BAB II
GAMBARAN UMUM PROYEK
1.1 Deskripsi Proyek
Proyek Pembangunan Gereja GKPMI Jamaat Bethlehem Kota Ternate, diyakini sangat
bermanfaat bagi para jamaat untuk melaksanakan kegiatan ibadah nantinya. Dengan
diadakannya Pembangunan Sarana Dan Prasarana ini, diharapkan dapat
memudahkan kegiatan keagamaan berlangsung dengan baik, sehingga
dapat menghasilkan sumber daya manusia yang lebih berkualitas.
1.1.1 Lokasi Proyek
Lokasi proyek terdapat di jalur jalan lintas pada [Link] dalam wilayah kota ternate
Tengah. Peningkatan ”Pembangunan Gereja GKPMI Jamaat Bethlehem Kota Ternate” ini
bertujuan untuk pengsejahteraan rohani kepada tuhan.
Gambar 1.1 Lokasi kerja praktek (KP)
Sumber : google Eart
Gambar 2.1 Lokasi Proyek
1.1.2 Data-Data Proyek
1. Data Umum
Nama Paket : Pembangunan Gereja GKPMI Jamaat Bethlehem Kota Ternate
Lokasi Proyek : Kota Ternate Tengah
Kategori : Pelaksanaan Konstruksi
Tanggal Kontrak : 25 Mei 2023 s/d 15 Juni 2023
Nilai Kontrak Total : Rp. [Link].00
Sumber Dana : APBD Kota Ternate.
Nama Jalan : [Link] Pattimura (Kelurahan Kalumpang)
2. Pekerjaan Konstruksi
a. Tinjauan : Pekerjaan pemasangan plafond
: dan Pekerjaan kusen
2.2 Persiapan Proyek
Pada pekerjaan persiapan proyek selain pekerjaan pengukuran dan pembersihan juga
dibarengi dengan pekerjaan umum lainnya, seperti pekerjaan mobilisasi yaitu :
1. Mobilisasi Tenaga Kerja.
Sebelum melaksanakan pekerjaan, persiapan yang harus dilakukan dalam proyek adalah
mempersiapkan tenaga kerja yang profesional yang diperlukan dalam melaksanakan
pekerjaan di lapangan selain dari pekerja-pekerja lapangan, dalam pelaksanaannya juga
harus mempersiapkan staf pengawas lapangan baik dari proyek, konsultan, maupun
kontraktor.
2. Mobilisasi Peralatan.
Dalam pelaksanaan pekerjaan penyedia fasilitas-fasilitas yang berfungsi dapat mendukung
terlaksananya dan kelancaran kegiatan proyek mutlak diperlukan. Oleh karena itu alat-alat
berat digunakan sebagai salah satu fasilitas dalam pekerjaan dapat menunjang kelancaran
dan terlaksananya kegiatan pelaksanaan pekerjaan di lokasi proyek, mulai dari awal tahap
pelaksanaan sampai akhir tahap pelaksanaan. Alat-alat berat tersebut harus disesuaikan
dengan jenis pekerjaan, kondisi lapangan dan kemampuan pekerjaan yang mampu
dilaksanakan, dimana sejumlah alat berat perlu dikoordinasikan dengan secermat mungkin
untuk mendapatkan efisiensi pekerjaan yang sebaik-baiknya.
3. Mobilisasi Material.
Material yang dipergunakan dalam pekerjaan Pembangunan Gereja GKPMI Jamaat
Bethlehem Kota Ternate Jl. Kapitan Pattimura (Kelurahan Kalumpang) yaitu, Semen,
Pasir Dan Kerikil yang didatangkan dari jasa penyedia.
4. Pelaksanaan Lapangan.
Pelaksanaan pekerjaan untuk proyek ini meliputi pekerjaan, yaitu berupa pembersihan,
pelebaran, kemudian pekerjaan Pondasi Telapak, Kolom, Sloof, Bata Ring Balok,
Pemasangan Kusen, Atap, plafond dan seterunya sampai finising.
