BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyebaran agama Islam di Jawa terjadi pada waktu kerajaan Majapahit runtuh disusul
dengan berdirinya kerajaan Demak. Era tersebut merupakan masa peralihan kehidupan agama,
politik, dan seni budaya.
Di kalangan penganut agama Islam tingkat atas ada sekelompok tokoh pemuka agama
dengan sebutan Wali. Zaman itu pun dikenal sebagai zaman "kewalen". Para wali itu dalam tradisi
Jawa dikenal sebagai Wali Songo atau Wali Sanga. Wali Songo adalah sebutan bagi sembilan orang
wali yang berperan menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan
Jawa Timur.
Setiap wali memiliki sebutan yang disesuaikan dengan tempat tinggal dan wilayah
penyebarannya.
Meski namanya sangat terkenal, tetapi belum banyak yang tahu sejarah Wali Songo dalam
menyebarkan agama Islam.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Siapa sajakah anggota Walisongo dan bagaimana latar belakang masing-masing anggota?
1.2.2 Metode apa saja yang digunakan Wali Songo dalam menyebarkan agama Islam?
1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Profil Singkat Wali Songo
2.1.1 Sunan Giri (Muhammad 'Ainul Yaqin)
Sunan Giri, atau dikenal juga dengan nama Raden Paku dan Joko Samudro, lahir pada tahun
1442 M di Blambangan, wilayah yang sekarang disebut Banyuwangi, Jawa Timur. Beliau adalah putra
Maulana Ishak, seorang ulama dari Malaka, dan Dewi Sekardadu, putri Prabu Menak Sembuyu,
penguasa Blambangan. Setelah kelahirannya, Sunan Giri dihanyutkan ke laut atas perintah kakeknya.
Namun, ia diselamatkan oleh awak kapal bernama Abu Hurairoh dan dibawa ke Gresik.
Di Gresik, Sunan Giri diangkat sebagai anak oleh Nyai Gede Pinatih, seorang saudagar kaya.
Kemudian, ia menuntut ilmu agama di pesantren Ampeldenta, Surabaya, di bawah bimbingan Sunan
Ampel.
Setelah menyelesaikan pendidikannya, Sunan Giri mendirikan pesantren di daerah Giri,
Gresik, yang dikenal sebagai Giri Kedaton. Pesantren ini berkembang menjadi pusat penyebaran
Islam yang penting, dengan pengaruh dakwah yang meluas hingga Madura, Lombok, Kalimantan,
Sulawesi, dan Maluku. Sunan Giri menggunakan pendekatan dakwah yang kreatif, termasuk
permainan anak-anak dan seni budaya, sehingga ajaran Islam mudah diterima masyarakat.
Sunan Giri wafat pada tahun 1506 M dan dimakamkan di Giri, Kebomas, Gresik. Hingga kini,
warisannya dalam pendidikan Islam dan dakwah tetap dikenang sebagai bagian penting dari sejarah
Islam di Nusantara.
2.1.2 Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)
Sunan Gresik, atau dikenal juga dengan nama Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Maghribi,
diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada abad ke-14. Beliau merupakan keturunan ke-22
dari Nabi Muhammad SAW melalui jalur Husain bin Ali dan Fatimah Az-Zahra.
Beliau tiba di Jawa pada sekitar tahun 1379 M dan menetap di Gresik, Jawa Timur. Sunan
Gresik adalah wali pertama yang menyebarkan Islam di tanah Jawa. Dalam dakwahnya, beliau
menggunakan pendekatan yang bijaksana dan toleran, berbaur dengan masyarakat setempat, serta
memperkenalkan ajaran Islam melalui interaksi sosial dan perdagangan. Selain itu, Sunan Gresik juga
dikenal sebagai tabib yang memberikan pengobatan tanpa memandang status sosial, sehingga
semakin diterima oleh masyarakat.
Sunan Gresik wafat pada tahun 1419 Masehi dan dimakamkan di Desa Gapurosukolilo,
Gresik. Hingga kini, makamnya menjadi salah satu tujuan ziarah penting di Jawa Timur sebagai
penghormatan atas peran besarnya dalam penyebaran Islam di Nusantara.
