Journal of Community Services:
Sustainability & Empowerment
Vol. 01, No. 02, September, 2021, pp. 25 - 33
Budi Daya Lebah Madu Hutan pada Kelompok Tani di Desa
Wonosalam Jombang
M. Syafi’i1, Dewi Amartani2, Heru Irianto3, Sutarman4
1-3
Universitas Bhayangkara Surabaya
4
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
3
Email: heru@[Link]
Article History: Abstract: Secara geografis, Kecamatan Wonosalam
Received: Feb 5, 2021 merupakan dataran tinggi dengan kondisi hutan
Revised: Feb 12, 2021 lestari yang cocok untuk pengembangan budi daya
Accepted: Mar 24, 2021 lebah madu hutan. Salah satu upaya pemberdayaan
masyarakat desa yang dapat diusahakan adalah
dengan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam
Keywords: Lebah madu, mengelola potensi desanya, sehingga masyarakat
lingkungan, hutan dapat lebih produktif tanpa merusak alam tempat
tinggalnya. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat
ini bertujuan untuk membekali masyarakan setempat
dengan ketrampilan alam agar dapat lebih produktif
tanpa merusak alam. Salah satu cara yang dilakukan
adalah dengan memberikan ketrampilan kepada
masyarakat dalam budidaya lebah madu hutan.
Melalui kegiatan ini petani pedesaan diharapkan
dapat meningkatkan pendapatannya tanpa merusak
lingkungan. Bahkan dengan ketrampilannya dalam
membudidayakan lebah hutan, diharapkan
masyarakat setempat dapat menjadikan desa tempat
tinggal mereka sebagai desa wisata berbasis
pendidikan lingkungan.
Pendahuluan
Desa Wonosalam merupakan dataran tinggi dengan ketinggian kurang lebih 500 Mdpl
dengan suhu rata-rata 210-240 derajat celcius. Kondisi hutannya yang masih lestari dan sangat
terjaga, menjadikan kaya akan aneka ragam hayati yang bisa menghasilkan nectar. Kondisi ini
sangat potensial untuk mengembangkan budidaya lebah madu hutan. Tetapi potensi alam yang
demikian belum demanfaatkan oleh para petani secara optimal. Hal ini dikarenakan petani
kurang mempunyai kemampuan untuk budidaya lebah madu secara intensif.
25
Journal of Community Services:
Sustainability & Empowerment
Vol. 01, No. 02, September, 2021, pp. 25 - 33
Kebutuhan madu asli di Indonesia cukup tinggi, namun hal ini bertolak belakang
dengan produksi madu di tanah air yang tercatat masih rendah. Untuk menutupi kebutuhan itu,
Indonesia masih mengimpor sebesar 70% dari kebutuhan nasional atau sekitar 3.000 ton madu
per tahun.[1] Produksi lebah madu (apis cerana) yang dipelihara pada sarang modern lebih
tinggi dari yang dipelihara pada sarang secara tradisonal.[2] Wonosalam kaya akan sumber
pakan bagi lebah madu, berupa tanaman pertanian, tanaman pekarangan, dan tumbuhan liar
[3]. Budidaya lebah merupakan kegiatan produksi yang akan dapat memberikan nilai tambah
pada tanaman yang sudah disediakan alam. Budi daya lebah madu hutan dapat dilakukan secara
optimal dengan memberikan pelatihan keahlian yang sederhana kepada para petani dan kondisi
alam Wonosalam yang sangat mendukung.[4]
Produk yang dihasilkan dari budidaya lebah madu adalah madu, royal jelly, pollen,
lilin lebah, propolis [5]. Manfaat lebah madu yang sangat besar. Dan untuk mnjaga
kelangsungan produksi, keberadaannya perlu dijaga dan pemanfaatannya perlu ditingkatkan
dengan menjaga kelestarian tanaman dan pohon penghasil pakan lebah madu seperti bunga [6].
