1. Pada kasus mtps, ada pengaruh dari proses degenerasi atau tidak?
Perubahan yang jelas pada sistem otot pada usia lanjut adalah berkurangnya massa otot,
terutama mengenai serabut tipe I dan II. Penurunan massa otot ini lebih disebabkan karena
atropi. Perubahan-perubahan yang timbul pada sistem otot lebih disebabkan oleh disuse. Efek
dari penuaan dan disuse terhadap tubuh pada sistem otot adalah otot dalam posisi yang statik
sehingga otot tidak ada penguluran. Jika hal ini berlangsung lama maka akan mengakibatkan
tightness dan timbulah myofascial pain syndrome.
Perubahan ini akan menyebabkan laju metabolik basal dan laju konsumsi oksigen maksimal
berkurang 4,5%. Otot menjadi lebih mudah lelah dan kecepatan kontraksi akan melambat.
Selain dijumpai penurunan massa otot, sering juga dijumpai berkurangnya rasio otot dengan
jaringan lemak. Perubahan-perubahan yang timbul pada sistem otot lebih disebabkan oleh
disuse. Seseorang yang selalu aktif 10 sepanjang umurnya cenderung lebih dapat
mempertahankan massa otot, kekuatan otot dan koordinasi dibanding dengan mereka dengan
pola hidupnya santai. Pada kelompok usia pertengahan, penyebab nyeri leher umumnya
bersumber dari myofasial pain syndrome dan post traumatic pain.
4. mengapa diberikan terapi TENS?
5. ada pemeriksaan penunjang yg diperlukan ga untuk kasus mtps? Gold standard
penegakan diagnosisnya apa?
Meskipun tidak ada protokol diagnosis standar untuk sindrom nyeri
myofascial yang berhubungan dengan tulang belakang, palpasi
manual—yaitu penggunaan tangan untuk merasakan nyeri tekan,
kedutan, dan/atau sesak di lokasi titik pemicu—adalah yang paling
umum cara dokter mendiagnosis sindrom nyeri myofascial.
Dokter Anda mungkin hanya mengandalkan palpasi manual untuk mengidentifikasi titik
pemicu, namun USG adalah alat diagnostik baru untuk sindrom nyeri myofascial. USG dapat
menghasilkan gambar yang jelas dari jaringan lunak Anda dan mungkin menunjukkan titik
pemicu aktif, namun diperlukan lebih banyak penelitian untuk memastikan posisinya sebagai
metode diagnostik yang tepat untuk sindrom nyeri myofascial.
Taut band yang berkontraksi dapat divisualisasikan sebagai daerah hipoekoik dengan USG
dan merupakan zona iskemia relatif.
Evaluasi dan gold standar saat ini untuk diagnosis MTPS adalah pemeriksaan fisik.
- Palpasi taut band Diagnosis MPS bersifat spesifik jaringan dan berdasarkan anatomi
pada palpasi otot rangka untuk MTrP.
- Identifikasi nodul yang sangat lembut (MTrP) pada pita kencang.
- Reproduksi gejala nyeri pasien dengan tekanan berkelanjutan.
Diagnosis yang akurat bergantung pada pengalaman klinis pemeriksa, pemeriksa yang
terlatih, dan keterampilan palpasi.
6. bisa dijelaskan bagaimana teknik pemeriksaan fisik pada kasus mtps?
Apa Perbedaan Antara Sindrom Nyeri Myofascial dan Fibromyalgia?
Karena sindrom nyeri myofascial sangat erat kaitannya dengan titik pemicu, sering kali
terjadi perbandingan dengan titik nyeri fibromyalgia. Sindrom nyeri myofascial dan
fibromyalgia adalah dua kondisi yang berbeda.
Apakah mtps ini bisa terjadi di seluruh otot? Mengapa seringnya pada otot trapezius?
Otot trapezius, yang membentang dari bagian belakang leher ke bawah melintasi bahu dan
punggung atas, merupakan salah satu lokasi paling umum terjadinya titik pemicu tulang
belakang dan sindrom nyeri myofascial karena otot tersebut menanggung sejumlah besar
tekanan (misalnya, menahan beban benda). tas tangan yang berat) dan rentan terhadap cedera
whiplash.
Treatment apa yang paling direkomendasikan pada kasus mtps?
Dry needling, along with acupuncture, are among useful nonpharmacologic treatment modes.
DN telah digunakan secara tradisional sebagai cara tercepat dan paling efektif untuk
menginaktivasi MTrPS dan membantu mengurangi nyeri.
Mekanisme yang mendasari dimana TrP-DN memberikan efek mampu menurunkan
eksitabilitas sistem saraf pusat dengan menurunkan nosiseptif perifer berhubungan dengan
trigger point, dengan menurunkan aktivitas neuron kornu dorsalis dan memodulasi area
batang otak yang berhubungan dengan memodulasi nyeri.
serta dapat menurunkan kadar asetilkolin dan respon neuromuscular junction. menginduksi
efek analgesik, serta membantu merelaksasi ikatan aktin-myosin yang merestriksi tight bands
Treatment
Because no single treatment approach is efficacious for all patients, managing MPS is
difficult. An integrated, multi-faceted approach geared toward releasing the trigger points
holds the most promise. Common pharmacological interventions include NSAIDs, muscle
relaxers, membrane stabilizers and antidepressants. Injected Botox® A (BTX-A) injections
can offer extended muscle relaxation by inhibiting acetylcholine release from the terminal
end of the motor nerve axon. Studies have indicated that combining BTX-A with physical
therapy also may be helpful.