2.1.3. Sunan Ampel (Raden Rahmat)
Sunan Ampel, yang memiliki nama asli Raden Rahmat atau Sayyid Ali Rahmatullah, lahir pada
tahun 1401 M di Champa, wilayah yang kini dikenal sebagai Vietnam. Beliau adalah putra Syekh
Maulana Malik Ibrahim (Ibrahim As-Samarqandy) dan Dewi Candrawulan.
Pada tahun 1443 M, Sunan Ampel tiba di Jawa dan menetap di daerah Ampeldenta, yang
sekarang menjadi bagian dari Surabaya, Jawa Timur. Di sana, beliau mendirikan pesantren yang
menjadi pusat pendidikan Islam terkemuka pada masanya. Dalam metode dakwahnya, Sunan Ampel
2
memperkenalkan konsep "Moh Limo," yaitu ajakan untuk meninggalkan lima perilaku buruk: madat
(narkoba), minum (minuman keras), main (perjudian), maling (pencurian), dan madon (perzinaan).
Beliau juga berperan besar dalam penyebaran Islam di Jawa, termasuk dalam pembangunan
Masjid Agung Demak pada tahun 1479 M. Selain itu, Sunan Ampel menjadi guru bagi beberapa tokoh
penting, seperti Sunan Giri dan Raden Patah, yang kelak menjadi Sultan Demak pertama.
Sunan Ampel wafat pada tahun 1481 M dan dimakamkan di kompleks Masjid Ampel,
Surabaya. Hingga kini, makamnya menjadi salah satu tujuan ziarah penting di Indonesia, dan warisan
beliau tetap dikenang sebagai bagian dari sejarah besar penyebaran Islam di Nusantara.
2.1.4. Sunan Bonang (Maulana Makdum)
Sunan Bonang, memiliki nama asli Raden Maulana Makdum Ibrahim, lahir pada tahun 1465
M di Rembang, Jawa Tengah. Beliau merupakan putra dari Sunan Ampel dan Dewi Candrawati.
Setelah menimba ilmu agama dari ayahnya di Pesantren Ampel Denta, Surabaya, Sunan
Bonang melanjutkan pendidikannya ke Pasai, Aceh, bersama Sunan Giri. Sepulang dari Pasai, beliau
berdakwah di berbagai wilayah Jawa, termasuk Tuban, Kediri, dan Demak.
Dalam menyebarkan Islam, Sunan Bonang menggunakan pendekatan seni dan budaya lokal.
Beliau dikenal sebagai ahli gamelan, terutama instrumen bonang, yang digunakan untuk
menyampaikan pesan-pesan Islami. Beliau juga menggubah tembang-tembang Jawa, salah satunya
yang terkenal adalah "Tombo Ati," yang memuat nilai-nilai Islam. Metode dakwah ini sangat efektif
dalam menarik masyarakat Jawa untuk memeluk agama Islam.
Sunan Bonang juga dikenal sebagai guru dari Sunan Kalijaga dan turut berperan dalam
pendirian Masjid Agung Demak. Beliau wafat pada tahun 1525 M di Tuban, Jawa Timur. Makamnya
menjadi salah satu tujuan ziarah penting di Indonesia.
2.1.5. Sunan Drajat (Raden Qasim)
Sunan Drajat, dengan nama asli Raden Qasim atau Raden Syarifuddin, lahir sekitar tahun
1470 M di Surabaya, Jawa Timur. Beliau adalah putra bungsu dari Sunan Ampel dan Nyi Ageng
Manila, serta saudara kandung Sunan Bonang.
Setelah menimba ilmu Islam di bawah bimbingan ayahnya, Sunan Drajat mulai menyebarkan
ajaran Islam di wilayah pesisir utara Jawa Timur. Beliau menetap di Desa Drajat, Kecamatan Paciran,
Lamongan, di mana ia mendirikan pesantren yang menjadi pusat dakwah dan pendidikan Islam.
Metode dakwah Sunan Drajat menekankan pada kesejahteraan sosial. Beliau dikenal karena
fokusnya pada membantu fakir miskin, meningkatkan taraf hidup masyarakat, dan menanamkan
nilai-nilai kedermawanan. Sunan Drajat juga dikenal dengan tujuh falsafah hidup yang menekankan
pentingnya menolong sesama dan menjaga keseimbangan hidup.