Selama ini kebutuhan madu masih dipenuhi dari impor [7]. Berdasarkan data API (Asosiasi
Perebahan Indonesia) kebutuhan madu orang Indonesia mencapai 15.000 ton-150.000 ton per
tahun; 50% dari kebutuhan dipasok dari China [8]. Hasil penelitian [9] menunjukkan bahwa
lebah madu merupakan komoditi yang sampai saat ini masih menarik perhatian untuk
dikembangkan. Kualitas madu lebah Indonesia sudah diakui di mancanegara, hanya belum
serius penanganannya. Dalam setahun, produksi madu lebah yang dibudidayakan Perhutani
termasuk dengan warga sekitar hutan rata-rata 150 ton/tahun [10].
Untuk mengembangkan Usaha ternak lebah madu tidak membutuhkan modal besar dan
tidak membutuhkan perawatan atau perhatian khusus. Kualitas madu ditentukan oleh beberapa
hal diantaranya waktu pemanenan madu, kadar air, warna madu, rasa dan aroma madu. Waktu
pemanenan madu harus dilakukan pada saat yang tepat, yaitu ketika madu telah matang dan
sel-sel madu mulai ditutup oleh lebah. Madu mengandung tembaga, yodium dan seng dalam
jumlah yang kecil, juga beberapa jenis hormon [11].
26
Journal of Community Services:
Sustainability & Empowerment
Vol. 01, No. 02, September, 2021, pp. 25 - 33
Metode
Permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat setempat adalah kelompok tani belum
mempunyai keahlian yang cukup untuk dapat berbudi daya lebah madu hutan. Kelompok tani
juga belum mempunyai managerial skill yang cukup untuk menjadikan budi daya lebah madu
sebagai suatu bentuk usaha ekonomi produktif. Selain itu, kelompok tani belum mempunyai
skill yang cukup untuk dapat menjadikan budi daya lebah madu hutan sebagai salah satu tujuan
wisata edukasi di desanya.
Berdasarkan permasalahan yang ada, maka dilakukanlah kehiatan pengabdian kepada
masyarakat ini dengan metode:
1. Pelatihan
Pelaksanakan program dilakukan melalui beberapa tahapan pelatihan, yaitu pelatihan untuk
meningkatkan skill kelompok mitra. Kegiatan pelatihan dilakukan untuk meningkatkan skill
dalam bidang budidaya lebah madu hutan, skill dalam bidang manajemen kewirausahaan dan
kepariwisataan. Dengan demikian diharapkan dapat menjadikan budidaya madu sebagai salah
satu destinasi wisata edukasi budidaya lebah madu hutan.
2. Mendirikan Usaha Budi Daya Lebah Madu Hutan
Wirausaha baru yang akan didirikan sesuai kesepakatan dengan petani adalah usaha budi daya
lebah madu hutan secara intensif yang dapat menjadi salah satu destinasi wisata edukasi
budidaya lebah madu hutan. Dengan adanya wirausaha baru ini maka akan menjadi suatu
metode pemberdayaan masyarakat yang sangat tepat untuk menjaga keberlangsungannya serta
dapat meningkatkan peran serta kelompok tani dalam pemencahan masalah-masalah ekonomi
dan dapat memberikan kontribusi yang besar kepada masyarakat sekitarnya dalam bidang
ekonomi dan kelestarian lingkungan serta edukasi kepada generasi yang akan datang begitu
pentingnya mensinergikan berbagai kepentingan yang saling menguntungkan .
3. Pendampingan.
Pendampingan dilakukan dalam upaya untuk meningkatkan skill dalam manajemen budi daya
lebah madu hutan sebagai salah satu destinasi wisata desa. Sumber daya manusia yang dikelola
dalam pembudidayaan lebah madu hutan juga masih sangat minim pengetahuannya. Karena
disadari bahwa pada awal usaha ini memang tidak memiliki manejemen yang baik, apalagi
tentang keuangan. Pembukuan masih sangat sederhana, bahkan bisa dikatakan tidak ada. Baru
27
Journal of Community Services:
Sustainability & Empowerment
Vol. 01, No. 02, September, 2021, pp. 25 - 33
dirintis pembukuan sederhana pada awal tahun budidaya lebah madu hutan. Monitoring dan
evaluasi juga akan dilakukan untuk memantau proses kegiatan dan menjamin efektifitas dan
tercapainya target-target yang sudah ditentukan dalam program.