2.3 Organisasi Pelaksana Proyek
Untuk menunjang keberhasilan dan kelancaran pelaksanaan dalam suatu proyek, maka
perlu adanya organisasi pelaksanaan proyek dimana diharapkan akan memperjelas tugas dalam
proses manajemen dan teknis konstruksinya, hubungan antara unsur-unsur yang terlibat
didalamnya harus saling berinteraksi dengan baik, sehingga pelaksanaan proyek dapat berjalan
sesuai dengan rencana. Pihak-pihak organisasi yang terlibat untuk memperlancar dan
memudahkan pelaksanaan, pengawasan serta koordinasi pelaksanaan pekerjaan Pondasi Telapak
dan Pekerjaan Ringbalok di Jl. Raya Kapitan Pattimura (Kelurahan Kalumpang). adalah:
1. Pemilik Proyek (Owner).
2. Konsultan Pengawas/Supervisi.
3. Kontraktor Pelaksana.
Seluruh pihak yang terdapat didalam organisasi pelaksanaan proyek tersebut memiliki
fungsi dan tanggung jawab masing-masing yang berbeda, tetapi dalam pelaksanaannya saling
terkait satu sama lain, sehingga didalam pelaksanaan pekerjaan akan memperoleh hasil yang
sebaik-baiknya.
2.3.1 Pemilik Proyek (Owner)
Pemilik proyek (Owner), adalah pihak yang memiliki gagasan atau ide untuk membuat
suatu bangunan, baik secara perorangan maupun badan pemerintahan atau swasta yang memiliki
proyek atau pekerjaan dan memberikannya kepada pihak lain yang mampu melaksanakannya
sesuai dengan perjanjian Kontrak Kerja. pemilik proyek ini disebut juga sebagai pemberi tugas,
pemilik pekerjaan Pondasi Telapak dan Pekerjaan Ringbalok .Jl. Kapitan Pattimura (Kelurahan
kalumpang) untuk melaksanakan proyek ini pemilik proyek menunjuk pemimpin proyek yang
mempunyai tugas sebagai berikut:
a. Menyediakan biaya perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan proyek
b. Mengadakan kegiatan administrasi proyek
c. Memberikan tugas kepada kontraktor atau melaksanakan pekerjaan proyek
d. Meminta pertanggungjawaban kepada konsultan pengawas atau manajemen konstruksi
(MK)
e. Bertanggung jawab dalam menyelesaikan proyek tepat pada waktunya, pemimpin
pekerjaan Pondasi Telapak dan Pekerjaan Ringbalok. Jl. Kapitan Pattimura (Kelurahan
Kalumpang).
2.3.2 Konsultan Pengawas/Supervisi
Konsultan Pengawas/Supervisi adalah orang perseorangan yang diberi kuasa secara hukum
untuk mengawasi/meliputi secara penuh atau terbatas, seluru tahapan konstruksi sesuai dengan
bestek.
Adapun tugas dan tangggung jawab konsultan pengawas/supervisi adalah sebagai berikut:
a. Menolak penilaian estetis hasil pekerjaan pelaksaan
b. Mengembalikan seluruh tugas yang dibebankan karena perimbangan dalam dirinya akibat
yang muncul diluar kekuasaan kedua bela pihak dan juga dari pemberi tugas
c. Menerima honorium atas jasa sesuai dengan kontrak
2.3.3 Pelaksana (Kontraktor)
Kontraktor atau pelaksana proyek adalah perorangan atau suatu badan hukum resmi yang
bergerak di bidang pembangunan sesuai dengan keahlian dan kemampunnya dalam bidang jasa
kontruksi pelaksana proyek harus mempunyai tenaga ahli teknik dan peralatan yang cukup
pelaksana proyek (Kontraktor), yang memenangkan tender pada pekerjaan Pondasi Telapak dan
Pekerjaan Penyusunan Bata Jl. Kapitan Pattimura (Kelurahan Kalumpang).
