanjang, maka Konsultan Pengawas harus memberikan petunjuk secara
tertulis langkah-langkah yang perlu diambil guna melancarkan laju pekerjaan
sehingga pekerjaan dapat diselesaikan pada waktu yang telah ditentukan.

c. Perintah Untuk Pelaksanaan.


Bila Kontraktor atau petugas lapangannya tidak berada di tempat kerja dimana
Konsultan Pengawas bermaksud untu memberikan petunjuk atau perintah, maka
petunjuk atau perintah itu harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh semua petugas
pelaksana atau petugas yang ditunjuk oleh Kontraktor untuk menangani
pekerjaan itu.

10
BAB II
SYARAT - SYARAT TEKNIS

1. PEKERJAAN PERSIAPAN
Pekerjaan persiapan merupakan persiapan awal yang wajib dilakukan dalam
melaksanakan suatu proyek. Pada tahap ini, segala izin yang dibutuhkan untuk proses
pembangunan telah diurus serta segala sesuatu yang menyangkut kelancaran
pekerjaan pelaksanaan harus telah disiapkan di lokasi sebelum melaksanakan
pekerjaan. Penyusunan jadwal terinci, mobilisasi peralatan dan tenaga kerja, hingga
kelengkapan administrasi lapangan harus sudah disiapkan sebelum memulai
pekerjaan.
Kontraktor juga harus mempertimbangkan situasi lapangan sebagai berikut:
- Volume pekerjaan yang merujuk pada batasan minimal yang wajib terpenuhi,
hal ini agar proyek tidak menyimpang dari perencanaan.
Agar tidak terjadi kesalahan dalam pelaksanaan proyek, kontraktor juga wajib
melakukan pengukuran yang sesuai dengan target dan estimasi waktu serta biaya
proyek.
Pada tahap ini, kontraktor bertanggung jawab atas ketepatan ukuran dan mutu
bangunan yang sesuai dengan syarat dan rencana kerja. Akan tetapi, jika terjadi
ketidakcocokan, kontraktor tidak diperkenankan untuk melakukan tindakan pembetulan
sebelum mendapatkan persetujuan dari manajemen konstruksi.
Selanjutnya,
a. Lingkup Pekerjaan
1) Pengukuran dan Penandaan
2) Pasang Papan Nama Kegiatan
b. Syarat – Syarat Pekerjaan
1) Sebelum pekerjaan pengukuran dilakukan perlu diambil langkah pembersihan
yang mana kontraktor wajib membersihkan lokasi proyek dari hal-hal yang dapat
menghambat proses pembangunan. Contohnya, lokasi harus bersih dari
pepohonan sampai ke akarnya agar tidak merusak struktur tanah pada
bangunan.
2) Pekerjaan uitzet dilaksanakan bersama – sama antara direksi, Perencana dan
Penyedia Barang/Jasa, Pengelola Teknik Kegiatan serta Pengawas Lapangan.

11
3) Kontraktor bertanggung jawab atas ketepatan pengukuran, apabila terjadi
ketidakcocokan, kontraktor tidak diperkenankan untuk melakukan tindakan
pembetulan sebelum mendapatkan persetujuan dari manajemen konstruksi.
4) Pasang Papan nama kegiatan.

2. PEKERJAAN URUGAN PASIR


Tahap ini meliputi pengurugan pasir bawah jalan beton. Dalam tahap ini, terdapat
beberapa ketentuan yang wajib di penuhi kontraktor seperti:
- Dilakukan pengurugan yang meliputi urugan pasir dan disesuaikan dengan
gambar rencana.
- Ketebalan urugan pasir dalam gambar rencana adalah urugan yang sudah padat.
a. Lingkup Pekerjaan
1) Pekerjaan Urugan meliputi:
- Urugan pasir bawah jalan beton, dengan jenis pasir sesuai dengan gambar
kerja
- Dan lain– lain yang tercantum dalam Gambar Kerja.
b. Syarat – Syarat Pekerjaan
1) Pek. Urugan pasir
- Ketebalan urugan pasir dibuat sesuai gambar dan disetujui Direksi Lapangan
atau Pengawas Lapangan.
- Untuk mencapai kepadatan, urugan pasir harus disiram dengan air
secukupnya