Hasil
1. Pelatihan
Pelatihan yang dilaksanakan adalah pelatihan budi daya lebah madu hutan yang merupakan
program utama dalam kegiatan ini. Pelatihan budi daya lebah madu diawali dengan penanaman
tanaman yang berpotensi menghasilkan makanan bagi lebah samapai pada pelatihan edukasi
yang menjadikan budi daya lebah madu sebagai tujuan wisata edukasi lingkungan
2. Menaman Tanaman Berpotesi Menjadi Makanan Lebah
Sebelum memulai budi daya lebah madu sebaiknya disiapkan terlebih dahulu tanaman yang
dapat menghasilkan nektar yang dapat menjadi makanan lebah. Lahan penanaman tanaman
berada pada lahan yang kosong di lingkungan rumah hal ini selain lahan itu kosong juga dapat
dijadikan taman rumah serta lebih mudah untuk perawatannya dan akan menciptakan
lingkungan yang asri.
Gambar 1. Tanaman Bunga Untuk Budi Daya Lebah
(Sumber: penulis)
28
Journal of Community Services:
Sustainability & Empowerment
Vol. 01, No. 02, September, 2021, pp. 25 - 33
3. Membuat Kotak Rumah Lebah
Untuk budi daya lebah madu hutan maka diperlukan adanya kotak sebagai rumah yang biasa
disebut sebagai Stup untuk berkembang biak dan menghasilkan madu bagi koloni lebah.
Sebelum mendapatkan bibit lebah maka dipersipakan telebih dahulu, sehingga ketika
mendapatkan bibit lebah maka akan dapat segera dipindah atau dimasukkan ke kotak rumah
lebah.
Gambar 2. Pembuatan Kotak Rumah Lebah
(Sumber: penulis)
4. Mencari Bibit Lebah di Hutan
Jika di alam liar lebah hutan menempati lobang-lobang kayu yang sudah lapuk untuk
berlindung dari bahaya atupun ganasnya alam serta untuk bekembang biak; maka dalam budi
daya lebah madu hutan diperlukan adanya kotak sebagai gantinya rumah ketika hidup di alam
liar. Bibit lebah madu dicari di hutan mengambil ratu dan kolininya untuk dipindah di Kotak
agar dapat di budidayakan dan dikembangkan sehingga dapat lebih produktif dan lebih mudah
untuk dikelola menjadi sumber pedapatan lain petani. Jika kesulitan mencari bibit lebah madu
hutan juga dapat dibeli dari masyarakat yang mempunyai koloni lebah yang kadang datang
sendiri di kebun sekitar rumah.
29
Journal of Community Services:
Sustainability & Empowerment
Vol. 01, No. 02, September, 2021, pp. 25 - 33
Gambar 3. Mencari Bibit Lebah Madu di Hutan
(Sumber: dokumentasi pribadi)
5. Memindahkan Bibit Lebah Ke Kotak
Untuk dapat dibudidayakan dan melipatgandakan koloninya maka bibit lebah madu hutan
dipindahkan ke Kotak Rumah Lebah untuk dapat dikembangkan menjadi beberapa kali lipat
Kotak (koloni) dengan memecah koloni-koloni yang sudah siap untuk dipecah atau
digandakan. Untuk memecah koloni maka disipakan leih dahulu kotak untuk ditempati calon
ratu lebah baru yang diambilkan dari kotak lebah yang sudah cukup matamg untuk diambil
calon ratunya.
Gambar 4. Menempatkan Bibit Lebah pada Kotak
(Sumber: penulis)
6. Membuat Taman Wisata Lebah Hutan
Budi daya lebah madu hutan dapat dijadikan salah satu Icon di Wonosalam; dengan adanya
eduekowisata lebah madu maka diharapkan dapat menjadi media edukasi bagi para pelajar
30
Journal of Community Services:
Sustainability & Empowerment
Vol. 01, No. 02, September, 2021, pp. 25 - 33
dan mahasiswa untuk mengenal alam dan potesinya. Dapat memberikan edukasi bagaimana
meningkatkan ekonomi tanpa merusak alam bahkan melestarikannya.