Tugas dan tanggung jawab kontraktor pelaksana adalah:
a. Menyediakan dan mempersiapkan perlengkapan bahan yang digunakan pada bangunan
sesuai dengan persyaratan dalam bestek.
b. Mengerjakan semua pekerjaan sesuai dengan gambar bestek dan memenuhi peraturan
yang tercantum dalam rencana kerja dan syarat- syarat.
c. Menyelesaikan dan menyerahkan pekerjaan tepat pada waktu yang telah ditentukan dalam
kontrak.
d. Mengadakan pemeliharaan selama proyek tersebut masih dalam tanggung jawab
pelaksana.
2.4 Hubungan Kerja Antara Pihak Organisasi Pelaksana
Dalam pelaksanaan suatu proyek diperlukan suatu hubungan kerja antara pihak-pihak
organisasi yang terlibat didalamnya, hubungan ini dapat di pandang atas dua kedudukan, yaitu:
1. Hubungan secara Teknis.
2. Hubungan secara Hukum.
2.4.1 Hubungan Kerja Secara Teknis
Untuk mewujudkan suatu pelaksanaan Proyek sehingga sesuai dengan yang direncanakan,
maka diperlukan hubungan kerja antara pihak-pihak yang terlibat didalamnya terdiri dari,pemilik
proyek (Owner), konsultan perencana, konsultan pengawas/supervisi dan kontraktor pelaksana.
Secara teknis hubungan kerja merupakan hubungan antara pihak-pihak yang terlibat dalam
pelaksanaan suatu proyek terjadi suatu hubungan vertikal, setiap melaksanakan tugasnya
pimpinan proyek dibantu oleh konsultan pengawas, masalah yang berhubungan dengan segi
teknis di lapangan ditangani sepenuhnya oleh pengawas dan menyampaikan kepada pimpinan,
proyek mengenai kegiatan di lapangan dan hal lainnya yang berhubungan dengan pembangunan
proyek, pada pelaksanaan pengawas berkuasa penuh untuk menegur kontraktor bila pekerjaan
yang dilaksanakan dilapangan menyimpang dari yang disyaratkan. apabila teguran pengawas,
baik secara lisan maupun secara tulisan tidak diindahkan oleh kontraktor, maka pengawas dapat
menghentikan seluruh pekerjaan. Perencana dapat menegur atau memerintah secara langsung
setiap pekerja di lapangan tanpa melalui pengawas. Hal ini disebabkan karena antara perencana
dan kontraktor tidak ada hubungan kerja, sedangkan antara perencana dan pengawas ada garis
konsultasi.
2.4.2 Hubungan Kerja Secara Hukum
Dalam hubungan kerja secara hukum masing-masing pihak mempunyai kedudukan yang
sama dan terikat dengan hukum(Kontrak),masing-masing pihak dalam melaksanakan tugasnya
haruslah sesuai dengan kedudukannya dan tidak boleh menyimpang dari kontrak. melalui
pemimpin proyek ini diadakan perjanjian atas nama pemilik proyek dengan pihak perencana,
pengawas dan pelaksana. pemilik atau pemimpin proyek, pengawas dan pelaksana mempunyai
kedudukan yang sama secara hukum, masing-masing pihak dalam melaksanakan tugas sesuai
dengan kedudukan serta wewenangnya,dan tidak boleh menyimpang dari yang tercantum dalam
kontrak, sehingga tidak ada pihak yang harus disalahkan atau dirugikan. kedudukan masing-
masing pihak secara hukum adalah sama dan terikat dalam kontrak. Oleh karena itu seluruh
pihak harus menjalankan tugas dan fungsinya sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati
bersama pelaksanaan pelelangan.