3. PEKERJAAN PASANG PLASTIK ALAS BETON


Pekerjaan pasang plastik beton merupakan salah satu bagian pekerjaan perkerasan
jalan beton yang memerlukan perhatian yang serius dari Kontraktor dan Direksi dalam
setiap proses dan keputusan yang diambil.
Plastik Cor atau Polytene memiliki kegunaan yang penting untuk aplikasi pelapis lantai
di atas tanah / slab on ground. Plastik cor dapat dibeli di toko bangunan, upayakan pla
tik memiliki ketebalan yang cukup yakni 125 micron agar tidak mudah robek bila terinja
k-injak pada saat pengecoran Beton

Fungsi plastik adalah untuk menjaga agar permukaan dasar beton tidak langsung berh
ubungan dengan tanah/ pasir urug yang memiliki kelembaban. Sehingga kemungkinan
air / uap air masuk ke dalam pori-pori beton menjadi lebih kecil, dan juga air semen tid
ak mudah menyerap ke lapisan tanah dibawahnya sehingga kadar air pada adukan be

12
ton dapat terjaga dengan baik dan proses pengeringannya pun dapat terjaga sehingga
beton tdak mudah cepat kering.

Langkah Pekerjaan
a. Setelah Pekerjaan penghamparan pasir urug dilaksanakan dengan baik dan
rata sepanjang jalan maka pekerjaan selanjutnya pemasangan plastic/ polytene
125 micron
b. Plastik dipasang selebar jalan dan sepanjang jalan beton yang akan
dilaksanakan.
c. Dipasang secara bertahap sesuai jumlah Panjang beton atau volume beton
yang akan di cor agar pemasangan plastik tidak mudah rusak akibat terlalu
lama menunggu proses pengecoran.
d. Pemasangan Plastik dengan overlap 30 cm – 50 cm bila plastic yang ada tidak
memenuhi lebar jalan secara langsung karena lebar plastic dipasaran biasanya
1 – 1,50 m

4. PEKERJAAN BETON
Pekerjaan beton merupakan salah satu bagian pekerjaan yang memerlukan perhatian
yang serius dari Kontraktor dan Direksi dalam setiap proses dan keputusan yang
diambil.
a. Lingkup Pekerjaan
1. Pekerjaan Jalan Beton menggunakan Ready Mixed disertai dengan tiket dari
batching plant (untuk syarat pencairan) atau Site Mixed bergantung pada
Perencana yang tertuang di dalam RAB serta keadaan lapangan yang tidak
memungkinkan dengan Ready Mixed
2. Pekerjaan beton yang dilakukan adalah pembuatan jalan beton dan lain –
lain tercantum dalam gambar kerja.
3. Semua pekerjaan beton yang dilakukan harus disertai test beton di lapangan
yang hasilnya langsung dapat diperoleh, serta test beton di laboratorium
yang dilakukan di lembaga di luar proyek dengan biaya test ditanggung oleh
Kontraktor (untuk syarat berita acara serah terima 1)
4. Bagian-bagian pekerjaan yang dilakukan sebelum, sedang dan sesudah
pengecoran yaitu:
- Persiapan Pengecoran
- Adukan
- Pengecoran
- Pembongkaran begesting
- Pemeliharaan/Perawatan
b. Syarat – Syarat Pekerjaan

13
1) Persyaratan umum
a) Konstruksi bangunan dengan bahan struktur beton struktur harus
menggunakan peraturan peraturan/normalisasi yang berlaku di Indonesia
seperti PBI’71 (Peraturan Beton Indonesia tahun 1971) dan atau SK SNI T–
15–1991-03, PMI (Peraturan Muatan Indonesia), dan lain-lain.
b) Semua pekerjaan beton harus memenuhi syarat-syarat yang ada pada:
- Syarat-syarat bahan untuk semua pekerjaan beton SK SNI T-15-1991-
03 pasal 3.1 sampai 3.9.
- Syarat pelaksanaan pekerjaan beton SK SNI T-15-1991-03 bagian 3
bab 4,5,6 berlaku seluruh pasal.
- Syarat-syarat pekerjaan tulangan SK SNI T-15-1991-03 bab 5 pasal 5.3
sampai 5.8.
- Perhitungan untuk pekerjaan beton struktur berdasarkan SK SNI T-15-
1991-03.
c) Kualitas campuran beton harus memenuhi syarat dengan campuran beton
(sesuai yang ada dalam BOQ)
d) Setiap sambungan beton lama dan baru ditambahkan bahan additive beton.
e) Semua ukuran, dimensi beton yang ada dan tertulis dalam gambar
kerja, adalah ukuran dan dimensi beton konstruksi tidak dan belum
termasuk plesteran/finishingnya.
f) Komposisi
- Komposisi beton untuk semua struktur bangunan harus ditentukan
sedemikian rupa sehingga mencapai kekuatan silinder 28 (dua puluh
delapan) hari sebesar fc’ 25 MPa.
- Untuk beton harus diadakan uji laboratorium dan hasil uji harus
memenuhi mutu beton yang disyaratkan.
- Percobaan Pendahuluan.
Pada bagian beton dimana tidak memungkinkan menggunakan adukan
Ready Mix, Penyedia Jasa harus melakukan pendahuluan dengan
tujuan untuk mencapai kualitas beton yang ditentukan. Mutu beton
tersebut harus dibuktikan oleh Penyedia Jasa dengan percobaan
hancur silinder beton (ukuran 15 x 30 cm) dari Laboratorium
penyelidikan bahan-bahan bangunan yang diakui oleh Pemerintah dan
seluruh biayanya ditanggung oleh Penyedia Jasa. Banyaknya
pengambilan silinder percobaan ialah minimum 4 buah silinder. Benda
uji diperiksa 7 (tujuh) hari, 14 (empat belas) hari, 21 (dua puluh satu)
hari dan 28 (dua puluh delapan) hari untuk setiap beton yang diambil
contohnya. Hasil dari Laboratorium harus segera diserahkan kepada
Direksi Lapangan/ Pengawas Lapangan.