Selain itu, beliau menggunakan seni budaya sebagai media dakwah, salah satunya melalui
penciptaan tembang Pangkur dalam kesenian gamelan. Sunan Drajat wafat pada tahun 1522 M dan
dimakamkan di Desa Drajat, Lamongan. Hingga kini, makamnya menjadi salah satu tujuan ziarah
penting di Indonesia.
3
2.1.6. Sunan Kudus (Ja'far Shadiq)
Sunan Kudus, dengan nama asli Ja'far Shadiq, lahir pada 9 September 1400 M di Jawa
Tengah. Beliau adalah putra dari Sunan Ngudung atau Raden Usman Haji, yang merupakan saudara
kandung Sunan Ampel.
Setelah mendalami ilmu agama, Sunan Kudus memilih Kota Kudus sebagai pusat dakwahnya.
Pendekatan dakwah yang digunakan sangat bijaksana dan toleran, dengan menghormati pemeluk
agama lain. Salah satu strategi dakwahnya adalah menggunakan simbol-simbol budaya Hindu dan
Buddha untuk mendekati masyarakat setempat, seperti pembangunan Masjid Menara Kudus yang
memadukan arsitektur Islam dengan unsur Hindu-Buddha.
Beliau juga dikenal sebagai panglima perang Kesultanan Demak dan berperan penting dalam
penyebaran Islam di Jawa melalui seni dan budaya, termasuk tembang dan gamelan.
Sunan Kudus wafat pada tahun 1550 M dan dimakamkan di Kudus, Jawa Tengah. Makamnya
menjadi salah satu tujuan ziarah penting di Indonesia.
2.1.7. Sunan Muria (Umar Said)
Sunan Muria, lahir dengan nama Raden Umar Said sekitar tahun 1450 M di Jawa. Beliau
adalah putra dari Sunan Kalijaga dan Dewi Saroh, putri dari Syekh Maulana Ishaq.
Sunan Muria memusatkan dakwahnya di daerah pegunungan Muria, Kudus, Jawa Tengah.
Beliau fokus pada masyarakat pedesaan, khususnya kalangan bawah seperti petani dan nelayan.
Dakwahnya diterima dengan baik oleh masyarakat karena menggabungkan ajaran Islam dengan
budaya lokal. Sunan Muria menggunakan seni tradisional, seperti gamelan dan wayang, untuk
menyampaikan pesan moral Islam.
Selain itu, Sunan Muria juga mengajarkan keterampilan hidup, seperti bercocok tanam dan
berdagang, sehingga ajaran Islam bisa diterima dalam kehidupan sehari-hari. Beliau dikenal sebagai
wali yang sederhana dan dekat dengan masyarakat.
Sunan Muria wafat pada tahun 1551 M dan dimakamkan di puncak Gunung Muria, Kudus,
Jawa Tengah. Makamnya menjadi tempat ziarah penting bagi umat Islam di Indonesia.
2.1.8. Sunan Kalijaga (Raden Mas Said)
Sunan Kalijaga, bernama asli Raden Mas Said, lahir sekitar tahun 1450 M di Tuban, Jawa
Timur. Beliau merupakan putra dari Tumenggung Wilatikta, seorang bupati Tuban, dan Dewi Nawang
Arum. Pada masa mudanya, beliau dikenal sebagai seorang perampok yang merampok orang kaya
dan membagikan hasil rampokannya kepada orang miskin. Namun, setelah bertemu dengan Sunan
Bonang, Raden Mas Said memutuskan untuk meninggalkan kehidupannya yang penuh kekerasan dan
memilih untuk memeluk agama Islam.
Setelah memeluk Islam, Sunan Kalijaga menjadi salah satu anggota Walisongo dan
memainkan peran penting dalam penyebaran ajaran Islam di Jawa. Pendekatan dakwah yang beliau
gunakan sangat toleran dan bijaksana, dengan memadukan budaya lokal. Salah satu metode dakwah
yang terkenal adalah melalui seni wayang kulit. Sunan Kalijaga mengubah cerita wayang untuk
menyampaikan pesan-pesan Islam, sehingga ajaran Islam dapat diterima dengan lebih mudah oleh
masyarakat Jawa.