Injections of anesthetics – a lidocaine and bupivacaine are common – into the trigger point
may achieve local vasodilation, tissue relaxation and lengthening, and the removal of
nociceptive substrates. The pain cycle may be broken from a single injection, but repeated
treatment may be necessary. In one study, myofascial trigger point needling (dry needling)
was found to be as effective as lidocaine injection.
- Transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS) therapy.
- Osteopathic manipulation treatment (OMT).
- Physical therapy.
- Cognitive behavioral therapy (CBT).
- Biofeedback.
- Low-level laser therapy, either alone or combined with stretching.
- Intramuscular electrical stimulation, either alone or combined with stretching.
- Therapeutic ultrasound. Among these, CBT can be an invaluable tool for decreasing
stress and anxiety, which are known to exacerbate MPS. Therapy focuses on habit
reversal, reducing exaggerated thoughts and learning relaxation techniques
operan pertanyaan MTPS:
1. Pada kasus mtps, ada pengaruh dari proses degenerasi atau tidak?
Perubahan yang jelas pada sistem otot pada usia lanjut adalah berkurangnya massa otot,
terutama pada serabut tipe I dan II. Penurunan massa otot ini lebih disebabkan karena atropi.
Perubahan-perubahan yang timbul pada sistem otot lebih disebabkan oleh disuse. Efek dari
penuaan dan disuse terhadap tubuh pada sistem otot adalah otot dalam posisi yang statik
sehingga otot tidak ada penguluran. degenerasi myofibril juga dapat mempengaruhi
penurunan kekuatan dan fleksibilitas dari otot. Jika hal ini berlangsung lama maka akan
mengakibatkan tightness dan timbulah myofascial pain syndrome.
Perubahan-perubahan yang timbul pada sistem otot lebih disebabkan oleh disuse (jarang
digunakan). Seseorang yang selalu aktif sepanjang umurnya cenderung lebih dapat
mempertahankan massa otot, kekuatan otot dan koordinasi dibanding dengan mereka dengan
pola hidupnya lebih santai.
2. ada pemeriksaan penunjang yg diperlukan ga untuk kasus mtps? Gold standard
penegakan diagnosisnya apa?
Evaluasi dan gold standar saat ini untuk diagnosis MTPS adalah pemeriksaan fisik. palpasi
manual, yaitu penggunaan tangan untuk merasakan nyeri tekan, kedutan, dan/atau tegang di
lokasi trigger point adalah yang paling umum cara dokter mendiagnosis mtps.
namun USG adalah alat diagnostik baru untuk sindrom nyeri myofascial. USG dapat
menghasilkan gambar yang jelas dari jaringan lunak Anda dan mungkin menunjukkan titik
pemicu aktif, namun diperlukan lebih banyak penelitian untuk memastikan posisinya sebagai
metode diagnostik yang tepat untuk sindrom nyeri myofascial.
Taut band yang berkontraksi dapat divisualisasikan sebagai daerah hipoekoik dengan USG
dan merupakan zona iskemia relatif.
Diagnosis yang akurat bergantung pada pengalaman klinis pemeriksa, pemeriksa yang
terlatih, dan keterampilan palpasi.
3. dari gejalanya mtps ini mirip dengan fibromyalgia, bisa dijelaskan perbedaan antara
keduanya?
Diagnosis sindrom nyeri myofasial sering salah dianggap untuk fibromialgia.9 Fibromialgia
sendiri merupakan adanya nyeri luas > 3 bulan dengan ekspresi tender points (TP) yang
terdistribusi secara simetris dalam otot, terdapat titik nyeri yang dapat dirasakan minimal 11
dari 18 titik nyeri bilateral yang terstandarisasi.
4. Apakah mtps ini bisa terjadi di seluruh otot? Mengapa seringnya pada otot trapezius?
Bisa terjadi di seluruh otot, biasanya asimetris/unilateral. Otot trapezius, yang
membentang dari bagian belakang leher ke bawah melintasi bahu dan punggung atas,
merupakan salah satu lokasi paling umum terjadinya trigger point dan sindrom nyeri
myofascial karena otot tersebut menanggung sejumlah besar tekanan (misalnya, menahan
beban benda (tas tangan yang berat) dan rentan terhadap cedera whiplash.
5. Treatment apa yang paling direkomendasikan pada kasus mtps?
Dry needling, along with acupuncture, treatment nonfamarko yg paling direkomendasikan.
DN telah digunakan secara tradisional sebagai cara tercepat dan paling efektif untuk
menginaktivasi MTrPS dan membantu mengurangi nyeri.
Mekanisme yang mendasari dimana TrP-DN memberikan efek mampu menurunkan
eksitabilitas sistem saraf pusat dengan menurunkan nosiseptif perifer berhubungan dengan
trigger point, dengan menurunkan aktivitas neuron kornu dorsalis dan memodulasi area
batang otak yang berhubungan dengan memodulasi nyeri.
serta dapat menurunkan kadar asetilkolin dan respon neuromuscular junction. menginduksi
efek analgesik, serta membantu merelaksasi ikatan aktin-myosin yang merestriksi tight bands