14
g. Masa Pelaksanaan.
Selama masa pelaksanaan, mutu beton harus diperiksa secara kontinyu
dari hasil – hasil pemeriksaan benda uji.
2) Persyaratan Pelaksanaan Pekerjaan
Langkah pelaksanaan pekerjaan beton terdiri dari kegiatan penyiapan adukan,
pemasangan tulangan, persiapan pengecoran atau pemasangan begesting,
pelaksanaan pengecoran, perawatan atau pemeliharaan beton, pembongkaran
begesting dan pelaksanaan uji laboratorium. Sebelum pelaksanaan pekerjaan
beton, Kontraktor harus meneliti gambar gambar kerja penulangan beton.
Apabila terjadi keragu-raguan segera menanyakan dan meminta jawaban
Direksi sebelum memulai pelaksanaan pekerjaan.
a) Adukan
- Adukan beton untuk konstruksi beton struktur digunakan perkerasan
jalan beton dengan mutu f’c 25 MPa ( sesuai yang ada dalam BOQ ).
b) Persiapan Pengecoran
- Kontraktor harus membuat kotak takaran untuk adukan beton.
- Untuk Begisting menggunakan Multiplek 12 mm dan Kayu kelas III
sebagai pengaku
- Semua Begisting dibersihkan dari segala kotoran.
- Begisting harus datar dan tegak lurus, kedudukan dan bentuknya tetap
tidak bergeser maupun bergerak pada waktu dan setelah pengecoran
tetapi mudah dibongkar.
- Sebelum dilakukan pengecoran, jalan harus dipasang plastik atau
Polytene 125 micron sepanjang jalan dan lebar yang akan dicor
- Bekesting menggunakan kayu Kelas III dan harus dipasang dengan
perkuatan - perkuatan sehingga menjamin ukuran -ukuran dan jarak -
jarak tidak berubah selama diadakan pengecoran.
- Bekesting sebelum dilaksanakan pengecoran beton, harus dibersihkan
dari berbagai bentuk kotoran.
e) Pengecoran
- Pengecoran beton harus seijin tertulis dan sepengetahuan Direksi.
- Beton harus dicor dengan ketebalan sedemikian rupa sehingga pekerjaan
pemindahan (menggeser campuran beton segar secara manual) sedapat
mungkin dihindari. Kecuali truk pencampur, truk pengaduk, atau alat angkutan
lainnya yang dilengkapi dengan alat penumpah beton tanpa menimbulkan
segregasi bahan, beton harus dituangkan ke dalam alat penghampar dan
dihamparkan secara mekanis sedemikian rupa untuk mencegah segregasi.
Penghamparan harus dilakukan secara menerus di antara sambungan
melintang tanpa sekatan sementara. Penghamparan secara manual diperlukan
harus dilakukan dengan memakai sekop bukan perlengkapan perata (rakes).
15
Tenaga kerja tidak boleh menginjak hamparan beton yang masih baru dengan
memakai sepatu yang dilekati oleh tanah atau kotoran lainnya
- Beton harus dipadatkan secara merata pada tepi dan sepanjang acuan,
sepanjang dan pada kedua sisi setiap sambungan, dengan menggunakan
vibrator yang dimasukkan ke dalam beton. Vibrator tidak boleh menyentuh
langsung perlengkapan sambungan atau sisi acuan. Vibrator tidak boleh
digunakan lebih dari 5 detik pada setiap tempat
- Beton harus dituangkan sedekat mungkin dengan sambungan ekspansi dan
sambungan kontraksi tanpa merusaknya, tetapi tidak dituangkan langsung dari
corong curah atau penampung (hopper) ke arah perlengkapan sambungan
kecuali jika penampung (hopper) tersebut telah ditempatkan sedemikian rupa
sehingga penumpahan beton tidak menggeser posisi sambungan.