4
Selain itu, Sunan Kalijaga juga dikenal sebagai seorang arsitek yang membangun beberapa
masjid penting, seperti Masjid Agung Demak dan Masjid Agung Cirebon, yang menjadi pusat kegiatan
keagamaan di wilayah tersebut.
Sunan Kalijaga wafat pada tahun 1513 M dan dimakamkan di Kadilangu, Demak, Jawa
Tengah. Makam beliau menjadi salah satu tujuan ziarah penting bagi umat Islam di Indonesia.
2.1.9. Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)
Sunan Gunung Jati, dengan nama asli Syarif Hidayatullah, lahir pada tahun 1448 M di
Makkah, Arab Saudi. Beliau adalah putra dari Syarif Abdullah Umdatuddin, Sultan pertama
Kesultanan Champa, dan Nyai Rara Santang, putri dari Prabu Siliwangi, raja Kerajaan Pajajaran.
Setelah menuntut ilmu di Makkah, Gujarat, dan Samudra Pasai, Syarif Hidayatullah
memutuskan untuk menyebarkan ajaran Islam di Nusantara. Ia tiba di Banten, lalu melanjutkan
perjalanan ke Cirebon. Di sana, beliau mendirikan pesantren dan membangun pusat dakwah Islam di
daerah Gunung Jati.
Sunan Gunung Jati tidak hanya dikenal sebagai seorang ulama, tetapi juga sebagai pemimpin
Kesultanan Cirebon. Ia memanfaatkan pendekatan budaya lokal, termasuk seni tradisional, untuk
menyampaikan ajaran Islam, yang membuat dakwahnya diterima dengan baik oleh masyarakat
setempat. Ia berperan penting dalam penyebaran Islam di Jawa Barat, terutama dalam membentuk
pemerintahan Islam di wilayah tersebut.
Sunan Gunung Jati wafat pada tahun 1568 M dan dimakamkan di puncak Gunung Sembung,
Cirebon, yang menjadi tempat ziarah bagi umat Islam di Indonesia.
5
2.2 Metode Dakwah Wali Songo
Terdapat berbagai metode dakwah yang digunakan oleh Wali Songo untuk mendekati
masyarakat dan menyebarkan ajaran Islam. Mereka menggabungkan dakwah dengan budaya lokal
sehingga Islam dapat diterima dengan lebih mudah oleh masyarakat setempat. Metode-metode
tersebut di antaranya:
2.2.1. Pendidikan Melalui Pesantren
Metode dakwah utama yang digunakan oleh Wali Songo dalam menyebarkan ajaran Islam
adalah dengan mendirikan pesantren sebagai pusat pendidikan dan pembentukan karakter.
Pesantren berfungsi sebagai tempat untuk menanamkan ajaran Islam dan ilmu pengetahuan kepada
masyarakat. Contohnya adalah Kedaton Giri, kerajaan ini awalnya merupakan sebuah pesantren yang
didirikan oleh Sunan Giri.
2.2.2. Penggunaan Seni dan Budaya Lokal Wali Songo
memanfaatkan kesenian tradisional seperti wayang kulit, gamelan, dan tembang untuk
menyampaikan ajaran Islam. Contohnya adalah Sunan Kalijaga yang dikenal sebagai seorang dalang
karena beliau menyampaikan ajaran Islam melalui pertunjukan wayang. Ini juga menjadi salah satu
cara mereka untuk menyelaraskan ajaran Islam dengan kebudayaan masyarakat setempat.
2.2.3. Mempertahankan Tradisi Lokal
Wali Songo menghormati tradisi dan budaya lokal tanpa memaksakan perubahan yang
drastis. Pendekatan seperti ini mampu mengurangi pemikiran masyarakat untuk melakukan
penolakan terhadap ajaran Islam dan mempermudah proses asimilasi agama Islam dalam kehidupan
sehari-hari.
2.2.4. Pembagian Wilayah
Setiap anggota Wali Songo sudah ditentukan wilayah dakwahnya masing-masing, hal ini
mempermudah penyebaran Islam secara merata. Misalnya, Sunan Giri berfokus di daerah Giri,
sementara Sunan Kalijaga berfokus di daerah Kalijaga.
2.2.5. Penggunaan Media Tradisional
Selain seni pertunjukan, Wali Songo juga menggunakan media tradisional seperti tembang
atau nyanyian untuk menyampaikan pesan-pesan moral. Misalnya Sunan Kalijaga yang menggunakan
tembang "Lir-ilir" untuk menyebarkan ajaran moral.