Pelelangan adalah suatu sistem penawaran yang memberikan kesempatan kepada rekanan
yang diundang untuk mengajukan penawaran biaya pekerjaan yang ditawarkan. Melalui
persaingan yang sehat, maka diperoleh rekanan yang benar-benar mampu serta memenuhi syarat
administrasi, teknis dan financial (Keuangan), untuk melaksanakan kegiatan tersebut. penentuan
pelaksanaan kegiatan pada dasarnya dapat dilakukan dengan cara :
a. Pelelangan umum, yaitu pelelangan yang diumumkan melalui media massa, atau publikasi
lainnya.
b. Pelelangan terbatas, yaitu pelelangan yang hanya diundang beberapa pemborong yang
dianggap mampu.
c. Pemilihan Langsung.
d. Penunjukan Langsung.
Pelelangan umum, adalah pelelangan yang dilakukan secara terbuka dengan pengumuman
secara luas melalui media massa, atau papan pengumuman resmi untuk penerangan umum,
sehingga masyarakat luas dunia usaha yang berminat dapat mengikutinya.
Pelelangan terbatas, adalah pelelangan untuk pekerjaan tertentu yang dilakukan antara
Pemborong/Rekanan, yang dipilih dari pemborong/rekanan yang tercatat dalam Daftar Rekanan
Mampu (DRM), sesuai dengan bidang usaha ruang lingkupnya atau klasifikasi kemampuannya.
Pemilihan langsung adalah pelaksana pekerjaaan pembangunan maupun pengadaan
Barang/Jasa oleh rekanan tanpa melalui pelelangan umum atau pelelangan terbatas, yang
dilakukan dengan membandingkan sekurang-kurangnya, tiga penawar yang tercantum dalam
Daftar Rekanan Mampu (DRM), dan dilakukan negosiasi penawaran secara teknis dan
administratif serta perhitungan harga yang dapat di pertanggung jawabkan.
Penunjukan langsung, adalah pelaksana pelelangan yang hanya mengundang satu rekanan
yang dianggap mampu, untuk mengajukan penawaran dalam pelaksanaan pekerjaan.
Dalam pelaksanaan suatu pelelangan, panitia lelang mempunyai tugas dan kewajiban
sebagai berikut:
a. Menetapkan syarat-syarat pelelangan.
b. Mengadakan pengumuman yang akan diadakan.
c. Memberikan penjelasan tentang syarat-syarat kerja serta berita acara.
d. Menetapkan tatacara penilaian pelelangan.
e. Melaksanakan pelelangan.
f. Mengadakan penilaian dan penetapan calon pemenang.
g. Membuat laporan dan pertanggu jawaban kepada kegiatan.
Penetapan pelaksana pekerjaan pada kegiatan ini dilakukan melalui pelelangan Sebagai
tahap awal Dinas DPUPR Kota Ternate, membentuk panitia pengadaan jasa konstruksi, yang
bertujuan untuk melaksanakan segala proses pelelangan.
2.5 Rencana Pelaksanaan
Rencana anggaran biaya (RAB), merupakan perhitungan banyaknya biaya yang diperlukan
untuk bahan dan upah, serta biaya-biaya lain yang berhubungan dengan pelaksanaan bangunan
atau proyek tersebut. anggaran biaya merupakan harga dari bangunan yang dihitung dengan
teliti, cermat dan memenuhi syarat. Anggaran biaya pada bangunan yang sama akan berbeda-
beda antara daerah satu dengan daerah yang lain. hal ini disebabkan karena perbedaan harga
bahan dan upah tenaga kerja, perhitungan rencana anggaran biaya dibedakan berdasarkan oleh
siapa yang membuat dan kapan dibuat didasarkan atas nilai waktu uang, perbedaan harga bahan
upah dari waktu ke waktu. Perlu diingat bahwa pihak utama yang terlibat dalam suatu proyek
adalah pemilik dan kontraktor. Pemilik proyek (owner biasanya dibantu/diwakili oleh Konsultan,
baik konsultan Perencana maupun Konsultan Pengawas).