- Ceceran beton yang tertumpah pada permukaan beton yang telah selesai
dihampar harus disingkirkan dengan cara yang disetujui.

f) Pembongkaran Begisting
- Kecuali bila ditentukan lain, acuan/ begesting tidak boleh dibongkar dari beton
yang baru dicor sebelum mencapai waktu paling sedikit 12 jam. Acuan harus
dibongkar dengan hati- hati agar tidak rusak perkerasan beton. Setelah acuan
dibongkar, bagian sisi perkerasan beton harus dirawat (curing)
- Pembongkaran semua Begisting/ begisting harus sesuai dengan
ketentuan – ketentuan yang berlaku, serta seijin dan sepengetahuan
Pengawas Lapangan.
- Pembongkaran harus dilakukan dengan cara sedemikian rupa hingga
menjamin seluruhnya keamanan beton yang telah dicor.
- Begisting beton dapat dibongkar dengan persetujuan tertulis dari
pengawas, atau jika telah melampaui waktu yang telah ditentukan.
g) Pemeliharaan
- Upaya perawatan beton dilakukan selama proses pengerasan.
- Selama proses pengerasan, beton tiap hari harus disiram dengan cukup
air (curing), selama minimum 1 (satu) minggu berturut-turut.
h) Finishing
- Permukaan jalan beton harus di grooving atau alur melintang jalan.
- Permukaan jalan beton harus diberi joint sealant atau di cutting
melintang jalan dengan jarak per 5,00 m dengan kedalaman 5 cm atau
sesuai dengan gambar rencana dengan alat potong beton kemudian
diisi sealant
- Penggergajian untuk membentuk sambungan harus dilakukan sesegera
mungkin setelah beton cukup keras agar pengergajian dapat dilakukan
dengan hasil yang rapih tanpa menimbulkan keretakan, dan umumnya
tidak kurang dari 4 jam tetapi dalam segala hal tidak lebih dari waktu
16
pengikatan akhir yang diuji sesuai SNI ASTM C403/C403M:2012
(umumnya sekitar 10 jam tergantung bahan-bahan yang digunakan
dalam campuran beton, jenis semen, bahan tambah dan sebagainya)
setelah pemadatan akhir beton, diambil mana yang lebih pendek
waktunya. Semua sambungan harus dibentuk dengan pemotongan
sebelum terjadi retak susut yang tidak terkendali. Bila perlu, kegiatan
penggergajian harus dilakukan siang dan malam dalam cuaca apapun.
Penggergajian untuk membentuk sambungan harus ditangguhkan
bilamana keretakan terjadi pada atau dekat lokasi gergajian pada saat
sebelum digergaji. Penggergajian untuk

membentuk sambungan tidak boleh dilanjutkan bilamana keretakan


meluas di depan gergaji. Bilamana terjadi kondisi ekstrim sedemikian
hingga tidaklah praktis untuk mencegah keretakan dengan
penggergajian yang lebih dini, alur sambungan kontraksi harus dibuat
sebelum beton mencapai pengerasan tahap awal sebagaimana
disebutkan di atas. Secara umum, setiap sambungan harus harus
dibentuk dengan penggergajian yang berurutan dan teratur.

- Bahan penutup (joint sealer) yang digunakan pada setiap sambungan


harus memenuhi detail yang ditunjukan dalam Gambar atau
sebagaimana yang diperintahkan Pengawas Pekerjaan.

- Bahan penutup yang digunakan secara panas harus diaduk selama


pemanasan untuk mencegah terjadinya pemanasan setempat yang
berlebihan. Penuangan harus dilakukan sedemikian hingga bahan
penutup tersebut tidak tumpah pada permukaan beton yang terekspos.
Setiap kelebihan bahan penutup pada permukaan beton harus segera
disingkirkan dan permukaan perkerasan dibersihkan. Penggunaan pasir
atau bahan lain sebagai bahan peresap terhadap bahan penutup ini
tidak diperkenankan.