Gambar 5. Taman Edukasi Lebah Madu
(Sumber: penulis)
7. Dampak Ekonomi Sosial
Dalam program budi daya lebah madu hutan untuk mendapatkan hasilnya diperlukan jangka
waktu yang lama mengingat ada beberapa fase yang harus dilalui baru dapat diambil madunya
yang diharapkan akan dapat menjadi pendapatan petani. Dampak ekonomi dari program ini
akan dapat lebih nyata nanti jika koloni lebah madu dapat gandakan lebih banyak apalagi ketika
budi daya lebah madu hutan sudah menjadi salah satu destinasi wisata edukasi di Wonosalam.
Dalam jangka panjang maka dampak dan manfaat akan semakin meningkat walaupun dengan
pelan tapi pasti mengingat pendapatan petani budi daya lebah madu sangat tergantung pada
bertambahnya jumlah kotak /koloni lebah yang tidak bisa dipacu secepat yang diinginkan.
Sedangkan dampak sosialnya adalah adanya kesadaran akan pentingnya usaha secara bersama
dalam mengembangkan potensi ekonomi di kampungnya.
Kesimpulan
1. Dalam pelaksanakan program dapat meningkatkan skill petani untuk budi daya lebah madu
hutan. Kelompok tani juga telah dapat meningkatkan skill bukan hanya dalam bidang budi daya
lebah hutan akan tetapi juga mempunyai skill yang cukup untuk melakukan budi daya lebah
madu hutan sebagai usaha yang dapat meningkatkan penghasilannya.
2. Kelompok tani juga mempunyai skill dalam menjalankan usaha budi daya lebah madu hutan
31
Journal of Community Services:
Sustainability & Empowerment
Vol. 01, No. 02, September, 2021, pp. 25 - 33
sebagai suatu tujuan wisata edukasi budi daya lebah madu hutan. Dengan adanya wisata budi
daya wisata edukasi budi daya kelompok tani sudah mempunyai harapan untuk dapat lebih
maju dan bukan hanya sekedar menjadi petani melainkan dengan adanya pariwisata edukasi
lebah madu hutan akan dapat membuka peluang usaha lainnya bagi masyarakat desa. Sehingga
hal ini akan dapat meningkatkan perekonomian dan kreatifitas masyarakat desa untuk lebih
produktif dan saling bersinergi membangun desanya.
Pengakuan/Acknowledgements
Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada DRPM-DIKTI yang
telah memberikan dana untuk kegiatan pengabdian ini. Terima kasih kami ucapkan pula kepada
Rektor, LPPM dan Dekan FE Universitas Bhayangkara Surabaya yang telah memberikan
dukungan kepada tim pelaksana program Pengabdian Kepada Masyarakat. Tak lupa kami
ucapkan terima kasih pula kepada pengelola jurnal atas publikasi artikel ini.
Daftar Referensi
Lazuardi, G (2018). Indonesia Defisit Madu, Waspada Oplosan.
[Link]
oplosan.
Hamzah, D. (2011) Produksi Lebah Madu (Apis Cerana) Yang Dipelihara Pada Sarang
Tradisional Dan Moderen Di Desa Kuapan Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar,
Skripsi Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam
Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Pekanbaru, 2011.h.8
Widowati, R. (2015) Prosiding Seminar Nasional Prodi Biologi F. MIPA UNHI ISBN:978-
602-138-68-9 h.68 Studi Usaha Ternak Lebah Madu Indigenous Indonesia Apis Cerana
Secara Tradisional Di Bali
Kuntadi, Pengembangan Budidaya Lebah Madu Dan Permasalahannya Pusat Penelitian dan
Pengembangan Konsevasi dan Rehabilitasi Badan penelitian dan Pengembangan
kehutanan Jl. Gunung Batu 5, Bogor 16610
Agus, A (2015) [Link] Sumber Pakan Lebah Madu Perlu
Dikembangkan Diunggah Jumat, 02 Oktober 2015 — Ika)
32
Journal of Community Services:
Sustainability & Empowerment
Vol. 01, No. 02, September, 2021, pp. 25 - 33
Konda C (2016). Makalah Hasil Hutan Non Kayu Jurusan Kehutanan Fakultas Kehutan
Universitas Tadulako
Minarti, S (2007). Evaluasi Produksi dan Perkembangan Koloni Lebah Madu, Universitas
Brawijaya, 2007 [Link]
[Link]
Sihombing, D.T.H. (1997) Ilmu Ternak Lebah Madu. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
33