Ada 2 (dua) Jenis Rencana Anggaran Biaya, yaitu perhitungan rencana anggaran biaya
yang dibuat oleh pemilik dan perhitungan rencana anggaran biaya yang dibuat oleh kontraktor.
kedua perhitungan rencana anggaran biaya tersebut mempunyai fungsi berbeda, rencana
anggaran biayayang dibuat oleh pemilik ini dipakai sebagai bahan pertimbangan dalam
menentukan kontraktor yang melaksanakan proyek, sedangkan rencana anggaran biaya yang
dibuat oleh kontraktor digunakan untuk menentukan harga penawaran pada saat pelelangan.
2.5.1 Time Schedule
Time Schedule adalah suatu pembagian waktu terperinci yang disediakan untuk masing-
masing, bagian pekerjaan mulai dari permulaan sampai dengan pekerjaan berakhir. Time
Schedule diperlukan oleh semua pihak sebagai pedoman koordinasi dan kerja sama antar bagian
pelaksana proyek di lapangan. dalam time schedule waktu pekerjaan diatur sedemikian rupa
sehingga setiap pekerjaan dapat berjalan baik dan [Link] proyek dilaksanakan pelaksana
harus mengetahui rencana kerjayang telah dicantumkan dalam Time Schedule, agar waktu yang
tersedia benar-benar efektif dan efisien untuk pekerjaan tersebut, time schedule digunakan
sebagai dasar pertimbangan penambahan personalia sesuai dengan perkembangan pelaksanaan
[Link] hubungan dengan bahan dan alat yang digunakan, Time [Link] akan
mencegah penyimpangan bahan yang tepat diperoleh, serta menjaga keefektifan pemakaian alat-
alat berat yang disewa, dengan demikian penghematan biaya dan waktu akan lebih baik tetap
pelaksanaan Time Schedule, secara umum sering mengalami hambatan-hambatan yang
disebabkan oleh:
Keadaan cuaca yang tidak memungkinkan dilaksanakan pekerjaan.
Kesalahan yang dibuat pelaksana.
Ketidakteraturan penyediaan bahan.
Perubahan-perubahan yang diinginkan pemberi tugas.
2.5.2 Volume Pekerjaan
1. Pengertian Volume Pekerjaan
Yang dimaksud dengan volume suatu pekerjaan adalah menghitung jumlah
banyaknya volume pekerjaan dalam satu satuan. volume juga disebut sebagai kublikasi
pekerjaan volume (Kubikasi), yang dimaksud dalam pengertian ini bukanlah merupakan
volume (Isi Sesungguhnya),melainkan jumlah volume bagian pekerjaan dalam satu
kesatuan,volum pekerjaan tersebut dihitung berdasarkan pada gambar bestek dari
bangunan yang akan dibuat. semua bagian/elemen konstruksi, yang ada pada gambar
bestek harus dihitung secara lengkap dan teliti, untuk mendapatkan perhitungan volume
pekerjaan secara akurat dan lengkap.
2. Uraian Volume Pekerjaan
Sebelum menghitung volume masing-masing pekerjaan,lebih dahulu harus membaca
gambar bestek berikut gambar-gambar detail (penjelasannya), penguasaan dalam
membaca gambar bestek dan gambar penjelasan akan sangat mempengaruhi tingkat
ketelitian dalam menghitung volume masing-masing [Link] yang perlu
dilakukan dalam menghitung volume pekerjaan adalah antara lain menguraikan masing-
masing volume pekerjaan (uraian volume pekerjaan) dan dari uraian tersebut masing-
masing harus dihitung volume pekerjaanya yang dimaksud dengan uraian volume
pekerjaan adalah menguraikan secara rinci besar volume suatu pekerjaan
menguraikan,berarti menghitung besar volume masing-masing pekerjaan sesuai dengan
gambar bestek dan gambar detail.
Susunan uraian volume pekerjaan dapat dilakukan dengan 2 (Dua) cara, yaitu:
1. Susunan dengan cara lajur-lajur tabelaris
2. Susunan dengan cara post-post, penyusunan uraian volume pekerjaan tersebut
diurutkan berdasarkan urutan (Kronologis), pelaksanaan pekerjaan.