- Apabila terjadi kerusakan permukaan jalan beton kontraktor wajib


memperbaiki (grouting) dengan mutu yang sama atau lebih tinggi.

17
BAB III
SYARAT – SYARAT BAHAN DAN MATERIAL

Sepanjang tidak ada ketetapan lain dalam Rencana Kerja dan Syarat-syarat
(RKS) ini maupun dalam Berita Acara Penjelasan Pekerjaan, bahan-bahan yang akan
dipergunakan maupun syarat-syarat pelaksanaan harus memenuhi Persyaratan Umum
Bahan Bangunan Indonesia (PUBI Tahun 1982), Standar Industri Indonesia (SII) untuk
bahan termaksud, serta ketentuan-ketentuan dan syarat bahan-bahan lainnya yang
berlaku di Indonesia.
Seluruh barang material yang dibutuhkan dalam menyelesaikan pekerjaan, seperti
material, peralatan dan alat lainnya, harus dalam kondisi baru dan dengan kualitas terbaik
untuk tujuan yang dimaksudkan.
I. PERSYARATAN UMUM
a. Merk pembuatan bahan/material & komponen jadi.
1) Kecuali bila ditentukan lain dalam Dokumen Kontrak, semua merk pembuatan
atau merk dagang dalam Rencana Kerja dan Syarat-syarat Teknis ini
dimaksudkan sebagai penentu standar atau kualitas.
2) Setiap keterangan mengenai peralatan, material barang atau proses, dalam
bentuk nama dagang, buatan atau nomor katalog harus dianggap sebagai
penentu standar atau kualitas dan tidak boleh ditafsirkan sebagai upaya
membatasi persaingan, dan Kontraktor harus dengan sendirinya menggunakan
peralatan, material, barang atau proses, yang atas penilaian Konsultan
Pengawas dan Konsultan Perencana, sesuai dengan keterangan itu. Seluruh
material paten itu harus dipergunakan sesuai dengan instruksi pabrik yang
membuatnya.
3) Bahan/material dan komponen jadi yang dipasang/dipakai, harus sesuai
dengan yang tercantum dalam Gambar Kerja dan RKS, memenuhi standar
spesifikasi bahan tersebut, mengikuti peraturan persyaratan bahan bangunan
yang berlaku.
4) Apabila dianggap perlu, Konsultan Pengawas berhak untuk menunjuk tenaga
ahli yang diajukan/ditunjuk oleh pabrik dan atau supplier yang bersangkutan
tersebut sebagai Pelaksana. Dalam hal ini, Kontraktor/ Pemborong tidak
berhak mengajukan klaim sebagai pekerjaan tambah.
5) Disyaratkan dalam satu merk pembuatan atau merk dagang hanya
diperkenankan untuk setiap jenis bahan yang boleh dipakai dalam
pekerjaan ini.
b. Kontraktor terlebih dahulu harus memberikan contoh-contoh semua bahan-bahan
yang diperlukan untuk bangunan tersebut kepada Konsultan Pengawas/Direksi
18
untuk mendapatkan persetujuan secara tertulis sebelum semua bahan-bahan
tersebut didatangkan/dipakai. Contoh bahan tersebut yang harus diserahkan
kepada Konsultan Pengawas/Direksi untuk menetapkan “standard of appearance”
dan disimpan di ruang Direksi. Paling lambat waktu penyerahan contoh bahan
adalah 2 (dua) minggu sebelum jadwal pelaksanaan.
c. Keputusan bahan, jenis, warna, tekstur dan produk yang dipilih, akan di-
informasikan kepada Kontraktor selama tidak lebih dari 7 (tujuh) hari kalender
setelah penyerahan contoh bahan tersebut.
d. Penyimpanan Material
Penyimpanan dan pemeliharaan bahan harus sesuai persyaratan pabrik yang
bersangkutan dan atau sesuai dengan spesifikasi bahan tersebut.
1) Penempatan bahan-bahan material diatur dengan pertimbangan yang matang
agar tidak mengganggu kelancaran pekerjaan serta sirkulasi/akses pekerja.
Bahan material disusun dengan metoda yang baikdengan cara FIFO (first in
first out), sehingga tidak ada bahan material yang tersimpan terlalu lama dalam
gudang/stock material.
2) Material harus disimpan sedemikian rupa untuk menjaga kualitas dan
kesesuaian untuk pekerjaan. Material harus diletakkan di atas permukaan
yang bersih, keras dan bila diminta harus ditutupi. Material harus disimpan
sedemikian rupa agar memudahkan pemeriksaan. Benda-benda milik pribadi
tidak boleh dipergunakan untuk penyimpanan tanpa ijin tertulis dari pemiliknya.