6
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pandangan mengenai Wali Songo menurut kelompok kami :
1. Wali Songo berperan penting dalam menyebarkan Islam, terutama di pulau Jawa. Metode
dakwah yang digunakan juga sangatlah efektif, yaitu dengan memadukan budaya lokal
dengan ajaran Islam sehingga tidak terlalu kaku. (Satria Bunga Nugraha).
2. Wali Songo mengajarkan kita pentingnya toleransi (Evan Aditya Bahrain).
3. Wali Songo tidak hanya mengajarkan agama, tetapi juga mengajarkan ilmu pengetahuan dan
pendidikan akhlak (Muhammad Farrel Anriko Al'Buchori).
4. Cara berdakwah yang diterapkan oleh Wali Songo sangatlah kreatif (Muhammad Evan
Irmana)
5. Metode dakwah yang paling menarik adalah milik Sunan Kalijaga, yaitu dengan
menggunakan wayang kulit (Kaufa Rijal Rais).
6. Metode dakwah paling efektif adalah melalui pendidikan, karena dengan pendidikan lah
kualitas dan karakter masyarakatnya dapat terbentuk dengan baik (Keano
Dylan Nagata Tsaqif) .
7
DAFTAR PUSTAKA
Wikipedia Indonesia, Sunan Giri ([Link])
[Link], Sejarah Hidup Sunan Giri: Lahir, Nasab, Ajaran, Dakwah ([Link])
Malang Times, Kisah Sunan Giri: Dakwah Melalui Pendidikan, Permainan Anak, dan Kesenian
([Link])
Wikipedia Indonesia, Sunan Gresik ([Link])
[Link], Biografi Sunan Gresik: Wali Songo Pertama yang Berdakwah di Jawa ([Link])
[Link], Biografi Sunan Gresik Lengkap Beserta Metode Dakwahnya ([Link])
[Link], Biografi Sunan Gresik ([Link])
Wikipedia Indonesia, Sunan Ampel ([Link])
Kumparan, Biografi Sunan Ampel: Salah Satu Wali Songo di Tanah Jawa ([Link])
[Link], Biografi Sunan Ampel: Salah Satu Tokoh Penyebar Islam di Tanah Jawa ([Link])
[Link], Sunan Ampel: Biografi, Sejarah, dan Falsafah Dakwah Molimo ([Link])
Wikipedia Indonesia, Sunan Bonang ([Link])
[Link], Biografi Sunan Bonang dan Cara Dakwahnya dengan Menggunakan Kesenian
([Link])
Kumparan, Biografi Sunan Bonang dan Perannya dalam Perkembangan Islam ([Link])
IAINU Tuban, Sejarah Hidup Sunan Bonang: Dakwah Islam Lewat Gamelan & Sastra ([Link])
Wikipedia Indonesia, Sunan Drajat ([Link])
[Link], Biografi Sunan Drajat, Wali Songo dari Jawa Timur ([Link])
[Link], Biografi Sunan Drajat dan 7 Falsafah Hidupny ([Link])
Wikipedia Indonesia, Sunan Kudus ([Link])
Kumparan, Biografi Sunan Kudus, Asal-usul dan Peninggalannya ([Link])
[Link], Profil Sunan Kudus: Asal Usul, Cara Dakwah, dan Gurunya ([Link])
Wikipedia Indonesia, Sunan Muria ([Link])
[Link], Kisah Sunan Muria dalam Menyebarkan Agama Islam di Jawa ([Link])
[Link], Peran Sunan Muria dalam Mengembangkan Islam di Indonesia ([Link])
Wikipedia Indonesia, Sunan Kalijaga ([Link])
[Link], Sunan Kalijaga, Berdakwah Lewat Wayang ([Link])
8
[Link], Biografi Sunan Kalijaga dan Peninggalannya di Jogja ([Link])
Wikipedia Indonesia, Sunan Gunung Jati ([Link])
[Link], Sunan Gunung Jati: Nama Asli, Silsilah, Wilayah dan Cara Dakwah ([Link])
CNN Indonesia, Sejarah Wali Songo dalam Menyebarkan Agama Islam di Pulau
Jawa([Link])