II. PERSYARATAN BAHAN DAN MATERIAL


Syarat-syarat jenis bahan dan material utama yang dipakai antara lain adalah:
a. MATERIAL
1) Air.
- Untuk pembangunan ini, air yang dipergunakan haruslah air tawar
yang bersih dan bebas dari mineral zat organik, bebas lumpur, minyak,
asam alkali, dan bahan kimia lainnya yang merusak mutu beton.
- Jika dari sumber air yang ada tidak mencukupi, maka Penyedia Jasa
harus mengadakan sumber air sendiri yang memenuhi syarat.
2) Pasir Beton
- Pasir juga harus memenuhi syarat mutu dari PBI 1971 diantaranya adalah
dapat berupa pasir buatan dari pecahan batu atau pasir alam, memiliki
gradasi yang baik, terdiri dari butir-butir tajam, tidak berpori, serta tidak
mengandung lumpur lebih dari 5%.
- Pasir yang digunakan harus bersih, bebas kotoran, bahan lumpur dan
bahan organik lain.

19
- Pasir untuk spesi pasangan dan plesteran, harus seluruhnya dapat melalui
saringan dengan lubang-lubang persegi 3 mm.
- Pasir yang digunakan berasal dari Lumajang

3) Batu pecah 2/3


- Batu pecah yang digunakan dengan gradasi 2-3 cm, bersih dari bahan
organik atau kotoran lain.
- Agregat kasar kerikil dapat berupa kerikil alam atau berupa batu pecah yang
diperoleh dari pemecahan batu dan terdiri dari butir-butir yang keras, tidak
berpori dan beraneka ragam besarnya.
- Agregat kasar tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1% berat kering,
dan tidak boleh mengandung zat-zat yang dapat merusak beton, zat-zat
yang reaktif alkali.
- Batu pecah yang digunakan berasal dari Lumajang
4) Portland Cement (PC)
- Semen menggunakan semen sekualitas produk Nusantara yang
memenuhi persyaratan Standart Normalisasi Indonesia (NI. 8) dalam
Peraturan Portland Cement Indonesia NI-8.
- Semua semen yang dipakai harus dalam satu merek yang sama untuk
suatu konstruksi/struktur yang sama.
- Semen yang sudah mulai mengeras ditempat pekerjaan tidak boleh
digunakan.
- Kantong pembungkus tidak boleh rusak jahitannya sebelum sampai ke
tempat lokasi pekerjaan.
- Semen harus terlindung dari kelembaban atau keadaan cuaca lain yang
merusak.
- Mutu semen yang memenuhi syarat yang dipakai harus memenuhi SNI
dan memenuhi persyaratan NI-8 serta mendapatkan persetujuan dari
PPKOM.
5) Begisting
- Kayu begisting yang digunakan adalah kayu kelas II. Bekesting harus
dipasang dengan perkuatan - perkuatan sehingga menjamin ukuran -
ukuran dan jarak - jarak tidak berubah selama diadakan pengecoran.
- Bekesting sebelum dilaksanakan pengecoran beton, harus dibersihkan dari
berbagai bentuk kotoran dan dilapisi dengan minyak begisting
6) Lain – lain

20
- Semua bahan – bahan dan perlengkapan yang akan diperoleh atau
dipasang pada pekerjaan ini, sebelum dipergunakan harus telah diperiksa
dan disetujui oleh Direksi/Pengawas.
- Penggunaan bahan yang tidak sesuai dengan syarat – syarat bahan
tersebut akan ditolak atau dikeluarkan atas perintah Direksi dengan segala
resiko Penyedia Jasa.
- Apabila diperlukan pemeriksaan di Laboratorium atas bahan, maka
biaya pemeriksaan ditanggung oleh Penyedia Jasa.

Segala sesuatu yang belum diatur dalam RKS ini dan diperlukan, akan
dicantumkan dalam Berita Acara Penjelasan Pekerjaan (Aanwijzing). Hal – hal yang
timbul kemudian dalam pelaksanaan dan diperlukan penyelesaian dilapangan akan
dibicarakan dan diatur oleh Pemimpin Proyek, Pengawas Lapangan dan Penyedia
Jasa. Dan bila diperlukan akan dibicarakan untuk mendapatkan penyelesaian.

21

Anda mungkin juga menyukai